100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
16 tayangan36 halaman

Anggaran Dasar Yayasan Pontia Dharma Karya

4

Diunggah oleh

Rwin Wind
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
16 tayangan36 halaman

Anggaran Dasar Yayasan Pontia Dharma Karya

4

Diunggah oleh

Rwin Wind
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA

NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN

Pasal 1

Yayasan ini bernama YAYASAN "PONTIA DHARMA KARYA SAMBAS"


Berkedudukan dan berkantor pusat :

Jalan : Jln. Raya Rantau Panjang

Kelurahan : Rantau Panjang

Kecamatan : Sebawi

Kabupaten : Sambas

Propinsi : Kalimantan Barat

(Selanjutnya Dalarn akta ini akan disebut juga "YAYASAN") Yayasan dapat
membuka kantor cabang atau kantor perwakilan di tempat lain, baik didalam
maupun diluar wilayah Republik Indonesia berdasarkan keputusan pengurus
dengan persetujuan tertulis terlebih dahulu dari Rapat Pembina.

MAKSUD DAN TUJUAN

Pasal 2

Yayasan mempunyai maksud dan tujuan di bidang Sosial Kemanusiaan dan


Keagamaan.

KEGIATAN

Pasal 3

Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut diatas, Yayasan dapat


melaksanakan kegiatan sebagai berikut:

1. Bidang Sosial :
1. Menyelenggarakan lembaga formal antara lain mendirikan sekolah-
sekolah luar biasa dan umum dan kejuruan dan tingkat kelompok
bermain (play Group), Taman KanakKanak, Diniyah, Madrasah
Ibtidaiyah/Sekolah Dasar Madrasah Tsanawiyah/Sekolah Menengah
Pertama, Madrasah Aliyah/Sekolah Menengah Atas/Sekolah
Menengah Kejuruan, Perguruan Tinggi, Sekolah-sekolah, Madrasah-
madrasah.
2. Menyelenggarakan pendidikan non formal antara lain mendirikan Balai
Pendidikan Ketrampilan pada umumnya tempat kursus-kursus seperti
kursus musik, akutansi, bahasa, komputer, mengetik, tata busana
dan tata boga, Kejuruan, Program Ketrampilan dan Pelatihan.
3. Menyelenggarakan pelatihan apresiasi di bidang seni dan budaya,
bimbingan tehnis bagi anggota dewan dan guru-guru atau pendidik.
4. Menyelenggarakan pusat pendidikan dan Latihan (Diklat)
5. Melakukan penelitian dan Observasi untuk kemajuan ilmu
pengetahuan
6. Menyelenggarakan studi banding peningkatan kegiatan dalam bidang
pengetahuan dan kebudayaan baik didalam negeri maupun di luar
negeri
7. Mengadakan kerjasama dibidang pendidikan dengan badan-badan lain
baik pemerintah maupun swasta baik didalam maupun diluar negeri
8. Mengadakan pembinaan untuk kemajuan dibidang oleh raga
9. Mendirikan Panti Asuhan, Panti Jompo dan Panti Werda
10. Mendirikan Rumah Sakit, Poliklinik dan Laboratorium

2. Bidang Kemanusiaan
1. Memberi bantuan kepada korban bencana Alam seperti banjir, tanah
longsor, kebakaran dan gunung meletus
2. Memberi bantuan kepada pengungsi akibat perang
3. Memberikan perlindungan dan bantuan kepada tuna wisma, fakir
miskin, dan gelandangan
4. Mendirikan dan menyelenggarakan rumah singgah
5. Mendirikan dan menyelenggarakan rumah pelayanan jenazah
6. Memberikan Perlindungan Hak Asazi Manusia
7. Memberikan perlindungan Konsumen
8. Menyelenggarakan pelestarian Lingkungan hidup
9. Menyelenggarakan Pemberdayaan ekonomi umat

3. Bidang Keagamaan
1. Mendirikan sarana ibadah
2. Menyelenggarakan pondok pesantren, madrasah dan tempat pengajian
3. Menerima dan menyalurkan amal, zakat, infaq dan sedekah
4. Membantu masyarakat untuk meningkatkan pemahaman keagamaan
5. Melaksanakan syiar keagamaan (majelis taklim)
6. Menyelenggarakan pendidikan Agama, mengadakan penelitian,
seminar, ceramah-ceramah, dan karya-karya keagamaan
7. Melakukan studi banding dibidang keagamaan

Untuk mencapai usaha-usaha/kegiatan-kegiatan tersebut, yayasan dapat


bekerjasama dengan badan-badan resmi pemerintah, swasta maupun
perorangan baik didalam maupun di luar negeri, yang mempunyai maksud
dan tujuan yang sama atau hampir sama dengan maksud dan tujuan dari
yayasan serta tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku.

JANGKA WAKTU

Pasal 4

Yayasan ini didirikan untuk waktu yang tidak ditentukan lamanya.

KEKAYAAN

Pasal 5

1. Yayasan mempunyai kekayaan awal yang berasal dari kekayaan pendiri


yang dipisahkan, terdiri dari :
2. Kekayaan para pendiri Yayasan yang dipisahkan dan kekayaan pribadi
para pendiri yayasan, baik dalam bentuk uang yang dimasukan oleh
para pendiri Yayasan kedalam kekayaan awal Yayasan yaitu sebesar
Rp.20.000.000, (Dua puluh juta rupiah)
3. Keuangan Yayasan digali dari sumber-sumber a dilingkungan
Yayasan,maupun sumber-sumber lain yang halal dan tidak mengikat
4. Selain kekayaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), kekayaan
Yayasan dapat juga diperoleh dari :
5. Sumbangan atau bantuan yang tidak mengikat
6. Wakaf
7. Hibah
8. Hibah wasiat dan
9. Perolehan lain yang tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar Yayasan
dan tau peraturan perundang-undangan yang benlaku

ORGAN YAYASAN
Pasal 6

1. Yayasan mempunyai organ yang terdiri dari :


2. Pembina;
3. Pengurus;
4. Pengawas;

PEMBINA

Pasal 7

1. Pembina adalah organ Yayasan yang menpunyai kewenangan yang tidak


diserahkan kepada pengurus atau pengawas
2. Pembina terdiri dari seorang anggota atau lebih anggota Pembina.
3. Dalam hal terdapat lebih dari seorang anggota Pembina maka seorang
diantaranya diangkat sebagai ketua Pembina
4. Yang dapat diangkat sebagai anggota Pembina adalah orang
perseorangan sebagai Pendiri Yayasan dan atau mereka yang
berdasarkan keputusan rapat anggota Pembina dinilai mempunyai
dedikasi yang tinggi untuk mencapai maksud dan tujuan Yayasan.
5. Anggota Pembina tidak diberi gaji dan atau tunjangan oleh Yayasan
6. Dalam hal Yayasan oleh karena sebab apapun tidak mempunyai anggota
Pembina, maka dalam waktu 30 (tiga puluh) hari sejak terjadinya
kekosongan tersebut wajib diangkat anggota Pembina berdasarkan
keputusan rapat gabungan anggota Pengawas dan anggota Pengurus
7. Seorang anggota Pembina berhak mengundurkan diri dari jabatannya
dengan memberitahukan secara tertulis mengenai maksud tersebut
kepada Yayasan paling lambat 30 (tiga puluh) hari sebelum tanggal
pengunduran diri

Pasal 8

1. Masa jabatan Pembina tidak ditentukan lamanya


2. Jabatan anggota Pembina akan berakhir dengan sendirinya apabila
anggota Pembina tersebut :
3. Meninggal dunia
4. Mengundurkan diri dengan pemberitahuan secara tertulis sebagaimana
diatus dalam pasal 7 ayat 7
5. Tidak lagi memenuhi persyaratan peraturan perundang-undangan yang
berlaku
6. Diberhentikan berdasarkan keputusan rapat Pembina
7. Dinyatakan pailit atau ditaruh di bawah pengampunan berdasarkan
suatu penetapan pengadilan
8. Dilarang untuk menjadi anggota Pembina karena peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
9. Anggota Pembina tidak boleh merangkap sebagai anggota Pengurus dan
atau anggota Pengawas.

