0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan41 halaman

Serangan Penggerek Batang Cengkeh Berdasarkan Umur

Diunggah oleh

muhamad iqbal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan41 halaman

Serangan Penggerek Batang Cengkeh Berdasarkan Umur

Diunggah oleh

muhamad iqbal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERSENTASE SERANGAN DAN KERUSAKAN

PENGGEREK BATANG CENGKEH (Hexamitodera semivelutina HELL.)


BERDASARKAN PERBEDAAN UMUR TANAMAN CENGKIH
DI KABUPATEN MINAHASA SELATAN

SKRIPSI

CHRISTMAS ARNOLD MINGKID


18031109003

PROGRAM STUDI PROTEKSI TANAMAN


JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2023
PERSENTASE SERANGAN DAN KERUSAKAN
PENGGEREK BATANG CENGKEH (Hexamitodera semivelutina HELL.)
BERDASARKAN PERBEDAAN UMUR TANAMAN CENGKIH
DI KABUPATEN MINAHASA SELATAN

CHRISTMAS ARNOLD MINGKID


18031109003

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana


Pertanian pada Fakultas Pertanian universitas Sam Ratulangi Manado

PROGRAM STUDI PROTEKSI TANAMAN


JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO

2023
LEMBAR PENGESAHAN

PERSENTASE SERANGAN DAN KERUSAKAN


PENGGEREK BATANG CENGKEH (Hexamitodera semivelutina HELL.)
BERDASARKAN PERBEDAAN UMUR TANAMAN CENGKIH
DI KABUPATEN MINAHASA SELATAN

CHRISTMAS ARNOLD MINGKID


18031109003

Telah memenuhi syarat untuk diterima


Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Maxi Lengkong, MS [Link]. Juliet M. E. Mamahit, [Link]


Ketua Anggota

Manado, … Agustus 20023


Fakultas Pertanian Pimpinan
Universitas Sam Ratulangi Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan
Dekan Ketua

Ir. Dedie Tooy, MSc., Ph.D Dr. Ir. Maxi Lengkong, MS


NIP. 196712301992031002 NIP. 196303211988031003

Tanggal Lulus : ………………..


PERNYATAAN MAHASISWA

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Christmas Arnold Mingkid

Nim : 18031109003

Program Studi : Proteksi Tanaman

Judul Skripsi : Persentase Serangan dan Kerusakan Penggerek Batang


Cengkeh (Hexamitodera semivelutina Hell.)
Berdasarkan Perbedaan Umur Tanaman Cengkih Di
Kabupaten Minahasa Selatan
Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa

1. Skripsi ini adalah asli karya dan belum pernah diajukan oleh orang lain

untuk memperoleh gelar di suatu perguruan tinggi.

2. Pada skripsi saya, tidak terdapat karya atau pernah ditulis atau diterbitkan

orang lain, kecuali secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan

dalam sumber kutipan dan daftar pustaka.

3. Apabila ternyata dikemudian hari terdapat penyimpangan dan

ketidakbenaran pernyataan ini, maka saya bersedia menerima segala

akibatnya termasuk pencabutan gelar sarjana yang telah saya peroleh.

Manado, Agustus 2023

Yang membuat pernyataan

Christmas Arnold Mingkid


Nim :18031109003
RINGKASAN

Persentase Serangan dan Kerusakan Penggerek Batang Cengkih


(Hexamitodera semivelutina Hell.) Berdasarkan Perbedaan Umur Tanaman
Cengkeh Di Kabupaten Minahasa Selatan. Christmas Arnold Mingkid. NIM
18031109003. Dosen Pembimbing Dr. Ir. Maxi Lengkong, MS sebagai ketua
komisi dan Dr. Ir. Juliet M. Eva Mamahit, [Link] sebagai anggota.

Cengkih (Syzygium aromaticum L.) merupakan tanaman perdagangan yang


mempunya nilai ekonomi cukup tinggi di Indonesia. Selama pertumbuhan dan
produksi tanamancengkeh dapat diserang penggerek batang cengkih yaitu
Hexamitodera semivelutina yang menyebabkan tanaman mengalami kerusakan
bahkan menyebabkan kematian
Penelitihan ini bertujuan untuk mengetahui persentase serangan dan
kerusakan hama penggerek batang cengkih H. semivelutina pada tanaman cengkeh
yang berbeda umur di Desa Wuwuk, Kabupaten Minahasa Selatan.
Metode penelitian menggunakan metode survey yakni dengan melakukan
pengamatan secara langsung di lokasi penelitian. Penelitian dilakukan pada kebun
cengkih di Desa Wuwuk. Jumlah pohon cengkih sebagai sampel tanaman yang
diamati untuk masing – masing lokasi berjumlah 20 pohon tanaman yang dipilih
berdasarkan umur tanaman. Jumlah titik lokasi pengamatan yaitu 6 kebun
sehingga jumlah keseluruhan tanaman sampel yang akan diamati adalah 120
tanaman dan dikalikan dua sebagai perbedaan umur tanaman yaitu < 10 tahun dan
> 10 tahun maka jumlah keseluruhan tanaman yang akan diamati adalah 240
pohon. Pengamatan persentase serangan dan kerusakan oleh penggerek batang
cengkih dibedakan pada dua umur tanaman, yakni berumur < 10 tahun dan > 10
tahun.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase serangan penggerek batang
cengkih H. semivelutina pada populasi tanaman cengkeh berumur < 10 berkisar
15-30 % dengan rata-rata 22,5 %, sedangkan pada populasi tanaman cengkih
berumur > 10 tahun berkisar berkisar 45-60 % dengan rata-rata 52, 5 %. Kerusakan
berdasarkan lubang gerekan pada populasi tanaman cengkih berumur < 10 tahun
pada lubang aktif berkisar 3-6 lubang dengan rata-rata 4,6 lubang sedangkan
untuk kerusakan lubang tidak aktif berkisar 0-2 lubang gerekan dengan rata-rata
0,83 lubang gerekan. Pada populasi tanaman cengkih berumur > 10 tahun pada
lubang aktif berkisar 6-9 lubang dengan rata-rata 7,1, sedangkan lubang tidak aktif
berkisar 5-8 lubang dengan rata-rata 6,1 lubang.

