MARKAS BESAR ANGKATAN DARAT Lampiran II Keputusan Kapuskesad
PUSAT KESEHATAN Nomor Kep / 839 / XII / 2019
Tanggal 20 Desember 2019
PENGANGKUTAN ORANG LUKA
BAB I
PENDAHULUAN
1. Umum
a. Jatuhnya korban akibat pertempuran tidak mengenal tempat/daerah dan
cuaca. Korban/penderita setelah mendapat pertolongan dari Takeski, untuk
menyelamatkan jiwanya perlu dievakuasi ke tempat perawatan selanjutnya dengan
cepat dan aman.
b. Kecepatan dan amannya korban/penderita sampai ketempat perawatan
selanjutnya, sangat tergantung dari personel pengangkut itu sendiri.
c. Oleh karena itu perlu pengetahuan dan keterampilan bagi anggota
pengangkut orang luka, sehingga pelaksanaan tugasnya dapat dilaksanakan
dengan baik sesuai dengan ketentuan.
2. Maksud dan Tujuan.
a. Maksud. Naskah Sekolah ini disusun dengan maksud untuk dijadikan
salah satu bahan ajaran bagi Pendidikan Bintara TNI AD.
a. Tujuan. Agar Bintara Siswa mengerti dan dapat melaksanakan
pengangkutan orang luka sebagai bekal dalam pelaksanaan tugas di satuan.
3. Ruang Lingkup dan Tata Urut.
a. Pendahuluan.
b. Dasar-dasar POL.
c. Cara POL tanpa Tandu.
d. Cara POL dengan Tandu.
e. POL dalam Berbagai Situasi dan Kondisi Medan.
f. Penutup.
4. Pengertian.
a. Darurat. Darurat adalah keadaan sukar/sulit yang tidak tersangka-sangka
(dalam bahaya) yang memerlukan penanggulangan segera. Secara medis, suatu
keadaan disebut darurat apabila sifatnya memerlukan penanganan yang segera,
meskipun keadaan darurat tidak selalu mengancam nyawa, namun penanganan
yang lambat bisa saja berdampak pada terancamnya nyawa seseorang.
RAHASIA
2
b. Evakuasi. Evakuasi adalah kegiatan memindahkan korban/penderita dari
tempat kejadian/instalasi kesehatan terdepan ke instalasi kesehatan yang lebih
tinggi untuk mendapatkan pertolongan medik yang lebih sempurna.
c. Gugat (Syok). Gugat (Syok) adalah penurunan kesadaran yang lebih berat
dari lena, dan diakibatkan oleh kegagalan pengaliran darah ke jaringan tubuh yang
ditandai dengan rasa haus, mual dan muntah, kesadaran menurun, muka pucat,
berkeringat dingin, tubuh terasa dingin, pernapasan cepat dan dangkal, nadi cepat
dan kecil, serta penderita gelisah dan ketakutan.
d. Lena (Collaps). Lena (Collaps) adalah keadaan dimana kesadaran
berkurang akibat kegagalan aliran darah ke jaringan tubuh manusia
e. Luka. Luka adalah terputusnya hubungan jaringan tubuh satu dengan
yang lainnya akibat suatu trauma atau penyakit.
f. Mati Suri. Mati suri adalah suatu keadaan yang menyerupai seseorang
yang telah mati, tetapi belum ditemukan tanda-tanda kematian yang pasti
g. Patah Tulang. Patah tulang adalah suatu keadaan dimana terjadi
kerusakan pada tulang sehingga kesinambungan tulang tersebut tidak utuh lagi.
h. Perdarahan. Perdarahan adalah keluarnya darah dari pembuluh darah
yang disebabkan karena kerusakan pembuluh darah, baik disebabkan oleh trauma
maupun non trauma
i. Pertolongan Darurat di Lapangan (Longdarlap). Pertolongan darurat di
lapangan (longdarlap) adalah pertolongan yang diberikan oleh personel kesehatan
di lapangan atau merupakan pertolongan lanjutan dari pertolongan pertama di
lapangan yang telah dilaksanakan sendiri oleh prajurit TNI AD.
j. Pingsan. Pingsan adalah keadaan dimana kesadaran hilang sama sekali,
sehingga korban sama sekali tidak mendengar dan tidak merasa sakit, walaupun
ditusuk dengan jarum atau dicubit.
k. Pelayanan Kesehatan. Pelayanan kesehatan adalah penyelenggaraan
bantuan administrasi kesehatan yang ditujukan bagi segenap personel TNI AD
beserta keluarganya yang berhak dalam rangka pembinaan kekuatan TNI AD.
