Strategi Arsitektur Berkelanjutan Olahraga
Strategi Arsitektur Berkelanjutan Olahraga
1 Juni 2020
ABSTRAK
Sekarang ini, pembangunan gedung-gedung dengan berbagai fungsi semakin marak dan
menimbulkan masalah terhadap lingkungan di sekitarnya. Sekitar 30% pasokan energi nasional dikonsumsi
oleh sektor bangunan (Karyono, 2013). Jumlah ini cukup berarti untuk diperhitungkan dalam upaya
penghematan energi nasional. Tidak terkecuali pada gedung dengan fungsi kegiatan berolahraga. Pada
Bangunan olahraga terdapat kekurangan pada sisi teknologi yang mengakibatkan pembangunan dan
perawatannya tidak ekonomis dan efisien (Milica [Link]., 2014). Bahwa arsitektur harus berupaya
meminimalkan dampak negatif lingkungan dari bangunan dengan efisiensi dan moderasi dalam
penggunaan bahan, energi, dan ruang pengembangan (Merhan [Link]., 2018).
Metode pendekatan berkelanjutan yang dapat mengatasi permasalahan terhadap tata guna lahan
dan penggunaan teknologi bangunan yang tepat yang dapat meningkatkan nilai efisiensi dari bangunan.
Arsitektur berkelanjutan adalah pendekatan arsitektur yang berfokus untuk meminimalkan dampak negatif
pada bangunan serta lingkungannya dengan efisiensi pada penggunaan energi, material, dan ruang lingkup
secara luas. Arsitektur berkelanjutan memiliki prinsip untuk mendesain bangunan yang ramah lingkungan
(Merhan [Link]., 2018).
Pembahasan pada tulisan ini mengidentifikasi karakteristik bangunan berkelanjutan pada
bangunan olahraga Birds-Nest-Stadium China dan Amsterdam Stadium AreA guna mengusulkan strategi
penyelesaian arsitektur dengan pendekatan arsitektur berkelanjutan agar sebuah bangunan olahraga dapat
berfungsi secara lebih efisien dan ramah lingkungan.
Kata-kunci: arsitektur berkelanjutan; bangunan olahraga; energi; struktur
ABSTRACT
Now this, theconstructionof buildings with various functions increasingly prevalent and cause pr
oblems to the environment in the vicinity. Around 30% of the national energy supply is consumed by the
building sector (Karyono, 2013). This amount is significant enough to be taken into account in efforts to
save national energy. Not with the exception of the building with the function activity exercising. In sports
buildings there are deficiencies in the technology side which results in their construction and maintenance
being not economical and efficient ( Milica [Link]., 2014). That architecture must strive to minimize the
negative environmental impacts of buildings with efficiency and moderation in the use of materials, energy,
and development space (Merhan [Link]., 2018).
Method approach sustainable which can cope with the problems of the system in order to land and
the use of technology building that right that can increase the value of the efficiency of the building.
Architecture sustained is the approach to architecture that is focused on minimizing the impact negatively
on the building and its environment with efficiency in the use of energy, materials, and space scope is broad.
Architecture sustained have principles for designing buildings that friendly environment (Merhan [Link].,
2018).
The discussion on the paper is to identify the characteristics of the building sustained in building
sports Birds-Nest-Stadium China and Amsterdam Stadium area in order to propose strategies completion
of architecture with the approach of the architecture of sustainable so that a building sport can function in
a more efficient and friendly environment.
Keywords: sustainable architecture; sports building; energy; structure
11
WIDYASTANA, Jurnal Mahasiswa Arsitektur. Vol. 1 No. 1 Juni 2020
PENDAHULUAN
Bahwa arsitektur berkelanjutan pada saat sekarang ini menjadi perhatian yang
cukup serius dalam upaya untuk penghematan energy secara global. Penerapan arsitektur
berkelanjutan pada bangunan merupakan upaya efisiensi energy pada bangunan-
bangunan yang penggunaan energinya sangat besasr. Ditegaskan Karyono (2011), bahwa
sekitar 30% pasokan energi nasional dikonsumsi oleh sektor bangunan, jumlah ini cukup
berarti untuk diperhitungkan dalam upaya penghematan energi nasional. Akibat
keterbatasan pengetahuan dan kekeliruan dalam mengadopsi rancangan arsitektur dari
negara-negara barat, cukup banyak bangunan di kota besar di Indonesia dirancang tanpa
pertimbangan energy, akibatnya menjadi boros energi. Bangunan-bangunan dengan
konsumsi energy yang cukup besar adalah gedung olahraga karena besarnya bangunan
sehingga kebutuhan energy untuk aktifitas operasional dan perawatannya yang sangat
besar.