Kata Kunci : Penggerek batang cengkih, Hexamitodera semivelutina, Syzigium


aromaticum, Persentase serangan dan kerusakan
SUMMARY

Percentage of Clove Stem Scraper Attack and Damage (Hexamitodera


semivelutina Hell.) Based on the age difference of clove plants in South
Minahasa Regency. Christmas Arnold Mingkid. NIM 18031109003. Supervisor
Dr. Ir. Maxi Lengkong, MS as chairman of the advisory commission and Dr. Ir.
Juliet M. Eva Mamahit, MSi as member of the advisory committee

Cloves (Syzigium aromaticum L.) is a trading plant that has a fairly high
economic value in Indonesia. During the growth and production of clove plants can
be attacked by clove stem borers, namely Hexamitodera semivelutina which causes
plants to experience damage and even cause death
This study aims to determine the proportion of attack and damage by the
clove stem borer H. semivelutina on cloves of different ages in Wuwuk Village,
South Minahasa Regency.
The research method uses a survey method, namely by making direct
observations at the research location. The research was conducted in a clove
garden in Wuwuk Village. The number of clove trees as a sample of plants
observed for each location was 20 trees selected based on the age of the plants. The
number of observation points is 6 gardens so that the total number of sample plants
to be observed is 120 plants and multiplied by two as the difference in plant age,
namely <10 years and > 10 years, the total number of plants to be observed at the
time of observation is 240 trees. Observations on the percentage of attack and
damage by the clove stem borer were distinguished at two plant ages, namely < 10
years and > 10 years.
The results showed that the percentage of attacks by the clove stem borer
H. semivelutina on clove plant populations aged <10 years ranged from 15-30
percent with an average of 22.5 percent, whereas in clove plant populations aged >
10 years it ranged from 45-60 percent with an average -52.5 percent average.
Damage based on drill holes in clove plant population aged <10 years in active
holes ranged from 3-6 holes with an average of 4.6 holes Meanwhile, damage to
inactive holes ranges from 0-2 boreholes with an average of 0.83 boreholes. In
populations of clove plants aged > 10 years, the active holes ranged from 6-9 holes
with an average of 7.1, while the inactive holes ranged from 5-8 holes with an
average of 6.1 holes.

Keywords : Clove stem borer, Hexamitodera semivelutina, Syzigium aromaticum,


Attack and damage percentage
RIWAYAT HIDUP

Christmas Arnold Mingkid, lahir di Amurang pada tanggal 25 Desember

2001. Penulis lahir dari orangtua Semuel Alexander Mesakh Mingkid dan Oktavian

Olga Manopo, sebagai anak pertama dari empat bersaudara. Penulis menempuh

pendidikan mulai dari SD GMIM Pondang dan lulus tahun 2012, kemudian lanjut ke

SMP Negeri 1 Amurang dan lulus tahun 2015 serta melanjutkan ke SMK Negeri 1

Amurang dan lulus tahun 2018. Pada tahun 2018 penulis terdaftar sebagai

mahasiswa Fakuyltas Pertanian Universitas Sam Ratulangi Manado. Penulis

memilih Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Program Studi Proteksi Tanaman

melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi (SBMPTN) dan lulus

dengan Nomor Induk Mahasiswa 18031109003.


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang

telah memberikan hikmat pengetahuan, kesehatan dan kekuatan sehingga penulis

dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Persentase Serangan dan

Kerusakan Penggerek Batang Cengkih (Hexamitodera semivelutina Hell.)

Berdasarkan Perbedaan Umur Tanaman Cengkih di Kabupaten Minahasa

Selatan”. Penulisan Skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu

syarat untuk mencapai gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian Universitas

Sam Ratulangi Manado. Penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-

dalamnya kepada Dr. Ir. Maxi Lengkong, MS sebagai ketua komisi pembimbing

dan Dr. Ir. Juliet M. Eva Mamahit, MSi sebagai anggota komisi pembimbing yang

telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan dan

membimbing penulis dalam penyusunan Skripsi ini.

Penulis juga menyadari bahwa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak

telah membantu penulis dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan Skripsi.

Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Prof. Dr. Ir. Oktavian B.A. Sompie, [Link]., IPU Asean sebagai Rektor

Universitas Sam Ratulangi Manado

2. Ir. Dedie Tooy, [Link]., Ph.D sebagai Dekan Fakultas Pertanian Universitas

Sam Ratulangi Manado

3. Dr. Ir. Maxi Lengkong, MS sebagai Ketua Jurusan Hama dan Penyakit

Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi Manado

4. Dr. Ir. Bernadeth Vivi Montong, [Link] sebagai Koordinator Program Studi
Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi

Manado

5. Ir. Caroulus S. Rante, MS, Dr. Ir. Bernadeth Vivi Montong, [Link] dan Dr.

Franky H. Rorong, SP, MSi sebagai Komisi Penguji.

6. Orang tua Semuel Alexander Mesakh Mingkid dan Oktavian Olga Manopo

yang telah memberikan doa serta bantuan moral dan materi selama

perkuliahan dan dalam pelaksanaan penelitian.

7. Opa Arensop Manopo dan Oma Carolina Senewe yang telah memberikan doa

dan bantuan selama pekuliahan kepada penulis.

8. Stevani Taroreh yang menemani dan memberikan bantuan serta dukungan

9. Sahabat saya Fegri Dopong, Hizkia Gigir, Monica Korompis, Alan Sigar,

Marlev Mandalika, Gladys Sariowan. yang telah membantu dan memberikan

dukungan pada penulis selama perkuliahan. Seluruh teman-teman bermain

game online Dave, Julio, Rafelino, Noel, Bravi, Yano, Nando,T ino. yang

memberikan dukungan pada penulis selama perkuliahan.

10. Kepada semua pihak yang tak sempat disebutkan, penulis juga menyampaikan

rasa terima kasih.

Akhir kata, penulis berharap Tuhan Yesus Kristus akan membalas segala

kebaikan dari semua pihak yang telah membantu dan membimbing penulis.

Semoga Skripsi ini dapat memberi manfaat bagi pembaca.

Manado, Agustus 2023

“Penulis”
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR …………………………………………………… i
DAFTAR ISI …………………………………………………………….. ii
DAFTAR TABEL ………………………………………………………… iv
DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………. v
DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………………… vi
BAB I PENDAHULUAN ………………………………………… 1
1.1. Latar Belakang …………………………………………….. 1
1.2. Rumusan Masalah …………………………………………. 5
1.3. Tujuan Penelitian ………………………………………….. 5
1.4. Manfaat Penelitian ………………………………………… 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA …………………………………. 6
2.1. Tanaman Cengkih Syzygium aromaticum .……………… 6
2.2. Penggerek batang Cengkih H. semivelutina ………………. 9
BAB III METODELOGI PENELITIAN ………………………… 12
3.1. Tempat dan Waktu ………………………………………… 12
3.2. Alat dan Bahan ……………………………………………. 12
3.3. Metode Penelitian …………………………………………. 12
3.4. Prosedur Kerja …………………………………………….. 14
3.5. Hal-Hal yang Diamati ……………………………………… 15
3.6. Analsis Data ……………………………………………….. 15
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .…………………………. 16
4.1. Persentase Serangan Hama Penggerek Batang Cengkih H.
16
semivelutina Hell. ………………………………………
4.2. Kerusakan Pohon Cengkih akibat gerekan H. semivelutina
19
yang meninggalkan lubang gerekan aktif dan tidak aktif …
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN …………………………… 23
5.1. Kesimpulan ……………………………………………… 23
5.2. Saran ……………………………………………………… 23
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………… 24
LAMPIRAN …………………………………………………………….. 26
DAFTAR TABEL

Halaman
No. Teks
Persentase
4.1 Persentase serangan pengerek batang cengkih H. semivelutina pada 16
populasi tanaman cengkih berumur < 10 tahun ……………………
4.2 Persentase serangan penggerek H. semivelutina pada populasi 17
tanaman cengkih berumur >10 tahun ……………………………..
4.3 Kerusakan pohon cengkih yang didasarkan pada gerekan aktif dan
tidak aktif akibat serangan penggerek batang cengkih H. semivelutina
pada tanaman berumur < 10 tahun di lokasi pengamatan 19
…………………………………………………………
4.4. Kerusakan pohon cengkih yang didasarkan pada gerekan aktif dan
tidak aktif akibat serangan penggerek batang cengkih H. semivelutina
pada tanaman berumur > 10 tahun di lokasi pengamatan 21
……………………………………………….………
DAFTAR GAMBAR

