Metode Kontrasepsi Sederhana Tanpa Alat
Metode Kontrasepsi Sederhana Tanpa Alat
PENDAHULUAN
Dengan cara-cara yang ada saat ini, sudah dapat ditentukan waktu ovulsi
seorang wanita tetapi yang sebenarnya yang jauh lebih penting adalah
menentukan masa pra- ovulasi ( 3-5 hari sebelum ovulasi ), yang hingga sekarang
belum ada cara untuk menentukannya.
1
Masing-masing metode dapat dilakukan tersendiri atau kombinasi,
bahkan dalam kombinasi dengan metode kontrasepsi lain.
1.2. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini:
1. Untuk mengatahui macam-macam kontrasepsi sederhana tanpa alat.
2. Untuk mengatahui cara kerja,keuntungan,kerugian,macam-
macam,indikasi,kontra-indikasi,efek samping dan KIE pada masing-
masing kontrasepsi sederhana tanpa alat.
3. Untuk menambah wawasan pembaca mengenai kontrasepsi sederhana
tanpa alat.
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
B. Cara kerja
3
hubungan seks untuk mencegah kehamilan ( dr. Ida Ayu,
2010 ).
C. Keuntungan
1. Dapat digunakan untuk menghindari atau mencapai kehamilan.
2. Tidak ada risiko kesehatan yang berhubungan denga kontrasepsi.
3. Tidak ada efek samping sistemik.
4. Murah atau tanpa biaya.
5. Meningkatkan keterlibatan suami dalam keluarga berencana.
6. Menambah pengetahuan tentang system reproduksi pada suami dan
istri.
7. Memungkinkan mengeratkan relasi/ hubungan melalui peningkatan
komunikasi antara suami istri/ pasangan ( prof. dr. Abdul Bari
Saifuddin, 2006 ).
D. Kerugian
1. Sulit menilai menstruasi yang akan datang.
2. Perlu pantang selama masa subur untuk menghindari kehamilan
3. Infeksi vagina membuat lendir serviks sulit di nilai.
E. Indikasi
1. Semua perempuan dengan paritas berapapun termasuk nulipara.
2. Perempuan kurus ataupun gemuk.
3. Perempuan yang tidak menggunakan metode lain.
4. Pasangan yang ingin dan termotivasi untuk mengobservasi, mencatat,
dan menilai tanda gejala kesuburan.( [Link] Abdul Bari
Saifuddin,2006 ).
A. . Pengertian
Metode suhu basal adalah peninggian suhu badan basal 0,2 sampai 0,5◦C pada
waktu ovulasi.
4
Peninggian suhu badan basal mulai 1-2 hari setelah ovulasi dan di sebabkan oleh
peninggian kadar hormon progesterone ([Link] Hartanto,2013).
B. Cara kerja.
1. Umumnya digunakan thermometer khusus dengan kalibrasi yang di
perbesar(Basal termometer), meskipun thermometer biasa dapat
juga di pakai.
2. Waktu pengukuran harus pada saat yang sama setiap pagi dan
setelah tidur nyenyak sedikitnya 3-5 jam serta masih dalam keadaan
istrahat mutlak.
3. Pengukuran dilakukan secara:
Oral (3 menit)
Rektal (1 menit), ini cara terbaik
Vaginal
([Link] Hartanto,2013).
5
D. Macam-macam peninggian suhu badan basal
1. Peninggian suhu yang mendadak (Abrupt). Ini yang paling sering
terjadi.
2. Peningian suhu yang perlahan-lahan (Gradual).
3. Peninggian suhu yang bertingkat,umumnya didahului penurunan suhu
yang cukup tajam.
4. Peninggian suhu seperti “Gigi gergaji”.
([Link] Hartanto,2013).
E. Keuntungan
1. Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pada pasangan suami istri
tengtang masa subur atau ovulasi.
