Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas XII
Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas XII
BAHASA
Mata pelajaran : XII / Gasal
Alokasi waktu : Bahasa Indonesia
Jumlah siswa : 6 JP
INDONESIA Fase : 36
:F
KOMPETENSI AWAL
Pengetahuan dan/atau Keterampilan atau Kompetensi Prasyarat
Peserta didik memahami kalimat fakta, opini, dan teks argumentasi
SARANA PRASARANA
Fasilitas
Teks artikel
Komputer/laptop
LCD
Presentasi teks artikel
Laman di internet
Google form penugasan
Lingkungan Belajar
Kelas
MODEL PEMBELAJARAN
Discoveri Learning
TUJUAN PEMBELAJARAN
Pemahaman konseptual dan penalaran Keterampilan
Melalui media presentasi dan video, peserta didik dapat
12.2 Peserta didik mampu mengkreasi dan mengapresiasi gagasan dan pendapat untuk
menanggapi teks artikel yang disimak.
12.3 Peserta didik mampu mengevaluasi dan merefleksi gagasan dan pandangan berdasarkan
kaidah logika berpikir dari membaca teks artikel.
12.4 Peserta didik mampu mengaitkan isi teks artikel. dengan hal lain di luar teks.
12.5 Peserta didik mampu menulis teks artikel gagasan, pikiran, pandangan, pengetahuan
metakognisi untuk berbagai tujuan secara logis, kritis, dan kreatif.
PEMAHAMAN BERMAKNA
Manfaat yang diperoleh peserta didik
Manusia yang mandiri, kritis, dan kreatif berkolaborasi untuk mengevaluasi, mengkreasi,
mengapresiasi, menyajikan, dan menulis teks artikel
PERTANYAAN PEMANTIK
1. Bagaimana menurut pendapatmu tentang peraturan yang ada di SMAN 4 saat ini?
2. Adakah peraturan yang menurutmu sudah baik atau belum baik? Jelaskan jawabanmu!
3. Bagaimana peraturan yang baik menurut pendapatmu?
4. Pernahkah kamu menyampaikan pendapat sebelumnya?
5. Bagaimana proses pengambilan keputusan setelah kamu menyampaikan pendapat selama ini?
6. Bagaimanakah menyampaikan teks artikel yang baik?
PERSIAPAN PEMBELAJARAN
1. Guru menyiapkan piranti perangkat lunak (Laptop /computer dan sejenisnya) dengan internet
2. Guru menyediakan teks artikel dari media cetak atau buku pengetahuan umum
3. Guru menyapa peserta didik
4. Guru melakukan apersepsi pembelajaran
5. Guru memberikan asesmen diagnostik awal dengan membagikan tautan di google form
6. Guru memberikan teks artikel berupa teks, infografis, atau video
7. Guru memberikan Lembar Kerja pada peserta didik
8. Guru memfasilitasi peserta didik ketika membaca teks artikel
9. Guru membimbing peserta didik dalam mengevaluasi, mengkreasi, mengapresiasi, menyajikan, dan
menulis teks artikel
10. Guru menyiapkan lembar kerja peserta didik untuk pembelajaran teks artikel
KEGIATAN PEMBELAJARAN
PERTEMUAN 1
A. Pendahuluan
1. Guru menyapa peserta didik
2. Guru memberikan asesmen diagnostik awal dengan membagikan tautan di google form
3. Guru melakukan apersepsi pembelajaran
Siswa diajak melakukan sebuah adegan seakan-akan di luar kelas
Ada 3 anak duduk di depan kelas, kemudian seorang guru berjalan di depannya. (kesadaran
sosial)
Guru melihat apa yang dilakukan 3 anak tersebut pada guru yang lewat
Guru meminta murid lain merefleksikan kejadian tersebut
Guru menanyakan pada murid nilai moral yang ada dalam sketsa tersebut <berempati pada
sesama dan orang yang lebih tua>
4. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
B. Inti
1. Peserta didik bersama guru membuat kesepakatan kelas sebelum pembelajaran dimulai
- Meminta izin jika akan memegang atau meminjam barang milik orang lain (manajemen diri
dan kesadaran sosial)
- Megacungkan tangan sebelum bertanya atau menyampaikan pendapat (manajemen diri dan
kesadaran sosial)
- Menghargai orang yang sedang berbicara dengan mendengarkannya (manajemen diri dan
kesadaran sosial)
- Masing-masing kelompok memberikan tanggapan atau umpan balik dengan bahasa yang santun
(manajemen diri dan kesadaran sosial)
2. Peserta didik diminta membaca contoh teks artikel
Blog guru : [Link] (deferensiasi konten)
3. Peserta didik mengidentifikasi informasi yang terdapat dalam teks artikel (apa, siapa, kapan, di
mana, bagaimana) (L1)
4. Peserta didik mengevaluasi informasi dan ciri yang terdapat dalam teks artikel
5. Peserta didik mencari inferensi (pokok-pokok bahasan) dalam teks artikel (L2)
6. Peserta didik diberikan lembar kerja
