0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan17 halaman

Adab Berdo'a dalam Islam yang Benar

ceramah agama

Diunggah oleh

ReRanker Amoeba
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan17 halaman

Adab Berdo'a dalam Islam yang Benar

ceramah agama

Diunggah oleh

ReRanker Amoeba
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ADAB-ADAB DALAM BERDO’A

Oleh Syaikh ‘Abdul Hamid bin ‘Abdirrahman as-Suhaibani


1. Mengucapkan pujian kepada Allah terlebih dahulu sebelum berdo’a dan diakhiri dengan
mengucapkan shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Hal itu karena engkau memohon kepada Allah suatu pemberian rahmat dan ampunan, maka pertama
kali yang harus dilakukan olehmu adalah memberikan sanjungan dan pengagungan sesuai dengan
kedudukan Allah Yang Mahasuci.
‫ َبْيَنا َر ُسْو ُل ِهللا َص َّلى ُهللا َع َلْيِه َو َس َّلَم َقاِع ًدا ِإْذ َد َخ َل َر ُجٌل َفَص َّلى‬: ‫َع ْن َفَض اَلَة ْبِن ُع َبْيٍد َقاَل‬
‫ َفَقاَل َر ُسْو َُل ِهللا َص َّلى ُهللا َع َلْيِه َو َس َّلَم َع ِج ْلَت َأُّيَها اْلُمَص ِّلْي ِإَذ ا‬، ‫ َالّلُهَّم اْغ ِفْر ِلْي َو اْر َح ْمِنْي‬: ‫َفَقاَل‬
‫َص َّلْيَت َفَقَع ْدَت َفاْح َم ِد َهللا ِبَم ا ُهَو َأْهُلُه َو َص ِّل َع َلَّي ُثَّم اْدُع ُه َقاَل ُثَّم َص َّلى َر ُجٌل آَخ ُر َبْع َد َذ ِلَك‬
‫ َفَقاَل الَّنِبُّي َص َّلى ُهللا َع َلْيِه َو َس َّلَم َأُّيَها‬، ‫َفَح ِم َد َهللا َو َص َّلى َع َلى الَّنِبِّي َص َّلى ُهللا َع َلْيِه َو َس َّلَم‬
‫اْلُمَص ِّلي اْدُع ُتَج ْب‬.
Dari Fadhalah bin ‘Ubad Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam dalam keadaan duduk-duduk, masuklah seorang laki-laki. Orang itu kemudian melaksanakan
shalat dan berdo’a: ‘Ya Allah, ampunilah (dosaku) dan berikanlah rahmat-Mu kepadaku.’ Maka,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Engkau telah tergesa-gesa, wahai orang yang
tengah berdo’a. Apabila engkau telah selesai melaksanakan shalat lalu engkau duduk berdo’a, maka
(terlebih dahulu) pujilah Allah dengan puji-pujian yang layak bagi-Nya dan bershalawatlah kepadaku,
kemudian berdo’alah.’ Kemudian datang orang lain, setelah melakukan shalat dia berdo’a dengan
terlebih dahulu mengucapkan puji-pujian dan bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, ‘Wahai orang yang tengah
berdo’a, berdo’alah kepada Allah niscaya Allah akan mengabulkan do’amu.’”[1]
2. Husnuzhzhan (berbaik sangka) kepada Allah
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

‫َو ِإَذ ا َس َأَلَك ِع َباِد ي َع ِّني َفِإِّني َقِريٌب ۖ ُأِج يُب َد ْع َو َة الَّد اِع ِإَذ ا َدَع اِن‬
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada-mu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku
adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a.” [Al-Baqarah/2: 186]
Allah dekat dengan kita dan Allah bersama kita dengan ilmu-Nya (pengetahuan-Nya), pengawasan-
Nya dan penjagaan-Nya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah meme-rintahkan kepada kita
untuk menyerahkan masalah pengabulan do’a hanya kepada Allah dan harus me-rasa yakin dengan
terkabulnya do’a.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫ُاْدُع وا َهللا َو َأْنُتْم ُم ْو ِقُنْو َن ِبْاِإل َج اَبِة‬.


“Berdo’alah kepada Allah dalam keadaan engkau merasa yakin akan dikabulkannya do’a.”[2]
Maksud hadits ini adalah kalian harus merasa yakin dan percaya bahwa Allah dengan kemurahan-Nya
dan karunia-Nya yang agung tidak akan mengecewakan seseorang yang berdo’a kepada-Nya, apabila
dipanjatkan dengan penuh pengharapan dan ikhlas yang sebenar-benarnya. Hal ini disebabkan apabila
seseorang yang berdo’a tidak percaya dan yakin akan terkabulnya do’a yang ia panjatkan, maka
tidaklah mungkin ia memanjatkan do’anya dengan bersungguh-sungguh.
3. Mengakui dosa-dosa yang diperbuat. Perbuatan tersebut mencerminkan sempurnanya
penghambaan terhadap Allah
Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Telah bersabda
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
‫ َال ِإلَه ِإَّال َأْنَت ِإِّنْي َقْد َظَلْم ُت َنْفِسْي َفاْغ ِفْر ِلْي ُذ ُنْو ِبْي ِإَّنُه َال‬: ‫ِإَّن َهللا َلَيْع َج ُب ِم َن اْلَع ْبِد ِإَذ ا َقاَل‬
‫ َع ْبِد ْي َع َر َف َأَّن َلُه َر بًّا َيْغ ِفُر َو ُيَع اِقُب‬: ‫ َقاَل‬، ‫َيْغ ِفُر الُّذ ُنْو َب ِإَّال َأْنَت‬.
“Sesungguhnya Allah kagum kepada hamba-Nya apabila ia berkata: ‘Tidak ada sesembahan yang hak
kecuali Engkau, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, maka ampunilah dosa-dosaku
karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa itu kecuali Engkau.’ Allah berfirman,
‘Hamba-Ku telah mengetahui bahwa baginya ada Rabb yang mengampuni dosa dan menghukum.’”[3]
4. Bersungguh-sungguh dalam berdo’a
Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, bahwasanya ia
berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
‫ِإَذ ا َدَع ا َأَح ُد ُك ْم َفْلَيْع ِزِم اْلَم ْس َأَلَة َو َالَيُقْو َلَّن الّلُهَّم ِإْن ِش ْئَت َفَأْع ِط ِنْي َفِإَّنُه َال ُم ْسَتْك ِرَه َلُه‬.
‘Apabila salah seorang di antara kalian berdo’a maka hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam
permohonannya kepada Allah dan janganlah ia berkata, ‘Ya Allah, apabila Engkau sudi, maka
kabulkanlah do’aku ini,’ karena sesungguhnya tidak ada yang memaksa Allah.”[4]
Maksud dari bersungguh-sungguh dalam berdo’a adalah terus-menerus dalam meminta dan memohon
kepada Allah dengan mendesak.
5. Mendesak terus-menerus dalam berdo’a
Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata,
‫ َال‬:‫ َفَج َع َلْت َتْدُع ْو َع َلى َم ْن َسَر َقَها َفَج َعَل الَّنِبُّي َص َّلى ُهللا َع َلْيِه َو َس َّلَم َيُقْو ُل‬،‫ُس ِرَقْت ِم ْلَح َفٌة َلَها‬
‫ُتَس ِّبِخ ْي َع ْنُه‬.
“Mantel kepunyaannya telah dicuri, kemudian ia mendo’akan kejelekan kepada orang yang
mencurinya, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ’Jangan engkau
meringankannya.’”[5]
Maksudnya janganlah engkau meringankan dosa perilaku mencurinya dengan do’amu untuk
kejelekannya.
6. Berdo’a dengan mengulanginya sebanyak tiga kali
Telah diriwayatkan dengan shahih dalam as-Sunnah, sebagaimana hadits riwayat Muslim yang panjang
dari Sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata,
‫َفَلَّم ا َقَض ى الَّنِبُّي َص َّلى ُهللا َع َلْيِه َو َس َّلَم َص َالَتُه َر َفَع َص ْو َتُه ُثَّم َدَع ا َع َلْيِهْم َو َك اَن ِإَذ ا َدَع ا َدَع ا‬
‫ الّلُهَّم َع َلْيَك‬،‫ الّلُهَّم َع َلْيَك ِبُقَر ْيٍش‬،‫ َالّلُهَّم َع َلْيَك ِبُقَر ْيٍش‬: ‫َثَالثًا َو ِإَذ ا َس َأَل َس َأَل َثَالثًا ُثَّم َقاَل‬
‫ِبُقَر ْيٍش‬.
‘Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai dari shalatnya, beliau mengeraskan suaranya,
kemudian mendo’akan kejelekan bagi mereka dan apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
berdo’a, beliau ulang sebanyak tiga kali dan apabila beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon,
diulanginya sebanyak tiga kali kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a: ‘Ya Allah, atas-
Mu kuserahkan kaum Quraisy, Ya Allah, atas-Mu kuserahkan kaum Quraisy, Ya Allah, atas-Mu
kuserahkan kaum Quraisy.’”[6]
7. Berdo’a dengan lafazh yang singkat dan padat namun maknanya luas
Yaitu dengan perkataan ringkas dan bermanfaat yang menunjukkan pada makna yang luas dengan
lafazh yang pendek dan sampai kepada maksud yang diminta dengan menggunakan susunan kata yang
paling sederhana (tidak bersajak-sajak) sebagaimana keterangan yang terdapat dalam Sunan Abi
Dawud dan Musnad Imam Ahmad dari ‘Aisyah bahwasanya ia berkata:
‫َك اَن َص َّلى ُهللا َع َلْيِه َو َس َّلَم َيْسَتِح ُّب اْلَج َو اِمَع ِم َن الُّد َع اِء َو َيَد ُع َم ا ِس َو ى َذ ِلَك‬.
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai berdo’a dengan do’a-do’a yang singkat dan
padat namun makna-nya luas dan tidak berdo’a dengan yang selain itu.”[7]
Salah satu contoh dari do’a ini adalah hadits yang diriwayatkan dari Farwah bin Naufal, ia berkata:
“Aku bertanya kepada ‘Aisyah tentang do’a yang senantiasa dipanjatkan oleh Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa mengucapkan do’a:
‫َالّلُهَّم ِإِّنْي َأُع ْو ُذ ِبَك ِم ْن َش ِّر َم ا َع ِم ْلُت َو َش ِّر َم ا َلْم َأْع َم ْل‬.
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang telah aku kerjakan dan
dari keburukan yang belum aku kerjakan.”[8]
Sedangkan contoh yang lain adalah hadits Abu Musa al-Asy’ari, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bahwasanya beliau senantiasa berdo’a dengan do’a berikut:

‫ اَلَّلُهَّم اْغ ِفْر ِلْي‬، ‫ َو َم ا َأْنَت َأْع َلُم ِبِه ِم ِّنْي‬، ‫َالّلُهَّم اْغ ِفْر ِلْي َخ ِط ْيَئِتي َو َج ْهِلْي َو ِإْس َر اِفْي ِفي َأْم ِرْي‬
‫ اَلّلُهَّم اْغ ِفْر ِلي َم ا َقَّد ْم ُت َو َم ا َأَّخ ْر ُت َو َم ا‬، ‫ِج ِّدْي َو َهْز ِلْي َو َخ َطِئْي َو َع ْمِد ْي َو ُك ُّل َذ ِلَك ِع ْنِد ْي‬
‫ َأْنَت اْلُم َقِّد ُم َو َأْنَت اْلُم َؤ ِّخ ُر َو َأْنَت َع َلى ُك ِّل َش ْي ٍء‬، ‫َأْس َر ْر ُت َو َم ا َأْع َلْنُت َو َم ا َأْنَت َأْع َلُم ِبِه ِم ِّنْي‬
‫َقِد ْيٌر‬.
“Ya Allah, berikanlah ampunan kepadaku atas kesalahan-kesalahanku, kebodohanku, serta sikap
berlebihanku dalam urusanku dan segala sesuatu yang Engkau lebih mengetahuinya daripada diriku.
Ya Allah, berikanlah ampunan kepadaku atas keseriusanku dan candaku, kekeliruanku dan
kesengajaanku, semua itu ada pada diriku. Ya Allah, berikanlah ampunan kepadaku atas apa-apa yang
telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan, apa-apa yang aku sembunyi-kan dan yang aku
tampakkan, serta apa-apa yang Engkau lebih mengetahui daripada aku, Engkaulah Yang
Mahamendahulukan (hamba kepada rahmat-Mu) dan Yang Mahamengakhirkan, Engkaulah Yang
Mahakuasa atas segala sesuatu.”[9]
8. Orang yang berdo’a hendaknya memulai dengan mendo’akan diri sendiri (jika hendak
mendo’akan orang lain)
Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