Halaman
No. Teks
2.1 Morfologi serangga dewasa [Link]……………………………. 7
2.2 Larva H. semivelutina diambil dari lubang gerekan aktif (Dokumen 8
Pribadi) ………….…………………………………………………
2.3 Gejala serangan gerekan aktif H. semivelutina pada kulit luar batang 9
cengkih (Dokumen Pribadi) ……………………….……………..
3.1 Tata Letak Pengamatan di Lapangan A. Pohon Umur < 10 Tahun, B. 14
Pohon Umur > 10 Tahun ……………………………………………
DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
No. Teks
1 Pengamatan serangan pengerek batang cengkih H. semivelutina di
kebun cengkih desa Wuwuk Kecamatan Tareran Kabupaten
Minahasa Selatan …………………………………………….…….. 26

2 Pengamatan terhadap serangan penggerek batang cengkih H. 27


semivelutina dengan gejala lubang aktif …………………………..
3 Pengamatan terhadap lubang gerekan aktif yang terdapat larva H.
semivelutina pada batang tanaman cengkih di lokasi penelitian Desa
Wuwuk Kecamatan Tareran ………………………………………. 28
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Cengkih (Syzigium aromaticum L.) merupakan tanaman perdagangan yang

mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi di Indonesia. Sumatera Barat, Sulawesi

Utara, dan Maluku merupakan sentra cengkih di Indonesia. Usaha untuk

menggairahkan kembali usaha tani cengkih terus dilakukan dengan menyediakan

teknologi budidaya untuk meningkatkan produksi (Bulan, 2004). Lebih lanjut

dikemukakan bahwa komoditi ini banyak digunakan dibidang industri sebagai

bahan pembuatan rokok kretek, dan dibidang farmasi sebagai bahan pembuatan

minyak atsiri. Pada mulanya cengkih hanya dipergunakan untuk obat-obatan

namun dalam perkembangannya pemanfaatan cengkih menjadi lebih luas, yaitu

sebagai rempah-rempah, bahan baku parfum dan sumber eugenol.

Tanaman ini merupakan salah satu tanamn tertua yang berada di Indonesia

Pulau Ternate (Najiyati dan Danarti, 2003). Jenis cengkih yang dibudidayakan di

Indonesia ada tiga yaitu Zanzibar, Sikotok dan Siputih. cengkih yang disukai

masyarakat yaitu jenis Zanzibar karena produktivitasnya lebih tinggi (Ruhnayat,

dkk., 2014).

Salah satu jenis organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang menyerang

tanaman cengkih dan sering dijumpai adalah hama penggerek batang cengkih

Hexamitodera semivelutina merupakan hama utama pada tanaman cengkih di

Indonesia, khusunya di provinsi Sulawesi Utara. Penurunan produksi cengkih

akibat serangan hama ini dapat mencapai 10-25 %. Di Provinsi Sulawesi Utara,

serangan hama ini sudah dilaporkan menyerang tanaman cengkih sejak tahun
1966 dimana persentase pohon cengkih yang terserang penggerek batang ini

dilaporkan mencapai 43,3 % dengan angka kematian mencapai 14,2 %. Sampai

pada saat ini hama yang sering dikeluhkan oleh petani adalah adanya serangan

penggerek batang H. semivelutina (Tarore dan Manueke 2007).

Di Indonesia tanaman cengkih lebih kurang 95 persentase diusahakan oleh

rakyat dalam bentuk perkebunan rakyat yang tersebar di seluruh propinsi. Tahun

2004 tercatat luas areal pertanaman berkisar 429,935 Ha yang sebenarnya pada

tahun 1982, luas areal telah mencapai 541,830 Ha pada 26 propinsi (Bulan, 2004).

Luas areal pertanaman cengkih rakyat telah turun berkisar 120.000 Ha selama 20

tahun atau tiap tahun terjadi kerusakan ± 6000 Ha. Produktivitas cengkih sangat

rendah hanyalah 287,42 kg/Ha/panen. Dari data yang tercantum di atas terlihat

bahwa budidaya tanaman cengkih terdapat masalah dan kendala yang belum dapat

diatasi petani cengkih secara individu. Di Indonesia terdapat lima hama utama dan

berkisar 11 penyakit tanaman cengkih yang melanda sentra pertanaman cengkih di

Indonesia belum termasuk penyakit fisiologi yakni mati kekeringan dan mati

bujang (Anonim, 2012).

Di Provinsi Sulawesi Utara, pada tahun 1966, persentase pohon cengkih

yang diserang penggerek batang cengkih H. semivelutina Hell (Cerambycidae,

Coleoptera) dilaporkan mencapai 43,3 % dengan angka kematian mencapai 14,2

%. Pada tahun 1974 pada sentra pertanaman cengkih di Minahasa Tengah-Pinaras

tercatat 35.000 pohon cengkih terserang dan 14 % rusak berat (Rondonuwu, dkk.

1980; Tarore dan Manueke, 2007). Menurut Van Wyk, [Link]. ( 2004) berdasarkan

hasil penelitian mereka ternyata serangan penggerek batang cengkih H.

semivelutina sudah diikuti dengan serangan penyakit pembuluh batang


Ceratocystic polychroma sehingga tanaman cengkih di Provinsi Sulawesi Utara

mengalami banyak kematian pohon. Balai Proteksi Tanaman Provinsi Sulawesi

Utara pada tahun 2007 melaporkan bahwa Penggerek Batang cengkih H.

Semivelutina telah eksplosif dan ditaksir daerah serangannya meliputi 18.838 Ha

(serangan berat 18.723 Ha dan serangan ringan 115 Ha) dan kehilangan hasil

berkisar 161.011 kg cengkih basah atau kerugian mencapai Rp [Link].

Ternyata sudah berkisar 46,61 % dari tanaman cengkih produktif yaitu kurang

lebih 40.418 pohon yang terserang penggerek batang cengkih (Rondonuwu, dkk.

1980).

