0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan38 halaman

Pengaruh FDR dan NPF pada CAR Bank Syariah

Diunggah oleh

Rifaldi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan38 halaman

Pengaruh FDR dan NPF pada CAR Bank Syariah

Diunggah oleh

Rifaldi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH ROA, ROE, FDR, NPF, BOPO DAN INFLASI TERHADAP

KECUKUPAN MODAL PADA BANK SYARIAH INDONESIA


(Studi Kasus pada PT. Bank Syariah Indonesia Tahun 2018 – 2022)

Disusun Oleh:

SHERYL AUDINATA

NIM: 11210850000120

JURUSAN PERBANKAN SYARIAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

1445 H / 2023
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang sudah memberikan rahmat dan hidayah-
Nya kepada kita sekalian, juga kepada kami selaku penulis penelitian proposal yang berjudul
“PENGARUH ROA, ROE, FDR, NPF, BOPO DAN INFLASI TERHADAP KECUKUPAN MODAL
PADA BANK SYARIAH INDONESIA” ini hingga dapat menuntaskan proposal ini dengan baik.
Shalawat serta salam tak lupa juga kita haturkan kepada junjungan kita nabi besar, Nabi Muhammad
SAW yang telah melalui perjuangan Panjang dalam mengembangkan islam, kemudian semoga kita semua
mendapatkan pertolongan di akhirat nanti.

Adapun maksud membuat proposal ini aialah guna memenuhi tugas pada mata kuliah metodologi
penelitian, yang lalu diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan yang baik untuk kami
selaku penulis proposal maupun untuk pembacanya. Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada Bapak Fadlillah Fauzukhaq. Selaku dosen pengampu mata kuliah Metodologi Penelitian
yang telah menugaskan tugas ini kepada saya, yang kemudian memberikan tambahan ilmu dan wawasan.

Depok, 01 Desember 2023

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bank merupakan suatu Perusahaan yang menjalankan fungsi intermediasi atas dana yang
diterima dari nasabah. Jika sebuah bank mengalami kegagalan, dampak yang ditimbulkan akan
meluas mempengaruhi nasabah dan lembaga-lembaga yang menyimpan dananya atau
menginvestasikan modalnya di bank. Karena pentingnya peran bank dalam melaksanakan
fungsinya maka perlu diatur secara baik dan benar. Hal ini bertujuan untuk menjaga kepercayaan
nasabah terhadap aktivitas perbankan. Salah satu peraturan yang perlu dibuat untuk mengatur
perbankan adalah peraturan mengenai permodalan bank yang berfungsi sebagai penyangga
terhadap kemungkinan terjadinya kerugian.
Kecukupan modal yang diukur dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) merupakan
indikator yang sangat penting dan hanya ada diperbankan saja. Menurut Ascarya dan Serkan
(2007) dalam penelitian Nurshadrina (2013) bank memiliki faktor khusus yang tidak dimiliki oleh
perusahaan lainnya, yang membedakan bank dengan perusahaan lainnya yaitu adanya peraturan
pemerintah mengenai Capita Adequacy Ratio (CAR). (Sari et al., 2013)
Rasio kecukupan modal (CAR) pada industry perbankan sesuai dengan aturan yang
berlaku di indonesia, besarnya ditentukan oleh seberapa besar modal yang dimiliki yang terdiri
dari modal inti dan modal pelengkap, serta berapa aktiva tertimbang menurut risiko, di mana
bobot risiko masing-masing aktiva telah ditetapkan oleh Bank of International Settlement (BIS).
(Fitrianto & Mawardi, 2006)
Mengingat pentingnya modal pada bank, pada tahun 1998 BIS mengelurkan suatu konsep
kerangka permodalan yang lebih dikenal dengan the 1988 accord (Basel 1). Sistem ini dibuat
sebagai penerapan kerangka pengukuran bagi risiko pembiayaan, dengan mensyaratkan standar
modal minimum adalah 8%. Sejalan dengan semakin berkembangnya produk-produk yang ada di
dunia perbankan, BIS kembali menyempurnakan kerangka permodalan yang ada pada the 1988
accord dengan mengeluarkan konsep permodalan baru yang dikenal dengan Basel II.
Basel II dibuat berdasarkan struktur dasar the 1988 accord yang memberikan kerangka
perhitungan modal yang bersifat lebih sensitif terhadap risiko (risk senstive) serta memberikan
insentif terhadap peningkatan kualitas penerapan manajemen risiko di bank. Hal ini dicapai
dengan cara penyesuaian persyaratan modal dengan risiko dari kerugian pembiayaan dan juga
dengan memperkenalkan perubahan perhitungan modal dari eksposur yang disebabkan oleh risiko
dari kerugian akibat kegagalan operasional. Basel II bertujuan meningkatkan keamanan dan
kesehatan sistem keuangan, dengan menitik beratkan pada perhitungan permodalan yang berbasis
risiko, supervisory review process dan market discipline.
Selama periode pengamatan, nilai CAR pada Bank Syariah Indonesia. Berikut ini merupakan data tabel
yang menggambarkan nilai CAR yang terjadi pada tahun 2018-2022.

Sumber: Laporan Keuangan Triwulan Bank Syariah Indonesia


Tabel 1.1
Nilai Capital Adequacy Ratio (CAR) Periode 2019-2020
Tahun 2018 2019 2020 2021 2022
CAR 14,92% 18,71% 18,24% 22,09% 26,28%
BOPO 95,32% 96,80% 84,61% 80,46% 75,88%
ROA 0,43% 0,31% 1,38% 1,61% 1,98%
ROE 2,49% 1,57% 11,18% 13,71% 16,84%
FDR 75,49% 80,12% 74,52% 73,39% 79,37%

Tabel 1.2
Hasil Perhitungan Capital Adequacy Ratio ( CAR
PT. Bank Syariah Indonesia
Periode Tahun 2018-2022
tahun
keterangan
2018 2019 2020 2021 2022
CAR 14,92% 18,71% 18,24% 22,09% 26,28%
Komponen rasio 13,5%≤CAR<15% CAR≥11% CAR≥11% CAR≥11% CAR≥11%
Peringkat 2 1 1 1 1
Predikat Baik Sangat Baik Sangat Baik Sangat Baik Sangat Baik

Sumber: Data yang diolah penulis

Berdasarkan hasil tabel 1.2 Capital Adequacy Ratio (CAR) PT. Bank Syariah Indonesia
periode tahun 2018-2022, Capital Adequacy Ratio (CAR) pada tahun 2018 menunjukkan angka
rasio mencapai 14,92%, mengalami kenaikan menjadi sebasar 18,71% pada tahun 2019, dan di
tahun 2020 mengalami kenaikan kembali menjadi sebesar 18,24%, lalu 2021 mengalamai
kenaikan hingga 22,09%, dan di tahun 2022 naik mencapai 26,28%. Dari hasil tersebut,
menunjukkan bahwa nilai rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) setiap tahunnya meningkat yang
artinya mencerminkan bahwa kondisi tingkat Kesehatan bank pada PT. Bank Syariah Indonesia
dalam predikat “sangat baik”, karena sudah memenuhi standart minimum Capital Adequacy
Ratio (CAR) dan telah mengelola dengan baik modal bank dalam menyerap kerugian dan mempu
mengatasi pengaruh negative kondisi perekonomian dan industry keuangan.

Melihat kondisi tersebut, kinerja pada PT. Bank Syariah Indonesia menunjukkan nilai
CAR yang berfluaktif dapat mempengaruhi kinerja operasional pada periode berikutnya, sehingga
perlu dikaji faktor-faktor yang harus diperhatikan untuk menjaga agar mencapai nilai CAR yang
ideal atau setidaknya tidak mengalami penurunan. Menurunnya CAR bisa berakibat menurunnya
kemampuan bank dalam menyalurkan pembiayaan dan jika cenderung terus-menerus menurun,
maka dikhawatirkan tidak memiliki kemampuan modal yang cukup untuk meredam kemungkinan
timbulnya risiko. (Yuwono, 2012)

Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan, banyak faktor-faktor yang berpengaruh terhadap
CAR. Menurut Brigham dan Gapenski (1997) pada penelitian Krisna (2008), ROA dan ROE yang
merupakan indikator dari rasio profitabilitas dijadikan variabel independen yang mempengaruhi
CAR, karena perusahaan yang tingkat pengambil investasinya tinggi akan menggunakan hutang
yang kecil agar tingkat biaya modal yang mengandung risiko relatif kecil dan modal sendiri bank
relatif tinggi sehingga dapat meningkatkan CAR. (Krisna, 2008)