7. Peserta didik diminta menuliskan hasil identifikasi, evaluasi, dan bagian penting dalam teks artikel
Peserta didik diizinkan membuat identifikasi dalam bentuk bagan, teks, infpgrafis, gambar, atau
2
video (deferensiasi produk)
Peserta didik dengan kemampuan identifikasi lambat diberi penjelasan lebih oleh teman atau guru
(deferensiasi proses)
8. Peserta didik bersama guru berdiskusi tentang informasi penting, ciri, dan bagian teks artikel
9. Peserta didik mendapatkan umpan balik dari guru tentang informasi penting, ciri, dan bagian dalam
teks artikel
10. Peserta didik disiapkan untuk penugasan
11. Peserta didik mengumpulkan hasil identifikasi informasi, ciri, evaluasi, dan bagian teks artikel
C. Penutup
1. Guru dan peserta didik menyimpulkan isi informasi, ciri, dan bagian teks artikel
2. Guru meminta salah satu peserta didik untuk menyampaikan konklusi dan refleksi pembelajaran
3. Guru mengakhiri pembelajaran
PERTEMUAN 2
A. Pendahuluan
1. Guru menyapa peserta didik
2. Guru melakukan apersepsi pembelajaran
Siswa diajak melakukan sebuah adegan seakan-akan di luar kelas
Ada 3 anak duduk di depan kelas, kemudian seorang guru berjalan di depannya. (kesadaran
sosial)
Guru melihat apa yang dilakukan 3 anak tersebut pada guru yang lewat
Guru meminta murid lain merefleksikan kejadian tersebut
Guru menanyakan pada murid nilai moral yang ada dalam sketsa tersebut <berempati pada
sesama dan orang yang lebih tua>
3. Guru melakukan apersepsi pembelajaran
B. Inti
1. Peserta didik bersama guru membuat kesepakatan kelas sebelum pembelajaran dimulai
- Meminta izin jika akan memegang atau meminjam barang milik orang lain (manajemen diri
dan kesadaran sosial)
- Megacungkan tangan sebelum bertanya atau menyampaikan pendapat (manajemen diri dan
kesadaran sosial)
- Menghargai orang yang sedang berbicara dengan mendengarkannya (manajemen diri dan
kesadaran sosial)
- Masing-masing kelompok memberikan tanggapan atau umpan balik dengan bahasa yang santun
(manajemen diri dan kesadaran sosial)
2. Peserta didik diminta membaca contoh teks artikel yang telah diidentifikasi pada pertemuan
sebelumnya
3. Peserta didik mencari berbagai informasi yang terkait dengan teks artikel di media elektronik (L1)
4. Peserta didik menilai akurasi dan kualitas teks artikel berdasarkan informasi yang telah diperoleh
(L3)
5. Peserta didik membandingkan beberapa teks artikel deagan tema yang sama (L2)
Peserta didik diizinkan membuat dalam bentuk bagan, teks, infografis, gambar, atau video
(deferensiasi produk)
Peserta didik dengan kemampuan lambat diberi penjelasan lebih oleh teman atau guru
(deferensiasi proses)
6. Peserta didik menyampaikan hasil penilaian akurasi, kualitas, dan perbandingan di depan teman
yang lain
7. Peserta didik menyampaikan pendapat tentang hasil kelompok lain (L3)
8. Peserta didik mendapatkan umpan balik dari guru tentang akurasi, kualitas, dan perbandingan teks
artikel
9. Peserta didik disiapkan untuk penugasan
10. Peserta didik mengumpulkan hasil penilaian akurasi, kualitas, dan perbandingan dalam google form
C. Penutup
1. Guru dan peserta didik menyimpulkan isi akurasi, kualitas, dan perbandingan teks artikel
2. Guru meminta salah satu peserta didik untuk menyampaikan konklusi dan refleksi pembelajaran
3. Guru mengakhiri pembelajaran
PERTEMUAN 3
A. Pendahuluan
1. Guru menyapa peserta didik
2. Guru melakukan apersepsi pembelajaran
Siswa diajak melakukan sebuah adegan seakan-akan di luar kelas
Ada 3 anak duduk di depan kelas, kemudian seorang guru berjalan di depannya. (kesadaran
3
sosial)
Guru melihat apa yang dilakukan 3 anak tersebut pada guru yang lewat
Guru meminta murid lain merefleksikan kejadian tersebut
Guru menanyakan pada murid nilai moral yang ada dalam sketsa tersebut <berempati pada
sesama dan orang yang lebih tua>
3. Guru melakukan apersepsi pembelajaran
B. Inti
1. Peserta didik bersama guru membuat kesepakatan kelas sebelum pembelajaran dimulai
- Meminta izin jika akan memegang atau meminjam barang milik orang lain (manajemen diri
dan kesadaran sosial)
- Megacungkan tangan sebelum bertanya atau menyampaikan pendapat (manajemen diri dan
kesadaran sosial)
- Menghargai orang yang sedang berbicara dengan mendengarkannya (manajemen diri dan
kesadaran sosial)
