0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan39 halaman

Efektivitas Pajak Kendaraan di Kupang

proposal akuntansi pajak kendaraan bermotor

Diunggah oleh

Yantiimut
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan39 halaman

Efektivitas Pajak Kendaraan di Kupang

proposal akuntansi pajak kendaraan bermotor

Diunggah oleh

Yantiimut
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL SKRIPSI

ANALISIS EFEKTIVITAS PENERIMAAN DAN


PEMUNGUTAN PAJAK KENDARAAN BERMOTOR
PADA UPTD. PENDAPATAN DAERAH WILAYAH
KOTA KUPANG

ROSILTA HURU REHE


NIM: 2023755818

PROGRAM STUDI AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK


JENJANG PENDIDIKAN SARJANA TERAPAN
JURUSAN AKUNTANSI
POLITEKNIK NEGERI KUPANG
2024
HALAMA PENGESAHAAN

i
ANALISIS EFEKTIVITAS PENERIMAAN DAN PEMUNGUTAN PAJAK
KENDARAAN BERMOTOR PADA [Link] DAERAH
WILAYAH KOTA JUPANG

ii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN PENGESAHAN................................................................................i
RINGKASAN.........................................................................................................ii
DAFTAR ISI.........................................................................................................iii
DAFTAR TABEL...................................................................................................v
DAFTAR GAMBAR.............................................................................................vi
BAB I PENDAHULUAN......................................................................................1
1.1 Latar Belakang............................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................4
1.3 Tujuan Penelitian........................................................................................4
1.4 Manfaat Penelitian......................................................................................4
1.5 Batasan Masalah.........................................................................................5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................6
2.1 Pendapatan Asli Daerah (PAD)......................................................................
2.1.1 Pengertian Pendapatan Asli Daerah.........................................................
.2.1.2 Sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah……………………………………..6
2.2 Konsep perpajakan .........................................................................................
2.2.1 Pengertian Pajak ........................................................82.2.2 Fungsi Pajak
...........................................................................................................................
2.2.3 Pengelompokan Pajak............................................................................10
2.2.4 Sistem Pemungutan pajak......................................................................11
2.3 Pajak Daerah..................................................................................................12
2.4 Pajak Kendaraan Bermotor..........................................................................13
2.4.1 Pengertian PPajak Kendaran Bermotor..................................................12
2.4.2 Dasar Hukum Pajak Kendaraan Bermotor.............................................13
2.4.3 Objek Pajak dan Wajib pajak Kendraan Bermotor................................13
2.4.4 Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor.......................................14
2.4.5 Tarif Pajak .............................................................................................15
2.4.6 Perhitugan Pajak Kendaraan Bermotor..................................................15
2.5 Efektivitas.......................................................................................................16
2.5.1 Evektivitas Peneriman Pajak Kendaraan Bermotor...............................16
2.5.2 Evektivitas Pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor............................16
2.6 Penelitian Terdahulu......................................................................................18
iii
2.5 Kerangka Berpikir.........................................................................................21
BAB III METODE PENELITIAN.....................................................................22
3.1 Jenis Penelitian...............................................................................................22
3.2 Tempat dan Waktu.........................................................................................22
3.3 Populasi dan Sampel......................................................................................23
3.4 Jenis dan Sumber Data..................................................................................23
3.5 Teknik Pengumpulan Data............................................................................24
3.6 Analisi Data.....................................................................................................25
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................28
LAMPIRAN.........................................................................................................30

iv
DAFTAR TABEL

HALAMAN
Tabel 1.1 Target dan realisasi penerimaan pajak kendraan bermotor pada
[Link] Daerah Wilayah Kota Kupang..................................................3
Tabel 2.1 Kriteria Efektivitas.................................................................................16
Tabel 2.2 Indikator Efektivitas ..............................................................................17
Tabel 2.3 Penelitian Terdahulu..............................................................................18
Tabel 3.1 Kriteria Efektivitas ................................................................................26
Tabel 3.2 Indikator Efektivitas ..............................................................................27

v
DAFTAR GAMBAR

HALAMAN
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir.............................................................................21

vi
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, disebutkan bahwa Pemerintah
Daerah memiliki Pendapatan Asli Daerah (PAD), yang berasal dari Hasil Pajak Daerah,
Hasil Retribusi Daerah, Hasil Perusahaan Milik Daerah (BUMD) Hasil Pengelolaan
Kekayaan Daerah yang dipisahkan, dan lain-lain Pendapatan Daerah yang sah. Undang-
Undang Nomor 33 Tahun 2004 menjelaskan tentang perimbangan Keuangan Pemerintah
Pusat dan Daerah, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah bersumber dari Pendapatan
Asli Daerah dan Penerimaan berupa Dana Perimbangan yang bersumber dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara, Pendapatan Daerah, yang berupa Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah, diharapkan menjadi salah satu sumber pembiayaan penyelenggaraan
pemerintahan dan pembangunan daerah, untuk meningkatkan dan memeratakan
kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, daerah mampu melaksanakan otonomi, yaitu
mampu mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri (Mardiasmo, 2018:22).
Salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) berasal dari pajak daerah. Pajak
daerah merupakan sumber pendapatan yang paling tinggi, karena pendapatan tersebut
digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan daerah.
Daerah memiliki wewenang untuk mengatur wilayah dan mengembangkan segala potensi
yang dimiliki, sehingga kewenangan ini akan mendorong daerah untuk berkembang secara
kompetitif yang sehat dengan memanfaatkan semaksimal mungkin sumber daya yang
dimiliki (Aryani, dalam Azhari 2018:54).
Pajak Daerah Provinsi maupun Kabupaten/Kota diatur oleh Undang Undang nomor 28
tahun 2009. Jenis pajak daerah terbagi menjadi yaitu Pajak Provinsi dan Pajak
Kabupaten/Kota. Pajak Provinsi terdiri dari pajak kendaraan bermotor, bea balik nama
kendaraan bermotor, pajak bahan bakar kendaraan bermotor, pajak air permukaan, pajak

