0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan36 halaman

Pencucian Uang: Definisi dan Regulasi Indonesia

Diunggah oleh

amandageraldine2
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan36 halaman

Pencucian Uang: Definisi dan Regulasi Indonesia

Diunggah oleh

amandageraldine2
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 2

Tindak Pidana Pencucian Uang dan Kerentanan Teknologi

2.1. Tindak Pidana Pencucian Uang dan Perkembangan Pengaturannya di Indonesia


2.1.1. Pengertian Tindak Pidana Pencucian Uang
Pencucian uang atau money laundering merupakan tindak pidana yang telah lama dikenal
seiring dengan pesatnya perkembangan dunia bisnis dan ekonomi. Jenis kejahatan ini mampu
mengancam kepentingan dalam skala nasional maupun internasional. 1 Hal ini karena sifat dari
pencucian uang yang kejahatannya menembus batas-batas yurisdiksi negara. 2 Sampai pada saat
ini, belum terdapat pengertian atau definisi yang universal dan komprehensif dalam mengartikan
istilah pencucian uang. Belum terdapatnya pengertian yang komprehensif dilatarbelakangi oleh
faktor bahwa setiap pihak memiliki pengertiannya sendiri-sendiri berdasarkan sudut pandang
yang berbeda.3 Untuk itu, berikut diuraikan apa yang termasuk sebagai tindak pidana pencucian
uang di beberapa negara, serta pengertian dari para ahli dan lembaga-lembaga pemberantas
tindak pidana pencucian uang.
Pencucian uang pernah didefinisikan dalam Pasal 1 butir 1 Undang-Undang Nomor 25
Tahun 2003 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak
Pidana Pencucian Uang yang kini telah dicabut dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010
tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang sebagai berikut:
“Pencucian Uang adalah perbuatan menempatkan, mentransfer, membayarkan,
membelanjakan, menghibahkan, menyumbangkan, menitipkan, membawa ke luar negeri,
menukarkan, atau perbuatan lainnya atas Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut
diduga merupakan hasil tindak pidana dengan maksud untuk menyembunyikan, atau
menyamarkan asal usul Harta Kekayaan sehingga seolah-olah menjadi Harta Kekayaan
yang sah.”4

1 M. Arief Amrullah, Tindak Pidana Pencucian Uang: Money Laundering, (Malang: Bayumedia
Publishing, 2004), hlm. 8.
2 Yunus Husein dan Roberts K., Tipologi dan Perkembangan Tindak Pidana Pencucian Uang, ed. 1, cet. 3,
(Depok: PT RajaGrafindo Persada, 2018), hlm. 3.
3 Sutan Remy Sjahdeini, Seluk Beluk Tindak Pidana Pencucian Uang dan Pembiayaan Terorisme, ed. 1,
cet. 2, (Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti, 2004), hlm. 1.
4 Ibid., hlm. 6.
Definisi tindak pidana pencucian uang di atas merupakan salah satu hal yang
ditambahkan melalui Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 sebagai upaya tindak lanjut
pemerintah Indonesia dalam mengubah Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak
Pidana Pencucian Uang yang dikeluhkan oleh Financial Action Task Force on Money
Laundering (FATF) karena mengandung banyak kelemahan dari segi regulasi dan pengaturan
mengenai tindak pidana pencucian uang itu sendiri.5
Atas dasar alasan sosiologis, guna menyesuaikan dengan perkembangan kebutuhan
penegakan hukum praktik dan standar internasional, definisi tersebut dicabut oleh Pasal 1 butir 1
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana
Pencucian Uang. Undang-undang tersebut mengartikan pencucian uang sebagai segala perbuatan
yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana sesuai dengan ketentuan yang diatur di dalamnya.
Selain Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan
Tindak Pidana Pencucian Uang, kini dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 1 Tahun
2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Indonesia telah memiliki definisi secara
luas terkait apa itu yang dimaksud sebagai pencucian uang pada Pasal 607 sebagai berikut:
“Setiap Orang yang:
a. menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan,
menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah bentuk,
menukarkan dengan mata uang atau Surat berharga atau perbuatan lain atas Harta
Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil Tindak
Pidana dengan tujuan menyembunyikan atau menyamarkan asal usul Harta
Kekayaan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan
pidana denda paling banyak kategori VII;
b. menyembunyikan atau menyamarkan asal usul, sumber, lokasi, peruntukan,
pengalihan hak-hak, atau kepemilikan yang sebenarnya atas Harta Kekayaan yang
diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil Tindak Pidana, dipidana
dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling
banyak kategori VI;
c. menerima atau menguasai penempatan, pentransferan, pembayaran, hibah,
sumbangan, penitipan, penukaran, atau menggunakan Harta Kekayaan yang

5 Ibid., hlm. 144.


diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil Tindak Pidana, dipidana
dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak
kategori VI.”

Adapun perangkat hukum internasional yang paling utama dalam upaya memberantas
kejahatan terorganisir transnasional, yaitu United Nations Convention against Transnational
Organized Crime 2000 (“UNTOC”) (Konvensi Palermo), sebagaimana telah diratifikasi melalui
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2009, juga memberikan definisi tentang money laundering
sebagai berikut dalam Pasal 6:
"Each State Party shall adopt, in accordance with fundamental principles of its domestic
law, such legislative and other measures as may be necessary to establish as criminal
offences, when committed intentionally:
(i) The conversion or transfer of property, knowing that such property is the proceeds of
crime, for the purpose of concealing or disguising the illicit origin of the property of
helping any person who is involved in the commission of the predicate offence to evade
the legal consequences of his or her action;
(ii) The concealment or disguise of the true nature, source, location, disposition,
movement or ownership of or rights with respect to property, knowing that such property
is the proceeds of crime.”

Definisi tersebut di atas menekankan pada pencucian uang sebagai tindakan pengalihan
harta kekayaan hasil tindak pidana. Tidak hanya sekadar mengalihkan, upaya untuk
menyamarkan atau menyembunyikan asal-usul, pergerakan atau sifat dari harta kekayaan
tersebut juga termasuk sebagai tindak pidana pencucian uang. Berbeda perspektif dengan
UNTOC, US Department of The Treasury menekankan bahwa pencucian uang mengacu pada
transaksi keuangan yang mengancam integritas sistem finansial. Berikut adalah lebih
lengkapnya:
"Money laundering generally refers to financial transactions in which criminals,
including terrorist organizations, attempt to disguise the proceeds, sources or nature of
their illicit activities. Money laundering facilitates a broad range of serious underlying
criminal offenses and ultimately threatens the integrity of the financial system." 6

Pengertian di atas mengindikasikan sifat dari pencucian uang yang melibatkan sistem
keuangan sehingga menjadikan kejahatan ini sebagai kejahatan kerah putih, sebagaimana
dinyatakan oleh Petter Gottschalk bahwa, “Money laundering is an example of financial crime
often carried out as white-collar crime. Money laundering is a sort of criminal activity trying to
conceal the illegality of proceeds of crime by disguising them as lawful earnings." 7Dalam
definisi ini, Gottschalk menekankan bagaimana pencucian uang termasuk dalam kategori
kejahatan kerah putih mengingat tindak pidana ini dimotivasi oleh motif finansial untuk
menguntungkan diri tanpa melibatkan kekerasan.
Adrian Sutedi menjabarkan pengertian pencucian uang, bahwa secara umum pencucian
uang merupakan cara atau metode yang dilakukan untuk menyembunyikan, memindahkan dan
menggunakan hasil dari tindak pidana. Tindak pidana itu bisa berasal dari kegiatan organisasi
kejahatan, kejahatan ekonomi, korupsi, perdagangan narkotika dan tindak pidana lainnya yang
termasuk sebagai kejahatan.8 Dahulu memang pencucian uang lebih sering dikaitkan dengan
narkotika dan penjualan minuman keras ilegal. Akan tetapi, seiring perkembangannya, kini
pencucian uang meluas hingga harta kekayaan yang diperoleh dari kejahatan terorganisasi
lainnya.9
Dalam menyimpulkan pengertian-pengertian istilah pencucian uang yang beraneka
macam, Sutan Remy Sjahdeini mengemukakan bahwa pada dasarnya:
“Pencucian uang atau money laundering adalah rangkaian kegiatan yang merupakan
proses yang dilakukan oleh seseorang atau organisasi terhadap uang haram, yaitu uang
yang berasal dari tindak pidana, dengan maksud untuk menyembunyikan atau
menyamarkan asal-usul uang tersebut dari pemerintah atau otoritas berwenang yang
berwenang melakukan penindakan terhadap tindak pidana, dengan cara antara lain dan
terutama memasukkan uang tersebut ke dalam sistem keuangan (financial system)

6 U.S. Department of The Treasury, "Money Laundering," United States Government Website, tersedia
pada [Link] diakses pada tanggal 19
Maret 2024.
7 Husein dan K., Tipologi dan Perkembangan..., hlm. 7.
8 Ibid.
9 Amrullah, Tindak Pidana Pencucian Uang..., hlm. 12.
sehingga uang tersebut kemudian dapat dikeluarkan dari sistem keuangan itu sebagai
uang yang halal.”

Terlepas dari segala pengertian mengenai pencucian uang, sejatinya pencucian uang
dilakukan oleh pelaku kejahatan dalam upaya mengurangi atau menghilangkan resiko ditangkap,
atau tidak dirampasnya harta kekayaan hasil tindak pidana yang dikuasainya sehingga dapat
terlaksana tujuan akhir dari kejahatan itu, yakni untuk menikmati keuntungan tanpa terjerat oleh
hukum yang berlaku.10

2.1.2 Tahap-Tahap dan Metode Pencucian Uang


Penjelasan mengenai istilah pencucian uang di atas telah memberikan gambaran secara
garis besar bahwa pencucian yaitu sebagai suatu rangkaian kegiatan atau proses untuk
melegitimasi hasil perolehan keuntungan dari tindak pidana yang dilakukan. Hasil perolehan dari
tindak pidana atau proceeds of crime ini tidak begitu saja dimanfaatkan oleh pelaku, melainkan
harus dilakukan melalui tahapan-tahapan agar hasil perolehan tersebut kemudian tidak dicurigai
oleh aparat penegak hukum. Karena lagi-lagi, tujuan dari pencucian uang tidak hanya untuk
memisahkan proceeds of crime dari tindak pidana yang dilakukan, tetapi juga untuk dapat
menikmati keuntungan ekonomis yang diperoleh dari tindak pidana tersebut. Lebih jauh lagi,
pencucian uang dapat saja juga dilakukan untuk reinvestasi hasil perolehan tindak pidana dengan
maksud membiayai aksi kejahatan selanjutnya.11 Dengan mencuci hasil perolehan tindak pidana,
uang tersebut secara formil yuridis akan terlihat seakan-akan berasal dari sumber yang sah atau
kegiatan yang tidak melanggar hukum.12
Dalam upaya membuat proceeds of crime menjadi barang yang sah dan tidak dicurigai
berasal dari suatu tindak pidana, terdapat tahapan-tahapan yang perlu dilalui. Selain itu, terdapat
juga metode-metode yang biasanya dipakai oleh pelaku untuk memasukkan hasil perolehannya
tersebut ke dalam sistem keuangan. Hal inilah yang membuat pencucian uang terdiri dari
rangkaian aktivitas yang sangat kompleks. Akan tetapi, para pakar telah membagi tahapan-
tahapan dan metode pencucian uang seperti yang akan diuraikan di bawah ini.

