Serangan Penggerek Batang Cengkeh Berdasarkan Umur
Serangan Penggerek Batang Cengkeh Berdasarkan Umur
SKRIPSI
2023
LEMBAR PENGESAHAN
Nim : 18031109003
1. Skripsi ini adalah asli karya dan belum pernah diajukan oleh orang lain
2. Pada skripsi saya, tidak terdapat karya atau pernah ditulis atau diterbitkan
orang lain, kecuali secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan
Cloves (Syzigium aromaticum L.) is a trading plant that has a fairly high
economic value in Indonesia. During the growth and production of clove plants can
be attacked by clove stem borers, namely Hexamitodera semivelutina which causes
plants to experience damage and even cause death
This study aims to determine the proportion of attack and damage by the
clove stem borer H. semivelutina on cloves of different ages in Wuwuk Village,
South Minahasa Regency.
The research method uses a survey method, namely by making direct
observations at the research location. The research was conducted in a clove
garden in Wuwuk Village. The number of clove trees as a sample of plants
observed for each location was 20 trees selected based on the age of the plants. The
number of observation points is 6 gardens so that the total number of sample plants
to be observed is 120 plants and multiplied by two as the difference in plant age,
namely <10 years and > 10 years, the total number of plants to be observed at the
time of observation is 240 trees. Observations on the percentage of attack and
damage by the clove stem borer were distinguished at two plant ages, namely < 10
years and > 10 years.
The results showed that the percentage of attacks by the clove stem borer
H. semivelutina on clove plant populations aged <10 years ranged from 15-30
percent with an average of 22.5 percent, whereas in clove plant populations aged >
10 years it ranged from 45-60 percent with an average -52.5 percent average.
Damage based on drill holes in clove plant population aged <10 years in active
holes ranged from 3-6 holes with an average of 4.6 holes Meanwhile, damage to
inactive holes ranges from 0-2 boreholes with an average of 0.83 boreholes. In
populations of clove plants aged > 10 years, the active holes ranged from 6-9 holes
with an average of 7.1, while the inactive holes ranged from 5-8 holes with an
average of 6.1 holes.
2001. Penulis lahir dari orangtua Semuel Alexander Mesakh Mingkid dan Oktavian
Olga Manopo, sebagai anak pertama dari empat bersaudara. Penulis menempuh
pendidikan mulai dari SD GMIM Pondang dan lulus tahun 2012, kemudian lanjut ke
SMP Negeri 1 Amurang dan lulus tahun 2015 serta melanjutkan ke SMK Negeri 1
Amurang dan lulus tahun 2018. Pada tahun 2018 penulis terdaftar sebagai
memilih Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Program Studi Proteksi Tanaman
melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi (SBMPTN) dan lulus
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang
Selatan”. Penulisan Skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu
syarat untuk mencapai gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian Universitas
dalamnya kepada Dr. Ir. Maxi Lengkong, MS sebagai ketua komisi pembimbing
dan Dr. Ir. Juliet M. Eva Mamahit, MSi sebagai anggota komisi pembimbing yang
Penulis juga menyadari bahwa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak
telah membantu penulis dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan Skripsi.
1. Prof. Dr. Ir. Oktavian B.A. Sompie, [Link]., IPU Asean sebagai Rektor
2. Ir. Dedie Tooy, [Link]., Ph.D sebagai Dekan Fakultas Pertanian Universitas
3. Dr. Ir. Maxi Lengkong, MS sebagai Ketua Jurusan Hama dan Penyakit
4. Dr. Ir. Bernadeth Vivi Montong, [Link] sebagai Koordinator Program Studi
Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi
Manado
5. Ir. Caroulus S. Rante, MS, Dr. Ir. Bernadeth Vivi Montong, [Link] dan Dr.
6. Orang tua Semuel Alexander Mesakh Mingkid dan Oktavian Olga Manopo
yang telah memberikan doa serta bantuan moral dan materi selama
7. Opa Arensop Manopo dan Oma Carolina Senewe yang telah memberikan doa
9. Sahabat saya Fegri Dopong, Hizkia Gigir, Monica Korompis, Alan Sigar,
game online Dave, Julio, Rafelino, Noel, Bravi, Yano, Nando,T ino. yang
10. Kepada semua pihak yang tak sempat disebutkan, penulis juga menyampaikan
Akhir kata, penulis berharap Tuhan Yesus Kristus akan membalas segala
kebaikan dari semua pihak yang telah membantu dan membimbing penulis.
