0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan13 halaman

Strategi Arsitektur Berkelanjutan Olahraga

Diunggah oleh

NURHAKIM SABIR
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan13 halaman

Strategi Arsitektur Berkelanjutan Olahraga

Diunggah oleh

NURHAKIM SABIR
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

WIDYASTANA, Jurnal Mahasiswa Arsitektur. Vol. 1 No.

1 Juni 2020

STRATEGI ARSITEKTUR KEBERLANJUTAN


PADA BANGUNAN OLAHRAGA

Adi Agung Budi Pranata1, Syaifuddin Zuhri2


1
Mahasiswa Program Studi Arsitektur, UPN “Veteran” Jawa Timur
Email: adi.agung08@[Link]
2
Dosen Program Studi Arsitektur, UPN “Veteran” Jawa Timur

ABSTRAK
Sekarang ini, pembangunan gedung-gedung dengan berbagai fungsi semakin marak dan
menimbulkan masalah terhadap lingkungan di sekitarnya. Sekitar 30% pasokan energi nasional dikonsumsi
oleh sektor bangunan (Karyono, 2013). Jumlah ini cukup berarti untuk diperhitungkan dalam upaya
penghematan energi nasional. Tidak terkecuali pada gedung dengan fungsi kegiatan berolahraga. Pada
Bangunan olahraga terdapat kekurangan pada sisi teknologi yang mengakibatkan pembangunan dan
perawatannya tidak ekonomis dan efisien (Milica [Link]., 2014). Bahwa arsitektur harus berupaya
meminimalkan dampak negatif lingkungan dari bangunan dengan efisiensi dan moderasi dalam
penggunaan bahan, energi, dan ruang pengembangan (Merhan [Link]., 2018).
Metode pendekatan berkelanjutan yang dapat mengatasi permasalahan terhadap tata guna lahan
dan penggunaan teknologi bangunan yang tepat yang dapat meningkatkan nilai efisiensi dari bangunan.
Arsitektur berkelanjutan adalah pendekatan arsitektur yang berfokus untuk meminimalkan dampak negatif
pada bangunan serta lingkungannya dengan efisiensi pada penggunaan energi, material, dan ruang lingkup
secara luas. Arsitektur berkelanjutan memiliki prinsip untuk mendesain bangunan yang ramah lingkungan
(Merhan [Link]., 2018).
Pembahasan pada tulisan ini mengidentifikasi karakteristik bangunan berkelanjutan pada
bangunan olahraga Birds-Nest-Stadium China dan Amsterdam Stadium AreA guna mengusulkan strategi
penyelesaian arsitektur dengan pendekatan arsitektur berkelanjutan agar sebuah bangunan olahraga dapat
berfungsi secara lebih efisien dan ramah lingkungan.
Kata-kunci: arsitektur berkelanjutan; bangunan olahraga; energi; struktur

SUSTAINABILITY ARCHITECTURE STRATEGY IN SPORTS BUILDINGS

ABSTRACT
Now this, theconstructionof buildings with various functions increasingly prevalent and cause pr
oblems to the environment in the vicinity. Around 30% of the national energy supply is consumed by the
building sector (Karyono, 2013). This amount is significant enough to be taken into account in efforts to
save national energy. Not with the exception of the building with the function activity exercising. In sports
buildings there are deficiencies in the technology side which results in their construction and maintenance
being not economical and efficient ( Milica [Link]., 2014). That architecture must strive to minimize the
negative environmental impacts of buildings with efficiency and moderation in the use of materials, energy,
and development space (Merhan [Link]., 2018).
Method approach sustainable which can cope with the problems of the system in order to land and
the use of technology building that right that can increase the value of the efficiency of the building.
Architecture sustained is the approach to architecture that is focused on minimizing the impact negatively
on the building and its environment with efficiency in the use of energy, materials, and space scope is broad.
Architecture sustained have principles for designing buildings that friendly environment (Merhan [Link].,
2018).
The discussion on the paper is to identify the characteristics of the building sustained in building
sports Birds-Nest-Stadium China and Amsterdam Stadium area in order to propose strategies completion
of architecture with the approach of the architecture of sustainable so that a building sport can function in
a more efficient and friendly environment.
Keywords: sustainable architecture; sports building; energy; structure