10 Aziz Syamsuddin, Tindak Pidana Khusus, (Jakarta: Sinar Grafika, 2011), hlm. 19.
11 Suyitno L.S., "Peranan Kepolisian dalam Menindaklanjuti Laporan PPATK," Jurnal Hukum Bisnis, No.
3 (2003), hlm. 42.
12 Sjahdeini, Seluk Beluk Tindak Pidana..., hlm. 13.
[Link] Tahap-Tahap Pencucian Uang
Sebagaimana uraian sebelumnya, pencucian uang merupakan kegiatan yang terdiri dari
kegiatan-kegiatan yang rumit dan kompleks. Kegiatan tersebut penting untuk mereka lakukan,
baik melalui lembaga keuangan bank maupun non bank, karena pada umumnya harta kekayaan
yang berasal dari tindak pidana tersebut tidak langsung dibelanjakan atau digunakan oleh pelaku
kejahatan karena kemungkinan akan mudah dicurigai oleh aparat penegak hukum. 13 Para pakar
kini telah mengelompokkan proses pencucian uang tersebut ke dalam tiga tahap kegiatan, yaitu
penempatan (placement), pemisahan (layering) dan penggabungan (integration). Ketiga tahap ini
dalam praktiknya dapat terjadi secara terpisah atau simultan, atau secara umum dilakukan secara
tumpang tindih.14

1. Penempatan atau Placement


Pada tahap pertama proses pencucian uang ini, dana yang diperoleh dari suatu
aktivitas kejahatan ditempatkan ke dalam suatu sistem keuangan. 15 Penempatan dana di
dalam sistem perbankan ini melibatkan aktivitas fisik dengan uang tunai maupun uang
giral. Dalam hal uang tunai, dapat dilakukan baik melalui penyelundupan uang tunai dari
suatu negara ke negara lain, menggabungkan antara uang tunai yang berasal dari
kejahatan dengan uang yang diperoleh dari hasil kegiatan yang sah, sedangkan uang giral
dapat dilakukan misalnya melalui deposito bank, cek atau melalui real estate atau saham-
saham atau juga mengkonversikan ke dalam mata uang lainnya atau transfer ke valuta
asing.16 Meskipun tahap ini melibatkan serangkaian transaksi penempatan yang tersebar
dimana-mana, namun pada tahap dimana uang memasuki sistem keuangan inilah yang
digunakan sebagai langkah kunci dalam mendeteksi operasi pencucian uang. 17 PPATK
dalam Ikhtisar Ketentuan Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

13 Amrullah, Tindak Pidana Pencucian Uang..., hlm. 32.


14 Muhammad Yusuf, Ikhtisar Ketentuan Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian
Uang dan Pendanaan Terorisme, ed.1, cet. 2., (Jakarta: Pusat Pelaporan Dana Analisis Transaksi Keuangan, 2013),
hlm. 16.
15 Muchsin, Ikhtisar Hukum Indonesia, ed. 1, cet. 1, (Jakarta: Badan Penerbit Iblam, 2005), hlm. 201-202.
16 Ibid.
17 Angela Itzikowitz, "Money Laundering," South African Mercantile Law Journal 6, No. 3 (1994), hlm.
306.
dan Pendanaan Terorisme menyebutkan beberapa bentuk kegiatan dalam tahap
placement, antara lain:18
a. menempatkan dana pada bank. Biasanya diikuti dengan pengajuan kredit /
pembiayaan;
b. menyetorkan uang pada Penyedia Jasa Keuangan ("PJK") sebagai pembayaran
kredit untuk mengaburkan adit trail;
c. menyelundupkan uang tunai dari suatu negara ke negara lain;
d. membiayai suatu usaha seolah-olah sah atau terkait dengan usaha yang sah berupa
kredit/pembiayaan sehingga mengubah kas menjadi kredit/pembiayaan; dan
e. membeli barang-barang berharga yang bernilai tinggi untuk keperluan pribadi,
membelikan hadiah yang bernilai mahal sebagai bentuk penghargaan kepada
pihak lain yang pembayarannya dilakukan melalui PJK.

Inisiatif perangkat hukum nasional dalam mensiasati kegiatan pada tahap


ini adalah dengan mengoptimalisasi pengaturan dalam hal penyampaian laporan
transaksi keuangan mencurigakan, khususnya dalam sektor jasa keuangan.
Peraturan PPATK Nomor 1 Tahun 2021 tentang Tata Cara Penyampaian Laporan
Transaksi Keuangan Mencurigakan, Transaksi Keuangan Tunai dan Transaksi
Keuangan Transfer Dana Dari dan Ke Luar Negeri melalui Aplikasi goAML bagi
Penyedia Jasa Keuangan, menempatkan bank sebagai salah satu PJK yang wajib
menyampaikan laporan ke PPATK. Adapun Pasal 2 ayat (2) huruf c menegaskan
salah satu transaksi yang wajib dilaporkan adalah transaksi keuangan tunai dalam
jumlah paling sedikit Rp500.000.000,00 atau dengan mata uang asing yang
bernilai setara, baik dalam satu transaksi maupun beberapa kali transaksi dalam
satu hari kerja.19
Selain Peraturan PPATK, regulasi tingkat internal dari penyedia jasa
keuangan pun juga penting untuk diatur, salah satunya aturan yang dicanangkan
oleh Bank Indonesia melalui Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/27/PBI/2012

18 Yunus, Ikhtisar Ketentuan Pencegahan..., hlm. 16.


19 Peraturan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan tentang Tata Cara Penyampaian Laporan
Transaksi Keuangan Mencurigakan, Transaksi Keuangan Tunai, Transaksi Keuangan Transfer Dana Dari Dan Ke
Luar Negeri Melalui Aplikasi Goaml Bagi Penyedia Jasa Keuangan, Peraturan PPATK Nomor 1 Tahun 2021, BN
Tahun 2021 Nomor 70, Pasal 2 ayat (2) huruf c.
tentang Penerapan Program Pencucian Uang dan Pencegahan Terorisme bagi
Bank Umum (“PBI APU dan PPT Bank Umum”). Pasal 42 PBI APU dan PPT
Bank Umum mewajibkan setiap bank untuk memiliki sistem pengendalian
internal yang efektif, dengan dibuktikan melalui kebijakan, prosedur dan
pemantauan internal. Dengan demikian setiap kantor cabang wajib memiliki unit
kerja khusus yang dilibatkan dalam pelatihan Program Anti Pencucian Uang dan
Pencegahan Pendanaan Terorisme ("Program APU dan PPT"). Adapun yang
bertanggung jawab menerima laporan transaksi keuangan yang berpotensi
mencurigakan dari unit kerja terkait yang berhubungan dengan nasabah adalah
pejabat unit khusus, atau pejabat yang bertanggung jawab dalam penerapan
Program APU dan PPT.20
Melalui ketentuan di atas, dapat dilihat bahwa yang berkewajiban
melaporkan transaksi keuangan mencurigakan adalah setiap pegawai pada unit
terkait yang berhubungan langsung dengan nasabah sebagai front-line. Sebagai
komparasi, ketentuan ini berbeda dengan yang diterapkan oleh Afrika Selatan.
Section 10 Drugs and Drug Trafficking Act Republic of South Africa mengatur
bahwa hanya direksi, manajer dan pejabat eksekutif institusi keuangan yang
memiliki hak untuk melaporkan kecurigaannya kepada pihak berwenang.21

2. Pemisahan atau Layering


Setelah penempatan dana hasil perolehan kejahatan ke dalam suatu sistem
keuangan, langkah selanjutnya adalah tahap layering atau heavy-soaping.22 Tahap ini
dilakukan dengan cara menyebarkan uang tersebut dari satu bank ke yang lain dan dari
negara yang satu ke negara yang lain sampai beberapa kali, pelaksanaannya dilakukan
dengan memecah-mecah jumlah uang tersebut sehingga penyebaran jumlah itu dapat
mempersulit aparat penegak hukum dalam melakukan pelacakan. 23 Berbeda dengan
placement dimana pelaku baru hanya menempatkan dananya ke dalam beberapa medium,

20 Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/27/PBI/2012 tentang Penerapan Program Pencucian Uang dan
Pencegahan Terorisme bagi Bank Umum, LN Tahun 2012 No. 290 TLN No. 5385, selanjutnya disebut PBI
Penerapan Program APU dan PPT bagi Bank Umum, Pasal 7.
21 Itzikowitz, Money Laundering, hlm. 306.
22 Sjahdeini, Seluk Beluk Tindak Pidana..., hlm. 35.
23 Itzikowitz, Money Laundering, hlm. 303.
dana tersebut kemudian tidak didiamkan saja, melainkan terus diusahakan pergerakannya
dalam upaya untuk semakin menjauhkan dana tersebut dari sumbernya, ini dilakukan
dengan cara membuat transaksi-transaksi berlapis untuk memperkuat anonimitas dari
dana tersebut.24 PPATK menjabarkan bentuk dari kegiatan ini dapat berupa antara lain:25
a. transfer dana dari suatu bank ke bank lain dan/atau antar wilayah atau negara;
b. penggunaan simpanan tunai sebagai agunan untuk mendukung transaksi yang sah;
c. memindahkan uang tunai lintas batas negara melalui jaringan kegiatan usaha yang
sah maupun perusahaan gadungan atau shell company.

Metode dengan menggunakan perusahaan gadungan yang didirikan oleh pelaku


kejahatan biasanya dilakukan di negara-negara yang terkenal dengan undang-undang
rahasia banknya yang ketat, atau yang tidak memiliki undang-undang pencucian uang,
atau yang dikenal lemah dalam menegakkan undang-undang pencucian uang. 26
Perusahaan-perusahaan gadungan atau shell companies ini diperlakukan sebagai wadah
penampung dari uang hasil kejahatan agar terlihat seakan-akan muncul dari sebagai uang
bersih hasil keuntungan perusahaan tersebut.27 Selain memanfaatkan perusahaan
gadungan. Teknik layering juga dapat dilakukan melalui pembukaan sebanyak mungkin
rekening perusahaan-perusahaan fiktif dengan memanfaatkan ketentuan rahasia bank. 28
Bagaimanapun metode yang digunakan pada tahap ini, ada dua variasi teknik layering
yang perlu diketahui, yaitu loan back dan double invoicing.29
Loan back atau peminjaman kembali merupakan teknik private investment
dimana pelaku pencucian uang melakukan investasi dengan pinjaman yang diberikan
padanya oleh perusahaan luar negeri, yang kemudian dilunasi. 30 Pinjaman yang
diperolehnya merupakan uang hasil kejahatannya sendiri yang ditempatkan pada