Gejala serangan pada batang pohon cengkih adalah dengan terlihatnya

lubang berukuran 3-5 mm yang mengeluarkan sisa-sisa gerekan dan kotoran

serangga yang mengalir ke bawah. Pada satu pohon cengkih dapat ditemukan

berkisar 10-20 lubang gerekan dan apabila lubang-lubang tersebut dibuka maka

akan terlihat saluran/ liang yang menghubungkan lubang-lubang tersebut. Liang-

liang gerekan tidak teratur dan apabila liang gerekan melingkari batang maka

bagian tanaman di atas lubang tersebut menunjukkan gejala meranggas dan

mengakibatkan kematian tanaman (Rondonuwu, dkk. 1980; Tarore dan Manueke,

2007). Batang yang sedang terserang, dari lubang gerakan terlihat basah,

mengeluarkan cairan coklat bercampur dengan kotoran bekas/sisa gerekan yang

halus seperti butiran pasir atau tepung. Keadaan demikain menunjukan bahwa

larva ada di dalam lubang gerekan dan sedang menyerang, sehingga lubang

gerekan tersebut disebut lubang aktif Jumlah lubang gerekan pada batang cengkih

berkisar 20 – 40 buah dan rata – rata 30 buah, kadang – kadang dapat mencapai

100 buah lubang yang membentuk gerekan yang tidak teratur. Panjang lubang
atau saluran gerekan dari lubang teratas sampai lubang terbawah sekitar 2 meter,

ada yang hanya 1 meter, dan rata-rata 1,5 meter, tergantung pada besarnya batang

yang di serang dan stadium larva yang menyerang. Kerusakan pada batang, terjadi

pada jaringan kambium, phloem dan xylem, sehingga menyebabkan pertumbuhan

tanaman terhambat bahkan tanaman dapat mengalami kematian (Rondonuwu,

dkk., 1980; Tarore dan Manueke, 2007)

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah penelitian ini yaitu bagaimana serangan dan kerusakan

hama penggerek batang cengkih di Desa Wuwuk Kabupaten Minahasa Selatan ?

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase serangan dan

kerusakan hama pengerek batang cengkih H. semivelutina pada pertanaman

cengkih yang berbeda umur di Desa Wuwuk Kabupaten Minahasa Selatan

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai

persentase serangan dan kerusakan hama pengerek batang cengkih (H.

semivelutina) pada pertanaman cengkih di Desa Wuwuk Kabupaten Minahasa

Selatan dan berdasarkan hasil penelitian maka upaya penetapan strategi

pengendalaian terhadap hama pengerek batang cengkih dapat dilakukan


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Cengkih Syzygium aromaticum L.

2.1.1 Klasifikasi Tanaman Cengkih

Menurut Aksan (2008) Tanaman cengkih diklasifikasikan sebagai berikut

Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Myrtales
Famili : Myrtaceae
Marga : Syzygium
Spesies : Syzygium aromaticum L

2.1.2 Morfologi Cengkih

Cengkih (Syzygium aromaticum L.) merupakan tanaman pohon dengan

batang besar berkayu keras yang tingginya mencapai 20–30 m. Tanaman ini

mampu bertahan hidup hingga lebih dari 100 tahun dan tumbuh dengan baik di

daerah tropis dengan ketinggian 600–1000 meter di atas permukaan laut (dpl)

(Najiyati dan Danarti, 2003). Uraian morfologi tanaman cengkih adalah sebagai

berikut : Akar tanaman cengkih adalah akar tunggang. Batang tanaman Keras

berkayu dan bercabang. Bentuknya bulat dan memiliki permukaan kasar. Tipe

percabangan adalah monopodial dan memilki cabang yang banyak. Kulit batang

tanaman cengkih mengandung asam betulinat, friedelin, epifriedelinol, sitosterim,

eugenin (senyawa ester dari epifriedelinol dengan suatu asam lemak rantai

panjang), dan C27H55COOH. Daun tanaman cengkih adalah kaku dab berbentuk
lanset. Warna pangkal daun hijau suram dan bergradasi ke kuning lalu jingga ke

ujungnya. Daun tanaman mengandung eugenol dan karioeugenol, asam gallat,

metil gallat, turunan triterpen, asam oleanolat (kariofilin), dan asam betulinat.

Bunga tanaman cengkih adalah majemuk tak berbatas malai rata ( corymbus

rasomus ), muncul pada ujung ranting daun ( flos terminalis ) dengan tangkai

pendek. Warnanya bunga hijau yang mejadi merah ketika tua. Kelopak bunga

panjang 4-5 mm, dengan stamen banyak dan putik satu yang merupakan bunga

tunggal; kuncup bunga mengandung eugenol sebesar 16-23 %, zat samak tipe

gallat, sianidin ramnoglukosida, kuersetin, kaemferol, mirsetin dan isokuersitin.

Buah cengkih termasuk kedalam buah buni dengan panjang 2-2,5 cm berwarna

merah sampai merah kehitaman. Biji cengkih berwarna coklat dengan ukuran

sekitar 4 mm (Ruhnayat, dkk., 2014)

2.2. Penggerek Batang Cengkih Hexamitodera semivelutina

2.2.1. Klasifikasi

Serangga hama penggerek batang cengkih, menurut CABI (2022) secara

taksonomi digolongkan sebagai berikut :

Phylum: Arthropoda
Subphylum: Uniramia
Class: Insecta
Order: Coleoptera
Family: Cerambycidae
Genus: Hexamitodera
Species: Hexamitodera semivelutina Hell.,
2.2.2 Bioekologi dan Gejala Serangan

Hama penggerek batang cengkih (H. semivelutina) tergolong kedalam

ordo Coleoptera dan perkembangan hidupnya mengalami metarmorfosa

sempurna. Metamorfosa sempurna ini dikenal dengan istilah holometabola, yakni

metamorfosa yang mengalami perkembangan empat stadia yaitu stadia telur,

larva, pupa, dan imago. Serangga dewasa H. semivelutina (Gambar 2.1)

Gambar 2.1 Morfologi serangg dewasa H. semivelutina (Anonim, 2018)

Stadia yang merusak atau menggerek batang tanaman cengkih adalah

stadia larva. Serangga betina dewasa meletakkan telur pada celah-celah kulit

batang cengkih. Telur berbentuk lonjong dengan rata-rata panjang 4 mm,

diameter 1,5 mm, berwarna putih. Telur dalam perkembangannya terjadi

perubahan warna yaitu pada saat diletakkan berwarna putih, sehari kemudian

menjadi warna biru muda dan selanjutnya menjadi kuning kehijau-hijauan.

Stadium telur berlangsung sekitar 20 hari (Kalshoven, 1981; Tarore dan

Manueke, 2007; Indriati, dkk., 2011).

Larva berbentuk langsing dan berwarna putih kekuningan. Pada bagian

kepala terdapat alat mulut berupa labium, labrum dan sepasang mandibel yang

kuat berwarna coklat hitam. Panjang larva dewasa berkisar 5-8 mm, bahkan dapat

mencapai 9-10 mm, dengan diameter 1 cm, tergantung pada batang tanaman
cengkih yang diserangnya. Larva yang baru menetas dari telur tinggal beberapa

lama, skitar 13-15 hari, kemudian baru akan menggerek masuk kedalam batang

(Rondonuwu,1981; Indriati, dkk., 2011 ), Secara morfologi larva H. semivelutina

dapat dilihat pada Gambar 2.2 berikut ini.

Gambar 2.2. Larva H. semivelutina diambil dari lubang gerekan aktif


(Dokumen Pribadi)

Gejala kerusakan akibat serangan penggerek batang pada pohon cengkih

adalah adanya lubang-lubang gerekan berukuran 3 - 5 mm . Lubang gerekan

ditemukan di batang pohon cengkih pada ketinggian 0,3 m hingga 5 m dari

permukaan tanah. Jumlah gerekan aktif per pohon 1 – 4 lubang gerekan. Panjang

liang atau saluran liang gerekan dari lubang terbawa sekitar 2 m, dan ada yang

hanya 1 m atau rata – rata 1,5 m, tergantung pada besarnya batang yang diserang
dan stadium larva yang menyerang (Rondonuwu, dkk., 1980; Indriati, dkk., 2011 ).

