0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan14 halaman

Definisi dan Manfaat Just In Time

Diunggah oleh

akun game
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan14 halaman

Definisi dan Manfaat Just In Time

Diunggah oleh

akun game
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Definisi Metode Just In Time

Sistem Just In Time berusaha melakukan pekerjaan secara terus-menerus tanpa henti,
dengan menghilangkan segala pemborosan dan segala sesuatu yang tidak memberi nilai tambah
dengan menyediakan sumber daya pada tempat dan waktu yang tepat. Sistem ini akan
mengakibatkan persediaan lebih sedikit, jumlah pekerja lebih sedikit, dan biaya produksi lebih
rendah serta produk dapat diserahkan ke pelanggan tepat waktu. Sedangkan kualitas yang sangat
tinggi merupakan hasil dari suatu sistem pengendalian mutu yang sangat baik. Akhirnya, dengan
kombinasi dan gabungan kedua sistem tersebut akan membuat perusahaan mampu bersaing
dengan perusahaan lain serta mencapai laba dan hasil dari investasi yang maksimal.

Menurut Hendra Kusuma Just In Time yaitu :

“Just In Time yaitu menghilangkan hal-hal yang tidak berguna yang berhubungan dengan
persediaan dan kelebihan produksi serta pendayagunaan para pekerja secara penuh, terutama
dalam hal peningkatan mutu, produktifitas dan moral kerja”.

Masiyah Khoimi dan Yuningsih, mendefinisikan tujuan dasar sistem Just In Time adalah sebagai
berikut:

“Untuk memproduksi dan menyampaikan apa yang dibutuhkan, kapan hal itu
dibutuhkan, pada tahap semua proses produksi, tepat pada saat dipabrikasi, dipasang dan dikirim
ke pelanggan”. Dari pendapat di atas mengenai Just In Time, maka dapat disimpulkan bahwa
Just In Time merupakan suatu sistem yang digunakan untuk meminimalis terjadinya
pengeluaran dengan mendasarkan pada tarikan permintaan barang yang dibutuhkan dengan
menghilangkan hal-hal yang tidak berguna.
Just In Time Pembelian

Just In Time tidak hanya berlaku untuk persediaan akan tetapi juga pembelian, fungsi
pembelian sangat terlibat dalam penerapan JIT. Tujuannya adalah baik persediaan bahan baku,
maupun persediaan dalam proses berada pada tingkat yang benar-benar minimum. Konsep JIT
menekankan pada pembelian bahan baku yang sesuai dengan kebutuhan proses produksi yang
diperlukan untuk membuat produk yang dipesan konsumen baik melalui pesanan maupun
kebutuhan pasar, sehingga tidak ada persediaan bahan baku di gudang kecuali untuk diproses.

Pembelian Just In Time menurut Supriono, adalah:

“Sistem pembelian barang berdasarkan tarikan permintaan sehingga barang yang dibeli
dapat diterima tepat waktu, tepat jumlah, bermutu tinggi, dan berharga murah”. Just In Time
pembelian dapat mengurangi waktu dan biaya yang berhubungan dengan aktivitas pembelian
dengan cara :

1. Mengurangi jumlah pemasok.

2. Mengurangi atau mengeliminasi waktu dan biaya negosiasi dengan

pemasok.

3. Memiliki konsumen dengan program pembelian yang mapan.

4. Mengeliminasi atau mengurangi aktivitas dan biaya tidak bernilai

tambah.

5. Mengurangi waktu dan biaya untuk pemeriksaan mutu.


Secara tradisional biasanya perusahaan akan melakukan pembelian dalam kuantitas yang besar
sehingga perusahaan mendapatkan potongan harga dan mengantisipasi adanya kenaikan harga
dimasa yang akan datang. Tujuan pembelian dalam kuantitas besar adalah mengurangi biaya
persediaan. JIT mempunyai tujuan yang sama akan tetapi pemecahan masalahnya berbeda. JIT
mencapai tujuan tersebut dengan mengadakan negoisasi kontrak jangka panjang dengan
pemasok yang dipilih.

