Penelitian Lingkungan Terbangun Indonesia
Penelitian Lingkungan Terbangun Indonesia
Digging4Data
Bagaimana meneliti lingkungan terbangun di Indonesia, 1620-1950
Akihary, H.; Purwestri, N.; van Roosmalen, Pauline
Publication date
2017
Document Version
Final published version
Citation (APA)
Akihary, H., Purwestri, N., & van Roosmalen, P. (2017). Digging4Data: Bagaimana meneliti lingkungan
terbangun di Indonesia, 1620-1950. (Edisi revisi ed.) Cultural Heritage Agency of the Netherlands.
Important note
To cite this publication, please use the final published version (if applicable).
Please check the document version above.
Copyright
Other than for strictly personal use, it is not permitted to download, forward or distribute the text or part of it, without the consent
of the author(s) and/or copyright holder(s), unless the work is under an open content license such as Creative Commons.
Takedown policy
Please contact us and provide details if you believe this document breaches copyrights.
We will remove access to the work immediately and investigate your claim.
Huib Akihary
Nadia Purwestri
Pauline K.M. van Roosmalen
Digging4Data
Bagaimana meneliti lingkungan
terbangun di Indonesia, 1620-1950
Huib Akihary
Nadia Purwestri
Pauline K.M. van Roosmalen
2
—
Kolofon
Penulis
Huib Akihary, Rotterdam
Nadia Purwestri / Pusat Dokumentasi Arsitektur (PDA), Jakarta
Pauline K.M. van Roosmalen / PKMvR heritage research consultancy,
Amsterdam
Graphic Design
En Publique, Utrecht
Manajemen Proyek
Johan van Langen / Arsip Nasional Belanda (NA), Den Haag
Risma Manurung / Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Jakarta
Jinna Smit / Cultural Heritage Agency of the Netherlands (RCE), Amersfoort
Hasti Tarekat / Heritage Hands On, Amsterdam
Pendanaan bersama
Marinus Plantema Foundation, Heemstede
Distribusi
Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Jakarta
Pusat Dokumentasi Arsitektur (PDA), Jakarta
Isi dokumen ini di bawah Lisensi Creative Commons Attribution 4.0. Pemilik lisensi dapat menyalin,
menyebarkan, memamerkan serta melaksanakan pekerjaan tersebut dan membuat turunan
pekerjaan dan meramu ulang dengan mengacu pada sejumlah informasi di dalamnya dengan
syarat menuliskan nama penulisnya sebagai berikut: Huib Akihary, Nadia Purwestri,
Pauline K.M. van Roosmalen, Digging4Data: Bagaimana meneliti lingkungan terbangun di Indonesia,
1620-1950, Jakarta/Den Haag/Amersfoort (2016), berlisensi CC-BY 4.0. Informasi lebih lanjut
mengenai lisensi ini: [Link]
Daftar isi 3
—
Tentang penulis 5
Pengantar 7
Melakukan penelitian 8
Langkah-langkah penelitian 11
Langkah 1: Menentukan pertanyaan-pertanyaan penelitian 12
Langkah 2: Mengidentifikasi kumpulan data dan sumber informasi yang tersedia 16
Langkah 3: Tentukan kumpulan data dan sumber informasi yang digunakan dan alasannya 20
Langkah 4: Bagaimana menggunakan sumber informasi 22
Langkah 5: Menafsirkan sumber informasi 23
Langkah 6: Menyimpan dan mengacu sumber informasi dan data 26
Studi kasus 29
Studi Kasus 1: Gedung Cagar Budaya Kementerian Keuangan di Jakarta 30
Studi Kasus 2: Museum Pegadaian di Sukabumi 42
Studi Kasus 3: Toko Serba Ada Medan di Medan 48
Bibliografi pilihan 54
Ilustrasi 59
4
—
Tentang penulis 5
—
Ir. Nadia Purwestri adalah seorang arsitek yang telah Drs. Huib Akihary adalah seorang ahli sejarah seni dan
melakukan banyak penelitian mengenai bangunan arsitektur dan penulis/peneliti sejumlah buku dan
bersejarah dan pegiat pelestari bangunan dan struktur terbitan. Karyanya yang berjudul Architectuur en Stedebouw
bersejarah di Indonesia. Lulusan Universitas in Indonesië 1870-1970, dipresentasikan di Jakarta tahun
Tarumanagara tahun 1994, Purwestri adalah salah satu 1988 dalam sebuah seminar ‘Change and Heritage in
pendiri Pusat Dokumentasi Arsitektur (PDA) dan Indonesian Cities’ dan edisi keduanya yang diterbitkan
menjabat sebagai Direktur Eksekutif. Ia berpengalaman tahun 1990, merupakan tinjauan yang pertama dilakukan
dalam membuat inventarisasi, melakukan dokumentasi, terhadap tinggalan bersama arsitektural di Indonesia.
dan meneliti bangunan dan kawasan bersejarah. Ia juga Terbitan lain setelahnya, monografi J.F.L. Ghijsels, Architect
menulis beberapa buku dan artikel di bidang in Indonesia 1910-1929, diterbitkan tahun 1996. Akihary
keahliannya; seperti, Gedung Balaikota Jakarta. Jalan menuntut ilmu di Institut Teknologi Bandung pada tahun
Merdeka Selatan No. 8, Rumah Hindia di Tepi Sungai, Warisan 1984 dan kemudian memperoleh gelar MA bidang
De Javasche Bank, Tegang Bentang. Seratus Tahun Perspektif Sejarah Seni dan Arsitektur dari Universitas Amsterdam.
Arsitektural di Indonesia, dan Inventory and Identification of Pada tahun 1990an, Akihary meneliti untuk Rijksdienst
Forts in Indonesia. Monumentenzorg di Zeist. Kemudian ia bekerja selama
beberapa tahun sebagai sejarawan seni untuk sejumlah
Dr. Pauline K.M. van Roosmalen memiliki gelar MA di museum Belanda di bidang konservasi dan restorasi. Dari
bidang Sejarah Seni dan Arsitektur dari Vrije Universiteit 2009 sampai 2012, ia menjabat posisi direktur Museum
Amsterdam dan PhD di bidang Sejarah Arsitektur dan Maluku di Utrecht. Pada 2012, Akihary kembali menekuni
Tata Ruang Wilayah Kota dari Universitas Teknologi keahliannya, melakukan penelitian warisan budaya
Delft. Dia juga memiliki gelar MA di bidang Tari bersama Indonesia dan Belanda, dan mempresentasikan
Kontemporer dari Codarts di Rotterdam. Disertasi PhD hasil pekerjaannya pada beberapa universitas di
van Roosmalen merupakan studi komprehensif pertama Indonesia.
mengenai tata ruang wilayah kota pada periode akhir
dan pascakolonial di Indonesia. Van Roosmalen mengajar
dan menerbitkan penelitiannya secara rutin. Terbitan
terkininya antara lain ‘Bouwen in turbulente tijden. Het werk
van Ingenieurs-Bureau Ingenegeren-Vrijburg (IBIV) (1936-
1957)’, ‘Netherlands Indies Indian town planning: An agent for
modernisation’, ‘Confronting built heritage: Shifting
perspectives on kolonial architecture in Indonesia’, dan ‘The
Dutch East Indies: An Ineffective Shot Across The Bows’
mengenai keikutsertaan Bandung pada CIAM 4 Exhibition
1934. Van Roosmalen adalah pendiri dan Direktur PKMvR
firma konsultan penelitian peninggalan bersejarah.
PKMvR memusatkan perhatian pada isu-isu terkait
tinggalan struktur (kolonial) bersejarah: penelitian,
presentasi, komunikasi, pelestarian, dan pengembangan.
Selain bekerja pada PKMvR, van Roosmalen adalah mitra
bestari untuk berbagai jurnal internasional dan menjadi
dosen tamu di Universitas Teknologi Delft. Di Delft ia
memprakarsai dan mengelola repositori sumber
informasi mengenai arsitektur kolonial dan tata ruang
wilayah kota Eropa.
6
—
Pengantar 7
—
Dalam satu dekade terakhir ini semakin banyak Dan meskipun munculnya panduan ini menjawab
profesional Indonesia terlibat dalam kajian peninggalan kebutuhan yang pernah diungkapkan oleh para arsitek,
bangunan/struktur bersejarah di kawasan bersejarah perencana kota, dan pejabat pemerintah, hal ini
pusat kota di Indonesia. Pusat kegiatan ekonomi dimaksudkan untuk semua orang yang tertarik dengan
kota-kota tersebut telah bergeser dari awalnya di pusat jenis penelitian semacam ini.
kota tua ke bagian kota yang baru. Bangunan kosong
dan ruang publik yang telah ditinggalkan tersebut Panduan ini merupakan hasil dari kolaborasi intensif
membutuhkan alokasi fungsi baru untuk antara para peneliti dan sejumlah lembaga di Indonesia
pengembangannya. Pembangunan berbasis peninggalan dan Belanda: Pusat Dokumentasi Arsitektur Indonesia
bersejarah di kawasan bersejarah pusat kota (Nadia Purwestri) bekerja sama erat dengan Lembaga
membutuhkan pemahaman menyeluruh tentang sejarah Warisan Kebudayaan Belanda (Rijksdienst voor het
bangunan dan tata ruang wilayah kota. Oleh karena itu Cultureel Erfgoed: Jean-Paul Corten, Jinna Smit), Arsip
sangat penting untuk mengumpulkan dan menganalisis Nasional Belanda (Nationaal Archief: Johan van Langen,
data historis guna mengintegrasikan faktor-faktor ini ke Frans van Dijk), Heritage Hands On (Hasti Tarekat) dan
dalam proses perencanaan. para pakar: Huib Akihary dan Pauline K.M. van
Roosmalen. Kebijakan Warisan Budaya Bersama
Pada tanggal 27 dan 28 Oktober 2014, Arsip Nasional Pemerintah Belanda juga berperan penting,
Republik Indonesia (ANRI) menyelenggarakan lokakarya menyediakan kerangka kerja dan pendanaan untuk
‘Collecting and Connecting: Historical Data for Inner City pelestarian warisan bersama Belanda dengan beberapa
Development’. Dikaitkan dengan kesadaran yang kian negara mitra secara berkelanjutan. Indonesia dan
tumbuh di Indonesia akan manfaat menggabungkan Belanda telah berhasil berkolaborasi dalam kerangka
konservasi tinggalan bersejarah dan pembangunan kerja sama ini sejak tahun 2009.
