0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan4 halaman

Jahe Madu Atasi ISPA pada Balita

Jurnal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan4 halaman

Jahe Madu Atasi ISPA pada Balita

Jurnal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1.

1 Latar Belakang

Pernafasan atau biasa disebut juga dengan respirasi dapat didefinisikan


sebagai sebuah proses menghirup udara yang mengandung oksigen masuk ke
dalam tubuh dan mengeluarkan karbondioksida dari paru-paru serta penggunaan
energi yang ada di dalam tubuh (Suherman & Forniaty, 2020).

Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut atau ISPA merupakan infeksi yang
menyerang tenggorokan, hidung dan paru-paru. ISPA merupakan penyakit yang
sering berada dalam daftar 10 (sepuluh) penyakit terbanyak di puskesmas maupun
di rumah sakit. Penyakit ini diawali dengan panas tenggorokan, sakit atau nyeri
pada saat menelan, pilek, batuk kering atau berdahak. Penyebab ISPA berasal dari
genus Streptococus, Staphylococus, Pneumonia, Hemovilus, Bordetella, dan
Corynebacterium. Virus penyebab ISPA adalah golongan Mikrovirus,
Adenovirus, Koronavirus, Pikomavirus, dan Herpesvirus (Umar, Sakk & Paridah,
2017).

Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) merupakan permasalahan kesehatan


global, sebab terjadi 2 juta kematian setiap tahunnya. ISPA dapat mengenai siapa
saja, baik balita, anak-anak, maupun orang dewasa. ISPA mudah terinfeksi pada
daya tahan tubuh yang rendah, seperti balita dan anak dibawah usia 5 tahun
dengan gejala ringan hingga berat. ISPA mudah menyerang tubuh manusia
apabila system imun menurun (Triola, et al, 2022).

Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah penyebab utama mordibitas


dan mortalitas penyakit menular di dunia. Angka mortalitas ISPA mencapai, 425
juta setiap tahun di dunia (Najmah, 2016). ISPA adalah salah satu penyebab
utama kunjungan pasien di puskesmas (60% -90%) dan rumah sakit (15% -30%)
(Kemenkes RI, 2018)

Berdasarkan data WHO pada tahun 2018 ada 10 penyebab utama kematian di
dunia, dikatakan bahwa dari 56,9 juta kematian yang ada diseluruh dunia 54%
diantaranya disebabkan oleh 10 penyebab kematian tersebut salah satunya adalah
infeksi pernafasan bahwa yang merupakan penyumbang kematian terbesar dari
kategori penyakit menular yaitu 3 juta kematian pada tahun 2018. Data dari
organisasi kesahatan dunia pada tahun 2018 ada kurang lebih 960.000 balita yang
meninggal dunia dan hal tersebut disebabkan oleh ISPA (World Health
Organization 2018).
Berdasarkan data yang didapatkan, angka kejadian ISPA di Puskesmas
Kairatu Barat pada anak usia 5-9 tahun dalam lima bulan terakhir berjumlah 443
anak, 215 anak berjenis kelamin laki-laki dan 228 anak berjenis kelamin
perempuan.

Batuk dan pilek adalah tanda-tanda infeksi saluran pernafasan akut yang
biasanya muncul pada anak-anak yang berusia 1 samapi 5 tahun (Azizah &
Kurniati 2020)

Tindakan penanganan terhadap kasus infeksi saluran pernafasan akut (ISPA)


secara umum bisa diklarifikasikan menjadi 4 kategori, ini mencakup pemberian
imunisasi untuk melawan mikroorganisme penyebab penyakit tertentu, diagnosis
yang lebih tepat untuk penyakit, peningkatan gizi, lingkungan, serta penggunaan
antibiotic (Reza, et al., 2020).

Berbagai upaya yang dapat dilakukan dalam mengatasi pencegahan penyakit


dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat, menjaga keadaan gizi
keluarga agar tetap baik. Memberikan Asi Eksklusif pada bayi menjaga pola
hidup bersih dan sehat membiasakan cuci tangan teratur menggunakan air dan
sabun, melakukan imunisasi pada anak, selain itu dapat juga diberikan
pengobatan tradisional dengan pemberian jahe madu pada anak (Retnaningsih &
Benggu 2020).