TUGAS DAN WEWENANG PEMBINA

Pasal 9

1. Pembina berwenang bertindak untuk dan atas nama para Pembina


2. Kewenangan Pembina meliputi :
1. Keputusan mengenai perubahan Anggaran Dasar
2. Pengangkatan dan pemberhentian anggota Pengurus dan atau anggota
Pengawas
3. Penetapan Kebijakan umum Yayasan berdasarkan Anggaran Dasar
Yayasan dan
4. Pengesahan program kerja dan Rancangan Anggaran Tahunan
Yayasan dan
5. Penetapan keputusan mengenai penggabungan atau pembubaran
yayasan
6. Pengesahan Laporan Tahunan
7. Penunjukan Likuidator dalam hal Yayasan dibubarkan
8. Dalam hal hanya ada seorang anggota Pembina maka segala tugas
dan wewenang yang diberikan kepada Ketua Pembina atau anggota
Pembina berlaku pula baginya

RAPAT PEMBINA

Pasal 10

1. Rapat Pembina diadakan paling sedikit sekali dalam 1 (satu) tahun,


paling lambat dalam waktu 5 (lima) bulan setelah akhir tahun buku
sebagai rapat tahunan, sebagaimana dimaksud dalam pasal 12. Pembina
dapat juga mengadakan rapat setiap waktu bila dianggap perlu atas
permintaan tertulis dari seorang atau lebih anggota Pembina, anggota
Pengurus, atau anggota Pengawas.
2. Panggilan Rapat Pembina dilakukan oleh Pembina secara langsung, atau
melalui surat dengan mendapat tanda terima, paling lambat 7 (tujuh)
hari sebelum rapat diadakan dengan tidak memperhitungkan tanda
panggilan dan tanggal rapat.
3. Panggilan Rapat itu harus mencantumkan hari, tanggal, waktu, tempat
dan acara rapat
4. Rapat Pembina diadakan di tempat kedudukan Yayasan atau di tempat
kegiatan Yayasan atau di tempat lain dalam wilayah hukum Republik
Indonesia
5. Dalam hal semua anggota Pembina hadir atau diwakili panggilan
tersebut tidak disyaratkan dan rapat Pembina dapat diadakan dimana
pun juga dan berhak mengambil keputusan yang sah dan mengikat.
6. Rapat Pembina dipimpin oleh Ketua Pembina, dan jika Ketua Pembina
tidak hadir atau berhalangan maka Rapat Pembina akan dipimpin oleh
seorang yang dipilih oleh dan dari anggota Pembina yang hadir
7. Seorang anggota Pembina hanya dapat diwakili oleh anggota Pembina
lainnya dalam rapat Pembina berdasarkan surat kuasa.

Pasal 11

1. Rapat Pembina adalah sah dan berhak mengambil keputusan yang


mengikat apabila :
2. Dihadiri paling sedikit 2/3 (dua per tiga) dan jumlah anggoa Pembina
3. Dalam hal korum sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 huruf a tidak
tercapai, maka dapat diadakan pemanggilan rapat Pembina kedua.
4. Pemanggilan sebagimana yang dimaksud dalam ayat 1 huruf b harus
dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum rapat diselenggarakan,
dengan tidak memperhitungkan tanggal panggilan tanggal panggilan
dan tanggal rapat.
5. Rapat Pembina kedua diselenggarakan paling cepat 10 (sepuluh) hari
dan paling lambat 21 (dua puluh satu) hari terhitung sejak Rapat
Pembina pertama
6. Rapat Pembina kedua adalah sah dan berhak mengambil keputusan
yang mengikat, apabila dihadiri lebih ½ (satu perdua) jumlah anggota
Pembina.
7. Keputusan Rapat Pembina diambil berdasarkan musyawarah untuk
mufakat.
8. Dalam hal keputusan berdasarkan musyawarah untuk mufakat tidak
tercapai, maka keputusan diambil berdasarkan suara setuju lebih dari
½ (satu per dua) jumlah suara sah.
9. Dalam hal suara setuju dan tidak setuju sama banyaknya maka usul
ditolak
10. Tata cara pemungutan suara dilakukan sebagai berikut
11. Setiap anggota Pembina yang hadir berhak mengeluarkan 1 (satu)
suara dan tambahan 1 (satu) suara untuk setiap anggota Pembina yang
diwakilinya
12. Pemungutan suara mengenai diri orang dilakukan dengan surat suara
tertutup tanpa tanda tangan, sedangkan pemungutan suara mengenai
hal-hal lain dilakukan secara terbuka dan ditandatangani kecuali ketua
Rapat menentukan lain dan tidak ada keberatan dari yang hadir
13. Suara yang abstain dan suara yang tidak sah tidak dihitung dalam
menentukan jumlah suara yang dikeluarkan
14. Setiap Rapat Pembina dibuat berita acara rapat yang ditandatangani
oleh ketua rapat dan sekretaris rapat
15. Penandatangan sebagairnana dimaksud dalam ayat 6 (enam) tidak
disyaratkan apabila berita acara rapat dibuat dengan akte notaris.
16. Pembina dapat mengarnbil keputusan yang sah tanpa mengadakan
rapat pembina dengan ketentuan semua anggota pembina telah
diberitahu secara tertulis dan semua anggota Pembina memberikan
persetujuan mengenai usul yang diajukan secara tertulis serta
menandatangani persetujuan tersebut
17. Keputusan yang diarnbil sebagaimana dimaksud dalam ayat 8
(delapan), mempunyai kekuatan yang sama dengan keputusan yang
diambil dengan sah dalam Rapat Pembina.
18. Dalam hal hanya ada 1 (satu) orang Pembina maka dia dapat
mengambil keputusan yang sah dan mengikat

RAPAT TAHUNAN

Pasal 12

1. Pembina menyelenggarakan rapat tahunan setiap tahun paling lambat 5


(lima) bulan setelah tahun buku Yayasan ditutup
2. Rapat Tahunan, Pembina melakukan :
3. Evaluasi tentang harta kekayaan, hak dan kewajiban Yayasan tahun
yang lampau sebagai dasar pertimbangan bagi perkiraan mengenai
perkembangan yayasan unyuk tahun yang akan datang.
4. Pengesahkan Laporan Tahunan yang diajukan Pengurus
5. Penetapkan Kebijakan Umum Yayasan
6. Pengesahkan Program Kerja dan Anggaran Tahunan Yayasan.
7. Pengesahan laporan tahunan oleh Pembina dalam rapat tahunan berarti
memberikan pelunasan dan pembebasan tanggung jawab sepenuhnya
kepada para anggota pengurus dan pengawas atas pengurusan dan
pengawasan yang telah dijalankan selama tahun buku yang lalu, sejauh
tindakan tersebut tercermin dalam Laporan Tahunan

PENGURUS

Pasal 13

1. Pengurus adalah organ yayasan yang melaksanakan kepengurusan


Yayasan sekurang-kurangnya terdiri dari :
2. Seorang Ketua
3. Seorang Sekretaris dan
4. Seorang Bendahara
5. Dalam hal diangkat lebih dari 1 (satu) orang ketua, maka 1 (satu) orang
diantaranya diangkat sebagai Ketua Umum
6. Dalam hal diangkat lebih dari l (satu) orang Sekretaris maka 1 (satu)
orang diantaranya diangkat sebagai Sekretaris Umum
7. Dalam hal diangkat lebih dari l (satu) orang Bendahara maka l (satu)
orang diantaranya diangkat sebagai Bendahara Umum

Pasal 14

1. Yang dapat diangkat sebagai anggota Pengurus adalah orang


perseorangan yang mampu melakukan perbuatan hukum dan tidak
dinyatakan bersalah dalam melakukan pengurusan yayasan yang
menyebabkan kerugian bagi yayasan masyarakat atau negara
berdasarakan putusan pengadilan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun
terhitung sejak tanggal putusan tersebut berkekuatan hukum tetap
2. PengurusYayasan diangkat oleh Pembina melalui Rapat Pembina untuk
jangka waktu 5 (lima) tahun dan dapat diangkat kembali.
3. Pengurus dapat menenima gaji, upah atau honorarium apabila pengurus
Yayasan :
4. Bukan pendiri yayasan dan tidak terafiliasi dengan pendiri, pembina dan
pengawas, dan
5. Melaksanakan kepengurusan yayasan secara langsung dan penuh
6. Dalam hal jabatan pengurus kosong, maka dalam jangka waktu paling
lama 30 (tiga puluh) hari sejak terjadinya kekosongan, Pembina harus
menyelenggarakan rapat untuk mengisi kekosongan itu.
7. Dalam hal semua jabatan Pengurus kosong maka dalam jangka waktu
paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak terjadinya kekosongan tersebut
Pembina harus menyelenggarakan rapat untuk mengangkat pengurus
baru dan untuk sementara yayasan diurus oleh pengawas.
8. Pengurus berhak mengundurkan diri dari jabatannya dengan
memberitahukan secara tertulis mengenai maksudnya tersebut kepada
Pembina paling lambat 30 (tiga puluh) hari sebelum tanggal
pengunduran dirinya
9. Dalam hal terdapat penggantian Pengurus Yayasan maka dalam jangka
waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal
dilakukan penggantian Pengurus Yayasan, Pembina wajib
menyampaikan pemberitahuan secara tertulis kepada Menteri
Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dan instasi yang
terkait.
10. Pengurus tidak dapat merangkap sebagai Pembina, Pengawas atau
pelaksana kegiatan

Pasal 15

Jabatan Pengurus berakhir apabila

1. Meninggal dunia
2. Mengundurkan diri
3. Bersalah melakukan tindak pidana berdasarkan putusan pengadilan
yang diancam dengan hukuman penjara paling sedikit 5 (lima) tahun
4. Diberhentikan berdasarkan keputusan Rapat Pembina.
5. Masa Jabatan berakhir