Pemanfaatan ruang pada fasilitas gedung olahraga membutuhkan luasan
bangunan dan lahan yang cukup besar, karena jumlah penggunanya yang cukup besar
disamping kebutuhan fasilitas-fasilitas penunjangnya. Karena pemanfaatan tanah yang
cukup besar berakibat pada berkurangnya area hijau dan resapan air yang akan berkurang
atau hilang. Ditegaskan oleh Karuniastuti (2015) bahwa apabila fungsi-fungsi area hijau
dialihkan untuk didirikan bangunan maka akan menyumbang emisi gas karbon sebesar
18,3%. Kemudian apabila bangunan sudah difungsikan atau dioperasionalkan, maka akan
menyumbang emisi CO2 sebesar lebih dari 15%. Pemborosan energi pada bangunan
olahraga tidak hanya ditemukan pada penggunaan lahan, namun juga terdapat pada
penggunaan teknologi dalam bangunan. Menurut Milica, dkk. (2014), bahwa bangunan-
bangunan olahraga masih belum optimal dalam pemanfaatan teknologi sehingga
mengakibatkan perawatannya tidak ekonomis dan efisien.
Ketika di seluruh dunia dilanda coronavirus, arsitektur mencoba menata kembali
ruang binaan ataupun ruang publik yang tetap menjaga “physical-distancing”, dan
memungkinkan ruang-ruang untuk dibuka kembali dengan aman sambil menghormati
langkah-langkah “social-distancing” (Astee Lim, 2020).
12
WIDYASTANA, Jurnal Mahasiswa Arsitektur. Vol. 1 No. 1 Juni 2020
Selanjutnya Burcu (2015) dalam Ragheb (2016) mengaitkan antara konsep arsitektur
hijau dengan konsep berkelanjutan pada arsitektur.
Hal ini jelas menggarisbawahi pentingnya pendekatan holistik untuk desain yang
baik, di mana arsitektur, ergonomi dan strategi kinerja harus secara kolektif (atau telah
dalam beberapa tahun terakhir) dilaksanakan dengan hati-hati untuk meningkatkan
kesehatan dan kesejahteraan yang baik. Arsitektur berkelanjutan dapat juga
dikembangkan secara tampilan sebagai filter untuk mendefinisikan kembali hubungan
spasial internal dan eksternal, memperkenalkan pandangan baru untuk ruang internal dan
ruang publik (eksternal) dan memungkinkan serangkaian celah untuk memecah massa
bangunan guna penetrasi cahaya matahari dan ventilasi ataupun untuk insulasi matahari
dan penyerapan polutan udara. (Astee Lim, 2020).
Menurutnya, arsitektur berkelanjutan menghasilkan manfaat pada lingkungan,
sosial dan ekonomi. Bahkan dapat membantu dalam upaya mengurangi polusi,
melestarikan sumber daya alam dan mencegah degradasi lingkungan. Beberapa
karakteristik bangunan dengan pendekatan arsitektur berkelanjutan, adalah: (Syahriyah,
D.R., 2016).
Sistem ventilasi dirancang seefisien mungkin untuk untuk pemanasan dan
pendinginan;
Pencahayaan dan peralatan hemat energy;
Peralatan pipa hemat air;
Ruang luar digunakan untuk memaksimalkan energi matahari;
Meminimalkan dampak terhadap kerusakan alam;
Memakai Sumber tenaga alternatif seperti tenaga surya atau tenaga angina;
Bahan non-sintetis dan tidak beracun;
Material lokal seperti kayu dan batu;
Penggunaan material daur ulang;
Efisiensi penggunaan ruang.
Berikutnya, Robert Vale dan Brenda (1998) dalam Putri dkk. (2019) menjelaskan
beberapa prinsip arsitektur berkelanjutan yang dapat dikembangkan, yaitu :
Hemat energy (conserving energy);
Memanfaatkan kondisi dan sumber energy alami (working with climate);
Menanggapi keadaan tapak bangunan (respect for site);
Memperhatikan pengguna (respect for user);
Meminimalkan sumber daya baru (limiting new resources);
Menyeluruh (holistic).
