Hubungan Status Ekonomi dan BBLR 2024
Hubungan Status Ekonomi dan BBLR 2024
TAHUN 2024
Oleh:
NURKOMALASARI
NPM: 2020010045
TAHUN 2024/2025
KATA PENGANTAR
Segala puji senantiasa terpanjat bagi allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayahNYA,sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusanan karyah tulis ilmiah dengan
judul “Hubungan Status Sosial Ekonomi Dengan Kejadian Berat Badan Lahir Rendah
(BBLR) Di Wilayah Kerja RSUD Bima”
Karya tulis Ilmiah ini di susun sebagai persyaratan mencapai gelar sarjana S1
Keperawatan pada program studi Keperawatan sekolah tinggi ilmu kesehatan yahya bima
tahun akademik 2023/2024
Pada kesempatan ini penulis ingin menggucapkan besarnya rasa terimakasih saya
kepada :
Penulis menyadari karya tulis ini sangat dari kata sempurna,sehingga penulis sangat
mengharapkan saran dan nasehat yang membangun dari semu pihak dan semoga
PROPOSAL ini dapat bermanfaat.
Bima,April 2024
Penulis
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
1. Definisi Status Sosial Ekonomi
Status sosial ekonomi adalah tinggi rendahnya prestise (wibawa dan kemampuan) yang
dimiliki seseorang berdasarkan kedudukan yang dipegangnya dalam suatu masyarakat
berdasarkan pada pekerjaan untuk memenuhi kebutuhannya atau keadaan yang
menggambarkan posisi atau kedudukan suatu keluarga masyarakat berdasarkan kepemilikan
materi. Status sosial ekonomi seseorang dapat didasarkan pada beberapa unsur kepentingan
manusia dalam kehidupannya, status dalam kehidupan masyarakat, yaitu status pekerjaan,
status dalam sistem kekerabatan, status jabatan dan status agama yang dianut
(Sunarto,2020:108).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang yang telah dipaparkan maka masalah
penelitian yang dapat dirumuskan “Hubungan Status Sosial Ekonomi Dengan
Kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Di Wilayah Kerja RSUD BIMA’’.
C. Tujuan penelitian
a. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Hubungan Status Sosial Ekonomi dengan Kejadian
Berat Badan Lahir Rendah Di Wilayah Kerja RSUD BIMA.
b. Tujuan Khusus
1) Untuk Mengidentifikasi Status Sosial Ekonomi penyebab
terjadinya Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).
2) Untuk Mengidentifikasi Hubungan Status Sosial Ekonomi di tinjau
dari Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) tiap bulan di wilayah kerja
RSUD BIMA.
3) Untuk mengetahui Hubungan Status Sosial Ekonomi dengan
Kejadian Berat Badan Lahir Rendah ( BBLR) di Wilayah Kerja
RSUD BIMA.
D. Manfaat penelitian
1. Bagi tenaga kesehatan sebagai masukan agar lebih meningkatkan perhatian
terhadap Berat Badan Lahir Rendah dari sektor sosial ekonomi.
2. Bagi peneliti diharapkan dapat menambah pengetahuan penulis dibidang
keperawatan khususnya yang berkaitan dengan Berat Badan Lahir Bayi
Rendah (BBLR).
3. Bagi pendidikan sebagai bahan literature diperpustakaan dan sebagai
pertimbangan bagi pihak pendidikan dalam melihat berbagai permasalahan
yang ada khususnya pada Berat Badan Lahir Rendah.
4. Memberikan pemahaman tentang apa itu BBLR.
E. Keaslian penelitian.
Berdasarkan data awal dari ruangan NICU RSUD BIMA” Hubungan status sosisal
ekonomi dengan kejadian berat badan lahir rendah (BBLR) di wilayah kerja RSUD
BIMA” sesuai observasi dan wawancara awal melalui koesioner ditemukan Hubungan
Status Sosial dengan Kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Wilayah Kerja
RSUD BIMA menunjukan penyebab terjadinya Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
sekitar 60% dipengaruhi oleh faktor ekonomi sehingga memicu tidak seimbangnya gizi
dan kurangnya menjaga kesehatan janin.
Variabel
independen
t hubungan
2. Hubungan status Agustian tahun 1. Observasi status Didapatkan
sosisal ekonomi 2021 2. Wawancara sosisal berat badan
dengan kejadian 3. Pengumpula ekonomi lahir rendah
berat badan lahir n data dengan (BBLR)
rendah (BBLR) di 4. Literatur kejadia sebanyak
tanjau dari sektor review berat badan 52,6% di
ekonomi kelas lahir rendah karenakan
menengah di wilayah (BBLR) di sistem
RSUD Sulawesi tinjau dari reproduksi ibu
utara. sektor menurun karna
ekonomi penyaluran
kelas nutrisi antara
menengah. ibu dan janin
terganggu.
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Teori
1. Definisi Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram tanpa
memandang masa kehamilan. Dahulu neonatus dengan berat badan lahir kurang
2500 gram atau sama dengan 2500 gram disebut premature. Pembagian menurut
berat badan ini sangat mudah tetapi tidak memuaskan. Sehingga lambat laun
diketahui bahwa tingkat morbiditas dan mortalitas pada neonatus tidak hanya
bergantung pada berat badan lahir saja, tetapi juga pada tingkat maturitas bayi itu
sendiri (WHO, 2021).
2. Klasifikasi BBLR
Klasifikasi BBLR menurut (Tando, 2020:102) ada beberapa cara dalam
mengelompokkannya yaitu :
a. Klasifikasi BBLR menurut harapan hidupnya :
1) Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) berat lahir 1500-2500 gr.
2) Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (BBLSR) berat lahir 1000-1500 gr.
3) Bayi Berat Lahir Ekstrim Rendah (BBLER) berat lahir 1000 gr.
b. Menurut masa gestasinya :
1) Prematuritas murni yaitu masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat
badanya sesuai dengan berat badan untuk masa gestasi berat atau biasa
disebut neonatus kurang bulan sesuai untuk masa kehamilan.
2) Dismaturitas yaitu bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan
seharusnya untuk masa gestasi itu. Berat bayi mengalami retardasi
pertumbuhan intrauterin dan merupakan bayi yang kecil untuk masa
kehamilannya (Proverawati & Ismawati, 2019:107).
3. Tanda-tanda Bayi Berat Lahir Rendah
Berat Badan Lahir Rendah (Bayi Berat Lahir Rendah) adalah bayi yang lahir
kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa kehamilan. Berat lahir adalah berat
bayi yang ditimbang dalam 1 jam setelah lahir. Penyebab Bayi Berat Lahir Rendah
sangat kompleks. Bayi Berat Lahir Rendah dapat disebabkan oleh kehamilan kurang
bulan, bayi kecil untuk bayi kurang bulan adalah bayi yang lahir sebelum umur 37
minggu. Sebagian bayi kurang bulan belum siap hidup di luar kandungan dan
mendapatkan kesulitan untuk mulai bernafas, menghisap, melawan infeksi, dan
menjaga tubuhnya agar tetap hangat (Proverawati & Ismawati, 2019:76).
