Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas XII
Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas XII
BAHASA
Mata pelajaran : XII / Genap
Alokasi waktu : Bahasa Indonesia
Jumlah siswa : 6 JP
INDONESIA
KOMPETENSI AWAL
Fase : 36
:F
PERTEMUAN 2
A. Pendahuluan
1. Guru menyapa peserta didik
2. Guru melakukan apersepsi pembelajaran
Siswa diajak melakukan sebuah adegan seakan-akan di luar kelas
2
Ada 3 anak duduk di depan kelas, kemudian seorang guru berjalan di depannya. (kesadaran
sosial)
Guru melihat apa yang dilakukan 3 anak tersebut pada guru yang lewat
Guru meminta murid lain merefleksikan kejadian tersebut
Guru menanyakan pada murid nilai moral yang ada dalam sketsa tersebut <berempati pada
sesama dan orang yang lebih tua>
3. Guru melakukan apersepsi pembelajaran
B. Inti
1. Peserta didik bersama guru membuat kesepakatan kelas sebelum pembelajaran dimulai
- Meminta izin jika akan memegang atau meminjam barang milik orang lain (manajemen diri
dan kesadaran sosial)
- Megacungkan tangan sebelum bertanya atau menyampaikan pendapat (manajemen diri dan
kesadaran sosial)
- Menghargai orang yang sedang berbicara dengan mendengarkannya (manajemen diri dan
kesadaran sosial)
- Masing-masing kelompok memberikan tanggapan atau umpan balik dengan bahasa yang santun
(manajemen diri dan kesadaran sosial)
2. Peserta didik diminta membaca contoh teks novel/cerpen yang telah diidentifikasi pada pertemuan
sebelumnya
3. Peserta didik mencari berbagai informasi yang terkait dengan teks novel/cerpen di media elektronik
(L1)
4. Peserta didik menilai akurasi dan kualitas teks novel/cerpen berdasarkan informasi yang telah
diperoleh (L3)
5. Peserta didik membandingkan beberapa teks novel/cerpen deagan tema yang sama (L2)
Peserta didik diizinkan membuat dalam bentuk bagan, teks, infpgrafis, gambar, atau video
(deferensiasi produk)
Peserta didik dengan kemampuan lambat diberi penjelasan lebih oleh teman atau guru
(deferensiasi proses)
6. Peserta didik menyampaikan hasil penilaian akurasi, kualitas, dan perbandingan di depan teman
yang lain
7. Peserta didik menyampaikan pendapat tentang hasil kelompok lain (L3)
8. Peserta didik mendapatkan umpan balik dari guru tentang akurasi, kualitas, dan perbandingan teks
novel/cerpen
9. Peserta didik disiapkan untuk penugasan
10. Peserta didik mengumpulkan hasil penilaian akurasi, kualitas, dan perbandingan dalam google form
C. Penutup
1. Guru dan peserta didik menyimpulkan isi akurasi, kualitas, dan perbandingan teks novel/cerpen
2. Guru meminta salah satu peserta didik untuk menyampaikan konklusi dan refleksi pembelajaran
3. Guru mengakhiri pembelajaran
PERTEMUAN 3
A. Pendahuluan
1. Guru menyapa peserta didik
2. Guru melakukan apersepsi pembelajaran
Siswa diajak melakukan sebuah adegan seakan-akan di luar kelas
Ada 3 anak duduk di depan kelas, kemudian seorang guru berjalan di depannya. (kesadaran
sosial)
Guru melihat apa yang dilakukan 3 anak tersebut pada guru yang lewat
Guru meminta murid lain merefleksikan kejadian tersebut
Guru menanyakan pada murid nilai moral yang ada dalam sketsa tersebut <berempati pada
sesama dan orang yang lebih tua>
3. Guru melakukan apersepsi pembelajaran
B. Inti
1. Peserta didik bersama guru membuat kesepakatan kelas sebelum pembelajaran dimulai
- Meminta izin jika akan memegang atau meminjam barang milik orang lain (manajemen diri
dan kesadaran sosial)
- Megacungkan tangan sebelum bertanya atau menyampaikan pendapat (manajemen diri dan
kesadaran sosial)
- Menghargai orang yang sedang berbicara dengan mendengarkannya (manajemen diri dan
kesadaran sosial)
- Masing-masing kelompok memberikan tanggapan atau umpan balik dengan bahasa yang santun
(manajemen diri dan kesadaran sosial)
2. Peserta didik diminta membaca contoh teks novel/cerpen yang telah diidentifikasi pada pertemuan
3
sebelumnya
[Link] didik menulis teks novel/cerpen yang ada sesuai dengan contoh yang telah dibaca
Peserta didik diizinkan membuat dalam bentuk bagan, teks, infografis, gambar, atau video
(deferensiasi produk)
Peserta didik dengan kemampuan lambat diberi penjelasan lebih oleh teman atau guru
(deferensiasi proses)
4. Peserta didik mempresentasikan teks novel/cerpen di depan kelas
5. Peserta didik secara bergantian menyampaikan pendapat atas hasil presentasi kelompok lain (L3)
6. Peserta didik mendapatkan umpan balik dari guru terkait tulisan teks novel/cerpen yang telah
dibuat
7. Peserta didik disiapkan untuk penugasan
8. Peserta didik mengumpulkan teks novel/cerpen dalam google form
C. Penutup
1. Guru dan peserta didik menyimpulkan penulisan teks novel/cerpen yang tepat
2. Guru meminta salah satu peserta didik untuk menyampaikan konklusi dan refleksi pembelajaran
3. Guru mengakhiri pembelajaran
ASESMEN
Diagnostik
Lembar observasi dengan instrumen angket daring di Microsoft form
Kesejahteraan psikologis dan sosial emosi siswa
Aktivitas siswa selama belajar sebelumnya
Kondisi keluarga siswa dan pergaulan siswa
Gaya belajar, karakter, serta minat siswa
Formatif
1. Pengetahuan
Bentuk : tes lisan, dan refleksi
2. Keterampilan
Bentuk : unjuk kerja
3. Sikap Profil Pelajar Pancasila
Bentuk : observasi
Sumatif
Tes tulis
Tes unjuk kerjai
Bentuk asesmen
Tes lisan dan refleksi
Esai
Unjuk kerja
PENGAYAAN DAN REMIDIAL
PENGAYAAN
Peserta didik dengan pencapaian tinggi diberikan pengayaan berupa kegiatan tambahan membaca
teks novel/cerpen
REMIDIAL
Peserta didik yang menemukan kesulitan/sulit memahami konsep dapat diberikan materi tambahan berupa
latihan mandiri dengan guru (dilakukan ketika guru melakukan formatif asesmen, dan peserta didik lainnya
sedang beraktivitas)
Peserta didik diberikan kutipan sebuah teks novel/cerpen dan diidentifikasi isi, ciri, dan bagian
untuk berlatih di luar jam pelajaran
Peserta didik diberikan waktu khusus sebelum masuk kelas pelajaran Bahasa Indonesia untuk
mengeksplorasi teks novel/cerpen
REFLEKSI PESERTA DIDIK DAN GURU
Apakah kamu suka dengan kegiatan pembelajaran ini?
Adakah hal menarik lainnya?
Cara belajar yang bagaimana yang paling membantumu dalam mempratikkan pembelajaran?
Kesulitan apa saja yang kamu temui dalam belajar teks novel/cerpen?
Apakah kamu menemukan kesulitan dalam memahami instruksi/perintah?
Apakah kamu merasa puas dapat menyelesaikan pembelajaran hari ini?
