BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Kerangka Konseptual
a. Konsep Motivasi Kerja
Motivasi merupakan sebuah dorongan untuk melakukan
aktivitas guna memperoleh atau mencapai tujuan. Motivasi terbentuk
dari sikap seorang pegawai dalam menghadapi situasi kerja yang
menggerakkan dirinya secara terarah untuk mencapai tujuan kerjanya
dalam rangka pencapaian organisasi. Menurut Fremonte Kast dan
James E. Rosenzweig dalam Badrudin (2013 : 191) menyatakan bahwa
“motivasi merupakan sesuatu hal yang membuat seseorang bertindak
cepat atau paling tidak memperkuat kecenderungan akan tingkah laku
yang lebih khusus pada waktu tertentu”. Selanjutnya menurut Handoko
(2013 : 250) menyatakan bahwa “motivasi kerja adalah keadaan dalam
pribadi seseorang mendorong keinginan individu untuk melakukan
kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai tujuan”. Sedangkan menurut
Stefan Ivanko (2012:70) mendefinisikan motivasi sebagai keinginan
dan energi seseorang yang diarahkan untuk pencapaian suatu tujuan.
Menurut Sutrisno (2015 : 109) menyatakan bahwa “motivasi
adalah suatu faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan
sesuatu aktivitas tertentu, oleh karena itu motivasi seringkali diartikan
pula sebagai pendorong perilaku seseorang”. Kemudian Hasibuan
(2014: 141) “motivasi adalah hal yang menyebabkan, menyalurkan dan
mendukung perilaku manusia, supaya mau bekerja giat agar dapat
mencapai hasil yang optimal”. Dan menurut Rivai (2013 : 837)
“motivasi merupakan serangkaian sikap dan nilai-nilai yang
mempengaruhi individu untuk mencapai hal yang spesifik sesuai
dengan tujuan individu”.
Berdasarkan beberapa teori tentang motivasi yang dikemukakan
para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah
sesuatu dorongan dalam diri individu, untuk bekerja lebih efektif dan
efisien dalam mencapai tujuan organisasi.
b. Konsep Kinerja Pegawai
Kinerja dalam bahasa latin berasal dari kata Job performance
atau performance yang mempunyai arti prestasi kerja atau prestasi
sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang (Mangkunegara dalam
Asriyanto, 2013 : 13). Menurut Pattysahusiwa (2013 : 83) mengatakan
bahwa “kinerja merupakan hasil dari kegiatan kerjasama diantara
anggota atau komponen organisasi dalam rangka mewujudkan tujuan
organisasi”. Sedangkan Menurut Amstrong dalam Duha (2014 : 223)
mengatakan bahwa “kinerja pegawai merupakan hasil pekerjaan yang
mempunyai hubungan kuat dengan tujuan strategis, kepuasan
konsumen, dan memberikan kontribusi ekonomi”.
Selanjutnya Menurut Duha (2014 : 215) “kinerja sebagai cara
atau kemampuann individu dalam bekerja untuk dapat memberikan
hasil yang memuaskan di tempatnya bekerja dalam satu paket atau
bagian pekerjaan tertentu atau pada suatu periode waktu tertentu”.
Menurut Mathis dan Jackson (2012 : 18) menyatakan bahwa kinerja
adalah hal-hal yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh pegawai dalam
mengembangkan pekerjaannya. Kemudian Menurut Miner dalam Duha
(2014 : 223) “kinerja pegawai adalah bagaimana seseorang diharapkan
dapat berfungsi dan berperilaku sesuai dengan tugas yang telah
dibebankan kepadanya. Setiap harapan mengenai bagaimana seseorang
harus berperilaku dalam melaksanakan tugas, berarti menunjukkan
suatu peran dalam organisasi.
Berdasarkan pendapat para ahli diatas, maka dapat di simpulkan
bahwa kinerja pegawai tersebut menunjukkan bobot kemampuan
individu dalam memenuhi ketentuan-ketentuan yang ada dalam
pekerjaannya.
2. Kerangka Teoritis
a. Pengaruh Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Pegawai
Motivasi merupakan proses pemberian motif (penggerak) bekerja
kepada para pegawai sehingga mereka mau bekerja demi tercapainya
tujuan organisasi secara efektif dan efesien. Menurut Hasibuan dalam
Harri (2013 : 29) menyatakan bahwa “seseorang yang cenderung
bekerja dengan penuh motivasi akan menghasilkan kinerja yang
optimal”. Menurut Subroto (2018) mengatakan bahwa “pimpinan perlu
membangkitkan motivasi kerja para karyawannya, sehingga kinerja
karyawan akan semakin meningkat, karena jika motivasi meningkat,
maka dengan sendirinya akan meningkatkan kinerja karyawan”.