TUGAS DAN WEWENANG PENGURUS

Pasal 16

1. Pengurus bertanggung jawab penuh atas kepengurusan Yayasan untuk


kepentingan dan tujuan Yayasan
2. Pengurus wajib menyusun program kerja dan rancangan anggaran
tahunan yayasan untuk disahkan Pembina
3. Pengurus wajib memberikan penjelasan tentang segala hal yang
ditanyakan oleh Pengawas
4. Setiap anggota Pengurus wajib dengan itikad baik dan penuh tanggung
jawab menjalankan tugasnya dengan mengindahkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
5. Pengurus berhak mewakili Yayasan didalam dan diluar Pengadilan
tentang segala kejadian dengan pembatasan terhadap hal hal sebagai
berikut
6. Meminjam atau meminjamkan uang atas nama Yayasan (tidak termasuk
mengambil uang Yayasan di Bank.
7. Mendirikan suatu usaha baru atau melakukan penyertaan dalam
berbagai bentuk usaha baik didalam maupun di luar negeri.
8. Memberi atau menerima pengalihan atas harta tetap
9. Membeli atau dengan cara lain mendapatkan / memperoleh harta tetap
atas nama Yayasan.
10. Menjual atau dengan cara lain melepaskan kekayaan Yayasan serta
mengagunkan / membebani kekayaan Yayasan.
11. Mengadakan perjanjian dengan organisasi yang terafiliasi dengan
Yayasan, Pembina, Pengurus dan atau Pengawas Yayasan atau seorang
yang bekerja. pada Yayasan, yang perjanjian tersebut bermanfaat bagi
tercapainya maksud dan tujuan Yayasan.
12. Perbuatan Pengurus sebagaimana diatur dalam ayat 5 huruf a,b,c,d,e
dan f harus mendapat persetujuan dari Pembina

Pasal 17

Pengurus tidak berwenang mewakili Yayasan dalam hal

1. Mengikat Yayasan sebagai penjamin utang


2. Membebani kekayaan Yayasan untuk kepentingan pihak lain
3. Mengadakan perjanjian dengan organisasi yang terafiliasi dengan
Yayasan, Pembina, Pengurus dan atau Pengawas Yayasan atau seorang
yang bekerja pada Yayasan, yang perjanjian tersebut bermanfaat bagi
tercapainya maksud dan tujuan Yayasan

Pasal 18

1. Ketua Umum bersama sama dengan salah seorang anggota pengurus


lainnya berwenang bertindak untuk dan atas nama pengurus serta
mewakili Yayasan.
2. Dalam hal Ketua Umum tidak hadir atau berhalangan karena sebab
apapun juga, hal tersebut tidak perlu dibuktikan juga kepada pihak
ketiga, maka seorang ketua lainnya bersama-sama dengan sekretaris
umum atau apabila Sekretaris Umum tidak hadir atau berhalangan
karena sebab apapun juga, hal tersebut tidak perlu dibuktikan kepada
pihak ketiga, seorang ketua lainnya bersama-sama dengan seorang
sekretaris lainnya berwenang bertindak untuk dan atas nama pengurus
serta mewakili Yayasan.
3. Dalam hal hanya ada seorang Ketua, maka segala tugas dan wewenang
yang diberikan kepada Ketua Umum berlaku juga baginya.
4. Sekretaris Umum bertugas mengelola administrasi Yayasan dalam hal
hanya ada seorang sekretaris maka segala tugas dan wewenang yang
diberikan kepada Sekretaris umum berlaku juga baginya.
5. Bendahara Umum bertugas mengelola keuangan Yayasan dalam hal
hanya ada seorang Bendahara maka segala tugas dan wewenang yang
diberikan kepada Bendahara umum berlaku juga baginya.
6. Pembagian tugas dan wewenang setiap anggota pengurus ditetapkan
oleh Pembina melalui Rapat Pembina.
7. Pengurus untuk perbuatan tertentu berhak mengangkat seorang atau
lebih wakil atau kuasanya berdasarkan surat kuasa.

PELAKSANA KEGIATAN

Pasal 19

1. Pengurus berwenang mengangkat dan memberhentikan Pelaksana


Kegiatan Yayasan berdasarkan keputusan Rapat Pengurus.
2. Yang dapat diangkat sebagai Pelaksana Kegiatan Yayasan adalah
perseorangan yang mampu melakukan perbuatan hukum dan tidak
pernah dinyatakan pailit atau dipidana karena melakukan tindakan yang
merugikan Yayasan, masyarakat atau Negara berdasarkan keputusan
pengadilan, dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak tanggal
putusan tersebut berkekuatan hukum tetap.
3. Pelaksana Kegiatan Yayasan diangkat oleh Pengurus berdasarkan
keputusan Rapat Pengurus untuk jangka waktu yang ditentukan oleh
Pengurus dan dapat diangkat kembali dengan tidak mengurangi
keputusan rapat Pengurus untuk memberhentikan sewaktu-waktu.
4. Pelaksana Kegiatan Yayasan bertanggung jawab kepada Pengurus
5. Pelaksana Kegiatan Yayasan menerima gaji, upah atau honorarium yang
jumlahnya ditentukan berdasarkan Keputusan Rapat Pengurus
Pasal 20

1. Dalam hal terjadi perkara di Pengadilan antara Yayasan dengan anggota


Pengurus atau apabila kepentingan pribadi seorang anggota Pengurus
bertentangan dengan Yayasan, maka anggota pengurus yang
bersangkutan tidak berwenang bertindak untuk dan atas nama Pengurus
serta mewakili Yayasan, maka anggota Pengurus. lainnya bertindak
untuk dan atas nama Pengurus serta mewakili Yayasan.
2. Dalam hal Yayasan mempunyai kepentingan yang bertentangan dengan
kepentingan seluruh Pengurus, maka Yayasan diwakili oleh Pengawas.

RAPAT PENGURUS

Pasal 21

1. Rapat Pengurus dapat diadakan setiap waktu bila dipandang perlu atas
permintaan tertulis dari satu orang atau lebih Pengurus, Pengawas atau
Pembina.
2. Pangilan Rapat Pengurus dilakukan oleh Pengurus yang berhak mewakili
Pengurus.
3. Panggilan Rapat Pengurus disampaikan kepada setiap anggota Perigurus
secara langsung atau melalui surat dengan mendapat tanda terima
paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum rapat diadakan, dengan tidak
memperhitungkan tanggal panggilan dan tanggal rapat.
4. Panggilan rapat pengurus itu harus mencantumkan tanggal, waktu,
tempat, dan acara rapat.
5. Rapat Pengurus diadakan ditempat kedudukan Yayasan atau ditempat
kegiatan Yayasan.
6. Rapat pengurus dapat diadakan ditempat lain dalam wilayah Republik
Indonesia dengan persetujuan Pembina

Pasal 22

1. Rapat Pengurus dipimpin oleh Ketua Umum.


2. Dalam hal Ketua Umum tidak dapat hadir atau berhalangan maka Rapat
Pengurus akan dipimpin oleh seorang anggota Pengurus yang dipilih
oleh dan dari Pengurus yang hadir.
3. Satu orang Pengurus hanya dapat diwakili oleh pengurus lainnya dalam
hal rapat Pengurus berdasarkan surat Kuasa.
4. Rapat Pengurus berhak mengambil keputusan yang mengikat apabila
5. Dihadiri paling sedikit 2/3 (dua per tiga) jumlah Pengurus.
6. Dalam hal korum sebagaimana dimaksud dalam ayat 4 (empat) huruf a
tidak tercapai, maka dapat diadakan pemanggilan Rapat Pengurus
kedua.
7. Pemanggilan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat 4 (empat) huruf
b, harus dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum rapat
diselenggarakan, dengan tidak memperhitungkan tanggal penggilan dan
tanggal rapat.
8. Rapat Pengurus kedua diselenggarakan paling cepat 10 (sepuluh) hari
dan paling lambat 21 (duapuluh satu) hari terhitung sejak Rapat
Pengurus pertama.
9. Rapat Pengurus kedua sah dan berhak mengambil keputusan yang
mengikat, apabila dihadiri lebih dari ½ (satu per dua) jumlah Pengurus.

