Pertimbangan Pengembangan Jaringan
1. Berapa jumlah total subnet yang dibutuhkan
saat ini.
2. Berapa jumlah total subnet yang dibutuhkan
untuk masa mendatang.
3. Berapa banyak host yang ada di subnet
terbesar saat ini.
4. Berapa banyak host yang akan ada di
subnet terbesar pada masa mendatang.
CIDR (Classless Inter-Domain Routing)
Classless Inter-Domain Routing (CIDR) adalah
sebuah cara alternatif untuk
mengklasifikasikan alamat-alamat IP berbeda
dengan sistem klasifikasi ke dalam kelas A,
kelas B, kelas C, kelas D, dan kelas E.
Disebut juga sebagai supernetting.
CIDR (Classless Inter-Domain Routing)
CIDR merupakan mekanisme routing dengan
membagi alamat IP jaringan ke dalam kelas-
kelas A, B, dan C.
CIDR digunakan untuk mempermudah penulisan
notasi subnet mask agar lebih ringkas
dibandingkan penulisan notasi subnet mask
yang sesungguhnya.
CIDR (Classless Inter-Domain Routing)
Untuk penggunaan notasi alamat CIDR pada
classfull address pada :
▪ Kelas A adalah /8 sampai dengan /15,
▪ Kelas B adalah /16 sampai dengan /23,
▪ Kelas C adalah /24 sampai dengan /28.
Subnet mask CIDR /31 dan /32 tidak pernah
ada dalam jaringan yang nyata
Metoda Pengalamatan Standar
Adalah Metoda pengalamatan dengan
menggunakan aturan standar (Tanpa
Subnetting), yakni dengan membagi alamat IP
jaringan hanya ke dalam kelas-kelas IP : A,
B, dan C.
Masalah yang terjadi pada sistem
pengalamatan yang standar adalah bahwa
sistem tersebut meninggalkan banyak sekali
alamat IP yang tidak digunakan (Pemborosan).
VLSM ( Variable Length Subnet Masking )
VLSM adalah pengembangan mekanisme
subnetting, dimana dalam VLSM dilakukan
peningkatan dari kelemahan subneting klasik.
Selain itu, dalam subnet classic, lokasi nomor
IP tidak efisien.
Pemanfaatan VLSM
Pada proses subnetting akan menghasilkan
beberapa sub jaringan dengan jumlah host
yang sama, maka ada kemungkinan di dalam
blok-blok jaringan tersebut memiliki alamat-
alamat yang tidak digunakan atau
memungkinkan butuh lebih banyak alamat.
Pemanfaatan VLSM
Karena itulah, dalam kasus ini proses
subnetting harus dilakukan berdasarkan blok
sub jaringan yang dibutuhkan oleh jumlah host
terbanyak.
Pemanfaatan VLSM
Guna memaksimalkan penggunaan ruang
alamat yang tetap, subnetting pun
diaplikasikan secara rekursif untuk membentuk
beberapa subjaringan dengan ukuran
bervariasi, yang diturunkan dari network
identifier yang sama.
VLSM ( Variable Length Subnet Masking )
Teknik subnetting seperti ini disebut juga
Variable-Length Subnetting.
Subjaringan-subjaringan yang dibuat dengan
teknik ini menggunakan subnet mask yang
disebut sebagai Variable-length Subnet Mask
(VLSM).
VLSM ( Variable Length Subnet Masking )
Teknik VLSM harus dilakukan secara hati-hati
sehingga subnet yang dibentuk pun unik, dan
dengan menggunakan subnet mask tersebut
dapat dibedakan dengan subnet lainnya,
meski berada dalam network identifer asli yang
sama.
VLSM ( Variable Length Subnet Masking )
Kehati-hatian tersebut melibatkan analisis
yang lebih terhadap blok-blok jaringan yang
akan menentukan berapa banyak blok yang
akan dibuat dan berapa banyak jumlah host
dalam setiap bloknya.