“Penulis”
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR …………………………………………………… i
DAFTAR ISI …………………………………………………………….. ii
DAFTAR TABEL ………………………………………………………… iv
DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………. v
DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………………… vi
BAB I PENDAHULUAN ………………………………………… 1
1.1. Latar Belakang …………………………………………….. 1
1.2. Rumusan Masalah …………………………………………. 5
1.3. Tujuan Penelitian ………………………………………….. 5
1.4. Manfaat Penelitian ………………………………………… 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA …………………………………. 6
2.1. Tanaman Cengkih Syzygium aromaticum .……………… 6
2.2. Penggerek batang Cengkih H. semivelutina ………………. 9
BAB III METODELOGI PENELITIAN ………………………… 12
3.1. Tempat dan Waktu ………………………………………… 12
3.2. Alat dan Bahan ……………………………………………. 12
3.3. Metode Penelitian …………………………………………. 12
3.4. Prosedur Kerja …………………………………………….. 14
3.5. Hal-Hal yang Diamati ……………………………………… 15
3.6. Analsis Data ……………………………………………….. 15
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .…………………………. 16
4.1. Persentase Serangan Hama Penggerek Batang Cengkih H.
16
semivelutina Hell. ………………………………………
4.2. Kerusakan Pohon Cengkih akibat gerekan H. semivelutina
19
yang meninggalkan lubang gerekan aktif dan tidak aktif …
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN …………………………… 23
5.1. Kesimpulan ……………………………………………… 23
5.2. Saran ……………………………………………………… 23
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………… 24
LAMPIRAN …………………………………………………………….. 26
DAFTAR TABEL
Halaman
No. Teks
Persentase
4.1 Persentase serangan pengerek batang cengkih H. semivelutina pada 16
populasi tanaman cengkih berumur < 10 tahun ……………………
4.2 Persentase serangan penggerek H. semivelutina pada populasi 17
tanaman cengkih berumur >10 tahun ……………………………..
4.3 Kerusakan pohon cengkih yang didasarkan pada gerekan aktif dan
tidak aktif akibat serangan penggerek batang cengkih H. semivelutina
pada tanaman berumur < 10 tahun di lokasi pengamatan 19
…………………………………………………………
4.4. Kerusakan pohon cengkih yang didasarkan pada gerekan aktif dan
tidak aktif akibat serangan penggerek batang cengkih H. semivelutina
pada tanaman berumur > 10 tahun di lokasi pengamatan 21
……………………………………………….………
DAFTAR GAMBAR
Halaman
No. Teks
2.1 Morfologi serangga dewasa [Link]……………………………. 7
2.2 Larva H. semivelutina diambil dari lubang gerekan aktif (Dokumen 8
Pribadi) ………….…………………………………………………
2.3 Gejala serangan gerekan aktif H. semivelutina pada kulit luar batang 9
cengkih (Dokumen Pribadi) ……………………….……………..