Bayi kecil masa kehamilan (KMK) adalah bayi yang tidak tumbuh dengan baik
didalam kandungan selama kehamilan. Ada 3 kelompok bayi yang termasuk bayi
kecil masa kehamilan (KMK) yaitu KMK lebih bulan, KMK cukup bulan, dan KMK
kurang bulan. Bayi yang cukup bulan kebanyakkan mampu bernafas dan menghisap
dengan baik. Sedangkan bayi KMK kurang bulan kadang kemampuan bernafas dan
menghisapnya lemah (Proverawati & Ismawati, 2019:77).
5. Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Bayi Berat Lahir Rendah
BBLR disebabkan oleh dua faktor utama yaitu kelahiran prematur (usia
gestasi < 37 minggu), intrauterine growth restriction (IUGR), atau kombinasi
keduanya. Sehingga patofisiologi BBLR berkaitan dengan kedua kondisi tersebut.
Kelahiran prematur disebabkan oleh banyak faktor yang berkaitan erat dengan
hubungan yang kompleks antara fetus, plasenta, uterus, dan faktor maternal. Apabila
terjadi suatu gangguan atau kelainan pada salah satu faktor diatas, maka akan timbul
akibat ketidakmampuan uterus untuk mempertahankan fetus, terganggunya jalan
lahir, dan kontraksi uterus sebelum waktunya, sehingga terjadilah kelahiran
prematur. Faktor yang dapat menyebabkan kelahiran prematur meliputi fetus yaitu
gawat janin dan kehamilan ganda, faktor plasenta yaitu disfungsi plasenta, plasenta
previa, dan solusio plasenta. Faktor maternal yaitu preeklampsia, penyakit kronis
(ginjal, jantung) dan infeksi. Faktor lain seperti ketuban pecah dini (KPD).
Faktor penyebab IUGR yakni adanya gangguan pada faktor ibu, janin, dan
plasenta yang menyebabkan gangguan perfusi uterus-plasenta dan nutrisi janin.
Perfusi yang tidak baik, letak plasenta yang abnormal, hipertensi dalam kehamilan,
merokok, kehamilan ganda, infeksi intrauterin (termasuk HIV dan malaria),
karakteristik dari maternal, malnutrisi pada ibu, indeks masa tubuh ibu rendah dapat
menyebabkan BBLR.
Sebuah teori yang menjadi penyebab dari IUGR adalah penurunan produksi
hormon insulin atau gangguan pada level reseptor insulin ( Insulin-like growth factor
/ IGF). Hal ini terjadi terutama pada bayi yang memiliki defek pada reseptor IGF-1 ,
hipoplasia pankreas, dan diabetes neonatus sementara. Defek pada reseptor IGF-1
disebabkan oleh mutasi genetik yang mengganggu mekanisme pengenalan glukosa
oleh sel islet pankreas sehingga menyebabkan penurunan pelepasan insulin.
IUGR terbagi menjadi dua yakni IUGR simetris dan IUGR asimetris. IUGR
simetris mempengaruhi seluruh pertumbuhan dimulai dari lingkar kepala, panjang,
dan berat badan bayi. Sedangkan pada IUGR asimetris, lingkar kepala bayi dalam
batas normal, namun ukuran panjang dan berat badan bayi terganggu. IUGR
asimetris adalah tipe yang paling sering ditemukan. Tipe ini memiliki persentase
kasus sebesar 70 – 80%.
Berikut adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan Bayi Berat Lahir
Rendah secara umum yaitu:
a. Faktor obstetrik
1) Paritas Paritas adalah jumlah anak yang pernah dilahirkan baik hidup
maupun mati. Resiko terjadinya BBLR pada ibu yang pernah melahirkan
anak empat kali atau lebih akan meningkat.
2) Riwayat obstetrik buruk Riwayat obstetrik buruk yaitu riwayat abortus,
riwayat persalinan prematur, riwayat BBLR, bayi lahir mati, riwayat
persalinan dengan tindakan (ekstaksi vacuum dan ekstrasi forsep), pre-
eklamsia/eklamsia juga berpengaruh terhadap BBLR.(Manuaba, 2019:72).
3) Hipertensi gestasional Hipertensi gestasional adalah keadaan dimana
diperoleh tekanan darah > 140/90 mmHg pada usia kehamilan > 20 minggu,
tanpa disertai adanya proteinuria. Kendati demikian,apabila didapatkan
tekanan darah yang signifikan maka diperlukan pengawasan yang lebih ketat
karena kejadian eklampsia dapat mendahului proteinuria. Tekanan darah
pada kasus hipertensi gestasional akan berangsur normal dalam 12 minggu
setelah persalinan (Cuningham, 2021:109).
b. Sosial demografi
1) Usia ibu
Usia ibu adalah waktu hidup ibu bersalin sejak lahir sampai hamil.
Saat terbaik untuk seorang wanita hamil adalah saat usia 20-35 tahun, karena
pada usia itu seorang wanita sudah mengalami kematangan organ-organ
reproduksi dan secara psikologi sudah dewasa (Manuaba, 2019:120).
2) Gizi hamil
Status gizi selama kehamilan adalah salah satu faktor penting dalam
menentukan pertumbuhan janin. Status gizi ibu hamil akan berdampak pada
berat badan lahir, angka kematian perinatal, keadaan kesehatan perinatal, dan
pertumbuhan bayi setelah kelahiran. Situasi status gizi ibu hamil sering
digambarkan melalui prevalensi anemia dan Kurang Energi Kronis (KEK)
pada ibu hamil.
3) Status sosial ekonomi
Keluarga bayi dengan status ekonomi rendah dan tinggal di pedesaan
cenderung mengalami kejadian BBLR lebih tinggi dibandingkan dengan
keluarga status ekonomi tinggi dan tinggal di perkotaan. Keluarga bayi
dengan status ekonomi rendah mempunyai risiko BBLR sebesar 1,33 kali
dibandingkan keluarga dengan status ekonomi tinggi karena berhubungan
dengan kurangnya pemenuhan nutrisi ibu dan pemantauan kehamilan.
(Cunningham, 2021:122).
4) Status pernikahan
Remaja yang hamil di luar nikah menghadapi berbagai masalah
psikologis yaitu rasa takut, kecewa, menyesal, dan rendah diri terhadap
kehamilan sehingga terjadi usaha untuk menghilangkan dengan
menggugurkan kandungannya atau tidak mengurusi kehamilannya sehingga
dapat kekurangan nutrisi dan menyebabkan BBLR. Ibu dengan kehamilan di
luar nikah berpeluang 1,8 kali berisiko memiliki bayi berat lahir rendah
(BBLR) (Damelash, 2020:78).
