Pencucian Uang: Definisi dan Regulasi Indonesia
Pencucian Uang: Definisi dan Regulasi Indonesia
1 M. Arief Amrullah, Tindak Pidana Pencucian Uang: Money Laundering, (Malang: Bayumedia
Publishing, 2004), hlm. 8.
2 Yunus Husein dan Roberts K., Tipologi dan Perkembangan Tindak Pidana Pencucian Uang, ed. 1, cet. 3,
(Depok: PT RajaGrafindo Persada, 2018), hlm. 3.
3 Sutan Remy Sjahdeini, Seluk Beluk Tindak Pidana Pencucian Uang dan Pembiayaan Terorisme, ed. 1,
cet. 2, (Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti, 2004), hlm. 1.
4 Ibid., hlm. 6.
Definisi tindak pidana pencucian uang di atas merupakan salah satu hal yang
ditambahkan melalui Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 sebagai upaya tindak lanjut
pemerintah Indonesia dalam mengubah Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak
Pidana Pencucian Uang yang dikeluhkan oleh Financial Action Task Force on Money
Laundering (FATF) karena mengandung banyak kelemahan dari segi regulasi dan pengaturan
mengenai tindak pidana pencucian uang itu sendiri.5
Atas dasar alasan sosiologis, guna menyesuaikan dengan perkembangan kebutuhan
penegakan hukum praktik dan standar internasional, definisi tersebut dicabut oleh Pasal 1 butir 1
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana
Pencucian Uang. Undang-undang tersebut mengartikan pencucian uang sebagai segala perbuatan
yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana sesuai dengan ketentuan yang diatur di dalamnya.
Selain Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan
Tindak Pidana Pencucian Uang, kini dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 1 Tahun
2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Indonesia telah memiliki definisi secara
luas terkait apa itu yang dimaksud sebagai pencucian uang pada Pasal 607 sebagai berikut:
“Setiap Orang yang:
a. menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan,
menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah bentuk,
menukarkan dengan mata uang atau Surat berharga atau perbuatan lain atas Harta
Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil Tindak
Pidana dengan tujuan menyembunyikan atau menyamarkan asal usul Harta
Kekayaan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan
pidana denda paling banyak kategori VII;
b. menyembunyikan atau menyamarkan asal usul, sumber, lokasi, peruntukan,
pengalihan hak-hak, atau kepemilikan yang sebenarnya atas Harta Kekayaan yang
diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil Tindak Pidana, dipidana
dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling
banyak kategori VI;
c. menerima atau menguasai penempatan, pentransferan, pembayaran, hibah,
sumbangan, penitipan, penukaran, atau menggunakan Harta Kekayaan yang
Adapun perangkat hukum internasional yang paling utama dalam upaya memberantas
kejahatan terorganisir transnasional, yaitu United Nations Convention against Transnational
Organized Crime 2000 (“UNTOC”) (Konvensi Palermo), sebagaimana telah diratifikasi melalui
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2009, juga memberikan definisi tentang money laundering
sebagai berikut dalam Pasal 6:
"Each State Party shall adopt, in accordance with fundamental principles of its domestic
law, such legislative and other measures as may be necessary to establish as criminal
offences, when committed intentionally:
(i) The conversion or transfer of property, knowing that such property is the proceeds of
crime, for the purpose of concealing or disguising the illicit origin of the property of
helping any person who is involved in the commission of the predicate offence to evade
the legal consequences of his or her action;
(ii) The concealment or disguise of the true nature, source, location, disposition,
movement or ownership of or rights with respect to property, knowing that such property
is the proceeds of crime.”
Definisi tersebut di atas menekankan pada pencucian uang sebagai tindakan pengalihan
harta kekayaan hasil tindak pidana. Tidak hanya sekadar mengalihkan, upaya untuk
menyamarkan atau menyembunyikan asal-usul, pergerakan atau sifat dari harta kekayaan
tersebut juga termasuk sebagai tindak pidana pencucian uang. Berbeda perspektif dengan
UNTOC, US Department of The Treasury menekankan bahwa pencucian uang mengacu pada
transaksi keuangan yang mengancam integritas sistem finansial. Berikut adalah lebih
lengkapnya:
"Money laundering generally refers to financial transactions in which criminals,
including terrorist organizations, attempt to disguise the proceeds, sources or nature of
their illicit activities. Money laundering facilitates a broad range of serious underlying
criminal offenses and ultimately threatens the integrity of the financial system." 6
Pengertian di atas mengindikasikan sifat dari pencucian uang yang melibatkan sistem
keuangan sehingga menjadikan kejahatan ini sebagai kejahatan kerah putih, sebagaimana
dinyatakan oleh Petter Gottschalk bahwa, “Money laundering is an example of financial crime
often carried out as white-collar crime. Money laundering is a sort of criminal activity trying to
conceal the illegality of proceeds of crime by disguising them as lawful earnings." 7Dalam
definisi ini, Gottschalk menekankan bagaimana pencucian uang termasuk dalam kategori
kejahatan kerah putih mengingat tindak pidana ini dimotivasi oleh motif finansial untuk
menguntungkan diri tanpa melibatkan kekerasan.