BAB II
DASAR-DASAR P O L
5. Umum.
Harapan kesembuhan seseorang yang luka (korban) banyak ditentukan oleh
waktu, dari saat mengalami luka sampai mendapatkan pengobatan yang tepat.
Untuk memperoleh waktu yang sesingkat-singkatnya sejak ditemukannya korban
sampai ketempat perawatan yang tepat diperlukan organisasi dan pengetahuan
serta keterampilan yang cukup dengan kata lain korban harus dapat diangkut
sedemikian rupa agar jangan sampai keadaan penyakitnya menjadi tambah
parah/buruk.
3
6. Prinsip Dasar Pengangkutan Orang Luka
a. Tujuan POL.
1) Memindahkan korban dari tempat kejadian dalam rangka untuk
memberikan pertolongan pertama.
2) Memindahkan korban menuju fasilitas kesehatan lain yang lebih mampu
dalam rangka mendapatkan pertolongan lanjutan.
b. Pengangkutan Tidak Darurat
1) Pengangkutan tidak darurat dilakukan jika situasi dan kondisi tempat
kejadian memungkinkan untuk dilakukannya pertolongan pertama/darurat.
yang bertujuan untuk memindahkan korban menuju ke fasilitas yang lebih
mampu.
2) Dalam hal ini sebelum melakukan pengangkutan maka pertolongan
darurat di lapangan yang bersifat menyelamatkan jiwa harus dilakukan
terlebih dahulu, diantaranya :
a) Gangguan jalan nafas dan pernafasan sudah harus teratasi
dan tidak menjadi ancaman selama proses pengangkutan
dilaksanakan. Keadaan ini tidak menjadi permasalahan jika sarana
angkut yang digunakan adalah kendaraan khusus yang dilengkapi
dengan peralatan gawat [Link] jika pengangkutan hanya
menggunakan tandu maka jalan nafas dan pernafasan harus dalam
keadaan stabil dan secara periodik dinilai kembali pada saat-saat
tertentu.
b) Pendarahan sudah teratasi/terkontrol. Pendarahan
utamanya pendararahan terbuka harus sudah dikendalikan dengan
menggunakan pembalut tekan. Tujuan tindakan ini adalah mencegah
pendarahan yang lebih banyak agar kemungkinan korban jatuh pada
keadaan syock dapat dicegah.
c) Ancaman syock sudah diantisipasi/teratasi. Pada keadaan
tertentu ancaman syock dapat terjadi setelah beberapa saat korban
mengalami cedera, oleh karenanya korban harus sudah dilakukan
pemasangan infus.
d) Imobilisasi pada patah tulang/ kecurigaan patah tulang sudah
dilakukan. Hal ini sangat penting dilakukan pada saat pemindahan
korban dengan tujuan untuk mengurangi rasa sakit akibat gerakan-
gerakan selama pemindahan dan juga untuk mencegah patah tulang
yang sederhana menjadi lebih buruk atau kemungkinan komplikasi
akibat pergeseran ujung-ujung patahan tulang yang patah
e) Luka yang cukup serius telah dibalut. Luka yang serius
sudah dibalut dengan maksud untuk mencegah kemungkinan
terjadinya cedera lebih lanjut, pendarahan atau infeksi selama
pengangkutan.
4
c. Pengangkutan Darurat.
1) Pengangkutan darurat dilakukan jika situasi dan kondisi tempat
kejadian tidak memungkinkan untuk dilakukannya pertolongan pertama/
darurat, misalnya di bawah ancaman tembakan musuh, dikeramaian
lalulintas, reruntuhan gedung dan bahaya kebakaran.
2) Keadaan lain yang mengharuskan pengangkutan darurat dilakukan
yaitu keadaan dimana penderita berada pada area yang sempit dan tidak
ada ruangan yang cukup untuk melakukan tindakan pertolongan. Misalnya
korban terjepit dalam kabin kendaraan, korban berada didasar jurang yang
sempit, dll.
3) Pengangkutan darurat ditujukan untuk memindahkan korban dari tempat
kejadian dalam rangka memberikan pertolongan pertama. Tehnik
pemindahan darurat disebut juga tehnik Ekstraksi.
