PASAL II
BIAYA SMKK
1. Umum
1. Uraian Pekerjaan
a. Seksi ini mencakup ketentuan-ketentuan yang disyaratkan dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 14 Tahun 2021 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor
22 Tahun 2020 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017
tentang Jasa Konstruksi dan Permen PUPR Nomor 10 Tahun 2021 tentang Pedoman
Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK), meliputi komponen kegiatan
penerapan SMKK yang merupakan penjelasan pengelolaan SMKK paling sedikit terdiri
atas Risiko Keselamatan Konstruksi, Unit Keselamatan Konstruksi (UKK) dan Biaya
Penerapan SMKK berikut di bawah ini:
1. Penyiapan dokumen penerapan SMKK;
2. Sosialisasi, promosi, dan pelatihan;
3. Alat pelindung kerja dan alat pelindung diri;
4. Asuransi dan perizinan;
5. Personel Keselamatan Konstruksi;
6. Fasilitas sarana, prasarana, dan alat kesehatan;
7. Rambu dan perlengkapan lalu lintas yang diperlukan atau manajemen lalu lintas);
8. Konsultasi dengan ahli terkait Keselamatan Konstruksi;
9. Kegiatan dan peralatan terkait dengan pengendalian Risiko Keselamatan
Konstruksi, termasuk biaya pengujian/pemeriksaan lingkungan.
b. Keselamatan Konstruksi adalah segala kegiatan keteknikan untuk mendukung
Pekerjaan Konstruksi dalam pemenuhaa mewujudkan Standar Keamanan,
Keselamatan, Kesehatan, dan Keberlanjutan yang menjamin kesel amatan keteknikan
konstruksi, keselamatan dan kesehatan tenaga kerja, keselamatan publik dan
keselamatan lingkungan, sebagaimana yang diuraikan dalam Pasal 1 Ayat (39) dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2021 tentang Perubahan Atas Peraturan
Pemerintah Nomor 22 Tahun 2020 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang
Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi, Pasal 1 Ayat (11) Peraturan Menteri
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 10 Tahun 2021 tentang Pedoman
Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK), Peraturan Menteri Perhubungan
Nomor PM 17 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Analisis Dampak Lalu Lintas, dan
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor:
Per.15/MEN/VIII/2008 tentang Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan di Tempat Kerja.
Ketentuan-ketentuan yang terkait dengan Standar Kesehatan Kerja diatur dalam
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi NomorPER.15/MEN/VIII/2008 tentang
Pertolongan Pertama pada Kecelakaan di Tempat Kerja. Ketentuan-ketentuan yang
terkait dengan Standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja, khususnya Pesawat
Angkat dan Angkut diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 8 Tahun 2020
tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pesawat Angkat dan Angkut. Ketentuan-
ketentuan yang terkait dengan Standar Lingkungan Hidup, khususnyaBaku Mutu Air
Nasional dan Baku Mutu Udara Ambien diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22
Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup.
Ketentuan-ketentuan terkait lainnya dari peraturan dan perundang-undangan lain
yang berhubungan dengan keselamatan konstruksi harus berlaku.
c. Ketentuan-ketentuan sebagaimana yang diuraikan dalam Seksi 1.8 Manajemen dan
Keselamatan Lalu Lintas, Seksi 1.17 Pengamanan Lingkungan Hidup, Seksi 1.19
Keselamatan dan Kesehatan Kerja, dan Seksi 1.21 Manajemen Mutu, pada
dasarnya telah diakomodasi dalam ketentuan-ketentuan dari 9 komponen biaya
penerapan SMKK yang disebutkan dalam Pasal
d. Penyedia Jasa harus melaporkan pelaksanaan RKK, RMPK, RKPPL, dan RMLLP kepada
Pengguna Jasa sesuai dengan kemajuan pekerjaan, dengan masing-masing ketentuan
sebagaimana yang diuraikan dalam Seksi 1.19 Keselamatan dan Kesehatan Kerja,
Seksi 1.21 Manajemen Mutu, Seksi 1.17 Pengamanan Lingkungan Hidup, dan Seksi 1.8
Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas. Ketentuan-ketentuan dari 9 komponen biaya
penerapan SMKK di atas di luar Seksi 1.8, 1.17, 1.19 dan 1.21 akan disyaratkan dalam
Seksi ini sebagai pelengkap.