Menurut Supriono pertimbangan pemilihan pemasok antara lain didasarkan atas :

1. Pemasok mempunyai lokasi terdekat dengan perusahaan.

2. Perusahaan dapat menjalin hubungan yang erat dengan pemasok.

3. Pemasok dapat menawarkan harga yang bersaimg.

4. Pemasok mempunyai kinerja mutu dan kemampuan

menyerahkan komponen tepat jumlah dan waktu sesuai dengan yang diperlukan

5. Pemasok mempunyai komitmen pada pembelian JIT yang digunakan oleh perusahaan

Perusahaan harus berusaha untuk membangun hubungan yang saling menguntungkan dengan
para pemasok untuk mengurangi ketidakpastian permintaan dan mewujudkan rasa saling
percaya sebab JIT menerapkan sistem kontrak jangka panjang.

Manfaat dari kontrak panjang menurut Supriono, adalah :

1. Dapat menentukan tingkat harga dan mutu yang diterima.

2. Frekuensi pemesanaan dapat berkurang sehingga biaya

pemesanan berkurang dalam jumlah besar.

3. Biaya komponen yang dibeli dapat lebih rendah.


4. Jumlah pemasok dapat diturunkan dengan tajam, Dengan

berkurangnya pemasok maka waktu dan biaya dikontrak dapat dikurangi

5. Dengan berkurangnya pemasok dan berhubungan baik dengan pemasok, maka mutu dan
komponen yang dibeli dapat ditingkatkan secara signifikan.

6. Dengan adanya peningkatan mutu bahan dan komponen yang dibeli, maka biaya yang
berhubungan dengan mutu dapat dihindari atau dikurangi.

Dengan demikian, kontrak jangka panjang menarik biaya set up dan pemesanan mendekati nol,
pendekatan ini menjelaskan mengapa just in time pembelian sangat terlibat dalam mendorong ke
persediaan nol.

Just In Time Produksi

Proses produksi dalam perusahaan manufaktur bisa dikatakan sangat penting. Just In Time
dalam bagian produksi harus benar-benar diorganisir dengan baik karena dapat meningkatkan
laba perusahaan.

Menurut Supriono menjelaskan produksi Just In Time, adalah :

“Produksi JIT adalah sistem produksi berdasarkan tarikan permintaan sehingga produk dapat
diproduksi tepat waktu, tepat jumlah, bermutu tinggi, dan berbiaya rendah”

Konsep JIT menekankan pada suatu proses produksi untuk menghasilkan produk yang
segera untuk diproduksi selanjutnya tanpa memerlukan waktu yang lama, sehingga dari satu
tahapan produksi tidak terdapat barang dalam proses. Produksi JIT dapat mengurangi waktu
dan biaya dengan cara :

1. Mengurangi dan meniadakan barang dalam proses.

Aspek yang paling terlihat dari JIT adalah usaha untuk mengurangi barang dalam proses (work in
proces) dan bahan baku yang dikenal dengan produksi persediaan sama dengan nol (zero
inventory produktion).
2. Mengurangi atau meniadakan lead time

Pengurangan lead time produksi memungkinkan perusahaan lebih tanggap terhadap permintaan
konsumen yang sekaligus mengurangi perubahan order bahan kepada pemasok.

3. Mengurangi dan meniadakan set up

Masa pengesetan mesin (setup time) adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengubah
perlengkapan, memindahkan bahan baku, dan mendapatkan formulir terkait dan bergerak cepat
untuk mengakomodasikan produk unsur yang berbeda.

Langkah mengurangi waktu set up :

a. Memisahkan pekerjaan set up yang harus diselesaikan selagi mesin berhenti terhadap
pekerjaan yang dapat dikerjakan selagi mesin beroperasi.

b. Mengurangi internal set up dengan mengerjakan lebih banyak eksternal set up, contohnya
: persiapan percetakan, pemindahan cetakan, peralatan dan lain-lain.

c. Mengurangi internal set up dengan mengurangi kegiatan penyesuaian, menyederhanakan


alat bantu dan kegiatan bongkar pasang, menambahan personil pembantu, dll.

d. Mengurangi total waktu untuk seluruh pekerjaan set up, baik internal maupun eksternal.