11
WIDYASTANA, Jurnal Mahasiswa Arsitektur. Vol. 1 No. 1 Juni 2020

PENDAHULUAN
Bahwa arsitektur berkelanjutan pada saat sekarang ini menjadi perhatian yang
cukup serius dalam upaya untuk penghematan energy secara global. Penerapan arsitektur
berkelanjutan pada bangunan merupakan upaya efisiensi energy pada bangunan-
bangunan yang penggunaan energinya sangat besasr. Ditegaskan Karyono (2011), bahwa
sekitar 30% pasokan energi nasional dikonsumsi oleh sektor bangunan, jumlah ini cukup
berarti untuk diperhitungkan dalam upaya penghematan energi nasional. Akibat
keterbatasan pengetahuan dan kekeliruan dalam mengadopsi rancangan arsitektur dari
negara-negara barat, cukup banyak bangunan di kota besar di Indonesia dirancang tanpa
pertimbangan energy, akibatnya menjadi boros energi. Bangunan-bangunan dengan
konsumsi energy yang cukup besar adalah gedung olahraga karena besarnya bangunan
sehingga kebutuhan energy untuk aktifitas operasional dan perawatannya yang sangat
besar.
Pemanfaatan ruang pada fasilitas gedung olahraga membutuhkan luasan
bangunan dan lahan yang cukup besar, karena jumlah penggunanya yang cukup besar
disamping kebutuhan fasilitas-fasilitas penunjangnya. Karena pemanfaatan tanah yang
cukup besar berakibat pada berkurangnya area hijau dan resapan air yang akan berkurang
atau hilang. Ditegaskan oleh Karuniastuti (2015) bahwa apabila fungsi-fungsi area hijau
dialihkan untuk didirikan bangunan maka akan menyumbang emisi gas karbon sebesar
18,3%. Kemudian apabila bangunan sudah difungsikan atau dioperasionalkan, maka akan
menyumbang emisi CO2 sebesar lebih dari 15%. Pemborosan energi pada bangunan
olahraga tidak hanya ditemukan pada penggunaan lahan, namun juga terdapat pada
penggunaan teknologi dalam bangunan. Menurut Milica, dkk. (2014), bahwa bangunan-
bangunan olahraga masih belum optimal dalam pemanfaatan teknologi sehingga
mengakibatkan perawatannya tidak ekonomis dan efisien.
Ketika di seluruh dunia dilanda coronavirus, arsitektur mencoba menata kembali
ruang binaan ataupun ruang publik yang tetap menjaga “physical-distancing”, dan
memungkinkan ruang-ruang untuk dibuka kembali dengan aman sambil menghormati
langkah-langkah “social-distancing” (Astee Lim, 2020).

Konsep dan Strategi Berkelanjutan


Memasuki tahun 2020, memasuki dekade baru dengan gelombang ketidakpastian
yang belum pernah terjadi sebelumnya, menghantam seluruh dunia dengan pandemi
coronavirus telah yang sangat mempengaruhi gaya hidup kita. Bagaimana dan di mana
kita tinggal, bekerja dan bermain telah terbalik hampir dalam semalam. Rumah kita telah
menjadi tempat kerja kita, arena latihan dan taman bermain. Beberapa menemukan cara
yang sulit selama pandemi ini tentang pentingnya desain dan nilai ruang dan apa artinya
ini pada akhirnya untuk mencegah penyebaran virus seperti Covid-19.
Arsitektur berkelanjutan merupakan sebuah pendekatan untuk mempertahankan
sumber daya alam dan lingkungan, yang dapat diterapkan pada semua aktifitas seperti
sistem pertanian, kehutanan, industri, dan arsitektur (Sudarwani, 2012). Arsitek memiliki
peran penting dalam pengelolaan sumber daya alam dalam desain bangunannya.