Gejalah serangan penggerek batang cengkih, H. semivelutina dapat dilihat pada

Gambar 2.3, berikut ini.

Gambar 2.3 Gejala serangan gerekan aktif H. semivelutina pada kulit luar
batang cengkih (Dokumen Pribadi)

2.2.3 Pengendalian H. semivelutina

Untuk mengurangi kehilangan hasil akibat serangan hama dan penyakit

maka upaya pengendaliannya sangat diperlukan (Indriati, dkk., 2011).

Pedoman Pengendalian OPT adalah Perlindungan Tanaman yang dilaksanakan

dengan pemantauan, pengamatan, dan pengendalian OPT. Untuk

meningkatkan efektifitas pengendalian, diperlukan bantuan pengendalian oleh

pemerintah sebagai stimulan untuk mendorong peran serta dan kesadaran

masyarakat dalam mengendalikan OPT tersebut. Karena terbatasnya anggaran

yang dimiliki oleh pemerintah, kegiatan pengendalian OPT dilaksanakan pada

pusat-pusat serangan atau areal yang memiliki potensi untuk menjadi sumber

serangan. (Ditjenbun, 2016).


Kegiatan perlindungan tanaman merupakan tanggung jawab pemerintah

dan masyarakat yang dilaksanakan dengan menerapkan PHT (Pengendalian

Hama Terpadu) yang aman terhadap manusia dan lingkungan. Menurut Rojak

dan Maftu (2008) dalam menerapkan PHT terdapat 4 (empat) prinsip yang

harus dipedomani, yaitu: (1) budidaya tanaman sehat; (2) konservasi dan

pemanfaatan musuh alami; (3) pengamatan berkala dan berkesinambungan

serta (4) pemilik kebun/petani secara individu atau kelompok menjadi ahli PHT

atau mandiri dalam pengambilan keputusan di dalam pengelolaan kebunnya.

Secara umum, strategi pengendalian yang disarankan adalah : 1) Pengendalian

dan budidaya yang baik; 2) Pengendalian fisik ; 4) Pengendalian biologi; 5)

Companion planting; dan 6) Legislasi (peraturan).

Upaya pengendalian penggerek batang cengkih H. semivelutina sampai

saat ini sudah mulai berkembang adalah sebagai berikut :

1. Pengendalian secara fisik dan mekanis

Cara pengendalian ini adalah bagaimana kita melakukan pengendalian

terhadap kebersihan batang pohon dari peletakan telur dan perkembangan larva

instar awal pada kulit luar batang pohon cengkih dan menangkap sekaligus

membunuh. Setelah batang tanaman diserang oleh pengerek batang maka

tindakan secara fisik mekanis adalah mencari lubang gerekan kemudian secara

mekanis menggunakan kawat untuk dimasukan ke dalam lubang gerekan dan

menarik larva yang ditemukan untuk di bunuh (Tarore dan Manuaeke, 2007).

2. Pengendalian kimia

Terdapat beberapa cara pengendalian kimia dengan menggunakan

pestisida yang dilakukan terhadap penggerek batang cengkih, menurut Tarore dan
Manueke (2007 ) yaitu : (1) memakai bahan kimia dapat dengan memasukkan

insektisida racun pernapasan ke dalam lubang gerekan kemudian ditutup dengan

pasak kayu. lnsektisida yang digunakan adalah : Akodan 35 EC 0,5-0,15

persentase, Curacron 500 EC 0,1-0,2 persentase dan Bestox 50 EC 0,25-0,50

persentase (2) melakukan injeksi batang dan memanfaatkan pestisida sitemik

seperti Akodan 35 EC 0,5-0,15 persentase, Curacron 500 EC 0,1-0,2 persentase ,

dan (3) Cara kimiawi dapat dilakukan secara sederhana yaitu menaburkan

insektisida sistemik berbahan aktif carbofuran (misalnya Furadan 3 G) dengan

dosis 115-150 g/pohon dan interval tiga bulan sekali.

3. Pengendalian Biologi

Pengendalian penggerek batang cengkih dapat dikendaliakan secara

biologis atau hayati dengan menggunakan agensia pengendali hayati (APH)

yaitu metabolit sekunder jamur Metarhizium dan Beauveria dengan metode infus

akar. Metode pengendalian merupakan teknologi baru yang dapat mengendalikan

penggerek batang cengkih H. semivelutina berkisar 70 -95 % (Tumewan, 2020;

Lengkong, dkk., 2022).


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Wuwuk Kecamatan Tareran,

Kabupaten Minahasa Selatan. Penelitian dilakukan selama tiga bulan, yang

dimulai sejak bulan Agustus 2022 sampai dengan November 2022.

3.2 Alat dan Bahan Penelitian

Alat dan bahan yang di gunakan dalam penelitian yaitu : kamera, mistar,

alat tulis menulis, parang, tangga, tanaman cengkih (Zanzibar, Sikotok, dan

Siputih), lubang gerekan aktif dan tidak aktif, Stadia larva pengerek batang

cengkih H. semivelutina, meteran, handphone dan aplikasi Altimeter

3.3 Metode penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode survey pada

pertanaman cengkih di Desa Wuwuk. Metode penelitian menggunakan metode

survey yakni dengan melakukan pengamatan secara langsung di lokasi penelitian.

Penelitian dilakukan pada kebun cengkih di Desa Wuwuk. Jumlah pohon

cengkih sebagai sampel tanaman yang diamati untuk masing – masing lokasi

berjumlah 20 pohon tanaman yang dipilih berdasarkan umur tanaman. Tata letak

percobaan penelitiaan (Gambar 3.1.) Jumlah titik lokasi pengamatan yaitu 6


kebun sehingga jumlah keseluruhan tanaman sampel yang diamati adalah 120

tanaman dan dikalikan dua sebagai perbedaan umur tanaman yaitu < 10 tahun

dan > 10 tahun sehingga jumlah keseluruhan tanaman yang diamati pada saat

pengamatan adalah 240 pohon.

Pengamatan persentase serangan dan kerusakan oleh penggerek batang

cengkih dibedakan pada dua umur tanaman, yakni berumur < 10 tahun dan > 10

tahun. Pengamatan dilakukan terhadap pohon sampel sesuai titik pengamatan

adalah jumlah tanaman yang terserang dengan melihat adanya lubang gerekan

aktif dan tidak aktif. Lubang gerekan tidak aktif yaitu tanaman yang

menunjukkan gejala yaitu adanya bekas lubang gerekan pada batang tanaman.