Hasil penelitian Shitawati (2006) menyimpulkan bahwa ROE berpengaruh positif


signifikan terhadap CAR, artinya jika ROE semakin meningkat maka CAR akan meningkat
begitu pula sebaliknya jika ROE menurun maka CAR akan menurun. Namun, penelitian yang
dilakukan oleh Nuviyanti (2014) dan Andini (2015) menyimpulkan bahwa ROE berpengaruh
negatif signifikan terhadap CAR, yang maknanya jika ROE berpengaruh negatif signifikan
terhadap CAR, yang maknaya jika ROE meningkat maka CAR akan menurun bergitu pula
sebaliknya jika ROE menurun maka CAR akan meningkat.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Muharomah (2013) dan Fatimah (2013) menyebutkan
bahwa secara parsial FDR berpengaruh negatif signifikan terhadap CAR. Namun, penelitian yang
dilakukan oleh sakinah (2013) memberikan hasil bahwa FDR secara parsial mempnuyai pengaruh
positif signifikan terhadap CAR.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Poernamawatie (2009), Margaretha dan Setiyaningrum
(2011) menemukan hubungan negatif antara NPL dan CAR. Hasil penelitian lain yang berbeda
ditemukan oleh Nurcahyaningtyas (2015) dimana NPL berpengaruh positif terhadap CAR, karena
adanya aturan mengenai AYDA (agunan yang diambil alih) terhadap kredit macet dan PPAP
yang dibentuk oleh PPAP, sehingga agunan tersebut dapat menjadi asset baru yang dapat
menambah modal untuk kegiatan operasional. Berdasarkan penelitian sebelumnya masih terdapat
research gap pengaruh NPL (NPF) terhadap CAR.

Pada penelitian Shitawati (2006), BOPO mempengaruhi CAR karena semakin kecil
BOPO menunjukkan semakin efisien bank dalam menjalankan aktivitas usahanya, karena biaya
operasi yang harus ditanggung lebih kecil dari pendapatan operasinya sehingga aktivitas
operasional bank menghasilkan keuntungan. Hal tersebut mampu meningkatkan modal bank dan
meminimumkan tingkat risikonya, sehingga BOPO yang relatif rendah mampu meningkatkan
CAR. (Shitawati, 2006)

Dari penelitian Saputra (2016), inflasi dapat dikatakan satu indikator yang berhubungan
terhadap rasio modal karena disaat kondisi inflasi meningkat, bank meningkatkan suku bunga
yang akan menyebabkan peningkatan rasio modal. Bagi perbankan kondisi terciptanya inflasi
yang rendah dan stabil akan menciptakan sinergi antara kebijakan di bidang perbankan dan sistem
permbayaran. Untuk menciptakan tingkat inflasi yang rendah dan stabil melibatkan penentuan
suku bunga acuan, di mana suku bunga acuan tersebut akan mempengaruhi tingkat suku bunga
simpnanan dan pembiayaan. Sedangkan dari sisi kecukupan modal perbankan suku bunga acuan
akan mempengaruhi CAR terutama pada sisi modal. (Saputra, 2016)

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, dengan adanya research gap tersebut maka
perlu dilakukan penelitian lanjutan dan penulis tertarik untuk mengangkan permasalahan yang
berkaitan dengan rasio kecukupan modal yaitu dengan judul ”Pengaruh ROA, ROE, FDR, BOPO,
dan Inflasi terhadap Kecukupan Modal pada PT. Bank Syariah Indonesia Periode 2018-2022”

B. Identifikasi Masalah

Salah satu upaya menjaga eksistensi PT. Bank Syariah Indonesia yaitu perlu memperhatikan
kriteria pengukuran kesehatan dan kinerja perbankan. Indikator yang sangat penting dalam
menjaga tingkat kesehatan bank adalah Capital Adequacy Raio (CAR). Berbagai macam faktor
yang berpengaruh terhadap CAR antara lain adalah inflasi, faktor profitbalitas dan likuiditas yang
tertuang dalam rasio-rasio keuangan.
C. Rumusan Masalah

a. Apakah terdapat pengaruh ROA, ROE, FDR, NPF, BOPO dan inflasi secara parsial terhadap
rasio kecukupan modal pada PT. Bank Syariah Indonesia?
b. Apakah terdapat pengaruh ROA, ROE, FDR, NPF, BOPO dan inflasi secara simultan
terhadap rasio kecukupan modal pada PT. Bank Syariah Indonesia?

D. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:


1. Untuk menganalisis pengaruh ROA, ROE, FDR, NPF, BOPO dan inflasi secara parsial
terhadap rasio kecukupan modal pada PT. Bank Syariah Indonesia.
2. Untuk menganalisis pengaruh ROA, ROE, FDR, NPF, BOPO dan inflasi secara simultan
terhadap risiko kecukupan modal pada PT. Bank Syariah Indoensia.

E. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah:


1. Bagi Pihak Akademisi

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi serta pengetahuan bagi pihak
akademisi dalam mengkaji faktor-faktor yang dapat mempengaruhi rasio kecukupan modal
pada PT. Bank Syariah Indonesia.

2. Bagi Pihak Praktisi

Penelitian ini diharapkan sebagai kontribusi sederhana terhadap pemerintah dan praktisi
perbankan, khususnya PT. Bank Syariah Indonesia mengenai besarnya pengaruh ROA, ROE,
FDR, NPF, BOPO dan inflasi terhadap rasio kecukupan modal.

3. Bagi Pihak Masyarakat


Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sebagai sumber
referensi dan informasi apabila ingin melakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor
yang mempengaruhi rasio kecukupan modal pada PT. Bank Syariah Indonesia.

F. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kausal karena tujuannya adalah meneliti hubungan sebab
akibat antara variabel independen terhadap variabel dependen. Penelitian ini bertujuan untuk
memperoleh bukti empiris mengenasi pengaruh ROA, ROE, FDR, NPF, BOPO dan inflasi
terhadap rasio kecukupan modal pada Bank Syariah Indonesia periode 2018-2022.
2. Sumber Data Penelitian
Dalam penelitian ini data dihimpun menggunakan data sekunder. Data sekunder adalah data yang
diperoleh dari lembaga atau institusi tertentu, data sekunder diperoleh dari pendokumentasian hal-
hal yang berkaitan dengan penelitian, serta data yang diperoleh melalui penelitian kepustakaan,
dari buku, artikel, dan karya ilmiah yang berkaitan dengan penelitian. Sumber data diperoleh dari
data laporan keuangan triwulan Bank Syariah Indonesia.
3. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data kuantitatif, data yang penulis dapatkan
bersifat sekunder. Metode yang digunakan adalah sebagai berikut:
a) Studi kepustakaan (Library Research), yaitu memperoleh berbagai data dengan
membaca, memahami dan menganalisa buku-buku serta menelusuri berbagai litelatur
yang relevansinya dengan pembahasan ini, serta literatur lain untuk menghimpun dan
menganalisis data yang bersumber dari perpustakaan, baik berupa buku-buku, jurnal-
jurnal, bersumber dari perpustakaan, serta berbagai sumber lainnya yang dianggap
mempunyai hubungan dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini.
b) Data skunder, pada peneltian ini menggunakan data Laporan Keuangan triwulan yang
dipublikasikan oleh Bank Syariah Indonesia peiode 2018-2022.
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Teori-teori Terkait dengan Penelitian

