Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas XII
Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas XII
BAHASA
Mata pelajaran : XII / Gasal
Alokasi waktu : Bahasa Indonesia
Jumlah siswa : 6 JP
INDONESIA Fase : 36
:F
KOMPETENSI AWAL
Pengetahuan dan/atau Keterampilan atau Kompetensi Prasyarat
Peserta didik memahami teks artikel
SARANA PRASARANA
Fasilitas
Teks esai, kritik, dan resensi
Komputer/laptop
LCD
Presentasi teks esai, kritik, dan resensi
Laman di internet
Google form penugasan
Lingkungan Belajar
Kelas
MODEL PEMBELAJARAN
Discoveri Learning
TUJUAN PEMBELAJARAN
Pemahaman konseptual dan penalaran Keterampilan
Melalui media presentasi dan video, peserta didik dapat
12.6 Peserta didik mampu mengevaluasi dan merefleksi gagasan dan pandangan berdasarkan
kaidah logika berpikir dari membaca teks esai, kritik, dan resensi
12.7 Peserta didik mampu mengapresiasi teks esai, kritik, dan resensi.
12.8 Peserta didik mampu mengaitkan isi teks esai, kritik, dan resensi dengan hal lain di luar
teks.
12.9 Peserta didik mampu menyajikan dan mempertahankan teks esai, kritik, dan resensi,
serta menyimpulkan masukan dari mitra diskusi.
12.10 Peserta didik mampu menulis teks esai, kritik, dan resensi gagasan, pikiran, pandangan,
pengetahuan metakognisi untuk berbagai tujuan secara logis, kritis, dan kreatif.
PEMAHAMAN BERMAKNA
Manfaat yang diperoleh peserta didik
Manusia yang mandiri, kritis, dan kreatif berkolaborasi untuk mengevaluasi, mengkreasi,
mengapresiasi, menyajikan, dan menulis teks esai, kritik, dan resensi
PERTANYAAN PEMANTIK
1. Pernahkah kamu membicarakan kebaikan dan keburukan temanmu?
2. Bagaimana kamu melihat kebaikan dan keburukan temanmu?
3. Mengapa kamu membicarakan kebaikan dan keburukan temanmu?
4. Biasanya, hal baik atau hal buruk yang sering kalian bicarakan? Mengapa demikian?
5. Tahukah kamu bahwa resensi, esai, dan kritik adalah bagian dari membicarakan orang lain namun dalam
bentuk karya?
PERSIAPAN PEMBELAJARAN
1. Guru menyiapkan piranti perangkat lunak (Laptop /computer dan sejenisnya) dengan internet
2. Guru menyediakan teks esai, kritik, dan resensi dari media cetak atau buku pengetahuan umum
3. Guru menyapa peserta didik
4. Guru melakukan apersepsi pembelajaran
5. Guru memberikan asesmen diagnostik awal dengan membagikan tautan di google form
6. Guru memberikan teks esai, kritik, dan resensi berupa teks, infografis, atau video
7. Guru memberikan Lembar Kerja pada peserta didik
8. Guru memfasilitasi peserta didik ketika membaca teks esai, kritik, dan resensi
9. Guru membimbing peserta didik dalam mengevaluasi, mengkreasi, mengapresiasi, menyajikan, dan
menulis teks esai, kritik, dan resensi
10. Guru menyiapkan lembar kerja peserta didik untuk pembelajaran teks esai, kritik, dan resensi
KEGIATAN PEMBELAJARAN
PERTEMUAN 1
A. Pendahuluan
1. Guru menyapa peserta didik
2. Guru memberikan asesmen diagnostik awal dengan membagikan tautan di google form
3. Guru melakukan apersepsi pembelajaran
Siswa diajak melakukan sebuah adegan seakan-akan di luar kelas
Ada 3 anak duduk di depan kelas, kemudian seorang guru berjalan di depannya. (kesadaran
sosial)
Guru melihat apa yang dilakukan 3 anak tersebut pada guru yang lewat
Guru meminta murid lain merefleksikan kejadian tersebut
Guru menanyakan pada murid nilai moral yang ada dalam sketsa tersebut <berempati pada
sesama dan orang yang lebih tua>
4. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
B. Inti
1. Peserta didik bersama guru membuat kesepakatan kelas sebelum pembelajaran dimulai
- Meminta izin jika akan memegang atau meminjam barang milik orang lain (manajemen diri
dan kesadaran sosial)
- Megacungkan tangan sebelum bertanya atau menyampaikan pendapat (manajemen diri dan
kesadaran sosial)
- Menghargai orang yang sedang berbicara dengan mendengarkannya (manajemen diri dan
kesadaran sosial)
- Masing-masing kelompok memberikan tanggapan atau umpan balik dengan bahasa yang santun
(manajemen diri dan kesadaran sosial)
2. Peserta didik diminta membaca contoh teks esai, kritik, dan resensi
Blog guru : [Link] (deferensiasi konten)
3. Peserta didik mengidentifikasi informasi yang terdapat dalam teks esai, kritik, dan resensi (apa,
siapa, kapan, di mana, bagaimana) (L1)
4. Peserta didik mengevaluasi informasi dan ciri yang terdapat dalam teks esai, kritik, dan resensi
5. Peserta didik mencari inferensi (pokok-pokok bahasan) dalam teks esai, kritik, dan resensi (L2)
6. Peserta didik diberikan lembar kerja
2
