Petunjuk Teknis Atribut GMNI
Petunjuk Teknis Atribut GMNI
Nomor : 01/PDPP/[Link]/VI/2019
Tentang
PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN ATRIBUT ORGANISASI
Mengingat:
[Link] Dasar Pasal 26 dan 29
[Link] rumah Tangga Pasal 33, 34, 35, 37, 38 dan 39
[Link] Kongres XXI GMNI Tahun 2019 di Kota Ambon, Provinsi Maluku.
Memperhatikan:
1. Hasil Rapat Pleno DPP GMNI Periode 2019-2022.
MEMUTUSKAN
Menetapkan:
BAB I
Ketentuan Umum
Pasal 1
(1) Atribut yang dimaksud adalah lambang, Panji dan Bendera serta simbol- simbol organisasi lainnya.
(2) Badge GMNI yang dimaksud adalah Pin dan Emblem organisasi
(3) Jas GMNI adalah pakaian pada acara resmi organisasi, acara-acara lainnya yang dianggap penting dan
acara pada Hari Nasional
(4) Jaket GMNI yang dimaksud adalah pakaian harian organisasi yang modelnya disesuaikan dengan
kebutuhan
(5) Kemeja GMNI yang dimaksud adalah pakaian harian organisasi yang modelnya disesuaikan dengan
kebutuhan.
(6) Acara resmi yang dimaksud adalah:
a) Kongres, Rapat Pimpinan Nasional, Konferensi Daerah, Rapat Pimpinan Daerah, Konferensi
Cabang, Rapat Pimpinan Cabang, Musyawarah Komisariat, Pembukaan Kaderisasi, Pelantikan,
Diesnatalis, dll
b) Acara yang diadakan secara khusus oleh GMNI
(7) Hari Nasional yang dimaksud adalah Hari yang diperingati secara nasional, seperti Hari Proklamasi
Kemerdekaan, Sumpah Pemuda, Hari Pendidikan, Hari Lahirnya Pancasila dll
BAB II
Tata Cara Penggunaan Mars I dan Mars II GMNI
Pasal 2
(1) Mars I dan Mars II GMNI digunakan pada acara organisasi GMNI dan Peringatan Hari Nasional
yang diadakan secara khusus oleh organisasi.
(2) Mars I dan Mars II GMNI yang dinyanyikan pada acara resmi organisasi dan Peringatan Hari
Nasional mengikuti Lagu Indonesia Raya
(3) Mars I dan Mars II GMNI juga dapat digunakan untuk acara-acara lain yang menggugah
spirit/semangat anggota GMNI seperti demonstrasi. Contoh (Mars I dan Mars II GMNI
Terlampir)
BAB III
Pembuatan dan Penggunaan Bendera/Panji GMNI
Pasal 3
Bentuk Bendera
(1) Bendera GMNI berbentuk segi empat panjang dengan warna merah di kedua sisinya dan warna
putih di tengah, yang memuat gambar bintang segi lima berwarna merah dengan dua sudut
horisontalnya mengenai warna merah pada sisi kanan/kiri berikut kepala banteng dalam lingkaran
dengan posisi miring kekiri serta tulisan “GmnI” dibawahnya.
(2) Lingkaran yang memuat kepala banteng didalamnya berwarna hitam dengan warna dasar putih,
sedangkan gambar bintang berwarna merah dengan garis pemisah berwarna hitam pada sisi
luarnya. (contoh terlampir)
Pasal 4
Ukuran Bendera
1) Ukuran perbandingan lebar dan panjang bendera 3 : 4Bendera GMNI yang dipergunakan pada
acara resmi organisasi berukuran 90 x 120 cm
2) Pada kegiatan-kegiatan lain ukuran bendera tidak harus 90x120 cm, tetapi tetap dalam konfigurasi
ukuran 3:4.
Pasal 5
Bentuk Panji
(1) Panji GMNI berbentuk segi empat panjang dengan warna merah dikedua sisinya dan warna putih
ditengah, yang memuat gambar bintang segi lima berwarna merah dengan dua sudut horisontalnya
mengenai warna merah pada sisi kanan/kiri berikut kepala banteng dalam lingkaran dengan posisi
miring kekiri serta tulisan “GmnI” dibawahnya.
(2) Lingkaran yang memuat kepala banteng didalamnya berwarna hitam, dengan warna dasar putih,
sedangkan gambar bintang berwarna merah dengan garis pemisah berwarna hitam pada sisi luar.
Pasal 6
Ukuran Panji
(1) Panjang 120 cm, lebar 90 cm. pada tiap pinggir dilengkapi dengan rumbai warna kuning emas.
Panjang rumbai 5 cm.
(2) Selain itu panji dilengkapi pula dengan : tongkat panji sepanjang 2 meter dan tali hias berwarna
kayu asli.
Pasal 7
Penggunaan Panji
Panji organisasi dipakai pada kegiatan-kegiatan resmi organisasi.
BAB V
Pasal 9
Spanduk
BAB VI
Pembuatan dan Penggunaan Badge GMNI
Pasal 10
Pembuatan Badge
Pasal 11
Penggunaan Badge
(1) Badge pada jas GMNI letaknya berada pada dada sebelah kiri dengan keterangan struktural
organisasi diatasnya, tempat kedudukan daerah/wilayah diletakan pada sebelah kanan bagi DPD,
DPC dan DPK.
(2) Badge pada jaket diletakan pada lengan sebelah kiri dengan nama DPD,DPC dan DPK diletakan
didada sebelah kanan.
(3) Badge pada kaos atau lainnya, dengan ukuran badge kurang dari 10x10 cm, ditempatkan pada sisi
depan diletakan pada dada sebelah kiri, diluar ketentuan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan
dan sewajarnya.
BAB VII
Pasal 12
Warna Pakaian Organisasi
(1) Jas GMNI berwarna merah darah. Bahan dan jenis kain bersifat bebas dengan model Jas
(2) Warna seragam, jaket, kaos yang menggunakan atribut GMNI berwarna merah, hitam dan atau
putih dengan model, bahan dan jenis disesuaikan, (kecuali Jas resmi organisasi wajib berwarna
Merah)
BAB VIII
Pembuatan Dan Penggunaan Atribut Organisasi Lainnya
Pasal 13
Pembuatan dan penggunaan atribut organisasi lainnya seperti vandal, grafir, peci dan Gordon
diserahkan sepenuhnya ukuran dan maupun bahan dengan tetap berpedoman kepada ketentuan lain
dalam peraturan DPP ini.
BAB IX
Pasal 14
KETENTUAN PENUTUP
(1) Hal-hal lain yang belum diatur dalam peraturan ini akan diatur kemudian hari
(2) Ketentuan lain yang bertentangan dengan peraturan ini dinyatakan tidak berlaku
(3) Peraturan DPP ini mengikat secara struktural di semua tingkatan.
(4) Peraturan ini berlaku sejak ditetapkan
Ditetapkan : di Jakarta
Menimbang :
1. Bahwa pelaksanaan administrasi organisasi merupakan
kewajiban yang harus dilaksana kan dalam proses tata kelola
organisasi.
2. Bahwa dalam rangka menjamin kelancaran mekanisme dan tata
kerja organisasi maka dipandang perlu untuk melakukan
pembenahan tertib administrasi organisasi secara nasional di
seluruh tingkatan sesuai hierarki organisasi.
3. Bahwa untuk kelancaran sistim administrasi tersebut, maka
perlu ditetapkan dalam peraturan DPP.
4. Bahwa petunjuk administrasi organisasi perlu diatur
secara teknis
Mengingat :
1. Anggaran Dasar Pasal 29
2. Anggaran Rumah Tangga Pasal 8,34,35,36 dan Pasal 40 & 41.
3. Hasil Kongres XXI GMNI Tahun 2019 di Kota Ambon,
Provinsi Maluku.
Memperhatikan :
1. Hasil Rapat Pleno DPP GMNI Periode 2019-2022
MEMUTUSKAN
Menetapkan :
PETUNJUK PEMBUATAN DAN PENGGUNAAN ADMINISTRASI
ORGANISASI
BAB I
KETETUAN UMUM
Pasal 1
(1) Administrasi yang dimaksud adalah kelengkapan administrasi
organisasi yang mengatur mekanisme dan tata kerja organisasi
(2) Fungsi dari petunjuk teknis administrasi ini adalah untuk
memberikan keseragaman administrasi secara nasional agar
terwujud sistim manajemen administrasi organisasi yang lebih
baik.
(3) Surat yang dimaksud adalah hubungan komunikasi organisasi
secara tertulis antar lembaga dan structural keluar dan kedalam
sebagai bentuk fungsi administrasi organisasi dalam rangka
menjalankan aktivitas organisasi.
BAB II
Bentuk dan Sifat Surat
Pasal 2
Bentuk-bentuk Surat
1) Surat fisik adalah surat yang berbentuk hardfile (paperbased)
2) Surat elektronik adalah surat yang berbentuk soft file
(nonpaperbased) dalam bentuk PDF yang di kirim melalui
email/Whatsapp.
Pasal 3
Penggunaan Surat
1) Surat fisik wajib dipergunakan untuk jenis surat antara lain :
a. Surat permohonan penerbitan surat keputusan beserta
laporan hasil permusyawaratan organisasi.
b. Penerbitan surat keputusan.
c. Surat Mandat, Surat Tugas, dan Surat Rekomendasi
2) Surat elektronik dapat dipergunakan untuk jenis surat antara lain :
a. Surat Instruksi
b. Surat Undangan
c. Surat Pemberitahuan
Pasal 4
Surat Khusus Dan Surat Umum
(1) Surat khusus yang dimaksud adalah Surat Keputusan, Instruksi DPP,
Surat Rekomendasi .
(2) Surat umum yang dimaksud adalah surat Internal dan Eksternal
BAB III
PEMBUATAN DAN PENGGUNAAN KEPALA SURAT DAN
PENOMORAN SURAT
Pasal 5
Bentuk Kepala Surat (Kop Surat)
Pasal 6
Bentuk Penomoran Surat Khusus
Format pembuatan dan penomoran surat sesuai klasifikasi yang diatur
dengan ketentuan hierarki organisasi sebagai berikut :
1. Surat Keputusan
Penomoran Surat Keputusan,(Kode SK) sesuai dengan tingkatan
masing- masing adalah sebagai berikut :
2. Instruksi
Penomoran Instruksi (kode Ins) diatur sesuai hierarki organisasi
dimasing- masing tingkatan sebagai berikut :
3. Rekomendasi
Penomoran Rekomendasi (Kode Rekom) diatur sesuai hierarki
organisasi dimasing-masing tingkatan sebagai berikut :
BAB IV
PENGARSIPAN
Pasal 8
Arsip merupakan dokumen organisasi yang menyangkut
kepentingan organisasi, baik berupa buku-buku, laporan-laporan,
surat-surat dan sebagainya. Secara khsus yang dimaksud dengan
arsip pada bagian ini adalah kumpulan dokumen surat-surat yang
disimpan secara sistematis, karena memiliki nilai dan manfaat
yang sewaktu-waktu akan digunakan.
Pasal 9
Bentuk Dan Tujuan Pengarsipan
(1) Bentuk pengarsipan yang dimaksud adalah pengadministrasian
berdasarkan kategori yang tersusun secara sistematis sesuai dengan
kebutuhan organisasi
(2) Terciptanya pola kerja dan manajemen organisasi yang tertata
secara baik
Pasal 10
Tata Cara Pengarsipan
(1) Sistem penyusunan pengarsipan berdasarkan kategori
(2) Sistem penyusunan pengarsipan berdasarkan
susunan penomoran
(3) Pengarsipan dokumen-dukumen penting organisasi
BAB V
PEMBUATAN DAN PENGGUNAAN CAP/STEMPEL
ORGANISASI
Pasal 11
Pembuatan Cap/Stempel Organisasi
(1) Cap/stempel organisasi berbentuk lingkaran yang di dalamnya
terdapat bintang segi lima memuat gambar kepala banteng pada
(2) Cap/stempel organisasi memuat keterangan tingkat structural
organisasi, nama organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional
Indonesia, dengan posisi diapit dua lingkaran dan bertuliskan GmnI
serta keterangan daerah/wilayah diantara garis lingkaran sebelah
dalam dibawah gambar bintang segi lima.
Pasal 12
Penggunaan Cap/Stempel
BAB VI
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 13
(1) Hal-hal yang belum diatur dalam peraturan ini akan diatur
kemudian
(2) Ketentuan lain yang bertentangan dengan peraturan ini
dinyatakan tidak berlaku
(3) Peraturan Presidium ini mengikat secara structural di semua
tingkatan
(4) Peraturan ini berlaku sejak ditetapka
Ditetapkan : di Jakarta Tanggal
ttd ttd
Tentang
PETUNJUK TEKNIS PERSIDANGAN DAN PELANTIKAN
Menimbang :
1. Bahwa guna menyamakan persepsi dalam menjalankan tugas-tugas organisasi diperlukan standarisasi
2. Bahwa untuk memperjelas ketentuan-ketentuan organisasi dipandang perlu untuk menerbitkan peraturan
Dewan Pimpinan Pusat,sehingga seluruh anggota GMNI dapat memiliki pemahaman yang sama dalam
menggerakan organisasi untuk mencapai tujuan perjuangan.
3. Bahwa Dewan Pimpinan Pusat memandang perlu untuk membuat peraturan guna menyamakan persepsi
setiap anggota GMNI.
Memperhatikan :
1. Hasil Rapat Pleno DPP GMNI Periode 2019-2022
MEMUTUSKAN
Menetapkan :
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
(1) Persidangan adalah permusyawaratan organisasi dan rapat-rapat pengurus ditiap tingkatan organisasi,
seperti Kongres, Kongres Luar Biasa, Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas), Konferensi Daerah
(Konferda), Konferensi Daerah Luar Biasa, Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda), Konferensi Cabang
(Konfercab), Konferensi Cabang Luar Biasa, Rapat Pimpinan Cabang (Rapimcab), dan Musyawarah
Komisariat.
(2) Pengukuhan adalah peneguhan pegurus tingkat Dewan Pimpinan Pusat.
(3) Pelantikan adalah upacara pengangkatan simbolik.
(4) Serah terima jabatan adalah penyerahan tugas dan kewenangan pengurus demisioner (periode sebelumnya)
kepengurus yang baru.
BAB II
PERSIDANGAN
Pasal 2
Persidangan
Persidangan merupakan proses musyawarah untuk mufakat secara bersama- sama sesuai tata cara organisasi.
Pasal 3
Ketukan Palu Sidang
(1) Pada pembukaaan dan penutupan persidangan serta pengesahan konsideran atau ketetapan ketukan palu
sebanyak 3 (tiga) kali.
(2) Sidang d i skors dan atau sidang ditunda serta pergantian pimpinan sidang, ketukan palu sidang sebanyak
2 (dua) kali
(3) Pengesahan setiap pemufakatan/keputusan,ketukan palu sidang sebanyak 1 (satu) kali.
