0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan65 halaman

Penelitian Lingkungan Terbangun Indonesia

Diunggah oleh

ramaroroz.id
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan65 halaman

Penelitian Lingkungan Terbangun Indonesia

Diunggah oleh

ramaroroz.id
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Delft University of Technology

Digging4Data
Bagaimana meneliti lingkungan terbangun di Indonesia, 1620-1950
Akihary, H.; Purwestri, N.; van Roosmalen, Pauline

Publication date
2017
Document Version
Final published version
Citation (APA)
Akihary, H., Purwestri, N., & van Roosmalen, P. (2017). Digging4Data: Bagaimana meneliti lingkungan
terbangun di Indonesia, 1620-1950. (Edisi revisi ed.) Cultural Heritage Agency of the Netherlands.

Important note
To cite this publication, please use the final published version (if applicable).
Please check the document version above.

Copyright
Other than for strictly personal use, it is not permitted to download, forward or distribute the text or part of it, without the consent
of the author(s) and/or copyright holder(s), unless the work is under an open content license such as Creative Commons.
Takedown policy
Please contact us and provide details if you believe this document breaches copyrights.
We will remove access to the work immediately and investigate your claim.

This work is downloaded from Delft University of Technology.


For technical reasons the number of authors shown on this cover page is limited to a maximum of 10.
Digging4Data
Bagaimana meneliti lingkungan
terbangun di Indonesia, 1620-1950

Huib Akihary
Nadia Purwestri
Pauline K.M. van Roosmalen
Digging4Data
Bagaimana meneliti lingkungan
terbangun di Indonesia, 1620-1950

Huib Akihary
Nadia Purwestri
Pauline K.M. van Roosmalen
2

Kolofon

Penulis
Huib Akihary, Rotterdam
Nadia Purwestri / Pusat Dokumentasi Arsitektur (PDA), Jakarta
Pauline K.M. van Roosmalen / PKMvR heritage research consultancy,
Amsterdam

Graphic Design
En Publique, Utrecht

Manajemen Proyek
Johan van Langen / Arsip Nasional Belanda (NA), Den Haag
Risma Manurung / Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Jakarta
Jinna Smit / Cultural Heritage Agency of the Netherlands (RCE), Amersfoort
Hasti Tarekat / Heritage Hands On, Amsterdam

Digagas dan diterbitkan oleh


Cultural Heritage Agency of the Netherlands (RCE), Amersfoort
Arsip Nasional Belanda (NA), Den Haag

Pendanaan bersama
Marinus Plantema Foundation, Heemstede

Distribusi
Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Jakarta
Pusat Dokumentasi Arsitektur (PDA), Jakarta

Kata Kunci: penelitian, arsitektur, perencanaan, VOC, kolonial, Belanda,


Indonesia

Jakarta/Den Haag/Amersfoort, 2017 (Edisi revisi)


ISBN/EAN: 9789059090514

Isi dokumen ini di bawah Lisensi Creative Commons Attribution 4.0. Pemilik lisensi dapat menyalin,
menyebarkan, memamerkan serta melaksanakan pekerjaan tersebut dan membuat turunan
pekerjaan dan meramu ulang dengan mengacu pada sejumlah informasi di dalamnya dengan
syarat menuliskan nama penulisnya sebagai berikut: Huib Akihary, Nadia Purwestri,
Pauline K.M. van Roosmalen, Digging4Data: Bagaimana meneliti lingkungan terbangun di Indonesia,
1620-1950, Jakarta/Den Haag/Amersfoort (2016), berlisensi CC-BY 4.0. Informasi lebih lanjut
mengenai lisensi ini: [Link]
Daftar isi 3

Tentang penulis 5

Pengantar 7

Melakukan penelitian 8

Langkah-langkah penelitian 11
Langkah 1: Menentukan pertanyaan-pertanyaan penelitian 12
Langkah 2: Mengidentifikasi kumpulan data dan sumber informasi yang tersedia 16
Langkah 3: Tentukan kumpulan data dan sumber informasi yang digunakan dan alasannya 20
Langkah 4: Bagaimana menggunakan sumber informasi 22
Langkah 5: Menafsirkan sumber informasi 23
Langkah 6: Menyimpan dan mengacu sumber informasi dan data 26

Studi kasus 29
Studi Kasus 1: Gedung Cagar Budaya Kementerian Keuangan di Jakarta 30
Studi Kasus 2: Museum Pegadaian di Sukabumi 42
Studi Kasus 3: Toko Serba Ada Medan di Medan 48

Bibliografi pilihan 54

Sumber informasi online pilihan 58

Ilustrasi 59
4

Tentang penulis 5

Ir. Nadia Purwestri adalah seorang arsitek yang telah Drs. Huib Akihary adalah seorang ahli sejarah seni dan
melakukan banyak penelitian mengenai bangunan arsitektur dan penulis/peneliti sejumlah buku dan
bersejarah dan pegiat pelestari bangunan dan struktur terbitan. Karyanya yang berjudul Architectuur en Stedebouw
bersejarah di Indonesia. Lulusan Universitas in Indonesië 1870-1970, dipresentasikan di Jakarta tahun
Tarumanagara tahun 1994, Purwestri adalah salah satu 1988 dalam sebuah seminar ‘Change and Heritage in
pendiri Pusat Dokumentasi Arsitektur (PDA) dan Indonesian Cities’ dan edisi keduanya yang diterbitkan
menjabat sebagai Direktur Eksekutif. Ia berpengalaman tahun 1990, merupakan tinjauan yang pertama dilakukan
dalam membuat inventarisasi, melakukan dokumentasi, terhadap tinggalan bersama arsitektural di Indonesia.
dan meneliti bangunan dan kawasan bersejarah. Ia juga Terbitan lain setelahnya, monografi J.F.L. Ghijsels, Architect
menulis beberapa buku dan artikel di bidang in Indonesia 1910-1929, diterbitkan tahun 1996. Akihary
keahliannya; seperti, Gedung Balaikota Jakarta. Jalan menuntut ilmu di Institut Teknologi Bandung pada tahun
Merdeka Selatan No. 8, Rumah Hindia di Tepi Sungai, Warisan 1984 dan kemudian memperoleh gelar MA bidang
De Javasche Bank, Tegang Bentang. Seratus Tahun Perspektif Sejarah Seni dan Arsitektur dari Universitas Amsterdam.
Arsitektural di Indonesia, dan Inventory and Identification of Pada tahun 1990an, Akihary meneliti untuk Rijksdienst
Forts in Indonesia. Monumentenzorg di Zeist. Kemudian ia bekerja selama
beberapa tahun sebagai sejarawan seni untuk sejumlah
Dr. Pauline K.M. van Roosmalen memiliki gelar MA di museum Belanda di bidang konservasi dan restorasi. Dari
bidang Sejarah Seni dan Arsitektur dari Vrije Universiteit 2009 sampai 2012, ia menjabat posisi direktur Museum
Amsterdam dan PhD di bidang Sejarah Arsitektur dan Maluku di Utrecht. Pada 2012, Akihary kembali menekuni
Tata Ruang Wilayah Kota dari Universitas Teknologi keahliannya, melakukan penelitian warisan budaya
Delft. Dia juga memiliki gelar MA di bidang Tari bersama Indonesia dan Belanda, dan mempresentasikan
Kontemporer dari Codarts di Rotterdam. Disertasi PhD hasil pekerjaannya pada beberapa universitas di
van Roosmalen merupakan studi komprehensif pertama Indonesia.
mengenai tata ruang wilayah kota pada periode akhir
dan pascakolonial di Indonesia. Van Roosmalen mengajar
dan menerbitkan penelitiannya secara rutin. Terbitan
terkininya antara lain ‘Bouwen in turbulente tijden. Het werk
van Ingenieurs-Bureau Ingenegeren-Vrijburg (IBIV) (1936-
1957)’, ‘Netherlands Indies Indian town planning: An agent for
modernisation’, ‘Confronting built heritage: Shifting
perspectives on kolonial architecture in Indonesia’, dan ‘The
Dutch East Indies: An Ineffective Shot Across The Bows’
mengenai keikutsertaan Bandung pada CIAM 4 Exhibition
1934. Van Roosmalen adalah pendiri dan Direktur PKMvR
firma konsultan penelitian peninggalan bersejarah.
PKMvR memusatkan perhatian pada isu-isu terkait
tinggalan struktur (kolonial) bersejarah: penelitian,
presentasi, komunikasi, pelestarian, dan pengembangan.
Selain bekerja pada PKMvR, van Roosmalen adalah mitra
bestari untuk berbagai jurnal internasional dan menjadi
dosen tamu di Universitas Teknologi Delft. Di Delft ia
memprakarsai dan mengelola repositori sumber
informasi mengenai arsitektur kolonial dan tata ruang
wilayah kota Eropa.
6

Pengantar 7

Dalam satu dekade terakhir ini semakin banyak Dan meskipun munculnya panduan ini menjawab
profesional Indonesia terlibat dalam kajian peninggalan kebutuhan yang pernah diungkapkan oleh para arsitek,
bangunan/struktur bersejarah di kawasan bersejarah perencana kota, dan pejabat pemerintah, hal ini
pusat kota di Indonesia. Pusat kegiatan ekonomi dimaksudkan untuk semua orang yang tertarik dengan
kota-kota tersebut telah bergeser dari awalnya di pusat jenis penelitian semacam ini.
kota tua ke bagian kota yang baru. Bangunan kosong
dan ruang publik yang telah ditinggalkan tersebut Panduan ini merupakan hasil dari kolaborasi intensif
membutuhkan alokasi fungsi baru untuk antara para peneliti dan sejumlah lembaga di Indonesia
pengembangannya. Pembangunan berbasis peninggalan dan Belanda: Pusat Dokumentasi Arsitektur Indonesia
bersejarah di kawasan bersejarah pusat kota (Nadia Purwestri) bekerja sama erat dengan Lembaga
membutuhkan pemahaman menyeluruh tentang sejarah Warisan Kebudayaan Belanda (Rijksdienst voor het
bangunan dan tata ruang wilayah kota. Oleh karena itu Cultureel Erfgoed: Jean-Paul Corten, Jinna Smit), Arsip
sangat penting untuk mengumpulkan dan menganalisis Nasional Belanda (Nationaal Archief: Johan van Langen,
data historis guna mengintegrasikan faktor-faktor ini ke Frans van Dijk), Heritage Hands On (Hasti Tarekat) dan
dalam proses perencanaan. para pakar: Huib Akihary dan Pauline K.M. van
Roosmalen. Kebijakan Warisan Budaya Bersama
Pada tanggal 27 dan 28 Oktober 2014, Arsip Nasional Pemerintah Belanda juga berperan penting,
Republik Indonesia (ANRI) menyelenggarakan lokakarya menyediakan kerangka kerja dan pendanaan untuk
‘Collecting and Connecting: Historical Data for Inner City pelestarian warisan bersama Belanda dengan beberapa
Development’. Dikaitkan dengan kesadaran yang kian negara mitra secara berkelanjutan. Indonesia dan
tumbuh di Indonesia akan manfaat menggabungkan Belanda telah berhasil berkolaborasi dalam kerangka
konservasi tinggalan bersejarah dan pembangunan kerja sama ini sejak tahun 2009.
perkotaan, lokakarya tersebut bertujuan untuk
menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik. Digging4Data ditulis oleh tiga penulis. Pauline K.M. van
Pada kenyataannya, sebagaimana diperlihatkan oleh Roosmalen dan Huib Akihary yang merupakan sejarawan
para profesional dari lembaga pemerintah, LSM. dan arsitektur dari Belanda, penulis, dan ahli di bidang
perguruan tinggi di Indonesia, pengetahuan tentang cara arsitektur kolonial dan tata ruang wilayah kota di
mengumpulkan dan mengelola data historis masih Indonesia. Selama lokakarya ‘Collecting and Connecting:
kurang. Tentunya, lokakarya tersebut hanya membahas Historical Data for Inner City Development’, pendekatan
beberapa langkah awal dan bukan membahas solusi bertahap dan langsung tentang bagaimana melakukan
akhir. Selama evaluasi lokakarya, para peserta penelitian mengenai lingkungan terbangun sangat
mengisyaratkan perlunya panduan untuk mendukung dihargai oleh para peserta. Melalui panduan ini, mereka
para profesional dalam melakukan penelitian arsip demi berbagi pengalaman mereka dengan masyarakat luas.
pelestarian tinggalan bersejarah dan revitalisasi pusat Penulis ketiga adalah Nadia Purwestri, yang telah terlibat
kota. Pada saat inilah lahir panduan itu: Digging4Data: dalam berbagai proyek peninggalan arsitektur bersejarah.
How to do research on the built environment in Indonesia, Berdasarkan pengalamannya dengan konservasi
1620-1950. tinggalan sejarah dan keterlibatannya dalam tata ruang
wilayah kota di Indonesia, ia memastikan bahwa panduan
Publikasi ini adalah panduan praktis yang menjelaskan ini akan memenuhi kebutuhan para peneliti di Indonesia.
cara mengumpulkan dan mengelola data historis.
Tujuannya adalah untuk mendukung penelitian tentang
lingkungan terbangun: bangunan, tata ruang wilayah
kota, lanskap, infrastruktur, arsitektur taman, dan
interior. Panduan ini memusatkan perhatian terhadap
keterampilan melakukan penelitian mengenai bangunan
peninggalan bersejarah dan perencanaan lingkungan
yang dilakukan selama kehadiran Belanda di Indonesia,
kira-kira dari 1620 sampai 1950, mulai dari bangunan-
bangunan VOC (Perusahaan Dagang Hindia-Belanda)
sampai dengan tata ruang wilayah kota modern 1940-an.
8 Melakukan penelitian

Digging4Data adalah panduan yang akan mengajarkan • arsitek;


kita cara mengumpulkan data dan menginformasikan • perencana kota;
kita mengenai berbagai kemungkinan yang ditawarkan • pejabat pemerintah;
oleh arsip dan perpustakaan dalam hal ini. Ini adalah • peneliti dari beragam latar belakang.
panduan praktis yang bertujuan untuk:
• menjelaskan sejumlah metode yang tepat untuk Panduan ini menerangkan cara mengumpulkan data
melaksanakan penelitian mengenai arsitektur pada historis dan menjelaskannya dalam enam langkah
Masa Kolonial Belanda (1620-1942); mudah cara melakukan penelitian, dimulai dengan
• menyediakan informasi mengenai sumber informasi membuat pertanyaan penelitian dan dilanjutkan dengan
pendukung dan lembaga-lembaga yang memberikan bagaimana menemukan dan menggunakan sumber
informasi historis; informasi, dan kemudian menyimpan dan mengelolanya.
• menyediakan alat dan metode pengumpulan data Penjelasan langkah demi langkah ini merupakan suatu
dan informasi historis. bentuk penyederhanaan dari metode penelitian yang
diterapkan dalam penelitian sejarah arsitektur. Kami
Digging4Data ditujukan untuk semua orang yang tertarik mengupayakan agar panduan ini cukup sederhana dan
melakukan penelitian, namun khususnya untuk mereka umum, sehingga dapat digunakan oleh siapapun yang
yang terlibat dalam proyek-proyek tinggalan bersejarah, tertarik dengan sejarah lingkungan terbangun.
mencakup:
9

Penelitian sejarah arsitektur [Link], laman Belanda yang menawarkan


akses ke semua suratkabar Belanda. Ini merupakan
Sebelum Anda mulai menggali dan mencari sumber sumber besar, juga untuk penelitian tentang
informasi, penting untuk memahami sejumlah aspek Indonesia di zaman kolonial. Tetapi untuk
yang relevan dalam melakukan penelitian bidang menemukan data yang relevan, Anda harus
arsitektur: memasukkan pencarian menggunakan nama yang
digunakan saat itu. Misalnya, saat mencari informasi
1. Membuat pertanyaan penelitian yang tepat di suratkabar dari sebelum tahun 1950, Anda harus
merupakan suatu langkah awal yang penting. Jika menulis ‘Tjitjoeroeg’ bukan ‘Cicurug’, dan
Anda tidak membuat pertanyaan yang tepat, atau ‘Buitenzorg’ bukan ‘Bogor’. Akurasi sangat penting
jika Anda membuat pertanyaan yang terlalu luas atau ketika melakukan pencarian data.
kurang jelas, pencarian data tidak akan mungkin
untuk dilakukan. 5. Penelitian tidak selalu mudah atau menguntungkan:
kadangkala informasi yang Anda butuhkan begitu
2. Berdasarkan pertanyaan penelitian yang telah dibuat, mudah ditemukan sehingga langsung tersaji di depan
Anda juga perlu untuk memahami atau mengetahui Anda, tetapi ini amat sangat jarang terjadi.
tempat untuk mencari sumber informasi. Sebaliknya yang akan Anda temukan biasanya
berupa potongan-potongan informasi. Sepenuhnya
3. Setelah mengidentifikasi sumber informasi Anda, terserah Anda bagaimana menggunakan potongan-
Anda perlu mencari tahu mana yang dapat diakses. potongan informasi ini, memahaminya dan
Apakah orang-orang yang terlibat masih hidup? merekonstruksi kejadian, berdasarkan pada temuan
Apakah Anda dapat mendatangi sumber informasi? dan pengetahuan Anda. Untuk mencapai hal ini,
Akankah penjaga atau pemilik sumber informasi Anda harus bekerja dengan cara ‘asosiatif’.
mengizinkan Anda mengaksesnya? Dapatkah Anda
membaca dan memahami – dan dengan demikian 6. Referensi ke sejumlah sumber yang digunakan
menafsirkan – sumber informasi tersebut? memungkinkan orang lain untuk memahami
bagaimana Anda sampai pada interpretasi Anda
4. Bila menggunakan sumber-sumber online, pastikan tentang apa yang terjadi. Referensi menunjukkan
Anda menggunakan nama dan ejaan yang digunakan data yang Anda gunakan, dan dengan demikian
saat itu dan/atau ejaan lokal yang umum, karena mendukung narasi Anda. Apabila di kemudian hari
nama/istilah asli tidak diubah atau diperbarui dalam ditemukan data baru, referensi Anda akan membantu
sumber-sumber asli yang telah didigitalisasi, mencari orang lain untuk merevisi atau memperbarui
informasi dengan menggunakan nama-nama yang penafsiran Anda menggunakan materi baru tersebut.
digunakan saat ini akan gagal. Ambil contoh