2. Membantu wanita yang mengalami siklus haid tidak teratur
mendeteksi masa subur / ovulasi.
3. Dapat digunakan sebagan kontrasepsi ataupun meningkatkan
kesempatan untuk haid.
4. Membantu menunjukan perubahan tubuh lain pada saat mengalami
masa subur/ ovulasi seperti perubahan lendir serviks.
5. Metode suhu basal tubuh yang mengendalikan adalah wanita itu
sendiri.
F. Kerugian
1. Abstinens sudah harus dilakukan pada masa pra-ovulasi.
2. Pengukuran suhu basal merepotkan dan tidak akurat, karena hanya
dapat digunakan oleh mereka yang hanya terdidik dan hanya berguna
pada siklus menstruasi 20 sampai 30 hari.
G. Indikasi
Metode suhu basal tubuh dapat bermanfaat sebagai konsepsi maupun
kontrasepsi.
a. Manfaat konsepsi
Metode suhu basal tubuh berguna bagi pasangan yang menginginkan
kehamilan.
6
b. Manfaat kontrasepsi
Metode suhu basal tubuh berguna bagi pasangan yang menginginkan
menghindari atau mencegah kehamilan
H. Efektivitas
Metode suhu basal tubuh akan efektif bila dilakukan dengan benar dan
konsisten. Suhu tubuh basal dipantau dan dicatat selama beberapa bulan
berturut-turut dan dianggap akurat bila terdeteksi pada saat ovulasi.
Tingkatkan keefektifan metode suhu tubuh basal sekitar 80 persen atau 20-30
kehamilan per 100 wanita per tahun. Secara teroritis angka kegagalannya
adalah 15 kehamilan per 100 wanita per tahun. Metode suhu basal tubuh akan
jauh lebih efektif apabila dikombinasikan dengan metode kontrasepsi lain
seperti kondom, spermisida ataupun metode kalender atau pantang berkala
(calendar method or periodic abstinence).
I. Factor yang Mempengaruhi Keandalan Metode Suhu Basal Tubuh
Adapun factor yang mempengaruhi keandalan metode suhu basal tubuh antara
lain:
Penyakit
Gangguan tidur
Merokok dan atau minum alcohol
Penggunaan obat-obat ataupun narkoba
Stress
Penggunaan selimut elektrik
J. Petunjuk Bagi pengguna metode Suhu Basal Tubuh
Aturan suhu/temperatur adalah sebagai berikut:
Suhu diukur pada waktu yang hampir sama setiap pagi (sebelum
bangun dari tempat tidur).
Catat suhu ibu pada kartu yang telah tersedia.
Gunakan catatan suhu pada kartu tersebut untuk 10 hari pertama dari
siklus haid untuk menentukan suhu tertinggi dari suhu yang “normal
7
dan rendah” dalam pola tertentu tanpa kondisi-kondisi di luar normal
atau biasanya.
Abaikan setiap suhu tinggi yang disebabkan oleh dendam atau
gangguan lain.
Tarik garis pada 0,050 C – 0,10 C di atas suhu tertinggi dari suhu 10
hari tersebut. Garis ini disebut garis pelindung (cover line) atau garis
suhu.
Periode tak subur mulai pada sore hari ketiga berturut-turut suhu tubuh
berada di atas garis pelindung/suhu basal.
Hari pantang senggama dilakukan sejak hari pertama haid hingga sore
ketiga kenaikan secara berurutan suhu basal tubuh (setelah masuk
periode masa tak subur).
Masa pantang untuk senggama pada metode suhu basal tubuh lebih
panjang dari metode ovulasi billings.
Perhatikan kondisi lendir subur dan tak subur yang dapat diamati
Metode lendir serviks atau lebih dikenal sebagai metode ovulasi billings/
MOB atau metode dua hari mukosa serviks dan metode simtomtermal adalah
yang paling efektif.