perkotaan, lokakarya tersebut bertujuan untuk
menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik. Digging4Data ditulis oleh tiga penulis. Pauline K.M. van
Pada kenyataannya, sebagaimana diperlihatkan oleh Roosmalen dan Huib Akihary yang merupakan sejarawan
para profesional dari lembaga pemerintah, LSM. dan arsitektur dari Belanda, penulis, dan ahli di bidang
perguruan tinggi di Indonesia, pengetahuan tentang cara arsitektur kolonial dan tata ruang wilayah kota di
mengumpulkan dan mengelola data historis masih Indonesia. Selama lokakarya ‘Collecting and Connecting:
kurang. Tentunya, lokakarya tersebut hanya membahas Historical Data for Inner City Development’, pendekatan
beberapa langkah awal dan bukan membahas solusi bertahap dan langsung tentang bagaimana melakukan
akhir. Selama evaluasi lokakarya, para peserta penelitian mengenai lingkungan terbangun sangat
mengisyaratkan perlunya panduan untuk mendukung dihargai oleh para peserta. Melalui panduan ini, mereka
para profesional dalam melakukan penelitian arsip demi berbagi pengalaman mereka dengan masyarakat luas.
pelestarian tinggalan bersejarah dan revitalisasi pusat Penulis ketiga adalah Nadia Purwestri, yang telah terlibat
kota. Pada saat inilah lahir panduan itu: Digging4Data: dalam berbagai proyek peninggalan arsitektur bersejarah.
How to do research on the built environment in Indonesia, Berdasarkan pengalamannya dengan konservasi
1620-1950. tinggalan sejarah dan keterlibatannya dalam tata ruang
wilayah kota di Indonesia, ia memastikan bahwa panduan
Publikasi ini adalah panduan praktis yang menjelaskan ini akan memenuhi kebutuhan para peneliti di Indonesia.
cara mengumpulkan dan mengelola data historis.
Tujuannya adalah untuk mendukung penelitian tentang
lingkungan terbangun: bangunan, tata ruang wilayah
kota, lanskap, infrastruktur, arsitektur taman, dan
interior. Panduan ini memusatkan perhatian terhadap
keterampilan melakukan penelitian mengenai bangunan
peninggalan bersejarah dan perencanaan lingkungan
yang dilakukan selama kehadiran Belanda di Indonesia,
kira-kira dari 1620 sampai 1950, mulai dari bangunan-
bangunan VOC (Perusahaan Dagang Hindia-Belanda)
sampai dengan tata ruang wilayah kota modern 1940-an.
8 Melakukan penelitian
—
1 2 3 4 5 6
Langkah-langkah
penelitian
12 Langkah 1:
—
Menentukan pertanyaan-
pertanyaan penelitian
Sebelum memulai penelitian mengenai suatu obyek setepat mungkin. Dalam mengumpulkan data, akan lebih
tertentu, perlu dirumuskan sebuah pertanyaan yang jelas baik jika obyeknya ditelaah in situ, yaitu di tempatnya.
dan konkret mengenai apa yang ingin kita ketahui atau
temukan. Untuk merumuskan pertanyaan yang tepat, Cobalah untuk mengumpulkan data dasar sebanyak-
ajukan pertanyaan terhadap diri sendiri mengapa Anda banyaknya. Semakin banyak data dasar yang berhasil
ingin tahu tentang hal ini. Ini akan membantu Anda. dikumpulkan, semakin baik pertanyaan penelitian yang
dibuat dan semakin tepat arah penelitian ke sumber
informasi yang spesifik. Pada saat mengumpulkan data
Menelaah obyek: Mengumpulkan ‘5 W’ dasar, kita sebenarnya mencari lima pertanyaan yang
membutuhkan jawaban: What (Apa), Where (Di mana),
Titik awal penelitian Anda adalah obyeknya itu sendiri. When (Kapan), Who (Siapa), Why (Mengapa). Semakin
Ini adalah sumber primer sebagai data dasar Anda, sedikit ‘W’ yang kita ketahui, semakin tidak spesifik
seperti; nama asli, fungsi, lokasi, tanggal, nama pertanyaan penelitian yang dibuat dan akan semakin
perancangnya, kontraktornya, dan pemiliknya atau sulit memperoleh informasi yang dicari. Demikian juga,
penggunanya. Mengumpulkan data-data ini akan jawaban-jawaban dari 5 W tersebut dapat mengantar
membantu Anda dalam merumuskan pertanyaan Anda Anda ke sumber-sumber informasi (baru).
Menggunakan 5 W
Di mana lokasi obyeknya? Apa alamat di masa lalu dan Mengetahui tanggal (tahun) akan sangat membantu. Hal
sekarang dan nomor rumah? Apa nama daerahnya? Apa ini merupakan indikasi yang membantu Anda membatasi
nama kotanya? Semakin akurat lokasi dan alamatnya periode penelitian. Apabila Anda tidak mengetahui
yang sekarang, semakin mudah untuk menemukan periode waktunya, Anda dapat memperkirakan tahun
alamatnya di masa pemerintahan kolonial Belanda. pembuatan obyek tersebut berdasarkan gaya (arsitektur)
Alamat lama pada masa pemerintahan kolonial Belanda yang akurat dalam rentang 25 tahun. Lakukan hal ini
sangat membantu penelitian Anda: wajib untuk hanya jika Anda dapat mengenali bermacam gaya
mendokumentasikan secara baik dan sangat dibutuhkan bangunan yang berbeda dan jika Anda merasa percaya
ketika memeriksa peta-peta dan arsip lama seperti diri melakukannya.
‘kadaster’ (pendaftaran tanah).
Jika Anda menemukan tulisan tahun pada fasad suatu
bangunan, tulisan ini biasanya menunjukkan tahun
selesainya pembangunan. Umumnya Anda akan
menemukan tulisan seperti ‘Anno 1908’, yang berarti
‘pada tahun 1908’. Kadang-kadang tahun ini ditulis
dalam angka Romawi: ‘Anno MDCCLXXVI’, yang berarti
‘pada tahun 1776’. Jika tidak ada tulisan tahun pada
bangunan, periksa apakah ada plakat atau batu pondasi
pada fasad atau di dalam bangunan yang menyebutkan
nama arsitek atau mengisahkan tentang konsekrasi
(untuk bangunan gereja) atau peresmian bangunan.
Lokasi obyek juga dapat memberikan petunjuk. Di area
perumahan yang dirancang tahun 1925, misalnya, rumah
yang terdapat di area tersebut tidak mungkin dibangun
sebelum 1925.
14
—
Setelah mengumpulkan data dasar, rumuskan Menulis membutuhkan akurasi. Tidak hanya
pertanyaan penelitian Anda sejelas dan sekonkret berkenaan dengan isi, tetapi juga berkenaan
mungkin. Sebuah pertanyaan yang baik mengandung dengan gaya dan, yang terakhir namun sama
lebih dari satu ‘W’, masing-masing akan memberikan penting, berkenaan dengan referensi. Di era
petunjuk terpisah untuk diikuti. Sebuah pertanyaan yang digital ini, yang disebut terakhir menjadi
buruk adalah pertanyaan yang terlalu samar yang akan semakin penting.
membuat ruang lingkup penelitian Anda terlalu lebar,
menyebabkan waktu penelitian semakin lama dan Alasannya sederhana: mencari sebuah nama
kemungkinan berhasilnya kecil. dengan ejaan yang salah tidak akan membawa
Ini adalah contoh dari pertanyaan yang buruk: “Saya Anda kemana pun – atau setidaknya tidak ke
mencari peta tua Surabaya.” Pertanyaan ini bermasalah tempat yang Anda harapkan. Oleh karena itu,
karena kata sifat ‘tua’, yang bisa merujuk pada apa pun sangat penting untuk berhati-hati ketika menulis
yang berasal dari abad ke-17 sampai dengan kemarin. dan menyalin nama-nama.
Lebih baik jika membatasi periode penelitian: “Saya
mencari peta Surabaya dari tahun 1900 sampai 1942.”
Ini adalah contoh lain dari pertanyaan yang kurang jelas:
“Kapan gereja di Bandung dibangun dan siapa
arsiteknya?”. Terlepas dari fakta bahwa pertanyaan itu
berisi dua W (Kapan/When, Siapa/Who), pertanyaannya
terlalu luas. Lagipula, sejumlah gereja kemungkinan telah
dibangun di Bandung dan pertanyaannya tidak
menyebutkan secara spesifik gereja mana yang
dimaksud.
A B C D
Temukan data yang terkait dengan Sekolah Dasar E Temukan data yang Temukan data yang
terkait Jalan F di kota G terkait arsitek H
Sumber informasi terdiri atas sumber informasi primer Secara tradisional, koleksi diusahakan oleh
dan sekunder. Cara terbaik untuk menggunakan sumber perorangan dan perusahaan. Karena itu, sifat
informasi tersebut adalah memulai dengan sumber benda dalam koleksi secara umum ditentukan
sekunder sebagai cara mendapatkan sumber informasi oleh orang atau lembaga yang mengumpulkan
primer yang relevan. Informasi yang ditemukan dalam obyek-obyek tersebut.
sumber-sumber informasi sekunder memungkinkan
Anda untuk mendapatkan sumber-sumber primer yang Koleksi perorangan dan perusahaan seringkali
relevan. Sumber primer memungkinkan Anda untuk merupakan bagian dari koleksi yang lebih besar.
menelusuri informasi tangan pertama yang relevan yang Koleksi yang lebih besar ini umumnya ditata
membantu Anda merekonstruksi urutan kejadian terkait secara tematis (arsitektur, seni, mode,
pembangunan suatu gedung. antropologi, dll) atau berdasarkan jenisnya
(barang cetakan, foto, film, peta, arsip, lukisan,
Sumber-sumber informasi, baik primer maupun cetakan, keramik, kostum, dll).
