0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan17 halaman

5 Model Pembelajaran Kooperatif

Diunggah oleh

Nurul Nurul
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan17 halaman

5 Model Pembelajaran Kooperatif

Diunggah oleh

Nurul Nurul
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Kelompok 5

MAKALAH
PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah: Strategi Pembelajaran PAI
Dosen Pengampu: Dr. H. Mazrur, [Link]

Disusun Oleh:
Gunanti
2211110128
Lijar Pastilah
2211110124

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PALANGKA RAYA


FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
TAHUN 2024 M
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT karena dengan limpahan
rahmat, karunia serta pertolongan-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul "Pembelajaran Kooperatif" tepat pada waktunya. Shalawat serta salam
semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah saw yang senantiasa menjadi teladan
bagi umat manusia.
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dari
Bapak Dr. H. Mazrur, [Link]. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah
wawasan kita semua terkait dengan Pembelajaran Kooperatif bagi para pembaca dan
juga penulis.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. H. Mazrur, [Link] yang telah
memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan kami
sesuai dengan bidang studi yang sedang kami tekuni. kami juga sangat berterimakasih
kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses pengerjaan makalah ini.
Makalah yang kami tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu,
kritik dan saran yang membangun akan kami nantikan demi kesempurnaan makalah
ini.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Palangka Raya, 06 Februari 2024

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................. ii


DAFTAR ISI ................................................................................................................ iii
BAB I ............................................................................................................................ 2
PENDAHULUAN ........................................................................................................ 2
A. Latar belakang ...................................................................................................... 2
B. Rumusan Masalah ................................................................................................. 3
C. Tujuan Penulisan .................................................................................................. 3
BAB II ........................................................................................................................... 4
PEMBAHASAN ........................................................................................................... 4
A. Pengertian Pembelajaran Kooperatif .................................................................... 4
B. Unsur-Unsur Pembelajaran Kooperatif ................................................................ 5
C. Tipe-tipe Pembelajaran Kooperatif ....................................................................... 7
D. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Kooperatif ....................................... 11
BAB III ....................................................................................................................... 13
PENUTUP ................................................................................................................... 13
A. Kesimpulan ......................................................................................................... 13
B. Saran ................................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 15

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Pendidikan menjadi salah satu modal penting untuk memajukan sebuah
bangsa karena kesejahteraan dan kemajuan sebuah bangsa dapat dilihat dari tingkat
pendidikannya. Pendidikan memegang peranan penting dalam menciptakan
individu berkualitas. Pendidikan memerlukan inovasi-inovasi yang sesuai dengan
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa mengabaikan nilai-nilai
kemanusiaan. Pendidikan juga dipandang sebagai sarana untuk melahirkan insan-
insan yang cerdas, kreatif, terampil, bertanggung jawab, produktif, dan berbudi
pekerti luhur. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah dalam meningkatkan
mutu pendidikan nasional, salah satunya dengan melakukan inovasi dalam dunia
pendidikan. Inovasi yang dilakukan biasanya dengan memperhatikan tiga alasan
penting, yaitu efisien, efektif, dan kenyamanan. 1 Oleh karena itu dalam penggunaan
metode, model dalam pembelajaran sangatlah diperlukan untuk menunjang dalam
pembelajaran, selain itu siswa juga dituntut untuk memiliki keterampilan yang lebih
diantaranya siswa harus memiliki keterampilan kolabosrasi
Menurut Greenstein (2012), keterampilan kolaborasi merupakan
keterampilan bekerja bersama secara efektif dan menunjukkan rasa hormat kepada
anggota tim yang beragam, melatih kelancaran dan kemauan dalam membuat
keputusan yang diperlukan untuk mencapai tujuan bersama. Keterampilan
kolaborasi menjadi esensial dalam persiapan siswa untuk menghadapi tantangan
dunia modern. Siswa saat ini perlu memiliki kemampuan untuk bekerja dalam tim,
berbagi ide, mendengarkan pendapat orang lain, memecahkan masalah bersama, dan
mengambil keputusan secara kolaboratif. Keterampilan ini tidak hanya relevan

1
Hartoto, Tri. Model pembelajaran kooperatif tipe group investigation (GI) Meningkatkan
aktivitas dan hasil belajar sejarah. HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah, 2016, 4.2:
131-142.