Pasal 4
Interupsi dan Intervensi
1) Interupsi dilakukan guna dan hanya untuk memotong pembicaraan orang lain atas persetujuan Pimpinan
Sidang
2) Interupsi terdiri dari :
a. Point Of Clearen digunakan untuk menjernihkan dan atau memberikan klarifikasi terhadap pokok
persoalan atau pokok pembahasan
b. Point Of Information digunakan untuk memberikan informasi yang berhubung dengan pokok
persidangan
c. Point Of Order digunakan untuk memberikan penegasan atas pokok persoalan
d. Point Of Personal Priveledge digunakan untuk meminta pemulihan nama baik
3) Intervensi adalah upaya pimpinan sidang dalam rangka menertibkan jalannya persidangan.
Pasal 5
Sidang Diskors dan Sidang ditunda
(1) Sidang dinyatakan diskors jika membutuhkan waktu hanya 1x15 menit
(2) Sidang dinyatakan ditunda jika membutuhkan waktu lebih dari 2x15 menit
BAB III
PENGUKUHAN
Pasal 6
Pengukuhan hanya dapat diselenggaraan dan dilaksanakan oleh DPP hanya untuk dirinya sendiri dengan
melakukan pembacaan surat keputusan dan ikrar prasetya korps Pejuang Pemikir – Pemikir Pejuang.
BAB IV
PELANTIKAN
Pasal 7
Hierarki Kewenangan Pelantikan
Adapun hierarki kewenangan pelantikan adalah sebagai berikut :
1. Pelantikan anggota baru dilakukan oleh Dewan Pimipinan Cabang
2. Pelantikan anggota baru yang belum ada DPC dilakukan oleh DPC terdekat atau DPD
3. Pelantikan anggota yang telah lulus KTD dilakukan oleh DPC.
4. Pelantikan kader yang telah lulus KTM dilakukan oleh DPD.
5. Pelantikan kader yang yang telah lulus KTP dilakukan oleh DPP.
6. Pelantikan pengurus Komisariat dilakukan oleh pengurus DPC.
7. Pelantikan pengurus DPC dilakukan oleh DPP GMNI atau DPD GMNI atas penugasan DPP GMNI
8. Pelantikan pengurus DPD dilakukan oleh DPP GMNI
Pasal 8
Susunan dan Tata Cara Pelantikan
Adapun susunan acara pelantikan adalah sebagai berikut :
1. Menyanyikan lagu Indonesia Raya
2. Mars GMNI
3. Mengheningkan Cipta
4. Pembacaan teks Pancasila
5. Laporan panitia pelaksana (jika ada)
6. Pengumuman komposisi pengurus dan pembacaan Surat Keputusan oleh yang berwenang melantik
7. Ikrar Prasetya pejuang pemikir-pemikir pejuang dipimpin oleh yang berwenang melantik
8. Pernyataan sah (pengesahan) oleh yang berwenang melantik
9. Serah terima jabatan
10. Sambutan-sambutan :
a. Sambutan ketua (pengurus demisioner)
b. Sambutan (pidato politik) ketua terpilih
c. Sambutan PA atau Alumni jika ada
d. Sambutan dari pejabat setempat (bila ada)
e. Sambutan dari yang berwenang melantik
Pasal 9
Berita Acara Serah Terima Jabatan
Bentuk Surat Serah Terima Jabatan sekurang-kurangnya memuat : (terlampir)
BAB V
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 10
(1) Hal-hal lain yang belum diatur dalam peraturan ini akan diatur kemudian hari
(2) Ketentuan lain yang bertentangan dengan peraturan ini dinyatakan tidak berlaku
(3) Peraturan Presidium ini mengikat secara structural di semua tingkatan.
(4) Peraturan ini berlaku sejak ditetapkan
Ditetapkan : di Jakarta
Tanggal : 4 Juni 2018
Pukul : 20.30 WIB
Tentang
PETUNJUK PEMBENTUKAN DEWAN PENGURUS
KOMISARIAT, DEWAN PIMPINAN
CABANG dan DEWAN PIMPINAN
DAERAH
Menimbang :
1. Bahwa pembentukan Dewan Pengurus Komisariat,
cabang, dewan pimpinan daerah merupakan
tanggungjawab organisatoris sesuai dengan amanat
kongres dan AD/ART.
2. Bahwa untuk memperjelas ketentuan-ketentuan organisasi
dipandang perlu untuk menerbitkan petunjuk teknis,
sehingga seluruh anggota memiliki pemahaman yang sama
dalam mengembangkan organisasi untuk mencapai tujuan
perjuangan.
3. Bahwa panduan petunjuk pembentukan Dewan Pengurus
Komisariat, Cabang, Dewan Pimpinan Daerah perlu diatur
secara teknis.
Mengingat :
1. Anggaran dasar GMNI pasal 4, 7, 9, 11, 12, 13, 18, 23
dan 24
2. Anggaran Rumah Tangga pasal 1, 2,3, 4,5, 8,10, 12, 15,
22,24,27,29,30,31 dan 37
3. Hasil Kongres XX GMNI Tahun 2018 di Minahasa,
Sulawesi Utara
Memperhatikan :
1. Hasil Rapat Pleno DPP GMNI periode 2017-2019
MEMUTUSKAN
Menetapkan :
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
1) Dewan Pengurus Komisariat adalah struktur organisasi yang
berkedudukan ditingkat Perguruan Tinggi/Akademi/Fakultas
pada Universitas/Jurusan pada Akademi atau Sekolah Tinggi.
2) Dewan Pimpinan Cabang adalah struktur organisasi yang
berkedudukan ditingkat Kabupaten/Kota yang minimal memiliki
(satu) Komisariat atau lebih, berkoordinasi kepada DPD dan
bertanggungjawab kepada DPP.
3) Dewan Pimpinan Daerah adalah struktur organisasi yang
berkedudukan ditingkat Provinsi yang memiliki minimal 3 (tiga)
Cabang definitif dan dalam melaksanakan tugas sehari hari
bertanggungjawab kepada DPP.
BAB II
PROSEDUR PEMBENTUKAN DEWAN PENGURUS
KOMISARIAT, CABANG, DEWAN PIMPINAN DAERAH
Pasal 2
Pembentukan Dewan Pengurus Komisariat
(1) Dewan Pengurus Komisariat dapat dibentuk di tingkat Perguruan
Tinggi/Akademi/fakultas pada Universitas/Jurusan pada Akademi
atau Sekolah Tinggi.
(2) Caretaker Dewan Pengurus Komisariat dapat dibentuk oleh
Dewan Pimpinan cabang jika sekurang-kurangnya terdapat 5
(lima) orang anggota
(3) Dewan Pimpinan Cabang dapat menunjuk personalia/tim dan
memberikan surat mandat untuk memfasilitasi pembentukan
caretaker Dewan Pengurus Komisariat.
(4) Caretaker Dewan Pengurus Komisariat minimal berlaku 3
(tiga) bulan, setelah itu dapat di tetapkan menjadi Komisariat
definitif apabila sudah memenuhi persyaratan.
(5) Apabila selama masa kepengurusan caretaker Dewan Pengurus
Komisariat tidak dapat melaksanakan tugas-tugasnya, maka Dewan
Pimpinan Cabang dapat melakukan peninjauan kembali.
Pasal 3
Tugas-tugas Caretaker Dewan Pengurus Komisariat.
(1) Mempersiapkan terbentuknya Dewan Pengurus Komisariat
definitif.
(2) Melakukan rekruitmen anggota.
(3) Melaksanakan Pekan Penerimaan Anggota Baru, teknis
pelaksanaannya dikoordinasikan dengan Dewan Pimpinan Cabang
setempat atau Dewan Pengurus Komisariat terdekat yang
disesuaikan dengan buku Panduan Organisasi.
(4) Menyelenggarakan Musyawarah Anggota Dewan Pengurus
Komisariat sesuai dengan AD/ART dan peraturan lainnya.
Pasal 4
Syarat Untuk Komisariat Definitif
(1) Memiliki minimal, 10 (sepuluh) anggota dan masing -
masing telah mengikuti Pekan Penerimaan Anggota Baru serta
telah mendapatkan pengesahan dari DPC
(2) Sudah melaksanakan Musyawarah Komisariat sesuat dengan
AD/ART.
(3) Menyerahkan berkas data keanggotaan Dewan Pengurus
Komisariat kepada Dewan Pimpinan Cabang.
(4) Dewan Pengurus Komisariat definitif disahkan oleh Dewan
Pimpinan Cabang berdasarkan laporan hasil Musyawarah
Komisariat yang dilengkapi dengan berita acara.
Pasal 5
Pembentukan Cabang Caretaker
(1) Dewan Pimpinan Cabang Caretaker dapat dibentuk dalam satu
wilayah kabupaten/kota yang sekurang-kurangnya terdapat 1 (satu)
perguruan tinggi atau Akademi/Sekolah Tinggi.
(2) Dewan Pimpinan Pusat/Dewan Pimpinan Daerah dapat menunjuk
personalia/tim untuk memfasilitasi pembentukan Dewan Pimpinan
Cabang Caretaker.
(3) Untuk memperlancar proses pembentukan Dewan Pimpinan
Cabang Caretaker, maka Dewan Pimpinan Daerah dapat
memberikan Surat Mandat kepada yang ditunjuk sesuai penjelasan
ayat 2 (dua).
(4) Terhitung setelah ditetapkannya Surat Mandat maka dalam
waktu 1 (satu) bulan Dewan Pimpinan Daerah wajib melaporkan
ke Dewan Pimpinan Pusat, selanjutnya diterbitkan SK DPC
Caretaker.
(5) Jika dalam wilayah pembentukan DPC Caretaker tidak ada Dewan
Pimpinan Daerah di tingkat Provinsi maka dapat berkoordinasi
dengan Dewan Pimpinan Pusat terkait teknis pembentukannya.
(6) Masa kepengurusan Dewan Pimpinan Cabang Caretaker minimal 6
(enam) bulan.
(7) Apabila selama masa kepengurusan ditetapkan, Dewan Pimpinan
Cabang Caretaker dalam jangka waktu maksimal 1 (satu) tahun
tidak dapat melaksanakan tugas-tugasnya maka Dewan Pimpinan
Pusat dapat melakukan peninjauan kembali terhadap status cabang
tersebut.
(8) Dewan Pimpinan Cabang Caretaker berada dalam pendampingan
dan pengawasan Dewan Pimpinan Pusat/Dewan Pimpinan Daerah.
Pasal 6
Tugas Dewan Pimpinan Cabang Caretaker
(1) Mempersiapkan terbentuknya Dewan Pimpinan Cabang definitif
(2) Membentuk Dewan Pengurus Komisariat – Dewan Pengurus
Komisariat definitif
(3) Menyiapkan data keanggotaan Cabang
(4) Melaksanakan Konferensi Cabang sesuai AD/ART serta peraturan
organisasi lainnya.
(5) Memimpin organisasi ditingkat cabang dan melakukan kebijakan
organisasi nasional yang dimandatkan oleh dewan Pimpinan Pusat.
Pasal 7
Wewenang Dewan Pimpinan Cabang Caretaker
Dalam hal mempersiapkan dan melaksanakan Konferensi Cabang
maka, Dewan Pimpinan Cabang Caretaker secara khusus dapat
mengesahkan Dewan Pengurus Komisariat Caretaker menjadi Dewan
Pengurus Komisariat definitif apabila telah memenuhi persyaratan.
Pasal 8
Syarat-syarat Dewan Pimpinan Cabang Definitif
(1) Telah terdapat 3 (tiga) Komisariat definitif (memenuhi persyaratan)
jika terdapat minimal 1 sampai 5 Perguruan
Tinggi/Akademi/fakultas pada Universitas/Jurusan pada Akademi
atau Sekolah Tinggi dalam satu 1 kabupaten/kota.
(2) Telah melaksanakan Pekan Penerimaan Anggota Baru (PPAB) dan
Kaderisasi Tingkat Dasar (KTD)
(3) Telah menyerahkan Data keanggotaan Cabang kepada
Dewan Pimpinan pusat.
(4) Telah melakukan Konferensi Cabang sesuai AD/ART serta
peraturan organisasi lainnya.
(5) Menyampaikan laporan hasil-hasil Konferensi Cabang
kepada Dewan Pimpinan Pusat.
(6) Dewan Pimpinan Cabang disahkan oleh Dewan Pimpinan Pusat
berdasarkan hasil-hasil laporan Konferensi Cabang dan berita acara
(7) Laporan berita acara diterima Dewan Pimpinan Pusat paling lambat
30 (tiga puluh) hari setelah pelaksanaan Konfercab.
Pasal 9
Pembentukan Dewan Pimpinan Daerah Carteker
1. Dewan Pimpinan Daerah Caretaker dapat dibentuk dalam satu
wilayah Provinsi dengan sekurang-kurangnya terdapat 1 (satu)
DPC Definitif.
2. Dewan Pimpinan Pusat dapat menunjuk personalia/tim untuk
memfasilitasi pembentukan Dewan Pimpinan Daerah Caretaker.
3. Untuk memperlancar proses pembentukan Dewan Pimpinan
Daerah Caretaker, maka Dewan Pimpinan Pusat dapat memberikan
Surat Mandat kepada yang ditunjuk sesuai penjelasan ayat 2 (dua).
4. Terhitung setelah ditetapkannya Surat Mandat maka dalam waktu
1 (satu) bulan Dewan Pimpinan Pusat wajib meneerbitkan SK
DPD Caretaker.
5. Masa kepengurusan Dewan Pimpinan Daerah Caretaker minimal 6
(enam) bulan.
6. Apabila selama masa kepengurusan ditetapkan, Dewan Pimpinan
Daerah Caretaker dalam jangka waktu maksimal 1 (satu) tahun
tidak dapat melaksanakan tugas-tugasnya maka Dewan Pimpinan
Pusat dapat melakukan peninjauan kembali terhadap status DPD
tersebut.
7. Dewan Pimpinan Daerah Caretaker berada dalam pendampingan
dan pengawasan Dewan Pimpinan Pusat.
Pasal 10
Tugas Dewan Pimpinan Daerah Caretaker
1) Mempersiapkan terbentuknya Dewan Pimpinan Daerah definitif
2) Membentuk DPC-DPC
3) Melaksanakan kaderisasi tingkat menengah (KTM)
4) Melaksanakan Konferensi Daerah sesuai AD/ART serta peraturan
organisasi lainnya.
5) Memimpin organisasi ditingkat Daerah dan melakukan kebijakan
organisasi nasional yang dimandatkan oleh dewan Pimpinan Pusat.
Pasal 11
Syarat-syarat Dewan Pimpinan Daerah Defenitif
(1) Telah terdapat 3 (tiga) DPC definitif.
(2) Telah menyerahkan Data keanggotaan Cabang kepada
Dewan Pimpinan pusat.
(3) Telah melakukan Konferensi Daerah sesuai AD/ART serta
peraturan organisasi lainnya.
(4) Menyampaikan laporan hasil-hasil Konferensi Daerah
kepada Dewan Pimpinan Pusat.
