menurut Depkes RI (2007), kegiatan pengendalian vektor dengan pengasapan
atau fogging fokus dilakukan di rumah penderita/tersangka DBD dan lokasi
sekitarnya yang diperkirakan menjadi sumber penularan. Fogging (pengabutan
dengan insektisida) dilakukan bila hasil PE positif, yaitu ditemukan
penderita/tersangka DBD lainnya atau ditemukan tiga atau lebih penderita panas
tanpa sebab dan ditemukan jentik > 5 %. Fogging dilaksanakan dalam radius 200
meter dan dilakukan dua siklus dengan interval + 1 minggu.
Sedangkan prosedur dan tata laksana pelaksanaan pengasapan atau fogging
antara lain sebagai berikut :
Sebagai langkah awal pengasapan/fogging dalam suatu area tertentu, dengan
membuat gambaran atau memetakan area yang disemprot. Area yang
tercakup sedikitnya berjarak 200 meter di dalam radius rumah yang
terindikasi sebagai lokasi dengue. Kemudian dilakukan peringatan kepada
warga terlebih dahulu untuk keluar ruamh dengan terlebih dahulu menutup
makanan atau mengeluarkan piaraan.
Berbagai bahan insektisida yang dipergunakan dalam pelaksanaan
operasional fogging fokus adalah golongan sintentik piretroit dengan dosis
penggunaan 100 ml/Ha. Semaentara perbandingan campuran 100 ml : 10 liter
solar.
Sasaran fogging adalah semua ruangan baik dalam bangunan rumah maupun
di luar bangunan (halaman/pekarangan), karena obyek sasaran adalah
nyamuk yang terbang. Sifat kerja dari fogging adalah knock down effect yang
artinya setelah nyamuk kontak dengan partikel (droplet) isektisida
diharapkan mati setelah 24 jam.
Terdapat dua macam peralatan yang digunakan untuk pengasapan atau
fogging antara lain mesin fog dan ULV (Ultra Low Volume). Mesin fog
dipergunakan untuk keperluan operasional fogging dari rumah ke rumah (door
to door operation). Untuk keperluan ini dipergunakan swing fog machine SN
11, KeRF fog machine, pulls fog dan dina fog. Beberapa jenis peralatan ini
mempunyai prinsip kerja yang sama yakni menghasilkan fog (kabut) racun
serangga sebagai hasil kerja semburan gas pembakaran yang memecah
larutan racun serangga (bahan kimia yang digunakan), menjadi droplet yang
sangat halus dan berwujud sebagai fog. Rata-rata alokasi waktu yang
diperlukan dengan penggunaan peralatan ini adalah 2-3 menit untuk setiap
rumah dan halamannya. Sementara Ultra Low Volume (ULV) menghasilkan
cold fog. hasil ini didaptkan dengan mekanisme terjadinya tekanan mekanik
biasa terhadap racun serangga melewati system nozzle. Dengan alat ini
droplet racun serangga yang dihasilkan jauh lebih halus daripada fog biasa.
ULV sangat cocok dipergunakan pada area out door atau luar ruangan.
Menurut Depkes RI (2005), untuk membatasi penularan virus dengue
dilakukan dua siklus pengasapan atau penyemprotan, dengan interval satu
minggu. Penentuan siklus ini dengan asumsi, bahwa pada penyemprotan
siklus pertama semua nyamuk yang mengandung virus dengue atau nyamuk
infektif, dan nyamuk-nyamuk lainnya akan mati. Kemudian akan segera
diikuti dengan munculnya nyamuk baru yang akan mengisap darah penderita
viremia yang masih ada yang berpotensi menimbulkan terjadinya penularan
kembali, sehingga perlu dilakukan penyemprotan siklus kedua. Penyemprotan
yang kedua dilakukan satu minggu sesudah penyemprotan yang pertama,
agar nyamuk baru yang infektif tersebut akan terbasmi sebelum sempat
menularkan pada orang lain.
Sedangkan persyaratan waktu penyemprotan menurut WHO (2003) sebagai
berikut :
Kondisi yang Kondisi Kondisi yang
Paling baik rata-rata tidak baik
Waktu Pagi hari Pagi sampai tengah Pertengahan pagi
(06.30-08.30) hari atau sore hari, awal sampai
malam hari pertengahan sore hari
Kecepatan Tetap 0-3 km/jam Medium sampai
angin (3-13 km/jam) kuat, diatas 13 km/jam
Hujan Tidak ada hujan Gerimis kecil Hujan lebat
Suhu udara Dingin Sedang Panas
Dalam pelaksanaannya, kegiatan fogging dilakukan minimal oleh dua orang
petugas, dengan perhitungan setiap hari dapat menyelesaikan 30-40 rumah (1-
1,5 Ha).