2
dalam dunia kerja, tetapi juga dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam
konteks pendidikan.2Namun, menumbuhkan keterampilan kolaboratif bukanlah hal
yang mudah, oleh karena itu di sini pembelajaran kooperatif muncul sebagai solusi
agar siswa dapat megimplementasikan keterampilannya dalam berkolaborasi,
dengan latar belakang diatas maka di sini kami akan membahas mengenai
pembeljaran kooperatif
B. Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian Dari Pembelajaran Kooperatif?
2. Apa Saja Unsur-Unsur Dan Karakteristik Pembelajarana Kooperatif?
3. Apa Saja Tipe-Tipe Dari Pembelajaran Kooperatif?
4. Apa Kelebihan Dan Kekurangan Dari Pembelajaran Kooperatif?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk Mengetahui Pengertian Dari Pembelajaran Kooperatif
2. Untuk Mengetahui Unsur-Unsur Dan Karakteristik Pembelajaran Kooperatif
3. Untuk Mengetahui Tipe-Tipe Dari Pembelajaran Kooperatif
4. Untuk Mengetalau Kelebihan Dan Kekurangan Dan Pembelajaran Kooperatif

2
Annisa Vadila,”Pembelajaran Kooperatif: Tipe Stad, Nht, Tps”, 5 Agustus 2023,
[Link]

3
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Cooperative berarti bekerjasama dan learning berarti belajar, jadi belajar
melalui kegiatan bersama. Namun tidak semua belajar bersama adalah, cooperative
learning dalam hal ini belajar bersama melalui teknik-teknik tertentu. Cooperative
Learning (pembelajaran kooperatif) merupakan suatu model pembelajaran dengan
melegunakan kelompok kecil, bekerja sama. Keberhasilan dari model ini sangat
tergantung pada kemampuan aktivitas anggota kelompok, baik secara individual
maupun dalam bentuk kelompok.
Menurut Solihatin Cooperative Learning adalah suatu model pembelajaran
dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara
kolaboratif yang anggolanya terdiri atas 4-6 orang dengan struktur kelompoknya
yang bersifat heterogen.
Model pembelajaran kooperatif mencakup suatu kelompok kecil peserta
didik yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan sebuah masalah.
menyelesaikan suatu tugas, atau mengerjakan sesuatu3
Menurut Johnson dalam B. Santoso Cooperative Learning adalah kegiatan
belajar mengajar secara kelompok-kelompok kecil, siswa belajar dan bekerjasama
untuk sampai pada pengalaman belajar yang optimal, baik pengalaman individu
maupun kelompok. Sedangkan Nurhadi mengartikan Cooperative Learning sebagai
pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang silih
asuh untuk menghindari ketersinggungan dan kesalahpahaman yang dapat
menimbulkan masalah.
Selanjutnya Davidson dan Kroll, sebagaimana yang dikuti oleh Hamdun,
Cooperative Learning diartikan dengan kegiatan yang berlangsung dalam

3
II, BAB. A. Pembelajaran Kooperatif, Pengertian Pembelajaran Kooperatif.

4
Lingkungan belajar sehingga siswa dalam kelompok kecil saling berbagi ide-ide dan
bekerja secara kolaboratif untuk menyelesaikan tugas akademik.4
Menurut Melvin L. Silberman, seperti yang dikutip oleh Sutrisno,
mengatakan belajar merupakan konsekuensi otomatis dari penyampaian informasi
kepada siswa belajar membutuhkan keterlibatan mental dan tindakan sekaligus.
Pada saat kegiatan itu aktif, siswa melakukan sebagian besar pekerjaan belajar.
Siswa mempelajari gagasan-gagasan, memecahkan berbagai masalah dan
menerapkan apa yang mereka pelajari. Dengan menggunakan metode Cooperative
Learning, pembelajaran akan efektif dan berjalan sesuai dengan fitrah peserta didik
sebagai mahluk sosial yaitu mahluk yang tidak bisa berdiri sendiri, namun selalu
membutuhkan kerjasama dengan orang lain untuk mempelajari gagasan,
memecahkan masalah dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Jelasnya belajar
kooperatif tidak hanya bertujuan menanamkan siswa terhadap materi yang akan
dipelajari namun lebih menekankan pada melatih siswa untuk mempunyai
kemampuan sosial, yaitu kemampuan untuk saling bekerjasama, berkelompok dan
bertanggung jawab terhadap sesama teman kelompok untuk mencapai tujuan umum
kelompok.5
B. Unsur-Unsur Pembelajaran Kooperatif
Menurut Roger dan David Johnson dalam Anita Lie, tidak semua kerja
kelompok bisa dianggap sebagai Cooperative Learning. Untuk memperoleh manfaat
yang diharapkan dari implementasi pembelajaran kooperatif, Johnson dan Johnson
menganjurkan lima unsur penting yang harus dibangun dalam aktivitas intruksional,
mencakup:

4
Ismun Ali, “Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) Dalam Pengajaran Pendidikan
Agama Islam”, Jurnal Mubtadiin, Vol. 7 No. 01, 2021, hal 250-251

5
Ibid 250-251

5
1. Saling Ketergantungan Positif (Positif Interdependence)
Keberhasilan kelompok sangat tergantung pada usaha setiap anggotanya.
Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas
sedemikian rupa, sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan
tugasnya sendiri agar yang lain bisa mencapai tujuan mereka.
2. Interaktif Tatap Muka (Face to Face Interaction)
Setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertemu muka dan
berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk
membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Hasil pemikiran
beberapa orang akan lebih kaya dari pada hasil pemikiran dari satu orang saja.
Lebih jauh lagi, hasil kerja sama ini jauh lebih besar dari pada jumlah hasil
masing-masing anggota
3. Tanggung Jawab Individual (Individual Accountability)
Unsur ini merupakan akibat langsung dari unsur yang pertama. Jika tugas
dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model Cooperative Learning setiap
siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Kunci
keberhasilan metode kerja kelompok adalah persiapan guru dalam menyusun
tugas.
4. Ketrampilan social (Social skill)
Yang dimaksud dengan ketrampilan sosial adalah ketrampilan dalam
berkomunikasi dalam kelompok. Sebelum menugaskan siswa dalam kelompok,
pengajar perlu mengajarkan cara-cara berkomunikasi.
5. Evaluasi proses kelompok (Group Debrieving)
Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk
mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar
selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. 6

6
Ibid 253-256

6
C. Tipe-tipe Pembelajaran Kooperatif
1. Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pertama kali dikembangkan dan
diujicobakan oleh Elliot Aronson dan kawan-kawan di Universitas Texas, dan
kemudian diadaptasi oleh Slavin di Universitas John Hopkins (Arends, 1997).
Tipe mengajar jigsaw dikembangkan, sebagai metode cooperatif learning. Tipe
ini bisa digunakan dalam beberapa mata pelajaran, seperti ilmu pengetahuan
alam, ilmu pengetahuan sosial, matematika, agama, bahasa dan lain-lain. Tipe
ini cocok untuk semua kelas.
Jigsaw adalah suatu struktur multifungsi struktur kerjasama belajar.
Jigsaw dapatdigunakan dalam beberapa hal untuk mencapai berbagai tujuan
tetapi terutama digunakan untuk persentasi dan mendapatkan materi baru,
struktur ini menciptakan saling ketergantungan. Pembelajaran kooperatif tipe
jigsaw adalah suatu metode pembelajaranyang didasarkan pada bentuk struktur
multi fungsi kelompok belajar yang dapat digunakan pada semua pokok bahasan
dan semua tingkatan untuk mengembangkan keahlian dan keterampilan setiap
kelompok. Menurut Isjoni (2009:77) pembelajaran kooperatif tipe jigsaw salah
satu tipe pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa aktif dan saling
membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai prestasiyang
maksimal. Lie (2004:41) menyatakan jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa
tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran
orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka
juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota
kelompoknya yang lain. Dengan demikian, siswa saling tergantung satu dengan
yang lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi
yang ditugaskan. Para anggota dari tim yang berbeda dengan topik yang sama
bertemu untuk diskusi (tim ahli) saling membantu satu sama lain tentang topik

