Kelayakan Usahatani Padi di Mootilango
Kelayakan Usahatani Padi di Mootilango
ABSTRACT
This study aims: 1) Calculating the cost structure of production, revenue, and income from lowland rice
farming in Mootilango District, Gorontalo District, 2) Analyzing the feasibility of lowland rice farming in
Mootilango District, Gorontalo Regency, in terms of its benefits. This research was conducted in Mootilango
District Gorontalo District from February to March 2018 with a sample of 54 farmers. The research method used is
Slovin. Analysis of the data used is total costs, revenue and income. The results showed that the total cost of Rp.
11,275,545.91 / farmer / harvest. While the receipts obtained were Rp. 22,741,666.67 / farmer / harvest with a net
income of Rp. 11,476,676.31 / farmer / harvest. Value The results of the feasibility analysis of lowland rice farming
in Mootilango District, Gorontalo District R / C ratio is 2.02> 1, this means the farming is profitable and worth
continuing and continuing.
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan : 1) Menghitung struktur biaya produksi, penerimaan, dan pendapatan usahatani
padi sawah di Kecamatan Mootilango Kabupaten Gorontalo, 2) Menganalisis kelayakan usahatani padi sawah di
Kecamatan Mootilango Kabupaten Gorontalo, dilihat dari segi keuntungannya. Penelitian ini dilakukan di
Kecamatan Mootilango Kabupaten Gorontalo dari bulan februari sampai bulan maret 2018 dengan jumlah sampel
54 orang petani. Metode penelitian yang digunakan adalah slovin. Analisis data yang digunakan adalah biaya
total,penerimaan dan pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya total Rp. 11.275.545,91 / petani /
panen. Sedangkan penerimaan yang diperoleh Rp. 22.741.666,67 / petani / panen dengan pendapatan bersih Rp.
11.476.676,31 / petani / panen. Nilai Hasil analisis kelayakan usahatani padi sawah di Kecamatan Mootilango
Kabupaten Gorontalo R / C ratio adalah 2,02 > 1, ini berarti usahatani tersebut menguntungkan serta layak
diteruskan dan dilanjutkan.
PENDAHULUAN
Indonesia adalah negara agraris yang 2015 ini sebesar 74.844.901 ton (Kementerian
sebagian besar penduduknya mayoritas adalah Pertanian-RI Direktorat Jenderal Tanaman
petani. Ada 4 komoditi strategis dan prioritas Pangan, 2014).
pada pengelolaan komoditi tanaman pangan tahun Selama usaha pertanian pada dasarnya
2015-2019 yaitu padi, jagung, kedelai, dan ubi adalah kegiatan ekonomi sehingga memerlukan
kayu. Diantara 4 komoditi tanaman pangan dasar-dasar pengetahuan yang sama akan
tersebut, komoditi tanaman padi sawah yang pengelolaan tempat usaha, pemilihan benih/bibit,
paling dominan dibudidayakan. Namun demikian metode budidaya, pengumpulan hasil, distribusi
produksi pertanian yang diperoleh selama ini produk, pengolahan dan pengemasan produk,
ditingkat usahatani padi sawah masih rendah serta pemasaran. Apabila seorang petani
bahkan pemerintah Indonesia sampai mengimpor memandang semua aspek ini dengan
beras dari luar negeri. Padahal produksi padi pertimbangan efisiensi untuk mencapai
sawah di Indonesia masih bias ditingkatkan keuntungan maksimal maka ia melakukan
apabila ada sedikit perbaikan tentang teknik pertanian intensif (intensive farming). Usaha
budidaya yang benar yang mampu meningkatkan petanian yang dipandang dengan cara ini dikenal
produktivitas sehingga adanya pertambahan sebagai agribisnis. Program dengan kebijakan
pendapatan petani. Oleh karena itu pemerintah yang mengarahkan usaha pertanian ke cara
Indonesia menargetkan produksi padi di tahun pandang demikian dikenal sebagai intensifikasi.
*Alamat Email:
[Link]@[Link]
Fadel Amili dkk.: Analisis Usahatani Padi Sawah (Oryza Sativa L) Serta Kelayakannya ..........................
Karena pertanian industrial selalu menerapkan penyusutan alat dan gaji karyawan. Biaya tidak
pertanian intensif, keduanya sering kali tetap (variable cost) merupakan biaya yang
disamakan (Bukhori, 2013:2). besarkecilnya dipengaruhi oleh produksi
komoditas pertanian yang diperoleh (Rahim,
TINJAUAN PUSTAKA 2008:162-163).
