Kesehatan Mental: Prinsip dan Kriteria
Kesehatan Mental: Prinsip dan Kriteria
HUMANISTIK
• Perwujudan diri
Sebagai proses kematangan diri yang dapat berarti sebagai kemampuan mempergunakan
potensi jiwa dan memiliki gambaran dan sikap yang baik terhadap diri sendiri serta peningkatan motivasi
dan semangat hidup.
• Berkemampuan menerima orang lain, melakukan aktivitas sosial dan menyesuaikan diri
dengan lingkungan tempat tinggal
Orang yang memiliki ketiga kemampuan di atas, merupakan tanda dari orang yang sehat
mentalnya.
• Pengawasan diri
Mengadakan pengawasan terhadap hawa nafsu atau dorongan dan keinginan, serta
kebutuhan, oleh akal pikiran, merupakan hal pokok dari kehidupan orang dewasa yang bermental sehat
dan berkepribadian normal.
• Rasa benar dan tanggung jawab
Hal tersebut penting dalam tingkah laku, karena setiap individu ingin bebas dari rasa dosa,
salah, dan kecewa.
Ada tiga langkah (metode) yang ditempuh orang dalam mencapai kesehatan mental, yaitu:
• Pengobatan (kuratif)
Usaha yang ditempuh untuk menyembuhkan dan merawat orang yang mengalami
gangguan dan sakit kejiwaan, sehingga ia dapat menjadi sehat dan wajar kembali.
• Pencegahan (preventif)
Metode yang digunakan untuk menghadapi diri sendiri dan orang lain, guna meniadakan
atau mengurangi terjadinya gangguan kejiwaan sehingga ia dapat menjaga dirinya dan orang lain dari
kemungkinan jatuh kepada kegoncangan dan ketidaktentraman batin.
• Pembinaan (konstruktif)
Bertujuan untuk menjaga kondisi mental yang sudah baik, juga meliputi cara yang ditempuh
orang untuk meningkatkan rasa gembira, dan kemampuannya dalam mempergunakan segala potensi
yang ada seoptimal mungkin, seperti apa yang dilakukan orang dalam memperkuat ingatan dan
keribadiannya.
Dalam hal ini kita akan membicarakan tentang teori-teori dasar psikologi mengenai kesehatan
mental pada manusia. Dalam lingkup psikologi, kesehatan mental memiliki 3 teori yang sangat
mendasar, yaitu psikoanalisis, behaviorisme dan humanistik. Namun, pada kesempatan kali ini saya
hanya akan membahas dua aliran saja, yaitu psikoanalisis dan humanistik. Dan berikut adalah
pembahasannya:
• Aliran Psikoanalisis
A. Teori Psikoanalisis
Psikoanalisis ditemukan di Wina, Austria, oleh Sigmund Freud. Psikoanalisis merupakan salah
satu aliran di dalam disiplin ilmu psikologi yang memiliki beberapa definisi dan sebutan, Ada kalanya
psikoanalisis didefinisikan sebagai metode penelitian, sebagai teknik penyembuhan dan juga sebagai
pengetahuan psikologi.
Psikoanalisis menurut definisi modern yaitu (1) Psikoanalisis adalah pengetahuan psikologi
yang menekankan pada dinamika, faktor-faktor psikis yang menentukan perilaku manusia, serta
pentingnya pengalaman masa kanak-kanak dalam membentuk kepribadian masa dewasa, (2)
Psikoanalisis adalah teknik yang khusus menyelidiki aktivitas ketidaksadaran (bawah sadar), (3)
Psikoanalisis adalah metode interpretasi dan penyembuhan gangguan mental.
Psikoanalisis dapat dipandang sebagai teknik terapi dan sebagai aliran psikologi. Sebagai aliran
psikologi, psikoanalisis banyak berbicara mengenai kepribadian, khususnya dari segi tingkatan
kehidupan mental, wilayah pikiran, dinamika dan perkembangannya.