4. Menyederhanakan pengolahan produk penyederhanaan pengolahan produk bermanfaat


untuk mengurangi aktivitas tidak bernilai tambah. Penyederhanaan dilakukan dengan
merestrukturisasi layout tata letak pabriknya.

Sebelum mengatur layout pabrik dalam sistem JIT, proses-proses yang diperlukan untuk suatu
produk harus diketahui terlebih dahulu, yaitu:

a. Pelatihan/tim keterampilan JIT memerlukan tambahan pelatihan yang lebih banyak bila
dibandingkan dengan sistem tradisional
b. Membentuk aliran/penyederhanaan ideal suatu lini produksi yang baru dapat di setup
sebagai batu ujian untuk membentuk aliran produksi, menyeimbangkan aliran tersebut
dan memecahkan masalah awal

c. Kanban full sistem merupakan system manajemen atau pengendalian perusahaan,


aturannya adalah :

1. Tidak mengirim produk rusak ke proses selanjutnya.

2. Proses selanjutnya hanya mengambil apa yang dibutuhkan pada

saat dibutuhkan.

3. Memproduksi hanya sejumlah yang diambil oleh proses berikutnya.

4. Meratakan beban produksi.

5. Mentaati intruksi kanban pada saat fine tuning.

6. Melakukan stabilisasi dan rasionalisasi proses.

d. Visibilitas/pengendalian visual salah satu kekuatan JIT adalah sistemnya yang merupakan
sistem visual.

e. Eliminasi kemacetan (bottleneck) merupakan proses yang berjalan secepat mungkin


sepanjang waktu, tanpa mengikuti permintaan.

Kelemahan Just In Time

Uraian diatas memberikan pemahaman bahwa JIT merupakan filosofi pengelolaan sediaan dari
bahan baku, proses produksi, dan barang jadi tepat waktu dan tidak lama seperti sistem
tradisional. Akan tetapi sistem JIT memiliki beberapa kelemahan, antara lain :

1. Sistem JIT mengakibatkan ketegangan kepada para pekerja, dengan tidak tersedianya
sediaan untuk memenuhi permintaan pelanggan, dan terkadang mengakibatkan kerugian
dalam penjualan (Poul [Link], 1991).
2. Dalam perusahaan retail, penerapan sistem JIT pun mengalami kerugian penjualan akibat
tidak ada sediaan dalam memenuhi permintaan pelanggan, karena biaya pengadaan
barang yang diminta menjadi tinggi (Joseph Pereira, 1993).

Kritik lain yang umum terhadap sistem JIT menurut Fandy Tjipjono & Anastasia Diana dalam
Mursyidi, menyatakan bahwa :

1. Masalah yang berkaitan dengan kerusakan dan keandalan mesin untuk menghasilkan
kualitas produk yang berkualitas.

2. Masalah yang berkaitan dengan proses dalam optimalisasi dan pengendalian proses
produksi yang dianggap kurang optimal.

3. Prinsip lot size dalam JIT yang memproduksi berskala kecil dengan beraneka ragam
produk. Ini tidak dapat diterapkan dalam produksi massa yang memproduksi sebanyak
mungkin item yang sama (economic lot size).

Menurut Mursyidi, solusi menangani masalah-masalah diatas, yaitu dengan cara :

1. Melakukan pemeliharaan mesin secara kontinu. 2. Menggunakan model startiscal proses


control untuk melakukan pengendalian dan optimalisasi proses produksi. Ini dapat
dilakukan dengan penerapan diagram pareto, diagram sebabakibat, stratifikasi, check
sheets, histogram, scatter diagram, run chat, control chart, flow chart, dan desain
eksperimen.

Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa masalah-masalah yang terdapat dalam metode
Just In Time diberikan pula solusi-solusi yang bias digunakan untuk memaksimalkan pemakaian
metode Just In Time tersebut dengan baik agar bisa menambah atau maningkatkan laba
perusahaan.
Manfaat Just In Time

JIT memberikan nuansa baru dalam manajemen persediaan, dimana pemanufakturan


beralih dari sistem fush ke sistem full. Pada full sistem persediaan akan ada apabila dibutuhkan
untuk memenuhi permintaan konsumen saat kini, bukan untuk memenuhi kebutuhan pasar
secara keseluruhan.

Adapun menurut Fandy Tjiptono & Anastasian Diana dalam Mursyidi,

Manfaat Just In Time adalah :

1. Mengurangi biaya tenaga kerja langsung dan tidak langsung.

2. Mengurangi ruangan atau gudang untuk menyimpan barang.

3. Mengurangi waktu setup dan penundaan jadwal produksi.

4. Mengurangi pemborosan barang rusak dan barang cacat dengan mendeteksi


kesalahan pada sumbernya.

5. Mengurangi lead time karena ukuran lot yang kecil sehingga sel produksi
memberikan feedback terhadap masalah kualitas.

6. Penggunaan mesin dan fasilitas lebih baik, menciptakan hubungan yang lebih
baik dengan pemasok.

7. Layout pabrik yang lebih baik.

8. Integrasi yang lebih baik antara fungsi - fungsi, seperti pemasaran, pembelian, dan
diproduksi.

9. Pengedalian kualitas dalam proses.

Dari data diatas terlihat bahwa manfaat dari metode Just In Time yaitu dapat mengurangi
berbagai kegiatan yang seharusnya tidak perlu dan mengendalikan persediaan secara baik dan
peningkatan dalam proses produksi.
Sebuah studi kasus teori Just In Time pada perusahaan Otomotif di China

Teori Just in time telah di pakai oleh industry otomotif di Jepang, meskipun banyak
aplikasi dari teori ini yang dapat ditemukan di seluruh dunia. Ideologi dari teori ini JIT adalah
memproduksi dalam jumlah yang diperlukan. Definisi dari JIT sangat konsisten dalam banyak
studi . Contohnya Bozarth & Handfield [6] mendefinisikan JIT sebagai: ‘A philosophy of
manufacturing based on planned elimination of all waste and on continuous improvement of
productivity. In the broad sense, it applies to all forms of manufacturing and to many service
industries as well
Dalam studi ini , penulis menginvestigasi 5 masalah pada JIT yang terjadi dalam
kehidupan nyata. Di dalam Studi ini, mengambil objek penelitian pada Industri Otomotif yang
berlokasi di China. Studi ini akan membahas bagaimana JIT dapat meningkatkan tingkat
kompetitif dari perusahaan dan bagaimana perusahaan dapat mengatasi permasalahan dalam
penerapan JIT. Singkat kata , studi ini memunculkan beberapa pertanyaan seperti 1. Bagaimana
system JIT beroperasi dalam perusahaan dan 2. Apa manfaat dari pengaplikasian system JIT.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut . terdapat 5 tema kunci yang teridendtifikasi dan terstruktur
dengan interview dengan beberapa manager untuk mendapatkan informasi yang relevant.
Perusahaan otomotif yang menjadi objek penelitian berdiri pada tahun 2002 dan
mengiplementasikan JIT. Setelah 1 tahun perusahaan beroperasi , perusahaan dapat menjual
50.000 mobil dan mendapatkan penghargaan 10 besar dengan penjualan mobil tebanyak di
China. Perusahaan meningkatkan kapasitas produksinya menjadi 150.000 mobil pada tahun
2004 dan 300.000 pada tahun 2006, yang berarti perusahaan menjadi 5 besar dalam kategori
industry otomotif. Disamping pertumbuhannya yang pesat , perusahaan mempertahankan
posisinya dalam pasar dengan memperkenalkan system JIT.
Telah dijelaskan di awal, penulis akan mengivestigasi 5 permasalahan pada JIT. Penulis
memilih 5 manager yang memiliki pengalaman professional dalam mengatur atau
mengimplikasi system JIT pada perusahaan.
A. Informasi