‫َر َّبَنا اْغ ِفْر َلَنا َو ِإِل ْخ َو اِنَنا اَّلِذ يَن َسَبُقوَنا ِباِإْل يَم اِن‬
“…Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari
kami...” [Al-Hasyr/59: 10]
Firman-Nya yang lain:
‫َقاَل َر ِّب اْغ ِفْر ِلي َو َأِلِخ ي َو َأْد ِخ ْلَنا ِفي َر ْح َم ِتَك‬
“Musa berdo’a: ‘Ya Rabbku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat
Engkau…’” [Al-A’raaf/7: 151]
Firman-Nya yang lain:
‫َر َّبَنا اْغ ِفْر ِلي َو ِلَو اِلَد َّي َو ِلْلُم ْؤ ِمِنيَن َيْو َم َيُقوُم اْلِح َس اُب‬
“Ya Rabb-ku, berikanlah ampun kepadaku dan kedua ayah ibuku dan sekalian orang-orang mukmin
pada hari terjadinya hisab (hari Kiamat).” [Ibrahim/14: 41]
Dari Ibnu ‘Abbas dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata,
‫َأَّن َر ُسْو َل ِهللا َص َّلى ُهللا َع َلْيِه َو َس َّلَم َك اَن ِإَذ ا َذ َك َر َأَح ًدا َفَدَع ا َلُه َبَد َأ ِبَنْفِس ِه‬.
“Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ingat kepada seseorang, maka beliau
mendo’akannya dan sebelumnya beliau mendahulukan berdo’a untuk dirinya sendiri.”[10]
Namun hal tersebut bukan merupakan kebiasaan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
terkadang memang benar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendo’akan orang lain tanpa
mendo’akan dirinya sendiri sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kisah
Hajar:
‫َيْر َح ُم ُهللا ُأَّم ِإْس َم اِع ْيَل َلْو َتَر َك ْتَها َلَك اَنْت َع ْينًا َم ِع ْينًا‬.
“Semoga Allah memberikan rahmat kepada Ibu Nabi Isma’il, seandainya beliau membiarkan air
Zamzam (mengalir bebas) niscaya ia menjadi mata air yang terus mengalir.”[11]
9. Memilih berdo’a di waktu yang mustajab (waktu yang pasti dikabulkan), di antaranya
adalah:
a. Pada waktu tengah malam.[12]
b. Di antara adzan dan iqamah.[13]
c. Di saat dalam sujud.[14]
d. Ketika adzan
e. Ketika sedang berkecamuk peperangan.[15]
f. Setelah waktu ‘Ashar pada hari Jum’at.[16]
g. Ketika hari ‘Arafah.[17]
h. Ketika turun hujan.[18]
i. Ketika 10 hari terakhir bulan Ramadhan (Lailatul Qadar). (Lihat ad-Du’a, karya ‘Abdullah
al-Khudhari).[19]
[Disalin dari kitab Aadaab Islaamiyyah, Penulis ‘Abdul Hamid bin ‘Abdirrahman as-Suhaibani, Judul
dalam Bahasa Indonesia Adab Harian Muslim Teladan, Penerjemah Zaki Rahmawan, Penerbit Pustaka
Ibnu Katsir Bogor, Cetakan Kedua Shafar 1427H – Maret 2006M]
_____________________
Footnote
[1] Shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 3476) dan Abu Dawud (no. 1481). Dishahihkan oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah dalam Shahiihul Jaami’ (no. 3988).
[2] Hasan: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam Sunannya (no. 3479). Dihasankan oleh Syaikh al-
Albani rahimahullah dalam Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 594).
[3] Shahih: Diriwayatkan oleh al-Hakim (II/98-99) dari Sahabat ‘Ali bin Rabi’ah. Lihat Silsilah al-
Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 1653), karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.
[4] Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 6338) dan Muslim (no. 2678). Lafazh hadits ini
berdasarkan riwayat al-Bukhari.
[5] Dha’if: Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya (no. 1497). Didha’ifkan oleh Syaikh al-
Albani t dalam Dha’iif Sunan Abi Dawud (no. 1050).
[6] Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 240) dan Muslim (no. 1794 (107)).
[7] Shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 1482), Ahmad (VI/148, 189) dan al-Hakim (I/539).
Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 4949).
[8] Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2716).
[9] Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 6399) dan Muslim (no. 2719 (70)).
[10] Shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 3385) dan Abu Dawud (no. 3984). Dishahihkan oleh
Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 4723).
[11] Shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (V/ 121, no. 21163). Dishahihkan oleh
Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 1669).
[12] Dalilnya firman Allah Ta’ala:
‫َو ِباَأْلْس َح اِر ُهْم َيْسَتْغ ِفُروَن‬
“Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” [Adz-Dzaaariyat/51: 18]
Hadits dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
‫ َم ْن‬:‫َيْنِزُل َر ُّبَنا َتَباَر َك َو َتَع اَلى ُك َّل َلْيَلٍة ِإَلى الَّس َم اِء الُّد ْنَيا ِح ْيَن َيْبَقى ُثُلُث الَّلْيِل ْاآلِخ ِر َيُقْو ُل‬
‫ َم ْن َيْسَتْغ ِفُر ِنْي َفَأْغ ِفَر َلُه‬،‫ َم ْن َيْس َأُلِنْي َفُأْع ِطَيُه‬،‫َيْدُع ْو ِنْي َفَأْسَتِج ْيَب َلُه‬.
“Rabb kita (Allah) ‫ َت َب اَر َك َو َت َع اَلى‬turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir seraya
berfirman; ‘Barangsiapa yang berdo’a kepada-Ku saat ini, niscaya Aku akan memperkenankannya,
barangsiapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku akan memberikannya, barangsiapa yang meminta
ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuninya.’” [HR. Al-Bukhari no. 1145, Muslim no. 758
dan at-Tirmidzi no. 3498]
[13] Dalilnya sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
‫َالُّد َع اُء َال ُيَر ُّد َبْيَن ْاَألَذ اِن َو ْاِإل َقاَم ِة َفاْدُع ْو ا‬.
“Do’a yang dipanjatkan antara adzan dan iqamah tidak akan ditolak, maka berdo’alah.” [HR. Abu
Dawud no. 521, at-Tirmidzi no. 212, Ahmad III/155 dan at-Tirmidzi berkata: “Hadits hasan shahih.”
Syaikh al-Albani menshahihkan dalam Shahiihul Jaami’ no. 3408).
[14] Dalilnya sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
‫ َفَأْك ِثُروا الُّد َع اَء‬، ‫ََأْقَر ُب َم ا َيُك ْو ُن اْلَع ْبُد ِم ْن َر ِّبِه َو ُهَو َس اِج ٌد‬.
“Saat yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika dia sedang sujud
(kepada Rabb-nya), maka perbanyaklah do’a (dalam sujud kalian).” [HR. Muslim no. 482, Abu Dawud
no. 875 dan an-Nasa-i II/226 no. 1137]
[15] Dalilnya sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
‫ِثْنَتاِن َال ُتَر َّد اِن َأْو َقَّلمَا ُتَر َّد اِن الُّد َع اُء ِع ْنَد الِّنَد اِء َو ِع ْنَد اْلَبْأِس ِح ْيَن ُيْلِح ُم َبْعُضُهْم َبْعضًا‬.
“Dua waktu yang tidak akan ditolak (permohonan yang dipanjatkan di dalamnya, atau sedikit
kemungkinan untuk ditolak, yaitu do’a setelah (dikumandangkan) adzan dan do’a ketika berkecamuk
peperangan, tatkala satu dan lainnya saling menyerang.” [HR. Abu Dawud no. 2540, ad-Darimi no.
1200, Syaikh al-Albani menshahihkan dalam Shahiihul Jami’ no. 3079].
[16] Setelah ‘Ashar pada hari Jum’at, dalilnya:
‫ِفيِه َس اَع ٌة َالُيَو اِفُقَها َع ْبٌد ُم ْس ِلٌم َو ُهَو َقاِئٌم ُيَص ِّلْي َيْس َأُل َهللا َتعَاَلى َشْيًئا ِإَّال َأْع َطاُه ِإَّياُه َو َأَش اَر‬
‫ِبَيِدِه ُيَقِّلُلَها‬.
“Pada hari itu (hari Jum’at) terdapat waktu-waktu tertentu, tidaklah seorang hamba berdiri
melaksanakan shalat dan berdo’a memohon sesuatu kepada Allah, melainkan Allah pasti akan
mengabulkannya. Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan isyarat dengan
tangannya (yang menggambaran) waktu itu pendek.” [HR. Al-Bukhari no. 935 dan Muslim no. 852
(13)]
Waktu itu adalah saat setelah shalat ‘Ashar sebagaimana yang dikuatkan oleh Ibnul Qayyim dalam
kitabnya Zaadul Ma’ad (I/390).
[17] Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
‫…َخ ْيُر الُّد َع اِء ُد َع اُء َيْو ِم َع َر َفَة‬
“Sebaik-baik do’a ialah do’a hari Arafah…” [HR. At-Tirmidzi no. 3585, Malik dalam al-Muwaththa’
no. 500, hadits ini dihasankan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani di dalam Shahiihul
Jami’ no. 3274 dan Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 1503]
[18] Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:

‫ِثْنَتاِن َم ا ُتَر َّد اِن الُّد َع اُء ِع ْنَد الِّنَد اِء َو َتْح َت اْلَم َطِر‬.
“Dua waktu yang padanya sebuah permohonan (do’a) tidak akan ditolak oleh Allah, do’a ketika setelah
dikumandangkan adzan dan do’a ketika turun hujan.” [HR. Al-Hakim II/114, Abu Dawud no. 3540.
Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani menghasankannya dalam Shahihul Jami’ no. 3078]
[19] 10 hari terakhir bulan Ramadhan (di dalamnya terdapat Lailatul Qadar). Dari ‘Aisyah
Radhiyallahu anhuma ia berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah yang sebaiknya aku baca
pada Lailatul Qadar?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Bacalah:
‫َالّلُهَّم ِإَّنَك َع ُفٌّو ُتِح ُّب الَع ْفَو َفاْعُف َع ِّنْي‬.
‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau Mahapemberi maaf dan mencintai pemberian maaf, maka
maafkanlah aku.’” [HR. At-Tirmidzi no. 3513 dan Ibnu Majah no. 3850. Dishahihkan oleh Syaikh al-
Albani dalam Shahiihul Jami’ no. 4423].
MERAIH DO’A MUSTAJAB
Doa, di dalam Islam memiliki kedudukan sangat agung. Doa merupakan ibadah yang sangat dicintai
oleh Allah. Doa merupakan bukti ketergantungan seorang hamba kepada Rabb Subhanahu wa Ta’ala
dalam meraih apa-apa yang bermanfaat dan menolak apa-apa yang membawa mudharat baginya. Doa
merupakan bukti keterkaitan seorang manusia kepada Rabb-nya, dan kecondongannya kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala, bahwasannya tiada daya dan upaya melainkan dengan bantuan Allah Subhanahu
wa Ta’ala .
Perbanyaklah Doa
Sebagian orang ada yang beranggapan, bahwa dirinya tidak selayaknya banyak meminta kepada Allah.
Dia menganggapnya sebagai suatu aib. Menilainya sebagai sikap kurang bersyukur kapada Allah atau
bertentangan dengan sifat qana’ah. Akhirnya ia menahan diri tidak meminta kepada Allah, kecuali
dalam perkara-perkara yang dia anggap penting dan mendesak. Sedang dalam masalah-masalah yang
dianggapnya ringan dan sepele, ia merasa enggan meminta kepada Allah.
Pemahaman seperti ini, jelas merupakan kekeliruan dan suatu kejahilan. Karena doa termasuk jenis
ibadah, dan Allah marah jika seorang hamba enggan meminta kepadaNya.
Dalan sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‫الُّد َع اُء ُهَو الِع َباَد ُة‬


Sesungguhnya doa adalah ibadah. [2]
Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat:
‫َو َقاَل َر ُّبُك ُم اْدُع ْو ِنْٓي َاْسَتِج ْب َلُك ْم ۗ ِاَّن اَّلِذ ْيَن َيْسَتْك ِبُرْو َن َع ْن ِعَباَد ِتْي َسَيْد ُخ ُلْو َن َج َهَّنَم َد اِخ ِرْيَن‬
Dan Rabb-mu berfirman: “Berdo’alah kepadaKu, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu.
Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk Neraka
Jahannam dalam keadaan hina dina”. [al Mu`min/40 : 60].
Doa ini -dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala – sangat bermanfaat, sebagaimana sabda Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
‫الُّد َع اُء َيْنَفُع ِمَّم ا َنَز َل َو ِمَّم ا َلْم َيْنِزْل َفَع َلْيُك ْم ِعَباَد ِهَّللا ِبالُّد َع اِء‬
Doa itu bermanfaat bagi apa-apa yang sudah terjadi ataupun yang belum terjadi. Hendaklah kalian
memperbanyak berdoa, wahai hamba-hamba Allah.[3]
Seorang muslim, selayaknya banyak berdoa setiap waktu. Karena doa merupakan ibadah yang
memiliki kedudukan sangat mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala , sebagaimana sabda Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Tidak ada yang paling mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala
daripada doa”.[4]

Doa Tidak Pernah Membawa Kerugian


Seseorang yang meninggalkan doa berarti ia merugi. Sebaliknya seseorang yang berdoa, ia tidak akan
pernah merugi atas doa yang dipenjatkannya, selama ia tidak berdoa untuk suatu dosa atau
memutuskan tali silaturrahmi. Karena doa yang dipanjatkannya, pasti disambut oleh Allah, baik
dengan mewujudkan apa yang dia minta di dunia, atau mencegah darinya keburukan yang setara
dengan yang ia minta, atau menyimpannya sebagai pahala yang lebih baik baginya di akhirat kelak.
Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
‫َم ا ِم ْن َأَح ٍد َيْدُع و ِبُد َع اٍء ِإاَّل آَتاُه ُهَّللا َم ا َس َأَل َأْو َكَّف َع ْنُه ِم َن الُّسوِء ِم ْثَلُه َم ا َلْم َيْدُع ِبِإْثٍم َأْو‬
‫َقِط يَعِة َرِح ٍم‬
Tidak ada seseorang yang berdoa dengan suatu doa, kecuali Allah akan mengabulkan yang ia minta,
atau Allah menahan keburukan dari dirinya yang semisal dengan yang ia minta, selama ia tidak berdoa
untuk suatu perbuatan dosa atau untuk memutuskan tali silaturrahim. [5]
Oleh karena itu, janganlah seorang hamba merasa keberatan meminta kepada Rabb-nya dalam urusan-
urusan dunianya, meskipun urusan tersebut dianggapnya sepele, terlebih lagi dalam urusan akhirat.
Karena permintaan itu merupakan bukti ketergantungan yang sangat kepada Allah, dan kebutuhannya
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam semua urusan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
mengatakan :
‫ِإَّنُه َم ْن َلْم َيْس َأْلُه َيْغ َض ْب َع َلْيِه‬
Sesungguhnya, barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Allah akan marah kepadanya. [6]
Adab-adab yang Harus Diperhatikan Dalam Berdoa
Dalam berdoa, ada beberapa perkara dan adab yang harus diperhatikan oleh seseorang, sehingga
doanya mustajab.
Pertama, memasang niat yang benar. Seseorang yang berdoa, hendaklah meniatkan dalam doanya
tersebut untuk menegakkan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menggantungkan
kebutuhannya kepadaNya. Karena siapa saja yang mengggantungkan hajatnya kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala , niscaya ia tidak akan rugi selama-lamanya.
Kedua, berdoa dalam keadaan bersuci. Cara seperti ini lebih afdhal. Hanya saja, jika seseorang berdoa
dalam kondisi tidak berwudhu’, maka hal itu tidak mengapa.
Ketiga, meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menengadahkan telapak tangan.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
‫ِإَذ ا َس َأْلُتُم َهَّللا َفاْس َأُلوُه ِبُبُطوِن َأُكِّفُك ْم َو اَل َتْس َأُلوُه ِبُظُهوِرَها‬
Jika engkau meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , maka mintalah dengan menengadahkan
telapak tangan, dan janganlah engkau memintanya dengan menengadahkan punggung telapak tangan.
[7]