Pasal 23

1. Keputusan Rapat Pengurus harus diambil berdasarkan musyawarah


untuk mufakat.
2. Dalam hal keputusan berdasarkan musyawarah untuk mufakat tidak
tercapai, maka keputusan diambil berdasarkan suara setuju lebih dari ½
(satu per dua) jumlah pengurus.
3. Dalam hal suara setuju dan tidak setuju sama banyaknya, maka usul
ditolak.
4. Pemungutan suara mengenai diri orang dilakukan dengan surat suara
tertutup tanpa tanda tangan, sedangkan pemungutan suara mengenai
hal-hal lain dilakukan secara terbuka, kecuali ketua Rapat menentukan
lain dan tidak ada keberatan dari yang hadir.
5. Suara abstain dan suara yang tidak sah tidak dihitung dalam
menentukan jumlah suara yang dikeluarkan.
6. Setiap rapat Pengurus dibuat berita acara rapat yang ditanda tangani
oleh Ketua Rapat dan 1 (satu) orang anggota pengurus lainnya ditunjuk
oleh rapat sebagai sekretaris rapat.
7. Penandatanganan yang dimaksud dalam ayat 6 (enam) tidak
disyaratkan apabila Berita Acara Rapat dibuat dengan akta Notaris.
8. Pengurus dapat juga mengambil keputusan yang sah tanpa mengadakan
Rapat Pengurus, dengan ketentuan semua anggota Pengurus telah
diberitahu secara tertulis dan semua anggota Pengurus memberikan
persetujuan rnengenai usul yang diajukan secara tertulis serta
menandatangani persetujuan tersebut.
9. Keputusan yang diambil sebagaimana dimaksud dalam ayat 8
mempunyai kekuatan yang sama dengan keputusan yang diambil
dengan sah dalam Rapat Pengurus.

PENGAWAS

Pasal 24

1. Pengawas adalah organ Yayasan yang bertugas melakukan pengawasan


dan memberi nasehat kepada Pengurus dalam menjalankan kegiatan
Yayasan.
2. Pengawas terdiri dari 1 (satu) orang atau lebih anggota Pengawas.
3. Dalam hal diangkat lebih dari 1 (satu) orang Pengawas maka 1 (satu)
orang diantaranya dapat diangkat diangkat sebagai Ketua Pengawas.

Pasal 25

1. Yang dapat diangkat sebagai anggota Pengawas adalah perseorangan


yang mampu rnelakukan perbuatan hukum dan tidak dinyatakan
bersalah dalam melakukan pengawasan Yayasan yang menyebabkan
kerugian bagi Yayasan masyarakat atau negara berdasarkan putusan
pengadilan, dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak tanggal
putusan tersebut berkekuatan hukum tetap.
2. Pengawas diangkat oleh Pembina melalui Rapat Pembina untuk jangka
waktu 5 (lima) tahun dan dapat diangkat kembali.
3. Dalam hal jabatan Pengawas kosong, maka dalam jangka waktu paling
lama 30 (tiga puluh) hari sejak terjadinya kekosongan, Pembina harus
menyelenggarakan rapat untuk mengisi kekosongan itu.
4. Dalam hal semua jabatan Pengawas kosong, maka dalam jangka waktu
paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak terjadinya kekosongan tersebut,
Pembina harus menyelenggarakan Rapat untuk mengangkat Pengawas
baru dan untuk sementara Yayasan diurus oleh Pengurus.
5. Pengawas berhak mengundurkan diri dari jabatannya, dengan
memberitahukan secara tertulis mengenai maksud tersebut kepada
Pembina paling lambat 30 (tiga puluh) hari sebelum tanggal
pengunduran dirinya.
6. Dalam hal terdapat penggantian Pengawas Yayasan maka dalam jangka
waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal
dilakukan penggantian Pengawas Yayasan, Pembina wajib
menyampaikan pemberitahuan secara tertulis kepada Menteri
Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dan instansi
terkait
7. Pengawas tidak dapat merangkap sebagai Pembina, Pengurus atau
Pelaksana Kegiatan.

Pasal 26

Jabatan Pengawas berakhir apabila :

1. Meninggal Dunia
2. Mengundurkan diri
3. Bersalah melakukan tindak pidana berdasarkan putusan pengadilan
yang diancam hukuman dengan hukuman penjara paling sedikit 5 (lima)
tahun.
4. Diberhentikan berdasarkan keputusan Rapat Pembina
5. Masa jabatan berakhir

TUGAS DAN WEWENANG PENGAWAS

Pasal 27

1. Pengawas wajib dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab


menjalankan tugas pengawasan untuk kepentingan Yayasan.
2. Ketua Pengawas dan satu anggota Pengawas berwenang bertindak
untuk dan atas nama Pengawas.
3. Pengawas berwenang.
4. Memasuki bangunan, halaman, atau tempat lain yang dipergunakan
Yayasan.
5. Memeriksa dokumen.
6. Memeriksa pembukuan dan mencocokannya dengan uang kas, atau.
7. Mengetahui segala tindakan yang telah dijalankan oleh Pengurus.
8. Memberi peringatan kepada Pengurus.
9. Pengawas dapat memberhentikan secara sementara 1 (satu) orang atau
lebih Pengurus, apabila Pengurus tersebut bertindak bertentangan
dengan Anggaran Dasar atau peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
10. Pemberhentian sementara itu harus diberitahukan secara tertulis
kepada yang bersangkutan disertai alasannya.
11. Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari tenhitung sejak tanggal
pemberhentian sementara itu, Pengawas diwajibkan untuk melaporkan
secara tertulis kepada Pembina
12. Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal laporan
diterima oleh Pembina sebagaimana dimaksud dalam ayat 6 (enam),
maka Pembina wajib memanggil anggota Pengurus yang bersangkutan
untuk diberi kesempatan membela diri.
13. Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal pembelaan
diri, sebagaimana dimaksud dalam ayat 7 (tujuh), Pembina dengan
keputusan Rapat Pembina wajib
14. Mencabut keputusan pemberhentian sementara ; atau
15. Memberhentikan anggota Pengurus yang bersangkutan.
16. Dalam hal Pembina tidak melaksanakan Ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam ayat 7 dan ayat 8, maka pemberhentian sementara
batal demi hukum, dan yang bersangkutan menjabat kembali
jabatannya semula.
17. Dalam hal seluruh Pengurus diberheritikan sementara, maka untuk
sementara Pengawas diwajibkan mengurus Yayasan.

RAPAT PENGAWAS

Pasal 28

1. Rapat Pengawas dapat diadakan setiap waktu bila dianggap perlu atas
permintaan tertulis dari seorang atau lebih Pengawas atau Pembina.
2. Panggilan Rapat Pengawas dilakukan oleh Pengawas yang berhak
mewakili Pengawas.
3. Panggilan Rapat Pengawas disampaikan Kepada Pengawas secara
langsung, atau melalui surat dengan mendapat tanda terima, paling
lambat 7 (tujuh) hari sebelum rapat diadakan dengan tidak
memperhitungkan tanggal panggilan dan tanggal Rapat.
4. Panggilan Rapat itu harus mencantumkan tanggal, waktu, tempat dan
acara Rapat.
5. Rapat Pengawas diadakan ditempat kedudukan Yayasan atau ditempat
kegiatan Yayasan.
6. Rapat Pengawas dapat diadakan ditempat lain dalam wilayah hukum
Republik Indonesia dengan persetujuan Pembina.
Pasal 29

1. Rapat Pengawas dipimpin oleh Ketua Umum


2. Dalam hal ketua umum tidak dapat hadir atau berhalangan maka Rapat
Pengawas akan dipimpin oleh satu orang Pengawas yang dipilih oleh dan
dari Pengawas yang hadir.
3. Satu orang anggota Pengawas hanya diwakili oleh Pengawas lainnya
dalam Rapat Pengawas berdasarkan surat kuasa
4. Rapat Pengawas sah dan berhak mengambil keputusan yang mengikat
apabila :.
5. Dihadiri paling sedikit 2/3 (dua per tiga) dari jumlah Pengawas.
6. Dalam hal korum sebagaimana yang dimaksud dalam ayat 4 huruf a
tidak tercapai, maka dapat diadakan pemanggilan Rapat Pengawas
kedua.
7. Pemanggilan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat 4 huruf b, harus
dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum rapat
diselenggarakan/dengan tidak memperhitungkan tanggal panggilan dan
tanggal rapat.
8. Rapat Pengawas kedua diselenggarakan paling cepat 10 (sepuluh) hari
dan paling lambat 21 (dua puluh satu) hari dari terhitung sejak Rapat
Pengawas pertama.
9. Rapat Pengawas kedua adalah sah dan berhak mengambil keputusan
yang mengikat, apabila dihadiri oleh paling sedikit ½ (satu per dua)
jumlah Pengawas.