3.1 Tata Letak Pengamatan di Lapangan A. Pohon Umur < 10 Tahun, B. 14
Pohon Umur > 10 Tahun ……………………………………………
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
No. Teks
1 Pengamatan serangan pengerek batang cengkih H. semivelutina di
kebun cengkih desa Wuwuk Kecamatan Tareran Kabupaten
Minahasa Selatan …………………………………………….…….. 26
PENDAHULUAN
bahan pembuatan rokok kretek, dan dibidang farmasi sebagai bahan pembuatan
Tanaman ini merupakan salah satu tanamn tertua yang berada di Indonesia
Pulau Ternate (Najiyati dan Danarti, 2003). Jenis cengkih yang dibudidayakan di
Indonesia ada tiga yaitu Zanzibar, Sikotok dan Siputih. cengkih yang disukai
dkk., 2014).
tanaman cengkih dan sering dijumpai adalah hama penggerek batang cengkih
akibat serangan hama ini dapat mencapai 10-25 %. Di Provinsi Sulawesi Utara,
serangan hama ini sudah dilaporkan menyerang tanaman cengkih sejak tahun
1966 dimana persentase pohon cengkih yang terserang penggerek batang ini
pada saat ini hama yang sering dikeluhkan oleh petani adalah adanya serangan
rakyat dalam bentuk perkebunan rakyat yang tersebar di seluruh propinsi. Tahun
2004 tercatat luas areal pertanaman berkisar 429,935 Ha yang sebenarnya pada
tahun 1982, luas areal telah mencapai 541,830 Ha pada 26 propinsi (Bulan, 2004).
Luas areal pertanaman cengkih rakyat telah turun berkisar 120.000 Ha selama 20
tahun atau tiap tahun terjadi kerusakan ± 6000 Ha. Produktivitas cengkih sangat
rendah hanyalah 287,42 kg/Ha/panen. Dari data yang tercantum di atas terlihat
bahwa budidaya tanaman cengkih terdapat masalah dan kendala yang belum dapat
diatasi petani cengkih secara individu. Di Indonesia terdapat lima hama utama dan
Indonesia belum termasuk penyakit fisiologi yakni mati kekeringan dan mati
tercatat 35.000 pohon cengkih terserang dan 14 % rusak berat (Rondonuwu, dkk.
1980; Tarore dan Manueke, 2007). Menurut Van Wyk, [Link]. ( 2004) berdasarkan
(serangan berat 18.723 Ha dan serangan ringan 115 Ha) dan kehilangan hasil
Ternyata sudah berkisar 46,61 % dari tanaman cengkih produktif yaitu kurang
lebih 40.418 pohon yang terserang penggerek batang cengkih (Rondonuwu, dkk.
1980).
serangga yang mengalir ke bawah. Pada satu pohon cengkih dapat ditemukan
berkisar 10-20 lubang gerekan dan apabila lubang-lubang tersebut dibuka maka
liang gerekan tidak teratur dan apabila liang gerekan melingkari batang maka
2007). Batang yang sedang terserang, dari lubang gerakan terlihat basah,
halus seperti butiran pasir atau tepung. Keadaan demikain menunjukan bahwa
larva ada di dalam lubang gerekan dan sedang menyerang, sehingga lubang
gerekan tersebut disebut lubang aktif Jumlah lubang gerekan pada batang cengkih
berkisar 20 – 40 buah dan rata – rata 30 buah, kadang – kadang dapat mencapai
100 buah lubang yang membentuk gerekan yang tidak teratur. Panjang lubang
atau saluran gerekan dari lubang teratas sampai lubang terbawah sekitar 2 meter,
ada yang hanya 1 meter, dan rata-rata 1,5 meter, tergantung pada besarnya batang
yang di serang dan stadium larva yang menyerang. Kerusakan pada batang, terjadi
TINJAUAN PUSTAKA
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Myrtales
Famili : Myrtaceae
Marga : Syzygium
Spesies : Syzygium aromaticum L
batang besar berkayu keras yang tingginya mencapai 20–30 m. Tanaman ini
mampu bertahan hidup hingga lebih dari 100 tahun dan tumbuh dengan baik di
daerah tropis dengan ketinggian 600–1000 meter di atas permukaan laut (dpl)
(Najiyati dan Danarti, 2003). Uraian morfologi tanaman cengkih adalah sebagai
berikut : Akar tanaman cengkih adalah akar tunggang. Batang tanaman Keras
berkayu dan bercabang. Bentuknya bulat dan memiliki permukaan kasar. Tipe
percabangan adalah monopodial dan memilki cabang yang banyak. Kulit batang
eugenin (senyawa ester dari epifriedelinol dengan suatu asam lemak rantai
panjang), dan C27H55COOH. Daun tanaman cengkih adalah kaku dab berbentuk
lanset. Warna pangkal daun hijau suram dan bergradasi ke kuning lalu jingga ke
metil gallat, turunan triterpen, asam oleanolat (kariofilin), dan asam betulinat.