1. Definisi Bank Syariah


Mendengarkan kata bank pasti sudah tidak asing lagi bagi kita, terutama yang berada di daerah
perkotaan bahkan saat ini bank sudah banyak tersebar di daerah pedesaan. Bank islam atau Bank
Syariah adalah lemabaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa dalam
lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoperasiannya disesuaikan dengan prinsip-
prinsip syariah islam. Berdasarkan undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 sebagaimana telah
direvisi dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, bank syariah adalah
bank umum yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsio syariah yang dalam
kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 tahun 2008 dijelaskan bahwa bank syariah ialah segala
sesuatu yang berkaitan dengan perbankan syariah dan Unit Usaha Syariah (UUS), termasuk
lembaganya, kegiatan usahanya, serta motode dan proses untuk melakukan kegiatan usaha. Bank
syariah adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha sesuai dengan prinsip syariah dan terdiri
dari Bank Umum Syariah (BUS), Unit Usaha Syariah (UUS) dan Bank Pembiayaan Rakyat
Syariah (BPRS). (ISMAIL, 2010)
Bank syariah memiliki sistem operasi yang berlainan dengan bank konvensional, yang mana bank
syariah memberikan layanan bebas bunga/riba kepada nasabahnya, melakukan pembayaran dan
penarikan, uang dalam bentuk bunga dilarang dalam transaksi. Bank syariah tidak mengenal
dengan sistem suku bunga baik itu bunga yang diterima dari peminjam maupun bunga yang
dibayarkan kepada deposan di bank syariah. (Yusriadi, 2022)
Bank merupakan lembaga keuangan yang kegiatannya berhubungan dengan uang. Maka, kegiatan
bank tentu akan selalu terkait dengan masalah uang karena sebagau alat utama untuk
memperlancar perdagangan. Kegiatan usaha perbankan selalu berkaitan dengan komoditas, yaitu:
(Zuhri, 2015)
a. Memindahkan uang
b. Mendiskonto surat wesel dan surat berharga lainnya
c. Pembelian dan penjualan surat berharga lainnya
d. Pembelian serta penjualan cek, surat wesel dan
e. Memberikan garansi bank.
2. Tujuan dan Fungsi Perbankan Syariah
Berdasarkan undang-undang No. 21 tahun 2008, bank syariah memiliki tujuan untuk mendukung
terwujudnya pembangunan nasional dalam rangka untuk meningkatkan keadilan serta pemerataan
kesejahteraan rakyat.
Pencapaian tujuan bank syariah merupakan wujud dari kebijakan yang dijalankan bank syariah.
Kebijakan yang dapat diambil oleh bank syariah adalah prioritas memkasimalkan pendapatan dan
keuntungan atau mendistribusikan kesejahteraan rakyat.
Fungsi utama perbankan indonesia adalah sebagai lembaga perantara (intermediary institution)
yang menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat. Dana masyarakat yang disimpan dalam
bentuk rekening, giro, deposito, dan/atau tabungan kemudian dihimpun dan dikelola oleh bank.
Simpanan yang dipercayakan oleh masyarakat kepada bank tersebut kemudian disalurkan oleh
bank dalam bentuk fasilitas pembiayaan kepada masyarakat yang membutuhkan dana.
3. Kecukupan Modal
a. Pengertian Kecukupan Modal
Permodalan merupakan faktor yang sangat penting bagi pertumbuhan dan kemajuan
suatu bank syariah dengan tetap menjaga kepercayaanvmasyarakat. Setiap penciptaan asset,
di luar kemungkinan risiko. Oleh sebab itu modal juga harus dapat digunakan untuk menjaga
kemungkinan risiko kerugian ketika berinvestasi pada aset, terutama dari dana pihak ketiga
atau masyarakat. Meningkatnya peran aset dalam menghasilkan keuntungan harus diiringi
dengan pertimbangan risiko yang mungkin timbul guna melindungi kepentingan para
pemilik dana. (Nursyamsu, 2016)
Didasarkan nilai buku, modal dapat diartikan sebagai kekayaan bersih yaitu selisih’antara
nilai tercatat suatu aset dikurangi nilai tercatat suatui kewajiban (liabilitas). Dalam
perbankan, sumber capital gain bank didapat dari beberapa sumber. Pada awal pendiriannya,
modal bank diambil dari para pendiri dan pemegang saham. Pemegang saham
menginvestasikan modal di bank dengan harapan mendapatkan keuntungan di masa depan. 1
b. Fungsi Modal pada Bank
Modal bank sekurang-kurangnya memiliki tiga fungsi utama yaitu: fungsi operasional, fungsi
perlindungan, fungsi pengamanan dan pengaturan. Keseluruhan fungsi modal bank tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut:2
i. Memberikan perlindungan kepada nasabah
1
Muhammad, Manajemen Dana Bank Syariah, h.140
2
Dahlan Siamat, Manajemen Lembaga Keuangan Kebijakan Moneter dan Perbankan, (Jakarta: Lembaga Penerbit
FE-UI, 2005), h.287.
ii. Mencegah terjadinya kejatuhan bank
iii. Memenuhi kebutuhan gedung kantor dan inventaris
iv. Memenuhi ketentuan permodalan minimum
v. Meningkatkan kepercayaan mayarakat
vi. Menutupi kerugian aktiva produktif bank
vii. Sebagai indikator kekayaan bank
viii. Meningkatkan efesiensi operasional bank
4. Capital Adequacy Ratio (CAR)
CAR adalah rasio yang memperlihatkan seberaapa jauh seluruh aktiva bank yang
mengandung risiko (kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari
dana modal sendiri bank di samping memperoleh dana-dana dari sumber-sumber di luar bank.
Dengan kata lain CAR adalah rasio bank untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank
untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan risiko.3
Faktor utama yang mempengaruhi jumlah modal bank adalah jumlah modal minimum yang
ditentukan oleh Bank Indonesia. CAR yang ditetapkan oleh Bank Indonesia ini mengacu pada
ketentuan Internasional yang dikeluarkan oleh Banking for International Settlement (BIS).
CAR adalah rasio kewajiban pemenuhan modal minimum yang harus dimiliki oleh bank. CAR
merupakan indikator terhadap kemampuan bank untuk menutupi penurunan aktivanya sebagai
akibat dari kerugian-kerugian bank yang disebabkan oleh aktiva yang berisiko.4
CAR adalah modal bertanding aktiva yang mengandung risiko atau rasio kecukupan modal
minimum dengan memperhitungkan risiko pasar. CAR dapat dihitung dengan membandingkan
modal terhadap aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR).
Modal Bank
CAR= × 100 %
Aktiva Tertimbang Menurut Risiko( ATMR)
BI menetapkan ketentuan modal minimum bagi perbankan sebagaimana ketentuan dalam standar
Bank for International Settlement (BIS). Tabel 1.3 dibawah ini menunjukkan kriteria penilaian
tingkat kesehatan menurut rasio CAR (Capital Adequacy Ratio):

Tabel 1.3
Matriks Kriteria Penilaian Peringkat CAR
Rasio Peringkat Predikat
CAR≥15% 1 Sangat Baik
13,5%≤CAR<15% 2 Baik
3
Zainul Arifin, Dasar-dasar Manajemen Bank Syariah, (Jakarta: Pustaka Alvabet, 2002), h.122.
4
Lukman Dendawijaya, Manajemen Perbankan, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2005), h.121.
12%≤CAR<13,5% 3 Cukup Baik
8%≤CAR<12% 4 Tidak Baik
CAR<8% 5 Sangat Tidak Baik
Sumber: [Link] (2020)

5. Return on Asset (ROA)


Return on Asset (ROA) merupakan rasio untuk mengukur manajemen bank dalam mengelola aset
guna memperoleh keuntungan (laba) secara keseluruhan. Rasio ini sering juga disebut sebagai
Return on Investment. Hasil pengembalian investasi atau lebih dikenal dengan nama return on
investasi atau return on total asset merupakan rasio yang menunjukkan hasil return atas jumlah
aktiva yang digunakan dalam Perusahaan. ROA juga merupakan ukuran tentang efektifitas
manajemen dalam mengelola investasinya. Di samping itu hasil dari pengembalian investasi
menunjukkan produktifitas dari seluruh dana perusahaan, baik dalam modal pinjaman maupun
modal sendiri. Semakin kecil (rendah) rasio ini semakin tidak baik, demikian pula sebaliknya.
Artinya rasio ini digunakan untuk mengukur efektifitas dari seluruh perusahaan. 5
Perhitungan Return on Asset (ROA) dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
laba sebelum pajak
Returnon Asset ( ROA ) = ×100 %
Total asset

ROA menunjukkan kemampuan bank dalam memperoleh keuntungan (laba) secara keseluruhan
dari aset yang dimiliki. Semakin besar ROA suatu bank, maka semakin besar pula tingkat
keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari segi
penggunaan aset. Sebaliknya, jika semakin kecil ROA suatu bank, maka semakin kecil
keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin kecil pula posisi bank tersebut dari segi
penggunaan aset. Menurut Bank Indonesia, standar nilai ROA minimal yang baik adalah sebesar
1,5%, sehingga bank tersebut dapat dikatakan dalam kondisi sehat. Berikut peringkat
pengembalian Return On Assets (ROA):
Tabel
Kriteria peringkat Return On Assets (ROA)

Peringkat Kriteria Keterangan

5
Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2008), h.201.
1 ROA > 1,5 % Sangat Sehat
2 1,25% < ROA ≤ 1,5% Sehat
3 0,5% < ROA ≤ 0,5% Cukup Sehat
4 0% < ROA ≤ 0,5% Kurang Sehat
5 ROA ≤ 0% Tidak Sehat
Sumber: Surat Edaran Bank Indonesia No 12/12/24/DPNP tahun 2011