Pasal 30

1. Keputusan Rapat Pengawas harus diambil berdasarkan musyawarah


untuk mufakat
2. Dalam hal keputusan berdasarkan musyawarah untuk mufakat tidak
tercapai, maka keputusan diambil berdasarkan suara setuju lebih dari ½
(satu per dua) jumlah suara yang sah
3. Dalam hal suara setuju dan tidak setuju sama banyaknya maka usul
ditolak.
4. Pemungutan mengenai diri orang dilakukan dengan surat suara tetutup
dengan tanpa tanda tangan, sedangkan pemungutan suara mengenai
hal hal lain dilakukan secara terbuka, kecuali ketua rapat menentukan
lain dan tidak ada keberatan dari yang hadir.
5. Suara abstain dan suara yang tidak sah tidak dihitung dalam
menentukan jumlah suara yang dikeluarkan.
6. Setiap Rapat Pengawas dibuat berita acara rapat yang ditandatangani
oleh ketua rapat dan 1 (satu) orang anggota Pengawas lainnya yang
ditunjuk oleh rapat sebagai sekretaris rapat. Penandatangan yang
dimaksud ayat 6 (enam) tidak disyaratkan apabila Berita Acara Rapat
dibuat dengan akta notaris.
7. Pengawas dapat juga mengambil keputusan yang sah tanpa
mengadakan rapat Pengawas, dengan ketentuan semua Pengawas telah
diberitahu secara tertulis dan semua Pengawas memberikan persetujuan
mengenai usul yang diajukan secara tertulis dengan menandatangani
usul tersebut.
8. Keputusan yang diambil sebagaimana dimaksud dalam ayat 7 (tujuh)
mernpunyai kekuatan yang sama dengan keputusan yang diambil
dengan sah dalam Rapat Pengawas.

RAPAT GABUNGAN

Pasal 31

1. Rapat Gabungan adalah rapat yang diadakan oleh Pengurus dan


Pengawas untuk mengangkat Pembina apabila Yayasan tidak lagi
mempunyai Pembina.
2. Rapat Gabungan diadakan paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung
sejak Yayasan tidak lagi mempunyai Pembina
3. Panggilan Rapat Gabungan dilakukan oleh Pengurus.
4. Panggilan Rapat Gabungan disampaikan kepada setiap Pengurus dan
Pengawas secara langsung atau melalui surat dengan mendapat tanda
terima paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum rapat diadakan, dengan
tidak memperhitungkan tanggal Panggilan dan tanggal Rapat
5. Panggilan Rapat Gabungan harus mencatumkan tanggal, waktu, tempat
dan acara Rapat.
6. Rapat Gabungan diadakan ditempat kedudukan Yayasan atau ditempat
kegiatan Yayasan.
7. Rapat Gabungan dipimpin oleh Ketua Pengurus
8. Dalam hal ketua Pengurus tidak ada atau berhalangan hadir, maka rapat
gabungan dipimpin oleh Ketua Pengawas
9. Dalam hal Ketua Pengurus dan Ketua Pengawas tidak ada atau
berhalangan hadir, maka Rapat Gabungan dipimpin oleh Pengurus atau
Pengawas yang dipilih oleh dan dan Pengurus dan Pengawas yang hadir.

Pasal 32

1. Satu orang Pengurus hanya dapat diwakili oleh Pengurus lainnya dalam
rapat gabungan berdasarkan surat kuasa.
2. Satu orang Pengawas hanya dapat diwakili oleh Pengawas lainnya dalam
rapat gabungan berdasarkan surat kuasa.
3. Setiap Pengurus atau Pengawas yang hadir berhak mengeluarkan 1
(satu) suara dan tambahan 1 (satu) suara untuk setiap Pengurus atau
Pengawas lain yang diwakilinya.
4. Pemungutan suara mengenai diri orang dilakukan dengan surat suara
tertutup tanpa tanda tangan, sedangkan pemungutan suara mengenai
hal-hal lain dilakukan secara terbuka, kecuali ketua rapat menentukan
lain dan tidak ada keberatan dari yang hadir.
5. Suara abstain dan suara yang tidak sah dianggap tidak dikeluarkan dan
dianggap tidak ada

KORUM DAN PUTUSAN RAPAT GABUNGAN

Pasal 33

1. Rapat Gabungan adalah sah dan berhak mengambil keputusan yang


mengikat apabila :
2. Dihadiri paling sedikit 2/3 (dua per tiga) dari jumlah anggota Pengurus
dan 2/3 (dua per tiga) dari jumlah angota Pengawas
3. Dalam hal korum sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 huruf a tidak
tercapai, maka dapat diadakan pemanggilan Rapat Gabungan kedua
4. Pemanggilan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 huruf b harus
dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum rapat diselenggarakan,
dengan tidak memperhitungkan tanggal pangilan dan tanggal rapat
5. Rapat gabungan kedua diselenggarakan paling cepat 10 (sepuluh) hari
dan paling lambat 21 ( dua puluh satu) hari terhitung sejak Rapat
Gabungan Pertama
6. Rapat Gabungan kedua adalah sah dan berhak mengambil keputusan
yang mengikat apabila dihadiri paling sedikit ½ (satu per dua) dari
jumlah anggota Pengurus dan ½ (satu per dua) dari jumlah anggota
Pengawas
7. Keputusan Rapat Gabungan sebagaimana tersebut diatas ditetapkan
berdasarkan musyawarah untuk mufakat.
8. Dalam hal keputusan berdasarkan musyawarah untuk mufakat tidak
tercapai, maka keputusan diambil dengan pemungutan suara
berdasarkan surat setuju paling sedikit 2/3 (dua per tiga) bagian dari
jumlah surat suara yang sah yang dikeluarkan dalam rapat.
9. Setiap Rapat Gabungan dibuat berita Acara Rapat yang untuk
pengesahannya ditanda tangani oleh ketua Rapat dan 1 (satu) orang
anggota Pengurus atau anggota Pengawas yang ditunjuk oleh Rapat.
10. Berita Acara rapat sebagaimana dimaksud dalam ayat 4 menjadi bukti
yang sah terhadap Yayasan dan pihak ketiga tentang keputusan dan
segala sesuatu yang terjadi dalam rapat.
11. Penandatangan sebagaimana dimaksud dalam ayat 4 tidak disyaratkan
apabila Berita Acara Rapat dibuat dengan akta notaris.
12. Anggota Pengurus dan angota Pengawas dapat juga mengambil
keputusan yang sah tanpa mengadakan Rapat Gabungan dengan
ketentuan semua Pengurus dan semua Pengawas telah diberitahu
secara tertulis dan semua Pegurus dan semua Pengawas memberikan
persetujuan mengenai usul yang diajukan secara tertuis, dengan
menandatangani usul tersebut.
13. Keputusan yang diambil dengan cara sebagaimana dimaksud dalam
ayat 7 mempunyai kekuatan yang sama dengan keputusan yang
diambil dengan sah dalam Rapat Gabungan.

TAHUN BUKU

Pasal 34

1. Tahun buku Yayasan dimulai dari tanggal 1 (satu) Januari sampai


dengan tanggal 31 (tiga puluh satu) Desember
2. Pada akhir Desember tiap tahun, buku Yayasan ditutup.
3. Untuk pertama kalinya tahun buku Yayasan dimulai pada tanggal dari
Akta Pendirian Yayasan dan ditutup tanggal 31 (tiga puluh satu)
Desember

LAPORAN TAHUNAN

Pasal 35

1. Pengurus wajib menyusun secara tertulis laporan tahunan paling lambat


5 (lima) bulan setelah berakhirnya tahun buku Yayasan.
2. Laporan tahunan memuat sekurang-kurangnya :
3. Laporan Keadaan dan Kegiatan Yayasan selama tahun buku yang lalu
serta hasil yang telah dicapai
4. Laporan keuangan yang terdiri atas laporan posisi keuangan akhir
periode, laporan aktivitas, laporan arus kas dan catatan laporan
keuangan;
5. Laporan Tahunan wajib ditanda-tangani oleh Pengurus dan Pengawas.
6. Dalam hal terdapat anggota Pengurus atau anggota Pengawas yang
tidak menanda tangani laporan tersebut maka yang bersangkutan harus
menyebutkan alasan tertulis.
7. Laporan tahunan disahkan oleh Pembina dalam Rapat Tahunan.
8. Ikhtisar laporan tahunan Yayasan disusun sesuai dengan standar
akuntasi keuangan yang berlaku dan diumumkan pada papan
pengumuman di Kantor Yayasan

PERUBAHAN ANGGARAN DASAR

Pasal 36

1. Perubahan Anggaran Dasar hanya dapat dilaksanakan berdasarkan


keputusan Rapat Pembina, yang dihadiri paling sedikit 2/3 (dua per tiga)
dari jumlah Pembina
2. Keputusan diambil berdasarkan rnusyawarah untuk mufakat
3. Dalam hal keputusan berdasarkan musyawarah untuk mufakat tidak
tercapai, maka keputusan ditetapkan berdasarkan persetujuan paling
sedikit 2/3 (dua per tuga) dari jumlah pembina yang hadir atau yang
diwakili
4. Dalam hal korum sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 tidak tercapai,
maka diadakan pemanggilan Rapat Pembina yang kedua paling cepat 3
(tiga) hari terhitung sejak tanggal Rapat Pembina yang pertama.
5. Rapat Pembina kedua tersebut sah, apabila dihadiri lebih dari ½ (satu
per dua) dari seluruh Pembina.
6. Keputusan Rapat Pembina kedua sah, apabila diambil berdasarkan
persetujuan suara terbanyak dari jumlah Pembina yang hadir atau
diwakili.