1
rokok. Sedangkan pajak Kabupaten/Kota terdiri dari pajak hiburan, pajak reklame, pajak
hotel, pajak parkir, pajak bumi dan bangunan.
Pajak yang cukup besar potensinya bagi Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah pajak
kendaraan bermotor. Seiring perkembangan zaman, mobilitas masyarakat menjadi semakin
tinggi sehingga kendaraan menjadi salah satu kebutuhan penting bagi masyarakat, karena
kendaraan dapat memudahkan masyarakat dalam bepergian baik jarak dekat maupun jauh.
Kendaraan tidak hanya menjadi alat transportasi saja namun juga menjadi alat bagi
masyarakat untuk mencari nafkah, bahkan bagi sebagian orang kendaraan juga menjadi alat
ukur kemampuan ekonomi. Oleh karena itu, Permintaan pasar atas kendaraan bermotor
menjadi semakin tinggi sehingga daya tarik tersendiri bagi industri otomotif untuk bersaing
mendapat konsumen. Regulasi pembelian kendaraan yang semakin dipermudah sehingga
tidak diperlukan persyaratan yang berbelit- belit disertai uang muka yang rendah serta
angsuran dan bunga yang kecil membuat masyarakat semakin tertarik untuk membeli
kendaraan bermotor. Hal ini tentunya berdampak pada jumlah kendaraan yang akan
mengalami pertumbuhan tiap tahunnya.
Pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor ini akan meningkatkan jumlah subyek pajak
beserta obyek pajak kendaraan bermotor, sehingga meningkatkan jumlah potensi
pemasukan pajak dari sektor kendaraan bermotor. Potensi pajak ini akan menambah
Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang diterima pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur
khususnya Kota Kupang dari sektor pajak kendaraan bermotor.
Penagihan pajak kendaraan bermotor dilakukan oleh pemerintah daerah yang dalam
penerapannya dilaksanakan oleh Sistem Administrasi Manunggal di bawah Satu Atap
(SAMSAT). Samsat dalam menjalankan tugasnya bekerja sama dengan pihak kepolisian
(Dirlantas Polda NTT) yang mempunyai fungsi dan kewenangan di bidang registrasi dan
identifikasi kendaraan bermotor, yaitu UPTD Pendapatan Daerah Wilayah Kota Kupang di
bidang Penagihan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan
Bermotor (BBNKB) dan Jasa Raharja yang berwenang di bidang penyampaian sumbangan
wajib dana kecelakaan lalulintas jalan mengingat pelaksanaan sistem penagihan pajak

2
terdiri dari rangkaian kegiatan yang saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan satu
sama lain.
Penulis melakukan penelitian pada Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pendapatan
Daerah Wilayah Kota Kupang dikarenakan merupakan salah satu instansi yang memiliki
sumber penerimaan yang besar dibandingkan dengan instansi lain.
Adapun target dan realisasi Pajak Kendaraan Bermotor yang terdata pada UPTD.
Pendapatan Wilayah Daerah Kota Kupang sebagai berikut:

Tabel 1.1 Target dan Realisasi Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor pada UPTD.
Pendapatan Daerah Wilayah Kota Kupang tahun 2020-2023.
Tahun Target (Rp) Realisasi (Rp)
2020 [Link] [Link]

2021 [Link] [Link]

2022 [Link] [Link]

2023 [Link] [Link]


Sumber: UPTD Pendapatan Daerah Wilayah Kota Kupang, 2024

Berdasarkan data target dan realisasi pajak kendaraan bermotor pada Tabel 1.1, target
dan realisasi pajak kendaraan bermotor pada tahun 2020 meningkat secara signifikan,
sedangkan pada tahun 2021-2023 terjadi penurunan realisasi penerimaan PKB. ada
beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya penurunan penerimaan pajak kendaraan
bermotor dikota Kupang pada tahun 2021-2023 yaitu target yang ditetapkan setiap
tahunnya semakin meningkat seiring dengan jumlah pertumbuhan kendaraan bermotor di
Kota Kupang. Tetapi banyak kendaraan bemotor yang tertunggak lebih dari 10 tahun yang
masih tetap terdata sebagai target. Adapun yang menjadi masalah lain yang peneliti
temukan realisasi tidak tercapai yaitu wajib pajak yang telah berpindah tempat tinggal ke
luar daearah Kota Kupang dan kurang kesadaran dari masyarakat. Hal ini mengakibatkan

3
pencapaian target tidak terpenuhi. Faktor lainnya yaitu jumlah tunggakan kendaraan
bermotor yang semakin meningkat setiap tahunnya dikarenakan ketidak patuhan wajib
pajak dalam membayar pajak. Strategi yang dilakukan oleh UPTD. Pendapatan Daerah
Wilayah Kota Kupang menyikapi hal tersebut adalah dengan berbagai upaya diantaranya
yaitu dengan adanya program Samsat Keliling, Samsat Online, Door to Door, dan Tax
Amnesti/pemutihan.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas terkait dengan penerimaan
Pajak Kedaraan Bermotor pada UPTD. Pendapatan Daerah Wilayah Kota Kupang, maka
penulis tertarik untuk meneliti bagaimana efektivitas penerimaan dan pemungutan Pajak
Kendaraan Bermotor di Kota Kupang dengan judul“ANALISIS EFEKTIVITAS
PENERIMAAN DAN PEMUNGUTAN PAJAK KENDARAAN BERMOTOR PADA
UPTD PENDAPATAN DAERAH WILAYAH KOTA KUPANG”

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana efektivitas Penerimaan pajak kendaraan bermotor pada UPTD Pendapatan


Daerah Wilayah Kota Kupang?
2. Bagaimana efektivitas pemungutan pajak kendaraan bermotor yang di lakukan oleh
[Link] daerah wilayah kota kupang?

1.3 Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui dan menganalisis efektivitas penerimaan dan penagihan Pajak


Kendaraan Bermotor pada UPTD. Pendapatan Daerah Wilayah Kota Kupang.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Manfaat Bagi Peneliti Penelitian ini dapat menambah pengetahuan yang


berkaitan dengan pengoptimalisasian pajak daerah secara efektif dalam
rangka meningkatkan pendapatan asli daerah.

4
2. Bagi UPTD. Pendaptan Daerah Wilayah Kota Kupang, hasil penelitian
ini dapat digunakan sebagai salah satu masukan khususnya pada saat
membuat kebijakan baru terkait dengan pelayanan pembayaran pajak,
terutama dalam meningkatkan penerimaan pajak.
3. Bagi Peneliti untuk menambah pengetahuan dan wawasan dalam ilmu
yang diperoleh di bangku kuliah.
4. Bagi Akademik hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan
acuan bagi penelitian berikutnya yang berkaitan dengan efektivitas layanan
pemungutan pajak.

1.5 Batasan Masalah

Dalam penelitian ini penulis membatasi permasalahan yang menjadi objek penelitian
adalah UPTD Pendapatan Daerah Wilayah Kota Kupang dengan menggunakan laporan
penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dari tahun 2020-2023.

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pendapatan Asli Daerah (PAD)


2.1.1 Pengertian Pendapatan Asli Daerah

Pendapatan asli daerah adalah sebagian sumber-sumber pendapatan daerah yang


dapat dijadikan sebagai pendapatan yang menjadi kewenangan hasil usaha sendiri sebagai
konsekuensi logis dari penyelenggaraan tugas desentralisasi. Pemerintah Daerah kewajiban
untuk mengurus pengelolaan jenis-jenis sumber dana yang masuk dalam pendapatan asli
daerah, agar dapat menjamin keberhasilan pelaksanaan tugas desentralisasi.