6. Return on Equity (ROE)


Return on Equity (ROE) merupakan rasio yang biasa dipakai untuk mengukur kinerja keuangan
bank. Rasio ini berfungsi untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengelola capital
yang ada untuk mendapatkan net income.6
ROE dalam analisis keuangan mempunyai arti yang sangat penting untuk mengukur kemampuan
perusahaan dalam memperoleh laba. Dengan menggunakan ROE, kemampuan bank dalam
memperoleh laba tidak diukur menurut besar kecilnya jumlah laba yang dicapai, akan tetapi
jumlah laba tersebut harus dibandingkan dengan jumlah dana yang telah diguanakan dalam
menghasilkan laba tersebut.7
Bank lebih tertatik pada seberapa besar kemampuan bank memperoleh keuntungan terhadap
modal yang ia tanamkan. Untuk mengukur kemampuan bank memperoleh keuntungan dilihat dari
kepentingan pemelik, digunakan rasio Return on Equity (ROE) dan rumus perhitungannya yaitu
sebagai berikut:
laba setelah pajak
Returnon Equity ( ROE )= × 100 %
Total equity
Tabel
Kriteria Peringkat Return on Equity (ROE)

Peringkat Kriteria Keterangan

1 >20% Sangat Baik

2 >12,5% - 20% Baik

3 >5% - 12,5 % Cukup Baik

4 >0% - 5% Kurang Baik

6
Kasmir, Manajemen Perbankan, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), h.298.
7
A. Wangsawidjaja Z, Pembiayaan Bank Syariah, h. 118.
5 <0% Tidak Baik

Sumber : Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 6/24/DPNP tahun 2004


7. Financing to Deposit Ratio (FDR)
Dalam perbankan syariah FDR yang digunakan yaitu menggunakan istilah pembiayaan
(financing) dan tidak dikenal dengan istilah kredit (loan). FDR merupakan salah satu rasio
likuiditas yang mewakili kedua aktivitas utama bank yaitu menghimpun dana dan menyalurkan
dana tersebut kepada masyarakat yang membutuhkan (pembiayaan). Aktivitas penyaluran dana
atau pembiayaan merupakan sumber utama pendapatan bank syariah. Besarnya pembiayaan yang
disalurkan dipengaruhi oleh besarnya dana pihak ketiga yang terkumpul, semakin banyak pula
pembiyaan yang dapat disalurkan.8
FDR merupakan perbandingan antara pembiayaan yang diberikan oleh bank dengan dana pihak
ketiga yang berhasil dikerahkan oleh bank. FDR akan menunjukkan tingkat kemampuan bank
syariah dalam menyalurkan DPK yang dihimpun oleh bank syariah dapat dilihat dari besarnya
FDR bagi bank syariah dan LDR bagi bank konvensional.9 Rumus FDR yaitu sebagai berikut:
Pembiayaan
FDR × 100 %
Dana Pihak ke Tiga
Tabel
Kriteria Peringkat Financing to Deposit Ratio (FDR)

Peringkat Kriteria Keterangan

1 FDR < 75 % Sangat Sehat

2 75% ≤ FDR < 85% Sehat

3 85% ≤ FDR < 100% Cukup Sehat

4 100% ≤ FDR ≤ 120% Kurang Sehat

5 FDR ≥ 120% Tidak Sehat

Sumber: Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 6/23/DPNP tahun 2011


8. Non Performing Financing (NPF)
NPF merupakan rasio kemampuan bank dalam mengelola pembiayaan bermasalah, pada
mulanya selalu diawali dengan wanprestasi, yaitu keadaan dimana debitur tidak mau dan
8
Paula Laurentia dan Lindrawati, ”Pengaruh Capital Adequacy Ratio dan Financing to Deposit Ratio terhadap Laba
Bank Umum Syariah”, Jurnal Akuntansi Kontemporer, 2010, Vol. 2, No. 1, h. 50-64.
9
Nur Suhartatik dan Rohmawati Kusumaningtias, ”Determinan Financing to Deposit Ratio Perbankan Syariah di
Indonesia (2008-2012), ” Jurnal Ilmu Manajemen, Vol. 1, No. 4, h.1176-1185
tidak mampu memenuhi janji yang telah dibuatnya sebagaimana yang tertera diperjanjian
pembiayaannya. NPF menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam mengelola
pembiayaan bermasalah yang diberikan oleh bank, sehingga semakin tinggi rasio ini maka
semakin buruk kualitas kredit bank yang menyebabkan jumlah kredit bermasalah semakin
besar maka kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin besar. Kredit dalam
hal ini adalah kredit yang diberikan kepada pihak ketiga tidak termasuk kredit kepada bank
lain. Kredit bermasalah adalah kredit dengan kualitas kurang lancar, diragukan dan macet.
NPF analog dengan Non Performing Loan (NPL) pada bank konvensional merupakan rasio
keuangan yang berkaitan dengan risiko kredit. Hasbi dan Tendi (2011) menuliskan rasio NPF
ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
Pembiayaan KL, D , M
NPF= x 100 %
Total Financing
9. Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO)
BOPO merupakan rasio perbandingan biaya operasional terhadap pendapatan
operasional. BOPO menurut kamus keuangan adalah kelompok rasio yang mengukur efisiensi
dan efektivitas operasional suatu perusahaan dengan jalur membandingkan yang satu terhadap
yang lainnya. Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat efesiensi dan kemampuan bank dalam
melakukan kegiatan operasonya, terutama kredit. 10 Semakin tinggi rasio ini menunjukkan
semakin tidak efisien biaya operasional bank. Semakin rendah tingkat rasio Biaya Operasional
terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) berarti semakin baik kinerja manajemen bank tersebut,
karena lebih efisien dalam menggunakan sumber daya yang ada di perusahaan. BOPO dapat
dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Beban operasional
BOPO= × 100 %
Pendapatan Operasional
10. Inflasi
1. Pengertian Inflasi
Inflasi merupakan fenomena ekonomi yang selalu menarik untuk dibahas terutama berkaitan
dengan dampaknya yang luas terhadap makroekonomi agregat: pertumbuhan ekonomi,
keseimbangan eksternal, daya saing, tingkat bunga dan bahkan distribusi pendapatan. Inflasi
juga berperan dalam mempengaruhi mobilisasi dana lewat lemabaga keuangan formal. 11
Inflasi dapat diartikan sebagai kenaikan tingkat harga barang dan jasa secara umum dan terus-
menerus selama waktu tertentu.
2. Macam-macam Inflasi
10
Lukman Dendawijaya, Manajemen Perbankan, h. 120.
11
Nurul Huda, Ekonomi Makro Islam : Pendekatan Teoritis, (Jakarta: Kencana, 2008), h.175.
Ada beberapa kelompok lain dari inflasi anatara lain:
a) Policy induced, disebabkan oleh kebijakan ekspansi moneter yang juga bisa
merefleksikan defisit anggaran yang berlebihan dan cara pembiayaannya.
b) Cash push inflation, disebabkan oleh kenaikan biaya-biaya yang bisa terjadi walaupun
pada saat tingkat pengangguran tinggi dan tingkat penggunaan kapasitas produksi rendah.
c) Demand pull inflation, disebabkan oleh permintaan agregat yang berlebihan yang
mendorong kenaikan Tingkat harga umum. Kenaikan permintaan agregat akan
menyebabkan harga yang naik, karena permintaan naik sementara tetap secara
mikroekonomi akan menyebabkan harga-harga menjadi naik, karena permintaan naik
sementara penawaran tetap secara mikroekonomi akan menyebabkan harga-harga
menjadi naik.
d) Interial inflation, cenderung untuk berlanjut pada tingkat yang sama sampai kejadian
ekonomi yang menyebabkan berubah. Jika inflasi terus bertahan, dan tingkat ini
diantisipasi dalam bentuk kontrak finansial dan upah, kenaikan inflasi akan terus
berlanjut.
3. Penyebab Inflasi
Menurut Sukirno bahwa berdasarkan pada sumber atau penyebab atas kenaikan hrga-harga
yang berlaku, inflasi biasanya dibedakan kepada tiga bentuk yaitu:
a) Inflasi Tarikan Permintaan (Demand Pull Inflation)
Yaitu inflasi yang terjadi karena terjadinya kenaikan permintaan atas suatu
komoditas. Inflasi ini biasanya terjadi pada masa perekonomian yang berkembang pesat.
Kesempatan kerja yang tinggi menciptakan tingkat pendapatan yang tinggi dan
selanjutnya menimbulkan pengeluaran yang melebihi kemampuan ekonomi
mengeluarkan barang dan jasa.
b) Inflasi Desakan Biaya (Cost Oush Inflation)
Yaitu inflasi yang terjadi karena adanya kenaikan biaya produksi.
c) Inflasi Diimpor (Imported Inflation)
Yaitu inflasi yang disebabkan oleh terjadinya inflasi di luar negeri. Inflasi ini
terjadi apabila barang-barang impor yang mengalami kenaikan harga memiliki peranan
yang penting dalam kegiatan pengeluaran di perusahaan-perusahaan.
Inflasi dapat dianggap sebagai penyakit ekonomi yang tidak bisa diabaikan
begitu saja, karena dapat menimbulkan dampak yang sangat luas. Oleh karena itu, inflasi
sering menjadi target kebijakan pemerintah. Inflasi yang cukup tinggi bergitu penting
untuk diperhatikan mengingat dampaknya bagi perekonomian yang bisa menimbulkan
ketidakstabilan yaitu pertumbuhan ekonomi yang lambat. Inflasi merupakan masalah
yang selalu dihadapi setiap perekonomian. Sampai di mana buruknya masalah ini berbeda
di antara satu waktu ke waktu yang lain, dan berbeda pula dari satu negara ke negara lain.
Tingkat inflasi yaitu kenaikan harga-harga dalam suatu tahun tertentu, biasanya
digunakan sebagai ukuran untuk menunjukkan sampai di mana buruknya masalah
ekonomi yang dihadapi.