Pasal 37

1. Perubahan Anggaran Dasar dilakukan dengan akta notaris dan dibuat


dalam bahasa Indonesia
2. Perubahan Anggaran Dasar tidak dapat dilakukan terhadap maksud dan
tujuan Yayasan
3. Perubahan Anggaran Dasar yang menyangkut perubahan nama dan
kegiatan Yayasan harus mendapat persetujuan dari Menteri Kehakiman
dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.
4. Perubahan Anggaran Dasar selain yang menyangkut hal hal
sebagaimana dimaksud dalam ayat 3 cukup diberitahukan kepada
Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
5. Perubahan Anggaran Dasar tidak dapat dilakukan pada saat Yayasan
dinyatakan pailit, kecuali atas persetujuan kurator

PENGGABUNGAN

Pasal 38

1. Penggabungan Yayasan dapat dilakukan dengan menggabungkan 1


(satu) atau lebih dengan Yayasan dengan Yayasan lain dan
mengakibatkan Yayasan yang menggabungkan diri menjadi bubar
2. Penggabungan Yayasan sebagaimana dimaksud ayat l (satu) dapat
dilakukan dengan memperhatikan :
3. Ketidak mampuan Yayasan melaksanakan kegiatan usaha tanpa
dukungan Yayasan lain;
4. Yayasan yang menerima penggabungan dan yang bergabung
kegiatannya sejenis atau
5. Yayasan yang menggabungkan diri tidak pernah melakukan perbuatan
yang bertentangan dengan anggaran dasarnya, ketertiban umum dan
kesusilaan.
6. Usul penggabungan Yayasan dapat disampaikan oleh Pengurus kepada
Pembina.

Pasal 39

1. Penggabungan Yayasan hanya dapat dilakukan berdasarkan keputusan


Rapat Pembina yang dihadiri oleh paling sedikit ¾ (tiga per empat) dari
jumlah anggota Pembina dan disetujui paling sedikit ¾ (tiga per empat)
dari jumlah anggota Pembina yang hadir
2. Pengurus dari masing-masing Yayasan yang akan menggabungkan diri
dan yang akan menerima penggabungan menyusun usul recana
penggabungan
3. Usul rencana penggabungan sebagaimana dimaksud ayat 2 (dua)
dituangkan dalam rancangan akta penggabungan oleh Pengurus dari
Yayasan yang akan menggabungkan diri dan yang akan menerima
penggabungan
4. Rancangan akta penggabungan harus mendapat persetujuan dari
Pembina dari masing-masing Yayasan
5. Rancangan sebagaimana dimaksud ayat 4 (empat) dituangkan dalam
akta penggabungan yang dibuat dihadapan notaris dalam bahasa
Indonesia
6. Pengurus Yayasan hasil penggabungan wajib mengumumkan hasil
penggabungan dalam surat kabar harian berbahasa Indonesia paling
lambat 30 (tiga puluh) hari tenhitung sejak penggabungan selesai
dilakukan.
7. Dalam hal penggabungan Yayasan diikuti dengan perubahan Anggaran
dasar yang memerlukan persetujuan Menteri, maka akta perubahan
Anggaran Dasar Yayasan wajib disampaikan kepada Menteri Kehakirnan
Dan Hak Asasi Manusia, untuk mendapat persetujuan dengan dilampiri
akta penggabungan

PEMBUBARAN

Pasal 40

I. Yayasan Bubar karena :


1. Alasan sebagaimana dimaksud dalam jangka waktu yang ditetapkan
dalam Anggaran Dasar berakhir
2. Tujuan Yayasan yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar tidak
tercapai atau tidak tercapai
I. Putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap berdasarkan
alasan :
1. Yayasan melanggar ketertiban umum dan kesusilaan,
2. tidak mampu membayar utangnya setelah dinyatakan pailit atau

III. Harta kekayaan Yayasan tidak cukup untuk melunasi utangnya setelah
pernyataan pailit tersebut

1. Dalam hal Yayasan bubar sebagaimana diatur dalam ayat 1 (satu)


huruf a dan b, Pembina menunjuk likuidator untuk membereskan
kekayaan Yayasan
2. Dalam hal tidak ditunjuk likuidator maka Pengurus bentindak sebagai
likuidator
3. Pembubaran Yayasan hanya dapat dilakukan berdasarkan keputusan
Rapat Pembina yang dihadiri paling sedikit ¾ (tiga per empat) dari
jumlah anggota Pembina dan disetujui paling sedikit ¾ (tiga per
empat) dari jumlah anggota Pembina yang hadir
Pasal 41

1. Dalam hal Yayasan bubar, yayasan tidak dapat melakukan perbuatan


hokum kecuali untuk membereskan kekayaannya dalam proses likuidasi.
2. Dalam hal Yayasan sedang dalam proses likuidasi untuk semua surat
keluar dicantumkan frase "Dalam Likuidasi" dibelakang nama Yayasan
3. Dalam hal Yayasan bubar karena putusan pengadilan maka pengadilan
yang menunjuk likuidator
4. Dalam hal PembubaranYayasan karena pailit berlaku peraturan
perundang undangan di bidang kepailitan
5. Ketentuan mengenai penunjukan, pengangkatan, pemberhentian
sementara, pemberhentian, wewenang, kewajiban, tugas dan tanggung
jawab serta pengawasan terhadap Pengurus, berlaku juga bagi likuidator
6. Likuidator atau curator yang ditunjuk untuk melakukan pemberesan
kekayaan Yayasan yang bubar atau dibubarkan paling lambat 5 (lima)
hari terhitung sejak tanggal penunjukan wajib mengumumkan
pembubaran Yayasan dan proses likuidasinya dalam surat kabar harian
berbahasa Indonesia
7. Likuidator atau curator dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh)
hari terhitung sejak tanggal proses likuidasi berakhir, wajib
mengumumkan hasil likuidasi dalam surat kabar harian berbahasa
Indonesia
8. Likuidator atau kurator dalam waktu paling lambat 7 (tujuh) hari
terhitung sejak tanggal likuidasi berakhir wajib melaporkan pembubaran
Yayasan kepada Pembina
9. Dalam hal laporan mengenai pembubaran Yayasan sebagaimana
dimaksud ayat 8 (delapan) diatas dan pengumuman hasil likuidasi
sebagaimana dimaksud ayat 7 (tujuh) diatas tidak dilakukan maka
bubarnya Yayasan tidak berlaku bagi pihak ketiga

CARA PENGGUNAAN KEKAYAAN SISA LIKUIDASI

Pasal 42

1. Kekayaan sisa hasil likuidasi diserahkan kepada Yayasan lain yang


rnempunya maksud dan tujuan yang sama dengan Yayasan yang bubar
2. Kekayaan sisa hasil likuidasi sebagaimana dimaksud ayat 1 (satu) diatas
dapat diserahkan kepada badan hukum lain yang melakukan kegiatan
yang sama dengan Yayasan yang bubar, apabila hal tersebut diatur
dalam undang undang yang berlaku bagi badan hukum tersebut
3. Dalam hal kekayaan likuidasi tidak diserahkan kepada Yayasan lain atau
kepada badan hukum lain sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 (satu )
dan ayat 2 (dua) kekayaan tersebut diserahkan kepada negara dan
penggabungannya dilakukan sesuai dengan maksud dan tujuan Yayasan
yang bubar.

PERATURAN PENUTUP

Pasal 43

Hal hal yang tidak diatur atau belum cukup diatur dalam Anggaran Dasar ini
akan diputuskan oleh Rapat Pembina

ANGGARAN RUMAH TANGGA

YAYASAN ISLAMIYAH AL KAUTSAR INDONESIA

VILA DAGO

YAYASAN ISLAMIYAH AL KAUTSAR INDONESIA

VILA DAGO

11. Raya Boulevard - Vila Dago, Benda Baru, PAMULANG,

TANGERANG SELATAN - BANTEN 15416 Tlp.021-74634304

ANGGARAN RUMAH TANGGA

YAYASAN ISLAMIYAH AL KAUSAR INDONESIA

VILA DAGO

BAB I
KEAANGGOTAAN DAN SATUAN ANGGOTA

Pasal 1

KEAANGGOTAAN

Untuk menjadi anggota YAYASAN harus memenuhi ketentuan - ketentuan


sebagai berikut :

1. Warga Negara Indonesia yang beragama islam.


2. Menyatakan diri secara sukarela menjadi anggota.
3. Pengurus dan Pengawas Yayasan Yayasan Islamiyah Al Kautsar
Indonesia Vila Dago otomatis menjadi anggota
4. Ditetapkan dan disahkan oleh Dewan Pembina dan atau Pengurus
Yayasan atas persetujuan Dewan Pembina

Pasal 2

JENIS ANGGOTA

Anggota Yayasan terdiri dari :

1. Anggota biasa, yaitu semua anggota Yayasan yang memenuhi ketentuan


pasal 1.
2. Anggota kehormatan, yaitu para pejabat, cendekiawan muslim dan
mereka yang dianggap telah berjasa kepada Yayasan dan pengabdian
masyarakat umumnya.