Kaifiatnya adalah, dengan mengarahkan telapak tangan ke wajah sebagaimana dicontohkan oleh
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. [8] Atau dengan cara mengangkat tangan hingga nampak
putih ketiaknya (bagian dalam ketiaknya). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
‫َم ا ِم ْن َع ْبٍد َيْر َفُع َيَد ْيِه َح َّتى َيْبُد َو ِإِبُطُه َيْس َأُل َهَّللا َم ْس َأَلًة ِإاَّل آَتاَها ِإَّياُه‬
(Tidaklah seorang hamba mengangkat kedua tangannya hingga nampak ketiaknya dan memohon suatu
permohonan, kecuali Allah mengabulkan permohonannya itu).[9] Cara seperti menunjukkan
ketergantungan seorang hamba kepada Allah, kebutuhannya kepada Allah, dan permohonannya yang
sangat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala .
Keempat, memulai dengan mengucapkan hamdalah dan puji-pujian kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala . Cara seperti ini menjadi sebab lebih dekat kepada terkabulnya doa. Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam pernah mendengar seorang laki-laki berdoa dalam shalatnya dan dia tidak
mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala , tidak bershalawat atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang ini terburu-buru,” kemudian
Rasulullah memanggilnya dan bersabda :
‫ِإَذ ا َص َّلى َأَح ُد ُك ْم َفْلَيْبَد ْأ ِبَتْح ِم يِد ِهَّللا َو الَّثَناِء َع َلْيِه ُثَّم ْلُيَص ِّل َع َلى الَّنِبِّي َص َّلى الَّلهم َع َلْيِه َو َس َّلَم ُثَّم‬
‫ْلَيْدُع َبْعُد ِبَم ا َش اَء‬
Jika salah seorang dari kalian shalat, hendaklah ia memulainya dengan mengucapkan hamdalah serta
puja dan puji kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , kemudian bershalawat atas Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam , setelah itu ia berdoa dengan apa yang ia inginkan. [10]
Kelima, bershalawat atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Jika ia meninggalkan shalawat atas
Nabi, doanya bisa terhalang. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Semua doa terhalang,
sehingga diucapkan shalawat atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[11]
Keenam, memulai berdoa untuk diri sendiri terlebih dahulu. Demikian ini yang diisyaratkan dalam al
Qur`an, seperti ayat:
‫َر ِّب اْغ ِفْر ِلْي َو ِلَو اِلَد َّي‬
Ya Rabb-ku! Ampunilah aku, dan ibu bapakku …… [Nuh/71 : 28].
Ketujuh, bersungguh-sungguh dalam meminta. Janganlah seseorang ragu-ragu dalam doanya, atau ia
mengucapkan pengecualian dengan mengucapkan “jika Engkau berkehendak ya Allah, berikanlah
kepadaku ini dan ini”. Doa seperti itu dilarang, karena tidak ada sesuatupun yang dapat memaksa
kehendak Allah.
Kedelapan, menghadirkan hati dalam berdoa. Seorang hamba, hendaklah menghadirkan hati,
memusatkan pikiran, mentadaburi doa yang ia ucapkan, serta menampakkan kebutuhan dan
ketergantungannya kepada Allah. Janganlah ia berdoa dengan lisannya, namun hatinya entah kemana.
Karena doa tidak akan dikabulkan dengan cara seperti itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda :
‫اْدُع وا َهَّللا َو َأْنُتْم ُم وِقُنوَن ِباِإْل َج اَبِة َو اْع َلُم وا َأَّن َهَّللا اَل َيْسَتِج يُب ُد َع اًء ِم ْن َقْلٍب َغ اِفٍل اَل ٍه‬
Berdoalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , sementara kalian yakin doa kalian dikabulkan.
Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai dan lengah.[12]
Kesembilan, berdoa dengan kata-kata singkat dan padat, serta doa-doa yang ma’tsur. Tidak syak lagi,
kata-kata yang paling padat dan paling singkat dan paling agung berkahnya adalah, doa-doa yang
diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Doa-doa seperti itu banyak terdapat di dalam
buku-buku As Sunnah.
Kesepuluh, bertawasul dengan nama dan sifat-sifat Allah. Allah Ta’ala berfirman :

‫َو ِهّٰلِل اَاْلْس َم ۤا ُء اْلُحْس ٰن ى َفاْدُع ْو ُه ِبَهۖا‬


Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut asma-ul husna itu
… … [al A’raf/7 : 180].
Atau seseorang bertawasul dengan amal shalih yang telah dia lakukan, sebagaimana disebutkan dalam
hadits shahih yang mashur tentang tiga orang yang terperangkap di dalam goa. Atau bertawasul dengan
doa orang shalih yang mendoakan untuknya. Dalil-dalil yang menunjukkan hal ini banyak ditunjukkan
di dalam al Qur`an maupun Sunnah Nabi.
Kesebelas, memperbanyak ucapan “Yaa Dzal Jalaali wal Ikraam”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:

‫َأِلُّظوا ِبَيا َذ ا اْلَج اَل ِل َو اِإْل ْك َر اِم‬


Ulang-ulangilah ucapan Yaa Dzal Jalaali wal Ikraam. [13]
Yaitu selalu ucapkan dan perbanyaklah dalam doa-doa kalian. Karena hal itu merupakan kata-kata
pujian yang sangat tinggi kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling agung. Dengan
memperbanyak membacanya akan membantu terkabulnya doa dari Allah Subhanahu wa Ta’ala .
Keduabelas, mencari waktu-waktu yang mustajab dan tempat-tempat yang utama. Ada beberapa
waktu dan tempat-tempat yang utama, sebagaimana telah disebutkan di dalam nash-nash. Orang yang
berdoa, sebaiknya mencari waktu tersebut dan memperbanyak doa pada waktu-waktu tersebut. Di
antara waktu-waktu yang utama dan mustajab adalah, waktu antara adzan dan iqamah, di dalam shalat,
setelah selesai mengerjakan shalat-shalat fardhu, pada waktu sore hari, ketika berbuka puasa, di bagian
akhir malam, dan sesaat pada hari Jumat -yaitu saat-saat terakhir pada hari Jumat- dan hari-hari di
bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, pada hari ‘Arafah, pada waktu mengerjakan
haji, di sisi Ka’bah, serta waktu-waktu dan tempat-tempat lainnya yang disebutkan di dalam atsar.
Ketigabelas, memperbanyak doa pada saat-saat lapang. Upaya ini agar Allah Subhanahu wa Ta’ala
mengabulkan permintaannya pada saat-saat sempit. Karena termasuk hikmah Allah Subhanahu wa
Ta’ala tatkala mentakdirkan suatu bala (musibah), bahwasanya Allah menyukai mendengarkan rintihan
hambaNya kepadaNya. Allah senang melihat para hamba kembali kepadaNya pada saat-saat sempit
dan tercekam. Namun apabila seorang insan itu bertadharru’ pada saat-saat ia lapang, maka akan
segera dikabulkan baginya permintaan-permintaannya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
mengatakan :
‫َم ْن َس َّر ُه َأْن َيْسَتِج يَب ُهَّللا َلُه ِع ْنَد الَّش َد اِئِد َو اْلَك ْر ِب َفْلُيْك ِثِر الُّد َع اَء ِفي الَّرَخ اِء‬
Barangsiapa yang suka Allah mengabulkan doanya pada saat-saat sempit dan kesulitan, maka
hendaklah ia banyak-banyak berdoa pada saat-saat ia lapang.[14]
Perkara-perkara yang Harus Dihindari Bagi Orang yang Berdoa
Untuk mendukung agar doa seseorang dikabulkan, seseorang harus menghindari beberapa perkara
yang dapat menghalangi terkabulnya doa.
Pertama, mengkonsumsi makanan yang haram. Karena ini termasuk perkara yang menghalangi
terkabulnya doa, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
‫َذ َك َر الَّرُج َل ُيِط يُل الَّس َفَر َأْش َع َث َأْغ َبَر َيُم ُّد َيَد ْيِه ِإَلى الَّس َم اِء َيا َر ِّب َيا َر ِّب َو َم ْطَعُم ُه َح َر اٌم‬
‫َو َم ْش َر ُبُه َح َر اٌم َو َم ْلَبُسُه َح َر اٌم َو ُغ ِذَي ِباْلَح َر اِم َفَأَّنى ُيْسَتَج اُب ِلَذ ِلَك‬
Seorang laki-laki yang panjang perjalanannya, rambutnya acak-acakan dan berdebu, ia mengangkat
tangannya ke langit dan mengatakan : “Ya Rabbi, ya Rabbi,” sementara makanannya haram,
minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi makan dengan barang yang haram, bagaimana ia
akan diterima doanya? [15]
Kedua, terburu-buru dalam meminta dikabulkannya doa. Permintaan yang tergesa-gesa itu dilarang,
dan dapat menghalangi terkabulnya doa. Seseorang yang berdoa juga tidak boleh berputus asa dari
rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala . Sikap terburu-buru bisa dikategorikan sebagai bentuk pendustaan
terhadap janji Allah Subhanahu wa Ta’ala , padahal Allah telah berjanji mengabulkan doa. Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
‫ُيْسَتَج اُب َأِلَح ِد ُك ْم َم ا َلْم َيْع َج ْل َيُقوُل َدَعْو ُت َفَلْم ُيْسَتَج ْب ِلي‬
Akan dikabulkan doa salah seorang di antara kamu selama dia tidak terburu-buru; ia mengatakan “Aku
sudah berdoa, namun tidak dikabulkan bagiku”.[16]
Ketiga, berlebih-lebihan atau melampaui batas dalam berdoa. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak
menyukai orang-orang yang melampaui batas. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
‫ُاْدُع ْو ا َر َّبُك ْم َتَض ُّر ًعا َّو ُخ ْفَيًةۗ ِاَّنٗه اَل ُيِح ُّب اْلُم ْعَتِد ْيَۚن‬
Berdo’alah kepada Rabb-mu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS al A’raf/7 : 55).
Sa’ad Radhiyallahu anhu pernah melihat anak laki-lakinya berdoa, dan ia berkata dalam doanya : “Ya
Allah, aku memohon kepadaMu surga, kenikmatannya, kemegahannya, begini dan begini. Dan aku
berlindung kepadaMu dari api neraka, dari rantainya, belenggunya, begini dan begini”.
Mendengar doa anaknya tersebut, Sa’ad Radhiyallahu anhu berkata: Wahai anakku, sesunggunya aku
mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
‫َسَيُك وُن َقْو ٌم َيْعَتُد وَن ِفي الُّد َع اِء َفِإَّياَك َأْن َتُك وَن ِم ْنُهْم ِإَّنَك ِإْن ُأْع ِط يَت اْلَج َّنَة ُأْع ِط يَتَها َو َم ا ِفيَها‬
‫ِم َن اْلَخ ْيِر َو ِإْن ُأِع ْذ َت ِم َن الَّناِر ُأِع ْذ َت ِم ْنَها َو َم ا ِفيَها ِم َن الَّش ِّر‬
“Akan ada nanti kaum yang melampaui batas dalam berdoa. Jangan sampai engkau masuk ke dalam
golongan mereka. Jika engkau diberikan surga, niscaya engkau akan diberikan semua apa yang ada di
dalamnya. Jika engkau dihindarkan dari api neraka, niscaya engkau akan dihindarkan darinya dan
seluruh keburukannya”. [17]
Keempat, meminta perkara-perkara yang mustahil. Seperti seseorang yang berdoa agar dapat melihat
Nabi dalam keadaan terjaga, atau ia berdoa agar dijadikan sebagai malaikat, atau ia berdoa meminta
kekuatan, yang dengan kekuatan itu ia dapat mengangkat gunung, atau meminta kepada Allah berupa
an nubuwah (kenabian). Karena hal itu tidaklah mungkin. Bahkan kalau ia meyakini diturunkannya
nubuwah setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka ia bisa kafir karena hal itu. Dan permintaan
seperti itu juga termasuk bentuk berlebih-lebihan dalam berdoa. Allahu a’lam.
Demikian, mudah-mudahan Allah berkenan memberikan taufiq kepada kita untuk senantiasa berdoa
kepadaNya, dan menjadikan doa-doa kita sebagai doa yang mustajab. (Ummu Ihsan)
Billahit taufiq.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah
Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-
858197 Fax [Link] Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi
08122589079]
______
Footnote
[1] Diangkat dari kitab Muashu’ah Adab Islami.
[2] HR Ahmad, IV/267; Abu Dawud, 1479 dan at Tirmidzi, 2969 dan dishahihkan olehnya; Ibnu
Majah, 3828; al Hakim, I/491 dan dishahihkannya; dan disetujui oleh adz Dzahabi; Ibnu Hibban,
887h/II/124 dalam Kitab al Ihsan. Al Baihaqi dalam asy Syu’ab, 1105 dan Ibnu Abi Syaibah,
29167h/VI/21; al Bukhari dalam Adabul Mufrad, hlm. 105; Ibnu Jarir dalam tafsirnya, no. 1 3038/11;
dari Nu’man bin Basyir. Silahkan lihat Shahih al Jaami’, 3407.
[3] HR Tirmidzi, 3048 dan al Hakim, I/493 dari Ibnu Umar. Shahih al Jaami’, 3409.
[4] HR Ahmad, II/362 dan at Tirmidzi, 3370 dan dihasankannya; al Hakim, I/390 dan disetujui oleh
adz Dzahabi dan yang lainnya dari Abu Hurairah. Silahkan lihat Shahih al Jaami’, 5392.
[5] Telah disebutkan takhrijnya.
[6] HR at Tirmidzi, 3373 dan Ibnu Majah, 3727 dari Abu Hurairah. Silahkan lihat dalam Shahih at
Tirmidzi, 2686.
[7] HR Abu Dawud, 1486 dari Malik bin Yasar; Shahih Abu Dawud, 1318. Dan diriwayatkan dari Ibnu
Abbas dan yang lainnya.
[8] HR ath Thabrani dalam kitab al Kabir, 12234h/11 dari Ibnu Abbas. Dan diriwayatkan dari as Saib
bin Khallad. Shahih al Jaami’, 4721.
[9] HR at Tirmidzi, 3603 dari Abu Hurairah. Shahih at Tirmidzi, 2853.
[10] HR Abu Dawud, 1481; an Nasaa-i, 44/3; at Tirmidzi, 3477 dan dishahihkannya, dari Fudhalah bin
‘Ubaid. Silahkan lihat Shahih Abu Dawud, 1314.
[11] HR ad Dailami dalam Musnad al Firdaus, III/4791 dari ‘Ali. Dalam hadits lain diriwayatkan dari
Anas. Juga dari ‘Ali secara mauquf yang diriwayatkan ath Thabrani di dalam al Ausath, dan al Baihaqi
di dalam asy Syu’ab. Berkata al Haitsami di dalam al Majma’, X/160 : “Para perawinya tsiqat”.
Silahkan lihat Shahih al Jaami’, 4523.
[12] HR at Tirmidzi, 3479 dan al Hakim, 493/1 dari Abu Hurairah. Lihat Shahih at Tirmidzi, 2766.
[13] HR at Tirmidzi, 3525 dan yang lainnya, dari Anas. Lihat dalam Shahih at Tirmidzi, 2797. Dan
diriwayatkan juga dari hadits Rabi’ah.
[14] HR at Tirmidzi, 3382; al Hakim, I/544 dan dishahihkannya, dan disetujui oleh adz Dzahabi dari
Abu Hurairah. Silahkan lihat dalam Shahih at Tirmidzi, 2693.
[15] HR Muslim, 1015 dari Abu Hurairah.
[16] HR al Bukhari, 6340 dan Muslim, 2735, dari Abu Hurairah.
[17] HR Ahmad, I/172 dan Abu Dawud, 1480, dari Sa’ad. Shahih Abu Dawud, 1313.
Referensi : [Link]
BERITA DUSTA
Setelah gagal menyulut sentimen kesukuan ditengah para shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa
sallam , kaum munafik tidak lantas putus asa. Mereka memanfaatkan insiden lain untuk menyebar
racun di tengah kaum Muslimin. Peristiwa ini terkenal dengan haditsul ifki (kisah dusta).
Kisah ini bermula ketika istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mendapat giliran menyertai
beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perang Muraisi’ ini yaitu ‘Aisyah Radhiyallahu anha
kehilangan kalungnya saat perjalanan menuju Madinah pasca peperangan.
Dalam perjalanan pulang itu, mereka beristirahat di sebuah tempat. Saat itu ‘Aisyah Radhiyallahu anha
keluar dari sekedupnya (semacam tandu yang berada di atas punggung unta) untuk suatu keperluan.
Ketika kembali ke sekedupnya, beliau Radhiyallahu anha kehilangan kalung, akhirnya beliau
Radhiyallahu anha keluar lagi untuk mencarinya. Saat kembali untuk yang kedua kali inilah, beliau
Radhiyallahu anha kehilangan rombongan, karena Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
memerintahkan pasukan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat. Para shahabat yang menaikkan
sekedup itu ke punggung unta tidak menyadari bahwa ‘Aisyah Radhiyallahu anha tidak ada di
dalamnya karena dia masih ringan.
Beliau Radhiyallahu anha tentu gelisah karena ditinggal rombongan, namun beliau Radhiyallahu anha
tidak kehilangan akal. Beliau Radhiyallahu anha tetap menunggu di tempat semula, dengan harapan
rombongan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam segera menyadari ketiadaannya dan kembali
mencarinya di tempat mereka istirahat. Akan tetapi yang ditunggu tidak kunjung datang, sampai
akhirnya salah shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Shafwân bin al-
Mu’atthal as-Sulami lewat di tempat itu dan mengenali ‘Aisyah Radhiyallahu anha , karena Shafwân z
pernah melihat beliau Radhiyallahu anha saat sebelum hijab diwajibkan. Shafwân z kemudian
membantu beliau Radhiyallahu anha . Shafwân menidurkan untanya agar ‘Aisyah Radhiyallahu anha
bisa naik unta sementara Shafwân menuntunnya sampai ke Madinah. Sejak bertemu dan selama
perjalanan, Shafwân z tidak pernah mengucapkan kalimat apapun kepada ‘Aisyah Radhiyallahu anha ,
selain ucapan Innalillah wa Inna Ilaihi Raji’un karena kaget saat mengetahui ‘Aisyah Radhiyallahu
anha tertinggal.
Peristiwa ini dimanfaatkan oleh kaum munafik. Mereka membubuhi kisah ini dengan berbagai cerita
bohong. Diantara yang sangat berantusias menyebarkan cerita bohong dan keji itu adalah Abdullah bin
Ubay Ibnu Salul. Cerita bohong itu menyebar dengan cepat, dari mulut ke mulut, sehingga ada
beberapa shahabat yang terfitnah dan tanpa disadari ikut andil dalam menyebarkan berita ini. Mereka
adalah Misthah bin Utsâtsah (sepupu Abu Bakr ash-Shiddiq Radhiyallahu anhu ), Hassân bin Tsâbit
dan Hamnah bintu Jahsy Radhiyallahu anhum.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedih dengan berita yang tersebar, bukan karena meragukan
kesetiaan istri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam percaya
Aisyah Radhiyallahu anhu dan Shafwân Radhiyallahu anhu tidak seperti yang digunjingkan. Berita
yang sangat menyakiti hati Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini memantik kemarahan para
shahabat dan hampir saja menyulut pertikaian diantara kaum Muslimin.
Sebagai respon dari berita buruk ini, Sa’ad bin Mu’âdz Radhiyallahu anhu menyatakan kesiapannya
untuk membunuh kaum Aus yang terlibat dalam penyebaran berita dusta ini, sementara Sa’ad bin
Ubâdah Radhiyallahu anhu tidak setuju dengan sikap Sa’ad bin Mu’adz ini, karena diantara yang
tertuduh terlibat dalam penyebaran berita ini berasal dari kaum Sa’ad bin Ubâdah Radhiyallahu anhu .
Hampir saja kekacauan yang diinginkan kaum munafik menjadi nyata, namun dengan petunjuk dari
Allâh Azza wa Jalla , Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tampil menyelesaikan permasalahan ini
dan berhasil meredam api kemarahan. Sehingga kaum munafik harus menelan pil pahit kegagalan
untuk kesekian kalinya.
Aisyah Radhiyallahu anha Sakit
Awalnya, Aisyah Radhiyallahu anha tidak tahu kalau banyak orang yang sedang menggunjing beliau
Radhiyallahu ana. Beliau Radhiyallahu anha menyadari hal itu, ketika jatuh sakit dan meminta ijin
kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tinggal sementara waktu di rumah orang tua
beliau yaitu Abu Bakar Radhiyallahu anhu. Betapa sakit hati beliau Radhiyallahu anha mendengarnya.
Sejak saat itu, beliau Radhiyallahu anha susah bahkan tidak bisa tidur. Beliau Radhiyallahu anha
berharap dan memohon agar Allâh Azza wa Jalla memberitahukan kepada nabi-Nya melalui mimpi
prihal permasalahan yang sedang dipergunjingkan halayak ramai. Beliau Radhiyallahu anha merasa
tidak pantas menjadi penyebab turunnya wahyu. Oleh karenanya beliau Radhiyallahu anha berharap
ada pemberitahuan lewat mimpi kepada nabi-Nya.
Peringatan dari Atas Langit
Sebulan penuh, ‘Aisyah Radhiyallahu anha merasakan kepedihan dan juga Rasûlullâh Shallallahu
‘alaihi wa sallam akibat ulah orang-orang munafik ini. Sampai akhirnya, Allâh Azza wa Jalla
menurunkan sepuluh ayat al- Quran prihal berita dusta ini. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
‫ِإَّن اَّلِذ يَن َج اُء وا ِباِإْل ْفِك ُعْص َبٌة ِم ْنُك ْم ۚ اَل َتْح َس ُبوُه َش ًّر ا َلُك ْم ۖ َبْل ُهَو َخ ْيٌر َلُك ْم ۚ ِلُك ِّل اْم ِرٍئ ِم ْنُهْم‬
‫﴾ َلْو اَل ِإْذ َسِم ْع ُتُم وُه َظَّن‬١١﴿ ‫َم ا اْك َتَسَب ِم َن اِإْل ْثِم ۚ َو اَّلِذ ي َتَو َّلٰى ِكْبَر ُه ِم ْنُهْم َلُه َع َذ اٌب َع ِظ يٌم‬
‫﴾ َلْو اَل َج اُء وا َع َلْيِه ِبَأْر َبَعِة‬١٢﴿ ‫اْلُم ْؤ ِم ُنوَن َو اْلُم ْؤ ِم َناُت ِبَأْنُفِس ِهْم َخ ْيًرا َو َقاُلوا َٰه َذ ا ِإْفٌك ُم ِبيٌن‬
‫﴾ َو َلْو اَل َفْض ُل ِهَّللا َع َلْيُك ْم‬١٣﴿ ‫ُش َهَد اَء ۚ َفِإْذ َلْم َيْأُتوا ِبالُّش َهَد اِء َفُأوَٰل ِئَك ِع ْنَد ِهَّللا ُهُم اْلَك اِذ ُبوَن‬
‫﴾ ِإْذ َتَلَّقْو َنُه ِبَأْلِس َنِتُك ْم‬١٤﴿ ‫َو َر ْح َم ُتُه ِفي الُّد ْنَيا َو اآْل ِخ َر ِة َلَم َّس ُك ْم ِفي َم ا َأَفْض ُتْم ِفيِه َع َذ اٌب َع ِظ يٌم‬
‫﴾ َو َلْو اَل ِإْذ‬١٥﴿ ‫َو َتُقوُلوَن ِبَأْفَو اِهُك ْم َم ا َلْيَس َلُك ْم ِبِه ِع ْلٌم َو َتْح َس ُبوَنُه َهِّيًنا َو ُهَو ِع ْنَد ِهَّللا َع ِظ يٌم‬
‫﴾ َيِع ُظُك ُم ُهَّللا َأْن‬١٦﴿ ‫َسِم ْع ُتُم وُه ُقْلُتْم َم ا َيُك وُن َلَنا َأْن َنَتَك َّلَم ِبَٰه َذ ا ُسْبَح اَنَك َٰه َذ ا ُبْهَتاٌن َع ِظ يٌم‬
‫﴾ ِإَّن‬١٨﴿ ‫﴾ َو ُيَبِّيُن ُهَّللا َلُك ُم اآْل َياِتۚ َو ُهَّللا َع ِليٌم َح ِكيٌم‬١٧﴿ ‫َتُعوُد وا ِلِم ْثِلِه َأَبًدا ِإْن ُكْنُتْم ُم ْؤ ِمِنيَن‬
‫اَّلِذ يَن ُيِح ُّبوَن َأْن َتِش يَع اْلَفاِح َش ُة ِفي اَّلِذ يَن آَم ُنوا َلُهْم َع َذ اٌب َأِليٌم ِفي الُّد ْنَيا َو اآْل ِخ َر ِةۚ َو ُهَّللا َيْع َلُم‬
‫﴾ َو َلْو اَل َفْض ُل ِهَّللا َع َلْيُك ْم َو َر ْح َم ُتُه َو َأَّن َهَّللا َرُء وٌف َرِح يٌم‬١٩﴿ ‫َو َأْنُتْم اَل َتْع َلُم وَن‬
Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga.
Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu, tiap-
tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka
yang mengambil bagian terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, maka baginya azab yang besar.
Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak
bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) mengatakan, “Ini adalah berita
bohong yang nyata.”
Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu ?
Karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu di sisi Allâh adalah orang- orang
yang dusta.
Sekiranya tidak ada kurnia Allâh dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya
kamu ditimpa azab yang besar, akibat pembicaraan kamu tentang berita bohong itu.
(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan
mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja,
padahal dia di sisi Allâh adalah besar.
Dan Mengapa kamu diwaktu mendengar berita bohong itu tidak mengatakan, “Kita sama sekali tidak
pantas untuk mengucapkan ini, Maha Suci Engkau (Ya Rabb kami), ini adalah dusta yang besar.”
Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika
kamu orang-orang yang beriman.
Dan Allâh menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allâh Maha mengetahui lagi Maha
Bijaksana.
Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan
orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. dan Allâh
mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.
Dan sekiranya bukan karena kurnia Allâh dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allâh Maha
Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar). [an-Nûr/24:11-20]
Dengan turunnya ayat ini, maka permasalahan ini pun menjadi jelas. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa
sallam dan Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu anha merasa lega. Begitu juga yang dirasakan
oleh kaum Muslimin, namun mereka merasa berang dengan orang-orang yang ikut andil dalam
mencoreng nama baik ummul Mukminin. Abu Bakar as-shiddiq Radhiyallahu anhu tersulut emosinya
ketika tahu bahwa Misthah bin Utsâtsah, sepupu beliau Radhiyallahu anhu yang selama ini dibantu
ekonominya ternyata ikut andil dalam menyebarkan berita yang telah melukai hati Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seluruh kaum Muslimin ini. Bahkan sampai beliau Radhiyallahu
anhu bersumpah untuk tidak akan membantunya lagi. Lalu turunlah firman Allâh Azza wa Jalla :

