0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan15 halaman

Model Self-Regulation Leventhal

Diunggah oleh

Aldzhyma Yasha
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan15 halaman

Model Self-Regulation Leventhal

Diunggah oleh

Aldzhyma Yasha
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Self-Regulation
1. Pengertian Self-Regulation
Menurut Baumeister, dkk (1994) self-regulation mengarah pada usaha
yang dilakukan oleh manusia untuk mengubah sebuah reaksi/ respon/
dorongan. Respon/ reaksi/ dorongan yang dimaksud dapat meliputi
tindakan, pikiran, perasaan, keinginan, dan perbuatan.
Menurut Schunk dan Ertmer (1999) pengelolaan diri atau self-
regulation merupakan proses yang berputar. Gambaran proses berputar ini
dilukiskan oleh Zimmerman dengan tiga tahap model pengelolaan.
Pertama, forethought phase (pemikiran sebelumnya), yaitu performansi
aktual yang mendahului dan berkenaan dengan proses pengumpulan
langkah untuk suatu tindakan. Kedua, performance (volitional) control
phase, yaitu mencakup proses yang terjadi sebelum belajar yang
mempengaruhi perhatian dan perilaku. Ketiga, selama self-reflection phase
terjadi setelah performansi individu merespons pada usahanya. Pengertian
pengelolaan diri yang lain dijabarkan Purdie dkk. (1996).
Menurut Suryani (2004) berpendapat bahwa pengelolaan diri atau self-
regulation bukan merupakan kemampuan mental seperti inteligensi atau
keterampilan akademik seperti keterampilan membaca, melainkan proses
pengarahan atau penginstruksian diri individu untuk mengubah
kemampuan metal yang dimilikinya menjadi keterampilan dalam satu
bentuk aktivitas.
Menurut Berger (2007) self-regulation sebagai kemampuan untuk
memantau dan memodulasi kognisi, emosi, dan perilaku, untuk mencapai
tujuan seseorang dan untuk beradaptasi dengan tujuan seseorang dan untuk
beradaptasi dengan tuntutan kognitif dan sosial dari situasi tertentu.

9
10

Menurut Leventhal (1984) self-regulation mengacu pada kapasitas untuk


memoderasi pikiran dan emosi yang mengatur perilaku manusia.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa
pengelolaan diri atau self-regulation adalah upaya individu untuk mengatur
diri dalam suatu aktivitas dengan mengikutsertakan kemampuan
metakognisi, motivasi, dan perilaku aktif/pengelolaan diri atau self-
regulation bukan merupakan kemampuan mental atau kemampuan
akademik, melainkan bagaimana individu mengolah dan mengubah pada
suatu bentuk aktivitas.

2. Unsur – unsur dalam Self-Regulation


Menurut Baumister dan Heatherton (1996) memberikan penjelasan
mengenai tiga komponen / unsur dalam self-regulation. Komponen dalam
regulasi ini dapat menjadi penentu keberhasilan regulasi diri pada individu.
Komponen regulasi diri digunakan untuk menjelaskan mengenai fitur
regulasi diri sebagai sistem motivasional yang dinamis dalam membuat
(setting goals) tujuan, meningkatkan dan menetapkan strategi untuk meraih
tujuan, menilai perkembangan / progres, dan meninjau ulang tujuan dan
strategi yang telah diterapkan. Berikut adalah tiga komponen dalam
regulasi diri:
a. Standar / ukuran
Standar atau ukuran merupakan tujuan atau konsep lainnya yang
mungkin untuk dicapai oleh individu. Standar atau ukuran dapat berupa
norma sosial, tujuan personal, harapan mengenai orang lain, dan
sebagainya (Baumeister dkk., 1994).
Anderman dan Wolters (dalam King, 2010) mengungkapkan bahwa
tujuan yang menantang akan melibatkan minat dan usaha pada individu
dibandingkan dengan tujuan yang mudah dicapai.
Tujuan dibuat dengan adanya ukuran yang jelas dan konsisten.
Tanpa adanya ukuran yang jelas dan konsisten, maka regulasi diri
terganggu. Selain itu, standar / ukuran yang bertentangan dan
11