Enam langkah penelitian

1 2 3 4 5 6

Menentukan Mengidentifikasi Tentukan Bagaimana Menafsirkan Menyimpan dan


pertanyaan- kumpulan data kumpulan data menggunakan sumber membuat
pertanyaan dan sumber dan sumber sumber informasi referensi data
penelitian informasi yang informasi yang informasi dan sumber
tersedia akan digunakan, informasi
dan alasannya
10

11

Langkah-langkah
penelitian
12 Langkah 1:

Menentukan pertanyaan-
pertanyaan penelitian

Sebelum memulai penelitian mengenai suatu obyek setepat mungkin. Dalam mengumpulkan data, akan lebih
tertentu, perlu dirumuskan sebuah pertanyaan yang jelas baik jika obyeknya ditelaah in situ, yaitu di tempatnya.
dan konkret mengenai apa yang ingin kita ketahui atau
temukan. Untuk merumuskan pertanyaan yang tepat, Cobalah untuk mengumpulkan data dasar sebanyak-
ajukan pertanyaan terhadap diri sendiri mengapa Anda banyaknya. Semakin banyak data dasar yang berhasil
ingin tahu tentang hal ini. Ini akan membantu Anda. dikumpulkan, semakin baik pertanyaan penelitian yang
dibuat dan semakin tepat arah penelitian ke sumber
informasi yang spesifik. Pada saat mengumpulkan data
Menelaah obyek: Mengumpulkan ‘5 W’ dasar, kita sebenarnya mencari lima pertanyaan yang
membutuhkan jawaban: What (Apa), Where (Di mana),
Titik awal penelitian Anda adalah obyeknya itu sendiri. When (Kapan), Who (Siapa), Why (Mengapa). Semakin
Ini adalah sumber primer sebagai data dasar Anda, sedikit ‘W’ yang kita ketahui, semakin tidak spesifik
seperti; nama asli, fungsi, lokasi, tanggal, nama pertanyaan penelitian yang dibuat dan akan semakin
perancangnya, kontraktornya, dan pemiliknya atau sulit memperoleh informasi yang dicari. Demikian juga,
penggunanya. Mengumpulkan data-data ini akan jawaban-jawaban dari 5 W tersebut dapat mengantar
membantu Anda dalam merumuskan pertanyaan Anda Anda ke sumber-sumber informasi (baru).

Menggunakan 5 W

1. What/Apa (nama, tipologi)

Agar dapat menemukan lebih banyak informasi dari


sumber informasi Belanda, maka penting bagi kita untuk
mengetahui nama asli dalam Bahasa Belanda dari obyek
yang diteliti. Bagaimana atau sebagai apakah obyek
tersebut dikenal? Bangunan dan struktur apakah itu, atau
apa nama kompleks, daerah atau wilayah di mana obyek
tersebut berada?
Terkadang Anda dapat menemukan nama pada obyek itu
sendiri. Jika Anda tidak dapat menemukan namanya,
cobalah untuk memikirkan tentang apa jenis obyeknya:
apa jenis bangunannya, apa fungsinya atau nama dan
jenis wilayahnya?
13

2. Where/Di mana (lokasi) 3. When/Kapan (periode waktu)

Di mana lokasi obyeknya? Apa alamat di masa lalu dan Mengetahui tanggal (tahun) akan sangat membantu. Hal
sekarang dan nomor rumah? Apa nama daerahnya? Apa ini merupakan indikasi yang membantu Anda membatasi
nama kotanya? Semakin akurat lokasi dan alamatnya periode penelitian. Apabila Anda tidak mengetahui
yang sekarang, semakin mudah untuk menemukan periode waktunya, Anda dapat memperkirakan tahun
alamatnya di masa pemerintahan kolonial Belanda. pembuatan obyek tersebut berdasarkan gaya (arsitektur)
Alamat lama pada masa pemerintahan kolonial Belanda yang akurat dalam rentang 25 tahun. Lakukan hal ini
sangat membantu penelitian Anda: wajib untuk hanya jika Anda dapat mengenali bermacam gaya
mendokumentasikan secara baik dan sangat dibutuhkan bangunan yang berbeda dan jika Anda merasa percaya
ketika memeriksa peta-peta dan arsip lama seperti diri melakukannya.
‘kadaster’ (pendaftaran tanah).
Jika Anda menemukan tulisan tahun pada fasad suatu
bangunan, tulisan ini biasanya menunjukkan tahun
selesainya pembangunan. Umumnya Anda akan
menemukan tulisan seperti ‘Anno 1908’, yang berarti
‘pada tahun 1908’. Kadang-kadang tahun ini ditulis
dalam angka Romawi: ‘Anno MDCCLXXVI’, yang berarti
‘pada tahun 1776’. Jika tidak ada tulisan tahun pada
bangunan, periksa apakah ada plakat atau batu pondasi
pada fasad atau di dalam bangunan yang menyebutkan
nama arsitek atau mengisahkan tentang konsekrasi
(untuk bangunan gereja) atau peresmian bangunan.
Lokasi obyek juga dapat memberikan petunjuk. Di area
perumahan yang dirancang tahun 1925, misalnya, rumah
yang terdapat di area tersebut tidak mungkin dibangun
sebelum 1925.
14

4. Who/Siapa (perancang, pemberi perintah 5. Why/Mengapa (motif )


pembangunan, pemilik)
Cobalah untuk mencari tahu mengapa obyek tersebut
Bagi sebagian besar obyek di Indonesia, mulai dari dirancang, direncanakan, dibangun atau bahkan – jika
bangunan tua hingga tata ruang wilayah kota, nama- tidak ada lagi – dibongkar atau dihancurkan. Pada
nama orang yang terlibat dalam pembuatan obyek kesempatan apa? Apakah ada peristiwa sejarah atau
tersebut tidak diketahui. Kadang-kadang Anda akan alasan yang dapat dikaitkan dengan obyek tersebut?
menemukan nama arsiteknya atau kontraktornya Mengapa dibangun, dan mengapa dibangun di lokasi
(‘aannemer’) pada sebuah plakat pada fasad atau interior tersebut?
bangunan tersebut. Tetapi dalam banyak kejadian Anda Jawaban parsial dari pertanyaan tersebut seringkali
benar-benar harus mencari dari sumber-sumber seperti membutuhkan akal sehat, pengetahuan umum dan
perpustakaan dan arsip. sejarah. Contohnya, perumahan karyawan perusahaan
kereta api biasanya berada di dekat jalan kereta api dan/
Banyak nama desainer, arsitek, kontraktor, dan atau stasiun.
perencana kota telah dikenal melalui penelitian dalam
beberapa dekade terakhir. Nama mereka telah
ditemukan di dalam berbagai arsip dan di dalam buku-
buku referensi seperti Regeeringsalmanak voor
Nederlandsch-Indië, diterbitkan setiap tahun dari 1817
sampai 1942, Nieuw adresboek van geheel Nederlandsch-Indië
yang diterbitkan antara 1901 dan 1925 dan kemudian
digantikan Kleian’s adresboek van geheel Nederlandsch-Indië,
diterbitkan setiap tahun dari 1926 sampai 1942, dan
Naamlijst der Europeesche inwoners van Nederlandsch-Indië en
opgaven omtrent den burgerlijken stand (1865-1902).

Sambil melakukan pencarian nama, perlu diingat bahwa


arsitek-arsitek terdidik pertama tiba di Hindia Belanda
sekitar tahun 1900an. Sepanjang abad ke-19, bangunan
biasanya dirancang dan dibangun oleh para insinyur
militer dan kontraktor.

Fungsi asli dari sebuah obyek dapat menjadi petunjuk


tentang pemiliknya. Pemerintah Hindia-Belanda adalah
pemilik semua properti pemerintah seperti kantor-kantor
dan bangunan fasilitas umum, sekolah-sekolah, kantor-
kantor pos, dan perumahan karyawan. Setelah 1870,
perorangan, bisnis, dan industri juga mulai
memerintahkan pembangunan. Antara tahun 1903 dan
1942 pemerintah daerah juga melakukan hal yang sama.
Bila Anda tidak mengetahui siapa arsitek, kontraktor atau
pemiliknya, pemilik atau pengguna bangunan dapat
menjadi petunjuk untuk memulai penelitian. Pemilik atau
pengguna dapat berupa perorangan, perusahaan,
lembaga pemerintah, dll.
15

Merumuskan pertanyaan penelitian


Ejaan

Setelah mengumpulkan data dasar, rumuskan Menulis membutuhkan akurasi. Tidak hanya
pertanyaan penelitian Anda sejelas dan sekonkret berkenaan dengan isi, tetapi juga berkenaan
mungkin. Sebuah pertanyaan yang baik mengandung dengan gaya dan, yang terakhir namun sama
lebih dari satu ‘W’, masing-masing akan memberikan penting, berkenaan dengan referensi. Di era
petunjuk terpisah untuk diikuti. Sebuah pertanyaan yang digital ini, yang disebut terakhir menjadi
buruk adalah pertanyaan yang terlalu samar yang akan semakin penting.
membuat ruang lingkup penelitian Anda terlalu lebar,
menyebabkan waktu penelitian semakin lama dan Alasannya sederhana: mencari sebuah nama
kemungkinan berhasilnya kecil. dengan ejaan yang salah tidak akan membawa
Ini adalah contoh dari pertanyaan yang buruk: “Saya Anda kemana pun – atau setidaknya tidak ke
mencari peta tua Surabaya.” Pertanyaan ini bermasalah tempat yang Anda harapkan. Oleh karena itu,
karena kata sifat ‘tua’, yang bisa merujuk pada apa pun sangat penting untuk berhati-hati ketika menulis
yang berasal dari abad ke-17 sampai dengan kemarin. dan menyalin nama-nama.
Lebih baik jika membatasi periode penelitian: “Saya
mencari peta Surabaya dari tahun 1900 sampai 1942.”
Ini adalah contoh lain dari pertanyaan yang kurang jelas:
“Kapan gereja di Bandung dibangun dan siapa
arsiteknya?”. Terlepas dari fakta bahwa pertanyaan itu
berisi dua W (Kapan/When, Siapa/Who), pertanyaannya
terlalu luas. Lagipula, sejumlah gereja kemungkinan telah
dibangun di Bandung dan pertanyaannya tidak
menyebutkan secara spesifik gereja mana yang
dimaksud.

Berikut ini adalah contoh beberapa pertanyaan yang


baik:
• “Saya mencari data perumahan dekat stasiun kereta
api di Tegal” (Tiga W)
• “Apakah ada gambar asli dari Bank Negara Indonesia
di Jalan K.H. Ahmad Dahlan di Jogjakarta? “ (Dua W)
• “Saya mencari informasi tentang bangunan di Jalan
Hindu di Medan yang memiliki dua plakat pada
fasadnya, salah satunya menyatakan G. Bos sebagai
arsitek, yang lain menyatakan bahwa pondasi/batu
pertama bangunan tersebut diletakkan oleh Daniël
baron Mackay, Walikota Medan." (Lima W)
16 Langkah 2:

Mengidentifikasi kumpulan data dan
sumber informasi yang tersedia
Setelah merumuskan pertanyaan penelitian Anda, Anda perlu menemukan dan memeriksa:
langkah berikutnya adalah menghubungkan pertanyaan • sumber-sumber yang terkait dengan Sekolah Dasar E;
Anda ke sumber yang relevan. Dengan kata lain: Anda • sumber-sumber yang terkait dengan Jalan F di kota G;
perlu memutuskan bagaimana dan di mana mencari • sumber-sumber yang terkait dengan arsitek H.
jawaban atas pertanyaan Anda. Apa jenis sumber dan
kumpulan data yang tersedia, dan di mana dapat Perhatikan bahwa dalam hal ini nama sekolah juga dapat
ditemukan? Agar dapat membuat pilihan yang tepat, memberikan Anda petunjuk. Dalam hal ini, mesin
Anda perlu mengidentifikasi kumpulan data dan sumber pencarian online, laman , dan buku referensi khusus
informasi yang berguna dan memutuskan mana dari dapat berguna.
kumpulan data dan sumber informasi itu yang paling
relevan atau menjanjikan untuk penelitian Anda. Cara C. Menyeleksi sumber informasi
melakukan hal ini dijelaskan dalam Langkah A sampai D.
Sekarang setelah Anda tahu sumber-sumber mana yang
A. Periksa 5 W dalam pertanyaan penelitian anda diarahkan W dalam pertanyaan penelitian kita, Anda
harus memutuskan mana yang paling relevan untuk
Satu metode yang baik dan sederhana adalah memeriksa diperiksa. Anda juga perlu mencari tahu di mana mereka
dari 5 W tersebut mana yang terdapat dalam pertanyaan berada. Mari kita lihat pertanyaan terakhir untuk melihat
penelitian Anda. Setiap W akan mengarah ke sumber dan bagaimana Anda dapat menggunakannya.
kumpulan data tertentu dan bersama-sama beberapa W
tersebut memberikan indikasi sumber-sumber mana Berkenaan dengan sumber informasi, ada beberapa hal
yang paling relevan atau terbaik untuk memulai. yang perlu diperhatikan untuk langkah-langkah
berikutnya:
Ini adalah contoh beberapa pertanyaan dan W yang • Ada dua macam sumber informasi: primer dan
disebut: sekunder.
• “Kapan rencana baru tata ruang kota wilayah A untuk • Sumber informasi dapat berbentuk analog, digital
kota B dirancang?” (Kapan/When, Apa/What, Di atau terlahir digital.
mana/Where) • Sumber informasi dapat disimpan dan dikelola oleh
• “Siapa yang merancang kantor perusahaan C di kota lembaga publik dan swasta (arsip, perpustakaan,
D?” (Siapa/Who, Apa/What, Di mana/Where) museum) dan perorangan.
• “Apakah ada gambar Sekolah Dasar E di Jalan F di • Ada banyak jenis koleksi, sumber informasi dan data
kota G, yang dirancang oleh arsitek H?” (Apa/What, di Belanda mengenai keberadaan Belanda di
Di mana/Where, Di mana/When, Siapa/Who) Indonesia.
• Berbagai jenis koleksi, sumber informasi, dan data
B. 5 W menunjukkan sumber dan kumpulan data yang juga ada di Indonesia.
relevan • Sebagian besar sumber informasi di Belanda
terdaftar dan dapat diakses (online).
Dengan memeriksa 5 W Anda akan mendapatkan • Catatan sejarah dari periode singkat pemerintahan
indikasi mengenai sumber informasi yang menjadi acuan Inggris di Indonesia pada masa pemerintahan Raffles
awal. Mari kita kembali ke pertanyaan “Kapan rencana pada umumnya tersimpan di Inggris.
baru tata ruang kota wilayah A untuk kota B dirancang?” • Prancis kemungkinan memiliki catatan sejarah
Dalam rangka mencari tahu tahun perancangannya, mengenai periode singkat Belanda – termasuk
Anda perlu menemukan dan memeriksa: Hindia-Belanda – saat secara politik dikuasai oleh
• sumber-sumber yang terkait dengan rencana tata Prancis.
ruang kota wilayah A;
• sumber-sumber yang terkait dengan kota B. Meskipun ikhtisar cetak dari berbagai referensi dan
sumber informasi sudah ketinggalan zaman karena
Untuk pertanyaan “Siapa yang merancang kantor penelitian yang diperbarui dan kelembagaan yang
perusahaan C di kota D”, W-nya mengarahkan kita ke: berubah, namun ikhtisar tersebut masih memberi banyak
• sumber-sumber yang terkait dengan perusahaan C; informasi untuk memulai riset Anda. Publikasi berikut
• sumber-sumber yang terkait dengan kota D; adalah titik awal yang baik dalam upaya mengidentifikasi
• sumber-sumber yang terkait dengan orang-orang sumber-sumber informasi di Belanda:
yang terlibat. • Huib Akihary, Verslag onderzoek naar de 19e en 20e
eeuwse in Nederland aanwezige bronnen over architectuur
Untuk pertanyaan “Apakah ada gambar dari Sekolah en stedebouw in Indonesië, Zeist: Rijksdienst
Dasar E di Jalan F di kota G, yang dirancang oleh arsitek H?” Monumentenzorg, 1990.
• Francien van Anrooij, De koloniale staat (Negara lokal, aturan ini tidak selalu berlaku. Karena itu, 17
kolonial) 1854-1942. Panduan Archief van het Ministerie menelusuri sumber informasi yang relevan seringkali —
van Koloniën (Arsip Kementerian Urusan Tanah Jajahan), memerlukan pendekatan asosiatif berdasarkan pada
Kepulauan Nusantara, Leiden: Nationaal Archief, 2014. pengetahuan sebelumnya yang diperlukan.
• F.G.P. Jacquet, Sources of the History of Asia and Oceania Cara tradisional memeriksa sumber informasi di arsip
in the Netherlands Part II: Sources 1796-1949, Munich: dan perpustakaan adalah dengan secara langsung
K.G. Sauer, 1983. mengunjungi arsip atau perpustakaan. Meskipun kita
hidup di dunia yang semakin terdigitalisasi secara pesat,
D. Mengkaji sumber informasi di mana memeriksa sumber online pada awal penelitian
semakin dianjurkan. Namun demikian: bagaimana
Tergantung pada pertanyaan penelitian Anda, Anda perlu cara Anda menemukan sumber-sumber informasi
memutuskan sumber mana yang paling relevan: arsip, anda – online, cetak atau secara langsung – kurang
perpustakaan, koleksi fotografi, dll. Anda juga perlu relevan dibanding ke sumber-sumber informasi
mencari tahu dan memutuskan di mana sumber-sumber tersebut seluruhnya.
informasi tersebut tersimpan: koleksi swasta atau publik, Ketika Anda berencana untuk mengunjungi langsung
lokal, regional, provinsi, nasional dan internasional. lembaga arsip atau perpustakaan, pastikan Anda
Koleksi mana yang paling berguna tergantung pada mempersiapkan kunjungan Anda. Periksa apakah
sumber-sumber informasi apa yang Anda harap dapat sumber-sumber informasi dapat diakses dan apa yang
ditemukan di sana. ‘Logika’ tidak selalu berlaku di sini. diperlukan untuk dapat mengakses sumber-sumber
Meskipun kita berharap bahwa sumber informasi tersebut (surat pengantar, paspor, kartu identitas, dll).
tentang obyek lokal yang relevan disimpan dalam koleksi

Mengidentifikasi kumpulan data dan sumber informasi

A B C D

Periksa 5W dalam 5 W menunjukkan sumber Pilih sumber Mengkaji sumber informasi


pertanyaan-pertanyaan informasi dan kumpulan
penelitian data yang relevan
18

Ruang arsip & perpustakaan:
apa yang boleh & tidak boleh

Bekerja di ruang arsip atau perpustakaan


seringkali menyiratkan Anda akan bekerja
dengan materi lama, unik, tak tergantikan dan
seringkali rapuh. Memastikan bahwa naskah-
naskah juga dapat dipelajari dan dinikmati oleh
orang lain, adalah esensi dari pentingnya
memperlakukan materi tersebut dengan hati-
hati dan mematuhi aturan.