2. Kebutuhan Jumlah Personel Keselamatan Konstruksi dan Unit Keselamatan Konstruksi
a. Untuk Risiko Keselamatan Konstruksi Kecil: Perbandingan jumlah personel Keselamatan
Konstruksi dengan jumlah tenaga kerja konstruksi berupa 1:60 (satu banding enam
puluh) dengan paling sedikit 1 (satu) Petugas Keselamatan Konstruksi dalam tiap
Pekerjaan Konstruksi
b. Untuk Risiko Keselamatan Konstruksi Sedang:
Perbandingan jumlah personel Keselamatan Konstruksi dengan jumlah tenaga kerja
konstruksi berupa 1:50 (satu banding lima puluh) dengan pal ing sedikit 1 (satu) ahli
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi dan/atau ahli Keselamatan Konstruksi
muda dalam tiap Pekerjaan Konstruksi.
c. Untuk Risiko Keselamatan Konstruksi Besar: Perbandingan jumlah personel Keselamatan
Konstruksi dengan jumlah tenaga kerja konstruksi berupa 1:40 (satu banding empat
puluh) dengan paling sedikit 1 (satu) ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Konstruksi/Keselamatan Konstruksi Muda dengan pengalaman paling singkat 3 (tiga)
tahun dalam tiap Pekerjaan Konstruksi. Bilamana Penyedia Jasa mempekerjakan lebih
dari 100 (seratus) tenaga kerja harusmempunyai personel Keselamatan Konstruksi paling
sedikit terdiri atas 2 orang tenaga ahli berikut ini
i. 1 (satu) orang ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi utama, Ahli
Keselamatan Konstruksi Utama atau Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Konstruksi Madya dengan pengalaman paling singkat 3 (tiga) tahun, atau ahli
Keselamatan Konstruksi madya dengan pengalaman paling singkat 3 (tiga)
tahun;
ii. 1 (satu) orang Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi muda, atau
Ahli Keselamatan Konstruksi muda, masing-masing dengan pengalaman paling
singkat 3 (tiga) tahun; dan
iii. Untuk setiap penambahan tenaga kerja sampai 40 (empat puluh) orang
diperlukan tambahan 1 (satu) orang Petugas Kesel amatan Konstruksi atau
Petugas K3 Kontruksi.
d. Unit Keselamatan Konstruksi (UKK) Sesuai dengan Pasal 35 sampai 37 tentang Unit
Keselamatan Konstruksi (UKK) dari Permen PUPR Nomor 10 Tahun 2021 tentang
Penerapan SMKK, Penyedia Jasa harus membentuk Unit Keselamatan Konstruksi (UKK)
yang bertanggung jawab kepada unit yang menangani Keselamatan Konstruksi di
bawah pimpinan tertinggi Penyedia Jasa. UKK terdiri atas pimpinan dan anggota.
Tanggung jawab penerapan pengendalian mutu Pekerjaan Konstruksi melekat pada
pimpinan tertinggi Penyedia Jasa dan pimpinan UKK. Pimpinan UKK harus memiliki
kompetensi kerja yang dibuktikan dengan Sertifikat Kompetensi Kerja di bidang
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi/Keselamatan Konstruksi. Pimpinan UKK
berkoordinasi dengan Kepala Pelaksana (General Superinten-dent). Untuk Pekerjaan
Konstruksi berisiko Keselamatan Konstruksi kecil, Kepala Pelaksana (General
Superintendent) dapat merangkap sebagai pimpinan UKK. Untuk Pekerjaan Konstruksi
berisiko Keselamatan Konstruksi sedang atau besar, Penyedia Jasa harus membentuk
UKK yang terpisah dari struktur organisasi Pekerjaan Konstruksi. Persyaratan pimpinan UKK
dituangkan dalam persyaratan personel manajerial untuk Keselamatan Konstruksi.
Anggota UKK terdiri dari ahli Keselamatan Konstruksi/Keselamatan dan Kesehatan
Kerja Konstruksi, dan harus memiliki kompetensi kerja yang dibuktikan dengan
kepemilikan Sertifikat Kompetensi Kerja Konstruksi, sebagaimana dengan ketentuan
yang berlaku.
3. Pekerjaan Pengadaan Langsung dan/atau Padat Karya Untuk pekerjaan dengan Risiko
Keselamatan Konstruksi kecil melalui pengadaan langsung dan/atau padat karya,
biaya penerapan SMKK paling sedikit meliputi: penyediaan APD/APK; sarana dan
prasarana kesehatan terkait protokol kesehatan; dan rambu keselamatan sesuai
kebutuhan sehubungan dengan lingkup pekerjaan.
4. Pekerjaan Seksi Lain dalam Spesifikasi Umum yang Berkaitan dengan Seksi Ini
a. Mobilisasi Seksi 1.2
b. Kantor Lapangan dan Fasilitasnya Seksi 1.3
c. Fasilitas dan Layanan Pengujian Seksi 1.4
d. Transportasi dan Penanganan Seksi 1.5
e. Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas Seksi 1.8
f. Bahan dan Peyimpanan Seksi 1.11
g. Pekerjaan Pembersihan Seksi 1.16
h. Pengamanan Lingkungan Hidup Seksi 1.17
i. Keselamatan dan Kesehatan Kerja Seksi 1.19
j. Manajemen Mutu : Seksi 1.21
k. Semua Seksi dari Divisi 2 sampai dengan Divisi 10
5. Standar Rujukan
Standar Nasional Indonesia (SNI):
SNI 0111:2009 : Sepatu pengaman dari kulit dengan sol karet cetak vulkanisasi.