Contoh 1
Diberikan Class C network [Link]/24,
ingin di subnet dengan kebutuhan berdasarkan
jumlah host :
netA = 14 hosts
netB = 28 hosts
netC = 2 hosts
netD = 7 hosts
netE = 28 hosts
Contoh 1
Secara keseluruhan terlihat untuk melakukan
hal tersebut di butuhkan 3 bit 1 atau masking
bit 27 dan 5 bit 0 host (25 – 2 = 30 hosts)
Contoh 1
netA (14 hosts): [Link]/27 => ada 30 hosts; tidak
terpakai 16 hosts
netB (28 hosts): [Link]/27 => ada 30 hosts; tidak
terpakai 2 hosts
netC ( 2 hosts): [Link]/27 => ada 30 hosts; tidak
terpakai 28 hosts
netD ( 7 hosts): [Link]/27 => ada 30 hosts; tidak
terpakai 23 hosts
netE (28 hosts): [Link]/27 => ada 30 hosts; tidak
terpakai 2 hosts
Contoh 1
Dengan demikian terlihat adanya ip address
yang tidak terpakai dalam jumlah yang cukup
besar.
Hal ini mungkin tidak akan menjadi masalah
pada ip private akan tetapi jika ini di
alokasikan pada ip public maka terjadi
pemborosan dalam pengalokasian ip public
tersebut.
Solusi 1
Untuk mengatasi hal ini (efisiensi) dapat digunakan
metoda VLSM, yaitu dengan cara sebagai berikut:
1. Buat urutan berdasarkan penggunaan jumlah host
terbanyak (14,28,2,7,28 menjadi 28,28,14,7,2).
2. Tentukan blok subnet berdasarkan kebutuhan host:
28 hosts + 1 network + 1 broadcast = 30 –> menjadi 32 ip (/27)
28 hosts + 1 network + 1 broadcast = 30 –> menjadi 32 ip (/27)
14 hosts + 1 network + 1 broadcast = 16 –> menjadi 16 ip (/28)
7 hosts + 1 network + 1 broadcast = 9 –> menjadi 16 ip (/28)
2 hosts + 1 network + 1 broadcast = 4 –> menjadi 4 ip (/30)
Penerapan VLSM – Contoh 1
Sehingga blok subnet-nya menjadi :
netB (28 hosts): [Link]/27 => ada 30 hosts;
tidak terpakai 2 hosts
netE (28 hosts): [Link]/27 => ada 30 hosts;
tidak terpakai 2 hosts
netA (14 hosts): [Link]/28 => ada 14 hosts;
tidak terpakai 0 hosts
netD ( 7 hosts): [Link]/28 => ada 14 hosts;
tidak terpakai 7 hosts
netC ( 2 hosts): [Link]/30 => ada 2 hosts;
tidak terpakai 0 hosts
Kesimpulan – Contoh 1
netB (27 Bit)
Subnet Mask : [Link]
Network Address : [Link]
Broadcast Address : [Link]
Range IP : [Link]-[Link]
Sisa : 2 IP Address
Kesimpulan – Contoh 1
netE (27 Bit)
Subnet Mask : [Link]
Network Address : [Link]
Broadcast Address : [Link]
Range IP : [Link]-[Link]
Sisa : 2 IP Address
Kesimpulan – Contoh 1
netA (28 Bit)
Subnet Mask : [Link]
Network Address : [Link]
Broadcast Address : [Link]
Range IP : [Link]-[Link]
Sisa : 0 IP Address
Kesimpulan – Contoh 1
netD (28 Bit)
Subnet Mask : [Link]
Network Address : [Link]
Broadcast Address : [Link]
Range IP : [Link]-[Link]
Sisa : 7 IP Address
Kesimpulan – Contoh 1
netC (30 Bit)
Subnet Mask : [Link]
Network Address : [Link]
Broadcast Address : [Link]
Range IP : [Link]-[Link]
Sisa : 0 IP Address