12
WIDYASTANA, Jurnal Mahasiswa Arsitektur. Vol. 1 No. 1 Juni 2020

Selanjutnya Burcu (2015) dalam Ragheb (2016) mengaitkan antara konsep arsitektur
hijau dengan konsep berkelanjutan pada arsitektur.
Hal ini jelas menggarisbawahi pentingnya pendekatan holistik untuk desain yang
baik, di mana arsitektur, ergonomi dan strategi kinerja harus secara kolektif (atau telah
dalam beberapa tahun terakhir) dilaksanakan dengan hati-hati untuk meningkatkan
kesehatan dan kesejahteraan yang baik. Arsitektur berkelanjutan dapat juga
dikembangkan secara tampilan sebagai filter untuk mendefinisikan kembali hubungan
spasial internal dan eksternal, memperkenalkan pandangan baru untuk ruang internal dan
ruang publik (eksternal) dan memungkinkan serangkaian celah untuk memecah massa
bangunan guna penetrasi cahaya matahari dan ventilasi ataupun untuk insulasi matahari
dan penyerapan polutan udara. (Astee Lim, 2020).
Menurutnya, arsitektur berkelanjutan menghasilkan manfaat pada lingkungan,
sosial dan ekonomi. Bahkan dapat membantu dalam upaya mengurangi polusi,
melestarikan sumber daya alam dan mencegah degradasi lingkungan. Beberapa
karakteristik bangunan dengan pendekatan arsitektur berkelanjutan, adalah: (Syahriyah,
D.R., 2016).
 Sistem ventilasi dirancang seefisien mungkin untuk untuk pemanasan dan
pendinginan;
 Pencahayaan dan peralatan hemat energy;
 Peralatan pipa hemat air;
 Ruang luar digunakan untuk memaksimalkan energi matahari;
 Meminimalkan dampak terhadap kerusakan alam;
 Memakai Sumber tenaga alternatif seperti tenaga surya atau tenaga angina;
 Bahan non-sintetis dan tidak beracun;
 Material lokal seperti kayu dan batu;
 Penggunaan material daur ulang;
 Efisiensi penggunaan ruang.
Berikutnya, Robert Vale dan Brenda (1998) dalam Putri dkk. (2019) menjelaskan
beberapa prinsip arsitektur berkelanjutan yang dapat dikembangkan, yaitu :
 Hemat energy (conserving energy);
 Memanfaatkan kondisi dan sumber energy alami (working with climate);
 Menanggapi keadaan tapak bangunan (respect for site);
 Memperhatikan pengguna (respect for user);
 Meminimalkan sumber daya baru (limiting new resources);
 Menyeluruh (holistic).
Dan konsep berkelanjutan ini merupakan konsep yang saling terkait antara sistem
ekologis, sistem ekonomi dan sistem sosial, yang tidak lagi terpaku pada konsep awal
yang lebih terfokus pada pemikiran kelestarian keseimbangan lingkungan semata-mata
(Iwan Priyoga, 2016). Bahkan ditegaskan bahwa konsep keberlanjutan pada masa kini
perlu dikembangkan agar kebertahanan karakter cultural identity di suatu lingkungan
semakin meningkat. Aplikasi keberlanjutan dilakukan melalui disain berkonsep ekologis,
yang menekankan unsur alam secara efisien dan mengutamakan unsur kualitas ketimbang
kuantitas (Syamsiyah, N.R. dkk. 2015).

13
WIDYASTANA, Jurnal Mahasiswa Arsitektur. Vol. 1 No. 1 Juni 2020

Gambar 1. Enam issue arsitektur berkelanjutan


(Sumber: Merhan Mohammed M. Shahda, 2018)
Arsitektur berkelanjutan adalah arsitektur yang berupaya meminimalkan dampak
negatif lingkungan dari bangunan dengan efisiensi dan moderasi dalam penggunaan
bahan, energi, dan ruang pengembangan. Arsitektur berkelanjutan menggunakan
pendekatan sadar untuk konservasi energi dan ekologi dalam desain lingkungan binaan.
Gagasan keberlanjutan, atau desain ekologis, adalah untuk memastikan bahwa tindakan
dan keputusan kita hari ini tidak menghambat peluang generasi mendatang. Akibatnya,
arsitektur berkelanjutan mencakup prinsip-prinsip berikut:
 Mengurangi konsumsi sumber daya tak terbarukan.
 Mempercantik lingkungan alam.
 Buang atau kurangi penggunaan bahan beracun. (Merhan Mohammed M. Shahda,
2018).
Sedangkan bangunan berkelanjutan dapat didefinisikan sebagai bangunan-
bangunan yang memiliki dampak negatif minimal terhadap lingkungan yang dibangun
dan alami, dalam hal bangunan itu sendiri, lingkungan terdekatnya dan pengaturan
regional dan global yang lebih luas. Selanjutnya, lima tujuan untuk bangunan
berkelanjutan dapat didefinisikan sebagai :
 Efisiensi energi (termasuk pengurangan emisi gas rumah kaca);
 Pencegahan polusi (termasuk kualitas udara dalam ruangan dan pengurangan
kebisingan);
 Harmonisasi dengan lingkungan (termasuk penilaian lingkungan);
 Pendekatan terintegrasi dan sistematis (termasuk sistem manajemen lingkungan).
(Merhan Mohammed M. Shahda, 2018)