Berdasarkan Undang-Undang No 32 Tahun 2004 Pendapatan Asli Daerah atau yang


disebut PAD adalah pendapatan yang diperoleh dari sumber-sumber pendapatan daerah dan
dikelola sendiri oleh Pemerintah Daerah. Menurut Undang-Undang No 33 Tahun 2004
tentang perimbangan keuangan antara Pusat dan Daerah Pasal 1 angka 18 bahwa
“Pendapatan Asli Daerah” adalah pendapatan yang diperoleh daerah yang dipungut
berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pendapatan
asli daerah adalah semua hak daerah yang diakui sebagai penambahan nilai kekayaan bersih
dalam periode anggaran tertentu.

6
2.1.2 Sumber-Sumber Pendapatan Asli Daerah

Sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan tulang punggung pembiayaan


bagi daerah yang hendak melaksanakan hak otonominya, tetapi dalam kenyataannya
sebagian dari pemerintah daerah masih mengandalkan bantuan dari pemerintah pusat.
Sehubung dengan hal tesebut maka salah satu kriteria penting untuk mengetahui secara
nyata kemampuan daerah dalam mengatur dan mengelola rumah tangganya sendiri adalah
kemampuan selfsupporting dalam keuangan. Dari hal tersebut tampak jenis faktor
keuangan daerah merupakan titik sentral bagi pembiayaan penyelenggaraan pemerintah dan
pembangunan di daerah.

Adapun sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah tersebut yaitu:

1. Hasil Pajak Daerah


Pajak Daerah adalah pungutan wajib yang dibayar oleh rakyat kepada
pemerintah daerahdan akan digunakan untuk kepentingan pemerintah dan
kepentingan umum. Rakyat yang membayar pajak tidak akan dapat merasakan
manfaatatau keuntungan tersebut secaralangsung, karena pajak daerah ini akan
digunakan untuk kepentingan umum, bukan kepentingan pribadi. Pajak daerah
merupakan salah satu sumber dana pemerintah dalam menjalankan program-
program pemerintahannya. Pajak daerah merupakan iuran dari rakyat kepada
pemerintah daerah yang dapat dipaksakan karena prosesnya sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Hasil Retribusi Daerah
Retribusi daerah adalah pungutan yang wajib dibayar oleh orang pribadi atau
badan kepada pemerintah atas jasa atau pemberian izin tertentu. Retribusi dipungut
langsung oleh pemerintah daerah dan dalam pemungutannya dapat bersifat paksaan
secaraekonomis karena sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Retribusi
Daerah ini dapat dipungut dengan menggunakan Surat Ketetapan Retribusi Daerah
(SKRD) atau dokumen lain yang dipersamakan. Beberapa jenis retribusi antara
lain:

7
a. Retribusi pelayanan kesehatan
b. Retribusi pemakaian kekayaan darah
c. Retribusi terminal
d. Retribusi tempat parkir
e. Retribusi pengujian kapal perikanan
f. Retribusi pelayanan pasar, dll

3. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan


Kekayaan daerah yang dipisahkan adalah kekayaan darah yang dilepaskan dari
penguasa umumyang dipertanggungjawabkan melalui anggaran belanja daerah dan
dimaksudkan untuk dikuasai dan dipertanggungjawabkan sendiri. Hasil
Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan ini antara lain termasuk laba dari
lembaga keuangan bank, laba dari perusahaan daerah, dan laba dari penyertaan
modal kepada badan usaha lainnya.
4. Pinjaman Daerah
Pinjaman Daerah adalah semua transaksi yang membuat daerah menerima
sejumlah uang atau menerima manfaat yang dapat dinilai dengan uang dari
pihaklain. Pinjaman ini dibebani kewajban untuk membayar kembali dan dibuat
dengan kesepakatan tertulis oleh pemerintah daerah dengan pihak yang
memberikan pinjaman.
5. Pendapatan Daerah Lainnya yang Sah
Sesuai dengan pasal 6 dalam undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004, tentang
perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah,
pendapatan daerah yang sah meliputi:
a. Hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan
b. Jasa Giro
c. Pendapatan bunga
d. Keuntungan selisih nilai tukar mata uang rupiah terhadap mata uang asing

8
e. Komisi, potongan, atau bentuk lain dari penjualan dan pengadaan barang
atau jasa oleh daerah.

2.2 KONSEP PERPAJAKAN


2.2.1 Pengertian Pajak

Pengertian atau definisi pajak bermacam-macam para pakar perpajakan


mengemukakannya berbeda satu sama lain dari waktu ke waktu, meskipun demikian pada
dasarnya memiliki tujuan yang sama yaitu untuk merumuskan pengertian pajak sehingga
mudah dipahami.

Djajadiningrat dalam Resmi (2014), pajak sebagai suatu kewajiban menyerahkan


sebagian dari kekayaan kekas negara yang disebabkan suatu keadaan, kejadian, dan
perbuatan yang memberikan kedudukan tertentu, tetapi bukan sebagai hukuman, menurut
peraturan yangditetapkan pemerintah serta dapat dipaksakan, tetapi tidak ada jasa
timbalbalik dari negara secara langsung, untuk memelihara kesejahteraan umum.

Selain itu, Mardiasmo (2013:1) juga menambahkan bahwa pajak adalah iuran rakyat
kepada kas Negara berdasarkan undang–undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada
mendapat jasa timbal (kontraprestasi), yang langsung dapat ditunjukkan dan yang
digunakan untuk membayar pengeluaran umum. Dari pengertian tersebut, dapat
disimpulkan bahwa pajak memiliki unsur-unsur:

1. Iuran dari rakyat kepada negara


2. Yang berhak memungut pajak hanyalah negara. Iuran tersebut berupa uang
3. Berdasarkan undang-undang.
4. Pajak dipungut berdasarkan atau dengan kekuatan undang-undang serta aturan
pelaksanaannya.
5. Tanpa jasa timbal atau kontraprestasi dari negara yang secara langsung dapat
ditunjuk. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontraprestasi
individual oleh pemerintah.