SNI 06-0652-2005 : Sarung tangan dari kulit sapi untuk kerja berat.
SNI 06-1301-1989 : Sarung tangan karet.
SNI 08-6113-1999 : Sarung tangan kerja dari karet rajut.
SNI 7037:2009 : Sepatu pengaman dari kulit dengan sistem Goodyear welt.
SNI 7079:2009 : Sepatu pengaman dari kulit dengan sol poliuretan dan termoplastik
poliuretan sistem cetak injeksi.
SNI 8604:2018 : Metode pengujian perangkat penahan jatuh perorangan dalam
pekerjaan pada ketinggian.
SNI ISO 3873:2012 : Helm keselamatan industri. ANSI (American National Standard
Institute) / ISEA (International Safety Equipment Association): ANSI S3.19-1974 : Method
for the Measurement of Real-Ear Protection of Hearing Protectors and al Attenuation of
Earmuffs.
ANSI/ISEA Z87.1:2020 : American National Standard For Occupational And Educational
Personal Eye And Face Protection Devices.
ISO (International Organization for Standardization):
ISO 16321-1:2021 : Eye and face protection for occupational use - Part 1: General
requirements.
ISO 19818-1:2021 : Eye and face protection - Protection against laser radiation - Part 1:
Requirements and test methods.
ISO 16321-2:2021 : Eye and face protection for occupational use —2: Additional
requirements for protectors used during welding and related techniques.
ISO 16972:2020 : Respiratory protective devices — Vocabulary and graphical symbols.
ISO 16024:2005 : Personal protective equipment for protection against falls from a height
— Flexible horizontal lifeline systems.
ISO 10333-2:200 : Personal fall-arrest systems — Part 2: Lanyards and energy absorbers.
2. KOMPONEN KEGIATAN PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN KONSTRUKSI
Komponen Kegiatan Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK), paling
sedikit terdiri atas Risiko Keselamatan Konstruksi, Unit Keselamatan Konstruksi (UKK) dan Biaya
Penerapan SMKK dalam Pekerjaan Konstruksi mencakup 9 komponen di bawah ini:
1. Penyiapan Dokumen Penerapan SMKK:
Penyiapan dokumen penerapan SMKK, antara lain namun tidak terbatas pada:
a. Pembuatan dokumen RKK, RMPK, RKPPL (apabila ada) dan RMLLP (apabila ada);
b. Pembuatan prosedur dan instruksi kerja; dan
c. Penyusunan pelaporan penerapan SMKK (harian, mingguan, bulanan, akhir).
Pembuatan dokumen termasuk prosedur dan instruksi kerja untuk Penyiapan RKK
(Rencana Keselamatan Konstruksi), RKPPL (Rencana Kerja Pengelolaan dan
Pemantauan Lingkungan Hidup); RMLLP (Rencana Manajemen Lalu Lintas Pekerjaan)
sebagaimana yang diuraikan masing-masing dalam Pasal 1.19.2, Pasal 1.17.1.f), dan
Pasal [Link]) dari Spesifikasi Umum. Pembuatan dokumen termasuk prosedur dan
instruksi kerja untuk RMPK (Rencana Mutu Pekerjaan Konstruksi) sebagaimana diuraikan
dalam Pasal 1.21.1 dan Pasal 1.21.2 dari Spesifikasi Umum harus berlaku. Dalam RMPK
tersebut perlu disusun PMPM (Penjaminan Mutu dan Pengendalian Mutu) Pekerjaan
Konstruksi sesuai dengan Sublampiran B – PMPM dari Lampiran Permen PUPR Nomor 10
Tahun 2021. Penyusunan RMLLP dapat merujuk pada dokumen hasil Analisa Dampak
Lalu Lintas (ANDALALIN) jika ada, sebagaimana yang diuraikan dalam Peraturan
Menteri Perhubungan Nomor PM 17 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Analisis
Dampak Lalu Lintas
2. Sosialisasi, Promosi, dan Pelatihan: Sosialisasi, promosi, dan pelatihan, antara lain namun
tidak terbatas pada:
a. Induksi Keselamatan Konstruksi (Safety Induction) untuk pekerja tamu dan staf
b. Pengarahan Keselamatan Konstruksi (Safety Briefing)
c. Pertemuan keselamatan (Safety Talk dan/atau Tool Box Meeting)
d. Pelatihan Keselamatan Konstruksi, antara lain:
i. Bekerja di ketinggian;
ii. Penggunaan bahan kimia (Material Safety Data Sheet (MSDS));
iii. Analisis keselamatan pekerjaan;
iv. Perilaku berbasis keselamatan (Budaya berkeselamatan konstruksi); dan
v. P3K.
