Pengaruh FDR dan NPF pada CAR Bank Syariah
Pengaruh FDR dan NPF pada CAR Bank Syariah
Disusun Oleh:
SHERYL AUDINATA
NIM: 11210850000120
1445 H / 2023
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang sudah memberikan rahmat dan hidayah-
Nya kepada kita sekalian, juga kepada kami selaku penulis penelitian proposal yang berjudul
“PENGARUH ROA, ROE, FDR, NPF, BOPO DAN INFLASI TERHADAP KECUKUPAN MODAL
PADA BANK SYARIAH INDONESIA” ini hingga dapat menuntaskan proposal ini dengan baik.
Shalawat serta salam tak lupa juga kita haturkan kepada junjungan kita nabi besar, Nabi Muhammad
SAW yang telah melalui perjuangan Panjang dalam mengembangkan islam, kemudian semoga kita semua
mendapatkan pertolongan di akhirat nanti.
Adapun maksud membuat proposal ini aialah guna memenuhi tugas pada mata kuliah metodologi
penelitian, yang lalu diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan yang baik untuk kami
selaku penulis proposal maupun untuk pembacanya. Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada Bapak Fadlillah Fauzukhaq. Selaku dosen pengampu mata kuliah Metodologi Penelitian
yang telah menugaskan tugas ini kepada saya, yang kemudian memberikan tambahan ilmu dan wawasan.
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bank merupakan suatu Perusahaan yang menjalankan fungsi intermediasi atas dana yang
diterima dari nasabah. Jika sebuah bank mengalami kegagalan, dampak yang ditimbulkan akan
meluas mempengaruhi nasabah dan lembaga-lembaga yang menyimpan dananya atau
menginvestasikan modalnya di bank. Karena pentingnya peran bank dalam melaksanakan
fungsinya maka perlu diatur secara baik dan benar. Hal ini bertujuan untuk menjaga kepercayaan
nasabah terhadap aktivitas perbankan. Salah satu peraturan yang perlu dibuat untuk mengatur
perbankan adalah peraturan mengenai permodalan bank yang berfungsi sebagai penyangga
terhadap kemungkinan terjadinya kerugian.
Kecukupan modal yang diukur dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) merupakan
indikator yang sangat penting dan hanya ada diperbankan saja. Menurut Ascarya dan Serkan
(2007) dalam penelitian Nurshadrina (2013) bank memiliki faktor khusus yang tidak dimiliki oleh
perusahaan lainnya, yang membedakan bank dengan perusahaan lainnya yaitu adanya peraturan
pemerintah mengenai Capita Adequacy Ratio (CAR). (Sari et al., 2013)
Rasio kecukupan modal (CAR) pada industry perbankan sesuai dengan aturan yang
berlaku di indonesia, besarnya ditentukan oleh seberapa besar modal yang dimiliki yang terdiri
dari modal inti dan modal pelengkap, serta berapa aktiva tertimbang menurut risiko, di mana
bobot risiko masing-masing aktiva telah ditetapkan oleh Bank of International Settlement (BIS).
(Fitrianto & Mawardi, 2006)
Mengingat pentingnya modal pada bank, pada tahun 1998 BIS mengelurkan suatu konsep
kerangka permodalan yang lebih dikenal dengan the 1988 accord (Basel 1). Sistem ini dibuat
sebagai penerapan kerangka pengukuran bagi risiko pembiayaan, dengan mensyaratkan standar
modal minimum adalah 8%. Sejalan dengan semakin berkembangnya produk-produk yang ada di
dunia perbankan, BIS kembali menyempurnakan kerangka permodalan yang ada pada the 1988
accord dengan mengeluarkan konsep permodalan baru yang dikenal dengan Basel II.
Basel II dibuat berdasarkan struktur dasar the 1988 accord yang memberikan kerangka
perhitungan modal yang bersifat lebih sensitif terhadap risiko (risk senstive) serta memberikan
insentif terhadap peningkatan kualitas penerapan manajemen risiko di bank. Hal ini dicapai
dengan cara penyesuaian persyaratan modal dengan risiko dari kerugian pembiayaan dan juga
dengan memperkenalkan perubahan perhitungan modal dari eksposur yang disebabkan oleh risiko
dari kerugian akibat kegagalan operasional. Basel II bertujuan meningkatkan keamanan dan
kesehatan sistem keuangan, dengan menitik beratkan pada perhitungan permodalan yang berbasis
risiko, supervisory review process dan market discipline.