(5) Dewan Pimpinan Daerah disahkan oleh Dewan Pimpinan Pusat
berdasarkan hasil-hasil laporan Konferensi Daerah dan berita acara
(6) Laporan berita acara diterima Dewan Pimpinan Pusat paling lambat
30 (tiga puluh) hari setelah pelaksanaan Konferda.
BAB III
SANKSI
Pasal 12
Berdasarkan amanat Kongres serta hasil – hasil Kongres XX di
Minahasa, Sulawesi Utara menegaskan untuk melakukan konsolidasi
organisasi dengan membentuk Dewan Pimpinan Daerah, Dewan
Pimpinan Cabang dan Dewan Pengurus Komisariat. Merujuk dari
itulah, perlu adanya ketegasan dalam pelaksanannya. Jika dalam
upaya mengkonsolidasikan pengembangan organisasi ada pihak secara
struktural dan tidak objektif menghalang-halangi ataupun
menghambat proses pembentukan DPD, DPC dan DPK maka akan
diberikan sanksi sebagai berikut:
Pasal 13
1) Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan ini akan
diatur kemudian.
2) Ketentuan lain yang bertentangan dengan Anggaran Dasar,
Anggaran Rumah Tangga, hasil – hasil Kongres XX di Minahasa,
Sulawesi Utara dan Surat Keputusan Dewan Pimpinan Pusat GMNI
dinyatakan tidak berlaku.
3) Peraturan Dewan Pimpinan Pusat ini mengikat secara struktural di
semua tingkatan.
4) Peraturan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.
Ditetapkan : di Jakarta
Tanggal : 4 Juni 2 0 1 8
Pukul:00.40WIB
ttd ttd
Tentang
Mekanisme Penyelesaian Sengketa DPK,DPC dan DPD
Menimbang :
1. Bahwa demi kelancaran administrasi dan kerja organisasi
yang efektif dan efisien disemua tingkatan struktur maka
perlu adanya ketegasan secara organisatoris.
2. Bahwa untuk mewujudkan visi-misi organisasi dan
berlandaskan pada usulan – usulan dalam Kongres
ke XX Tahun 2017 di M i n a h a s a , Provinsi Sulawesi
Utara.
Mengingat :
[Link] Dasar Pasal 6 & 27
[Link] Rumah Tangga Pasal 29, 30, 31, 32,33,36 & 37
Memperhatikan :
1. Hasil- Rekomendasi Kongres XX Tahun 2017 di Minahasa,
Sulawesi Utara
2. Visi misi DPP GMNI tahun 2017 – 2019.
MEMUTUSKAN
Menetapkan :
PENYELESAIAN SENGKETA ATAU KONFLIK
DPK,DPC DAN DPD
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
(1) Sengketa organisasi merupakan suatu dinamika dalam
organisasi namun harus dipastikan merupakan dinamika yang
produktif serta masih dalam garis ideologi serta aturan aturan
organisasi.
(2) Penyelesaian sengketa adalah bagian dari ketegasan nilai atau
norma sesuai ketetapan Kongres XX tahun 2017 di Minahasa,
Provinsi Sulawesi Utara dalam menjalankan aktivitas
organisasi.
BAB II
DPK, DPC atau DPD
Pasal 2
Penyelesaian sengketa ditingkat DPK,DPC dan DPD dapat di
tindak lanjuti apabila memenuhi hal-hal sebagai berikut:
a) Terjadinya pelanggaran disiplin organisasi yang dilakukan
oleh anggota atau pengurus yang menimbulkan sengketa di
dalam kepengurusan
b) Terjadinya dualisme dalam struktur kepengurusan
c) Hal-hal yang dianggap mengancam keutuhan dan eksistensi
organisasi.
Pasal 3
Teknis Penyampaian laporan sengketa
Penyampian laporan sengketa di tiap-tiap hirarki struktur
organisasi harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a. Penjelasan kronologis sengketa
b. Penjelasan mengenai pihak-pihak yang bersengketa
Pasal 4
Mekanisme Penyelesaian sengketa DPK
(1) Mekanisme penyelesaian pelanggaran disiplin sesuai hierarki
organisasi (AD/ART),
(2) Dalam penyelesaian sengketa organisasi sesuai pasal du
akan dilakukan dengan melayangkan surat peringatan/teguran
pertama, kedua dan ketiga sesuai wewenang pada hierarki
organisasi.
(3) Yang dimaksud ayat dua (2) terhitung sejak bersangkutan
menerima surat peringatan pertama apabila dalam jangka
waktu 5 (lima) hari tidak dindahkan, maka akan dilanjutkan
surat peringatan berikutnya.
(4) Pengambilan keputusan sengketa D P K dilakukan oleh
Dewan Pimpinan Cabang dari DPK bersangkutan
Pasal 5
Mekanisme Penyelesaian sengketa DPC
1) Mekanisme penyelesaian pelanggaran disiplin sesuai hirerarki
organisasi (AD/ART),
2) Dalam penyelesaian sengketa organisasi sesuai pasal dua
akan dilakukan dengan melayangkan surat peringatan/teguran
pertama, kedua dan ketiga sesuai wewenang pada hierarki
organisasi.
3) Yang dimaksud ayat dua (2) terhitung sejak bersangkutan
menerima surat peringatan pertama apabila dalam jangka
waktu 5(lima) h a r i tidak dindahkan, maka akan dilanjutkan
surat peringatan berikutnya.
4) Pengambilan keputusan s e n g k e t a D P C dilakukan oleh
Dewan Pimpinan Pusat
Pasal 6
Mekanisme Penyelesaian sengketa DPD
(1) Mekanisme penyelesaian pelanggaran disiplin sesuai
hirerarki
organisasi (AD/ART),
(2)Dalam penyelesaian sengketa organisasi sesuai pasal dua
akan dilakukan dengan melayangkan surat
peringatan/teguran pertama, kedua dan ketiga sesuai
wewenang pada hierarki organisasi.
(3)Yang dimaksud ayat dua (2) terhitung sejak bersangkutan
menerima surat peringatan pertama apabila dalam jangka
waktu 5 (lima) h a r i tidak dindahkan, maka akan dilanjutkan
(4)Pengambilan keputusan s e n g k e t a D P D dilakukan oleh
Dewan Pimpinan Pusat
BAB III
Mekanisme teknis dalam penyelesaian sengketa DPK, DPC dan
DPD
Pasal 7
Mekanisme penyelesaian konflik DPK
(1) Surat peringatan tertulis diberikan oleh Dewan Pimpinan Cabang
terkait dari DPK bersangkutan
(2) Dewan Pengurus Komisariat bersangkutan akan diberi status
caretaker :
a. DPC GMNI terkait memberikan waktu selama 1 bulan agar
cabang yang bersangkutan menyelesaikan konflik yang terjadi.
(3) Jika pada ayat 2 diatas tidak terpenuhi maka DPC GMNI akan
membentuk tim investigasi sekaligus penengah. Selanjutnya
penyeleseaian konflik akan diambil oleh DPC GMNI dengan
mekanisme berikut :
a. Akan dibentuk tim bersama yang diketuai oleh salah satu
pengurus DPC GMNI dengan jumlah anggota sesuai kebutuhan.
b. Dilakukan verifikasi faktual dan aktual oleh tim seperti pada butir
a kepada masing masing pihak yang bersengketa.
c. Jika pada poin (b) telah dilakukan maka kemudian akan
ditetapkan sebagai DPK definitif berdasarkan verifikasi
seperti pada poin (b) diatas dan sesuai dengan AD/ART serta
ketetapan – ketetapan DPP GMNI dan aturan lainnya.
(4) Jika pada point 1 sampai 3 masih terjadi konflik atau sengketa maka
keputusan mutlak terletak pada surat keputusan DPC dari DPK
bersangkutan
Pasal 8
Mekanisme penyelesaian konflik DPC
(1) Surat peringatan tertulis diberikan oleh Dewan Pimpinan Pusat.
(2) Dewan pimpinan cabang yang bersangkutan akan diberi status
caretaker :
a. DPP GMNI memberikan waktu selama 1 bulan agar cabang
yang bersangkutan menyelesaikan konflik yang terjadi.
(3) Jika pada ayat 2 diatas tidak terpenuhi maka DPP GMNI
akan membentuk tim investigasi sekaligus penengah.
Selanjutnya penyeleseaian konflik akan diambil oleh DPP
GMNI dengan mekanisme berikut :
a. Akan dibentuk tim bersama yang diketuai oleh salah satu
pengurus DPP GMNI dengan jumlah anggota sesuai
kebutuhan.
b. Dilakukan verifikasi faktual dan aktual oleh tim seperti
pada butir a kepada masing masing pihak yang
bersengketa.
c. Jika pada poin (b) telah dilakukan maka kemudian akan
ditetapkan sebagai DPC definitif berdasarkan verifikasi
seperti pada poin (b) diatas dan sesuai dengan AD/ART
serta ketetapan – ketetapan DPP GMNI dan aturan lainnya.
(4) Jika pada point 1 sampai 3 masih terjadi konflik atau sengketa
maka keputusan mutlak terletak pada surat keputusan DPP
GMNI.
Pasal 9
Mekanisme penyelesaian konflik DPD
(1) Surat peringatan tertulis diberikan oleh Dewan Pimpinan
Pusat.
(2) Dewan Pimpinan Daerah yang bersangkutan akan diberi status
caretaker :
a. DPP GMNI memberikan waktu selama 1 bulan agar DPD
yang bersangkutan menyelesaikan konflik yang terjadi.
(3) Jika pada ayat 2 diatas tidak terpenuhi maka DPP GMNI akan
membentuk tim investigasi sekaligus penengah. Selanjutnya
penyeleseaian konflik akan diambil oleh DPP GMNI dengan
mekanisme berikut :
a. Akan dibentuk tim bersama yang diketuai oleh salah satu
pengurus DPP GMNI dengan jumlah anggota sesuai
kebutuhan.
b. Dilakukan verifikasi faktual dan aktual oleh team seperti
pada butir a kepada masing masing pihak yang bersengketa.
c. Jika pada poin (b) telah dilakukan maka kemudian akan
ditetapkan sebagai DPD definitif berdasarkan verifikasi
seperti pada poin (b) diatas dan sesuai dengan AD/ART
serta ketetapan – ketetapan DPP GMNI dan aturan lainnya.
(4) Jika pada poin 1 sampai 3 masih terjadi konflik atau sengketa
maka keputusan mutlak terletak pada surat keputusan DPP
GMNI.
BAB IV
KETENTUAN PENUTUP
(1) Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan ini akan diatur
kemudian.
(2) Ketentuan lain yang bertentangan dengan Anggaran Dasar,
Anggaran Rumah Tangga, hasil – hasil Kongres XX di
Minahasa, Sulawesi Utara dan Surat Keputusan Dewan
Pimpinan Pusat GMNI dinyatakan tidak berlaku.
(3) Peraturan Dewan Pimpinan Pusat ini mengikat secara struktural
disemua tingkatan.
(4) Peraturan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.
Ditetapkan: di Jakarta
Tanggal : 05 Juni 2018
Pukul : 16.40 WIB
Ttd Ttd
Tentang
PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN PERMUSYAWARATAN
ORGANISASI
Menimbang :
1. Bahwa regenerasi dan kaderisasi merupakan tanggung jawab
organisatoris sesuai dengan amanat Kongres
2. Bahwa untuk memperjelas ketentuan-ketentuan permusyawaratan
organisasi, maka dipandang perlu untuk menerbitkan peraturan
presidium, sehingga seluruh anggota dapat memiliki pemahaman yang
sama terhadap dinamika organisasi untuk mencapai tujuan perjuangan.
3. Bahwa penataan dan pengembangan organisasi perlu dilakukan secara
menyeluruh untuk mencapai tujuan pokok organisasi, maka
perlu diatur secara teknis
Mengingat :
1. Anggaran Dasar, pasal 8, 10, 11, 12, 13, 17, 18, 19, 21, 24
2. Anggaran Rumah Tangga, pasal 11, 12, 13, 14, 16, 17, 23, 24, 27, 36
dan 37
Memperhatikan :
1. Hasil Kongres GMNI XX Tahun 2017 di Minahasa, Sulawesi Utara
2. Hasil Rapat Pleno DPP GMNI Periode 2017 -2019
MEMUTUSKAN
Menetapkan :
PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN PERMUSYAWARATAN
ORGANISASI
BAB I
KONGRES
Pasal 1
Penyelenggaraan
(1) Penyelenggara Kongres adalah DPP
(2) Dewan Pimpinan Pusat dapat membentuk Kepanitian sebagai
pelaksana kongres di sebut (Badan Pekerja Kongres)
(3) Badan Pekerja Kongres terdiri dari panitia nasional dan panitia lokal
yang disahkan oleh DPP.
(4) Badan Pekerja Kongres berkewajian untuk
menyampikan pemberitahuan dan undangan kepada
DPC/DPD.
Pasal 2
Kelengkapan
(1) Peserta Kongres adalah utusan dari Kepengurusan DPD/DPC
definitif dan jumlahnya ditetapkan oleh Badan Pekerja Kongres.
(2) Peninjau Kongres adalah :
a. Pengurus DPP
b. DPD/DPC Carateker yang jumlahnya di tetpkan oleh Badan
Pekerja Kongres
c. Undangan ditentukan oleh Badan Pekerja Kongres.
Pasal 3
Agenda dan Materi
(1) Agenda Kongres meliputi sekurang-kurangnya :
a. Opening ceremony (acara pembukaan) :
1. Menyanyikan lagu Indonesia Raya
2. Menyanyikan Mars GMNI
3. Mengheningkan Cipta
4. Pembacaan teks Pancasila
5. Laporan Badan Pekerja Kongres
6. Sambutan Ketua umum DPP GMNI
7. Sambutan – s a m b ut a n l a i n (tidak bersifat mengikat)
8. Sambutan dan pembukaan Kongres
9. Acara tambahan, (tidak mengikat)
(2) Materi Persidangan Kongres .
a. Pleno I meliputi :
1. Pengesahan peserta dan peninjau Kongres (berdasarkan surat
mandat DPD/DPC)
2. Pembahasan dan pengesahan agenda sidang
3. Pembahasan dan pengesahan tata tertib
4. Pemilihan pimpinan sidang pleno
b. Pleno II meliputi :
1. Pembacaan dan pembahasan LPJ
2. LPJ meliputi : Pengantar, program atau kegiatan, keuangan,
perkembangan organisasi, aktifitas politik atau eksteren,
surat menyurat/administrasi, rekomendasi (bila dipandang
perlu), dll
3. Pandangan Umum dan Penilaian DPD/ DPC defenitif
4. Pandangan umun di sampaikan DPD/DPC Carteker
5. Pengesahan LPJ sekaligus pendemisioneran DPP.
c. Pleno III meliputi :
1. Pembagian komisi : Komisi program dan kaderisasi, komisi
organisasi, dan komisi politik.