Adrian Sutedi menjabarkan pengertian pencucian uang, bahwa secara umum pencucian
uang merupakan cara atau metode yang dilakukan untuk menyembunyikan, memindahkan dan
menggunakan hasil dari tindak pidana. Tindak pidana itu bisa berasal dari kegiatan organisasi
kejahatan, kejahatan ekonomi, korupsi, perdagangan narkotika dan tindak pidana lainnya yang
termasuk sebagai kejahatan.8 Dahulu memang pencucian uang lebih sering dikaitkan dengan
narkotika dan penjualan minuman keras ilegal. Akan tetapi, seiring perkembangannya, kini
pencucian uang meluas hingga harta kekayaan yang diperoleh dari kejahatan terorganisasi
lainnya.9
Dalam menyimpulkan pengertian-pengertian istilah pencucian uang yang beraneka
macam, Sutan Remy Sjahdeini mengemukakan bahwa pada dasarnya:
“Pencucian uang atau money laundering adalah rangkaian kegiatan yang merupakan
proses yang dilakukan oleh seseorang atau organisasi terhadap uang haram, yaitu uang
yang berasal dari tindak pidana, dengan maksud untuk menyembunyikan atau
menyamarkan asal-usul uang tersebut dari pemerintah atau otoritas berwenang yang
berwenang melakukan penindakan terhadap tindak pidana, dengan cara antara lain dan
terutama memasukkan uang tersebut ke dalam sistem keuangan (financial system)
6 U.S. Department of The Treasury, "Money Laundering," United States Government Website, tersedia
pada [Link] diakses pada tanggal 19
Maret 2024.
7 Husein dan K., Tipologi dan Perkembangan..., hlm. 7.
8 Ibid.
9 Amrullah, Tindak Pidana Pencucian Uang..., hlm. 12.
sehingga uang tersebut kemudian dapat dikeluarkan dari sistem keuangan itu sebagai
uang yang halal.”
Terlepas dari segala pengertian mengenai pencucian uang, sejatinya pencucian uang
dilakukan oleh pelaku kejahatan dalam upaya mengurangi atau menghilangkan resiko ditangkap,
atau tidak dirampasnya harta kekayaan hasil tindak pidana yang dikuasainya sehingga dapat
terlaksana tujuan akhir dari kejahatan itu, yakni untuk menikmati keuntungan tanpa terjerat oleh
hukum yang berlaku.10
10 Aziz Syamsuddin, Tindak Pidana Khusus, (Jakarta: Sinar Grafika, 2011), hlm. 19.
11 Suyitno L.S., "Peranan Kepolisian dalam Menindaklanjuti Laporan PPATK," Jurnal Hukum Bisnis, No.
3 (2003), hlm. 42.
12 Sjahdeini, Seluk Beluk Tindak Pidana..., hlm. 13.
[Link] Tahap-Tahap Pencucian Uang
Sebagaimana uraian sebelumnya, pencucian uang merupakan kegiatan yang terdiri dari
kegiatan-kegiatan yang rumit dan kompleks. Kegiatan tersebut penting untuk mereka lakukan,
baik melalui lembaga keuangan bank maupun non bank, karena pada umumnya harta kekayaan
yang berasal dari tindak pidana tersebut tidak langsung dibelanjakan atau digunakan oleh pelaku
kejahatan karena kemungkinan akan mudah dicurigai oleh aparat penegak hukum. 13 Para pakar
kini telah mengelompokkan proses pencucian uang tersebut ke dalam tiga tahap kegiatan, yaitu
penempatan (placement), pemisahan (layering) dan penggabungan (integration). Ketiga tahap ini
dalam praktiknya dapat terjadi secara terpisah atau simultan, atau secara umum dilakukan secara
tumpang tindih.14
20 Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/27/PBI/2012 tentang Penerapan Program Pencucian Uang dan
Pencegahan Terorisme bagi Bank Umum, LN Tahun 2012 No. 290 TLN No. 5385, selanjutnya disebut PBI
Penerapan Program APU dan PPT bagi Bank Umum, Pasal 7.
21 Itzikowitz, Money Laundering, hlm. 306.
22 Sjahdeini, Seluk Beluk Tindak Pidana..., hlm. 35.
23 Itzikowitz, Money Laundering, hlm. 303.
dana tersebut kemudian tidak didiamkan saja, melainkan terus diusahakan pergerakannya
dalam upaya untuk semakin menjauhkan dana tersebut dari sumbernya, ini dilakukan
dengan cara membuat transaksi-transaksi berlapis untuk memperkuat anonimitas dari
dana tersebut.24 PPATK menjabarkan bentuk dari kegiatan ini dapat berupa antara lain:25
a. transfer dana dari suatu bank ke bank lain dan/atau antar wilayah atau negara;
b. penggunaan simpanan tunai sebagai agunan untuk mendukung transaksi yang sah;
c. memindahkan uang tunai lintas batas negara melalui jaringan kegiatan usaha yang
sah maupun perusahaan gadungan atau shell company.
24 Ibid.
25 Yusuf, Ikhtisar Ketentuan Pencegahan..., hlm. 17.
26 Sjahdeini, Seluk Beluk Tindak Pidana..., hlm. 36.
27 Ibid.
28 Muchsin, Ikhtisar Hukum Indonesia, hlm. 201-202.
29 Paul Kennedy, "Watching The Clothes Go Round: Combating The Effects of Money Laundering on
Economic Development and International Trade," Currents: International Trade Law Journal 12, No. 1 (2003),
hlm. 141.
30 Michael Levi, "Money Laundering and Its Regulation," Annals of The American Academy of Political
and Social Science 582 (2002), hlm. 185.