Lubang aktif adalah adanya hasil gerekan yang masih basah yang keluar dari

lubang gerekan. Rumus yang digunakan untuk menghitung persentase serangan

hama penggerek batang sebagai berikut :

P = n/N × 100 %

Keterangan:
P = Persentase serangan .
n = Jumlah tanaman yang terserang hama
N = Total tanaman cengkih
A B
50 m

100 m

Gambar 3.1 Tata Letak Pengamatan di Lapangan


A. Pohon Umur < 10 Tahun
B. Pohon Umur > 10 Tahun
Keterangan
x = pohon cengkih yang diamati
x = pohon cengkih

3.4 Prosedur Kerja

Pelaksanaan penelitian terdiri dari beberapa kegiatan adalah sebagai

berikut

3. 4. 1 Survey Lokasi Peneilitian

Survey lokasi penelitian dilaksanakan untuk mengetahui dan menetapkan

lokasi penelitian. Terdapat dua lokasi penelitian di desa Wuwuk yaitu disesuaikan

dengan perbedaan umur tanaman cengkih yaitu umur tanaman < 10 tahun dan >

10 tahun.
3. 4. 2 Penetapan Pohon Contoh

Jumlah pohon contoh yang diamati sebanyak 20 pohon, dengan

menghitung berapa jumlah tanaman yang terserang penggerek batang cengkih

dan jumlah lubang gerekan yang aktif dan tidak aktif yang terserang pada tanaman

yang terserang.

3. 5 Hal – hal Yang Diamati

Parameter pengamatan pada penelitian ini sebagai berikut :

1. Gejala serangan pengerek batang cengkih H. semivelutina

2. Persentase serangan hama penggerek batang cengkih dari pengamatan 1

sampai pengamatan VI

3. Jumlah gerekan hama penggerek batang yang aktif dan tidak aktif.

3.6 Analisis Data

Keseluruhan data pengamatan terhadap persentase serangan dan kerusakan

yang disebabkan penggerek batang cengkih H. semivelutina pada umur tanaman

cengkih yang berbeda dianalsis secara deskripsi.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Persentase Serangan Hama Penggerek Batang Cengkih H. semivelutina


Hell.
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap serangan pengerek batang cengkih

H. semivelutina pada populasi tanaman cengkih yang berumur < 10 tahun di Desa

Wuwuk maka persentase serangan dapat dilhat pada Tabel 4.1

Tabel 4.1. Persentase serangan pengerek batang cengkih H. semivelutina pada


populasi tanaman cengkih berumur < 10 tahun

Serangan H. semivelutina
Jumlah
Pengamatan Jumlah tanaman Persentase
sampel
terserang (pohon) serangan (%)
(pohon)
Titik Pengamatan I 20 4 20
Titik Pengamatan II 20 5 25
Titik Pengamatan III 20 3 15
Titik Pengamatan IV 20 6 30
Titik Pengamatan V 20 5 25
Titik Pengamatan VI 20 4 20
Kisaran 3-6 15-30
Rata-rata 4,5 22,5

Berdasarkan Tabel 4.1., diatas terlihat bahwa serangan penggerek batang cengkih
H. semivelutina pada populasi tanaman berumur < 10 tahun sesuai titik
pengamatan berkisar 3-6 pohon dengan rata-rata 4,5 pohon terserang atau
persentase serangan berkisar 15-30 % dengan rata-rata 22,5 %. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa serangan penggerek batang cengkih H. semivelutina sudah
dapat menyebabkan kerusakan tanaman cengkih sejak umur tanaman dibawah 10
tahun atau baru sekitar 2-3 kali dipetik bunganya. Berdasarkan pengamatan
memang terlihat bahwa tanaman yang relatif muda tetapi apabila sudah pernah
berbunga atau berbuah dapat diserang oleh penggerek batang cengkih dan
keadaan tanaman terserang masih dapat bertahan walaupun gejala bekas serangan
pada batang telah ditemukannya lubang gerekan yang umumnya masih aktif.
Penelitian terhadap persentase serangan H. semivelutina pada tanaman berumur
dibawah 10 tahun belum banyak dilaporkan tetapi hasil penelitian ini dapat
menjelaskan bahwa pada populasi tanaman di areal perkebunan cengkih seperti di
Kabupaten Minahasa Selatan Kecamatan Tareran Desa Wuwuk pada umur di
bawah 10 tahun sudah dapat diserang dan diduga untuk wilayah-wilayah yang
memiliki populasi tanaman cengkih dengan umur yang sama sudah terserang oleh
pengerek batang cengkih H. semivelutina yang berperan sebagai hama utama pada
populasi tanaman cengkih diseluruh wilayah tanah Minahasa. Hasil penelitian
sesuai dengan penelitian Rondonuwu, dkk (1980) menyatakan bahwa intensitas
serangan penggerek batang [Link] telah dapat menyerang pada tanaman
cengkih di seluruh wilayah Kabupaten Minahasa
Hasil penelitian terhadap pengamatan persentase serangan penggerek H.

semivelutina pada tanaman cengkih pada umur di atas 10 tahun dapat dilihat pada

Tabel 4.2 berikut ini.

Tabel 4.2. Persentase serangan penggerek batang cengkih H. semivelutina pada


populasi tanaman cengkih berumur >10 tahun

Serangan H. semivelutina
Jumlah
Pengamatan Jumlah tanaman persentase
sampel
terserang (pohon) (persentase)
(pohon)
Titik Pengamatan I 20 11 55
Titik Pengamatan II 20 9 45
Titik Pengamatan III 20 12 60
Titik Pengamatan IV 20 13 65
Titik Pengamatan V 20 11 55
Titik Pengamatan VI 20 9 45
Kisaran 9-13 45-60
Rata-rata 10,8 52,5

Berdasarkan Tabel 4.2, di atas, menunjukkan bahwa serangan penggerek batang

cengkih H. semivelutina pada populasi tanaman berumur > 10 tahun sesuai titik

pengamatan berkisar 9-13 pohon dengan rata-rata 10,8 pohon terserang atau

persentase serangan berkisar 45-60 % dengan rata-rata 52, 5 %. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa serangan penggerek batang cengkih H. semivelutina sudah


dapat menyebabkan kerusakan yang cukup tinggi dibandingkan dengan persentase

serangan pada umur tanaman < 10 tahun. Terdapat perbedaan persentase

serangan tersebut diduga bahwa pada lokasi pengamatan, serangan H.

semivelutina telah terjadi sejak tanaman cengkih sudah mulai berbunga dan

persentase serangan akan terus berlanjut sesuai waktu sehingga pengamatan

presentase serangan pada umur tanaman di atas 10 tahun relatif akan lebih tinggi

bahkan apabila diamati lebih saksama pada lokasi pengamatan bahwa pada

populasi tanaman yang berumur > 10 tahun terdapat beberapa tanaman sudah

mengalami kematian akibat serangan penggerek batang cengkih. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa aktifitas serangga hama penggerek batang terus akan terjadi

sebab tanaman cengkih merupakan inang utama dari serangga hama H.

semivelutina di wilayah tanah Minahasa. Akibatnya, hampir seluruh populasi

tanaman cengkih yang ada diwilayah Kabupaten Minahasa mengalami serangan

yang cukup berat dan banyak tanaman yang berumur di atas 10 tahun mengalami

kematian atau apabila tanaman cengkih mampu bertahan dari serangan maka

pertumbuhan tanaman sudah tidak baik sebab batang tanaman banyak mengalami

pembusukan atau terjadi patahan akibat kerusakan dari lubang gerekan. Penelitian

Manguande (2021) menunjukkan bahwa terdapat kesesuaian yakni penelitiannya

adalah persentase serangan dan kerusakan penggerek batang cengkih H.

semivelutina berdasarkan ketinggian tempat dari permukaan laut pada tanaman

cengkih berumur di atas 20 tahun di beberapa areal pertanaman cengkih di

Kabupaten Minahasa memberi hasil bahwa persentase serangan terjadi malahan

berkisar 56 - 100 %. Hasil penelitian ini tentunya akan memberi gambaran

bahwa persentase serangan penggerek batang cengkih akan terus berlanjut dan
apabila tidak ada tindakan pengendalian maka dapat menyebabkan persentase

kematian tanaman akan terus berlangsung.