2. Pemilihan pimpinan sidang komisi : dipilih dalam sidang pleno
3. Sidang komisi yang meliputi :
a) Komisi Program dan kaderisasi bertugas untuk
merumuskan program umum O r g a n i s a s i dan
pembahasan mengenai perkembangan kualitas dan kuantitas
anggota DPD/DPC dan program pengembangan organisasi.
b) Komisi organisasi membahas pengembangan organisasi,
mekanisme/pola hubungan DPP dengan DPD,DPC,DPK
secara administrasi, dan lain-lain.
c) Komisi Politik membahas sikap politik Organisasi secara
nasional,program perjuangan organisasi, pemetaan politik,
peluang aliansi strategis dan aliansi taktis, ideologisasi
gerakan, dan lain-lain.
d) Pembacaan dan pengesahan hasil sidang komisi
d. Pleno IV meliputi :
1. Pembahasan dan pengesahan hasil siding komisi
2. Pemilihan dan penetapan tuan rumah RAPIMNAS dan
Kongres
3. Pemilihan dan penetapan ketua umum dan sekjen DPP
Selanjutnya
4. Pemilihan dan penetapan Tim Formatur
5. Sambutan Ketua Umum DPP atau yang dimandatkan sekaligus
menutup kongres (kondisional).
BAB II
KONGRES LUAR BIASA
Pasal 4
Penyelenggaraan
1. Penyelenggara Kongres Luar Biasa adalah DPP setelah di tetapkan
dalam forum rapimnas
2. Dewan Pimpinan Pusat dapat membentuk Kepanitian sebagai
pelaksana kongres luar biasa di sebut (Badan Pekerja Kongres luar
biasa)
3. Badan Pekerja Kongres luar biasa terdiri dari panitia nasional dan
panitia lokal yang disahkan oleh DPP.
4. Badan Pekerja Kongres luar biasa berkewajian untuk
menyampikan pemberitahuan dan undangan kepada DPC/DPD.
Pasal 5
Kelengkapan
1. Peserta Kongres luar biasa adalah utusan dari Kepengurusan
DPD/DPC definitif dan jumlahnya ditetapkan oleh Badan Pekerja
Kongres luar biasa.
2. Peninjau Kongres luar biasa adalah :
a. Pengurus DPP
b. DPD/DPC Carateker yang jumlahnya di tetpkan oleh Badan
Pekerja Kongres luar biasa
c. Undangan ditentukan oleh Badan Pekerja Kongres luar biasa
Pasal 6
Keabsahan
1. Kongres luar biasa di anggap sah apabila telah memenuhi:
a) Organisasi dalam keadaan darurat yang dinilai dapat mengancam
eksistensi dan keutuhan organisasi
b) Mendapat persetujuan minimal 2/3 jumlah DPD/DPC Defenitif
c) Mendapat persujuan 1/2n+1 pengurus DPP GMNI
2. Pelaksaana Kongres luar biasa di tetapkan melalui Rapimnas
Pasal 7
Agenda pelaksanaan dan materi Kongres Luar Biasa disesuaikan dengan
kebutuhan penyelenggara
Pasal 8
1. Agenda Kongres meliputi sekurang-kurangnya :
a. Opening ceremony (acara pembukaan) :
1. Menyanyikan lagu Indonesia Raya
2. Menyanyikan Mars GMNI
3. Mengheningkan Cipta
4. Pembacaan teks Pancasila
5. Laporan Badan Pekerja Kongres
6. Sambutan Ketua umum DPP GMNI
7. Sambutan – s a m b ut a n l a i n (tidak bersifat mengikat)
8. Sambutan dan pembukaan Kongres
9. Acara tambahan, (tidak mengikat)
b. Materi Persidangan Kongres Pleno I meliputi :
1. Pengesahan peserta dan peninjau Kongres (berdasarkan surat
mandat DPD/DPC)
2. Pembahasan dan pengesahan agenda sidang
3. Pembahasan dan pengesahan tata tertib
4. Pemilihan pimpinan sidang pleno
c. Pleno II meliputi :
1. Pembacaan dan pembahasan LPJ
2. LPJ meliputi : Pengantar, program atau kegiatan, keuangan,
perkembangan organisasi, aktifitas politik atau eksteren,
surat menyurat/administrasi, rekomendasi (bila dipandang
perlu), dll
3. Pandangan Umum dan Penilaian DPD/ DPC defenitif
4. Pandangan umun di sampaikan DPD/DPC Carteker
5. Pengesahan LPJ sekaligus pendemisioneran DPP.
d. Pleno III meliputi :
1. Pembagian komisi : Komisi program dan kaderisasi, komisi
organisasi, dan komisi politik.
2. Pemilihan pimpinan sidang komisi : dipilih dalam sidang pleno
3. Sidang komisi yang meliputi :
4. Komisi Program dan kaderisasi bertugas untuk
5. merumuskan program umum O r g a n i s a s i dan pembahasan
mengenai perkembangan kualitas dan kuantitas anggota
DPD/DPC dan program pengembangan organisasi.
6. Komisi organisasi membahas pengembangan organisasi,
mekanisme/pola hubungan DPP dengan DPD,DPC,DPK
secara administrasi, dan lain-lain.
7. Komisi Politik membahas sikap politik Organisasi secara
nasional,program perjuangan organisasi, pemetaan politik,
peluang aliansi strategis dan aliansi taktis, ideologisasi
gerakan, dan lain-lain.
8. Pembacaan dan pengesahan hasil sidang komisi
e. Pleno IV meliputi :
1. Pemilihan dan penetapan tuan rumah RAPIMNAS dan
Kongres
2. Pemilihan dan penetapan ketua umum dan sekjen DPP
Selanjutnya
3. Pemilihan dan penetapan Tim Formatur
4. Sambutan Ketua Umum DPP atau yang dimandatkan sekaligus
menutup kongres (kondisional).
BAB III
RAPIMNAS
Pasal 9
Penyelenggaraan
1. Penyelenggara Rapimnas adalah DPP.
2. Dewan Pimpinan Pusat dapat membentuk Kepanitian sebagai
pelaksana Rapimnas di sebut (Badan Pekerja Rapimnas)
3. Badan Pekerja Rapimnas terdiri dari panitia nasional dan panitia
lokal yang disahkan oleh DPP.
4. Badan Pekerja Rapimnas berkewajian untuk menyampikan
pemberitahuan dan undangan kepada DPC/DPD.
Pasal 10
Kelengkapan
1. Peserta Rapimnas adalah utusan dari Kepengurusan DPD/DPC
definitif dan jumlahnya ditetapkan oleh Badan Pekerja Rapimnas.
2. Peninjau Rapimnas adalah :
a. Pengurus DPP
b. DPD/DPC Carateker yang jumlahnya di tetpkan oleh Badan
Pekerja Rapimnas.
c. Undangan ditentukan oleh Badan Pekerja Rapimnas.
Pasal 11
Agenda dan Materi
1. Agenda Rapimnas meliputi sekurang-kurangnya :
a. Opening ceremony (acara pembukaan) :
1. Menyanyikan lagu Indonesia Raya
2. Menyanyikan Mars GMNI
3. Mengheningkan Cipta
4. Pembacaan teks Pancasila
5. Laporan Badan Pekerja Rapimnas
6. Sambutan Ketua umum DPP GMNI
7. Sambutan – s a m b ut a n l a i n (tidak bersifat mengikat)
8. Sambutan dan pembukaan Rapimnas
9. Acara tambahan, (tidak mengikat)
2. Materi Persidangan Rapimnas :
a. Pleno I meliputi :
a. Pengesahan peserta dan peninjau Rapimnas (berdasarkan
surat mandat DPD/DPC)
b. Pembahasan dan pengesahan agenda sidang
c. Pembahasan dan pengesahan tata tertib
d. Pimpinan sidang pleno di pimpin langsung oleh DPP
b. Pleno II meliputi :
a) Pembacaan dan pembahasan Progres Report
b) Progres Report meliputi : Pengantar, program atau
kegiatan, keuangan, perkembangan organisasi, aktifitas
politik atau eksteren, surat menyurat/administrasi,
rekomendasi (bila dipandang perlu), dll
c) Penyampaian progres report DPD/DPC
Defenitif/Carteker
d) Pengesahan Progres report
c. Pleno III meliputi :
a. Pembagian komisi : Komisi program dan kaderisasi,
komisi organisasi, dan komisi politik.
b. Pimpinan sidang komisi : Dipimpin oleh DPP yang
bersangkutan
c. Sidang komisi yang meliputi :
a. Komisi Program dan kaderisasi bertugas untuk
merumuskan program umum O r g a n i s a s i dan
pembahasan mengenai perkembangan kualitas dan
kuantitas anggota DPD/DPC dan program
pengembangan organisasi.
b. Komisi organisasi membahas pengembangan
organisasi, mekanisme/pola hubungan DPP dengan
DPD,DPC,DPK secara administrasi, dan lain-lain.
c. Komisi Politik membahas sikap politik
Organisasi secara nasional, program perjuangan
organisasi, pemetaan politik, peluang aliansi
strategis dan aliansi taktis, ideologisasi gerakan, dan
lain-lain.
d. Pembacaan dan pengesahan hasil sidang komisi
d. Pleno IV meliputi :
a) Sambutan Ketua Umum DPP dan sekaligus menutup
Rapimnas
BAB IV
KONFERENSI DAERAH
Pasal 12
Penyelenggaraan
(1) Pelaksana penyelenggaraan adalah DPD
(2) Konferda dianggap sah bila memenuhi 2/3 jumlah DPC definitive
berdasarkan rekapitulasi data terakhir Dewan Pimpinan Daerah.
(3) Konferda diselenggarakan dengan tujuan :
a. Terbentuknya DPD Defenitif
b. Evaluasi kinerja pengurus DPD
c. Penilaian kinerja DPC
d. Merumuskan dan menetapkan program DPD serta
pengusulan nama-nama calon pengurus DPD.
(4) Pemberitahuan pelaksanaan Konferda kepada DPP paling
lambat 7 (tujuh) hari sebelum pelaksanaan konferda.
(5) Surat pemberitahuan konferda kepada DPP harus dilampirkan
dengan data jumlah DPC.
(6) Pelaksanaan Konferda wajib dibuka oleh DPP atau yang
dimandatkan Oleh DPP
Pasal 13
Kelengkapan
1) Peserta Konferda adalah utusan dari Kepengurusan DPC definitif
dan jumlahnya ditetapkan oleh Panitia konferda.
2) Peninjau Konferda adalah :
a. Pengurus DPD
b. DPP GMNI
c. Undangan ditentukan oleh Panitia Konferda.
Pasal 14
Agenda dan Materi
Agenda Konferda meliputi sekurang-kurangnya :
a. Opening ceremony (acara pembukaan) :
1. Menyanyikan lagu Indonesia Raya
2. Menyanyikan Mars GMNI
3. Mengheningkan Cipta
4. Pembacaan teks Pancasila
5. Laporan Badan Pekerja Rapimnas
6. Sambutan Ketua umum DPP GMNI
7. Sambutan – s a m b ut a n l a i n (tidak bersifat mengikat)
8. Sambutan dan pembukaan Rapimnas
9. Acara tambahan, (tidak mengikat)
b. Materi Persidangan Konferda :
a. Pleno I meliputi :
• Pengesahan peserta Konferda (berdasarkan surat mandat
DPC)
• Pembahasan dan pengesahan agenda sidang
• Pembahasan dan pengesahan tata tertib
• Pemilihan pimpinan sidang pleno
b. Pleno II meliputi :
• Pembacaan dan pembahasan LPJ
• LPJ meliputi : Pengantar, program atau kegiatan, keuangan,
perkembangan organisasi, aktifitas politik atau eksteren,
surat menyurat/administrasi, rekomendasi (bila dipandang
perlu), dll
• Pandangan Umum DPC.
• Pengesahan LPJ sekaligus pendemisioneran DPD.
c. Pleno III meliputi :
• Pembagian komisi : Komisi program dan kaderisasi,
komisi organisasi, dan komisi politik.
• Pemilihan pimpinan sidang komisi : dipilih dalam sidang
pleno. Sidang komisi yang meliputi :
a. Komisi Program dan kaderisasi bertugas untuk
merumuskan program umum O r g a n i s a s i dan
pembahasan mengenai perkembangan kualitas dan
kuantitas anggota DPD/DPC dan program
pengembangan organisasi.
b. Komisi organisasi membahas pengembangan
organisasi, mekanisme/pola hubungan DPD dengan
DPC dan DPK secara administrasi, dan lain-lain.
c. Komisi Politik membahas sikap politik
Organisasi, program perjuangan organisasi,
pemetaan politik, peluang aliansi strategis dan
aliansi taktis, ideologisasi gerakan, dan lain- lain.
d. Pembacaan dan pengesahan hasil sidang komisi
d. Pleno IV meliputi :
1) Pemilihan dan penetapan ketua dan sekretaris DPD Selanjutnya
2) Pemilihan dan penetapan Tim Formatur
3) Sambutan Ketua DPD atau yang dimandatkan sekaligus
menutup Konferda (kondisional).
4) Sambutan DPP atau yang dimandatkan sekaligus menutup
konferda (kondisional).
BAB V
KONFERDA LUAR BIASA
Pasal 15
Penyelenggaraan
1. Penyelenggara Konferda Luar Biasa adalah DPD setelah di tetapkan
dalam forum rapimda
2. Dewan Pimpinan Daerah dapat membentuk Kepanitian sebagai
pelaksana Konferda luar biasa di sebut (Panitia Konferda luar biasa)
3. Panitia Konferda luar biasa terdiri dari panitia yang disahkan oleh
DPD.
4. Panitia Konferda luar biasa berkewajian untuk menyampikan
pemberitahuan dan undangan kepada DPC.
Pasal 16
Kelengkapan
1. Peserta Konferda luar biasa adalah utusan dari Kepengurusan DPC
definitif dan jumlahnya ditetapkan oleh Panitia Konferda luar biasa.
2. Peninjau Konferda luar biasa adalah :
a. Pengurus DPD
b. DPC Carateker yang jumlahnya di tetpkan oleh panitia
Konferda luar biasa
c. DPP GMNI
d. Undangan ditentukan oleh Panitia konferda luar biasa.
Pasal 17
Keabsahan
1. Konferda luar biasa di anggap sah apabila telah memenuhi:
a. Organisasi dalam keadaan darurat yang dinilai dapat
mengancam eksistensi dan keutuhan organisasi
b. Mendapat persetujuan minimal 2/3 jumlah DPC Defenitif
c. Mendapat persujuan 1/2n+1 pengurus DPDGMNI
2. Pelaksaana Konferda luar biasa di tetapkan melalui Rapimda
Pasal 18
Agenda dan Materi
Agenda Konferda Luar Biasa meliputi sekurang-kurangnya :
a) Opening ceremony (acara pembukaan) :
1) Menyanyikan lagu Indonesia Raya
2) Menyanyikan Mars GMNI
3) Mengheningkan Cipta
4) Pembacaan teks Pancasila
5) Laporan Panitia Konferda Luar biasa
6) Sambutan Ketua DPP GMNI
7) Sambutan – s a m b ut a n l a i n (tidak bersifat
mengikat)
8) Sambutan dan pembukaan Kongres
9) Acara tambahan, (tidak mengikat)
b) Materi Persidangan Konferda Luar Biasa.
