0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan15 halaman

Kesehatan Mental: Prinsip dan Kriteria

Diunggah oleh

adi suklan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan15 halaman

Kesehatan Mental: Prinsip dan Kriteria

Diunggah oleh

adi suklan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KESEHATAN MENTAL MENURUT ALIRAN PSIKOANALISIS DAN

HUMANISTIK

1. Pengertian Kesehatan Mental


Ilmu kesehatan mental merupakan salah satu cabang termuda dari ilmu jiwa yang tumbuh
pada akhir abad ke-19 dan sudah ada di Jerman sejak tahun 1875. Pada abad ke-20, ilmu ini berkembang
dengan pesatnya, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern. Kesehatan mental
dipandang sebagai ilmu praktis yang banyak dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam
bentuk bimbingan dan penyuluhan. Ilmu kesehatan mental adalah ilmu yang memperhatikan perawatan
mental atau jiwa. Sama seperti pengertian ilmu lain, ilmu kesehatan mental mempunyai objek penting
untuk diteliti dan objek tersebut adalah manusia. Manusia dalam ilmu ini diteliti dari titik tolak keadaan
atau kondisi mentalnya. Ilmu kesehatan mental merupakan terjemahan dari istilah mental hygiene.
Mental (dari kata Latin: mens, mentis) berarti jiwa, nyawa, sukma, roh, semangat, sedangkan hygiene
(dari bahasa Yunani:hygiene) berarti ilmu tentang kesehatan. Mental hygiene menitikberatkan
kehidupan kerohanian, jadi ilmu kesehatan mental adalah ilmu yang membicarakan kehidupan mental
manusia dengan memandang manusia sebagai totalitas psikofisik yang kompleks.

Kesehatan mental adalah terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-


fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya sendiri dan
lingkungannya, berlandaskan keimanan dan ketaqwaan serta bertujuan untuk mencapai hidup yang
bermakna dan bahagia di dunia dan di akhirat. Ilmu ini pada hakikatnya bersifat preventif dan tujuannya
yang utama adalah untuk memelihara kesehatan dan efisiensi mental.

2. Prinsip Kesehatan Mental


Prinsip kesehatan mental adalah pondasi yang harus ditegakkan orang dalam dirinya, guna
mendapatkan kesehatan mental dan terhindar dari gangguan kejiwaan. Di antara prinsip tersebut yaitu:

• Gambaran dan sikap yang baik terhadap diri sendiri


Self image merupakan dasar dan syarat utama untuk mendapatkan kesehatan mental.
Orang yang dapat menyesuaikan diri, baik dengan dirinya sendiri, maupun hubungan dengan orang lain,
alam lingkungan dan hubungan dengan Tuhan. Self image diperoleh dengan cara penerimaan diri,
keyakinan diri, dan kepercayaan kepada diri sendiri.
• Keterpaduan atau integrasi diri
Adaya keseimbangan antara kekuatan jiwa dalam diri, kesatuan pandangan dalam hidup
(orang yang memperoleh makna dan tujuan hidup), dan kesanggupan mengatasi ketegangan emosi.

• Perwujudan diri
Sebagai proses kematangan diri yang dapat berarti sebagai kemampuan mempergunakan
potensi jiwa dan memiliki gambaran dan sikap yang baik terhadap diri sendiri serta peningkatan motivasi
dan semangat hidup.

• Berkemampuan menerima orang lain, melakukan aktivitas sosial dan menyesuaikan diri
dengan lingkungan tempat tinggal
Orang yang memiliki ketiga kemampuan di atas, merupakan tanda dari orang yang sehat
mentalnya.

• Berminat dalam tugas dan pekerjaan


Setiap orang harus berminat dalam tugas dan pekerjaan yang ditekuninya, karena dengan
demikian bisa ditambah rasa bahagia dan dikurangi penderitaan. Tanpa adanya minat, orang sulit
mendapatkan rasa gembira dalam tugas dan pekerjaannya. Pribadi yang sehat dan normal adalah
pribadi yang aktif dan produktif. Ia dapat mengembangkan tanggung jawabnya terhadap tugas dan
pekerjaan yang diberikan.

• Agama, cita-cita dan falsafah hidup


Dalam pembinaan dan pengembangan kesehatan mental, orang membutuhkan agama,
seperangkat cita-cita yang konsisten, dan pandangan hidup yang kukuh.

• Pengawasan diri
Mengadakan pengawasan terhadap hawa nafsu atau dorongan dan keinginan, serta
kebutuhan, oleh akal pikiran, merupakan hal pokok dari kehidupan orang dewasa yang bermental sehat
dan berkepribadian normal.
• Rasa benar dan tanggung jawab
Hal tersebut penting dalam tingkah laku, karena setiap individu ingin bebas dari rasa dosa,
salah, dan kecewa.