G. Penelitian Terdahulu

1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Rasio Kecukupan Modal


a. Fitrianto dan Mawardi (2006) meneliti tentang Pengaruh Kualitas Aset, Likuiditas,
Rentabilitas dan Efisiensi terhadap Rasio Kecukupan Modal Perbankan yang Terdaftar di
Bursa Efek Jakarta. Alat analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda dengan
menggunakan metode statistik yang dibantu dengan program Statistical Package Social
Sciences (SPSS) versi 11.0. hasil penelitiannya menunjukkan bahwa secara simultan
variabel NPA, NPL, ROA, ROE, LDR, dan BOPO berpengaruh secara signifikan
terhadap perubahan CAR. Sedangkan secara parsial NPA tidak signifikan terhadap CAR,
NPL tidak signifikan terhadap CAR, ROA berpengaruh positif signifikan terhadap CAR.
Dengan meningkatnya keuntungan aset yang dimiliki bank maka besar pula tingkat
keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut dalam
penggunaan asset. Jika bank meraih keuntungan maka modalnya akan bertambah
sehingga CAR meningkat.
LDR berpengaruh negatif signifikan terhadap CAR, menunjukkan bahwa pertumbuhan
jumlah kredit yang diberikan lebih tinggi dari pertumbuhan jumlah dana yang dihimpun
sehingga menyebabkan menurunnya nilai CAR suatu bank. LDR mencerminkan
kemampuan bank dalam menyalurkan dana pihak ketiga dalam bentuk loan/ kredit untuk
menghasilkan pendapat. Jika dana pihak ketiga tidak tersalur akan mengakibatkan
kehilangan kesempatan mendapatkan bunga, pendapatan rendah dan laba menjadi rendah
sehingga akumulasi laba untuk menambah modal juga menjadi rendah. Sedangkan BOPO
tidak berpengaruh signifikan terhadap CAR.
b. Nuviyanti dan Anggono (2014) meneliti tentang Determinants of Capital Adequacy Ratio
(CAR) in 19 commercial banks (Case Study Period 2008-2013). Metode ini digunakan
adalah Regresi Data Panel, di mana hasil penelitiannya menunjukkan bahwa BOPO
memiliki signifikan negatif terhadap CAR. Semakin rendah BOPO berarti semakin baik
kinerja manajemen bank tersebut, karena lebih efisien dalam mengelola sumber dana dan
aktiva yang dimiliki untuk memperoleh laba, sehingga dapat meningkatkan CAR.
NPL dan LDR yang mewakili profil risiko berdasarkan risiko komponen penilaian
tingkat kesehatan bank, keduanya memiliki pengaruh yang signifikan dengan kecukupan
modal sementara NPL berpengaruh positif dan LDR berpengaruh negative. ROA
berpengaruh signifikan positif terhadap CAR. Sedangkan ROE berpengaruh signifiksn
terhadap CAR.
c. Margaretha dan Setiyaningrum (2011) meneliti tentang Pengaruh Resiko, Kualitas
Manajemen, Ukuran dan Likuiditas Bank terhadap Capital Adequacy Ratio bank-bank
yang terdaftar di bursa efek indonesia. metode yang digunakan adalag Regresi Data
Panel, di mana hasil penelitian ini menunjukkan bahwa risiko dari kredit bermasalah
(Non-Performing Loans) mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap CAR.
Risiko dilihat dari tingkat pengembalian aset (risiko index) tidak mempunyai pengaruh
terhadap CAR. Kualitas manajemen dilihat dari kemampuan menghasilkan laba/Net
Interest Margin (NIM) mempnunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap CAR.
Ukuran bank (SIZE) mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap CAR
Likuiditas aset dilihat dari dari Liquid Asset to Total Deposit (LACF) tidak mempunyai
pengaruh terhadap CAR. Likuiditas pasiva dilihat dari variabel Equity to Total Liabilities
(EQTL) mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap CAR. Likuiditas pasiva
yang tinggi menandakan bahwa bank memiliki dana lebih besar pada sisi pasiva yang
berasal dari dana pihak ketiga yang kemudian digunakan sebagai modal tambahan.
Penambahan modal mengakibatkan CAR meningkat.
d. Krisna (2008) meneliti tentang Faktor-faktor yang Mempengaruhi Capital Adequacy
Ratio pada Bank-bank Umum di Indonesia Periode Tahun 2003-2006. Metode yang
digunakan yaitu analisis Regresi Berganda dengan persamaan kuadrat terkecil (OLS).
Hasil dari penelitiannya menunjukkan bahwa ROI berpengaruh signifikan positif
terhadap CAR. ROE tidak berpengaruh signifikan positif terhadap CAR. BOPO tidak
berpengaruh signifikan negatif terhadap CAR. NIM tidak berpengaruh signifikan positif
terhadap CAR. LDR berpengaruh signifikan negatif terhadap CAR. NPL berpengaruh
signifikan negatif terhadap CAR. Semakin tinggi kredit bermasalah pada suatu bank akan
berdampak negatif terhadap kecukupan modal bank yang tercermin melalui CAR.
e. Sakinah (2013) meneliti tentang Faktor-faktor yang Mempengaruhi Capital Adequacy
Ratio (CAR) pada Bank Syariah di Indonesia Periode Maret 2009 – Desember 2011.
Metode yang digunakan adalah Regresi Data Panel, di mana hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa ROA, FDR dan inflasi secara parsial memiliki pengaruh signifikan
terhadap CAR. Sedangkan nilai tukar secara parsial tidak berpengaruh terhadap CAR.
f. Wulaningsih (2012) meneliti tentang Pengaruh Variabel Makro Ekonomi terhadap Rasio
Kecukupan Modal Perbankan Umum Konvensional. Metode yang digunakan adalah
Regresi Data Panel. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Inflasi, BI rate, M2, PDB
dan harga minyak dunia berpengaruh signifikan terhadap CAR. Kenaikan inflasi
merupakan kenaikan harga yang tinggi. Dengan meningkatnya harga, orang-orang akan
cenderung menunda konsumsi dengan menabung, sehingga akan menurunkan biaya
permintaan, dan dengan dana yang masuk ke bank akan membuat rasio kecukupan modal
bertambah sehat dan meningkatkan CAR pada bank.
Penelitian mengenai rasio kecukupan modal dengan berbagai variabel telah
dilakukan oleh beberapa penelitian sebelumnya. Secara ringkas penelitian-penelitian
yang telah dilakukan akan ditunjukkan pada tabel sebagai berikut:
Tabel
Penelitian Terdahulu

No Nama (Tahun) Judul Hasil Penelitian Perbedaan dengan


Penulis

1 Ali Shingjergji The NPL, LTD, EM Penulis meneliti


dan Marsida Determinants memiliki tentang pengaruh
Hyseni (2015) of the Capital pengaruh yang ROA, ROE, NPL,
Adequacy signifikan LTD, EM terhadap
Ratio in the terhadap CAR, CAR
Albanian sedangkan
Banking ROA, ROE Variabel dependen
System During tidak memiliki adalah CAR
2007-2014 pengaruh
signifikan Variabel independen
terhadap CAR adalah ROA, ROE,
NPL, LTD, EM

Metode yang
digunakan adalah
model regresi

1 Leila Bateni, The Influential EQR, ROA, Penulis meneliti


Hamidreza Factors on ROE, LAR tentang pengaruh
Vakilifard dan Capital memiliki LAR, ROE, ROA,
Farshid Asghari Adequacy pengaruh EQR, RAR, DAR
(2014) Ratio in signifikan terhadap CAR
Iranian Bank terhadap CAR,
sedangkan RAR Variabel dependen nya
dan DAR tidak adalah CAR
berpengaruh
terhadap CAR. Variabel independen
adalah LAR, ROE,
ROA, EQR, RAR,
DAR

Metode yang
digunakan adalah
dengan analisis regresi
dan data panel.

