Proses dan Bahan Produksi Roti
Proses dan Bahan Produksi Roti
PRODUKSI ROTI
A. Pengetahuan yang Diperlukan dalam Memilih dan Menangani Bahan untuk Proses
Produksi Roti
1. Jenis dan jumlah kebutuhan bahan baku dan jumlah bahan pembantu untuk
satu periode proses.
a. Definisi – definisi
Roti
Menurut SNI 1995, definisi roti adalah produk yang diperoleh dari adonan tepung
terigu yang diragikan dengan ragi roti dan dipanggang, dengan atau tanpa
penambahan bahan makanan lain dan bahan tambahan makanan yang diijinkan.
Dengan kata lain Roti adalah produk makanan yang terbuat dari fermentasi tepung
terigu dengan ragi atau bahan pengembang lainnya yang kemudian dipanggang.
Roti manis
Roti manis adalah produk makanan yang terbuat dari fermentasi tepung terigu
dengan ragi dan rasanya manis karena banyak menggunakan gula. Biasanya roti
manis dibentuk dan diberi isian sesuai dengan selera. Roti manis mudah dalam
pembentukan dan pengisian, produk atau bentuk dari roti manis sangat banyak, isian
roti manis bisa dari selai buah, keju, meises, kelapa, kacang-kacangan, sosis, dan
lain-lain. Roti manis juga bisa diberi toping seperti abon sapi, keju tabur, dan lain-
lain.
b. Jenis – jenis Bahan Baku dan Bahan Pembantu dalam pembuatan Roti
manis
Bahan untuk membuat roti terdiri atas bahan baku yaitu terigu, ragi, air, dan garam;
bahan pembantu yaitu gula, susu, telur, dan lemak; serta bahan tambahan yang
dikenal sebagai bread improver.
1
PRODUKSI ROTI
Air
Proses pembuatan roti memerlukan air, baik yang sudah dimasak maupun yang
belum dimasak. Fungsi dari air dalam pembuatan roti adalah:
a) Melarutkan bahan
b) Mengontrol suhu adonan
c) Mengontrol kepadatan adonan
d) Membentuk gluten.
Air yang baik untuk membuat roti adalah air yang kandungan mineralnya tidak
terlalu banyak. Air yang mengandung kapur akan menyebabkan roti keras, air
yang mengandung besi akan menyebabkan roti menjadi tidak menarik warnanya.
Air yang digunakan untuk proses pembuatan roti boleh air dingin atau air es,
maupun air hangat kuku. Air panas tidak boleh digunakan karena akan
menyebabkan ragi tidak aktif atau mati.
Ragi/Yeast
Ragi/Yeast adalah kelompok mikroorganisme yang dapat menghasilkan gas
sehingga adonan dapat mengembang, menghasilkan asam yang dapat
melunakkan gluten, serta memberikan rasa dan aroma khas pada roti.
Mikroorganisme yang digunakan adalah Saccharomyces cerevisiae. Ada beberapa
jenis ragi, yaitu :
a) Ragi segar/ragi basah (fresh yeast), yaitu berbentuk padat, penggunaannya
dengan cara diremas-remas dan dicampur dalam adonan.
b) Ragi instan (instant yeast), berbentuk butiran halus, penggunaannya
dicampur bersama bahan kering, kecuali garam
c) Ragi koral (active dry yeast), berbentuk butiran seperti merica,
penggunaannya dilarutkan terlebih dahulu dalam air hangat (suam-suam
kuku)
Garam
Garam berfungsi untuk menimbulkan rasa gurih dan lezat, mengendalikan waktu
fermentasi, dan menambah kekuatan gluten. Garam yang baik digunakan dalam
pembuatan roti adalah garam yang halus, kering, tidak menggumpal, bersih, dan
mudah larut dalam air
2
PRODUKSI ROTI
2) Bahan Pembantu
Gula
Gula merupakan sumber makanan dan energi bagi ragi. Selain sebagai sumber
energi, gula juga dapat memberi rasa manis, memberikan warna kecoklatan,
melembutkan gluten sehingga roti menjadi lebih empuk, dan menahan
keempukan lebih lama. Gula yang baik digunakan adalah gula yang bersih dan
mempunyai ukuran kristal tidak terlalu besar. Penggunaan gula yang terlalu
banyak akan menghambat proses fermentasi dan menyebabkan adonan menjadi
lengket. Oleh karena itu ada batasan penggunaan gula, yaitu setiap pemakaian
gula 8%, diperlukan ragi 1%.