4.2 . Kerusakan Pohon cengkih akibat gerekan penggerek batang cengkih


H. semivelutina yang menyebabkan lubang gerekan aktif dan tidak
aktif

Berdasarkan hasil pengamatan terhadap kerusakan tanaman cengkih yang

dilhat dari jumlah lubang gerekan aktif dan tidak aktif terhadap populasi tanaman

cengkih yang terserang berumur < 10 tahun dan > 10 tahun pada seluruh titik

pengamatan dapat dilihat pada Tabel 4.3 dan 4.4 berikut ini.

Tabel 4.3 Kerusakan pohon cengkih yang didasarkan pada gerekan aktif dan
tidak aktif akibat serangan penggerek batang H. semivelutina pada
tanaman berumur < 10 tahun di lokasi pengamatan

Kerusakan H. semivelutina
lubang gerekan
Pengamatan Jumlah tanaman
Aktif Tidak Jumlah
terserang
Aktif
Titik Pengamatan I 4 5 1 6
Titik Pengamatan II 5 5 2 7
Titik Pengamatan III 3 3 0 3
Titik Pengamatan IV 6 6 2 8
Titik Pengamatan V 5 5 0 5
Titik Pengamatan VI 4 4 0 4
Kisaran 3-6 0-2 3-8
Rata-rata 4,6 0,83 6,5

Berdasarkan Tabel 4.3, di atas terlihat bahwa kerusakan pohon cengkih yang

didasarkan pada lubang gerekan aktif dan tidak aktif akibat serangan penggerek

batang pada tanaman berumur < 10 tahun pada lokasi titik pengamatan (20

pohon sampel) menunjukkan bahwa kisaran tanaman yang mengalami kerusakan

dengan adanya lubang gerekan baik aktif maupun tidak aktif berkisar 3-8 pohon

dengan rata-rata 6,5 pohon. Khusus kerusakan lubang aktif berkisar 3-6 lubang
dengan rata-rata 4,6 lubang sedangkan untuk kerusakan lubang tidak aktif hanya

berkisar 0-2 lubang gerekan dengan rata-rata 0,6 lubang gerekan. Hasil penelitian

ini menunjukkan bahwa pada tanaman cengkih berumur di bawah 10 tahun adalah

masih relatif rendah apabila dibandingkan dengan pengamatan kerusakan jumlah

lubang gerekan pada tanaman berumur di atas 10 tahun. Adanya kerusakan yang

disebabkan oleh lubang gerekan aktif dengan rata 4,6 pohon dari 6 kali

pengamatan yang masing-masing pengamatan berjumlah 20 pohon sampel maka

hal ini akan menjelaskan bahwa aktifitas kerusakan akan terus terjadi selama

masih adanya pertumbuhan tanaman cengkih, keadaan ini diduga akan

menyebabkan tanaman cengkih yang ditanaman akan mengalami kerusakan

berlanjut dan mengakibatkan kematian tanaman cengkih akan terus terjadi.

Hasil penelitian terhadap pengamatan kerusakan tanaman cengkih berumur

di atas 10 tahun oleh penggerek batang cengkih H. semivelutina di areal

pertanaman cengkih desa Wuwuk Kecamatan Tareran Kabupaten Minahasa

Selatan terlihat bahwa kerusakan berdasarkan jumlah liang gerekan aktif dan tidak

aktif adalah relatih tinggi dibanding dengan kerusakan pada tanaman berumur di

bawa 10 tahun seperti terlihat pada Tabel 4.4 berikut ini.


Tabel 4.4 Kerusakan pohon cengkih yang didasarkan pada gerekan aktif dan
tidak aktif akibat serangan penggerek batang H. semivelutina pada tanaman
berumur > 10 tahun di loksi pengamatan

Kerusakan H. semivelutina
lubang gerekan
Lokasi Pengamatan Jumlah tanaman
Aktif Tidak Jumlah
terserang
Aktif
Titik Pengamatan I 11 7 7 14
Titik Pengamatan II 9 6 5 11
Titik Pengamatan III 12 8 7 15
Titik Pengamatan IV 13 9 8 17
Titik Pengamatan V 11 7 5 12
Titik Pengamatan VI 9 6 5 11
Kisaran 6-9 5-8 11-17
Rata-rata 7,1 6,1 13,3

Berdasarkan Tabel 4.4, diatas menunjukkan bahwa selama pengamatan sesuai

titik pengamatan I-VI terlihat bahwa jumlah lubang gerekan relatif lebih tinggi

dengan kisaran 11-17 pohon dengan rata-rata 13,3 pohon. Lubang gerekan aktif

berkisar 6-9 lubang dengan rata-rata 7,1 lubang sedangkan lubang gerekan tidak

aktif berkisar 5-8 lubang dengan rata-rata 6,1 lubang. Hasil penelitian ini

mempelihatkan bahwa tanaman cengkih akan terus terjadi sebab lubang gerekan

aktif relatif lebih tinggi dengan jumlah lubang gerekan tidak aktif. Hasil

penelitian menunjukkan bahwa populasi tanaman cengkih di areal pengamatan

akan terus terjadi sebab serangga perusak utama yaitu penggerek batang cengkih

H. semivelutina tetap berada di lokasi pengamatan dan memanfaatkan tanaman

cengkih sebagai inang utama dalam mempertahan regenerasi populasi. Informasi

dari para petani dalam mengendalikan penggerek batang cengkih terhadap

tanaman cengkih yang dibudidayakan hanya mengandalkan pengendalian secara

fisik mekanis yaitu menangkap atau menarik larva dengan menggunakan kawat

tetapi pengembangan strategi pengendalian lain belum dilakukan. Menurut


Soesanto (2014); Tumewan (2020) dan Lengkong, dkk (2021) upaya pengendalian

terhadap H. semivelutina sebagai hama utama pada tanaman cengkih sebenarnya

telah berkembang dan dapat menggunakan agensia pengendali hayati (APH)

yaitu metabolit sekunder dari jamur Metarhizium [Link] Beauveriasp. melalui

metode infus akar dapat mengendalikan larva H. semivelutina dengan mortalitas

berkisar 70 - 95 %. Untuk itu upaya pengendalian melalui penggunaan metabolit

sekunder jamur Metarhizium sp. dan Beauveria sp. dalam mengendalikan larva H.

semivelutina sudah dapat dilakukan oleh para petani sehingga dapat menekan

kerusakan atau kematian tanaman.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Persentase serangan penggerek batang cengkih H. semivelutina pada populasi

tanaman cengkih berumur < 10 berkisar 15-30 % dengan rata-rata 22,5 %,

sedangkan pada populasi tanaman cengkih berumur > 10 tahun berkisar berkisar

45-60 % dengan rata-rata 52, 5 %.