4) Hal yang harus dilakukan pada pemindahan darurat adalah menjaga
agar jalan nafas bebas dari sumbatan. Oleh karena itu pada setiap
pemindahan darurat terhadap korban trauma atau penyakit tertentu
penilaian jalan nafas dan jaminan jalan nafas yang bebas mutlak dilakukan.
7. Ketentuan Dasar Pengangkutan Orang Luka.
Pedoman bagi setiap pengangkut agar tujuan dan proses pengangkutan
orang luka dapat berjalan dengan baik tanpa menyebabkan cedera, baik pada
pengangkut maupun yang dapat memperburuk kondisi korban, perlu ketentuan
sebagai berikut :
a. Gunakan gerakan-gerakan yang alami dari sistem tubuh, baik pada saat
mengangkat maupun berpindah tempat.
b. Ketahui dengan baik kemampuan dan batasan kemampuan fisik sendiri.
c. Selalu memperhatikan dan menggunakan tumpuan kaki yang kokoh saat
bergerak.
d. Seminimal mungkin menggunakan otot punggung dan pinggang saat
mengangkat atau menurunkan korban, tetapi menggunakan otot lengan dan otot
kaki.
e. Secara prinsip perlengkapan dan senjata korban tidak harus dibawa oleh
pengangkut sehingga dapat minta bantuan orang lain untuk membawanya.
8. Persyaratan Anggota POL
a. Setiap anggota POL harus mengetahui sungguh-sungguh tentang peraturan
pengangkutan orang luka, sehingga terdapat keseragaman dalam pelaksanaan
serta timbul kerja sama yang baik antara anggota pengangkut.
b. Setiap anggota POL harus memiliki keterampilan yang tinggi yang didapat
dari latihan-latihan menurut cara tertentu dengan aba-aba tertentu. Semua gerakan
5
dalam mengangkut orang luka dilakukan bersama-sama, karena gerakan yang
tidak sama dapat mengakibatkan tergesernya posis sipenderita dan ini dapat
membahayakan, asal jangan patah-patah seperti PBB.
c. Untuk memperoleh keterampilan, pengalamam dan disiplin serta tindakan
yang berurutan (sistematis), sangat diperlukan latihan-latihan yang teratur dan
konsisten.
d. Untuk memperoleh gerakan yang sama maka harus ditunjuk satu orang
sebagai pimpinan atau komandan dalam pengangkutan itu. Komandan ini yang
memberikan petunjuk dan aba-aba dan meneliti pelaksanaan pengangkutan
supaya gerakan dilakukan dengan hati-hati.
BAB III
CARA P O L TANPA TANDU
9. Umum.
Mengangkut orang luka tanpa alat adalah cara yang paling sederhana dan
dapat dilakukan kapan dan dimana saja, karena itu harus benar-benar dikuasai
oleh setiap pengangkut dan terampil. Mengangkut orang luka tanpa alat dapat
dilakukan oleh satu, dua, tiga maupun empat orang dalam berbagai cara.
10. Prinsip Pengangkutan Orang Luka Tanpa Menggunakan Alat Bantu
Adalah :
1) Mengutamakan kecepatan pemindahan dan bukan kenyamanan
korban.
2) Mempunyai kemungkinan lebih besar untuk memperburuk cedera
yang dialami korban
3) Sarana tandu tidak tersedia atau kondisi taktis dimedan tidak
memungkinkan penggunaan tandu.
4) Jarak yang ditempuh tergantung beberapa faktor, diantaranya
kekuatan dan daya tahan pengangkut, berat badan korban, kondisi cedera
serta kondisi medan yang dilalui.
11. Pengangkutan Orang Luka oleh 1 orang.
a. Memapah. Yaitu membantu korban yang masih dapat berjalan sendiri
sebagai berikut :
1) Pengangkut berdiri disamping tungkai korban yang sakit, sedangkan
tungkai penolong disarankan pada belakang tungkai penderita.
2) Satu tangan penolong memegang pergelangan tangan korban,
dirangkulkan melalui tengkuk dan dipegang.
3) Tangan pengangkut yang lain merangkul pinggang korban dan
korban dibantu berjalan.
6
b. Membopong.
1) Korban didudukkan diatas paha penolong.
2) Satu tangan penolong dibawah kedua paha korban, sedang tangan
yang lain merangkul punggung korban.
3) Korban merangkul penolong.
4) Penolong berdiri perlahan-lahan.
c. Menggendong.
