0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
91 tayangan18 halaman

Pengenalan Alat Pemanenan Hutan

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
91 tayangan18 halaman

Pengenalan Alat Pemanenan Hutan

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRAKTIKUM

PEMANENAN HASIL HUTAN


ACARA 1
PENGENALAN ALAT-ALAT PEMANENAN HASIL HUTAN DAN
REDUCE IMPACT LOGGING (RIL)

Nama : Rona Salsabila


NIM : 19/445541/KT/09139
Co-Ass : Syani Rahmiati
Shift : Rabu, 15.30 WIB

LABORATORIUM PEMANENAN HASIL HUTAN


DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2020
ACARA I
PENGENALAN ALAT-ALAT PEMANENAN HASIL HUTAN DAN
REDUCE IMPACT LOGGING (RIL)

I. TUJUAN
Tujuan pada praktikum ini adalah:
1. Memperkenalkan alat-alat tebangan yang biasa digunakan di pemanenan hasil hutan
2. Mengetahui bagian-bagian alat dan fungsinya masing-masing
3. Mengatahui cara mengoperasikan alat dan melaksanakan pekerjaan

II. DASAR TEORI


Hutan merupakan suatu potensi sumberdaya alam yang sangat penting bagi
kehidupan manusia. Namun, seiring dengan menurunnya fungsi hutan maka pemanfaatan
hasil hutan kayu harus dilakukan dengan penuh pertimbangan ekologis dan dengan
berpegang pada prinsip pembangunan yang berkelanjutan. Pemanenan hasil hutan
merupakan kegiatan memindahkan tegakan berdiri dari dalam hutan ke suatu tempat yang
sudah ditetapkan (Faqih, dkk, 2018). Sistem pemanenan hasil hutan memiliki beberapa
tahapan yaitu perencanaan pemanenan (Harvesting Planning), penebangan dan pembagian
batang (felling and bucking), penyaradan (yarding/skidding), pemuatan (loading),
pengangkutan (hauling/transportation), pembongkaran (unloading), pembuatan dan
pemeliharaan jalan (road construction).
Perencanaan pemanenan memiliki peranan yang sangat penting dalam pemilihan
sistem pemanenan, alat yang digunakan, jumlah tenaga kerja, biaya,luas setting
pemanenan, minimalisasi dampak sehingga tercapai proses pemanenan hutan yang optimal
(Latifah dkk, 2018). Selanjutnya penebangan dan pembagian batang yang biasanya
mencangkup pembagian batang, pembersihan batang, pemotongan pucuk, dan pemotongan
banir. Menurut Haryanto (1996) kegiatan penebangan adalah kegiatan penyiapan produk
primer dari pohon yang masih berdiri. Penebangan merupakan salah satu komponen
terpenting dalam pemanenan hasil hutan. Penebangan dapat dilakukakan menggunakan
mesin manual, semi-mekanis, dan mekanis.
Penyaradan merupakan kegiatan memindahkan atau membawa pohon yang telah
ditebang (log/batang kayu) dari tunggul/tunggal melewati jalur-jalur yang telah
direncanakan menuju ke pinggir jalan atau menuju ketempat penumpukan sementara.
Penyaradan sering disebut juga dengan istilah pengangkutan jarak pendek. Pemuatan yaitu
kegiatan menaikkan log keatas alas angkutan baik dengan menggunakan tenaga manusia
maupun alat pemuat yan dilakukan di TPn atau ditepi jalan angkutan. Pengangkutan kayu
adalah salah satu elemen kegiatan dari serangkaian kegiatan pemanenan kayu yang dapat
dilakukan melalui darat maupun air. Pengangkutan melalui darat dilakukan dengan
menggunakan truk atau lori. Pengangkutan melalui air umumnya menggunakan sampan
besi atau rakit (Suhartana, 2016).
Pembongkaran adalah kegiatan menurunkan log dari atas alat angkutan baik dengan
menggunakan tenaga manusia maupun alat pemuat yan dilakukan di TPK/logyard/logpod
atau halaman pabrik pengolahan kayu. Pengangkutan hasil hutan atau disebut
pengangkutan jarak jauh (hauling atau transportation) merupakan tahap terakhir dari
kegiatan pemanenan hasil hutan (khususnya yang berupa kayu) (Benamen, 2018).
Pengangkutan yaitu kegiatan memindahkan atau membawa kayu dari lokasi TPn ke tempat
penimbunan kayu. Pembuatan dan pemeliharaan jalan yaitu menyiapkan jalan masuk ke
dalam areal hutan, masuknya material untuk kegiatan pengelolaan hutan dan transportasi
hasil hutan keluar areal yang disertai usaha-usaha untuk mengurangi dan menghindari
kerusakan. Pembuatan dan pemeliharaan jalan yang dilakukan dengan tujuan untuk
melancarkan kegiatan pemanenan hasil hutan.
Reduced-impact logging (RIL) adalah sistem pemanenan kayu modern yang
berupaya mengurangi struktur hutan yang rusak dan terkait tebang pilih. Reduced impact
logging merupakan modifikasi penebangan selektif yang menerapkan pedoman sebelum
dan sesudah penebanganuntuk melindungi bibit, anakan dan pohon kecil dari cedera,
meminimalkan kerusakan tanah, mencegah kerusakan yang tidak perlu pada spesies non-
target, dan melindungi proses ekosistem kritis (misalnya hidrogeologi dan penyerapan
karbon).
III. ALAT DAN BAHAN
1. Bermacam-macam kapak
2. Gergaji tangan
3. Gergaji mesin (chainsaw)
4. Video alat-alat semi mekanis dan mekanis