9
6. Digunakan untuk membiayai rumah tangga negara, yakni pengeluaran-pengeluaran
yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

2.2.2 Fungsi Pajak

Ada dua fungsi pajak menurut Mardiasmo (2016:4) yaitu :


1. Pajak mempunyai fungsi budgetair artinya pajak merupakan salah satu sumber
penerimaan pemerintah untuk membiayai pengeluaran baik rutin maupun
pembangunan. Sebagai sumber keuangan negara, pemerintah berupaya
memasukan uang sebanyak–banyaknya untuk kas negara. Upaya tersebut
ditempuh dengan cara ekstensifikasi maupun intensifikasi pemungutan pajak
melalui penyempurnaan peraturan berbagai jenis pajak seperti Pajak Penghasilan
(PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah
(PPnBM), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), dan Lain–lain.
2. Fungsi mengatur (regulerend) Pajak sebagai alat untuk mengatur atau
melaksanakan kebijakan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi.
2.2.3 Pengelompokan Pajak

Pengelompokan Pajak menurut Mardiasmo (2016:7) yaitu :


1. Menurut golongannya
a. Pajak Langsung, yaitu pajak yang harus dipikul sendiri oleh Wajib
Pajak dan tidak dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang
lain. Contoh: Pajak Penghasilan.
b. Pajak tidak langsung, yaitu pajak yang pada akhirnya dapat
dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain. Contoh: Pajak
Pertambahan Nilai.
2. Menurut sifatnya

10
a. Pajak Subjektif, yaitu pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada
subjeknya, dalam arti memperhatikan keadaan diri Wajib Pajak.
Contoh: Pajak Penghasilan.
b. Pajak Objektif, yaitu pajak yang berpangkal pada objeknya, tanpa
memperhatikan keadaan diri Wajib Pajak. Contoh: Pajak
Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah. \
3. Menurut pemungutnya
a. Pajak Pasar, yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan
digunakan untuk membiayai rumah tangga negara. Contoh:Pajak
Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai, dan Pajak Penjualan atas
Barang Mewah dan Bea Materai.
b. Pajak Daerah, yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah
dan digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah

2.2.4 Sistem Pemungutan Pajak


1. Self Assesment System
Suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang Wajib Pajak
untuk menentukan sendiri jumlah pajak yang terutang setiap tahunnyasesuai
dengan ketentuan undang-undang perpajakan yang berlaku. Dalam sistem ini,
inisisatif dan kegiatan menghitung serta pelaksanaan pemungutan pajak berada di
tangan Wajib Pajak. Wajib Pajak dianggap mampu menghitung pajak, mampu
memahami peraturan perpajakan yang sedang berlaku, dan mempunyai kejujuran
yang tinggi, serta menyadari akan arti pentingnya membayar pajak. Oleh karena
itu, Wajib Pajak diberi kepercayaan untuk :
a. Menghitung sendiri pajak yang terutang;
b. Memperhitungkan sendiri pajak yang terutang;
c. Membayar jumalah pajak yang terutang;
d. Melaporkan jumlah pajak yang terutang; dan

11
e. Memperanggung jawabkan pajak yang terutang.
Dengan demikian berhasil atau tidaknya pelaksanaan pemunggutan
pajakbanyak tergantung pada wajib pajak sendiri (peranan dominan pada wajib
pajak).
2. Official Assesment System
Suatu sistem pemungutan pajak yang memberi kewenangan aparatur
perpajakan untuk menentukan sendiri jumlah pajak yang terutang setiap tahunnya
sesuai dengan peraturan perudang-undangan perpajakan yang berlaku. Dalam
sistem ini, inisiatif serta kegiatan menghitung dan memungut pajak sepenuhnya
berada ditangan para aparatur perpajakan. Dengan demikian, berhasil
atautidaknya pelaksanaan pemunggutan pajak banyak tergantung pada aparatur
perpajakan.
3. With Holding System
Suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga
yang ditunjuk untuk menentukan besarnyapajak yang terutang oleh wajib pajak
sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.
Penunjukkan pihak ketiga ini dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan
perpajakan, presiden, dan peraturan lainnya untuk memotong dan memungut pajak,
menyetor dan mempertanggung jawabkan melalui sarana perpajakan yang tersedia.
Berhasil atau tidaknya pelaksanaan pemungutan pajak banyak tergantung pada
pihak ketiga yang ditunjuk.

2.3 Pajak Daerah

Pengertian pajak daerah dalam UU Nomor 28 Tahun 2009 yang merupakan perubahan
dari UU Nomor 34 Tahun 2000, bahwa pajak daerah yang selanjutnya disebut pajak adalah
kontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat
memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung

12
dan digunakan untuk keprluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Dalam
UU Nomor 28 Tahun 2009 (pasal 2) pajak daerah dibagi menjadi dua jenis dan beberapa

objek pajak yaitu:


1. Pajak provinsi, yang terdiri dari pajak kendaraan bermotor, bea balik
nama kendaraan bermotor, pajak bahan bakar kendaraan bermotor,
pajak air permukaan, dan pajak rokok.
2. Pajak kabupaten/kota, yang terdiri dari pajak hotel, pajak restoran,
pajak hiburan, pajak reklame, pajak penerangan jalan, pajak mineral
bukan logam dan batuan, pajak parkir, pajak air tanah, pajak sarang
bururng walet, pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan, bea
perolehan hak atas tanah dan bangunan.
2.4 Pajak Kendaraan Bermotor
1.4.1 Pengertian Pajak Kendaraan Bermotor
Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) adalah pajak atas kepemilikan atau penguasaan
kendaraan bermotor, yaitu kendaraan beroda dua atau lebih beserta gandengannya yang
digunakan di semua jenis jalan darat dan digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor
atau peralatan lainnya yang berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya energi tertentu
menjadi tenaga gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan, termasuk alat-alat besar yang
bergerak. Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009: Pajak Kendaraan Bermotor
adalah pajak atas kepemilikan dan atau penguasaan kendaraaan.

1.4.2 Dasar Hukum Pajak Kendaraan Bermotor


Dasar hukum Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) adalah: Undang-Undang Nomor 34
tahun 2000 yang merupakan perubahan atas Undang-Undang Nomor 18 tahun 1997 tentang
Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

Peraturan Pemerintah Nomor 65 tahun 2001 tentang Pajak Daerah Peraturan daerah
provinsi yang mengatur tentang PKB. Peraturan daerah ini dapat menyatu, yaitu satu
peraturan daerah untuk PKB, tetapi dapat juga dibuat secara terpisah misalnya Peraturan
Daerah tentang PKB. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 tahun 2006 tentang

13
Perhitungan Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan
Bermotor Tahun 2006. Peraturan Gubernur yang mengatur tentang PKB sebagai aturan
pelaksanaan peraturan daerah tentang PKB pada provinsi yang dimaksud.

1.4.3 Objek Pajak dan Wajib Pajak Kendaraan Bermotor


Objek Pajak kendaraan bermotor (PKB) adalah kepemilikan atau penguasaan
kendaraan bermotor yang digunakan di semua jenis jalan darat seperti kawasan:

1. Bandara
2. Pelabuhan laut
3. Perkebunan
4. Kehutanan
5. Pertanian
6. Pertambangan
7. Industri Perdagangan
8. Sarana olah raga dan rekreasi

Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan yang memiliki kendaraan bermotor, jika
wajib pajak merupakan badan maka kewajiban perpajakannya diwakili oleh pengurus atau
kuasa hukum badan tersebut. Dengan demikian, pada PKB subjek pajak sama dengan wajib
pajak, yaitu orang pribadi atau badan yang memiliki atau menguasai kendaraan bermotor.