Pengobatan tradisional untuk mengatasi ISPA melibatkan penggunaan minum


jahe madu. Cara membuat minuman ini adalah dengan mengambil 3 ruas jahe
berukuran 3 cm mencuci jahet tanpa mengupas kulitnya, dan membakarnya
sampai warnanya menjadi hitam, setelah itu jahe dihaluskan dan direbus dengan
500 cc air hingga mendidih hingga tinggal 250 cc air jahe, kemudian disaring dan
biarkan sampai hangat, lalu dicampurkan dengan 2 sendok makan madu. Selama
5 hari anak-anak mengonsumsi minuman jahe madu ini sebanyak 250 cc, dua kali
pemberian harian pada pagi saat bangun tidur dan malam hari sebelum.
(Ramadhani et al. 2014; Suswitha, D., Arindari, D.R., Aini, L., Astuti, L., &
Saputra, A (2022).

Jahe merupakan salah satu obat herbal yang sangat efektif untuk mengatasi
batuk karena mengandung minyak atsiri yang merupakan zat aktif untuk
mengatasi batuk, sedangakan madu merupakan cairan alami yang biasanya
mempunyai citrarasa manis dan lezat, yang diproduksi lebah madu dan secara
ilmiah terbukti bermanfaat dalam pencegahan penyakit kardiovaskular, diabetes,,
peradangan, dan diare (Septiana et al., 2019). Madu juga mengandung antibiotic
yang bermanfaat untuk meredakan batuk, madu yang ditambahkan pada rebusan
jahe akan menambah citra rasa dibandingkan dengan hanya rebusan jahe itu
sendiri, sehingga kombinasi minum herbal jahe madu efektif untuk menurunkan
keparahan batuk tanpa menimbulkan efek samping (Qamariah et al. 2018).

Minuman jahe yang di campur dengan madu bisa menurunkan tingkat


keparahan ISPA pada anak-anak, karena minyak atsiri pada jahe, yang terdiri dari
komponen utama sebagai senyawa zingiberen dan zingiberol memiliki efek steril
penguat sel dan zat aktif yang dapat mengobati batuk, sedangkan madu
mengandung pinobanksine dan L-asam askorbat sebagai agen pencegah kanker
dan antimikroba yang dapat menyembuhkan beratnya penyakit yang tidak dapat
disembuhkan seperti ISPA pada anak, zat antimikroba ini mengandung inhibine
sebagai zat antimikroba yang bertanggungjawab untuk menekan perkembangan
baik gram positif dan gram negatif yang kemudian menjadi menarik karena
hydrogen poroksida (Daulay, 2021).

Hal ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Novikasari &
Sugiantoro, (2021) yang menyatakan bahwa pengobatan secara tradisional
terhadap ISPA dapat menggunakan minuman herbal jahe dan madu karena sangat
efektf dan lebih aman untuk digunakan. Penelitian ini menyatakan bahwa madu
yang diberikan pada anak dengan batuk tidak menimbulkan suatu efek samping.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemberian jahe yang dicampur madu
dengan dosis 250 cc setiap pagi setelah bangun tidur dan malam hari sebelum
tidur selama 5 hari, didapatkan data bahwa keparahan batuk pada anak seperti
batuk berdahak, pilek, rewel, dan gejala lainnya berkurang bunyi nafas vesikuler
dan juga suhu tubuh anak dalam batas normal yaitu 36,5°C.

Serupa dengan penelitian (Noer et al., 2021) menyimpulkan bahwa terdapat


kolerasi antara pemberian rebusan jahe dan madu serta perbaikan fungsi saluran
nafas pada individu yang menderita ISPA. Hasil pre test menunjukan bahwa 13
orang (52%) memiliki tingkat efektivitas kebersihan jalan nafas yang yang cukup
baik sementara 6 orang (24%) dalam kategori kurang baik. Hal ini serupa dengan
penelitian (Ana 2021) yang menunjukan bahwa sebanyak 49% responden dalam
pre test menunjukan pemahaman yang “cukup baik”. Hasil tersebut menyatakan
adanya kenaikan antara sebelum dan setelah perlakuan yang baik, dan 5 orang
(20%) mendapatkan tingkat efektivias yang kurang baik. Hasil penelitian
mengindikasikan bahwa adanya perbaikan dalam gejala batuk yang dialami pada
balita usia 1-5 tahun setelah diberikan minuman ramuan jahe dan madu memiliki
dampak yang signifikan terhadap batuk pada balita.

Berdasarkan hasil analisis di atas maka penulis ingin mengangkat judul


“Pemberian Jahe Madu Untuk Mengatasi Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif
Pada Balita Dengan Kasus ISPA di Puskesmas Kairatu Barat”

Anda mungkin juga menyukai