7
pembelajaran yang ditugaskan kepada mereka. Kemudian siswa-siswa itu
kembali pada tim/kelompok asal untuk menjelaskan kepada anggota kelompok
yang lain tentang apa yang telah mereka pelajari sebelumnya pada pertemuan
tim ahli.
Pada model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, terdapat kelompok asal
dan kelompok ahli. Kelompok asal, yaitu kelompok induk siswa yang
beranggotakan siswa dengan kemampuan, jenis kelamin dan latar belakang
keluarga yang beragam. Kelompok ahli, yaitu kelompok siswa yang terdiri dari
anggota kelompok asal yang berbeda ditugaskan untuk mempelajari dan
mendalami topik tertentu dan menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan
dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal.
Kelompok ahli merupakan gabungan dari beberapa ahli yang berasal dari
kelompok asal. Kunci keberhasilan jigsaw adalah saling ketergantungan, yaitu
setiap siswa bergantung kepada anggota timnya untuk dapat memberikan
informasi yang diperlukan supaya dapat berkinerja baik pada saat penilaian
(Slavin, 2008:237).
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif dengan teknik jigsaw
menurut Elliot Aronson, meliputi 10 tahap yaitu:
a. membagi siswa kedalam kelompok Jigsaw dengan jumlah 5-6 orang
b. menugaskan satu orang siswa dari masing-masing kelompok sebagai
pemimpin, umumnya siswa yang dewasa dalam kelompok itu
c. membagi pelajaran yang akan dibahas ke dalam 5-6 segmen;
d. menugaskan tiap siswa untuk mempelajari satu segmen dan untuk menguasai
segmen mereka sendiri.
e. memberi kesempatan kepada para siswa itu untuk membaca secepatnya
segmen mereka sedikitnya dua kali agar mereka terbiasa dan tidak ada waktu
untuk menghafal,
f. membentuk kelompok ahli dengan satu orang dari masing-masing kelompok
jigsaw bergabung dengan siswa lain yang memiliki segmen yang sama untuk

8
mendiskusikan poin-poin yang utama dari segmen mereka dan berlatih
presentasi kepada kelompok jigsaw mereka.
g. setiap siswa dari kelompok ahli kembali kekelompok jigsaw mereka.
h. meminta masing-masing siswa untuk menyampaikan segmen yang
dipelajarinyakepada kelompoknya, dan memberi kesempatan kepada siswa-
siswa yang lain untuk bertanya.
i. guru berkeliling dari kelompok satu kekelompok yang lainnya, mengamati
proses itu. Bila ada siswa yang mengganggu segera dibuat intervensi yang
sesuai oleh pemimpin kelompokyangdi tugaskan.
j. pada akhir bagian beri ujian atas materi sehingga siswa tahu bahwa pada
bagian ini bukan hanya game tapi benar-benar menghitung.7
2. Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Inti dari STAD (Student Team Achievment Division) ini adalah guru
menyampaikan suatu materi kemudian para siswa bergabung dalam kelompok
yang ditentukan secara heterogen berdasarkan prestasi siswa yang terdiri atas
empat sampai enam siswa untuk menyelesaikan soal-soal yang diberikan oleh
guru. Setelah itu mereka mengerjakan tes akhir, kemudian guru bersama siswa
menghitung skor perkembangan individu dan memberikan penghargaan kepada
kelompok yang memperoleh nilai terbesar.
STAD merupakan salah satu tipe Cooperative Learning yang paling
sederhana. Pembelajaran ini bertujuan untuk mendorong siswa melakukan kerja
sama, saling membantu menyelesaikan tugas-tugas dan menerapkan
keterampilan yang diberikan. Dalam Cooperative Learningtipe STAD siswa
ditempatkan dalam kelompok belajar beranggotakan empat sampai enam orang
yang merupakan campuran menurut tingkat kinerja, jenis kelamin, dan suku.
Guru menyajikan pelajaran kemudiansiswa bekerja di kelompok mereka untuk

7
Lubis, Nur Ainun, and Hasrul Harahap. "Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw." Jurnal As-
Salam 1.1 (2016): 96-102. Hlm. 97-99.