Menurut (Barsah, 2019) bahwa motivasi sebagai sesuatu yang ada
pada diri seseorang yang dapat mendorong, mengaktifkan,
menggerakkan dan mengarahkan perilaku seseorang. Dengan kata lain
motivasi itu ada dalam diri seseorang dalam wujud niat, harapan,
keinginan dan tujuan yang ingin dicapai. Implikasi dari hasil penelitian
ini adalah motivasi yang tinggi mampu meningkatkan kinerja. Motivasi
merupakan suatu kekuatan potensial yang ada dalam diri seorang
manusia, yang dapat di kembangkannya sendiri atau di kembangkan
oleh sejumlah kekuatan luar, dalam meningkatkan motivasi kerja
ditumbuhkan melalui pemenuhan kebutukan dalam diri mulai dari yang
paling dasar sampai pada tingkatan tertinggi yaitu kebutuhan fisiologis,
kebutuhan memperoleh rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan
memperoleh harga diri, dan kebutuhan aktualisasi diri.
Berdasarkan pendapat para ahli diatas, peneliti menyimpulkan
pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja pegawai adalah dari dalam
diri manusia dan dari luar diri manusia.
b. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Kerja
Dalam upaya untuk meningkatkan motivasi kerja seseorang
dalam melakukan pekerjaannya ada beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi dengan munculnya motivasi kerja seseorang. Menurut
Mulyadi (2015) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
motivasi kerja yaitu : faktor intern dan ekstern.
Faktor intern dalam motivasi yaitu :
1. Keinginan untuk hidup
Untuk mempertahankan hidupnya karyawan mau
melakukan apa saja, apakah pekerjaan tersebut baik atau
buruk, halal atau haram dan sebagainya.
2. keinginan untuk memperoleh penghargaan
keinginan untuk memperoleh penghargaan meliputi adanya
penghargaan terhadap prestasi, adanya hubungan kerja yang
harmonis dan kompak, pimpinan yang adil dan bijaksana
serat pekerjaan tempat bekerja dihargai oleh masyarakat.
3. Keinginan untuk berkuasa
Karyawan akan merasa puas bila dalam pekerjaan terdapat
hak otonomi, variasi dalam melakukan pekerjaan,
kesempatan untuk memberikan sumbangan pemikiran dan
kesempatan untuk memperoleh umpan balik tentang hasil
pekerjaan yang telah diselesaikan.
Faktor ekstern dalam motivasi yaitu :
1. Kondisi lingkungan kerja
2. Kompensasi yang memadai
3. Supervise yang baik
4. Adanya jaminan pekerjaan
5. Status dan tanggung jawab
6. Peraturan yang fleksibel
Menurut fredick hezberg, dkk (wirawan, 2013)
mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
motivasi kerja yaitu :
1. Faktor motivasi
Faktor yang ada dalam pekerjaan, faktor inilah yang
dapat menimbulkan kepuasan kerja dan kemauan untuk
bekerja lebih keras. Faktor ini akan mendorong lebih
banyak upaya.
2. Faktor penyehat
Faktor ini disebut penyehat karena berfungsi mencegah
terjadinya ketidakpuasan kerja, faktor penyehat adalah
faktor yang jumlahnya mencukupi faktor motivator.
Jika jumlah faktor pemelihara tidak mencukupi akan
menimbulkan ketidak puasaan kerja. Jadi faktor
pemelihara tidak menciptakan kepuasan kerja akan
tetapi dapat mencegah terjadinya ketidak puasan kerja.
c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Pegawai
Kinerja merupakan hasil yang diberikan oleh pegawai untuk
memberikan ukuran terhadap organisasi dalam meningkatkan
kemampuan pegawai, sehingga dapat mencapai tujuan atau target yang
telah yang telah ditentukan. Kinerja pegawai dapat dilihat meningkat
atau tidaknya yang di pengaruhi oleh beberapa faktor yang dijadikan
sebagai penunjang dalam sebuah organisasi.
Menurut Duha (2014 : 223) Ada beberapa faktor-faktor yang
mempengaruhi kinerja, antara lain sebagai berikut :
1. Proses penyaluran tanggung jawab
Proses penyaluran tanggung jawab adalah adanya
pelimpahan tugas, kewajiban, wewenang, kekuasaan, dan
pengaruh dari atasan kepada pihak yang berada dibawahnya.