Kebanyakan manager yang telah diwawancarai mendukung bahwa desain dari informasi
yang tepat dapat membantu system JIT . Mereka menunjuk informasi bahwa sistem adalah
landasan teknologi dan aplikasinya kepada JIT merupakan metode pendongkrak untuk
menerapkan sistem produksi JIT. Kasus perusahaan mendirikan sebuah aliansi dinamis
perusahaan melalui Internet dari hulu sampai ke hilir dari seluruh pasokan jaringan untuk
mewujudkan interaksi antara perusahaan, pemasok dan pelanggan. Selain itu, teknologi
informasi dapat membantu kasus perusahaan untuk membangun hubungan yang mulus hubungan
antara informasi permintaan dari hulu dan informasi sumber daya hilir untuk mengurangi
persediaan dengan berbagi informasi antara kedua belah pihak. Dengan demikian, kasus
perusahaan dapat meningkatkan respon cepat menyediakan jaringan untuk memastikan bahan
dapat terpenuhi dengan lancar. Lebih khusus, perusahaan mempekerjakan Kanban elektronik
sistem untuk memfasilitasi arus informasi. Gambar 1 menunjukkan sistem lama kasus
perusahaan, yang tidak membuat menggunakan sistem informasi yang tepat jadi pemasok tidak
melaporkan situasi pengiriman ke perusahaan X dengan cepat dan tepat waktu. Karena itu,
perusahaan X harus mempekerjakan banyak pekerja untuk memeriksa Kapan dan berapa banyak
barang yang disediakan. Kelemahan itu dapat menyebabkan kelebihan persediaan di pabrik.
Selain itu, hal ini membuat perusahaan X sangat sulit untuk mengontrol proses produksi dan
karenanya juga dapat menyebabkan efisiensi produksi sangat rendah. Masalah utama sistem lama
salah bagian atau komponen dapat diberikan kepada garis produksi, yang memiliki pengaruh
yang besar di seluruh lini produksi. Implikasi dari inspeksi manual adalah bahwa efisiensi
adalah sangat rendah. Gambar 2 menggambarkan sistem informasi JIT baru, memanfaatkan Bar
Code sistem untuk memantau arus bagian. Sistem bisa mencegah salah bagian yang digunakan
dalam lini produksi dan bisa menjamin bahwa jalur produksi terganggu. Sistem ini juga dapat
meningkatkan efisiensi produksi dan mengurangi biaya tenaga kerja dengan memperbarui
produksi informasi langsung. Melalui menggunakan data elektronik pertukaran teknik untuk
menghubungkan perusahaan X dan para pemasoknya, Perusahaan X bisa mendapatkan informasi
dari pemasok melalui sistem pemantauan. Informasi JIT baru sistem bisa mencapai respon yang
cepat dalam lini produksi dan membangun hubungan yang sangat dekat antara perusahaan X dan
pemasok.
B. Perencanaan Produksi

Tema II yang berkaitan dengan pertanyaan tentang bagaimana sistem JIT dapat
mempengaruhi perencanaan dalam kasus perusahaan produksi. Berdasarkan hasil wawancara,
Kanban adalah metode manajemen yang utama dalam kasus perusahaan JIT model. Oleh karena
itu, informasi dapat disampaikan ke seluruh proses produksi dan dapat lebih terlihat untuk
seluruh proses produksi. Dengan demikian, Jadwal harian dapat dibawa keluar dan urutan
rencana produksi dapat dioperasikan dari perspektif JIT. Sebagai Akibatnya, kapasitas produksi
tidak mencukupi atau berlebihan dapat dihindari dan juga pemborosan sumber daya produksi
atau kehilangan pesanan bisa dihilangkan. Ini mendukung tiga produksi filsafat, yaitu,
sinkronisasi produksi, produksi seimbang dan rasionalisasi distribusi sumber daya. Khususnya,
Miss C percaya bahwa:
“Balance production is the premise condition for achieving the JIT production”