9
memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai materi tersebut.
Akhirnya kepada seluruh siswa diberikan tes tentang materi tersebut, dan di
dalam tes mereka tidak dapat saling membantu.
Penerapan Cooperative Learning tipe STAD merujuk pada konsep Slavin
R., (2009: 143-163) dengan langkah-langkah yaitu:
a. Penyajian materi
Presentasi materi pelajaran dalam bentuk penyajian materi dan
informasi dilakukan di depan kelas pada awal setiap kali pertemuan.
Penyajian materi dilakukan melalui pengajaran secara langsung dengan
menggabungkan ceramah dan diskusi.
b. Kegiatan kelompok
Dalam kegiatan kelompok, guru memberikan permasalahan-
permasalahan yang harus dipecahkan oleh siswa yang disajikan dalam
bentuk LKS, dimana siswa harus dapat menemukan kembali konsep-konsep
matematika dengan cara mengkonstruksi pengetahuannya dengan
melakukan kerja sama dengan anggota kelompoknya. Dalam kegiatan
kelompok ini, setiap siswa bekerja sama, saling memberikan informasi,
saling memotivasi, dalam menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru.
Apabila ada siswayang belum memahami, maka temannya bertanggung
jawab untuk menjelaskannya. Karena akhir dari kegiatan belajar mengajar
ini seluruh siswa dapat memahami materi yang diajarkan dan mendapatkan
nilai yang optimal. Selama kegiatan kelompok guru bertindak sebagai
fasilitator, motivator yang mengamati sekaligus menilai setiap kegiatan
masingmasing kelompok.
c. Tes
Secara individual setiap satu atau dua periode siswa diberi kuis. Kuis
tersebut diskor, dan tiap individu diberikan skor perkembangan. Dalam
mengerjakan kuis, siswa dalam satu kelompok tidak diperkenankan saling
membantu. Dengan demikian siswabertanggung jawab secara individu untuk

10
memahami materi pelajaran.
d. Perhitungan skor perkembangan individu
Setelah melaksanakan tes kemudian guru memberikan skor kepada
setiap individu sebagai nilai perkembangan individu yang merupakan skor
yang dapat disumbangkan untuk skor kelompok. Untuk perhitungan skor
perkembangan individu adalah dengan memberikan kesempatan kepada
setiap siswa untuk meraih prestasi maksimal agar siswa dapat melakukan
yang terbaik bagi dirinya berdasarkan prestasi sebelumnya (skor awal). Skor
kemudian dijumlahkan dengan skor seluruh anggota kelompoknya sebagai
sumbangan untuk skor kelompok.
e. Penghargaan
Dalam penghargaan terdapat prestasi kelompok, sebaiknya guru
memberikan pengahargaan berupa bentuk hadiah tergantung dari kreativitas
guru. Hal ini dilakukan agar dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
Penghargaan kelompok (Team Reward) diberikan kepada tiga kelompok
yang terdiri dari Good Team, great team dan Super team.8
D. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Kooperatif
Jarolimek dan Parker dalam Isjoni menjelaskan kelebihan model
pembelajaran kooperatif sebagai berikut: 1) adanya saling ketergantungan yang
positif antar siswa; 2) adanya pengakuan dalam merespon perbedaan individu; 3)
siswa dilibatkan dalam perencanaan dan pengelolaan kelas; 4) tercipta suasana
kelas yang menyenangkan sehingga membuat siswa merasa rileks; 5) terjalinnya
hubungan hangat dan bersahabat antara siswa dengan guru; dan 6) siswa memiliki
banyak kesempatan untuk mengekspresikan pengalaman emosi yang
menyenangkan.
Vicki Randall dalam Warsono, dkk. mengemukakan kritikannya terhadap

8
Afandi, Muhamad, and Dedy Irawan. "Pembelajaran kooperatif tipe student teams achivement
division di sekolah dasar." (2013): 3-4. Hlm. 3-6.

11
implementasi pembelajaran kooperatif terutama terkait dengan bertanggung jawab
kelompok dalam kelompok yang berkemampuannya berbeda-beda. Seringkali
siswa yang memiliki kelebihan kemampuan meninggalkan siswa yang lebih lemah
dalam pembela-jaranya. Dalam hal ini sudah menjadi keawjiban guru untuk selalu
mendampinginya. Kemudian dalam asesmen menyusun rubrik yang di antaranya
menilai sikap siswa dalam membantu temannya. Meskipun ada kritikan terhadap
pembelajaran kooperatif ini, akan tetapi kecil kemungkinan hal itu bisa terjadi jika
proses pembelajaran dilaksanakan dengan baik sesuai dengan prinsip dan langkah-
langkah yang benar, juga diawasi secara teliti oleh guru.
Isjono dalam bukunya menuliskan kelemahan model pembelajaran
kooperatif. Menurutnya, kelemahan model pembelajaran kooperatif dipengaruhi
oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal di antaranya: a) Guru harus
mempersiapkan pembelajaran secara matang, di samping itu memerlukan lebih
banyak tenaga, pemikiran dan waktu; b) Agar dukungan fasilitas, alat dan biaya
yang cukup memadai; dan c) Selama kegiatan diskusi kelompok berlangsung ada
kecenderungan topik permasalahan yang sedang dibahas kurang fokus sehingga
banyak yang tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Sedang-kan faktor
dari eksternal erat kaitannya dengan kebijakan pemerintah mengenai pendidikan. 9