5) Pendidikan
Pendidikan ibu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
seseorang berperilaku. Tingkat pendidikan merupakan faktor yang mendasari
dalam pengambilan keputusan. Semakin tinggi pendidikan ibu akan semakin
mampu mengambil keputusan bahwa pelayanan kesehatan selama hamil
dapat mencegah gangguan sedini mungkin bagi ibu dan janinnya termasuk
mencegah kejadian BBLR. Tingkat pendidikan juga sering dihubungkan
dengan tingkat sosial ekonomi dalam konteks kesehatan, dimana tingkat
pendidikan yang rendah dapat membatasi pekerjaan (Notoatmodjo, 2019:99).
6) Kesehatan umum dan penyakit episodik
a) Gangguan metabolisme
Salah satu penyakit gangguan metabolisme yang sering dialami
oleh ibu hamil yaitu diabetes mellitus (DM). Pada ibu yang mengalami
diabetesmeliitus, cedera mikrovaskular ginjal akan merusak membrane
glomelurus sehingga protein akan bocor keluar ke urin. Seiring dengan
memburuknya fungsi ginjal, kebocoran protein akan menimbulkan
retensi cairan dan ginjal makin tidak efisien dalam membuang sampah
metabolism seperti keratinin. Gangguan ini disebut nefropati diabetic dan
akan mempersulit kehamilan termasuk pre-eklamsia, hipertensi, BBLR,
dan kelahiran premature. Pertumbuhan janin terhambat (IUGR)
merupakan faktor komplikasi yang sering terjadi jika ibu hamil sudah
mengalami fungsi ginjal yang buruk. (Bothamley, 2020:107).
b) Faktor ayah
Faktor ayah yang mempengaruhi terjadinya BBLR adalah tinggi
badan dan berat badan. (Ngoma, 2019:124).
c) Kebiasaan
Risiko BBLR terjadi pada ibu yang mmpunyai kebiasaan merokok,
meminum minuman yang mengandung alkohol, pecandu obat jenis
narkotika, dan pengguna obat antimetabolik. Asupan kafein harian tinggi
dikaitkan dengan peningkatan risiko melahirkan kecil masa kehamilan
atau berat bayi lahir ¿ 2500gram, rokok, dan obat-obat terkait, alcohol,
kokain, kafein yang dikonsumsi selama kehamilan dikaitkan dengan
hambatan pertumbuhan janin.(Manuaba, 2019:90).
a. Komplikasi BBLR
1) Komplikasi BBLR pada bayi premature :
a) Asfiksia
Asfiksia disebabkan karena kurangnya surfaktan (ratio lesitin atau
sfingomielin kurang dari 2). Pertumbuhan dan pengembangan
yang belum sempurna, otot pernafasan yang masih lemah, dan
tulang iga yang mudah melengkung atau pliable thorax. (Momeni,
2019:118).
b) Masalah pemberian ASI Hal tersebut dikarenakan ukuran tubuh
BBLR yang kecil, kurang energi, lemah, lambungnya kecil, dan
tidak dapat menghisap dengan kuat. (Momeni, 2019:119).
c) Hiperbilirubinemia Hiperbilirubinemia dapat terjadi akibat
adanya peningkatan kadar bilirubin pada tubuh. Hal tersebut
dapat ditemukan dalam keadaan dimana terjadi peningkatan
penghancuran sel darah merah (eritrosit) yang berkisar 80-90 hari,
dan kadar zat besi yang tinggi dalam eritrosit. (Radis & Glover,
2020:102).
6. Komplikasi BBLR pada bayi dismatur
a. Sindrom aspirasi mekonium
Keadaan hipoksia intrauterine (sel telur) akan mengakibatkan janin
mengadakan “gasping” dalam uterus. Selain itu, mekonuim akan dilepaskan
kedalam likour amnion seperti yang sering terjadi pada “subacute fetal
distress”. Akibatnya, cairan yang mengandung mekonuiim yang lengket itu
masuk ke dalam paru janin karena inhalasi. Pada saat lahir bayi akan
menderita gangguan pernafasan yang sangat menyerupai sindrom gangguan
pernafasan idiopatik. (Momeni, 2019:120).
b. Penyakit membrane hialin
Hal ini karena surfaktan paru belum cukup sehingga alveoli selalu
[Link] bayi mengadakan aspirasi, tidak tertinggal udara residu dalam
alveoli, sehingga selalu dibutuhkan tenaga negative yang tinggal pada
pernafasan [Link] hal iniakan tampak dispnu yang berat, retraksi
egigastrium, sianosis, dan pada paru terjadi atelektasis dan akhirnya terjadi
aksudasi fibrin dan lain-lain serta terbentuk membrane hialin (Momeni,
2019:120).
c. Hipoglikemia simtomatik
Keadaan ini terutama terdapat pada bayi laki-laki. Penyebabnya belum
jelas, tetapi mungkin sekali disebabkan persediaan glikogen yang sangat
kurang pada bayi dismaturitas. (Kosim, 2020:117).
7. Karakteristik Ibu
a. Pengertian karakteristik ibu
Kamus Besar Bahasa Indonesia (2016) menjelaskan arti kata karakteristik
adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan
seseorang dari yang lain, tabiat, watak. Karakteristik seseorang merupakan
sifat yang membedakan seseorang dengan yang lain berupa pendidikan,
pekerjaan, pendapatan, jumlah anak, dan jumlah keluarga dalam rumah
tangga yang mempengaruhi perilaku seseorang (Notoatmodjo, 2019:125).
b. Paritas
Menurut Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional
(BKKBN, 2011) paritas adalah jumlah anak yang pernah dilahirkan hidup
yaitu kondisi yang menggambarkan kelahiran sekelompok atau kelompok
wanita selama masa reproduksi. Klasifikasi jumlah paritas dibedakan menjadi:
1) Nullipara adalah perempuan yang belum pernah melahirkan anak sama
sekali.
2) Primipara adalah perempuan yang telah melahirkan seorang anak pertama,
yang cukup besar untuk hidup di dunia luar.
3) Multipara adalah perempuan yang telah melahirkan seorang anak lebih
dari satu dan tidak lebih dari 5 kali.
4) Grandemultipara adalah perempuan yang telah melahirkan 5 orang anak
atau lebih.
Berdasarkan hasil penelitian (Fajriana & Buanasita, 2019:129)
didapatkan paritas (≥ 3 anak ) sebanyak 52,6% yang mengalami kejadian
BBLR, sedangkan dengan paritas (< 3 anak) sebanyak 47,8 % yang
mengalami kejadian BBLR. Faktor paritas sering dihubungkan dengan
kejadian BBLR terjadi karena sistem reproduksi ibu sudah mengalami
penipisan akibat dari sering melahirkan. Status paritas yang tinggi dapat
meningkatkan risiko kejadian BBLR dan bayi lahir mati, hal tersebut
terjadi karena semakin tinggi status paritasnya maka kemampuan rahim
untuk menyediakan nutrisi bagi kehamilan selanjutnya semakin menurun
sehingga penyaluran nutrisi antara ibu dan janin terganggu yang akhirnya
dapat mengakibatkan BBLR.