sekunder, merupakan data analog ketika informasi ditulis
dan dicetak pada bahan tradisional seperti kertas, kaca Secara umum, koleksi ini disimpan oleh dan
atau film. Bahkan ketika sumber informasi sudah dapat diakses melalui perpustakaan, arsip,
didigitalisasi atau aslinya sudah diproduksi secara digital museum. Perpustakaan, arsip dan museum ini
(born-digital), tetap dianggap sebagai sumber primer dapat bersifat nasional, provinsi atau lokal,
atau sekunder. Meskipun semakin banyak sumber swasta (perorangan, lembaga) atau umum.
informasi yang didigitalisasi dan dapat diakses secara
online, kita harus sadari bahwa tidak semua informasi Contoh koleksi bertemakan lingkungan
terdapat dalam jaringan (online). Oleh karena itu, terbangun Indonesia di Indonesia adalah:
mengunjungi langsung koleksi data seringkali masih • Arsip Nasional Republik Indonesia, Jakarta
menjadi bagian dari proses penelitian. • Perpustakaan Nasional Republik Indonesia,
Jakarta
• Perpustakaan Pusat Dokumentasi Arsitektur,
Jakarta
Setelah Anda mengumpulkan sumber-sumber informasi, Sebagai peneliti, adalah tanggung jawab Anda untuk
berarti Anda telah siap untuk mulai menggunakan mengidentifikasi, memilih, dan menafsirkan informasi
sumber-sumber tersebut. Waktunya untuk mengatur, yang dimiliki oleh sumber Anda yang terkait dengan
menganalisis, membaca, dan mencerna informasi yang pertanyaan penelitian Anda. Bagaimana caranya
terkandung dalam sumber informasi Anda. Pada proses melakukan hal tersebut tergantung pada apa yang Anda
ini, apakah sumber Anda analog atau digital tidak terlalu cari, pada sumber yang Anda temukan dan pada
diperhatikan. Yang relevan adalah membedakan antara informasi yang terkandung di dalamnya. Namun secara
sumber-sumber primer dan sekunder. Kedua sumber keseluruhan, keempat skenario berikut ini
informasi memiliki kelemahan dan kekuatannya masing- memungkinkan:
masing.
1. Apabila informasi yang terkandung dalam sumber
Secara definisi, sumber sekunder adalah penafsiran Anda benar-benar berhubungan dengan dan
seseorang mengenai (pilihan) sumber-sumber informasi menjawab pertanyaan penelitian Anda, situasinya
asli. Untuk memahami proses berpikir penulis dan untuk secara relatif mudah. Misalnya: Jika Anda mencari
memverifikasi klaim penulis, penting untuk dapat nama perancang dari rencana bangunan atau tata
memeriksa (dan bahwa Anda telah memeriksa) referensi ruang wilayah kota dan Anda menemukan sebuah
yang dibuat penulis mengenai sumber. Jika tidak ada gambar dengan nama desainer di atasnya, Anda
referensi yang diberikan, Anda harus ekstra kritis tentang telah menemukan jawabannya. Dalam hal ini, yang
isi sumber tersebut. Tidak semua dokumen teks harus Anda lakukan adalah menyalin informasi
menuliskan referensi dan banyak laman juga tidak dengan benar.
memberikan referensi.
2. Jika informasi yang telah ditemukan sebagian
Ini tidak berarti bahwa Anda tidak dapat menggunakan berkaitan dengan penelitian Anda, Anda berada di
informasi dari sumber-sumber sekunder ini, tetapi jika jalur yang benar. Tetap terserah Anda untuk
Anda menggunakannya, penting untuk sesekali memutuskan bagaimana informasi ini membantu
memeriksa fakta-fakta yang disajikan didalamnya. Jika Anda menjawab pertanyaan penelitian Anda.
tidak dilakukan, Anda berisiko membangun penelitian
Anda pada narasi yang landasannya tidak dapat 3. Jika sumber Anda tidak mengandung informasi yang
diverifikasi. Dan jika Anda tidak dapat memverifikasi berguna tetapi memberikan petunjuk ke sumber lain
narasi Anda, hasil pekerjaan Anda bisa berakhir dengan yang berguna, Anda perlu berkonsultasi pada
mengandung kesalahan (yang jelas). sumber-sumber lainnya. Jika gambar pada contoh di
atas tidak menyebutkan nama perancangnya tapi
Sumber primer, termasuk obyek penelitian, berbeda terdapat cap dengan nama sebuah perusahaan
sifatnya. Tidak seperti sumber sekunder, sumber-sumber arsitektur, atau nama atau tanda tangan dari pejabat
primer tidak langsung terlihat relevansinya. Sumber yang menandatangani gambar tersebut, maka
primer, terutama arsip, biasanya disimpan dalam sistem informasi ini bisa menjadi petunjuk berguna ke
dan tatanan yang diciptakan oleh organisasi/orang yang sumber informasi lain yang akan mendekatkan Anda
pertama menggunakan dan menciptakan sumber. dengan jawaban pertanyaan Anda.
Akibatnya, informasi yang Anda cari ada dalam urutan
tertentu. Urutan ini mungkin berbeda dengan apa yang 4. Jika sumber informasi tidak berhubungan dengan
Anda anggap jelas atau logis. Selain itu, informasi yang pertanyaan penelitian Anda sama sekali, sumber
berasal dari satu sumber hampir tidak pernah tersebut tidak ada gunanya bagi Anda. Jangan buang
menceritakan cerita secara keseluruhan: seringkali pula, waktu: abaikan sumber ini dan mulai mencari yang
sumber hanya berisi penggalan informasi yang lain yang lebih berguna.
kemungkinan besar juga tersebar di dalam sumber
tersebut. Meskipun keempat skenario tersebut terjadi, nomor dua,
tiga dan empat adalah yang paling umum.
Langkah 5: 23
—
Menafsirkan sumber informasi
Setelah Anda menelusuri dan mengumpulkan sumber kita. Hanya ketika Anda mempelajari berbagai sumber
informasi, pertanyaan terakhir adalah bagaimana informasi Anda akan dapat menemukan berbagai
menafsirkannya. Narasi apa yang dapat disaring dari kemungkinan jawaban yang ada.
sumber Anda?
Berupaya menjaga obyektivitas juga menyiratkan bahwa
Interpretasi Anda sebagian besar akan mencerminkan Anda menjaga teks kita bebas kata sifat positif atau
pilihan dan penataan sumber informasi Anda. Terutama negatif yang menghakimi dan juga dari tanda seru. Jika
jika Anda adalah seorang pakar, keputusan Anda tentang Anda tetap menjaga dua aturan praktis ini, Anda akan
informasi apa yang harus dimasukkan dan informasi apa dapat menulis sebuah interpretasi yang obyektif. Penting
yang disingkirkan perlu dipertimbangkan secara matang. untuk mengingat hal ini saat menuliskan penelitian Anda,
Untuk memastikan penafsiran Anda seobyektif mungkin, yaitu dalam membuat narasi.
Anda juga perlu memilih sumber informasi seobyektif
mungkin. Karena itu, bagaimana dan mengapa Anda Penulisan adalah fase yang paling menantang dari
memilih sumber informasi yang Anda gunakan menjadi penelitian. Ini akan memperlihatkan apakah penelitian
sangat penting. Anda kuat, apakah sumber Anda berguna, dan apakah
Anda memiliki apa yang diperlukan untuk menjadi
Untuk mencapai obyektivitas, ada dua hal yang perlu seorang peneliti. Ini adalah fase yang membutuhkan
diingat. Yang pertama adalah bahwa Anda harus kreativitas, rasionalitas, pengetahuan, disiplin dan
mengumpulkan dan memilih informasi yang berkaitan stamina. Karena meskipun Anda mungkin telah
dengan lebih dari satu aspek dari pertanyaan penelitian menentukan apa yang Anda cari dengan sangat baik dan
24
—
telah menelusuri dan memilih sumber yang relevan Anda. Keterbatasan ketiga adalah bahwa variasi mungkin
untuk menjawab pertanyaan penelitian, informasi Anda terjadi antara interpretasi Anda dan interpretasi peneliti
hampir selalu tidak lengkap, dan menafsirkan sumber lain, bahkan ketika Anda menggunakan sumber
informasi yang Anda dapatkan tidak akan selalu mudah. informasi dan data yang sama. Semua ini tidak menjadi
masalah, selama Anda menyadari dan mengetahui hal
Saat menulis, Anda perlu terus-menerus menimbang dan ini. Fakta bahwa temuan penelitian sejarah hampir tidak
memikirkan informasi apa yang dikandung oleh sumber pernah mutlak adalah bagian dari penelitian humaniora,
informasi Anda sehubungan dengan pertanyaan penelitian dan dengan demikian bagian dari penelitian sejarah
Anda. Akibatnya, Anda akan berulang kali memeriksa arsitektur.
pertanyaan penelitian, sumber dan interpretasi Anda.
Pekerjaan ini melelahkan dan memakan waktu. Namun, Menuliskan referensi ke sumber informasi untuk
perlu dilakukan, untuk memastikan bahwa interpretasi pembaca Anda adalah penting agar pembaca Anda dan
Anda mencerminkan pertanyaan penelitian dan isi dari peneliti lain dapat menelusuri langkah-langkah yang
sumber informasi Anda. Anda ambil dalam penelitian dan alur berpikir Anda, dan
melakukan penelitian lebih lanjut. Referensi dapat
Ketika obyek penelitian Anda adalah obyek fisik yang disajikan sebagai catatan (catatan kaki atau catatan
berada di sekitar Anda, Anda harus pastikan untuk akhir) atau sebagai daftar pustaka dan ikhtisar lainnya
menyertakan pengamatan Anda sendiri dan analisis dari (arsip, wawancara, ilustrasi, dll). Langkah 6 menjelaskan
obyek tersebut dalam penafsiran Anda. Membandingkan cara menyimpan dan membuat referensi data dan
data historis dengan kondisi obyek saat ini juga akan sumber informasi Anda, dan informasi apa yang
memberikan Anda informasi yang berguna mengenai terkandung didalamnya.
obyek penelitian.
Penjelasan
Nama Keluarga Penulis, Koma, Nama/Inisial dan Nama
Depan Penulis Pertama, Koma, ‘Judul Artikel’ (dalam
Tanda Kutip), Koma, Judul Jurnal (dalam Huruf Miring),
Tanpa Koma, Volume Jurnal, Tanpa Koma, (Edisi Jurnal)
(dalam Tanda Kurung), tanpa Koma, Tahun Terbit (dalam
Tanda Kurung), Koma, Halaman Artikel, Titik.