- Masing-masing kelompok memberikan tanggapan atau umpan balik dengan bahasa yang santun
(manajemen diri dan kesadaran sosial)
2. Peserta didik diminta membaca contoh teks artikel yang telah diidentifikasi pada pertemuan
sebelumnya
3. Peserta didik menulis teks artikel yang ada sesuai dengan contoh yang telah dibaca
Peserta didik diizinkan membuat dalam bentuk bagan, teks, infografis, gambar, atau video
(deferensiasi produk)
Peserta didik dengan kemampuan lambat diberi penjelasan lebih oleh teman atau guru
(deferensiasi proses)
4. Peserta didik mempresentasikan teks artikel di depan kelas
5. Peserta didik secara bergantian menyampaikan pendapat atas hasil presentasi kelompok lain (L3)
6. Peserta didik mendapatkan umpan balik dari guru terkait tulisan teks artikel yang telah dibuat
7. Peserta didik disiapkan untuk penugasan
8. Peserta didik mengumpulkan teks artikel dalam google form
C. Penutup
1. Guru dan peserta didik menyimpulkan penulisan teks artikel yang tepat
2. Guru meminta salah satu peserta didik untuk menyampaikan konklusi dan refleksi pembelajaran
3. Guru mengakhiri pembelajaran
ASESMEN
Diagnostik
Lembar observasi dengan instrumen angket daring di Microsoft form
Kesejahteraan psikologis dan sosial emosi siswa
Aktivitas siswa selama belajar sebelumnya
Kondisi keluarga siswa dan pergaulan siswa
Gaya belajar, karakter, serta minat siswa
Formatif
1. Pengetahuan
Bentuk : tes lisan, dan refleksi
2. Keterampilan
Bentuk : unjuk kerja
3. Sikap Profil Pelajar Pancasila
Bentuk : observasi
Sumatif
Tes tulis
Tes unjuk kerjai
Bentuk asesmen
Tes lisan dan refleksi
Esai
Unjuk kerja
4
Peserta didik yang menemukan kesulitan/sulit memahami konsep dapat diberikan materi tambahan berupa
latihan mandiri dengan guru (dilakukan ketika guru melakukan formatif asesmen, dan peserta didik lainnya
sedang beraktivitas)
Peserta didik diberikan kutipan sebuah teks artikel dan diidentifikasi isi, ciri, dan bagian untuk
berlatih di luar jam pelajaran
Peserta didik diberikan waktu khusus sebelum masuk kelas pelajaran Bahasa Indonesia untuk
mengeksplorasi teks artikel
GLOSARIUM
Artikel adalah karangan berisi fakta dan opini yang dibuat untuk dipublikasikan di media cetak
maupun media sosial
fakta : sesuatu hal yang benar-benar ada dan terjadi, fakta sering juga disebut dengan kenyataan
opini : pendapat atau pikiran seseorang yang belum tentu benar karena tidak/ belum ada bukti
kebenarannya
DAFTAR PUSTAKA
Buku Panduan Guru Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMA/SMK Kelas XII
Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMA/SMK Kelas XII
Mengetahui, Bojonegoro
Kepala Sekolah Guru Mapel
5
DAFTAR LAMPIRAN
1. Teks artikel
2. Lembar Materi Ajar
3. LK PD
4. Lembar Observasi Sikap
5. Lembar Asesmen Diagnostik
6. Lembar Asesmen Formatif
7. Lembar Asesmen Sumatif
8. Lembar Refleksi Pertemuan I
6
LAMPIRAN 1
Teks fungsional
dunia kerja dan
7
LAMPIRAN 2
Lembar Materi Ajar
Pengertian Artikel
Apa itu artikel? Artikel adalah karangan berisi fakta dan opini yang dibuat untuk
dipublikasikan di media cetak maupun media sosial. Artikel bertujuan untuk menyampaikan
gagasan dilengkapi data dan fakta yang disajikan dalam bentuk tulisan. Sebuah artikel dapat
meyakinkan, mendidik, dan menghibur pembaca, lho.
Tujuan Artikel
Tujuan dari artikel bisa di lihat dari 2 sudut pandang, yakni tujuan bagi penulis artikel dan
tujuan bagi pembacanya.
Ciri-Ciri Artikel
Setelah tahu tujuan artikel dari sisi penulis maupun pembaca, sekarang kita pelajari tentang apa
saja ciri-ciri artikel, ya! Kamu dapat mengidentifikasi sebuah teks artikel, jika tulisan tersebut
memiliki ciri sebagai berikut:
8
1. Isi tulisan dalam artikel didasari oleh fakta
Seluruh tulisan dalam artikel merupakan kejadian yang nyata dan bukan sebuah rekayasa penulis
maupun mitos.
2. Bersifat faktual dan informatif
Artikel bersifat faktual yang berarti berdasarkan kenyataan dan mengandung kebenaran. Serta
informatif yang berarti memberikan informasi berdasarkan hasil penelitian yang dapat dipastikan
kebenarannya.
3. Mengandung opini atau gagasan yang subjektif
Artikel ditulis berdasarkan gagasan atau opini penulisnya. Akan tetapi, pemikiran tersebut
dilandasi oleh fakta, hasil penelitian, maupun teori.