‫ُيْؤ ُتوا ُأوِلي اْلُقْر َبٰى َو اْلَم َس اِكيَن َو اْلُمَهاِج ِريَن ِفي َس ِبيِل‬ ‫َو الَّس َعِة َأْن‬ ‫َو اَل َيْأَتِل ُأوُلو اْلَفْض ِل ِم ْنُك ْم‬
‫َيْغ ِفَر ُهَّللا َلُك ْم ۗ َو ُهَّللا َغ ُفوٌر َرِح يٌم‬ ‫ُتِح ُّبوَن َأْن‬ ‫ِهَّللاۖ َو ْلَيْع ُفوا َو ْلَيْص َفُحواۗ َأاَل‬
Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah
bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin
dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada.
Apakah kamu tidak ingin Allâh mengampunimu? dan Allâh adalah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang [an-Nûr/24:22]
Akhirnya Abu Bakar Radhiyallahu anhu membantu Misthah kembali karena mengharap ampunan dari
Allâh Azza wa Jalla .
Dalam ayat-ayat di atas, Allâh Azza wa Jalla mencela mereka yang terperangkap dalam jebakan orang-
orang munafik dan memuji kaum Mukminin yang tidak termakan isu ini dan menyikapinya dengan
bijak sembari menyakini kedustaan berita ini. Diantara yang tersanjung dengan ayat ini adalah Abu
Ayyub al-Anshari Radhiyallahu anhu . Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan sebuah hadits yang
memberitakan bahwa salah shahabat Rasûlullâh dari kaum Anshar saat mendengar berita ini, beliau
Radhiyallahu anhu mengatakan :
‫َّم ا َيُك ْو ُن َلَنٓا َاْن َّنَتَك َّلَم ِبٰه َذ ۖا ُسْبٰح َنَك ٰه َذ ا ُبْهَتاٌن َع ِظ ْيٌم‬
Kita sama sekali tidak pantas untuk mengucapkan ini, Maha Suci Engkau (Ya Rabb kami), ini adalah
dusta yang besar (HR. Bukhari, al Fath, 28/110, no. 7370)
Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa orang ini adalah Abu Ayyub Radhiyallahu anhu .
Setelah perkara ini menjadi jelas, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menuntaskannya
dengan memberikan sanksi kepada mereka yang terlibat.
Pelajaran Dari Kisah di atas
Menyebarkan berita dusta merupakan salah satu metode kaum munafik dan musuh Islam untuk
menyerang agama ini. Kisah di atas dan kisah sebelumnya (pada edisi 10) menunjukkan hal ini. Maka
hendaknya kaum Muslimin mengambil pelajaran dari kisah ini ! Terutama saat mendengar berita-berita
yang mencederai nama kaum Muslimin dan menyikapinya dengan bijak.
Peristiwa ini menunjukkan kenabian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menerima wahyu dari
Allâh Azza wa Jalla . Seandainya al-Qur’an itu buatan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
sebagaimana tuduhan orang-orang kafir, tentu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan
membiarkan berita ini berlarut-larut. Namun fakta menunjukkan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam menunggu wahyu dari Allâh Azza wa Jalla
Kisah di atas juga menunjukkan syari’at penegakan had qadzf (sanksi karena menuduh) kepada orang
yang terbukti telah menuduhkan perbuatan keji kepada kaum Muslimin yang menjaga kehormatan
mereka
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XIV/1431H/2010. Diterbitkan Yayasan Lajnah
Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-
761016]
_______
Footnote
[1] Diangkat dari as-Siratun Nabawiyah Fi Dhau’il Mashâdiril Ashliyah, Doktor Mahdi Rizqullah
Ahmad.
Referensi : [Link]

Anda mungkin juga menyukai