Bunga tanaman cengkih adalah majemuk tak berbatas malai rata ( corymbus
rasomus ), muncul pada ujung ranting daun ( flos terminalis ) dengan tangkai
pendek. Warnanya bunga hijau yang mejadi merah ketika tua. Kelopak bunga
panjang 4-5 mm, dengan stamen banyak dan putik satu yang merupakan bunga
tunggal; kuncup bunga mengandung eugenol sebesar 16-23 %, zat samak tipe
Buah cengkih termasuk kedalam buah buni dengan panjang 2-2,5 cm berwarna
merah sampai merah kehitaman. Biji cengkih berwarna coklat dengan ukuran
2.2.1. Klasifikasi
Phylum: Arthropoda
Subphylum: Uniramia
Class: Insecta
Order: Coleoptera
Family: Cerambycidae
Genus: Hexamitodera
Species: Hexamitodera semivelutina Hell.,
2.2.2 Bioekologi dan Gejala Serangan
stadia larva. Serangga betina dewasa meletakkan telur pada celah-celah kulit
perubahan warna yaitu pada saat diletakkan berwarna putih, sehari kemudian
kepala terdapat alat mulut berupa labium, labrum dan sepasang mandibel yang
kuat berwarna coklat hitam. Panjang larva dewasa berkisar 5-8 mm, bahkan dapat
mencapai 9-10 mm, dengan diameter 1 cm, tergantung pada batang tanaman
cengkih yang diserangnya. Larva yang baru menetas dari telur tinggal beberapa
lama, skitar 13-15 hari, kemudian baru akan menggerek masuk kedalam batang
permukaan tanah. Jumlah gerekan aktif per pohon 1 – 4 lubang gerekan. Panjang
liang atau saluran liang gerekan dari lubang terbawa sekitar 2 m, dan ada yang
hanya 1 m atau rata – rata 1,5 m, tergantung pada besarnya batang yang diserang
dan stadium larva yang menyerang (Rondonuwu, dkk., 1980; Indriati, dkk., 2011 ).
Gambar 2.3 Gejala serangan gerekan aktif H. semivelutina pada kulit luar
batang cengkih (Dokumen Pribadi)
pusat-pusat serangan atau areal yang memiliki potensi untuk menjadi sumber
Hama Terpadu) yang aman terhadap manusia dan lingkungan. Menurut Rojak
dan Maftu (2008) dalam menerapkan PHT terdapat 4 (empat) prinsip yang
harus dipedomani, yaitu: (1) budidaya tanaman sehat; (2) konservasi dan
serta (4) pemilik kebun/petani secara individu atau kelompok menjadi ahli PHT
terhadap kebersihan batang pohon dari peletakan telur dan perkembangan larva
instar awal pada kulit luar batang pohon cengkih dan menangkap sekaligus
tindakan secara fisik mekanis adalah mencari lubang gerekan kemudian secara
menarik larva yang ditemukan untuk di bunuh (Tarore dan Manuaeke, 2007).