Contoh 5
Referensi untuk dokumen arsip (teks, surat, peta,
gambar, foto dll)
Het Nieuwe Instituut, Rotterdam, Archief Lüning, Inv. No.
LUNI Bijlage III-7: Brief dd. 8-3-1949 van M. Soesilo aan
V.R. van Romondt, p.4.
Penjelasan
Sumbernya adalah sebuah surat dari M. Soesilo kepada
V.R. van Romondt. Surat itu tertanggal 8 Maret 1949.
Bagian sebagaimana dimaksud dalam teks dapat
ditemukan pada halaman 4 dari surat ini. Surat itu
disimpan di arsip (Hans) Lüning. Nomor inventarisasinya
merujuk pada file di mana surat tersebut disimpan.
Dalam hal ini, nomor inventarisasinya terdiri atas empat
huruf pertama dari nama orang yang terkait arsip
tersebut: LUNI. Kode ini diikuti oleh referensi ke file
dalam arsip: Bijlage III-7. Koleksi Lüning disimpan oleh
Het Nieuwe Instituut. Het Nieuwe Instituut berada di
Rotterdam.
Sumber referensi
Studi kasus
Ketiga studi kasus ini mendemonstrasikan
bagaimana cara melakukan penelitian sejarah
arsitektur. Semuanya menjelaskan jenis
pertanyaan yang dapat ditanyakan dan bagaimana
Anda dapat menemukan jawaban untuk
pertanyaan yang telah dibuat. Ketiga studi kasus
ini juga menunjukkan bahwa, tergantung pada
data dan sumber informasi yang tersedia dan
dapat diakses, pendekatan dan temuan dari
penelitian dapat bervariasi.
30 Studi kasus 1:
—
Gedung Cagar Budaya Kementerian
Keuangan di Jakarta
What Nama sekarang (saat itu) dari bangunan Terkait dengan Daendels
Apa tersebut adalah Gedung Cagar Budaya
Kementerian Keuangan. Peran dan keterlibatan
Karier
Where Bangunan ini berlokasi di Jalan Lapangan Data pribadi
Di mana Banteng Timur No. 2-4, Lapangan Banteng,
Jakarta.
Nama lama dari Lapangan Banteng adalah Jika kita dapat melacak data ini, data tersebut akan
Waterlooplein.
Nama lama dari kawasan tersebut adalah memungkinkan kita untuk menjawab pertanyaan
Weltevreden. penelitian berikut:
Sumber sekunder
Langkah 3: Menentukan kumpulan data dan sumber informasi yang akan digunakan dan alasannya
Arsip Nasional Republik 1. Manuskrip kartografi (abad ke-17 1. Koleksi De Haan (KG.1) dinamakan
Indonesia, Jakarta hingga abad ke-19): Koleksi De De Haan, seorang arsiparis di Hindia
Haan (KG.1) Belanda pada awal abad ke-20. Ia
2. KIT Batavia (F.13) membuat pemisahan antara dokumen
3. VOC Hoge Regering 1612-1811 arsip tertulis dengan gambar.
(K.66a) 2. KIT Wilayah Batavia (F.13). Koleksi foto
4. Arsip Batavia 1808-1811 (K.3) mengenai Jakarta.
5. Algemene Secretarie 1816-1942 3. Arsip VOC Hoge Regering (K.66a),
(K.103) 1612-1811. Arsip Pemerintahan Tinggi
(Gubernur Jendral dan Dewan Hindia)
di Hindia Belanda.
4. Arsip Batavia (K.3), 1808-1811. Arsip ini
mengandung dokumen mengenai
wilayah Batavia.
5. Arsip Algemene Secretarie (K.103),
1816-1942. Arsip ini merupakan arsip
pemerintah pusat sejak tahun 1816. ‘Index
Folio’ dari arsip ini terdiri dari buku-buku
yang dilengkapi dengan daftar isi untuk
setiap tahun, berdasarkan subyek. Seperti
untuk pertengahan 1826, dalam Index folio
terdapat bab khusus mengenai “Gedung
Pemerintah di Weltevreden”.
Arsip Nasional Belanda, 7. Hollandse Divisie Parijs 7. Arsip Hollandse Divisie Parijs ([Link])
Den Haag ([Link]) merupakan arsip Kementrian Kelautan dan
8. Koleksi Peta Leupe ([Link]) Koloni di Paris pada periode 1810-1814,
sebagian terkait dengan masa
pemerintahan Daendels di Hindia Belanda.
8. Koleksi Peta Leupe ([Link]) berisi peta dan
gambar koleksi Arsip Nasional Belanda.
Perpustakaan Nasional 9. Koleksi Khusus 9. Koleksi Khusus berisi buku, surat kabar,
Republik Indonesia, majalah termasuk di dalamnya Bataviasche
Jakarta Koloniale Courant (1810-1812)
Perpustakaan Universitas 10. Koleksi Kolonial (KIT) 10. Koleksi Kolonial (KIT)
Leiden, Leiden 11. Koleksi heritage KITLV 11. Koleksi heritage KITLV berisi foto-foto
lama, terbitan lama dan surat kabar lama.
34
—
Arsip Nasional Belanda, 3. Koleksi Peta Leupe ([Link]) 3. Koleksi Peta Leupe ([Link])
Den Haag Peta wilayah Weltevreden dan peta
Batavia memperlihatkan Koningsplein
dan Paradeplaats (1823, 1826)
Close-up: Sumber yang terkait Gedung Cagar Budaya Kementerian Keuangan di Jakarta
Berlimpahnya data yang dihasilkan dari penelitian dapat Tiga arsitek terlibat dalam perancangan dan pengawasan
menjawab sebagian besar pertanyaan penelitian. pembangunannya: Letnan Kolonel J.C. Schultze dan
Singkatnya, sejarah bangunan yang kami gali dapat [Link] (1809-1811) dan J. Tromp (1826-1828).6 Untuk
dirumuskan sebagai berikut. pasokan bahan bangunan dan konstruksinya, Komisaris
dan Pengawas Belanda bekerja bersama dengan
Pada tahun 1809, Gubernur Jendral Herman Willem kontraktor, pemasok dan pekerja konstruksi Indonesia
Daendels memerintahkan pembangunan sebuah istana dan Cina. Contohnya, sumber yang kami temukan
baru di Weltevreden.1 Daendels memerintahkan menyebutkan Kio, Oey Sinkiet, Tjoa Poenlau, Tjoa
pembangunan sebuah bangunan baru sebagai bagian Engkong, Tjoa Kiemsoeij, Sam Soedin, dan Zimmer
dari rencananya untuk memindahkan kantor-kantor memasok batu bata, Liem Fatsien bekerja membuat
pemerintahan dari Batavia ke Weltevreden.2 (Ilustrasi 4) pondasi dan dinding serta Tjungse dikontrak untuk
Alasan perpindahan tersebut adalah karena kondisi pekerjaan kayu dan pemasangan batu bata.7
lingkungan di Batavia yang sudah sangat tidak sehat lagi.
Weltevreden terletak beberapa kilometer ke arah Perubahan pertama yang dilakukan pada bangunan
pedalaman yang tanahnya lebih tinggi dan lebih kering. ini adalah pembangunan jembatan kayu untuk
Daendels memutuskan Weltevreden sebagai kawasan menghubungkan bangunan utama dengan sayap Utara
yang lebih tepat untuk para pegawainya dan militer pada 1857.8 Pada tahun 1970an, sebuah jembatan
daripada Batavia. Nama untuk bangunan yang ditambahkan untuk menghubungkan bangunan utama
direncanakannya adalah Gedung Putih (Het Witte Huis), dengan sayap Selatan. Pada ruang dalam bangunan,
Gedung Besar (Het Groote Huis), dan Istana Weltevreden beberapa perubahan dilakukan antara 1973-1975.9
(Weltevreden Paleis).3 Contohnya adalah penambahan kamar kecil dan
penambahan sekat-sekat ruangan. Plafon ruangan
Pembangunannya dilaksanakan dalam dua tahap: antara diturunkan untuk mengakomodasi instalasi serta efisiensi
1809 dan 1811 serta antara 1826 dan 1828, pembangunan AC dan dinding-dinding bangunan diberi lapisan kayu.
tahap pertama terhenti pada tahun 1811 saat masa
pemerintahan Daendels di Hindia-Belanda selesai. Penampakan bangunan pada saat penelitian masih
Gubernur Jendral Léonard du Bus de Gisignies seperti gambar-gambar yang ditemukan di arsip dan
memerintahkan untuk melanjutkan kembali perpustakaan. Walaupun bangunan telah mengalami
pembangunan gedung ini pada 1826. Saat gedung ini perubahan besar – namun berkat lembaga arsip dan
selesai dibangun pada 1828, diputuskan bahwa gedung perpustakaan, sekarang kita bisa mengidentifikasi –
ini tidak akan digunakan sebagai istana, melainkan bahwa bentuk dan tata letak bangunan pada 2004-2005
sebagai kantor pemerintah.4 Sekretariat Negara ternyata masih sama dengan aslinya (pada saat selesai
(Algemene Secretarie), Direktorat Perbendaharaan dibangun).
Negara (Directie van ’s Lands Middelen en Domeinen),
Direktorat Pengelolaan Produksi dan Pergudangan
(Directie van ‘s Lands Producten en Civiele Magazijnen), Notes
1 Herman Willem Daendels (Hattem 21 Oktober 1762 – Elmina 2 Maret 1818)
Mahkamah Agung (Hooggerechtshof), Percetakan belajar Hukum di Harderwijk dan memperoleh gelar Doktornya pada 10
Negara (’s Lands Drukkerij) dan Kantor Pos adalah April 1783. Dia ditunjuk menjadi Gubernur Jendral Hindia Belanda pada 18
Januari 1807. Daendels memerintah Hindia Belanda hingga 16 Mei 1811.
sebagian yang paling awal berkantor di sini.5 Setelah Tugas utamanya adalah untuk menata kembali pertahanan di Pulau Jawa
kemerdekaan Indonesia, bangunan ini sebagian besar dan meningkatkan kondisi kesehatan di Batavia serta keberadaan budak
dan pribumi.
digunakan oleh Kementerian Keuangan, namun pernah 2 Daendels mengusulkan pembangunan gedung baru pada 26 Februari 1809.
juga digunakan sebagai gedung Dewan Perwakilan Raad van Indië (Dewan Hindia) menyetujui usulannya pada 7 Maret 1809.