Apakah kamu dapat merefleksikan seluruh kegiatan pembelajaran hari ini dan dapatkah
pembelajaran hari ini digunakan acuan dalam pengembangan kehidupan sehari-hari
BAHAN BACAAN SISWA
Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMA/SMK Kelas XII
4
Blog guru : [Link]
GLOSARIUM
Esai : karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi
penulisnya
fakta : sesuatu hal yang benar-benar ada dan terjadi, fakta sering juga disebut dengan kenyataan
opini : pendapat atau pikiran seseorang yang belum tentu benar karena tidak/ belum ada bukti
kebenarannya
teks novel/cerpen : digunakan untuk menuangkan ide-ide atau gagasan-gagasan dari penulis
DAFTAR PUSTAKA
Buku Panduan Guru Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMA/SMK Kelas XII
Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMA/SMK Kelas XII
Mengetahui, Bojonegoro
Kepala Sekolah Guru Mapel
5
DAFTAR LAMPIRAN
1. Teks novel/cerpen
2. Lembar Materi Ajar
3. LK PD
4. Lembar Observasi Sikap
5. Lembar Asesmen Diagnostik
6. Lembar Asesmen Formatif
7. Lembar Asesmen Sumatif
8. Lembar Rubrik Penilaian Formatif
9. Lembar Rubrik Penilaian Sumatif
10. Lembar Refleksi
6
LAMPIRAN 1
Teks cerpen
Samin Kembar
Cerpen Triyanto Triwikromo (Koran Tempo, 8 Februari 2015)
BAIKLAH kumulai dengan fakta tak terbantah:
pada 27 Februari 1907 Samin Soerosentiko ditangkap.
Sebelum dia dibuang ke Sawahlunto, Padang, aku, Asisten
Residen Blora, kepanjangan tangan Pemerintah Hindia
Belanda, telah mencatat hasil interogasi perih lelaki yang
secara diam-diam kukagumi itu. Sejak itu, kau tahu, warga
Randublatung, seperti kehilangan patih, seperti kehilangan
ratu.
Akan tetapi, ada juga fakta yang kusembunyikan:
sembilan hari kemudian seseorang—yang semula
kuanggap hantu bermuka pucat—malam-malam datang ke
rumahku dan memperkenalkan diri sebagai Samin. “Aku Samin. Aku masih di Kedung Tuban. Tak satu pun
kompeni yang bisa menangkapku.”
Tentu saja aku kaget. Aku hafal benar wajah Samin Soerosentiko. Namun harus kuakui raut lelaki
beraroma daun jati itu sungguh serupa dengan anak Soerowidjojo[1], serupa dengan Kohar[2].
“Sila duduk,” aku mencoba menyembunyikan keterkejutan. “Kau dari mana dan akan ke mana?”
Sejenak sunyi. Rasanya aku melihat daun-daun dan ranting-ranting pepohonan di halaman tak
bergerak.
Setelah lelaki 48 tahun itu menyeruput minuman yang disajikan oleh jongosku, dia menjawab
pertanyaanku dengan tenang. Kata dia, “Aku dari hati dan akan kembali ke hati.”
Ini jawaban khas Samin. Meskipun demikian, aku tak sepenuhnya percaya lelaki kurus dengan kumis
melintang ini benar-benar Soerosentiko. Karena itulah, aku memancing dengan beberapa pertanyaan lagi.
Aku meniru pertanyaan yang diajukan sang interogator kepada Samin sesaat setelah dia ditangkap. Aku
hanya mengulang apa pun laporan yang sudah termaktub di Het Nieuws von Den Dag pada 5 Maret 1907.
“Siapa namamu?” tanyaku, sedikit gugup.
“Aku wit. Wit itu pohon. Orang-orang memanggilku Kalang atau Kasmin. Kompeni memanggilku
Kasmin Kalang. Tetapi aku sesungguhnya Samin. Bukan Samin Soerosentiko. Samin Soerosentiko tak ada.
Samin itu bukan nama. Ia hanya tetenger[3], maknanya kabut.”
Kubiarkan dia menggugat keberadaan Samin Soerosentiko. Aku harus bersabar agar tahu lebih
banyak tentang laki-laki misterius ini.
“Di mana kamu tinggal?” tanyaku dalam nada resmi.
“Kepalaku adalah rumahku. Pesantrenku, pesantren untuk badanku sendiri, berada di Kalang. Aku
bertetangga dengan hujan. Aku sering bercakap-cakap dengan sungai.”
Hmm, ini jawaban yang agak kacau. Seharusnya dia tidak menyebut-nyebut sungai atau hujan.
Apakah aku perlu menanyakan dia percaya pada Tuhan? Kurasa tidak perlu. Percaya atau tak
percaya bukan urusanku. Tetapi aku yakin benar lelaki kencana ini sangat dekat dengan Tuhan sehingga jika
kutanya paling-paling dia akan menjawab, “Aku percaya pada diriku. Aku percaya pada kabut. Aku percaya
pada Samin.”
Apakah aku juga perlu bertanya, apakah dia percaya pada surga, neraka, atau kehidupan setelah
kematian? Kurasa juga tidak perlu. Aku yakin pria bermata tajam ini sangat mengimani keberadaan surga-
neraka; jika pun itu kutanyakan, paling-paling dia akan menjawab, “Surga dan neraka ada di mulutku. Jika
mulutku membuncahkan kata-kata kotor, neraka akan muncrat ke mana-mana. Sebaliknya jika mulutku
menguarkan kata-kata wangi, surga akan bertebaran ke hati siapa pun. Adapun tentang kematian, sedikit pun
aku tak percaya, karena di kubur atau di mana pun, aku tetap hidup.”
Karena itulah, kuteruskan dengan pancingan lain. “Apakah Tuhan menyayangimu?”
“Apakah kerbau menyayangimu?” dia balik bertanya.
Aku tertawa. Dia juga tertawa.
“Ayolah jawab! Apakah kerbau menyayangimu?”
Aku tak mau menjawab. Aku justru teringat ramalan atau nubuat Samin Soerosentiko perihal kerbau.
Samin pernah bilang, “Kerbau jawa masukkanlah ke kandang, kerbau bule biarkan di luar.[4]” Itu berarti tak
lama lagi kami—yang mereka sebut sebagai kompeni—akan pergi dan orang-orang Jawa akan berkuasa.
“Baiklah kalau kau tak mau menjawab,” dia tampak mulai tak sabar, “akan kujawab sendiri
pertanyaan itu. Kerbau menyayangimu karena mereka menganggapmu sebagai kerbau. Kerbau menyayangi
Tuhan karena ia menganggap Tuhan sebagai sesuatu yang tak tersentuh oleh akal. Bukan akal manusia, tetapi
akal kerbau.”
“Apakah kerbau punya akal?” aku bertanya.
“Apakah hanya manusia yang punya akal?”
7
Tak segera kujawab pertanyaan itu. Aku merasa lelaki cerdas yang muncul dari kegelapan itu sedang
mempermainkan aku. Tentu saja aku tak mau terpedaya. Tak mau tersihir oleh pandangan mata iblisnya.
Tak ada cara lain, untuk menundukkan dia, aku harus memberondong dengan beberapa pertanyaan
lagi. Aku harus menyudutkan dia sebagai penjahat. Jika sudah keok, aku akan mengusir dia secepatnya.
“Semua manusia,” kataku, “menyangka dirinya punya otak. Aku kira itu pandangan yang keliru.
Manusia hanya memiliki sesuatu yang menyerupai otak. Otak sejati hanya dimiliki Tuhan. Karena itu, aku tak
mau berdebat soal otak lagi.”
“Kau mau mengajakku berdebat soal angin?”
Aku menggeleng. “Aku mau mengajakmu berdebat soal maling.”
Hmmm, kali ini dia pasti takluk. Kali ini dia akan bilang, “Ya, aku pernah mencuri kayu. Kau tahu,
sejak 1874 kompeni telah menganggap hutan-hutan di wilayah Blora, Grobogan, dan Bojonegoro sebagai
miliknya, tetapi tetap saja kuambil kayu-kayu itu. Tak hanya itu pada 1897 hutan di wilayah Blora ditetapkan
sebagai houtvesterijen. Rakyat dibatasi masuk ke hutan. Rakyat dilarang mengambil kayu. Tetapi kau mesti
tahu, aku bukan rakyat. Aku patih. Patih boleh memiliki kayu, patih boleh mengambil kayu di bumi mana
pun.”
Tidak! Tidak! Ternyata dia menjawab pertanyaanku dengan kalimat pendek. “Maling milik kompeni
boleh. Maling milik rakyat tak boleh. Apakah kau pernah maling?”