• Alam Sadar
Tingkat kesadaran yang berisi semua hal yang kita cermati pada saat tertentu. Menurut
Freud hanya sebagian kecil saja dari kehidupan mental (pikiran, persepsi,perasaan, dan ingatan) yang
masuk ke kesadaran. Alam sadar, yang memainkan peran tak berarti dalam teori psikoanalisis,
didefinisikan sebagai elemen-elemen mental yang setiap saat berada dalam kesadaran. Ini adalah satu-
satunya tingkat kehidupan mental yang bisa langsung kita raih. Ada dua pintu yang dapat dilalui oleh
pikiran agar bisa masuk ke alam sadar yaitu sistem kesadaran perseptual (perceptual conscious), yaitu
terbuka pada dunia luar dan berfungsi sebagai perantara bagi persepsi kita tentang stimulus dari luar.
b. Wilayah Pikiran
Pada tahun 1923 Freud mengenalkan tiga model struktural yang paling primitif dari pikiran
adalah das Es atau “sesuatu”/”itu” (it) yang hampir selalu diterjemahkan sebagai id. Kedua adalah das
Ich atau “saya” (I), yang diterjemahkan sebagai ego dan yang terakhir adalah das Uber Ich atau “saya
yang lebih” (over-I), yang diterjemahkan sebagai super ego. Struktur baru ini tidak mengganti struktur
lama, tetapi melengkapi gambaran mental terutama dalam fungsi dan tujuannya (Awisol, 2005 : 17).
Freud membagi struktur kepribadian kedalam tiga komponen; yaitu das Es, das Ich, dan das Uber
Ich yang masing memiliki asal, aspek, fungsi, prinsip operasi, dan perlengkapan sendiri. Ketiga tingkat ini
saling berinteraksi sehingga ego bisa masuk menembus berbagai tingkat topografis dan memiliki
komponen alam sadar, alam bawah sadar dan alam tidak sadar. Sementara super ego sendiri berada
pada alam bawah sadar dan alam tidak sadar, sedangkan id sepenuhnya berada di alam bawah sadar.
• Id
Id berisikan motifasi dan energi positif dasar, yang sering disebut insting atau stimulus. Id
berorientasi pada prinsip kesenangan atau prinsip reduksi ketegangan, yang merupakan sumber dari
dorongan-dorongan biologis (makan, minum, tidur, dan lain-lain). Oleh karena sifatnya yang tidak
realistis dan mencari kesenangan, id tidak logis dan mampu memuaskan pikiran-pikiran yang saling
bertentangan satu dengan lainnya. Sebagai wilayah bagi dorongan-dorongan dasar, id beroperasi
berdasarkan proses pertama. Oleh karena id menggunakan kacamata kuda dalam upayanya memenuhi
prinsip kesenangan, maka id bertahan dengan cara bergantung pada pengembangan proses sekunder
yang membuatnya dapat berhubungan dengan dunia luar. Singkatnya, id adalah wilayah yang primitif,
kacau balau dan tidak terjangkau oleh alam sadar.
• Ego
Peran utama dari ego adalah sebagai mediator (perantara) atau yang menjadi jembatan
antara id dengan kondisi lingkungan atau dunia luar dan berorientasi pada prinsip kenyataan. Dalam
mencapai kepuasan ego berdasar pada proses sekunder yaitu berfikir realistis dan berfikir rasional.
Dalam proses sebelumnya, yaitu proses primer hanya membawanya pada suatu titik, dimana ia
mendapat gambaran dari benda yang akan memuaskan keinginannya, langkah selanjutnya adalah
mewujudkan apa yang ada di das Es dan langkah ini melalui proses sekunder. Pada saat menjalankan
fungsi kognitif dan intelektual, ego harus menimbang-nimbang antara sederetan tuntunan id yang tidak
masuk akal dan bertentangan dengan super ego. Jadi, ego terus-menerus berupaya untuk
mengendalikan tuntutan buta dan irasional dari id serta super ego dengan tuntutan realistis dari dunia
luar.
• Super ego
Dalam psikologi Freudian, super ego mewakili aspek-aspek moral dan ideal dari kepribadian
serta dikendalikan oleh prinsip-prinsip moralistis dan idealis. Super ego memiliki dua subsistem, suara
hati (conscience) dan ego ideal. Suara hati lahir dari pengalaman-pengalaman mendapatkan hukuman
atas perilaku yang tidak pantas dan mengajari kita tentang hal yang sebaiknya tidak dilakukan,
sedangkan ego ideal berkembang dari pengalaman mendapat imbalan atas perilaku yang tepat dan
mengarahkan kita pada hal yang sebaiknya dilakukan.
c. Dinamika Kepribadian
Freud memandang organisme manusia sebagai sistem energi yang kompleks. Berdasarkan
doktrin konservasi energi bahwa energi berubah dari energi fisiologis ke energi psikis atau sebaliknya.