ANRI, Arsip Hoge Regering 1612-1811 No. Inv. 828: Minuut Generale
Rakyat dan Balai Lelang Negara. Resolutien 7 Maret 1809.
3 Adolf Heuken S.J., Tempat-tempat bersejarah di Jakarta, Jakarta: Yayasan Cipta
Loka Caraka, 1997, 207.
Bangunan aslinya terdiri dari sebuah bangunan utama 4 ANRI, Arsip Algemene Secretarie, Res. 19 January 1827 No. Inv. 19.
yang dihubungkan dengan bangunan sayap di sisi Utara 5 ANRI, Arsip Algemene Secretarie, BT. 26 December 1827 No. Inv. 38.
6 J.C. Schultze juga merancang Klub Sosial De Harmonie (Sociëteit De Harmonie)
dan Selatan. (Ilustrasi 5) Bangunan utama direncanakan di Weltevreden. J. Jongkind mendapat jabatan Arsitek Pemerintah (Lands
sebagai kediaman resmi Gubernur Jendral. Kedua Architect) dan Pengawas bangunan-bangunan pemerintah (’s Lands en Stads
Civiele Gebouwen). Tidak ada informasi yang ditemukan mengenai J. Tromp.
bangunan sayap untuk menampung kantor-kantor 7 ANRI, Arsip KIT Batavia No. Inv. 209a ‘Conditie en voorwaarden 1808-1809’;
pemerintah dan untuk menerima tamu-tamu No. Inv. 209b ‘Verzameling van stukken betreffende de aanbieding,
aanbouw van woningen, enz., 1809’.
pemerintah. Bangunan utama dan kedua bangunan 8 ANRI, Arsip Algemene Secretarie, BT. 5 June 1857 No. Inv. 50.
sayap merupakan bangunan 3 lantai, 2 lantai atas 9 Wawancara dengan pegawai Kementerian Keuangan saat penelitian
berlangsung.
38
—
39
—
Ilustrasi 4: Gambar asli denah lantai dasar bangunan utama dan dua
bangunan sayap dari Gedung Cagar Budaya Kementerian Keuangan
di Weltevreden.
Sumber: ANRI, Koleksi De Haan, No. Inv. K2 1826.
Ilustrasi 5: Gambar asli Gedung Cagar Budaya
Kementerian Keuangan di Weltevreden: sebagian
40 tampak muka (atas), potongan melintang
— (bawah).
Sumber: ANRI, Koleksi De Haan, No. Inv. K21
(atas); Arsip Nasional Belanda,[Link] Koleksi
Peta Leupe, No. Inv. 455 (bawah).
41
—
Ilustrasi 6: Foto-foto dari akhir abad ke-19 memperlihatkan tampak muka Gedung Cagar Budaya Kementerian Keuangan
di Weltevreden, Batavia (sekarang Jakarta).
Sumber: ANRI, Koleksi KIT Batavia, No. Inv. 81/23 (atas); Perpustakaan Universitas Leiden, Koleksi heritage KITLV,
Koleksi P.J. Veth, No. Inv. 87486 (bawah).
42 Studi kasus 2:
—
Museum Pegadaian di Sukabumi
Penelitian ini adalah bagian dari proyek Dokumentasi Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kami
Museum Pegadaian di Sukabumi, meliputi kegiatan memfokuskan penggalian data terhadap tiga aspek
pengukuran dan penggambaran kembali serta penelitian bangunan: bangunan itu sendiri, pemberi perintah
arsitektur dan sejarah bangunan yang terdiri dari pembangunan, dan lokasi bangunan.
penelitian kepustakaan, arsip, wawancara, dan survei
lokasi. Seluruh pekerjaan ini dilaksanakan oleh Pusat
Dokumentasi Arsitektur berdasarkan penugasan dari PT.
Pegadaian.
Data
Pertanyaan-pertanyaan penelitian
Sumber-sumber sekunder
Sumber informasi dan data yang terkait dengan bangunan, perancang, pemberi tugas dan lokasi
Arsip Nasional Republik 1. Arsip Preanger 1, 2 & 3. Arsip Preanger, Arsip Jawa Barat &
Indonesia, Jakarta 2. Arsip Jawa Barat KITJawa Barat
3. KIT Jawa Barat Beberapa informasi mengenai Sukabumi dan
4. KIT Batavia foto-foto kota Sukabumi pada masa itu
4. KIT Batavia
Informasi mengenai pendirian Dinas Pegadaian
di Hindia Belanda dan perusahaan Pegadaian
sampai Kemerdekaan Indonesia.
Sayang sekali kumpulan data dan sumber informasi yang Sebagai dampak dari sumber informasi yang terbatas
ditelaah tidak dapat memberikan informasi detil dan pada saat penelitian, kami hanya mengetahui bahwa
relevan tentang bangunan dan perancangnya. Meskipun bangunan yang saat ini digunakan sebagai Museum
kami tahu bahwa bangunan ini terletak di sudut Jalan Pegadaian awalnya adalah rumah dinas Kepala
Pelabuhan dan Jalan Semaji serta dibangun atas perintah Pegadaian di Sukabumi.1 Rumah dinas ini terhubung
Departement van Burgerlijke Openbare Werken dengan Kantor Pegadaian dan gudang-gudangnya pada
(Departemen Pekerjaan Umum), sumber-sumber yang bagian belakang. Bagian depan kompleks Pegadaian ini
kami telusuri hanya sedikit memberikan informasi sejak dulu hingga sekarang menghadap ke salah satu
mengenai pendirian kantor Pegadaian di Sukabumi. Yang jalan utama di Sukabumi: Jalan Pelabuhan, sementara
banyak ditemukan adalah informasi mengenai Dinas gudang-gudangnya terletak di sepanjang Jalan Semiaji.
Pegadaian (Pandhuisdienst) di Sukabumi. (Ilustrasi 8-9)
Digitalisasi arsip yang dilakukan belakangan ini membuat Pada tahun 2016, dapat ditelusuri melalui Delpher,
semakin banyak data tersedia secara online dan dapat sebuah artikel singkat dalam versi online dari Bataviaasch
diakses dengan cepat, sehingga kami akan dapat Nieuwsblad yang memberikan informasi tambahan dan
menemukan lebih banyak informasi mengenai Gedung menarik. (Ilustrasi 10) Artikel itu tidak hanya menegaskan
Museum Pegadaian ini pada tahun 2016 dibandingkan bahwa kantor Pegadaian yang baru dan rumah dinas
saat kami melakukan penelitan beberapa tahun Kepala Pegadaian terletak di Palaboeanweg – sekarang
sebelumnya. Sebagai contoh, arsip Departement van Jalan Pelabuhan – dekat rel kereta api, tetapi juga
Burgerlijke Openbare Werken sekarang ini sudah dapat menjelaskan bahwa bangunan baru tersebut dibangun
ditelusuri di Arsip Nasional Republik Indonesia di Jakarta karena Dinas Pegadaian di Sukabumi berjalan dengan
dan suratkabar yang terbit di Hindia Belanda bisa sukses dan oleh sebab itu membutuhkan bangunan yang
ditelusuri melalui Delpher. Kedua sumber informasi ini lebih besar.2 Artikel pada Bataviaasch Nieuwsblad tersebut
belum tersedia pada saat penelitian ini dilakukan juga menjelaskan bahwa rumah dinas Pegadaian di
beberapa tahun yang lalu, inilah yang menyebabkan hasil Sukabumi yang dibangun tahun 1890-an itu akan sulit
penelitian kami amat terbatas. disewakan begitu dikosongkan, karena lokasinya yang
terletak di jalan utama. Untuk alasan ini, penulis dari
artikel tersebut menganggap Pemerintah Pusat akan
menjual bangunan ini ketika waktunya tiba. Akhirnya,
Bataviaasch Nieuwsblad memberikan informasi yang
menarik: bangunan rumah Pegadaian di Sukabumi
adalah bangunan rumah Pegadaian pertama di Hindia-
Belanda yang dibangun “pada masa rezim baru”.3
Notes
1
Verslag van den Gouvernements-pandhuisdienst over het dienstjaar 1912,
Batavia: G. Kolff & Co., 1913.
2 Bataviaasch Nieuwsblad, 7 Agustus 1915.
3 Bataviaasch Nieuwsblad, 7 Agustus 1915.
Ilustrasi 10: Google Maps menunjukkan lokasi Museum Pegadaian saat ini
dan bangunan-bangunan yang berdempetan di Jalan Pelabuhan dan Jalan
Semiaji di Sukabumi.
48 Studi kasus 3:
—
Toko Serba Ada Medan di Medan
Ilustrasi 11: Plakat pada bangunan Toko Serba Ada Medan di Medan.
Foto: Huib Akihary, Rotterdam.
Ilustrasi 12: Toko Serba Ada Medan di Medan tahun 2014.
Foto: Huib Akihary, Rotterdam.
49
—
Who Arsitek gedung tersebut adalah G. Bos. • Apa nama asli bangunan ini?
Siapa Walikota Medan pada masa pembangunan • Apa fungsi asli bangunan ini?
gedung tersebut adalah Daniël baron Mackay. • Seperti apa rancangan asli bangunan ini?
• Mengapa bangunan ini didirikan?
Delpher ternyata sangat membantu. Setelah Pada awal penelitian, bangunan Toko Serba Ada Medan
memasukkan nama arsitek, Walikota, dan tahun 1920, yang masih ada sampai sekarang berfungsi sebagai
saya dengan cepat menemukan banyak artikel mengenai sumber informasi primer yang penting dan bernilai,
bangunan tersebut di De Sumatra Post, suratkabar lokal di terutama dengan adanya dua plakat pada fasad
Medan. Artikel yang diterbitkan dalam periode yang bangunan. Kedua plakat tersebut memberikan informasi
cukup lama, mengungkapkan informasi menarik nama arsitek dan nama orang yang meletakkan batu
mengenai bangunan, arsitek, dan pemberi perintah pertama pada saat pembangunannya, dan konstruksi
pembangunannya: pembangunan serta tanggal peresmian bangunan. Data
ini secara harafiah dapat dianggap “tercetak pada batu”
1. ‘Monumentaal winkelgebouw’, De Sumatra Post, dan oleh sebab itu sangat dapat diandalkan.