7. Peserta didik diminta menuliskan hasil identifikasi, evaluasi, dan bagian penting dalam teks esai,
kritik, dan resensi
Peserta didik diizinkan membuat identifikasi dalam bentuk bagan, teks, infpgrafis, gambar, atau
video (deferensiasi produk)
Peserta didik dengan kemampuan identifikasi lambat diberi penjelasan lebih oleh teman atau guru
(deferensiasi proses)
8. Peserta didik bersama guru berdiskusi tentang informasi penting, ciri, dan bagian teks esai, kritik,
dan resensi
9. Peserta didik mendapatkan umpan balik dari guru tentang informasi penting, ciri, dan bagian dalam
teks esai, kritik, dan resensi
10. Peserta didik disiapkan untuk penugasan
11. Peserta didik mengumpulkan hasil identifikasi informasi, ciri, evaluasi, dan bagian teks esai, kritik,
dan resensi
C. Penutup
1. Guru dan peserta didik menyimpulkan isi informasi, ciri, dan bagian teks esai, kritik, dan resensi
2. Guru meminta salah satu peserta didik untuk menyampaikan konklusi dan refleksi pembelajaran
3. Guru mengakhiri pembelajaran
PERTEMUAN 2
A. Pendahuluan
1. Guru menyapa peserta didik
2. Guru melakukan apersepsi pembelajaran
Siswa diajak melakukan sebuah adegan seakan-akan di luar kelas
Ada 3 anak duduk di depan kelas, kemudian seorang guru berjalan di depannya. (kesadaran
sosial)
Guru melihat apa yang dilakukan 3 anak tersebut pada guru yang lewat
Guru meminta murid lain merefleksikan kejadian tersebut
Guru menanyakan pada murid nilai moral yang ada dalam sketsa tersebut <berempati pada
sesama dan orang yang lebih tua>
3. Guru melakukan apersepsi pembelajaran
B. Inti
1. Peserta didik bersama guru membuat kesepakatan kelas sebelum pembelajaran dimulai
- Meminta izin jika akan memegang atau meminjam barang milik orang lain (manajemen diri
dan kesadaran sosial)
- Megacungkan tangan sebelum bertanya atau menyampaikan pendapat (manajemen diri dan
kesadaran sosial)
- Menghargai orang yang sedang berbicara dengan mendengarkannya (manajemen diri dan
kesadaran sosial)
- Masing-masing kelompok memberikan tanggapan atau umpan balik dengan bahasa yang santun
(manajemen diri dan kesadaran sosial)
2. Peserta didik diminta membaca contoh teks esai, kritik, dan resensi yang telah diidentifikasi pada
pertemuan sebelumnya
3. Peserta didik mencari berbagai informasi yang terkait dengan teks esai, kritik, dan resensi di media
elektronik (L1)
4. Peserta didik menilai akurasi dan kualitas teks esai, kritik, dan resensi berdasarkan informasi yang
telah diperoleh (L3)
5. Peserta didik membandingkan beberapa teks esai, kritik, dan resensi deagan tema yang sama (L2)
Peserta didik diizinkan membuat dalam bentuk bagan, teks, infpgrafis, gambar, atau video
(deferensiasi produk)
Peserta didik dengan kemampuan lambat diberi penjelasan lebih oleh teman atau guru
(deferensiasi proses)
6. Peserta didik menyampaikan hasil penilaian akurasi, kualitas, dan perbandingan di depan teman
yang lain
7. Peserta didik menyampaikan pendapat tentang hasil kelompok lain (L3)
8. Peserta didik mendapatkan umpan balik dari guru tentang akurasi, kualitas, dan perbandingan teks
esai, kritik, dan resensi
9. Peserta didik disiapkan untuk penugasan
10. Peserta didik mengumpulkan hasil penilaian akurasi, kualitas, dan perbandingan dalam google form
C. Penutup
1. Guru dan peserta didik menyimpulkan isi akurasi, kualitas, dan perbandingan teks esai, kritik, dan
resensi
2. Guru meminta salah satu peserta didik untuk menyampaikan konklusi dan refleksi pembelajaran
3. Guru mengakhiri pembelajaran
3
PERTEMUAN 3
A. Pendahuluan
1. Guru menyapa peserta didik
2. Guru melakukan apersepsi pembelajaran
Siswa diajak melakukan sebuah adegan seakan-akan di luar kelas
Ada 3 anak duduk di depan kelas, kemudian seorang guru berjalan di depannya. (kesadaran
sosial)
Guru melihat apa yang dilakukan 3 anak tersebut pada guru yang lewat
Guru meminta murid lain merefleksikan kejadian tersebut
Guru menanyakan pada murid nilai moral yang ada dalam sketsa tersebut <berempati pada
sesama dan orang yang lebih tua>
3. Guru melakukan apersepsi pembelajaran
B. Inti
1. Peserta didik bersama guru membuat kesepakatan kelas sebelum pembelajaran dimulai
- Meminta izin jika akan memegang atau meminjam barang milik orang lain (manajemen diri
dan kesadaran sosial)
- Megacungkan tangan sebelum bertanya atau menyampaikan pendapat (manajemen diri dan
kesadaran sosial)
- Menghargai orang yang sedang berbicara dengan mendengarkannya (manajemen diri dan
kesadaran sosial)
- Masing-masing kelompok memberikan tanggapan atau umpan balik dengan bahasa yang santun