Ada 2 macam cara menggendong yaitu cara biasa dan cara ransel.
1) Menggendong cara biasa dilakukan pada korban yang masih sadar
dan cukup kuat untuk memegang penolong, tidak ada luka dibagian dada
dan perut, tidak ada patah tulang.
2) Menggendong cara ransel :
a) Gunakan 2 buah kopel rim yang dipanjangkan dan disambung.
b) Tempatkan sambungan kopelrim pada bagian bawah paha dan
punggung korban.
c) Buka kedua tungkai korban secukupnya lalu penolong
terlentang diatas korban sambil memasukkan sosok kopel ke kedua
lengan seperti menggendong ransel.
d) Pegang kedua tangan korban dilanjutkan berguling sikap tiarap
sehingga posisi korban diatas penolong.
e) Penolong berusaha berdiri (untuk meletakkan korban
kebalikannya).
b. Menjulang
1) Pengangkut jongkok diatas kepala korban yang berbaring dan
dengan menyisipkan tangannya dibawah ketiak korban, korban didudukkan.
2) Dengan tangan masih dibawah ketiak, korban diberdirikan dengan
cara mengangkat sambil ditarik kebelakang.
3) Pengangkut berputar kedepan sambil menyangga tubuh korban dan
korban direbahkan secara perlahan dipundak pengangkut (usahakan tulang
kemaluan terletak dipundak)
4) Kemudian pengangkut berdiri, tangan korban yang berada didepan
disilangkan didepan dada pengangkut dan dipegangi.
5) Atur seenak mungkin dan mulailah berjalan.
7
c. Menyeret.
1) Pengangkutan orang luka dengan cara menyeret sering digunakan
pada tindakan Ekstraksi yaitu memindahkan korban dari tempat yang sulit
untuk dilakukan pertolongan darurat. Yang harus diwaspadai untuk
pengangkutan ini adalah jalan nafas harus terbuka dan selalu
memperhatikan kemungkinan terjadinya cedera leher dan tulang belakang.
2) Tehnik menyeret untuk tindakan ekstraksi ada 5 macam cara :
a) Menyeret dengan tarikan tangan. Cara ini digunakan jika tidak
didapatkan cedera pada kedua tangan dan kerawanan yang terjadi
adalah kemungkinan benturan pada kepala korban saat ditarik.
b) Menyeret dengan tarikan krah baju. Jika didapatkan cedera
pada tangan dan pergelangan penolong dapat melindungi kepala
korban dari benturan.
c) Menyeret dengan menggunakan kopel. Cara ini digunakan jika
korban tidak memungkinkan untuk ditarik kearah posisi tubuh korban
sehingga ditarik menyamping.
d) Menyeret dengan cara menggantung.
e) Menyeret melalui anak tangga
3) Ketentuan Dasar Ekstraksi
a) Periksa dengan cepat dan teliti lokasi kejadian, temukan
adanya ancaman lingkungan yang dapat membahayakan korban
maupun penolong.
b) Segera lakukan penilaian korban. Jika ditemukan kedaruratan
yang tidak memungkinkan diatasi ditempat kejadian atau adanya
ancaman nyata maka ekstraksi segera dilakukan. Misalnya sumbatan
jalan nafas, henti jantung, cedera dada dan syock karena atau
pendarahan yang hebat.
12. Pengangkutan Orang Luka oleh 2 orang.
a. Memapah.
1) Pengangkut berdiri disamping kiri/kanan penderita.
2) Kedua tangan penderita merangkul pengangkut dan mulai berjalan.
b. Cara Duduk.
1) Penderita didudukkan, kedua pengangkut berlutut dibelakang
penderita dengan kedua lutut saling merapat.
8
2) Kedua pengangkut mengangkat penderita dan didudukkan diatas
paha pengangkut.
3) Tangan pengangkut saling berpegangan dibawah paha penderita,
tangan yang lain berpegangan dibelakang punggung penderita.
4) Pengangkut mengangkat penderita bersama-sama dan mulai
berjalan.
c. Cara Berbaring.
1) Penderita dibaringkan terlentang.
2) Pengangkut menempatkan diri bersebelahan disisi tubuh penderita
yang tidak sakit.
3) Pada aba-aba “jongkok” pengangkut jongkok dengan patokan lutut
yang diatas adalah yang searah dengan kepala penderita.
