0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan5 halaman

Diagnosa dan Tatalaksana Gagal Jantung

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan5 halaman

Diagnosa dan Tatalaksana Gagal Jantung

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

 EKG

Untuk mendiagnosis adanya iskemia pada miokardium dapat ditemukan


adanya repolarisasi yang abnormal, berupa segmen ST depresi. Gejala
tidak langsung seperti tanda riwayat MI (Q patologis), abnormalitas pada
konduksi (biasanya LBBB). Pada EKG pasien ini ditemukan adanya
riwayat MI pada anteroseptal dan inferior.
 Echocardiografi

Dimensi LV Normal , IVS dan PW tidak menebal, massa tidak meningkat


- Kontraktilitas LV menurun EF 46% (simpson 48 %) . Disfungsi diastolik
grade I
- Wall Motion : Hipokinetik Mid anteroseptal - apikal anterior, mid
inferoseptal - apikal septal , Apikal Lateral
Normokinetik segmen lainnya
- Dimensi LA , RA & RV : Normal
- Kontraktilitas RV Baik (TAPSE 2.1 cm)

Hasil pemeriksaan echo pada pasien CCS dapat ditemukan LV ejection


fraction (LVEF) yang abnormal ringan (menurun) yaitu 46%. LVEF
berperan penting dalam menilai tingkat keparahan penurunan fungsi
sistolik jantung. LVEF memiliki nilai prognosis dalam memprediksi
outcome pada pasien gagal jantung kongestif, setelah infark miokard, dan
setelah revaskularisasi. Bila ada penurunan fungsi LV yang sesuai dengan
daerah disfungsi arteri koronernya maka pasien dicurigai sudah memiliki
MI. Penurunan fungsi LV diastolik merupakan gejala awal disfungsi
iskemia pada miokardium dan dapat menjadi indikasi disfungsi
mikrovaskular.
Pada pasien ini ditemukan LV yang normal dengan
abnormalitasnya kontraktilitas EF 46% dan adanya disfungsi diastolik pada
grade 1 mendukung diagnosis ACS pada pasien. Pada wall motion
menunjukkan gambaran hipokinetik pada mid anteroseptal-apikal anterior,
mid inferoseptal-apikal septal , serta apikal lateral.

A. Tatalaksana
 Bedrest total
Bedrest total dapat dianjurkan pada pasien gagal jantung dan kelainan
katup jantung dengan keparahan sedang sampai berat. Selain itu diperlukan
pemantauan aktivitas kelistrikan jantung berkala menggunakan ekg untuk
mencegah terjadinya atrial fibrilasi.
 O2 NK 3 lpm bila SpO2 < 90%
Pemberian oksigen diindikasikan pada pasien dengan saturasi oksigen
turun di bawah 90%.
 DJ IV 1700 kkal
Diet jantung IV diberikan sebagai makanan perpindahan dari diet
jantung III kepada pasien jantung dengan keadaan ringan, pasien sudah
dapat dilakukan rawat jalan. Jika disertai hipertensi dan/edema, diberikan
diet jantung IV rendah garam. Diet ini cukup energi dan zat lain kecuali
kalsium.