1. Pleno I meliputi :
a. Pengesahan peserta dan peninjau Konferda Luar Biasa
(berdasarkan surat mandat DPC)
b. Pembahasan dan pengesahan agenda sidang
c. Pembahasan dan pengesahan tata tertib
d. Pimpinan sidang pleno di pimpin DPD
2. Pleno II meliputi :
a. Pembacaan dan pembahasan LPJ
b. LPJ meliputi : Pengantar, program atau kegiatan,
keuangan, perkembangan organisasi, aktifitas politik
atau eksteren, surat menyurat/administrasi, rekomendasi
(bila dipandang perlu), dll
c. Pandangan Umum dan Penilaian DPC defenitif
d. Pandangan umun di sampaikan DPC Carteker
e. Pengesahan LPJ sekaligus pendemisioneran DPD.
3. Pleno III meliputi :
a. Pembagian komisi : Komisi program dan kaderisasi,
komisi organisasi, dan komisi politik.
b. Pimpinan sidang komisi : dipimpin oleh DPD
c. Sidang komisi yang meliputi :
a. Komisi Program dan kaderisasi bertugas untuk
merumuskan program umum O r g a n i s a s i dan
pembahasan mengenai perkembangan kualitas dan
kuantitas anggota DPD/DPC dan program
pengembangan organisasi.
b. Komisi organisasi membahas pengembangan
organisasi, mekanisme/pola hubungan
DPD,DPC,DPK secara administrasi, dan lain-lain.
c. Komisi Politik membahas sikap politik Organisasi
secara nasional,program perjuangan organisasi,
pemetaan politik, peluang aliansi strategis dan aliansi
taktis, ideologisasi gerakan, dan lain-lain.
d. Pembacaan dan pengesahan hasil sidang komisi
4. Pleno IV meliputi :
a. Pemilihan dan penetapan ketua dan sekretaris DPD
Selanjutnya
b. Pemilihan dan penetapan Tim Formatur
c. Sambutan Ketua DPD atau yang dimandatkan sekaligus
menutup Konferda luar biasa (kondisional).
BAB VI
RAPIMDA
Pasal 19
Penyelenggaraan
1) Penyelenggara Rapimda adalah DPD.
2) Dewan Pimpinan Daerah dapat membentuk Kepanitian sebagai
pelaksana Rapimda di sebut (Panitia Rapimda)
3) Panitia Rapimda terdiri dari panitia Daerah yang disahkan oleh
DPD.
4) Panitia Rapimda berkewajian untuk menyampikan pemberitahuan
dan undangan kepada DPC.
Pasal 20
Kelengkapan
1. Peserta Rapimda adalah utusan dari Kepengurusan DPC definitif dan
jumlahnya ditetapkan oleh Panitia Rapimda
2. Peninjau Rapimda adalah :
a) Pengurus DPD
b) DPC Carateker yang jumlahnya di tetpkan oleh Panitia Rapimda
c) Undangan ditentukan oleh Panitia Rapimda Rapimda.
Pasal 21
Agenda dan Materi
1. Agenda Rapimda meliputi sekurang-kurangnya :
1) Opening ceremony (acara pembukaan) :
a. Menyanyikan lagu Indonesia Raya
b. Menyanyikan Mars GMNI
c. Mengheningkan Cipta
d. Pembacaan teks Pancasila
e. Laporan Panitia Rapimda
f. Sambutan DPP GMNI
g. Sambutan – s a m b ut a n l a i n (tidak bersifat mengikat)
h. Sambutan dan pembukaan Rapimda
i. Acara tambahan, (tidak mengikat)
2) Materi Persidangan Rapimda .
1. Pleno I meliputi :
a) Pengesahan peserta dan peninjau Rapimda
(berdasarkan surat mandat DPC)
b) Pembahasan dan pengesahan agenda sidang
c) Pembahasan dan pengesahan tata tertib
d) Pimpinan sidang pleno di pimpin langsung oleh
DPD
2. Pleno II meliputi :
a. Pembacaan dan pembahasan Progres Report
b. Progres Report meliputi : Pengantar, program atau
kegiatan, keuangan, perkembangan organisasi, aktifitas
politik atau eksteren, surat menyurat/administrasi,
rekomendasi (bila dipandang perlu), dll
c. Penyampaian progres report DPC Defenitif/Carteker
d. Pengesahan Progres report
3. Pleno III meliputi :
a. Pembagian komisi : Komisi program dan kaderisasi,
komisi organisasi, dan komisi politik.
b. Pimpinan sidang komisi : Dipimpin oleh DPD yang
bersangkutan
c. Sidang komisi yang meliputi :
a. Komisi Program dan kaderisasi bertugas untuk
merumuskan program umum O r g a n i s a s i dan
pembahasan mengenai perkembangan kualitas dan
kuantitas anggota DPD/DPC dan program
pengembangan organisasi.
b. Komisi organisasi membahas pengembangan
organisasi, mekanisme/pola hubungan
DPD,DPC,DPK secara administrasi, dan lain-lain.
c. Komisi Politik membahas sikap politik Organisasi
secara nasional,program perjuangan organisasi,
pemetaan politik, peluang aliansi strategis dan
aliansi taktis, ideologisasi gerakan, dan lain-lain.
d. Pembacaan dan pengesahan hasil sidang komisi
4. Pleno IV meliputi :
a. Sambutan DPP atau yang dimandatkan sekaligus menutup
Rapimda
BAB VII
KONFERCAB
Pasal 22
Penyelenggaraan
(1) Penyelenggara KONFERCAB adalah DPC
(2) DPC dapat membentuk Panitia KONFERCAB
(3) Konfercab dianggap sah bila memenuhi 2/3 jumlah DPK
definitif berdasarkan rekapitulasi data terakhir Dewan
Pimpinan Daerah.
(4) Konfercab diselenggarakan dengan tujuan :
a. Terbentuknya DPC defenitif
b. Evaluasi kinerja pengurus DPC
c. Merumuskan dan menetapkan program DPC serta
pengusulan nama-nama calon pengurus DPD.
(5) Pemberitahuan pelaksanaan Konfercab kepada DPP paling
lambat 7 (tujuh) hari sebelum pelaksanaan konfercab
(6) Surat pemberitahuan konfercab kepada DPP harus
dilampirkan dengan data jumlah DPK
(7) Pelaksanaan Konfercab wajib dibuka oleh DPP atau DPD
dengan menerima surat tugas dari DPP
Pasal 23
Kelengkapan
1) Peserta Konfercab adalah utusan dari Kepengurusan DPK definitive
dan jumlahnya ditetapkan oleh Panitia Konfercab.
2) Peninjau Konfercab adalah :
a) Pengurus DPC
b) DPK Carateker yang jumlahnya di tetpkan oleh Panitia Konfercab
c) Undangan ditentukan oleh Panitia Konfercab.
3) Agenda Konfercab meliputi sekurang-kurangnya :
a) Opening ceremony (acara pembukaan) :
1. Menyanyikan lagu Indonesia Raya
2. Menyanyikan Mars GMNI
3. Mengheningkan Cipta
4. Pembacaan teks Pancasila
5. Laporan Panitia Konfercab
6. Sambutan Ketua DPC GMNI
7. Sambutan – s a m b ut a n l a i n (tidak bersifat mengikat)
8. Sambutan DPP atau yang dimandatkan dan Sekaligus
Membuka Konfercab
9. Acara tambahan, (tidak mengikat)
b) Materi Persidangan Konfercab :
1) Pleno I meliputi :
a) Pengesahan peserta dan peninjau Konfercab
(berdasarkan surat mandat DPK)
b) Pembahasan dan pengesahan agenda sidang
c) Pembahasan dan pengesahan tata tertib
d) Pemilihan pimpinan sidang pleno
2) Pleno II meliputi :
a) Pembacaan dan pembahasan LPJ
b) LPJ meliputi : Pengantar, program atau kegiatan,
keuangan, perkembangan organisasi, aktifitas
politik atau eksteren, surat menyurat/administrasi,
rekomendasi (bila dipandang perlu), dll
c) Pandangan Umum dan Penilaian DPK defenitif
d) Pandangan umun di sampaikan DPK Carteker
e) Pengesahan LPJ sekaligus pendemisioneran DPK.
3) Pleno III meliputi :
1) Pembagian komisi : Komisi program dan kaderisasi,
komisi organisasi, dan komisi politik.
2) Pemilihan pimpinan sidang komisi : dipilih dalam
sidang pleno
3) Sidang komisi yang meliputi :
a. Komisi Program dan kaderisasi bertugas
untuk merumuskan program umum Orgasisasi
dan pembahasan mengenai perkembangan
kualitas dan kuantitas anggota DPC/DPK dan
program pengembangan organisasi.
b. Komisi organisasi membahas pengembangan
organisasi, mekanisme/pola hubungan
DPC,DPK secara administrasi, dan lain-lain.
c. Komisi Politik membahas sikap politik
Organisasi secara nasional,program perjuangan
organisasi, pemetaan politik, peluang aliansi
strategis dan aliansi taktis, ideologisasi gerakan,
dan lain-lain.
d. Pembacaan dan pengesahan hasil sidang komisi
4) Pleno IV meliputi :
a) Pemilihan dan penetapan RAPIMCAB
b) Pemilihan dan penetapan ketua dan sekretaris DPC
Selanjutnya
c) Pemilihan dan penetapan Tim Formatur
d) Sambutan Ketua DPC atau yang dimandatkan
sekaligus menutup konfercab (kondisional).
4) Kriteria Pengurus DPC harus sudah dinyatakan lulus Kaderisasi
Tingkat Dasar (KTD) dan harus menjadi pengurus di komisariat asal.
BAB VIII
KONFERCAB LUAR BIASA
Pasal 24
Penyelenggaraan
1. Penyelenggara Konfercab Luar Biasa adalah DPC setelah di tetapkan
dalam forum rapimcab
2. Dewan Pimpinan Cabang dapat membentuk Kepanitian sebagai
pelaksana Konfercab luar biasa di sebut (Panitia Konfercab luar
biasa)
3. Panitia Konfercab luar biasa terdiri dari panitia yang disahkan oleh
DPC.
4. Panitia Konfercab luar biasa berkewajian untuk menyampikan
pemberitahuan dan undangan kepada DPK.
Pasal 25
Kelengkapan
1. Peserta Konfercab luar biasa adalah utusan dari Kepengurusan DPK
definitif dan jumlahnya ditetapkan oleh Panitia Konfercab luar biasa.
2. Peninjau Konfercab luar biasa adalah :
a. Pengurus DPC
b. DPK Carateker yang jumlahnya di tetpkan oleh panitia
Konfercab luar biasa
c. Undangan ditentukan oleh Panitia konfercab luar biasa.
Pasal 26
Keabsahan
1. Konfercab luar biasa di anggap sah apabila telah memenuhi:
a) Organisasi dalam keadaan darurat yang dinilai dapat
mengancam eksistensi dan keutuhan organisasi
b) Mendapat persetujuan minimal 2/3 jumlah DPK Defenitif
c) Mendapat persujuan 1/2n+1 pengurus DPC GMNI
2. Pelaksaana Konfercab luar biasa di tetapkan melalui Rapimcab
Pasal 27
Agenda dan Materi
Agenda Konfercab Luar Biasa meliputi sekurang-kurangnya :
a. Opening ceremony (acara pembukaan) :
1. Menyanyikan lagu Indonesia Raya
2. Menyanyikan Mars GMNI
3. Mengheningkan Cipta
4. Pembacaan teks Pancasila
5. Laporan Panitia Konfercab Luar biasa
6. Sambutan Ketua DPC GMNI
7. Sambutan – sambutan lain (tidak bersifat mengikat)
8. Sambutan ketua DPC sekaligus membuka
9. Acara tambahan, (tidak mengikat)
b. Materi Persidangan Konfercab Luar Biasa.
1) Pleno I meliputi :
1. Pengesahan peserta dan peninjau Konfercab Luar
Biasa (berdasarkan surat mandat DPK)
2. Pembahasan dan pengesahan agenda sidang
3. Pembahasan dan pengesahan tata tertib
4. Pimpinan sidang pleno di pimpin DPC
2) Pleno II meliputi :
1. Pembacaan dan pembahasan laporan Latar Belakang
diseleggarakannya Konfercab Luar biasa
2. Pandangan Umum dan Penilaian DPK defenitif
3. Pengesahan laporan sekaligus pendemisioneran DPC.
3) Pleno III meliputi :
a. Pembagian komisi : Komisi program dan kaderisasi,
komisi organisasi, dan komisi politik.
b. Pimpinan sidang komisi : dipimpin oleh DPC
c. Sidang komisi yang meliputi :
1) Komisi Program dan kaderisasi bertugas untuk
merumuskan program umum O r g a n i s a s i
dan pembahasan mengenai perkembangan
kualitas dan kuantitas anggota DPC/DPK dan
program pengembangan organisasi.
2) Komisi organisasi membahas pengembangan
organisasi, mekanisme/pola hubungan DPC,DPK
secara administrasi, dan lain-lain.
3) Komisi Politik membahas sikap politik
Organisasi secara nasional,program perjuangan
organisasi, pemetaan politik, peluang aliansi
strategis dan aliansi taktis, ideologisasi gerakan,
dan lain-lain.
4) Pembacaan dan pengesahan hasil sidang komisi
4) Pleno IV meliputi :
a. Pemilihan dan penetapan ketua dan sekretaris DPC
b. Pemilihan dan penetapan Tim Formatur
c. Sambutan Ketua DPC atau yang dimandatkan
sekaligus menutup Konfercab luar biasa
(kondisional).
BAB IX
RAPIMCAB
Pasal 28
Penyelenggaraan
1. Penyelenggara Rapimcab adalah DPC.
2. Dewan Pimpinan Cabang dapat membentuk Kepanitian sebagai
pelaksana Rapimcab di sebut (Panitia Rapimcab)
3. Panitia Rapimcab terdiri dari panitia dari asal cabang masing-masing
yang disahkan oleh DPC.
4. Panitia Rapimcab berkewajian untuk menyampikan pemberitahuan
dan undangan kepada DPK.
Pasal 29
Kelengkapan
1) Peserta Rapimcab adalah utusan dari Kepengurusan DPK definitif
dan jumlahnya ditetapkan oleh Panitia Rapimcab
2) Peninjau Rapimcab adalah :
a. Pengurus DPC
b. DPK Carateker yang jumlahnya di tetpkan oleh Panitia Rapimcab
c. Undangan ditentukan oleh Panitia Rapimcab.