Dan konsep berkelanjutan ini merupakan konsep yang saling terkait antara sistem
ekologis, sistem ekonomi dan sistem sosial, yang tidak lagi terpaku pada konsep awal
yang lebih terfokus pada pemikiran kelestarian keseimbangan lingkungan semata-mata
(Iwan Priyoga, 2016). Bahkan ditegaskan bahwa konsep keberlanjutan pada masa kini
perlu dikembangkan agar kebertahanan karakter cultural identity di suatu lingkungan
semakin meningkat. Aplikasi keberlanjutan dilakukan melalui disain berkonsep ekologis,
yang menekankan unsur alam secara efisien dan mengutamakan unsur kualitas ketimbang
kuantitas (Syamsiyah, N.R. dkk. 2015).
13
WIDYASTANA, Jurnal Mahasiswa Arsitektur. Vol. 1 No. 1 Juni 2020
14
WIDYASTANA, Jurnal Mahasiswa Arsitektur. Vol. 1 No. 1 Juni 2020
Pada tabel dibawah ini diuraikan beberapa permasalahan yang sering ditemukan
ketika merancang dan mengoperasikan gedung olahraga yang besar, dan beberapa
pemecahan desain yang diusulkan. (Aquino, Ileana. 2015).
Tabel 1. Permasalahan dan solusi pada gedung olahraga
No Permasalahan Bangunan Solusi yang direkomendasikan
1 Konsumsi energy saat kegiatan Pemanfaatan desain pasif, penggunaan energi
berlangsung (ada pertandingan) terbarukan, atap hijau (green roof), alternatif
teknologi bangunan, penggunaaan lampu
LED, pemanfaatan sistem otomasi bangunan
2 Konsumsi air bersih yang cukup besar System penyimpanan air tanah/permukaan,
sepanjang tahun peningkatan sumber air dengan system daur
ulang, penggunaan system mekanikal-
elektrikal yang hemat energi, pemanfaatan
lansekap secara optimal
3 Pemanfaatan bahan bangunan yang Penggunaan bahan bangunan lokal, bahan
besar dan berat untuk konstruksi daur ulang, bahan bangunan terbarukan dan
(baja/beton) berkelanjutan
4 Banyaknya limbah air kotor dan Adanya daur ulang dan teknologi
sampah yang muncul pengomposan limbah, adanya insentif
terhadap pemanfaatan limbah, manajemen e-
limbah, donasi barang-barang yang tahan lama
5 Keberpihakan terhadap lingkungan Menampilkan produk makanan lokal,
lokal pemberian insentif layanan alternative
transportasi, adanay tur stadion dan
pendidikan
(Sumber: Aquino, Ileana. 2015)
15
WIDYASTANA, Jurnal Mahasiswa Arsitektur. Vol. 1 No. 1 Juni 2020
merupakan suatu entitas fisik yang memiliki sifat keseluruhan yang dipahami sebagai
suatu organisasi unsur-unsur pokok yang ditempatkan dalam ruang yang didalamnya
karakter keseluruhan itu mendominasi interelasi bagian-bagiannya. (Syaifuddin,
Zuhri. 2010).
Mengingat situasi kondisi saat ini yang dilanda wabah cofid-19, kita harus
mengedepankan kriteria-kriteria penting dalam mengevaluasi keberlanjutan dalam
pemanfaatan dan operasional gedung olahraga, khususnya dalam penyelenggaran even-
even skala besar. Kami menyarankan beberapa kriteria keberlanjutan yakni:
Menempatkan hubungan secara fisik antara massa bangunan dengan lingkungan
perkotaan, karena hal ini akan mempengaruhi lingkungan sekitarnya secara
keseluruhan;
Melakukan efisiensi energy, khususnya dalam penggunaan jenis teknologi apa yang
akan digunakan dalam pemanfaatan gedung dalam skala besar;
Fleksibilitas pemakaian adalah bagaimana gedung dapat diadopsi untuk kebutuhan
aktifitas kota setelah kegiatan pertandingan skala besar berakhir. (Sertaç Erten, Sena
Özfiliz. 2006).