Selama periode pengamatan, nilai CAR pada Bank Syariah Indonesia. Berikut ini merupakan data tabel
yang menggambarkan nilai CAR yang terjadi pada tahun 2018-2022.
Tabel 1.2
Hasil Perhitungan Capital Adequacy Ratio ( CAR
PT. Bank Syariah Indonesia
Periode Tahun 2018-2022
tahun
keterangan
2018 2019 2020 2021 2022
CAR 14,92% 18,71% 18,24% 22,09% 26,28%
Komponen rasio 13,5%≤CAR<15% CAR≥11% CAR≥11% CAR≥11% CAR≥11%
Peringkat 2 1 1 1 1
Predikat Baik Sangat Baik Sangat Baik Sangat Baik Sangat Baik
Berdasarkan hasil tabel 1.2 Capital Adequacy Ratio (CAR) PT. Bank Syariah Indonesia
periode tahun 2018-2022, Capital Adequacy Ratio (CAR) pada tahun 2018 menunjukkan angka
rasio mencapai 14,92%, mengalami kenaikan menjadi sebasar 18,71% pada tahun 2019, dan di
tahun 2020 mengalami kenaikan kembali menjadi sebesar 18,24%, lalu 2021 mengalamai
kenaikan hingga 22,09%, dan di tahun 2022 naik mencapai 26,28%. Dari hasil tersebut,
menunjukkan bahwa nilai rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) setiap tahunnya meningkat yang
artinya mencerminkan bahwa kondisi tingkat Kesehatan bank pada PT. Bank Syariah Indonesia
dalam predikat “sangat baik”, karena sudah memenuhi standart minimum Capital Adequacy
Ratio (CAR) dan telah mengelola dengan baik modal bank dalam menyerap kerugian dan mempu
mengatasi pengaruh negative kondisi perekonomian dan industry keuangan.
Melihat kondisi tersebut, kinerja pada PT. Bank Syariah Indonesia menunjukkan nilai
CAR yang berfluaktif dapat mempengaruhi kinerja operasional pada periode berikutnya, sehingga
perlu dikaji faktor-faktor yang harus diperhatikan untuk menjaga agar mencapai nilai CAR yang
ideal atau setidaknya tidak mengalami penurunan. Menurunnya CAR bisa berakibat menurunnya
kemampuan bank dalam menyalurkan pembiayaan dan jika cenderung terus-menerus menurun,
maka dikhawatirkan tidak memiliki kemampuan modal yang cukup untuk meredam kemungkinan
timbulnya risiko. (Yuwono, 2012)
Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan, banyak faktor-faktor yang berpengaruh terhadap
CAR. Menurut Brigham dan Gapenski (1997) pada penelitian Krisna (2008), ROA dan ROE yang
merupakan indikator dari rasio profitabilitas dijadikan variabel independen yang mempengaruhi
CAR, karena perusahaan yang tingkat pengambil investasinya tinggi akan menggunakan hutang
yang kecil agar tingkat biaya modal yang mengandung risiko relatif kecil dan modal sendiri bank
relatif tinggi sehingga dapat meningkatkan CAR. (Krisna, 2008)
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Muharomah (2013) dan Fatimah (2013) menyebutkan
bahwa secara parsial FDR berpengaruh negatif signifikan terhadap CAR. Namun, penelitian yang
dilakukan oleh sakinah (2013) memberikan hasil bahwa FDR secara parsial mempnuyai pengaruh
positif signifikan terhadap CAR.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Poernamawatie (2009), Margaretha dan Setiyaningrum
(2011) menemukan hubungan negatif antara NPL dan CAR. Hasil penelitian lain yang berbeda
ditemukan oleh Nurcahyaningtyas (2015) dimana NPL berpengaruh positif terhadap CAR, karena
adanya aturan mengenai AYDA (agunan yang diambil alih) terhadap kredit macet dan PPAP
yang dibentuk oleh PPAP, sehingga agunan tersebut dapat menjadi asset baru yang dapat
menambah modal untuk kegiatan operasional. Berdasarkan penelitian sebelumnya masih terdapat
research gap pengaruh NPL (NPF) terhadap CAR.