1.4.4 Dasar pengenaan Pajak


Dasar pengenaan pajak (DPP) yang digunakan dalam menghitung pajak kendaraan
bermotor dihitung dari perkalian dua unsur pokok:

1. Nilai jual kendaraan bermotor Unsur nilai jual diperoleh berdasarkan harga pasaran
umum (harga rata-rata yang diperoleh dari berbagai sumber data) seperti agen
tunggal, asosiasi penjual kendaraan bermotor atas suatu kendaraan bermotor, harga
pasaran umum minggu pertama bulan desember tahun pajak sebelumnya. Jika tidak
diketahui nilai jualnya maka, ditentukan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

14
a. Isi silinder dan atau satuan daya
b. Penggunaan
c. Jenis
d. Merek, tahun pembuatan, berat total dan banyaknya penumpang yang
diizinkan
e. Dokumen impor untuk jenis kendaraan bermotor tertentu.
2. Bobot
Unsur bobot dihitung berdasarkan hal-hal sebagai berikut:
a. Tekanan ganda yang dibedakan atas jumlah sumbu/as, roda, dan berat
kendaraan bermotor.
b. Jenis bahan bakar yang dibedakan antara lain: solar,bensin, gas, listrik, atau
tenaga surya.
c. Jenis penggunan, tahun pembuatan, dan ciri-ciri mesin yang dibedakan antar
lain jenis 2 tak, 4 tak. Dan mesin 1000 cc atau 2000 cc.

1.4.5 Tarif Pajak


Tarif untuk semua jenis pajak sebagai dasar hukum pemungutan pajak daerah yang
telah diataur dalam Undang-Undang No. 28 Tahun 2009 adalah sebagai berikut:

1. Tarif pajak kendaraan bermotor pribadi ditetapkan sebagai berikut:


a. Untuk kepemilikan kendaraan bermotor pertama sebesar 1,5%
b. Untuk kepemilikan kendaraan bermotor angkutan umum sebesar 1%
c. 0,5% untuk kendaraan ambulance, pemadam kebakaran, sosial keagamaan,
lembaga sosial dan keagamaan, pemerintah dan pemerintah daerah,
TNI/POLRI, dll
d. Untuk kendaraan bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar sebesar 0,2%.
2. Kepemilikan kendaraan bermotor didasarkan atas nama dan/atau alamat yang
sama. Pajak progresif untuk kepemilikan kedua dan seterusnya dibedakan

15
menjadi kendaraan roda kurang dari empat dan kendaraan roda empat atau lebih
ditetapkan sebagai berikut:
a. Kepemilikan kedua sebesar 2% (dua persen)
b. Kepemilikan ketiga sebesar 2,5% (dua koma lima persen)
c. Kepemilikan keempat dan seterusnya sebesar 3% (tiga persen)

1.4.6 Perhitungan pajak Kendaraan Bermotor


Besaran pokok kendaraan bermotor yang terutang dihitung dengan cara mengalihkan
tarif pajak dengan dasar pengenaan pajak sebagaimana berikut:

TarifPajak × DasarPengenaanPajak
pajakTerutang=
TarifPajak ×(NJKB × Bobot )

2.5 Efektivitas

Menurut Ravianto dalam Masruri (2014:11), efektivitas adalah seberapa baik


pekerjaan yang dilakukan, sejauh mana orang menghasilkan pengeluaran sesuai dengan
yang diharapkan. Artinya apabila suatu pekerjaan dapat diselesaikan dengan sebuah
perencanaan, baik dalam waktu, biaya, maupun mutunya maka dapat dikatakan efektif.
Mengukur efektivitas yang dilakukan pada sebuah organisasi bukan merupakan suatu
hal yang sederhana, karena suau efektivitas dapat dikaji dari berbagai sudut pandang dan
sesuai dengan masing masing peneliti. Tingkat keefektivitas juga dapat dilihat dengan
membandingkan antara apa yang direncanakan dengan hasil yang telah dicapai. Maka
demikian, apabila sesuatu yang direncanakan tidak sesuai dengan hasil yang dicapai maka
dapat dikatakan tidak efektif.

2.5.1 Efektivitas Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor


Efektivitas penerimaan pajak kendaraan bermotor diukur dengan cara
membandingkan realisasi penerimaan dengan target penerimaan Mahmudi (2010:143).

16
Rumus yang digunakan untuk mengukur efektivitas penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor
adalah sebagai berikut:

Realisasi Penerimaan PKB


Efektivitas= x 100 %
Target Penerimaan PKB
Tabel 2.1 Kriteria Efektivitas
Persentase Efektivitas Kriteria
>100% Sangat Efektif
90%-100% Efektif
80%-90% Cukup Efektif
60%-80% Kurang Efektif
<60% Tidak Efektif
Sumber: Mahmudi (2010)
2.5.2 Efektivitas Pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor
Efektivitas pemungutan pajak kendaraan bermotor ditentukan dengan mewawancarai
beberapa informan yang dianggap berkompeten dengan menggunakan beberapa indikator
yaitu Responsivitas, Responsibilitas, Transparansi, Akuntabilitas dan Produktivitas. Berikut
merupakan tabel indikator yang digunakan:

Tabel 2.2 Indikator Efektivitas


No. Kriteria Penjelasan
1. Responsivitas Indikator responsivitas digunakan untuk mengetahui
kemampuan dan respon pihak Pengelola dalam melaksanakan
penerimaan atau pemungutan pajak kendaraan bermotor,
bagaimana kinerjan dalam mengenali, merespon dan
memenuhi tuntutan wajib pajak yaitu pemilik kendaraan
bermotor di Kota Kupang.
2. Responsibilitas Responsibilitas adalah kemampuan yang menunjukkan tingkat
kesesuaian antara penyelenggara pemerintah dengan hukum,
peraturan dan prosedur, yang telah ditetapkan. Indikator ini
digunakan untuk mengetahui pelaksanaan pemungutan pajak

17
kendaraan bermotor apakah sudah sesuai dengan peraturan dan
sistem yang telah ditetapkan atau tidak.
3. Transparansi Transparansi dalam pengelolaan pajak kendaraan bermotor
ditandai dengan terselenggaranya koordinasi yang cukup baik
antara pihak-pihak yang terkait yaitu antara wajib pajak dengan
pihak pengelolaan pajak kendaraan bermotor.
4. Akuntabilitas Akuntabilitas didefinisikan sebagai bentuk
pertanggungjawaban atas penyelenggaraan pelayanan terhadap
wajib pajak kepada atasan dalam pengelolaan pajak kendaraan
bermotor.
5. Produktivitas Produktivitas adalah kemampuan yang dimiliki UPTD.
Pendapatan daerah wilayah kota kupang dalam menghasilkan
sesuatu yang diinginkan dengan cara memanfaatkan sumber
daya secara efektiv dan efisien.
Sumber: Masruri (2014:11)