3. Kriteria Kesehatan Mental


• Efisiensi Mental
Dari hubungan antara kesehatan mental dan efisiensi mental telah jelas bahwa efisiensi
dapat digunakan untuk menilai kesehatan mental.

• Pengendalian dan integrasi pikiran dan tingkah laku


Pengendalian yang efektif merupakan salah satu tanda yang sangat pasti, dari kepribadian
yang sehat. Berlaku pada proses-proses mental. Hal yang juga penting bagi kesehatan mental adalah
integrasi pikiran dan tingkah laku, suatu kualitas yang biasanya di identifikasikan sebagai integritas
pribadi. Pembohong dan penipu mengalami kekurangan dalam integritas pribadi dan sering kali cirinya
adalah bermental patologik.

• Integrasi motif-motif serta pengendalian konflik dan frustrasi


Dapat dilihat bahwa kemampuan untuk mengintegrasikan motivasi-motivasi pribadi dan
tetap mengendalikan konflik dan frustrasi sama pentingnya dengan integrasi pikiran dan tingkah laku.
Konflik yang hebat bisa muncul apabila motif-motif tidak berintegrasi. Perasaan-perasaan dan emosi-
emosi yang positif dan sehat. Integrasi yang dibutuhkan dalam kesehatan mental dapat ditunjang oleh
perasaan-perasaan positif dan demikian juga sebaliknya perasaan-perasaan negatif dapat mengganggu
dan merusak kestabilan emosi. Perasaan tidak aman, bersalah, rendah diri, bermusuhan adalah tanda-
tanda gangguan emosi dan dapat menyebabkan mental yang tidak sehat. Sebaliknya, perasaan diterima,
cinta, aman, dan harga diri masing-masing memberi sumbangan pada kestabilan mental dan dilihat
sebagai tanda kesehatan mental.

• Ketenangan atau kedamaian pikiran


Banyak kriteria penyesuaian diri dan kesehatan mental berorientasi kepada ketenangan
pikiran, yang sering kali di singgung dalam pembicaraan mengenai kesehatan mental. Apabila ada
keharmonisan emosi, perasaan positif, akan muncul ketenangan mental. Kita tidak dapat memiliki yang
satu tanpa yang lainnya. Ini berarti kesehatan mental, seperti penyesuaian diri dan tidak diizinkan
adanya simtom-simtom yang melumpuhkan. Respon-respon yang simtomatik, seperti delusi-delusi,
lamunan, langsung bertentangan dengan kestabilan mental.

• Sikap-sikap yang sehat


Sikap-sikap mempunyai kesamaan dengan perasaan dalam hubungannya dengan kesehatan
mental. Dalam perjumpaan kita dengan kepribadian yang tidak dapat menyesuaikan diri atau kalut, kita
selalu teringat kepada pentingnya mempertahankan pandangan yang sehat terhadap hidup. Tidak
mungkin kesehatan mental terjadi dalam konteks kebencian dan prasangka, pesimisme, atau keputusan
dan kehilangan harapan. Sikap-sikap ini terhadap kesehatan mental sama seperti bakteri dan racun
terhadap kesehatan fisik.

• Konsep diri yang sehat


Apabila kita membaca sebuah literatur tentang masalah konsep diri, maka kita yakin bahwa
kesehatan mental sangat tergantung pada kualitas ini. Sama seperti seorang harus mempertahankan
orientasi yang sehat terhadap kenyataan objektif, demikian juga ia harus berpikir sehat tentang dirinya
sendiri. Perasaan-perasaan diri yang tidak berdaya, rendah diri, tidak aman, atau tidak berharga akan
mengurangi konsep diri yang kuat.

• Identitas ego yang kuat


Menurut White “identitas ego adalah diri atau orang dimana ia merasa menjadi dirinya
sendiri”. Dalam perjuangan yang tidak ada hentinya untuk menanggulangi tuntutan-tuntutan dari diri
dan kenyataan dan untuk menangani secara ancaman-ancaman, dan konflik, maka kita harus berpegang
teguh pada identitas kita sendiri. Kita harus mengetahui kita ini siapa dan apa. Pada beberapa orang,
identitas ego tidak tumbuh stabil ketika mendekati masa remaja, melainkan akan terjadi fiksasi pada
tingkat-tingkat perkembangan yang tidak matang atau regresi pada cara bertingkah laku yang lebih awal,
serta akan terhambat kemampuan untuk bertindak secara efektif. Menurut White. “Apabila identitas
ego tumbuh menjadi stabil dan otonom, maka orang tersebut akan mampu bertingkah laku lebih
konsisten dan bertahan lama terhadap lingkungannya. Semakin ia yakin akan kodrat dan sifat-sifat yang
khas dari dirinya sendiri, maka semakin kuat juga inti yang menjadi sumber kegiatannya.”