24 Ibid.
25 Yusuf, Ikhtisar Ketentuan Pencegahan..., hlm. 17.
26 Sjahdeini, Seluk Beluk Tindak Pidana..., hlm. 36.
27 Ibid.
28 Muchsin, Ikhtisar Hukum Indonesia, hlm. 201-202.
29 Paul Kennedy, "Watching The Clothes Go Round: Combating The Effects of Money Laundering on
Economic Development and International Trade," Currents: International Trade Law Journal 12, No. 1 (2003),
hlm. 141.
30 Michael Levi, "Money Laundering and Its Regulation," Annals of The American Academy of Political
and Social Science 582 (2002), hlm. 185.
perusahaan luar negeri (offshore entity).31 Untuk dapat melangsungkan loan back, pelaku
pencucian uang harus menemukan orang yang mereka percayai untuk membentuk
perjanjian pinjaman, dimana dalam perjanjian tersebut secara keliru dinyatakan bahwa si
pemberi pinjaman meminjamkan dananya kepada penerima pinjaman, dalam hal ini
adalah si pelaku pencucian uang.32
Melalui cara di atas, pelaku pencucian uang akan menerima dokumen yang absah
mengenai sumber dana mereka.33 Dokumen perjanjian pinjaman yang dibuat antara si
pelaku pencucian uang dan perusahaan asing itu dapat digunakan untuk melegitimasi
kekayaan yang mereka peroleh dari hasil kejahatan. Perusahaan luar negeri dipilih
menjadi sumber memperoleh pinjaman karena sering kali perusahaan luar negeri dengan
concealed ownership sulit untuk mendeteksi siapa yang menjadi pemilik atau
mengendalikan perusahaan luar negeri tersebut.34
Adapun double invoicing atau faktur ganda merupakan tindakan yang disengaja
dalam mengirimkan beberapa faktur untuk barang atau jasa yang sama. 35 Metode dari
double invoicing ini melibatkan teknik dimana perusahaan dengan sengaja membuat
faktur fiktif agar si pelaku pencucian uang dapat mengirimkan faktur duplikat. 36 Double
invoicing dapat terjadi pada perusahaan dengan tingkat pengendalian internal yang
lemah, kelemahan ini dapat dimanfaatkan oleh pelaku pencucian yang untuk mengirim
beberapa faktur palsu tanpa dicurigai.37 Selain itu, audit keuangan perusahaan yang tidak
dilakukan secara berkala atau menyimpang, dapat juga memberi kesempatan bagi pelaku
pencucian uang untuk melakukan double invoicing.38 Oleh karena itu, penting bagi setiap
perusahaan untuk menetapkan prosedur audit yang tegas dan memadai untuk mencegah
tindakan ini.

31 Sjahdeini, Seluk Beluk Tindak Pidana..., hlm. 36.


32 Republic of Slovenia, "Prevention of Money Laundering," [Link], tersedia pada
[Link] diakses pada tanggal 21 Maret 2024.
33 Ibid.
34 Paul Bauer, "Understanding The Wash Cycle," Economic Perspective, An Electronic Journal of the
U.S. Department of State 6 No. 2 (2001), hlm. 21.
35 Andrew Gartner, "Double Invoicing: A Guide to Avoiding Fraud," genio, 24 Juni 2024, tersedia pada
[Link] diakses pada tanggal 21
Maret 2024.
36 Ibid.
37 Ibid.
38 Ibid.
3. Penggabungan atau Integration
Tahap pencucian uang setelah layering adalah tahap integration. Dalam tahap ini,
dana yang telah ditransaksikan sedemikian rupa kemudian dimanfaatkan untuk mendanai
kegiatan-kegiatan resmi sebagai suatu landasan "legitimate explanation" atas hasil
kejahatan.39 Langkah ini dilakukan dengan tujuan agar uang hasil perolehan tindak pidana
seakan tampak tidak berhubungan sama sekali dengan aktivitas-aktivitas kejahatan
sebelumnya yang merupakan sumber asli dari dana tersebut. 40 Menurut hemat penulis,
tahap ini adalah dimana pelaku kejahatan berupaya menyempurnakan tujuannya untuk
memutihkan uang hasil kejahatan yang diperolehnya.
Jika pada tahap layering pelaku kejahatan melakukan transaksi berlapis-lapis,
dana yang ditransaksikan tersebut kemudian digunakan lebih jauh lagi untuk membiayai
kegiatan bisnis yang sah, atau diinvestasikan ke dalam berbagai bentuk kekayaan material
maupun keuangan, bahkan dapat juga untuk membiayai kembali kegiatan tindak pidana. 41
Menurut hemat penulis, kegiatan investasi pada tahap ini dilakukan dalam upaya untuk
meleburkan uang hasil tindak pidana ke dalam sistem ekonomi dan sirkulasi keuangan
melalui berbagai investasi bisnis yang sah. Investasi bisnis yang sah akan membuat kesan
bahwa pelaku nampak mendapatkan uang tersebut menurut hukum. 42 Dengan
mencampurkan uang hasil kejahatan ke dalam kegiatan ekonomi yang sah (clean
economy), pelaku pencucian uang dapat dengan mudah mengelabui aparat berwenang
ketika dicurigai dari mana mereka mendapatkan dana tersebut, mengingat tahap integrasi
ini membuat aparat berwenang sulit untuk melacak jejak asal-usul kekayaan tersebut. 43
Perkembangan zaman membuat tahap integration ini semakin berkembang.
Financial Crime Academy, sarana edukasi anti kejahatan finansial global terbesar,
mencatat taktik-taktik umum yang biasa digunakan dalam tahap integration adalah
sebagai berikut:44

39 Muchsin, Ikhtisar Hukum Indonesia, hlm. 201-202.


40 Ibid.
41 Yusuf, Ikhtisar Ketentuan Pencegahan..., hlm. 16.
42 Ankita Das, "Changing Dimension of Economic Offences: A Shift from Money Laundering to Cyber
Laundering," Indian Journal of Integrated Research in Law 2, No. 4 (2022), hlm. 4
43 Ibid.
44 Anti-Money Laundering (AML), "Moneys Disguise: Exploring the Integration Stage of Money
Laundering," Financial Crime Academy, 25 Februari 2024, tersedia pada
[Link] diakses pada tanggal 21 Maret 2024.
a. Investasi pada aset sah yang dilindungi hukum. Aset sah yang dilindungi
hukum ini mencakup barang-barang bernilai tinggi seperti rumah dan tanah. Aset
ini memberi kesempatan bagi si pelaku untuk menikmati kekayaannya. Selain itu,
aset-aset ini kemudian hari dapat dijual atau digunakan sebagai jaminan pinjaman.
Ketika dibayar kembali, uang ini akan masuk ke dalam sirkulasi perekonomian.
Dalam beberapa kasus, jual-beli aset-aset ini dilakukan di negara-negara dengan
peraturan anti pencucian uang yang lemah.
b. Investasi Bisnis. Cara ini dilakukan sebagai strategi dalam tahap integrasi dengan
cara melakukan perjanjian pinjaman palsu atau berinvestasi pada perusahaan yang
sah menggunakan uang hasil kejahatan tersebut. Sebagai pemegang saham,
pelaku pencucian uang akan menerima uang bagi hasil atau dividen yang sah. Hal
ini semakin membantu menyamarkan sumber dana mereka.
c. Penggunaan Perusahaan Binatu. Kegiatan-kegiatan sah yang dilakukan melalui
suatu perusahaan dapat menjadi wadah yang sempurna untuk membuat uang
haram tampak sebagai pendapatan bisnis yang tidak melawan hukum. Melalui
perusahaan binatu, yang hanya merupakan perusahaan di atas kertas dan tidak
memiliki operasi bisnis yang nyata, dapat membuat kepemilikan dana tersebut
menjadi semakin kabur. Perusahaan binatu biasanya sengaja berlokasi di
yurisdiksi perbankan luar negeri agar menyusahkan aparat penegak hukum
melacak sumbernya.

Sebagai tahap ketiga dari pencucian uang, tahap ini adalah titik pangkal yang membentuk
langkah terakhir menuju tujuan pencucian uang itu sendiri. Tahap integration akan
mempersilahkan pelaku pencucian uang untuk pada akhirnya menikmati kekayaan hasil
kejahatan yang mereka lakukan dengan dilandasi dasar yang absah menurut hukum.
Menurut hemat penulis, jika pada tahap placements dan layering pergerakan uang masih
di dalam sistem perbankan, pada tahap integrasi ini uang hasil kejahatan tersebut sudah mulai
masuk ke dalam sirkulasi ekonomi. Tentu digunakannya uang tersebut untuk kegiatan-kegiatan
sah yang dilakukan pada tahap ini menimbulkan dampak yang signifikan terhadap sistem
keuangan dan juga tantangan tersendiri dalam pendeteksiannya. 45 Adapun dampak tersebut di

45 Ibid.
antaranya, yakni dapat menggoyahkan sistem keuangan, mendistorsi data ekonomi,
meningkatkan risiko krisis keuangan, bahkan juga membahayakan integritas lembaga
keuangan.46 Cara untuk mendeteksi pencucian pada tahap ini adalah dengan melibatkan aktivitas
analisa tingkat lanjut, penggunaan algoritma dan praktik customer due diligence yang
komprehensif.47
Dari cara-cara yang disebutkan tersebut, Customer Due Diligence ("CDD") merupakan
salah satu prosedur yang wajib dilakukan oleh penyedia jasa keuangan di Indonesia. Pasal 1
angka 12 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 8 Tahun 2023 tentang Penerapan Program
Anti Pencucian Uang, Pencegahan Pendanaan Terorisme, dan Pencegahan Pendanaan Proliferasi
Senjata Pemusnah Massal di Sektor Jasa Keuangan, menyatakan CDD adalah kegiatan yang
mencakup identifikasi, verifikasi, dan pemantauan yang dilakukan oleh penyedia jasa keuangan
untuk memastikan transaksi yang dilakukan itu sesuai dengan profil, karakteristik, dan/atau pola
transaksi calon nasabah, nasabah, atau nasabah dari luar (walk-in customer).48

[Link] Metode-Metode Pencucian Uang


Tahap-tahap pencucian uang di atas dilaksanakan dalam beberapa metode. Adanya ragam
metode ini adalah sebagai bagian dari proses untuk memasukkan uang tunai yang diperoleh dari
hasil kejahatan ke dalam sistem keuangan, dengan tujuan agar uang tunai tersebut dapat
dikonversi menjadi bentuk yang lebih mudah diubah, disembunyikan atau dibawa. 49 Seiring
perkembangan zaman, metode yang dilakukan semakin canggih. Reda Manthovani dan Narendra
Jatna dalam bukunya berjudul Rezim Anti Pencucian Uang dan Perolehan Hasil Kejahatan di
Indonesia menjabarkan metode-metode yang biasanya digunakan sebagai berikut:50

1. Buy and Sell Conversions


Metode ini dilakukan melalui jual-beli barang dan jasa. Sebagai contoh, pelaku
pencucian uang membeli atau menjual aset seperti real estate kepada co-conspirator

46 Ibid.
47 Ibid.
48 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang, Pencegahan
Pendanaan Terorisme dan Pencegahan Pendanaan Proliferasi Senjata Pemusnah Massal Di Sektor Jasa Keuangan,
POJK Nomor 8 Tahun 2023, LN Tahun 2023 Nomor 11, Pasal 1 angka 12.
49 Reda Manthovani dan Narendra Jatna, Rezim Anti Pencucian Uang dan Perolehan Hasil Kejahatan Di
Indonesia, (Jakarta: CV Malibu, 2012), hlm. 24.
50 Ibid., hlm. 24-25.
dengan harga yang lebih tinggi daripada harga yang sebenarnya. Ini dilakukan dengan
tujuan untuk memperoleh fee atau discount. Adapun kelebihan harga dari harga yang
tinggi tersebut dibayar dengan menggunakan uang hasil kegiatan ilegal untuk diputar
kembali dalam transaksi bisnis. Dengan dilakukannya strategi ini, setiap aset, barang atau
jasa dapat diubah seakan-akan menjadi hasil yang legal melalui rekening pribadi atau
perusahaan yang ada di suatu bank.