perusahaan luar negeri (offshore entity).31 Untuk dapat melangsungkan loan back, pelaku
pencucian uang harus menemukan orang yang mereka percayai untuk membentuk
perjanjian pinjaman, dimana dalam perjanjian tersebut secara keliru dinyatakan bahwa si
pemberi pinjaman meminjamkan dananya kepada penerima pinjaman, dalam hal ini
adalah si pelaku pencucian uang.32
Melalui cara di atas, pelaku pencucian uang akan menerima dokumen yang absah
mengenai sumber dana mereka.33 Dokumen perjanjian pinjaman yang dibuat antara si
pelaku pencucian uang dan perusahaan asing itu dapat digunakan untuk melegitimasi
kekayaan yang mereka peroleh dari hasil kejahatan. Perusahaan luar negeri dipilih
menjadi sumber memperoleh pinjaman karena sering kali perusahaan luar negeri dengan
concealed ownership sulit untuk mendeteksi siapa yang menjadi pemilik atau
mengendalikan perusahaan luar negeri tersebut.34
Adapun double invoicing atau faktur ganda merupakan tindakan yang disengaja
dalam mengirimkan beberapa faktur untuk barang atau jasa yang sama. 35 Metode dari
double invoicing ini melibatkan teknik dimana perusahaan dengan sengaja membuat
faktur fiktif agar si pelaku pencucian uang dapat mengirimkan faktur duplikat. 36 Double
invoicing dapat terjadi pada perusahaan dengan tingkat pengendalian internal yang
lemah, kelemahan ini dapat dimanfaatkan oleh pelaku pencucian yang untuk mengirim
beberapa faktur palsu tanpa dicurigai.37 Selain itu, audit keuangan perusahaan yang tidak
dilakukan secara berkala atau menyimpang, dapat juga memberi kesempatan bagi pelaku
pencucian uang untuk melakukan double invoicing.38 Oleh karena itu, penting bagi setiap
perusahaan untuk menetapkan prosedur audit yang tegas dan memadai untuk mencegah
tindakan ini.
Sebagai tahap ketiga dari pencucian uang, tahap ini adalah titik pangkal yang membentuk
langkah terakhir menuju tujuan pencucian uang itu sendiri. Tahap integration akan
mempersilahkan pelaku pencucian uang untuk pada akhirnya menikmati kekayaan hasil
kejahatan yang mereka lakukan dengan dilandasi dasar yang absah menurut hukum.
Menurut hemat penulis, jika pada tahap placements dan layering pergerakan uang masih
di dalam sistem perbankan, pada tahap integrasi ini uang hasil kejahatan tersebut sudah mulai
masuk ke dalam sirkulasi ekonomi. Tentu digunakannya uang tersebut untuk kegiatan-kegiatan
sah yang dilakukan pada tahap ini menimbulkan dampak yang signifikan terhadap sistem
keuangan dan juga tantangan tersendiri dalam pendeteksiannya. 45 Adapun dampak tersebut di
45 Ibid.
antaranya, yakni dapat menggoyahkan sistem keuangan, mendistorsi data ekonomi,
meningkatkan risiko krisis keuangan, bahkan juga membahayakan integritas lembaga
keuangan.46 Cara untuk mendeteksi pencucian pada tahap ini adalah dengan melibatkan aktivitas
analisa tingkat lanjut, penggunaan algoritma dan praktik customer due diligence yang
komprehensif.47
Dari cara-cara yang disebutkan tersebut, Customer Due Diligence ("CDD") merupakan
salah satu prosedur yang wajib dilakukan oleh penyedia jasa keuangan di Indonesia. Pasal 1
angka 12 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 8 Tahun 2023 tentang Penerapan Program
Anti Pencucian Uang, Pencegahan Pendanaan Terorisme, dan Pencegahan Pendanaan Proliferasi
Senjata Pemusnah Massal di Sektor Jasa Keuangan, menyatakan CDD adalah kegiatan yang
mencakup identifikasi, verifikasi, dan pemantauan yang dilakukan oleh penyedia jasa keuangan
untuk memastikan transaksi yang dilakukan itu sesuai dengan profil, karakteristik, dan/atau pola
transaksi calon nasabah, nasabah, atau nasabah dari luar (walk-in customer).48
46 Ibid.
47 Ibid.
48 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang, Pencegahan
Pendanaan Terorisme dan Pencegahan Pendanaan Proliferasi Senjata Pemusnah Massal Di Sektor Jasa Keuangan,
POJK Nomor 8 Tahun 2023, LN Tahun 2023 Nomor 11, Pasal 1 angka 12.
49 Reda Manthovani dan Narendra Jatna, Rezim Anti Pencucian Uang dan Perolehan Hasil Kejahatan Di
Indonesia, (Jakarta: CV Malibu, 2012), hlm. 24.
50 Ibid., hlm. 24-25.
dengan harga yang lebih tinggi daripada harga yang sebenarnya. Ini dilakukan dengan
tujuan untuk memperoleh fee atau discount. Adapun kelebihan harga dari harga yang
tinggi tersebut dibayar dengan menggunakan uang hasil kegiatan ilegal untuk diputar
kembali dalam transaksi bisnis. Dengan dilakukannya strategi ini, setiap aset, barang atau
jasa dapat diubah seakan-akan menjadi hasil yang legal melalui rekening pribadi atau
perusahaan yang ada di suatu bank.
2. Offshore Conversions
Metode ini dilakukan dengan cara mengalihkan dana ilegal ke wilayah suatu
negara yang merupakan tax haven bagi pencucian uang. Dana tersebut dialihkan untuk
disimpan di bank atau lembaga keuangan yang ada di wilayah yurisdiksi negara tax
haven tersebut. Selain disimpan, dana tersebut kemudian seringkali digunakan untuk
membeli aset dan investasi (fund investments). Di negara tax haven, terdapat
kecenderungan bahwa peraturan perpajakan yang dimiliki lebih longgar, ketentuan
rahasia bank yang cukup ketat dan prosedur bisnis yang sangat mudah. Karakteristik ini
memberi perlindungan bagi kerahasiaan suatu transaksi bisnis, pembentukan dan kegiatan
usaha trust fund maupun badan usaha lainnya. Manfaat kerahasiaan inilah yang
menyediakan ruang gerak yang leluasa bagi pergerakan proceeds of crime dalam
berbagai pusat keuangan di dunia. Pada metode offshore conversions ini biasanya para
pengacara, akuntan dan pengelola dana memiliki peran penting dengan adanya
kelonggaran yang ditawarkan oleh ketentuan rahasia bank dan rahasia perusahaan.
51 Legal Information Institute, "Modus Operandi," Cornell Law School, Juli 2020, tersedia pada
[Link] diakses pada tanggal 24 Maret 2024.