Proses kehamilan yang berulang menjadikan dampak kerusakan
pada dinding pembuluh darah di dalam rahim, kondisi ini dapat
mengakibatkan terganggunya kandungan nutrisi pada janin untuk
kehamilan berikutnya yang dapat mempengaruhi proses pertumbuhan
pada janin sehingga akan terlahir bayi dengan kondisi BBLR (Agustin et
al, 2019:104). Rahim akan menjadi semakin melemah karena jaringan
parut uterus akibat kehamilan berulang menyebabkan tidak kuatnya
persediaan darah ke plasenta sehingga plasenta tidak mendapat aliran
darah yang cukup untuk menyalurkan nutrisi ke janin (Damelash,
2021:93).
Kehamilan yang berulang-ulang juga akan mempengaruhi
sirkulasi nutrisi ke janin dimana jumlah nutrisi akan berkurang
dibandingkan dengan kehamilan sebelumnya. Paritas yang tinggi akan
memberikan risiko tinggi terhadap janin, yaitu menimbulkan bayi yang
tidak sehat. Kelahiran anak kedua atau ketiga, umumnya aman bagi
seorang wanita, sedangkan kelahiran anak yang lebih dari empat harus
diwaspadai, kemungkinan akan terjadi persalinan yang buruk karena
terlalu banyak anak, rahim ibu yang semakin lemah yang akan
membahayakan janin dan ibu . Semakin sering proses melahirkan maka
organ-organ reproduksi akan berubah atau kondisi kesehatannya akan
menurun (Windiarti, 2020:88).
c. Riwayat obstetrik buruk
Riwayat obstetrik buruk yaitu riwayat abortus, riwayat persalinan
prematur, riwayat BBLR, bayi lahir mati, riwayat persalinan dengan tindakan
(ekstaksi vacuum dan ekstrasi forsep), pre-eklamsia/eklamsia juga
berpengaruh terhadap BBLR.(Manuaba, 2019:107).
Ibu yang memiliki riwayat komplikasi saat hamil akan mempengaruhi
pertumbuhan janin dalam kandungan sehingga memiliki risiko untuk
melahirkan bayi BBLR. Indrasari menyatakan BBLR dapat terjadi pada ibu
yang mengalami gangguan/komplikasi selama kehamilan seperti hipertensi,
hipotensi, anemia, preeklampsia dan eklamsia karena dapat memperpendek
usia kehamilan dan janin tumbuh lambat.
Ibu yang pernah mengalami komplikasi atau riwayat obstetri buruk
berpeluang melahirkan BBLR sebesar 3,675 kali. Semakin banyak ibu
mengalami komplikasi kehamilan maka akan semakin tinggi risiko kelahiran
bayi dengan BBLR karena kesehatan ibu akan semakin melemah sehingga
pertumbuhan janin terhambat dan mengakibatkan BBLR. Komplikasi saat
hamil merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi saat masa kehamilan
maupun juga saat persalinan. Konsekuensi dari terjadinya komplikasi saat
hamil yaitu dapat menyebabkan masalah kesehatan pada ibu, bayi ketika
dilahirkan, ataupun kesehatan keduanya.
d. Hipertensi gestasional
Hipertensi gestasional adalah keadaan dimana diperoleh tekanan
darah > 140/90 mmHg pada usia kehamilan > 20 minggu, tanpa disertai
adanya proteinuria. Kendati demikian,apabila didapatkan tekanan darah yang
signifikan maka diperlukan pengawasan yang lebih ketat karena kejadian
eklampsia dapat mendahului proteinuria. Tekanan darah pada kasus hipertensi
gestasional akan berangsur normal dalam 12 minggu setelah persalinan
(Cuningham, 2021:74).
Pada ibu penderita hipertensi di dalam uterus, vasokonstriksi yang
disebabkan oleh hipertensi akan mengakibatkan aliran darah uterus dan lesi
vascular terjadi di dasar plasenta, mengakibatkan terjadinya abrupsio plasenta.
Penurunan aliran darah ke ruang koriodesidua akan mengurangi jumlah
oksigen yang berdifusi melalui sel sinsitiotrofolas dan sitotrofoblas ke dalam
sirkulasi janin ke dalam plasenta.
Akibatnya, jaringan plasenta di iskemik, terjadi thrombosis kapiler vili
korionik dan infark, yang mengakibakan retriksi pertumbuhan janin. Aliran
hormon juga terganggu dengan menurunnya fungsi plasenta. Fungsi plasenta
yang menurun menyebabkan sirkulasi oksigen dan nutrisi ke janin menjadi
tidak lancar, sehingga menyebabkan BBLR. (Hidayatus, 2019:75).
Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara
ibu hipertensi dengan kejadian berat badan lahir rendah (BBLR) dan nilai OR
dengan Confidence Interval (CI) sebesar 95% memiliki peluang 3,225 kali
lebih besar untuk melahirkan bayi berat lahir rendah. Hipertensi gestasional
mengakibatkan masalah pada ibu hamil seperti intra uterine growth restriction
(IUGR) dan hipoksia karena penurunan perfusi uteroplasenta. Hipertensi
gestasional juga mengakibatkan kegagalan invasi migrasi sel trofoblast yang
masuk ke dalam arteri myometrium sehingga menyebabkan arterioli tidak
dipengaruhi sistem hormonal plasenta untuk dapat menyebabkan tumbuh
kembang janin dalam rahim sehingga terjadi kegagalan transport nutrisi yang
akhirnya menyebabkan intra uterine growth restriction (IUGR).
e. Usia
Usia seseorang sedemikian besarnya akan mempengaruhi perilaku,
karena semakin lanjut umurnya, maka semakin lebih bertanggungjawab, lebih
tertib, lebih bermoral, lebih berbakti dari usia muda.
Usia ibu yang menjadi indikator dalam kedewasaan dalam setiap
pengambilan keputusan untuk melakukan sesuatu yang mengacu pada setiap
pengalamannya (Notoatmodjo, 2019:75). Usia dibagi menjadi berisiko (35
tahun) dan tidak berisiko (20 – 35 tahun). Pada usia ¿ 20 tahun organ
reproduksi belum berfungsi sempurna sehingga terjadi persaingan
memperebutkan gizi untuk ibu yang masih dalam tahap perkembangan
dengan janin. Pada usia >35 tahun kematangan organ reproduksi mengalami
penurunan. Hal ini dapat mengakibatkan timbulnya masalah kesehatan pada
saat persalinan dan berisiko terjadinya BBLR (Karentina, 2022:104).
Penyulit kehamilan pada usia remaja lebih tinggi dibandingkan antara
usia 20-35 tahun. Keadaan ini disebabkan belum matangnya alat reproduksi
untuk hamil, sehingga dapat merugikan kesehatan ibu maupun pertumbuhan
dan perkembangan janin. Keadaan tersebut akan menyulitkan bila ditambah
dengan tekanan (stress) psikologis, sosial ekonomi, sehingga memudahkan
persalinan premature (preterm), berat badan lahir rendah dan kelainan
bawaan, kegururan, mudah menjadi infeksi, keracunan kehamilan. (Manuaba,
2012). Umur ibu >35 tahun kurangnya fungsi reproduksi dan masalah
kesehatan seperti anemia dan penyakit kronis sehingga memudahkan
terjadinya persalinan premature. (Manuaba, 2019:59).