Susu
Susu yang digunakan baik berupa susu bubuk maupun susu cair. Untuk
produsen roti, lebih baik menggunakan susu bubuk, karena mempunyai daya
simpan yang lebih lama dan tempat penyimpanan yang lebih kecil. Susu bubuk
dapat menambah daya absorbsi atau serap air. Susu yang digunakan susu skim
yang kadar lemak susunya berkisar 1% atau full cream yang lemak susunya
sekitar 29%.
Telur
Telur berfungsi sebagai pengembang, pembentuk warna, perbaikan rasa, dan
penambah nilai gizi. Pada umumnya telur yang digunakan adalah telur ayam
atau telur bebek. Jika dalam adonan tidak ditambahkan telur, maka adonan
harus ditambah cairan walaupun hasilnya kurang memuaskan.
Roti yang empuk dapat diperoleh dengan menambahkan kuning telur yang lebih
banyak. Kuning telur banyak mengandung lesitin yang berperan sebagai
emulsifier. Bentuknya padat tetapi kadar airnya sekitar 50%. Sementara putih
telur kadar airnya 86%. Putih telur mempunyai sifat creaming yang lebih baik
dibandingkan kuning telur.
Lemak
Lemak berfungsi sebagai pelumas untuk pengembangan sel yang akan
memperbaiki tekstur, memudahkan pemotongan roti, dan melembutkan serat
roti. Pilihlah lemak yang masih baik, yang tidak berbau tengik.
Ada berbagai macam lemak, yaitu:
a) Margarin, mengandung 80-90% lemak nabati, 16% air, 2-4% garam dan
emulsifier.
b) Shortening, mengandung 99% lemak nabati atau hewani dan 1% air.
c) Butter, mengandung 83% lemak susu, 14% air, dan 3% garam atau mineral
lain.
3
PRODUKSI ROTI
besar dalam oven. Selain itu bertujuan pula untuk menahan air dalam roti yang
mengakibatkan roti menjadi lebih lembut. Tidak semua proses pembuatan roti
menggunakan bahan tambahan ini.
4
PRODUKSI ROTI
b. Bahan Pembantu
Jenis Bahan
Faktor Mutu
Pembantu
Gula pasir • Bersih
• Ukuran kristal tidak terlalu besar
• Tidak menggumpal
Susu Bubuk • Tidak menggumpal
• Tidak berubah warna
• Tidak berbau tengik
Susu Cair • Warna putih susu dan kental
• Cairannya konstan dan tidak menggumpal.
• Aroma khas susu, tidak bau asam, tengik atau bau amis.
• Berat jenis lebih tinggi dari air (diatas 1,0).
• Kalau dituang dari gelas masih menempel di dinding gelas.
• Kalau dimasak akan terbentuk lapisan busa lemak (foam).
• Bebas dari kotoran fisik seperti darah, debu, bulu serangga
dan lain-lain
Telur • Kulit telur tidak retak,
• Bila diteropong dengan bantuan lampu, kuning telur masih baik
dan terletak di tengah, serta gelembung udara masih kecil,
• Kekentalan/konsistensi putih telur masih baik,
• Bila dipecahkan dan disimpan pada piring kecil, posisi kuning
telur berada di tengah.