2.6 Penelitian Terdahulu

Tabel 2.3 Penelitian Terdahulu


Nama Peneliti, Jenis Perbedaan
No. Tahun, Judul pendekatan Hasil Penelitian Penelitian
Penelitian penelitian
1 Desak widhiatuti Hasil penelitian yang Penelitian terdahulu
dilakukan menunjukkan meneliti efektivitas
(2016), Kualitatif efektivitas penagihan pajak penegihan pajak di
Efektivitas kendaraan bermotor di kantor bersama samsat
Penagihan Pajak Kantor Bersama Samsat polewali Mandar
Kendaraan Polewali Mandar Provinsi Provinsi Sulawesi
Bermotor Di Sulawesi Barat sudah efektif Barat sudah efektif
Kantor Bersama dalam penagihan pajak dalam penagihan pajak
Samsat Polewali kendaraan bermotor. kendaraan bermotor.
Mandar Walaupun, masih banyak Walaupun, masih
kendala yang dihadapi yaitu banyak kendala yang
masih kurangnya kesadaran dihadapi yaitu masih
masyarakat untuk kurangnya kesadaran
membayar pajak tepat waktu masyarakat untuk
yang mengakibatkan membayar pajak tepat
banyaknya wajib pajak yang waktu

18
menunggak. Namun, dalam yang
proses prosedur pembayaran
pajak sudah bagus karena
tidak membutuhkan waktu
yang lama dalam
pengurusan pembayaran
pajak kendaraan Bermotor
2 Leli Ardiani Pelayanan pembayaran Penelitian terdahulu
(2016) Pajak Kendaraan Bermotor meneliti
Implementasi Kualitatif melalui layanan inovasi implementasi
Layanan SAMSAT Keliling layanan inovasi
Inovasi Samsat merupakan peningkatan keliling dalam upaya
Keliling Dalam pelayanan dalam upaya
Upaya
meningkatkan
pemberian kemudahan
Meningkatkan pelayaanan
kepada Wajib Pajak.
Pelayanan Terdapat beberapa
pembayayaran pajak
Pembayaran kemudahan dalam layanan kendaraan bermotor
Pajak inovasi SAMSAT Keliling. di samsat kabupaten
Kendaraan Kemudahan tersebut yakni, tulungagung
Bermotor (Studi penyederhanaan persyaratan sedangkan penelitian
Pada Kantor pelayanan, penyederhanaan ini meneliti
Bersama prosedur pelayanan serta mengenai efektivitas
Samsat Kabupaten peningkatan waktu penerimaan PKB.
Tulungagung) pelayanan. Mayoritas Wajib Waktu penelitian
Pajak merasa puas akan berbeda.
adanya layanan inovasi
SAMSAT Keliling, karena
layanan inovasi SAMSAT
Keliling dianggap sangat
membantu dan
memudahkan Wajib Pajak.

3 Kualitatif Pelaksanaan program Penelitian terdahulu


Prayoga Bestari layanan
meneliti mengenai
mobil pajak keliling harus
(2016)
memberikan terobosan Mobil Pajak
Mobil Pajak baru Keliling Sebagai
agar program pelayanan
Keliling Sebagai Solusi
mobil pajak keliling dapat
Solusi berjalan efektif dan efisien, Sosialisasi Dan
artinya biaya penagihan
Sosialisasi Dan Upaya
pajak harus dapat ditekan
Upaya sehingga lebih rendah dari Peningkatan
hasil penagihannya. Selain
Peningkatan Efektivitas
itu sistem penagihan pajak
Efektivitas harus sederhana, artinya Penagihan
sistem penagihan pajak
Penagihan Pajak (Aplikasi
yang sederhana akan
Pajak (Aplikasi memudahkan dan Konsep Good
mendorong

19
masyarakat dalam Governance Dalam
Konsep Good memenuhi
Sistem Pemerintahan
kewajiban perpajakannya.
Governance Dalam
Sosialiasi pelayanan mobil sedangkan penelitian
Sistem pajak keliling harus ini mengenai
mampu
Pemerintahan efektivitas penerimaan
memberikan sasaran
Daerah) tentang dan pemungutan pajak
layanan informasi dan
komunikasi, tentang kendaraan bermotor
perpajakan kepada Waktu dan tempat
masyarakat sehingga
efektifitas penagihan pajak penelitian berbeda.
dapat meningkat. Ukuran
keberhasilan pencapaian
tujuan program layanan
mobil
pajak keliling tersebut
yang
terletak kepada seberapa
jauh
pencapaian tujuan-tujuan
organisasi yang bersifat
operasional, aktual,
realistis
dan layak dicapai
khususunya
Dinas Pendapatan Daerah
Provinsi Jawa Barat.
Solusi
untuk meningkatkan
pelayanan dan sosialisasi
dengan menggunakan
layanan
mobil pajak keliling adalah
adanaya layanan mobil
pajak
keliling yang terpadu atau
satu pintu yang dapat
memberikan jenis
pelayanan seperti Pajak
Kendaraan
Bermotor (PKB), Pajak
Bumi
dan Bangunan (PBB),
konsultasi pajak,
Infromasi-
informasi baru tentang
peraturan dan program-
program yang akan
dilaksanakan. Adanya

20
layanan
pajak terpadu tersebut
diharapkan dapat
meningkatkan efektifitas
penagihan pajak sehingga
dapat meningkatkan
jumlah
Pendapatan Asli Daerah
(PAD) Provinsi Jawa
Barat,
sehingga Jawa Barat dapat
dijadikan sebagai Provinsi
pilot project untuk
pengembangan program-
program komunikasi,
informasi, media massa
dan
pemanfaatan teknologi
informasi yang modern.

Sumber: Data Diolah Peniliti 2024.