Jangan membawa makanan dan minuman ke


dalam ruang baca. Juga, jangan membawa pena
tinta: hanya menggunakan pensil. Membalik
halaman dengan hati-hati, jangan menata ulang
urutan naskah yang longgar. Jangan membuat
catatan dalam dokumen, jangan memotong
atau merobek halaman atau bagian dari
halaman yang menarik bagi Anda.

Ruang baca adalah untuk membaca, bukan


untuk bercakap-cakap. Agar tidak mengganggu
rekan-rekan Anda, tenang dan matikan ponsel.
Jika Anda perlu berbicara, melalui telepon atau
lainnya, keluarlah dari ruang baca.

Apakah ada gambar dari Sekolah Dasar E (What) di Jalan F (Where)


di kota G (Where), yang dirancang oleh arsitek H (Who)?

Temukan data yang terkait dengan Sekolah Dasar E Temukan data yang Temukan data yang
terkait Jalan F di kota G terkait arsitek H

Pemerintah Pemerintah Organisasi Cek peta dan arsip kota G Cek


Pusat: setempat swasta, • Mesin pencari online,
Departemen contohnya laman web
Pekerjaan organisasi • Buku referensi
Umum keagamaan tentang arsitektur
(Burgerlijke • Arsip dari arsiteknya
Openbare atau biro arsiteknya
Werken, BOW) • Narasumber yang
kenal dengan
arsiteknya

Cek Arsip BOW Cek arsip dan Cek organisasi


dan publikasinya perpustakaan swasta, arsip,
(laporan kotamadaya / perpustakaan
tahunan) lokal
19

20 Langkah 3:

Tentukan kumpulan data dan sumber
informasi yang digunakan dan alasannya

Sumber informasi sangat penting bagi penelitian sejarah.


Tanpanya, Anda tidak dapat melakukan penyelidikan Sumber informasi & koleksi data
ilmiah maupun keilmuan. Ketika mengumpulkan data
historis, Anda menggunakan semua jenis sumber untuk Sumber Informasi yang Anda gunakan seringkali
memperoleh informasi. Menentukan koleksi data dan merupakan bagian dari suatu koleksi data.
sumber informasi yang harus Anda gunakan dan Koleksi dapat terdiri dari berbagai jenis obyek:
mengapa, bergantung pada apa yang Anda cari, buku, jurnal, foto, film, peta, arsip, dan juga
pertanyaan penelitian Anda, juga bagaimana sumber lukisan, tembikar, tekstil, dll. Kecuali untuk
informasi tersebut tersaji dan apakah sumber informasi bahan cetak, sebagian besar obyeknya unik:
tersebut dapat diakses oleh kita. yaitu hanya ada satu di dunia.

Sumber informasi terdiri atas sumber informasi primer Secara tradisional, koleksi diusahakan oleh
dan sekunder. Cara terbaik untuk menggunakan sumber perorangan dan perusahaan. Karena itu, sifat
informasi tersebut adalah memulai dengan sumber benda dalam koleksi secara umum ditentukan
sekunder sebagai cara mendapatkan sumber informasi oleh orang atau lembaga yang mengumpulkan
primer yang relevan. Informasi yang ditemukan dalam obyek-obyek tersebut.
sumber-sumber informasi sekunder memungkinkan
Anda untuk mendapatkan sumber-sumber primer yang Koleksi perorangan dan perusahaan seringkali
relevan. Sumber primer memungkinkan Anda untuk merupakan bagian dari koleksi yang lebih besar.
menelusuri informasi tangan pertama yang relevan yang Koleksi yang lebih besar ini umumnya ditata
membantu Anda merekonstruksi urutan kejadian terkait secara tematis (arsitektur, seni, mode,
pembangunan suatu gedung. antropologi, dll) atau berdasarkan jenisnya
(barang cetakan, foto, film, peta, arsip, lukisan,
Sumber-sumber informasi, baik primer maupun cetakan, keramik, kostum, dll).
sekunder, merupakan data analog ketika informasi ditulis
dan dicetak pada bahan tradisional seperti kertas, kaca Secara umum, koleksi ini disimpan oleh dan
atau film. Bahkan ketika sumber informasi sudah dapat diakses melalui perpustakaan, arsip,
didigitalisasi atau aslinya sudah diproduksi secara digital museum. Perpustakaan, arsip dan museum ini
(born-digital), tetap dianggap sebagai sumber primer dapat bersifat nasional, provinsi atau lokal,
atau sekunder. Meskipun semakin banyak sumber swasta (perorangan, lembaga) atau umum.
informasi yang didigitalisasi dan dapat diakses secara
online, kita harus sadari bahwa tidak semua informasi Contoh koleksi bertemakan lingkungan
terdapat dalam jaringan (online). Oleh karena itu, terbangun Indonesia di Indonesia adalah:
mengunjungi langsung koleksi data seringkali masih • Arsip Nasional Republik Indonesia, Jakarta
menjadi bagian dari proses penelitian. • Perpustakaan Nasional Republik Indonesia,
Jakarta
• Perpustakaan Pusat Dokumentasi Arsitektur,
Jakarta

Contoh koleksi bertemakan lingkungan


terbangun Indonesia di Belanda adalah:
• Perpustakaan Nasional Belanda (Koninklijke
Bibliotheek), Den Haag
• Perpustakaan Kelembagaan: Perpustakaan
Universitas Teknologi, Delft; Perpustakaan
Universitas Leiden, Leiden
• Arsip Nasional Belanda (Nationaal Archief),
Den Haag
21

22 Langkah 4:

Bagaimana menggunakan
sumber informasi

Setelah Anda mengumpulkan sumber-sumber informasi, Sebagai peneliti, adalah tanggung jawab Anda untuk
berarti Anda telah siap untuk mulai menggunakan mengidentifikasi, memilih, dan menafsirkan informasi
sumber-sumber tersebut. Waktunya untuk mengatur, yang dimiliki oleh sumber Anda yang terkait dengan
menganalisis, membaca, dan mencerna informasi yang pertanyaan penelitian Anda. Bagaimana caranya
terkandung dalam sumber informasi Anda. Pada proses melakukan hal tersebut tergantung pada apa yang Anda
ini, apakah sumber Anda analog atau digital tidak terlalu cari, pada sumber yang Anda temukan dan pada
diperhatikan. Yang relevan adalah membedakan antara informasi yang terkandung di dalamnya. Namun secara
sumber-sumber primer dan sekunder. Kedua sumber keseluruhan, keempat skenario berikut ini
informasi memiliki kelemahan dan kekuatannya masing- memungkinkan:
masing.
1. Apabila informasi yang terkandung dalam sumber
Secara definisi, sumber sekunder adalah penafsiran Anda benar-benar berhubungan dengan dan
seseorang mengenai (pilihan) sumber-sumber informasi menjawab pertanyaan penelitian Anda, situasinya
asli. Untuk memahami proses berpikir penulis dan untuk secara relatif mudah. Misalnya: Jika Anda mencari
memverifikasi klaim penulis, penting untuk dapat nama perancang dari rencana bangunan atau tata
memeriksa (dan bahwa Anda telah memeriksa) referensi ruang wilayah kota dan Anda menemukan sebuah
yang dibuat penulis mengenai sumber. Jika tidak ada gambar dengan nama desainer di atasnya, Anda
referensi yang diberikan, Anda harus ekstra kritis tentang telah menemukan jawabannya. Dalam hal ini, yang
isi sumber tersebut. Tidak semua dokumen teks harus Anda lakukan adalah menyalin informasi
menuliskan referensi dan banyak laman juga tidak dengan benar.
memberikan referensi.
2. Jika informasi yang telah ditemukan sebagian
Ini tidak berarti bahwa Anda tidak dapat menggunakan berkaitan dengan penelitian Anda, Anda berada di
informasi dari sumber-sumber sekunder ini, tetapi jika jalur yang benar. Tetap terserah Anda untuk
Anda menggunakannya, penting untuk sesekali memutuskan bagaimana informasi ini membantu
memeriksa fakta-fakta yang disajikan didalamnya. Jika Anda menjawab pertanyaan penelitian Anda.
tidak dilakukan, Anda berisiko membangun penelitian
Anda pada narasi yang landasannya tidak dapat 3. Jika sumber Anda tidak mengandung informasi yang
diverifikasi. Dan jika Anda tidak dapat memverifikasi berguna tetapi memberikan petunjuk ke sumber lain
narasi Anda, hasil pekerjaan Anda bisa berakhir dengan yang berguna, Anda perlu berkonsultasi pada
mengandung kesalahan (yang jelas). sumber-sumber lainnya. Jika gambar pada contoh di
atas tidak menyebutkan nama perancangnya tapi
Sumber primer, termasuk obyek penelitian, berbeda terdapat cap dengan nama sebuah perusahaan
sifatnya. Tidak seperti sumber sekunder, sumber-sumber arsitektur, atau nama atau tanda tangan dari pejabat
primer tidak langsung terlihat relevansinya. Sumber yang menandatangani gambar tersebut, maka
primer, terutama arsip, biasanya disimpan dalam sistem informasi ini bisa menjadi petunjuk berguna ke
dan tatanan yang diciptakan oleh organisasi/orang yang sumber informasi lain yang akan mendekatkan Anda
pertama menggunakan dan menciptakan sumber. dengan jawaban pertanyaan Anda.
Akibatnya, informasi yang Anda cari ada dalam urutan
tertentu. Urutan ini mungkin berbeda dengan apa yang 4. Jika sumber informasi tidak berhubungan dengan
Anda anggap jelas atau logis. Selain itu, informasi yang pertanyaan penelitian Anda sama sekali, sumber
berasal dari satu sumber hampir tidak pernah tersebut tidak ada gunanya bagi Anda. Jangan buang
menceritakan cerita secara keseluruhan: seringkali pula, waktu: abaikan sumber ini dan mulai mencari yang
sumber hanya berisi penggalan informasi yang lain yang lebih berguna.
kemungkinan besar juga tersebar di dalam sumber
tersebut. Meskipun keempat skenario tersebut terjadi, nomor dua,
tiga dan empat adalah yang paling umum.
Langkah 5: 23

Menafsirkan sumber informasi

Setelah Anda menelusuri dan mengumpulkan sumber kita. Hanya ketika Anda mempelajari berbagai sumber
informasi, pertanyaan terakhir adalah bagaimana informasi Anda akan dapat menemukan berbagai
menafsirkannya. Narasi apa yang dapat disaring dari kemungkinan jawaban yang ada.
sumber Anda?
Berupaya menjaga obyektivitas juga menyiratkan bahwa
Interpretasi Anda sebagian besar akan mencerminkan Anda menjaga teks kita bebas kata sifat positif atau
pilihan dan penataan sumber informasi Anda. Terutama negatif yang menghakimi dan juga dari tanda seru. Jika
jika Anda adalah seorang pakar, keputusan Anda tentang Anda tetap menjaga dua aturan praktis ini, Anda akan
informasi apa yang harus dimasukkan dan informasi apa dapat menulis sebuah interpretasi yang obyektif. Penting
yang disingkirkan perlu dipertimbangkan secara matang. untuk mengingat hal ini saat menuliskan penelitian Anda,
Untuk memastikan penafsiran Anda seobyektif mungkin, yaitu dalam membuat narasi.
Anda juga perlu memilih sumber informasi seobyektif
mungkin. Karena itu, bagaimana dan mengapa Anda Penulisan adalah fase yang paling menantang dari
memilih sumber informasi yang Anda gunakan menjadi penelitian. Ini akan memperlihatkan apakah penelitian
sangat penting. Anda kuat, apakah sumber Anda berguna, dan apakah
Anda memiliki apa yang diperlukan untuk menjadi
Untuk mencapai obyektivitas, ada dua hal yang perlu seorang peneliti. Ini adalah fase yang membutuhkan
diingat. Yang pertama adalah bahwa Anda harus kreativitas, rasionalitas, pengetahuan, disiplin dan
mengumpulkan dan memilih informasi yang berkaitan stamina. Karena meskipun Anda mungkin telah
dengan lebih dari satu aspek dari pertanyaan penelitian menentukan apa yang Anda cari dengan sangat baik dan
24

telah menelusuri dan memilih sumber yang relevan Anda. Keterbatasan ketiga adalah bahwa variasi mungkin
untuk menjawab pertanyaan penelitian, informasi Anda terjadi antara interpretasi Anda dan interpretasi peneliti
hampir selalu tidak lengkap, dan menafsirkan sumber lain, bahkan ketika Anda menggunakan sumber
informasi yang Anda dapatkan tidak akan selalu mudah. informasi dan data yang sama. Semua ini tidak menjadi
masalah, selama Anda menyadari dan mengetahui hal
Saat menulis, Anda perlu terus-menerus menimbang dan ini. Fakta bahwa temuan penelitian sejarah hampir tidak
memikirkan informasi apa yang dikandung oleh sumber pernah mutlak adalah bagian dari penelitian humaniora,
informasi Anda sehubungan dengan pertanyaan penelitian dan dengan demikian bagian dari penelitian sejarah
Anda. Akibatnya, Anda akan berulang kali memeriksa arsitektur.
pertanyaan penelitian, sumber dan interpretasi Anda.
Pekerjaan ini melelahkan dan memakan waktu. Namun, Menuliskan referensi ke sumber informasi untuk
perlu dilakukan, untuk memastikan bahwa interpretasi pembaca Anda adalah penting agar pembaca Anda dan
Anda mencerminkan pertanyaan penelitian dan isi dari peneliti lain dapat menelusuri langkah-langkah yang
sumber informasi Anda. Anda ambil dalam penelitian dan alur berpikir Anda, dan
melakukan penelitian lebih lanjut. Referensi dapat
Ketika obyek penelitian Anda adalah obyek fisik yang disajikan sebagai catatan (catatan kaki atau catatan
berada di sekitar Anda, Anda harus pastikan untuk akhir) atau sebagai daftar pustaka dan ikhtisar lainnya
menyertakan pengamatan Anda sendiri dan analisis dari (arsip, wawancara, ilustrasi, dll). Langkah 6 menjelaskan
obyek tersebut dalam penafsiran Anda. Membandingkan cara menyimpan dan membuat referensi data dan
data historis dengan kondisi obyek saat ini juga akan sumber informasi Anda, dan informasi apa yang
memberikan Anda informasi yang berguna mengenai terkandung didalamnya.
obyek penelitian.