52 Tim Riset PPATK, Riset Tipologi Tahun 2021 Berdasarkan Putusan Pengadilan Pencucian Uang
Tahun 2020, (Jakarta: Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, 2021), hlm. 100
i. Skema U-Turn, yaitu dengan melakukan beberapa transaksi dari satu perusahaan ke
perusahaan gadungan (shell company) yang tidak sesuai dengan dengan bidang bisnis
perusahaan sehingga hanya dimanfaatkan sebagai medium untuk perputaran dana hasil
tindak pidana. Uang ini kemudian dikembalikan ke rekening asal. Skema ini ditemukan
dalam kasus pencucian uang pada Jiwasraya;
j. Skema Cuckoo Smurfing, yaitu mengaburkan asal usul sumber dana dengan mengirimkan
dana – dana hasil tindak kejahatannya melalui rekening pihak ketiga dimana pihak ketiga
ini tidak menyadari bahwa dana yang diterima adalah hasil tindak pidana. Transaksi ini
biasanya digunakan untuk membeli aset ataupun mengakuisisi bisnis di luar negeri.
Modus ini ditemukan dalam kasus pencucian uang pada Jiwasraya;
k. Modus penyuapan kepada pejabat dengan menggunakan polis asuransi. Pembayaran
premi sengaja dilebihkan agar kelebihan tersebut kemudian dikembalikan kepada pejabat
yang bersangkutan;
l. Modus tindak pidana pencucian uang yang tindak pidana asalnya adalah korupsi
dilakukan dengan cara double financing pada proyek pembangunan desa. Proyek
pembangunan desa yang telah didanai melalui Corporate Social Responsibility (CSR)
perusahaan swasta kemudian diajukan oleh para pejabat desa pada anggaran desa.
Kemudian, dana tersebut masuk ke rekening pribadi pejabat desa yang bersangkutan.
Adapun tipologi kejahatan berkembang dari modus operandi yang dilangsungkan oleh
pelaku. Munir Fuady dalam bukunya Hukum Perbankan Indonesia, mengutip Mahmoeddin
H.A.S perihal 8 (delapan) modus operandi pencucian uang sebagai berikut:53
53 Munir Fuady, Hukum Perbankan Indonesia, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2001), hlm. 155.
2. Kredit Bank Swiss
Modus operandi ini memanfaatkan sarana perbankan dengan cara memasukkan uang
hasil kejahatan pada bank tertentu di luar negeri. Melalui bank tersebut, uang hasil
kejahatan ditransfer ke bank Swiss dalam bentuk deposito. Deposito ini kemudian
dijadikan jaminan utang atas pinjaman dari bank di negara lain. Pinjaman dari bank di
negara lain ini kemudian diinvestasikan kembali ke negara asal dimana kejahatan
dilakukan.
6. Penyamaran Dokumen
Modus operandi ini dilakukan dengan cara melegitimasi uang hasil kejahatan
menggunakan dokumen bisnis yang direkayasa sehingga dianggap uang tersebut adalah
hasil dari berbisnis. Rekayasa itu dilakukan misalnya dengan melakukan double
invoicing dalam aktivitas ekspor-impor.
7. Pinjaman Luar Negeri
Uang hasil kejahatan dibawa ke luar negeri untuk kemudian dibawa kembali ke dalam
negeri dalam bentuk pinjaman. Cara ini akan membuat kesan bahwa uang tersebut
diperoleh dari pinjaman atau bantuan kredit dari luar negeri.
54 Anton Sudanto, "Penerapan Hukum Pidana Narkotika Di Indonesia," ADIL: Jurnal Hukum 7 No. 1
(2017), hlm. 140.
55 Sjahdeini, Seluk Beluk Tindak Pidana..., hlm. 148-149.
UU TPPU 2002 menjelaskan bahwa penetapan undang-undang tersebut merupakan langkah yang
menegaskan bahwa pemerintah merupakan bagian dari penyelesaian masalah. 56 Menurut hemat
penulis, pernyataan tersebut benar-benar terlihat dari inisiatif pembentukan Pusat Pelaporan dan
Analisis Transaksi Keuangan ("PPATK") yang terlahir dari UU TPPU 2002. PPATK merupakan
lembaga independen yang bertanggung jawab kepada Presiden, yang dibentuk dalam rangka
mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang.57
Secara substansial, aturan mengenai tindak pidana pencucian uang dapat dilihat dalam
Pasal 3 dan Pasal 6 UU TPPU 2002. Pasal 3 mengatur tindak pidana pencucian uang yang
dilakukan oleh setiap orang sebagai pelaku aktif, sedangkan Pasal 6 ditujukan bagi pelaku pasif
tindak pidana pencucian uang. Sebagai undang-undang yang pertama kali mengatur tindak
pidana pencucian uang, undang-undang ini ternyata tidak memuaskan bagi Financial Action
Task Force on Money Laundering (“FATF”) karena mengandung banyak kelemahan.
Kelemahan-kelemahan ini dijabarkan dalam surat dari Presiden FATF, Jochen Sanio, tertanggal
3 Juli 2002, yang secara garis besar menyorot hal-hal sebagai berikut:58
56 Undang-Undang Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, UU Nomor 15 Tahun 2002, LN Tahun 2002
No. 30 TLN No. 4191, selanjutnya disebut UU TPPU 2002, Penjelasan Umum.
57 UU TPPU 2002, Pasal 1 angka 8.
58 Sjahdeini, Seluk Beluk Tindak Pidana..., hlm. 146-147.
diperluas.
● Tidak adanya ketentuan anti-tipping off akan membuat
pelapor transaksi mencurigakan rentan untuk dijerat pidana.
● Jangka waktu kewajiban pelaporan transaksi mencurigakan
yang harus dilakukan dalam 14 (empat belas) hari pada
Pasal 13 perlu dipersingkat.