Aku menggeleng.
“Tak pernah? Bohong! Tak ada seorang manusia yang tak pernah maling. Jika kau melihat hal-hal
yang tak patut kaulihat, maka sesungguhnya kau telah mencuri. Jika kau mendengarkan apa pun yang tak
pantas kaudengarkan, maka sesungguhnya kau telah mencuri. Nah, apakah kau pernah melakukan hal-hal
yang tak pantas kaulakukan?”
Aku hanya terdiam. Aku malu. Tak pantas seorang Asisten Residen dihajar dengan berbagai
pertanyaan oleh seseorang yang telah kami anggap sebagai penjahat atau bramacorah.
Akan tetapi dorongan untuk membongkar siapa Kasmin Kalang melebihi tindakan apa pun sehingga
aku membiarkan siapa pun dia mempermalukan atau melecehkan aku. Untuk sementara aku harus
menanggalkan kedudukanku sebagai Asisten Residen Blora.
Tentu saja aku punya cara menjebak lelaki yang mengaku sebagai Samin tetapi meniadakan
Soerosentiko ini. Aku akan bertanya pada dia tentang pajak, pemerintahan, dan kerja paksa.
“Apakah kau pernah membayar pajak?”
“Pajak dibuat oleh kompeni, biarlah aturan itu untuk para kompeni. Para pengikut Agama Adam lahir
dari bulir sawah, dia tidak perlu membayar untuk hal-hal yang akan dimakan. Kami juga tumbuh dari
pepohonan. Kami tidak perlu membayar apa pun untuk hal-hal yang digunakan untuk menegakkan rumah.”
“Apakah kau takluk pada pemerintah?”
“Aku hanya takluk pada Patih. Patih itu aku. Aku hanya takluk pada diriku sendiri.”
“Pada Hindia Belanda?”
“Aku mengabdi pada kebo jawa bukan pada kebo bule.”
“Apakah kau pernah melakukan kerja paksa?”
“Aku mengerjakan apa pun yang berguna untuk pohon-pohon, jalan, sawah, bukit, palawija, burung,
kuda, kerbau, kambing, istri, dan liyan. Aku tak mau dibayar untuk apa pun yang digunakan untuk urip
bebrayan, hidup bersama wit gegodhongan sarwa kewan[5].”
Harus kuakui pandangan Kasmin Kalang ini mirip dengan ajaran-ajaran Samin. Akan tetapi beberapa
bagian menyimpang, beberapa bagian merupakan pencanggihan. Hanya, aku yakin kunci terakhir segala
persoalan ini terletak pada konsep penyelamatan kehidupan. Jadi, aku akan bertanya pada dia apakah bakal
ada Ratu Adil yang menyelamatkan Tanah Jawa.
“Apakah kau percaya akan kedatangan Heru Cokro alias Ratu Adil alias Ratu Kembar?”
“Heru Cokro tak ada. Yang ada Kasmin Kalang. Ratu Adil tak ada di jalan-jalan tetapi ada di dalam
rumah. Tentang Ratu Kembar, apakah kau menyangka yang akan menyelamatkan Tanah Jawa—saat Adam
berhenti, Rasul pergi[6]—itu Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Cokronegoro dari Surakarta? Jangan-
jangan kau malah akan ngawur menyebut Ratu Kembar itu Samin Soerosentiko dan Prabu Panembahan
Suryongalam[7]. Ratu Kembar itu aku, yaitu Ratu Kalang dan Ratu Kasmin.”
Gila! Ini jawaban yang sangat menohok dan tak terbayangkan. Samin saat diinterogasi pun tak
mengatakan dirinya sebagai Ratu Adil. Jangan-jangan Kasmin Kalang ini guru Samin Soerosentiko? Atau
jangan-jangan Kalang dan Soerosentiko ternyata Samin Kembar atau Ratu Kembar?
Malam itu aku tak menanyakan rasa penasaranku itu kepada Kasmin Kalang. Bahkan kami tidak
bercakap tentang hal-hal penting lagi, tetapi Kasmin beberapa kali meledek aturan-aturan Pemerintah Hindia
Belanda. Kasmin meledek mengapa harus ada aturan menunggang kuda bagi orang Jawa, berjalan pada
malam hari, dan bikin pagar untuk rumah-rumah di pinggir[8].
Kami bicara hingga menjelang pagi dan dia lagi-lagi meledek, “Kau itu sesungguhnya berada di pihak
kompeni atau kami?”
Aku tak menjawab. Aku tahu Kasmin Kalang paham di wilayah mana aku berpihak.
Setelah itu dia tidak bertanya apa-apa lagi dan pergi sesaat sebelum kokok ayam pertama berbunyi.
JANGAN menyangka persoalan telah selesai. Meskipun bisa mengira-ngira siapa sesungguhnya
Kasmin Kalang, aku harus bertanya kepada warga Kedung Tuban, mengenai lelaki misterius itu. Akan tetapi
8
mungkin karena tahu aku seorang Asisten Residen, ketika pagi itu aku menginterogasi beberapa warga,
mereka serempak menjawab, “Kami semua Kasmin Kalang. Kami tak kenal Samin Soerosentiko.”
Tahu jika dipermainkan, aku melontarkan pertanyaan ngawur, “Apakah kalian kenal Hujan, apakah
kalian kenal Sungai, apakah kalian kenal Angin? Apakah kalian kenal Bunga?”
“Kami semua Hujan! Kami semua Sungai! Kami semua Angin! Kami semua Bunga!”
Aku frustasi mendengarkan jawaban semacam itu. Aku menghentikan pertanyaan dan kutinggalkan
mereka.
KINI kubuka satu fakta lagi: beberapa saat kemudian aku meminta seorang mata-mata mengunjungi
Samin Soerosentiko ke Sawahlunto. Aku minta kepada dia menanyakan mengenai Kasmin Kalang.
Kau tahu apa pendapat Samin Soerosentiko tentang Kasmin Kalang atau Ratu Kembar? Baiklah
kubacakan sebagian laporan mata-mataku: Kata Samin Soerosentiko, “Samin Soerosentiko tak ada. Kasmin
Kalang tak ada. Ratu kembar tak ada. Tapi percayalah kerbau-kerbau di Randublatung tetap ada…”
Aku, kau kerap menyebut namaku Zanveld, tak tahu apakah laporan mata-mataku palsu atau asli.
Yang jelas, aku sedang menimbang-nimbang memuat seluruh pengalamanku ini di Het Nieuws van Den
Dag atau menyembunyikan rapat-rapat di lubuk hati.
Ah, kau tahu apa yang seharusnya dilakukan seorang Asisten Residen terhadap fakta bahwa
seseorang yang lebih kuanggap sebagai pemikir bebas[9] ketimbang penggelora perlawanan
pasif[10] bukan?(*)
Semarang, 2014-2015
Keterangan:
[1] Ayahanda Samin Soerosentiko.
[2] Nama kecil Samin Soerosentiko.
[3] Tanda
[4] Kebo brujul lebokna, kebo branggah tokna/ulehna.
[5] Pohon, daun-daun, serta hewan.
[6] Adam mandeg, Rasul lunga.
[7] Nama yang diberikan pengikut Samin kepada Samin Soerosentiko.
[8] Beberapa data mengenai aturan Pemerintah Hindia Belanda saya peroleh dari Samin: Mistisisme
Petani di Tengah Pergolakan karya Anis Ba’asyin (2014).
[9] Tentu Asisten Residen Blora saat itu menyebut Samin sebagai vrijdenker.
[10] Demikian juga sang Asisten Residen akan menganggap perlawanan Samin sebagai lijdelijk
verzet.
Triyanto Triwikromo telah menerbitkan, antara lain, Surga Sungsang (buku cerita pendek, 2014)
dan Kematian Kecil Kartosoewirjo (buku puisi, 2015). Ia tinggal di Semarang.