Perangkap umum bagi semua peneliti adalah risiko


keluar dari inti penelitian. Cobalah untuk menghindari Informasi online (dalam jaringan)
hal ini. Tidak peduli berapa banyak informasi menarik
yang dikandung oleh sumber informasi, jika tidak relevan Mesin pencari/search engine (Google, Yahoo) dan
dengan pertanyaan penelitian Anda harus laman (website) terbuka yang dapat disunting
menyingkirkannya. Penulisan penelitian adalah tentang (Wikipedia) dapat membantu untuk memulai
menjawab pertanyaan penelitian berdasarkan sumber penelitian Anda. Penting bagi Anda untuk
informasi, bukan hanya mengisi halaman. Dalam mengetahui bagaimana dan mengapa informasi
pelaksanaannya terkadang dibutuhkan untuk sedikit dalam sumber informasi dan data ini diciptakan,
mengekang diri. Namun jangan pula terlalu santai: ‘Kill informasi apa yang bisa didapatkan dan sejauh
your darlings/Bunuh kesayangan anda’ seringkali menjadi mana keterkaitan dan keandalan/kualitas
nasihat yang baik untuk memastikan bahwa Anda informasi yang mereka berikan. Cara mesin
menghasilkan kualitas dan bukan kuantitas. Sebuah pencari bekerja, mengimplikasikan bahwa
aturan praktis yang juga berlaku untuk pemilihan mesin-mesin tersebut tidak selalu menawarkan
ilustrasi, dengan cara: Ilustrasi tidak hanya gambar dalam informasi yang paling relevan untuk Anda.
teks; ilustrasi harus berhubungan dengan dan
mendukung narasi Anda. Informasi yang terdapat pada laman terbuka
yang dapat disunting juga perlu dicermati.
Selain semua aspek tersebut, ada satu hal lagi yang perlu Kecuali penulis informasi adalah pakar yang
diperhatikan: keterbatasan penelitian Anda. Salah satu diakui atau referensi lainnya disebutkan,
keterbatasan adalah bahwa kualitas penafsiran Anda bagaimana Anda memastikan keandalan
hanya sebatas kualitas sumber informasi Anda. Jika informasi? Bila menggunakan informasi yang
sumber informasi Anda tidak memadai, penafsiran Anda ditemukan oleh mesin pencari dan laman yang
akan mencerminkan hal ini. Keterbatasan kedua adalah dapat diedit secara terbuka, dianjurkan untuk
Anda perlu menyadari bahwa sumber-sumber baru atau memeriksa kembali informasi yang ditemukan.
lainnya dapat menjadi penyebab revisi atas interpretasi
25

26 Langkah 6:

Menyimpan dan mengacu sumber
informasi dan data

Agar pembaca dapat memahami langkah-langkah Contoh 1


penelitian Anda – dan agar Anda dapat melihat dan Referensi pada buku dengan satu penulis atau seorang
merujuk pada sumber-sumber informasi Anda – maka editor
penting untuk menyimpan dan mendokumentasikan Nix, Thomas, Bijdrage tot de vormleer van de stedebouw in het
sumber informasi dan data penelitian Anda secara bijzonder voor Indonesië, Heemstede: De Toorts, 1949.
sistematis. Sistem apa yang digunakan dan di mana Anda
akan menyimpan sumber informasi dan data (Cloud, Penjelasan
notebook, PC, kertas) tidaklah relevan. Yang penting Nama Keluarga Penulis/Editor, Koma, Nama Depan/
adalah bahwa sistem pengarsipan Anda memungkinkan Inisial dan Nama Depan Penulis/Editor, (ed.) (jika ada,
Anda untuk menemukan dan merujuk pada sumber volume yang diedit), Koma, Judul Buku (dalam Huruf
informasi dan data Anda. Miring), Koma, Kota di mana buku ini diterbitkan, Tanda
Titik Dua, Penerbit, Koma, Tahun Terbit, Titik.
Jika Anda memutuskan untuk menyimpan sumber
informasi dan data secara online, Anda dapat Contoh 2
mempertimbangkan menggunakan sistem perangkat Referensi pada buku dengan lebih dari satu penulis/
lunak manajemen konten yang bersifat terbuka dan editor
gratis, seperti Mendeley atau Zotero. Program-program Colombijn, Freek, Joost Coté (eds.), Cars, Conduits, and
perangkat lunak online membantu untuk mengelola Kampongs: The Modernization of the Indonesian City, 1920-
sumber informasi secara sistematis dan sering dibarengi 1960, Leiden: Brill Publishers, 2014.
dengan layanan tambahan, misalnya secara otomatis
menghasilkan bibliografi dan catatan dalam setiap gaya Penjelasan
yang digunakan dalam dunia akademis, secara otomatis Nama Keluarga Penulis/Editor (1), Koma, Nama Depan/
menciptakan referensi untuk kutipan, dan berbagi file Inisial dan Nama depan Penulis/Editor (1), Koma, Nama
dengan orang lain. Tapi tentu saja, Anda dapat Depan/Inisial dan Nama Keluarga Penulis/Editor(2) (eds),
merancang dan menggunakan sistem Anda sendiri. Koma, Judul Buku (dalam Huruf Miring), Koma, Kota di
Selama sistem Anda konsisten dan berisi semua mana buku ini diterbitkan, Tanda Titik Dua (Bahasa
informasi yang diperlukan untuk referensi (masa depan), Inggris) atau Titik (Bahasa Belanda, Bahasa Indonesia),
tidak masalah. Penerbit, Koma, Tahun Terbit, Titik.

Informasi yang (berpotensi) diperlukan untuk referensi Contoh 3


(masa depan) tergantung pada sumber Anda. Di bawah Referensi pada artikel dalam buku yang telah diedit
ini adalah contoh-contoh dari sumber referensi yang Karsten, Th., ‘Volkshuisvesting 1’ in: F.W.M. Kerchman (ed.),
paling umum: buku, artikel dalam buku-buku, artikel 25 Jaren decentralisatie in Nederlandsch-Indië 1905-1930,
dalam jurnal dan dokumen arsip. Sejumlah referensi ini Semarang: Vereeniging voor Locale Belangen, 1930,
memungkinkan pembaca untuk menelusuri penelitian 159-161.
dan memverifikasi temuan Anda dengan merujuk ke
sumber-sumber itu sendiri. Dalam dunia akademik, Penjelasan
penting mengajarkan orang lain agar dapat Nama Keluarga, Koma, Nama Depan/Inisial dan Nama
memverifikasi atau memalsukan penelitian dengan Depan Penulis, Koma, ‘Judul Artikel’ [yang diterbitkan]
mereproduksi atau menelusuri. Ini merupakan sebuah dalam: Nama Depan/Inisial dan Nama Keluarga Penulis/
sistem untuk memastikan bahwa alasan di balik klaim, Editor, Koma, (ed.), Koma, Judul Buku (dalam Huruf Miring),
pernyataan dan kesimpulan dapat ditelusuri – dan Koma, Kota di mana buku ini diterbitkan, Tanda Titik
dipertanyakan dan dipertentangkan jika perlu. Dengan Dua, Penerbit, Koma, Tahun Terbit, Koma, Halaman
memberikan referensi ke sumber informasi kepada Artikel, Titik.
pembaca, Anda memungkinkan mereka untuk
memverifikasi narasi Anda. Mampu menelusuri sumber Contoh 4
juga relevan untuk diri Anda: membantu Anda ketika Referensi pada artikel yang diterbitkan dalam jurnal
Anda perlu memeriksa kembali narasi Anda. Cobban, James L., ‘Exporting planning: The work of
Thomas Karsten in kolonial Indonesia’, Planning
Perspectives 7 (3) (1992), 329-344.
27

Penjelasan
Nama Keluarga Penulis, Koma, Nama/Inisial dan Nama
Depan Penulis Pertama, Koma, ‘Judul Artikel’ (dalam
Tanda Kutip), Koma, Judul Jurnal (dalam Huruf Miring),
Tanpa Koma, Volume Jurnal, Tanpa Koma, (Edisi Jurnal)
(dalam Tanda Kurung), tanpa Koma, Tahun Terbit (dalam
Tanda Kurung), Koma, Halaman Artikel, Titik.

Contoh 5
Referensi untuk dokumen arsip (teks, surat, peta,
gambar, foto dll)
Het Nieuwe Instituut, Rotterdam, Archief Lüning, Inv. No.
LUNI Bijlage III-7: Brief dd. 8-3-1949 van M. Soesilo aan
V.R. van Romondt, p.4.

Penjelasan
Sumbernya adalah sebuah surat dari M. Soesilo kepada
V.R. van Romondt. Surat itu tertanggal 8 Maret 1949.
Bagian sebagaimana dimaksud dalam teks dapat
ditemukan pada halaman 4 dari surat ini. Surat itu
disimpan di arsip (Hans) Lüning. Nomor inventarisasinya
merujuk pada file di mana surat tersebut disimpan.
Dalam hal ini, nomor inventarisasinya terdiri atas empat
huruf pertama dari nama orang yang terkait arsip
tersebut: LUNI. Kode ini diikuti oleh referensi ke file
dalam arsip: Bijlage III-7. Koleksi Lüning disimpan oleh
Het Nieuwe Instituut. Het Nieuwe Instituut berada di
Rotterdam.

Sumber referensi

Ketika menulis artikel, selalu pastikan informasi


mengenai sumber referensi (daftar pustaka,
catatan) dengan penerbit Anda (Style Guide).
Meskipun ada beberapa gaya yang umumnya
digunakan, variasi dapat terjadi tergantung pada
penerbit. Namun demikian, untuk referensi dan
kenyamanan Anda sendiri, tuliskan informasi
tentang sumber Anda sebanyak mungkin.

Lebih mudah untuk menghilangkan daripada


menambah informasi saat Anda mulai
melakukan penulisan sumber-sumber referensi
Anda.

Sejumlah contoh sumber referensi di dalam alat


bantu (tool kit) ini berisi semua informasi yang
berpotensi diperlukan dalam catatan, daftar
pustaka dan referensi arsip.
28

29

Studi kasus
Ketiga studi kasus ini mendemonstrasikan
bagaimana cara melakukan penelitian sejarah
arsitektur. Semuanya menjelaskan jenis
pertanyaan yang dapat ditanyakan dan bagaimana
Anda dapat menemukan jawaban untuk
pertanyaan yang telah dibuat. Ketiga studi kasus
ini juga menunjukkan bahwa, tergantung pada
data dan sumber informasi yang tersedia dan
dapat diakses, pendekatan dan temuan dari
penelitian dapat bervariasi.
30 Studi kasus 1:

Gedung Cagar Budaya Kementerian
Keuangan di Jakarta

Penelitian ini adalah bagian dari pekerjaan ‘Dokumentasi


Gedung Cagar Budaya Kementerian Keuangan’ yang
dilakukan oleh Pusat Dokumentasi Arsitektur. Pekerjaan
ini terdiri dari survey lokasi, penelitian kearsipan dan
kepustakaan, wawancara, seminar, pameran dan
penerbitan buku. Dilaksanakan oleh Pusat Dokumentasi
Arsitektur di Jakarta bekerja sama dengan Passchier
Architects and Consultants (PAC) di Den Bosch, proyek ini
didanai oleh Kementerian Luar Negeri Belanda dan
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Ilmu
Pengetahuan Belanda, dengan dukungan dari Kedutaan
Besar Belanda di Jakarta. Penelitian ini dilakukan pada Ilustrasi 1: Plakat pada Gedung Cagar Budaya Kementerian
bulan Agustus 2004 hingga Maret 2005. Keuangan di Jakarta. Foto: Pusat Dokumentasi Arsitektur, Jakarta.

Ilustrasi 2: Tampak Depan Gedung Cagar Budaya Kementerian Keuangan


di Jakarta. Foto: Pusat Dokumentasi Arsitektur, Jakarta.
31

Berangkat dari informasi ini, kami memutuskan untuk


Langkah 1: Menentukan pertanyaan-pertanyaan mencari data mengenai tiga aspek bangunan tersebut:
penelitian bangunan itu sendiri, lokasinya dan Daendels.

Saat penelitian ini dimulai, satu-satunya informasi


Data
tentang bangunan yang dimiliki adalah prasasti pada
sebuah plakat yang terletak pada pintu masuk di sisi Terkait dengan bangunan
Utara bangunan induk: “MDCCCIX – Condidit Daendels –
Yang memerintahkan pembangunan
MDCCCXXVIII – Erexit Du Bus”. (Ilustrasi 1&2) Yang Arsitek
berarti bahwa bangunan ini diperintahkan untuk Pengawas
dibangun pada tahun 1809 oleh (Gubernur Jenderal Rancangan material bangunan
Kontraktor
Herman Willem) Daendels dan didirikan pada 1828 pada Pekerja konstruksi
masa pemerintahan (Gubernur Jendral Léonard) du Bus
(de Gisignies).
Terkait dengan lokasi
Data pada plakat tersebut, dikombinasikan dengan
beberapa pengetahuan umum yang kita miliki mengenai Nama lama dari Lapangan Banteng adalah Waterlooplein.
sejarah Jakarta, memberikan kita informasi: Waterlooplein terletak di Weltevreden.

What Nama sekarang (saat itu) dari bangunan Terkait dengan Daendels
Apa tersebut adalah Gedung Cagar Budaya
Kementerian Keuangan. Peran dan keterlibatan
Karier
Where Bangunan ini berlokasi di Jalan Lapangan Data pribadi
Di mana Banteng Timur No. 2-4, Lapangan Banteng,
Jakarta.
Nama lama dari Lapangan Banteng adalah Jika kita dapat melacak data ini, data tersebut akan
Waterlooplein.
Nama lama dari kawasan tersebut adalah memungkinkan kita untuk menjawab pertanyaan
Weltevreden. penelitian berikut:

When Bangunan ini diperintahkan untuk dibangun


Kapan pada 1809. Pertanyaan-pertanyaan penelitian
Who Pembangunannya diperintahkan oleh H.W.
Siapa Daendels. • Mengapa bangunan ini didirikan?
Pembangunannya diselesaikan pada masa • Mengapa dan kapan bangunan ini dirancang seperti ini?
pemerintahan Du Bus. • Seperti apakah rancangan asli bangunan ini?
• Perubahan-perubahan apa saja yang telah dilakukan
pada rancangan asli dari bangunan ini?
• Kapan perubahan-perubahan tersebut dilaksanakan?
• Siapa yang memerintahkan pembangunan gedung ini?
• Apa peran Daendels dalam pembangunan gedung ini?
• Siapa yang diperintahkan untuk merancang
bangunan ini?
32

Langkah 2: Mengidentifikasi kumpulan data

Untuk mengidentifikasi kumpulan data mana yang paling


tepat untuk penelitian ini, kami memulai penelitian
dengan menelaah sumber sekunder.
Berkat sumber-sumber sekunder ini, kami dapat
mengidentifikasi banyak kumpulan data dan sumber
informasi yang relevan dan berpotensi.

Sumber sekunder

• H. Akihary, Architectuur en stedebouw in Indonesië 1870-


1970, Zutphen: De Walburg Pers, 1990.

• J.F.L. de Balbian Verster, M.C. Kooy-van Zeggelen, Ons


mooi Indië. Batavia oud en nieuw, Amsterdam: J.M.
Meulenhoff, 1921.

• J. Bastin, B. Brommer, Nineteenth Century Prints and


Illustrated Books of Indonesia, Utrecht / Antwerp:
Spectrum, 1979.

• H.P. Berlage, Mijn Indische reis. Gedachten over cultuur en


kunst. Rotterdam: W.L. & J. Brusse’s Uitgeverij­
maatschappij NV, 1931.

• E. Breton de Nijs, Tempo Doeloe. Fotografische


documenten uit het oude Indië 1870-1914, Amsterdam:
Querido, 1961.

• Djawatan Penerangan Kotapradja Djakarta Raya,


Djakarta dewasa ini. Bertamasja ke ibu kota, Jakarta, 1955.

• A. Heuken, Historical Sites of Jakarta, Jakarta: Yayasan


Cipta Loka Caraka, 2000.

• S. Merrilees, Batavia in nineteenth century photographs,


Singapore: Archipelago Press, 2000.

• P. de Roo de la Faille, S.M. Rassat, Hal-ihwal Betawi


Semasa Dahoeloe, Weltevreden: Balai Pestaka, 1920.

• C.L. Temminck Groll, The Dutch Overseas: Architectural


Survey, Mutual Heritage of Four Centuries in Three
Continents, Zwolle: Uitgeverij Waanders, 2002.

• G. Tjahjono, Architecture: Indonesian Heritage, Singapore:


Archipelago Press, 1999.
33

Langkah 3: Menentukan kumpulan data dan sumber informasi yang akan digunakan dan alasannya

Sumber informasi dan data yang terkait dengan bangunan

Lembaga Koleksi Sumber

Arsip Nasional Republik 1. Manuskrip kartografi (abad ke-17 1. Koleksi De Haan (KG.1) dinamakan
Indonesia, Jakarta hingga abad ke-19): Koleksi De De Haan, seorang arsiparis di Hindia
Haan (KG.1) Belanda pada awal abad ke-20. Ia
2. KIT Batavia (F.13) membuat pemisahan antara dokumen
3. VOC Hoge Regering 1612-1811 arsip tertulis dengan gambar.
(K.66a) 2. KIT Wilayah Batavia (F.13). Koleksi foto
4. Arsip Batavia 1808-1811 (K.3) mengenai Jakarta.
5. Algemene Secretarie 1816-1942 3. Arsip VOC Hoge Regering (K.66a),
(K.103) 1612-1811. Arsip Pemerintahan Tinggi
(Gubernur Jendral dan Dewan Hindia)
di Hindia Belanda.
4. Arsip Batavia (K.3), 1808-1811. Arsip ini
mengandung dokumen mengenai
wilayah Batavia.
5. Arsip Algemene Secretarie (K.103),
1816-1942. Arsip ini merupakan arsip
pemerintah pusat sejak tahun 1816. ‘Index
Folio’ dari arsip ini terdiri dari buku-buku
yang dilengkapi dengan daftar isi untuk
setiap tahun, berdasarkan subyek. Seperti
untuk pertengahan 1826, dalam Index folio
terdapat bab khusus mengenai “Gedung
Pemerintah di Weltevreden”.

Badan Perpustakaan dan 6. Arsip mengenai Jakarta


Arsip Daerah Propinsi
DKI Jakarta (BPAD Prop
DKI Jakarta), Jakarta

Arsip Nasional Belanda, 7. Hollandse Divisie Parijs 7. Arsip Hollandse Divisie Parijs ([Link])
Den Haag ([Link]) merupakan arsip Kementrian Kelautan dan
8. Koleksi Peta Leupe ([Link]) Koloni di Paris pada periode 1810-1814,
sebagian terkait dengan masa
pemerintahan Daendels di Hindia Belanda.
8. Koleksi Peta Leupe ([Link]) berisi peta dan
gambar koleksi Arsip Nasional Belanda.

Perpustakaan Nasional 9. Koleksi Khusus 9. Koleksi Khusus berisi buku, surat kabar,
Republik Indonesia, majalah termasuk di dalamnya Bataviasche
Jakarta Koloniale Courant (1810-1812)

Perpustakaan Universitas 10. Koleksi Kolonial (KIT) 10. Koleksi Kolonial (KIT)
Leiden, Leiden 11. Koleksi heritage KITLV 11. Koleksi heritage KITLV berisi foto-foto
lama, terbitan lama dan surat kabar lama.
34

Sumber informasi dan data yang terkait dengan lokasi

Lembaga Koleksi Sumber

Arsip Nasional Republik 1. Koleksi De Haan 1. Koleksi De Haan


Indonesia, Jakarta 2. KIT Batavia Peta Weltevreden dan Waterlooplein
(1809-1927). Beberapa peta
mengindikasikan lokasi gedung.
2. KIT Batavia
Foto lama memperlihatkan kawasan
Waterlooplein dan Weltevreden.