BAB II

KEWAJIBAN DAN HAK ANGGOTA

Pasal 3

KEWAJIBAN ANGGOTA

1. Menghayati dan mengamalkan Visi Misi, Tujuan dan hal-hal yang


terdapat didalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga
Yayasan.
2. Mentaati dan memenuhi, melaksanakan dan memperjuangkan seluruh
keputusan Yayasan serta menjadi duta yang baik terhadap kepentingan
Yayasan.
3. Berperan aktif dan bersedia menjadi Pengurus organ Yayasan bila
diperlukan
4. Membela kepentingan Yayasan, manakala ada hal-hal yang akan
merugikan nama baik Yayasan.

Pasal 4

HAK ANGGOTA

1. Anggota biasa berhak untuk


2. Memperoleh perlakuan dan pelayanan yang sama dan Yayasan.
3. Mengeluarkan pendapat dan mengajukan usul-usul dan saran-saran.
4. Mempunyai hak dipilih dan memilih.

d, Memperoleh perlindungan, pembelaan, pendidkan dan latihan,


penataran, bimbingan dan keterampilan dalam berorganisasi.

1. Hak-hak lain yang akan ditentukan dalam peraturan pengurus.


2. Anggota kehormatan

Mempunyal hak yang sama dengan anggota biasa kecuali ayat 1.c, 1.d, dan
1.e.

BAB III

KEHILANGN INGGOTAN, SKORSING DAN PEMBERHENTLAN

Pasal 5

1. Anggota kehilangan keanggotaannya karena :


2. Meninggal Dunia.
3. Atas permintaan sendiri secara tertulis.
4. Diberhentikan oleh Dewan Pembina.
5. Anggota dapat diskorsing atau diberhentikan apabila :
6. Bertindak bertentangan dengan AD/ART Yayasan.
7. Bertindak merugikan atau mencemarkan nama baik Yayasan.
8. Keputusan Skorsing atau pemberhentian hanya dapat dilakukan dengan
peringatan terlebih dahulu, kecuali mengenai hal-hal yang luar biasa.
9. Anggota yang terkena tindakan skorsing atau pemberhentian dapat
membela diri pada forum musyawarah yang diadakan untuk itu.

BAB IV

BIDANG / LEMBAGA YAYASAN

Pasal 6

BIDANG / LEMBAGA DAN UNIT

1. Yayasan melalui Pengurus Harian Yayasan dapat membentuk


Bidang/Lembaga dan atau unit.
2. Lembaga - Lembaga yang berada dibawah naungan Yayasan yang
secara umum dibawah Bidang terdiri dari :
3. Bidang/Lembaga.
4. Unit
5. Dan sejenisnya
6. Bidang/Lembaga, Unit atau sejenisnya adalah perangkat departementasi
Yayan yang berfungsi sebagai pelaksana kebijakan Yayasan berkaitan
dengan tujuan Yayasan dalam melaksanakan program programnya.
7. Bidang/Lembaga, Unit dapat sepenuhnya dibawah Yayasan dan atau
dapat diberikan Otonom/kekuasaan tertentu dalam menjalankan
operasionalnya,
8. Untuk Bidang/Lembaga dan Unit khusus/Otonom yang terkait dengan
anggota sebagai stakeholder, Instansi atau lembaga lain maka akan
mengikuti ketentuan dan peraturan yang telah disepakati.
9. Pengurus Harian dalam menjalankan Tugas tugasnya dapat
menambahkan, mengangkat dan memberhentikan pelaksana tugas
(pengurus Lernbaga atau Unit) dan berikut kelengkapan personilnya
setelah mendapat pesetujuan dan pengesahan dalam Rapat Pengurus
10. Ketua atau Kepala, Pelaksana Tugas masing-masing
Bidang/Lembaga/unit bertanggung jawab kepada Pengurus Yayasan.
11. Pembentukan dan penghapusan Bidang/Lembaga ditetapkan melalui
Rapat Pengurus.
12. Setiap Bidang/Lembaga memiliki kepengurusan masing-masing yang
dipimpin oleh seorang ketua atau seorang kepala yang diangkat dan
atau diberhentikan oleh Pengurus Yayasan melalui Rapat Pengurus.
13. Masa jabatan Ketua atau Kepala Bidang/Lembaga beserta
pengurusnya dalam 1 (satu) periode adalah untuk waktu ditetapkan
tertentu dan maksimal 5 (lima) tahun dan dapat dipilih kembali.
14. Hal-hal yang berkaitan dengan kebijakan dan atau aturan lain bagi
lembaga-lembaga sebagaimana dimaksud akan diatur lebih lanjut dalam
Peraturan Pengurus Yayasan.

Pasal 7

FUNGSI DAN TUGAS BIDANG DAN LEMBAGA/UNIT DIBAWAHNYA

Pengurus Harian melalui Bidang Bidang dalam menjalankan Tugas tugasnya


dapat melaksanakan fungsi fungsinya secara langsung atau dapat
membentuk Lembaga/Unit atau pelaksana tugas (pengurus Lembaga atau
Unit) dan berikut kelengkapan personilnya setelah mendapat persetujuan
dan pengesahan dalam Rapat Pengurus Yayasan.

1. Bidang I Ekonomi dan UKM, membawahi Unit;


2. Unit Koperasi
3. Unit Al Kautsar Mart
4. Dan usaha usaha lain yang baik dan halal.

Unit Usaha yang bersifat laba akan diatur tersendiri sesuai aturan berlaku
yang tidak bertentangan dengan AD ART.

2. Bidang II Dewan Kemakmuran Masjid; Unit:


3. Peribadatan
4. Dakwah dan Syiar Islam
5. Penerbitan & Anak Masjid
6. Majelis Taklim
7. Remaja Masjid

Tugas pokok memakmurkan masjid sebagai sentral peribadatan dan


kegiatan keislaman/keagamaan, melakukan pembelajaran / kajian Islam,
dakwah dan pembinaan serta mengupayakan jamaah/umat yang bertaqwa,
terlaksananya ajaran Islam secara kaffah.

3. Bidang III Pendidikan & Pengembangan SDM, membawahi Unit;


4. Perpustakaan
5. Pendidikan Usia Dini
6. Pendidikan Anak
7. Pendidikan Remaja
8. Pendididkan Dewasa/Pendidikan Ummahat
Mengupayakan terwujudnya penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran
serta pengembangan Pendidikan, Keilmuan yang sesuai dengan ajaran Islam
untuk membina umat agar menjadi muslim yang bertaqwa, berbudi luhur,
berpengetahuan luas dan terampil, serta berperan luas bagi agama, bangsa
dan Negara berbasis al Qur'an dan hadist

4. Bidang IV ZIS & Pendanaan, membawahi Unit


5. Penggalangan dana melalui Zakat Infaq, Sadaqah dan Wakaf serta
sumber sumber lain.
6. Penerimaan dan Penyaluran ZIS
7. Bidang V Sosial dan Kemanusiaan, membawahi Unit:
8. Muawanah, pelayanan pengurusan Jenasah dan yang terkait
9. Unit Yatim Dhuafa,
10. Tanggap Darurat
11. Hukum Syariah

Mengupayakan dan mendorong pemberdayaan di bidang sosial


kemanusiaan, kesehatan, kemaslahatan umat.

6. Bidang VI Pembangunan dan Pemeliharaan membawahi Unit;


7. Perencanaan dan Pernbangunan
8. Pengadaan dan Pemeliharaan
9. Pengembangan bidang Desain, Sipil dan yang terkait.

Bidang VI berperan untuk melakukan Pembangunan dan Perawatan Fisik


Masjid, gedung dan penunjang lainnya

7. Bidang VII Ketertiban & Lingkungan membawahi Unit;


8. Ketertiban
9. Lingkungan

PEMBENTUKAN LEMBAGA/UNIT BARU

Pasal 8

1. Pembentukan Bidang/Lembaga/Unit baru dalam rangka pelaksanaan


program dimungkinkan sejauh tidak menyimpang dan bertentangan
dengan AD/ART yayasan.
2. Pembentukan Lembaga dan Unit sebagaimana dimaksud tidak boleh
menyebabkan timbulnya timpang tindih fungsi, wewenang dan
tanggungjawab dalam tubuh lembaga ataupun Yayasan.
3. Pembentukan Lembaga sebagaimana dimaksud pasal 8 ayat (1) tidak
boleh menyebabkan timbulnya timpang tindih fungsi, wewenang dan
tanggungjawab dalam tubuh lembaga.

BABV

RAPAT - RAPAT YAYASAN

Pasal 9

Rapat adalah suatu pertemuan yang dapat membuat keputusan dan


ketetapan yayasan yang dilakukan di masing-masing organ yayasan.