[Link]
9
LAMPIRAN 2
Lembar Materi Ajar
10
Struktur Teks Cerita Sejarah
Setelah Kamu telah paham betul tentang pengertian teks cerita sejarah serta jenis dan cirinya. Pada
bagian akan dijelaskan tentang struktur teks cerita sejarah. Struktur teks sendiri dapat digunakan untuk
menyusun teks cerita sejarah dengan runtut dan sistematis. Pada struktur teks cerita sejarah sendiri memiliki
tiga bagian penyusun, mulai dari orientasi, urutan peristiwa, dan reorientasi. Berikut ini adalah penjelasan
dari tiga bagian tersebut, diantaranya yaitu:
i. Orientasi
Bagian pertama dari struktur teks cerita sejarah adalah orientasi. Orientasi ini sendiri dapat dipahami
sebagai pengenalan atau pembuka dari teks cerita sejarah. Bagian ini biasanya sering menggunakan jenis
kalimat deskriptif, hal ini dikarenakan orientasi digunakan penulis untuk mengenalkan suatu topik
kepada pembaca.
Misalnya saja, apabila Kamu ingin menulis cerita teks sejarah tentang uang. Maka pada bagian ini, Kamu
akan mendeskripsikan tentang pengertian atau definisi uang terlebih dahulu.
ii. Urutan Peristiwa
Bagian kedua dari struktur teks cerita sejarah adalah urutan peristiwa. Urutan peristiwa dapat
didefinisikan sebagai sebuah rekaman peristiwa sejarah yang terjadi dan dapat disusun secara urut dan
kronologis.
Urutan peristiwa biasanya akan menjelaskan cerita yang memiliki nilai sejarah secara gradual. Gradual
sendiri bisa diartikan sebagai berangsur-angsur atau sedikit demi sedikit. Hal ini membuat urutan
peristiwa menjadi lebih kronologis atau sesuai dengan waktu terjadinya peristiwa.
Contoh penyusunan teks cerita sejarah yang urut dan gradual yaitu, ketika Kamu ingin menjelaskan
tentang sejarah atau asal usul uang, maka Kamu dapat menuliskan peristiwa tentang uang sesuai waktu
terjadi peristiwa.
iii. Reorientasi
Bagian ketiga dari struktur teks cerita sejarah adalah reorientasi. Reorientasi sendiri dapat bersifat
opsional atau dapat digunakan dan dapat tidak digunakan. Pada bagian ini, penulis biasanya
menggunakan untuk memberikan komentar pribadi terhadap cerita yang disusunnya.
Reorientasi sendiri terletak di bagian akhir dari teks cerita sejarah, sehingga penulis berhak melakukan
peninjauan kembali tentang topik yang telah ditulis, baik itu berupa saran maupun berupa kritik.
Kaidah Kebahasaan Teks Cerita Sejarah
Pada bagian ini, Kamu akan dijelaskan tentang kaidah kebahasaan dari teks cerita sejarah. Kaidah
kebahasaan sendiri dapat dipahami sebagai ciri bahasa dari sebuah teks. Berikut ini adalah kaidah
kebahasaan dari teks cerita sejarah yang perlu diperhatikan, diantaranya yaitu:
a. Kata ganti orang ketiga
Pada kaidah kebahasaan yang pertama ini, teks cerita sejarah banyak menggunakan kata ganti orang
ketiga. Penulis dapat memposisikan diri sebagai pencerita dari peristiwa yang terjadi.
Kata ganti orang ketiga sendiri dapat dibagi menjadi dua jenis, dari kata ganti tunggal (ia, beliau, dia, dan
-nya) dan kata ganti jamak (mereka). Selain kedua jenis kata ganti tersebut, kata ganti orang ketiga di
dalam teks cerita sejarah juga dapat berupa nama orang atau nama tokoh.
b. Keterangan waktu (masa lampau)
Pada kaidah kebahasaan yang kedua ini, teks cerita sejarah banyak menggunakan kata keterangan waktu.
Keterangan waktu sendiri biasanya digunakan untuk memberikan keterangan tentang waktu atau kapan
suatu peristiwa terjadi.
Dikarenakan teks cerita sejarah, maka keterangan waktunya cenderung menunjukan masa lampau.
Contoh penggunaan keterangan waktu, yaitu: pada zaman, pada waktu, pada tahun, dan lain-lainnya.
c. Keterangan tempat
Pada kaidah kebahasaan yang ketiga ini, teks cerita sejarah menggunakan keterangan tempat.
Keterangan tempat ini digunakan untuk memberikan keterangan yang menunjukkan dan
menginformasikan lokasi atau tempat terjadinya peristiwa sejarah.
Keterangan waktu dapat ditandai dengan beberapa kata, misalnya di, ke, dan dari.
d. Konjungsi temporal (waktu)
Pada kaidah kebahasaan yang keempat ini, teks cerita sejarah menggunakan konjungsi temporal.
Konjungsi temporal sendiri dapat dipahami sebagai sebuah kata untuk menghubungkan sesuatu yang
menandai waktu. Berdasarkan letaknya, konjungsi temporal dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:
i. Intrakalimat
Konjungsi yang menyatakan sebab akibat dalam satu kalimat, misalnya saja pada kata karena, sebab,
dan lain seterusnya.
ii. Antarkalimat
Konjungsi yang menyatakan sebab akibat dalam dua kalimat, misalnya saja pada kata oleh sebab itu,
oleh karena itu, maka dari itu, dan lain seterusnya.
11
e. Konjungsi kausalitas (sebab-akibat)
Pada kaidah kebahasaan yang kelima, teks cerita sejarah banyak menggunakan konjungsi kausalitas.
Konjungsi kausalitas sendiri dapat diartikan sebagai sebuah kata yang menghubungkan sesuatu yang
menyatakan sebab akibat. Berdasarkan letaknya, konjungsi kausalitas dapat dibagi menjadi dua
kelompok, yaitu:
i. Intrakalimat
Konjungsi yang menyatakan sebab akibat dalam satu kalimat, misalnya saja pada kata karena, sebab,
dan lain seterusnya.
ii. Antarkalimat
Konjungsi yang menyatakan sebab akibat dalam dua kalimat, misalnya saja pada kata oleh sebab itu,
oleh karena itu, maka dari itu, dan lain seterusnya.
f. Nomina
Pada kaidah kebahasaan yang keenam ini, teks cerita sejarah banyak menggunakan nomina. Penggunaan
nomina biasanya mengacu pada suatu nama, misalnya seperti nama orang, hewan, benda, atau bisa juga
pada gagasan atau ide. Nomina sendiri dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
a. Modifikatif (unsur inti+pewatas): Hari senin, bulan desember, dan lain sebagainya.
b. Koordinatif (semua inti): Hak kewajiban, tanah air, sandang pangan,dan lain sebagainya.
c. Apositif (keterangan): Raja Sriwijaya, Raden Wijaya, Soekarno, Soeharto, dan lain sebagainya.
g. Verba
Pada kaidah kebahasaan ketujuh ini, teks cerita sejarah banyak menggunakan verba dalam menceritakan
peristiwa yang pernah terjadi. Verba sendiri adalah kata yang menunjukkan tindakan, biasanya ditandai
oleh imbuhan me-, di-, ber-, ter-, me-kan, ber-kan, di-kan, dan lain seterusnya.
Contoh penggunaan verba yaitu seperti melihat, melukis, diserahkan, dan lain sebagainya.
Contoh Teks Cerita Sejarah
Nah, setelah Kamu mengetahui tentang pengertian teks cerita sejarah, jenis, ciri, struktur, hingga
kaidah kebahasaan. Pada bagian ini, Kamu akan disajikan teks cerita sejarah lengkap dengan analisis dan
pembahasannya. Selamat Belajar.
Sejarah Terciptanya Instagram
Orientasi:
Siapa yang tidak kenal dengan instagram? Aplikasi yang berfungsi untuk berbagi foto dan video ini
memungkinkan penggunanya untuk mengambil foto, mem-filter digital, menambahkan efek, dan
mempublikasikan foto tersebut ke berbagai jenis jejaring sosial yang ada termasuk ke dalam jejaring
Instagram itu sendiri.