Beberapa dasar hukum pelaksanaan fogging antara lain
1. Kepmenkes No.581/MENKES/SK/VII/1992 Tentang Pemberantasan Penyakit
Demam Berdarah Dengue
2. Kepmenkes No 92 Tahun 1994 Tentang Perubahan Atas Lampiran Keputusan
Menteri Kesehatan RI No 581/MENKES/SK/VII/1992 Tentang Pemberantasan
Penyakit Demam Berdarah Dengue
3. Kepmendagri No 31- VI Tahun 1994 Tentang Pembentukan Kelompok Kerja
Operasional Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue (POKJANAL
DBD) Tim Pembina LKMD Tingkat Pusat
Sebelum dilakukan tindakan fogging, terdapat beberapa persyaratan yang harus
dipenuhi, yaitu:
1. Persyaratan Administratif, antara lain:
Terdapat penderita Positif DBD
Terdapat Kematian Akibat DBD
Harus dilaksanakan Penyelidikan Epidemiologi ( PE ) dengan memeriksa
jentik dengan rdius 100 meter dari rumah penderita ( kurang lebih 20
rumah /bangunan secara acak )
Ditemukan lebih dari 3 orang tersangka DBD
Ditemukan Jentik > 5% atau ABJ < 95%
[Link] Teknis
Tersedianya Alat Mesin Fogg / ULV ( Ultra Low Volume )
Pelaksana Petugas Dinas Kesehatan Kabupaten dan tenaga Lain yang telah
dilatih
Lokasi meliputi seluruh wilayah terjangkit dengan radius 200 meter dari
penderita
Sasaran Fogging rumah dan Tempat-tempat Umum
Dosis Insektisida sesuai dosis
Cara Fogging / ULV dilaksanakan 2 Siklus dengan Interval 1 minggu
Waktu yang dibutuhkan untuk pelaksanaan Fogging untuk 1 Siklus kurang lebih 3
jam, Sedangkan prosedur pelayanan fogging mengikuti tahapan sebagai berikut:
1. Penderita DBD
2. Penyelidikan Epidemiologi ( PE ), merupakan pencarian penderita atau
tersangka DBD lainnya dan pemeriksaan jentik dilokasi tempat tinggal
penderita dan rumah bangunan lainnya dengan radius 100 m ( kurang lebih 20
rumah/bangunan secara acak )
3. Ditemukan 1 atau lebih penderita DBD lainnya dan / atau > 3 orang tersangka
DBD, dan ditemukan jentik ( > 5 % )
Hasil akhir pelaksanaan Fogging yang diterima oleh masyarakat berupa
terbebasnya dari gigitan nyamuk dewasa penyebab demam berdarah dengue
sehingga mengurangi penularan DBD dan tidak meluas ke wilayah lainnya
Kompetensi petugas fogging
Jumlah Petugas yang dibutuhkan pada pelaksanaan Fogging sedikitnya 5
Orang yang meliputi 1 orang Supervisor dan 4 orang petugas Fogging
Petugas pelaksana harus sudah mengikuti Pelatihan / on the job trining
Operasional Mesin Fogg yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan
Kabupaten / Propinsi
Klasifikasi Pendidikan Petugas Pelaksana Fogging minimal SD/Sederajat.
Sarana Dan Prasarana Fogging
Sarana dan prasarana fogging antara lain:
1. 1 buah kendaraan roda 4 untuk mengangkut petugas, alat, bahan ke lokasi
2. 1 buah megaphone untuk menyampaikan pesan-pesan pada masyarakat
3. 1 set perlengkapan operasional yang terdiri dari : Baju lengan panjang ( katle
pack ); Masker pelindung,; Topi lapangan; Sarung tangan; Sepatu Lapangan
4. Insektisida untuk 2 siklus fogging
5. 1 Set bahan pembantu operasional yang terdiri dari : 3 Buah jerigen 20 lt
untuk solar yang digunakan hari itu; 2 buah jerigen 5 lt untuk cadangan
premum; 1 buah jrigen 2 lt untuk cadangn insektisida; 8 buah baterai untuk 2
unit mesin fogging; 2 buah corong besar bersaring; 2 buah corong kecil
bersaring; 4 lembar kain lap
Selain hal diatas, harus dicantumkan pula informasi fogging dan pelayanan
pengaduan masyarakat. Juga ada kepastian jaminan pelayanan misalnya jika
fogging yang dilaksanakan tidak sesuai dengan standar akan dilakukan fogging
ulang atau pengembalian dana