(manajemen diri dan kesadaran sosial)
2. Peserta didik diminta membaca contoh teks esai, kritik, dan resensi yang telah diidentifikasi pada
pertemuan sebelumnya
3. Peserta didik menulis teks esai, kritik, dan resensi yang ada sesuai dengan contoh yang telah dibaca
Peserta didik diizinkan membuat dalam bentuk bagan, teks, infografis, gambar, atau video
(deferensiasi produk)
Peserta didik dengan kemampuan lambat diberi penjelasan lebih oleh teman atau guru
(deferensiasi proses)
4. Peserta didik mempresentasikan teks esai, kritik, dan resensi di depan kelas
5. Peserta didik secara bergantian menyampaikan pendapat atas hasil presentasi kelompok lain (L3)
6. Peserta didik mendapatkan umpan balik dari guru terkait tulisan teks esai, kritik, dan resensi yang
telah dibuat
7. Peserta didik disiapkan untuk penugasan
8. Peserta didik mengumpulkan teks esai, kritik, dan resensi dalam google form
C. Penutup
1. Guru dan peserta didik menyimpulkan penulisan teks esai, kritik, dan resensi yang tepat
2. Guru meminta salah satu peserta didik untuk menyampaikan konklusi dan refleksi pembelajaran
3. Guru mengakhiri pembelajaran
ASESMEN
Diagnostik
Lembar observasi dengan instrumen angket daring di Microsoft form
Kesejahteraan psikologis dan sosial emosi siswa
Aktivitas siswa selama belajar sebelumnya
Kondisi keluarga siswa dan pergaulan siswa
Gaya belajar, karakter, serta minat siswa
Formatif
1. Pengetahuan
Bentuk : tes lisan, dan refleksi
2. Keterampilan
Bentuk : unjuk kerja
3. Sikap Profil Pelajar Pancasila
Bentuk : observasi
Sumatif
Tes tulis
Tes unjuk kerjai
Bentuk asesmen
Tes lisan dan refleksi
Esai
4
Unjuk kerja
GLOSARIUM
Resensi : kekurangan dan kelebihan sebuah buku, kritik dan motivasi bagi pembaca untuk membeli
atau tidak buku yang diresensi
Kritik sastra : analisis terhadap suatu karya sastra untuk mengamati atau menilai baik dan buruknya
suatu karya secara objektif
Esai : karangan singkat yang membahas suatu masalah dari sudut pandang pribadi penulisnya
DAFTAR PUSTAKA
Buku Panduan Guru Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMA/SMK Kelas XII
Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMA/SMK Kelas XII
Mengetahui, Bojonegoro
Kepala Sekolah Guru Mapel
5
DAFTAR LAMPIRAN
1. Lembar Materi Ajar
2. LK PD
3. Lembar Observasi Sikap
4. Lembar Asesmen Diagnostik
5. Lembar Refleksi
6
LAMPIRAN 1
Lembar Materi Ajar
I. Menulis Resensi
a. Pengertian Resensi
Secara etimologis resensi berarti mempertimbangkan atau perbincangan tentang sebuah
buku. Resensi biasanya berisi kekurangan dan kelebihan sebuah buku, kritik dan motivasi
bagi pembaca untuk membeli atau tidak buku yang diresensi. Resensi bukan hanya berguna
untuk buku melainkan film dan drama.
c. Struktur Tulisan
Biasanya pada bagian belakang sampul buku terdapat resensi mini. yang ditulis penerbit
sebagai gambaran isi buku sekaligus media promosi.
Berikut adalah struktur resensi yang lazim digunakan.
Pendahuluan
Bagian ini berisi informasi objektif mengenai buku, film atau drama yang akan
diresensi. Informasi tersebut berisi identitas buku yang meliputi judul, penulis,
penerbit, dan tahun terbit ada pula yang menambahkan jumlah halaman bahkan
harga buku.
Isi
Bagian isi resensi berisi ulasan tentang tema, paparan singkat isi buku, gambaran isi
buku, gaya penulisan, dan latar belakang serta tujuan penulisan sebuah buku. Bisa
ditambah dengan perbandingan isi buku dengan buku bertema sama.
Penutup
Pada bagian terakhir resentator menilai bobot buku secara keseluruhan. Pada
bagian inilah kritik, saran, kelebihan, dan pertimbangan layakkah buku tersebut
dimiliki.
7
yang meminjam sertifikat rumah milik Abah (Ringgo Agus Rahman) yang membuat Abah
bangkrut. Kemudian untuk sementara waktu, Abah memutuskan untuk pindah ke rumah di
daerah terpencil Bogor, Jawa Barat. Rumah tersebut adalah warisan dari ayah Abah dan
merupakan tempat di mana Abah menghabiskan masa kecilnya. Dalam persidangan, ternyata
Abah kalah dan keluarga mereka terancam hidup dalam kemiskinan di desa tersebut untuk
selamanya. Abah kemudian menjadi driver ojek online yang berpenghasilan tidak tetap.
Sehingga, Euis (Adhisty Zara) anak pertama dari keluarga ini menjadi sulit beradaptasi
dengan lingkungan baru, sedangkan Ara (Widuri Putri Sasono) masih belum paham arti
bangkrut yang dialami keluarganya. Keluarga ini pun memiliki tekad untuk pindah kembali
ke Jakarta karena tidak mampu beradaptasi dengan menjual tanah rumah warisan keluarga.