Telaah pemanfaatan teknologi bangunan erat kaitannya dengan seni pengolahan
material, struktur dan konstruksi, yang lebih menekankan pada aspek nilai estetika yang
dihasilkan suatu sistim struktur suatubangunan atau merupakan ekspresi dari suatu
struktur yang lebih ditegaskan lagi dengan aspek kemampuan penggunaan teknologi
strukturnya. (Zuhri, Syaifuddin. 2007).
METODE
Pada penelitian ini paradigma yang dipakai adalah tentang prinsip-prinsip pada
arsitektur berkelanjutan yang pada dasarnya dapat mewujudkan elemen-elemen arsitektur
pada bangunan dalam upaya untuk efisiensi energi. Beberapa prinsip yang akan
digunakan mengacu pada teori Robert Vale dan Brenda (1998) dalam Putri, dkk. (2019)
yaitu cara pemanfaatan kondisi iklim setempat (working with climate), pemanfaatan
potensi-potensi tapak (respect for site), dan strategi penghematan energi pada gedung dan
lingkungannya (conserving energy). Bangunan yang akan dilakukan studi beberapa
gedung olahraga.
Metode penulisan yang digunakan adalah metode analitis diskriptif dimana artikel
ini membahas secara analitis tentang interaksi antara aplikasi desain pada gedung
olahraga dan arsitektur berkelanjutan, selanjutnya menganalisis dampak aplikasi desain
bangunan tersebut dalam mendukung arsitektur berkelanjutan. Selanjutnya, artikel ini
menyajikan secara analisis elemen-elemen desain yang diterapkan padana bangunan
olahraga Bird-Nest Stadium China dan Amsterdam Allianz ArenA kemudian
mengevaluasi kesinambungannya dalam aspek penilaian arsitektur keberlanjutan.
Akhirnya hasil evaluasi ini dapat digunakan sebagai panduan dalam memilih desain
berkelanjutan yang tepat untuk mendukung keberlanjutan yang diusulkan dalam artikel
ini.
16
WIDYASTANA, Jurnal Mahasiswa Arsitektur. Vol. 1 No. 1 Juni 2020
Suasana ribuan penggemar melakukan mobilisasi di salah satu acara olahraga atau
hiburan, stadion dan arena membutuhkan solusi mobilitas untuk menggerakkan mereka
secara efisien dan aman. Untuk melengkapi tampilan lingkungan, diberikan lampu-lampu
tanah yang menerangi trotoar di sekitar stadion semuanya memiliki kap lampu logam
abu-abu dalam bentuk sarang burung.
17
WIDYASTANA, Jurnal Mahasiswa Arsitektur. Vol. 1 No. 1 Juni 2020
18
WIDYASTANA, Jurnal Mahasiswa Arsitektur. Vol. 1 No. 1 Juni 2020
Panel terpasang ini diperkirakan akan mencegah emisi 430 ton C02 - setara
dengan emisi tahunan 180 mobil. Pemasangan instalasi tata surya atap merupakan elemen
dari program berkelanjutan yang bertujuan untuk memastikan bahwa stadion mendukung
untuk menciptakan kebersihan lingkungan dan udara bersih kota Amsterdam dengan
tidak berkontribusi dalam menghasilkan carbon (carbon-neutral).
19
WIDYASTANA, Jurnal Mahasiswa Arsitektur. Vol. 1 No. 1 Juni 2020
Ekspresi Struktural
Ekspresi structural pada gedung olahraga Amsterdam ArenA dengan
mengekspresikan selasar stadion yang terbuka dan luas guna memberikan panorama
seluruh kompleks. Efek spatial stadion yang timbul akibat kesederhanaan dan kebesaran
struktur.
20
WIDYASTANA, Jurnal Mahasiswa Arsitektur. Vol. 1 No. 1 Juni 2020
Elemen-elemen struktural saling mendukung satu sama lain dan bertemu menjadi
formasi seperti grid spasial, di mana fasad, tangga, struktur mangkuk, dan atap
terintegrasi. Untuk membuat atap tahan cuaca, ruang-ruang dalam struktur stadion diisi
dengan membran tembus cahaya, seperti halnya burung mengisi ruang-ruang di antara
ranting tenunan sarang mereka dengan pengisi lembut. Karena semua fasilitas - restoran,
suite, toko, dan kamar kecil - adalah unit mandiri, sebagian besar mungkin dilakukan
tanpa fasad yang tertutup dan solid. Ini memungkinkan ventilasi alami stadion, yang
merupakan aspek terpenting dari desain stadion yang berkelanjutan.