4. Artikel ditulis secara singkat, padat, dan jelas
Agar mudah untuk diterima pembaca, artikel juga ditulis dengan komunikatif, tidak bertele-tele,
dan ringkas. Maka dari itu artikel juga disebut sebagai tulisan ilmiah populer.
5. Penulisan artikel dibuat dengan sistematis
Artikel memiliki bagian-bagian tertentu dan ditulis secara sistematis, sehingga pembaca dapat
mengerti isinya dengan mudah.
1. Adverbia
Maksud dari adverbia ini adalah kata-kata yang bersifat menerangkan kata lain dalam suatu
kalimat. Contohnya, sangat, lebih, selalu, biasanya, sering, kadang-kadang, jarang, sebagian besar,
dan lain sebagainya. Fungsinya untuk meyakinkan pembaca melalui penegasan tersebut.
3. Pemilihan Kosakata
Pada teks artikel, kosakata atau perbendaharaan kata-katanya harus diperhatikan agar menarik
dan meyakinkan pembaca, terutama pada artikel opini.
Struktur Artikel
Secara umum, struktur artikel terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian Pernyataan pendapat atau
tesis, bagian argumentasi, dan bagian pernyataan ulang atau reiterasi. Penjelasannya ada di
bawah ya:
1. Pernyataan pendapat atau tesis
Bagian pada struktur artikel ini berisi uraian aktual yang penting untuk dijadikan pijakan
pembahasan di dalam artikel.
2. Argumentasi
Kemudian, bagian argumentasi yang berisi permasalahan yang coba dibahas dan akan dikupas
secara faktual dan informatif.
3. Pernyataan ulang atau Reiterasi
Bagian struktur artikel yang terakhir yakni berisi kalimat kunci yang merangkum pembahasan ke
dalam bentuk simpulan.
Jenis-Jenis Artikel
Berdasarkan cara penyampaian dan tingkat kesulitan, jenis artikel dibedakan menjadi empat
macam nih. Kita bahas jenis-jenis artikel satu persatu ya:
9
1. Artikel Praktis
Artikel praktis merupakan artikel yang mengutamakan keterampilan daripada pengembangan
pengetahuan. Artikel ini cenderung naratif, artinya pesan yang disusun sesuai dengan urutan
waktu, peristiwa, atau tahapan.
Kamu pernah membaca artikel tentang petunjuk membuat sesuatu atau cara memperbaiki dan
mengoperasikan suatu alat? Nah, itu termasuk ke dalam artikel praktis.
2. Artikel Ringan
Hal utama yang dibahas dalam artikel ini ialah masalah yang ringan dan nggak butuh
pemahaman yang mendalam. Biasanya, penulis mengemas artikel ini dengan humor atau
memberi kesan menghibur pembaca, tapi isinya tetap informatif ya.
Jadi, pembaca tidak perlu berkonsentrasi penuh untuk membaca sebuah artikel ringan. Kamu bisa
menemukan artikel ini di majalah remaja, koran, atau blog. Contohnya kayak di Blog Ruangguru di
bawah ini.
Contoh artikel ringan yang membahas kenapa hujan bikin kita galau, mager, dan laper?(sumber:
[Link]/blog)
3. Artikel Opini
Secara umum semua artikel adalah opini. Tapi, jenis jenis artikel ini cuma ada di dalam surat kabar
atau majalah yang punya penempatan khusus, lho. Penempatan khusus ini terdapat dalam rubrik
misalnya kolom opini, tajuk rencana atau editorial, dan lain-lain. Oh ya, biasanya artikel ini
membahas suatu permasalahan secara mendalam, jadi akan lebih baik bila penulis harus memiliki
pemahaman dan sudah ahli di bidang tersebut.
10
Ciri khasnya yaitu penyajiannya yang tidak panjang lebar tetapi tidak mengurangi nilai
keilmiahannya. Biasanya artikel ini dimuat pada jurnal-jurnal ilmiah.
Bedanya, artikel lain biasa menggunakan bahasa populer, sedangkan artikel ini harus memakai
bahasa baku atau ilmiah. Beberapa orang menyebutnya artikel ilmiah.
1. Tujuan
Umumnya, artikel ditulis untuk menyampaikan informasi singkat atau berita terkini mengenai
suatu topik. Artikel bisa bersifat opini, feature, atau berita umum. Sementara, jurnal ditulis untuk
menyajikan hasil penelitian ilmiah dan analisis mendalam mengenai topik tertentu. Jurnal memiliki
fokus pada metode penelitian, temuan, dan pembahasan yang rinci.
2. Proses Review
Dalam proses review, artikel tidak selalu melibatkan proses review atau quality control yang
ketat. Beberapa artikel mungkin tidak melalui penilaian oleh pakar
sejawat. Kalau jurnal umumnya melibatkan proses review atau quality control ketat, di mana
tulisan dievaluasi oleh para ahli dalam bidang tersebut sebelum diterbitkan.
3. Tingkat Kedalaman
Tingkat kedalaman di sini bukan kedalaman kolam renang ya, guys! Hehehe. Tapi, tingkat
kedalaman ini mengukur seberapa dalam pembahasan pada tulisan. Dalam sebuah artikel, biasanya
pembahasannya mencakup berbagai macam topik dengan tingkat kedalaman yang bervariasi.