4. Langkah Kesehatan Mental

Ada tiga langkah (metode) yang ditempuh orang dalam mencapai kesehatan mental, yaitu:

• Pengobatan (kuratif)
Usaha yang ditempuh untuk menyembuhkan dan merawat orang yang mengalami
gangguan dan sakit kejiwaan, sehingga ia dapat menjadi sehat dan wajar kembali.

• Pencegahan (preventif)
Metode yang digunakan untuk menghadapi diri sendiri dan orang lain, guna meniadakan
atau mengurangi terjadinya gangguan kejiwaan sehingga ia dapat menjaga dirinya dan orang lain dari
kemungkinan jatuh kepada kegoncangan dan ketidaktentraman batin.

• Pembinaan (konstruktif)
Bertujuan untuk menjaga kondisi mental yang sudah baik, juga meliputi cara yang ditempuh
orang untuk meningkatkan rasa gembira, dan kemampuannya dalam mempergunakan segala potensi
yang ada seoptimal mungkin, seperti apa yang dilakukan orang dalam memperkuat ingatan dan
keribadiannya.

5. Teori-Teori Psikologi Dan Konsep Dasar Kesehatan


Mental

Dalam hal ini kita akan membicarakan tentang teori-teori dasar psikologi mengenai kesehatan
mental pada manusia. Dalam lingkup psikologi, kesehatan mental memiliki 3 teori yang sangat
mendasar, yaitu psikoanalisis, behaviorisme dan humanistik. Namun, pada kesempatan kali ini saya
hanya akan membahas dua aliran saja, yaitu psikoanalisis dan humanistik. Dan berikut adalah
pembahasannya:

• Aliran Psikoanalisis

A. Teori Psikoanalisis
Psikoanalisis ditemukan di Wina, Austria, oleh Sigmund Freud. Psikoanalisis merupakan salah
satu aliran di dalam disiplin ilmu psikologi yang memiliki beberapa definisi dan sebutan, Ada kalanya
psikoanalisis didefinisikan sebagai metode penelitian, sebagai teknik penyembuhan dan juga sebagai
pengetahuan psikologi.

Psikoanalisis menurut definisi modern yaitu (1) Psikoanalisis adalah pengetahuan psikologi
yang menekankan pada dinamika, faktor-faktor psikis yang menentukan perilaku manusia, serta
pentingnya pengalaman masa kanak-kanak dalam membentuk kepribadian masa dewasa, (2)
Psikoanalisis adalah teknik yang khusus menyelidiki aktivitas ketidaksadaran (bawah sadar), (3)
Psikoanalisis adalah metode interpretasi dan penyembuhan gangguan mental.

Psikoanalisa dalam pengertian lain (Hjelle & Ziegler, 1992):


• Teori mengenai kepribadian & psikopatologi
• Metode terapi untuk gangguan kepribadian teknik untuk menyelidiki pikiran & perasaan
individu yang tidak disadari.

Psikoanalisis dapat dipandang sebagai teknik terapi dan sebagai aliran psikologi. Sebagai aliran
psikologi, psikoanalisis banyak berbicara mengenai kepribadian, khususnya dari segi tingkatan
kehidupan mental, wilayah pikiran, dinamika dan perkembangannya.

a. Tingkatan Kehidupan Mental


Menurut Freud (Alwisol, 2005 : 17), kehidupan jiwa memiliki tiga tingkat kesadaran, yaitu
alam sadar (conscious), alam bawah sadar (preconscious), dan alam tidak sadar (unconscious). Sampai
dengan tahun 1920-an, teori tentang konflik kejiwaan hanya melibatkan ketiga unsur tersebut.

• Alam Sadar
Tingkat kesadaran yang berisi semua hal yang kita cermati pada saat tertentu. Menurut
Freud hanya sebagian kecil saja dari kehidupan mental (pikiran, persepsi,perasaan, dan ingatan) yang
masuk ke kesadaran. Alam sadar, yang memainkan peran tak berarti dalam teori psikoanalisis,
didefinisikan sebagai elemen-elemen mental yang setiap saat berada dalam kesadaran. Ini adalah satu-
satunya tingkat kehidupan mental yang bisa langsung kita raih. Ada dua pintu yang dapat dilalui oleh
pikiran agar bisa masuk ke alam sadar yaitu sistem kesadaran perseptual (perceptual conscious), yaitu
terbuka pada dunia luar dan berfungsi sebagai perantara bagi persepsi kita tentang stimulus dari luar.