KESIMPULAN
Arsitektur berkelanjutan (sustainable architecture) adalah proses merancang atau
merencanakan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan binaan dan buatan yang
mengedepankan efisien sumber daya alam dan lingkungan di seluruh siklus hidup
bangunan mulai dari penentuan lokasi hingga desain, konstruksi, operasi, pemeliharaan,
renovasi, dan dekonstruksi.
Kriteria berkelanjutan dapat dilihat dalam 3 (tiga) konteks pengembangan
arsitektur (Sertaç Erten, Sena Özfiliz. 2006) yang terekpresi dalam 2 (dua) bangunan
olahraga Birds-Nest-Stadium China dan Amsterdam Stadium AreA. Keduanya telah
melakukan ketiga konsteks tersebut secara sempurna dalam aplikasi desainnya dan hasil
tersebut sudah diakui dunia.
Aplikasi pertama, mengenai aspek hubungan secara fisik antara massa bangunan
dengan lingkungan perkotaan sudah diaplikasikan secara sempurna pada bangunan Birds-
Nest-Stadium China, bahkan pemanfaatn lingkungan tersebut memberikan dampak
21
WIDYASTANA, Jurnal Mahasiswa Arsitektur. Vol. 1 No. 1 Juni 2020
lainnya, seperti pendinginan (cooling) dan area rekreasi bagi masyarakat sekitarnya. Dan
penggunaan material dan teknologi struktur bangunan yang ekpresif dan
mengembangkan kesederhanaan struktur (pure-structure) sangat mendukung ekspresi
ruang dan lingkungan.
Aplikasi kedua, pengembangan aspek efisiensi energy, disini sumber energy yang
dikembangkan adalah solar power, kincir angin (wind turbin) dan 160 hotspot (energy
panas bumi (geothermal well) merupakan sumber energy alternative untuk menciptakan
lingkungan bersih (clean-environment).
Aplikasi ketiga, aspek fleksibilitas pemanfaatan ruang dan bangunan, pada kedua
bangunan diatas disamping fungsinya untuk perhelatan pertandingan olahraga
internasional juga dapat digunakan untuk konser-koser skala dunia. Serta pemanfaatan
ruang dalam dan ruang luar untuk aktifitas masyarakat kota Beijing, baik rekreasi,
pameran atau perdagangan.
UCAPAN TERIMAKASIH
Ucapan rasa syukur kepada Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan
karuniaNya sehingga dapat diselesaikannya tulisan ini. Ucapan terima kasih kepada
dosen pengampu dan dosen pembimbing karena telah membantu dan mengoreksi hingga
tulisan ini selesai dan dapat diterbitkan.
DAFTAR PUSTAKA
Aquino, Ileana. 2015. Sustainable Design Strategies for Sport Stadia. Suburban
Sustainability: Volume 3 : Issue 1, Article 3.
[Link]
Astee Lim, 2020, COVID-19 & Architecture: The Importance of Designing for
Occupant Wellness, Commentary, Online Exclusive Feature, 2020.
[Link]
Hudec, Martin and Rollová, Lea, 2016. Adaptability in the architecture of sport
facilities. Procedia engineering, Volume 161-2016.
[Link]
Karuniastuti, N., 2015. Bangunan Ramah Lingkungan. Majalah Ilmiah PPSDM
Migas Swara Patra, Vol. 5. No. 1. Kebangkitan Energi Terbarukan. Cepu.
Karyono, T.H., 2011. Bangunan Hemat Energi: Strategi Penghematan Energi
Bangunan di Kawasan Sub-Tropis dan Tropis Basah. Seminar Bangunan Hemat Energi,
Balai Besar Teknologi Energi (B2TE).
Merhan Mohammed M. Shahda, 2018, Vision and Methodology to Support
Sustainable Architecture through Building Technology in the Digital Era, International
Journal on: Environmental Science and Sustainable Development, Architecture and
Urban Design Department Faculty of Engineering Port Said University.
[Link]
22
WIDYASTANA, Jurnal Mahasiswa Arsitektur. Vol. 1 No. 1 Juni 2020
23