Pembahasan artikel juga lebih singkat dibandingkan jurnal yang lebih panjang dan rinci karena
mencerminkan hasil penelitian ilmiah yang mendalam.
4. Referensi
Dalam sebuah tulisan, referensi memang sangat diperlukan, guys. Tapi biasanya, artikel
mencantumkan referensi tetapi tidak sebanyak jurnal. Sementara, kalau jurnal, cenderung
memiliki daftar referensi yang lebih lengkap dan sering kali mengacu pada penelitian
sebelumnya.
5. Gaya Penulisan
Gaya penulisan pada artikel biasanya ditulis dalam gaya yang lebih santai dan menghibur,
tergantung pada jenis artikelnya. Kebalikan dari artikel, jurnal menggunakangaya penulisan
formal dan ilmiah.
6. Tempat Publikasi
Di mana sih biasanya sebuah tulisan dipublikasi? Tergantung, guys! Kalau tulisannya
berupa artikel, biasanya dapat ditemukan di berbagai media, seperti majalah, surat kabar, atau
situs web berita. Tapi, kalau jurnal biasanya diterbitkan dalam jurnal ilmiah yang khusus untuk
penelitian akademis.
7. Penulis
Satu lagi nih perbedaan antara artikel dan jurnal, yaitu penulisnya. Jika ditinjau dari beberapa
perbedaan yang sudah dibahas sebelumnya, bisa dilihat bahwa artikel dapat ditulis oleh siapa
saja yang memang memiliki ketertarikan pada pembahasan tertentu. sedangkan jurnal
ilmiah harus ditulis oleh ahli di bidang tertentu.
Sumber Artikel
Untuk membuat artikel yang baik, tentu saja melibatkan penggunaan sumber yang dapat dipercaya
dan relevan. Berikut beberapa sumber yang dapat kamu gunakan jika ingin membuat artikel:
1. Jurnal Ilmiah
11
Kalau artikel yang ingin ditulis berkenaan dengan penelitian ilmiah atau temuan terkini, maka
jurnal ilmiah terpercaya dalam bidang yang relevan menjadi sumber rujukan yang bisa
digunakan. Banyak kok jurnal yang menyediakan abstrak atau ringkasan gratis. Terus ada juga
beberapa jurnal yang dapat diakses seluruhnya melalui institusi pendidikan atau perpustakaan.
2. Buku
‘Buku adalah jendela dunia’. Kutipan ini bener lho, guys! Sebab, buku seringkali menyediakan
wawasan mendalam dan pemahaman menyeluruh tentang suatu topik. Pastikan untuk
menggunakan buku yang ditulis oleh penulis yang berpengalaman dan ahli dalam bidangnya, ya!
6. Wawancara
Jika memungkinkan, melakukan wawancara dengan pakar atau praktisi yang memiliki pengalaman
langsung dalam topik yang dibahas dapat memberikan wawasan tambahan, sekaligus bisa
dijadikan sebagai sumber referensi juga, lho!
7. Sumber Primer
Meskipun terdengar cukup serius, tapi dengan menggunakan sumber-sumber primer seperti
dokumen resmi, catatan sejarah, atau data statistik langsung akan membuat artikel yang dibuat
semakin mantap dan kredibel pastinya~
Oiya, jangan lupa juga untuk selalu untuk mengevaluasi kredibilitas sumber informasi dan untuk
mencantumkan referensi dengan benar dalam artikel yang dibuat, ya! Tentu saja, hal ini akan
meningkatkan kepercayaan pembaca terhadap tulisan yang kamu buat.
Supaya makin kebayang, yuk simak salah satu contoh artikel di bawah ini!
Contoh Artikel
Terus, bagaimana contoh artikel itu? Menurutmu artikel di bawah ini termasuk jenis apa,
guys? Tulis di kolom komentar yah!
12
13
LAMPIRAN 3
Lembar Kerja Peserta Didik
Contoh Artikel
Berlama-lama di Sekolah untuk Apa?
Fenny Yulinanita, [Link].
Guru Bahasa Indonesia SMAN 4 Bojonegoro
Jam sekolah sudah lama, tapi IQ rata-rata masih 78,4. Apa yang salah dengan sistem
pendidikan kita?
Pertanyaan itu menggelitik jika disandingkan dengan kebijakan Guberbur NTT,
Viktor Bungtilu Laiskodat. Beliau membuat gebrakan baru di bidang pendidikan dengan
kebijakan sekolah masuk pukul 05.00 Wita. Dalih “ masuk sekolah 05.00 Wita untuk
melatih etos kerja dan kedisiplinan.” Sekolah pertama yang melaksanakan kebijakan
tersebut adalah SMAN 6 Kupang. Beliau berdalih kebijakan tersebut dibuat untuk melatih
etos kerja dan kedisiplinan siswa. Namun, benarkah demikian?
Jam belajar di Indonesia memang sering kali mendapat sorotan. Kebijakan siswa
masuk pukul 07.00 hingga pukul 15.30 dianggap terlalu lama di sekolah. Pembelajaran
tidak lagi kondusif ketika pembelajaran terlalu lama. Belum lagi di saat anak-anak lelah
belajar di sekolah, masih banyak tugas di rumah.