Tabel 1. Poin-Poin Kelemahan yang disorot oleh Financial Action Task Force terkait Undang-Undang Nomor 15
Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang
Pertimbangan di atas menurut peneliti merupakan langkah bijak yang dilakukan oleh para
perancang undang-undang maupun aparat penegak hukum dalam merefleksikan apa yang telah
menjadi kekurangan dalam pelaksanaan peraturan perundang-undangan sebelumnya sehingga
bukan hanya pelaksanaannya saja yang perlu dibenahi, melainkan juga menciptakan perubahan
pada aspek instrumen hukum yang mampu mengantisipasi berbagai pola kejahatan pencucian
uang. Perubahan tersebut dilaksanakan melalui penetapan 15 (lima belas) materi muatan baru
dalam UU TPPU 2010, yakni dari redefinisi pengertian tindak pidana pencucian uang hingga
pengaturan mengenai harta kekayaan yang berasal dari tindak pidana.62
Perbuatan tindak pidana pencucian uang dalam UU TPPU 2010 terdapat pada aturan
Pasal 3, Pasal 4 dan Pasal 5 UU TPPU 2010. R. Wiyono membagi kualifikasi tindak pidana
pencucian uang atas pasal-pasal tersebut ke dalam 2 (dua) jenis, yaitu tindak pidana pencucian
aktif dan tindak pidana pencucian uang pasif. 63 Menurut hemat penulis, penggolongan ini
didasarkan pada rumusan perbuatan yang terdapat dalam isi masing-masing pasal. Pelaku aktif
pencucian uang merupakan pihak yang secara langsung melancarkan aksinya, baik itu dengan
cara menempatkan, mentransfer, mengalihkan, sebagaimana diatur oleh Pasal 3 UU TPPU 2010.
Perbuatan aktif lainnya, yaitu meliputi upaya untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal-
usul harta kekayaan, sebagaimana diatur oleh Pasal 4 UU TPPU 2010.
Penulis berpendapat, perbuatan-perbuatan tersebut dianggap sebagai pencucian uang aktif
karena tindakan-tindakan seperti menempatkan, membelanjakan, itu merupakan tindakan yang
diusahakan oleh pelaku. Dengan kata lain, terdapat upaya dan niat untuk mencapai suatu tujuan
di dalamnya. Argumen ini didukung oleh pendapat R. Wiyono bahwa dikatakan TPPU aktif
apabila pelaku bersikap aktif menyembunyikan atau menyamarkan harta kekayaan hasil tindak
64 Ibid.
65 UU TPPU 2010, Pasal 10.
66 Husein dan K., Tipologi dan Perkembangan..., hlm. 99.
[Link] Tindak Pidana Pencucian Uang dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023
tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Pada 2 Januari 2023, lahir Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-
Undang Hukum Pidana ("KUHP Baru"). Kehadiran KUHP Baru berupaya untuk
mendemokratisasi hukum pidana melalui penyesuaian yang sejalan dengan kepentingan nasional.
Usaha ini dilakukan dengan rekodifikasi aturan pidana dalam berbagai aspek, tidak terkecuali
aturan mengenai tindak pidana pencucian uang. Pasal 622 ayat (1) huruf x menyatakan bahwa
pada saat KUHP Baru mulai berlaku, ketentuan dalam Pasal 2 ayat (1), Pasal 3, Pasal 4, dan
Pasal 5 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak
Pidana Pencucian Uang ("UU TPPU 2010"), dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Secara substansial, ketentuan tindak pidana pencucian uang pada Pasal 607 KUHP Baru
tidak banyak berubah dari ketentuan yang diatur sebelumnya dalam UU TPPU 2010. Akan
tetapi, perbedaan utama dapat ditinjau dari ancaman sanksi yang ditetapkan. Berikut peneliti
uraikan 2 (dua) poin perubahan yang dilakukan terhadap ketentuan UU TPPU 2010 dalam
KUHP Baru:
1. Pasal 2 ayat (1) UU TPPU 2010, yang menguraikan tindak pidana asal (predicate crime)
apa saja yang harta kekayaannya menjadi sumber dari kejahatan pencucian uang, telah
digantikan oleh Pasal 607 ayat (2). Adapun dari hasil pengamatan peneliti, tidak ada
perbedaan daftar jenis tindak pidana asal antara UU TPPU 2010 dengan KUHP Baru.
Hanya saja, perubahan ini dapat berimplikasi kedepannya dalam hal penulisan dasar
hukum yang tidak lagi merujuk pada Pasal 2 ayat (1) UU TPPU 2010, melainkan Pasal
607 ayat (2) KUHP Baru.
2. Pengaturan Pasal 3, Pasal 4 dan Pasal 5 UU TPPU 2010 kini disatukan di bawah pasal
yang sama, yakni Pasal 607 ayat (1) KUHP Baru. Meskipun ketiga pasal UU TPPU 2010
tersebut dinaungi oleh pasal yang sama dalam KUHP Baru, namun dapat dilihat bahwa
setiap kualifikasi memiliki besaran pidana denda yang masing-masing sudah dipatok
kategorinya. Adapun kategori denda tersebut adalah sebagai berikut:
a. Pasal 607 ayat (1) huruf a KUHP Baru, yang menggantikan Pasal 3 UU TPPU
2010, dengan denda paling banyak Kategori VII (Rp15.000.000.000,00 atau lima
belas miliar rupiah).
b. Pasal 607 huruf b dan c KUHP Baru, yang menggantikan berturut-turut Pasal 4
dan Pasal 5 UU TPPU 2010, dengan denda paling banyak Kategori VI
(Rp2.000.000.000,00 atau dua miliar rupiah)
Hal ini tidak sama seperti UU TPPU 2010 yang ancaman denda di antara ketiganya
masing-masing adalah berbeda. Adapun ancaman denda maksimum Pasal 3, Pasal 4 dan Pasal 5
UU TPPU 2010 berturut-turut adalah Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah),
Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah), dan Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah. Perbedaan
ini menunjukkan bahwa besaran ancaman denda maksimum KUHP Baru lebih tinggi daripada
yang diberlakukan sebelumnya oleh UU TPPU 2010. Untuk memperjelas perbandingan di antara
keduanya, berikut adalah tabel perbedaan sanksi pidana TPPU antara KUHP Baru dan UU TPPU
2010.