9
Juhji, Juhji. "Model pembelajaran kooperatif tipe make a match dalam pembelajaran ipa."
Primary: Jurnal Keilmuan Dan Kependidikan Dasar 9.1 (2017): 9-22. Hlm. 12-13.

12
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran dimana siswa bekerja
sama dalam kelompok kecil untuk mencapai tujuan pembelajaran bersama. Model
ini tekanan pada saling ketergantungan positif antar siswa, interaksi tatap muka,
tanggung jawab individu,ketrampilan sosial, dan evaluasi proses kelompok. Dalam
pembelajaran kooperatif, siswa saling membantu dan mendukung satu sama lain
dalam memahami materi pelajaran serta mengembangkan ketrampilan sosial
mereka, Metode ini bertujuan untuk meningkatkan partisipasi siswa, memperkuat
pemahaman materi, dan menciptakan suasana belajar yang kolaboratif dan
menyenangkan.
Unsur-unsur pembelajaran kooperatif menurut Roger dan David Johnson,
yang harus dibangun dalam aktivitas intruksional, mencakup: saling ketergantungan
positif (Positif Interdependence), interaksi tatap muka (Face to face interaction),
tanggungjawab individual (individual accountability), keterampilan sosial (social
skill), evaluasi proses kelompok (Group debrieving).
Kemudian tipe-tipe pembelajaran kooperatif ada dua yaitu pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw dan pembelajaran kooperatif tipe STAD
Kelebihan dari pembelajaran kooperatif antara lain adalah adanya saling
ketergantungan positif antar siswa, pengakuan dalam merespon perbedaan individu,
siswa dilibatkan dalam perencanaan dan pengelolaan kelas, terciptanya suasana
kelas yang menyenangkan, terjalinnya hubungan yang hangat dan bersahabat antara
siswa dengan guru, serta siswa memiliki banyak kesempatan untuk
mengekspresikan pengalaman emosi yang menyenangkan. Namun, terdapat juga
kekurangan dalam pembelajaran kooperatif. Beberapa kelemahan meliputi
persiapan yang matang dari guru, memerlukan lebih banyak tenaga, pemikiran, dan

13
waktu, memerlukan dukungan fasilitas, alat, dan biaya yang mampu, serta adanya
tren topik permasalahan yang sedang dibahas kurang fokus sehingga banyak yang
tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
B. Saran
Tentunya dalam penggunaan pembelajaran ini sebagai guru haruslah
menguasai model pembelajaran ini dengan sebaik-baiknya, kemudian perlunya
didukung dengan alat dan fasilitas yang memadai dan juga guru harus selalu
memperhatikan atau mendampingi peserta didiknya karena setiap individu peserta
didik memiliki karakter yang berbeda-beda.

14
DAFTAR PUSTAKA
Afandi, Muhamad, and Dedy Irawan. 2013. "Pembelajaran kooperatif tipe student
teams achivement division di sekolah dasar.
Annisa Vadila,”Pembelajaran Kooperatif: Tipe Stad, Nht, Tps”, 5 Agustus 2023,
[Link]
Hartoto, Tri.2016.”Model pembelajaran kooperatif tipe group investigation (GI)
Meningkatkan aktivitas dan hasil belajar sejarah. HISTORIA: Jurnal Program
Studi Pendidikan Sejarah,
II, BAB. A. Pembelajaran Kooperatif, Pengertian Pembelajaran Kooperatif.
Ismun Ali, 2021 “Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) Dalam Pengajaran
Pendidikan Agama Islam”, Jurnal Mubtadiin, Vol. 7 No. 01
Juhji, Juhji.2019."Model pembelajaran kooperatif tipe make a match dalam
pembelajaran ipa." Primary: Jurnal Keilmuan Dan Kependidikan Dasar 9.1
Lubis, Nur Ainun, and Hasrul Harahap. 2016. "Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw."
Jurnal As-Salam 1.1