5 Oktober 1917.
2. ‘Nieuwe bouwwerken’, De Sumatra Post, 6 Juli 1918. Dengan menggunakan data yang tertera pada bangunan
3. ‘Medan's Warenhuis’, De Sumatra Post, 26 Juli 1918. sebagai pijakan awal, saya melanjutkan penelitian di
4. ‘Nieuwe verbindingsweg’, De Sumatra Post, Delpher. Melalui Delpher, saya dapat menelusuri
24 Agustus 1918. informasi yang relevan mengenai arsiteknya dan
5. ‘Aanbesteding Medan's Warenhuis’, De Sumatra Post, perkembangan dari Toko Serba Ada Medan. Yang paling
27 Agustus 1918. menarik pada informasi yang bersumber pada suratkabar
6. ‘Medans Warenhuis’, De Sumatra Post, 17 Februari adalah datanya yang tidak selalu terkait: bahkan kadang-
1919. kadang bertentangan. Maka, meskipun saya menemukan
7. ‘Van bouwen’, De Sumatra Post, 29 Januari 1920. banyak informasi namun saya dulu (dan sampai
8. ‘Medan's Warenhuis’, De Sumatra Post, 1 Juni 1920. sekarang) masih tidak yakin dengan semua data yang
9. ‘Een nieuw architecten-bureau’, De Sumatra Post, saya temukan tentang Toko Serba Ada Medan.
16 Juni 1920.
10. ‘Medans Warenhuis’, De Sumatra Post, Meski terdapat kelemahan ini, data yang ditemukan
12 November 1920. melalui Delpher memungkinkan saya dapat
11. ‘Het Warenhuis’, De Sumatra Post, 16 November 1920. merekonstruksikan masa-masa awal dari Toko Serba Ada
Medan. Untuk menetapkan relevansi dan kehandalan
Pencarian secara online yang lebih luas menuntun saya data tersebut – dan akibatnya menguatkan atau menolak
kepada publikasi digital lain yang berguna mengenai penafsiran saya saat ini terhadap data-data tersebut –
kota Medan: ‘A Plantation City on the East Coast of Sumatra dibutuhkan penelitian tambahan yang lebih dalam. Data
1870-1942’, Yogyakarta: ArchaeologyWorld, 2009. yang ditemukan sejauh ini menjadi awal yang baik untuk
([Link] langkah selanjutnya.
[Link])
53
—
Bibliografi di bawah ini adalah pilihan dari kebanyakan Bruijn, H. de, Bijdragen tot de kennis der Bouwkunde in
kepustakaan sekunder dan beberapa kepustakaan primer Nederlandsch-Indië, Batavia: Van Haren Noman, 1851.
untuk membantu Anda memulai penelitian mengenai
arsitektur Belanda dari 1620 hingga 1950 – lingkup waktu Budihardjo, Eko, (ed.), Menuju Arsitektur Indonesia,
panduan ini. Bibliografi ini bertujuan untuk Bandung: Alumni, 1983.
memperkenalkan Anda pada kepustakaan yang dapat
membimbing Anda ke sumber relevan lainnya. Oleh Budihardjo, Eko, Arsitektur dan kota di Indonesia, Bandung:
karena itu, bibliografi ini bukan merupakan daftar yang Alumni, 1983.
komprehensif dari semua kepustakaan relevan (yang
berpotensi) untuk penelitian Anda. Cobban, James L, The City on Java: An Essay in Historical
Geography, Berkeley: University of California, 1970 / Ann
Akihary, Huib, Architectuur en stedebouw in Indonesië 1870- Arbor: Xerox University Films, 1970.
1970, Zutphen: De Walburg Pers, 1990.
Cobban, James L., ‘Public Housing in Kolonial Indonesia
Akihary, Huib, Ir. F.J.L. Ghijsels. Architect in Indonesia (1910- 1900-1940’, Modern Asian Studies, 27 (4) (1993), 871-896.
1929), Utrecht: Seram Press, 1996.
Colombijn, Freek, Joost Coté, (eds.), Cars, Conduits, and
Anrooij, Francien van, De koloniale staat (Negara kolonial) Kampongs: The Modernization of the Indonesian City, 1920-
1854-1942: Panduan Archief van het Ministerie van Koloniën 1960, Leiden: Brill Publishers, 2014.
(Arsip Kementerian Urusan Tanah Jajahan), Kepulauan
Nusantara, Leiden: s.n., 2014. Colombijn, Freek, Martine Barwegen, (eds.), Kota lama,
kota baru. Sejarah kota-kota di Indonesia sebelum dan setelah
Ballegoijen de Jong, Michiel van, Spoorwegstations op Java, kemerdekaan, Yogyakarta: Ombak, 2005.
Amsterdam: De Bataafsche Leeuw, 1993.
Colombijn, Freek, Patches of Padang: The History of an
Ballegoijen de Jong, Michiel van, Stations en spoorbruggen Indonesian Town in the Twentieth Century and the Use of Urban
op Sumatra 1876-1941, Amsterdam: De Bataafsche Leeuw, Space, Leiden: Research School CNWS, 1994.
2001.
Colombijn, Freek, Under Construction: The Politics of Urban
Bastin, J., B. Brommer, Nineteenth Century Prints and Space and Housing During the Decolonization of Indonesia,
Illustrated Books of Indonesia, Utrecht / Antwerp: Spectrum, 1930-1960, Leiden: KITLV Press, 2010.
1979.
Coté, Joost, Hugh O'Neill, (eds.), The Life and Work of
Batavia als handels-, industrie- en woonstad. Batavia as a Thomas Karsten, Amsterdam: Architectura & Natura
Commercial, Industrial and Residential Center, Batavia: G. Publishers, 2017.
Kolff & Co., 1937.
Damais, Soedarmadji JH, Nadia Purwestri, Febriyanti
Bergeijk, Herman van, Berlage en Nederlands-Indië. Een Suryaningsih, Gedung Balai Kota Jakarta. Jalan Merdeka
innerlijke drang naar het schoone land, Rotterdam: Uitgeverij Selatan No. 8, Jakarta: Pemerintah Daerah Khusus Ibukota
010, 2011. Jakarta, 1996.
Breuning, H.A., Het voormalige Batavia. Een Hollandse Diessen, J.R. van, Robert P.G.A. Voskuil, Boven Indië.
stedestichting in de tropen, anno 1619, Amsterdam: Nederlands-Indië en Nieuw-Guinea in luchtfoto’s, 1921-1963,
Heemschut, 1954. Purmerend: Asia Maior, 1993.
Broeshart, A.C., (dkk.), Soerabaja. Beeld van een stad, Diessen, J.R. van, (dkk.), Grote atlas van Nederlands Oost-
Purmerend: Asia Maior, 1994. Indië / Comprehensive Atlas of the Dutch United East India
Company, 2nd Edition, Zierikzee: Asia Maior, 2004.
Brommer, B., (dkk.), Semarang. Beeld van een stad,
Purmerend: Asia Maior, 1995. Diessen, J.R. van, (dkk.), Grote Atlas van de Verenigde Oost-
Indische Compagnie / Comprehensive Atlas of the Dutch United
Bruijn, C.J. de, Indische Bouwhygiëne, Weltevreden: East India Company. Parts I-VII, Voorburg: Asia Maior, 2006-
Landsdrukkerij, 1927. 2010.
55
—
Dikken, Judy den, Liem Bwan Tjie (1891-1966). Westerse Hardjatno, N. Jenny M.T., Febi Harta, (eds.), Sejarah
vernieuwing en oosterse traditie, Rotterdam: Stichting Penataan Ruang Indonesia 1948-2000: Beberapa Ungkapan,
Bonas, 2002. Jakarta: Departemen Permukiman dan Prasarana
Wilayah, 2004.
Dullemen, C.J. van, Tropical Modernity: Life and Work of C.P.
Wolff Schoemaker, Amsterdam: SUN, 2010. Heuken, Adolf, Grace Pamungkas, Menteng. Kota Taman
Pertama di Indonesia, Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka,
Eryudhawan, Bambang, (dkk.) 100 Tahun Kebangkitan 2001.
Nasional,Jejak Boedi Oetomo. Peristiwa, Tokoh, dan Tempat,
Jakarta: Badan Pelestarian Pusaka Indonesia, 2008. Heuken, Adolf, Medan Merdeka - Jantung Ibukota RI.
Buffelsveld, Champ de Mars, Koningsplein, Lapangan Gambir,
Faber, G.H. von, Nieuw Soerabaia. De geschiedenis van Indië’s Lapangan Monumen Nasional, Jakarta: Yayasan Cipta Loka
voornaamste koopstad in de eerste kwart eeuw sedert hare Caraka, 2008.
instelling, Soerabaia: N.V. Boekhandel en Drukkerij v/h H.
van Ingen, 1934. Jacquet, F.G.P., Sources of the History of Asia and Oceania in
the Netherlands. Part II: Sources 1796-1949, Munich: K.G.
Faber, G.H. von, Oud Soerabaia. De geschiedenis van Indië’s Sauer, 1983.
eerste koopstad van de oudste tijden tot de instelling van den
Gemeenteraad (1906), Soerabaia: Gemeente Soerabaia, Jessup, Helen, Netherlands Architecture in Indonesia 1900-
1931. 1942, London: Courtauld Institute, University of London,
1988.
Faber, G.H., von, Er werd een stad geboren. De
wordingsgeschiedenis van het oudste Soerabaja, Soerabaja: Karsten, Thomas, ‘Indiese stedebouw’, Locale Belangen 7
Kolff & Co., 1953. (19/20) (1920), 145-250.
Flieringa, G., De zorg voor de volkshuisvesting in de Katam, Sudarsono, Gedung Sate Bandung, Bandung: Kiblat
stadsgemeenten in Nederlands Oost-Indië in het bijzonder Buku Utama, 2009.
Semarang, ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1930.