Pada penelitian Shitawati (2006), BOPO mempengaruhi CAR karena semakin kecil
BOPO menunjukkan semakin efisien bank dalam menjalankan aktivitas usahanya, karena biaya
operasi yang harus ditanggung lebih kecil dari pendapatan operasinya sehingga aktivitas
operasional bank menghasilkan keuntungan. Hal tersebut mampu meningkatkan modal bank dan
meminimumkan tingkat risikonya, sehingga BOPO yang relatif rendah mampu meningkatkan
CAR. (Shitawati, 2006)
Dari penelitian Saputra (2016), inflasi dapat dikatakan satu indikator yang berhubungan
terhadap rasio modal karena disaat kondisi inflasi meningkat, bank meningkatkan suku bunga
yang akan menyebabkan peningkatan rasio modal. Bagi perbankan kondisi terciptanya inflasi
yang rendah dan stabil akan menciptakan sinergi antara kebijakan di bidang perbankan dan sistem
permbayaran. Untuk menciptakan tingkat inflasi yang rendah dan stabil melibatkan penentuan
suku bunga acuan, di mana suku bunga acuan tersebut akan mempengaruhi tingkat suku bunga
simpnanan dan pembiayaan. Sedangkan dari sisi kecukupan modal perbankan suku bunga acuan
akan mempengaruhi CAR terutama pada sisi modal. (Saputra, 2016)
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, dengan adanya research gap tersebut maka
perlu dilakukan penelitian lanjutan dan penulis tertarik untuk mengangkan permasalahan yang
berkaitan dengan rasio kecukupan modal yaitu dengan judul ”Pengaruh ROA, ROE, FDR, BOPO,
dan Inflasi terhadap Kecukupan Modal pada PT. Bank Syariah Indonesia Periode 2018-2022”
B. Identifikasi Masalah
Salah satu upaya menjaga eksistensi PT. Bank Syariah Indonesia yaitu perlu memperhatikan
kriteria pengukuran kesehatan dan kinerja perbankan. Indikator yang sangat penting dalam
menjaga tingkat kesehatan bank adalah Capital Adequacy Raio (CAR). Berbagai macam faktor
yang berpengaruh terhadap CAR antara lain adalah inflasi, faktor profitbalitas dan likuiditas yang
tertuang dalam rasio-rasio keuangan.
C. Rumusan Masalah
a. Apakah terdapat pengaruh ROA, ROE, FDR, NPF, BOPO dan inflasi secara parsial terhadap
rasio kecukupan modal pada PT. Bank Syariah Indonesia?
b. Apakah terdapat pengaruh ROA, ROE, FDR, NPF, BOPO dan inflasi secara simultan
terhadap rasio kecukupan modal pada PT. Bank Syariah Indonesia?
D. Tujuan Penelitian
E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi serta pengetahuan bagi pihak
akademisi dalam mengkaji faktor-faktor yang dapat mempengaruhi rasio kecukupan modal
pada PT. Bank Syariah Indonesia.
Penelitian ini diharapkan sebagai kontribusi sederhana terhadap pemerintah dan praktisi
perbankan, khususnya PT. Bank Syariah Indonesia mengenai besarnya pengaruh ROA, ROE,
FDR, NPF, BOPO dan inflasi terhadap rasio kecukupan modal.
F. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kausal karena tujuannya adalah meneliti hubungan sebab
akibat antara variabel independen terhadap variabel dependen. Penelitian ini bertujuan untuk
memperoleh bukti empiris mengenasi pengaruh ROA, ROE, FDR, NPF, BOPO dan inflasi
terhadap rasio kecukupan modal pada Bank Syariah Indonesia periode 2018-2022.