4) Pada aba-aba ”pegang” pengangkut memasukkan kedua tangannya
kebawah tubuh penderita hingga batas siku-siku, dilanjutkan aba-aba “siap”
5) Pada aba-aba “angkat” penderita diangkat dan diletakkan diatas paha
sambil memperbaiki posisi tangan pengangkut.
6) Pada aba-aba “berdiri” pengangkut berdiri bersama-sama dan
penderita dirapatkan kebadan pengangkut.
7) Pada penderita yang tidak sadar pengangkut posisinya berhadapan
silang.
d. Cara Gang/Lorong Sempit.
Cara ini digunakan untuk mengangkut atau memindahkan penderita yang
pingsan atau penderita yang luka pada bagian dada.
1) Pengangkut menempatkan diri dibagian kepala dan dibagian kaki
penderita.
2) Penderita didudukkan oleh pengangkut dibagian kepala, masukkan
kedua tangan dibawah ketiak penderita dan pengangkut bagian kaki berada
diantara kedua kaki penderita (kecuali korbannya wanita)
3) Pada aba-aba “angkat” maka pengangkut berdiri bersama-sama dan
mulai berjalan.
13. Pengangkutan Orang Luka oleh 3 Orang.
Cara pengangkutan yang dilakukan oleh 3 orang tidak jauh berbeda
dengan pengangkutan oleh 2 orang karena sifatnya hanya untuk meringankan
beban pengangkutan saja.
a. Cara berbaring korban sadar dan tidak sadar
b. Cara duduk
9
14. Pengangkutan Orang Luka oleh 4 Orang.
Pengangkutan dengan 4 orang sama dengan yang dilakukan oleh 3 orang, orang
yang ke 4 bertugas membantu saja.
BAB IV
CARA P O L DENGAN TANDU
15. Umum.
Pengangkutan orang luka selain tanpa alat juga bisa dilaksanakan dengan
alat, hal ini dapat dilakukan dengan melihat situasi dan kondisi medan pada saat itu
sehingga kemungkinan besar untuk pengangkutan orang luka tanpa alat tidak
bisa/mungkin dilakukan, sehingga pertolongan terhadap korban dapat dilakukan
dengan cepat.
16. Pengangkutan dengan Tandu.
Pengangkutan orang luka yang mendekati kesempurnaan, karena letak
penderita dapat diatur sesuai dengan sakitnya atau lukanya.
a. Kelompok Tandu.
1) Satu tandu dapat dilayani oleh dua, tiga sampai empat orang
pengangkut dan merupakan satu kelompok tandu, anggota yang tertua
ditunjuk sebagai Danpok Tandu.
2) Untuk memudahkan dan kebersamaan dalam pengangkutan, para
pengangkut diberi nomor urut.
b. Dalam organisasi Peleton Kesehatan Yonif terdapat 1 regu tandu yang
dipimpin oleh Danru tandu yang terdiri dari 3 kelompok tandu yang
bertanggung jawab mengevakuasi korban dari garis depan untuk dibawa ke
Poslongyon
c. Perlengkapan Anggota Regu Tandu.
1) Pakaian Dinas Lapangan II ditambah :
a) Ban lengan (palang merah)
b) Memiliki KTA Kesehatan
c) Topeng Gas/baju anti Gas (kalau ada)
2) Alat-alat lain yang diperlukan dan tidak membebani saat mengangkut.
d. Perlengkapan Kelompok Tandu.
1) Tandu beserta perlengkapannya
2) Perangkat pembantu perawat yang berisi :
10
a) Pembalut cepat
b) Mitela, gunting, pembalut serta obat-obat terbatas.
e. Cara Mengangkut.
1) Umumnya pengangkutan dilakukan oleh 4 orang, pada jarak pendek
diperbolehkan dilakukan oleh 2 orang.
2) Bila pengangkut diberi nomor, maka nomor ganjil berada disebelah
kanan.
3) Pengangkutan dengan tandu dapat dilakukan dengan cara :
a) Merayap
b) Merangkak
d) Dijinjing (dengan tangan)
e) Dipikul (di atas bahu), jika perjalanan jauh dapat
menggunakan bantal dipundak.
4) Pengangkutan dengan tandu juga dapat dilakukan dalam berbagai
keadaan, antara lain :
a) Luka di dada
b) Luka di perut
c) Patah tulang
d) Jalan menanjak atau menurun
e) Melalui parit
f) Melalui pagar tembok
g) Melalui pagar berduri
h) Melalui medan sulit
d. Hal-hal yang harus diperhatikan.
