PROPOSAL TARI JAIPONG
TAHUN 2018/2019
KELOMPOK : 1. LEONY AMANDA N. (01)
2. MEILANI CHANDRA P. (03)
3. NOVITA WIDYANA (11)
4. ORYZAE SATIVA M.P (14)
5. RIZKA WULAN A. (21)
6. VINA VICENSA (28)
7. WINDI FEBIANY (32)
8. YOHANA FIRDA P. (34)
9. YUYUN SONIA (35)
Sejarah
Sebelum bentuk seni pertunjukan ini muncul, ada beberapa
pengaruh yang melatar belakangi bentuk tari pergaulan ini.
Di Jawa Barat misalnya, tari pergaulan merupakan pengaruh
dari Ball Room, yang biasanya dalam pertunjukan tari-tari
pergaulan tak lepas dari keberadaan ronggeng dan
pamogoran. Ronggeng dalam tari pergaulan tidak lagi
berfungsi untuk kegiatan upacara, tetapi untuk hiburan atau
cara gaul. Keberadaan ronggeng dalam seni pertunjukan
memiliki daya tarik yang mengundang simpati kaum
pamogoran. Misalnya pada tari Ketuk Tilu yang begitu dikenal
oleh masyarakat Sunda, diperkirakan kesenian ini populer
sekitar tahun 1916. Sebagai seni pertunjukan rakyat,
kesenian ini hanya didukung oleh unsur-unsur sederhana,
seperti waditra yang meliputi rebab, kendang, dua buah
kulanter, tiga buah ketuk, dan gong.
Demikian pula dengan gerak-gerak tarinya yang tidak
memiliki pola gerak yang baku, kostum penari yang
sederhana sebagai cerminan [Link] dengan
memudarnya jenis kesenian di atas, mantan pamogoran
(penonton yang berperan aktif dalam seni pertunjukan Ketuk
Tilu/Doger/Tayub) beralih perhatiannya pada seni
pertunjukan Kliningan, yang di daerah Pantai Utara Jawa
Barat (Karawang, Bekasi, Purwakarta, Indramayu, dan
Subang) dikenal dengan sebutan Kliningan Bajidoran yang
pola tarinya maupun peristiwa pertunjukannya mempunyai
kemiripan dengan kesenian sebelumnya (Ketuk
Tilu/Doger/Tayub). Dalam pada itu, eksistensi tari-tarian
dalam Topeng Banjet cukup digemari, khususnya di
Karawang, di mana beberapa pola gerak Bajidoran diambil
dari tarian dalam Topeng Banjet ini. Secara koreografis tarian
itu masih menampakan pola-pola tradisi (Ketuk Tilu) yang
mengandung unsur gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun
dan beberapa ragam gerak mincid yang pada gilirannya
menjadi dasar penciptaan tari Jaipongan. Beberapa gerak-
gerak dasar tari Jaipongan selain dari Ketuk Tilu, Ibing Bajidor
serta Topeng Banjet adalah Tayuban dan Pencak Silat.
Jaipongan merupakan tarian yang memiliki pengaruh budaya
dari tayuban, tayuban merupakan tari ciptaan masyarakat
agar masyrakat tidak merasa kesepian karena tari gambyong
telah diambil oleh keluarga keraton. Kemunculan tarian karya
Gugum Gumbira pada awalnya disebut Ketuk Tilu
perkembangan, yang memang karena dasar tarian itu
merupakan pengembangan dari Ketuk Tilu. Jaipongan
merupakan karya utama Gugum Gumbira.
Perkembangan
Karya Jaipongan pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat
adalah tari “Daun Pulus Keser Bojong” dan “Rendeng Bojong”
yang keduanya merupakan jenis tari putri dan tari
berpasangan (putra dan putri). Dari tarian itu muncul
beberapa nama penari Jaipongan yang handal seperti Tati
Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali, dan Pepen Dedi Kurniadi. Awal
kemunculan tarian tersebut sempat menjadi perbincangan,
yang isu sentralnya adalah gerakan yang erotis dan vulgar.
Namun dari ekspos beberapa media cetak, nama Gugum
Gumbira mulai dikenal masyarakat, apalagi setelah tari
Jaipongan pada tahun 1980 dipentaskan di TVRI stasiun pusat
Jakarta. Dampak dari kepopuleran tersebut lebih
meningkatkan frekuensi pertunjukan, baik di media televisi,
hajatan maupun perayaan-perayaan yang diselenggarakan
oleh pihak swasta dan pemerintah.
Kehadiran Jaipongan memberikan kontribusi yang cukup
besar terhadap para penggiat seni tari untuk lebih aktif lagi
menggali jenis tarian rakyat yang sebelumnya kurang
perhatian. Dengan munculnya tari Jaipongan, dimanfaatkan
oleh para penggiat seni tari untuk menyelenggarakan kursus-
kursus tari Jaipongan, dimanfaatkan pula oleh pengusaha
pub-pub malam sebagai pemikat tamu undangan, dimana
perkembangan lebih lanjut peluang usaha semacam ini
dibentuk oleh para penggiat tari sebagai usaha
pemberdayaan ekonomi dengan nama Sanggar Tari atau
grup-grup di beberapa daerah wilayah Jawa Barat, misalnya
di Subang dengan Jaipongan gaya “kaleran” (utara).