Arsip Nasional Belanda, 3. Koleksi Peta Leupe ([Link]) 3. Koleksi Peta Leupe ([Link])
Den Haag Peta wilayah Weltevreden dan peta
Batavia memperlihatkan Koningsplein
dan Paradeplaats (1823, 1826)

Perpustakaan Nasional 4. Koleksi Khusus 4. Koleksi Khusus


Republik Indonesia, • Peta lama Batavia (abad ke-17 hingga
Jakarta abad ke-19)
• Beberapa foto lama Weltevreden dan
Waterlooplein (abad ke-19 hingga abad
ke-20)
• Informasi mengenai Weltevreden dan
Jakarta (abad ke-19 hingga abad ke-20)

Perpustakaan Universitas 5. Koleksi Kolonial (KIT) 5. Koleksi Kolonial (KIT)


Leiden, Leiden 6. Koleksi heritage KITLV 6. Koleksi heritage KITLV
• Peta lama Batavia (abad ke-17 hingga abad
ke-19)
• Foto-foto lama Weltevreden dan Water­
looplein (abad ke-19 hingga abad ke-20)
• Publikasi mengenai Weltevreden dan
Jakarta (abad ke-19 hingga abad ke-20)
35

Sumber informasi dan data yang terkait dengan Daendels

Lembaga Koleksi Sumber

Arsip Nasional Republik 1. KIT Batavia 1. KIT Batavia


Indonesia, Jakarta 2. VOC Hoge Regering Foto-foto lama Daendels.
2. VOC Hoge Regering 1612-1811
• Proposal Daendels untuk membangun
rumah dinas bagi Gubernur Jendral di
Weltevreden dan penunjukan J. Jongkind
sebagai arsiteknya.
• Perintah Daendels kepada J.C. Schultze dan
J. Jongkind untuk mendirikan bangunan.
• Biografi singkat Johannes Jongkind.

Arsip Nasional Belanda, 3. Hollandse Divisie Parijs 3. Hollandse Divisie Parijs


Den Haag • Materi yang terdapat dalam koleksi
Daendels: kebanyakan surat-menyurat
urusan politik.
• Biografi pegawai pemerintah di Hindia
Belanda: ada informasi mengenai J. Tromp
dan J.C. Schultze.

Perpustakaan Nasional 4. Koleksi Khusus 4. Koleksi Khusus


Republik Indonesia,
Jakarta

Perpustakaan Universitas 5. Koleksi Kolonial (KIT) 5. Koleksi Kolonial (KIT)


Leiden, Leiden 6. Koleksi heritage KITLV 6. Koleksi heritage KITLV
• Informasi mengenai H.W. Daendels.
• Informasi tentang J. Jongkind, J. Tromp dan
J.C. Schultze.
• Foto-foto lama H.W. Daendels.
36

Close-up: Sumber yang terkait Gedung Cagar Budaya Kementerian Keuangan di Jakarta

Koleksi De Haan Algemene Secretarie en Voorgangers, 1816-1942


Gambar: Dokumen arsip (19 Januari 1827 – 5 Desember 1828)
• Denah Lantai Dasar. mengenai:
• Beberapa jenis pondasi batu bata. • Persetujuan untuk menyelesaikan pembangunan.
• Denah lantai dasar tertanggal November 1826. • Persetujuan penjualan beberapa bangunan dan bahan
• Gambar sebagian tampak depan. bangunan guna menyelesaikan pembangunan.
• Denah bangunan yang belum selesai. • Pembentukan panitia untuk mengawasi kegiatan
pembangunan dan memastikan penyelesaian
KIT Batavia pembangunan sebelum akhir 1827.
Foto-foto lama bangunan. • Laporan mengenai proses konstruksi, permintaan
kontraktor dan persetujuan selama proses penyelesaian
VOC Hoge Regering 1612-1811 pembangunan.
Beberapa dokumen mengenai: • Kontrak perawatan bangunan selama 3 tahun dengan
• Proposal H.W. Daendels untuk membangun sebuah kontraktor Cina.
rumah dinas baru bagi Gubernur Jendral di
Weltevreden. Hollandse Divisie Parijs ([Link])
• Penunjukan J. Jongkind sebagai arsitek. • Denah lantai satu dan lantai dua bangunan.
• Perintah untuk membuat gambar rencana. • Penjelasan mengenai nama dan ukuran ruangan.
• Perintah untuk mendapatkan bahan bangunan • Ukuran dan jumlah jendela dan pintu.
dengan cara membongkar bangunan-bangunan
tertentu di Batavia, satu di antaranya adalah Koleksi Peta Leupe ([Link])
“Hollandsche Kerk” (Gereja Belanda). Gambar mengenai:
• Urai tugas untuk J.C. Schultze dan J. Jongkind. • Tampak Bangunan.
• Mulainya pekerjaan pondasi. • Potongan bangunan.
• Denah lantai satu dan dua.
Arsip Batavia 1808-1811
Dokumen mengenai:
• Spesifikasi untuk proyek pembangunan gedung pada
tahun 1809.
• Penjelasan mengenai konstruksi pondasi.
• Penjelasan mengenai pengiriman batu oleh
kontraktor.
• Semacam buku catatan keuangan mengenai biaya
pembangunan.

Sumber yang paling penting dan berguna adalah arsip,


terutama Arsip Nasional Indonesia di Jakarta dan Arsip Langkah 4: Bagaimana menggunakan
Nasional Belanda di Den Haag. Arsip-arsip ini merupakan sumber informasi
sumber informasi primer. Penemuan kami yang luar
biasa adalah gambar-gambar arsitektur asli dari
bangunan ini yang ditemukan di Jakarta dan Den Haag. Setelah kami menelusuri sejumlah sumber informasi asli
Selain itu, ANRI juga mempunyai koleksi surat-surat dan dan data yang terpercaya, kami dapat menjawab hampir
foto-foto yang relevan dan penting terkait bangunan ini. semua pertanyaan yang dibuat saat memulai penelitian
ini. Khususnya, data primer memungkinkan kami untuk
melacak asal-usul hampir setiap aspek dari bangunan
tersebut, termasuk siapa yang memberi perintah
pembangunan, arsiteknya, kontraktor yang terlibat dan
perubahan-perubahan yang pernah dilakukan.
37

mempunyai jarak plafond yang tinggi sementara lantai


Langkah 5 & 6: Menafsirkan dan mengacu sumber dasar mempunyai plafond yang rendah. (Ilustrasi 6) Pada
informasi bagian belakang bangunan, terdapat istal kuda yang
dapat menampung 120 kuda dan keretanya.

Berlimpahnya data yang dihasilkan dari penelitian dapat Tiga arsitek terlibat dalam perancangan dan pengawasan
menjawab sebagian besar pertanyaan penelitian. pembangunannya: Letnan Kolonel J.C. Schultze dan
Singkatnya, sejarah bangunan yang kami gali dapat [Link] (1809-1811) dan J. Tromp (1826-1828).6 Untuk
dirumuskan sebagai berikut. pasokan bahan bangunan dan konstruksinya, Komisaris
dan Pengawas Belanda bekerja bersama dengan
Pada tahun 1809, Gubernur Jendral Herman Willem kontraktor, pemasok dan pekerja konstruksi Indonesia
Daendels memerintahkan pembangunan sebuah istana dan Cina. Contohnya, sumber yang kami temukan
baru di Weltevreden.1 Daendels memerintahkan menyebutkan Kio, Oey Sinkiet, Tjoa Poenlau, Tjoa
pembangunan sebuah bangunan baru sebagai bagian Engkong, Tjoa Kiemsoeij, Sam Soedin, dan Zimmer
dari rencananya untuk memindahkan kantor-kantor memasok batu bata, Liem Fatsien bekerja membuat
pemerintahan dari Batavia ke Weltevreden.2 (Ilustrasi 4) pondasi dan dinding serta Tjungse dikontrak untuk
Alasan perpindahan tersebut adalah karena kondisi pekerjaan kayu dan pemasangan batu bata.7
lingkungan di Batavia yang sudah sangat tidak sehat lagi.
Weltevreden terletak beberapa kilometer ke arah Perubahan pertama yang dilakukan pada bangunan
pedalaman yang tanahnya lebih tinggi dan lebih kering. ini adalah pembangunan jembatan kayu untuk
Daendels memutuskan Weltevreden sebagai kawasan menghubungkan bangunan utama dengan sayap Utara
yang lebih tepat untuk para pegawainya dan militer pada 1857.8 Pada tahun 1970an, sebuah jembatan
daripada Batavia. Nama untuk bangunan yang ditambahkan untuk menghubungkan bangunan utama
direncanakannya adalah Gedung Putih (Het Witte Huis), dengan sayap Selatan. Pada ruang dalam bangunan,
Gedung Besar (Het Groote Huis), dan Istana Weltevreden beberapa perubahan dilakukan antara 1973-1975.9
(Weltevreden Paleis).3 Contohnya adalah penambahan kamar kecil dan
penambahan sekat-sekat ruangan. Plafon ruangan
Pembangunannya dilaksanakan dalam dua tahap: antara diturunkan untuk mengakomodasi instalasi serta efisiensi
1809 dan 1811 serta antara 1826 dan 1828, pembangunan AC dan dinding-dinding bangunan diberi lapisan kayu.
tahap pertama terhenti pada tahun 1811 saat masa
pemerintahan Daendels di Hindia-Belanda selesai. Penampakan bangunan pada saat penelitian masih
Gubernur Jendral Léonard du Bus de Gisignies seperti gambar-gambar yang ditemukan di arsip dan
memerintahkan untuk melanjutkan kembali perpustakaan. Walaupun bangunan telah mengalami
pembangunan gedung ini pada 1826. Saat gedung ini perubahan besar – namun berkat lembaga arsip dan
selesai dibangun pada 1828, diputuskan bahwa gedung perpustakaan, sekarang kita bisa mengidentifikasi –
ini tidak akan digunakan sebagai istana, melainkan bahwa bentuk dan tata letak bangunan pada 2004-2005
sebagai kantor pemerintah.4 Sekretariat Negara ternyata masih sama dengan aslinya (pada saat selesai
(Algemene Secretarie), Direktorat Perbendaharaan dibangun).
Negara (Directie van ’s Lands Middelen en Domeinen),
Direktorat Pengelolaan Produksi dan Pergudangan
(Directie van ‘s Lands Producten en Civiele Magazijnen), Notes
1 Herman Willem Daendels (Hattem 21 Oktober 1762 – Elmina 2 Maret 1818)
Mahkamah Agung (Hooggerechtshof), Percetakan belajar Hukum di Harderwijk dan memperoleh gelar Doktornya pada 10
Negara (’s Lands Drukkerij) dan Kantor Pos adalah April 1783. Dia ditunjuk menjadi Gubernur Jendral Hindia Belanda pada 18
Januari 1807. Daendels memerintah Hindia Belanda hingga 16 Mei 1811.
sebagian yang paling awal berkantor di sini.5 Setelah Tugas utamanya adalah untuk menata kembali pertahanan di Pulau Jawa
kemerdekaan Indonesia, bangunan ini sebagian besar dan meningkatkan kondisi kesehatan di Batavia serta keberadaan budak
dan pribumi.
digunakan oleh Kementerian Keuangan, namun pernah 2 Daendels mengusulkan pembangunan gedung baru pada 26 Februari 1809.
juga digunakan sebagai gedung Dewan Perwakilan Raad van Indië (Dewan Hindia) menyetujui usulannya pada 7 Maret 1809.
ANRI, Arsip Hoge Regering 1612-1811 No. Inv. 828: Minuut Generale
Rakyat dan Balai Lelang Negara. Resolutien 7 Maret 1809.
3 Adolf Heuken S.J., Tempat-tempat bersejarah di Jakarta, Jakarta: Yayasan Cipta
Loka Caraka, 1997, 207.
Bangunan aslinya terdiri dari sebuah bangunan utama 4 ANRI, Arsip Algemene Secretarie, Res. 19 January 1827 No. Inv. 19.
yang dihubungkan dengan bangunan sayap di sisi Utara 5 ANRI, Arsip Algemene Secretarie, BT. 26 December 1827 No. Inv. 38.
6 J.C. Schultze juga merancang Klub Sosial De Harmonie (Sociëteit De Harmonie)
dan Selatan. (Ilustrasi 5) Bangunan utama direncanakan di Weltevreden. J. Jongkind mendapat jabatan Arsitek Pemerintah (Lands
sebagai kediaman resmi Gubernur Jendral. Kedua Architect) dan Pengawas bangunan-bangunan pemerintah (’s Lands en Stads
Civiele Gebouwen). Tidak ada informasi yang ditemukan mengenai J. Tromp.
bangunan sayap untuk menampung kantor-kantor 7 ANRI, Arsip KIT Batavia No. Inv. 209a ‘Conditie en voorwaarden 1808-1809’;
pemerintah dan untuk menerima tamu-tamu No. Inv. 209b ‘Verzameling van stukken betreffende de aanbieding,
aanbouw van woningen, enz., 1809’.
pemerintah. Bangunan utama dan kedua bangunan 8 ANRI, Arsip Algemene Secretarie, BT. 5 June 1857 No. Inv. 50.
sayap merupakan bangunan 3 lantai, 2 lantai atas 9 Wawancara dengan pegawai Kementerian Keuangan saat penelitian
berlangsung.
38

39

Ilustrasi 3: Peta wilayah Weltevreden, Batavia (sekarang Jakarta). Peta di


sebelah kiri memperlihatkan kawasan Weltevreden dengan Gedung Cagar
Budaya Kementerian Keuangan di sebelah kanan atas. Peta sebelah kanan
memperlihatkan kawasan yang lebih detail dengan Gedung Cagar Budaya
Kementerian Keuangan terletak di tengah.
Sumber: ANRI, Koleksi De Haan, No. Inv. B93 (kiri) dan K47 (kanan).

Ilustrasi 4: Gambar asli denah lantai dasar bangunan utama dan dua
bangunan sayap dari Gedung Cagar Budaya Kementerian Keuangan
di Weltevreden.
Sumber: ANRI, Koleksi De Haan, No. Inv. K2 1826.
Ilustrasi 5: Gambar asli Gedung Cagar Budaya
Kementerian Keuangan di Weltevreden: sebagian
40 tampak muka (atas), potongan melintang
— (bawah).
Sumber: ANRI, Koleksi De Haan, No. Inv. K21
(atas); Arsip Nasional Belanda,[Link] Koleksi
Peta Leupe, No. Inv. 455 (bawah).
41

Ilustrasi 6: Foto-foto dari akhir abad ke-19 memperlihatkan tampak muka Gedung Cagar Budaya Kementerian Keuangan
di Weltevreden, Batavia (sekarang Jakarta).
Sumber: ANRI, Koleksi KIT Batavia, No. Inv. 81/23 (atas); Perpustakaan Universitas Leiden, Koleksi heritage KITLV,
Koleksi P.J. Veth, No. Inv. 87486 (bawah).
42 Studi kasus 2:

Museum Pegadaian di Sukabumi

Penelitian ini adalah bagian dari proyek Dokumentasi Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kami
Museum Pegadaian di Sukabumi, meliputi kegiatan memfokuskan penggalian data terhadap tiga aspek
pengukuran dan penggambaran kembali serta penelitian bangunan: bangunan itu sendiri, pemberi perintah
arsitektur dan sejarah bangunan yang terdiri dari pembangunan, dan lokasi bangunan.
penelitian kepustakaan, arsip, wawancara, dan survei
lokasi. Seluruh pekerjaan ini dilaksanakan oleh Pusat
Dokumentasi Arsitektur berdasarkan penugasan dari PT.
Pegadaian.
Data

Terkait dengan bangunan


Langkah 1: Menentukan pertanyaan-pertanyaan
Pegadaian adalah terjemahan Bahasa Indonesia
penelitian untuk Pandhuis.

Pada saat kami mulai melakukan penelitian, informasi


Terkait dengan pemberi perintah pembangunan
yang diketahui adalah sebagai berikut:
Pemberi perintah membangun adalah Departemen
Pekerjaan Umum (Department van Burgerlijke Openbare
What Nama bangunan ini adalah Gedung Museum Werken, BOW).
Apa Pegadaian.
Bangunan ini dibangun untuk Pandhuisdienst
(Dinas Pegadaian).
Terkait dengan Sukabumi
Where Bangunan terletak di Jalan Pelabuhan II No. Ejaan Sukabumi yang digunakan pada saat itu adalah
Di mana 119, Sukabumi. Soekaboemi.
Ejaan Bahasa Belanda untuk Sukabumi adalah Bangunan ini terletak di sudut antara Jalan Pelabuhan
Soekaboemi. (arah Barat) dan Jalan Tipar (arah Utara).

Kami ingin mengetahui bagaimana bentuk asli bangunan


dan siapakah yang memerintahkan dan merancang
bangunan ini; untuk itu, kami menyusun beberapa
pertanyaan berikut.

Pertanyaan-pertanyaan penelitian

• Apa nama asli/lama bangunan?