Keiser, J.W., (dkk.), Bijdragen Wederopbouw Java 1946-1950,
Gill, Ronald G., De Indische stad op Java en Madura. Een Hengelo: Uitgeverij Smit van 1876, 1994.
morfologische studie van haar ontwikkeling, Delft: Technische
Universiteit, 1994. Kementerian Pekerdjaan Umum dan Tenaga,
Pembangunan kota baru Kebajoran, Djakarta: Kementerian
Haan, F. de, Oud Batavia, Batavia: G. Kolff, 1922. Pekerdjaan Umum dan Tenaga, 1953.
Hadinoto, K., Kebajoran: A New Town Under Construction, Kerchman, F.W.M., 25 Jaren decentralisatie in Nederlandsch-
Djakarta: Kementerian Pekerdjaan Umum dan Tenaga, Indië 1905-1930, Semarang: Vereeniging voor Locale
1952. Belangen, 1930.
Handinoto, Paulus H. Soehargo. Perkembangan Kota dan Kleian’s adresboek van geheel Nederlandsch-Indië,
Arsitektur Kolonial Belanda di Malang, Surabaya: Lembaga Weltevreden: A. Emmink, 1926-1942.
Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat,
Universitas Kristen, 1996. Kloes, J.A. van der, J.N. van Ruijven, Het bouwen in
overzeesche gewesten, Leiden: E.J. Brill, 1906.
Handinoto, Arsitektur dan Kota-kota di Jawa pada Masa
Kolonial, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012. Koning, J., ‘Moderne bouwwerken in Indië’, Nederlandsch-
Indië oud & nieuw 7 (5) (1922-1923), 135-154.
Handinoto, Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial
Belanda di Surabaya 1870-1940, Surabaya: LPPM, Kunto, Haryoto, Wajah Bandoeng tempo doeloe, Bandung:
Universitas Kristen Petra Surabaya dan Penerbit Andi, Granesia, 1984.
1996.
56
—
Kusno, Abidin, Behind the Postkolonial: Architecture, Urban Nix, Thomas, Bijdrage tot de vormleer van de stedebouw in het
Space and Political Cultures in Indonesia, London / New York: bijzonder voor Indonesië, Heemstede: De Toorts, 1949.
Routledge, 2000.
Njoto, Hélène, Innovations architecturales à Java du XVIe
Lakerveld, A. van, W.L. Brocx, Handleiding voor siècle au début du XIXe siècle, Paris: Ecole des Hautes Etudes
bouwkundigen en industriëlen in Nederlandsch Oost-Indië, en Sciences Sociales, 2014.
‘s-Gravenhage: Van Cleef, 1863-1866.
Odang, Sri Astuti S.A., (dkk.), Arsitek dan karyanya. F.
Leerdam, Ben F. van, Architect Henri Maclaine Pont. Een Silaban dalam konsep dan karya, Bandung: Nova, 1992.
speurtocht naar het wezenlijke van de Javaanse architectuur,
Den Haag: tanpa nama penerbit, 1995. Passchier, Cor, Building in Indonesia (1600-1960), Utrecht:
LM Publishers, 2016.
Leushuis, Emile, Panduan Jelajah Kota-Kota Pusaka di
Indonesia, Jogjakarta: Ombak, 2014. Purwestri, Nadia, (dkk.), Gedung Bank Indonesia. Jejak
arsitektur dalam menggapai kemakmuran negeri, Jakarta:
Loderichs, Mark, (dkk.), Medan. Beeld van een stad, Bank Indonesia, 2012.
Purmerend: Asia Maior, 1997.
Pusat Dokumentasi Arsitektur, Tegang Bentang. Seratus
Merrillees, Scott, Batavia in Nineteenth Century Photographs, Tahun Perspektif Arsitektural di Indonesia, Jakarta: Gramedia
Singapore: Archipelago Press, 2000/2006. Pustaka Utama, 2012.
Merrillees, Scott, Greetings from Jakarta: Postcards of a Pusat Dokumentasi Arsitektur, The White House of
Capital 1900-1950, Jakarta/Kuala Lumpur: Equinox Weltevreden. Ministry of Finance Building, Jakarta: Pusat
Publishing, 2012. Dokumentasi Arsitektur, 2005.
Merrillees, Scott, Jakarta: Portraits of a Capital 1950-1980, Pusat Dokumentasi Arsitektur, Ministry of Education and
Jakarta: Equinox Publishing, 2015. Culture, Forts in Indonesia, Jakarta: Ministry of Education
and Culture, Republic of Indonesia, 2012.
Modern Asian Architecture Network Indonesia,
Tarumanagara University, School of Architecture, Rumah Ravesteijn, Wim, Jan Kop, (eds.), For Profit and Prosperity:
Silaban Silaban’s House, Bogor: MAAN Indonesia The Contribution Made by Dutch Engineers to Public Works in
Publishing, 2008. Indonesia 1800-2000, Zaltbommel / Leiden: Aprilis / KITLV
Press, 2008.
Nas, Peter J.M., (ed.), The Indonesian City: Studies in Urban
Development and Planning, Dordrecht / Cinnaminson: Foris Regeerings Almanak voor Nederlandsch-Indië, Weltevreden:
Publications, 1986. Landsdrukkerij, 1817-1942.
Nas, Peter J.M., (ed.), Masa lalu dalam masa kini. Arsitektur Roosmalen, Pauline K.M. van, ‘The Dutch East Indies: An
di Indonesia, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2009. Ineffective Shot Across The Bows’ in: Es, Evelien van,
Gregor Harbusch, Bruno Maurer, Muriel Perez, Kees
Nas, Peter J.M., (ed.), The Indonesian Town Revisited, Somer, Daniel Weiss, (eds.), Atlas of the Functional City:
Munster: LIT Verlag, 2002. CIAM 4 and Comparative Urban Analysis, Bussum / Zürich:
Uitgeverij Thoth / GTA Verlag, 2014, 134-148.
Nas, Peter J.M., (ed.), The Past in the Present: Architecture in
Indonesia, Rotterdam: NAi Publishers, 2006. Roosmalen, Pauline K.M. van, Ontwerpen aan de stad.
Stedenbouw in Nederlands-Indië en Indonesië (1905-1950),
Niessen, Nicole, Municipal Government in Indonesia: Policy, Delft: Technische Universiteit, 2008.
Law, and Practice of Decentralization and Urban Spatial
Planning, Leiden: Research School CNWS School of Asian, Ross, Robert J., Gerard J. Telkamp, (eds.), Kolonial Cities:
African, and Amerindian Studies, 1999. Essays on Urbanism in a Kolonial Context, Leiden: Martinus
Nijhoff, 1985.
Nieuw adresboek van geheel Nederlandsch-Indië, Batavia:
Landsdrukkerij, 1901-1925.
57
—
Schaik, A. van, Malang. Beeld van een stad, Purmerend: Asia Wall, V.I. van de, Indische landhuizen en hun geschiedenis,
Maior, 1996. Batavia: G. Kolff & Co., 1932.
Segaar-Höweler, Dorothee C., J.M. Groenewegen 1888- Wertheim, W.F., (ed.), The Indonesian Town, The Hague/
1980. Een Hagenaar als Indonesisch architect, Rotterdam: Bandung: W. van Hoeve Ltd., 1958.
Stichting Bonas, 1998.
Widodo, Dukut Imam, Malang tempo doeloe, Malang:
Segaar-Höweler, Dorothee C., Tjeerd Boersma, A.F. Banyumedia Publishing, 2006.
Aalbers 1897-1961. Ondogmatisch modernist in een koloniale
samenleving, Rotterdam: Stichting Bonas, 2000. Widodo, Dukut Imam, Soerabaia tempo doeloe, Surabaya:
Pemkot Surabaya, Dinas Pariwisata Kota, 2002.
Sumalyo, Yulianto, Arsitektur kolonial Belanda di Indonesia,
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1993.
Berikut adalah gambaran sumber-sumber informasi Museum Nasional untuk Budaya Dunia
online yang dapat membantu penelitian Anda mengenai (Nationaal Museum van Wereldculturen,
lingkungan yang dibangun di Hindia-Belanda dan NMVW), Amsterdam/Leiden/Berg en Dal
Indonesia. Perlu dicatat bahwa gambaran di bawah ini • Museum Etnologi: Museum Volkenkunde
tidak lengkap dan nama-nama lembaga serta alamat (Koleksi & Perpustakaan), Leiden:
laman dapat berubah. [Link]
• Tropenmuseum (foto, benda), Amsterdam: http://
Atlas of Mutual Heritage, Amsterdam [Link]/
• Dokumen VOC dan WIC:
[Link] Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI),
Jakarta
Lembaga Warisan Budaya Belanda (Rijksdienst • Koleksi (arsip, perpustakaan, foto, film, peta):
voor het Cultureel Erfgoed, RCE), Amersfoort [Link]
• Koleksi Foto/Gambar: • Sejarah Nusantara (Arsip VOC):
[Link] [Link]/
Universitas Teknologie Delft (Technische Arsip Nasional Belanda (Nationaal Archief, NA),
Universiteit Delft), Delft Den Haag
• Repositori mengenai arsitektur kolonial Eropa antara • Arsip, peta, dan foto: [Link] dan
1850-1970 (dokumen teks, foto, film, peta, arsip): [Link]
[Link] • Spaarnestad Photo:
[Link]
Erfgoedcentrum Nederlands Kloosterleven,
Sint Agatha Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
• Arsip & Foto/Gambar: (PNRI), Jakarta
[Link] • Katalog (dokumen teks, manuskrip, terbitan cetak,
[Link] foto, peta): [Link]
Foto-foto dan bahan-bahan arsip tanpa keterangan Hal.17: Kantor Jiwasraya, Jalan Letnan Jenderal Suprapto,
diberikan di bawah ini: Semarang. Dibangun untuk Nederlands-Indische
Levensverzekering en Lijfrente Maatschappij (NILLMY).
Sampul: Gambar kota Surabaya dari udara. Arsip Nasional Foto diambil tahun 1988. Rijksdienst voor het Cultureel
Belanda, Koleksi peta, [Link] No. Inv. G1.7 Erfgoed, Koleksi Temminck Groll, No. Inv. TGKL-16-007.