B. Cara kerja
1. Abstinens dimulai pada hari pertama diketahui adanya lendir setelah
haid dan berlanjut sampai dengan hari ke-4 setelah gejala-puncak
( peak symptom ).
C. Macam – macam lendir serviks
1. Lendir tipe – E ( estrogenic ):
a. Diproduksi pada fase akhir pra- ovulasi dan fase ovulasi.
b. Sifat-sifat :
8
Banyak, tipis, seperti air ( jernih ) dan viskositas
rendah.
Spinnbarkeit ( elastisitas ) besar. Spinnbarkeit =
sampai seberapa jauh lendir dapat diregangkan
sebelum putus.
Bila dikeringkan terjadi bentuk seperti daun pakis
( fernlike patterns, ferning, aborization ).
c. Spermatozoa dapat “ menembus “ lendir ini.
2. Lendir tipe – G ( Gestagenik ):
b. Diproduksi pada fase awal pra- ovulasi dan setelah ovulasi.
c. Sifat-sifat :
Kental.
Viskositas tinggi.
Keruh ( opaque ).
c. Dibuat karena peninggian kadar progesterone.
d. Spermatozoa tidak dapat menembus lendir ini.
Ciri-ciri lendir serviks pada berbagai fase dari siklus haid ( 30 hari ):
a. Fase 1:
Haid.
Hari 1 – 5.
Lendir atau dapat ada atau tidak, dan “ tertutup
“ oleh darah haid.
Perasaan wanita: basa dan licin ( librikatif ).
b. Fase 2:
Pasca- haid.
Hari ke- 6 – 10.
Tidak ada lendir atau hanya sedikit sekali.
9
Perasaan wanita : kering.
c. Fase 3:
Awal pra – ovulasi.
Hari 11 – 13.
Lendir keruh, uning atau putih, dan liat.
Perasaan wanita: liat dan / atau lembab.
[Link] 4:
Segera sebelum, pada saat dan sesudah ovulasi.
Hari 14-17.
Lendir bersifat jernih, licin, basah, dapat
diregangkan.
Dengan konstintensi seperti putih telur.
Hari terakhir darifase ini di kenal sebagai “
gejala-puncak” ( peak symptom ).
Perasaan wanita : lubrikatif dan / atau basah.
e. Fase 5:
Pasca – ovulasi
Hari 18-21.
Lendir sedikit, keruh, dan liat.
Perasaan wanita: liat dan atau lembab.
f. Fase 6:
Akhir pasca- ovulasi atau segera pra – haid.
Hari 27-30.
Lendir jernih dan seperti air.
Persaan wanita : liat dan / atau lembab dan /
atau basah.
10
Saat haid Jumlah Viskositas warna Spinbarkeit Ferning
Pasca haid moderat kental Bberawan <1 tidak
, kuning
atau putih
Mendekati bertambah Agak Campuran 1-1.5 moderat
ovulasi kental berawan
sampai dan jernih
tipis
Ovulasi maksimum Sangat jernih 6-8 Berkem
tipis dan bang
licin sempurn
a
Post-ovulasi( +_ berkurang tipis Campuran 4-6 Minimal
3 hari ) berawan atau
dan jernih tidak
Mendekati haid minimal kental berawan < 1-1.5 tidak
D. Tehnik metode lendir serviks:
Abstinens dimulai pada hari pertama di ketahui adanya lendir setelah haid
dan berlanjut sampai dengan hari ke-empat setelah gejala puncak (peak
symptom).