• Alam Bawah Sadar


Alam bawah sadar disebut juga ingatan siap (available memory), yakni tingkat kesadaran
yang menjadi jembatan antara sadar dan tidak sadar. Alam bawah sadar ini memuat semua elemen yang
tak disadari, tetapi bisa muncul kesadaran dengan cepat atau agak sukar (Freud, 1993/1964). Isi alam
bawah sadar ini datang dari dua sumber, yang pertama adalah persepsi sadar (conscious perception).
Apa yang dipersepsikan orang secara sadar dalam waktu singkat, akan segera masuk ke dalam alam
bawah sadar selagi fokus perhatian beralih ke pemikiran lain.
• Alam Tidak Sadar
Alam tidak sadar menjadi tempat bagi segala dorongan, desakan maupun insting yang tak
kita sadari tetapi ternyata mendorong perkataan, perasaan dan tindakan kita. Sekalipun kita sadar akan
perilaku kita yang nyata, sering kali kita tidak menyadari proses mental yang ada dibalik perilaku
tersebut. Tentu saja, alam tidak sadar bukan berarti tidak aktif atau dorman. Dorongan-dorongan di
alam tidak sadar terus-menerus berupaya agar disadari, dan kebanyakan berhasil masuk ke alam sadar,
sekalipun tak lagi muncul dalam bentuk asli. Pikiran-pikiran yang tak disadari ini bisa dan memang
memotivasi manusia.

b. Wilayah Pikiran
Pada tahun 1923 Freud mengenalkan tiga model struktural yang paling primitif dari pikiran
adalah das Es atau “sesuatu”/”itu” (it) yang hampir selalu diterjemahkan sebagai id. Kedua adalah das
Ich atau “saya” (I), yang diterjemahkan sebagai ego dan yang terakhir adalah das Uber Ich atau “saya
yang lebih” (over-I), yang diterjemahkan sebagai super ego. Struktur baru ini tidak mengganti struktur
lama, tetapi melengkapi gambaran mental terutama dalam fungsi dan tujuannya (Awisol, 2005 : 17).

Freud membagi struktur kepribadian kedalam tiga komponen; yaitu das Es, das Ich, dan das Uber
Ich yang masing memiliki asal, aspek, fungsi, prinsip operasi, dan perlengkapan sendiri. Ketiga tingkat ini
saling berinteraksi sehingga ego bisa masuk menembus berbagai tingkat topografis dan memiliki
komponen alam sadar, alam bawah sadar dan alam tidak sadar. Sementara super ego sendiri berada
pada alam bawah sadar dan alam tidak sadar, sedangkan id sepenuhnya berada di alam bawah sadar.
• Id
Id berisikan motifasi dan energi positif dasar, yang sering disebut insting atau stimulus. Id
berorientasi pada prinsip kesenangan atau prinsip reduksi ketegangan, yang merupakan sumber dari
dorongan-dorongan biologis (makan, minum, tidur, dan lain-lain). Oleh karena sifatnya yang tidak
realistis dan mencari kesenangan, id tidak logis dan mampu memuaskan pikiran-pikiran yang saling
bertentangan satu dengan lainnya. Sebagai wilayah bagi dorongan-dorongan dasar, id beroperasi
berdasarkan proses pertama. Oleh karena id menggunakan kacamata kuda dalam upayanya memenuhi
prinsip kesenangan, maka id bertahan dengan cara bergantung pada pengembangan proses sekunder
yang membuatnya dapat berhubungan dengan dunia luar. Singkatnya, id adalah wilayah yang primitif,
kacau balau dan tidak terjangkau oleh alam sadar.

• Ego
Peran utama dari ego adalah sebagai mediator (perantara) atau yang menjadi jembatan
antara id dengan kondisi lingkungan atau dunia luar dan berorientasi pada prinsip kenyataan. Dalam
mencapai kepuasan ego berdasar pada proses sekunder yaitu berfikir realistis dan berfikir rasional.
Dalam proses sebelumnya, yaitu proses primer hanya membawanya pada suatu titik, dimana ia
mendapat gambaran dari benda yang akan memuaskan keinginannya, langkah selanjutnya adalah
mewujudkan apa yang ada di das Es dan langkah ini melalui proses sekunder. Pada saat menjalankan
fungsi kognitif dan intelektual, ego harus menimbang-nimbang antara sederetan tuntunan id yang tidak
masuk akal dan bertentangan dengan super ego. Jadi, ego terus-menerus berupaya untuk
mengendalikan tuntutan buta dan irasional dari id serta super ego dengan tuntutan realistis dari dunia
luar.