2. Hubungan positif yang kuat
Kesalahan pemahaman, perdebatan, konflik, sekecil apapun
pasti akan terjadi di dalam organisasi.
3. Penguasaan materi kerja
Penguasaan materi kerja, tentu saja menjadi salah satu faktor
penting yang menpengaruhi kinerja individu.
4. Harapan
Harapan yang dimiliki individu, menunjukkan bahwa kalau
sebenanya individu juga berkeinginan agar tetap memiliki
kinerja sebab adanya kinerja, maka individu akan
mendapatkan manfaat dari kinerja yang dimilikinya
tersebut.
5. Kesempatan untuk bertumbuh
Setelah individu dapat mewujudkan harapan-harapannya
terhadap pekerjaan yang telah di kerjakannya.
6. Kecintaan pada pekerjaan
Individu tidak akan berpaling kemana-mana.
7. Lingkungan kerja
Pandangan dan pemandangan akan keadaan dimana individu
mengabdikan dirinya bekerja adalah hal dasar yang dimiliki
individu untuk menyatu dengan apapun situasi dan kondisi
di dalam organisasi.
Menurut Mathis dan Jackson (2012) terdapat berbagai
faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai, yakni :
1. Kemampuan Individual
Mencakup bakat, minat, dan faktor kepribadian. Tingkat
keterampilan merupakan bahan mentah yang dimiliki
oleh seseorang berupa pengetahuan, pemahaman,
kemampuan kecakapan interpersonal, dan kecakapan
teknis. Dengan demikian, kemungkinan seorang
pegawai mempunyai kinerja yang baik, jika kinerja
pegawai tersebut memiliki tingkat keterampilan baik,
pegawai tersebut akan menghasilkan yang baik pula.
2. Usaha yang dicurahkan
Usaha yang dicurahkan bagi pegawai adalah ketika
kerja, kehadiran, dan motivasinya. Tingkat usahanya
merupakan gambaran motivasi yang di perlihatkan
pegawai untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik.
Oleh karena itu, jika pegawai memiliki tingkat
keterampilan untuk mengerjakan pekerjaan, ia tidak
akan bekerja dengan baik jika hanya sedikit upaya.
3. Lingkungan organisasional
Dilingkungan organisasional, perusahaan menyediakan
fasilitas bagi pegawai yang meliputi pelatihan dan
pengembangan, peralatan, teknologi, dan manajemen.
3. Pengukuran Variabel Penelitian
a. Indikator Motivasi Kerja
Memotivasi pegawai adalah upaya pimpinan atau
organisasi berupa dorongan agar para pegawai berupaya untuk
bekerja keras. Upaya tersebut dapat menghasilkan kinerja yang
tinggi. Menurut Kreitner dan Kinicki dalam Kristiani dkk (2013)
mengatakan bahwa indikator-indikator motivasi kerja yaitu :
1. Menetapkan tujuan
2. Memperhatikan keberhasilan
3. Menyelesaikan tugas tepat waktu
4. Kedisiplinan terhadap waktu
5. Pemanfaatan waktu yang maksimal dan peran serta
dalam organisasi
Menurut (Puspitasari, 2014) menyatakan bahwa
indikator-indikator untuk mengukur motivasi kerja
yaitu:
1. Dorongan mencapai tujuan
Seseorang yang mempunyai motivasi kerja yang
tinggi maka dalam dirinya mempunyai dorongan
yang kuat untuk mencapai kinerja yang
maksimal, yang nantinya akan berpengaruh
terhadap tujuan dari suatu perusahaan atau
instansi.
2. Semangat kerja
Semangat kerja sebagai keadaan psikologis yang
baik apabila semangat kerja tersebut
menimbulkan kesenangan yang mendorong
seseorang untuk bekerja lebih giat dan lebih baik
serta konsekuen dalam mencapai tujuan yang
ditetapkan oleh perusahaan atau instansi.
3. Inisiatif dan kreatifitas
Inisiatif diartikan sebagai kekuatan atau
kemampuan seorang karyawan untuk memulai
atau meneruskan suatu pekerjaan dengan penuh
energy tanpa ada dorongan dari orang lain atau
atas kehendak sendiri, sedangkan kreatifitas
adalah kemampuan seorang karyawan untuk
menemukan hubungan-hubungan baru dan
membuat kombinasi yang baru sehingga dapat
menemukan sesuatu yang baru.