2. Kerusakan berdasarkan lubang gerekan pada populasi tanaman cengkih

bererumur < 10 tahun pada lubang aktif berkisar 3-6 lubang dengan rata-rata

4,6 lubang sedangkan untuk kerusakan lubang tidak aktif berkisar 0-2 lubang

gerekan dengan rata-rata 0,83 lubang gerekan. Pada populasi tanaman cengkih

berumur > 10 tahun pada lubang aktif berkisar 6-9 lubang dengan rata-rata 7,1

lubang sedangkan lubang tidak aktif berkisar 5-8 lubang dengan rata-rata 6,1

lubang.

5.2. Saran

Berdasarkan hasil penelitian dapat memberi saran bahwa serangan

penggerek batang cengkih H. semivelutina sudah menyerang tanamn cengkih

yang berumur < 10 tahun dan > 10 tahun. Untuk itu, informasi dari persentase

serangan dan kerusakan oleh penggerek batang cengkih terhadap populasi

tanaman cengkih adalah penting dilakukan sehingga upaya pengendalian terhadap

serangga hama utama ini harus terus lakukan dengan metode pengendalian terbaru

yaitu penggunaan agensia pengendali hayati berupa metabolit sekunder dari

jamur Metarhizium [Link] Beauveria [Link] metode aplikasi infus akar.


DAFTAR PUSTAKA

Aksan J. 2008. Tanaman cengkih (Syzygium aromaticum).


[Link]
Diakses tanggak 15 Oktober 2012.

Anonim, 2012. Pengendalian Hama Penggerek Batang cengkih (Hexamitodera


Semivelutina Hell.) Menggunakan Insektisida Fipronil Dan Emamektin
Benzoat Dengan Metode Injeksi Lubang Pada Batang
[Link]

______, 2018 Mengendalikan Penggerek Batang Tanaman Buah


[Link]
batang-tanaman_22.html. Di akses 22 Maret 2018.

Balitbang Pertanian, 2011. Pengendalian Terpadu Hama Penggerek Tanaman


cengkih. Jurnal. Agroinovasi SinarTani. Edisi 23 Pebruari – Maret 2011
No.3394 Tahun XLI.

Bulan, 2004. Tanaman cengkih (Syzygium aromaticum) dan Manfaatnya. Diakses


17 Juni 2022 http///C:/wwws/Downloads/444221-334219-1-
SMpersentase20(1).pdf

CABI. 2022. Datasheet Hexamitodera semivelutina. [Link]


datasheet/27098#REF-DDB-57459. Diakses tanggal 20 Juni 2022.

Ditjenbun, 2016. Pedoman Teknis Kegiatan Penanganan Organisme Pengganggu


Tumbuhan (OPT) Tanaman Perkebunan Tahun 2016. Direktorat Jenderal
Perkebunan, Kementerian Pertanian, Jakarta. 86 hal.

Indriati, G, Khaerati dan Funny Soesanty, 2011. Pengendalian Terpadu Hama Dan
Penyakit Tanaman cengkih. Badan Litbang Pertanian. Agroinovasi
No.3394, Tahun XLI Edisi 23 Pebruari - Maret 2011.

Kalshoven, L.G.E. 1981. The Pest of Crops in Indonesia. Rev. Transl. by P.A.
Van der [Link] Ichtiar Baru – Van Hoeve, Jakarta. 701 pp.

Lengkong, M, Dumalang, S dan Moniaga W, 2022. Efektifitas Penggunaan


Metabolit Sekunder Jamur Metarhizium dan Beauveria Dalam
Mengendalikan Hama Penggerek Batang cengkih (Hexamitodera
semivelutina). Universitas Sam Ratulangi Manado. Laporan Penelitian
RTUU tahun 2022.
Manguande, A., [Link] Serangan Dan Kerusakan Hama Penggerek
Batang (Hexamitodera Semivelutina Hell.) Pada Tanaman cengkih
(Syzygium Aromaticum L.) Berdasarkan Ketinggian Tempat Di Kabupaten
Minahasa. Skripsi. Fakultas Pertnian Unsrat.
Meray, [Link]., M.M. Ratulangi, M.F. Dien. 2021. Exploration of Clove Stem
Borer in East Bolaang Mongondow District. International Journal of
ChemTech Research, 2021,14(1): 237-242.

Najiyati, S. dan Danarti. 2003. Budidaya dan Penanganan Pascapanen cengkih.


Penebar Swadaya. Jakarta. 112 hlm.

Rojak, A. & A. Maftuh. 2008. Teknik Pengendalian Hama Penggerek Batang


Nothopeus hemipterus Pada Tanaman cengkih. Buletin Teknik Pertanian
Vol. 13 No. 1, 2008. [Link]
publikasi/[Link]. Diakses tanggal 25 Mei 2022.

Rondonuwu, L. S., J. M. Karouw, F. Kaseger, dan O. Rondonuwu, 1980.


Intensitas Serangan, Pola Penyebaran Dan Bionomic Serangga Hama
Penggerek Batang cengkih ( Hexamithodera semivelutina ) Di Minahasa.
UNSRAT Manado.

Ruhnayat, A., D. Wahyuno, D. Manohara, dan R. Rosman. 2014. Budidaya


Cengkih.: Sejarah, Budidaya dan Industri . Indesso-Magister Biologi
UKSW Salatiga: Hal. 45-72.

Setyolaksono M P, 2013. Mengkaji Bioekologi Hama Penggrek Batang Pada


Tanaman cengkih. [Link] ontrol/uploads/
Diakses 2 Februari 2017

Soesanto, L, 2014. Metabolit Sekunder Agensia Pengendali Hayati : Terobosan


Baru Pengendalian OPT Perkebunan. Fakultas Pertanian Universitas
Jenderal Soedirman. Purwokerto.

Tarore. D. dan J. Manueke, 2007. Penanggulangan Hama Penggerek Batang


cengkih. UNSRAT, Manado.

Titan, 2009, Klasifikasi Hama Penggerek Batang cengkih (Hexamithodera


semivelutina). . Diakses 25 Mei 2016

Tumewan, F.N, 2020. Kajian Pengendalian Hama Penggerek Batang cengkih


(Hexamitodera semivelutina Hell.) Menggunakan Metabolit Sekunder
Jamur Metarhizium dan Beauveria dengan Metode Infus Akar. Skripsi.
Fakultas Pertanian Unsrat.

Van Wyk M, J. Roux; [Link]; B.D. Wing Field; E.C.Y Liem; B. Assa; A.B.
Summereel and M.J. Field, 2004. Cerotocystis polychromo. Nov., a New
Species from Syzygium aromaticum in Sulawesi, Study in Mycology.
50:273-282.
\LAMPIRAN

Lampiran 1. Pengamatan serangan pengerek batang cengkih H. semivelutina di


kebun cengkih Desa Wuwuk Kecamatan Tareran Kabupaten
MInahasa Selatan
Lampiran 2. Pengamatan terhadap serangan penggerek batang cengkih H.
semivelutina dengan gejala lubang aktif
Lampiran 3. Pengamatan terhadap lubang gerekan aktif yang terdapat larva H.
semivelutina pada batang tanaman cengkih di lokasi penelitian
Desa Wuwuk Kecamatan Tareran

Anda mungkin juga menyukai