2. Offshore Conversions
Metode ini dilakukan dengan cara mengalihkan dana ilegal ke wilayah suatu
negara yang merupakan tax haven bagi pencucian uang. Dana tersebut dialihkan untuk
disimpan di bank atau lembaga keuangan yang ada di wilayah yurisdiksi negara tax
haven tersebut. Selain disimpan, dana tersebut kemudian seringkali digunakan untuk
membeli aset dan investasi (fund investments). Di negara tax haven, terdapat
kecenderungan bahwa peraturan perpajakan yang dimiliki lebih longgar, ketentuan
rahasia bank yang cukup ketat dan prosedur bisnis yang sangat mudah. Karakteristik ini
memberi perlindungan bagi kerahasiaan suatu transaksi bisnis, pembentukan dan kegiatan
usaha trust fund maupun badan usaha lainnya. Manfaat kerahasiaan inilah yang
menyediakan ruang gerak yang leluasa bagi pergerakan proceeds of crime dalam
berbagai pusat keuangan di dunia. Pada metode offshore conversions ini biasanya para
pengacara, akuntan dan pengelola dana memiliki peran penting dengan adanya
kelonggaran yang ditawarkan oleh ketentuan rahasia bank dan rahasia perusahaan.

3. Legitimate Business Conversions


Metode ini dijalankan melalui bisnis atau kegiatan usaha yang legal sebagai
wadah untuk memindahkan dan memanfaatkan hasil kejahatan yang dikonversikan dalam
bentuk transfer, cek, atau instrumen pembayaran lainnya. Hasil konversi ini kemudian
biasanya disimpan di bank, ditarik atau di transfer kembali ke rekening lainnya. Dengan
menggunakan wadah perusahaan, pelaku kejahatan akan dengan mudah menggunakan
rekening perusahaan yang bersangkutan sebagai tempat penampungan dana hasil
kejahatan selagi menjalankan usaha atau bekerja sama dengan mitra bisnisnya.
2.1.3 Modus Operandi Pencucian Uang
Dalam menjalankan rencana kejahatannya, seorang atau kelompok penjahat memiliki
metodenya tersendiri yang biasa dilakukan, perilaku ini disebut sebagai modus operandi.
Mengacu pada Legal Information Institute Cornell Law School, modus operandi dalam hukum
pidana diartikan sebagai metode operasi atau pola perilaku kriminal yang begitu khas sehingga
dua kejahatan berbeda sekalipun dapat diendus sebagai perbuatan pelaku yang sama. 51 Mirip
seperti metode tindak pidana pencucian uang yang telah secara singkat diuraikan pada bagian
sebelumnya, namun bedanya modus operandi akan lebih menjabarkan secara spesifik cara pelaku
kejahatan melangsungkan kegiatan pencucian uang sesuai dengan perkembangannya. PPATK
melalui Riset Tipologi Tahun 2021 berdasarkan Putusan Pengadilan Pencucian Uang Tahun
2020, merangkum potensi modus-modus pencucian uang terkini yang dapat berkembang sebagai
berikut:52
a. Pembelian aset kripto dari hasil tindak pidana dengan memanfaatkan kerumitan dalam
melacak aset kripto;
b. Investasi ataupun pemberian sumbangan kepada lembaga keagamaan;
c. Modus tindak pidana pencucian uang dengan skema investasi menggunakan E-Dinar
Cash (EDC), yang merupakan modus penipuan atau penggelapan pengumpulan dana
yang dijanjikan dengan pembelian aset kripto;
d. Penggunaan fasilitas limit dalam transaksi saham oleh broker yang dikendalikan oleh
pelaku kejahatan;
e. Dana hasil tindak pidana yang digunakan untuk menaikkan harga saham kembali
sebagaimana pada kasus Jiwasraya dan ASABRI;
f. Tindak pidana pencucian uang dengan skema perdagangan (trade-based money
laundering);
g. Penggunaan safe deposit box;
h. Modus dengan pembayaran kartu kredit yang melebihi limit kemudian kelebihan dana
tersebut dikirimkan kembali ke rekening pelaku sehingga uang tersebut seolah-olah
berasal dari transaksi yang sah. Skema ini ditemukan pada kasus Pinangki;

51 Legal Information Institute, "Modus Operandi," Cornell Law School, Juli 2020, tersedia pada
[Link] diakses pada tanggal 24 Maret 2024.
52 Tim Riset PPATK, Riset Tipologi Tahun 2021 Berdasarkan Putusan Pengadilan Pencucian Uang
Tahun 2020, (Jakarta: Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, 2021), hlm. 100
i. Skema U-Turn, yaitu dengan melakukan beberapa transaksi dari satu perusahaan ke
perusahaan gadungan (shell company) yang tidak sesuai dengan dengan bidang bisnis
perusahaan sehingga hanya dimanfaatkan sebagai medium untuk perputaran dana hasil
tindak pidana. Uang ini kemudian dikembalikan ke rekening asal. Skema ini ditemukan
dalam kasus pencucian uang pada Jiwasraya;
j. Skema Cuckoo Smurfing, yaitu mengaburkan asal usul sumber dana dengan mengirimkan
dana – dana hasil tindak kejahatannya melalui rekening pihak ketiga dimana pihak ketiga
ini tidak menyadari bahwa dana yang diterima adalah hasil tindak pidana. Transaksi ini
biasanya digunakan untuk membeli aset ataupun mengakuisisi bisnis di luar negeri.
Modus ini ditemukan dalam kasus pencucian uang pada Jiwasraya;
k. Modus penyuapan kepada pejabat dengan menggunakan polis asuransi. Pembayaran
premi sengaja dilebihkan agar kelebihan tersebut kemudian dikembalikan kepada pejabat
yang bersangkutan;
l. Modus tindak pidana pencucian uang yang tindak pidana asalnya adalah korupsi
dilakukan dengan cara double financing pada proyek pembangunan desa. Proyek
pembangunan desa yang telah didanai melalui Corporate Social Responsibility (CSR)
perusahaan swasta kemudian diajukan oleh para pejabat desa pada anggaran desa.
Kemudian, dana tersebut masuk ke rekening pribadi pejabat desa yang bersangkutan.

Adapun tipologi kejahatan berkembang dari modus operandi yang dilangsungkan oleh
pelaku. Munir Fuady dalam bukunya Hukum Perbankan Indonesia, mengutip Mahmoeddin
H.A.S perihal 8 (delapan) modus operandi pencucian uang sebagai berikut:53

1. Kerja Sama Penanaman Modal


Modus operandi ini dilakukan dengan cara membawa uang hasil kejahatan ke luar negeri
untuk diinvestasikan ke dalam negeri melalui proyek penanaman modal asing (joint
venture). Keuntungan yang didapat dari perusahaan joint venture tersebut diputar lagi
melalui investasi pada proyek-proyek lain sehingga uang hasil kejahatan itu semakin
tertutup oleh keuntungan dari proyek-proyek tersebut, bahkan sudah dikenakan pajak.

53 Munir Fuady, Hukum Perbankan Indonesia, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2001), hlm. 155.
2. Kredit Bank Swiss
Modus operandi ini memanfaatkan sarana perbankan dengan cara memasukkan uang
hasil kejahatan pada bank tertentu di luar negeri. Melalui bank tersebut, uang hasil
kejahatan ditransfer ke bank Swiss dalam bentuk deposito. Deposito ini kemudian
dijadikan jaminan utang atas pinjaman dari bank di negara lain. Pinjaman dari bank di
negara lain ini kemudian diinvestasikan kembali ke negara asal dimana kejahatan
dilakukan.

3. Transfer ke Luar Negeri


Pelaku membawa uang hasil kejahatan ke bank luar negeri melalui transfer. Uang
tersebut kemudian dibawa kembali ke dalam negeri oleh orang yang berbeda agar seolah-
olah asal dari uang tersebut adalah dari luar negeri.

4. Usaha Tersamar di Dalam Negeri


Uang hasil kejahatan digunakan untuk mendirikan perusahaan samaran di dalam negeri.
Untung-ruginya bisnis tersebut tidak dipersoalkan karena yang diterpenting adalah
membuat seolah-olah perusahaan tersebut telah menghasilkan keuntungan berupa uang
bersih.

5. Tersamar dalam Perjudian


Modus operandi menggunakan alasan perjudian dilakukan dengan mendirikan usaha
perjudian sehingga uang tersebut dianggap sebagai usaha judi. Cara lain dengan alasan
perjudian juga dapat dilakukan dengan seolah-olah memenangkan nomor undian
sehingga uang tersebut dianggap sebagai hasil menang undian.

6. Penyamaran Dokumen
Modus operandi ini dilakukan dengan cara melegitimasi uang hasil kejahatan
menggunakan dokumen bisnis yang direkayasa sehingga dianggap uang tersebut adalah
hasil dari berbisnis. Rekayasa itu dilakukan misalnya dengan melakukan double
invoicing dalam aktivitas ekspor-impor.
7. Pinjaman Luar Negeri
Uang hasil kejahatan dibawa ke luar negeri untuk kemudian dibawa kembali ke dalam
negeri dalam bentuk pinjaman. Cara ini akan membuat kesan bahwa uang tersebut
diperoleh dari pinjaman atau bantuan kredit dari luar negeri.

8. Rekayasa Pinjaman Luar Negeri


Sama seperti pinjaman luar negeri, bedanya uang hasil kejahatan tidak dibawa ke luar
negeri, melainkan didukung oleh dokumen palsu yang merekayasa asal dari dana tersebut
sebagai bantuan pinjaman dari luar negeri.