Tabel 2. Perbedaan Ancaman Sanksi Pidana Tindak Pidana Pencucian Uang dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun
2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan
dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
2.2. Kerentanan Teknologi Finansial Digital terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang
Setelah membahas pengertian pencucian uang dan bagaimana tindak pidana tersebut
dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa, modus operandi pencucian uang yang melibatkan
segala macam cara dan alat, akan mencetak ragam tipologi tindak pidana pencucian uang yang
baru. Penguatan perangkat hukum akan selalu dikejar secepat perkembangan tipologi tersebut.
Sectoral Risk Assessment Tindak Pidana Pencucian Uang ("TPPU"), Tindak Pidana Pendanaan
Terorisme ("TPPT"), dan Pendanaan Proliferasi Senjata Pemusnah Massal ("PPSPM") di
Sektor Jasa Keuangan merupakan salah satu inisiatif OJK dalam mengevaluasi kerentanan
sektor jasa keuangan terhadap risiko TPPU, TPPT dan PPSPM. Antisipasi ini menunjukkan
betapa rentan kemajuan teknologi finansial digital untuk dimanfaatkan oleh pelaku sebagai
sarana kejahatan baru.
Pasal 1 angka 1 Peraturan Bank Indonesia Nomor 19/12/PBI/2017 tentang
Penyelenggaraan Teknologi Finansial, mendefinisikan teknologi finansial atau financial
technology ("Fintech") sebagai, “...penggunaan teknologi dalam sistem keuangan yang
menghasilkan produk, layanan, teknologi, dan/atau model bisnis baru serta dapat berdampak
pada stabilitas moneter, stabilitas sistem keuangan, dan/atau efisiensi, kelancaran, keamanan,
dan keandalan sistem pembayaran.”67 Di Indonesia, model bisnis terbagi menjadi dua, yaitu
fintech secara konvensional dan fintech berprinsip syariah. Fintech secara konvensional maupun
syariah keduanya diatur dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan ("OJK"). Adapun
penyelenggaraan fintech syariah juga mengacu pada Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis
Ulama Indonesia (“DSN MUI”) Nomor 117 Tahun 2018 tentang Layanan Pembiayaan Berbasis
Teknologi Informasi Berdasarkan Prinsip Syariah. Per Januari 2024, OJK mencatat ada sebanyak
94 (sembilan puluh empat) penyelenggara Fintech Lending konvensional dan 7 (tujuh)
penyelenggara Fintech Lending Syariah.68
Dalam rangka meningkatkan inklusi keuangan, perkembangan fintech di Indonesia
menjadi begitu pesat. Hal ini ditunjukkan oleh statistik Otoritas Jasa Keuangan yang mencatat
peningkatan penyaluran dana fintech lending sebesar 36.6% dalam rentang waktu September
2021 sampai dengan Juni 2023.69 Data tersebut mengindikasikan bahwa hanya dalam rentang
70 Douglas Arner, Janos Barberis, dan Ross Buckley, "The Evolution of Fintech: A New Post-Crisis
Paradigm?," University of Hong Kong Faculty of Law Research Paper, No. 047 (2015), hlm. 4.
perkembangan fintech dari masa ke masa secara ringkas menurut The Evolution of Fintech: A
New Post-Crisis Paradigm?:71
71 Ibid.
Terjadinya krisis keuangan pada tahun 2008 membuat persepsi masyarakat
terhadap lembaga keuangan menurun. Oleh karena peristiwa ini, diperkirakan sekitar 8.7
orang Amerika kehilangan pekerjaannya. Musibah ini disiasati dengan cara membenahi
kembali kewajiban dan struktur bisnis bank melalui reformasi regulasi. Reformasi pasca
krisis ini ternyata membawa dampak berupa munculnya pemain-pemain baru dalam
bidang keuangan sehingga membatasi kapasitas bank untuk bersaing. Pemain-pemain ini
salah satunya adalah platform pinjaman peer-to-peer lending yang menyediakan layanan
pinjaman kredit selain bank. Melambungnya angka pengangguran akibat krisis ekonomi
ini membuat banyak perusahaan maupun individu membutuhkan modal cepat.
Keterbatasan kapasitas bank untuk mengakomodasi kebutuhan yang tinggi ini
meningkatkan keberadaan perusahaan pemberi modal lain, seperti start-up dengan model
bisnis peer-to-peer lending. Hingga pada masa kini, topologi fintech secara garis besar
terdiri dari lima bidang, yakni (1) keuangan dan investasi, (2) operasi dan manajemen
risiko, (3) pembayaran dan infrastruktur, (4) keamanan data dan monetisasi, dan (5)
customer interface.
Perkembangan teknologi finansial digital atau fintech semakin canggih pada masa
kini, khususnya di Indonesia. Penggunaannya yang secara masif membuat fenomena ini
turut berdampak bagi perkembangan industri keuangan, perputaran ekonomi hingga gaya
hidup masyarakat. Revolusi yang disebabkan oleh teknologi finansial digital tentu harus
dibersamai oleh kerangka kebijakan yang berorientasi pada penyelesaian masalah
sehingga regulasi yang dihasilkan dapat mencerminkan kepentingan masyarakat dan
menciptakan ketertiban sosial.
Tujuan teknologi finansial digital adalah untuk mempermudah transaksi keuangan
bagi berbagai kalangan masyarakat. Masyarakat yang tidak dapat dijangkau oleh bank
konvensional, bisa memanfaatkan teknologi finansial digital sebagai alternatif untuk
menikmati produk-produk keuangan. Inklusi keuangan seperti ini dapat berdampak baik
bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Jangan sampai manfaat yang dibawa oleh
teknologi finansial digital malah diperkeruh oleh kebijakan dan penegakan hukum yang
lemah.