Tanaman Padi (Oryza Sativa L.) Soekartawi (2011:56), biaya produksi
Tanaman padi (Oryza sativa L.) dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu biaya
merupakan tanaman pangan penting yang telah eksplisit dan biaya implisit. Biaya eksplisit adalah
menjadi makanan pokok lebih dari setengah biaya yang benar-benar dikeluarkan dalam proses
penduduk dunia. Di Indonesia, padi merupakan produksi. Biaya implisit adalah biaya yang tidak
komoditas utama dalam menyokong pangan benar-benar dikeluarkan tetapi diikutsertakan
masyarakat. dalam proses dalam proses produksi.
Menurut Purtikoningrum (2009: 8)
mengemukakan tanaman padi merupakan Penerimaan Usahatani
tamanan semusim dan mempunyai nama botani Faktor yang sangat penting dalam
Oriza Sativa L. dengan nama lokal padi. penerimaan adalah volume penjualan atau
Termasuk golongan rumput-rumputan produksi dan harga jual. Penerimaan usahatani
(Gramineae), biasanya berumur pendek, kurang sawit adalah hasil penjualan panen sawit yang
dari satu tahun dan hanya sekali produksi, setelah dikurangi grading (sampah sawit, air dan susut)
berproduksi akan mati atau dimatikan. sesuai dengan ketentuan setiap agen, grading
dapat dipotong antara 5 hingga 10 persen dari
Pengertian Usahatani hasil panen sawit. Penerimaan usahatani adalah
Usahatani dikatakan berhasil apabila perkalian antara produksi yang diperoleh dengan
usahatani tersebut dapat memenuhi kewajiban harga jual. Biaya produksi merupakan bagian dari
membayar bunga modal, alat-alat yang pada anggaran produksi yang penting yang
digunakan, upah tenaga luar serta sarana produksi dikeluarkan untuk biaya operasional dan
yang lain termasuk kewajiban terhadap pihak dibutuhkan selama usaha itu masih berlangsung.
ketiga dan dapat menjaga kelestarian usahanya Lancar atau tidaknya suatu usaha bergantung
(Suratiyah, 2009: 60). kepada biaya yang dikeluarkan, biaya produksi
Menurut Shinta (2011: 1), menyatakan sebagai penunjang segala aktivitas yang ada
bahwa usahatani adalah suatu tempat dimana karena menyangkut dengan produktivitas
seseorang atau sekumpulan orang berusaha tanaman dan keuntungan bagi petani, selain itu
mengelola unsur-unsur produksi seperti alam, biaya yang diusahakan juga harus diperhitungkan,
tenaga kerja, modal dan ketrampilan dengan karena biaya yang dikeluarkan akan
tujuan berproduksi untuk menghasilkan sesuatu mempengaruhi pendapatan yang akan diterima
dilapangan pertanian. oleh petani (Pahan, 2010:277).
Ilmu usahatani adalah ilmu yang
mempelajari bagaimana seseorang mengusahakan Pendapatan Usahatani
dan mengkoordinir faktor-faktor produksi berupa Pendapatan usahatani atau pendapatan
lahan dan alam sekitarnya sebagai modal merupakan hasil akhir yang didapatkan petani
sehingga memberikan manfaat yang sebaik- setelah penerimaan dikurangi dengan semua
baiknya. Ilmu usahatani merupakan ilmu yang biaya-biaya yang dikeluarkan selama proses
mempelajari cara-cara petani menentukan, produksi. Dengan kata lain pendapatan usahatani
mengorganisasikan, dan mengkoordinasikan merupakan selisih antara penerimaan dengan
penggunaan faktor-faktor produksi secara efektif semua biaya (Soekartawi dalam Ali 2013:12).
dan maksimal (Suratiyah, 2015:8). Pendapatan bersih usahatani merupakan selisih
antara penerimaan dan semua biaya atau total
Biaya Usahatani biaya. Petani dalam memperoleh pendapatan
Biaya usahatani dapat diklasifikasikan bersih yang tinggi maka petani harus
menjadi dua yaitu, biaya tetap ( fixed cost ) dan mengupayakan penerimaan yang tinggi dan biaya
biaya tidak tetap (variable cost). Biaya umumnya produksi yang rendah. (Rahim, 2008:8).