• Apa fungsi awal/dulu bangunan?
• Mengapa bangunan ini didirikan?
• Siapa yang memerintahkan pembangunannya?
• Mengapa bangunan ini diperintahkan untuk dibangun
di Sukabumi?
• Mengapa bangunan ini terletak di Jalan Pelabuhan II?
• Apa nama Jalan Pelabuhan II pada masa lalu?
• Bagaiman bentuk asli bangunan?
• Mengapa bangunan ini dirancang dengan bentuk
seperti ini?
43

Ilustrasi 7: Bekas rumah Kepala Pegadaian di Sukabumi, kini digunakan


sebagai Museum Pegadaian. Sumber: Pusat Dokumentasi Arsitektur, Jakarta.
44

Langkah 2: Mengidentifikasi kumpulan data


dan sumber informasi

Untuk mengidentifikasi kumpulan data dan sumber


informasi yang tepat bagi penelitian, kami memulai
dengan menelaah sumber-sumber sekunder. Berkat
sumber-sumber sekunder ini, kami bisa mengidentifikasi
kumpulan data dan sumber informasi yang relevan bagi
penelitian ini.

Sumber-sumber sekunder

• J.R. van Diessen, (dkk.), Grote Atlas van de Verenigde


Oost-Indische Compagnie / Comprehensive Atlas of the
Dutch United East India Company. Parts I-VII, Voorburg:
Asia Maior, 2006-2010.

• J.R. van Diessen, R.P.G.A. Voskuil, Stedenatlas


Nederlands-Indie, Purmerend: Asia Maior, 1998.

• G.F.E. Gonggrijp, Geillustreerde encyclopedie van


Nederlandsch-Indie, Leiden: N.V. Leidsche
Uitgeversmaatschappij, 1934.

• C.M. Harris, Soesanto, Kamus arsitektur & konstruksi,


Semarang: Dahara Prize, 1996.

• P.A. van der Lith, (dkk.), Encyclopaedie van Nederlands-


Indie (…), Den Haag/Leiden: Martinus Nijhoff / E.J. Brill,
1897.

• C.L. Temminck Groll, The Dutch Overseas: Architectural


Survey, Mutual Heritage of Four Centuries in Three
Continents, Zwolle: Uitgeverij Waanders, 2002.

• G. Tjahjono, Architecture: Indonesian Heritage,


Singapore: Edition Didier Millet, 1998.
45

Langkah 3: Menentukan kumpulan data dan


sumber informasi yang akan digunakan dan
alasannya

Sumber informasi dan data yang terkait dengan bangunan, perancang, pemberi tugas dan lokasi

Lembaga Koleksi Sumber

Arsip Nasional Republik 1. Arsip Preanger 1, 2 & 3. Arsip Preanger, Arsip Jawa Barat &
Indonesia, Jakarta 2. Arsip Jawa Barat KITJawa Barat
3. KIT Jawa Barat Beberapa informasi mengenai Sukabumi dan
4. KIT Batavia foto-foto kota Sukabumi pada masa itu

4. KIT Batavia
Informasi mengenai pendirian Dinas Pegadaian
di Hindia Belanda dan perusahaan Pegadaian
sampai Kemerdekaan Indonesia.

Arsip Nasional Belanda, 5. Koleksi Peta 5. Koleksi Peta


Den Haag Tidak ada peta Sukabumi yang relevan.

Perpustakaan Nasional 6. Koleksi Khusus 6. Koleksi Khusus


Republik Indonesia, Beberapa informasi mengenai Sukabumi:
Jakarta • Pandhuisdienst Jaarverslag
• Staatsblad van Nederlandsch-Indië
• Peta-peta lama

Perpustakaan Universitas 7. Koleksi Kolonial (KIT) 7. Koleksi Kolonial (KIT)


Leiden, Leiden 8. Koleksi heritage KITLV 8. Koleksi heritage KITLV
Foto-foto lama dan peta Sukabumi dari 1945.

Arsip PT. Pegadaian, 9. Perpustakaan 9. Arsip-arsip Perusahaan


Jakarta Informasi mengenai perusahaan setelah
kemerdekaan Indonesia: foto-foto,
publikasi, laporan tahunan, risalah rapat.

Pusat Dokumentasi 10. Perpustakaan 10. Perpustakaan


Arsitektur, Jakarta Beberapa publikasi dan peta Sukabumi
pada masa itu.
46

Langkah 4: Bagaimana menggunakan kumpulan Langkah 5 & 6: Menafsirkan dan mengacu


data dan sumber informasi sumber informasi

Sayang sekali kumpulan data dan sumber informasi yang Sebagai dampak dari sumber informasi yang terbatas
ditelaah tidak dapat memberikan informasi detil dan pada saat penelitian, kami hanya mengetahui bahwa
relevan tentang bangunan dan perancangnya. Meskipun bangunan yang saat ini digunakan sebagai Museum
kami tahu bahwa bangunan ini terletak di sudut Jalan Pegadaian awalnya adalah rumah dinas Kepala
Pelabuhan dan Jalan Semaji serta dibangun atas perintah Pegadaian di Sukabumi.1 Rumah dinas ini terhubung
Departement van Burgerlijke Openbare Werken dengan Kantor Pegadaian dan gudang-gudangnya pada
(Departemen Pekerjaan Umum), sumber-sumber yang bagian belakang. Bagian depan kompleks Pegadaian ini
kami telusuri hanya sedikit memberikan informasi sejak dulu hingga sekarang menghadap ke salah satu
mengenai pendirian kantor Pegadaian di Sukabumi. Yang jalan utama di Sukabumi: Jalan Pelabuhan, sementara
banyak ditemukan adalah informasi mengenai Dinas gudang-gudangnya terletak di sepanjang Jalan Semiaji.
Pegadaian (Pandhuisdienst) di Sukabumi. (Ilustrasi 8-9)

Digitalisasi arsip yang dilakukan belakangan ini membuat Pada tahun 2016, dapat ditelusuri melalui Delpher,
semakin banyak data tersedia secara online dan dapat sebuah artikel singkat dalam versi online dari Bataviaasch
diakses dengan cepat, sehingga kami akan dapat Nieuwsblad yang memberikan informasi tambahan dan
menemukan lebih banyak informasi mengenai Gedung menarik. (Ilustrasi 10) Artikel itu tidak hanya menegaskan
Museum Pegadaian ini pada tahun 2016 dibandingkan bahwa kantor Pegadaian yang baru dan rumah dinas
saat kami melakukan penelitan beberapa tahun Kepala Pegadaian terletak di Palaboeanweg – sekarang
sebelumnya. Sebagai contoh, arsip Departement van Jalan Pelabuhan – dekat rel kereta api, tetapi juga
Burgerlijke Openbare Werken sekarang ini sudah dapat menjelaskan bahwa bangunan baru tersebut dibangun
ditelusuri di Arsip Nasional Republik Indonesia di Jakarta karena Dinas Pegadaian di Sukabumi berjalan dengan
dan suratkabar yang terbit di Hindia Belanda bisa sukses dan oleh sebab itu membutuhkan bangunan yang
ditelusuri melalui Delpher. Kedua sumber informasi ini lebih besar.2 Artikel pada Bataviaasch Nieuwsblad tersebut
belum tersedia pada saat penelitian ini dilakukan juga menjelaskan bahwa rumah dinas Pegadaian di
beberapa tahun yang lalu, inilah yang menyebabkan hasil Sukabumi yang dibangun tahun 1890-an itu akan sulit
penelitian kami amat terbatas. disewakan begitu dikosongkan, karena lokasinya yang
terletak di jalan utama. Untuk alasan ini, penulis dari
artikel tersebut menganggap Pemerintah Pusat akan
menjual bangunan ini ketika waktunya tiba. Akhirnya,
Bataviaasch Nieuwsblad memberikan informasi yang
menarik: bangunan rumah Pegadaian di Sukabumi
adalah bangunan rumah Pegadaian pertama di Hindia-
Belanda yang dibangun “pada masa rezim baru”.3

Notes
1 
Verslag van den Gouvernements-pandhuisdienst over het dienstjaar 1912,
Batavia: G. Kolff & Co., 1913.
2 Bataviaasch Nieuwsblad, 7 Agustus 1915.
3 Bataviaasch Nieuwsblad, 7 Agustus 1915.

Ilustrasi 8: Bataviaasch Nieuwsblad tertanggal 7 Agustus 1915


menyebutkan, antara lain, bangunan Rumah Gadai di Sukabumi adalah
bangunan Rumah Pegadaian pertama di Hindia-Belanda yang dibangun
“pada masa rezim baru”.
47

Ilustrasi 9: Google Map Street View memperlihatkan situasi dan kondisi


Museum Pegadaian.

Ilustrasi 10: Google Maps menunjukkan lokasi Museum Pegadaian saat ini
dan bangunan-bangunan yang berdempetan di Jalan Pelabuhan dan Jalan
Semiaji di Sukabumi.
48 Studi kasus 3:

Toko Serba Ada Medan di Medan

Ketika saya berkunjung ke Medan pada tahun 2014,


seorang arsitek setempat bertanya kepada saya
mengenai data tentang bangunan yang terletak di sudut
Jalan Hindu dan Jalan Ahmad Yani VII, tepat di pusat kota
Medan. (Ilustrasi 12) Ini adalah pertanyaan yang sering
diajukan oleh mereka yang terlibat dalam ‘pusaka’
(heritage), atau peninggalan bersejarah ketika memulai
penelitian. Studi kasus ini menjelaskan langkah awal
yang saya lakukan untuk mencari data tentang bangunan
di Medan itu.

Ilustrasi 11: Plakat pada bangunan Toko Serba Ada Medan di Medan.
Foto: Huib Akihary, Rotterdam.
Ilustrasi 12: Toko Serba Ada Medan di Medan tahun 2014.
Foto: Huib Akihary, Rotterdam.
49

Langkah 1: Menentukan pertanyaan-pertanyaan Data


penelitian
Terkait dengan bangunan
Pemberi tugas
Pengawas
Penelitian dimulai dengan kunjungan langsung ke Rancangan bangunan
bangunan tersebut. Pada kunjungan ini, saya Bahan bangunan
menemukan dua plakat yang menempel pada dinding Kontraktor
Pekerja konstruksi
bangunan pada kedua sisi pintu masuk utama. Plakat-
plakat ini memberikan informasi penting mengenai
bangunan. (Ilustrasi 11) Plakat sebelah kiri bertuliskan: Terkait dengan arsitek G. Bos
“G. Bos architect. Anno 1920”. Hal ini memberikan Karier
Data pribadi
konfirmasi bahwa G. Bos adalah arsiteknya dan
bangunan ini selesai dibangun pada tahun 1920. Plakat
sebelah kanan bertuliskan: “Op den 16:2:1919 werd voor Terkait dengan pemberi tugas
Nama
dit gebouw de eerste steen gelegd door Daniël baron
Mackay Burgemeester van Medan”. Hal ini memberikan
bukti bahwa pada tanggal 16 Februari 1919 Daniël baron Terkait dengan Daniël baron Mackay
Mackay, Walikota Medan pada masa itu meletakkan batu Keterlibatan
Karier
pertama bagi pembangunan gedung ini. Data pribadi

Kunjungan ke lokasi dan data dari kedua plakat


memberikan informasi berikut: Terkait dengan lokasi, kawasan dan kota
Nama jalan asli
Karakter kawasan
Pemilihan lokasi
What Gedung tersebut adalah sebuah bangunan
Apa sudut. Pintu masuknya terletak di sudut
kedua jalan.
Jika saya dapat menelusuri data tersebut, maka akan
Where Gedung tersebut terletak di sudut Jalan Hindu
Di mana dan Jalan Ahmad Yani VII di Medan membantu saya menjawab pertanyaan penelitian saya:

When Peletakan batu pertama dilakukan pada


Kapan 16 Februari 1919. Gedung tersebut selesai Pertanyaan-pertanyaan penelitian
dibangun tahun 1920.

Who Arsitek gedung tersebut adalah G. Bos. • Apa nama asli bangunan ini?
Siapa Walikota Medan pada masa pembangunan • Apa fungsi asli bangunan ini?
gedung tersebut adalah Daniël baron Mackay. • Seperti apa rancangan asli bangunan ini?
• Mengapa bangunan ini didirikan?

Berangkat dari informasi yang sangat berguna ini, saya


memfokuskan pencarian data terhadap lima aspek
bangunan: bangunan itu sendiri, arsiteknya, pemberi Langkah 2: Mengidentifikasi kumpulan data dan
perintah pembangunan, Daniël baron Mackay, dan lokasi sumber informasi
bangunan termasuk kawasannya dan kota Medan.
Untuk mengawali penelitian, pertama-tama saya
mengecek Delpher ([Link]). Keputusan untuk
memulai dengan Delpher adalah karena repository online
ini menawarkan sejumlah besar data kontemporer.
Seperti yang saya duga, suratkabar pada masa itu
mempublikasikan pembukaan sebuah toko baru maka
Delpher dapat menjadi sarana yang sangat berguna
untuk memverifikasikan hal ini. Dengan data yang
ditemukan melalui Delpher, saya dapat meneruskan
penelitian di tempat lain.
50 Sumber informasi primer

De Sumatra Post, 5 Oktober 1917.

Artikel ini menyebutkan mengenai


pembangunan sebuah Toko Serba Ada yang
baru, dimensinya dalam meter persegi dan
biaya yang dibutuhkan.

Ejaan nama Toko Serba Ada yang baru ini


berbeda dengan ejaan nama yang terdapat
pada artikel yang diterbitkan pada 6 Juli 1918.

De Sumatra Post, 6 Juli 1918.

Artikel ini menjelaskan lebih spesifik mengenai


ruangan-ruangan dalam bangunan.

Ejaan nama dari Toko Serba Ada yang baru ini


berbeda dengan nama yang tertera dalam
artikel yang diterbitkan pada tanggal
5 Oktober 1917.

De Sumatra Post, 27 Agustus 1918.

Artikel ini menyebutkan berbagai kontraktor


yang mengikuti tender pembangunan Toko
Serba Ada yang baru.

De Sumatra Post, 18 April 1918.

Iklan ini memastikan keterlibatan G. Bos pada


pembangunan Toko Serba Ada Medan – dan
mengungkapkan nama depannya Gerard.
Sumber informasi primer
51

De Sumatra Post, 13 Juli 1918.

Iklan mengenai tender bangunan ini,


ditandatangani oleh arsitek Toko Serba Ada
Medan: G. Bos

De Sumatra Post, 16 Juni 1920.

Artikel ini memberitahukan Bos mendirikan


biro arsiteknya di Medan.

Halaman 25 dari Nieuw adresboek van geheel


Nederlandsch-Indië 1919, Batavia: Landsdrukkerij,
1920.

Referensi ini memastikan G. Bos terdaftar


sebagai arsitek di Medan.

Halaman 791 dari Regeeringsalmanak voor


Nederlandsch-Indië, Batavia: Landsdrukkerij,
1920.

Ikhtisar ini memastikan Daniël baron Mackay


adalah Walikota Medan pada saat
pembangunan Toko Serba Ada Medan.
52

Langkah 3: Menentukan kumpulan data dan Langkah 4: Bagaimana menggunakan sumber


sumber informasi yang digunakan serta alasannya informasi

Delpher ternyata sangat membantu. Setelah Pada awal penelitian, bangunan Toko Serba Ada Medan
memasukkan nama arsitek, Walikota, dan tahun 1920, yang masih ada sampai sekarang berfungsi sebagai
saya dengan cepat menemukan banyak artikel mengenai sumber informasi primer yang penting dan bernilai,
bangunan tersebut di De Sumatra Post, suratkabar lokal di terutama dengan adanya dua plakat pada fasad
Medan. Artikel yang diterbitkan dalam periode yang bangunan. Kedua plakat tersebut memberikan informasi
cukup lama, mengungkapkan informasi menarik nama arsitek dan nama orang yang meletakkan batu
mengenai bangunan, arsitek, dan pemberi perintah pertama pada saat pembangunannya, dan konstruksi
pembangunannya: pembangunan serta tanggal peresmian bangunan. Data
ini secara harafiah dapat dianggap “tercetak pada batu”
1. ‘Monumentaal winkelgebouw’, De Sumatra Post, dan oleh sebab itu sangat dapat diandalkan.
5 Oktober 1917.
2. ‘Nieuwe bouwwerken’, De Sumatra Post, 6 Juli 1918. Dengan menggunakan data yang tertera pada bangunan
3. ‘Medan's Warenhuis’, De Sumatra Post, 26 Juli 1918. sebagai pijakan awal, saya melanjutkan penelitian di
4. ‘Nieuwe verbindingsweg’, De Sumatra Post, Delpher. Melalui Delpher, saya dapat menelusuri
24 Agustus 1918. informasi yang relevan mengenai arsiteknya dan
5. ‘Aanbesteding Medan's Warenhuis’, De Sumatra Post, perkembangan dari Toko Serba Ada Medan. Yang paling
27 Agustus 1918. menarik pada informasi yang bersumber pada suratkabar
6. ‘Medans Warenhuis’, De Sumatra Post, 17 Februari adalah datanya yang tidak selalu terkait: bahkan kadang-
1919. kadang bertentangan. Maka, meskipun saya menemukan
7. ‘Van bouwen’, De Sumatra Post, 29 Januari 1920. banyak informasi namun saya dulu (dan sampai
8. ‘Medan's Warenhuis’, De Sumatra Post, 1 Juni 1920. sekarang) masih tidak yakin dengan semua data yang
9. ‘Een nieuw architecten-bureau’, De Sumatra Post, saya temukan tentang Toko Serba Ada Medan.
16 Juni 1920.
10. ‘Medans Warenhuis’, De Sumatra Post, Meski terdapat kelemahan ini, data yang ditemukan
12 November 1920. melalui Delpher memungkinkan saya dapat
11. ‘Het Warenhuis’, De Sumatra Post, 16 November 1920. merekonstruksikan masa-masa awal dari Toko Serba Ada
Medan. Untuk menetapkan relevansi dan kehandalan
Pencarian secara online yang lebih luas menuntun saya data tersebut – dan akibatnya menguatkan atau menolak
kepada publikasi digital lain yang berguna mengenai penafsiran saya saat ini terhadap data-data tersebut –
kota Medan: ‘A Plantation City on the East Coast of Sumatra dibutuhkan penelitian tambahan yang lebih dalam. Data
1870-1942’, Yogyakarta: ArchaeologyWorld, 2009. yang ditemukan sejauh ini menjadi awal yang baik untuk
([Link] langkah selanjutnya.
[Link])
53

Step 5 & 6: Menafsirkan dan mengacu sumber


informasi

Meskipun sejauh ini penelitian tidak memberikan hasil


berupa gambar apapun, artikel-artikel di De Sumatra Post
sudah memberikan informasi mengenai bangunan,
lokasinya, arsitek dan pemberi perintah
pembangunannya. Tafsiran di bawah ini adalah indikasi
dari informasi yang saya kumpulkan berdasarkan artikel
di suratkabar sejauh ini termasuk beberapa inkonsistensi
dan kesalahan. Untuk mendukung rekonstruksi yang
saya buat, narasi ini dilengkapi dengan catatan kaki (yang
merujuk pada sumber yang saya gunakan dan dilengkapi
dengan latar belakang).