e. Sosialisasi/penyuluhan HIV/AIDS Ketentuan teknis dapat merujuk pada Surat Edaran
Menteri Pekerjaan Umum Nomor 13/SE/M/2012.
f. Simulasi Keselamatan Konstruksi
g. Spanduk (Banner)
h. Poster/leaflet
i. Papan Informasi Keselamatan Konstruksi
3. Alat Pelindung Kerja dan Alat Pelindung Diri:
Alat Pelindung Kerja (APK) dan Alat Pelindung Diri (APD) termasuk barang habis pakai.
a. Alat Pelindung Kerja (APK), antara lain namun tidak terbatas pada:
i. Jaring pengaman (Safety Net)
ii. Tali keselamatan (Life Line);
iii. Penahan jatuh (Safety Deck);
iv. Pagar pengaman (Guard Railling);
v. Pembatas area (Restricted Area);
vi. Pelindung jatuh (Fall Arrester); dan
vii. Perlengkapan keselamatan bencana
Perlengkapan keselamatan bencana paling tidak mencakup: tandu; lampu darurat;
sirene; dan kantong jenazah. Ketentuan Alat Pelindung Kerja (APK) yang diuraikan
dalam Pasal 1.19.4 dari Spesifikasi Umum harus berlaku.
b. Alat Pelindung Diri (APD), antara lain namun tidak terbatas pada:
a. Topi pelindung (safety helmet);
b. Pelindung mata (goggles, spectacles);
c. Tameng muka (face shield);
d. Masker selam (breathing apparatus);
e. Pelindung telinga (ear plug, ear muff);
f. Pelindung pernafasan dan mulut (masker, masker respirator);
g. Sarung tangan (safety gloves);
h. Sepatu keselamatan (safety shoes, rubber safety shoes and toe cap);
i. Penunjang seluruh tubuh (full body harness);
j. Jaket pelampung (life vest);
k. Rompi keselamatan (safety vest);
l. Celemek (apron/coveralls); dan
m. Pelindung jatuh perorangan terdiri dari sabuk pengaman tubuh (harness),
karabiner, tali koneksi (lanyard), tali pengaman (safety rope), alat penjepit tali
(rope clamp), alat penurun (decender), alat penahan jatuh bergerak (mobile fall
arrester), dan lain-lain, sesuai dengan butir 8 pada Lampiran Permen Tenaga Kerja
dan Transmigrasi Nomor PER.08/MEN/VII/2010 tentang Alat Pelindung Diri.
Ketentuan Alat Pelindung Diri (APD) yang diuraikan dalam Pasal [Link]) dari
Spesifikasi Umum harus berlaku.
4. Asuransi dan Perizinan:
Asuransi dan perizinan, antara lain namun tidak terbatas pada:
a. Asuransi (Construction All Risks/CAR)
b. Asuransi pengiriman peralatan
c. Uji Riksa Peralatan
Asuransi (Construction All Risks/CAR) yang mencakup: Pekerjaan itu sendiri dan
asuransi pihak ketiga, sebagaimana yang disyaratkan dalam Syarat-syarat Umum
Kontrak (SSUK) harus berlaku. Asuransi pengiriman peralatan digunakan untuk
pekerjaan yang memerlukan mobilisasi alat berat. Uji riksa peralatan (pemeriksaan atau
pengujian kelaikan alat berat untuk mendapatkan izin alat berat) sebelum alat berat
digunakan harus dilaksanakan oleh Penyedia Jasa sesuai dengan Peraturan Menteri
Tenaga Kerja Nomor 8 Tahun 2020 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pesawat
Angkat dan Pesawat Angkut. Uji riksa peralatan dapat meliputi: pesawat uap dan
bejana tekan (PUBT); pesawat angkat-angkut (PAA); pesawat tenaga dan produksi
(PTP); instalasi listrik dan penyalur petir; serta instalasi proteksi kebakaran, sesuai dengan
kebutuhan peralatan yang akan digunakan.
Personel Keselamatan Konstruksi:
5. Personel Keselamatan Konstruksi, antara lain namun tidak terbatas pada:
a. Ahli K3 konstruksi atau ahli keselamatan konstruksi (sebagai pimpinan UKK/personel
manajerial)
b. Ahli K3 konstruksi atau ahli keselamatan konstruksi
c. Petugas Keselamatan Konstruksi, Petugas K3 Konstruksi
d. Petugas Pengelolaan Lingkungan
e. Petugas tanggap darurat/ Petugas pemadam kebakaran Petugas P3K