KEDUDUKAN, TUGAS, WEWENANG DAN WAKTU RAPAT-RAPAT

Pasal 10

Rapat-rapat didalam yayasan ini terdiri dari:

1. Rapat Majelis Yayasan atau Musyawarah Besar :


2. Rapat Majelis Yayasan adalah rapat tertinggi yayasan yang diadakan
oleh semua organ yayasan dan semua Badang /lembaga yang berada
dibawah naungan yayasan.
3. Rapat Majelis Yayasan diadakan paling sedikit sekali dalam 1 (satu)
periode kepengurusan yayasan.
4. Panggilan Rapat Majelis Yayasan dilakukan oleh Dewan Pembina atau
Pengurus yang disetujui oleh Dewan Pembina secara langsung, atau
melalui surat selambat-lambatnya tujuh hari sebelum pelaksanaan dan
dipimpin oleh Dewan Pembina atau Pengurus Yayasan yang ditunjuk
oleh Dewan Pembina.
5. Rapat Majelis Yayasan dilakukan bertujuan sebagai wadah
permusyawaratan bagi seluruh Badan/lembaga serta organ dan atau
seluruh anggota yayasan, dan atau bertujuan untuk mernbuat atau
menetap Blue print /Garis Besar Arah Yayasan dan atau bertujuan
merubah atau memperbaiki AD/ART yayasan.
6. Rapat Dewan Pembina :
7. Rapat Dewan Pembina diadakan paling sedikit sekali dalam 1 (satu)
tahun, paling lambat dalam waktu lima bulan setelah akhir tahun buku
sebagai rapat tahunan.
8. Panggilan rapat Dewan Pembina dilakukan oleh Dewan Pembina secara
langsung, atau melalui surat dengan mendapat tanda terima, paling
lambat 7 (tujuh) hari sebelum rapat diadakan.
9. Rapat Dewan Pembina dipimpin oleh ketua Dewan Pembina, dan jika
ketua Dewan Pembina tidak hadir atau berhalangan, maka rapat Dewan
Pembina akan dipimpin oleh seorang yang dipilih oleh dan dari anggota
Dewan Pembina yang hadir.
10. Rapat Dewan Pembina bertujuan antara lain :
11. Menilai pertanggungjawaban pengurus yayasan
12. Memilih dan menetapkan susunan pengurus dan pengawas yayasan.

iii. Memilih dan menetapkan Dewan Pembina.

1. Hal hal yang tidak diatur dalam AD-ART


2. Rapat Pengurus :
3. Rapat pengurus diadakan minimal sekali dalam kurun waktu 4 (empat)
bulan.
4. Rapat pengurus dapat diadakan setiap waktu bila dipandang perlu atas
permintaan tertulis dari satu orang atau lebih pengurus, pengawas atau
dewan pembina.
5. Panggilan rapat pengurus dilakukan oleh pengurus dan dihadiri
sekurang-kurangnya jumlah kuorum anggota Pengurus.
6. Rapat pengurus dipimpin oleh ketua umum.
7. Apabila ketua berhalangan hadir, maka rapat pengurus dipimpin oleh
seorang anggota pengurus yang dipilih oleh dan dari pengurus yang
hadir.
8. Mengangkat dan atau memberhentikan Ketua atau Kepala Bidang.
9. Menilai pertanggungjawaban Bidang/lembaga.
10. Rapat Pengawas :
11. Rapat pengawas diadakan paling sedikit sekali dalam 1 (satu) tahun.
12. Rapat pengawas dapat dilakukan setiap waktu bila dianggap perlu atas
permintaan tertulis dari seorang atau lebih pengawas atau dewan
pembina.
13. Rapat pengawas dipimpin oleh ketua pengawas dan dihadiri sekurang-
kurangnya jumlah kuorum anggota Pengawas.
14. Apabila ketua pengawas berhalangan hadir, maka rapat pengawas
akan dipimpin oleh salah seorang pengawas yang dipilih oleh dan dari
pengawas yang hadir.
15. Rapat Pengawas bertujuan antara lain untuk melakukan pengawasan
dan evaluasi kinerja pengurus dan atau yang terkait dengan
kepentingan pengawas yang akan menjadi pertimbangan dari dewan
Pembina dan pengurus
Rapat Gabungan :

1. Rapat gabungan adalah rapat yang didakan oleh pengurus dan


pengawas dewan pembina dan/atau pengawas untuk mengangkat
dewan pembina, bila terjadi kekosongan dewan pembina
2. Rapat gabungan diadakan paling lambat 60 (enam puluh) hari terhitung
sejak Yayasan tidak lagi mempunyai Dewan Pembina, Pemanggilan
untuk rapat dilakukan oleh Pengurus Yayasan.
3. Rapat gabungan dipimpin oleh Ketua Pengurus, apabila ketua
berhalangan maka pimpinan rapat dipimpin oleh Ketua Pengawas.
4. Apabila keduanya tidak hadir maka, rapat gabungan dipimpin oleh
Pengurus atau Pengawas yang dipilih oleh dan dari Pengurus dan
Pengawas yang hadir.

HAK BICARA DAN HAK SUARA

Pasal 11

1. Hak bicara hakekatnya menjadi hak perorangan yang penggunaannya


diatur oleh tata tertib rapat.
2. Hak suara anggota dipergunakan dalam pengambilan keputusan dan
pada dasarnya dimiliki oleh peserta.

BAB VI

STRUKTUR ORGAN YAYASAN

Pasal 12

Struktur Organ Yayasan terdiri dari :

1. Dewan Pembina adalah organ tertinggi Yayasan.


2. Komposisi Struktural organ Yayasan adalah

DEWAN PEMBINA

Ketua : Dr .H. [Link]

Anggota : Drs. H. Kusnadi. MSI

Herzi
PENGAWAS

Ketua : Muhammad Lutharif,SE

Anggota : Efri Suswita Marheni, SH

PENGURUS

Ketua Umum : Jamiad,[Link]

Sekretaris : Alridho Karfiansyah SH

Bendahara : Yasha Alfhini,SP

Wakil Bendahara : Anuari, S.P

BAB VII

KEUANGAN DAN KEKAYAAN

Pasal 13

1. Keuangan dan kekayaan Yayasan diatur dalam Peraturan Yayasan.


2. Hak-hak yang menyangkut pemasukan dan pengeluaran dari dan untuk
yayasan wajib dipertanggungjawabkan dalam forum-forum yang akan
ditentukan dalam peraturan yayasan.

BAB VIII

SUMBER DAN PENGELOLAAN KEUANGAN

Pasal 14

1. Tanah wakaf
2. Pendapatan berupa Kotak Amal
3. Pendapatan yang terdiri dari :
4. Hasil usaha dari unit unit Yayasan
5. Pendapatan lain yang bersifat insidentil
6. Bantuan masyarakat yang halal dan tidak mengikat
7. Bantuan instansi Pemerintah dan swasta yang halal dan tidak mengikat
8. Setiap penghasilan dari tanah dan atau barang serta fasilitas yang
dimiliki oleh yayasan.

Pasal 15

Pengelolaan Keuangan Yayasan :

1. Semua dana wajib disetorkan kepada Yayasan melalui bendahara dan


disimpan di rekening yayasan.
2. Dana yang dikelola oleh Bidang / lembaga, sesuai dengan peruntukan
dan pendapatannya yang merupakan hasil pengembangan usaha
masing-masing unit.
3. Pemasukan sebagai sumber keuangan dan Pengeluaran sebagai beban
biaya dari yayasan dan yang terkait dibukukan dengan baik dan benar.
4. Yayasan wajib memenuhi peraturan dan perundang undangan dalam hal
kaitan dengan Instansi Pemerintah sebagai Pelaporan yayasan
5. Hal hal detil terkait dengan Pengelolaan keuangan diatur dalam
Peraturan Pengurus Yayasan dan tidak bententangan dengan AD ART
Yayasan.

BAB IX

Pasal 16

PEMBENTUKAN DAN PERTANGGUNGJAWABN UNIT USAHA

1. Yayasan berhak untuk membentuk, mengembangkan dan mengawasi


setiap Unit Unit Usaha yang dibentuk
2. Unit usaha dikelola secara profesional
3. Pertanggungjawaban Unit Usaha merupakan tanggung jawab
sepenuhnya dari Unit usaha tersebut.
4. Yayasan terlepas dari tanggung jawab apabila terjadi penyimpangan dan
atau kerugian maupun kepailitan. Hal tersebut merupakan tanggung
jawab pengurus Unit secara profesional.

BAB X

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 17

1. Perubahan dan atau penyempurnaan Anggaran Rumah Tangga hanya


dapat dilakukan dalam rapat Majelis Yayasan.
2. Segala sesuatu yang belum cukup diatur dalam Anggaran Rumah
Tangga ini akan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Yayasan dan atau
Surat Keputusan Pengurus Yayasan.
3. Anggaran Rumah Tangga ini berlaku sejak ditetapkan
4. Apabila ada hal hal yang bertentangan dengan AD atau Peraturan
perundang-undangan maka hanya poin poin tersebut saja dinyatakan
tidak berlaku dan ketentuan ketentuan terkait mengikuti petunjuk dari
Dewan Pembina.

Ditetapkan di : SAMBAS

Pada Tanggal

Anda mungkin juga menyukai