• Super ego
Dalam psikologi Freudian, super ego mewakili aspek-aspek moral dan ideal dari kepribadian
serta dikendalikan oleh prinsip-prinsip moralistis dan idealis. Super ego memiliki dua subsistem, suara
hati (conscience) dan ego ideal. Suara hati lahir dari pengalaman-pengalaman mendapatkan hukuman
atas perilaku yang tidak pantas dan mengajari kita tentang hal yang sebaiknya tidak dilakukan,
sedangkan ego ideal berkembang dari pengalaman mendapat imbalan atas perilaku yang tepat dan
mengarahkan kita pada hal yang sebaiknya dilakukan.

c. Dinamika Kepribadian
Freud memandang organisme manusia sebagai sistem energi yang kompleks. Berdasarkan
doktrin konservasi energi bahwa energi berubah dari energi fisiologis ke energi psikis atau sebaliknya.
Freud berpendapat bahwa apabila energi digunakan dalam kegiatan psikologis seperti berfikir, maka
energi itu merupakan energi psikis. Titik tumpu atau jembatan antara energi jasmaniah dengan energi
kepribadian adalah id dan instink-instinknya. Insting-insting ini meliputi seluruh energi yang digunakan
oleh ketiga struktur kepribadian (id, ego, dan super ego) untuk menjalankan fungsinya.

B. Ciri-ciri Kepribadian Sehat Menurut Freud

• Mampu menilai diri sendiri secara realisitis, mampu menilai diri apa adanya tentang kelebihan
dan kekurangan, baik secara fisik, pengetahuan, keterampilan dan lain sebagainya.
• Menerima tanggung jawab dan mempunyai keyakinan terhadap kemampuannya untuk
mengatasi masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya.

• Mandiri dalam berfikir, bertindak, mampu mengambil keputusan, mengarahkan dan


mengembangkan diri serta menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku di lingkungannya.

• Penerimaan sosial, mau berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial dan memiliki sikap
bersahabat dalam berhubungan dengan orang lain.

• Mampu menilai, menghadapi situasi atau kondisi kehidupan yang dialaminya secara realistis
dan mau menerima secara wajar, tidak mengharapkan kondisi kehidupan itu sebagai sesuatu yang
sempurna.

• Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistis; dapat menilai keberhasilan yang
diperolehnya, tidak menjadi sombong, angkuh atau mengalami superiority complex, apabila
memperoleh prestasi yang tinggi atau kesuksesan hidup. Jika mengalami kegagalan, dia tidak frustrasi,
tetapi tetap bersikap optimis.

• Situasi kehidupannya diwarnai kebahagiaan, yang didukung oleh faktor-faktor achievement


(prestasi), acceptance (penerimaan), dan affection (kasih sayang).

• Dapat mengontrol emosi, merasa nyaman dengan emosinya, dapat menghadapi situasi
frustrasi, depresi, atau stress secara positif atau konstruktif , tidak destruktif (merusak).

• Berorientasi keluar, bersifat peduli, empati terhadap orang lain, memiliki kepedulian terhadap
situasi atau masalah-masalah lingkungannya dan bersifat fleksibel dalam berfikir, menghargai dan
menilai orang lain seperti dirinya, merasa nyaman dan terbuka terhadap orang lain.

C. Kesehatan Mental Menurut Aliran Psikoanalisis


Kepribadian yang sehat dapat dilihat dari cara manusia itu sendiri dalam mengatasi tekanan
dan kecemasan. Yang dapat dilihat dilihat dari beberapa aspek, diantaranya:

a. Motivasi
Freud menggunakan konsep naluri untuk menunjukkan tenaga yang diumpamakan
wujudnya dibelakang kegusaran yang dirasakan seseorang. Dan motivasi dianggap sebagai sebab pokok
bagi semua aktivitas seseorang Freud menafsirkan motivasi-motivasi aktivitas manusia menurut konsep
naluri dan membaginya menjadi 2 bagian. Yang pertama bernama eros, yaitu sebuah naluri yang
mengandung dorongan-dorongan kelamin dan dorongan untuk menjaga diri yang mencakup lapar, haus,
seks, ini merupakan kekuatan kreatif dan oleh Freud disebut libido. Dan naluri yang kedua adalah
thanatos (perusak) yaitu sebuah naluri yang mencerminkan keinginan merusak, menghancurkan
segalanya terutama diri manusia sendiri dalam bentuk maut.

b. Pertarungan
Para pengikut psikoanalisis beranggapan bahwa sayang sekali manusia memiliki sebab
keinginannya untuk memuaskan dorongan-dorongan dan motivasi biologisnya selalu bertentangan
dengan kebiasaan yang berlaku, sikap sosial dan nilai-nilai yang diterima oleh masyarakat dimana
manusia tergolong/terkumpul dalam kelompok dimana itu semua bertentangan dengan pribadi dan hati
nurani. Freud dan pengikutnya beranggapan bahwa konflik muncul pada tingkat usia kanak-kanak,
dimana pada usia ini mulai mendapat tekanan-tekanan untuk tidak bisa bernuat bebas, bermain
sepuasnya dan melakukan hal sesuai keinginannya. Lalu tekanan ini berlangsung dan berlanjut hingga
dewasa, dimana setiap individu harus mentaati peraturan yang berlaku dari lembaga, sosial, agama,
orang tua dan peraturan lainnya.