E. Penyulit-penyulit metode lendir serviks:
a. Keadan fisiologis: sekresi vagina karena rangsangan seksual
b. Kadaan patologis: infeksi vagina,serviks,penyakit-
penyakit,pemakaian obat-obat.
c. Keadaan psikologis: stress (fisik dan emosional)
F. Efektivitas metode lendir serviks
a. Angka kegagalan: 0,4-39,7 kehamilan pada 100 wanita pertahun
11
b. Disamping abstinens pada saat yang diperlukan, masih ada 3 sebab
lain terjadinya kegagalan/kehamilan:
Pengeluaran lendir mulainya terlambat
Gejala puncak (peak symptom) timbul terlalu awal atau dini
Lendir tidak dirasakan oleh si-wanita atau dinilai/interpretasi
salah. ([Link] Hartono,2013)
12
Adanya cairan pra-ejakulasi (yang sebelumnya
sudah tersimpan dalam kelenjar prostat,
urethra,kelenjar cowper), yang dapat keluar setiap
saat,dan setiap tetes sudah mengandung berjuta-
juta spermatozoa.
Kurangnya kontrol-diri pria, yang pada metode ini
justru sangat penting.
2. Kenikmatan seksual berkurang bagi suami-istri, sehingga dapat
mempengaruhi kehidupan perkawinan ([Link] Hartono,2013).
E. Indikasi
Suami yang ingin berpartisipasi aktif dalam keluarga berencana.
Pasangan yang taat beragama atau mempunyai alasan filosofi
untuk tidak memakai metode-metode lain.
Pasangan yang memerlukan kontrasepsi dengan segera.
Pasangan yang memerlukan metode sementara, sambil menunggu
metode yang lain.
Pasangan yang membutuhkan metode pendukung.
Pasangan yang melakukan hubungan seksual tidak teratur
([Link]. Abdul Bari Saifuddin,2006).
F. Kontra-indikasi
Suami dengan pengalaman ejakulasi dini.
Suami yang sulit melakukan sanggama terputus.
Suami yang memiliki kelainan fisik atau psikologis.
Istri yang mempunyai pasangan yang sulit bekerja sama.
Pasangan yang kurang dapat saling berkomunikasi.
Pasangan yang tidak bersedia melakukan sanggama terputus
([Link]. Abdul Bari Saifuddin,2006).
13
G. Hal-hal penting yang harus diketahui oleh akseptor:
1. Sebelum sanggama, cairan pra-ejakulasi pada ujung penis harus
dibersikan terlebih dahulu.
2. Bila pria merasa akan ber-ejakulasi, ia harus segera mengeluarkan
penisnya dari dalam vagina, dan selanjutnya ejakulasi dilakukan
jauh dari orificium vagina.
3. Coitus interruptus bukan merupakan metode kontrasepsi yang
baik bila pasangan suami-istri menginginkan sanggama yang
berulang-kali, karena semen yang masih dapat tertinggl di dalam
cairan bening pada ujung penis.
4. Coitus interruptus bukan metode kontrasepsi yang baik bila suami
mempunyai kesulitan untuk mengetahui kapan ia akan
berejakulasi.
5. Coitus interruptus cukup tepat untuk suami yang tidak
mempunyai “perembesan” dari cairan pra-ejakulasi sebelum
sanggama.
6. Coitus interruptus masih merupakan metode kontrasepsi yang
lebih baik dari pada sama sekali tidak memakai metode apapun
([Link] Hartono,2013).
H. KIE
Meningkatkan kerja sama dan membanggun saling pengertian
sebelum melakukan hubungan seksual dan pasangan harus
mendiskusikan dan menyepakati penggunaan metode sanggama
terputus.
Sebelum berhubungan pria terlebih dahulu mengosongkan
kandung kemih dan membersihkan ujung penis untuk
menghilangkan sperma dari ejakulasi sebelumnya.
Apabila merasa akan ejakulasi, pria segera mengeluarkan
penisnya dari vagina pasangannya dan mengeluarkan sperma di
luar vagina.
14
Pastikan pria tidak terlambat melaksanakannya.
Sanggama tidak dianjurkan pada masa subur ([Link]. Abdul Bari
Saifuddin,2006).
15
D. Kerugian
1. Perlu persiapan sejak perawatan kehamilan agar segera menyusui
dalam 30 menit pascapersalinan.