Konsep dan Strategi Gedung Olahraga Berkelanjutan


Untuk lebih mengenal konsep dan strategi gedung olahraga berkelanjutan yang
ada di Indonesia kami memberikan kerangka kerja untuk memberikan kerangka berfikir
gedung berkelanjutan. Bagian ini memperluas kerangka berfikir desain gedung
berkelanjutan yang meliputi beberapa elemen-elemen desain berkelanjutan dari kegiatan
yang berlangsung pada operasional dan pemanfaatan teknologi dan material gedung
olahraga.

14
WIDYASTANA, Jurnal Mahasiswa Arsitektur. Vol. 1 No. 1 Juni 2020

Pada tabel dibawah ini diuraikan beberapa permasalahan yang sering ditemukan
ketika merancang dan mengoperasikan gedung olahraga yang besar, dan beberapa
pemecahan desain yang diusulkan. (Aquino, Ileana. 2015).
Tabel 1. Permasalahan dan solusi pada gedung olahraga
No Permasalahan Bangunan Solusi yang direkomendasikan
1 Konsumsi energy saat kegiatan Pemanfaatan desain pasif, penggunaan energi
berlangsung (ada pertandingan) terbarukan, atap hijau (green roof), alternatif
teknologi bangunan, penggunaaan lampu
LED, pemanfaatan sistem otomasi bangunan
2 Konsumsi air bersih yang cukup besar System penyimpanan air tanah/permukaan,
sepanjang tahun peningkatan sumber air dengan system daur
ulang, penggunaan system mekanikal-
elektrikal yang hemat energi, pemanfaatan
lansekap secara optimal
3 Pemanfaatan bahan bangunan yang Penggunaan bahan bangunan lokal, bahan
besar dan berat untuk konstruksi daur ulang, bahan bangunan terbarukan dan
(baja/beton) berkelanjutan
4 Banyaknya limbah air kotor dan Adanya daur ulang dan teknologi
sampah yang muncul pengomposan limbah, adanya insentif
terhadap pemanfaatan limbah, manajemen e-
limbah, donasi barang-barang yang tahan lama
5 Keberpihakan terhadap lingkungan Menampilkan produk makanan lokal,
lokal pemberian insentif layanan alternative
transportasi, adanay tur stadion dan
pendidikan
(Sumber: Aquino, Ileana. 2015)

Pendekatan yang belum digunakan dalam desain stadion berkelanjutan akan


ditelusuri pada beberapa teknologi konstruksi, penggunaan material dan system
operasional gedung. Sehingga tujuan akhir dari artikel ini untuk mengembangkan konsep
dan strategi untuk stadion baru agar lebih efisien dan berkelanjutan bagi masyarakat dan
pengguna. Fokusnya adalah bagaimana agar bangunan olahraga dapat memberikan
kontribusi terbaik pada komunitas yang menampung mereka dan berbagi hubungan
secara harmonis. (Aquino, Ileana. 2015).
Disamping itu dikatakan bahwa strategi penyelesaian keberlanjutan juga harus
dapat menanggapi perubahan yang diperlukan untuk bangunan seiring waktu sesuai
dengan persyaratan saat ini, baik dari pemilik dan pengguna bangunan. Serta dapat
beradaptasi dengan kebutuhan lingkungan spatial yang baru dan tuntutan desain teknologi
dan material struktural yang baru. (Hudec, Martin and Rollová, Lea, 2016).