diartikan sebagai biaya yang relatif tetap Untuk menghindari perhitungan ganda,
jumlahnya dan terus dikeluarkan walaupun output maka semua produk yang dihasilkan sebelum
yang diperoleh banyak atau sedikit, misalnya tahun pembukuan tetapi dijual atau digunakan
pajak (tax). Biaya tetap dapat pula dikatakan pada saat tahun pembukuan, tidak dimasukkan ke
biaya yang tidak dipengaruhi oleh besarnya dalam pendapatan kotor. Istilah lain untuk
produksi komoditas pertanian, misalnya pendapatan kotor usahatani ialah nilai produksi
(value of production) atau penerimaan kotor penelitian tentang dapat tidaknya suatu proyek
usahatani (gross return). Dalam menaksir investasi dilaksanakan dengan berhasil
pendapatan kotor, semua komponen produk yang (Jumingan, 2011:3). Terdapat beberapa aspek
tidak dijual harus dinilai berdasarkan harga pasar. yang perlu diteliti dalam studi kelayakan, yaitu
Perhitungan pendapatan kotor harus juga aspek industri, aspek pasar, aspek pemasaran,
mencakup semua perubahan nilai tanaman aspek keuangan, aspek manajemen, aspek teknik
dilapamgan antar permulaan dan akhir tahun dan produksi, aspek sumber daya manusia, aspek
pembukuan. Perubahan semacam itu sangat lingkungan, aspek hukum dan yuridis
penting terutama untuk tanaman tahunan. (Johan,2011:9).
Meskipun demikian, pada umumnya perubahan
ini diabaikan karena penilaiannya sangat sukar. METODE PENELITIAN
Pendapatan kotor usahatani adalah ukuran hasil Lokasi dan Waktu Penelitian
perolehan total sumberdaya yangdigunakan Penelitian ini dilakukan pada petani padi
dalam usahatani. Nisbah seperti pendapatan kotor sawah yang berada di Kecamatan Mootilango
per hektar atau per unit kerja dapat dihitung untuk Kabupaten Gorontalo. Pemilihan lokasi ini
menujukkan intensitas operasi usahatani. dikarenakan moyoritas petani di Kecamatan
Mootilango ini adalah petani padi sawah.
Analisis Kelayakan Usahatani Penelitian ini dilaksanakan selama dua bulan dari
Menurut Riyanto (2011:364-365) analisis bulan Februari sampai dengan Maret Tahun 2018.
kelayakan adalah penelitian tentang layak atau
tidak layaknya suatu usaha, dilakukan dengan Jenis dan Sumber Data
menggunakan berbagai perhitungan. Beberapa Jenis dan sumber data yang digunakan
teori perhitungan untuk mengetahui kelayakan dalam penelitian adalah data primer dan data
usahatani adalah Break Event Point, dan Revenue sekunder. Data primer adalah data – data yang
Cost Ratio (R/C). diperoleh langsung dari lapangan melalui
a. Break Event Point (BEP) wawancara dengan petani, menggunakan daftar
Break event point adalah suatu keadaan pertanyaan atau kuesioner. Sedangkan data
dimana dalam suatu operasi perusahaan tidak sekunder adalah data yang diperoleh dari kantor
mendapat untung maupun rugi/impas Kecamatan.
(penghasilan=total biaya).
b. Revenue Cost Ratio (R/C Rasio) Populasi dan Sampel
Untuk melihat penerimaan usahatani Pengambilan sampel dari populasi dalam
persatuan biaya yang dikeluarkan digunakan penelitian sangatlah penting karena tidak
indikator Revenue Cost Ratio (R/C), dimana R/C mungkin peneliti mengambilan sampel dalam
merupakan perbandingan antara penerimaan total jumlah yang banyak atau besar. Pengambilan
usaha tani dengan biaya total yang dikeluarkan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan
selama proses produksi berlangsung. menggunakan Rumus Solvin. Terkait dengan
Pengertian studi kelayakan menurut besar sampel yang akan diambil, rumus untuk
Jumingan, (2009:25) merupakan “penilaian yang penentuan besarnya menggunakan Rumus Solvin
menyeluruh untuk menilai keberhasilan suatu sebagai berikut :
proyek, dan studi kelayakan proyek mempunyai
tujuan menghindari keterlanjuran penanaman N
modal yang terlalu besar untuk kegiatan yang n=
ternyata tidak menguntungkan”. Studi kelayakan 1 + Ne²
proyek atau bisnis merupakan suatu kegiatan
mengevaluasi, menganalisis, dan menilai layak Keterangan:
atau tidak suatu proyek bisnis dijalankan. Secara n = Jumlah Sampel
umum, tujuan diadakan studi kelayakan N = Jumlah Populasi
khususnya bagi investor yaitu menghindari e = Tingkat kesalahan (Persen kelonggaran
keterlanjuran investasi atau penanaman modal ketidaktelitian karena kesalahan dalam penarikan
yang terlalu besar untuk suatu proyek atau sampel)
kegiatan usaha yang ternyata tidak Populasi petani padi sawah di Kecamatan
menguntungkan. Studi kelayakan dapat Mootilango Kabupaten Gorontalo yaitu sebanyak
didefinisikan sebagai sebuah studi yang 122 orang. Berdasarkan rumus tersebut, dengan
digunakan untuk menilai layak atau tidaknya menggunakan tingkat persentase 90 % petani padi
sebuah usaha dilakukan dengan pertimbangan sawah dan 10 % tingkat kesalahan, maka jumlah
mendapatkan keuntungan. Studi kelayakan adalah di peroleh sampel penelitian sebagai berikut :
122 Keterangan:
n= TR = Total Revenue / Penerimaan
1 + 122 (0,10)² TC = Total Cost / Biaya Tetap
122
Dengan Kriterianya, Apabila :
n=
1 + 122 (0,01) R/C Ratio > 1, Usahatani padi layak diusahakan.