mengandung konflik dapat menghambat regulasi diri yang efektif


(Baumeister & Heatherton, 1996). Tujuan yang baik merupakan suatu
tujuan yang dibuat oleh individu mengenai apa yang ingin dicapai,
bukan dihindari.
b. Pemantauan (Monitoring)
Proses monitoring pada individu melibatkan respon timbal balik,
yaitu membandingkan kondisi nyata yang ada dalam diri individu
dengan standar atau ukuran yang dibuat. Kesuksesan regulasi diri dapat
diraih apabila seseorang tetap berada pada jalan yang telah dibuat
(Baumeister & Heatherton, 1996). Seseorang dapat meregulasi dirinya
dengan sukses apabila dirinya tetap memiliki atensi terhadap apa yang
mereka lakukan dalam mengejar suatu tujuan atau menambah
pengetahuan mereka mengenaik respon / keinginan / dorongan yang
mereka miliki (Baumeister dkk., 1994).
c. Menjalankan (operate)
Menjalankan (operate) menunjuk kepada kemampuan seseorang
mengubah keadaan saat ini untuk mencapai tujuan. Regulasi diri dapat
gagal walaupun seseorang memiliki tujuan yang jelas dan pemantauan
yang efektif, hanya dikarenakan tidak mampu beradaptasi dengan
perubahan. Beradaptasi dapat berarti individu menyesuaikan diri
dengan lingkungan atau individu mengubah lingkungannya
(Baumeister & Heatherton, 1996).
Tujuan dari menjalankan (operate) ini adalah menghasilkan
perubahan terhadap dorongan / keinginan ataupun respon. Regulasi diri
berarti dapat mengesampingkan suatu respon yang terjadi secara
normal, natural, atau karena kebiasaan (Baumeister dkk., 1994).

3. Pola – Pola Umum dan Mekanisme Kegagalan Self-Regulation


Dasar dari self-regulation adalah memiliki standar, memantau diri
sendiri untuk mencapai standar, dan mengubah respon agar individu dapat
menyesuaikan diri dengan baik terhadap standarnya. Kegagalan self-
12

regulation dapat terjadi akibat individu tidak mampu mengesampingkan,


menghentikan, maupun mengatasi dorongan. Berikut adalah pola umum
kegagalan self-regulation (Baumeister dkk., 1994):
a. Konflik pada standar/ tujuan (conflicting standards)
Menurut Karoly (dalam Baumeister dkk., 1994), kegagalan self-
regulation dapat terjadi ketika seseorang tidak memiliki standar/ tujuan
yang mana standar/ tujuan tersebut yang menjadi dasar dari self-
regulation. Secara umum, masalah yang dialami oleh individu adalah
ketika dirinya memiliki beberapa tujuan yang tidak konsisten,
bertentangan, atau tidak cocok.
b. Fase tindakan atau control kehendakan (performance phase) terdapat
dua bagian utama dalam fase tindakan atau contol kehendak yautiu self-
control dan self-observation. Self-control mengacu pada penyebaran
metode atau strategi khusus yang dipilih selama fase pemikiran
(forethought phase). Self-observation mengacu pada peristiwa pribadi
yang direkan sendiri atau eksperimen diri untuk mencari tahu penyebab
peristiwa ini.
c. Fase refleksi diri (Self-reflection phase) terdapat dua bagian utama
dalam fase refleksi diri yaitu self-judgement dan self-reaction. Salah
satu bentuk self-judgement mengacu pada perbandingan kinerja yang
diamati terhadap beberapa standar, seperti kinerja sebelumnya
seseorang, kinerja orang lain, atau standar kinerja absolut. Self-reaction
melibatkan perasaan kepuasan diri dan pengaruh positif terhadap suatu
kinerja.