Freud berpendapat bahwa apabila energi digunakan dalam kegiatan psikologis seperti berfikir, maka
energi itu merupakan energi psikis. Titik tumpu atau jembatan antara energi jasmaniah dengan energi
kepribadian adalah id dan instink-instinknya. Insting-insting ini meliputi seluruh energi yang digunakan
oleh ketiga struktur kepribadian (id, ego, dan super ego) untuk menjalankan fungsinya.
• Mampu menilai diri sendiri secara realisitis, mampu menilai diri apa adanya tentang kelebihan
dan kekurangan, baik secara fisik, pengetahuan, keterampilan dan lain sebagainya.
• Menerima tanggung jawab dan mempunyai keyakinan terhadap kemampuannya untuk
mengatasi masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya.
• Penerimaan sosial, mau berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial dan memiliki sikap
bersahabat dalam berhubungan dengan orang lain.
• Mampu menilai, menghadapi situasi atau kondisi kehidupan yang dialaminya secara realistis
dan mau menerima secara wajar, tidak mengharapkan kondisi kehidupan itu sebagai sesuatu yang
sempurna.
• Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistis; dapat menilai keberhasilan yang
diperolehnya, tidak menjadi sombong, angkuh atau mengalami superiority complex, apabila
memperoleh prestasi yang tinggi atau kesuksesan hidup. Jika mengalami kegagalan, dia tidak frustrasi,
tetapi tetap bersikap optimis.
• Dapat mengontrol emosi, merasa nyaman dengan emosinya, dapat menghadapi situasi
frustrasi, depresi, atau stress secara positif atau konstruktif , tidak destruktif (merusak).
• Berorientasi keluar, bersifat peduli, empati terhadap orang lain, memiliki kepedulian terhadap
situasi atau masalah-masalah lingkungannya dan bersifat fleksibel dalam berfikir, menghargai dan
menilai orang lain seperti dirinya, merasa nyaman dan terbuka terhadap orang lain.
a. Motivasi
Freud menggunakan konsep naluri untuk menunjukkan tenaga yang diumpamakan
wujudnya dibelakang kegusaran yang dirasakan seseorang. Dan motivasi dianggap sebagai sebab pokok
bagi semua aktivitas seseorang Freud menafsirkan motivasi-motivasi aktivitas manusia menurut konsep
naluri dan membaginya menjadi 2 bagian. Yang pertama bernama eros, yaitu sebuah naluri yang
mengandung dorongan-dorongan kelamin dan dorongan untuk menjaga diri yang mencakup lapar, haus,
seks, ini merupakan kekuatan kreatif dan oleh Freud disebut libido. Dan naluri yang kedua adalah
thanatos (perusak) yaitu sebuah naluri yang mencerminkan keinginan merusak, menghancurkan
segalanya terutama diri manusia sendiri dalam bentuk maut.
b. Pertarungan
Para pengikut psikoanalisis beranggapan bahwa sayang sekali manusia memiliki sebab
keinginannya untuk memuaskan dorongan-dorongan dan motivasi biologisnya selalu bertentangan
dengan kebiasaan yang berlaku, sikap sosial dan nilai-nilai yang diterima oleh masyarakat dimana
manusia tergolong/terkumpul dalam kelompok dimana itu semua bertentangan dengan pribadi dan hati
nurani. Freud dan pengikutnya beranggapan bahwa konflik muncul pada tingkat usia kanak-kanak,
dimana pada usia ini mulai mendapat tekanan-tekanan untuk tidak bisa bernuat bebas, bermain
sepuasnya dan melakukan hal sesuai keinginannya. Lalu tekanan ini berlangsung dan berlanjut hingga
dewasa, dimana setiap individu harus mentaati peraturan yang berlaku dari lembaga, sosial, agama,
orang tua dan peraturan lainnya.
c. Kerisauan
Kerisauan menurut Freud adalah respon/pengalaman emosional menyakitkan yang dialami
seseorang. Freud membagi 3 jenis kerisauan yaitu kerisauan objektif, psikotik dan moral. Kolb (1968)
menyatakan bahwa kerisauan dan takut adalah peringatan bahwa ada yang mengancam manusia. Akan
tetapi perasaan takut mempunyai sumber luar yang diketahui oleh orang dan biasanya takut kepada hal
yang mengancam jasmani manusia, seperti takut sakit. Namun kerisauan adalah apa yang mengancam
segi psikologis “ancaman terhadap kepribadian seseorang dalam kerangka sosial”.