Instagram sendiri terbentuk dari dua kata utama yakni “insta” yang berarti “instan” seperti pada
kamera jenis polaroid yang lebih akrab disebut dengan foto instan. Dan kata “gram” mengarah pada kata
“telegram” yang cara atau pengaplikasiannya adalah untuk mengirimkan sejumlah informasi pada seseorang
dengan sangat cepat.
Urutan Peristiwa:
Burbn, Inc yang merupakan perusahaan start up teknologi yang notabennya hanya berkonsentrasi
pada pengembangan dan pembuatan aplikasi telepon genggam berdiri pada sekitar tahun 2010 lalu.
Pada mulanya Burbn, Inc sendiri berfokus pada pendalaman seluruh fungsi bahasa pemrograman
yakni HTML5. Namun seiring berjalannya waktu, Mike Krieger dan Kevin Systorm selaku CEO dari
perusahaan ini memilih untuk berfokus hanya pada satu hal saja.
Seminggu lamanya mereka berusaha membuat ide ide yang mungkin dapat mendatangkan profit,
pada akhirnya kedua CEO ini berhasil menciptakan versi pertama dari Instagram, namun seperti pada
prototype pada umumnya, versi awal dari Instagram ini masih memiliki banyak sekali kelemahan dalam
segala sistemnya.
Setelah melalui berbagai tahap penyempurnaan versi Burbn (Instagram) ini akhirnya sudah dapat
diuji coba dengan menggunakan perangkat iphone. Namun tetap saja dirasa memiliki banyak sekali fitur yang
tidak terkategori dengan baik.
Sulit bagi Kevin dan Mike untuk mengatur ulang seluruh fitur yang ada dan memulai semuanya dari
awal. Akhirnya Mike dan Kevin memilih untuk berfokus hanya pada fitur foto, berkomentar dan menyukai
foto saja. Inilah kerangka awal terbentuknya jejaring sosial Instagram saat ini.
Pada tahun 2012 tepatnya tanggal 09 April diumumkan sebuah berita besar yakni saham dan
kepemilikan Instagram akan diambil alih oleh Mark Zuckerberg selaku pemilik Facebook dengan uang tunai
dan saham senilai 1 miliar dollar.
Reorientasi:
Instagram saat ini telah banyak diminati baik tua maupun muda. Penggunaan yang mudah dan fitur
yang terkesan canggih membuat Instagram semakin populer dari tahun ke tahun. Dengan jejaring sosial
Instagram ini kita dapat mengetahui segala aktivitas teman teman kita hanya dengan melihat foto dan video
mereka.
12
LAMPIRAN 3
Lembar Kerja Peserta Didik
Samin Kembar
Cerpen Triyanto Triwikromo (Koran Tempo, 8 Februari 2015)
13
“Apakah hanya manusia yang punya akal?”
Tak segera kujawab pertanyaan itu. Aku merasa lelaki cerdas yang muncul dari kegelapan itu sedang
mempermainkan aku. Tentu saja aku tak mau terpedaya. Tak mau tersihir oleh pandangan mata iblisnya.
Tak ada cara lain, untuk menundukkan dia, aku harus memberondong dengan beberapa pertanyaan
lagi. Aku harus menyudutkan dia sebagai penjahat. Jika sudah keok, aku akan mengusir dia secepatnya.
“Semua manusia,” kataku, “menyangka dirinya punya otak. Aku kira itu pandangan yang keliru.
Manusia hanya memiliki sesuatu yang menyerupai otak. Otak sejati hanya dimiliki Tuhan. Karena itu, aku tak
mau berdebat soal otak lagi.”
“Kau mau mengajakku berdebat soal angin?”
Aku menggeleng. “Aku mau mengajakmu berdebat soal maling.”
Hmmm, kali ini dia pasti takluk. Kali ini dia akan bilang, “Ya, aku pernah mencuri kayu. Kau tahu,
sejak 1874 kompeni telah menganggap hutan-hutan di wilayah Blora, Grobogan, dan Bojonegoro sebagai
miliknya, tetapi tetap saja kuambil kayu-kayu itu. Tak hanya itu pada 1897 hutan di wilayah Blora ditetapkan
sebagai houtvesterijen. Rakyat dibatasi masuk ke hutan. Rakyat dilarang mengambil kayu. Tetapi kau mesti
tahu, aku bukan rakyat. Aku patih. Patih boleh memiliki kayu, patih boleh mengambil kayu di bumi mana
pun.”
Tidak! Tidak! Ternyata dia menjawab pertanyaanku dengan kalimat pendek. “Maling milik kompeni
boleh. Maling milik rakyat tak boleh. Apakah kau pernah maling?”
Aku menggeleng.
“Tak pernah? Bohong! Tak ada seorang manusia yang tak pernah maling. Jika kau melihat hal-hal
yang tak patut kaulihat, maka sesungguhnya kau telah mencuri. Jika kau mendengarkan apa pun yang tak
pantas kaudengarkan, maka sesungguhnya kau telah mencuri. Nah, apakah kau pernah melakukan hal-hal
yang tak pantas kaulakukan?”
Aku hanya terdiam. Aku malu. Tak pantas seorang Asisten Residen dihajar dengan berbagai
pertanyaan oleh seseorang yang telah kami anggap sebagai penjahat atau bramacorah.
Akan tetapi dorongan untuk membongkar siapa Kasmin Kalang melebihi tindakan apa pun sehingga
aku membiarkan siapa pun dia mempermalukan atau melecehkan aku. Untuk sementara aku harus
menanggalkan kedudukanku sebagai Asisten Residen Blora.
Tentu saja aku punya cara menjebak lelaki yang mengaku sebagai Samin tetapi meniadakan
Soerosentiko ini. Aku akan bertanya pada dia tentang pajak, pemerintahan, dan kerja paksa.
“Apakah kau pernah membayar pajak?”
“Pajak dibuat oleh kompeni, biarlah aturan itu untuk para kompeni. Para pengikut Agama Adam lahir
dari bulir sawah, dia tidak perlu membayar untuk hal-hal yang akan dimakan. Kami juga tumbuh dari
pepohonan. Kami tidak perlu membayar apa pun untuk hal-hal yang digunakan untuk menegakkan rumah.”
“Apakah kau takluk pada pemerintah?”
“Aku hanya takluk pada Patih. Patih itu aku. Aku hanya takluk pada diriku sendiri.”
“Pada Hindia Belanda?”
“Aku mengabdi pada kebo jawa bukan pada kebo bule.”
“Apakah kau pernah melakukan kerja paksa?”
“Aku mengerjakan apa pun yang berguna untuk pohon-pohon, jalan, sawah, bukit, palawija, burung,
kuda, kerbau, kambing, istri, dan liyan. Aku tak mau dibayar untuk apa pun yang digunakan untuk urip
bebrayan, hidup bersama wit gegodhongan sarwa kewan[5].”
Harus kuakui pandangan Kasmin Kalang ini mirip dengan ajaran-ajaran Samin. Akan tetapi beberapa
bagian menyimpang, beberapa bagian merupakan pencanggihan. Hanya, aku yakin kunci terakhir segala
persoalan ini terletak pada konsep penyelamatan kehidupan. Jadi, aku akan bertanya pada dia apakah bakal
ada Ratu Adil yang menyelamatkan Tanah Jawa.
“Apakah kau percaya akan kedatangan Heru Cokro alias Ratu Adil alias Ratu Kembar?”
“Heru Cokro tak ada. Yang ada Kasmin Kalang. Ratu Adil tak ada di jalan-jalan tetapi ada di dalam
rumah. Tentang Ratu Kembar, apakah kau menyangka yang akan menyelamatkan Tanah Jawa—saat Adam
berhenti, Rasul pergi[6]—itu Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Cokronegoro dari Surakarta? Jangan-
jangan kau malah akan ngawur menyebut Ratu Kembar itu Samin Soerosentiko dan Prabu Panembahan
Suryongalam[7]. Ratu Kembar itu aku, yaitu Ratu Kalang dan Ratu Kasmin.”