2. Pengendalian kimia
pestisida yang dilakukan terhadap penggerek batang cengkih, menurut Tarore dan
Manueke (2007 ) yaitu : (1) memakai bahan kimia dapat dengan memasukkan
dan (3) Cara kimiawi dapat dilakukan secara sederhana yaitu menaburkan
3. Pengendalian Biologi
yaitu metabolit sekunder jamur Metarhizium dan Beauveria dengan metode infus
METODE PENELITIAN
Alat dan bahan yang di gunakan dalam penelitian yaitu : kamera, mistar,
alat tulis menulis, parang, tangga, tanaman cengkih (Zanzibar, Sikotok, dan
Siputih), lubang gerekan aktif dan tidak aktif, Stadia larva pengerek batang
cengkih sebagai sampel tanaman yang diamati untuk masing – masing lokasi
berjumlah 20 pohon tanaman yang dipilih berdasarkan umur tanaman. Tata letak
tanaman dan dikalikan dua sebagai perbedaan umur tanaman yaitu < 10 tahun
dan > 10 tahun sehingga jumlah keseluruhan tanaman yang diamati pada saat
cengkih dibedakan pada dua umur tanaman, yakni berumur < 10 tahun dan > 10
adalah jumlah tanaman yang terserang dengan melihat adanya lubang gerekan
aktif dan tidak aktif. Lubang gerekan tidak aktif yaitu tanaman yang
menunjukkan gejala yaitu adanya bekas lubang gerekan pada batang tanaman.
Lubang aktif adalah adanya hasil gerekan yang masih basah yang keluar dari
P = n/N × 100 %
Keterangan:
P = Persentase serangan .
n = Jumlah tanaman yang terserang hama
N = Total tanaman cengkih
A B
50 m
100 m
berikut
lokasi penelitian. Terdapat dua lokasi penelitian di desa Wuwuk yaitu disesuaikan
dengan perbedaan umur tanaman cengkih yaitu umur tanaman < 10 tahun dan >
10 tahun.
3. 4. 2 Penetapan Pohon Contoh
dan jumlah lubang gerekan yang aktif dan tidak aktif yang terserang pada tanaman
yang terserang.
sampai pengamatan VI
3. Jumlah gerekan hama penggerek batang yang aktif dan tidak aktif.
H. semivelutina pada populasi tanaman cengkih yang berumur < 10 tahun di Desa
Serangan H. semivelutina
Jumlah
Pengamatan Jumlah tanaman Persentase
sampel
terserang (pohon) serangan (%)
(pohon)
Titik Pengamatan I 20 4 20
Titik Pengamatan II 20 5 25
Titik Pengamatan III 20 3 15
Titik Pengamatan IV 20 6 30
Titik Pengamatan V 20 5 25
Titik Pengamatan VI 20 4 20
Kisaran 3-6 15-30
Rata-rata 4,5 22,5
Berdasarkan Tabel 4.1., diatas terlihat bahwa serangan penggerek batang cengkih
H. semivelutina pada populasi tanaman berumur < 10 tahun sesuai titik
pengamatan berkisar 3-6 pohon dengan rata-rata 4,5 pohon terserang atau
persentase serangan berkisar 15-30 % dengan rata-rata 22,5 %. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa serangan penggerek batang cengkih H. semivelutina sudah
dapat menyebabkan kerusakan tanaman cengkih sejak umur tanaman dibawah 10
tahun atau baru sekitar 2-3 kali dipetik bunganya. Berdasarkan pengamatan
memang terlihat bahwa tanaman yang relatif muda tetapi apabila sudah pernah
berbunga atau berbuah dapat diserang oleh penggerek batang cengkih dan
keadaan tanaman terserang masih dapat bertahan walaupun gejala bekas serangan
pada batang telah ditemukannya lubang gerekan yang umumnya masih aktif.