• Bila dimasukkan ke dalam segelas air, telur melayang telur
sudah disimpan lebih dari 20 hari, kalau tenggelam dengan
posisi berdiri telur sudah disimpan lebih lama lagi. Kualitas telur
yang baik adalah telur yang tenggelam dengan posisi
tidur/mendatar
Lemak • Bersih
• Segar
• Memiliki aroma dan rasa yang baik
• Bebas dari ketengikan dan memiliki konsistensi yang lunak
• Tekstur plastis
• Berwarna putih atau kekuningan
Improver • Tidak menggumpal
• Tidak berjamur
5
PRODUKSI ROTI
Mixer : Harus dalam keadaan bersih dari kotoran dan sisa-sisa yang
menempel, body mixer dibersihkan dengan kain basah, jangan
merendam body mixer dalam air, cuci bowl mixer dengan tangan
menggunakan cairan pembersih dan segera keringkan, serta cuci
pengaduk mixer dengan tangan menggunakan cairan pembersih
dan segera keringkan.
Roller : Harus bersih dari segala kotoran/kerak roti yang menempel, tidak
boleh berkarat.
Scapper : Harus bersih dari segala kotoran/kerak roti yang menempel, tidak
boleh berkarat. Dibersihkan menggunakan kain basah setelah dan
sebelum digunakan sehingga scapper tetap dalam keadaan bersih.
6
PRODUKSI ROTI
Proofer : Air yang ada di wadah bagian dalam harus bersih, tidak berbau
dan tidak berwarna. Bagian dalam proofer harus bersih dari
kotoran agar tidak mempengaruhi proses pengembangan akhir
adonan.
Oven : Bagian dalam oven harus bersih dari segala kotoran/kerak roti
(sisa - sisa) yang menempel agar proses pemanggangan optimal.
Rack Trailer : harus bersih dari segala kotoran/kerak roti (sisa-sisa) yang
menempel.
7
PRODUKSI ROTI
b. Gelas ukur
Seperti halnya dengan timbangan, gelas ukur digunakan untuk mengukur cairan
yang akan digunakan dalam pembuatan produk-produk bakery. Gelas ukur yang
dipilih juga harus sesuai dengan kebutuhan, besar kecilnya bahan yang akan
diukur.
c. Mixer
Mixer sebagai alat pengaduk adonan produk-produk bakery berbeda dengan
mixer untuk membuat cake. Perbedaannya terletak pada alat pengaduknya.
Biasanya pada mixer ada tiga alat pengaduk, yaitu :
1) wisk yang digunakan untuk mengaduk adonan yang ringan seperti dalam
pembuatan cake,
2) padle, digunakan untuk mengaduk bahan yang agak berat, seperti dalam
pembuatan pie dan cookies,
3) hook, digunakan untuk mengaduk bahan-bahan atau adonan yang berat
seperti dalam pembuatan adonan roti dan pastry.
8
PRODUKSI ROTI
d. Dough Divider
Dough Divider adalah alat yang dapat
membagi adonan menjadi beberapa
potong dengan berat yang seragam
sebelum adonan diisi dan dibentuk.
Apabila alat ini tidak ada, adonan
dapat dibagi dengan cara
penimbangan dengan berat yang
sama.
e. Loyang/Baking Sheet
Sebaiknya alat ini dipilih yang berbahan dasar aluminium karena ringan, tidak
mudah berkarat, penghantar panas yang baik, dan tidak menyerap panas radiasi
(sinar). Dalam pembuatan roti dibutuhkan tiga macam loyang untuk membuat
berbagai roti yang berbeda, yaitu loyang terbuka, loyang tinggi dan terbuka, serta
loyang tinggi dan tertutup. Pembuatan roti manis memerlukan loyang terbuka
dengan tinggi 2-3 cm, roti tawar memerlukan loyang tinggi dan terbuka dengan
ukuran yang biasa/umum digunakan 25 cm x 10 cm x 12,5 cm, sedangkan roti
sandwich memerlukan loyang tinggi dan tertutup dengan ukuran normal 30 cm x
10 cm x 15 cm.
Sebelum digunakan loyang-loyang tersebut harus dalam keadaan bersih
dengan cara dilap dengan lap yang bersih, tidak perlu setiap saat dicuci karena
akan membuat loyang tersebut menjadi lengket atau produk roti sulit untuk
dikeluarkan.
f. Proof Box/Proover
Proof box/proover adalah
ruangan/alat yang mempunyai suhu
panas tetapi lembab yang berfungsi
untuk kegiatan fermentasi akhir adonan
setelah diisi dan dibentuk. Apabila alat
tersebut tidak ada, dapat diganti dengan
tray yang ditutup plastik atau lap basah.