15

Common questions

Didukung oleh AI

The essential elements of cooperative learning as per Roger and David Johnson include positive interdependence, face-to-face interaction, individual accountability, social skills, and group debriefing. Positive interdependence involves ensuring that group success depends on each member's efforts. Face-to-face interaction promotes discussions and synergy in thinking, while individual accountability requires each student to contribute their best to the group . Social skills emphasize the need for effective communication within the group. Finally, group debriefing allows for reflecting on team processes to enhance future cooperation .

Cooperative learning enhances students' social skills by requiring them to engage in meaningful interactions where they must communicate effectively within their groups. This develops their abilities to listen actively, express ideas clearly, and resolve conflicts constructively. Group activities provide a controlled environment for students to practice empathy, negotiation, and collaboration, ultimately fostering better interpersonal relationships and social responsibility .

The Jigsaw method fosters student responsibility and collaboration by dividing students into base groups where each member is tasked with mastering a specific segment of the curriculum. Students then form 'expert groups' with counterparts from other base groups to discuss and deepen their understanding of the segment. Upon returning to their base groups, they are responsible for teaching their peers their segment, creating interdependence as the group's performance depends on each member's contribution . This promotes collaboration as students rely on and learn from each other .

Cooperative learning is distinguished from traditional group work by its structured approach that incorporates elements such as positive interdependence, individual accountability, and face-to-face interaction. In cooperative learning, students not only share tasks but also collaborate to achieve common goals, with their success tied to every group member's contribution. Traditional group work often lacks this structured interdependence, possibly resulting in unequal participation and benefits mainly students already motivated or knowledgeable, whereas cooperative learning explicitly aims to engage all students and develop social skills .

Individual accountability ensures that each group member is responsible for their contributions, which is critical for the group's overall success. It prevents unequal workloads and fosters a sense of responsibility, motivating members to be more engaged and committed. This element of cooperative learning ensures that while the group achieves its objectives collaboratively, each student also understands and meets their learning goals, enhancing both group and individual outcomes .

Educator support is critical during cooperative learning activities as it ensures that the objectives of cooperation, accountability, and equal participation are met. Teachers guide the processes by setting clear expectations, providing interventions when necessary, and facilitating discussions if conflicts arise. Their role in observing group dynamics and offering feedback is vital to address imbalances and ensure that all students are engaged and benefit equally from the learning experience .

Cooperative learning addresses the needs of modern education systems by equipping students with essential teamwork skills, abilities to share and debate ideas, and competencies in collaborative problem-solving and decision-making. These skills are crucial for navigating the complexities of today's globalized world. Cooperative learning encourages active, involved learning and continuous engagement, necessary traits for modern workforce demands. Furthermore, by promoting equality and mutual support among students, it challenges traditional educational paradigms and contributes to a more inclusive and equitable system .

Teachers may face challenges such as the need for meticulous planning, creating diverse and balanced groups, and the potential for students to focus on irrelevant topics during discussions. These can be mitigated by thorough preparation of materials and clear definition of roles and tasks within groups. Ensuring the availability of adequate resources and ongoing monitoring of group dynamics can also help maintain focus. Furthermore, training in cooperative learning strategies can enhance teacher effectiveness in facilitating these activities .

Implementing cooperative learning offers several advantages such as fostering a positive interdependence among students, improving responsiveness to individual differences, engaging students in class management, and creating a nurturing classroom environment that supports emotional expression. It also promotes better teacher-student relationships and provides ample opportunities for social interaction and collaboration, enhancing both educational and interpersonal skills .

Cooperative learning addresses individual differences by promoting collaboration where diverse perspectives and skills are valued contributions to group tasks. This educational model respects student backgrounds and learning styles, encouraging inclusivity and equity. Members of heterogeneous groups learn to appreciate varied abilities, fostering an environment where individual strengths are recognized and utilized effectively. This mutually beneficial setting enhances learning experiences for all students while promoting mutual respect and understanding .

Anda mungkin juga menyukai