4. Faktor – faktor yang mempengaruhi self-regulation


a. Individu (diri)
1.) Pengetahuan infividu, semakin banyak dan beragam pengetahuan
yang dimiliki individu akan semakin membantu individu dalam
melakukan pengelolaan.
13

2.) Tingkat kemampuan metakognisi yang dimiliki individu yang


semakin tinggi akan membantu pelaksanaan pengelolaan diri dalam
diri individu.
3.) Tujuan yang ingin dicapai, semakin banyak dan kopleks tujuan
yang ingin diraih, semakin besar kemungkinan individu melakukan
pengelolaan diri.
b. Perilaku
1.) Self Abservation, berkaitan dengan respons individu, yaitu tahap
individu melihat ke dalam dirinya dan perilaku (performansinya)
2.) Self Judgment, berkaitan dengan tahap individu membandingkan
performansi dan standar yang telah dilakukannya dengan standar
atau tujuan yang sudah dibuat dan ditetapkan individu
3.) Self Reaction, merupakan tahap mencakup proses individu dalam
menyesuaikan diri dan rencana untuk mencapai tujuan atau standar
yang telah dibuat dan ditetapkan.
c. Lingkungan, teosi sosial kognitif mencurahkan perhatian khusus pada
pengaruh sosial dan pengalaman pada fungsi manusia. Hal ini
bergantung pada bagaimana lingkungan itu mendukung atau tidak
mendukung.

5. Bentuk – bentuk Self-regulation


Menurut Brown dan Ryan (2004) mengemukakan beberapa bentuk
(self-regulation) yang berdasarkan pada teori determinasi diri, yaitu:
a. Amotivation Regulation: Keadaan pada saat individu merasakan tidak
adanya hubungan antara tindakan dan hasil dari tindakan tersebut.
b. External Regulation: Ketika perilaku diregulasi oleh faktor eksternal
seperti adanya hadiah dan batasan – batasan.
c. Introjencted Regulation: Individu menjadikan motivasi diluar dirinya
sebagai motivasi dirinya melalui proses tekanan internal seperti rasa
cemas dan adanya perasaan bersalah.
14

d. Identified Regulation: Perilaku muncul sebagai pilihan pribadi bukan


untuk kepuasan dan kesenangan tetapi untuk mencapai suatu tujuan.
e. Intrinsically Motived Behaviour: Muncul secara sukarela tanpa ada
keterkaitan dengan faktor eksternal karena individu merasa suatu
aktivitas bernilai, motivasi ini menjadi dasar munculnya rasa
berkompenten, mandiri, dan terhubung.

B. Dewasa Awal
1. Pengertian Dewasa Awal
Menurut Hurlock (1986) masa dewasa awal dimulai dari umur 18
sampai 40 tahun. Saat itu terjadi perubahan – perubahan fisik dan
psikologis, yang disertai dengan berkurangnya kemampuan reproduktif.
Hurlock (1989) menyebutnya sebagai masa penyesuaian pribadi dan
sosial.
Menurut Erickson (dalam Marliani, 2015) mengatakan bahwa
seseorang yang digolongkan dalam usia dewasa awal berada dalam
tahapan hubungan hangat dekat dan komunikatif dengan atau tidak
melibatkan kontak seksual. Apabila gagal dalam bentuk keintiman, ia
akan mengalami isolasi (merasa tersisihkan dari orang lain, kesepian,
menyalahkan diri karena berbeda dengan orang lain).
Menurut Santrock (dalam Marliani, 2015) orang dewasa muda
termasuk masa transisi, baik transisi secara fisik, transisi secara
intelektual, serta transisi peran sosial.
Berdasarkan pengertian dewasa awal menurut para ahli, peneliti
menyimpulkan bahwa dewasa awal adalah masa kematangan fisik dan
psikologis. Dewasa awal termasuk masa transisi, baik transisi secara
fisik, transisi secara intelektual, serta transisi peran sosial. Secara usia
dimulai sekitar usia 18 tahun sampai 40 tahun.

2. Karakteristik Perkembangan Dewasa Awal


a. Perkembangan Psikologis Masa Dewasa Awal
15

Dewasa awal adalah masa kematangan fisik dan psikologis.