4. Rasa tanggung jawab
Sikap individu karyawan yang mempunyai
motivasi kerja yang baik harus mempunyai rasa
tanggung jawab terhadap pekerjaan yang mereka
lakukan sehingga pekerjaan tersebut mampu
diselesaikan tepat waktu.
Selanjutnya menurut Mc. Clelland dalam
Melayu S.P Hasibuan (2013 : 162) mengatakan bahwa
indikator motivasi kerja sebagai berikut :
1. Kebutuhan akan prestasi
Daya penggerak yang memotivasi semangat
bekerja seseorang. Oleh karna itu, akan
mendorong seseorang untuk mengembangan
kreativitas dan mengarahkan semua
kemampuan serta energy yang dimilikinya
demi mencapai prestasi kerja yang maksimal.
2. Kebutuhan akan afiliasi
Menjadi daya penggerak yang akan
memotivasi semangat bekerja karyawan
karena setiap orang menginginkan hal-hal :
kebutuhan akan perasaan diterima oleh orang
lain yang dilingkungannya tinggal dan
bekerja.
3. Kebutuhan akan kekuasaan
Daya penggerak yang memotivasi semangat
kerja karyawan. Akan merangsang dan
memotivasi gairah kerja karyawan serta
menggerakkan semua kemampuannya demi
mencapai kekuasaan atau kedudukan yang
terbaik.
Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa motivasi merupakan suatu kondisi yang
menggerakkan manusia kearah suatu tujuan tertentu.
b. Indikator kinerja pegawai
Indikator motivasi adalah ukuran kuantitatif atau kualitatif
yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau
tujuan yang telah diharapkan, indikator kinerja harus merupakan
sesuatu yang dapat dihitung dan diukur serta digunakan sebagai
dasar untuk menilai atau melihat tingkat kinerja. Menurut Robert
dan John dalam Ginanjar (2013 : 23) indikator kinerja antara lain
sebagai berikut :
1. Kuantitas dari hasil
Jumlah yang harus diselesaikan atau dicapai. Ini
berkaitan dengan jumlah keluaran yang dihasilkan.
2. Kualitas dari hasil
Mutu yang harus dihasilkan (baik tidaknya),
pengukuran kualitatif keluaran mencerminkan
pengukuran tingkat kepuasan, yaitu seberapa baik
penyelesaiannya. Ini berkaitan dengan keluaran.
3. Ketepatan waktu dari hasil
Sesuai tidaknya dengan waktu yang direncanakan.
Pengukuran ketepatan waktu merupakan jenis
khusus dari pengukuran kuantitatif yang menentukan
ketepatan waktu penyelesaian suatu kegiatan.
4. Kehadiran
Ada tidaknya karyawan di dalam kantor ketika
memasuki jam-jam kerja.
5. Kemampuan bekerja sama
Kemampuan karyawan melakukan kegiatan
bersama-sama dengan karyawan lain dalam suatu
kegiatan yang tidak dapat di kerjakan oleh
perorangan.
Pengukuran kinerja pegawai, Menurut Mangkunegara
dalam Nurcahyati dkk (2016) menyatakan bahwa indikator
kinerja yaitu :
1. Kualitas
Kualitas kerja adalah seberapa baik seorang pegawai
mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan.
2. Kuantitas
Kuantitas kerja adalah seberapa lama seorang
pegawai bekerja dalam satu harinya. Kuantitas ini
dapat dilihat dari kecepatan kerja setiap pegawai itu
masing-masing.
3. Pelaksana tugas
Pelaksana tugas adalah seberapa jauh pegawai
mampu melakukan pekerjaannya dengan akurat atau
tidak ada kesalahan.
4. Tanggung jawab
Tanggung jawab terhadap pekerjaan adalah
kesadaran akan kewajiban pegawai untuk
melaksanakan pekerjaan yang diberikan organisasi.
Selanjutnya, Menurut Duha (2014 : 242) menguraikan
aspek yang dijadikan dasar untuk mengukur kinerja
(indikator kinerja), antara lain :
1. Kemandirian
Untuk mengetahui sejauh mana individu bisa bekerja
optimal dan ahli dibidangnya.
2. Frekuensi keterlibatan
Untuk mengetahui lama atau cepat, banyak atau
sedikit individu maupun menyesuaikan diri dan
bersama untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang
membutuhkan kebersamaan didalam bekerja.
3. Kontribusi
Untuk mengetahui apakah individu mampu
memberikan bukti nyata pekerjaannya didalam
organisasi.