• Aliran Humanistik
A. Teori Humanistik
Psikologi humanistik mulai di Amerika Serikat tahun 1950 dan terus berkembang. Abraham
Maslow dapat dipandang sebagai bapak dari psikologi humanistik. Aliran ini memfokuskan penelitiannya
pada manusia dengan ciri-ciri eksistensinya. Teori Abraham Maslow, tentang motivasi manusia dapat
diterapkan pada hampir di seluruh aspek kehidupan pribadi serta sosial. Maslow juga mengatakan
bahwa manusia dimotivasi oleh sejumlah kebutuhan dasar yang bersifat sama untuk seluruh spesies,
tidak berubah, dan berasal dari sumber genetik atau naluriah. Dan konsep inilah yang mendasar dan
unik bagi teori Maslow. Maslow menjadi terkenal karena teori motivasinya, yang dituangkan dalam
bukunya “Motivation and Personality”. Dalam buku tersebut diuraikan bahwa pada manusia terdapat
lima macam kebutuhan yang berhierarki, meliputi:
b. Kebutuhan akan rasa aman (the safety needs / the security needs)
Setelah kebutuhan-kebutuhan fisiologis dapat terpenuhi, maka akan muncul kebutuhan
baru yang oleh Maslow disebut dengan kebutuhan akan rasa aman. Karena kebutuhan rasa aman
biasanya terpuaskan pada orang dewasa yang normal dan sehat, maka cara yang terbaik untuk
mengetahui kebutuhan tersebut adalah dengan mengamati tingkah laku orang dewasa yang mengalami
gangguan. Maslow mengatakan bahwa orang dewasa yang tidak aman, maka ia akan bertingkah laku
seperti anak-anak yang tidak aman, ia akan merasa dalam keadaan terancam, disamping itu ia akan
bertindak seakan-akan dalam keadaan darurat. Kebutuhan ini sangat penting bagi setiap orang baik
anak, remaja, maupun dewasa. Pada anak kebutuhan akan rasa aman ini nampak dengan jelas, sebab
mereka suka mereaksi secara langsung terhadap sesuatu yang mengancam dirinya. Agar kebutuhan
anak akan rasa aman ini terpenuhi, maka perlu diciptakan iklim kehidupan yang memberi kebebesan
untuk berekspresi. Namun pemberian kebebasan untuk berekspresi atau berperilaku itu perlu
bimbingan dari orang tua, karena anak belum memiliki kemampuan untuk mengarahkan perilakunya
secara cepat dan benar. Pada orang dewasa, kebutuhan ini memotivasinya untuk mencari kerja, menjadi
peserta asuransi, atau menabung uang. Orang dewasa yang sehat mentalnya, ditandai dengan perasaan
aman, bebas dari rasa takut dan cemas. Sementara yang tidak sehat ditandai dengan perasaan seolah-
olah selalu dalam keadaan terancam bencana besar.
c. Kebutuhan akan rasa cinta dan memiliki (the love and belongingness needs)
Cinta, sebagaimana kata itu digunakan oleh Maslow, tidak boleh dikacaukan dengan seks,
yang dapat dipadankan dengan sebagai kebutuhan fisiologi semata. Ia mengatakan bahwa “tingkah laku
seksual ditentukan oleh banyak kebutuhan, bukan hanya kebutuhan seksual melainkan oleh kebutuhan
lain, yang utama diantaranya adalah kebutuhan akan cinta dan kasih sayang.” Maslow menyukai
rumusan yang dikemukakan oleh Carl Rogers tentang cinta, yaitu “keadaan dimengerti secara mendalam
dan diterima dengan dengan sepenuh hati.” Maslow juga mengemukakan bahwa tanpa cinta
pertumbuhan dan perkembangan manusia akan terhambat. Bagi Maslow, cinta menyangkut suatu
hubungan sehat dan penuh kasih mesra antara dua orang, termasuk sikap saling percaya. Dalam
hubungan yang sejati tidak akan ada rasa takut, sering kali cinta akan rusak apabila salah satu pihak
merasa takut kalau-kalau kelemahan dan kesalahan akan terungkap. Maslow mengatakan juga,
“kebutuhan akan cinta meliputi cinta yang memberi dan cinta yang menerima.