Akan tetapi, pada akhirnya mereka mengurungkan keinginan tersebut dan menyadari di
rumah inilah mereka semakin memahami tentang kasih sayang. Mereka harus bersatu dan
mengatasi semua rintangan yang datang, sambil belajar menghargai nilai-nilai kekeluargaan
dan melawan kesulitan dengan kekuatan persatuan. Cerita ini bertambah lebih menarik
dengan lahirnya anak ketiga yang menambah kebahagiaan dalam keluarga tersebut.
Analisis
Film Keluarga Cemara mempunyai alur yang menarik dan mendalam karena menghadirkan
pesan-pesan berarti sepanjang ceritanya. Film ini mengingatkan kita akan pentingnya
keluarga dalam kehidupan. Terlepas dari situasi sulit atau bahagia, keluarga tetap menjadi
tempat pulang. Dengan penyajian cerita yang sederhana namun realistis, film ini mampu
merangkul kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Film ini berhubungan erat dengan
kehangatan dan melibatkan banyak nilai-nilai kehidupan yang dapat kita ambil.
Evaluasi
Sayangnya, di tengah kehangatan emosional dan nostalgia yang dihadirkan dalam setiap
adegan, film Keluarga Cemara juga mempunyai beberapa kekurangan yang mengurangi
kenyamanan dalam menontonnya. Beberapa adegan terasa tidak memiliki arah yang jelas,
seperti kemunculan tiba-tiba sosok debt collector.
Selain itu, kehadiran penyedia layanan transportasi daring juga dianggap mengganggu
karena sering muncul dan terkesan sebagai bentuk promosi yang berlebihan. Beberapa
adegan juga masih terasa seperti adegan dalam sinetron televisi, misalnya saat Abah
mengalami kecelakaan, di mana penonton diberi petunjuk yang terlalu jelas melalui gerakan
kamera dan dialog, seperti dalam adegan sinetron. Bahkan pada akhir film, terdapat upaya
untuk menambahkan sedikit kesedihan yang terasa dipaksakan.
(Referensi: [Link] )
8
Persamaan Kritik Sastra dan Esai
Persamaannya ini terletak pada kaidah kebahasaannya. Secara garis besar, kritik sastra dan
esai sama-sama menggunakan konjungsi dan adverbia frekuentatif.
1. Konjungsi
Mungkin sebagian dari kamu sudah tahu, kalau konjungsi merupakan kata sambung yang digunakan
untuk menghubungkan antara kata dalam sebuah kalimat. Konjungsi juga bisa digunakan
untuk menghubungkan antar kalimat dalam sebuah paragraf
Misalnya: dan, atau, sedangkan, karena tetapi, tidak hanya, kemudian, sejak, apabila, agar, daripada,
dan lain-lain.
Contoh Konjungsi dalam Kritik Sastra:
Sang Pemimpi adalah judul yang tepat untuk novel ini karena memang kisah yang disajikan
membuat pembaca yakin akan kekuatan mimpi. Tentunya, dengan cinta, pengorbanan, dan rahmat
Tuhan, kita akan dapat mewujudkan mimpi yang kita miliki.
Contoh Konjungsi dalam Esai:
Walaupun demikian, kita tidak menampik bahwa media sosial pun memiliki dampak positif, di
antaranya untuk menjaga silaturahmi dengan keluarga ataupun saudara yang jauh jarak tempat
tinggalnya, mendapatkan ilmu pengetahuan baru, sebagai sumber penyebaran informasi,
memperluas jaringan pertemanan, dan sebagai media media promosi bisnis.
2. Adverbia Frekuentatif
Adverbia adalah kata keterangan. Sementara, frekuentatif merujuk pada frekuensi atau sering.
Berarti, adverbia frekuentatif merupakan kata keterangan yang menunjukkan seberapa sering
sebuah subyek dalam melakukan sesuatu.
Misalnya: sering, jarang, kadang-kadang, selalu, dan lain-lain.
Contoh: selalu, biasanya, sering, banyak, kadang-kadang.
Contoh Adverbia Frekuentatif dalam Kritik Sastra:
Pembaca diajarkan agar menjadi orang yang senantiasa bersyukur. Walaupun di tengah kekurangan,
jangan mengeluh dan selalu berusaha serta berdoa.
Contoh Adverbia Frekuentatif dalam Esai:
Remaja yang tentunya masih dalam usia belajar, sering terganggu waktu belajarnya. Ditambah lagi,
sebaran informasi melalui media sosial dapat membentuk opini di kalangan remaja.
9
2. Pendekatan yang digunakan harus jelas, apakah persoalan didekati dengan pendekatan faktual
atau imajinatif.
3. Ulasan yang menggunakan pendekatan faktual harus didukung oleh fakta yang nyata dan objektif.
Penulis tidak boleh mengubah fakta untuk mendukung pandangannya.
4. Pernyataan yang diungkapkan harus jelas, tidak samar-samar, harus dapat dipercaya, tidak
disangsikan atau disangkal, dan dapat dibuktikan kebenarannya.