Jam belajar di beberapa negara
Beberapa negara yang tingkat pendidikannya bagus menerapkan jam masuk
sekolah berbeda. Finlandia, negara dengan tingkat kebahagiaan nomor satu di dunia
menerapkan pembelajaran di SMA mulai pukul 09.00 sampai pukul 14.45. Australia
menerapkan pembelajaran mulai pukul 08.30 sampai pukul 15.00. Swedia menerapkan
pembelajaran mulai pukul 08.30 sampai pukul 15.00. Sedangkan Jepang menerapkan
pembelajaran mulai pukul 08.00 hingga pukul 15.00 – 16.00.
Berbagai negara tersebut mungkin tidak selalu bisa diterapkan di negara kita.
Beberapa pihak menyampaikan bahwa masing-masing negara memiliki kebijakan yang
berbeda terkait jam masuk sekolah. Hal tersebut sesuai lingkungan dan kebutuhan
siswanya.
Namun di sisi lain, dilema kurangnya kontrol anak di luar sekolah juga menjadi
masalah di sekitar kita. Anak dianggap aman berlama-lama di sekolah dibanding
berkeliaran di luar sekolah. Hal itu tidak sepenuhnya salah. Pada kenyataannya memang
lingkungan di luar sekolah tidak membentuk masyarakat menjadi pembelajar yang baik.
Kita lihat saja di sekitar kita, remaja di luar sibuk berbincang-bincang di kafe, di
warung kopi, atau sekadar bercanda di bahu jalan. Tak satu pun di antara mereka
menghabiskan waktu untuk membaca. Perpustakaan sepi pengunjung. Mereka tertawa
terbahak-bahak membahas banyak hal namun tidak untuk belajar. Bahkan belajar tentang
hidup.
Namun, sudah tepatkah kebijakan masuk sekolah pukul 05.00 Wita? Tentu saja
jawabannya tidak. Lama belajar di sekolah bukanlah satu-satunya kriteria ketercapaian
proses pembelajaran. Hal tersebut tampak nyata ketika guru masih memberikan tugas
tambahan di rumah. Tugas tersebut sebagai tanda bahwa pembelajaran di sekolah belum
cukup untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Banyaknya tugas rumah menandakan pembelajaran di dalam kelas tidak tercapai
dengan maksimal. Ada tugas yang bisa diselesaikan di luar jam megajar. Namun jika setiap
hari ada tugas yang diberikan guru, itu sebagai penanda pembelajaran di kelas belum
tercapai.
14
Hal lain yang mengindikasikan belum tercapainya tujuan pendidikan kita adalah
hasil riset IQ. Hasil riset, rerata IQ Indonesia berada pada posisi 78,49. Jika pembelajaran
sudah dilaksanakan di sekolah selama 8 jam sehari dan masih ada tugas rumah, mengapa
rerata IQ kita hanya 78,49? Apa yang salah dengan pendidikan kita? Masihkah perlu belajar
berlama-lama di sekolah?
Tidak dapat dipungkiri, pendidikan kita memang masih jauh dari harapan. Namun
hal itu bukan semata kesalahan dari sekolah. Sebab pendidikan seyogyanya bukan hanya
dari sekolah. Pendidikan adalah dari rumah, masyarakat, media, pemerintah, dan sekolah.
Kita dididik oleh alam, lingkungan, masyarakat, pemerintah, media, baru sekolah.
Jika sekolah sudah mengupayakan 8 jam bersama ilmu pengetahuan, bagaimana
dengan lingkungan? Pengalaman belajar di kelas seharusnya didukung oleh lingkungan
berpendidikan. Baik lingkungan rumah, maupun lingkungan masyarakat. Namun belum
demikian dengan Indonesia. Pendidikan seolah hanya berhenti sampai pintu gerbang
sekolah. Di luar gerbang sekolah, pendidikan telah usai. Berhenti memikirkan ilmu
pengetahuan, apalagi mengejawantahkannya dalam perilaku.
Lingkungan juga abai pada sikap dan perilaku siswa di luar sekolah. Lingkungan
abai sama saja permisif atas tindakan tak berlandaskan pendidikan. Membiarkan anak di
bawah umur merokok, bergadang hingga larut malam, bahkan berkeliaran di jam sekolah.
Lingkungan permisif pada tontonan anak. Membiarkan mereka melihat tayangan tidak
bermutu, bermain tanpa kenal waktu, bahkan ikut menyaksikan remaja beradu.
Pendidikan bukan hanya milik kelas-kelas di sekolah. Pendidikan adalah milik dan
tanggung jawab semua orang. Keluarga memiliki kewajiban memberikan pendidikan awal
yang dibutuhkan anak sebelum masuk ke kelas. Keluarga juga berkewajiban mendampingi
proses belajar anak. Mengingatkan jika anak lupa belajar, memberikan sarana prasarana
pendidikan yang memadai, serta memberikan rasa nyaman anak dalam pencarian bakat
dan jati diri.
