Pertemuan 1 - Load data, Well Section
A. Load Data Seismic
1. Mount data, buka Petrel
2. Open new project, continue spatially unaware
3. Klik File – Save Project As – Beri nama
Company_name_F3_Block_Netherland_PV2021
4. Klik Perspective – Geology and Geophysics
5. Klik File – Project Settings – Misc settings 1 – Auto-save every 60 minutes – centang
kolom do not overwrite by newer petrel version – klik ok
6. Kursor ke dalam kotak input – klik kanan – import file – tipe file : SEG-Y seismic data
(“.”) – pilih file bernama Dutch Government_F3_entire_8bit [Link] – klik open
7. Muncul window input data – template Black grey white – klik ok
8. Klik window – 3D window – centang kolom dutch government, inline 425, Xline 775
B. Load Data Sumur
1. Arahkan kursor ke dalam kotak input – klik kanan – Ambil data log di dalam folder
“Lasfiles” – open with notepad
2. Klik New Well – beri nama sesuai nama file – isi well head X & Y dengan angka Loc
yang tertera pada notepad
3. Isi Elevation from MSL dengan angka EKB pada notepad – Isi Top MD dengan data
STRT pada notepad – isi Bottom MD dengan data STOP pada notepad – klik ok
4. Klik kanan Well pada input – import on selection – tipe file Well logs (LAS) (*.las) – pilih
file yang sesuai – klik ok
5. Pada Matching pilih specified – pada Unmatched pilih acoustic impedance untuk kolom
Property template – klik ok for all
6. Lakukan langkah 2-5 untuk keempat data
7. Untuk menampilkan sumur, centang kotak Wells pada input
C. Interpretasi
1. Klik window – 2D window
2. Ikon tangan pada ribbon kecil digunakan untuk memutar gambar di display (gerakan
rotasional), middle click untuk pergerakan secara lateral, kursor untuk melakukan select
3. Pilih interpretation window – right click – new vertical tab group
4. Klik window – interpretation window – viewport setting – setting – ubah Z-scale ke angka
10
5. Untuk mengecek guidance letak sumur, Klik player – intersection layer – – centang
kotak intersection layer – inline dan Xline bisa diatur dengan tombol pada intersecklik
pojok kiri pada ribbon kecil yang muncultion layer
6. Untuk menampilkan polygon, pilih 2D window yang sudah di-display – klik tool palette –
klik pojok kiri pada ribbon kecil yang muncul – centang kotak polygon editing – pilih add
points to polygon – pada display, tarik garis yang menghubungkan antar sumur
7. Pada input akan muncul menu polygons 1, klik kanan – create intersection – akan
muncul vertical intersecrtion – drag vertical intersection ke atas, hingga tepat di bawah
XLine 775
8. Klik kanan Dutch Government_F3 – klik insert time slice selection – slice akan muncul di
3D window – slice dapat diatur dengan intersection player
D. Display data log
1. Klik window – well section window – ok – centang kotak keempat sumur pada input –
Pada well section window, bagian relative diganti menjadi constant dan angkanya
diubah menjadi 15
2. Pada global well log, centang kotak GR, RHOB, PHIE, DT, AI, AI_rel
3. Pada input, klik bagian templates – klik folder well section templates – ganti nama well
section templates 2 menjadi well section composite
4. Pada well section window, ganti skala dari undefined menjadi 5000 – klik template
setting pada window yang sama – klik GR (yang ada lambang gamma nya) – limit – max
value 150 – apply – style – color selected hijau tua – line width 1 – apply
5. Select PHIE (yang ada simbol phi) – klik panah ke atas hingga berada di bawah RHOB
– limits – max = 0.6 – direction reverse – color biru selected, line type stippled – apply
6. Select RHOB – limits – min = 1.7 – max = 2.7 – color selected merah – line type solid –
apply – ok
7. Pilih AI (yang ada lambang AI) – klik panah ke atas hingga berada di bawah DT – pilih
AI_rel – klik panah ke atas hingga berada di bawah AI
8. Select DT – limits – min value 40 – max value 240 – direction reverse – color selected
hijau – apply
9. select AI_rel – line type stippled – apply – ok
10. Pilih track GR (berada tepat di atas GR dengan lambang gamma) – curve filling – add
new curve filling – fill edge from curve to level 60 – fill color selected kuning – apply
11. Pilih track RHOB/PHIE – Curve filling – add new curve filling – fill edge from curve to
level 0.3 – apply – ok
E. Marker
1. Pada ribbon besar di atas, klik stratigraphy – new well tops folder – pada input akan
muncul well tops 1, lalu diklik – klik kanan stratigraphy – insert zone/horizon into – di
bawahnya akan muncul menu horizon – ganti nama jadi MFS11 – ok
2. Untuk zoom in/ zoom out pada display data log bisa menggunakan tombol plus/minus
pada keyboard
3. Select MFS11 – pada display, posisikan kursor pada angka 523 – klik
4. Inset Horizon below – Ganti nama menjadi FS11 – pastikan FS11 sudah ter-select,
ditandakan dengan tulisannya yang bold – posisikan kursor pada angka 582 – klik
5. Inset Horizon below – Ganti nama menjadi MFS10 – pastikan MFS10 sudah ter-select,
ditandakan dengan tulisannya yang bold – posisikan kursor pada angka 653 – klik
6. Langkah diulangi untuk semua horizon dan well lain
F. Checkshot
1. Posisikan kursor pada input, Klik kanan – import file – tipe file Checkshots format
(ASCII) (“.”) – select data checkshot – open
2. Muncul menu baru – pada bagian atas, hapus kolom TVD – unit pada kolom TWT
diganti jadi second – pilih connect to trace – ok – muncul menu input data – ganti nama
menjadi Checkshot
3. Muncul folder checkshot pada tab input – select checkshot – klik kanan – import – multi
select pada semua data tersisa – open – yes – connect to trace sesuai nama sumurnya
– ok