Dalam melakukan pengangkutan agar Danpok tandu bertanggung
jawab terhadap keadaan korban untuk itu harus memperhatikan hal-hal
ssebagai berikut:
1) Anggota badan korban yang luka usahakan tidak banyak bergerak.
2) Korban yang pingsan dijaga agar pernafasannya dapat berjalan
dengan lancar, dan dijaga agar kepalanya tidak tengadah kebelakang.
3) Anggota gerak korban tidak sampai tergantung kebawah karena
dapat mengakibatkan gangguan syaraf yang hebat.
11
4) Perhatikan selalu sikap/letak korban sesuai dengan keadaan lukanya.
5) Usahakan selalu dapat mengetahui keadaan yang diangkutnya
selama dalam perjalanan. Perhatian khusus terhadap :
a) Balutan dengan bidai (patah tulang)
b) Kemungkinan bahaya Syock (pendarahan)
c) Bahaya kematian dalam perjalanan
17. Pengangkutan dengan Ambulans.
a. Umum.
Banyak jenis ambulans yang dapat digunakan untuk pengangkutan
orang luka dengan menggunakan mobil namun dalam penjelasan ini hanya
kendaraan standar TOP Batalyon Infanteri ROI – 83 (Truk ambulans ¼ Ton
4x4 M-718/ CJ-6) dan mobil ambulans umum.
b. Menggunakan CJ-6
1) Kemampuan daya angkut adalah 2 penderita tandu
2) Cara memuat tandu keatas ambulans :
a) Penderita didekatkan dibelakang ambulans + 1 meter.
b) Penderita dipindahkan ketandu ambulans (tandu khusus)
c) No.1 naik keatas ambulans lebih dulu, no.2 dan 3
menempatkan dikiri/kanan depan, sedangkan no.4 menempatkan
diantara pegangan belakang.
d) Pada aba-aba “pegang” pengangkut memegang tandu
selanjutnya “angkat” secara bersama-sama tandu diangkat dan
diterima oleh no.1 yang diatas ambulans.
e) Pada aba-aba “sorong” no.4 mendorong tandu, no.1 mundur
dan no.2 lari menuju kepintu depan untuk membantu no.1 dari luar
sedangkan no.3 tangannya merayap saja dibingkai tandu.
f) Kaitkan tandu pada tempatnya. Apabila akan mengangkut
lebih dari satu penderita maka tempatkan pada bagian atas terlebih
dahulu.
g) Selanjutnya cara duduk adalah no.1 disusul no.3, no.4 dan
no.2 sedangkan untuk cara menurunkannya kebalikannya.
c. Menggunakan Ambulans Biasa
1) Kemampuan daya angkut hanya satu orang.
2) Cara memuat keatas ambulans sama dengan pada ambulan CJ-6
hanya saja orang no.2 tidak perlu kepintu depan, tetapi sama dengan orang
no.3
12
18. Pengangkutan dengan Helikopter
a. Umum. Prosedur memuat korban kedalam pesawat terbang sayap
tetap berlaku juga untuk Helikopter. Rencana pemuatan mungkin diperlukan untuk
Helikopter angkut yang besar. Pada waktu memuat dan menurunkan korban dari
helikopter ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :
1) Pemikul tandu/ pengangkut harus berdiri serendah mungkin dan
berada diluar daerah baling-baling utama.
2) Dilarang merokok pada jarak 50 kaki dari pesawat.
3) Tidak boleh mendekat sebelum diberi tanda dan harus dari arah
samping.
4) Pengangkut harus mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Crew.
5) Barang-barang yang mudah terbang agar diikat erat-erat.
b. Cara Meletakkan Tandu ke dalam Helikopter.
1) Korban dan tandu diletakkan didalam helikopter menurut keadaan
luka atau kondisinya, personel yang didalam helikopter mengawasi dan
membetulkan korban.
2) Korban yang paling parah dimasukkan paling belakang sehingga
pada mengeluarkannya paling duluan dan dapat segera mendapatkan
pertolongan.
19. Pengangkutan dengan Pesawat.
a. Pengangkutan dengan pesawat yang dimaksud adalah menggunakan
pesawat terbang sayap tetap misalnya Bell Air, Dacota, Comander, dll.
b. Prosedur Pemuatan Korban.