Keberlanjutan dalam Pemanfaatan Sistem Teknologi Konstruksi


Bahwa arsitektur harus dilihat sebagai suatu potensi yang secara inovatif dan
kreatif dapat dikembangkan untuk terwujudnya jati diri yang sebenarnya. Studi tentang
struktur dalam hubungannya dengan bangunan, tidak hanya tentang ruang dan ukuran,
tetapi juga menyangkut tentang skala, bentuk, proporsi dan morfologi. Struktur

15
WIDYASTANA, Jurnal Mahasiswa Arsitektur. Vol. 1 No. 1 Juni 2020

merupakan suatu entitas fisik yang memiliki sifat keseluruhan yang dipahami sebagai
suatu organisasi unsur-unsur pokok yang ditempatkan dalam ruang yang didalamnya
karakter keseluruhan itu mendominasi interelasi bagian-bagiannya. (Syaifuddin,
Zuhri. 2010).
Mengingat situasi kondisi saat ini yang dilanda wabah cofid-19, kita harus
mengedepankan kriteria-kriteria penting dalam mengevaluasi keberlanjutan dalam
pemanfaatan dan operasional gedung olahraga, khususnya dalam penyelenggaran even-
even skala besar. Kami menyarankan beberapa kriteria keberlanjutan yakni:
 Menempatkan hubungan secara fisik antara massa bangunan dengan lingkungan
perkotaan, karena hal ini akan mempengaruhi lingkungan sekitarnya secara
keseluruhan;
 Melakukan efisiensi energy, khususnya dalam penggunaan jenis teknologi apa yang
akan digunakan dalam pemanfaatan gedung dalam skala besar;
 Fleksibilitas pemakaian adalah bagaimana gedung dapat diadopsi untuk kebutuhan
aktifitas kota setelah kegiatan pertandingan skala besar berakhir. (Sertaç Erten, Sena
Özfiliz. 2006).
Telaah pemanfaatan teknologi bangunan erat kaitannya dengan seni pengolahan
material, struktur dan konstruksi, yang lebih menekankan pada aspek nilai estetika yang
dihasilkan suatu sistim struktur suatubangunan atau merupakan ekspresi dari suatu
struktur yang lebih ditegaskan lagi dengan aspek kemampuan penggunaan teknologi
strukturnya. (Zuhri, Syaifuddin. 2007).

METODE
Pada penelitian ini paradigma yang dipakai adalah tentang prinsip-prinsip pada
arsitektur berkelanjutan yang pada dasarnya dapat mewujudkan elemen-elemen arsitektur
pada bangunan dalam upaya untuk efisiensi energi. Beberapa prinsip yang akan
digunakan mengacu pada teori Robert Vale dan Brenda (1998) dalam Putri, dkk. (2019)
yaitu cara pemanfaatan kondisi iklim setempat (working with climate), pemanfaatan
potensi-potensi tapak (respect for site), dan strategi penghematan energi pada gedung dan
lingkungannya (conserving energy). Bangunan yang akan dilakukan studi beberapa
gedung olahraga.
Metode penulisan yang digunakan adalah metode analitis diskriptif dimana artikel
ini membahas secara analitis tentang interaksi antara aplikasi desain pada gedung
olahraga dan arsitektur berkelanjutan, selanjutnya menganalisis dampak aplikasi desain
bangunan tersebut dalam mendukung arsitektur berkelanjutan. Selanjutnya, artikel ini
menyajikan secara analisis elemen-elemen desain yang diterapkan padana bangunan
olahraga Bird-Nest Stadium China dan Amsterdam Allianz ArenA kemudian
mengevaluasi kesinambungannya dalam aspek penilaian arsitektur keberlanjutan.
Akhirnya hasil evaluasi ini dapat digunakan sebagai panduan dalam memilih desain
berkelanjutan yang tepat untuk mendukung keberlanjutan yang diusulkan dalam artikel
ini.

16
WIDYASTANA, Jurnal Mahasiswa Arsitektur. Vol. 1 No. 1 Juni 2020

HASIL DAN PEMBAHASAN


Analisis Pemanfaatan Tapak
Stadion Nasional Beijing Bird Nest Stadium adalah salah satu bangunan ikon di
China, yang terletak di 4th North Ring Road dari pusat lingkungan Green of Olympic
Garden kota Beijing. Bahwa pengembangan tapak pada arsitektur berkelanjutan adalah
membentuk lingkungan dan untuk menjaga kualitas hidup pengguna dan komunitas yang
ada disekitarnya dapat menyatu secara harmonis. Implementasinya pada Birds-Nest-
Stadium China diwujudkan dengan serangkaian pilihan teknik dan bahan dengan
organisasi internal fungsi dan ruang, untuk mengendalikan konsumsi energi dan
lingkungan hidup pengguna disekitarnya.
Lingkungan luar stadion berada dalam aktiftas yang mampu menggerakkan massa
orang dengan cepat dan aman, serta menggerakkan penggemar dan pengunjung stadion
dalam lingkungan sekitar tapak yang menyatu dengan lingkungan perkotaan. Untuk
menggerakkan massa orang-orang yang hilir-mudik dibuat sistem transportasi kota agar
mereka dapat naik kereta bawah tanah ke stadion meskipun pemberhentiannya berjarak
sekitar 20 menit berjalan kaki.