Pada saat pembangunannya, gedung di Jalan Achmad


Yani VII dan Jalan Hindu dinamakan Medan’s Warenhuis,
Toko Serba Ada Medan.1 Pembangunan gedung baru ini
ditugaskan oleh sebuah perusahaan dagang N.V. Medan’s
Warenhuis. Gedung ini terletak di sudut Hüttenbach­
straat dan Hindoestraat, sekarang Jalan Achmad Yani VII
dan Jalan Hindu, menggantikan bangunan kayu
perusahaan dagang Belanda N.V. Handel Maatschappij.2
Pada saat pembangunan gedung ini, N.V. Medan’s
Warenhuis berada di bawah pimpinan I. Cornfield.

Arsitek G. Bos merancang Medan’s Warenhuis pada 1918.


Rancangan bangunan ini disetujui oleh Komisi Keindahan Notes
1 Satu artikel menuliskan ‘Medan’s Warenhuis’. De Sumatra Post,
Kota (Schoonheidcommissie) pada bulan Juli 1918.3 5 Oktober 1917. Memperhatikan perbedaan seperti ini adalah relevan:
Gedung toko ini terdiri dari dua lantai yang tanpa menyadari adanya variasi dalam ejaan, saya akan menemukan
lebih sedikit data.
keseluruhannya meliputi 8.000 meter persegi: lantai 2 De Sumatra Post, 5 Oktober 1917. Pemegang saham utama N.V. Medan’s
dasar seluas 1.400 meter persegi, lantai satu seluas 1.000 Warenhuis adalah Hüttenbach & Co. Hüttenbach & Co adalah cikal bakal
perusahaan dagang Belanda N.V. Handel Maatschappij. Nama Jalan
meter persegi.4 Hüttenbachstraat jelas merujuk pada pemegang saham utama N.V. Medan’s
Warenhuis, atau pemberi perintah pembangunan sebuah toko baru untuk
menggantikan toko lama yang bangunannya terbuat dari kayu.
Pembangunan gedung ini diperkirakan menghabiskan 3 De Sumatra Post, 26 Juli 1918. Komisi Keindahan Kota (Schoonheids­
biaya sebanyak fl 200.000,00.5 Tender umum commissie) adalah Tim Penasehat Eksternal bagi Pemerintah Kota yang
menilai manfaat arsitektur dari sebuah rancangan bangunan.
pembangunan gedung ini dilaksanakan pada 4 De Sumatra Post, 5 Oktober 1917, 6 Juli 1918. De Sumatra Post tertanggal
27 Agustus 1918.6 Pada hari itu, empat kontraktor/arsitek 13 Juli 1918 menyebutkan luas bangunan keseluruhan adalah 1.600 meter
persegi. De Sumatra Post, 13 July 1918.
menyerahkan dokumen tender mereka.7 Sampai tanggal 5 De Sumatra Post, 5 Oktober 1917.
1 Agustus 1918, ‘C. Bos’ dapat dihubungi untuk 6 De Sumatra Post, 13 Juli 1918.
7 De Sumatra Post, 27 Agustus 1918.
mendapatkan spesifikasi teknis dan gambar.8 Bos adalah 8 De Sumatra Post, 13 Juli 1918. Memperhatikan referensi lainnya dan
arsitek dan pengawas pada Bagian Teknis Medan’s mengasumsikan hanya ada satu ‘Bos’ yang terlibat dalam proses
pembangunan, kelihatannya C yang tertulis pada informasi tersebut
Warenhuis. Nama pertamanya adalah Gerard.9 Bos adalah kesalahan penulisan belaka.
mendirikan Biro Arsiteknya sendiri di Medan pada tahun 9 De Sumatra Post, 18 April 1918.
10 De Sumatra Post, 16 Juni 1920.
1920, di tahun yang sama Toko Serba Ada Medan
dibuka.10
54 Bibliografi pilihan

Bibliografi di bawah ini adalah pilihan dari kebanyakan Bruijn, H. de, Bijdragen tot de kennis der Bouwkunde in
kepustakaan sekunder dan beberapa kepustakaan primer Nederlandsch-Indië, Batavia: Van Haren Noman, 1851.
untuk membantu Anda memulai penelitian mengenai
arsitektur Belanda dari 1620 hingga 1950 – lingkup waktu Budihardjo, Eko, (ed.), Menuju Arsitektur Indonesia,
panduan ini. Bibliografi ini bertujuan untuk Bandung: Alumni, 1983.
memperkenalkan Anda pada kepustakaan yang dapat
membimbing Anda ke sumber relevan lainnya. Oleh Budihardjo, Eko, Arsitektur dan kota di Indonesia, Bandung:
karena itu, bibliografi ini bukan merupakan daftar yang Alumni, 1983.
komprehensif dari semua kepustakaan relevan (yang
berpotensi) untuk penelitian Anda. Cobban, James L, The City on Java: An Essay in Historical
Geography, Berkeley: University of California, 1970 / Ann
Akihary, Huib, Architectuur en stedebouw in Indonesië 1870- Arbor: Xerox University Films, 1970.
1970, Zutphen: De Walburg Pers, 1990.
Cobban, James L., ‘Public Housing in Kolonial Indonesia
Akihary, Huib, Ir. F.J.L. Ghijsels. Architect in Indonesia (1910- 1900-1940’, Modern Asian Studies, 27 (4) (1993), 871-896.
1929), Utrecht: Seram Press, 1996.
Colombijn, Freek, Joost Coté, (eds.), Cars, Conduits, and
Anrooij, Francien van, De koloniale staat (Negara kolonial) Kampongs: The Modernization of the Indonesian City, 1920-
1854-1942: Panduan Archief van het Ministerie van Koloniën 1960, Leiden: Brill Publishers, 2014.
(Arsip Kementerian Urusan Tanah Jajahan), Kepulauan
Nusantara, Leiden: s.n., 2014. Colombijn, Freek, Martine Barwegen, (eds.), Kota lama,
kota baru. Sejarah kota-kota di Indonesia sebelum dan setelah
Ballegoijen de Jong, Michiel van, Spoorwegstations op Java, kemerdekaan, Yogyakarta: Ombak, 2005.
Amsterdam: De Bataafsche Leeuw, 1993.
Colombijn, Freek, Patches of Padang: The History of an
Ballegoijen de Jong, Michiel van, Stations en spoorbruggen Indonesian Town in the Twentieth Century and the Use of Urban
op Sumatra 1876-1941, Amsterdam: De Bataafsche Leeuw, Space, Leiden: Research School CNWS, 1994.
2001.
Colombijn, Freek, Under Construction: The Politics of Urban
Bastin, J., B. Brommer, Nineteenth Century Prints and Space and Housing During the Decolonization of Indonesia,
Illustrated Books of Indonesia, Utrecht / Antwerp: Spectrum, 1930-1960, Leiden: KITLV Press, 2010.
1979.
Coté, Joost, Hugh O'Neill, (eds.), The Life and Work of
Batavia als handels-, industrie- en woonstad. Batavia as a Thomas Karsten, Amsterdam: Architectura & Natura
Commercial, Industrial and Residential Center, Batavia: G. Publishers, 2017.
Kolff & Co., 1937.
Damais, Soedarmadji JH, Nadia Purwestri, Febriyanti
Bergeijk, Herman van, Berlage en Nederlands-Indië. Een Suryaningsih, Gedung Balai Kota Jakarta. Jalan Merdeka
innerlijke drang naar het schoone land, Rotterdam: Uitgeverij Selatan No. 8, Jakarta: Pemerintah Daerah Khusus Ibukota
010, 2011. Jakarta, 1996.

Breuning, H.A., Het voormalige Batavia. Een Hollandse Diessen, J.R. van, Robert P.G.A. Voskuil, Boven Indië.
stedestichting in de tropen, anno 1619, Amsterdam: Nederlands-Indië en Nieuw-Guinea in luchtfoto’s, 1921-1963,
Heemschut, 1954. Purmerend: Asia Maior, 1993.

Broeshart, A.C., (dkk.), Soerabaja. Beeld van een stad, Diessen, J.R. van, (dkk.), Grote atlas van Nederlands Oost-
Purmerend: Asia Maior, 1994. Indië / Comprehensive Atlas of the Dutch United East India
Company, 2nd Edition, Zierikzee: Asia Maior, 2004.
Brommer, B., (dkk.), Semarang. Beeld van een stad,
Purmerend: Asia Maior, 1995. Diessen, J.R. van, (dkk.), Grote Atlas van de Verenigde Oost-
Indische Compagnie / Comprehensive Atlas of the Dutch United
Bruijn, C.J. de, Indische Bouwhygiëne, Weltevreden: East India Company. Parts I-VII, Voorburg: Asia Maior, 2006-
Landsdrukkerij, 1927. 2010.
55

Dikken, Judy den, Liem Bwan Tjie (1891-1966). Westerse Hardjatno, N. Jenny M.T., Febi Harta, (eds.), Sejarah
vernieuwing en oosterse traditie, Rotterdam: Stichting Penataan Ruang Indonesia 1948-2000: Beberapa Ungkapan,
Bonas, 2002. Jakarta: Departemen Permukiman dan Prasarana
Wilayah, 2004.
Dullemen, C.J. van, Tropical Modernity: Life and Work of C.P.
Wolff Schoemaker, Amsterdam: SUN, 2010. Heuken, Adolf, Grace Pamungkas, Menteng. Kota Taman
Pertama di Indonesia, Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka,
Eryudhawan, Bambang, (dkk.) 100 Tahun Kebangkitan 2001.
Nasional,Jejak Boedi Oetomo. Peristiwa, Tokoh, dan Tempat,
Jakarta: Badan Pelestarian Pusaka Indonesia, 2008. Heuken, Adolf, Medan Merdeka - Jantung Ibukota RI.
Buffelsveld, Champ de Mars, Koningsplein, Lapangan Gambir,
Faber, G.H. von, Nieuw Soerabaia. De geschiedenis van Indië’s Lapangan Monumen Nasional, Jakarta: Yayasan Cipta Loka
voornaamste koopstad in de eerste kwart eeuw sedert hare Caraka, 2008.
instelling, Soerabaia: N.V. Boekhandel en Drukkerij v/h H.
van Ingen, 1934. Jacquet, F.G.P., Sources of the History of Asia and Oceania in
the Netherlands. Part II: Sources 1796-1949, Munich: K.G.
Faber, G.H. von, Oud Soerabaia. De geschiedenis van Indië’s Sauer, 1983.
eerste koopstad van de oudste tijden tot de instelling van den
Gemeenteraad (1906), Soerabaia: Gemeente Soerabaia, Jessup, Helen, Netherlands Architecture in Indonesia 1900-
1931. 1942, London: Courtauld Institute, University of London,
1988.
Faber, G.H., von, Er werd een stad geboren. De
wordingsgeschiedenis van het oudste Soerabaja, Soerabaja: Karsten, Thomas, ‘Indiese stedebouw’, Locale Belangen 7
Kolff & Co., 1953. (19/20) (1920), 145-250.

Flieringa, G., De zorg voor de volkshuisvesting in de Katam, Sudarsono, Gedung Sate Bandung, Bandung: Kiblat
stadsgemeenten in Nederlands Oost-Indië in het bijzonder Buku Utama, 2009.
Semarang, ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1930.
Keiser, J.W., (dkk.), Bijdragen Wederopbouw Java 1946-1950,
Gill, Ronald G., De Indische stad op Java en Madura. Een Hengelo: Uitgeverij Smit van 1876, 1994.
morfologische studie van haar ontwikkeling, Delft: Technische
Universiteit, 1994. Kementerian Pekerdjaan Umum dan Tenaga,
Pembangunan kota baru Kebajoran, Djakarta: Kementerian
Haan, F. de, Oud Batavia, Batavia: G. Kolff, 1922. Pekerdjaan Umum dan Tenaga, 1953.

Hadinoto, K., Kebajoran: A New Town Under Construction, Kerchman, F.W.M., 25 Jaren decentralisatie in Nederlandsch-
Djakarta: Kementerian Pekerdjaan Umum dan Tenaga, Indië 1905-1930, Semarang: Vereeniging voor Locale
1952. Belangen, 1930.

Handinoto, Paulus H. Soehargo. Perkembangan Kota dan Kleian’s adresboek van geheel Nederlandsch-Indië,
Arsitektur Kolonial Belanda di Malang, Surabaya: Lembaga Weltevreden: A. Emmink, 1926-1942.
Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat,
Universitas Kristen, 1996. Kloes, J.A. van der, J.N. van Ruijven, Het bouwen in
overzeesche gewesten, Leiden: E.J. Brill, 1906.
Handinoto, Arsitektur dan Kota-kota di Jawa pada Masa
Kolonial, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012. Koning, J., ‘Moderne bouwwerken in Indië’, Nederlandsch-
Indië oud & nieuw 7 (5) (1922-1923), 135-154.
Handinoto, Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial
Belanda di Surabaya 1870-1940, Surabaya: LPPM, Kunto, Haryoto, Wajah Bandoeng tempo doeloe, Bandung:
Universitas Kristen Petra Surabaya dan Penerbit Andi, Granesia, 1984.
1996.
56

Kusno, Abidin, Behind the Postkolonial: Architecture, Urban Nix, Thomas, Bijdrage tot de vormleer van de stedebouw in het
Space and Political Cultures in Indonesia, London / New York: bijzonder voor Indonesië, Heemstede: De Toorts, 1949.
Routledge, 2000.
Njoto, Hélène, Innovations architecturales à Java du XVIe
Lakerveld, A. van, W.L. Brocx, Handleiding voor siècle au début du XIXe siècle, Paris: Ecole des Hautes Etudes
bouwkundigen en industriëlen in Nederlandsch Oost-Indië, en Sciences Sociales, 2014.
‘s-Gravenhage: Van Cleef, 1863-1866.
Odang, Sri Astuti S.A., (dkk.), Arsitek dan karyanya. F.
Leerdam, Ben F. van, Architect Henri Maclaine Pont. Een Silaban dalam konsep dan karya, Bandung: Nova, 1992.
speurtocht naar het wezenlijke van de Javaanse architectuur,
Den Haag: tanpa nama penerbit, 1995. Passchier, Cor, Building in Indonesia (1600-1960), Utrecht:
LM Publishers, 2016.
Leushuis, Emile, Panduan Jelajah Kota-Kota Pusaka di
Indonesia, Jogjakarta: Ombak, 2014. Purwestri, Nadia, (dkk.), Gedung Bank Indonesia. Jejak
arsitektur dalam menggapai kemakmuran negeri, Jakarta:
Loderichs, Mark, (dkk.), Medan. Beeld van een stad, Bank Indonesia, 2012.
Purmerend: Asia Maior, 1997.
Pusat Dokumentasi Arsitektur, Tegang Bentang. Seratus
Merrillees, Scott, Batavia in Nineteenth Century Photographs, Tahun Perspektif Arsitektural di Indonesia, Jakarta: Gramedia
Singapore: Archipelago Press, 2000/2006. Pustaka Utama, 2012.

Merrillees, Scott, Greetings from Jakarta: Postcards of a Pusat Dokumentasi Arsitektur, The White House of
Capital 1900-1950, Jakarta/Kuala Lumpur: Equinox Weltevreden. Ministry of Finance Building, Jakarta: Pusat
Publishing, 2012. Dokumentasi Arsitektur, 2005.

Merrillees, Scott, Jakarta: Portraits of a Capital 1950-1980, Pusat Dokumentasi Arsitektur, Ministry of Education and
Jakarta: Equinox Publishing, 2015. Culture, Forts in Indonesia, Jakarta: Ministry of Education
and Culture, Republic of Indonesia, 2012.
Modern Asian Architecture Network Indonesia,
Tarumanagara University, School of Architecture, Rumah Ravesteijn, Wim, Jan Kop, (eds.), For Profit and Prosperity:
Silaban Silaban’s House, Bogor: MAAN Indonesia The Contribution Made by Dutch Engineers to Public Works in
Publishing, 2008. Indonesia 1800-2000, Zaltbommel / Leiden: Aprilis / KITLV
Press, 2008.
Nas, Peter J.M., (ed.), The Indonesian City: Studies in Urban
Development and Planning, Dordrecht / Cinnaminson: Foris Regeerings Almanak voor Nederlandsch-Indië, Weltevreden:
Publications, 1986. Landsdrukkerij, 1817-1942.

