California Bearing Ratio (CBR) ini kaitannya nanti adalah untuk disain perkerasan jalan.
Pada materi pemadatan tanah kemarin kita sudah membahas parameter-parameter yang didapat
yaitu kadar air optimum dan berat kering maksimum tanah.
Nah, CBR ini adalah pengujian lanjutan dari kepadatan tanah. CBR merupakan metode pengujian
kepadatan lapisan-lapisan permukaan jalan atau penyusun jalan yang nantinya nilai CBR ini akan
digunakan untuk penentuan tebal dari masing-masing lapisan penyusun jalan.
Umumnya struktur perkerasan jalan yang ada di Indonesia adalah flexible pavement (perkerasan
lentur) yaitu aspal dan rigid pavement (perkerasan kaku) yaitu beton. Dibawah perkerasan ini
terdapat lapisan pondasi kelas A, pondasi kelas B, tanah dasar ataupun lapisan timbunan yang
dipadatkan. Nah penentuan ketebalan dari masing-masing lapisan penyusun jalan inilah yang akan
kita pelajari dari nilai CBR yang didapat dari pengujian di laboratorium maupun di lapangan.
California State Highway ini istilahnya Dinas PU Bina Marganya California.
CBR adalah perbandingannya
Suatu bahan ini maksudnya adalah bahan yang akan diuji, dapat berupa sub grade atau tanah dasar,
atau tanah timbunan yang dipadatkan, atau lapis pondasi atas, lapis pondasi bawah terhadap bahan
standard. Bahan standard ini adalah batu pecah yang ada di California sebagai standard dan nilainya
disana sebagai pembanding adalah 100% kekerasannya.
Nilai CBR ini adalah perbandingan dalam persen yang nilainya kurang dari 100%.
Diatas berupa gambaran lapisan penyusun badan jalan pada umumnya.
Pada perkerasan kaku tidak terdapat pondasi atas karena pendistribusian beban cenderung
disebarkan merata sepanjang lapis perkerasan kakunya.
Model-model lapisan perkerasan jalan diatas disesuaikan dengan beban dan kebutuhan dilapangan.
Lapisan aus
Gambar konstruksi laston AC-WC, AC-BC, dan AC-BaseDi Indonesia, Aspal beton (Asphalt
Concrete atau AC) yang disebut juga dengan Laston (Lapisan Aspal Beton) merupakan lapis
permukaan struktural atau lapis pondasi atas. Aspal beton terdiri dari tiga macam lapisan,
yaitu Laston Lapis Aus ( Asphalt Concrete-Wearing Course atau AC-WC), Laston Lapis
Permukaan Antara (Asphalt Concrete – Binder Course atau AC-BC) dan Laston Lapis
Pondasi (Asphalt Concrete- Base atau AC-Base).Asphalt Concrete – Wearing
Course (AC-WC)
Asphalt Concrete -Wearing Course (AC-WC) merupakan lapisan perkerasan yang terletak
paling atas dan berfungsi sebagai lapisan aus. Walaupun bersifat non struktural, AC-WC
dapat menambah daya tahan perkerasan terhadap penurunan mutu sehingga secara
keseluruhan menambah masa pelayanan dari konstruksi perkerasan. AC-WC mempunyai
tekstur yang paling halus dibandingkan dengan jenis laston lainnya.
Asphalt Concrete – Binder Course (AC-BC)
Lapisan ini merupakan lapisan perkerasan yang terletak dibawah lapisan aus
(wearing course) dan di atas lapisan pondasi (base course). Lapisan ini tidak
berhubungan langsung dengan cuaca, tetapi harus mempunyai ketebalan dan
kekakuan yang cukup untuk mengurangi tegangan/regangan akibat beban lalu lintas
yang akan diteruskan ke lapisan di bawahnya yaitu base dan sub grade (tanah
dasar). Karakteristik yang terpenting pada campuran ini adalah stabilitas.
Asphalt Concrete – Base (AC-Base)
Menurut Departemen Pekerjaan Umum (1983) Laston Atas atau lapisan pondasi
atas (AC- Base) merupakan pondasi perkerasan yang terdiri dari campuran agregat
dan aspal dengan perbandingan tertentu dicampur dan dipadatkan dalam keadaan
panas. Lapisan ini terletak di bawah lapis pengikat (AC- BC), perkerasan tersebut
tidak berhubungan langsung dengan cuaca, tetapi perlu memiliki stabilitas untuk
menahan beban lalu lintas yang disebarkan melalui roda kendaraan. Lapis Pondasi
(AC- Base) berfungsi untuk memberi dukungan lapis permukaan, mengurangi
regangan dan tegangan, menyebarkan dan meneruskan beban konstruksi jalan di
bawahnya (sub grade).
Arloji pengukur untuk mengukur berapakah kecepatan rata-rata tanah turun.
Proving ring adalah dial untuk mengukur beban.
Piston penetrasi yang akan membebani sampel tanah
Dongkrak putar hidrolis yang bisa di setting berapa kecepatannya.
Test adalah penetrasi dengan kekuatan tertentu dan kecepatan tertentu.
Psi (pounds per square inch)
Swelling = daya kembang susut tanah
Gambar 1 = sampel diambil dari lapangan
Gambar 2 = sampel dibawa pakai karung ke lab
Gambar 3 = sampel tanah dijemur dibawah matahari sampaikering
Gambar 4 = sampel di ayak atau disaring sehingga didapat sampel yang mempunyai gradasi yang
seragam
Gambar 5 = persiapan sampel untuk pengujian standard proctor test untuk mendapatkan nilai kadar
air optimum
Gambar 6 = pengujian dapat juga dilakukan dengan modified proctor test
Gambar 7 = hasil dari pengujian di plotkan ke bentuk grafik, setelah didapat kadar air optimum maka
ditarik garis ke sumbu y untuk mendapatkan nilai berat kering maksimumnya.
Nilai kadar air optimum inilah yang akan digunakan untuk sampel pengujian CBR.
1. didapat nilai w optimum
2. pembuatan pencampuran sampel untuk CBR test. Siapkan 3 sampel dengan cetakan (mould) 1, 2,
dan 3 yang masing-masing terdiri dari 5 lapisan yang dicampur dengan kadar air optimum.
3. selanjutnya masing-masing lapisan itu ditumbuk sesuai dengan lapisannya pada mould 1, 2, dan 3.
4. sampel sudah jadi, selanjutnya tergantung test untuk direndam atau tidak.
5. selanjutnya sampel dapat dites di silinder uji sesuai dengan kedalaman penetrasi dan kecepatan
tertentu
lbs merupakan singkatan standard untuk pounds