Pasal 30
Agenda dan Materi
Agenda Rapimcab meliputi sekurang-kurangnya :
A. Opening ceremony (acara pembukaan) :
1. Menyanyikan lagu Indonesia Raya
2. Menyanyikan Mars GMNI
3. Mengheningkan Cipta
4. Pembacaan teks Pancasila
5. Laporan Panitia Rapimcab
6. Sambutan Ketua DPC GMNI
7. Sambutan – s a m b ut a n l a i n (tidak bersifat mengikat)
8. Sambutan dan pembukaan Rapimcab
9. Acara tambahan, (tidak mengikat)
B. Materi Persidangan Rapimcab.
• Pleno I meliputi :
1. Pengesahan peserta dan peninjau Rapimcab
(berdasarkan surat mandat DPK)
2. Pembahasan dan pengesahan agenda sidang
3. Pembahasan dan pengesahan tata tertib
4. Pimpinan sidang pleno di pimpin langsung oleh DPC
o Pleno II meliputi :
a. Pembacaan dan pembahasan Progres Report
b. Progres Report meliputi : Pengantar, program atau
kegiatan, keuangan, perkembangan organisasi,
aktifitas politik atau eksteren, surat
menyurat/administrasi, rekomendasi (bila dipandang
perlu), dll
c. Penyampaian progres report DPK Defenitif/Carteker
d. Pengesahan Progres report
o Pleno III meliputi :
1. Pembagian komisi : Komisi program dan kaderisasi, komisi
organisasi, dan komisi politik.
2. Pimpinan sidang komisi : Dipimpin oleh DPC yang
bersangkutan
3. Sidang komisi yang meliputi :
a. Komisi Program dan kaderisasi bertugas untuk
merumuskan program umum O r g a n i s a s i dan
pembahasan mengenai perkembangan kualitas dan
kuantitas anggota DPC/DPK dan program
pengembangan organisasi.
b. Komisi organisasi membahas pengembangan
organisasi, mekanisme/pola hubungan DPC dan
DPK secara administrasi, dan lain-lain.
c. Komisi Politik membahas sikap politik Organisasi
secara nasional,program perjuangan organisasi,
pemetaan politik, peluang aliansi strategis dan
aliansi taktis, ideologisasi gerakan, dan lain-lain.
d. Pembacaan dan pengesahan hasil sidang komisi
• Pleno IV meliputi :
A. Sambutan Ketua DPC sekaligus menutup Rapimcab
BAB X
MUSYAWARAH KOMISARIAT
Pasal 31
Penyelenggaraan
1. Penyelenggara Muskom adalah DPK
2. Dewan Pengurus Komisariat dapat membentuk Kepanitian sebagai
pelaksana Muskom di sebut (Panitia muskom)
3. Panitia Muskom disahkan oleh DPK.
4. Panitia Muskom berkewajian untuk menyampikan pemberitahuan
dan undangan kepada kader dan Anggota GMNI DPK
bersangkutan.
Pasal 32
Kelengkapan
1. Peserta Muskom adalah seluruh anggota DPK definitif dan
jumlahnya ditetapkan oleh Panitia Muskom.
2. Peninjau Muskom adalah :
Pengurus DPC
Seluruh anggota DPK jumlahnya di tetpkan oleh Panitia Muskom
Undangan ditentukan oleh Panitia Muskom
Pasal 33
Agenda dan Materi
1. Agenda Muskom meliputi sekurang-kurangnya :
A. Opening ceremony (acara pembukaan) :
1. Menyanyikan lagu Indonesia Raya
2. Menyanyikan Mars GMNI
3. Mengheningkan Cipta
4. Pembacaan teks Pancasila
5. Laporan Panitia Muskom
6. Sambutan Ketua DPK GMNI
7. Sambutan – s a m b ut a n l a i n (tidak bersifat mengikat)
8. Sambutan Ketua DPC dan Sekaligus Membuka Muskom
9. Acara tambahan, (tidak mengikat)
B. Materi Persidangan Muskom.
• Pleno I meliputi :
1. Pengesahan peserta dan peninjau Muskom (berdasarkan
daftar hadir anggota DPK)
2. Pembahasan dan pengesahan agenda sidang
3. Pembahasan dan pengesahan tata tertib
4. Pemilihan pimpinan sidang pleno
• Pleno II meliputi :
1. Pembacaan dan pembahasan LPJ
2. LPJ meliputi : Pengantar, program atau kegiatan,
keuangan, perkembangan organisasi, aktifitas politik
atau eksteren, surat menyurat/administrasi,
rekomendasi (bila dipandang perlu), dll
3. Pandangan Umum dan Penilaian anggota DPK
4. Pengesahan LPJ sekaligus pendemisioneran DPK.
• Pleno III meliputi :
1. Pembagian komisi : Komisi program dan kaderisasi,
komisi organisasi, dan komisi politik.
2. Pemilihan pimpinan sidang komisi : dipilih dalam
sidang pleno
3. Sidang komisi yang meliputi :
a. Komisi Program dan kaderisasi bertugas untuk
merumuskan program umum O r g a n i s a s i dan
pembahasan mengenai perkembangan kualitas
dan kuantitas anggota DPK dan program
pengembangan organisasi.
b. Komisi organisasi membahas pengembangan
organisasi, mekanisme/pola hubungan DPC dan
DPK secara administrasi, dan lain-lain.
c. Komisi Politik membahas sikap politik Organisasi
secara nasional,program perjuangan organisasi,
pemetaan politik, peluang aliansi strategis dan
aliansi taktis, ideologisasi gerakan, dan lain-lain.
d. Pembacaan dan pengesahan hasil sidang komisi
• Pleno IV meliputi :
1. Pemilihan dan penetapan ketua dan sekertaris DPK
2. Pemilihan dan penetapan Tim Formatur
3. Sambutan Ketua DPK atau yang dimandatkan
sekaligus menutup Muskom (kondisional).
C. Kriteria Pengurus DPK harus sudah dinyatakan lulus Kaderisasi Tingkat
Dasar (KTD) dan harus menjadi pengurus di komisariat asal.
BAB XI
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 34
1) Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan ini akan diatur kemudian
2) Ketentuan lain yang bertentangan dengan Anggaran Dasar, Anggaran
Rumah Tangga, hasil – hasil Kongres XX di Manado, Sulawesi Utara dan
Surat Keputusan atau Ketetapan Dewan Pimpinan Pusat GMNI dinyatakan
tidak berlaku
3) Peraturan DPP ini mengikat secara struktural disemua tingkatan
4) Peraturan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan
Ditetapkan : di Jakarta
Tanggal: 5 J u n i 2018
Ttd Ttd
Menimbang :
1. Bahwa demi kelancaran administrasi dan kerja organisasi
yang efektif dan efisien di semua tingkatan struktur maka
perlu adanya ketegasan secara organisatoris.
2. Bahwa untuk mewujudkan visi-misi organisasi seyogyanya
berlandaskan pada ketetapan Kongres ke XX Tahun 2017 di
Minahasa , Provinsi Sulawesi
Mengingat :
[Link] Dasar Pasal 6 dan Pasal 7
[Link] Rumah Tangga Pasal 29, 30, 31, 32 dan 33
Memperhatikan :
1. Hasil- Rekomendasi Kongres XX Tahun 2017 di Minahasa,
Sulawesi Utara
2. Rapat Pleno DPP GMNI
MEMUTUSKAN
Menetapkan :
DISIPLIN DAN SANKSI ORGANISASI
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
(1) Disiplin organisasi merupakan kewajiban untuk dipatuhi
dan dilaksanakan oleh semua kader dan anggota tanpa
memandang jabatan struktural.
(2) Sanksi organisasi adalah bagian dari ketegasan nilai atau
norma sesuai ketetapan Kongres XX tahun 2017 di
Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara dalam
menjalankan aktivitas organisasi.
BAB II
Pelanggaran Disiplin Organisasi
Pasal 2
Selain pelanggaran disiplin organisasi yang sudah tercantum
dalam AD/ART ada beberapa pelanggaran disiplin yang
dipandang perlu untuk ditetapkan dalam Peraturan Dewan
Pimpinan Pusat adalah sebagai berikut:
(1) Masa periodesasi di tingkat DPP/DPD/DPC dan DPK
(sesuai AD/ART)
(2) Penyalahgunaan tugas dan wewenang di semua jenjang
struktur
Pasal 3
Mekanisme Penyelesaian Pelanggaran Disiplin
(1) Mekanisme penyelesaian pelanggaran disiplin sesuai
hirerarki organisasi (AD/ART)
(2) Dalam penyelesaian pelanggaran disiplin organisasi sesuai
pasal 2 akan dilakukan dengan melayangkan surat
peringatan/teguran pertama, kedua dan ketiga sesuai
wewenang pada hierarki organisasi.
(3) Yang dimaksud ayat dua (2) terhitung sejak
bersangkutan menerima surat peringatan pertama apabila
dalam jangka waktu 7 (tujuh) h a r i tidak dindahkan, maka
akan dilanjutkan surat peringatan berikutnya.
(4) Pengambilan keputusan pelanggaran disiplin organisasi
dilakukan dalam rapat pleno DPP sesuai jenjang struktur.
BAB III
SANKSI
Pasal 4
Periodesasi DPP
Masa periodesasi Dewan Pimpinan Pusat melewati tiga (3)
bulan akan dipertanggungjawabkan pada forum Kongres.
Pasal 5
Periodesasi DPD
(1) Surat peringatan tertulis diberikan oleh Dewan Pimpinan
Pusat.
(2) Untuk masa periodesasi di tingkat DPD tidak diberlakukan
perpanjangan masa waktu .
(3) Masa periodesasi DPD melewati tiga (3) bulan akan
dilayangkan surat peringatan pertama oleh DPP GMNI,
apabila surat peringatan pertama tidak diindahkan maka
surat peringatan kedua akan diberikan oleh DPP dengan
status DPD yang bersangkutan adalah caretaker.
Pasal 6
Periodesasi DPC
Pengambilan keputusan terhadap pelanggaran disiplin
organisasi dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
(1) Surat peringatan tertulis diberikan oleh Dewan Pimpinan
Pusat.
(2) Untuk masa periodesasi di tingkat DPC tidak
diberlakukan perpanjangan masa waktu.
(3) Masa periodesasi DPC apabila melewati masa waktu
selama 1 (satu) bulan maka DPP berhak untuk
memberikan surat peringatan pertama, apabila surat
peringatan pertama tidak diindahkan oleh DPC, maka
dalam jangka waktu 1 ( satu) bulan berikutnya akan
diberikan surat peringatan kedua dengan status Cabang
yang bersangkutan adalah berstatus Caretaker, dan
apabila surat peringatan pertama dan kedua tidak juga
diindahkan, maka DPP berhak untuk memberikan surat
peringatan ketiga dengan status cabang bersangkutan
dibekukan sementara.
Pasal 7
Periodesasi DPK
Pengambilan keputusan terhadap pelanggaran disiplin
organisasi dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
(1) Surat peringatan tertulis diberikan oleh pengurus DPC.
(2) Untuk masa periodesasi di tingkat DPK tidak
diberlakukan perpanjangan masa waktu.
(3) Masa periodesasi DPK apabila melewati masa waktu
selama 1 (satu) bulan maka DPC berhak untuk
memberikan surat peringatan pertama, apabila surat
peringatan pertama tidak dihiraukan oleh DPK, maka
dalam jangka waktu 14 hari akan diberikan surat
peringatan kedua dengan status DPK yang bersangkutan
adalah berstatus Caretaker, dan apabila surat peringatan
pertama dan kedua tidak juga diindahkan, maka DPC
berhak untuk memberikan surat peringatan ketiga dengan
status DPK bersangkutan dibekukan sementara.
BAB IV
Penyalahgunaan Tugas dan Wewenang
Pasal 8
Tahapan pengambilan keputusan atas penyalahgunaan tugas dan
wewenang sebagai berikut:
(1) Tugas dan wewenang setiap jenjang mengacu dalam
Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, hasil – hasil
Kongres XX di Minahasa, Sulawesi Utara dan Surat
Keputusan atau Ketetapan Dewan Pimpinan Pusat GMNI.
(2) Dalam aktivitas organisasi apabila terjadi
penyalahgunaan tugas dan wewenang tanpa ada
koordinasi kepada yang berwewenang akan dilayangkan
surat peringatan.
(3) Apabila surat peringatan pertama sampai ketiga tidak
diindahkan maka segara menyurati kepada jenjang
struktur organisasi diatasnya untuk memberikan sanksi.
Pasal 9
Penilaian Penyalahgunaan Tugas Dan Wewenang
(1) Penyalahgunaan tugas dan wewenang oleh Dewan
Pimpinan Pusat maka akan diberikan sanksi oleh DPP GMNI
selanjutnya akan dipertanggungjawabkan dalam rapat pleno dan atau
dalam Rapimnas/Kongres.
(2) Penyalahgunaan tugas dan wewenang DPD diberikan
sanksi oleh DPP GMNI atas pertimbangan berdasarkan
penilaian pengurus DPD dan atau oleh 2/3+1 DPC.
(3) Penyalahgunaan tugas dan wewenang DPC diberikan
sanksi oleh DPP atas penilaian pengurus DPD dan atau oleh
2/3+1 pengurus DPC serta 2/3+1 Dewan Pengurus
Komisariat.
(4) Penyalahgunaan tugas dan wewenang oleh Dewan
P engurus Kom i sari at di beri k an sanksi oleh
DPC a t as peni l ai an 2 / 3 + 1 anggot a.
BAB V
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 10
(1) Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan ini akan diatur
kemudian
(2) Ketentuan lain yang bertentangan dengan Anggaran Dasar,
Anggaran Rumah Tangga, hasil – hasil Kongres XX di
Minahasa, Sulawesi Utara dan Surat Keputusan atau
Ketetapan Dewan Pimpinan Pusat GMNI dinyatakan tidak
berlaku
(3) Peraturan Dewan Pimpinan Pusat ini mengikat secara
struktural disemua tingkatan
(4) Peraturan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan
Ditetapkan : di Jakarta
Ttd Ttd
Menimbang :
a. Bahwa sesuai dengan pembukaan Anggaran dasar GMNI menyebutkan
untuk membentuk suatu organisasi sebagai alat pendidikan kader
bangsa dan alat perjuangan, maka dibentuklah susunan organisasi
yang berkedaulatan dan berkeadilan.
b. Bahwa pelaksanaan tahapan Kaderisasi merupakan tanggungjawab
organisasi sesuai dengan amanat Kongres
c. Bahwa untuk keberlanjutan kaderisasi maka perlu membentuk
pemahaman yang sama terhadap pelaksanaan tahapan kaderisasi
d. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a, b
dan c maka perlu dibuatkan satu peraturan DPP GMNI.