Menurut Anderson (1983), terdapat tujuh ciri kematangan
psikologis, yaitu sebagai berikut:
1.) Berorientasi pada tugas, bukan pada diri atau ego, yaitu
berorientasi pada tugas – tugas yang dikerjakannya dan tidak
condong pada perasaan diri sendiri.
2.) Tujuan yang jelas dan kebiasaan kerja yang efisien, yaitu melihat
tujuan – tujuan yang ingin dicapainya secara jelas dan tujuan –
tujuan itu dapat didefinisikannya secara cermat.
3.) Mengendalikan perasaan pribadi, yaitu dapat menyetir perasaan
diri dan tidak dikuasai oleh perasaan - perasaannya dalam
mengerjakan suatu atau berhadapan dengan orang lain.
4.) Keobjektifan, yaitu memiliki sikap objektif, yakni berusaha
mencapai keputusan dalam keadaan yang besesuaian dengan
kenyataan.
5.) Menerima kritikan dan saran, yaitu memiliki kemauan yang
realitis, paham bahwa dirinya tidak selalu benar sehingga
terbuka terhadap saran orang lain demi peningkatan dirinya.
6.) Pertanggung jawaban terhadap usaha – usaha pribadi, yaitu
memberi kesempatan kepada orang lain membantu usaha –
usahanya untuk mencapai tujuan.
7.) Penyesuaian yang realistis terhadap situasi – situasi baru, yaitu
orang matang memiliki ciri fleksibel dan dapat menempatkan
diri dengan kenyataan yang dihadapinya dengan situasi – situasi
baru.
b. Perkembangan Fisik Masa Dewasa Dini.
1.) Usia reproduktif (reproductive age), yaitu masa ini ditandai
dengan membentuk rumah tangga, tetapi adakalanya ini dapat
ditunda dengan beberapa alasan.
2.) Usia memantapkan letak kedudukan (setting down age), yaitu
dengan pemantapan kedudukan, pola hidup seseorang
16

berkembang secara individual, yang mendapatkan menjadi ciri


khasnya sampai akhir hayat.
3.) Usia banyak masalah (problem age), yaitu masa yang penuh
dengan masalah, jika tidak siap memasuki tahap ini, ia akan
kesulitan dalam menyelesaikan tahap perkembangannya.
4.) Usia tegang dalam hal emosi (emotional tension), yaitu
kegagalan emosi yang berhubugan dengan persoalan jembatan
perkawinan, keuangan, dan sebagainya.
5.) Masa ketersaingan sosial, yaitu berakhirnya pendidikan formal
dan terjunnya seseorang ke dalam pola kehidupan orang dewasa,
yaitu karier, dan rumah tangga.
6.) Masa komitmen, yaitu seseorang tidak mungkin mengadakan
komitmen untuk selama – lamanya karena hal ini akan menjadi
suatu tanggung jawab yang berat, akan tetapi, banyak komitmen
yang mempunyai sifat demikian.
7.) Masa kebergantungan, yaitu masa ketikan kebergantungan pada
masa dewasa biasanya berlanjut, kebergantungan ini mungkin
pada orangtua.
8.) Masa perubahan nilai, yaitu masa perubahan nilai pada orang
dewasa karena ingin diterima pada kelompok orang dewasa.
9.) Masa kreatif, yaitu mminat dan kemampuan individual,
kesempatan untuk mewujudkan keinginan dan kegiatan yang
memberikan kepuasan.
c. Perkembangan Intelektual

C. Pengguna, Penyalah guna, dan Ketergantungan

1. Pengertian Pengguna, Penyalah guna, dan Ketergantungan


Terdapat istilah tertentu untuk membedakan seseorang dalam
mengonsumsi NAPZA. Seseorang yang mengonsumsi NAPZA dapat
17