4. Tingkat akurasi kerja
Untuk mengetahui apakah individu mampu bekerja
dengan baik dengan menilai apakah individu
sanggup bekerja dengan cepat dan dapat mencapai
target kerja dengan meminimumkan penggunaan
waktu.
5. Dampak hasil kerja
Untuk mengetahui apakah individu telah bekerja
dengan baik dan hasil pekerjaan yang telah
diselesaikan memberikan dampak atau pengaruh
yang cukup besar.
6. Pro regulasi
Untuk mengetahui, sejauh mana individu dalam
bekerja telah menaati aturan-aturan yang telah
ditetapkan.
7. Memutar arah
Untuk mengetahui sejauh mana kesadaran individu
untuk menyadari kelalaian dan kesalahan tugas-tugas
yang dilakukan sebelumnya.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa aspek
kinerja pegawai tidak hanya menilai secara fisik, tetapi
pelaksanaan pekerjaan secara keseluruhan menyangkut berbagai
bidang seperti kemampuan individual, usaha yang di tingkatkan,
dan dukungan organisasional. Hal ini menjadi tolak ukur dalam
mencapai tujuan organisasi apabila dilaksanakan dengan baik.
B. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu yang dilakukan Asri Wulandari (2020) dengan
judul “ Pengaruh Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Pada Pegawai Puskesmas”.
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh penjelasan eksplanatif tentang
pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja pegawai pada puskesmas seririt III.
Penelitian ini menggunakan metode analisis regresi linier sederhana. Populasi
dalam penelitian ini adalah seluruh pegawai puskesmas seririt III yang
berjumlah 32 orang. Berdasarkan hasil dari penelitian ini bahwa motivasi kerja
berpengaruh terhadap kinerja pegawai pada puskemas seririt III. Pegawai yang
memiliki motivasi kerja yang tinggi akan cenderung berkinerja dengan lebih
baik dibanding dengan pegawai yang memiliki motivasi yang rendah. Jadi
dapat disimpulkan bahwa, jika motivasi kerja pegawai rendah, kegairahan
ataupun ketekunan pegawai dalam bekerja juga akan mengalami penurunan
dimana hal tersebut dapat menurunkan kinerja, sebaliknya jika motivasi kerja
pegawai tinggi, pegawai cenderung lebih bersemangat dan tekun dalam
melakukan pekerjaannya sehingga kinerja pegawai mengalami peningkatan.
Amaliasyarah ( 2016 ) dengan berjudul “ Pengaruh Motivasi Kerja
Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. Gramedia Asri Media Cabang Emerald
Bintang”. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis
motivasi kerja karyawan dan kinerja karyawan serta pengaruhnya pada PT.
Gramedia Asri Media Cabang Emerald Bintaro. Penelitian ini menggunakan
metode kuantitatif dan studi kausal. Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh karyawan Gramedia Emerald Bintaro yang berhubungan langsung
dengan konsumen yang berjumlah 51 orang. Berdasarkan hasil dari penelitian
ini bahwa motivasi kerja berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja
karyawan PT. Gramedia Asri Media Cabang Emerald Bintaro. Besarnya
pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja sebesar 40,44%. Jadi dapat
disimpulkan bahwa manajer atau karyawan yang mempunyai motivasi
berprestasi yang tinggi cenderung memiliki prestasi kerja tinggi, dan
sebaliknya mereka yang prestasi kerjanya rendah dimungkinkan karena
motivasi berprestasinya rendah.
Sudirman ( 2021 ) dengan berjudul “ Pengaruh Motivasi Kerja
Terhadap Kinerja Pegawai Dinas Kesehatan Kota Parepare”. Tujuan dari
penelitian ini untuk mengetahui pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja
pegawai Dinas Kesehatan Kota Parepare. Penelitian ini menggunakan metode
analitik dengan rancangan cross sectional study dimana penelitian
menganalisis pengaruh antar variabel dependen dan independen untuk
memgetahui pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja pegawai tenaga dinas
kesehatan kota parepare. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh tenaga
kesehatan kota parepare yaitu sebanyak 63 pegawai dengan teknik
pengambilan sampel menggunakan total sampling. Berdasarkan hasil dari
penelitian ini bahwa menunjukkan ada tidaknya pengaruh motivasi kerja
terhadap kinerja pegawai dinas kesehatan kota parepare menunjukkan hasil
penelitian pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja pegawai bahwa dari 54
pegawai yang memiliki motivasi kerja yang baik, 52 orang (82,5%) memiliki
kinerja yang baik dan 2 orang (3,2%) memiliki kinerja yang kurang baik.