Implikasi teknologi finansial digital pada sosio-ekonomi Indonesia dapat ditilik
dari tantangan dan peluang yang dibawa olehnya. Menurut hemat penulis, peluang
pertama adalah bahwa fintech dapat mendukung inklusi keuangan sehingga dapat
berkontribusi pada peningkatan Indeks Pembangunan Manusia Indonesia. Kedua, fintech
dinilai mampu meningkatkan perputaran ekonomi Indonesia sehingga tujuan Indonesia
Emas 2024 mudah tercapai. Adapun untuk tantangan fintech, yang pertama yaitu
ancaman keamanan siber atau cyberattack dapat berdampak pada kerugian ekonomi.
Kedua, lemahnya perlindungan hukum terhadap konsumen membuat praktik
penyelenggaraan bisnis fintech seringkali melanggar hukum.
1. Pembayaran Digital
Layanan pembayaran digital memungkinkan pengguna untuk bertransaksi
dimanapun dan kapanpun melalui platform digital yang tersambung internet sehingga
pengguna tidak perlu membawa uang tunai. Uang yang digunakan dalam transaksi adalah
uang elektronik yang disimpan sebagai data dalam kartu, QR Code, maupun perangkat
telepon seluler.72 Contoh perusahaan rintisan yang menyediakan layanan ini salah satunya
adalah Gojek melalui produk GoPay, Jenius, Dompetku dan LinkAja.
3. Perencanaan Keuangan
Teknologi finansial ini membantu pengguna dalam melakukan perencanaan
finansial untuk memastikan pengguna dapat berhemat jangka panjang, memberikan
saran-saran keputusan, serta mengatur jumlah pemasukan dan pengeluaran agar
memudahkan pengguna mencapai tujuan finansial yang diinginkan. Contoh perusahaan
rintisan dengan layanan ini, yaitu Moneyhub dan Finansialku.
4. Insurtech
Layanan ini pada dasarnya merupakan inovasi industri asuransi menjadi berbasis
teknologi informasi. Layanan ini memungkinkan pengguna dalam melakukan pembelian
dan klaim asuransi melalui platform digital. 74 Seringkali proses klaim dan administrasi
pada asuransi konvensional memakan waktu yang lama. Dengan insurtech, pengelolaan
dan analisa data pengguna dilakukan dengan memanfaatkan teknologi sehingga
73 Ibid.
74 Hanafi, Dasar-Dasar Fintech Financial Technology, (Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2021), hlm. 21.
prosesnya cepat dan optimal. Salah satu contoh perusahaan insurtech adalah Pasar Polis,
RajaPremi dan Axinan.
5. Blockchain
Blockchain bukanlah layanan, melainkan suatu teknologi yang dimanfaatkan
dalam berbagai sektor industri. Teknologi ini melakukan penyimpanan data terdistribusi
yang menyimpan buku besar transaksi publik untuk mata uang kripto atau
cryptocurrency.75 Pengguna menggunakan teknologi blockchain untuk membuat buku
besar dalam melacak pesanan, pembayaran atau transaksi mata uang kripto. 76 Inilah
mengapa teknologi blockchain memegang peranan penting dalam jaringan mata uang
kripto seperti bitcoin, litecoin dan PPcoin.
6. Robo-Advisor
Robo-Advisor merupakan penasihat investasi. Teknologi ini melayani investor
dalam hal manajemen investasi, dari merancang portofolio investasi yang optimal
sehingga memberi saran-saran investasi yang dapat memaksimalkan hasil investasi.
Robo-Advisor juga melakukan analisa berdasarkan algoritma secara real-time sehingga
rekomendasi yang diberikan bersifat dinamis sesuai dengan perubahan kondisi pasar
modal dan ekonomi makro. Contoh aplikasi yang menggunakan teknologi Robo-Advisor
adalah Bareksa.
7. Crowdfunding
Perusahaan rintisan bidang fintech dengan model bisnis crowdfunding
menyediakan wadah bagi individu atau perusahaan untuk mendapatkan pendanaan yang
melibatkan masyarakat luas sebagai investor. Skema pembiayaan crowdfunding dijuluki
sebagai 'pendanaan demokratis' karena pendanaan dalam skala kecil tersebut datang dari
sejumlah orang layaknya 'menyumbang' sehingga individu atau perusahaan tersebut dapat
8. E-Commerce
Menurut Akbar & Alam, e-commerce merupakan suatu proses bisnis berupa
pemberian, penjualan dan pemasaran barang dan jasa melalui sistem elektronik yang
terhubung dengan jaringan internet.78 Dengan kata lain, E-commerce menghubungkan
penjual dan pembeli secara digital. Sebagai wadah yang menampung toko-toko online, E-
commerce mempermudah penjual dalam memasarkan produknya tanpa harus memiliki
bangunan fisik. Pembeli pun juga dapat dengan mudah mencari produk yang diinginkan
melalui platform e-commerce. Contoh platform e-commerce adalah Tokopedia, Lazada
dan Shopee.
2.2.3 Ancaman Tindak Pidana Pencucian Uang pada Layanan Teknologi Finansial Digital
Pemaparan sebelumnya berupaya untuk memberi gambaran bagaimana eksistensi fintech
berperan selayaknya pedang bermata dua. Di satu sisi fintech menawarkan peluang yang
menjanjikan bagi pertumbuhan ekonomi, di lain sisi peluang tersebut juga disertai dengan
ancaman akan modus kejahatan baru seperti risiko terhadap terjadinya pencucian uang. Pasalnya,
perkembangan model bisnis keuangan inovatif seperti dompet digital, crowdfunding, atau
pinjaman online, berpotensi untuk disasar sebagai sarana baru untuk menyelundupkan dana hasil
kejahatan.