Selain keluarga, masyarakat juga bertanggung jawab atas pendidikan anak.
Masyarakat sebagai penyedia rasa aman anak dalam berpendidikan, menegur jika anak
lalai di lingkungan, memberikan ruang pada anak mengaktualisasikan pendidikan yang
telah dipelajari di sekolah dan di rumah. Lingkungan sebagai rumah nyaman, memberi
ruang anak bersosialisasi dengan benar. Masyarakat bukan hanya bersifat nyata,
masyarakat maya di media sosial juga memiliki tugas tak kalah penting dibanding sekolah
dan rumah. Masyarakat maya sebagai monitor tingkah laku maya anak di media sosial.
Jika semua lini melaksanakan tugasnya dalam pendidikan anak, maka pendidikan
Indonesia tak perlu menunggu waktu lama menuju perkembangan pesat. Namun jika
pendidikan masih hanya terjadi di bangku-bangku sekolah, maka perkembangan
pendidikan masih sebatas mimpi. Selama apa pun pendidikan dilakukan, tanpa kerjasama
semua pihak, hanya akan sia-sia.
TUGAS PERTEMUAN 1
1. Identifikasilah ide pokok setiap paragraf dalam teks tersebut!
2. Tulislah 5 kalimat fakta dan 5 kalimat opini yang terdapat dalam teks!
15
3. Tulislah kalimat yang menandakan struktur dalam teks artikel tersebut!
Tesis
Argumen
Pernyataan ulang
TUGAS PERTEMUAN 2
1. Menurut pendapatmu, sesuaikah teks tersebut dengan kenyataan yang ada di masyarakat?
Jelaskan jawabanmu menggunakan bukti
2. Sepakatkah kamu dengan teks tersebut? Mengapa kamu menjawab demikian?
3. Jika siswa di Indonesia masuk lebih siang (pukul 08.00), apakah pendidikan akan efektif dan
efisien? Jelaskan jawabanmu!
16
LAMPIRAN 4
Lembar Observasi Sikap
17
LAMPIRAN 5
Lembar Asesmen Diagnostik
18
LAMPIRAN 6
Lembar Asesmen Formatif
Jam sekolah sudah lama, tapi IQ rata-rata masih 78,4. Apa yang salah dengan sistem
pendidikan kita?
Pertanyaan itu menggelitik jika disandingkan dengan kebijakan Guberbur NTT,
Viktor Bungtilu Laiskodat. Beliau membuat gebrakan baru di bidang pendidikan dengan
kebijakan sekolah masuk pukul 05.00 Wita. Dalih “ masuk sekolah 05.00 Wita untuk
melatih etos kerja dan kedisiplinan.” Sekolah pertama yang melaksanakan kebijakan
tersebut adalah SMAN 6 Kupang. Beliau berdalih kebijakan tersebut dibuat untuk melatih
etos kerja dan kedisiplinan siswa. Namun, benarkah demikian?
Jam belajar di Indonesia memang sering kali mendapat sorotan. Kebijakan siswa
masuk pukul 07.00 hingga pukul 15.30 dianggap terlalu lama di sekolah. Pembelajaran
tidak lagi kondusif ketika pembelajaran terlalu lama. Belum lagi di saat anak-anak lelah
belajar di sekolah, masih banyak tugas di rumah.
Jam belajar di beberapa negara
Beberapa negara yang tingkat pendidikannya bagus menerapkan jam masuk
sekolah berbeda. Finlandia, negara dengan tingkat kebahagiaan nomor satu di dunia
menerapkan pembelajaran di SMA mulai pukul 09.00 sampai pukul 14.45. Australia
menerapkan pembelajaran mulai pukul 08.30 sampai pukul 15.00. Swedia menerapkan
pembelajaran mulai pukul 08.30 sampai pukul 15.00. Sedangkan Jepang menerapkan
pembelajaran mulai pukul 08.00 hingga pukul 15.00 – 16.00.
Berbagai negara tersebut mungkin tidak selalu bisa diterapkan di negara kita.
Beberapa pihak menyampaikan bahwa masing-masing negara memiliki kebijakan yang
berbeda terkait jam masuk sekolah. Hal tersebut sesuai lingkungan dan kebutuhan
siswanya.
Namun di sisi lain, dilema kurangnya kontrol anak di luar sekolah juga menjadi
masalah di sekitar kita. Anak dianggap aman berlama-lama di sekolah dibanding
berkeliaran di luar sekolah. Hal itu tidak sepenuhnya salah. Pada kenyataannya memang
lingkungan di luar sekolah tidak membentuk masyarakat menjadi pembelajar yang baik.
Kita lihat saja di sekitar kita, remaja di luar sibuk berbincang-bincang di kafe, di
warung kopi, atau sekadar bercanda di bahu jalan. Tak satu pun di antara mereka
menghabiskan waktu untuk membaca. Perpustakaan sepi pengunjung. Mereka tertawa
terbahak-bahak membahas banyak hal namun tidak untuk belajar. Bahkan belajar tentang
hidup.