2.1.4 Riwayat Pengaturan Tindak Pidana Pencucian Uang di Indonesia


[Link] Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang
Menandai Masa Awal Lahirnya Regulasi Tindak Pidana Pencucian Uang di Indonesia
Maraknya kejahatan terorganisasi transnasional, yang mulai bermunculan seiring dengan
perkembangan ekonomi dan globalisasi, membuat banyak negara didesak untuk memperkuat
regulasi dalam memberantas kejahatan tersebut. Adapun contoh kejahatan transnasional yang
paling disorot kala itu adalah peredaran narkoba, terorisme dan perdagangan manusia. Oleh
karenanya, dilaksanakanlah konvensi PBB di Vienna yang menghasilkan United Nations
Convention Against Illicit Traffic In Narcotic Drugs and Psychotropic Substances 1998.
Konvensi ini khusus dirancang sebagai alat dalam memberantas peredaran gelap narkotika dan
psikotropika. Isi dari konvensi tersebut menekankan pada upaya internasional dalam
menanggulangi isu kejahatan transnasional terorganisir melalui penguatan rezim anti pencucian
uang.54 Konvensi ini kemudian diratifikasi seluruhnya oleh Indonesia melalui Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1997.
Sebagai bentuk komitmen Indonesia melaksanakan konvensi tersebut, lahirlah Undang-
Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang tanggal 17 April 2002
("UU TPPU 2002"). Pada bagian pertimbangan, ditegaskan bahwa meningkatnya kejahatan yang
menghasilkan harta kekayaan dalam jumlah yang besar, baik di dalam atau di luar wilayah
negara Indonesia, menjadi salah satu alasan dibentuknya UU TPPU 2002. 55 Penjelasan Umum

54 Anton Sudanto, "Penerapan Hukum Pidana Narkotika Di Indonesia," ADIL: Jurnal Hukum 7 No. 1
(2017), hlm. 140.
55 Sjahdeini, Seluk Beluk Tindak Pidana..., hlm. 148-149.
UU TPPU 2002 menjelaskan bahwa penetapan undang-undang tersebut merupakan langkah yang
menegaskan bahwa pemerintah merupakan bagian dari penyelesaian masalah. 56 Menurut hemat
penulis, pernyataan tersebut benar-benar terlihat dari inisiatif pembentukan Pusat Pelaporan dan
Analisis Transaksi Keuangan ("PPATK") yang terlahir dari UU TPPU 2002. PPATK merupakan
lembaga independen yang bertanggung jawab kepada Presiden, yang dibentuk dalam rangka
mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang.57
Secara substansial, aturan mengenai tindak pidana pencucian uang dapat dilihat dalam
Pasal 3 dan Pasal 6 UU TPPU 2002. Pasal 3 mengatur tindak pidana pencucian uang yang
dilakukan oleh setiap orang sebagai pelaku aktif, sedangkan Pasal 6 ditujukan bagi pelaku pasif
tindak pidana pencucian uang. Sebagai undang-undang yang pertama kali mengatur tindak
pidana pencucian uang, undang-undang ini ternyata tidak memuaskan bagi Financial Action
Task Force on Money Laundering (“FATF”) karena mengandung banyak kelemahan.
Kelemahan-kelemahan ini dijabarkan dalam surat dari Presiden FATF, Jochen Sanio, tertanggal
3 Juli 2002, yang secara garis besar menyorot hal-hal sebagai berikut:58

Bagian Poin-poin Kelemahan

Regulasi lembaga ● Tidak adanya pedoman pengawasan berstandar anti


keuangan non bank pencucian uang bagi lembaga-lembaga keuangan non bank
inti, seperti stock broker dan perusahaan asuransi,
menyebabkan kerangka peraturan UU TPPU 2002 tidak
komprehensif.
● Bagian ini juga tidak mengatur asesmen fit and proper test”
bagi pihak yang mengelola lembaga keuangan non bank.
Ketiga, UU TPPU 2003 juga tidak memasukkan regulasi
"know your customer" pada ketentuan lembaga keuangan
non bank.
● Sempitnya pengertian mengenai Transaksi Keuangan
Mencurigakan pada Pasal 1 angka 7 sehingga perlu

56 Undang-Undang Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, UU Nomor 15 Tahun 2002, LN Tahun 2002
No. 30 TLN No. 4191, selanjutnya disebut UU TPPU 2002, Penjelasan Umum.
57 UU TPPU 2002, Pasal 1 angka 8.
58 Sjahdeini, Seluk Beluk Tindak Pidana..., hlm. 146-147.
diperluas.
● Tidak adanya ketentuan anti-tipping off akan membuat
pelapor transaksi mencurigakan rentan untuk dijerat pidana.
● Jangka waktu kewajiban pelaporan transaksi mencurigakan
yang harus dilakukan dalam 14 (empat belas) hari pada
Pasal 13 perlu dipersingkat.

Pengaturan ● Ambang batas harta kekayaan yang berjumlah


Pencucian Uang
Rp500.000.000 juta atau lebih atau nilai yang setara pada
sebagai Tindak
Pidana Pasal 2 dinilai inefektif sehingga perlu dihapus.

Pemblokiran ● Kemungkinan tidak dapat diblokirnya harta kekayaan yang


kurang dari ambang batas Rp500.000.000 juta sebagaimana
yang diatur pada Pasal 32 dan Pasal 34.
● Pasal 44 tidak mengakomodasi pengaturan terkait prosedur
mutual legal assistance. Oleh karenanya, Indonesia harus
segera membuat undang-undang yang mengatur mutual
legal assistance. (Sekarang Indonesia telah memiliki
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2006 tentang Perjanjian
Timbal Balik Masalah Pidana).
● Tidak ada Financial Intelligence Unit yang mengawasi
lembaga keuangan bank maupun non bank selama PPATK
belum beroperasi pada Oktober 2003.

Tabel 1. Poin-Poin Kelemahan yang disorot oleh Financial Action Task Force terkait Undang-Undang Nomor 15
Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang

Kelemahan-kelemahan yang diuraikan di atas dinilai tidak sejalan dengan 40 FATF


Recommendations, yaitu suatu standar internasional yang disusun oleh FATF secara berkala
seiring dengan perkembangan kejahatan tindak pidana pencucian uang global. Empat puluh
rekomendasi FATF ini sengaja dibentuk agar ditaati oleh setiap negara anggota FATF dalam
kerangka peraturan perundang-undangannya mengenai pencucian uang. Negara yang tidak
mempertimbangkan standar tersebut akan dimasukkan dalam daftar negara tidak kooperatif atau
non-cooperative countries and territories (NCCT) oleh FATF.59
Menanggapi desakan ini, Indonesia pun melakukan perubahan dan penambahan terhadap
UU TPPU 2002 melalui Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Perubahan Atas
Undang Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang ("UU TPPU
2003"). Perancangan UU TPPU 2003 mulai dirumuskan dengan pertimbangan agar supaya
pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang dapat berjalan secara efektif
sesuai dengan perkembangan hukum pidana dan standar internasional. 60 Tidak lama setelah UU
TPPU 2002 berlaku, digantikan dengan disahkannya UU TPPU 2003 pada 13 Oktober 2003.

[Link] Penyempurnaan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana


Pencucian Uang Melalui Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
Menyiasati kebutuhan penegakan hukum dan standar internasional yang semakin
berkembang, negara memandang perlu diadakannya penyesuaian terhadap Undang-Undang
Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003. Tidak hanya faktor eksternal saja yang mendorong
kebutuhan adanya pembaharuan dalam undang-undang tindak pidana pencucian uang di
Indonesia, tetapi juga dari aspek internal pelaksanaan peraturan tersebut yang dirasa masih
belum ideal sebagaimana yang dicita-citakan.
Pada 22 Oktober 2010, dicabutlah Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang
Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 25
Tahun 2003 dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang ("UU TPPU 2010"). Dalam Penjelasan Umum
UU TPPU 2010, tercantum alasan pembaharuan undang-undang sebelumnya sebagaimana
dikutip berikut ini:61

59 Sjahdeini, Seluk Beluk Tindak Pidana..., hlm. 144.


60 Undang-Undang Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak
Pidana Pencucian Uang, UU Nomor 25 Tahun 2002, LN Tahun 2003 No. 108 TLN No. 4324, selanjutnya disebut
UU TPPU 2003, lihat pada bagian menimbang.
61 Undang-Undang Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, UU Nomor
8 Tahun 2010, LN Tahun 2010 No. 122 TLN No. 5164, selanjutnya disebut UU TPPU 2010, Penjelasan Umum.
"Upaya yang dilakukan tersebut dirasakan belum optimal, antara lain karena peraturan
perundang-undangan yang ada ternyata masih memberikan ruang timbulnya penafsiran
yang berbeda-beda, adanya celah hukum, kurang tepatnya pemberian sanksi, belum
dimanfaatkannya pergeseran beban pembuktian, keterbatasan akses informasi, sempitnya
cakupan pelapor dan jenis pelaporannya, serta kurang jelasnya tugas dan kewenangan
dari para pelaksana undang-undang ini."

Pertimbangan di atas menurut peneliti merupakan langkah bijak yang dilakukan oleh para
perancang undang-undang maupun aparat penegak hukum dalam merefleksikan apa yang telah
menjadi kekurangan dalam pelaksanaan peraturan perundang-undangan sebelumnya sehingga
bukan hanya pelaksanaannya saja yang perlu dibenahi, melainkan juga menciptakan perubahan
pada aspek instrumen hukum yang mampu mengantisipasi berbagai pola kejahatan pencucian
uang. Perubahan tersebut dilaksanakan melalui penetapan 15 (lima belas) materi muatan baru
dalam UU TPPU 2010, yakni dari redefinisi pengertian tindak pidana pencucian uang hingga
pengaturan mengenai harta kekayaan yang berasal dari tindak pidana.62
Perbuatan tindak pidana pencucian uang dalam UU TPPU 2010 terdapat pada aturan
Pasal 3, Pasal 4 dan Pasal 5 UU TPPU 2010. R. Wiyono membagi kualifikasi tindak pidana
pencucian uang atas pasal-pasal tersebut ke dalam 2 (dua) jenis, yaitu tindak pidana pencucian
aktif dan tindak pidana pencucian uang pasif. 63 Menurut hemat penulis, penggolongan ini
didasarkan pada rumusan perbuatan yang terdapat dalam isi masing-masing pasal. Pelaku aktif
pencucian uang merupakan pihak yang secara langsung melancarkan aksinya, baik itu dengan
cara menempatkan, mentransfer, mengalihkan, sebagaimana diatur oleh Pasal 3 UU TPPU 2010.
Perbuatan aktif lainnya, yaitu meliputi upaya untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal-
usul harta kekayaan, sebagaimana diatur oleh Pasal 4 UU TPPU 2010.
Penulis berpendapat, perbuatan-perbuatan tersebut dianggap sebagai pencucian uang aktif
karena tindakan-tindakan seperti menempatkan, membelanjakan, itu merupakan tindakan yang
diusahakan oleh pelaku. Dengan kata lain, terdapat upaya dan niat untuk mencapai suatu tujuan
di dalamnya. Argumen ini didukung oleh pendapat R. Wiyono bahwa dikatakan TPPU aktif
apabila pelaku bersikap aktif menyembunyikan atau menyamarkan harta kekayaan hasil tindak

62 UU TPPU 2010, Penjelasan Umum.


63 R. Wiyono, Pembahasan Undang-Undang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian
Uang, ed.1, cet. 1, (Jakarta: Sinar Grafika, 2014), hlm. 71.
pidana, sedangkan TPPU pasif apabila pelaku bersikap tidak aktif dalam menyembunyikan atau
menyamarkan harta kekayaan hasil tindak pidana.64
Berbeda halnya dengan Pasal 5 UU TPPU 2010 yang mengatur tindak pidana pencucian
uang pasif. Pada pasal ini, perbuatan pasif yang dimaksud adalah setiap orang yang menerima,
menggunakan, atau menguasai tempat dimana pelaku melakukan perbuatan aktifnya tersebut.
Menurut hemat penulis, perbuatan tersebut dianggap pencucian uang pasif karena pelakunya
tidak berkontribusi pada tingkat destruksi yang sama seperti pelaku pencucian uang aktif
terhadap sirkulasi sistem keuangan. Oleh karenanya, besaran maksimum ancaman pidana Pasal 3
dan Pasal 4 pun berbeda dengan maksimum ancaman pidana pada Pasal 5 UU TPPU 2010.
Satu hal yang menarik untuk disorot, jika ditinjau dari kualifikasi perbuatan pidana dan
ancaman hukuman, UU TPPU 2010 tidak membedakan ancaman hukuman antara pelaku delik
selesai maupun pelaku percobaan, pembantuan atau permufakatan jahat. Hal ini dapat dipahami
melalui bunyi Pasal 10 UU TPPU 2010 di bawah ini:65
“Setiap Orang yang berada di dalam atau di luar wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang turut serta melakukan percobaan, pembantuan, atau Permufakatan Jahat
untuk melakukan tindak pidana Pencucian Uang dipidana dengan pidana yang sama
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, Pasal 4 dan Pasal 5."