2. Mungkin sulit dilaksanakan karena kondisi sosial.
3. Efektivitas tinggi hanya sampai kembalinya haid atau sampai
dengan 6 bulan.
4. Tidak melindungi terhadap IMS termasuk virus hepatitis B/HBV
dan HIV/AIDS.
([Link] Bari Saifuddin,2006)
E. Indikasi
Ibu yang menyusui secara eksklusif, bayinya berumur kurang
dari 6 bulan dan belum mendapat haid setelah melahirkan.
([Link] Bari Saifuddin,2006).
F. Kontra-indikasi
Sudah mendapat haid setelah bersalin.
Tidak menyusui secara eksklusif.
Bayinya sudah berumur lebih dari 6 bulan.
Bekerja dan terpisah dari bayi lebih lama dari 6 jam
16
waktu menyusui berikutnya sehingga kedua payudara
memproduksi banyak susu.
Waktu antara 2 pengosongan payudara tidak lebih dari 4 jam.
Biarkan bayi menghisap sampai dia sendiri yang melepaskan
hisapannya.
Susui bayi ibu juga pada malam hari karena menyusui waktu
malam membantu mempertahankan kecukupan persedian ASI.
Bayi terus disusukan walau ibu/bayi sedang sakit.
ASI dapat disimpan dalam lemari pendingin.
Kapan mulai memberikan makanan padat sebagai makanan
pendamping ASI.
Selama bayi tumbuh dan berkembang dengan baik serta kenaikan
berat badan cukup, bayi tidak memerlukan makanan selain ASI
sampai dengan umur 6 bulan. (berat badan naik sesuai
umur,sebulan BB naikminimal 0,5 kg,ngompol sedikitnya 6 kali
sehari).
Apabila ibu menggantikan ASI dengan minuman atau makanan
lain,bayi akan menghisap kurang sering dan akibatnya menyusui
tidak lai efektif sebagai metode kontrasepsi.
Haid
Ketika ibu mulai dapat haid lagi, itu pertanda ibu sudah subur
kembali dan harus segera mulai menggunakan metode KB
lainnya.
Untuk kontrasepsi dan kesehatan
Anda memerlukan metode kontrasepsi lain ketika anda mulai
dapat haid lagi,jika anda tidak lagi menyusui secara eksklusif
atau bila bayi anda sudah berumur 6 bulan.
Konsultasi dengan bidan atau dokter atau di klinik/puskesmas
sebelum anda mulai memakai metode kontrasepsi lainnya.
17
Jika suami/pasangan anda berisiko tinggi terpapar infeksi
menular seksual,termasuk AIDS, anda harus pakai kondom
ketika pakai MAL.
Apa yang harus dilakukan bila anda menyusui tidak secara
eksklusif atau berhenti menyusui.
Anda perlu kondom atau metode kontrasepsi lain ketika
anda tidak menyusui lagi secara eksklusif.
Ke klinik KB untuk membantu memilihkan atau
memberikan metode kontrasepsi lain yang sesuai.
18
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Metode KB sederhana adalah metode KB yang digunakan tanpa bantuan orang lain.
Yang termasuk metode KB sederhana adalah panjang berkala, sanggama terputus,
dan spermisid. Metode sederhana akan lebih efektif bila penggunaanya
diperhitungkan dengan masa subur. ( dr. Ida Ayu, 2010 ). Diketahui bahwa ovum
manusia mempunyai masa hidup 12 sampai 24 jam. Sedangkan masa hidup
spermatozoa yang fertil didalam traktus genetalia wanita adalah 48 sampai 72 jam,
dengan kemungkinan bahwa masa hidup dan daya fertilisasi tersebut dapat relative
lebih lama. Macam-macam kontrasepsi sederhana tanpa alat:
3.2 Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
kritik dan saran sangat di perlukan oleh penulis untuk penyempurnaan makalah
ini. Terimakasih.
19
DAFTAR PUSTAKA
20