10
CONTOH KRITIK SASTRA
Mimpi Anak Belitung pada Novel Sang Pemimpi
Sebuah Kritik Sastra
Mimpi adalah bagian kehidupan. Tanpa mimpi kita akan kurang bersemangat untuk menjalani
kehidupan. Novel Sang Pemimpi adalah sebuah novel kedua karya Andrea Hirata yang merupakan bagian
tetralogi Laskar Pelangi.
Sang Pemimpi adalah judul yang tepat untuk novel ini karena memang kisah yang disajikan membuat
pembaca yakin akan kekuatan mimpi. Tentunya, dengan cinta, pengorbanan, dan rahmat Tuhan, kita akan
dapat mewujudkan mimpi yang kita miliki.
Tiga tokohnya, Arai, Ikal, dan Jimbron, yang digambarkan sebagai pemimpi telah menamatkan SMP
dan akan melanjutkan ke SMA. Dari sinilah perjuangan dan mimpi mereka dimulai.
Tidak tanggung-tanggung, Arai dan Ikal bermimpi untuk kuliah ke Perancis, sedangkan Jimbron
memutuskan untuk menetap di Belitung. Demi impian tersebut, apa pun mereka lakukan.
Impian Arai dan Ikal untuk kuliah di Prancis terwujud, Namun, ini barulah awal perjuangan yang
sesungguhnya.
Kekuatan novel ini terdapat dalam nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Pembaca diajarkan agar
menjadi orang yang senantiasa bersyukur. Walaupun di tengah kekurangan, jangan mengeluh dan selalu
berusaha serta berdoa. Selain itu, dengan kekuatan mimpi, jangan pernah menyerah dan larut dalam
kesedihan. Selain itu, penulis mengajarkan tentang nilai-nilai untuk patuh pada perkataan orang tua.
Dalam novel Sang Pemimpi, juga terdapat kekurangan yang dapat menjadi masukan bagi penulis.
Pembaca dapat mengalami kesulitan dalam memahami bahasa yang digunakan karena ada penggunaan
bahasa daerah dan bahasa Inggris yang tidak dijelaskan di glosarium. Sebaiknya penulis melengkapi kosakata
berbahasa daerah dan asing pada glosarium sehingga pembaca tidak bingung dengan istilah-istilah tersebut.
Hal yang digambarkan lewat kata-kata dari kutipan. “Lalu kami beralih menjadi part time office boy di
kompleks kantor pemerintah. (hal. 69),
CONTOH ESAI
CANDU. Sebuah kata yang tepat untuk menggambarkan keterikatan masyarakat kita pada media
sosial. Semua kalangan seakan “terjerat” dalam rutinitas yang sama setiap harinya. Terlebih lagi kaum
remaja. Remaja larut dalam aktivitas yang satu ini hampir sepanjang hari. Tentunya ada keasyikan tersendiri
sehingga remaja betah berlama-lama dalam menggunakannya. Salah satunya, sebagai wadah menuangkan
berekspresinya.
Penggunaan media sosial di kalangan remaja akan memberikan dampak bagi penggunanya. Remaja
yang tentunya masih dalam usia belajar, sering terganggu waktu belajarnya. Ditambah lagi, sebaran informasi
melalui media sosial dapat membentuk opini di kalangan remaja. Misalnya tentang standar kecantikan di
kalangan remaja perempuan. Hal lainnya yang sangat berbahaya dari media sosial adalah pornografi dan
kejahatan melalui internet.
11
Walaupun demikian, kita tidak menampik bahwa media sosial pun memiliki dampak positif, di
antaranya untuk menjaga silaturahmi dengan keluarga ataupun saudara yang jauh jarak tempat tinggalnya,
mendapatkan ilmu pengetahuan baru, sebagai sumber penyebaran informasi, memperluas jaringan
pertemanan, dan sebagai media media promosi bisnis.
Penggunaan teknologi modern tentunya tidak lepas dari pengaruh positif dan negatif. Tentu saja hal
ini bergantung dari penggunanya, Remaja diharapkan dapat membatasi diri sendiri serta kontrol dari orang
tua sangat diperlukan.
12
LAMPIRAN 2
Lembar Kerja Peserta Didik
RESENSI
Judul : “Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat”
Pengarang: Mark Manson
Jumlah Halaman : 71 halaman
Penerbit: Kompas Gramedia
Tahun Publikasi: 2013
Bagaimana cara fokus dengan hal-hal penting dalam hidup? Mark Manson mengajak pembaca untuk
melepaskan diri dari belenggu kekhawatiran, mencari arti yang lebih dalam dalam hidup, dan mengadopsi
sikap yang lebih santai dan tak peduli terhadap hal-hal yang tidak benar-benar penting dalam buku ini.
Dalam beberapa tahun terakhir, Mark Manson telah menjadi salah satu penulis paling berpengaruh
dalam genre motivasi dan pengembangan diri. Karyanya telah memengaruhi banyak orang untuk
mengeksplorasi hidup dengan lebih jujur, berani, dan autentik.
Novel yang berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat bercerita tentang seseorang yang
bernama Charles Bukowski yang mempunyai masa lalu yang kelam, suka mabuk-mabukan, berjudi,
mempermainkan wanita, kasar, tukang utang dan seorang penyair. Dia bercita-cita menjadi seorang penulis
terkenal namun karya-karyanya selalu ditolak oleh hampir disetiap majalah, jurnal-jurnal, surat kabar dan
penerbit lainnya. Semua penerbit tersebut tidak mau menerbitkan karyanya dengan alasan tulisannya yang
kasar, menjijikkan dan tidak bermoral.