Mengingat :
a. Anggaran Dasar, pasal 3, 6, 9.
b. Anggaran Rumah Tangga, pasal 1, 2, 14 ayat (1), 17 ayat (3) dan 28
Memperhatikan :
a. Hasil – Hasil Kongres GMNI XX Tahun 2019 di Ambon, Maluku.
b. Kurikulum Kaderisasi
MEMUTUSKAN
Menetapkan :
PETUNJUK PELAKSANAAN KADERISASI
BAB I
Ketentuan Umum
Pasal 1
1) Peserta PPAB adalah Mahasiswa yang memenuhi syarat-syarat
keanggotaan
2) Anggota GMNI adalah Peserta PPAB yang telah dilantik sebagai
anggota DPC
3) Kader GMNI adalah Peserta KTD yang telah dinyatakan lulus dan
disahkan sebagai kader oleh DPC
BAB II
Pekan Penerimaan Anggota Baru (PPAB)
Pasal 2
Pelaksanaan
1) Pelaksana penyelenggara adalah DPK dan/ atau DPC
2) Dalam rangka pembentukan DPK baru, PPAB menjadi tanggung jawab
DPC
3) PPAB dilaksanakan minimal satu kali dalam satu periode kepengurusan
DPK
4) DPK dan/ atau DPC membentuk Panitia PPAB yang disahkan melalui
surat keputusan
5) Panitia Pelaksana dipilih dari pengurus dan atau anggota DPK
bersangkutan
6) Kepanitiaan PPAB juga dapat dibentuk dengan cara lintas DPK
(kepanitiaan bersama), yang dikoordinir oleh DPC
7) Pelaksanaan PPAB harus berkordinasi dengan DPC
Pasal 3
Teknis Pelaksanaan
1) Waktu Pelaksanaan PPAB dilaksanakan minimal 3 (tiga) hari dan/atau
maksimal selama 7 (tujuh) hari
2) PPAB dapat dilaksanakan dengan minimal peserta 5 (lima) orang
3) Pemateri dalam PPAB adalah pengurus komisariat GMNI, Pengurus
DPC GMNI, Pengurus DPD GMNI, Alumni/ kader yang ditunjuk oleh
pelaksana
4) Proses upacara pembukaan dan penutupan PPAB dilakukan oleh DPC
GMNI
Pasal 4
Agenda dan Materi
Agenda dan Materi PPAB sesuai dengan Kurikulum Kaderisasi GMNI
Pasal 5
Pengesahan Anggota
1) DPC berwenang dan berkewajiban melakukan pengesahan terhadap
calon anggota yang dihimpun oleh DPK untuk menjadi anggota melalui
PPAB
2) Pengurus DPK menyerahkan hasil evaluasi peserta PPAB dan surat
pernyataan kesediaan peserta untuk menjadi anggota GMNI kepada DPC
3) Pengesahan para peserta yang telah mengikuti PPAB menjadi anggota
GMNI sepenuhnya menjadi wewenang DPC GMNI dalam bentuk surat
keputusan berdasarkan rekomendasi hasil evaluasi yang disampaikan
oleh pengurus DPK
BAB III
Kursus Ideologi I
Pasal 6
Pelaksanaan
1) Pelaksana kursus ideologi I adalah DPC
2) Kursus Ideologi I dilaksanakan setelah pelaksanaan PPAB dan/ atau
sebelum pelaksanaan KTD
3) DPC membentuk panitia pelaksana kursus ideologi I yang disahkan melalui
surat keputusan
Pasal 7
Materi Kursus Ideologi I
Sesuai dengan materi PPAB dengan maksud pendalaman materi serta
ideologi pengantar anggota menuju jenjang KTD
BAB IV
KADERISASI TINGKAT DASAR (KTD)
Pasal 8
Pelaksanaan
1) Pelaksana KTD adalah DPC dan/atau DPK
2) KTD dilaksanakan minimal 1 (satu) kali dalam 1 (satu) periode DPK
dan/atau 2 (dua) kali dalam kepengurusan DPC GMNI
3) KTD dilaksanakan oleh kepanitiaan yang dibentuk oleh DPC dan/atau
DPK serta disahkan oleh DPC
4) Kepanitiaan KTD juga dapat dibentuk dengan cara lintas DPK
(kepanitiaan bersama) yang dikoordinir dan disahkan oleh DPC
Pasal 9
Teknis Pelaksanaan
1) Waktu pelaksanaan KTD minimal 3 (tiga) hari
2) Peserta KTD adalah anggota GMNI yang telah mengikuti PPAB
3) KTD dapat dilaksanakan dengan minimal peserta adalah 10 (sepuluh)
orang
4) Pemateri dalam KTD adalah Pengurus DPC GMNI, Pengurus DPD
GMNI, Pengurus DPP GMNI, Alumni/Kader GMNI, atau pihak lain
yang dianggap mumpuni oleh penyelenggara KTD
5) Proses upacara pembukaan dan penutupan KTD dilakukan oleh DPC
GMNI
Pasal 10
Agenda dan Materi KTD
Agenda dan Materi KTD sesuai dengan Kurikulum Kaderisasi GMNI
Pasal 11
Pengesahan Kader
1) DPC berwenang dan berkewajiban melakukan pengesahan terhadap
calon kader untuk menjadi kader GMNI
2) Pengesahan dan pelantikan para peserta yang telah mengikuti KTD
menjadi kader GMNI sepenuhnya menjadi wewenang dan kewajiban
DPC GMNI melalui Surat Keputusan (SK) berdasarkan rekomendasi
hasil monitoring dan evaluasi DPC
BAB V
Kursus Ideologi II
Pasal 12
Pelaksanaan
1) Pelaksana kursus ideologi II adalah DPC dan/ atau DPD
2) Kursus Ideologi II dilaksanakan setelah pelaksanaan KTD
dan/ atau sebelum pelaksanaan KTM
3) DPC dan/ atau DPD membentuk panitia pelaksana kursus ideologi II yang
disahkan melalui surat keputusan
Pasal 13
Materi Kursus Ideologi II
Sesuai dengan materi KTD dengan maksud pendalaman materi serta
ideologi pengantar
kader menuju jenjang KTM
BAB VI
Training of Traine I
Pasal 14
Pelaksanaan
1) Pelaksana Training of Trainer I adalah DPC dan/ atau DPD
2) Training of Trainer I diperuntukan bagi kader yang telah selesai mengikuti
KTD untuk bisa menjadi seorang instruktur dalam sebuah pelaksanaan KTD
3) DPC dan/ atau DPD membentuk panitia pelaksana Training of Trainer I
yang disahkan melalui surat keputusan
Pasal 15
Materi Training of Trainer I
Materi Training of Trainer I bermuatan 60% materi KTD dan 40%
metode kaderisasi
BAB VII
KADERISASI TINGKAT MENENGAH
Pasal 16
Pelaksanaan
1) Pelaksana KTM adalah DPD, dan/atau beberapa DPC dalam 1 (satu)
wilayah Provinsi yang berkoordinasi dengan DPP
2) KTM dilaksanakan minimal 1 (satu) kali dalam satu periode
kepengurusan DPD
3) KTM dilaksanakan oleh kepanitiaan yang dibentuk dan disahkan oleh
DPD dan/atau DPP
Pasal 17
Teknik Pelaksanaan
1) Waktu pelaksanaan KTM minimal 7 (tujuh) hari, yang dibagi menjadi 2
(dua) bagian yaitu: Materi Ruang dengan alokasi waktu minimal 4
(empat) hari dan Materi Lapangan (analisis sosial) dengan alokasi 3 (tiga)
hari
2) Peserta KTM adalah kader yang memenuhi syarat kader dan telah lulus
KTD
3) Peserta yang mengikuti KTM minimal berjumlah 10 (sepuluh) orang
4) Pembicara dalam KTM adalah DPP GMNI, DPD GMNI, alumni/ kader
GMNI, serta pihak lainnya yang dianggap mumpuni oleh penyelenggara
KTM
5) Setelah proses materi ruangan KTM selesai maka peserta akan diberikan
satu tugas khusus dari Panitia Pelaksana sebagai bentuk dari materi
lapangan (analisis sosial)
6) Proses upacara pembukaan dan penutupan KTM dilakukan oleh DPP
GMNI atau oleh DPD GMNI yang telah dimandatkan oleh DPP GMNI
apabila DPP GMNI berhalangan untuk hadir
7) Setiap pelaksanaan KTM wajib berkoordinasi dengan DPP GMNI.
8) Membuat essay atau artikel ilmiah populer
Pasal 18
Agenda dan Materi KTM
Agenda dan Materi KTM sesuai dengan Kurikulum Kaderisasi GMNI
Pasal 19
Pengesahan dan Pelantikan
1) DPD dan/atau DPP berwenang dan berkewajiban melakukan pengesahan
terhadap kader dan proses KTM GMNI
2) Pengesahan dan pelantikan para peserta yang telah mengikuti KTM
sepenuhnya menjadi wewenang dan kewajiban DPD dan/atau DPP
melalui Surat Keputusan (SK) berdasarkan rekomendasi hasil monitoring
dan evaluasi kepanitiaan KTM
BAB VIII
Training of Traine II
Pasal 20
Pelaksanaan
1) Pelaksana Training of Trainer II adalah DPD dan/ atau DPP
2) Training of Trainer II diperuntukan bagi kader yang telah selesai mengikuti
KTM untuk bisa menjadi seorang instruktur dalam sebuah pelaksanaan
KTM
3) DPD dan/ atau DPP membentuk panitia pelaksana Training of Trainer II
yang disahkan melalui surat keputusan
Pasal 21
Materi Training of Trainer II
Materi Training of Trainer I bermuatan 60% materi KTM dan 40%
metode kaderisasi
BAB V
KADERISASI TINGKAT PELOPOR (KTP)
Pasal 22
Pelaksanaan
1) Pelaksana Kaderisasi Tingkat Pelopor (KTP) adalah DPP GMNI
2) KTP dilaksanakan minimal satu kali dalam satu periode kepengurusan
DPP GMNI
3) KTP dilaksanakan oleh sebuah kepanitiaan yang dibentuk dan disahkan
oleh DPP GMNI
Pasal 23
Teknik Pelaksanaan
1) Waktu pelaksanaan KTP minimal lima hari dan maksimal tujuh hari.
2) Peserta minimal dalam melaksanakan KTP adalah 10 (sepuluh) orang
3) Pembicara dalam KTP adalah DPP GMNI, alumni/kader GMNI serta
pihak lainnya yang dianggap mumpuni oleh penyelenggara KTP
4) Setelah proses KTP selesai maka para peserta akan diberikan satu tugas
khusus yang bersifat rahasia dari DPP GMNI sebagai bentuk dari materi
lapangan
5) Waktu pelaksanaan materi lapangan KTP minimal 1 (satu) minggu
6) Proses upacara pembukaan dan penutupan KTP dilakukan oleh DPP
GMNI
Pasal 24
Agenda dan Materi KTP
Agenda dan Materi KTP sesuai dengan Kurikulum kaderisasi GMNI
Pasal 25
Pengesahan Kader
1) DPP berwenang dan berkewajiban melakukan pengesahan terhadap
kader dan proses KTP GMNI
2) Panitia KTP wajib menyerahkan data kader yang telah dilantik kepada
DPP GMNI
BAB VI
MONITORING DAN EVALUASI
Pasal 26
1) Pelaksana Monitoring dan evaluasi serta penilaian peserta PPAB ialah
DPK dan/ atau DPC dengan memperhatikan pendapat dari unsur
kepanitiaan
2) Pelaksana Monitoring dan evaluasi serta penilaian peserta KTD ialah
DPC dengan memperhatikan pendapat dari unsur kepanitiaan
3) Pelaksana Monitoring dan evaluasi serta penilaian peserta KTM ialah
DPD dan/atau DPP dengan memperhatikan pendapat dari unsur
kepanitiaan
4) Pelaksana Monitoring dan evaluasi serta penilaian peserta KTP ialah
DPP dengan memperhatikan pendapat dari unsur kepanitiaan
BAB VII
SANKSI
Pasal 27
Mengingat pelaksanaan tahapan Kaderisasi merupakan hal yang
terintegrasi, berkesinambungan dan saling berkaitan satu sama lain, maka
agenda tersebut harus terselenggara berdasarkan tahapannya masing-
masing. Apabila tahapan Kaderisasi tersebut tidak dilaksanakan maka akan
dikenakan sanksi sebagai berikut :
1. DPK yang tidak melakukan PPAB dalam waktu 1 (satu) periode, maka
DPC akan memberlakukan status caretaker bagi DPK yang bersangkutan
2. DPC yang tidak pernah ada pelaksanaan KTD dalam 1(satu) periode
kepengurusan, maka DPP akan memberlakukan status caretaker bagi DPC
yang bersangkutan
3. Bila dalam satu provinsi telah terlaksana KTD oleh DPC-DPC dan DPD
tidak pernah melaksanakan KTM dalam 1(satu) periode kepengurusan,
maka DPP akan membekukan DPD bersangkutan
4. Bila telah terlaksana KTP secara Nasional dan DPP tidak melaksanakan
KTP, maka DPP dapat mempertanggung jawabkannya di Kongres
BAB VIII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 28
1) Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan ini akan diatur kemudian
dalam kurikulum kaderisasi
2) Ketentuan lain yang bertentangan dengan AD/ART, ketetapan Kongres
XX GMNI dan Peraturan ini dinyatakan tidak berlaku
3) Peraturan DPP ini mengikat secara struktural disemua tingkatan
4) Peraturan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan
Ditetapkan : di Jakarta
Tanggal : 16 Juli 2020
Waktu : 22.27 WIB
DEWAN PIMPINAN PUSAT
GERAKAN MAHASISWA NASIONAL INDONESIA (GMNI)
Ttd Ttd
Tentang
DEWANPIMPINANPUSAT
GERAKAN MAHASISWA NASIONAL INDONESIA
Menimbang :
1. Bahwa untuk mengoptimalkan kerja-kerja organisasi yang
efektif dan efisen perlu adanya kesamaan presepsi guna
mewujudkan cita-cita luhur organisasi.
2. Bahwa Pergantian Antar Waktu merupakan bagian dari
evaluasi atas kinerja pengurus dalam menjalankan tugas dan
tanggungjawab masing-masing.
3. Bahwa untuk memperlancar proses mekanisme Pergantian
Antar Waktu perluh ditetapkan dalam Peraturan DPP.
Mengingat :
1. Anggaran Dasar, pasal 9, pasal 11 dan pasal 12 dan 13 pasal
27
2. Anggaran Rumah Tangga, pasal 7,8,9,10,11,12 pasal
13,14,15,16, pasal 29,30,31 pasal 36,37
3. Hasil Kongres XX Tahun 2017 di Minahasa,
Sulawesi Utara
Memperhatikan :
1. Hasil Rapat Pleno DPP GMNI Periode 2017-2019
MEMUTUSKAN
Menetapkan :
DASAR DAN MEKANISME PERGANTIAN ANTAR WAKTU
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
(1) Pergantian Antar Waktu adalah proses pergantian
kepengurusan organisasi bagi seorang pengurus atau lebih.
(2) Pergantian Antar Waktu untuk pengurus Dewan Pimpinan
Pusat diputuskan dalam rapat pleno Dewan Pimpinan
Pusat.