IV. CARA KERJA


Cara kerja pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut:

Melakukan pengamatan alat-alat tebangan yang diperkenalkan

Alat-alat tebangan manual dan semi meanis kemudian digambar, sedangkan alat
tebangan mekanis dapat diprint

Diberikan keterangan bagian pada setiap alat, fungsi, dan juga output yang dapat
dihasilkan dari alat tersebut

Pada praktikum ini akan diperkenalkan mengenai berbagai macam alat-alat tebangan yang
digunakan dalam pemanenan hasil hutan. Alat-alat tebangan manual (kapak dan gergaji
tangan) ,semi mekanis (chainsaw) , dan mekanis (Feller Buncher dan Harvester). Selain
dilakukan pengenalan melalui gambar pada praktikum kali ini juga diperkenalkan cara
kerja alat pemanenan hasil hutan semi mekanis dan mekanis melalui video Selanjutnya,
alat-alat tebang manual dan semi mekanis digambar di kertas. Untuk alat-alat tebang
mekanis, dicari gambar dari alat-alat tersebut di internet kemudian dicetak. Setelah alat-
alat gambar tebang lengkap, kemudian diberi keterangan mengenai bagian-bagian dari tiap
alat-alat tebang tersebut. Keterangan yang ditulis berupa bagian-bagian alat, fungsi dan
output dari tiap alat-alat tebangan.
V. DATA
VI. PEMBAHASAN
Praktikum kali ini mengenalkan alat-alat yang digunakan dalam pemanenan hasil
hutan, dan dijelaskan mengenai konsep pemanenan dengan sistem RIL (Reduce Impact
Logging). Pemanenan hasil hutan merupakan sub-sistem dari pengelolaan hutan yang
menjadi langkah awal dalam pemanfaatan hasil hutan. Peralatan pemanenan berperan
penting terhadap kelangsungan kegiatan pemanenan karena dapat meningkatkan
produktivitas dan pendapatan perusahan. Berdasarkan energi yang dipakai atau komponen
penyusunnya, peralatan pemanenan hasil hutan dibedakan menjadi:

