Tari bukanlah gerak tanpa makna.
Setiap gerak dalam tari bermakna dan memiliki motif
tertentu. Hadirnya tari dalam kehidupan manusia merupakan respon manusia terhadap
gerak kehidupan. Tari ada dalam ruang kehidupan manusia sehingga pencipataan dan
pemaknaan tari tidak boleh lepas dari ruang kebudayaannya. Gerak manusia sangat
dipengaruhi oleh faktor sosial dan kultural. Tari penuh dengan tandatanda simbolik.
Karena itu, tanda-tanda dalam gerak tari perlu dilakukan pembacaan untuk mengetahui
maknanya.
Komunikasi antar budaya adalah proses komunikasi simbolik, interpretatif,
transaksional, dan kontekstual yang dilakukan oleh sejumlah orang yang karena memiliki
perbedaan derajat kepentingan, memberikan interpretasi dan harapan secara berbeda
terhadap apa yang disampaikan dalam bentuk prilaku tertentu sebagai makna yang
diperlukan (Liliweri, 2003:12-13). Dalam suatu sistem budaya dapat ditemui empat
perangkat simbol yang masing-masing mempunyai fungsi tersendiri bagi manusia-
manusia yang bersangkutan dalam tindakan antar mereka. Keempat perangkat simbol
tersebut dikemukakan oleh Hidajat (2011: 16), yaitu:
1. Simbol-simbol konstitutif yang terbentuk sebagai kepercayaan kepercayaan dan
biasanya merupakan inti dari agama.
2. Simbol-simbol kognitif yang membentuk ilmu pengetahuan.
3. Simbol-simbol penilaian moral yang membentuk nilai-nilai dan aturan.
4. Simbol-simbol pengungkapan perasaan atau simbol-simbol ekspresif.
Dari keempat perangkat simbol makna simbol tari Lawet baik dalam bentuk gerak,
busana, dan iringan tari tersebut ke dalam simbol kognitif, simbol penilaian moral dan
simbol ekspresif.
Pengertian Simbol
Secara etimologi, simbol berasal dari kata Yunani, symbolos yang berarti
tanda atau ciri yang memberitahukan sesuatu perihal kepada seseorang atau orang
lain, (Herusatoto dalam Kusumawardani, 2003:3). Menurut Jazuli (2011: 95) teori
Interaksionisme simbolik merupakan teori yang mempelajari tentang interaksi
antar individu manusia melalui pernyataan simbol, sebab esensial interaksi
simbolik terletak pada komunikasi melalui simbol-simbol yang bermakna.
Interaksionisme simbolik meletakkan tiga landasan aktivitas manusia dalam
memahami kehidupan sosial yaitu: 1) sifat individual, 2) interaksi, 3) interpretasi.
Substansi teori ini adalah 1) manusia adalah makhluk yang bersimbol, untuk itu
manusia hidup dalam lingkungan simbol serta menanggapi hidup dengan simbol,
2) melalui simbol manusia memiliki kemampuan dalam menstimuli orang dengan
cara yang berbeda dengan stimuli orang lain tersebut, 3) melalui komunikasi
simbol dapat dipelajari arti dan nilai-nilai, 4) simbol, makna dan nilai selalu
berhubungan dengan manusia.
Salah satu kebutuhan dasar manusia dalam hidupnya adalah kebutuhan
simbol. Proses terjadinya simbol adalah apabila subjek berhadapan dengan
realitas, (Juzuli, 2012:10). Simbol ataupun makna 20 merupakan bagian
terpenting dalam kehidupan masyarakat. Simbol atau makna yang dimaksud
bukan berupa benda, wujud melaikan sebuah interaksi yang ada didalam
masyarakat tersebut menciptakan sebuah makna-makna tertentu. Simbol adalah
segala sesuatu (benda material, peristiwa, tindakan, ucapan, gerakan manusia)
yang menandai atau mewakili sesuatu yang lain atau segala sesuatu yang telah
diberi makna tertentu (Geertz dalam Triyanto 2001:20). Simbol atau lambang
memiliki bentuk dan isi atau disebut makna.
Bentuk simbol merupakan wujud lahiriah, sedangkan isi simbol
merupakan arti atau makna. Makna simbolik, makna merupakan maksud
pembicaraan, pengertian yang diberikan kepada suatu bentuk kebahasan,
(Depdikbud, 2001). Sementara simbolik adalah perihal pemakaian simbol
(lambang) untuk mengeksplorasi ide-ide misal sastra dan seni oleh, (Sugono
dalam Kusumawardani :2008 :3)
Jenis Simbol
Proses simbolik terjadi pada saat manusia menciptakan simbol dengan
cara membuat suatu kesepakatan tentang sesuatu untuk menyatakan sesuatu.