Atau bila ingin memodifikasi alat ini,
dapat menggunakan lemari yang diberi
uap air panas yang dihembuskan atau
dialirkan ke dalam alat tersebut.
9
PRODUKSI ROTI
g. Oven
Oven untuk memanggang roti
mempunyai ukuran dan jenis yang
bermacam-macam. Ada yang memakai
listrik dan gas, dengan listrik, gas,
ataupun yang diletakkan di atas kompor.
Kapasitas ovenpun bermacam-macam,
ada yang kapasitas kecil dengan loyang
kecil, kapasitas sedang, dan kapasitas
besar. Pemilihan oven sangat tergantung
dari seberapa besar produk yang akan
dibuat.
Sebelum digunakan, oven harus
diperiksa kebersihannya, dan kesiapan
untuk operasional. Pada saat mengambil
loyang dari dalam oven, jangan lupa
memakai alat bantu agar tangan tidak
luka, melepuh atau terbakar
h. Rak Pendingin
Rak pendingin yang digunakan
adalah rak pendingin yang berlubang.
Fungsi alat ini adalah untuk
mendinginkan roti yang baru keluar dari
oven, fungsi lubang pada rak pendingin
untuk mempercepat proses pendinginan
dan tidak timbulnya uap air pada dasar
roti sehingga roti yang dihasilkan tidak
mudah berjamur.
i. Roller
Roller adalah alat yang digunakan untuk mencetak atau membentuk adonan.
Alat ini ada yang terbuat dari kayu atau aluminium. Selain itu, roller dapat
menggantikan fungsi dough shitter dalam proses pelipatan adonan.
10
PRODUKSI ROTI
11
PRODUKSI ROTI
c. Pengembangan/Fermentasi awal
Pada proses ini terjadi reaksi antara gula dan ragi sehingga terbentuk gas
CO2, alkohol, dan asam-asam organik yang menimbulkan bau yang khas. Gas
CO2 akan terlihat dengan tanda adonan yang mengembang; alkohol dan asam-
asam organik ditandai dengan bau yang khas.
Karbohidrat yang mengalami proses peragian terdiri dari tepung, pati, dan
gula pasir. Apabila dalam resep digunakan gula biang, maka gula ini tidak akan
mengalami proses peragian karena gula biang tidak termasuk kelompok
karbohidrat.
12
PRODUKSI ROTI
i. Fermentasi akhir
Pengembangan akhir/Final proofing merupakan tahap fermentasi akhir
sehingga terjadi pengembangan adonan yang mencapai volume optimum.
Sebelum dibakar atau digoreng, adonan dikembangkan sampai maksimal agar
didapatkan produk yang baik. Suhu yang dipakai adalah 35-44C, kelembaban
80–85%, dan waktu sekitar 45-60 menit untuk roti manis dan roti tawar.
j. Pemangganggan
Pemanggangan merupakan proses pematangan adonan menjadi roti
yang dapat dicerna oleh tubuh dan menimbulkan aroma yang khas.
Pemanggangan merupakan aspek yang kritis dari urutan proses untuk
menghasilkan roti yang berkualitas tinggi. Volume roti akan bertambah pada
saat masuk oven sampai 5 menit kemudian, sampai ragi dimatikan oleh panas
pada suhu 65C. Karamelisasi mulai terbentuk secara perlahan-lahan. Suhu
pembakaran tergantung pada jenis roti atau produk yang diinginkan. Sebagai
contoh, untuk roti tawar pembakaran dilakukan pada suhu 200C selama 30 –
45 menit, sedangkan roti manis pada suhu 170 – 180C selama 15 menit.