Nas, Peter J.M., (ed.), Masa lalu dalam masa kini. Arsitektur Roosmalen, Pauline K.M. van, ‘The Dutch East Indies: An
di Indonesia, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2009. Ineffective Shot Across The Bows’ in: Es, Evelien van,
Gregor Harbusch, Bruno Maurer, Muriel Perez, Kees
Nas, Peter J.M., (ed.), The Indonesian Town Revisited, Somer, Daniel Weiss, (eds.), Atlas of the Functional City:
Munster: LIT Verlag, 2002. CIAM 4 and Comparative Urban Analysis, Bussum / Zürich:
Uitgeverij Thoth / GTA Verlag, 2014, 134-148.
Nas, Peter J.M., (ed.), The Past in the Present: Architecture in
Indonesia, Rotterdam: NAi Publishers, 2006. Roosmalen, Pauline K.M. van, Ontwerpen aan de stad.
Stedenbouw in Nederlands-Indië en Indonesië (1905-1950),
Niessen, Nicole, Municipal Government in Indonesia: Policy, Delft: Technische Universiteit, 2008.
Law, and Practice of Decentralization and Urban Spatial
Planning, Leiden: Research School CNWS School of Asian, Ross, Robert J., Gerard J. Telkamp, (eds.), Kolonial Cities:
African, and Amerindian Studies, 1999. Essays on Urbanism in a Kolonial Context, Leiden: Martinus
Nijhoff, 1985.
Nieuw adresboek van geheel Nederlandsch-Indië, Batavia:
Landsdrukkerij, 1901-1925.
57

Schaik, A. van, Malang. Beeld van een stad, Purmerend: Asia Wall, V.I. van de, Indische landhuizen en hun geschiedenis,
Maior, 1996. Batavia: G. Kolff & Co., 1932.

Segaar-Höweler, Dorothee C., J.M. Groenewegen 1888- Wertheim, W.F., (ed.), The Indonesian Town, The Hague/
1980. Een Hagenaar als Indonesisch architect, Rotterdam: Bandung: W. van Hoeve Ltd., 1958.
Stichting Bonas, 1998.
Widodo, Dukut Imam, Malang tempo doeloe, Malang:
Segaar-Höweler, Dorothee C., Tjeerd Boersma, A.F. Banyumedia Publishing, 2006.
Aalbers 1897-1961. Ondogmatisch modernist in een koloniale
samenleving, Rotterdam: Stichting Bonas, 2000. Widodo, Dukut Imam, Soerabaia tempo doeloe, Surabaya:
Pemkot Surabaya, Dinas Pariwisata Kota, 2002.
Sumalyo, Yulianto, Arsitektur kolonial Belanda di Indonesia,
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1993.

Sumintardja, Djauhari, Kompendium Sejarah Arsitektur,


Bandung: Yayasan Lembaga Penyelidikan Masalah
Bangunan, 1981.

Temminck Groll, C.L., The Dutch Overseas: Architectural


Survey, Mutual Heritage of Four Centuries in Three Continents,
Zwolle: Uitgeverij Waanders, 2002.

Tillema, H.F., A.S. Tillema-Weehuizen, Kampongwee,


Groningen: tanpa nama penerbit, 1919.

Tillema, H.F., ”Kromoblanda”. Over het vraagstuk van “het


Wonen” in Kromo’s groote land, ‘s-Gravenhage: N.V. Electr.
Drukkerij en Uitgeversmij ‘de Atlas’, 1915-1922.

Tillema, H.F., Riolaana, Semarang: H.A. Benjamins, 1911.

Tillema, H.F., Van wonen en bewonen: Van bouwen, huis en erf,


Tjandi-Samarang, ‘s-Gravenhage: H. Uden Masman, 1913.

Tio, Jongkie, Semarang City: A Glance into the Past,


Semarang: Jongkie Tio, 2007.

Tjahjono, Gunawan, (ed.), Architecture: Indonesian Heritage,


Singapore: Archipelago Press, 1999.

Vletter, M.E. de, (dkk.), Batavia/Djakarta/Jakarta. Beeld van


een metamorfose, Purmerend: Uitgeverij Asia Maior, 1997.

Voskuil, R.P.G.A., Bandoeng. Beeld van een stad, Purmerend:


Asia Maior, 1996.

Voskuil, R.P.G.A., Batavia. Beeld van een stad, Purmerend:


Uitgeverij Asia Maior, 1997.

Vries, Gerrit de, Dorothee Segaar-Höweler, Henri Maclaine


Pont (1884-1971): Architect, constructeur, archeoloog,
Rotterdam: Stichting Bonas, 2009.
58 Sumber informasi online pilihan

Berikut adalah gambaran sumber-sumber informasi Museum Nasional untuk Budaya Dunia
online yang dapat membantu penelitian Anda mengenai (Nationaal Museum van Wereldculturen,
lingkungan yang dibangun di Hindia-Belanda dan NMVW), Amsterdam/Leiden/Berg en Dal
Indonesia. Perlu dicatat bahwa gambaran di bawah ini • Museum Etnologi: Museum Volkenkunde
tidak lengkap dan nama-nama lembaga serta alamat (Koleksi & Perpustakaan), Leiden:
laman dapat berubah. [Link]
• Tropenmuseum (foto, benda), Amsterdam: http://
Atlas of Mutual Heritage, Amsterdam [Link]/
• Dokumen VOC dan WIC:
[Link] Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI),
Jakarta
Lembaga Warisan Budaya Belanda (Rijksdienst • Koleksi (arsip, perpustakaan, foto, film, peta):
voor het Cultureel Erfgoed, RCE), Amersfoort [Link]
• Koleksi Foto/Gambar: • Sejarah Nusantara (Arsip VOC):
[Link] [Link]/

Universitas Teknologie Delft (Technische Arsip Nasional Belanda (Nationaal Archief, NA),
Universiteit Delft), Delft Den Haag
• Repositori mengenai arsitektur kolonial Eropa antara • Arsip, peta, dan foto: [Link] dan
1850-1970 (dokumen teks, foto, film, peta, arsip): [Link]
[Link] • Spaarnestad Photo:
[Link]
Erfgoedcentrum Nederlands Kloosterleven,
Sint Agatha Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
• Arsip & Foto/Gambar: (PNRI), Jakarta
[Link] • Katalog (dokumen teks, manuskrip, terbitan cetak,
[Link] foto, peta): [Link]

Pusat Dokumentasi Arsitektur (PDA), Jakarta Perpustakaan Nasional Belanda (Koninklijke


• Koleksi (buku, gambar pengukuran): Bibliotheek, KB), Den Haag
[Link] • Delpher (buku, suratkabar, jurnal, majalah):
• Database Benteng di Indonesia: [Link]
[Link]
Het Nieuwe Instituut, Rotterdam
Perpustakaan Universitas Leiden (Universitaire • koleksi (arsip dan perpustakaan):
Bibliotheken Leiden, UBL), Leiden [Link]
• Koleksi Kolonial (KIT) (peta, dokumen berupa teks)
dari Koleksi Heritage bekas perpustakaan Lembaga Towards A New Age of Partnership (TANAP)
Kerajaan untuk Kawasan Tropis (Koninklijk Instituut • Portal: [Link]
voor de Tropen, KIT): • Arsip VOC: [Link]
[Link] • VOC Documents: [Link]
• Koleksi heritage KITLV (dokumen teks, arsip, foto) vocrecords/
dari koleksi Lembaga Kerajaan Belanda untuk
Kajian Asia Tenggara dan Karibia (Koninklijk
Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde, KITLV):
[Link]
Ilustrasi 59

Foto-foto dan bahan-bahan arsip tanpa keterangan Hal.17: Kantor Jiwasraya, Jalan Letnan Jenderal Suprapto,
diberikan di bawah ini: Semarang. Dibangun untuk Nederlands-Indische
Levensverzekering en Lijfrente Maatschappij (NILLMY).
Sampul: Gambar kota Surabaya dari udara. Arsip Nasional Foto diambil tahun 1988. Rijksdienst voor het Cultureel
Belanda, Koleksi peta, [Link] No. Inv. G1.7 Erfgoed, Koleksi Temminck Groll, No. Inv. TGKL-16-007.

Hal.4: Desain untuk kabupaten Kebayoran Baru dirancang Hal.19: Bekas gudang VOC, Jalan Pasar Ikan, Jakarta,
oleh Moh. Soesilo (1949). Koleksi pribadi Ir. R.J. Clason, sekarang Museum Bahari. Foto diambil tahun 1983.
Arnhem. Rijksdienst voor het Cultureel Erfgoed, Koleksi Dorresteijn,
No. Inv. DO-BD-006.
Hal.6 atas: Museum Sejarah Jakarta, Kota Tua, Jakarta.
Foto: Johan van Langen (2015). Hal.21 atas: Sebuah bangunan, kemungkinan terletak di
Jakarta sekitar tahun 1947. Arsip Nasional Belanda, Koleksi
Hal.6 bawah: Taman Fatahillah dengan latar belakang Cafe Dienst Legercontacten, [Link], No. Inv. 10766.
Batavia, Jakarta Kota Tua. Foto: Peter Timmer (2014).
Hal.21 bawah: Interior aula Institut Teknologi Bandung
Hal.7: Panitia penyelenggara, pemateri dan peserta (dulu Technische Hogeschool), dirancang oleh Henri
lokakarya Collecting and Connecting di Arsip Nasional Maclaine Pont (1919-1920). Foto diambil tahun 1988.
Republik Indonesia. Foto: Arsip Nasional Republik Rijksdienst voor het Cultureel Erfgoed, Koleksi Temminck
Indonesia (2014). Groll, No. Inv. TGKL-14-03-4.

Hal.8: Suasana workshop Collecting and Connecting yang Hal.23: Jembatan Kota Intan (Pasarhoenderbrug), Jakarta:
diselenggarakan di Arsip Nasional Republik Indonesia. jembatan jungkit gaya Belanda. Foto diambil tahun 1985.
Foto: Huib Akihary (2014). Rijksdienst voor het Cultureel Erfgoed, Koleksi Dorresteijn,
No. Inv. DO-LD-044.
Hal.10: Peserta workshop Collecting and Connecting yang
diselenggarakan di Arsip Nasional Republik Indonesia. Hal.25 atas: Para jemaat yang keluar dari sebuah gereja
Foto: Huib Akihary (2014). setelah selesai misa. Foto diambil antara tahun 1947-1949.
Arsip Nasional Belanda, Koleksi Dienst Legercontacten
Hal.12 atas: Rumah Sembang di Surabaya (awal abad ke- [Link] No. Inv. 8729.
19). Arsip Nasional Belanda, Koleksi Kaarten Kolonien, 4.
MIKO No. Inv. G1.12. Hal.25 bawah: Bank Jabar, Jalan Braga, Bandung. Gedung
ini dibangun untuk De Eerste Nederlandsch-Indische
Hal.12 bawah: Savoy Homann Hotel di Bandung (sekitar Spaarbank (DENIS). Foto diambil tahun 1988. Arsip
tahun 1942), Koleksi ANEFO [Link], No. Inv. 934_8071. Nasional Belanda, Koleksi Dienst Legercontacten
[Link] No. Inv. 8729.
Hal.13 atas: Persimpangan Jalan Sei Ular dan Jalan
Abdullah Lubis di Medan. Dari Album foto perusahaan Hal.27 atas: Gambar bangunan di dalam sebuah pos
pemasok air Air Beresih saat pembangunan '4 pipa inlet' ke perdagangan (loji) di Jambi (1707). Arsip Nasional Belanda,
Medan, 1952-1953. Arsip Nasional Belanda, Koleksi Deli Koleksi Leupe [Link], No. Inv. 1137.
Maatschappij, 2.20.46 No. Inv. 827, foto 34 (52/11).
Hal.27 bawah: Peta yang menggambarkan daerah rawan
Hal.13 bawah: Rencana kota Balikpapan oleh Perencanaan banjir di Batavia (Jakarta) dan sekitarnya di tahun 1914. Arsip
kantor Balikpapan, Penjelasan rencana kota Balikpapan Nasional Belanda, Koleksi Kolonien Verbaal 1900-1950,
(1949). Het Nieuwe Instituut, Rotterdam, Koleksi H. [Link], No. Inv. 1124, Verbaal 42 (26 Januari 1914).
Luning, LUNI-30.
Hal.28: Menara pada bastion Culemborg, Jakarta. Foto
Hal.14 atas: Plakat batu pada bangunan di Jalan Braga No. diambil tahun 1983. Rijksdienst voor het Cultureel Erfgoed,
99, Bandung. Foto diambil tahun 1988. Rijksdienst voor Koleksi Dorresteijn, No. Inv. DO-BD-002.
het Cultureel Erfgoed, Koleksi Temminck Groll, No. Inv.
TGKL-14-021. Isi diagram dibuat oleh:
Huib Akihary, Rotterdam
Hal.14 bawah: Plakat batu dari sebuah rumah sakit yang Pusat Dokumentasi Arsitektur, Jakarta
dibangun pada awal abad ke-18 di Semarang. Foto diambil PKMvR heritage research consultancy, Amsterdam
tahun 1988. Rijksdienst voor het Cultureel Erfgoed, Koleksi
Temminck Groll, No. Inv. TGKL-16-019.
Marinus Plantema
Foundation

Common questions

Didukung oleh AI

Pendekatan asosiatif dalam penelitian memungkinkan peneliti untuk menghubungkan potongan-potongan informasi yang tampaknya terpisah dalam rangka merekonstruksi kejadian historis. Dengan mengasosiasikan berbagai sumber dari konteks waktu dan lokasi yang sama, peneliti dapat menjalin narasi yang lebih kohesif dan menyeluruh. Teknik ini juga memerlukan pemikiran kritis dan kemampuan untuk membaca di antara baris sumber yang berbeda, mengisi kesenjangan dalam pengetahuan dengan data yang dikumpulkan .

Sumber primer memerlukan peneliti untuk mengidentifikasi, memilih, dan menafsirkan informasi sesuai dengan urutan yang diciptakan oleh organisasi/orang yang pertama menggunakan sumber tersebut. Hal ini berbeda dengan sumber sekunder yang merupakan interpretasi dari sumber asli, sehingga memungkinkan referensi yang lebih langsung untuk memverifikasi informasi. Dalam kasus sumber primer, relevansinya mungkin tidak langsung terlihat, dan informasi tersebut tersebar dalam penggalan-penggalan yang lebih fragmentaris .

Wawancara dalam penelitian arsitektur kolonial berperan penting dalam memperoleh informasi langsung dari individu yang berkompeten atau memiliki pengalaman personal terkait objek penelitian. Tantangan yang muncul mencakup kesesuaian informasi dari wawancara dengan fakta historis, kesiapan dan keterbukaan narasumber, serta kemungkinan bias dari ingatan yang terdistorsi oleh waktu. Peneliti harus menyesuaikan data wawancara dengan data dari sumber lain untuk memperkuat keandalannya .

Strategi yang bisa dipakai untuk menentukan sumber informasi dalam penelitian sejarah bangunan kolonial meliputi: mengidentifikasi sumber yang menyediakan informasi tentang banyak aspek dari pertanyaan penelitian, memanfaatkan arsip, koleksi peta, dan bahan terbitan masa lalu dari lembaga-lembaga yang relevan, serta memilih sumber yang memungkinkan untuk verifikasi silang informasi. Peneliti juga harus mempertimbangkan relevansi dan keakuratan sumber dibandingkan dengan pertanyaan penelitian mereka .

Akurasi sangat penting dalam melakukan pencarian data historis, terutama ketika menggunakan nama dan istilah yang berlaku pada periode waktu tertentu. Hal ini dikarenakan sumber-sumber asli yang didigitalisasi tidak mengubah atau memperbarui nama/istilah tersebut, sehingga pencarian menggunakan nama-nama kontemporer akan gagal menemukan data yang relevan .

Objek fisik berperan sebagai sumber data utama dalam dokumentasi dan penelitian arsitektur, di mana pengamatan langsung dan analisis objek dapat memberikan informasi penting yang mungkin tidak tersedia dalam catatan tertulis. Peneliti bisa membandingkan data historis dengan kondisi fisik saat ini untuk mengungkapkan perubahan atau mempertahankan unsur-unsur yang asli, serta melengkapinya dengan pencatatan, pemetaan, dan dokumentasi visual objek .

Analisis dan pembandingan data historis dengan kondisi saat ini penting karena hal ini membantu peneliti memahami evolusi fisik dan fungsi bangunan. Ini memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi perubahan yang telah terjadi, asal-usul struktur saat ini, dan konsekuensi dari perubahan tersebut terhadap nilai historis dan arsitektural bangunan. Kombinasi dari data historis dan observasi terkini memberikan gambaran lebih menyeluruh tentang makna dan signifikansi bangunan dalam konteksnya .

Tantangan utama dalam menulis hasil penelitian terletak pada penafsiran informasi yang tidak selalu lengkap dari sumber yang ada. Peneliti harus terus-menerus menimbang dan memikirkan informasi mana yang relevan dengan pertanyaan penelitian mereka. Untuk mengatasi tantangan ini, peneliti perlu memeriksa ulang pertanyaan penelitian, sumber-sumber, dan interpretasinya secara berulang, serta menghindari memasukkan informasi yang tidak relevan meskipun menarik .

Verifikasi fakta dari sumber sekunder dalam proses penelitian sangat penting untuk memastikan bahwa narasi yang dibangun landasannya terverifikasi, sehingga menghindari kesalahan dalam kesimpulan penelitian. Proses ini berkontribusi pada integritas penelitian dengan memastikan bahwa argumen dan klaim yang diajukan dapat dipertahankan dengan bukti yang kuat dan terbukti kebenarannya. Tanpa verifikasi, penelitian berisiko berbasis pada data yang tidak dapat dipercaya .

Peneliti harus memilih sumber informasi secara obyektif untuk memastikan bahwa interpretasi mereka tidak bias dan dapat diandalkan. Mencapai obyektivitas dapat dilakukan dengan mengumpulkan dan memilih informasi dari berbagai aspek pertanyaan penelitian, menghindari penggunaan kata sifat positif atau negatif yang menghakimi, serta menghindari tanda seru dalam tulisan. Memilih sumber dengan cara ini memastikan peneliti tidak hanya menemukan berbagai kemungkinan jawaban, tetapi juga menjaga penulisan mereka bebas dari bias linguistik .

Anda mungkin juga menyukai