1) Bila memungkinkan didalam setiap pemuatan korban harus ada
dokter/perwira kesehtan yang mengawasi dan memberi petunjuk pemuatan
korban sesuai dengan kondisi korban yang dievakuasi.
2) Supervisi pemuatan menjadi tanggung jawab penerbang yang
bersangkutan.
3) Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemuatan :
a) Tempatkan korban yang paling parah lukanya/sakitnya didekat
pintu.
b) Tempatkan korban yang pingsan/tidak sadar secara terlentang
dengan kepala dimiringkan dan letak kepala lebih rendah dari pada
badannya.
13
c) Letakkan korban yang luka dikepala dengan kepala lebih tinggi
dari badannya.
d) Tempatkan korban pada posisi sedemikian rupa sehingga
kepala menghadap kearah cockpit/hidung pesawat.
c. Cara Memuat Korban kedalam Pesawat. Memuat korban kedalam pesawat
dilakukan oleh personel yang mengangkut korban tersebut dan dibawah
pengawasan (supervisi) penerbang yang bersangkutan, tandu-tandu biasanya
disusun mulai dari atas kebawah dan dari depan kebelakang.
1) Kemampuan angkut tergantung jenis pesawat, jarak yang akan
ditempuh serta pertimbangan landasan yang dipakai.
2) Crew Chief atau anggota kesehatan penerbangan mengawasi
pemuatan semua korban (bila ada) dan orang kedua dari tim pembawa
tandu ikut masuk kedalam pesawat untuk membantu komandan pesawat
mengawasi tandu pada pemuatan.
3) Rencana pemuatan mungkin dibutuhkan untuk pesawat angkut yang
besar.
BAB V
P O L DALAM BERBAGAI SITUASI DAN KONDISI MEDAN
20. Umum.
Dalam mengangkut korban menggunakan improvisasi alat angkut adalah
merupakan alat angkut yang dapat dibuat untuk mengangkut korban/penderita
yang terdapat disekitar tempat latihan, maupun sedang tugas operasi, apabila tidak
dilengkapi sarana alat angkut yang tersedia. Sebagai contoh improvisasi alat
angkut korban/penderita sebagai berikut :
a. Alat angkut terbuat dari tali temali.
b. Alat angkut terbuat dari baju.
c. Alat angkut terbuat dari sarung.
d. Alat angkut terbuat dari karung.
21. Alat-alat Mountenering.
a. Tali turun tebing (Dynamic rope) 10,5 mm panjang 45 m.
b. Tali luncur (Statis rope) 10,5 mm panjang 200 m.
c. Tali tubuh (Webing) panjang 4,5 m.
d. Katrol (Pulley).
e. Cincin kait berkunci (Carabiner).
f. Tali tubuh setengah badan (Seat harness).
g. Cincin Bentuk “8” (Figur eight desender).
h. Paku naik tebing pipih.
i. Paku naik tebing bentuk “V”.
j. Paku turun tebing pipih bercincin.
k. Paku turun tebing bentuk “V”.
14
l. Palu tebing (Hammer).
m. Sarung tangan kulit.
n. Pita Penambat (Tape sling).
o. Pengaman sisip bentuk trapezium.
p. Pengaman sisip segi 6 tidak beraturan.
q. Alat bantu naik tebing (Jummar).
r. Tangga gantung (Foot loop).
22. Alat Tambahan Pelengkap Pengangkutan Korban Medan Sulit.
a. Chest asender (Croll) B-06.
b. Basic Jummar B-08.
c. Mailon rapide P-11.
d. Mailon rapide P-15.
e. Pulley Fixed P-05.
f. Prusik.
g. Desender Auto stop D-09.
h. Caving harness Super Avanti C-12.
23. Mengangkut Korban dari Lembah Naik ke Atas.
a. Menggunakan Tandu Standard. Alat yang digunakan :
1) Pada tandu :
a) Webing untuk mengikat penderita ……….... 4 buah.
b) Pulley Fixed ……………………………………… 1 buah.
c) Prusik …………………………………………….. 4 buah.
d) Cara biner ………………………………………... 2 buah.
e) Tupesling ………………………………………… 4 buah.
2) Pada penolong yang mengiringi penderita (1 orang) :
a) Webing (Seat harness) ……………………… 1 buah.
b) Cara biner ………………………………………... 1 buah.
c) Croll ……………………………………………... 1 buah.
d) Jummar + Foot lope …………………………….. 1 buah.