c. Kerisauan
Kerisauan menurut Freud adalah respon/pengalaman emosional menyakitkan yang dialami
seseorang. Freud membagi 3 jenis kerisauan yaitu kerisauan objektif, psikotik dan moral. Kolb (1968)
menyatakan bahwa kerisauan dan takut adalah peringatan bahwa ada yang mengancam manusia. Akan
tetapi perasaan takut mempunyai sumber luar yang diketahui oleh orang dan biasanya takut kepada hal
yang mengancam jasmani manusia, seperti takut sakit. Namun kerisauan adalah apa yang mengancam
segi psikologis “ancaman terhadap kepribadian seseorang dalam kerangka sosial”.

d. Cara membela diri


Pada mazhab psikoanalisis ini dijelaskan bahwa tekanan merupakan proses membela diri
yang tidak sempurna. Inilah prinsip dasar psikoanalisis, dimana tidak semua aktivitas manusia dapat
diterangkan atau ditafsirkan.

• Aliran Humanistik

A. Teori Humanistik
Psikologi humanistik mulai di Amerika Serikat tahun 1950 dan terus berkembang. Abraham
Maslow dapat dipandang sebagai bapak dari psikologi humanistik. Aliran ini memfokuskan penelitiannya
pada manusia dengan ciri-ciri eksistensinya. Teori Abraham Maslow, tentang motivasi manusia dapat
diterapkan pada hampir di seluruh aspek kehidupan pribadi serta sosial. Maslow juga mengatakan
bahwa manusia dimotivasi oleh sejumlah kebutuhan dasar yang bersifat sama untuk seluruh spesies,
tidak berubah, dan berasal dari sumber genetik atau naluriah. Dan konsep inilah yang mendasar dan
unik bagi teori Maslow. Maslow menjadi terkenal karena teori motivasinya, yang dituangkan dalam
bukunya “Motivation and Personality”. Dalam buku tersebut diuraikan bahwa pada manusia terdapat
lima macam kebutuhan yang berhierarki, meliputi:

a. Kebutuhan-kebutuhan fisiologis (the physiological needs)


Yang mendasar pada teori Maslow adalah pendapatnya tentang kebutuhan fisiologis atau
yang biasa disebut dengan kebutuhan biologis. Dimana kebutuhan ini adalah kebutuhan yang paling
kuat dan paling jelas diantara kebutuhan-kebutuhan yang lainnya, yaitu kebutuhan mempertahankan
hidupnya secara fisik diantaranya adalah: kebutuhan akan makan, minum, tempat tidur, seks dan
oksigen. Maslow mengatakan seseorang yang belum terpenuhi kebutuhan dasarnya, maka ia akan
terlebih dulu memburu kebutuhan dasarnya itu sebelum beranjak kepada kebutuhan lainnya. Maslow
mengemukakan bahwa manusia adalah binatang yang berhasrat dan jarang mencapai taraf kepuasan
yang sempurna, kecuali untuk saat yang tebatas. Apabila suatu hasrat telah terpuasakan, maka hasrat
lain muncul sebagai penggantinya.

b. Kebutuhan akan rasa aman (the safety needs / the security needs)
Setelah kebutuhan-kebutuhan fisiologis dapat terpenuhi, maka akan muncul kebutuhan
baru yang oleh Maslow disebut dengan kebutuhan akan rasa aman. Karena kebutuhan rasa aman
biasanya terpuaskan pada orang dewasa yang normal dan sehat, maka cara yang terbaik untuk
mengetahui kebutuhan tersebut adalah dengan mengamati tingkah laku orang dewasa yang mengalami
gangguan. Maslow mengatakan bahwa orang dewasa yang tidak aman, maka ia akan bertingkah laku
seperti anak-anak yang tidak aman, ia akan merasa dalam keadaan terancam, disamping itu ia akan
bertindak seakan-akan dalam keadaan darurat. Kebutuhan ini sangat penting bagi setiap orang baik
anak, remaja, maupun dewasa. Pada anak kebutuhan akan rasa aman ini nampak dengan jelas, sebab
mereka suka mereaksi secara langsung terhadap sesuatu yang mengancam dirinya. Agar kebutuhan
anak akan rasa aman ini terpenuhi, maka perlu diciptakan iklim kehidupan yang memberi kebebesan
untuk berekspresi. Namun pemberian kebebasan untuk berekspresi atau berperilaku itu perlu
bimbingan dari orang tua, karena anak belum memiliki kemampuan untuk mengarahkan perilakunya
secara cepat dan benar. Pada orang dewasa, kebutuhan ini memotivasinya untuk mencari kerja, menjadi
peserta asuransi, atau menabung uang. Orang dewasa yang sehat mentalnya, ditandai dengan perasaan
aman, bebas dari rasa takut dan cemas. Sementara yang tidak sehat ditandai dengan perasaan seolah-
olah selalu dalam keadaan terancam bencana besar.