T
abel 9. Rekomendasi Diet ESC untuk Manajemen Faktor Risiko dan
Pencegahan Primer Penyakit Kardiovaskular
 Inf RL 40 cc/jam
Pemberian infus ringer laktat untuk menggantikan cairan tubuh yang
hilang serta meningkatkan diuresis. Kemudian tujuan pemberian infus
ringer laktat adalah mengatasi hipertensi, diare serta aritmia (gangguan
irama jantung). Ringer laktat juga dapat melakukan reperfusi.
 V-bloc 2x12.5mg
Beta-bloker merupakan obat anti iskemia lini pertama untuk mengontrol
HR pasien 55-60 bpm saat istirahat. Beta-bloker menghambat kerja sistem
saraf simpatis pada jantung yaitu menghambat reseptor beta-adrenergik
jantung → denyut jantung dan kekuatan kontraksi jantung berkurang →
kebutuhan oksigen berkurang.
 Nitrokaf Retard 1x2.5mg
Long-acting nitrat merupakan lini kedua terapi angina jika terdapat
kontraindikasi pemberian b-blocker/CCB, toleransi buruk, atau gejala belum
membaik. Saat dikonsumsi dalam waktu yang lama, dapat timbul toleransi
sehingga perlu stop/penurunan dosis nitrat secara bertahap 10-14 jam untuk
menghindari rebound angina. ESO yang dapat muncul adalah kardiomiopati
obstruktif hipertrofik, stenosis katup aorta berat, dan pemberian bersama
fosfodiesterase inhibitor (misalnya sildenafil, tadalafil, atau vardenafil) atau
riociguat.
 Miniaspi 1x80mg - antiplatelet
Pada pasien ini diberikan aspirin karena pasien mengeluhkan nyeri dada
yang hilang timbul. Saat dilakukan pemeriksaan EKG dan echo yang
mendukung pasien memiliki PJK. Aspirin secara irreversibel menghambat
siklooksigenase-1 dan produksi tromboksan. Diberikan untuk mencegah
iskemia pada pasien CAD tanpa/dengan riwayat MI dengan dosis >_75
mg/hari. Memiliki efek samping gastrointestinal yang semakin meningkat
seiring peningkatan dosis. Siklooksigenase-1 inhibitor memiliki hasil yang
konsisten dan dapat diprediksi, sehingga tidak perlu tes trombosit. NSAID
seperti ibuprofen juga menghambat siklooksigenase-1 secara reversibel,
tetapi memiliki ESO pada kardiovaskular sehingga tidak dapat menjadi
alternatif terapi(Knuuti [Link], 2020).
 Clopidogrel 1x75mg
Clopidogrel secara irreversibel menghambat reseptor P2Y12 yang berfungsi
mengaktifkan platelet dan mengamplifikasi pembentukan trombus.
Clopidogrel sama-sama merupakan golongan antiplatelet sama dengan
aspirin, tetapi manfaatnya sedikit lebih banyak dengan profil keamanan yang
serupa(Knuuti [Link], 2020).

 Ramipril 2x5mg - ACE inhibitor


ACE-I diberikan pada semua pasien gagal jantung dengan indikasi: 1) fraksi
ejeksi ventrikel kiri ≤ 40% dengan atau tanpa gejala; 2) fraksi ejeksi
ventrikel kiri > 40% dengan tanda dan gejala gagal jantung (PERKI, 2020).
ACE-I memperbaiki fungsi ventrikel dan kualitas hidup, mengurangi
perawatan rumah sakit karena perburukan gagal jantung, dan meningkatkan
angka kelangsungan hidup. Kontraindikasi pemberian ACE- I diantaranya
riwayat angioedema, stenosis renal bilateral, stenosis aorta berat, kadar
kalium serum >5,5 mmol/L, dan serum kreatinin > 2,5 mg/dL (relatif).
 Atorvastatin 1x40mg
Pasien diberikan statin dengan indikasi untuk mengontrol nilai LDL. target
pada pasien dengan PJK adalah LDL-C turun minimal 50% dari baseline
hingga <1.4 mmol/L (<55 mg/dL). untuk pasien yang akan menjalani PCI,
atorvastatin dosis tinggi dapat menurunkan frekuensi kejadian peri-
procedural.

 Lansoprazole 1x30mg
diberikan untuk melindungi lambung akibat efek samping penggunaan
DAPT (dual antiplatelet therapy) dan aspilet.
 Pro DC/PCI (Percutaneous Coronary Intervention)
Revaskularisasi direkomendasikan pada pasien CCS dengan angina dan
stenosis yang signifikan setelah tidak ada perbaikan dari terapi oral.
revaskularisasi dapat dilakukan dengan PCI atau CABG. Revaskularisasi
akan mengurangi efek samping pasien dengan stenosis yang signifikan,
menurunkan risiko MI.

B. Edukasi
Edukasi yang perlu diberikan antara lain penjelasan terkait penyakit pasien,
pengobatan dan edukasi mengenai eliminasi faktor resiko. Edukasi yang perlu
diberikan diantaranya, yaitu:
 Konsumsi obat yang sudah diberikan secara rutin
 Melakukan aktivitas fisik dan olahraga secara rutin sesuai dengan anjuran
dokter
 Mengedukasi diet : meningkatkan buah dan sayur ≥200gr/hari, serat 35-45
g/hari, membatasi daging tanpa lemak, mengurangi garam, menghindari
minuman bersoda.
 Rutin kontrol
 Konsultasi dengan psikolog/psikiater untuk mengendalikan kecemasan

Anda mungkin juga menyukai