2. Sumber Data Penelitian
Dalam penelitian ini data dihimpun menggunakan data sekunder. Data sekunder adalah data yang
diperoleh dari lembaga atau institusi tertentu, data sekunder diperoleh dari pendokumentasian hal-
hal yang berkaitan dengan penelitian, serta data yang diperoleh melalui penelitian kepustakaan,
dari buku, artikel, dan karya ilmiah yang berkaitan dengan penelitian. Sumber data diperoleh dari
data laporan keuangan triwulan Bank Syariah Indonesia.
3. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data kuantitatif, data yang penulis dapatkan
bersifat sekunder. Metode yang digunakan adalah sebagai berikut:
a) Studi kepustakaan (Library Research), yaitu memperoleh berbagai data dengan
membaca, memahami dan menganalisa buku-buku serta menelusuri berbagai litelatur
yang relevansinya dengan pembahasan ini, serta literatur lain untuk menghimpun dan
menganalisis data yang bersumber dari perpustakaan, baik berupa buku-buku, jurnal-
jurnal, bersumber dari perpustakaan, serta berbagai sumber lainnya yang dianggap
mempunyai hubungan dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini.
b) Data skunder, pada peneltian ini menggunakan data Laporan Keuangan triwulan yang
dipublikasikan oleh Bank Syariah Indonesia peiode 2018-2022.
BAB II
LANDASAN TEORI
Tabel 1.3
Matriks Kriteria Penilaian Peringkat CAR
Rasio Peringkat Predikat
CAR≥15% 1 Sangat Baik
13,5%≤CAR<15% 2 Baik
3
Zainul Arifin, Dasar-dasar Manajemen Bank Syariah, (Jakarta: Pustaka Alvabet, 2002), h.122.
4
Lukman Dendawijaya, Manajemen Perbankan, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2005), h.121.
12%≤CAR<13,5% 3 Cukup Baik
8%≤CAR<12% 4 Tidak Baik
CAR<8% 5 Sangat Tidak Baik
Sumber: [Link] (2020)
ROA menunjukkan kemampuan bank dalam memperoleh keuntungan (laba) secara keseluruhan
dari aset yang dimiliki. Semakin besar ROA suatu bank, maka semakin besar pula tingkat
keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari segi
penggunaan aset. Sebaliknya, jika semakin kecil ROA suatu bank, maka semakin kecil
keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin kecil pula posisi bank tersebut dari segi
penggunaan aset. Menurut Bank Indonesia, standar nilai ROA minimal yang baik adalah sebesar
1,5%, sehingga bank tersebut dapat dikatakan dalam kondisi sehat. Berikut peringkat
pengembalian Return On Assets (ROA):
Tabel
Kriteria peringkat Return On Assets (ROA)
5
Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2008), h.201.
1 ROA > 1,5 % Sangat Sehat
2 1,25% < ROA ≤ 1,5% Sehat
3 0,5% < ROA ≤ 0,5% Cukup Sehat
4 0% < ROA ≤ 0,5% Kurang Sehat
5 ROA ≤ 0% Tidak Sehat
Sumber: Surat Edaran Bank Indonesia No 12/12/24/DPNP tahun 2011
6
Kasmir, Manajemen Perbankan, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), h.298.
7
A. Wangsawidjaja Z, Pembiayaan Bank Syariah, h. 118.
5 <0% Tidak Baik
G. Penelitian Terdahulu
Metode yang
digunakan adalah
model regresi
Metode yang
digunakan adalah
dengan analisis regresi
dan data panel.
Metode yang
digunakan adalah
dengan analisis
Regresi Data Panel.
Metode yang
digunakan adalah
dengan analisis
Regresi Data Panel.
ROI
5 Yansen Krisna Faktor-faktor Penulis meneliti
berpengaruh
(2008) yang tentang pengaruh
signifikan
Mempengaruhi ROA, ROE, FDR,
positif terhadap
CAR. ROE
Capital BOPO dan inflasi
tidak
Adequacy terhadap CAR.
berpengaruh
Ratio Studi
signifikan
pada Bank- Variabel dependen
positif terhadap
bank Umum di adalah CAR.