Pemanggangan terlalu lama dapat menyebabkan kekerasan dan penampakan
yang tidak baik.
k. Pendinginan
Pendinginan ini secara normal memakan waktu 1 jam dan lebih singkat
jika menggunakan alat bantu berupa fan atau alat lainnya. Kalau roti (misal roti
tawar) akan dipotong, sebaiknya suhu roti antara 32 - 49C, agar remah roti
tidak rusak.
l. Pengemasan
Pengemasan memegang peranan penting dalam pengawetan dan
mempertahankan mutu bahan hasil pertanian. Adanya wadah atau pembungkus
dapat membantu mencegah atau mengurangi kerusakan, melindungi bahan
pangan yang ada didalamnya, melindungi dari bahaya pencemaran serta
gangguan fisik (gesekan, benturan, getaran).
13
PRODUKSI ROTI
b. Penimbangan Bahan
Semua bahan ditimbang sesuai dengan formula yang sudah ditetapkan
oleh perusahaan. Proses penimbangan harus dilakukan dengan benar agar
tidak terjadi kesalahan dalam penggunaan jumlah bahan. Dalam pemilihan
timbangan juga harus disesuaikan dengan bahan yang akan ditimbang. Untuk
bahan seperti tepung, margarine, gula, dan telur menggunakan timbangan
besar, sedangkan untuk bahan seperti, garam, ragi, dan bahan pengembang
menggunakan timbangan kecil. Untuk mendapatkan kualitas yang baik maka
penimbangan dilakukan dengan teliti.
14
PRODUKSI ROTI
d. Peragian (Fermentasi)
Fungsi ragi (yeast) dalam pembuatan roti adalah untuk proses aerasi
adonan dengan mengubah gula menjadi gas karbondioksida, sehingga
mematangkan dan mengempukkan gluten dalam adonan. Kondisi dari gluten
ini akan memungkinkan untuk mengembangkan gas secara merata dan
menahannya, membentuk cita rasa akibat terjadinya proses fermentasi. Suhu
ruangan 35°C dan kelembaban udara 75% merupakan kondisi yang ideal dalam
proses fermentasi adonan roti. Semakin panas suhu ruangan, semakin cepat
proses fermentasi dalam adonan roti. Sebaliknya, semakin rendah suhu
ruangan semakin lama proses fermentasi. Selama peragian, adonan menjadi
lebih besar dan ringan.
Fermentasi dilakukan dengan dua tahap yaitu yang pertama fermentasi I
yaitu fermentasi yang setelah pencampuran atau pengadukan diistirahatkan
selama 20-30 menit supaya adonan yaang belum dipotong tersebut
mengembang. Yang kedua yaitu fermentasi II, fermentasi yang dilakukan
setelah proses pemotongan adonan yang difermentasi pertama lalu ditimbang
dan didiamkan kembali selama ± 5-10 menit supaya adonan mengembang dua
kali lipat dari sebelumnya.
15
PRODUKSI ROTI
16
PRODUKSI ROTI
supaya lipatan tersebut tidak terbuka dan akan lebih terlihat rapih, beri jarak
sekitar 2-3 jari. Selanjutnya, adonan didiamkan dalam mesin proofer selama
30-45 menit atau apabila adonan sudah mengembang dua kali lipat dan bagian
bawah sudah tidak kengket lagi, itu tandanya sudah selesai. Sebelum
dimasukkan ke dalam oven adonan dioles dengan kuning telur supaya
warnanya lebih mengkilat dan didekor sesuai dengan kebutuhan untuk
membedakan jenis isian roti tersebut.
j. Pembakaran (Baking)
Setelah dibentuk sesuai yang dibutuhkan dan dikembangkan secara
optimal, adonan siap dipanggang di dalam oven. Ada dua cara memanggang
roti, yaitu dengan uap dan tanpa uap, tergantung dari jenis roti yang dibuat.
Untuk beberapa jenis roti, dilakukan memanggang dengan uap karena akan
lebih baik, atau memang perlu untuk memberikan uap di dalam oven. Ini akan
menghasilkan kelembaban yang tinggi dalam oven yang akan menjaga kulit
tetap basah, sehingga oven proof lebih baik dan pengembangan volume roti
tercapai. Pada proses pemanggangan roti memiliki suhu dan waktu yang
berbeda, seringkali dipanggang pada suhu 190°C selama 5-15 menit namun
semua tetap tergantung jenisnya.
k. Pendinginan
Proses pendinginan roti setelah keluar dari oven mempunyai titik kritikal,
yang mana pada proses pendinginan tersebut menentukan daya tahan roti pada
rak – rak penjualan serta menentukan kualitas dari irisan roti.