3) Pada pembiley diatas tebing untuk menarik penderita :
a) Tali static secukupnya (Sistem Z-Rig).
b) Tape sling ………………………………………... 2 buah.
c) Pulley fixed ……………………………………… 4 buah.
d) Carabiner ……………………………………….... 5 buah.
e) Basic Jummar ……………………………………. 2 buah.
4) Anggota pembiley secara perorangan untuk naik tebing :
a) Webing …………………………………………... 1 buah.
b) Croll ……………………………………………... 1 buah.
c) Jummar ………………………………………….. 1 buah.
d) Carabiner ………………………………………... 3 buah.
15
e) Foot lope ………………………………………... 1 buah.
f) Bila menggunakan prusik 2 buah dan harness, croll dan
Jummar tidak digunakan, tetapi perlu penambahan MR, 11 dan MR-
P-15. masing-masing 1 buah.
b. Menggunakan Tandu Darurat.
Bila menggunakan tandu darurat hampir sama dengan menggunakan
tandu standard tetapi perlu penambahan alat Webing guna pembuatan
tandu darurat sebanyak 4 buah.
c. Perlengkapan Penolong/Pembiley.
1) Penolong :
a) Webing …………………………………………… 1 buah.
b) Jummar …………………………………………... 1 buah.
c) Croll …………………………………………….... 1 buah.
d) Carabiner ………………………………………… 2 buah.
e) Foot lope …………………………………………. 1 buah.
f) Bila menggunakan prusik (tidak menggunakan Jummar dan
Croll) ……………………………………………….. 2 buah.
2) Sebagai pembiley :
a) Tali statik secukupnya.
b) Webing ………………………………………….. 2 buah.
c) Tape sling ……………………………………….. 5 buah.
d) Pulley fixed ……………………………………... 3 buah.
e) Basic Jummar …………………………………... 2 buah.
d. Pelaksanaan.
1) No. 1 secara rock clambing (naik tebing secara bebas).
2) Sesampai diatas tebing memasang tali statik dengan
menggunakan
sistem Z-Rig.
3) No. 2, 3, dan 4 mengangkat penderita pada tandu untuk
persiapan
naik keatas.
4) No. 3 dan 4 naik tebing melewati tali yang sudah terpasang, No. 4
menyiapkan penderita.
5) Setelah No. 2 dan 3 sampai diatas segera membantu No. 1 untuk
menarik korban/menyelesaikan penyiapan Z-Rig.
6) Persiapan tali selesai No. 4 mengawal penderita naik tebing
sambil memperhatikan keadaan korban.
RAHASIA
16
24. Mengangkut Penderita/Korban dari Atas ke Bawah dengan Tandu.
a. Untuk menurunkan korban dari ketinggian kebawah lebih mudah dari pada
menaikan korban keatas. Alat yang digunakan pada tandu dan pada penolong
secara perorangan hampir sama dan untuk membiley saat korban diturunkan tidak
perlu sistem Z-Rig, cukup dengan menggunakan Carabiner dan figur eight “8”.
b. Pelaksanaan.
1) No. 2 mendahului turun kebawah untuk pengamanan.
2) No. 4 mengawal penderita bersama dengan tandu.
3) No. 1 dan 3 membiley dari atas dengan sistem figure eight dan
Carabiner.
4) No. 3 dan 4 naik tebing melewati tali yang sudah terpasang.
5) Setelah penderita sampai dibawah, No. 3 dan 1 mempersiapkan diri
untuk turun, semua perlengkapan harus dapat terbawa.
25. Membopong Korban dari Bawah Tebing ke Atas.
Alat yang digunakan :
a. Penderita
1) Webing ………………………………………………….. 1 buah.
2) Carabiner ………………………………………………... 1 buah.
b. Penolong yang membopong korban
1) Webing ………………………………………………….. 2 buah.
2) Carabiner ………………………………………………... 2 buah.
BAB VI
PENUTUP
26. Penutup.
Demikian Naskah Sekolah ini disusun sebagai bahan ajaran untuk pedoman
Gadik dan peserta didik dalam proses belajar mengajar Pengankutan Orang Luka
untuk Pendidikan Bintara TNI AD.
Kepala Pusat Kesehatan Angkatan Darat,
Dr. dr. Tugas Ratmono, Sp.S., M.A.R.S., M.H.
Mayor Jenderal TNI
RAHASIA
17