1 Harun Al Pengaruh ROA memiliki Penulis meneliti


Rasyid dan Return On pengaruh yang tentang pengaruh
Suryanto Assets (ROA) signifikan ROA, ROE, FDR,
Sosrowidigdo Dan Return On terhadap CAR BOPO dan inflasi
(2022) Equity (ROE) Bank PTPN terhadap CAR.
terhadap 2015-2019,
Kinerja sedangkan ROE Variabel dependen
Kesehatan tidak adalah CAR.
Capital berpengaruh
Adequacy terhadap CAR. Variabel independen
Ratio (CAR) adalah ROA, ROE,
Pada Bank FDR, BOPO dan
BTPN
inflasi.

Metode yang
digunakan adalah
dengan analisis
Regresi Data Panel.

Analisis NPL, NPA, Penulis meneliti


2 Hendra Fitrianto
Pengaruh ROE dan BOPO tentang pengaruh
dan Wisnu
Kualitas Aset, tidak memiliki ROA, ROE, FDR,
Mawardi (2006)
Likuiditas, pengaruh yang BOPO dan inflasi
Rentabilitas, signifikan terhadap CAR.
dan Efisiensi terhadap CAR,
terhadap Rasio sedangkan ROA Penelitian dilakukan
Kecukupan dan LDR pada Bank Umum
Modal berpengaruh Syariah di Indonesia
Perbankan secara periode 2011- 2015.
yang Terdaftar signifikan
di Bursa Efek terhadap CAR.
Metode yang
Jakarta
digunakan adalah
dengan analisis
Regresi Data Panel
Determinants BOPO, LDR,
3 Nuviyanti dan Penulis meneliti
of Capital ROE, memiliki
Achmad tentang pengaruh
Adequacy pengaruh yang
Herlanto ROA, ROE, FDR,
Ratio (CAR) signifikan
Anggono (2014) BOPO dan inflasi
in 19 negative
terhadap CAR.
Commercial terhadap CAR,
Banks (Case sedangkan rasio
Variabel dependen
Study : Period kredit non
adalah CAR.
2008-2013) performing
lainnya (NPA,
Variabel independen
NPL) dan ROA
adalah ROA, ROE,
memiliki
FDR, BOPO dan
pengaruh positif
inflasi.
terhadap CAR.

Metode yang
digunakan adalah
dengan analisis
Regresi Data Panel.

4 Farah Pengaruh Tingkat Penulis meneliti


Margaretha dan Resiko, pengembalian tentang pengaruh
Diana Kualitas aset (risiko ROA, ROE, FDR,
Setiyaningrum Manajemen, index), kualitas BOPO dan inflasi
(2011) Ukuran dan manajemen dan terhadap CAR.
Likuiditas likuiditas asset
Bank terhadap mempunyai Variabel dependen
Capital pengaruh adalah CAR.
Adequacy negatif dan
Ratio Bank- signifikan Variabel independen
Bank yang terhadap CAR. adalah ROA, ROE,
Terdaftar di Untuk likuiditas FDR, BOPO dan
Bursa Efek pasiva dilihat inflasi.
Indonesia dari variabel
Equity to Total
Liabilities
(EQTL)
mempunyai
pengaruh positif
dan signifikan
terhadap CAR.

ROI
5 Yansen Krisna Faktor-faktor Penulis meneliti
berpengaruh
(2008) yang tentang pengaruh
signifikan
Mempengaruhi ROA, ROE, FDR,
positif terhadap
CAR. ROE
Capital BOPO dan inflasi
tidak
Adequacy terhadap CAR.
berpengaruh
Ratio Studi
signifikan
pada Bank- Variabel dependen
positif terhadap
bank Umum di adalah CAR.
CAR. BOPO
Indonesia
tidak
Periode Tahun Variabel independen
berpengaruh
2003-2006 adalah ROA, ROE,
signifikan
FDR, BOPO dan
negatif terhadap
inflasi.
CAR. NIM
tidak
Metode yang
berpengaruh
digunakan adalah
signifikan
dengan analisis
positif terhadap
Regresi Data Panel.
CAR. LDR
berpengaruh
signifikan
negatif terhadap
CAR. NPL
berpengaruh

signifikan
negatif terhadap
CAR

Faktor-faktor Penulis meneliti


6 Fitria Sakinah ROA, FDR dan
yang tentang pengaruh
(2013) inflasi secara
Mempengaruhi ROA, ROE, FDR,
parsial memiliki
Capital BOPO dan inflasi
pengaruh
Adequacy terhadap CAR.
signifikan
Ratio (CAR) Variabel dependen
terhadap CAR,
pada Bank adalah CAR.
sedangkan nilai
Syariah di
tukar secara
Indonesia
parsial tidak Variabel independen
Periode Maret
berpengaruh adalah ROA, ROE,
2009 -
terhadap CAR. FDR, BOPO dan
Desember
inflasi.
2011

Metode yang
digunakan adalah
dengan analisis
Regresi Data Panel.

Penulis meneliti
7 Umie Pengaruh Inflasi, BI rate,
tentang pengaruh
Wulaningsih Variabel M2, PDB dan
ROA, ROE, FDR,
(2012) Makro harga minyak
BOPO dan inflasi
Ekonomi dunia
terhadap CAR.
terhadap Rasio berpengaruh
Kecukupan signifikan
Modal terhadap CAR.
Perbankan Variabel dependen

Umum adalah CAR.

Konvensional
Variabel independen
adalah ROA, ROE,
FDR, BOPO dan
inflasi.
Metode yang
digunakan adalah
dengan analisis
Regresi Data Panel.

H. Keterkaitan antar Variabel dan Hipotesis

Berdasarkan kerangka pemikiran dalam penelitian ini, hipotesis penelitian dirumuskan


sebagai dugaan awal terkait hasil yang mungkin ditemukan dalam penelitian ini:
1. Pengaruh ROA terhadap CAR:
Fitrianto (2006), Nuviyanti (2014), dan Sakinah (2013) menemukan bahwa CAR
dipengaruhi oleh ROA. ROA merupakan pengukuran kemampuan perusahaan secara
keseluruhan di dalam menghasilkan keuntungan dengan jumlah keseluruhan aktiva
yang tersedia di dalam perusahaan, semakin tinggi ROA berarti semakin baik keadaan
suatu perusahaan dari segi penggunaan asset. Dengan meningkatnya keuntungan asset
yang dimiliki maka besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank dan semakin
baik pula posisi bank tersebut dalam penggunaan asset. Jika bank meraih keuntungan
maka modalnya akan bertambah sehingga CAR meningkat. Maka, dapat ditulis
hipotesis sebagai berikut:
H01: Tidak terdapat pengaruh positif dan signifikan pada variabel Return On Assets
(X1) terhadap pengaruh menghasilkan keuntungan modal pada CAR
Ha1: Terdapat pengaruh positif dan signifikan variabel Return On Assets (X1)
terhadap pengaruh menghasilkan keuntungan modal pada CAR

2. Pengaruh ROE terhadap CAR:


Nuviyanti (2014) menemukan bahwa CAR dipengaruhi oleh ROE. ROE merupakan
salah satu ukuran profitabilitas yang menunjukkan tingkat pencapaian laba bersih
(setelah pajak) terhadap modal sendiri yang digunakan oleh bank. Semakin tinggi
ROE yang dicapai oleh bank menunjukkan laba bersih setelah pajak semakin tinggi,
yang berarti kemungkinan akumulasi laba ditahan meningkat, sehingga modal sendiri
akan meningkat dan CAR juga meningkat.
Ho2: Tidak terdapat pengaruh positif dan signifikan pada variabel Return On Equity
(X2) terhadap pengaruh menghasilkan keuntungan modal pada CAR
Ha2: Terdapat pengaruh positif dan signifikan pada variabel Return On Equity (X2)
terhadap pengaruh menghasilkan keuntungan modal pada CAR

3. Pengaruh FDR terhadap CAR:


Sakinah (2013) menemukan bahwa CAR dipengaruhi oleh FDR. FDR merupakan
ukuran likuiditas yang mengukur besarnya dana yang ditempatkan dalam bentuk
pembiayaan yang berasal dari dana yang dikumpulkan oleh bank yang terutama dana
dari masyarakat. Apabila jumlah pembiayaan yang diberikan lebih besar daripada
jumlah dana yang dihimpun maka manajer terpacu untuk meningkatkan kinerja dan
dengan pengelolaan sejumlah aktiva produknya Bank Syariah mampu menopang
likuiditas tanpa harus banyak mengurangi modal, sehingga CAR meningkat.
Ho3: Tidak terdapat pengaruh positif dan signifikan pada variabel Financing to
Deposit (X3) terhadap pengaruh menghasilkan keuntungan modal pada CAR
Ha3: Terdapat pengaruh positif dan signifikan pada variabel Financing to Deposit
(X3) terhadap pengaruh menghasilkan keuntungan modal pada CAR