Roti harus didinginkan dengan cara yang benar karena dua alasan yaitu
saat diiris suhu bagian tengah roti harus lebih rendah dari 35°C, jika tidak maka
irisan akan menempel kembali, dan untuk menghindari kontaminasi
mikrobiologi karena roti yang pendinginannya memakai angin dari udara
terbuka akan mudah berjamur (Mita, 2011).
Pendinginan dapat dilakukan dengan cara meletakkan roti pada tray/rak
yang kemudian disemburkan udara sejuk dengan kipas angin walaupun
terdapat resiko roti akan cepat berjamur karena ditumbuhi mikroba namun ini
efektif untuk menjadikan roti agar cepat dingin, atau dibiarkan dingin pada rak
pendinginan.
l. Pengemasan
Pengemasan merupakan suatu cara atau perlakuan pengamanan
terhadap makanan/bahan pangan, agara makanan atau bahan pangan baik
yang belum diolah maupun yang telah mengalami pengolahan, dapat sampai
ke tangan konsumen dalam keadaan baik secara kualitas maupun kuantitas.
Pengemasan memegang peranan penting dalam pengawetan dan
mempertahankan mutu bahan hasil pertanian. Adanya wadah atau
pembungkus dapat membantu mencegah atau mengurangi kerusakan,
melindungi bahan pangan yang ada didalamnya, melindungi dari bahaya
pencemaran serta gangguan fisik (gesekan, benturan, getaran).
17
PRODUKSI ROTI
PEMOTONGAN &
FERMENTASI AWAL PENGADUKAN
PENIMBANGAN
PEMANGGANGAN/ FERMENTASI
PENDINGINAN
PEMBAKARAN AKHIR
PENGEMASAN ROTI
MANIS
18
PRODUKSI ROTI
b. Proses Fermentasi
Proses penghentian yang tepat saat lama fermentasi akhir dalam
proofer untuk roti manis 45 - 60 menit, roti tawar ± 30 menit atau tergantung
kebutuhan. Angkat adonan yang sudah mengembang dan jangan dibiarkan
terlalu lama difermentasi karena berakibat roti akan menjadi kempes setelah
dipanggang. Setelah mengangkat adonan, proofer dimatikan. Matikan alat
dengan cara menekan semua tombol ke posisi OFF / angka 0 kecuali bagian
ventilasi (dibiarkan sebentar untuk menghilangkan udara/ bau setelah
pemakaian yang lama).
19
PRODUKSI ROTI
c. Proses pemanggangan
Penghentian yang tepat saat waktu yang digunakan untuk
pemanggangan adalah 15 – 20 menit dengan suhu 180 – 200°C atau
tergantung kebutuhan. Angkat roti yang sudah matang (sesuai karakteristik/
spesifikasi produk) dan jangan dibiarkan terlalu lama karena roti akan hangus.
Setelah mengangkat roti oven dimatikan. Untuk mematikan oven tekan
tombol bertanda petir pada posisi 0, dan putar pelan-pelan tombol pengatur
suhu pada angka 0. Matikan stabilizer dengan menekan tombol OFF. Buka pintu
oven untuk menurunkan suhu.
20
PRODUKSI ROTI
21
Memantau titik kontrol seperti fermentasi dan pencampuran sangat penting untuk memastikan adonan mencapai konsistensi dan volume yang optimal. Pelanggaran dalam prosedur kontrol dapat menyebabkan fermentasi yang tidak sempurna, sehingga mengakibatkan roti yang tidak mengembang dengan baik, tekstur kasar, atau rasa yang tidak semestinya. Kontrol ketat memastikan setiap tahap sesuai spesifikasi untuk mencapai mutu produk yang diinginkan .