1. Manual, yaitu sistem pemanenan kayu yang dilakukan dengan menggunakan


tenaga manusia dengan komposisi tenaga manusia 90%, mesin 10%.
2. Semi mekanis, yaitu sistem pemanenan kayu yang dilakukan dengan tenaga
manusia namun dengan bantuan mesin-mesin pemanenan kayu dengan komposisi
70% tenaga manusia, dan 30% mesin.
3. Mekanis yaitu sistem pemanenan kayu dengan menggunakan mesin-mesin
pemanen kayu dengan komposisi 30% mesin dan 70% tenaga manusia. (Suhartana,
2017)

Alat tebang manual biasa digunakan di hutan yang memiliki luasan wilayah tidak
terlalu luas, misal hutan rakyat. Dilihat dari proporsinya, kelebihan sistem ini terletak pada
sisi ekonomi, dimana alat yang digunakan relatif murah. Namun, kelemahan sistem ini
yaitu akan membutuhkan banyak tenaga manusia untuk mengoperasikan alat ini, serta
membutuhkan waktu yang cukup lama dalam kegiatan penebangan. Alat tebang yang
termasuk kategori alat tebang manual adalah kapak dan gergaji tangan. Pada pratikum kali
ini masing masing alat juga memiliki klasifikasi yang bermacam macam. Kapak
diklasifikasikan menjadi 3 yaitu berdasarkan penggunaan/fungsinya (kapak belah dan
potong), berdasarkan bentu tangkai (kapak lengkung dan lurus), dan berdasarkan sisi tajam
(kapak bermata satu dan bermata dua). Sedangkan untuk gerjadi tangan di klasifikasikan
menjadi dua yaitu berdasarkan penggunaan/ fungsi (gergaji tangan belah dan potong),
kemudian berdasarkan jumlah orang yang mengoperasikan (satu tangan dan dua tangan).
Untuk alat tebang semi mekanis memiliki kelebihan antara lain efektif karena alat
mudah dpindahkan dari satu tutuk tebang ke titik tebang lainnya, proses penebangan lebih
cepat jika dibandingkan dengan manual. Kekurangannya adalah dana yang dikeluarkan
lebih banyak dibandingkan dengan manual, dan juga dalam penggunaannya masih belum
dapat diterapkan pada cakupan areal yang luas. Salah satu contoh alat semi mekanis pada
praktikum kali ini adalah gergaji mesin atau chainsaw. Prinsip penggunaan dari alat ini
tidak jauh berbeda dengan gergaji tangan manual. Perbedaannya hanya pada banyaknya
tenaga mesin yang bekerja di alat ini. Chainsaw memiliki tiga bagian pokok yaitu power
unit, cutting unit, dan control unit.
Berdasarkan sumber tenaganya, chainsaw dapat dibedakan menjadi 3 yaitu
chainsaw listrik, chainsaw BBM (bahan bakar minyak), dan chainsaw dengan baterai. Alat
tebang mekanis merupakan alat tebang yang mulai dapat diterapkan pada areal tebang yang
cukup luas secara efektif. Jangkauan tebang yang luas memberikan kemampuan lebih
kepada alat ini dalam mengefektifkan waktu tebang. Keuntungan-keuntungan tersebut
tentunya harus dibayar dengan nominal yang tidak sedikit. Faktor waktu dan finansial
dijadikan pertimbangan dalam pemilihan alat tebang. Beberapa alat atau mesin tebang yang
digolongkan dalam alat tebang mekanis dan dilakukan pembahasan pada praktikum kali
ini adalah adalah harvester dan feller buncher.
Harvester merupakan alat penebangan mekanis dengan system cut to length,
sedangkan Feller Buncher merupakan sebuah alat berat yang memiliki fungsi penebangan
dan pengangkutan dalam satu alat yang sama. Diketahui, satu buah alat ini dapat
menggantikan pekerjaan 10 hingga 15 orang dan mampu menebang dan mengangkut 200
batang pohon setiap jamnya, hal yang tidak mungkin dapat dilakukan jika dikerjakan secara
manual. Alat ini biasa digunakan untuk menebang seluruh pohon atau hanya beberapa
pohon di suatu lokasi. Selain digunakan untuk proyek penebangan hutan, alat ini juga bisa
digunakan untuk membersikan pepohonan di lahan yang akan digunakan untuk
pembangunan. RIL (Reduce Impact Logging) adalah suatu pedoman pemanenan kayu yang
dirancang untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan dari penebangan pohon,
penyaradan, dan pengangkutan. Tujuan utama dari RIL adalah mendapatkan efisiensi
dalam kegiatan pemanenan hasil hutan kayu untuk mendukung pengelolaan hutan yang
berkelanjutan.
RIL sering juga disebut RITH (Reduced Impact Timber Harvesting) yaitu suatu
teknik pemanenan kayu yang direncanakan secara intensif, dalam pelaksanaan operasinya