disebut pengguna, penyalah guna, atau pecandu. Berikut beberapa


pengertian terkait ketiga hal tersebut (Sulistami dkk., 2013):
a. Penggunaan rekreasional / eksperimental
Pengunaan rekreasional berarti seseorang menggunakan pertama
kali atau sesekali untuk tujuan mencari kesenangan. Pada tingkat
ini, seseorang menggunakan NAPZA karena adanya dorongan rasa
ingin tahu ataupun mendapatkan tekanan dari teman sebayanya.
Pengguna belum memiliki masalah terkait penggunaan zatnya.
Selain itu, NAPZA dikonsumsi dalam jumlah kecil sehingga
sedang oleh penggunanya (Sulistami dkk., 2013).
b. Penggunaan sirkumstansial / situasional
Pada tingkat ini, seseorang mengonsumsi NAPZA dengan tujuan
mencari efek tertentu untuk mengatasi kondisi tertentu. Pada
tingkat ini, seseorang dapat memiliki masalah terkait
penggunaannya atau tidak. Sebagai contoh, seorang tentara yang
menggunakan morfin dalam peperangan agar dapat merasakan
perasaan santai dan terlepas dari tekanan yang dialaminya
(Sulistami dkk., 2013)
c. Penggunaan intensif / reguler
Pemakai menggunakan NAPZA secara terus – menerus dengan
tujuan agar terbebas dari masalah yang dialami (seperti kecemasan
atau depresi), maupun mempertahankan kemampuan yang di
kehendaki. Dosis yang digunakan berada pada dosis rendah hingga
dosis sedang. Pada tingkatan penggunaan ini, sering juga disebut
dengan tingkat penyalahgunaan. Penyalah guna biasanya mulai
mengalami masalah terkait penggunaannya. Sebagai contoh,
seseorang terlambat bekerja karena mabuk pada malam sebelum ia
berangkat kerja (Sulistami dkk., 2013).
d. Penggunaan kompulsif / adiktif
Pada tahap ini, pemakai sudah berada pada tahap yang paling parah
dan paling berbahaya. Pemakai pada tahap ini sering disebut
18

dengan adiksi atau pecandu. Untuk mencapai efek fisik maupun


psikologis yang diinginkan maupun sekedar menghindari gejala
putus asa (sakau), diperlukan dosis yang tinggi secara rutin (setiap
hari maupun beberapa kali dalam sehari). NAPZA menjadi sesuatu
yang dianggap lebih penting dalam kehidupan seseorang sehingga
dapat melebihi aktivitas lainnya (Sulistami dkk., 2013).

2. Tahapan Ketergantungan
Sebelum mengalami ketergantungan, individu memiliki pola umum
yang menghantarnya menuju adiksi. Berikut adalah beberapa tahapan
menuju adiksi (Nevid dkk., 2005):
a. Eksperimentasi: merupakan tahap coba – coba atau menggunakan
secara berkala. Pada tahap ini, pengguna merasa nyaman bahkan
merasa euforik. Pengguna merasa masih dapat mengendalikan diri
dan merasa yakin bahwa mereka dapat berehenti sewaktu – waktu.
b. Penggunaan rutin: pada tahap ini individu mulai mengatur dirinya
untuk mendapatkan dan menggunakan obat. Individu mulai
menyangkal untuk menutupi konsekuensi negatif dari perilaku
mereka. Selain itu, nilai – nilai yang dianut individu mulai berubah
seperti menganggap obat merupakan hal yang lebih berharga
dibandingkan hal penting lainnya (seperti keluarga, pekerjaan, dan
sebagaiya). Tahapan ini ditandai dengan munculnya masalah akibat
penggunaan obat.
c. Adiksi / Ketergantungan: pada tahapan ini, individu merasa tidak
berdaya untuk menolak obat karena ingin mengalami efek obat atau
untuk menghindarinya adanya gejala putus zat.

3. Karakteristik Ketergantungan
Berikut adalah karakteristik ketergantungan yang diadaptasi dari
DSM IV-TR untuk menunjukkan diagnosis adiksi pada individu (Nevid
dkk., 205):
19

a. Toleransi zat, yang ditunjukkan dengan adanya kebutuhan untuk


meningkatkan dosis agar mendapatkan efek yang diinginkan dan
atau berkurangnya efek secara drastis apabila mengonsumsi dengan
dosis yang sama.
b. Gejala putus zat, yaitu mengalami gejala tertentu (gejala khas dari
suatu zat) apabila tidak mengonsumsi zat. Ditunjukkan dengan
mengonsumsi zat yang sama atau zat yang terkait (zat pengganti).
c. Penggunaan dosis yang lebih besar untuk periode waktu yang lebih
lama.
d. Menghabiskan banyak waktu untuk aktivitas memperoleh zat,
menggunakan zat, atau memulihkan diri dari penggunaan zat.
e. Individu mengurangi aktivitas sosial, pekerjaan, atau rekreasional
akibat dari penggunaan zat.
f. Terus berlanjutnya penggunaan zat walaupun terdekat bukti adanya
masalah yang muncul akibat penggunaan zat.