Namun, sudah tepatkah kebijakan masuk sekolah pukul 05.00 Wita? Tentu saja
jawabannya tidak. Lama belajar di sekolah bukanlah satu-satunya kriteria ketercapaian
proses pembelajaran. Hal tersebut tampak nyata ketika guru masih memberikan tugas
tambahan di rumah. Tugas tersebut sebagai tanda bahwa pembelajaran di sekolah belum
cukup untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Banyaknya tugas rumah menandakan pembelajaran di dalam kelas tidak tercapai
dengan maksimal. Ada tugas yang bisa diselesaikan di luar jam megajar. Namun jika setiap
hari ada tugas yang diberikan guru, itu sebagai penanda pembelajaran di kelas belum
tercapai.
19
Hal lain yang mengindikasikan belum tercapainya tujuan pendidikan kita adalah
hasil riset IQ. Hasil riset, rerata IQ Indonesia berada pada posisi 78,49. Jika pembelajaran
sudah dilaksanakan di sekolah selama 8 jam sehari dan masih ada tugas rumah, mengapa
rerata IQ kita hanya 78,49? Apa yang salah dengan pendidikan kita? Masihkah perlu belajar
berlama-lama di sekolah?
Tidak dapat dipungkiri, pendidikan kita memang masih jauh dari harapan. Namun
hal itu bukan semata kesalahan dari sekolah. Sebab pendidikan seyogyanya bukan hanya
dari sekolah. Pendidikan adalah dari rumah, masyarakat, media, pemerintah, dan sekolah.
Kita dididik oleh alam, lingkungan, masyarakat, pemerintah, media, baru sekolah.
Jika sekolah sudah mengupayakan 8 jam bersama ilmu pengetahuan, bagaimana
dengan lingkungan? Pengalaman belajar di kelas seharusnya didukung oleh lingkungan
berpendidikan. Baik lingkungan rumah, maupun lingkungan masyarakat. Namun belum
demikian dengan Indonesia. Pendidikan seolah hanya berhenti sampai pintu gerbang
sekolah. Di luar gerbang sekolah, pendidikan telah usai. Berhenti memikirkan ilmu
pengetahuan, apalagi mengejawantahkannya dalam perilaku.
Lingkungan juga abai pada sikap dan perilaku siswa di luar sekolah. Lingkungan
abai sama saja permisif atas tindakan tak berlandaskan pendidikan. Membiarkan anak di
bawah umur merokok, bergadang hingga larut malam, bahkan berkeliaran di jam sekolah.
Lingkungan permisif pada tontonan anak. Membiarkan mereka melihat tayangan tidak
bermutu, bermain tanpa kenal waktu, bahkan ikut menyaksikan remaja beradu.
Pendidikan bukan hanya milik kelas-kelas di sekolah. Pendidikan adalah milik dan
tanggung jawab semua orang. Keluarga memiliki kewajiban memberikan pendidikan awal
yang dibutuhkan anak sebelum masuk ke kelas. Keluarga juga berkewajiban mendampingi
proses belajar anak. Mengingatkan jika anak lupa belajar, memberikan sarana prasarana
pendidikan yang memadai, serta memberikan rasa nyaman anak dalam pencarian bakat
dan jati diri.
Selain keluarga, masyarakat juga bertanggung jawab atas pendidikan anak.
Masyarakat sebagai penyedia rasa aman anak dalam berpendidikan, menegur jika anak
lalai di lingkungan, memberikan ruang pada anak mengaktualisasikan pendidikan yang
telah dipelajari di sekolah dan di rumah. Lingkungan sebagai rumah nyaman, memberi
ruang anak bersosialisasi dengan benar. Masyarakat bukan hanya bersifat nyata,
masyarakat maya di media sosial juga memiliki tugas tak kalah penting dibanding sekolah
dan rumah. Masyarakat maya sebagai monitor tingkah laku maya anak di media sosial.
Jika semua lini melaksanakan tugasnya dalam pendidikan anak, maka pendidikan
Indonesia tak perlu menunggu waktu lama menuju perkembangan pesat. Namun jika
pendidikan masih hanya terjadi di bangku-bangku sekolah, maka perkembangan
pendidikan masih sebatas mimpi. Selama apa pun pendidikan dilakukan, tanpa kerjasama
semua pihak, hanya akan sia-sia.
TUGAS PERTEMUAN 1
1. Identifikasilah ide pokok setiap paragraf dalam teks tersebut!
2. Tulislah 5 kalimat fakta dan 5 kalimat opini yang terdapat dalam teks!
20
3. Tulislah kalimat yang menandakan struktur dalam teks artikel tersebut!
Tesis
Argumen
Pernyataan ulang
TUGAS PERTEMUAN 2
1. Menurut pendapatmu, sesuaikah teks tersebut dengan kenyataan yang ada di masyarakat?
Jelaskan jawabanmu menggunakan bukti
2. Sepakatkah kamu dengan teks tersebut? Mengapa kamu menjawab demikian?
3. Jika siswa di Indonesia masuk lebih siang (pukul 08.00), apakah pendidikan akan efektif dan
efisien? Jelaskan jawabanmu!
21
22
LAMPIRAN 7
Lembar Asesmen Sumatif
23
LAMPIRAN 8
Lembar Refleksi
24