Perkembangan selanjutnya tari Jaipongan terjadi pada
taahun 1980-1990-an, di mana Gugum Gumbira menciptakan
tari lainnya seperti Toka-toka, Setra Sari, Sonteng,Pencug,
Kuntul Mangut, Iring-iring Daun Puring, Rawayan dan tari
Kawung Anten. Dari tarian-tarian tersebut muncul beberapa
penari Jaipongan yang handal antara lain Iceu Effendi,
Yumiati Mandiri, Miming Mintarsih, Nani, Erna, Mira
Tejaningrum, Ine Dinar, Ega, Nuni, Cepy, Agah, Aa Suryabrata
dan Asep. Dewasa ini tari Jaipongan boleh disebut sebagai
salah satu identitas keseniaan Jawa Barat, hal ini nampak
pada beberapa acara-acara penting yang berkenaan dengan
tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat, maka
disambut dengan pertunjukan tari Jaipongan. Demikian pula
dengan misi-misi kesenian kemancanegara senantiasa
dilengkapi dengan tari Jaipongan. Tari Jaipongan banyak
mempengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di
masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang,
degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir
semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut
modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong.
Gerakan
1 Gerakan Bukaan
Merupakan gerakan pembukaan dalam pertunjukan kesenian
Jaipongan dari Bandung. Dalam gerakaan ini sang penari
biasanya melakukan jalan berputar disertai dengan
memainkan selendang yang dikenakan pada leher pemain.
2 Pencungan
Pencungan adalah bagian gerakan dari berbagai ragam gerak
cepat dalam tarian jaipong. Gerakan ini didukung dengan
tempo lagu atau musik yang bertempo cepat pula.
3 Ngala
Ngala dalam jaipongan adalah salah satu ragam gerakan yang
terlihat semacam gerak patah-patah atau titik
pemberhentian dari satu gerakan pada gerakan lain dan
dilakukan secara cepat atau dengan kata lain gerakan ini
memiliki tempo cepat.
4 Mincit
Mincit merupakan gerakan perpindahan dari satu ragam
gerak ke ragam gerak lain. Gerakan ini dilakukan setelah ada
gerakan ngala dalam sebuah tarian Jaipong.
Tata rias
Hiasan rambut dibuat menarik, dan riasan wajah dibuat
minimalis namun tetap mengeluarkan aura cantik mojang
sunda.
Busana
Bagian atasnya mengenakan kebaya berwarna cerah,
dilengkapi oleh kain batik Sunda pada bagian bawahnya
dengan dilengkapi Sinjang & Apok
Musik
1) KetukKetuk adalah alat musik yang diketuk mirip dengan
bonang.2) RebabRebab adalah alat musik petik yang
merupakan alat tradisional Jawa Barat.3) Gong4)
KecrekKecrek adalah alat musik yang dibunyikan sebagai
musik pengiring tarian.
Tanya jawab:
1. Apa ang dimaksud sinjang dan apok beserta maknanya?
(Nenny Utami A~09)
Jawab : sinjang adalah kain panjang maknanya memberi
simbol keanggunan.
Apok adalah baju atas penari maknanya memberi
kesan remaja yg ceria.
2. Apa makna tari jaipong dan gerakan-gerakan nya? (Putri
Lestari B~18)
Jawab : Simbol karakteristik dari sosok perempuan sunda
yang pemberani, mandiri, pekerja keras.
Makna gerakan-gerakannya:
1. Gerakan Bukaan
Dalam gerakan ini sang penari biasanya melakukan jalan
berputar disertai dengan memainkan selendang yang
dikenakan pada leher pemain.
2. Pencungan
Bagian gerakan dari berbagai gerakan cepat dalam tarian
jaipong. Grakan ini didukung dengan tempo lagu atau
musik yang bertempo cepat pula.
3. Ngala
Salah satu ragam gerakan yang terlihat semacam gerak
patah-patah atau titik pemberhentian dari satu gerakan
pada gerakan lain dan dilakukan secara cepat atau
dengan kata lain gerakan ini memiliki tempo cepat.
4. Mincit
Gerakan peerpindahan dari satu ragam gerak lain.
3. Apa makna riasan yang dibuat minimalis tetapi tetap
menampilkan aura cantik mojang sunda? (Putri Erliena~ )
Jawab : makna riasannya adalah dimana riasan itu disesuaikan
dengan usia remaja namun tetap terlihat natural sehingga
terlihat menawan.
4 . Mengapa tari Jaipong hanya ditarikan oleh remaja beranjak
dewasa? (Miftakhul nurul k~05)
Jawab : Karena perempuan sunda merasa malu bila tidak
dapat menari jaipong.
5 . Menceritakan apakah tari Jaipong itu?(Nurhana Dwi R~13)
Jawab : menceritakan tentang perempuan sunda yang awalnya
dikenal sebagai perempuan anggun, lugu, pemalu, tiba-tiba
menjadi berani didepan publik.
6 . Motif batik Sunda adalah?(Melodi in Gita L~04)
Jawab : motifnya adalah bunga-bunga yang memancarkan
aura kecantikan remaja.
7. Alasan mengapa tari Jaipong digunakan sebagai Hiburan?
(Putri Lestari A~17)
Jawab : Karena tari Jaipong memiliki pencipta,yaitu Gugum
Gumbira.
8. Apa setiap tari Jaipong ada penciptanya masing-masing?
(Sinta Adelia R~24)
Jawab : tentu saja setiap Jaipong ada penciptanya masing-
[Link] secara garis besar jaipong diciptakan oleh Gugum
[Link] untuk jenis jaipong lain sebenarnyahanya
dikembangkan oleh orang lain.
9. Mengapa tari Jaipong menjadi Landmark di Jawa Barat?
(pak Tutus)
Jawab : Karena pada saat itu tari Jaipong ditayangkan dimedia
sosial lewat TVRI.