Gila! Ini jawaban yang sangat menohok dan tak terbayangkan. Samin saat diinterogasi pun tak
mengatakan dirinya sebagai Ratu Adil. Jangan-jangan Kasmin Kalang ini guru Samin Soerosentiko? Atau
jangan-jangan Kalang dan Soerosentiko ternyata Samin Kembar atau Ratu Kembar?
Malam itu aku tak menanyakan rasa penasaranku itu kepada Kasmin Kalang. Bahkan kami tidak
bercakap tentang hal-hal penting lagi, tetapi Kasmin beberapa kali meledek aturan-aturan Pemerintah Hindia
Belanda. Kasmin meledek mengapa harus ada aturan menunggang kuda bagi orang Jawa, berjalan pada
malam hari, dan bikin pagar untuk rumah-rumah di pinggir[8].
Kami bicara hingga menjelang pagi dan dia lagi-lagi meledek, “Kau itu sesungguhnya berada di pihak
kompeni atau kami?”
Aku tak menjawab. Aku tahu Kasmin Kalang paham di wilayah mana aku berpihak.
Setelah itu dia tidak bertanya apa-apa lagi dan pergi sesaat sebelum kokok ayam pertama berbunyi.
14
JANGAN menyangka persoalan telah selesai. Meskipun bisa mengira-ngira siapa sesungguhnya
Kasmin Kalang, aku harus bertanya kepada warga Kedung Tuban, mengenai lelaki misterius itu. Akan tetapi
mungkin karena tahu aku seorang Asisten Residen, ketika pagi itu aku menginterogasi beberapa warga,
mereka serempak menjawab, “Kami semua Kasmin Kalang. Kami tak kenal Samin Soerosentiko.”
Tahu jika dipermainkan, aku melontarkan pertanyaan ngawur, “Apakah kalian kenal Hujan, apakah
kalian kenal Sungai, apakah kalian kenal Angin? Apakah kalian kenal Bunga?”
“Kami semua Hujan! Kami semua Sungai! Kami semua Angin! Kami semua Bunga!”
Aku frustasi mendengarkan jawaban semacam itu. Aku menghentikan pertanyaan dan kutinggalkan
mereka.
KINI kubuka satu fakta lagi: beberapa saat kemudian aku meminta seorang mata-mata mengunjungi
Samin Soerosentiko ke Sawahlunto. Aku minta kepada dia menanyakan mengenai Kasmin Kalang.
Kau tahu apa pendapat Samin Soerosentiko tentang Kasmin Kalang atau Ratu Kembar? Baiklah
kubacakan sebagian laporan mata-mataku: Kata Samin Soerosentiko, “Samin Soerosentiko tak ada. Kasmin
Kalang tak ada. Ratu kembar tak ada. Tapi percayalah kerbau-kerbau di Randublatung tetap ada…”
Aku, kau kerap menyebut namaku Zanveld, tak tahu apakah laporan mata-mataku palsu atau asli.
Yang jelas, aku sedang menimbang-nimbang memuat seluruh pengalamanku ini di Het Nieuws van Den
Dag atau menyembunyikan rapat-rapat di lubuk hati.
Ah, kau tahu apa yang seharusnya dilakukan seorang Asisten Residen terhadap fakta bahwa
seseorang yang lebih kuanggap sebagai pemikir bebas[9] ketimbang penggelora perlawanan
pasif[10] bukan?(*)
Semarang, 2014-2015
Keterangan:
[1] Ayahanda Samin Soerosentiko.
[2] Nama kecil Samin Soerosentiko.
[3] Tanda
[4] Kebo brujul lebokna, kebo branggah tokna/ulehna.
[5] Pohon, daun-daun, serta hewan.
[6] Adam mandeg, Rasul lunga.
[7] Nama yang diberikan pengikut Samin kepada Samin Soerosentiko.
[8] Beberapa data mengenai aturan Pemerintah Hindia Belanda saya peroleh dari Samin: Mistisisme
Petani di Tengah Pergolakan karya Anis Ba’asyin (2014).
[9] Tentu Asisten Residen Blora saat itu menyebut Samin sebagai vrijdenker.
[10] Demikian juga sang Asisten Residen akan menganggap perlawanan Samin sebagai lijdelijk
verzet.
Triyanto Triwikromo telah menerbitkan, antara lain, Surga Sungsang (buku cerita pendek, 2014)
dan Kematian Kecil Kartosoewirjo (buku puisi, 2015). Ia tinggal di Semarang.
[Link]
3. Jika kamu akan mencari informasi yang berkaitan dengan teks tersebut di laman internet, kata apa
yang kamu ketikkan di sana?
15
7. Apakah kamu pernah mendengar tentang orang Samin? Apa yang kamu dengar tentang orang Samin
sebelum membaca teks tersebut?
8. Setelah membaca teks tersebut, apakah menurutmu orang Samin itu baik? Jelaskan alasanmu!
9. Jika kamu memiliki teman seperti orang Samin pada cerita tersebut, apa yang akan kamu sampaikan
pada temanmu itu? Mengapa kamu berkata demikian?
10. Nilai apa yang dapat kamu ambil dari cerita tersebut? Jelaskan alasanmu!
16
LAMPIRAN 4
Lembar Observasi Sikap
NO KRITERIA TINGKAT KEMAMPUAN
1 2 3
1 Merespon secara Belum menunjukkan Mampu menunjukkan Mampu menunjukkan
verbal/non verbal kemampuan sama hanya salah satu dari pemahaman melalui
sekali bahasa verbal/non bahasa nonverbal, dan
verbal verbal.
2 Memberikan pertanyaan Mampu bertanya dan Mampu bertanya dan Mampu bertanya dan
tentang isi teks menjawab tentang isi menjawab isi dan menjawab isi dan
dan struktur teks struktur teks struktur teks
3 Partisipasi dalam proses peserta didik peserta didik mengikuti peserta didik
kegiatan belajar mengikuti kegiatan semua kegiatan, tetapi mengikuti semua
belajar ada beberapa peserta kegiatan dengan tuntas
yang tidak tuntas
mengerjakan tugasnya.
4 Profil Mandiri : memiliki kesadaran memiliki kesadaran memiliki kesadaran
memiliki kesadaran akan akan diri dan situasi akan diri dan situasi akan diri dan situasi
diri dan situasi yang yang dihadapi serta yang dihadapi namun yang dihadapi namun
dihadapi serta memiliki memiliki regulasi diri. kurang memiliki tidak memiliki
regulasi diri. regulasi diri. regulasi diri.
5 Profil Bernalar Kritis : memperoleh dan memperoleh dan memperoleh dan
memperoleh dan memproses informasi memproses informasi memproses informasi
memproses informasi serta gagasan dengan serta gagasan dengan serta gagasan dengan
serta gagasan dengan baik, baik, lalu menganalisa baik, namun belum baik, namun tidak
lalu menganalisa dan dan mengevaluasinya, menganalisa dan menganalisa dan
mengevaluasinya, kemudian mengevaluasinya, mengevaluasinya,
kemudian merefleksikan merefleksikan kemudian kemudian
pemikiran dan proses pemikiran dan proses merefleksikan merefleksikan
berpikirnya. berpikirnya. pemikiran dan proses pemikiran dan proses
berpikirnya. berpikirnya.
6 Profil Kritis menghasilkan gagasan, menghasilkan gagasan, menghasilkan gagasan,
menghasilkan gagasan, karya dan tindakan karya dan tindakan karya dan tindakan
karya dan tindakan yang yang orisinil, memiliki dengan mengadaptasi yang banyak
orisinil, memiliki keluwesan berpikir serta kurang memiliki dipengaruhi ide yang
keluwesan berpikir dalam dalam mencari keluwesan berpikir sudah ada dan tidak
mencari alternatif solusi alternatif solusi dalam mencari memiliki
permasalahan. permasalahan. alternatif solusi keluwesan berpikir
permasalahan. dalam mencari
alternatif solusi
permasalahan.