Gambaran ahli psikologi humanistik tentang kodrat manusia adalah optimis dan penuh
harapan. Mereka percaya terhadap kapasitas manusia untuk memperluas, memperkaya,
mengembangkan, dan memenuhi dirinya, untuk menjadi semuanya menurut kemampuan yang ada.
Aliran Humanistik juga memfokuskan diri pada kemampuan manusia untuk berfikir secara sadar dan
rasional dalam mengendalikan hasrat biologisnya guna meraih potensi maksimal. Manusia bertanggung
jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk
mengubah sikap dan perilaku mereka. Individu memiliki kemampuan dalam diri sendiri untuk mengerti
diri, menentukan hidup, dan menangani masalah – masalah psikisnya asalkan konselor menciptakan
kondisi yang dapat mempermudah perkembangan individu untuk aktualisasi diri. Setiap manusia
memiliki kebutuhan dasar akan kehangatan, penghargaan, penerimaan, pengagungan, dan cinta dari
orang lain. Kebutuhan ini disebut need for positive regard, yang terbagi lagi menjadi 2: yaitu conditional
positive regard (bersyarat) dan unconditional positive regard (tak bersyarat).
C. Kesehatan Mental Menurut Aliran Humanistik
Manusia memiliki kecenderungan yang dibawa sejak lahir untuk mengaktualisasikan diri.
Manusia di dorong oleh kebutuhan-kebutuhan universal yang ada sejak lahir yang disusun secara
bertingkat, dari yang paling kuat sampai ke yang paling lemah. Syarat untuk mencapai aktualisasi diri
adalah memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang berada di tingkat lebih rendah. Kepribadian yang sehat
menurut aliran ini, individu dituntut untuk mengembangkan potensi yang terdapat didalam dirinya
sendiri. Bukan saja mengandalkan pengalaman-pengalaman yang terbentuk pada masa lalu dan
memberikan diri untuk belajar mengenai suatu pola mengenai yang baik. Pada kesempatan kali ini, akan
dijelaskan mengenai pandangan humanistik terhadap konsep kesehatan mental yang dapat dilihat dari
beberapa aspek, diantaranya:
a. Motivasi
Aliran humanistik dalam psikologi lebih optimis terhadap pandangan manusia dari pada
aliran-aliran sebelumnya. Dan menyatakan bahwa dalam diri manusia terdapat kekuatan sendiri.
Maslow dianggap sebagai salah seorang yang memberi sumbangan terbesar dalam golongan ini dan
Maslow menyatakan bahwa motif manusia tersusun seperti piramida yang mempunyai tingkat yang
bersusun dan mendefinisikannya sebagai tingkat-tingkat kebutuhan manusia, mulai dari kebutuhan
fisiologi, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan rasa cinta dan memiliki, kebutuhan akan penghargaan
sampai pada kebutuhan untuk mengaktualisasi diri.
b. Pertarungan
Para penganut humanis, menganggap pertarungan ini ada pada seseorang jika ia
menghadapi suatu suasana yang mengandung sesuatu yang menghalangi mewujudkan kemanusiaan
yang sempurna, maka pertarungan ini berlaku antara kemauan seseorang untuk mewujudkan
kemanusiaannya dan kekuatan-kekuatan yang menghambatnya.
c. Kerisauan
Humanistik berpendapat bahwa manusia itu adalah satu-satunya organisme yang menyadari
bahwa kesadarannya itu pasti, kemudian beranggapan bahwa kematian mungkin bisa terjadi sewaktu-
waktu an atsa asar kematian itu dapat terjadi kapanpun, maka mereka berharap secara tiba-tiba itulah
yang disebut perangsang pokok bagi kerisauan pada manusia. Maut itu adalah bentuk adalah bentuk
mutlak pada ketidakwujudan dan perangsang dasar terhadap kerisauan. Pengikut aliran ini berpendapat
bahwa kerisauan manusia timbul dari kesadarannya terhadap kesadarannya, masa depan mungkin akan
mengancam wujud seseorang dan menghalanginya untuk mencpai kehidupan kemanusiaannya yang
sempurna.
Daftar Pustaka
[Link]