D. Narkoba
1. Pengertian Narkoba
Narkoba merupakan singkatan dari narkotika dan obat berbahaya
yang dapat menyebabkan kecanduan dan masalah kesehatan bagi
penggunanya. Istilah narkoba muncul terlebih dahulu dan lebih banyak
digunakan di media massa, sedangkan istilah NAPZA muncul seiring
dengan meningkatnya penyalahgunaan zat kimia dan lebih banyak
dibahas di kalangan akademis (Sulistami dkk., 2013). NAPZA terdiri
atas tiga komponen, yaitu:
a. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan
tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat
menyebabkan penurunan dan perubahan kesadaran, hilangnya rasa,
mengurangi hingga menghilangkan rasa nyeri, dan dapat
menyebabkan ketergantungan.
20

b. Psikotropika merupakan bahan atau zat baik alamiah maupun buatan


yang bersifat psikoaktif pada susunan syaraf pusat. Psikoaktif berarti
memiliki sifat mempengaruhi otak dan perilaku sehingga
menyebabkan perubahan aktivitas mental dan perilaku pemakainya
(Sulistami dkk., 2013).
c. Zat Adiktif lainnya merupakan obat serta bahan – bahan aktif yang
menimbulkan ketergantungan atau adiksi yang sulit dihentikan
sehingga pemakai ingin menggunakan secara terus – menerus dan
memberikan efek lelah atau rasa sakit yang luar biasa apabila
dihentikan (Sulistami dkk., 2013).

2. Jenis – jenis Penggolongan NAPZA


Berikut adalah beberapa penggolongan NAPZA berdasarkan cara
mengolahnya:
a. NAPZA alami merupakan NAPZA yang berasal dari olahan
tanaman. Selain itu, NAPZA alami tidak mengalami fermentasi
ataupun produksi. Tanaman yang tergolong NAPZA alami antara
lain ganja/Cannabis sativa, opium/candu, dan kokain (Sulistami
dkk., 2013)
b. NAPZA semisintetis, merupakan golongan NAPZA yang terbuat
dari alkaloid opium dengan inti penathren dan diproses secara
kimiawi untuk menjadi bahan obat yang berkhasiat sebagai
narkotika. NAPZA golongan ini telah diproses sedemikian rupa dan
melalui proses fermentasi (Sulistami dkk., 2013). Contoh jenis dari
NAPZA semisintetis yang sering digunakan adalah heroin/putau,
kodein, dan morfin.
c. NAPZA sintetis merupakan golongan NAPZA yang diperoleh
melalui proses kimia dengan menggunakan bahan baku kimia,
sehinga diperoleh suatu hasil baru yang mempunyai efek narkotika.
Jenis ini dikembangkan untuk keperluan medis dan untuk
21

menghilangkan rasa sakit (Sulistami dkk., 2013). Contoh NAPZA


sintetis antara lain adalah pethidine, metadon, dan megadon.