Berpuluh tahun Bukowski hidup sebagai penyair dan kehidupan yang buruk, sampai pada akhirnya
ada seorang editor yang tertarik akan karya Bukowski sehingga editor tersebut mau membantu untuk
menerbitkan karya Bukowski. Mulai dari situlah Bukowski menulis karya-karya dan menjadi sukses. Novel
ini merupakan cerita dibalik kesuksesan Bukowski yang sesungguhnya. Dia merasa “nyaman” dengan dirinya
yang dianggap sebagai sebuah kegagalan.
Novel ini merupakan kisah nyata Bukowski yang intinya bagaimana ia menyikapi kegagalan dan
kesulitan yang dihadapi dalam kehidupannya dengan cara bersikap “bodo amat” sehingga dia bertahan,
merasa baik dan menerima disaat keadaan buruknya sehingga dia bisa menghadapi kesulitan-kesulitan
tersebut. Dengan bersikap bodo amat akan hal-hal atau masalah yang dihadapi maka kita sudah berhasil
memutus rantai lingkaran setan.
Mark Manson memiliki gaya penulisan yang lugas, tulus, dan humoris. Ia menggunakan bahasa yang
mudah dipahami dan menekankan pesan-pesannya dengan penggunaan analogi dan cerita pendek yang
menarik. Gaya penulisannya yang menghibur membuat buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat mudah
diikuti dan menyenangkan untuk dibaca.
Meskipun buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat menyentuh beberapa konsep filosofis,
beberapa pembaca mungkin merasa bahwa pendekatan Mark Manson terlalu permukaan dan tidak
membahas secara mendalam konsep-konsep tersebut. Bagi mereka yang mencari pemahaman filosofis yang
lebih mendalam atau analisis yang komprehensif, buku ini mungkin terasa sedikit kurang memuaskan.
Selain itu, pendekatan Mark Manson yang lugas dan kontroversial mungkin tidak sesuai dengan
selera dan kebutuhan semua pembaca. Beberapa orang mungkin merasa bahwa buku ini terlalu “keras” dan
tidak relevan dengan kehidupan mereka.
Salah satu kekurangan yang dapat ditemukan dalam buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo
Amat adalah pandangan-pandangan yang disampaikan oleh Mark Manson bisa jadi kontroversial bagi
sebagian orang.
Seni bersikap bodo amat dan penekanan pada kepuasan diri sendiri dapat dianggap sebagai sudut
pandang yang egois atau tidak bertanggung jawab bagi beberapa pembaca. Beberapa orang mungkin tidak
setuju dengan pandangan-pandangannya yang mencabut beban tanggung jawab dan menempatkan
kebahagiaan individu di atas segalanya.
Namun, buku ini tetap layak untuk menjadi salah satu buku pengembangan diri terbaik di abad ini
karena menawarkan perspektif yang berbeda, menarik, dan menyegarkan.
(Referensi: [Link]
[Link] )
ESAI
Simbolisasi Kerinduan Puisi "Malam Rindu" Karya Joko Pinurbo
Catatan : puisi "Malam Rindu" Karya Joko Pinurbo menjadi puisi sakral penuh ironi nan syahdu. Bagaimana
tidak, di makna dan bahasa dalam puisi banyak menggunakan kata-kata demokrasi dan nasionalisme. Entah
bagaimana pola pikir sang penyair sehingga dapat membuat puisi yang memiliki makna mendalam.
13
Malam Minggu. Hatiku ketar-ketir.
Ku tak tahu apakah demokrasi dapat mengantarku
ke pelukanmu dengan cara seksama
dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Sebelum Ahad tiba, anarki bisa saja muncul
Cara Menghilangkan Papiloma secara Alamiah
Papiloma Hilang dan Parasit Keluar, Minum Ini
Papiloma Hilang dan Parasit Keluar, Minum Ini
Jika Anda Minum Ini, Pagi-pagi Semua Parasit akan Keluar!
dari sebutir dengki atau sebongkah trauma,
mengusik undang-undang dasar cinta, merongrong
pencarindu di bibirku, dan aku gagal
mengobarkan Sumpah pemuda di bibirmu.
Ketika membaca Puisi “Malam Rindu” karya Joko Pinurbo, kita dapat merasakan bahwa penyair
berhasil menggambarkan kompleksitas emosi yang sering muncul dalam hubungan antarmanusia melalui
kata-kata yang sederhana dan daya tarik kuat namun bermakna mendalam.
Dalam puisi ini, Joko Pinurbo membawa kita ke dalam pengalaman kekerasan rindu yang mendalam.
Dia menciptakan gambaran malam yang hening, tempat kerinduan mengalir begitu kental di udara. Kata-
katanya yang sederhana namun sarat dengan makna menggambarkan perasaan yang tak terelakkan: rindu
yang begitu kuat, hampir bisa kita rasakan secara fisik.
Salah satu hal yang menarik dari puisi ini adalah bagaimana Joko Pinurbo menggambarkan rindu
sebagai sesuatu yang hidup, seperti "rumah tanpa api" yang "berderak di suara hujan." Ini adalah metafora
yang sangat kuat, karena kita bisa membayangkan kekosongan dan kerinduan yang mendalam melalui
gambaran tersebut. Bahkan, dalam kesunyian malam, rindu itu seolah-olah berbicara kepada kita dengan
suara yang begitu nyata.