CAR. BOPO
Indonesia
tidak
Periode Tahun Variabel independen
berpengaruh
2003-2006 adalah ROA, ROE,
signifikan
FDR, BOPO dan
negatif terhadap
inflasi.
CAR. NIM
tidak
Metode yang
berpengaruh
digunakan adalah
signifikan
dengan analisis
positif terhadap
Regresi Data Panel.
CAR. LDR
berpengaruh
signifikan
negatif terhadap
CAR. NPL
berpengaruh
signifikan
negatif terhadap
CAR
Metode yang
digunakan adalah
dengan analisis
Regresi Data Panel.
Penulis meneliti
7 Umie Pengaruh Inflasi, BI rate,
tentang pengaruh
Wulaningsih Variabel M2, PDB dan
ROA, ROE, FDR,
(2012) Makro harga minyak
BOPO dan inflasi
Ekonomi dunia
terhadap CAR.
terhadap Rasio berpengaruh
Kecukupan signifikan
Modal terhadap CAR.
Perbankan Variabel dependen
Konvensional
Variabel independen
adalah ROA, ROE,
FDR, BOPO dan
inflasi.
Metode yang
digunakan adalah
dengan analisis
Regresi Data Panel.
H1 H2
Laporan Keuangan Triwulan Bank Syariah Indonesia tahun
2018-2022
H7
H3 H4 H5 H6
Populasi dalam penelitian ini adalah laporan keuangan triwulan dari PT BSI, tbk periode 2018-
2022. Dengan teknik yang digunakan untuk mengambil sampel dalam penelitian ini adalah
pusposive sampling. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan
pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu ini misalnya orang tersebut yang dianggap tahu
tentang apa yang kita harapkan atau mungkin dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan
penelitian menjelajahi objek atau situasi yang diteliti. Atau dengan kata lain pengambilan sampel
diambil berdasarkan kebutuhan penelitian. Adapun kriteria yang digunakan dalam menentukan
sampel antara lain:
Dari kriteria tersebut diperoleh sampel data pada PT BSI tbk, sebagaimana tabel dibawah ini:
Tabel 3
Nama
Akun 2018 2019 2020 2021 2022
CAR 14,92% 18,71% 18,24% 22,09% 26,28%
BOPO 95,32% 96,80% 84,61% 80,46% 75,88%
ROA 0,43% 0,31% 1,38% 1,61% 1,98%
ROE 2,49% 1,57% 11,18% 13,71% 16,84%
FDR 75,49% 80,12% 74,52% 73,39% 79,37%
J. Tempat dan Waktu Penelitian
Adapun data yang akan digunakan pada penelitian ini yaitu Laporan Keuangan Triwulan
dari tahun 2018 sampai 2022 Bank Syariah Indonesia yang diakses melalui website. Sedangkan
waktu penelitian yang diperlukan dalam penyusunan penelitian sampai tersusunnya penelitian
yaitu kurang lebih dari 30 November 2023 sampai dengan selesai.
Pada penelitian ini data yang digunakan adalah data sekunder, di mana data sekunder
merupakan data yang diperoleh dari badan pengumpulan data dan dipublikasikan menggunakan
data tersebut (Kuncoro, 2009). Sehingga sumber data pada penelitian ini berasal dari laporan
keuangan triwulan dari tahun 2018-2022 yang dapat diperoleh dari Otoritas Jasa Keuangan,
website Bursa Efek, dan publikasi laporan keuangan yang dilakukan Bank Syariah Indonesia serta
dilengkapi dari berbagai sumber, antara lain buku, jurnal, makalah, atau artikel dari internet.