2.7 Kerangka Berpikir

Salah satu sumber pendapatan asli yang cukup besar kontribusinya berasal dari pajak
kendaraan bermotor dimana pajak kendaraan bermotor adalah salah satu pajak daerah yang
dilaksanakan oleh kabupaten. Wajib pajak dapat membayar pajak kendaraan bermotor di
[Link] tempat pembayaran yang sudah di tetapkan oleh pemerintah daerah.
Pelayanan ini dimaksudkan untuk melihat sejauh mana efektivitas pelaksanaan dalam hal
ini penagihan dan pemungutan PKB di Kota Kupang. Maka dari itu kerangka berpikir
secara sederhana di gambarkan sebagai berikut:

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir

[Link]
Daerah Wilayah

Efektivitas Efektivitas
Penerimaan Pemungutan

21
PKB

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan adalah metode pendekatan kualitatif dengan jenis


pendekatan deskriptif dalam penelitian ini. Pendekatan kualtatif menurut Denzin dan
Lincoln dalam Lutfi (2018) adalah penelitian yang dimaksud untuk memahami fenomena
tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi,
tindakan, dan lain-lain secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata
dan bahasa pada suatu kontens khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai
metode yang alamiah. Penelitian ini kemudian akan menghasilkan penelitian deskriptif
karena menyelidiki keadaan lapangan secara langsung. Untuk memperoleh data yang
digunakan dalam penelitian ini, maka peneliti secara secara langsung mengambil data di
lapangan, di kantor UPTD. Pendapatan Daerah Wilayah Kota Kupang.

22
Data yang digunakan yaitu data target dan realisasi PKB di UPTD. Pendapatasn
Daerah Wilayah Kota Kupang. Jenis penelitian ini jika ditinjau dari tujuan dan sifatnya
adalah studi deskriptif. Studi deskriptif merupakan studi yang bertujuan untuk memberikan
kepada peneliti sebuah riwayat atau untuk menggambarkan aspek-aspek yang relevan
dengan fenomena perhatian dari persfektif seseorang, organisasi atau lainnya (Sekaran,
2010:159).

3.2 Tempat dan Waktu

Penelitian ini akan dilaksanakan di Kantor UPTD. Pendapatan Daerah Wilayah Kota
Kupang yang berlokasi di Jln. Polisi Militer No.07, Oebobo. Adapun waktu pra penelitian
kurang lebih 1 (satu) bulan yaitu dari tanggal 22 Mei –21 juni 2024.

3.3 Populasi dan Sampel

Populasi penelitian adalah keseluruhan dari objek penelitian yang akan diteliti.
Populasi sebagai kumpulan atau agregasi dari seluruh elemen-elemen atau individu yang
merupakan sumber informasi dalam suatu penelitian. Adapun populasi penelitian dalam
penelitian ini adalah Kantor UPTD. Pendapatan Daerah Wilayah Kota Kupang dengan
jumlah pegawai sebanyak 44 orang.
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi
tersebut”. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan
menggunakan metode Purposive sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan
menggunakan kriteria tertentu, yaitu para pihak atau staf yang dianggap berkompeten
berdasarkan struktur tugas dan fungsi pada UPTD. Pendapatan daerah Wilayah Kota
Kupang dengan jumlah sampel 4 orang dan juga wajib pajak yang membayar pajak di
kantor samsat yaitu 6 Orang.

23
3.4 Jenis dan Sumber Data

jenis data yang peneliti gunakan adalah sebagai berikut:


1. Data Kuantitatif, yaitu data yang merupakan angka atau besaran tertentu yang
sifatnya pasti. Data kuantitatif dalam penelitian ini yaitu jumlah penerimaan
pajak kendaraan bermotor pada UPTD. Pendapatan Daerah Wilayah Kota
Kupang.
2. Data Kualitatif, yaitu data yang berbentuk penjelasan dan uraian yang diperoleh
sehingga nantinya masih memerlukan pengolahan lebih lanjut. Data kualitatif
yang digunakan dalam penelitian ini adalah gambaran umum perusahaan, berupa
sejarah, dasar hukum, visi misi, struktur organisasi dan uraian tugas jabatan
struktur pada UPTD. Pendapatan Daerah Wilayah Kota Kupang.
sumber data yang peneliti gunakan adalah sebagai berikut:
1. Data Primer didapatkan peneliti secara langsung dari obyek penelitian tanpa
melewati orang lain atau Lembaga lain. Data primer diperoleh secara langsung
melalui pengumpulan dokumen serta melalui wawancara dengan pihak dari
UPTD. Pendapatan Daerah Wilayah Kota Kupang.
2. Data Sekunder didapatkan peneliti secara tidak langsung dari obyek penelitian.
Data sekunder yang digunakan yaitu data penerimaan target dan realisasi Pajak
Kendaraan Bermotor di Kota Kupang tahun 2020-2023 yang diperoleh dari
UPTD. Pendapatan Daerah Wilayah Kota Kupang.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data pada dasarnya merupakan serangkaian proses yang dilakukan sesuai
dengan metode penelitian yang dipergunakan. Pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian ini antara lain:
1. Obsevasi

24
Menurut Subana, Sudjharat (2005:143), Observasi adalah pengumpulan data
berdasarkan pengamatan yang menggunakan mata atau telinga secara langsung
tanpa melalui alat bantu yang terstandar. Peneliti melakukan penelitian secara
langsung pada titik UPTD. Pendapatan Daerah Wilayah Kota Kupang.
2. Wawancara
Wawancara adalah percakapan antara dua orang atau lebih dan berlangsung
dan antara yang diwawancara/narasumber dan pewawancara atau peneliti untuk
mendapat pemahaman akan pandangan seseorang (makna subjektif) terkait
dengan hal atau kegiatan tertentu, Suharsaputra, Uhar (2012:269). Wawancara
yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu pada pegawai atau staf yang dianggap
berkompeten dalam hal ini pada UPTD. Pendapatan Daerah Wilayah Kota
Kupang.
3. Dokumen
Dokumen merupakan rekaman kejadian masa lalu yang ditulis atau dicetak
mereka dapat berupa catatan anekdot, surat, buku harian, dan dokumen-
dokumen. Dokumen yang dimaksud dalam penelitian ini adalah laporan realisasi
pendapatan PKB di UPTD. Pendapatan Daerah Wilayah Kota Kupang.

3.6 Analisi Data

Analisis data merupakan salah satu kegiatan penelitian berupa proses penyusunan dan
pengolahan data guna menafsirkan data yang telah diperoleh. Menurut Sugiyono
(2015:206) yang dimaksud dengan analisis data adalah kegiatan setelah data dari seluruh
responden atau sumber data lain terkumpul. Analisis data kualitatif dilakukan secara
interaktif dan berlangsung terus menerus sampai tuntas. Tahapan dalam teknik analisis data
adalah data reduction, data display, dan conclusing drawing/verification. Berikut
merupakan langkah-langkah analisis data model interaktif menurut Sugiyono (2015) yaitu:
1. Data collection (Pengumpulan data)

25
Pada tahap ini, peneliti mengadakan pengumpulan data penelitian langsung ke
lingkungan penelitian dengan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi.
Hasil pengumpulan data berupa catatan atau hasil observasi, transkip wawancara
dan dokumen-dokumen dikumpulkan serta diberikan nomor halaman
berdasarkan kronologis waktu pengumpulan.
2. Data Reduction (Reduksi data)
Pada tahap ini, data yang diperoleh selama melakukan penelitian dikelompokan
berdasarkan sumber data. Peneliti mengadakan kegiatan pemusatan perhatian
pada penyederhanaan, pemilihan, dan transformasi data mentah yang muncul dari
berbagai catatan lapangan atau observasi, transkip wawancara, dan pencermatan
dokumen dirangkum serta dipilih hal-hal yang pokok untuk difokuskan pada
kesesuaian tujuan penelitian.
3. Data Display (Penyajian data)
Dalam hal ini berisi sekumpulan pokok informasi yang memungkinkan untuk
menarik kesimpulan dari data yang diperoleh peyajian data disampaikan secara
naratif. Setelah peneliti menemukan hubungan persamaan, dan hal-hal yang
sering muncul.
4. Conclution Drawing/verification (Penarikan kesimpulan)
Tahap ini merupakan proses pemaknaan terhadap temuan penelitian dan peneliti
selalu mengadakan verifikasi secara lebih mendalam.