Namun, lebih dari sekadar menggambarkan rasa rindu, puisi ini juga menciptakan suasana yang
melankolis dan merenung. Ada keindahan yang tersembunyi di dalam kesedihan yang digambarkan dalam
puisi ini. Mungkin melalui rindu, kita belajar lebih banyak tentang diri kita sendiri, tentang kerapuhan dan
kekuatan emosional yang ada dalam diri kita.
Selain itu, gaya bahasa Joko Pinurbo dalam puisi ini sangatlah khas. Dia menggunakan kata-kata yang
sederhana namun penuh dengan kekuatan emosional. Penggunaan bahasa yang sederhana tapi efektif ini
memperkuat kesan mendalam dari puisi tersebut. Ini adalah contoh keahlian seorang penyair dalam
menggambarkan perasaan manusia dengan kata-kata yang sederhana namun penuh makna.
Dalam keseluruhan, "Malam Rindu" karya Joko Pinurbo adalah karya sastra yang menggetarkan hati
dan merangsang imajinasi. Melalui penggambaran yang indah dan kata-kata yang sederhana namun penuh
makna, puisi ini mengajak kita untuk merenung tentang kekuatan rindu dan kerinduan dalam kehidupan
manusia.
[Link]
malam-rindu-karya-joko-pinurbo?page=all#sectionall
Kreator: Miftahul Nimah
KRITIK
Kebekuan Gender dalam Pandangan Konservatif: Analis Cerpen "Dilarang Mencintai Bunga-bunga"
Karya Kuntowijoyo
"Dilarang Mencintai Bunga-bunga" merupakan salah satu dari kumpulan cerpen Kuntowijoyo yang
terbit tahun 2016. Cerpen ini secara keseluruhan menceritakan bagaimana perbedaan dua sudut pandang
mengenai hidup atau cara menjalaninya beserta bentuk perlawanan antara satu dengan yang lain dan seperti
apa itu mulai memengaruhi pola pikir seseorang. Di dalamnya juga terdapat banyak bagian menyinggung
masalah stereotip gender terutama oleh tokoh ayah “Buyung”. Tidak lupa juga dibubuhi konflik antara tokoh
“Buyung” dengan kedua orang tuanya.
Buyung digambarkan sebagai seseorang yang penuh akan rasa ingin tahu seperti yang ditunjukan di
awal konflik dimana dirinya berniat mencari tahu tentang kebenaran sang kakek, tetangganya, yang dinilai
keramat dan tidak banyak diketahui oleh orang-orang sekitar. Selain itu juga menampilkan sosok yang
mudah terpengaruh karena seperti yang kita tahu, Buyung menggambarkan seorang ‘anak’ yang masih perlu
sekolah dan pergi mengaji.
Sifat yang mudah terpegaruh terlihat saat dirinya baru pertama kali bertemu dengan sang kakek
namun langsung akrab seakan berkenalan dengan teman sebaya. Ia juga menerima dengan mudah perkataan-
perkataan teman tuanya itu seperti bagaimana ia menurut untuk sering datang ke rumah berpagar tingginya,
menangkap apa yang dikatakannya tentang “hidup harus penuh dengan bunga-bunga, tidak peduli dengan
hirak-piruk dunia.” Dengan bukti membawa bunga ditangannya setelah pulang dari sana.
14
Terakhir, watak yang bisa dibilang sering nampak ialah seperti anak-anak pada umumnya, yaitu
menentang ketika dikekang, membrontak jika orang tuanya memaksa kehendak, namun akhirnya memilih
tetap tunduk dan patuh kerena terlampau takut dan segan. Contohnya pada bagian terakhir ketika sang ayah
bertanya “Untuk apa tamgam ini, Buyung?", dan seketika Buyung menjawab “Kerja!” seperti apa yang
diharapkan dan pandangan sebenernya tentang hidup menurut ayahnya. Bahkan di akhir cerita, buyung
seperti memutuskan untuk memilih ayah kerja bengkel dan ibu mengaji masjid karena terdapat kalimat
“Bagaimanapun, aku adalah anak ayah dan ibuku.”
Seperti yang disinggung tadi, kita bisa melihat bagaimana tokoh ayah Buyung dibuat keras,
berintonasi tinggi, selalu menentang apa yang tidak sejalan dengannya. Seperti saat Buyung yang selalu
membawa bunga dan dimarahinya, dibuangnya bunga itu, dan lagi sering kali ditampilkan bahwa sang ayah
ini tipe orang yang memagang teguh prinsip hidup untuk kerja dan kerja seperti paham kapitalisme. Selain
itu, seperti yang dibahas pertama kali, tokoh ayah Buyung ini juga sangat percaya akan stereotip gender yang
mana beberapa kali ia menentang perilaku putranya yang tidak nampak sebagai ‘lelaki’ dalam pandangannya.