Usia ibu merupakan faktor risiko pertama yang termasuk dalam Tujuh
Terlalu dan Tiga Pernah. Tujuh Terlalu adalah primi tua, primi tua sekunder,
umur >35 tahun, grande multi, anak terkecil ¿ 2 tahun, tinggi badan rendah
¿ 145 cm dan berat badan ¿ 45 [Link] Pernah adalah riwayat obstetrik jelek,
persalinan dengan infus transfusi, uri manual, tindakan pervaginam, bekas
operasi Caesar (Sarwono, 2021:78).
Usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-30 tahun
(Prawiroardjo, 2020:96). Kematian maternal pada wanita hamil dan
melahirkan pada usia di bawah 20 tahun ternyata 2 sampai 5 kali lebih tinggi
dari pada kematian maternal yang terjadi pada usia 20 sampai 29 tahun.
Kematian maternal meningkat kembali sesudah usia 30 sampai 35 tahun. Usia
seorang wanita pada saat hamil sebaiknya tidak terlalu muda dan tidak terlalu
tua. Umur yang kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, berisiko tinggi
untuk melahirkan. Kesiapan seorang perempuan untuk hamil harus siap fisik,
emosi, psikologi, sosial dan ekonomi (Manuaba, 2019:78).
f. Usia ibu kurang dari 20 tahun
Kehamilan yang terjadi pada usia kurang dari 20 tahun memerlukan
perhatian yang optimal. Penyulit pada kehamilan lebih tinggi muncul
dibandingkan usia reproduksi sehat. Keadaan ini disebabkan karena belum
matangnya alat reproduksi untuk hamil, sehingga dapat merugikan
kesehatan ibu maupun perkembangan dan pertumbuhan janin Manuaba
(2019:98). Masalah psikologis kadang juga muncul, karena ketidaksiapan
mental dan jiwa yang belum matang. Perkawinan akan dianggap dapat
menyelesaikan masalah justeru menimbulkan masalah baru seperti
penghasilan yang terbatas, putus sekolah, putus kerja dan nilai gizi yang
relatif rendah. Dampak kehamilan dengan usia dibawah 20 tahun
mempunyai risiko:
1) Sering mengalami anemia.
2) Gangguan tumbuh kembang janin.
3) Keguguran, prematuritas, atau BBLR.
4) Gangguan persalinan.
5) Preeklampsi.
6) Perdarahan antepartum.
g. Usia ibu lebih dari 35 tahun
Dalam penelitian (Fajriana & Buanasita, 2021:79) dipaparkan
bahwa kehamilan di usia kurang dari 20 tahun secara biologis belum
optimal, emosinya cenderung labil, mentalnya belum matang sehingga
mudah mengalami goncangan yang mengakibatkan kurangnya perhatian
terhadap pemenuhan kebutuhan zat-zat gizi selama kehamilan. Sedangkan
umur diatas 35 tahun terkait dengan kemunduran dan penuruhan daya
tahan buh serta berbagai penyakit yang menimpa pada usia ini. Semakin
tua umur ibu makan akan terjadi kemunduran yang progresif dari
endometrium sehingga untuk mencukupi pemenuhan nutrisi janin
diperlukan pertumbuhan plasenta yang lebih luas .
Risiko keguguran spontan tampak meningkat dengan
bertambahnya usia terutama setelah usia 30 tahun, baik kromosom janin
itu normal atau tidak, wanita dengan usia lebih tua, lebih besar
kemungkinan keguguran baik janinnya normal atau abnormal. Bayi yang
lahir dari wanita yang hamil di usia 35 tahun atau lebih dapat
meningkatkan risiko terkena penyakit yang disebabkan oleh kelainan
kromosom, seperti down syndrome. Risiko tersebut dapat dicegah dengan
melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin, tanyakan kepada dokter
cara melakukan pemeriksaan darah untuk mendeteksi kelainan kromosom
sebelum bayi lahir, jaga asupan nutrisi, control kenaikan berat badan serta
olahraga yang teratur (Notoatmodjo, 2019:99).
Faktor umur sangat mempengaruhi kelainan bawaan pada
bayi, makin tua seorang perempuan untuk hamil maka kemungkinan besar
akan terjadi kecacatan pada bayi salah satu nya down syndrome. Maka
dari itu, Bidan sangat diharapkan memberikan pertimbangan kepada ibu
untuk tidak hamil pada umur diatas 35 tahun ( Manuaba, 2019:90).
h. Status gizi
Status gizi selama kehamilan adalah salah satu faktor penting dalam
menentukan pertumbuhan janin. Status gizi ibu hamil akan berdampak pada
berat badan lahir, angka kematian perinatal, keadaan kesehatan perinatal, dan
pertumbuhan bayi setelah kelahiran. Situasi status gizi ibu hamil sering
digambarkan melalui prevalensi anemia dan Kurang Energi Kronis (KEK)
pada ibu hamil.
Pada penelitian yang dilakukan (Usep Rusependhi & Diah M, 2019)
memaparkan bahwa ibu yang mengalami anemia berpeluang melahirkan bayi
BBLR sebesar 3,327 kali lebih tinggi dapi pada ibu hamil yang tidak anemia.
Anemia saat kehamilan berhubungan dengan resiko kelahiran prematur dan
BBLR.
Anemia adalah suatu keadaan dimana jumlah hemoglobin dalam darah
kurang dari normal. Hemoglobin ini dibuat di dalam sel darah merah,
sehingga anemia dapat terjadi baik karena sel darah merah mengandung
terlalu sedikit hemoglobin maupun karena jumlah sel darah yang tidak cukup.
Ibu hamil yang menderita anemia menyebabkan kurangnya suplai darah pada
plasenta yang akan berpengaruh pada fungsi plasenta terhadap janin. Ibu
selama kehamilan mengalami perubahan fisiologis yang akan menyebabkan
ketidakseimbangan jumlah plasma darah dan sel darah merah yang dapat
dilihat dalam bentuk penurunan kadar hemoglobin. Hal ini akan
mempengaruhi oksigen ke rahim dan mengganggu kondisi intrauterine
khususnya pertumbuhan janin akan terganggu sehingga berdampakpada janin
dengan BBLR (Haryanti et al, 2019:120).
Anemia akan meningkatkan risiko persalinan prematur atau BBLR.
Selain itu, anemia akan meningkatan risiko pendarahan selama persalinan dan
membuat ibu lebih sulit melawan infeksi. Anemia juga mengakibatkan
terganggunya asupan oksigen dalam tubuh karena kurangnya hemoglobin.