Verifikasi data membutuhkan kepastian dari Instrumen yang digunakan untuk


menganalisi efektivitas terhadap penerimaan dan pemungutan pajak kendaraan bermotor
pada UPTD. Pendapatan Daerah Wilayah Kota Kupang adalah dengan mengukur:
1. Analisis Efektivitas penerimaan PKB
Efektivitas penerimaan pajak kendaraan bermotor diukur dengan cara
membandingkan realisasi penerimaan dengan target penerimaan Mahmudi
(2010:143). Rumus yang digunakan untuk mengukur efektivitas penerimaan Pajak
Kendaraan Bermotor adalah sebagai berikut:

26
Realisasi Penerimaan PKB
Efektivitas= x 100 %
Target Penerimaan PKB

Tabel 3.1 Kriteria Efektivitas


Persentase Efektivitas Kriteria
>100% Sangat Efektif
90%-100% Efektif
80%-90% Cukup Efektif
60%-80% Kurang Efektif
<60% Tidak Efektif
Sumber: Mahmudi (2010)

2. Analisis Efektivitas pemungutan PKB


Efektivitas pemungutan pajak kendaraan bermotor ditentukan dengan
mewawancarai beberapa informan yang dianggap berkompeten dengan
menggunakan beberapa indikator yaitu Responsivitas, Responsibilitas,
Transparansi, Akuntabilitas dan Produktivitas. Berikut merupakan tabel indikator
yang digunakan:

Tabel 3.2 Indikator Efektivitas


No. Kriteria Penjelasan
1. Responsivitas Indikator responsivitas digunakan untuk mengetahui
kemampuan dan respon pihak Pengelola dalam melaksanakan
penerimaan atau pemungutan pajak kendaraan bermotor,
bagaimana kinerjan dalam mengenali, merespon dan
memenuhi tuntutan wajib pajak yaitu pemilik kendaraan
bermotor di Kota Kupang.
2. Responsibilitas Responsibilitas adalah kemampuan yang menunjukkan tingkat
kesesuaian antara penyelenggara pemerintah dengan hukum,
peraturan dan prosedur, yang telah ditetapkan. Indikator ini
digunakan untuk mengetahui pelaksanaan pemungutan pajak
kendaraan bermotor apakah sudah sesuai dengan peraturan dan

27
sistem yang telah ditetapkan atau tidak.
3. Transparansi Transparansi dalam pengelolaan pajak kendaraan bermotor
ditandai dengan terselenggaranya koordinasi yang cukup baik
antara pihak-pihak yang terkait yaitu antara wajib pajak dengan
pihak pengelolaan pajak kendaraan bermotor.
4. Akuntabilitas Akuntabilitas didefinisikan sebagai bentuk
pertanggungjawaban atas penyelenggaraan pelayanan terhadap
wajib pajak kepada atasan dalam pengelolaan pajak kendaraan
bermotor.
5. Produktivitas Produktivitas adalah kemampuan yang dimiliki UPTD.
Pendapatan daerah wilayah kota kupang dalam menghasilkan
sesuatu yang diinginkan dengan cara memanfaatkan sumber
daya secara efektiv dan efisien.
Sumber: Masruri (2014:11)

DAFTAR PUSTAKA

Djajadiningrat. (2014). Perpajakan Indonesia. Jakarta: Salemba Empat. Halim Abdul


2012.

Desak Widhiatuti (2016). Efektivitas Penangihan Pajak Kendaraan Bermotor Di Kantor


Bersama Samsat Polewali Mandar.

Leli Ardiani (2016). Implemantasi Layanan Inovasi Samamsat Keliling Dalam Upaya
Meningkatkan Pelayanan Pembayaran Pajak Kendraan Bermotor(Studi Pada Kantor
Bersama Samsat Kabupaten Tulungagung).

28
Mardiasmono. (2013). Perpajakan Edisi Revisi 2011. Andi, Yokyakarta.

Mardiasmono. (2016). Perpajakan Edisi Revisi 2013. Andi, Yokyakarta.

Mardiasmono. (2018). Otonomi & Manajmen Keuagan Daerah. Andi, Yokyakarta.

Masruri. (2014). Analisis Efektivitas Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat


Mandiri Perkotaan. Padang: Akademia Permata.

Mahmudi. (2010). Manajemen Keuagan Daerah. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Prayoga Bestari (2016). Mobila Pajak Keliling Sebagai Solusi Sosialisasi Dan Upaya
Peningkatan Efektivitas Penagihan Pajak (Aplikasi KOnsep Good Governance
Dalam Sistem Pemerintahan Daerah). Skripsi

Peraturan Pemerintah No.65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah peraturan Daerah Provinsi
yang mengatur tentang Pkb.
Peraturan Mentri Dalam Negeri No. 2 Tahun 2006 tentang Perhitugan Dasar Pegenaan
Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor.

Peraturan Daerah Provinsi NTT Nomor 10 tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Dinas Daerah Provinsi NTT.

Resmini, Siti. (2015). Perpajaakn: Teori dan Kasus. Salemba Empat, Jakarta.

Sekaran, Uma. (2010). Metedologi Penelitian Bisnis. Jakarta: Salembang Empat.

Subana, Sudrajat. (2005). Dasar-Dasar Penelitian Ilmiah. Pustaka Setia, Bandung.

29
Sugiyono. (2015). Metode Penelitian Pendidikan (pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,
dan R&D). Alfabeta., Bandung.

Suharasaputra, Uhar. (2012). Metode Penelitian (Kuantitatif, Kualitatif, dan Tindakan).


Aditama., Bandung.

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004tentang Pemerintah Daerah.

Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004tentang Keuagan antara Pusat dan Daerah.

Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009tentang Pajak Daerah Provinsi maupun


Kabupaten/Kota.

Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2002tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

LAMPIRAN

30
31

Anda mungkin juga menyukai