Jumlah skor
Penghitungan nilai:
Skor maksimal = 6
NILAI AKHIR = Skor perolehan X 10
Skor maksimal
17
LAMPIRAN 5
Lembar Asesmen Diagnostik
1. Apakah kamu suka dengan kegiatan pembelajaran ini?
2. Adakah hal menarik lainnya?
3. Cara belajar yang bagaimana yang paling membantumu dalam mempratekkan
pembelajaran?
4. Kesulitan apa saja yang kamu temui dalam pembelajaran ini?
5. Apakah kamu menemukan kesulitan dalam memahami instruksi/perintah?
6. Bagaimana kamu dapat terus mempraktikkan keterampilan ini?
7. Dapatkah kamu merefleksikan pembelajaran hari ini dengan pengembangan kehidupan
sehari-hari?
18
LAMPIRAN 6
Lembar Asesmen Formatif
Samin Kembar
Cerpen Triyanto Triwikromo (Koran Tempo, 8 Februari 2015)
19
“Apakah kerbau punya akal?” aku bertanya.
“Apakah hanya manusia yang punya akal?”
Tak segera kujawab pertanyaan itu. Aku merasa lelaki cerdas yang muncul dari kegelapan itu sedang
mempermainkan aku. Tentu saja aku tak mau terpedaya. Tak mau tersihir oleh pandangan mata iblisnya.
Tak ada cara lain, untuk menundukkan dia, aku harus memberondong dengan beberapa pertanyaan
lagi. Aku harus menyudutkan dia sebagai penjahat. Jika sudah keok, aku akan mengusir dia secepatnya.
“Semua manusia,” kataku, “menyangka dirinya punya otak. Aku kira itu pandangan yang keliru.
Manusia hanya memiliki sesuatu yang menyerupai otak. Otak sejati hanya dimiliki Tuhan. Karena itu, aku tak
mau berdebat soal otak lagi.”
“Kau mau mengajakku berdebat soal angin?”
Aku menggeleng. “Aku mau mengajakmu berdebat soal maling.”
Hmmm, kali ini dia pasti takluk. Kali ini dia akan bilang, “Ya, aku pernah mencuri kayu. Kau tahu,
sejak 1874 kompeni telah menganggap hutan-hutan di wilayah Blora, Grobogan, dan Bojonegoro sebagai
miliknya, tetapi tetap saja kuambil kayu-kayu itu. Tak hanya itu pada 1897 hutan di wilayah Blora ditetapkan
sebagai houtvesterijen. Rakyat dibatasi masuk ke hutan. Rakyat dilarang mengambil kayu. Tetapi kau mesti
tahu, aku bukan rakyat. Aku patih. Patih boleh memiliki kayu, patih boleh mengambil kayu di bumi mana
pun.”
Tidak! Tidak! Ternyata dia menjawab pertanyaanku dengan kalimat pendek. “Maling milik kompeni
boleh. Maling milik rakyat tak boleh. Apakah kau pernah maling?”
Aku menggeleng.
“Tak pernah? Bohong! Tak ada seorang manusia yang tak pernah maling. Jika kau melihat hal-hal
yang tak patut kaulihat, maka sesungguhnya kau telah mencuri. Jika kau mendengarkan apa pun yang tak
pantas kaudengarkan, maka sesungguhnya kau telah mencuri. Nah, apakah kau pernah melakukan hal-hal
yang tak pantas kaulakukan?”
Aku hanya terdiam. Aku malu. Tak pantas seorang Asisten Residen dihajar dengan berbagai
pertanyaan oleh seseorang yang telah kami anggap sebagai penjahat atau bramacorah.
Akan tetapi dorongan untuk membongkar siapa Kasmin Kalang melebihi tindakan apa pun sehingga
aku membiarkan siapa pun dia mempermalukan atau melecehkan aku. Untuk sementara aku harus
menanggalkan kedudukanku sebagai Asisten Residen Blora.
Tentu saja aku punya cara menjebak lelaki yang mengaku sebagai Samin tetapi meniadakan
Soerosentiko ini. Aku akan bertanya pada dia tentang pajak, pemerintahan, dan kerja paksa.
“Apakah kau pernah membayar pajak?”
“Pajak dibuat oleh kompeni, biarlah aturan itu untuk para kompeni. Para pengikut Agama Adam lahir
dari bulir sawah, dia tidak perlu membayar untuk hal-hal yang akan dimakan. Kami juga tumbuh dari
pepohonan. Kami tidak perlu membayar apa pun untuk hal-hal yang digunakan untuk menegakkan rumah.”
“Apakah kau takluk pada pemerintah?”
“Aku hanya takluk pada Patih. Patih itu aku. Aku hanya takluk pada diriku sendiri.”
“Pada Hindia Belanda?”
“Aku mengabdi pada kebo jawa bukan pada kebo bule.”
“Apakah kau pernah melakukan kerja paksa?”
“Aku mengerjakan apa pun yang berguna untuk pohon-pohon, jalan, sawah, bukit, palawija, burung,
kuda, kerbau, kambing, istri, dan liyan. Aku tak mau dibayar untuk apa pun yang digunakan untuk urip
bebrayan, hidup bersama wit gegodhongan sarwa kewan[5].”
Harus kuakui pandangan Kasmin Kalang ini mirip dengan ajaran-ajaran Samin. Akan tetapi beberapa
bagian menyimpang, beberapa bagian merupakan pencanggihan. Hanya, aku yakin kunci terakhir segala
persoalan ini terletak pada konsep penyelamatan kehidupan. Jadi, aku akan bertanya pada dia apakah bakal
ada Ratu Adil yang menyelamatkan Tanah Jawa.
“Apakah kau percaya akan kedatangan Heru Cokro alias Ratu Adil alias Ratu Kembar?”
“Heru Cokro tak ada. Yang ada Kasmin Kalang. Ratu Adil tak ada di jalan-jalan tetapi ada di dalam
rumah. Tentang Ratu Kembar, apakah kau menyangka yang akan menyelamatkan Tanah Jawa—saat Adam
berhenti, Rasul pergi[6]—itu Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Cokronegoro dari Surakarta? Jangan-
jangan kau malah akan ngawur menyebut Ratu Kembar itu Samin Soerosentiko dan Prabu Panembahan
Suryongalam[7]. Ratu Kembar itu aku, yaitu Ratu Kalang dan Ratu Kasmin.”
Gila! Ini jawaban yang sangat menohok dan tak terbayangkan. Samin saat diinterogasi pun tak
mengatakan dirinya sebagai Ratu Adil. Jangan-jangan Kasmin Kalang ini guru Samin Soerosentiko? Atau
jangan-jangan Kalang dan Soerosentiko ternyata Samin Kembar atau Ratu Kembar?
Malam itu aku tak menanyakan rasa penasaranku itu kepada Kasmin Kalang. Bahkan kami tidak
bercakap tentang hal-hal penting lagi, tetapi Kasmin beberapa kali meledek aturan-aturan Pemerintah Hindia
Belanda. Kasmin meledek mengapa harus ada aturan menunggang kuda bagi orang Jawa, berjalan pada
malam hari, dan bikin pagar untuk rumah-rumah di pinggir[8].
Kami bicara hingga menjelang pagi dan dia lagi-lagi meledek, “Kau itu sesungguhnya berada di pihak
kompeni atau kami?”
Aku tak menjawab. Aku tahu Kasmin Kalang paham di wilayah mana aku berpihak.
Setelah itu dia tidak bertanya apa-apa lagi dan pergi sesaat sebelum kokok ayam pertama berbunyi.
20
JANGAN menyangka persoalan telah selesai. Meskipun bisa mengira-ngira siapa sesungguhnya
Kasmin Kalang, aku harus bertanya kepada warga Kedung Tuban, mengenai lelaki misterius itu. Akan tetapi
mungkin karena tahu aku seorang Asisten Residen, ketika pagi itu aku menginterogasi beberapa warga,
mereka serempak menjawab, “Kami semua Kasmin Kalang. Kami tak kenal Samin Soerosentiko.”
Tahu jika dipermainkan, aku melontarkan pertanyaan ngawur, “Apakah kalian kenal Hujan, apakah
kalian kenal Sungai, apakah kalian kenal Angin? Apakah kalian kenal Bunga?”