Sedangkan dari 9 pegawai yang memiliki motivasi keja yang kurang baik
terdapat 5 orang (7,9%) memiliki kinerja yang baik dan 4 orang (6,3%)
memiliki kinerja yang kurang baik. Jadi dapat disimpulkan bahwa terdapatnya
pengaruh positif dan signifikan antar motivasi kerja terhadap kinerja pegawai
pada penelitian ini dikarenakan semakin tinggi motivasi yang dimiliki pegawai
maka kinerja pegawai akan meningkat.
Endang Mahpudin ( 2018 ) dengan berjudul “ Pengaruh Motivasi Kerja
Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. Bank Central Asia, Tbk Cabang
Karawang”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh
motivasi kerja terhadap kinerja karyawan pada pt. bank central asia, tbk cabang
karawang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang bersifat
obyektif dan ilmiah. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan PT.
Bank Central Asia Cabang Karawang yang berjumlah 30 orang. Hasil dari
penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi kerja berpengaruh yang positif dan
signifikan terhadap kinerja karyawan karena nilai t hitung ( 8.837 ) > t tabel(1,697 ),
maka H0 ditolak, artinya terdapat hubungan yang signifikan antara variabel
motivasi kerja ( x ) dengan variabel kinerja karyawan ( y ).
Rida Nadia ( 2020 ) dengan berjudul “ Pengaruh Motivasi Kerja
Terhadap Kinerja Pegawai Billing Manajemen PT. Haleyora Power ULP
Sukabumi”. Tujuan dari penelitian ini adalah seberapa besar pengaruh motivasi
kerja terhadap kinerja pegawai di PT. haleyora power ULP sukabumi kota.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif asosiatif. Sedangkan sampel
teknik yang digunakan adalah teknik sensus atau sampling total, adalah teknik
pengambilan sampel dimana seluruh anggota populasi dijadikan sampel semua
sebesar 65 orang. Berdasarkan hasil dari penelitian ini adalah pengaruh
motivasi kerja terhadap kinerja pegawai billing manajemen di PT. Haleyora
Power ULP sukabumi kota dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja memilki
hubungan dengan kinerja pegawai Billing Manajemen di PT. Haleyora Power
ULP sukabumi kota. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil analisis korelasi yang
menghasilkan nilai koefisien korelasi sebesar 0,764 dan berdasarkan tingkat
hubungannya berada pada kategori kuat dan dilihat dari hasil koefisien
determinasi yang menghasilkan nilai R Sguare sebasar 0,584 atau 58,4%
menunjukkan bahwa kinerja pegawai billing manajemen di PT. haleyora power
ULP sukabumi kota 58,4% dipengaruhi oleh motivasi kerja.
C. Kerangka Berpikir
Kinerja merupakan hasil kerja pegawai dalam melaksanakan suatu
kegiatan organisasi yang telah dibebankan kepadanya. Dalam penelitian
proposal ini dapat dijelaskan kerangka berpikir yaitu untuk mengetahui
pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja pegawai, sehingga dapat dilihat
digambarkan sebagai berikut :
Gambar 1
Kerangka Berpikir
Motivasi Kerja Kinerja Pegawai
X Y
Sumber : Olahan penulis 2023
Keterangan
Motivasi Kerja : Variabel yang mempengaruhi (X)
Kinerja : Variabel yang dipengaruhi (Y)
D. Hipotesis Penelitian
Hipotesis penelitian ini adalah ada pengaruh motivasi kerja terhadap
kinerja pegawai di Kantor Camat Fanayama Kabupaten Nias Selatan.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah
penelitian kuantitatif. Kuantitatif adalah penelitian ilmiah yang sistematis
terhadap bagian-bagian dan fenomena serta kualitas hubungan-
hubungannya. Tujuan penelitian kuantitatif adalah mengembangkan dan
menggunakan model-model matematis, teori-teori atau hipotesis yang
berkaitan dengan fenomena alam. Jenis penelitian kuantitatif adalah sebuah
penyelidikan tentang masalah sosial berdasarkan pada pengujian sebuah
teori yang terdiri dari variabel-variabel, diukur dengan angka, dan
dianalisis dengan prosedur statistik untuk menentukan apakah generalisasi
prediktif tersebut benar. Penelitian kuantitatif yang bersifat asosiatif
merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh ataupun
juga hubungan antara dua variabel atau lebih.
B. Populasi dan Sampel
1. Populasi