Bahan tambahan kimia seperti bread improver digunakan dalam pembuatan roti untuk memperlambat pengerasan adonan selama pembakaran dan menahan air, sehingga roti menjadi lebih lembut. Hal ini memungkinkan adonan mengembang lebih besar dalam oven. Tidak semua resep roti menggunakan bahan ini karena tujuannya tergantung pada jenis roti yang ingin dihasilkan dan proses spesifik dari pembuatannya .
Lemak berfungsi sebagai pelumas dalam adonan roti, memberikan tekstur lembut, membantu memperbaiki struktur, dan memudahkan pemotongan. Beragam jenis lemak seperti margarin, shortening, dan butter memiliki komposisi dan fungsi berbeda yang dapat mempengaruhi rasa, aroma, dan kelembutan roti. Contohnya, margarin memberikan rasa netral, sementara butter menambah rasa dan aroma khas .
Garam berkontribusi pada rasa gurih dan menambah kekuatan gluten dalam adonan roti, yang memengaruhi struktur dan stabilitasnya. Namun, garam tidak boleh dicampur langsung dengan ragi karena dapat menghambat aktivitas fermentasi ragi, menyebabkan adonan tidak mengembang dengan baik. Oleh karena itu, garam biasanya ditambahkan setelah ragi dan bahan lain sudah dicampur .
Penggunaan terlalu banyak gula dalam adonan roti dapat menghambat aktivitas ragi, karena gula yang berlebihan menyerap air yang dibutuhkan oleh ragi untuk fermentasi, dan menyebabkan adonan menjadi lengket. Hal ini dapat mengakibatkan fermentasi yang lambat dan tekstur roti yang kurang mengembang serta lembaran yang kering .
Intermediate proof adalah tahap pengistirahatan adonan untuk beberapa saat pada suhu 35-36°C dengan kelembaban 80-83%. Tahap ini penting untuk mempermudah adonan di-roll dan dibentuk, memberikan waktu bagi gluten untuk mengendur sebelum pembentukan, sehingga adonan lebih elastis dan lebih mudah dimanipulasi. Ini mencegah keretakan saat pembentukan dan membantu mempertahankan struktur yang diinginkan .
Dalam proses pencampuran adonan roti, pengendalian suhu air dan waktu pengadukan adalah kritis karena mempengaruhi konsistensi gluten dan fermentasi. Suhu air yang terlalu tinggi dapat menyebabkan fermentasi yang tidak terkendali, sementara waktu pengadukan yang terlalu lama dapat merusak struktur gluten sehingga adonan tidak mampu menahan gas dan mengembang secara optimal. Kesalahan dalam pengaturan ini dapat menghasilkan roti yang kurang berkualitas, seperti tekstur yang padat atau rasa yang tidak sesuai .
Air dengan kandungan mineral tinggi harus dihindari karena dapat mempengaruhi tekstur dan penampilan roti. Air yang mengandung kapur dapat membuat roti menjadi keras, sementara air yang mengandung besi dapat memberi warna yang tidak menarik pada roti. Oleh karena itu, air yang digunakan harus jernih dan bebas dari mineral yang dapat bereaksi negatif dengan bahan lain dalam adonan .
Untuk membuat roti manis, disarankan menggunakan tepung terigu dengan kandungan protein sedang, yaitu sekitar 10-11%. Tepung ini ideal karena memberikan keseimbangan yang baik antara adonan yang cukup elastis untuk menahan gas selama fermentasi tetapi juga lembut untuk menghasilkan tekstur yang diinginkan dalam roti manis. Pemilihan ini penting agar hasil akhir memiliki struktur yang baik dan keempukan yang diinginkan .
Ragi berfungsi sebagai agen fermentasi dalam pembuatan roti, mengandung mikroorganisme seperti Saccharomyces cerevisiae yang menghasilkan gas karbon dioksida, sehingga adonan dapat mengembang. Selain itu, ragi menghasilkan asam yang melunakkan gluten dan memberikan rasa serta aroma khas pada roti. Mikroorganisme ini penting untuk proses fermentasi yang menambah volume dan meningkatkan kualitas organoleptik produk akhir roti .