L. Instrumen Penelitian
a. Variabel Dependen
Modal Bank
CAR= x 100 %
Aktiva Tertimbang Menurut Risiko( ATMR)
b. Variabel Independen
1. Return on Asset (ROA)
Laba sebelum Pajak
ROA= x 100 %
Total assets
2. Return on Equity (ROE)
Laba setelah pajak
ROE= x 100 %
Total equity
3. Financing to Deposit Ratio (FDR)
Pembiayaan
FDR= x 100 %
Dana pihak ke tiga
4. Non Performing Financing (NPF)
Pembiayaan bermasalah
FDR= x 100 %
Total pembiayaan
5. Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO)
Beban operasional
BOPO= x 100 %
Pendapatan operasional
6. Inflasi
Tingkat hargat −tingkat hargat −1
Rate of Inflation= x 100 %
tingkat hargat−1
Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data sekunder yang diperoleh dari laporan
keuangan publikasi triwulan yang diterbitkan oleh Bank Syariah Indonesua dalam website resmi
Bank Syariah Indonesia. periode data yang digunakan yaitu data laporan keuangan triwulan Bank
Syariah Indonesia yang dipublikasikan selama tahun 2018-2022.
1. Studi Kepustakaan, yaitu memperoleh berbagai data dengan membaca, memahami dan
menganalisa buku-buku serta menelusuri berbagai literatur yang relevansinya dengan
pembahasan ini, serta literatur lain untuk menghimpun dan menganalisis data yang
bersummber dari perpustakaan, baik berupa buku-buku, jurnal-jurnal yang dipublikasikan,
laporan penelitian sebelumnya, serta berbagai sumber lainnya yang dianggap mempunyai
hubungan dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini.
2. Data sekunder, yaitu catatan tentang adanya suatu peristiwa, ataupun catatan-catatan yang
jaraknya telah jauh dari sumber orisinil. Pada penelitian ini menggunakan data time series
triwulan yang dipublikasikan oleh BSI periode 1018-2022.
12
Damodar N. Gujarati, Dasar-dasar Ekonometrika, (Jakarta: Erlangga: 2007), h.164.
b) Jika probability JB test < α 5% = data tidak berdistribusi normal (terima H0, tolak
H1).13
b. Uji Autokorelasi
Autokorelasi adalah adanya korelasi antara variabel itu sendiri, pada pengamatan
yang berbeda waktu dan individu. Autokorelasi ini sering muncul pada data time
series.14
Salah satu cara mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi adalah dengan
menggunakan uji Durbin-Watson, dengan dasar pengambilan keputusan sebagai
berikut:15
a) 0 < d < dL, menolak hipotesis nol, ada autokorelasi positif.
b) dL ≤ d ≤ dU, daerah keragu-raguan, tidak ada keputusan.
c) du ≤ d ≤ 4-dU, menerima hipotesis nol, tidak ada autokorelasi positif/negatif.
d) 4-dU ≤ d ≤ 4-dL, daerah keragu-raguan, tidak ada keputusan.
e) 4-dL ≤ d ≤ 4, menolak hipotesis nol, ada autokorelasi negatif.
c. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas berarti terdapat varian variabel gangguan yang tidak
konstan. Masalah heteroskedastisitas lebih sering muncul pada data cross section
daripada time series.16
Pengambilan Keputusan ada atau tidak adanya heteroskedastisitas menggunakan
kriteria sebagai berikut:
a) H0: tidak ada heteroskedastissitas
13
Agus Widarjono, Analisis Multivariant Terapan, (Yogyakarta: UPP STIM YKPN, 2010), h. 111.
14
Nachrowi Djalal Nachrowi dan Hardius Usman, Penggunaan Teknik Ekonometrika, (Jakarta; RajaGrafindo
Persada, 2002), h. 135.
15
Agus Widarjono, Ekonometrika Pengantar dan Aplikasinya, (Yogyakarta: Ekonisia FE UII, 2009), h. 146.
16
Agus Widarjono, Analisis Multivariant Terapan, (Yogyakarta: UPP STIM YKPN, 2010), h. 84.