Penelitian terhadap persentase serangan H. semivelutina pada tanaman berumur
dibawah 10 tahun belum banyak dilaporkan tetapi hasil penelitian ini dapat
menjelaskan bahwa pada populasi tanaman di areal perkebunan cengkih seperti di
Kabupaten Minahasa Selatan Kecamatan Tareran Desa Wuwuk pada umur di
bawah 10 tahun sudah dapat diserang dan diduga untuk wilayah-wilayah yang
memiliki populasi tanaman cengkih dengan umur yang sama sudah terserang oleh
pengerek batang cengkih H. semivelutina yang berperan sebagai hama utama pada
populasi tanaman cengkih diseluruh wilayah tanah Minahasa. Hasil penelitian
sesuai dengan penelitian Rondonuwu, dkk (1980) menyatakan bahwa intensitas
serangan penggerek batang [Link] telah dapat menyerang pada tanaman
cengkih di seluruh wilayah Kabupaten Minahasa
Hasil penelitian terhadap pengamatan persentase serangan penggerek H.
semivelutina pada tanaman cengkih pada umur di atas 10 tahun dapat dilihat pada
Serangan H. semivelutina
Jumlah
Pengamatan Jumlah tanaman persentase
sampel
terserang (pohon) (persentase)
(pohon)
Titik Pengamatan I 20 11 55
Titik Pengamatan II 20 9 45
Titik Pengamatan III 20 12 60
Titik Pengamatan IV 20 13 65
Titik Pengamatan V 20 11 55
Titik Pengamatan VI 20 9 45
Kisaran 9-13 45-60
Rata-rata 10,8 52,5
cengkih H. semivelutina pada populasi tanaman berumur > 10 tahun sesuai titik
pengamatan berkisar 9-13 pohon dengan rata-rata 10,8 pohon terserang atau
semivelutina telah terjadi sejak tanaman cengkih sudah mulai berbunga dan
presentase serangan pada umur tanaman di atas 10 tahun relatif akan lebih tinggi
bahkan apabila diamati lebih saksama pada lokasi pengamatan bahwa pada
populasi tanaman yang berumur > 10 tahun terdapat beberapa tanaman sudah
menunjukkan bahwa aktifitas serangga hama penggerek batang terus akan terjadi
yang cukup berat dan banyak tanaman yang berumur di atas 10 tahun mengalami
kematian atau apabila tanaman cengkih mampu bertahan dari serangan maka
pertumbuhan tanaman sudah tidak baik sebab batang tanaman banyak mengalami
pembusukan atau terjadi patahan akibat kerusakan dari lubang gerekan. Penelitian
bahwa persentase serangan penggerek batang cengkih akan terus berlanjut dan
apabila tidak ada tindakan pengendalian maka dapat menyebabkan persentase
dilhat dari jumlah lubang gerekan aktif dan tidak aktif terhadap populasi tanaman
cengkih yang terserang berumur < 10 tahun dan > 10 tahun pada seluruh titik
pengamatan dapat dilihat pada Tabel 4.3 dan 4.4 berikut ini.
Tabel 4.3 Kerusakan pohon cengkih yang didasarkan pada gerekan aktif dan
tidak aktif akibat serangan penggerek batang H. semivelutina pada
tanaman berumur < 10 tahun di lokasi pengamatan
Kerusakan H. semivelutina
lubang gerekan
Pengamatan Jumlah tanaman
Aktif Tidak Jumlah
terserang
Aktif
Titik Pengamatan I 4 5 1 6
Titik Pengamatan II 5 5 2 7
Titik Pengamatan III 3 3 0 3
Titik Pengamatan IV 6 6 2 8
Titik Pengamatan V 5 5 0 5
Titik Pengamatan VI 4 4 0 4
Kisaran 3-6 0-2 3-8
Rata-rata 4,6 0,83 6,5
Berdasarkan Tabel 4.3, di atas terlihat bahwa kerusakan pohon cengkih yang
didasarkan pada lubang gerekan aktif dan tidak aktif akibat serangan penggerek