c. Kebutuhan akan rasa cinta dan memiliki (the love and belongingness needs)
Cinta, sebagaimana kata itu digunakan oleh Maslow, tidak boleh dikacaukan dengan seks,
yang dapat dipadankan dengan sebagai kebutuhan fisiologi semata. Ia mengatakan bahwa “tingkah laku
seksual ditentukan oleh banyak kebutuhan, bukan hanya kebutuhan seksual melainkan oleh kebutuhan
lain, yang utama diantaranya adalah kebutuhan akan cinta dan kasih sayang.” Maslow menyukai
rumusan yang dikemukakan oleh Carl Rogers tentang cinta, yaitu “keadaan dimengerti secara mendalam
dan diterima dengan dengan sepenuh hati.” Maslow juga mengemukakan bahwa tanpa cinta
pertumbuhan dan perkembangan manusia akan terhambat. Bagi Maslow, cinta menyangkut suatu
hubungan sehat dan penuh kasih mesra antara dua orang, termasuk sikap saling percaya. Dalam
hubungan yang sejati tidak akan ada rasa takut, sering kali cinta akan rusak apabila salah satu pihak
merasa takut kalau-kalau kelemahan dan kesalahan akan terungkap. Maslow mengatakan juga,
“kebutuhan akan cinta meliputi cinta yang memberi dan cinta yang menerima.

d. Kebutuhan akan penghargaan diri (the self-esteem needs)


Pada tahap selanjutnya, kita mulai mencari sedikit harga [Link] mencatat dua versi
mengenai kebutuhan penghargaan, yaitu kebutuhan yang lebih rendah dan yang lebih tinggi. Kebutuhan
yang rendah adalah kebutuhan untuk menghormati orang lain, kebutuhan akan status, ketenaran,
kemuliaan, pengakuaan, perhatian, reputasi, apresiasi, martabat, bahkan dominasi. Kebutuhan yang
tinggi adalah kebutuhan akan harga diri, termasuk perasaan, seperti keyakinan, kompetensi, prestasi,
penguasaan, kemandirian, dan kebebasan. Kebutuhan penghargaan diri dikategorikan tinggi karena
bentuknya tidak seperti rasa hormat dari orang lain.

e. Kebutuhan akan aktualisasi diri (the self-actualization needs)


Tingkatan terakhir dari kebutuhan adalah aktualisasi diri. Maslow menggunakan berbagai
istilah untuk menyebutkan tingkatan ini. Maslow menyebutnya pertumbuhan motivasi, karena
kebutuhan aktualisasi diri adalah B-needs (B-being), berbeda dengan D-needs. Kebutuhan aktualisasi
adalah kebutuhan yang tidak melibatkan keseimbangan atau homeostatis, tetapi melibatkan keinginan
yang terus-menerus untuk memenuhi potensi, untuk menjadi semua yang kita bisa. Dalam penelitiannya
mengenai orang yang mencapai aktualisasi diri, Maslow menggunakan metode kualitatif yang disebut
analisis biografi untuk mengetahui aktualisasi diri seseorang. Orang-orang yang mencapai aktualisasi diri
juga memiliki cara yang berbeda berhubungan dengan orang lain. Mereka menikmati kesendirian, dan
merasa nyaman dengan kesendiriannya, mereka juga menikmati hubungan pribadi dengan beberapa
teman dekat dan anggota keluarga secara mendalam.

B. Ciri-ciri Kepribadian Sehat menurut Maslow


Ciri dari kepribadian sehat adalah mengaktualisasikan diri, bukan respon pasif buatan atau
individu yang terimajinasikan oleh pengalaman-pengalaman masa lalu. Aktualisasi diri adalah mampu
mengedepankan keunikan dalam pribadi setiap individu, karena setiap individu memiliki hati nurani dan
kognisi untuk menimbang-nimbang segala sesuatu yang menjadi kebutuhannya.

Humanistik menegaskan adanya keseluruhan kapasitas martabat dan nilai kemanusiaan


untuk menyatakan diri. Bagi ahli-ahli psikologi humanistik, manusia jauh lebih banyak memiliki potensi.
Manusia harus dapat mengatasi masa lampau, kodrat biologis, dan ciri-ciri lingkungan. Manusia juga
harus berkembang dan tumbuh melampaui kekuatan-kekuatan negatif yang secara potensial
menghambat.