“Kami semua Hujan! Kami semua Sungai! Kami semua Angin! Kami semua Bunga!”
Aku frustasi mendengarkan jawaban semacam itu. Aku menghentikan pertanyaan dan kutinggalkan
mereka.
KINI kubuka satu fakta lagi: beberapa saat kemudian aku meminta seorang mata-mata mengunjungi
Samin Soerosentiko ke Sawahlunto. Aku minta kepada dia menanyakan mengenai Kasmin Kalang.
Kau tahu apa pendapat Samin Soerosentiko tentang Kasmin Kalang atau Ratu Kembar? Baiklah
kubacakan sebagian laporan mata-mataku: Kata Samin Soerosentiko, “Samin Soerosentiko tak ada. Kasmin
Kalang tak ada. Ratu kembar tak ada. Tapi percayalah kerbau-kerbau di Randublatung tetap ada…”
Aku, kau kerap menyebut namaku Zanveld, tak tahu apakah laporan mata-mataku palsu atau asli.
Yang jelas, aku sedang menimbang-nimbang memuat seluruh pengalamanku ini di Het Nieuws van Den
Dag atau menyembunyikan rapat-rapat di lubuk hati.
Ah, kau tahu apa yang seharusnya dilakukan seorang Asisten Residen terhadap fakta bahwa
seseorang yang lebih kuanggap sebagai pemikir bebas[9] ketimbang penggelora perlawanan
pasif[10] bukan?(*)
Semarang, 2014-2015
Keterangan:
[1] Ayahanda Samin Soerosentiko.
[2] Nama kecil Samin Soerosentiko.
[3] Tanda
[4] Kebo brujul lebokna, kebo branggah tokna/ulehna.
[5] Pohon, daun-daun, serta hewan.
[6] Adam mandeg, Rasul lunga.
[7] Nama yang diberikan pengikut Samin kepada Samin Soerosentiko.
[8] Beberapa data mengenai aturan Pemerintah Hindia Belanda saya peroleh dari Samin: Mistisisme
Petani di Tengah Pergolakan karya Anis Ba’asyin (2014).
[9] Tentu Asisten Residen Blora saat itu menyebut Samin sebagai vrijdenker.
[10] Demikian juga sang Asisten Residen akan menganggap perlawanan Samin sebagai lijdelijk
verzet.
Triyanto Triwikromo telah menerbitkan, antara lain, Surga Sungsang (buku cerita pendek, 2014)
dan Kematian Kecil Kartosoewirjo (buku puisi, 2015). Ia tinggal di Semarang.
[Link]
3. Jika kamu akan mencari informasi yang berkaitan dengan teks tersebut di laman internet, kata apa
yang kamu ketikkan di sana?
21
7. Apakah kamu pernah mendengar tentang orang Samin? Apa yang kamu dengar tentang orang Samin
sebelum membaca teks tersebut?
8. Setelah membaca teks tersebut, apakah menurutmu orang Samin itu baik? Jelaskan alasanmu!
9. Jika kamu memiliki teman seperti orang Samin pada cerita tersebut, apa yang akan kamu sampaikan
pada temanmu itu? Mengapa kamu berkata demikian?
10. Nilai apa yang dapat kamu ambil dari cerita tersebut? Jelaskan alasanmu!
22
LAMPIRAN 7
Lembar Asesmen Sumatif
23
LAMPIRAN 8
Lembar Rubrik Penilaian Formatif
PERTEMUAN 1
Nmr Deskripsi Skor Bobot
1 Menjawab soal nomor 1 dengan tepat 1 10
2 Menjawab soal nomor 2 dengan tepat 1 10
3 Menjawab soal nomor 3 dengan tepat 1 10
4 Menjawab soal nomor 4 dengan tepat 1 10
5 Menjawab soal nomor 5 dengan tepat 1 10
6 Menjawab soal nomor 6 dengan tepat 1 10
7 Menjawab soal nomor 7 dengan tepat 1 10
8 Menjawab soal nomor 8 dengan tepat 1 10
9 Menjawab soal nomor 9 dengan tepat 1 10
10 Menjawab soal nomor 10 dengan tepat 1 10
24
LAMPIRAN 9
Lembar Rubrik Sumatif
25
LAMPIRAN 10
Lembar Refleksi
a. Apakah kamu suka dengan kegiatan pembelajaran ini?
b. Adakah hal menarik lainnya?
c. Cara belajar yang bagaimana yang paling membantumu dalam mempratekkan
pembelajaran?
d. Apakah kamu menemukan kesulitan dalam memahami instruksi/perintah?
e. Apakah kamu benar-benar sudah memahami tema dan suasana puisi
f. Apakah kamu bisa untuk membuat simpulan keterkaitan tema puisi dengan kehidupan
sehari-hari.
26
Samin's philosophy challenges traditional governance by rejecting colonial laws and taxation, asserting self-reliance, and prioritizing local and natural orders (e.g., living by one's own rules and sustaining life through nature). This philosophy embodies a form of anarchism that critiques imposed governance structures by emphasizing autonomy and community-based resource management, marking a significant deviation from hierarchical and external rule .
The concept of 'maling' highlights the tension between the Kompeni and the local people, where stealing by the Kompeni is seen as permissible, while stealing by the locals is not. It is expressed through the dialogue where the speaker challenges the notion of theft, suggesting that perceiving or hearing what is not rightful is itself theft. This reflects deeper injustices and contradictions in colonial rule, where local rights and needs are disregarded .
The educational approach encourages engagement with social and moral issues by using literary texts to prompt discussions on empathy and ethics, exemplified through role-plays and reflective questions. Students are asked to evaluate the moral implications of characters' actions and societal norms depicted in the stories, fostering an understanding of the moral dimensions and critical societal issues within a narrative context .
The lesson plan incorporates differentiated instruction through the use of various media (text, infographics, video) and allows students to create their assessments in diverse formats (e.g., diagrams, texts). It provides additional explanations for slower learners and promotes peer teaching to help bridge gaps in understanding. These methods aim to accommodate various learning speeds and styles, fostering an inclusive educational environment .
The 'kerbau' metaphor signifies a cultural resistance and critique of colonial and external influences, suggesting that the Javanese are being enclosed or controlled (as the 'kerbau jawa' should be in a pen) while foreigners ('kerbau bule') are left outside, unwelcome in local affairs. The metaphor implies a desire for local authority and autonomy, reflecting anti-colonial sentiments and the aspiration for self-rule among the Javanese .
The lesson plan employs activities that require students to identify, evaluate, discuss, and create narratives based on novels or short stories. Critical thinking is developed through steps like evaluating story structures, comparing themes, and drawing inferences, facilitating deeper understanding of texts. The approach encourages students to provide feedback, discuss in groups, and reflect on moral lessons, thus promoting a comprehensive application of critical reasoning skills .
The concept of identity is explored through the dialogue about the name 'Samin,' which is portrayed not as an individual identity but as a symbol ('tetenger') representing communal values and resistance against colonial forces. This abstract identity allows followers to unify under a shared cultural and ideological legacy, emphasizing spiritual and philosophical tenets over personal history, challenging established social constructs .
A 'Profil Pelajar Pancasila' is defined by several characteristics: self-reliance, critical thinking, creativity, and cooperative spirit. A student is expected to proactively develop themselves, evaluate and process information critically, creatively generate solutions to problems (both personal and community-based), and collaborate with others for mutual well-being and happiness .
Integrating real-world problems into literary narratives allows students to develop critical thinking and problem-solving skills by drawing parallels between text scenarios and real-life challenges. This method encourages active learning, deepens comprehension of complex issues, and helps students form a practical understanding of social dynamics and human behavior, enhancing empathy and ethical reasoning in educational contexts .
'Gotong Royong' is integral to the educational development in the curriculum as it promotes collaboration among students, which is seen as vital for achieving collective well-being and success. Group activities and feedback sessions are structured to cultivate teamwork and ensure students learn to work effectively with others, reflecting an educational ethos that values communal harmony and collective learning .