Selain instrumen hukumnya yang lebih ekstensif dibanding undang-undang sebelumnya,


UU TPPU 2010 diatur secara lex specialis. Hal ini dapat dilihat dalam Pasal 68 UU TPPU 2010,
bahwa penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan serta pelaksanaan putusan, dilakukan sesuai
dengan ketentuan UU TPPU 2010, kecuali jika ditentukan lain. Yunus Husein dan Roberts K.
dalam bukunya Tipologi dan Perkembangan Tindak Pidana Pencucian Uang mengutip pendapat
N.H.T Siahaan, bahwa pengaturan tersebut memberi kesan bahwa perancang undang-undang
menginginkan agar UU TPPU 2010 ini lebih banyak disesuaikan dengan sifat perkembangan
kejahatan pencucian uang yang memiliki karakter lebih khusus dari yang diatur dalam peraturan
perundang-undangan lain.66 Sifat lex specialis ini dapat memberi ruang fleksibilitas bagi
keberlakuan undang-undang lain terkait pencucian uang.

64 Ibid.
65 UU TPPU 2010, Pasal 10.
66 Husein dan K., Tipologi dan Perkembangan..., hlm. 99.
[Link] Tindak Pidana Pencucian Uang dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023
tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Pada 2 Januari 2023, lahir Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-
Undang Hukum Pidana ("KUHP Baru"). Kehadiran KUHP Baru berupaya untuk
mendemokratisasi hukum pidana melalui penyesuaian yang sejalan dengan kepentingan nasional.
Usaha ini dilakukan dengan rekodifikasi aturan pidana dalam berbagai aspek, tidak terkecuali
aturan mengenai tindak pidana pencucian uang. Pasal 622 ayat (1) huruf x menyatakan bahwa
pada saat KUHP Baru mulai berlaku, ketentuan dalam Pasal 2 ayat (1), Pasal 3, Pasal 4, dan
Pasal 5 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak
Pidana Pencucian Uang ("UU TPPU 2010"), dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Secara substansial, ketentuan tindak pidana pencucian uang pada Pasal 607 KUHP Baru
tidak banyak berubah dari ketentuan yang diatur sebelumnya dalam UU TPPU 2010. Akan
tetapi, perbedaan utama dapat ditinjau dari ancaman sanksi yang ditetapkan. Berikut peneliti
uraikan 2 (dua) poin perubahan yang dilakukan terhadap ketentuan UU TPPU 2010 dalam
KUHP Baru:

1. Pasal 2 ayat (1) UU TPPU 2010, yang menguraikan tindak pidana asal (predicate crime)
apa saja yang harta kekayaannya menjadi sumber dari kejahatan pencucian uang, telah
digantikan oleh Pasal 607 ayat (2). Adapun dari hasil pengamatan peneliti, tidak ada
perbedaan daftar jenis tindak pidana asal antara UU TPPU 2010 dengan KUHP Baru.
Hanya saja, perubahan ini dapat berimplikasi kedepannya dalam hal penulisan dasar
hukum yang tidak lagi merujuk pada Pasal 2 ayat (1) UU TPPU 2010, melainkan Pasal
607 ayat (2) KUHP Baru.
2. Pengaturan Pasal 3, Pasal 4 dan Pasal 5 UU TPPU 2010 kini disatukan di bawah pasal
yang sama, yakni Pasal 607 ayat (1) KUHP Baru. Meskipun ketiga pasal UU TPPU 2010
tersebut dinaungi oleh pasal yang sama dalam KUHP Baru, namun dapat dilihat bahwa
setiap kualifikasi memiliki besaran pidana denda yang masing-masing sudah dipatok
kategorinya. Adapun kategori denda tersebut adalah sebagai berikut:
a. Pasal 607 ayat (1) huruf a KUHP Baru, yang menggantikan Pasal 3 UU TPPU
2010, dengan denda paling banyak Kategori VII (Rp15.000.000.000,00 atau lima
belas miliar rupiah).
b. Pasal 607 huruf b dan c KUHP Baru, yang menggantikan berturut-turut Pasal 4
dan Pasal 5 UU TPPU 2010, dengan denda paling banyak Kategori VI
(Rp2.000.000.000,00 atau dua miliar rupiah)

Hal ini tidak sama seperti UU TPPU 2010 yang ancaman denda di antara ketiganya
masing-masing adalah berbeda. Adapun ancaman denda maksimum Pasal 3, Pasal 4 dan Pasal 5
UU TPPU 2010 berturut-turut adalah Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah),
Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah), dan Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah. Perbedaan
ini menunjukkan bahwa besaran ancaman denda maksimum KUHP Baru lebih tinggi daripada
yang diberlakukan sebelumnya oleh UU TPPU 2010. Untuk memperjelas perbandingan di antara
keduanya, berikut adalah tabel perbedaan sanksi pidana TPPU antara KUHP Baru dan UU TPPU
2010.

Tabel 2. Perbedaan Ancaman Sanksi Pidana Tindak Pidana Pencucian Uang dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun
2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan
dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

2.2. Kerentanan Teknologi Finansial Digital terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang
Setelah membahas pengertian pencucian uang dan bagaimana tindak pidana tersebut
dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa, modus operandi pencucian uang yang melibatkan
segala macam cara dan alat, akan mencetak ragam tipologi tindak pidana pencucian uang yang
baru. Penguatan perangkat hukum akan selalu dikejar secepat perkembangan tipologi tersebut.
Sectoral Risk Assessment Tindak Pidana Pencucian Uang ("TPPU"), Tindak Pidana Pendanaan
Terorisme ("TPPT"), dan Pendanaan Proliferasi Senjata Pemusnah Massal ("PPSPM") di
Sektor Jasa Keuangan merupakan salah satu inisiatif OJK dalam mengevaluasi kerentanan
sektor jasa keuangan terhadap risiko TPPU, TPPT dan PPSPM. Antisipasi ini menunjukkan
betapa rentan kemajuan teknologi finansial digital untuk dimanfaatkan oleh pelaku sebagai
sarana kejahatan baru.
Pasal 1 angka 1 Peraturan Bank Indonesia Nomor 19/12/PBI/2017 tentang
Penyelenggaraan Teknologi Finansial, mendefinisikan teknologi finansial atau financial
technology ("Fintech") sebagai, “...penggunaan teknologi dalam sistem keuangan yang
menghasilkan produk, layanan, teknologi, dan/atau model bisnis baru serta dapat berdampak
pada stabilitas moneter, stabilitas sistem keuangan, dan/atau efisiensi, kelancaran, keamanan,
dan keandalan sistem pembayaran.”67 Di Indonesia, model bisnis terbagi menjadi dua, yaitu
fintech secara konvensional dan fintech berprinsip syariah. Fintech secara konvensional maupun
syariah keduanya diatur dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan ("OJK"). Adapun
penyelenggaraan fintech syariah juga mengacu pada Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis
Ulama Indonesia (“DSN MUI”) Nomor 117 Tahun 2018 tentang Layanan Pembiayaan Berbasis
Teknologi Informasi Berdasarkan Prinsip Syariah. Per Januari 2024, OJK mencatat ada sebanyak
94 (sembilan puluh empat) penyelenggara Fintech Lending konvensional dan 7 (tujuh)
penyelenggara Fintech Lending Syariah.68
Dalam rangka meningkatkan inklusi keuangan, perkembangan fintech di Indonesia
menjadi begitu pesat. Hal ini ditunjukkan oleh statistik Otoritas Jasa Keuangan yang mencatat
peningkatan penyaluran dana fintech lending sebesar 36.6% dalam rentang waktu September
2021 sampai dengan Juni 2023.69 Data tersebut mengindikasikan bahwa hanya dalam rentang

67 Peraturan Bank Indonesia Nomor 19/12/PBI/2017 tentang Penyelenggaraan Teknologi Finansial, LN


Tahun 2017 No. 245 TLN No. 6142, Pasal 1 angka 1.
68 Statistik Fintech, "Statistik P2P Lending Periode Januari 2024," Otoritas Jasa Keuangan, 25 Maret 2024,
tersedia pada [Link] diakses pada tanggal 28 Maret 2024.
69 Data diolah oleh Peneliti melalui Daftar Statistik Fintech per Tahun yang tersedia melalui
[Link] diakses pada tanggal 28 Maret 2024.
waktu dua tahun saja, jumlah pengguna fintech semakin meningkat, khususnya fintech dengan
layanan pinjam-meminjam. Peningkatan dalam skala besar ini tentu didukung oleh inovasi-
inovasi baru dalam bidang fintech yang dilakukan demi mengakomodasi kebutuhan masyarakat
yang dinamis. Namun sayangnya, instrumen hukum fintech yang ada sekarang ternyata belum
cukup meregulasi pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh para penyelenggara fintech.
Lemahnya perangkat hukum dan pengawasan fintech akan membuka celah kerentanan
bagi masuknya segala macam kejahatan, dari penipuan, pembobolan, bahkan tidak menutup
kemungkinan juga pencucian uang. Guna memahami bagaimana teknologi finansial dapat
berperan sebagai sarana yang rentan terhadap tindak pidana pencucian uang, berikut akan
dibahas lebih lanjut sejarah, jenis-jenis, ancaman & peluang, serta penilaian kerentanan fintech
terhadap tindak pidana pencucian uang.