4. Pengaruh NPF terhadap CAR


Yuwita (2018) menemukan bahwa CAR tidak berpengaruh oleh NPF. NPF
merupakan risiko kredit akibat kegagalan penyerahan kas atau instrumen keuangan
pada tanggal penyelesaian yang telah disepakati dari transaksi penjualan atau
pembelian instrumen keuangan. Risiko kredit dapat diukur menggunakan rasio NPF.
Hal ini disebebkan karena pembiayaan bermasalah tidak mempengaruhi jumlah
pendapatan yang akan diterima oleh bank, sehingga bank akan menggunakan modal
yang ada untuk membiayai kegiatan operasionalnya. Semakin sering terjadi
kemacetan akan menyebabkan kerugian pada bank yang bersangkutan, kerugian ini
memaksa bank menutup kebutuhan modalnya dari modal sendiri. Kemudian akan
menurunkan rasio kecukupan modal bank.
Ho4: Tidak terdapat pengaruh positif dan signifikan pada variabel Non Performing
Loan (X4) terhadap pengaruh menghasilkan keuntungan modal pada CAR
Ha4: Terdapat pengaruh positif dan signifikan pada variabel Non Performing Loan
(X4) terhadap pengaruh menghasilkan keuntungan modal pada CAR

5. Pengaruh BOPO terhadap CAR:


Nuviyanti (2014) menemukan bahwa CAR dipengaruhi oleh BOPO. BOPO
merupakan rasio perbandingan biaya operasional terhadap pendapatan operasional.
Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan bank dalam
melakukan kegiatan operasinya terutama pembiayaan. BOPO yang tinggi
menunjukkan bank kurang efisien dan juga menunjukkan bahwa bank tidak dapat
mengelola sumber dana dan aktiva yang dimiliki untuk memperoleh laba. Maka
BOPO yang tinggi dapat mengikis modal bank sehingga dapat menurunkan CAR dan
mengganggu kesehatan bank.
Ho5: Tidak terdapat pengaruh positif dan signifikan pada variabel Biaya Operasional
dan Pendapatan Operasional (X5) terhadap pengaruh menghasilkan keuntungan
modal pada CAR
Ha5: Terdapat pengaruh positif dan signifikan pada variabel Biaya Operasional dan
Pendapatan Operasional (X5) terhadap pengaruh menghasilkan keuntungan modal
pada CAR

6. Pengaruh inflasi terhadap CAR:


Sakinah (2013) dan Wulaningsih (2012) menemukan bahwa CAR dipengaruhi oleh
inflasi. Kenaikan inflasi merupakan kenaikan harga yang tinggi. Dengan
meningkatnya harga, orang-orang akan cenderung menunda konsumsi dengan
menabung, sehingga akan menurunkan biaya permintaan, dan dengan dana yang
masuk ke bank akan membuat rasio kecukupan modal bertambah sehat dan
meningkatkan CAR pada bank.
Ho6: Tidak terdapat pengaruh positif dan signifikan pada variabel Inflasi (X6)
terhadap pengaruh menghasilkan keuntungan modal pada CAR
Ha6: Terdapat pengaruh positif dan signifikan pada variabel Inflasi (X6) terhadap
pengaruh menghasilkan keuntungan modal pada CAR

7. Pengaruh Variabel Return On Assets, Return On Equity, Financing to Deposit,


Non Performing Loan, Biaya Operasional dan Pendapatan Operasional, Inflasi
dengan menghasilkan keuntungan modal pada CAR
Pengukuran dampak variabel secara simultan digunakan untuk menilai pengaruh
variabel independen yang memengaruhi variabel dependen secara simultan.
Berdasarkan penjelasan masing-masing variabel independen, seperti Return on
Assets, Return on Equity, Financing to Deposit, Non Performing Loan, Biaya
Operasional dan Pendapatan Operasional, dan Inflasi, dilakukan pengukuran dampak
secara parsial pada variabel dependen, yaitu pengaruh nya keuntungan pada modal.
Dengan merujuk pada teori dan penelitian sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa
Return on Assets, Return on Equity, Financing to Deposit, Non Performing Loan,
Biaya Operasional dan Pendapatan Operasional, dan Inflasi dapat memengaruhi
keuntungan modal pada CAR. Artinya, pengaruh Return on Assets, Return on
Equity, Financing to Deposit, Non Performing Loan, Biaya Operasional dan
Pendapatan Operasional, dan Inflasi dapat memengaruhi dan menghasilkan
keuntungan modal pada CAR.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat dibuat hipotesis sebagai berikut:
Ho7: Return on Assets, Return on Equity, Financing to Deposit, Non Performing
Loan, Biaya Operasional dan Pendapatan Operasional, dan Inflasi tidak berpengaruh
signifikan terhadap pengaruh menghasilkan keuntungan modal pada CAR
Ha7: Return on Assets, Return on Equity, Financing to Deposit, Non Performing
Loan, Biaya Operasional dan Pendapatan Operasional, dan Inflasi berpengaruh secara
signifikan terhadap pengaruh menghasilkan keuntungan modal pada CAR
Berdasarkan uraian tersebut di atas, hubungan antar variabel yang telah dijelaskan
dapat dilihat pada bagan kerangka pemikiran di bawah ini:

H1 H2
Laporan Keuangan Triwulan Bank Syariah Indonesia tahun
2018-2022

ROA ROE FDR NPF BOPO Inflasi

H7
H3 H4 H5 H6

Capital Adequacy Ratio (CAR)


BAB III
METODE PENELITIAN

I. Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah laporan keuangan triwulan dari PT BSI, tbk periode 2018-
2022. Dengan teknik yang digunakan untuk mengambil sampel dalam penelitian ini adalah
pusposive sampling. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan
pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu ini misalnya orang tersebut yang dianggap tahu
tentang apa yang kita harapkan atau mungkin dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan
penelitian menjelajahi objek atau situasi yang diteliti. Atau dengan kata lain pengambilan sampel
diambil berdasarkan kebutuhan penelitian. Adapun kriteria yang digunakan dalam menentukan
sampel antara lain:

1. Masih beroperasi sejak 2018 sampai dengan 2023.


2. Memiliki laporan keuangan triwulan yang dipublikasikan secara lengkap.

Dari kriteria tersebut diperoleh sampel data pada PT BSI tbk, sebagaimana tabel dibawah ini:

Tabel 3

Data Sampel Penelitian

Nama
Akun 2018 2019 2020 2021 2022
CAR 14,92% 18,71% 18,24% 22,09% 26,28%
BOPO 95,32% 96,80% 84,61% 80,46% 75,88%
ROA 0,43% 0,31% 1,38% 1,61% 1,98%
ROE 2,49% 1,57% 11,18% 13,71% 16,84%
FDR 75,49% 80,12% 74,52% 73,39% 79,37%
J. Tempat dan Waktu Penelitian

Adapun data yang akan digunakan pada penelitian ini yaitu Laporan Keuangan Triwulan
dari tahun 2018 sampai 2022 Bank Syariah Indonesia yang diakses melalui website. Sedangkan
waktu penelitian yang diperlukan dalam penyusunan penelitian sampai tersusunnya penelitian
yaitu kurang lebih dari 30 November 2023 sampai dengan selesai.

K. Data dan Sumber Data

Pada penelitian ini data yang digunakan adalah data sekunder, di mana data sekunder
merupakan data yang diperoleh dari badan pengumpulan data dan dipublikasikan menggunakan
data tersebut (Kuncoro, 2009). Sehingga sumber data pada penelitian ini berasal dari laporan
keuangan triwulan dari tahun 2018-2022 yang dapat diperoleh dari Otoritas Jasa Keuangan,
website Bursa Efek, dan publikasi laporan keuangan yang dilakukan Bank Syariah Indonesia serta
dilengkapi dari berbagai sumber, antara lain buku, jurnal, makalah, atau artikel dari internet.

L. Instrumen Penelitian

a. Variabel Dependen
Modal Bank
CAR= x 100 %
Aktiva Tertimbang Menurut Risiko( ATMR)
b. Variabel Independen
1. Return on Asset (ROA)
Laba sebelum Pajak
ROA= x 100 %
Total assets
2. Return on Equity (ROE)
Laba setelah pajak
ROE= x 100 %
Total equity
3. Financing to Deposit Ratio (FDR)
Pembiayaan
FDR= x 100 %
Dana pihak ke tiga
4. Non Performing Financing (NPF)
Pembiayaan bermasalah
FDR= x 100 %
Total pembiayaan
5. Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO)
Beban operasional
BOPO= x 100 %
Pendapatan operasional
6. Inflasi
Tingkat hargat −tingkat hargat −1
Rate of Inflation= x 100 %
tingkat hargat−1

M. Metode Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data sekunder yang diperoleh dari laporan
keuangan publikasi triwulan yang diterbitkan oleh Bank Syariah Indonesua dalam website resmi
Bank Syariah Indonesia. periode data yang digunakan yaitu data laporan keuangan triwulan Bank
Syariah Indonesia yang dipublikasikan selama tahun 2018-2022.

