0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan2 halaman

Kerusakan Lingkungan di Kaldera Toba

Diunggah oleh

lw280693
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan2 halaman

Kerusakan Lingkungan di Kaldera Toba

Diunggah oleh

lw280693
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Geologi

Batu Gantung di tepi Danau Toba.

Peta Danau Toba. Danau

Toba dengan Pulau Samosir di bagian tengahnya. Sungai di


Bahal Bahal bermuara ke Danau Toba.

Kompleks kaldera Toba di Sumatera Utara merupakan bagian dari Pegunungan Bukit Barisan.
Kaldera Toba merupakan kaldera dengan letusan terbaru dari zaman kuarter dengan ukuran
panjang 100 km dan lebar 30 km serta merupakan kaldera termuda keempat di dunia.
Diperkirakan terdapat 2.800 km3 material piroklastik dense-rock equivalent (DRE) yang dikenal
sebagai tuff Toba Termuda (Youngest Toba Tuff, YTT) dan dikeluarkan lewat sebuah letusan
yang menjadi salah satu letusan gunung api terbesar dalam sejarah geologi Bumi baru-baru ini.
Dua buah setengah kubah kebangkitan muncul setelah letusan yang kini menjadi Pulau Samosir
dan Blok Uluan, dipisahkan oleh sebuah graben membujur yang menjadi Selat Latung.[3][9]
Setidaknya terdapat empat kerucut vulkanik, empat gunung api strato, dan tiga kawah yang dapat
diamati di dan di sekitar Danau Toba. Salah satu kerucut yaitu Kerucut Tandukbenua terletak di
sisi barat laut kaldera dan hanya ditumbuhi oleh vegetasi berkepadatan rendah yang
menunjukkan bahwa peristiwa pembentukannya relatif baru. Di sebelah barat danau, terdapat
Dolok Pusubukit masih aktif mengeluarkan solfatara.[10]

Kerusakan lingkungan
Pada bulan Mei 2012, Pemkab Samosir menerbitkan surat keputusan (SK) Bupati Samosir No.
89 tanggal 1 Mei 2012 tentang Pemberian Izin Lokasi Usaha Perkebunan Hortikultura dan
Peternakan seluas 800 hektare di Hutan Tele, di desa Partungko Naginjang dan Hariara Pintu,
Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara kepada PT Gorga Duma Sari (GDS)
yang dimiliki seorang anggota DPRD Kabupaten Samosir, Jonni Sitohang.[11][12] Kemudian
dilanjutkan dengan Izin Pemanfaatan Kayu (IPK) yang diberikan oleh Kepala Dinas Provinsi
Sumatera Utara melalui SK Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Samosir
Nomor 005 Tahun 2013.[11] Ketua Pengurus Forum Peduli Samosir Nauli (Pesona), Rohani
Manalu menyatakan bahwa izin yang didapatkan ini membuat PT GDS melakukan penebangan
atas kayu-kayu alam di dalam hutan tanpa memiliki AMDAL.[11] Rohani juga menyatakan bahwa
akibat lain adalah terjadinya longsor dan banjir yang menimbulkan korban jiwa.[13][14] Akibat
penebangan hutan Tele, lumpur hasil erosi di atas tanah bekas penebangan tersebut telah
menyebabkan pendangkalan sungai-sungai di sekitar Danau Toba.[15] Program penanaman sejuta
pohon yang digerakkan pemerintah Provinsi Sumatera Utara pun dikatakan tidak efektif karena
banyak pohon yang mati karena tidak dirawat. Hal ini menyebabkan tiga aktivis lingkungan
Sumatera Utara, Marandus Sirait, Hasoloan Manik (Kalpataru), dan Wilmar Eliaser
Simandjorang (Satya Lencana Karya Satya, Toba Award, Wana Lestari) mengembalikan semua
piagam penghargaan yang pernah diberikan pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Kementerian
Kehutanan, dan Istana Negara.[15][16]

Anda mungkin juga menyukai