Gambaran ahli psikologi humanistik tentang kodrat manusia adalah optimis dan penuh
harapan. Mereka percaya terhadap kapasitas manusia untuk memperluas, memperkaya,
mengembangkan, dan memenuhi dirinya, untuk menjadi semuanya menurut kemampuan yang ada.
Aliran Humanistik juga memfokuskan diri pada kemampuan manusia untuk berfikir secara sadar dan
rasional dalam mengendalikan hasrat biologisnya guna meraih potensi maksimal. Manusia bertanggung
jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk
mengubah sikap dan perilaku mereka. Individu memiliki kemampuan dalam diri sendiri untuk mengerti
diri, menentukan hidup, dan menangani masalah – masalah psikisnya asalkan konselor menciptakan
kondisi yang dapat mempermudah perkembangan individu untuk aktualisasi diri. Setiap manusia
memiliki kebutuhan dasar akan kehangatan, penghargaan, penerimaan, pengagungan, dan cinta dari
orang lain. Kebutuhan ini disebut need for positive regard, yang terbagi lagi menjadi 2: yaitu conditional
positive regard (bersyarat) dan unconditional positive regard (tak bersyarat).
C. Kesehatan Mental Menurut Aliran Humanistik
Manusia memiliki kecenderungan yang dibawa sejak lahir untuk mengaktualisasikan diri.
Manusia di dorong oleh kebutuhan-kebutuhan universal yang ada sejak lahir yang disusun secara
bertingkat, dari yang paling kuat sampai ke yang paling lemah. Syarat untuk mencapai aktualisasi diri
adalah memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang berada di tingkat lebih rendah. Kepribadian yang sehat
menurut aliran ini, individu dituntut untuk mengembangkan potensi yang terdapat didalam dirinya
sendiri. Bukan saja mengandalkan pengalaman-pengalaman yang terbentuk pada masa lalu dan
memberikan diri untuk belajar mengenai suatu pola mengenai yang baik. Pada kesempatan kali ini, akan
dijelaskan mengenai pandangan humanistik terhadap konsep kesehatan mental yang dapat dilihat dari
beberapa aspek, diantaranya:

a. Motivasi
Aliran humanistik dalam psikologi lebih optimis terhadap pandangan manusia dari pada
aliran-aliran sebelumnya. Dan menyatakan bahwa dalam diri manusia terdapat kekuatan sendiri.
Maslow dianggap sebagai salah seorang yang memberi sumbangan terbesar dalam golongan ini dan
Maslow menyatakan bahwa motif manusia tersusun seperti piramida yang mempunyai tingkat yang
bersusun dan mendefinisikannya sebagai tingkat-tingkat kebutuhan manusia, mulai dari kebutuhan
fisiologi, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan rasa cinta dan memiliki, kebutuhan akan penghargaan
sampai pada kebutuhan untuk mengaktualisasi diri.

b. Pertarungan
Para penganut humanis, menganggap pertarungan ini ada pada seseorang jika ia
menghadapi suatu suasana yang mengandung sesuatu yang menghalangi mewujudkan kemanusiaan
yang sempurna, maka pertarungan ini berlaku antara kemauan seseorang untuk mewujudkan
kemanusiaannya dan kekuatan-kekuatan yang menghambatnya.

c. Kerisauan
Humanistik berpendapat bahwa manusia itu adalah satu-satunya organisme yang menyadari
bahwa kesadarannya itu pasti, kemudian beranggapan bahwa kematian mungkin bisa terjadi sewaktu-
waktu an atsa asar kematian itu dapat terjadi kapanpun, maka mereka berharap secara tiba-tiba itulah
yang disebut perangsang pokok bagi kerisauan pada manusia. Maut itu adalah bentuk adalah bentuk
mutlak pada ketidakwujudan dan perangsang dasar terhadap kerisauan. Pengikut aliran ini berpendapat
bahwa kerisauan manusia timbul dari kesadarannya terhadap kesadarannya, masa depan mungkin akan
mengancam wujud seseorang dan menghalanginya untuk mencpai kehidupan kemanusiaannya yang
sempurna.

Daftar Pustaka

Schultz, D. (1991). Psikologi pertumbuhan. Yogyakarta: PT Kanisius.


Basuki, H. (2008). Psikologi umum. Jakarta: Universitas Gunadarma.
Feist, J & Feist, G. J. (2010). Teori kepribadian (Theories of personality). Jakarta : Salemba
Humanika.
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
maslow/ [Link]

[Link]

Anda mungkin juga menyukai