“Laki-laki tidak perlu bunga, Buyung. Kalau kau perempuan, bolehlah. Tetapi engkau laki-laki!”
adalah salah satu bagian yang menampilkan kebekuan gender pada cerpen ini. Kebekuan-kebekuan ini
ditunjukkan lewat dialog tokoh ayah Buyung, seperti pada kutipan lain; “Lelaki itu mesti di luar kamar.”, dan
“Engkau laki-laki. Enkau seorang laki-laki. Engkau mesti kerja.”. Dari sini sehingga bisa terlihat bahwa selain
mengenai arti hidup yang penuh ketenangan jiwa dan keteguhan batin dengan hidup untuk kerja dan kerja,
keinginan Buyung dengan pandangan atau prinsip “lelaki” menurut ayahnya menjadi pertentangan antara
keduanya.
Jika Anda Minum Ini, Pagi-pagi Semua Parasit akan Keluar!
Jika Anda Minum Ini, Pagi-pagi Semua Parasit akan Keluar!
Cara Menghilangkan Papiloma secara Alamiah
Dalam 1 bulan Anda akan mendapatkan 10 kg otot sekeras batu tanpa harus berolahraga dan diet
Setelah dua tokoh di atas, masih terdapat tokoh yang tak kalah penting pula yaitu sang kakek. Tokoh
kakek ini dibuat agar adanya unsur perbandingan dengan tokoh ayah Buyung. Juga ditambah kata-katanya
yang penuh akan makna konotasi namun bisa dipahami maksud dari setiap kata per kata, yang mana
bertujuan membingbing, ‘menceramahi’, membuka pikiran tokoh Buyung agar ikut ke ‘jalan’ yang ia lalui.
Seperti kalimat ucapan sang kakek yang sampai harus Buyung tanyakan pada orang tuanya,
“Katakanlah, apa yang lebih baik daripada ketenangan jiwa dan keteguhan batin?”, menandakan bahwa tokoh
kakek di sini memiliki pengaruh pada tokoh Buyung. Selain kata-katanya yang penuh akan teka-teki makna
yang bisa menarik kita pada maksud-maksud tertentu, tokoh kakek sering menghubungkan tanda dengan
maksud di dunia nyata tanpa dikenali apa itu makna kias atau sebenarnya.
Untuk maksud kalimat-kalimat sang kakek sendiri bisa disimpulkan bahwa dalam pandangannya,
kebahagiaan itu ada di dalam jiwa dan ketenangan batin. Hidup itu permainan dan segala hiruk-pikuk dunia
hanya menipu diri. Itu datanh dari dorongan nafsu, hasrat, dan ambisi, dan inilah yang justru menjadikan
manusia gelisah, kasar, dan menderita. Hiduplah seperti bunga, yang terus mekar tanpa perduli pada hal-hal
di luar, hadapi semuanya dengan terseyum. Apa pun yang kita hadapi di luar selalu akan mendatangkan
kebahagiaan jika jiwa kita tenang.
Dari analisis tokoh dan penokohan di atas, dapat terlihat bahwa Kuntowijoyo berhasil membuat
karya sastra bernilai tinggi. Kehadiran tokoh Buyung, ayahnya, dan sang kakek menjadikan cerpen ini
membawa suatu pesan lewan sintesis antar-hal yang bertentangan, sehingga menjadi suatu kelebihan bagi
cerpen ini karena memiliki salah satu ciri dari entitas sastra yang baik. Dapat terlihat bahwa dengan adanya
pertentangan hingga perbandingan dari dua pandangan, membuat cerpen ini bisa memberi pembelajaran
dan pesan secara jelas pada pembaca.
Yakni dalam hidup kita dapat membuat pilihan sesuai dengan apa yang kita percaya, apa yang kita
suka, dan membawa guna. Namun tentu, baik pandangan pertama atau kedua, masing-masing akan bisa
tersampaikan dengan baik pada pembaca. Entah itu membawa setuju atau tidak, namun yang terpenting kita
bisa tahu bahwa di luar sana ada banyak pandangan yang berbeda dengan kita.
Kita memang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, namun jika kita hidup hanya
terfokus pada materi, justru malah akan membuat kita kian tak bisa menikmati hidup dari hasil kerja kita,
selalu merasa kurang dan tak puas. Kemudian menyalahkan diri karena merasa sia-sia hingga harus kecewa
dan terlampau Lelah. Kita dituntut untuk memiliki ini-itu sehingga harus terus bekerja, lebih banyak dan
keras.
Sebenarnya tak ada kewajiban kita untuk memenuhi tuntutan itu, yang bukan kebutuhan hidup. Tak
ada pula yang memaksa kita. Tapi, tanpa sadar, kita dipaksa oleh standar-standar kehidupan yang
dikonstruksi oleh pandangan sosial tertentu. Maka dari itu, ada yang perlu kita lihat dari dalam diri kita.
Berusaha menyadari bahwa kebahagiaan dan kepuasan hidup itu tidak semata-mata harus bentuk konkret
yang harus dicari. Itu sudah ada dalam diri kita, apa yang kita punya, namun kita perlu berusaha sabar dan
rela agar bisa merasakannya.
15
[Link]
pandangan-konservatif-analis-cerpen-dilarang-mencintai-bunga-bunga-karya-kuntowijoyo?
page=all#section1
Kreator: Annis Leily
TUGAS 1
1. Identifikasilah ide pokok setiap paragraf dalam teks tersebut!
2. Tulislah kalimat yang menandakan struktur dalam teks esai, kritik, dan resensi tersebut!
16
LAMPIRAN 3
Lembar Observasi Sikap
17
LAMPIRAN 4
Lembar Asesmen Diagnostik
18
LAMPIRAN 5
Lembar Refleksi
19