Pada bagian tahap-tahap pencucian uang, sempat diuraikan terkait salah satu modus
pembukaan sebanyak mungkin rekening bank. Aksi ini diklasifikasikan oleh para ahli sebagai
proses layering pada pencucian uang. Tingginya frekuensi kajian mengenai kecenderungan pada
pencucian uang membuat cara-cara kejahatan tertentu mudah untuk dilacak karena sudah
menjadi pengetahuan awam bagi aparat penegak hukum. Hal ini memicu pelaku kejahatan
berpotensi untuk memutar otak memikirkan metode baru. Fenomena berkembangnya modus
79 Rifdah, "Fintech Academy FEB UI, PPATK, OVO, dan Bareksa: Tren Pencucian Uang dan Pendanaan
Terorisme pada Fintech," Fakultas Ekonomi dan Bisnis, 31 Oktober 2022, tersedia pada
[Link]
terorisme-pada-fintech/, diakses pada 5 April 2024.
80 Financial Action Task Force, The FATF Recommendations, (Perancis: Financial Action Task Force,
2012-2023), Rekomendasi FATF Nomor 1 dapat dilihat pada hlm. 10.
tinggi sebagai pelaku pencucian uang. Sedangkan hasil penilaian terhadap LUDBTI, penipuan
merupakan tindak pidana asal yang berisiko tinggi. Sebagai tambahan, Pejabat Negara dan Partai
Politik merupakan pihak yang berisiko tinggi sebagai pemodal dan penerbit korporasi layanan
urun dana.
Hasil penilaian SRA Sektor SJK 2023 di atas sengaja peneliti paparkan untuk
menunjukkan bahwa ancaman TPPU terhadap fintech adalah benar nyatanya. Hasil asesmen
terhadap risiko TPPU terhadap fintech menunjukkan bahwa sifat fintech yang cepat dan dinamis
bisa dimanfaatkan sebagai sarana pencucian uang. Hal ini berbeda dengan bank konvensional
yang diproteksi oleh berbagai persyaratan regulasi yang bersifat kaku sehingga meninggalkan
celah yang sempit bagi pencucian uang.81 Karakteristik fintech yang terhubung dengan jaringan
internet juga menawarkan daya tarik tersendiri bagi pelaku pencucian uang, kegiatan ini
selanjutnya disebut sebagai cyberlaundering. Dua faktor yang menjadi daya tarik pelaku
pencucian uang dalam memanfaatkan fintech adalah karena transaksinya yang tidak face-to-face
dan kecepatan transaksi yang mempermudah pemindahan dana lintas negara.82
Pusat Pelaporan Transaksi Keuangan ("PPATK"), mengutip pernyataan seorang pakar
tindak pidana pencucian uang, Yenti Ganarsih, yang menegaskan bahwa industri apapun yang
berbasis teknologi digital memang akan sangat rentan dijadikan sarana pencucian uang apabila
fungsi kontrol pemerintah tidak berjalan dengan baik.83 Salah satu kunci cara untuk mengendus
tindak pidana pencucian uang pada sistem keuangan pertama kali adalah dengan mendeteksi
transaksi mencurigakan. PPATK menunjukkan kenaikan Laporan Transaksi Keuangan
Mencurigakan ("LTKM") per Juni 2023 sebanyak 53,10% dibandingkan bulan Juni 2022. 84
Tingginya kenaikan laporan transaksi mencurigakan ini memanggil pemerintah untuk
membentuk regulatory technology ("RegTech") yang mampu mengidentifikasi risiko tindak
pidana pencucian uang pada sistem fintech.
81 Hidayatullah M. A. Nasution, "Hati-Hati Pencucian Uang di Industri Fintech," PPATK, 24 Juli 2019,
tersedia pada [Link]
diakses pada tanggal 6 April 2024.
82 Ahmad Ghozi, "The Urgency of Electronic Know Your Customer (e-KYC): How Electronic Customer
Identification Works To Prevent Money Laundering in The Fintech Industry," Diponegoro Law Review 7, No. 1
(2022), hlm. 40.
83 Hidayatullah M. A. Nasution, "Hati-Hati Pencucian Uang di Industri Fintech," PPATK, 24 Juli 2019,
tersedia pada [Link]
diakses pada tanggal 6 April 2024.
84 Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, Buletin Statistik Anti Pencucian Uang dan
Pencegahan Pendanaan Terorisme (APUPPT) serta Pendanaan Proliferasi Senjata Pemusnah Massal (PPSPM),
(Jakarta: Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, 2023), hlm. 1.
Menurut Butler & Brooks, RegTech merupakan pemanfaatan teknologi dalam
pemberantasan tindak pidana pencucian uang yang dapat meningkatkan kohesi dan koherensi
pada tingkat kelembagaan.85 Contohnya adalah dengan menggunakan Artificial Intelligence
("AI") dalam memonitor perilaku konsumen sehingga penyedia jasa keuangan dapat dengan
mudah menerapkan pendekatan berbasis risiko yang mematuhi regulasi anti pencucian uang.
Risiko tindak pidana pencucian uang pada fintech juga dapat disiasati melalui penerapan
Electronic Know Your Customer ("e-KYC"), atau Customer Due Diligence ("CDD"),
sebagaimana FATF Recommendations No.10.86 Penerapan ini, jika dikombinasikan dengan
pengaturan RegTech yang adaptif, dapat menangkal ancaman tindak pidana pencucian uang dari
industri teknologi finansial digital.
85 Tom Butler dan Robert Brooks, "On the role of ontology-based RegTech for managing risk and
compliance reporting in the age of regulation," Journal of Risk Management in Financial Institutions 11, No. 1
(2018), hlm. 19.
86 Financial Action Task Force, The FATF Recommendations, Rekomendasi FATF Nomor 10 dapat dilihat
pada hlm. 14.