Gambar 2. Mobilisasi masyarakat sekitar pada tapak


(Sumber. [Link]

Suasana ribuan penggemar melakukan mobilisasi di salah satu acara olahraga atau
hiburan, stadion dan arena membutuhkan solusi mobilitas untuk menggerakkan mereka
secara efisien dan aman. Untuk melengkapi tampilan lingkungan, diberikan lampu-lampu
tanah yang menerangi trotoar di sekitar stadion semuanya memiliki kap lampu logam
abu-abu dalam bentuk sarang burung.

Gambar 3. Pemanfaatan lingkungan tapak dengan danau buatan


(Sumber. [Link]

17
WIDYASTANA, Jurnal Mahasiswa Arsitektur. Vol. 1 No. 1 Juni 2020

Pengembangan danau buatan untuk pendinginan lingkungan dan konservasi


sumberdaya air pada lingkungan stadion, serta sebagai area rekreasi bagi masyarakat kota.

Pemilihan Pencahayaan Hemat Energi


Pola bidang permukaan fasad yang dikembangkan adalah bahwa bidang ini
berpotensi menjadi layar besar untuk menampilkan pola yang warna-warni, mengikuti
konsep yang dibuat oleh Allianz Arena. Untuk penerangan buatan maka stadion harus
diupayakan diterangi dengan lembut untuk meminimalkan polusi cahaya bagi penduduk
lokal dan panorama langit kota.

Gambar 4. Penggunaan terang langit sebagai sumber cahaya alami


(Sumber. [Link]
Sistim pencahayaan, penggunaan lampu sorot metal halide di masa lalu, sekarang
ditiadakan karena sangat boros energy dan tidak memenuhi kualitas yang dibutuhkan oleh
kamera televisi 4K. Akhirnya, stadiun area ini bergeser ke pencahayaan LED yang
menjadi standar untuk gedung olahraga professional dan mampu bersaing menjadi tuan
rumah turnamen internasional.

Gambar 5. Sistem pencahayaan lapangan menggunakan philips-arena-vision-LED


(Sumber: [Link]

18
WIDYASTANA, Jurnal Mahasiswa Arsitektur. Vol. 1 No. 1 Juni 2020

Pencahayaan lapangan merupakan puncak dari penerangan stadion papan atas


dengan penggunaan teknologi penerangan generasi masa depan, yakni Philips Arena-
Vision LED) yang memungkinkan untuk meningkatkan pengalaman penonton melalui
pertunjukan cahaya yang menggetarkan. Tidak seperti pencahayaan konvensional, sistem
LED ini dapat dipantau, dikendalikan, beralih dengan cepat, diredupkan dan disinkronkan
dengan musik, jumbotron, dan papan perimeter sebagai satu sistem hiburan terintegrasi.
Penambahan balok warna bergerak dan sistem kontrol dinamis memungkinkan
penciptaan pertunjukan cahaya pra/setelah pertandingan menjadi dramatis untuk
menggetarkan penonton.

Penggunaan Energi Solar


Salah satu contoh bangunan olahraga yang menerapkan solar panel sebagai
sumber energy di luar energi listrik. Gedung olahraga Amsterdam ArenA merupakan
stadion sepak bola terbesar di Belanda yang memasang atap panel surya seluas sekitar
7.000 meter persegi dan diperhitungkan akan memasang sekitar 4.200 panel surya. Sistem
ini akan memungkinkan gedung olahraga menghasilkan sekitar 930.000 kWh listrik,
sekitar 10% dari konsumsi saat ini.

Gambar 6. Penggunaan panel surya sebagai sumber energy


(Sumber: [Link]

Panel terpasang ini diperkirakan akan mencegah emisi 430 ton C02 - setara
dengan emisi tahunan 180 mobil. Pemasangan instalasi tata surya atap merupakan elemen
dari program berkelanjutan yang bertujuan untuk memastikan bahwa stadion mendukung
untuk menciptakan kebersihan lingkungan dan udara bersih kota Amsterdam dengan
tidak berkontribusi dalam menghasilkan carbon (carbon-neutral).