R/C Ratio = 1, Usahatani padi impas.
122 R/C Ratio < 1,Usahatani padi tidak layak
n= diusahakan.
1 + 1,22
HASIL DAN PEMBAHASAN
122 Total Biaya Usahatani Padi Sawah
n= Menurut kutipan dan pedoman Analisis
2.22 Usahatani Phahlevi (2013 : 7), menyatakan
bahwa biaya produksi adalah biaya yang
n= 54 Sampel
dikeluarkan oleh seorang petani dalam proses
Jadi, jumlah petani yang akan di jadikan
produksi serta membawanya menjadi produk,
sebagai sampel dalam penelitian ini yaitu
termasuk didalamnya barang yang dibeli dan jasa
sebanyak 54 petani pada usahatani padi sawah di
yang dibayar didalam maupun diluar usahatani.
Kecamatan Mootilango Kabupaten Gorontalo.
Sedangkan total produksi biaya usahatani adalah
semua pengeluaran yang digunakan dalam
Teknik Analisis Data
mengorganisasikan dan melaksanakan proses
Data yang diperoleh selanjutnya dihitung
produksi termasuk didalamnya modal input-input
mengunakan:
dan jasa-jasa yang digunakan dalam produksi.
1. Menurut Soekartawi, (2006:112)
Berikut ini adalah perhitungan biaya total
mengihitung biaya total, penerimaan, pendapatan,
petani responden pada usahatani padi sawah di
dengan menggunakan rumus :
Kecamatan Mootilango, Kabupaten Gorontalo:
Tabel 1.
TC = VC + FC Biaya Total pada Usahatani Padi Sawah di
Kecamatan Mootilango Kabupaten Gorontalo,
Keterangan: 2018
TC = Total Cost / Biaya Total Jenis Biaya Rerata/ Rerata/ Perse
VC = Variable / Biaya Variabel Petani Ha ntase
(Rp) (Rp) (%)
FC = Fixed Cost / Biaya Tetap 5,31
Biaya Tetap 564.623,45 1.031.275,86
Biaya 94,69
10.559.944,45 19.663.344,82
Variabel
TR = P × Q Biaya Total 100,00
11.124.567,91 20.694.620,68
(1+2)
Keterangan: Sumber : Data Primer diolah, 2018
TR = Total Revenue / Penerimaan
P = Price / Biaya Jual Berdasarkan data pada tabel diatas,
Q = Quantity / Jumlah Produksi diketahui biaya tetap Rp 564.623,45 / petani. Rp.
1.031.275,86 / ha dengan presentase 5,31 %.
Biaya variabel Rp. 10.559.944,45 / petani. Rp.
π = TR – TC 19.663.344,82 / ha dengan presentase 94,69 %.
Biaya total Rp. 11.124,567,91 / petani. Rp.
Keterangan: 20.694.620,68 / ha.
π = Phi / Pendapatan Bersih
TR = Total Revenue / Penerimaan Penerimaan dan Pendapatan Padi Sawah
TC = Fixed Cost / Biaya Tetap Penerimaan adalah perkalian antara
jumlah produksi yang diperoleh dengan harga
2. Menurut Suratiyah, (2006: 88), Analisis jual, sedangkan pendapatan usahatani padi sawah
kelayakan usahatani dari segi keuntungannya yaitu selisih antara penerimaan usahatani padi
dengan menggunakan rumus : sawah dengan total biaya usahatani padi sawah
dalam hal ini dapat dilihat pada tabel berikut ini:
R 𝑇𝑅
𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 =
C 𝑇𝐶