2.2.1. Sejarah Perkembangan Teknologi Finansial Digital


Tatanan ekonomi global masa kini disetir oleh Revolusi Industri 4.0 sebagai era yang
menciptakan transformasi berbasis teknologi dalam berbagai bidang, tidak terkecuali pada
bidang ekonomi. Aktivitas perekonomian menjadi lebih efisien dan optimal dengan
diintegrasikannya teknologi dalam penyelenggaraannya. Konsep ini selanjutnya disebut sebagai
ekonomi digital. Salah satu produk dari perkembangan ekonomi digital adalah kemudahan dalam
bertransaksi dan berinvestasi yang ditawarkan oleh teknologi finansial digital, atau awam disebut
sebagai financial technology ("Fintech").
Ketika mendengar kata fintech, paling besar kemungkinan kesan pertama yang muncul di
benak adalah kecanggihan teknologi digital. Akan tetapi, sejarah fintech ternyata sudah dimulai
dari sejak abad ke-19. Fintech hanyalah istilah yang baru diperkenalkan akhir-akhir ini, hal ini
karena fintech sendiri merupakan produk dari globalisasi keuangan yang telah berjalan dari masa
dahulu.70 Douglas Arner, Janos Barberis dan Ross Buckley dalam jurnal penelitiannya berjudul
The Evolution of Fintech: A New Post-Crisis Paradigm?, membagi evolusi fintech ke dalam tiga
periode, yakni dari sekitar tahun 1866 sampai dengan masa kini. Pembagian periode ini
didasarkan pada aspek perkembangan digital dan kemajuan regulasi layanan keuangan. Berikut

70 Douglas Arner, Janos Barberis, dan Ross Buckley, "The Evolution of Fintech: A New Post-Crisis
Paradigm?," University of Hong Kong Faculty of Law Research Paper, No. 047 (2015), hlm. 4.
perkembangan fintech dari masa ke masa secara ringkas menurut The Evolution of Fintech: A
New Post-Crisis Paradigm?:71

1. Fintech 1.0 (1866-1967)


Era Fintech 1.0 terdiri dari dua periode. Periode pertama dimulai pada akhir abad
ke-19 hingga akhir perang dunia pertama. Sektor keuangan pada periode ini memiliki
sumber daya yang cukup dalam mengembangkan teknologi-teknologi yang dapat
memudahkan transmisi informasi keuangan, transaksi dan pembayaran. Teknologi ini
misalnya seperti telegraf, jalur kereta api, kanal dan kapal uap. Sarana ini meningkatkan
arus globalisasi keuangan yang luas dan lintas batas. Adapun periode kedua dimulai
setelah perang dunia berakhir sampai pada tahun 1967. Pada masa ini, globalisasi
keuangan sempat terlantar untuk beberapa dekade. Di samping itu, perkembangan
teknologi informasi dan komunikasi terus berjalan. Perkembangan teknologi informasi
ditandai dengan pengembangan serta invensi alat pemecah kode pada komputer, mesin
kalkulator, dan kartu kredit pertama di dunia. Adapun perkembangan komunikasi
ditandai dengan pengembangan jaringan teleks, seperti mesin fax.

2. Fintech 2.0 (1967-2008)


Era ini menandakan layanan keuangan konvensional yang semakin berkembang
dimana para penyelenggara layanan keuangan mulai beralih dari industri analog menjadi
industri digital. Pada tahun 1918, diluncurkan fedwire oleh Bank Sentral Amerika, yaitu
teknologi finansial yang memungkinkan transfer dana secara elektronik untuk pertama
kalinya. Kebutuhan untuk melakukan pembayaran domestik lintas batas juga
diakomodasi melalui pengembangan Society of Worldwide Interbank Financial
Telecommunications (SWIFT) pada tahun 1973. Selama periode ini, lembaga keuangan
secara bertahap meningkatkan sistem layanan mereka dengan penggunaan teknologi
informasi. Masuk ke abad-21, hampir semua penyelenggara layanan keuangan telah
mendigitalisasi operasi bisnis mereka.

3. Fintech 3.0 (2008 - sekarang)

71 Ibid.
Terjadinya krisis keuangan pada tahun 2008 membuat persepsi masyarakat
terhadap lembaga keuangan menurun. Oleh karena peristiwa ini, diperkirakan sekitar 8.7
orang Amerika kehilangan pekerjaannya. Musibah ini disiasati dengan cara membenahi
kembali kewajiban dan struktur bisnis bank melalui reformasi regulasi. Reformasi pasca
krisis ini ternyata membawa dampak berupa munculnya pemain-pemain baru dalam
bidang keuangan sehingga membatasi kapasitas bank untuk bersaing. Pemain-pemain ini
salah satunya adalah platform pinjaman peer-to-peer lending yang menyediakan layanan
pinjaman kredit selain bank. Melambungnya angka pengangguran akibat krisis ekonomi
ini membuat banyak perusahaan maupun individu membutuhkan modal cepat.
Keterbatasan kapasitas bank untuk mengakomodasi kebutuhan yang tinggi ini
meningkatkan keberadaan perusahaan pemberi modal lain, seperti start-up dengan model
bisnis peer-to-peer lending. Hingga pada masa kini, topologi fintech secara garis besar
terdiri dari lima bidang, yakni (1) keuangan dan investasi, (2) operasi dan manajemen
risiko, (3) pembayaran dan infrastruktur, (4) keamanan data dan monetisasi, dan (5)
customer interface.
Perkembangan teknologi finansial digital atau fintech semakin canggih pada masa
kini, khususnya di Indonesia. Penggunaannya yang secara masif membuat fenomena ini
turut berdampak bagi perkembangan industri keuangan, perputaran ekonomi hingga gaya
hidup masyarakat. Revolusi yang disebabkan oleh teknologi finansial digital tentu harus
dibersamai oleh kerangka kebijakan yang berorientasi pada penyelesaian masalah
sehingga regulasi yang dihasilkan dapat mencerminkan kepentingan masyarakat dan
menciptakan ketertiban sosial.
Tujuan teknologi finansial digital adalah untuk mempermudah transaksi keuangan
bagi berbagai kalangan masyarakat. Masyarakat yang tidak dapat dijangkau oleh bank
konvensional, bisa memanfaatkan teknologi finansial digital sebagai alternatif untuk
menikmati produk-produk keuangan. Inklusi keuangan seperti ini dapat berdampak baik
bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Jangan sampai manfaat yang dibawa oleh
teknologi finansial digital malah diperkeruh oleh kebijakan dan penegakan hukum yang
lemah.
Implikasi teknologi finansial digital pada sosio-ekonomi Indonesia dapat ditilik
dari tantangan dan peluang yang dibawa olehnya. Menurut hemat penulis, peluang
pertama adalah bahwa fintech dapat mendukung inklusi keuangan sehingga dapat
berkontribusi pada peningkatan Indeks Pembangunan Manusia Indonesia. Kedua, fintech
dinilai mampu meningkatkan perputaran ekonomi Indonesia sehingga tujuan Indonesia
Emas 2024 mudah tercapai. Adapun untuk tantangan fintech, yang pertama yaitu
ancaman keamanan siber atau cyberattack dapat berdampak pada kerugian ekonomi.
Kedua, lemahnya perlindungan hukum terhadap konsumen membuat praktik
penyelenggaraan bisnis fintech seringkali melanggar hukum.

2.2.2 Jenis-jenis Teknologi Finansial Digital


Teknologi finansial digital atau fintech memiliki sejarah yang panjang. Sampai pada saat
ini, perjalanan sejarah teknologi finansial digital terus berkembang dengan lahirnya produk-
produk keuangan digital baru yang diciptakan untuk mengakomodasi setiap layanan yang
diperlukan oleh konsumen. Layanan keuangan digital ini biasanya disediakan oleh perusahaan
rintisan atau startup yang bergerak di bidang fintech. Oleh karena itu, perlu dicatat bahwa istilah
fintech tidak hanya merujuk pada satu layanan tertentu saja. Hal ini karena fintech sendiri terdiri
dari rangkaian layanan keuangan yang beragam. Untuk itu, peneliti rasa penting untuk
membahas jenis-jenis fintech dalam penelitian ini untuk menunjukkan kedudukan lembaga
penyelenggara layanan pendanaan bersama berbasis teknologi ("LPBBTI") sebagai salah satu
layanan teknologi finansial digital. Berikut adalah jenis-jenis fintech berdasarkan fungsi yang
ditawarkan pada masa kini:

1. Pembayaran Digital
Layanan pembayaran digital memungkinkan pengguna untuk bertransaksi
dimanapun dan kapanpun melalui platform digital yang tersambung internet sehingga
pengguna tidak perlu membawa uang tunai. Uang yang digunakan dalam transaksi adalah
uang elektronik yang disimpan sebagai data dalam kartu, QR Code, maupun perangkat
telepon seluler.72 Contoh perusahaan rintisan yang menyediakan layanan ini salah satunya
adalah Gojek melalui produk GoPay, Jenius, Dompetku dan LinkAja.

2. Peer-to-Peer Lending ("P2P Lending")


72 Budi Raharjo, Fintech: Teknologi Finansial Perbankan Digital, (Semarang: Yayasan Prima Agus
Teknik, 2021), hlm. 64.
P2P Lending merupakan model bisnis yang menawarkan layanan dalam
menghubungkan peminjam dengan pemberi pinjaman. Layaknya meminjam kepada
bank, P2P Lending menawarkan syarat yang lebih mudah bagi peminjam untuk
mengajukan permohonannya. Perusahaan rintisan yang menyediakan layanan ini hanya
berperan sebagai “perantara" yang menghubungkan pemberi pinjaman dan peminjam,
sehingga pemberi pinjaman dalam hal ini meminjamkan secara langsung uang mereka
kepada peminjam yang mengajukan pinjamannya melalui perusahaan rintisan tersebut.
Dari perspektif peminjam, P2P Lending merupakan alternatif pemberi pinjaman selain
bank. Sedangkan dari perspektif pemberi pinjaman, P2P Lending merupakan sarana
investasi baru yang membawa keuntungan. Bunga yang dikenakan oleh P2P Lending
memang lebih tinggi daripada meminjam dari bank konvensional. Perusahaan rintisan
dengan model bisnis P2P Lending ini biasanya menggunakan prosedur penilaian risiko
tersendiri dalam mengevaluasi pemohon pinjaman.73 Di Indonesia, P2P Lending diatur
dan disebut dengan istilah Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi
(“LPBBTI”). Contoh LPBBTI adalah Shopee melalui produk SPayLater, Amartha,
Akseleran, Kredivo, dan Modalku.

3. Perencanaan Keuangan
Teknologi finansial ini membantu pengguna dalam melakukan perencanaan
finansial untuk memastikan pengguna dapat berhemat jangka panjang, memberikan
saran-saran keputusan, serta mengatur jumlah pemasukan dan pengeluaran agar
memudahkan pengguna mencapai tujuan finansial yang diinginkan. Contoh perusahaan
rintisan dengan layanan ini, yaitu Moneyhub dan Finansialku.

4. Insurtech
Layanan ini pada dasarnya merupakan inovasi industri asuransi menjadi berbasis
teknologi informasi. Layanan ini memungkinkan pengguna dalam melakukan pembelian
dan klaim asuransi melalui platform digital. 74 Seringkali proses klaim dan administrasi
pada asuransi konvensional memakan waktu yang lama. Dengan insurtech, pengelolaan
dan analisa data pengguna dilakukan dengan memanfaatkan teknologi sehingga
73 Ibid.
74 Hanafi, Dasar-Dasar Fintech Financial Technology, (Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2021), hlm. 21.
prosesnya cepat dan optimal. Salah satu contoh perusahaan insurtech adalah Pasar Polis,
RajaPremi dan Axinan.

5. Blockchain
Blockchain bukanlah layanan, melainkan suatu teknologi yang dimanfaatkan
dalam berbagai sektor industri. Teknologi ini melakukan penyimpanan data terdistribusi
yang menyimpan buku besar transaksi publik untuk mata uang kripto atau
cryptocurrency.75 Pengguna menggunakan teknologi blockchain untuk membuat buku
besar dalam melacak pesanan, pembayaran atau transaksi mata uang kripto. 76 Inilah
mengapa teknologi blockchain memegang peranan penting dalam jaringan mata uang
kripto seperti bitcoin, litecoin dan PPcoin.

6. Robo-Advisor
Robo-Advisor merupakan penasihat investasi. Teknologi ini melayani investor
dalam hal manajemen investasi, dari merancang portofolio investasi yang optimal
sehingga memberi saran-saran investasi yang dapat memaksimalkan hasil investasi.
Robo-Advisor juga melakukan analisa berdasarkan algoritma secara real-time sehingga
rekomendasi yang diberikan bersifat dinamis sesuai dengan perubahan kondisi pasar
modal dan ekonomi makro. Contoh aplikasi yang menggunakan teknologi Robo-Advisor
adalah Bareksa.