Sehingga janin akan mengalami kekurangan asupan nutrisi dan bisa
mengakibatkan [Link] anemia kehamilan dapat dilakukan dengan
anamnesa. Pada anamnesa akan didapatkan keluhan cepat lelah, sering
pusing, mata berkunang- kunang, dan keluhan mual muntah lebih hebat pada
hamil muda. Untuk menegakkan diagnose kehamilan dapat dilakukan
pemeriksaan kadar Hb. Hasil pemeriksaan kadar kadar Hb dapat digolongkan
sebagai berikut: (Manuaba, 2019:95).
a. Hb ≥ 11 gr/dL : Tidak anemia.
b. Hb 9 – 10 gr/dL : Anemia ringan
c. Hb 7 - 8 gr/dL : Anemia sedang
d. Hb ,7 gr/dL : Anemia berat
Kurang Energi Kronis (KEK) adalah keadaan dimana seseorang
mengalami kekurangan gizi (kalori dan protein) yang berlangsung lama
atau menahun. Dengan ditandai berat badan kuang dari 40 kg atau tampak
kurus dan dengan lingkar lengan atas (LILA) kurang dari 23,5 cm
(Kemenkes, 2020). Penelitian (Hariani et al, 2019:99) menyatakan bahwa
ibu hamil dengan KEK berpeluang 2,4 kali lebih besar melahirkan bayi
BBLR. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan secara umum bahwa
berat badan selama kehamilan berpengaruh terhadap hasil dari berat lahir
bayi, wanita yang berat badan hamilnya kurang akan memiliki risiko
tinggi melahirkan bayi dengan berat lahir rendah. Hasil penelitian Sumiaty
& Restu, (2020:76) melaporkan bahwa terdapat hubungan signifikan
antara status gizi ibu hamil (berdasarkan pengukuran LILA) dengan
kejadian BBLR karena jika kebutuhan energi dan protein tidak terpenuhi
pada ibu hamil mengakibatkan terjadinya KEK sehingga menyebabkan
terjadinya BBLR..
i. Pendidikan
Berdasarkan data awal yang diambil di RSUD BIMA, karakteristik ibu
yang melahirkan bayi berat lahir rendah berdasarkan Pendidikan lebih banyak
terjadi pada ibu yang berpendidikan SD yaitu sebanyak 7 orang (36,8%),
kemudian SMP yaitu sebanyak 6 orang (31,6%), SMA yaitu sebanyak 5 orang
(26,3%) dan paling sedikit terjadi pada perguruan tinggi yaitu sebanyak 1
orang (5,3).
Kemungkinan adanya faktor risiko lain yang menyebabkan terjadinya
kejadian BBLR antara lain penyakit selama kehamilan, jarak kehamilan yang
terlalu dekat dengan kelahiran sebelumnya dan sebagainya (Puji Sayekti,
2020:92).
Pendidikan mempengaruhi proses belajar,makin tinggi pendidikan
seeorang makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi. pendidikan
tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pula pengetahuannya.
Pendidikan ibu yang rendah berpengaruh terhadap pengetahuan yang dimiliki
ibu, sehingga ibu terpengaruh dengan kebiasaan hidup yang tidak menunjang
gaya hidup seperti makanan yang tidak bergizi (hanya karbohidrat, sedikit
sayur, sedikit daging) dan banyaknya pantangan makanan ibu hamil oleh
peraturan adat istiadat nenek moyang sehingga jika ibu kurang gizi bayi yang
dilahirkan BBLR. Makanan yang tidak bergizi membuat berat badan ibu
hamil tidak mengalami peningkatan atau tetap dan mempengaruhi
pertumbuhan pertumbuhan janin, sehingga bayi yang dilahirkan mempunyai
berat badan lahir rendah.
Pendidikan adalah jenjang yang ditempuh seseorang sampai dengan
mendapatkan ijazah. Pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk
juga perilaku akan pola hidup, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang
maka semakin mudah menerima informasi (Notoatmodjo, 2019:75). Menurut
UndangUndang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 dibagi menjadi
tiga jenjang yaitu:
a. Pendidikan Dasar
Pendidikan Dasar adalah pendidikan umum yang lamanya sembilan
tahun, diselenggarakan selama enam tahun di Sekolah Dasar atau
sederajat dan tiga tahun di Sekolah Menegah Pertama atau sederajat.
b. Pendidikan Menengah
Pendidikan Menengah adalah pendidikan yang diselenggarakan bagi
lulusan pendidikan dasar serta menyiapkan peserta didik menjadi anggota
masyarakat yang memiliki kemampuan mengadakan hubungan timbal
balik dengan lingkungan sosial budaya dan alam sekitar serta dapat
mengembangkan kemampuan lebih lanjut dalam dunia kerja atau
pendidikan tinggi. Lama pendidikan yaitu tiga tahun, bentuk satuan
pendidikan menengah terdiri atas:
1. Sekolah Menengah Umum.
2. Sekolah Menengah Kejuruan.
3. Sekolah Menengah Keagamaan.
4. Sekolah Menengah Kedinasan
5. Sekolah Menengah Luar Biasa.
c. Pendidikan Tinggi Pendidikan Tinggi merupakan kelanjutan pendidikan
menengah yang diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi
anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan profesional
yang dapat menerapkan, mengembangkan dan menciptakan ilmu
pengetahuan, teknologi dan atau kesenian.
j. Pekerjaan
Pekerjaan mempengaruhi status gizi ibu hamil. Ibu yang tidak bekerja
tidak membutuhkan banyak keluaran energi dibandingkan dengan ibu yang
bekerja, sehingga dengan asupan gizi yang baik akan terjadi penambahan
berat badan normal berdasarkan indeks massa tubuh ibu sebelum hamil. Ibu
yang mempunyai status gizi kurang disebabkan karena ibu yang sibuk dengan
pekerjaannya tanpa disertai asupan gizi yang lebih dari biasanya sehingga
penambahan berat badan ibu kurang dari normal. Ibu yang bekerja pada saat
hamil kurang memperhatikan janinnya karena ibu tidak cukup istirahat dan
kemungkinan asupan gizi pada saat hamil kurang karena kesibukan ibu
bekerja, dan gizi.
k. Kebiasaan merokok
a. Pengertian rokok
Rokok adalah benda yang memberi efek santai dan sugesti lebih
jantan bagi pemakainya. Rokok mengandung zat adiktif yang bila
digunakan mengakibatkan bahaya bagi kesehatan individu maupun
masyarakat. Rokok adalah salah satu produk tembakau yang dimaksudkan
untuk dibakar, dihisap, dan atau dihirup termasuk rokok kretek, rokok
putih, cerutu atau bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman Nicotiana
Tabacum, Nicotiana Rustica, dan spesies lainnya atau sintesisnya yang
asapnya mengandung nikotin dan tar dengan atau tanpa bahan tambahan
(Syafrudin, 2019:96).
b. Kategori perokok
1) Perokok pasif Perokok pasif adalah jenis perokok yang secara
langsung menghisap asap rokok yang biasanya dikeluarkan oleh jenis
perokok aktif, dalam hal ini perokok pasif mendapatkan bahaya jauh
lebih besar dari pada perokok aktif (Syafrudin, 2019:97).