Dalam penelitian ini pengumpulan data yang dilakukan dengan cara:

1. Studi Kepustakaan, yaitu memperoleh berbagai data dengan membaca, memahami dan
menganalisa buku-buku serta menelusuri berbagai literatur yang relevansinya dengan
pembahasan ini, serta literatur lain untuk menghimpun dan menganalisis data yang
bersummber dari perpustakaan, baik berupa buku-buku, jurnal-jurnal yang dipublikasikan,
laporan penelitian sebelumnya, serta berbagai sumber lainnya yang dianggap mempunyai
hubungan dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini.
2. Data sekunder, yaitu catatan tentang adanya suatu peristiwa, ataupun catatan-catatan yang
jaraknya telah jauh dari sumber orisinil. Pada penelitian ini menggunakan data time series
triwulan yang dipublikasikan oleh BSI periode 1018-2022.

N. Metode Analisis Data

1. Uji Asumsi Klasik


a. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi, variabel
dependen, variabel independen atau keduanya mempunyai distribusi normal atau
tidak. Model regresi yang baik adalah distribusi data normal atau mendekati normal.12
Deteksi normalitas dengan menggunakan Jarque-Bera test yang merupakan asimtosis
(sampel besar dan didasarkan atas residual OLS).
Pada output Eviews dilihat dengan:
a) Jika probability JB test > α 5% = data distribusi normal (tolak H0, terima H1).

12
Damodar N. Gujarati, Dasar-dasar Ekonometrika, (Jakarta: Erlangga: 2007), h.164.
b) Jika probability JB test < α 5% = data tidak berdistribusi normal (terima H0, tolak
H1).13

b. Uji Autokorelasi
Autokorelasi adalah adanya korelasi antara variabel itu sendiri, pada pengamatan
yang berbeda waktu dan individu. Autokorelasi ini sering muncul pada data time
series.14
Salah satu cara mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi adalah dengan
menggunakan uji Durbin-Watson, dengan dasar pengambilan keputusan sebagai
berikut:15
a) 0 < d < dL, menolak hipotesis nol, ada autokorelasi positif.
b) dL ≤ d ≤ dU, daerah keragu-raguan, tidak ada keputusan.
c) du ≤ d ≤ 4-dU, menerima hipotesis nol, tidak ada autokorelasi positif/negatif.
d) 4-dU ≤ d ≤ 4-dL, daerah keragu-raguan, tidak ada keputusan.
e) 4-dL ≤ d ≤ 4, menolak hipotesis nol, ada autokorelasi negatif.

Adapun untuk mendeteksi autokorelasi dapat ditentukan dengan menghitung nilai d


dari perasamaan, selanjutnya dengan jumlah observasi (n) dan jumlah variabel
independen tertentu tidak termasuk konstan (k), kita mencari nilai kritis d L dan dU di
tabel statistik Durbin-Watson. Kemudian keputusan ada tidaknya korelasi didasarkan
pada pengambilan keputusan yang telah ditentukan oleh statistika Durbin-Watson.

c. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas berarti terdapat varian variabel gangguan yang tidak
konstan. Masalah heteroskedastisitas lebih sering muncul pada data cross section
daripada time series.16
Pengambilan Keputusan ada atau tidak adanya heteroskedastisitas menggunakan
kriteria sebagai berikut:
a) H0: tidak ada heteroskedastissitas

13
Agus Widarjono, Analisis Multivariant Terapan, (Yogyakarta: UPP STIM YKPN, 2010), h. 111.
14
Nachrowi Djalal Nachrowi dan Hardius Usman, Penggunaan Teknik Ekonometrika, (Jakarta; RajaGrafindo
Persada, 2002), h. 135.
15
Agus Widarjono, Ekonometrika Pengantar dan Aplikasinya, (Yogyakarta: Ekonisia FE UII, 2009), h. 146.
16
Agus Widarjono, Analisis Multivariant Terapan, (Yogyakarta: UPP STIM YKPN, 2010), h. 84.
H1: ada heteroskedastisitas
b) Jika p-value Obs*R-square < α maka H0 tolak.

d. Uji Multikolinieritas
Multikolinieritas adalah kondisi adanya hubungan linier antarvariabel
independen. Karena melibatkan beberapa variabel independen, maka
multikolinieritas tidak akan terjadi pada persamaan regresi sederhana (yang terdiri
atas satu variabel dependen dan satu variabel independen).17
Sebagai aturan yang kasar (rule of thumb), jika koefisien korelasi cukup
tinggi di atas 0,85 maka kita duga ada multikolinieritas dalam model. Sebaliknya
jika koefisien korelasi kurang dari 0,85 maka kita duga model tidak mengandung
unsur multikolinieritas.18
2. Uji Ketetapan Model
Berdasarkan hasil dari analisis regresi data panel akan dilakukan uji
hipotesis untuk mengetahui signifikansi pengaruh variabel bebas terhadap
variabel terikat. Untuk menguji hipotesis yang diajukan akan dilakukan Koefisien
Determinasi (R2), Uji Simultan (Uji F) dan Uji Parsial (Uji t).
a. Adjusted (R2)
Uji R2 pada intinya mengatur seberapa jauh kemampuan model dalam
meneragkan variasi variabel dependen. Di mana R 2 nilainya berkisar antara 0
< R2 < 1, semakin besar R2 maka variabel bebas semakin dekat hubungannya
dengan variabel tidak bebas, dengan kata lain model tersebut dianggap baik.
Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen variasi
variabel dependen.
b. Uji F (Simultan)
Uji F digunakan untuk menguji pengaruh secara simultan variabel bebas
terhadap variabel tergantungnya. Jika variabel bebas memiliki pengaruh
secara simultan terhadap variabel tergantung maka model persamaan regresi

17
Wing Wahyu Winarno, Analisis Ekonometrika dan Statistika dengan Eviews, (Yogyakarta: UPP STIM YKPN,
2015), h. 5.1.
18
Suliyanto, Ekonometrika Terapan dan Aplikasi dengan SPSS, (Yogyakarta: CV Andi Offsie, 2011), h. 55.
masuk dalam kriteria cocok atau fit. Sebaliknya jika tidak terdapat pengaruh
secara simultan maka masuk dalam kategori tidak cocok atau non fit.19
Untuk menentukan nilai F-tabel, tingkat signifikansi yang digunakan sebesar
5% dengan derajat kebebasan (degree of freedom) df= (n-k) dan (k-1) di mana
n adalah jumlah observasi, k adalah jumlah variabel termasuk intersep dengan
kriteria uji yang digunakan adalah:
Jika F-hitung > F-tabel (α; n-k; k-1), maka H0 ditolak.
Jika F-hitung < F-tabel (α; n-k; k-1), maka H0 diterima.
Dalam pengambilan keputusan apakah menerima H 0 atau menolak H0 bisa
dilihat dari besarnya probabilitas yang menunjukkan besarnya α. Dari
perhitungan Eviews jika probabilitasnya sangat kecil yaitu 0,0000% sehingga
keputusannya adalah menolak H0 atau menerima Ha.20
c. Uji t (Parsial)
Pengujian parsial terhadap koefisien regresi secara parsial menggunakan uji-t
pada tingkat keyakinan 95% dan tingkat kesalahan dalam analisis (α) 5%
dengan ketentuan degree of freedom (df) = n-k. Di mana n adalah besarnya
sampel, k adalah jumlah variabel. Analisis didasarkan pada perbandingan
antara t-hitung dengan t-tabel di mana syarat-syaratnya adalah sebagai
berikut:
a) Jika t-hitung > t-tabel maka H0 ditolak yang berarti variabel independen
berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
b) Jika t-hitung < t-tabel maka H0 diterima yang berarti variabel independen
tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.

19
Suliyanto, Ekonometrika Terapan Teori dan Aplikasi dengan SPSS, (Yogyakarta: CV Andi Offside, 2011), h. 55.
20
Agus Widarjono, Ekonometrika Pengantar dan Aplikasinya, (Yogyakarta: Ekonisia FE UII, 2009), h.70.
DAFTAR PUSTAKA
Al Arif, M. Nur Rianto. Teori Makroekonomi Islam. Bandung: Alfabeta, 2010.

Andhini, Mega Murti. ”Pengaruh Rentabilitas, Efisiensi, Kualitas Aset, dan Likuiditas terhadap Capital
Adequacy Ratio (CAR) Sektor Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia.” Skripsi S1 Fakultas
Ekonomi, Universitas Negeri Yogyakarta, 2015.

Antonio, Muhammad Syafi’i. Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik.. Jakarta:Gema Insani Press, 2001.

Anda mungkin juga menyukai