19
WIDYASTANA, Jurnal Mahasiswa Arsitektur. Vol. 1 No. 1 Juni 2020

Gambar 7. Letak solar panel


(Sumber: [Link]

Penggunaan sumber energy untuk menopang kebutuhan energy pada gedung


Amsterdam Stadium AreA disediakan oleh solar power, kincir angin (wind turbin) dan
160 (energy panas bumi (geothermal well). Dan merupakan sumber energy yang ramah
lingkungan (green electricity) tidak memberikan dampak pada lingkungan untuk
mendukung lingkungan bersih kota Beijing.

Ekspresi Struktural
Ekspresi structural pada gedung olahraga Amsterdam ArenA dengan
mengekspresikan selasar stadion yang terbuka dan luas guna memberikan panorama
seluruh kompleks. Efek spatial stadion yang timbul akibat kesederhanaan dan kebesaran
struktur.

Gambar 8. Efek spatial untuk social-distancing


(Sumber: [Link]

20
WIDYASTANA, Jurnal Mahasiswa Arsitektur. Vol. 1 No. 1 Juni 2020

Elemen-elemen struktural saling mendukung satu sama lain dan bertemu menjadi
formasi seperti grid spasial, di mana fasad, tangga, struktur mangkuk, dan atap
terintegrasi. Untuk membuat atap tahan cuaca, ruang-ruang dalam struktur stadion diisi
dengan membran tembus cahaya, seperti halnya burung mengisi ruang-ruang di antara
ranting tenunan sarang mereka dengan pengisi lembut. Karena semua fasilitas - restoran,
suite, toko, dan kamar kecil - adalah unit mandiri, sebagian besar mungkin dilakukan
tanpa fasad yang tertutup dan solid. Ini memungkinkan ventilasi alami stadion, yang
merupakan aspek terpenting dari desain stadion yang berkelanjutan.

Gambar 9. Ekpresi ruang akibat aplikasi struktural


(Sumber: [Link]
Terjadinya ruang yang dibentuk oleh kolom-kolom tribun yang dibuat
melengkung dan tegas dengan kombinasi elemen struktur bidang fasad dari struktur truss
menggunakan pipa baja yang disusun membentuk geometri wajik sehingga penampilan
ruang menjadi sangat ekspresif.

KESIMPULAN
Arsitektur berkelanjutan (sustainable architecture) adalah proses merancang atau
merencanakan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan binaan dan buatan yang
mengedepankan efisien sumber daya alam dan lingkungan di seluruh siklus hidup
bangunan mulai dari penentuan lokasi hingga desain, konstruksi, operasi, pemeliharaan,
renovasi, dan dekonstruksi.
Kriteria berkelanjutan dapat dilihat dalam 3 (tiga) konteks pengembangan
arsitektur (Sertaç Erten, Sena Özfiliz. 2006) yang terekpresi dalam 2 (dua) bangunan
olahraga Birds-Nest-Stadium China dan Amsterdam Stadium AreA. Keduanya telah
melakukan ketiga konsteks tersebut secara sempurna dalam aplikasi desainnya dan hasil
tersebut sudah diakui dunia.
Aplikasi pertama, mengenai aspek hubungan secara fisik antara massa bangunan
dengan lingkungan perkotaan sudah diaplikasikan secara sempurna pada bangunan Birds-
Nest-Stadium China, bahkan pemanfaatn lingkungan tersebut memberikan dampak

21
WIDYASTANA, Jurnal Mahasiswa Arsitektur. Vol. 1 No. 1 Juni 2020

lainnya, seperti pendinginan (cooling) dan area rekreasi bagi masyarakat sekitarnya. Dan
penggunaan material dan teknologi struktur bangunan yang ekpresif dan
mengembangkan kesederhanaan struktur (pure-structure) sangat mendukung ekspresi
ruang dan lingkungan.
Aplikasi kedua, pengembangan aspek efisiensi energy, disini sumber energy yang
dikembangkan adalah solar power, kincir angin (wind turbin) dan 160 hotspot (energy
panas bumi (geothermal well) merupakan sumber energy alternative untuk menciptakan
lingkungan bersih (clean-environment).
Aplikasi ketiga, aspek fleksibilitas pemanfaatan ruang dan bangunan, pada kedua
bangunan diatas disamping fungsinya untuk perhelatan pertandingan olahraga
internasional juga dapat digunakan untuk konser-koser skala dunia. Serta pemanfaatan
ruang dalam dan ruang luar untuk aktifitas masyarakat kota Beijing, baik rekreasi,
pameran atau perdagangan.