2) Perokok aktif Jenis orang yang secara langsung menghisap rokok
yang bisa mengakibatkan bahaya bagi kesehatan diri sendiri dan
lingkungan sekitarnya.
3) Perilaku tidak merokok Perilaku tidak merokok adalah perilaku yang
tidak merokok selama satu bulan. Rumah tangga yang tidak merokok
adalah rumah tangga dimana tidak ada anggota rumah tangga umur 15
tahun keatas yang merokok di dalam rumah setiap hari (Notoadmotjo,
2019:91).
a. Bahaya rokok
Paparan asap rokok mempengaruhi semua tahap reproduksi
manusia yaitu peningkatan resiko untuk kehamilan ektopik,
ketuban pecah dini, solusio plasenta, plasenta previa, keguguran,
lahir mati, lahir prematur, berat badan lahir rendah, kecil untuk
usia kehamilan dan bawaan anomali seperti bibir sumbing (WHO,
2013). Merokok sangat berbahaya bagi kesehatan tidak hanya bagi
si perokok aktif, tetapi juga orang-orang di sekitarnya. Merokok
dapat memberikan efek merugikan pada setiap individu yang tidak
merokok, termasuk janin yang sudah ada dalam kandungan.
Paparan asap rokok terus-menerus dan berkepanjangan oleh ibu
hamil akan mengakibatkan banyak masalah kesehatan terkait
untuk janin dan kehamilannya. Salah satu efek bahaya asap rokok
cacat bawaan.
Asap rokok dapat melekat pada pakaian, dan peralatan yang
ada di dalam ruangan. Pada saat ruangan terbuka dan mendapat
hembusan udara maka toksin akan kembali ke udara sekitarnya.
Hal ini menyebabkan wanita yang tinggal serumah dengan anggota
keluarga yang merokok, akan terpapar oleh asap rokok dan secara
tidak langsung akan menjadi perokok pasif. Asap rokok sangat
berbahaya bagi perokok pasif dimana asap rokok dari perokok
aktif yang terhirup lima kali lebih banyak mengandung gas karbon
monoksida dan empat kali lebih banyak mengandung tar serta
nikotin.
Jika ibu hamil menjadi perokok pasif terus-menerus
sepanjang masa kehamilan, kemungkinan bayi akan mengalami
cacat lahir baik ringan maupun berat. Asap rokok juga merupakan
penyebab mutasi gen karena produk beracun berbahaya memasuki
tubuh seorang perempuan hamil melalui merokok aktif. Merokok
dan perokok pasif selama kehamilan meningkatkan risiko
kehamilan ektopik, ganguan perkembangan otak, berat badan lahir
rendah, gangguan tekanan darah pada anak, labiopalatoschisis,
leukemia dan kanker lainnya pada anak, mutasi genetik pada anak,
asma dan gangguan pernafasan lainnya pada anak, gangguan
penglihatan pada anak, retardasi mental dan gangguan tumbuh
kembang (Deddy & Razak, 2019:108).
B. Kerangka Teori
1. Status sosial ekonomi
Keluarga bayi dengan status ekonomi rendah dan tinggal di pedesaan
cenderung mengalami kejadian BBLR lebih tinggi dibandingkan dengan keluarga
status ekonomi tinggi dan tinggal di perkotaan. Keluarga bayi dengan status
ekonomi rendah mempunyai risiko BBLR sebesar 1,33 kali dibandingkan
keluarga dengan status ekonomi tinggi karena berhubungan dengan kurangnya
pemenuhan nutrisi ibu dan pemantauan kehamilan. (Cunningham, 2021:122).
2. Definisi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah
bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram tanpa memandang
masa kehamilan. Dahulu neonatus dengan berat badan lahir kurang 2500 gram
atau sama dengan 2500 gram disebut premature. Pembagian menurut berat badan
ini sangat mudah tetapi tidak memuaskan. Sehingga lambat laun diketahui bahwa
tingkat morbiditas dan mortalitas pada neonatus tidak hanya bergantung pada
berat badan lahir saja, tetapi juga pada tingkat maturitas bayi itu sendiri (WHO,
2021).
3. Klasifikasi BBLR
Klasifikasi BBLR menurut (Tando, 2020:102) ada beberapa cara dalam
mengelompokkannya yaitu :
a. Klasifikasi BBLR menurut harapan hidupnya :
1) Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) berat lahir 1500-2500 gr.
2) Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (BBLSR) berat lahir 1000-1500 gr.
3) Bayi Berat Lahir Ekstrim Rendah (BBLER) berat lahir 1000 gr.
b. Menurut masa gestasinya :
Prematuritas murni yaitu masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat
badanya sesuai dengan berat badan untuk masa gestasi berat atau biasa
disebut neonatus kurang bulan sesuai untuk masa kehamilan.
c. Dismaturitas yaitu bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan
seharusnya untuk masa gestasi itu. Berat bayi mengalami retardasi
pertumbuhan intrauterin dan merupakan bayi yang kecil untuk masa
kehamilannya (Proverawati & Ismawati, 2019:107).
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif yang dimana penelitian
kualitatif dalam penelitian ini digunakan untuk mendeskripsikan, menganalisis,
menemukan, menggambarkan, dan menjelaskan kualitas atau keistimewaan dari
pengaruh sosial yang tidak dapat dijelaskan, diukur atau digambarkan melalui
pendekatan kualititatif.
Penelitian kualitatif bertujuan untuk memahami suatu fenomena dalam konteks
sosial secara alamiah dengan mengedepankan proses interaksi komunikasi yang
mendalam antara peneliti dengan fenomena yang diteliti. Penelitian kualitatif ini
digunakan untuk memperoleh informasi mendalam tentang hubungan status sosial
ekonomi dengan kejadian berat badan lahir rendah di wilayah kerja RSUD BIMA.
B. Lokasi dan waktu penelitian
1. Lokasi penelitian
Lokasi pelaksanaan penelitian ini adalah di RSUD BIMA [Link] No.1
Rabangodu Sel.,[Link],[Link],Nusa Tenggara Barat.
2. Waktu penelitian
Waktu penelitian ini diksanakan pada Maret 2024.
C. Informan Penelitian dan Metode Penentuan Informan
Informan adalah orang yang dapat memberikan informasi yang diperlukan selama
penelitian berlangsung. Informan pada penelitian ini terbagi atas 2 yaitu informan kunci
dan informan pendukung. Informan yang dipilih adalah pihak-pihak yang memiliki
wewenang dalam hubungan status sosial ekonomi dengan kejadian berat badan lahir
rendah di wilayah kerja RSUD BIMA tahun 2024.
Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling yaitu
informan dalam metode kualitatif menggunakan kriteria sampel yang telah ditentukan
oleh peneliti berdasarkan tujuan penelitian. Pemilihan informan didasarkan atas
pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti.