H1: ada heteroskedastisitas
b) Jika p-value Obs*R-square < α maka H0 tolak.
d. Uji Multikolinieritas
Multikolinieritas adalah kondisi adanya hubungan linier antarvariabel
independen. Karena melibatkan beberapa variabel independen, maka
multikolinieritas tidak akan terjadi pada persamaan regresi sederhana (yang terdiri
atas satu variabel dependen dan satu variabel independen).17
Sebagai aturan yang kasar (rule of thumb), jika koefisien korelasi cukup
tinggi di atas 0,85 maka kita duga ada multikolinieritas dalam model. Sebaliknya
jika koefisien korelasi kurang dari 0,85 maka kita duga model tidak mengandung
unsur multikolinieritas.18
2. Uji Ketetapan Model
Berdasarkan hasil dari analisis regresi data panel akan dilakukan uji
hipotesis untuk mengetahui signifikansi pengaruh variabel bebas terhadap
variabel terikat. Untuk menguji hipotesis yang diajukan akan dilakukan Koefisien
Determinasi (R2), Uji Simultan (Uji F) dan Uji Parsial (Uji t).
a. Adjusted (R2)
Uji R2 pada intinya mengatur seberapa jauh kemampuan model dalam
meneragkan variasi variabel dependen. Di mana R 2 nilainya berkisar antara 0
< R2 < 1, semakin besar R2 maka variabel bebas semakin dekat hubungannya
dengan variabel tidak bebas, dengan kata lain model tersebut dianggap baik.
Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen variasi
variabel dependen.
b. Uji F (Simultan)
Uji F digunakan untuk menguji pengaruh secara simultan variabel bebas
terhadap variabel tergantungnya. Jika variabel bebas memiliki pengaruh
secara simultan terhadap variabel tergantung maka model persamaan regresi
17
Wing Wahyu Winarno, Analisis Ekonometrika dan Statistika dengan Eviews, (Yogyakarta: UPP STIM YKPN,
2015), h. 5.1.
18
Suliyanto, Ekonometrika Terapan dan Aplikasi dengan SPSS, (Yogyakarta: CV Andi Offsie, 2011), h. 55.
masuk dalam kriteria cocok atau fit. Sebaliknya jika tidak terdapat pengaruh
secara simultan maka masuk dalam kategori tidak cocok atau non fit.19
Untuk menentukan nilai F-tabel, tingkat signifikansi yang digunakan sebesar
5% dengan derajat kebebasan (degree of freedom) df= (n-k) dan (k-1) di mana
n adalah jumlah observasi, k adalah jumlah variabel termasuk intersep dengan
kriteria uji yang digunakan adalah:
Jika F-hitung > F-tabel (α; n-k; k-1), maka H0 ditolak.
Jika F-hitung < F-tabel (α; n-k; k-1), maka H0 diterima.
Dalam pengambilan keputusan apakah menerima H 0 atau menolak H0 bisa
dilihat dari besarnya probabilitas yang menunjukkan besarnya α. Dari
perhitungan Eviews jika probabilitasnya sangat kecil yaitu 0,0000% sehingga
keputusannya adalah menolak H0 atau menerima Ha.20
c. Uji t (Parsial)
Pengujian parsial terhadap koefisien regresi secara parsial menggunakan uji-t
pada tingkat keyakinan 95% dan tingkat kesalahan dalam analisis (α) 5%
dengan ketentuan degree of freedom (df) = n-k. Di mana n adalah besarnya
sampel, k adalah jumlah variabel. Analisis didasarkan pada perbandingan
antara t-hitung dengan t-tabel di mana syarat-syaratnya adalah sebagai
berikut:
a) Jika t-hitung > t-tabel maka H0 ditolak yang berarti variabel independen
berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
b) Jika t-hitung < t-tabel maka H0 diterima yang berarti variabel independen
tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
19
Suliyanto, Ekonometrika Terapan Teori dan Aplikasi dengan SPSS, (Yogyakarta: CV Andi Offside, 2011), h. 55.
20
Agus Widarjono, Ekonometrika Pengantar dan Aplikasinya, (Yogyakarta: Ekonisia FE UII, 2009), h.70.
DAFTAR PUSTAKA
Al Arif, M. Nur Rianto. Teori Makroekonomi Islam. Bandung: Alfabeta, 2010.
Andhini, Mega Murti. ”Pengaruh Rentabilitas, Efisiensi, Kualitas Aset, dan Likuiditas terhadap Capital
Adequacy Ratio (CAR) Sektor Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia.” Skripsi S1 Fakultas
Ekonomi, Universitas Negeri Yogyakarta, 2015.
Antonio, Muhammad Syafi’i. Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik.. Jakarta:Gema Insani Press, 2001.