C. Manajemen Persediaan

Bagian ini menjelaskan bagaimana perusahaan dapat (atau tidak dapat) mencapai 'nol
persediaan' melalui pelaksanaan JIT sistem (dan karenanya beberapa hambatan untuk mencapai '
nol persediaan '). Koresponden menunjukkan bahwa produksi proses untuk JIT sebagaimana
disebutkan dalam bagian sebelumnya telah dilaksanakan cukup berhasil. Ini berarti bahwa
produksi Perencanaan dan materi persiapan stabil sehubungan dengan konsumsi akhir. Dengan
kata lain persediaan dapat dipertahankan pada tingkat yang cukup rendah. Kebanyakan para
koresponden, , percaya bahwa ' nol persediaan ' adalah hanya jenis kondisi ideal pada logistik
dan pasokan paradigma jaringan. Meskipun tingkat persediaan untuk sebagian besar komponen
atau bagian diminimalkan dengan pelaksanaan JIT, dan beberapa bagian bisa mencapai nol
dalam perusahaan tidak semua bias dalam kondisi persediaan nol. Dalam itu berarti, beberapa
persediaan untuk keamanan tidak bisa dihilangkan sepenuhnya dari sistem. Berdasarkan hasil
wawancara, ada kekhawatiran tentang keamananan persediaan di perusahaan X. Sebagian besar
yang diwawancarai menunjukkan bahwa hanya sedikit suku cadang bisa mencapai ' nol
persediaan ' setelah pelaksanaan JIT. Artinya sebagian diwawancarai tidak percaya bahwa 'nol
persediaan' dapat dapat dicapai secara realistis dalam kasus perusahaan. Misalnya, Mr. D
berkomentar bahwa: “Zero stock is just a kind of ideal condition … It is nearly impossible to
reach zero stock.”

D. Kualitas Manajemen

Koresponden dianggap bahwa kualitas adalah sangat faktor penting untuk memastikan
sukses implementasi JIT. Konsep manajemen mutu diaplikasi untuk semua pekerja. Selain itu,
untuk memastikan sistem JIT dapat dilaksanakan secara efektif, manajemen kualitas pemasok
adalah sangat penting. Indikator kinerja telah digunakan untuk memeriksa pencapaian pemasok
di kualitas, tepat waktu pengiriman dll, dalam rangka mendorong pemasok untuk berpartisipasi
dalam JIT program.

E. Manajemen Pemasok

Bagian ini membahas hubungan antara kasus perusahaan dan para pemasoknya dan
bagaimana kasus perusahaan mengelola pemasoknya. Beberapa narasumber menjelaskan bahwa
memilih dan mengevaluasi kasus pemasok secara objektif dalam produksi system JIT sangat
penting untuk pengembangan. Ada sekitar 100 pemasok utama di kasus perusahaan dan
kebanyakan dari mereka (empat puluh pemasok) telah membangun Fasilitas produksi mereka di
dekat perusahaan. Dengan demikian, pemasok dapat mengurangi waktu yang dihabiskan dalam
distribusi dan dapat berkoordinasi dengan perusahaan erat jadi yang akurat informasi dapat
dikirimkan ke perusahaan dengan cepat, dan sistem terpadu JIT dapat dicapai oleh perusahaan
dan para pemasoknya. Namun, ada beberapa hambatan mengenai memilih dan mengevaluasi
pemasok. Misalnya, beberapa narasumber menunjukkan bahwa beberapa kriteria seleksi tidak
bisa ditegakkan karena penilaian subjektif manajemen puncak, yang memberikan preferensi
untuk para pemasok dari negara mereka sendiri. Masalah memang telah dikemukakan oleh yang
diwawancarai mengenai proses seleksi pemasok. Karena perusahaan X perusahaan patungan
internasional, memiliki beberapa konflik terjadi karena ini selama pemilihan supplier proses.
Sebagai contoh, Bapak A berkomentar bahwa: “We are too subjective in choosing suppliers …
So it is crucial to establish a complete supplier evaluation system to choose the potential
suppliers”

Anda mungkin juga menyukai