7. Crowdfunding
Perusahaan rintisan bidang fintech dengan model bisnis crowdfunding
menyediakan wadah bagi individu atau perusahaan untuk mendapatkan pendanaan yang
melibatkan masyarakat luas sebagai investor. Skema pembiayaan crowdfunding dijuluki
sebagai 'pendanaan demokratis' karena pendanaan dalam skala kecil tersebut datang dari
sejumlah orang layaknya 'menyumbang' sehingga individu atau perusahaan tersebut dapat

75 Nofrizal, et al., Financial Technology, (Yogyakarta: PT Penamuda Media, 2023), hlm. 7


76 Raharjo, Fintech: Teknologi Finansial..., hlm. 12.
mendanai proyeknya.77 Contoh platform crowdfunding adalah Kitabisa, [Link]
dan GandengTangan.

8. E-Commerce
Menurut Akbar & Alam, e-commerce merupakan suatu proses bisnis berupa
pemberian, penjualan dan pemasaran barang dan jasa melalui sistem elektronik yang
terhubung dengan jaringan internet.78 Dengan kata lain, E-commerce menghubungkan
penjual dan pembeli secara digital. Sebagai wadah yang menampung toko-toko online, E-
commerce mempermudah penjual dalam memasarkan produknya tanpa harus memiliki
bangunan fisik. Pembeli pun juga dapat dengan mudah mencari produk yang diinginkan
melalui platform e-commerce. Contoh platform e-commerce adalah Tokopedia, Lazada
dan Shopee.

2.2.3 Ancaman Tindak Pidana Pencucian Uang pada Layanan Teknologi Finansial Digital
Pemaparan sebelumnya berupaya untuk memberi gambaran bagaimana eksistensi fintech
berperan selayaknya pedang bermata dua. Di satu sisi fintech menawarkan peluang yang
menjanjikan bagi pertumbuhan ekonomi, di lain sisi peluang tersebut juga disertai dengan
ancaman akan modus kejahatan baru seperti risiko terhadap terjadinya pencucian uang. Pasalnya,
perkembangan model bisnis keuangan inovatif seperti dompet digital, crowdfunding, atau
pinjaman online, berpotensi untuk disasar sebagai sarana baru untuk menyelundupkan dana hasil
kejahatan.
Pada bagian tahap-tahap pencucian uang, sempat diuraikan terkait salah satu modus
pembukaan sebanyak mungkin rekening bank. Aksi ini diklasifikasikan oleh para ahli sebagai
proses layering pada pencucian uang. Tingginya frekuensi kajian mengenai kecenderungan pada
pencucian uang membuat cara-cara kejahatan tertentu mudah untuk dilacak karena sudah
menjadi pengetahuan awam bagi aparat penegak hukum. Hal ini memicu pelaku kejahatan
berpotensi untuk memutar otak memikirkan metode baru. Fenomena berkembangnya modus

77 Kamsidah, "Crowdfunding sebagai Instrumen Alternatif Pendorong Pertumbuhan Ekonomi di


Indonesia," Kementerian Keuangan Republik Indonesia, 24 November 2022, tersedia pada
[Link]
[Link], diakses pada 4 April 2024.
78 Mohammad Aldrin Akbar dan Sitti Nur Alam, E-Commerce: Dasar Teori Dalam Bisnis Digital,
(Medan: Yayasan Kita Menulis, 2020), hlm. 2.
kejahatan disorot oleh Dekan Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia dalam kuliah
umum berjudul “Tren Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme pada Fintech" pada 27 Oktober
2022, yang mengungkapkan bahwa regulasi perbankan yang lebih ketat dan mudah untuk
dilacak, membuat pelaku kejahatan tersebut mulai beralih ke layanan keuangan digital. 79
Mengantisipasi bahaya ini, sudah dari jauh-jauh hari Financial Action Task Force ("FATF")
mengamanatkan setiap negara untuk selalu melakukan mitigasi dan penilaian risiko tindak
pidana pencucian uang secara berkala.80
Upaya dalam mengimplementasikan Rekomendasi FATF tersebut ditunaikan oleh
Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”) dengan meluncurkan Sectoral Risk Assessment atau Penilaian
Risiko Sektoral Tindak Pidana Pencucian Uang, Tindak Pidana Pendanaan Terorisme dan
Pendanaan Proliferasi Senjata Pemusnah Massal di Sektor Jasa Keuangan Tahun 2023 ("SRA
Sektor SJK 2023"). SRA Sektor SJK selalu diperbaharui setiap dua tahun sekali dengan tujuan
untuk membantu para penyelenggara sektor jasa keuangan, selaku salah satu pihak pelapor
pencucian uang, dalam penguatan pencegahan pencucian uang, pendanaan terorisme dan
pendanaan proliferasi senjata pemusnah massal.
Tujuan ini dicapai dengan cara melakukan pemetaan risiko melalui kegiatan identifikasi,
analisis serta evaluasi pada 10 (sepuluh) jenis industri sektor jasa keuangan. Tidak semua
industri jasa keuangan yang dikaji dalam penilaian tersebut merupakan fintech. Adapun dalam
sub bahasan ini, industri jasa keuangan yang ingin peneliti sorot adalah penyedia jasa keuangan
yang berbasis teknologi seperti Penyelenggara Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi
Informasi ("LPBBTI") dan Penyelenggara Penawaran Efek Melalui Layanan Urun Dana
Berbasis Teknologi Informasi ("LUDBTI"). Keduanya merupakan contoh fintech yang
menyalurkan layanan pinjam-meminjam dan investasi. Dalam istilah awam, LPBBTI biasa
dikenal sebagai layanan pinjaman online. Adapun LUDBTI awam dikenal sebagai layanan
crowdfunding. SRA Sektor SJK 2023 menilai, LPBBTI merupakan sarana yang rentan untuk
penyelundupan uang hasil perjudian sebagai tindak pidana asal. Ditinjau dari segi profil pemberi
dana, Perseroan Terbatas dan Partai Politik menjadi pemodal pinjaman online yang berisiko

79 Rifdah, "Fintech Academy FEB UI, PPATK, OVO, dan Bareksa: Tren Pencucian Uang dan Pendanaan
Terorisme pada Fintech," Fakultas Ekonomi dan Bisnis, 31 Oktober 2022, tersedia pada
[Link]
terorisme-pada-fintech/, diakses pada 5 April 2024.
80 Financial Action Task Force, The FATF Recommendations, (Perancis: Financial Action Task Force,
2012-2023), Rekomendasi FATF Nomor 1 dapat dilihat pada hlm. 10.
tinggi sebagai pelaku pencucian uang. Sedangkan hasil penilaian terhadap LUDBTI, penipuan
merupakan tindak pidana asal yang berisiko tinggi. Sebagai tambahan, Pejabat Negara dan Partai
Politik merupakan pihak yang berisiko tinggi sebagai pemodal dan penerbit korporasi layanan
urun dana.
Hasil penilaian SRA Sektor SJK 2023 di atas sengaja peneliti paparkan untuk
menunjukkan bahwa ancaman TPPU terhadap fintech adalah benar nyatanya. Hasil asesmen
terhadap risiko TPPU terhadap fintech menunjukkan bahwa sifat fintech yang cepat dan dinamis
bisa dimanfaatkan sebagai sarana pencucian uang. Hal ini berbeda dengan bank konvensional
yang diproteksi oleh berbagai persyaratan regulasi yang bersifat kaku sehingga meninggalkan
celah yang sempit bagi pencucian uang.81 Karakteristik fintech yang terhubung dengan jaringan
internet juga menawarkan daya tarik tersendiri bagi pelaku pencucian uang, kegiatan ini
selanjutnya disebut sebagai cyberlaundering. Dua faktor yang menjadi daya tarik pelaku
pencucian uang dalam memanfaatkan fintech adalah karena transaksinya yang tidak face-to-face
dan kecepatan transaksi yang mempermudah pemindahan dana lintas negara.82
Pusat Pelaporan Transaksi Keuangan ("PPATK"), mengutip pernyataan seorang pakar
tindak pidana pencucian uang, Yenti Ganarsih, yang menegaskan bahwa industri apapun yang
berbasis teknologi digital memang akan sangat rentan dijadikan sarana pencucian uang apabila
fungsi kontrol pemerintah tidak berjalan dengan baik.83 Salah satu kunci cara untuk mengendus
tindak pidana pencucian uang pada sistem keuangan pertama kali adalah dengan mendeteksi
transaksi mencurigakan. PPATK menunjukkan kenaikan Laporan Transaksi Keuangan
Mencurigakan ("LTKM") per Juni 2023 sebanyak 53,10% dibandingkan bulan Juni 2022. 84
Tingginya kenaikan laporan transaksi mencurigakan ini memanggil pemerintah untuk
membentuk regulatory technology ("RegTech") yang mampu mengidentifikasi risiko tindak
pidana pencucian uang pada sistem fintech.

81 Hidayatullah M. A. Nasution, "Hati-Hati Pencucian Uang di Industri Fintech," PPATK, 24 Juli 2019,
tersedia pada [Link]
diakses pada tanggal 6 April 2024.
82 Ahmad Ghozi, "The Urgency of Electronic Know Your Customer (e-KYC): How Electronic Customer
Identification Works To Prevent Money Laundering in The Fintech Industry," Diponegoro Law Review 7, No. 1
(2022), hlm. 40.
83 Hidayatullah M. A. Nasution, "Hati-Hati Pencucian Uang di Industri Fintech," PPATK, 24 Juli 2019,
tersedia pada [Link]
diakses pada tanggal 6 April 2024.
84 Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, Buletin Statistik Anti Pencucian Uang dan
Pencegahan Pendanaan Terorisme (APUPPT) serta Pendanaan Proliferasi Senjata Pemusnah Massal (PPSPM),
(Jakarta: Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, 2023), hlm. 1.
Menurut Butler & Brooks, RegTech merupakan pemanfaatan teknologi dalam
pemberantasan tindak pidana pencucian uang yang dapat meningkatkan kohesi dan koherensi
pada tingkat kelembagaan.85 Contohnya adalah dengan menggunakan Artificial Intelligence
("AI") dalam memonitor perilaku konsumen sehingga penyedia jasa keuangan dapat dengan
mudah menerapkan pendekatan berbasis risiko yang mematuhi regulasi anti pencucian uang.
Risiko tindak pidana pencucian uang pada fintech juga dapat disiasati melalui penerapan
Electronic Know Your Customer ("e-KYC"), atau Customer Due Diligence ("CDD"),
sebagaimana FATF Recommendations No.10.86 Penerapan ini, jika dikombinasikan dengan
pengaturan RegTech yang adaptif, dapat menangkal ancaman tindak pidana pencucian uang dari
industri teknologi finansial digital.

85 Tom Butler dan Robert Brooks, "On the role of ontology-based RegTech for managing risk and
compliance reporting in the age of regulation," Journal of Risk Management in Financial Institutions 11, No. 1
(2018), hlm. 19.
86 Financial Action Task Force, The FATF Recommendations, Rekomendasi FATF Nomor 10 dapat dilihat
pada hlm. 14.

Anda mungkin juga menyukai