menggunakan teknik pelaksanaan dan peralatan yang tepat serta diawasi secara intensif
untuk meminimalkan kerusakan terhadap tegakan tinggal dan tanah (Elias 2002). Selain
itu, RIL juga mempunyai beberapa tujuan operasional yaitu meminimalkan efek negatif
terhadap tegakan tinggal. Namun demikian, dalam praktiknya penerapan teknik RIL
tersebut belum diikuti dengan perbaikan manajemen kerja yang memadai karena
pertimbangan kepraktisan di lapangan (Soenarno, 2017).
Dalam jurnal yang berjudul “Pengaruh Limbah Pemanenan Kayu Terhadap
Efisiensi Pemanfaatan Kayu Hutan Produksi Alam Pada Dua Pengusahaan Hutan di
Kalimantan” yang berkaitan dengan Reduce Impact Logging didapatkan pembahasan
mengenai Pengelolaan pemanenan kayu pada hutan alam telah menerapkan teknik RIL.
Pemanenan kayu dengan menerapkan RIL (Reduced Impact Logging) dapat meningkatkan
efisiensi pemanfaatan kayu. Selain itu penerapan Reduce Impact Logging dalam kegiatan
pemanenan kayu pada hutan alam dapat mengurangi presentase limbah yang dihasilkan
dari kegiatan pemanenan. Limbah tersebut dapat berasal dari pohon yang ditebang berupa
sisa pembagian batang termasuk cabang, ranting, pucuk, tunggak atau sisa kayu batang
bebas cabang yang mempunyai ukuran diameter kurang dari 30 cm atau panjang tidak lebih
dari 2 m.
Permasalahan limbah di hutan alam menjadi perhatian yang serius karena bahan
baku industri perkayuan semakin lama semakin berkurang. Upaya meminimalkan limbah
pemanenan dilakukan sebisa mungkin mencapai zero waste. Limbah pemanenan sering
timbul akibat kesalahan teknis di lapangan dan juga akibat kebijakan perencanaan
pemanenan yang kurang tepat. Pemanfaatan kayu yang kurang efisien terjadi karena
jumlah kayu yang dimanfaatkan pada umumnya masih rendah. Adanya system Reduce
Impact Logging sangat membantu untuk mengatasi permasalahan ini dikarenakan RIL
menerapkan sistem tebang pilih, meminimalkan kerusakan pada tanah hutan,
meningkatkan pemanfaatan kayu, meningkatkan kualitas kayu, meminimalkan limbah,
meningkatkan keselamatan kerja dalam kegiatan pemanenan melalui penerapan prosedur
dan cara kerja yang benar, dan meningkatkan efisiensi dalam biaya pemanenan kayu.
VII. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1. Alat-alat tebangan yang biasa dapat digunakan pada pemanenan hasil hutan dapat
dikelompokkan menjadi alat-alat tebangan manual, semi mekanis, dan mekanis.
Alat-alat tebangan manual antara lain berbagai jenis kapak dan berbagai jenis
gergaji tangan. Alat-alat tebangan semi mekanis antara lain Chain saw minyak,
Chain saw baterai, dan Chain saw listrik sedangkan alat-alat tebangan mekanis
antara lain harvester, feller buncher, dan Knuckleboom loader.
2. Bagian-bagian dan fungsi pada setiap alat antara lain :
a. Kapak bagiannya terdiri dari kepala kapak (Lengkung tajam, tumit, pipi kapak,
dan rumah tangkai) dan tangkai kapak, fungsinya digunakan untuk membelah
dan memotong kayu.
b. Gergaji tangan bagiannya terdiri dari blade dan handle, fungsinya untuk
membelah atau memotong kayu.
c. Chainsaw bagiannya terdiri dari cutting unit dan power unit, berfungsi untuk
memotong atau membelah kayu dan membagi batang.
d. Feller buncher bagiannya terdiri dari penjepit lengan berdiri, ruang operasional,
roda berantai, lengan hidraulik dan penebang(gergaji), fungsinya untuk
menebang pohon dan mengumpulkan kayu hasil tebangan ke tempat
pengumpulan log kayu.
e. Harvester bagiannya terdiri dari ruang operasional, ban berantai, lengan
hidraulik, penebang (gergaji), fungsinya untuk menebang pohon,
membersihkan cabang, dan membagi batang.
3. Pengoperasian alat-alat tebangan akan berbeda-beda, tergantung pada jenisnya.
Alat tebangan manual seperti kapak dan gergaji tangan membutuhkan komposisi
tenaga manusia 90% dan mesin 10% dalam mengoperasikan alatnya cukup mudah.
Alat tebangan semi mekanis seperti Chainsaw membutuhkan komposisi tenaga
manusia 70% dan mesin 30% dengan mengoperasikan alatnya membutuhkan
keterampilan. Alat tebangan mekanis membutuhkan komposisi tenaga manusia
30% dan mesin 70% dengan pengoperasiannya membutuhkan keterampilan yang
ahli atau sudah terbiasa.
VIII. DAFTAR PUSTAKA