batang pada tanaman berumur < 10 tahun pada lokasi titik pengamatan (20
dengan adanya lubang gerekan baik aktif maupun tidak aktif berkisar 3-8 pohon
dengan rata-rata 6,5 pohon. Khusus kerusakan lubang aktif berkisar 3-6 lubang
dengan rata-rata 4,6 lubang sedangkan untuk kerusakan lubang tidak aktif hanya
berkisar 0-2 lubang gerekan dengan rata-rata 0,6 lubang gerekan. Hasil penelitian
ini menunjukkan bahwa pada tanaman cengkih berumur di bawah 10 tahun adalah
lubang gerekan pada tanaman berumur di atas 10 tahun. Adanya kerusakan yang
disebabkan oleh lubang gerekan aktif dengan rata 4,6 pohon dari 6 kali
hal ini akan menjelaskan bahwa aktifitas kerusakan akan terus terjadi selama
Selatan terlihat bahwa kerusakan berdasarkan jumlah liang gerekan aktif dan tidak
aktif adalah relatih tinggi dibanding dengan kerusakan pada tanaman berumur di
Kerusakan H. semivelutina
lubang gerekan
Lokasi Pengamatan Jumlah tanaman
Aktif Tidak Jumlah
terserang
Aktif
Titik Pengamatan I 11 7 7 14
Titik Pengamatan II 9 6 5 11
Titik Pengamatan III 12 8 7 15
Titik Pengamatan IV 13 9 8 17
Titik Pengamatan V 11 7 5 12
Titik Pengamatan VI 9 6 5 11
Kisaran 6-9 5-8 11-17
Rata-rata 7,1 6,1 13,3
titik pengamatan I-VI terlihat bahwa jumlah lubang gerekan relatif lebih tinggi
dengan kisaran 11-17 pohon dengan rata-rata 13,3 pohon. Lubang gerekan aktif
berkisar 6-9 lubang dengan rata-rata 7,1 lubang sedangkan lubang gerekan tidak
aktif berkisar 5-8 lubang dengan rata-rata 6,1 lubang. Hasil penelitian ini
mempelihatkan bahwa tanaman cengkih akan terus terjadi sebab lubang gerekan
aktif relatif lebih tinggi dengan jumlah lubang gerekan tidak aktif. Hasil
akan terus terjadi sebab serangga perusak utama yaitu penggerek batang cengkih
fisik mekanis yaitu menangkap atau menarik larva dengan menggunakan kawat
sekunder jamur Metarhizium sp. dan Beauveria sp. dalam mengendalikan larva H.
semivelutina sudah dapat dilakukan oleh para petani sehingga dapat menekan
5.1. Kesimpulan
sedangkan pada populasi tanaman cengkih berumur > 10 tahun berkisar berkisar
bererumur < 10 tahun pada lubang aktif berkisar 3-6 lubang dengan rata-rata
4,6 lubang sedangkan untuk kerusakan lubang tidak aktif berkisar 0-2 lubang
gerekan dengan rata-rata 0,83 lubang gerekan. Pada populasi tanaman cengkih
berumur > 10 tahun pada lubang aktif berkisar 6-9 lubang dengan rata-rata 7,1
lubang sedangkan lubang tidak aktif berkisar 5-8 lubang dengan rata-rata 6,1
lubang.
5.2. Saran
yang berumur < 10 tahun dan > 10 tahun. Untuk itu, informasi dari persentase
serangga hama utama ini harus terus lakukan dengan metode pengendalian terbaru
Indriati, G, Khaerati dan Funny Soesanty, 2011. Pengendalian Terpadu Hama Dan
Penyakit Tanaman cengkih. Badan Litbang Pertanian. Agroinovasi
No.3394, Tahun XLI Edisi 23 Pebruari - Maret 2011.
Kalshoven, L.G.E. 1981. The Pest of Crops in Indonesia. Rev. Transl. by P.A.
Van der [Link] Ichtiar Baru – Van Hoeve, Jakarta. 701 pp.
Van Wyk M, J. Roux; [Link]; B.D. Wing Field; E.C.Y Liem; B. Assa; A.B.
Summereel and M.J. Field, 2004. Cerotocystis polychromo. Nov., a New
Species from Syzygium aromaticum in Sulawesi, Study in Mycology.
50:273-282.
\LAMPIRAN