(3) Pergantian Antar Waktu untuk pengurus Dewan Pimpinan
Daerah diputuskan dalam rapat pleno Dewan Pimpinan
Daerah dan wajib dilaporkan ke DPP.
(4) Pergantian Antar Waktu untuk Pengurus DPC diputuskan
dalam rapat pleno Dewan Pimpinan Cabang dan wajib
dilaporkan ke DPP.
(5) Pergantian Antar Waktu untuk Pengurus D e w a n
P e n g u r u s K o m i s a r i a t diputuskan dalam rapat pleno
Dewan Pengurus Komisariat dan wajib dilaporkan ke DPC.
BAB II
Dasar Pergantian Antar Waktu
Pasal 2
Pengurus Dewan Pimpinan Pusat
Pergantian Antar Waktu dapat dilakukan dengan memenuhi
persyaratan antara lain:
(1) Mengajukan surat pengunduran diri dari jabatannya
sebagai pengurus Dewan Pimpinan Pusat yang ditanda
tangani oleh yang bersangkutan dan bermaterai 6000.
(2) Di sebabkan karena meninggal dunia.
(3) Dikenakan sanksi organisasi.
(4) Telah melanggar pernyataan (pakta integritas).
(5) Keputusan Dewan Pimpinan Pusat tentang PAW
selanjutnya dipertanggung jawabkan di dalam forum
Kongres.
Pasal 3
Pengurus Dewan Pimpinan Daerah
Pergantian Antar Waktu dapat dilakukan dengan memenuhi
persyaratan antara lain:
1. Mengajukan surat pengunduran diri dari jabatannya sebagai
pengurus Dewan Pimpinan Daerah yang ditanda tangani oleh
yang bersangkutan dan bermaterai 6000.
2. Disebebkan karena meninggal dunia
3. Dikenakan sanksi organisasi
4. Telah melanggar pernyataan (pakta integritas).
5. Keputusan Dewan Pimpinan Daerah tentang PAW
selanjutnya dipertanggung di dalam forum Konferda.
6. Untuk memperlancar dan memaksimalkan kerja organisasi
di daerah maka Dewan Pimpinan Pusat (DPP) bisa dapat
mengintervensi dan meninjau kembali SK DPD.
7. Yang dimaksud ayat (6) adalah DPD tidak melaksanakan
tugas berdasarkan Anggaran Dasar, Anggaran Rumah
Tangga GMNI, hasil – hasil Kongres XX di Minahasa,
Sulawesi Utara, serta Peraturan Organisasi
lainnya.
Pasal 4
Pengurus DPC
Pergantian Antar Waktu dapat dilakukan dengan memenuhi
persyaratan antara lain:
1. Mengajukan surat pengunduran diri dari jabatannya sebagai
pengurus Dewan Pimpinan Cabang yang ditanda tangani
oleh yang bersangkutan dan bermaterai 6000.
2. Sebebkan karena meninggal dunia
3. Dikenakan sanksi organisasi
4. Telah melanggar pernyataan (pakta integritas).
5. Keputusan Dewan Pimpinan Cabang tentang PAW
selanjutnya dipertanggung di dalam forum Konfercab.
6. Pengambilan keputusan PAW didasarkan pada Anggaran
Dasar, Anggaran Rumah Tangga GMNI, hasil – hasil
Kongres XX di Minahasa, Sulawesi Utara, serta Peraturan
Organisasilainnya.
Pasal 5
Dewan Pengurus Komisariat
Pergantian Antar Waktu dapat dilakukan dengan memenuhi
persyaratan antara lain:
(1) Mengajukan surat pengunduran diri ke Pengurus
Komisariat yang ditandatangani oleh yang bersangkutan
dengan bermaterai 6000.
(2) Dikenakan sanksi organisasi (pemecatan sementara).
(3) Dikarenakan Meninggal dunia
(4) Telah melanggar pernyataan (Pakta intekritas)
(5) Keputusan rapat bersama anggota Komisariat yang
didasarkan pada Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga
GMNI, hasil – hasil Kongres XX di Minahasa, Sulawesi
Utara, Peraturan O r g a n i s a s i l a i n n y a .
BAB III
Mekanisme Pergantian Antar Waktu
Pasal 6
Pengurus Dewan Pimpinan Pusat
Apabila Pergantian Antar Waktu terjadi kepada Pengurus
Dewan Pimpinan Pusat maka pengurus pengganti ditentukan
oleh DPP melalui rapat pleno berdasarkan rekomedasi dari DPC
asal pengurus yang digantikan.
Pasal 7
Dewan Pimpinan Daerah
(1) Apabila Pergantian Antar Waktu terjadi kepada Pengurus
Dewan Pimpinan Daerah maka pengurus pengganti
ditentukan oleh DPD melalui rapat pleno berdasarkan
rekomedasi dari DPC asal pengurus yang digantikan.
(2) Hasil keputusan Pergantian Antar Waktu Pengurus DPD
selanjutnya diserahkan ke D e w a n P i m p i n a n P u s a t
untuk dibahas dan disahkan.
Pasal 8
Pengurus Dewan Pimpinan cabang
(1) Apabila Pergantian Antar Waktu terjadi kepada
Pengurus Dewan Pimpinan Cabang maka pengurus
pengganti ditentukan oleh DPC melalui rapat pleno
berdasarkan rekomedasi dari DPK asal pengurus yang
digantikan.
(2) Hasil keputusan Pergantian Antar Waktu Pengurus DPC
selanjutnya diserahkan ke D e w a n P i m p i n a n P u s a t
untuk dibahas dan disahkan.
Pasal 9
Pengurus Dewan Pimpinan Komisariat
(1) Pergantian Antar Waktu pengurus Dewan Pengurus
Komisariat diputuskan dalam rapat Pleno Pengurus
Komisariat bersama anggota.
(2) Hasil keputusan Pergantian Antar Waktu Pengurus DPK
selanjutnya diserahkan ke D e w a n P i m p i n a n
C a b a n g ( D P C ) untuk disahkan.
BAB IV
SANKSI
Pasal 10
Guna meningkatkan kualitas kerja organisasi yang efektif
dan efisien membutuhkan kerjasama internal pada tingkatan
struktural sesuai tugas dan wewenang masing-masing.
Maka perlu adanya penegasan terkait rangkap jabatan
dalam internal. Bahwa selain merangkap jabatan yang
dimaksudkan pada AD/ART namun rangkap jabatan dalam
internalpun harus diatur sebagai berikut:
1) Dewan Pengurus Komisariat yang terpilih menjadi
Komisaris/Sekretaris dan atau diakomodir dalam
kepengurusan DPC/DPD yang bersangkutan segera
melakukan pengunduran diri maksimal 14 h a r i
terhitung sejak ditetapkannya struktur oleh formatur.
2) Pengurus DPC yang yang terpilih menjadi
Ketua/Sekretaris dan atau diakomodir dalam
kepengurusan DPP/DPD yang bersangkutan segera
melakukan pengunduran diri maksimal 14 hari
terhitung sejak ditetapaknnya struktur oleh formatur.
3) Pengurus Dewan Pimpinan Daerah yang terpilih
menjadi Ketua/Sekretaris dan atau diakomodir dalam
kepengurusan Dewan Pimpinan Pusat yang
bersangkutan segera melakukan pengunduran diri
maksimal 14 h a r i terhitung sejak ditetapkannya
struktur oleh formatur.
4) Pada ayat (1), (2) dan (3) apabila tidak diindahkan
oleh yang bersangkutan maka akan diberikan sanksi
organisasi sesuai tingkatan strukturalnya.
5) Sanski organisasi yang dimaksudkan ayat (4) adalah
surat peringatan pertama (SP1), peringatan kedua
(SP2) dan surat peringatan ketiga (SP3), apabila
tidak diindahkan, maka yang bersangkutan dikenakan
Pergantian Antar Waktu dari jabatannya yang baru.
BAB IV
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 11
1) Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan ini akan diatur
kemudian.
2) Ketentuan lain yang bertentangan dengan Anggaran Dasar,
Anggaran Rumah Tangga, hasil – hasil Kongres XX di
Minahasa, Sulawesi Utara dan Surat Keputusan atau
Ketetapan Dewan Pimpinan Pusat GMNI dinyatakan tidak
berlaku
3) Peraturan Dewan Pimpinan Pusat ini mengikat secara
struktural disemua tingkatan
4) Peraturan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.
Ditetapkan : di Jakarta
Tanggal : 05 Juni 2018
W aktu : 22 . 51 W IB
Ttd Ttd
Menimbang:
Bahwa dalam rangka menghadapi perkembangan dunia yang semakin
dinamis, GMNI perlu memperluas jaringan di luar negeri.
1. Bahwa dalam rangka pengembangan organisasi dan penyebaran
ideologi Marhaenisme ke seluruh dunia, perlu membentuk peraturan
tentang Pembentukan dan susunan organisasi Cabang Khusus Luar
Negeri.
2. Bahwa berdasarkan potensi mahasiswa Indonesia di luar negeri,
pembentukan Cabang Khusus Luar Negeri merupakan sebuah
kebutuhan organisasi.
3. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud poin 1
(satu), 2 (dua), dan 3 (tiga), perlu dibuat ketentuan-ketentuan
mengenai petunjuk teknis sehingga seluruh anggota memiliki
pemahaman yang sama dalam mengembangkan organisasi.
4. Bahwa panduan pembentukan Cabang Khusus Luar Negeri perlu
diatur secara teknis.
Mengingat:
1. Anggaran Dasar GMNI Pasal 3, 6, 9 (ayat 3), dan 24 (ayat 1 dan 2).
2. Anggaran Rumah Tangga Pasal 2 (ayat 1 dan 2), 8 (ayat 1 dan 2), 10,
dan 36.
Memperhatikan:
Ketetapan dan Rekomendasi hasil Kongres GMNI XX Tahun 2018 di
Minahasa, Sulawesi Utara
MEMUTUSKAN
Menetapkan:
PEMBENTUKANCABANGKHUSUSLUARNEGERI
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam peraturan organisasi ini dimaksud dengan:
(1) Cabang Khusus Luar Negeri adalah alat kelengkapan organisasi
Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang berkedudukan
di luar negeri.
(2) Anggota Cabang Khusus Luar Negeri adalah mahasiswa Indonesia
yang menempuh pendidikan di luar negeri.
(3) Cabang Khusus Luar Negeri dapat dibentuk dalam satu wilayah
Negara.
BAB II
PROSEDUR PEMBENTUKAN CABANG KHUSUS LUAR NEGERI
Pasal 2
Syarat dan Ketentuan
(1) D P P G M N I dapat menunjuk personalia/tim untuk membentuk
Cabang Khusus Luar Negeri.
(2) Personalia/tim yang ditunjuk adalah anggota GMNI yang
menempuh pendidikan di luar negeri dan bersedia memimpin
Cabang Khusus Luar Negeri GMNI.
(3) Telah mendapat mandat dari DPP GMNI dan Surat Keputusan (SK)
DPP GMNI.
(4) Telah memiliki minimal sepuluh orang anggota (memenuhi
persyaratan)
(5) Telah menyerahkan data keanggotaan kepada DPP GMNI.
(6) Menyampaikan laporan Musyawarah Anggota kepada DPP GMNI.
(7) Apabila selama masa kepengurusan yang telah ditetapkan, pengurus
Cabang Khusus Luar Negeri tidak dapat melaksanakan tugas-
tugasnya, maka DPP GMNI dapat melakukan peninjauan kembali.
Pasal 3
Kepengurusan Cabang Khusus Luar Negeri
(1) Kepengurusan Cabang Khusus Luar Negeri bersifat kolektif-kolegial.
(2) Pengurus Cabang Khusus Luar Negeri diusulkan dalam Musyawarah
Anggota kemudian ditetapkan oleh DPP GMNI.
(3) Jumlah pengurus Cabang Khusus Luar Negeri sebanyak-banyaknya
tujuh orang terdiri dari ketua, sekretaris cabang, bendahara dan empat
ketua bidang.
(4) Masa jabatan kepengurusan Cabang Khusus Luar Negeri adalah satu
tahun.
Pasal 4
Tugas Cabang Khusus Luar Negeri
(1) Melaksanakan Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga,
ketetapan kongres dan ketetapan DPP GMNI.
(2) Mempersiapkan infrastruktur dan suprastruktur Cabang Khusus
Luar Negeri.
(3) Melaksanakan Pekan Penerimaan Anggota Baru (PPAB) dan
Kaderisasi Tingkat Dasar (KTD).
(4) Melaksanakan Musyawarah Anggota.
(5) Melaksanakan dan mengkoordinasikan program-program kerja
organisasi di tingkat internasional yang dimandatkan oleh DPP GMNI.
Pasal 5
Wewenang Cabang Khusus Luar Negeri
1. Memimpin kegiatan organisasi ke dalam dan ke luar wilayah Negara
tersebut.
2. Membentuk komisariat-komisariatdi tingkat provinsi/Negara bagian
dalam wilayah Negara tersebut kemudian dilaporkan kepada DPP
GMNI.
3. Melakukan pemetaan dan kajian terhadap situasi politik internasional
yang selanjutnya melaporkan kepada bidang di DPP GMNI yang
bersangkutan.
Pasal 6
Musyawarah Anggota Cabang Khusus Luar Negeri
(1) Musyawarah Anggota Cabang Khusus Luar Negeri diselenggarakan
satu kali dalam satu tahun.
(2) Merumuskan dan menetapkan tata cara rekrutmen anggota.
(3) Merumuskan dan menetapkan program dan kebijakan organisasi di
wilayah Negara tersebut.
(4) Mengevaluasi program dan kebijakan Cabang Khusus Luar Negeri
serta mengusulkan calon-calon pengurus Cabang Khusus Luar
Negeri kepada DPP GMNI.
BAB III
Hak dan Kewajiban Cabang Khusus Luar Negeri
Pasal 7
Hak Agggota
(1) Hak berbicara
(2) Hak untuk dipilih (dalam hal ini Cabang Khusus Luar Negeri tidak
memiliki hak suara dalam setiap permusyawaratan tertinggi
organisasi).
(3) Hak membela diri.
(4) Hak mendapat perlindungan dari organisasi.
Pasal 8
Kewajiban Anggota
(1) Mentaati Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga,
Peraturan organisasi serta Disiplin Organisasi.
(2) Menjunjung tinggi nama dan kehormatan organisasi, aktif
melaksanakan program dan kegiatan organisasi yang bersifat
nasional maupun internasional.
(3) Melaporkan seluruh aktivitas keorganisasian kepada DPP GMNI.
BAB IV KETENTUAN
PENUTUP
Pasal 9
(1) Hal-hal yang belum diatur dalam peraturan ini akan diatur kemudian.
(2) Ketentuan lain yang bertentangan dengan AD/ART, Ketetapan Kongres XX
GMNI dan Peraturan ini dinyatakan tidak berlaku.
(3) Peraturan DPP GMNI ini mengikat secara struktural di semua tingkatan.
(4) Peraturan ini berlaku sejak ditetapkan.
Ttd Ttd