Hal.4: Desain untuk kabupaten Kebayoran Baru dirancang Hal.19: Bekas gudang VOC, Jalan Pasar Ikan, Jakarta,
oleh Moh. Soesilo (1949). Koleksi pribadi Ir. R.J. Clason, sekarang Museum Bahari. Foto diambil tahun 1983.
Arnhem. Rijksdienst voor het Cultureel Erfgoed, Koleksi Dorresteijn,
No. Inv. DO-BD-006.
Hal.6 atas: Museum Sejarah Jakarta, Kota Tua, Jakarta.
Foto: Johan van Langen (2015). Hal.21 atas: Sebuah bangunan, kemungkinan terletak di
Jakarta sekitar tahun 1947. Arsip Nasional Belanda, Koleksi
Hal.6 bawah: Taman Fatahillah dengan latar belakang Cafe Dienst Legercontacten, [Link], No. Inv. 10766.
Batavia, Jakarta Kota Tua. Foto: Peter Timmer (2014).
Hal.21 bawah: Interior aula Institut Teknologi Bandung
Hal.7: Panitia penyelenggara, pemateri dan peserta (dulu Technische Hogeschool), dirancang oleh Henri
lokakarya Collecting and Connecting di Arsip Nasional Maclaine Pont (1919-1920). Foto diambil tahun 1988.
Republik Indonesia. Foto: Arsip Nasional Republik Rijksdienst voor het Cultureel Erfgoed, Koleksi Temminck
Indonesia (2014). Groll, No. Inv. TGKL-14-03-4.
Hal.8: Suasana workshop Collecting and Connecting yang Hal.23: Jembatan Kota Intan (Pasarhoenderbrug), Jakarta:
diselenggarakan di Arsip Nasional Republik Indonesia. jembatan jungkit gaya Belanda. Foto diambil tahun 1985.
Foto: Huib Akihary (2014). Rijksdienst voor het Cultureel Erfgoed, Koleksi Dorresteijn,
No. Inv. DO-LD-044.
Hal.10: Peserta workshop Collecting and Connecting yang
diselenggarakan di Arsip Nasional Republik Indonesia. Hal.25 atas: Para jemaat yang keluar dari sebuah gereja
Foto: Huib Akihary (2014). setelah selesai misa. Foto diambil antara tahun 1947-1949.
Arsip Nasional Belanda, Koleksi Dienst Legercontacten
Hal.12 atas: Rumah Sembang di Surabaya (awal abad ke- [Link] No. Inv. 8729.
19). Arsip Nasional Belanda, Koleksi Kaarten Kolonien, 4.
MIKO No. Inv. G1.12. Hal.25 bawah: Bank Jabar, Jalan Braga, Bandung. Gedung
ini dibangun untuk De Eerste Nederlandsch-Indische
Hal.12 bawah: Savoy Homann Hotel di Bandung (sekitar Spaarbank (DENIS). Foto diambil tahun 1988. Arsip
tahun 1942), Koleksi ANEFO [Link], No. Inv. 934_8071. Nasional Belanda, Koleksi Dienst Legercontacten
[Link] No. Inv. 8729.
Hal.13 atas: Persimpangan Jalan Sei Ular dan Jalan
Abdullah Lubis di Medan. Dari Album foto perusahaan Hal.27 atas: Gambar bangunan di dalam sebuah pos
pemasok air Air Beresih saat pembangunan '4 pipa inlet' ke perdagangan (loji) di Jambi (1707). Arsip Nasional Belanda,
Medan, 1952-1953. Arsip Nasional Belanda, Koleksi Deli Koleksi Leupe [Link], No. Inv. 1137.
Maatschappij, 2.20.46 No. Inv. 827, foto 34 (52/11).
Hal.27 bawah: Peta yang menggambarkan daerah rawan
Hal.13 bawah: Rencana kota Balikpapan oleh Perencanaan banjir di Batavia (Jakarta) dan sekitarnya di tahun 1914. Arsip
kantor Balikpapan, Penjelasan rencana kota Balikpapan Nasional Belanda, Koleksi Kolonien Verbaal 1900-1950,
(1949). Het Nieuwe Instituut, Rotterdam, Koleksi H. [Link], No. Inv. 1124, Verbaal 42 (26 Januari 1914).
Luning, LUNI-30.
Hal.28: Menara pada bastion Culemborg, Jakarta. Foto
Hal.14 atas: Plakat batu pada bangunan di Jalan Braga No. diambil tahun 1983. Rijksdienst voor het Cultureel Erfgoed,
99, Bandung. Foto diambil tahun 1988. Rijksdienst voor Koleksi Dorresteijn, No. Inv. DO-BD-002.
het Cultureel Erfgoed, Koleksi Temminck Groll, No. Inv.
TGKL-14-021. Isi diagram dibuat oleh:
Huib Akihary, Rotterdam
Hal.14 bawah: Plakat batu dari sebuah rumah sakit yang Pusat Dokumentasi Arsitektur, Jakarta
dibangun pada awal abad ke-18 di Semarang. Foto diambil PKMvR heritage research consultancy, Amsterdam
tahun 1988. Rijksdienst voor het Cultureel Erfgoed, Koleksi
Temminck Groll, No. Inv. TGKL-16-019.
Marinus Plantema
Foundation
Pendekatan asosiatif dalam penelitian memungkinkan peneliti untuk menghubungkan potongan-potongan informasi yang tampaknya terpisah dalam rangka merekonstruksi kejadian historis. Dengan mengasosiasikan berbagai sumber dari konteks waktu dan lokasi yang sama, peneliti dapat menjalin narasi yang lebih kohesif dan menyeluruh. Teknik ini juga memerlukan pemikiran kritis dan kemampuan untuk membaca di antara baris sumber yang berbeda, mengisi kesenjangan dalam pengetahuan dengan data yang dikumpulkan .
Sumber primer memerlukan peneliti untuk mengidentifikasi, memilih, dan menafsirkan informasi sesuai dengan urutan yang diciptakan oleh organisasi/orang yang pertama menggunakan sumber tersebut. Hal ini berbeda dengan sumber sekunder yang merupakan interpretasi dari sumber asli, sehingga memungkinkan referensi yang lebih langsung untuk memverifikasi informasi. Dalam kasus sumber primer, relevansinya mungkin tidak langsung terlihat, dan informasi tersebut tersebar dalam penggalan-penggalan yang lebih fragmentaris .
Wawancara dalam penelitian arsitektur kolonial berperan penting dalam memperoleh informasi langsung dari individu yang berkompeten atau memiliki pengalaman personal terkait objek penelitian. Tantangan yang muncul mencakup kesesuaian informasi dari wawancara dengan fakta historis, kesiapan dan keterbukaan narasumber, serta kemungkinan bias dari ingatan yang terdistorsi oleh waktu. Peneliti harus menyesuaikan data wawancara dengan data dari sumber lain untuk memperkuat keandalannya .
Strategi yang bisa dipakai untuk menentukan sumber informasi dalam penelitian sejarah bangunan kolonial meliputi: mengidentifikasi sumber yang menyediakan informasi tentang banyak aspek dari pertanyaan penelitian, memanfaatkan arsip, koleksi peta, dan bahan terbitan masa lalu dari lembaga-lembaga yang relevan, serta memilih sumber yang memungkinkan untuk verifikasi silang informasi. Peneliti juga harus mempertimbangkan relevansi dan keakuratan sumber dibandingkan dengan pertanyaan penelitian mereka .
Akurasi sangat penting dalam melakukan pencarian data historis, terutama ketika menggunakan nama dan istilah yang berlaku pada periode waktu tertentu. Hal ini dikarenakan sumber-sumber asli yang didigitalisasi tidak mengubah atau memperbarui nama/istilah tersebut, sehingga pencarian menggunakan nama-nama kontemporer akan gagal menemukan data yang relevan .
Objek fisik berperan sebagai sumber data utama dalam dokumentasi dan penelitian arsitektur, di mana pengamatan langsung dan analisis objek dapat memberikan informasi penting yang mungkin tidak tersedia dalam catatan tertulis. Peneliti bisa membandingkan data historis dengan kondisi fisik saat ini untuk mengungkapkan perubahan atau mempertahankan unsur-unsur yang asli, serta melengkapinya dengan pencatatan, pemetaan, dan dokumentasi visual objek .
Analisis dan pembandingan data historis dengan kondisi saat ini penting karena hal ini membantu peneliti memahami evolusi fisik dan fungsi bangunan. Ini memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi perubahan yang telah terjadi, asal-usul struktur saat ini, dan konsekuensi dari perubahan tersebut terhadap nilai historis dan arsitektural bangunan. Kombinasi dari data historis dan observasi terkini memberikan gambaran lebih menyeluruh tentang makna dan signifikansi bangunan dalam konteksnya .
Tantangan utama dalam menulis hasil penelitian terletak pada penafsiran informasi yang tidak selalu lengkap dari sumber yang ada. Peneliti harus terus-menerus menimbang dan memikirkan informasi mana yang relevan dengan pertanyaan penelitian mereka. Untuk mengatasi tantangan ini, peneliti perlu memeriksa ulang pertanyaan penelitian, sumber-sumber, dan interpretasinya secara berulang, serta menghindari memasukkan informasi yang tidak relevan meskipun menarik .
Verifikasi fakta dari sumber sekunder dalam proses penelitian sangat penting untuk memastikan bahwa narasi yang dibangun landasannya terverifikasi, sehingga menghindari kesalahan dalam kesimpulan penelitian. Proses ini berkontribusi pada integritas penelitian dengan memastikan bahwa argumen dan klaim yang diajukan dapat dipertahankan dengan bukti yang kuat dan terbukti kebenarannya. Tanpa verifikasi, penelitian berisiko berbasis pada data yang tidak dapat dipercaya .
Peneliti harus memilih sumber informasi secara obyektif untuk memastikan bahwa interpretasi mereka tidak bias dan dapat diandalkan. Mencapai obyektivitas dapat dilakukan dengan mengumpulkan dan memilih informasi dari berbagai aspek pertanyaan penelitian, menghindari penggunaan kata sifat positif atau negatif yang menghakimi, serta menghindari tanda seru dalam tulisan. Memilih sumber dengan cara ini memastikan peneliti tidak hanya menemukan berbagai kemungkinan jawaban, tetapi juga menjaga penulisan mereka bebas dari bias linguistik .