3. Efek yang Ditimbulkan oleh NAPZA


Berikut adalah efek yang ditimbulkan oleh NAPZA:
a. Stimulan: merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan gairah kerja
serta kesadaran (Sulistami dkk., 2013). Selain itu, stimulan juga
dapat meningkatkan kinerja otak sehingga pengguna menjadi lebih
waspada dan tidak merasa kelelahan. Stimulan juga dapat mengubah
suasana hati menjadi lebih tenang. Kondisi tersebut dapat
memperpanjang waktu individu untuk beraktivitas. Akan tetapi,
stimulan dalam dosis tinggi dapat menyebabkan kegelisahan,
kecemasan, bahkan psikosis paranoid (Amriel, 2008). Contoh zat
yang bersifat stimulan antara lain kafein, tembakau, amfetamin/sabu
– sabu, ekstasi, kokain, dan ganja (Amriel, 2008).
b. Depresan berbeda dengan stimulan, depresan bekerja dengan cara
mengurangi aktivitas fungsional tubuh, sehingga pemakai merasa
tenang bahkan tertidur atau tak sadarkan diri (Sulistami dkk., 2013).
Depresan menurkan kerja otak sehingga pengguna mengalami
penurunan ketegangan dan merasa rileks. Pada saat yang sama,
fungsi fisik dan mental serta kendali diri juga mengalami penurunan
tak terkendali (Amriel, 2008). Contoh zat yang tergolong depresan
adalah alkohol, opium, putau/heroin, morfin, kodein, valium,
librium, megadon, dan temazepam, serta inhalant atau zat tertentu
yang dimasukkan ke dalam tubuh dengan cara dihisap melalui
hidung (Amriel, 2008).
c. Analgesik: berfungsi sebagai penghilang rasa sakit dengan cara
mereduksi kepekaan fisik dan emosional individu, serta memberikan
rasa hangat dan nyaman. Zat yang termasuk analgesik antara lain
heroin, opium, pethidine, dan codeine (Amriel, 2008).
22

d. Halusinogen: zat ini berfungsi meningkatkan apresiasi dan


pengalam indrawi bagi pengguna. Suasana hati pengguna semakin
tajam dan mengalami persepsi yang distorsi sehingga memunculkan
halusinasi. Beberapa jenis zat halusinogen adalah kanabis/ganja,
LSD, dan ekstasi (Amriel, 2008).
Brown dan King (dalam Amriel, 2008) menjelaskan jika individu
mengonsumsi beberapa jenis obat sekaligus akan memunculkan
efek yang tidak terduga dan berbahaya. Apabila individu
menggabungkan depresan dan analgesik, maka efek obat akan
mematikan dan beraksi semakin kuat.

E. Pecandu
1. Pengertian Pecandu
Menurut Hovart (1989) kecanduan adalah suatu aktivitas atau
substansi yang dilakukan berulang – ulang dan dapat menimbulkan
dampak negatif.
Menurut Doyle, Kough, dan Morissey (2008) kecanduan adalah
suatu keterlibatan terus – menerus dengan sebuah zat atau aktivitas
meskipun hal – hal tersebut mengakibatkan konsekuensi negatif.
Kenikmatan dan kepuasanlah yang pada awalnya dicari, namun perlu
keterlibatan selama beberapa waktu dengan zat atau aktivitas itu agar
seseorang merasa normal.
Menurut Griffiths (2008) menyaatakan bahwa kecanduan
merupakan aspek perilaku yang kopulsif, adanya ketergantungan, dan
kurangnya kontrol.
Menurut Cooper (2000) kecanduan adalah perilaku ketergantungan
pada suatu hal yang disenangi. Individu biasanya secara otomatis akan
melakukan apa yang disenangi pada kesempatan yang ada.
Berdasarkan pengertian pecandu menurut para ahli, peneliti
menyimpulkan kecanduan adalah sebagai suatu kondisi dimana individu
merasakan ketergantungan terhadap suatu hal yang disenangi dan
23

mencari kesempatan untuk melakukan suatu hal secara berulang –


ulang.

2. Jenis Pecandu
Terdapat jenis – jenis pecandu menurut Yee (2006), yaitu:
a. Physical addiction, yaitu jenis kecanduan yang berhubungan dengan
alkohol atau kokain.
b. Nonphysical addiction, yaitu jenis kecanduan yang tidak melibatkan
dua hal di atas (alkohol atau kokain).

3. Faktor – faktor yang menyebabkan kecanduan


Menurut Mark, Murray, Evans, dan Willig (2004) kecanduan
disebabkan karena:
a. Adanya keinginan yang kuat untuk selalu terlibat dalam perilaku
tertentu, terutama ketika kesempatan untuk perilaku tertentu tidak
dapat dilakukan.
b. Adanya kegagalan dalam melakukan kontrol terhadap perilaku,
individu merasakan ketidaknyamanan dan stress ketika perilaku
ditunda atau dihentikan.
c. Terjadinya perilaku terus menerus walaupun telah ada fakta yang
jelas bahwa perilaku mengarah kepada permasalahan.

Anda mungkin juga menyukai