Secara etimologi, simbol berasal dari kata Yunani, symbolos yang berarti tanda
atau ciri yang memberihukan sesuatu hal kepada seseorang atau orang lain,
(Herusatoto dalam Kusumawardani: 2003: 3). Menurut Hayawaka (1949:25),
proses simbolik terdapat pada semua tingkat peradaban manusia dari yang paling
sederhana sampai yang telah maju, dari kelompok masyarakat paling bawah
sampai pada kelompok yang paling atas. Menurut Herusatoto dalam
Kusumawardani (2003:3) memakai simbol antara lain sebagai sesuatu seperti
tanda lukisan, perkataan, lencana dan sebagainya, yang mengandung
maknatertentu, misal warna putih ialah lambang kesucian, gambar padi sebagai
lambang kemakmuran. Simbol banyak digunakan dalam kesenian untuk
memberikan kedalamanarti seni, seperti juga simbol-simbol yang digerakkan
dalam tari.
Langer dalam Jazuli (2012:67) menjelaskan bahwa simbol digolongkan
menjadi dua, yaitu simbol diskursif fan simbol presentasional. Simbol diskursif
merupakan simbol tempat logika modern menganalisis pernyataan-pernyataan.
Pada prinsipnya simbol diskursif adalah ada suatu sistem atau aturan tertentu yang
tidak bisa diabaikan, yaitu suatu struktur dengan unsur yang dibangun menurut
cara tertentu sehingga aturan itu dapat dipahami maknanya. Adapun simbol
presentasional dapat dimengerti melalui intuisi karena bukan merupakan suatu
konstruksi yang bisa diuraikan ke unsur-unsurnya, melainkan merupakan satu
yang bulat dan utuh.
Tari merupakan simbol diskursif karena tari merupakan suatu sistem yang
unsur-unsurnya saling menjalin hubungan secara dialektis dan korektif. Tari juga
tergolong simbol presentasional, karena tari merupakan satu kesatuan simbol
gerak, ruang, dan waktu yang hanya bisa diamati secara keseluruhan (utuh) dari
penampakannya.
Simbol dan Tari
Menurut (Jazuli, 2012:69) Secara struktural, tari merupakan wujud
(realitas) dari kesatuan simbol gerak, ruang, dan waktu sekaligus merupakan
unsur pendukung tari. Unsur gerak, ruang, dan waktu selalu menjalin hubungan
dialektis dan korektif yaitu sebagai unsur yang selalu menjalankan fungsinya
untuk saling melengkapi.
a. Tari Sebagai Sistem Simbol
Tari sebagai hasil kebudayaan yang sarat makna dan nilai,
dapat disebut sebagai sistem simbol. Sistem simbol adalah sesuatu
yang diciptakan oleh manusia dan secara konvensional digunakan
bersama, teratur, dan benar-benar dipelajari sehingga memberi
pengertian hakikat “manusia” yaitu suatu kerangka yang penuh
dengan arti untuk mengorientasikan dirinya kepada yang lain
kepada lingkungannya dan kepada dirinya sendiri sekaligus
sebagai produk dan ketergantungannya dalam interaksi sosial,
(Sumandiyo: 2005:22-23).
Tari sebagai ekspresi manusia atau subyektivitas seniman
merupakan sistem simbol yang yang signifikan, artinya
mengandung arti dan sekaligus mengundang reaksi yang
bermacam-macam. Tari sebagai sistem simbol dapat pula dipahami
sebagai sistem penandaan, artinya kehadiran tari tak terlepas dari
beberapa aspek yang dapat dilihat secara terperinci antara lain:
geraknya, iringan, tempat, pola latai, waktu, tata pakaian, busana,
dan properti, (Sumandiyo: 2005:24).
b. Tari Sebagai Keindahan
Keindahan menjadi unsur pokok dalam membicarakan
masalah seni, walaupun beberapa ilmuwan maupun seniman
kadang kala sudah tidak perlu membicarakan lagi unsur keindahan
itu. Keindahan seolaholah mutlak harus ada dalam seni termasuk
seni tari. Seni tari selau dihubung-hubungkan dengan unsur
keindahan, (Hadi:2005:14). Menurut Hadi (2005:15) tari klasik
Jawa mengandung makna bahwa keindahan tari tidak hanya
keselarasan gerakan-gerakan badan dengan iringan musik gamelan,
tetapi seluruh ekspresi itu harus mengandung maksud-maksud isi
tari yan dibawakan. Dengan demikian yang dimaksud Keindahan
seni tari ternyata harus mengandung isi, makna atau pesan tertentu.
c. Tari Sebagai Sarana Komunikasi
Penciptaan seni tari banyak orang mengatakan bahwa pada
tahap yang paling awal seni itu adalah satu dari berbagai cara
untuk melukiskan dan mengkomunikasikan sesuatu. Pada
hakikatnya semua seni termasuk tari bermaksud untuk
dikomunikasikan, (Hadi:2005:20). Tari sebagai komunikasi adalah
salah satu peran tari selain sebagi media ekspresi, media berfikir
kratif dan media mengembangkan bakat. Seni merupakan alat
komunikasi yang halus sebab simbolis yang terkandung dalam
karya seni yang bersangkutan sehingga dalam seni dituntut lebih
banyak persyaratan untuk dapat mengungkapkan misi yang akan
disampaikan.