Benamen, B., Wolfram Y. Mofu, dan Piter Gusbager. 2018. Inventarisasi Potensi dan Bentuk
Pemanenan Hasil Hutan Kayu di DAS Tami dan Bewan Dataran Arso Kabupaten Keerom.
Jurnal Kehutanan Papuasia. Volume 4 (2): 86-93
Elias, Wistara N. 2002. RIL Buku 1. Bogor : IPB Press.
Fatih, S., Hardiansyah, G., dan Roslinda Emi. 2018. Analisa Biaya Pemanenan Tanaman Mangium
(Acacia mangium) di PT Bina Silva Nusantara Kecamatan Batu Ampar Kabupaten Kubu
Raya. Jurnal Hutan Lestari. Volume 6 (4): 804-813
Haryanto. 1996. Pemanenan Hasil Hutan, Buku ke-2 “Penebangan”. Yayasan Pembinaan
Fakultas Kehutanan. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.

Latifah, Siti., Herawatiningsih, Ratna. 2018. Tingkat Kesuburan Tanah Pada Areal Eks Penebangan
Hutan di Areal HPH PT. KSK Nanga Pinoh [Link]. Jurnal Tengkawang, Volume 8
(1): 50-58.

Soenarno. 2017. Analisis Biaya Penebangan Sistem Swakelola: Studi Kasus di Dua IUPHHK-HA
Kalimantan Tengah. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. Volume 35 No. 2 : 101-114.
Suhartana, S., Yuniawati. 2018. Pengaruh Limbah Pemanenan Kayu Terhadap Efisiensi
Pemanfaatan Kayu Hutan Produksi Alam Pada Dua Pengusahaan Hutan di Kalimantan.
Jurnal Ilmu Lingkungan. Volume 16 (2): 147-154
Suhartana, S., Yuniawati. 2016. Produktivitas dan Biaya Pemanenan Kayu di Hutan Tanaman
Rawa Gambut. Jurnal hutan tropis. Volume 4 (3): 273-281
Review Jurnal

Anda mungkin juga menyukai