Adapun kriteria informan adalah sebagai berikut:
1. Terlibat dalam penanganan kejadian Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR)
2. Mampu berkomunikasi dengan baik.
3. Berada dilokasi penelitian selama penelitian berlangsung.
4. Bersedia menjadi informan.
Adapun informan dalam penelitian ini adalah:
a. Informan kunci, yaitu seseorang yang secara lengkap dan mendalam mengetahui
mengenai hubungan status sosial ekonomi dengan kejadian berat badan lahir rendah di
wilayah kerja RSUD BIMA. Informan kunci pada penelitian ini adalah Kepala Ruangan
Perawatan Bayi, Petugas Kesehatan yang terlibat dalam kejadian Berat Bayi Lahir
Rendah (BBLR) di wilayah kerja RSUD BIMA.
b. Informan biasa, yaitu orang orang yang terlibat dan mengetahui hubungan status sosial
ekonomi dengan kejadian berat badan lahir rendah. Informan pendukung pada penelitian
ini adalah ibu yang mempunyai Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR).
D. Metode Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data atau informasi mengenai faktor-faktor yang
berhubungan kejadian Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) di RSUD BIMA, dalam
penelitian ini dilakukan pengumpulan data sekunder dan data primer:
a. Pengumpulan data sekunder merupakan data pendukung dari data primer. Data
sekunder dapat berupa kajian literatur, dokumen, serta data yang diambil dari suatu
organisasi atau institusi.
b. Pengumpulan Data Primer
1. Wawancara Mendalam
Metode pengumpulan data primer selanjutnya adalah wawancara
mendalam (independen interview). Wawancara mendalam merupakan dialog
secara individu menggunakan pedoman wawancara yang terstruktur. Wawancara
dilakukan secara langsung antara pewawancara dengan terwawancara. Selaku
pewawancara dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri, sedangkan
terwawancara adalah informan.
2. Observasi
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini pertama-
tama adalah dengan menempuh langkah observasi. Beberapa informasi yang
diperoleh dari hasil observasi lapangan ialah ruang (tempat), pelaku kegiatan,
objek, kejadian atau peristiwa, waktu dan perasaan. Pelaksanaan metode ini
dapat dilakukan dengan sederhana yakni peneliti cukup memegang
check-list/catatan lapangan untuk mencacat informasi yang dibutuhkan atau data
yang sudah ditetapkan (Soewadji, 2020:110). Pada saat melakukan observasi,
alat pengumpulan data yang biasa dibutuhkan ialah panduan observasi dan alat
perekam seperti kamera, perekam suara, dan buku catatan.
E. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian merupakan alat/fasilitas yang digunakan peneliti dalam
mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, cermat,
lengkap, dan sistematis sehingga lebih mudah diolah. Pedoman wawancara merupakan
instrumen utama dalam penelitian ini. Selain itu, peneliti juga menggunakan alat
perekam dan catatan lapangan yang berfungsi untuk mengumpulkan hasil wawancara
sebagai bukti penelitian. Penelitian kualitatif berfungsi menetapkan fokus penelitian,
memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas
data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas temuannya.
F. Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Data yang diperoleh dari wawancara mendalam dilakukan dengan cara manual
sesuai dengan petunjuk pengolahan data kualitatif serta sesuai dengan tujuan penelitian
ini dan selanjutnya dianalisis dengan metode content analisis atau analisis isi kemudian
diinterpretasikan dalam bentuk narasi.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian kualitatif mencakup
transkip hasil wawancara, reduksi data, analisis, dan triangulasi dari hasil analisis data
yang kemudian dapat ditarik kesimpulan. Berikut ini adalah teknik analisis data yang
digunakan oleh peneliti:
1. Reduksi Data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada
penyederhanaan, pengabstraksian, dan transformasi data kasar yang muncul dari
catatan-catatan tertulis dilapangan. Kegiatan reduksi data berlangsung terus-
menerus, terutama selama proyek yang berorientasi kualitatif berlangsung atau
selama pengumpulan data. Selama pengumpulan data berlangsung, terjadi tahapan
reduksi, yaitu membuat ringkasan, mengkode, menelusuri tema, membuat gugus-
gugus, membuat partisi, dan menulis catatan. Reduksi data merupakan suatu bentuk
analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak
perlu, dan mengorganisasi data sedemikian rupa sehingga kesimpulan akhirnya
dapat ditarik dan diverivikasi.
2. Analisis Data diartikan sebagai proses menganalisis hasil wawancara dan reduksi
data. Kegiatan analisis data dilakukan untuk memahami hasil penelitian agar lebih
mudah di pahami oleh pembaca.
G. Keabsahan Data
Penelitian kualitatif harus mengungkap kebenaran yang objektif karena itu
keabsahan data dalam sebuah penelitian kualitatif sangat penting.
Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu
yang lain dalam membandingkan hasil wawancara terhadap objek penelitian.
Triangulasi dapat dilakukan dengan menggunakan teknik yang berbeda yaitu
wawancara, observasi dan dokumen.
Triangulasi ini selain digunakan untuk mengecek kebenaran data juga dilakukan
untuk memperkaya data. Menurut (Nasution, 2020:116) triangulasi juga dapat berguna
untuk menyelidiki validitas tafsiran peneliti terhadap data, karena itu triangulasi bersifat
reflektif. (Denzin 2021:120), membedakan empat macam triangulasi diantaranya dengan
memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik dan teori. Pada penelitian ini, dari
keempat macam triangulasi tersebut, peneliti hanya menggunakan teknik pemeriksaan
dengan memanfaatkan sumber dan metode.
Triangulasi dengan sumber artinya membandingkan dan mengecek balik derajat
kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam
penelitian kualitatif. Adapun subjek triangulasi pada penelitian ini yaitu ibu yang
memiliki balita yang sedang atau pernah mengalami Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR).
Sedangkan triangulasi metode artinya membandingkan dan mengecek balik derajat
kepercayaan terhadap metode yang digunakan RSUD dengan menggunakan data terkait
penelitian sebelumnya seperti jurnal maupun kajian literatur. Adapun untuk mencapai
kepercayaan itu, maka ditempuh langkah sebagai berikut:
a. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.
b. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan
pandangan petugas yang lain.
c. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.
d. Membandingkan hasil wawancara dengan hasil penelitian sebelumnya dan pendapat
para ahli dibidang tersebut. Penyajian data yang sering digunakan untuk data
kualitatif pada masa yang lalu adalah dalam bentuk teks naratif dalam puluhan,
ratusan, atau bahkan ribuan halaman. Akan tetapi, teks naratif dalam jumlah yang
besar melebihi beban kemampuan manusia dalam memproses informasi. Penyajian
data dalam kualitatif sekarang ini juga dapat dilakukan dalam berbagai jenis matriks,
grafik, jaringan, dan bagan. Semuanya dirancang untuk menggabungkan informasi
yang tersusun dalam suatu bentuk yang padu padan dan mudah diraih.
H. Menarik Kesimpulan
Penarikan kesimpulan dilakukan dengan melakukan pemaknaan atas hasil temuan
yang didapatkan dilokasi dan menjawab keseluruhan variabel dalam penelitian. Temuan
ini dapat berupa deskripsi atau gambaran hubungan kausal atau interaktif, hipotesis
maupun teori.