UCAPAN TERIMAKASIH
Ucapan rasa syukur kepada Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan
karuniaNya sehingga dapat diselesaikannya tulisan ini. Ucapan terima kasih kepada
dosen pengampu dan dosen pembimbing karena telah membantu dan mengoreksi hingga
tulisan ini selesai dan dapat diterbitkan.

DAFTAR PUSTAKA
Aquino, Ileana. 2015. Sustainable Design Strategies for Sport Stadia. Suburban
Sustainability: Volume 3 : Issue 1, Article 3.
[Link]
Astee Lim, 2020, COVID-19 & Architecture: The Importance of Designing for
Occupant Wellness, Commentary, Online Exclusive Feature, 2020.
[Link]
Hudec, Martin and Rollová, Lea, 2016. Adaptability in the architecture of sport
facilities. Procedia engineering, Volume 161-2016.
[Link]
Karuniastuti, N., 2015. Bangunan Ramah Lingkungan. Majalah Ilmiah PPSDM
Migas Swara Patra, Vol. 5. No. 1. Kebangkitan Energi Terbarukan. Cepu.
Karyono, T.H., 2011. Bangunan Hemat Energi: Strategi Penghematan Energi
Bangunan di Kawasan Sub-Tropis dan Tropis Basah. Seminar Bangunan Hemat Energi,
Balai Besar Teknologi Energi (B2TE).
Merhan Mohammed M. Shahda, 2018, Vision and Methodology to Support
Sustainable Architecture through Building Technology in the Digital Era, International
Journal on: Environmental Science and Sustainable Development, Architecture and
Urban Design Department Faculty of Engineering Port Said University.
[Link]

22
WIDYASTANA, Jurnal Mahasiswa Arsitektur. Vol. 1 No. 1 Juni 2020

Milica, I.G.I.C., Miomir, V.A.S.O.V., Dragan, K.O.S.T.I.C., Vuk,


M.I.L.O.S.E.V.I.C. and Nikola, C.E.K.I.C., 2014, November. Sports facilities
sustainable design. In Engineering: integration of science and practice: proceedings of
the international scientific conference. Moscow, Russia (p. 96).
Priyoga, Iwan, 2016, Desain Berkelanjutan (Sustainable Design), Jurusan
Teknik Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Pandanaran.
Putri, A.F.K., Singgih, E.P. and Gunawan, G., 2019. Konservasi Energi dan Air
pada Fasilitas Olahraga Indoor dengan Pendekatan Arsitektur Hijau di Kota Depok,
Jawa Barat. Senthong, Vol. 2 (No. 1).
Ragheb, A., El-Shimy, H. and Ragheb, G., 2016. Green architecture: A concept
of sustainability. Procedia-Social and Behavioral Sciences, 2016.
Robert Vale dan BVale, B., Vale, R.J.D. and Doig, R., 1997. Green architecture:
design for a sustainable future. Royal Victorian Institute for the Blind. Special Request
Service.
Sertaç Erten, Sena Özfiliz. 2006. Stadium Construction and Sustainability: The
Review of Mega-Event Stadiums (1990-2012). 1st International CIB Endorsed METU
Postgraduate Conference Built Environment & Information Technologies, Ankara, 2006.
Sudarwani, M.M., 2012. Penerapan Green Architecture dan Green Building
sebagai upaya pencapaian sustainable Architecture. Dinamika Sains, Vol. 10. No. 24.
Syahriyah, D.R., 2016. Penerapan Aspek Green Material Pada Kriteria
Bangunan Rumah Lingkungan Di Indonesia. Prosiding Temu Ilmiah IPLBI.
Zuhri, Syaifuddin. 2007. Telaah Ekspresi Tektonik dan Metamorfik terhadap
Karya Arsitektur Santiago Calatrava. Jurnal Rekayasa Perencanaan, Vol. 4 (No. 1). Prodi
Arsitektur, UPN “Veteran” JT. [Link]
Syaifuddin, Zuhri (2010) Dasar-dasartektonik struktur : arsitektur dan
struktur. Yayasan Humaniora, Klaten. ISBN 978-979-3327-75-4.
[Link]

23

Anda mungkin juga menyukai