Model LASSO untuk Curah Hujan Ekstrim
Model LASSO untuk Curah Hujan Ekstrim
DEWI SANTRI
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dewi Santri
G151130031
* pelimpahan hak cipta atas karya tulis dari penelitian kerjasama dengan pihak luar IPB harus
didasarkan pada perjanjian kerjasama yang terkait
RINGKASAN
Kata kunci : curah hujan ekstrim, global circulation model, LASSO, regresi
kuantil , statistical downscaling.
SUMMARY
Extreme rainfall that frequently occurs in Indonesia has negative impact. For
example in agriculture, El Nino and La nina can damage rice plants that will reduce
rice production. Therefore modeling extreme rainfall is needed to minimize the
negative impact.
Global circulation model (GCM) has been widely applied to analize the
extreme rainfall. The GCM data is a computer simulation result of a large number
interaction of physics, chemistry, and dynamics of the earth’s atmosphere. GCM
data can represent the past, present or future climate. However, GCM data has
global scale and unable to provide reliable information at local scale. Statistical
Downscaling (SD) has been developed in an attempt to bridge this scale gap. SD
uses regression models to represent the link between GCM data and local rainfall.
Quantile regression is a method that can be used to analyze extreme rainfall.
Quantile regression can measure the effect of explanatory variables not only in the
center of the data, but also on the top or bottom of the distribution data. Quantile
regression does not assume homogenous residual variance and normality of the
error distribution.
GCM data which has multicolinearity can not be directly applied in SD
model. The methods that can be used to overcome multicollinearity are principal
component analysis (PCA) and shrinkage methods such as Least Absolute
Shrinkage and Selection Operator (LASSO) and ridge. PCA is the most commonly
used in SD modeling. PCA can reduce the dimension of GCM data and
multicollinearity. Shringkage method can eliminate multicolinearity and minimize
variance. The objectives of this study are modeling SD using quantile regression
with LASSO and PCA to predict extreme rainfall in Indramayu and to choose the
best SD model of both methods.
This research used the average monthly rainfall data from 11 climatological
stations in Indramayu from 1979 to 2008 as independent variable and precipitation
from GCM data as dependent variables. GCM data used is from Climate Model
Intercomparison Project (CMIP5) issued by KNMI, the Dutch from 1979 to 2008
with the position –18.75o – 1.25oS and 101.25o–116.25oE from the website
[Link] Training data starting from 1979 to 2007 and 2008
for testing data. Data analyzes were performed consisting of quantile regression
modeling with LASSO penalty and quantile regression modeling with PCA.
The result shows that the prediction of extreme rainfall in Indramayu with SD
models using quantile regression with LASSO is more consistent at any time
prediction compared to models using PCA. The best model is a linear quantile
regression (model using LASSO and 6×6 grid). The model has the highest quantile
verification skill scores (QVSS) and the the lowest root mean square error of
prediction (RMSEP) among the other models. For the model that using LASSO, it
shows that prediction of the model with a 6×6 grid has the lower RMSEP than 8×8
grid, while model that use PCA shows that there is not much difference between
the two size of grid. The estimation of extreme rainfall in Indramayu for one year
ahead provides the best estimates compare to all periods of analysis used.
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB
PEMODELAN STATISTICAL DOWNSCALING DENGAN
REGRESI KUANTIL MENGGUNAKAN LASSO UNTUK
PENDUGAAN CURAH HUJAN EKSTRIM
DEWI SANTRI
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains
pada
Program Studi Statistika
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016
Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: Dr Ir Muhammad Nur Aidi, MS
Judul Tesis : Pemodelan Statistical Downscaling dengan Regresi Kuantil
menggunakan LASSO untuk Pendugaan Curah Hujan Ekstrim
Nama : Dewi Santri
NIM : G151130031
Disetujui oleh
Komisi Pembimbing
Diketahui oleh
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas
segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Judul yang
dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Mei 2015 ini ialah
Pemodelan statistical downscaling dengan regresi kuantil menggunakan LASSO
untuk pendugaan curah hujan ekstrim.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr Ir Aji Hamim Wigena, MSc
dan Ibu Dr Ir Anik Djuraidah, MS selaku pembimbing, atas kesediaan dan
kesabaran untuk membimbing dan membagi ilmunya kepada penulis dalam
penyusunan tesis ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan sebesar-besarnya
kepada seluruh Dosen Departemen Statistika IPB yang telah mengasuh dan
mendidik penulis selama di bangku kuliah hingga berhasil menyelesaikan studi,
serta seluruh staf Departemen Statistika IPB atas bantuan, pelayanan, dan
kerjasamanya selama ini.
Ucapan terima kasih yang tulus dan penghargaan yang tak terhingga juga
penulis ucapkan kepada Ayahanda dan Ibunda tercinta La Hafili dan Wa Nia
yang telah membesarkan dan mendidik penulis dengan penuh kasih sayang demi
keberhasilan penulis selama menjalani proses pendidikan, juga kakak tersayang
beserta suami Rahmatia, SPd dan Saharudin, AMd serta keluarga besarku atas doa
dan semangatnya.
Terakhir tak lupa penulis juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh
mahasiswa Pascasarjana Departemen Statistika atas segala bantuan dan
kebersamaannya selama menghadapi masa-masa terindah maupun tersulit dalam
menuntut ilmu, serta semua pihak yang telah banyak membantu dan tak sempat
penulis sebutkan satu per satu.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.
Dewi Santri
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL vi
DAFTAR GAMBAR vi
DAFTAR LAMPIRAN vi
1 PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Tujuan Penelitian 2
2 TINJAUAN PUSTAKA 2
Global circulation model (GCM) dan Statistical Downscaling (SD) 2
Regresi Kuantil 3
Least Absolute Shrinkage and Selection Operator (LASSO) 5
Validasi Silang 6
3 METODE 7
Data 7
Metode Analisis 7
4 HASIL DAN PEMBAHASAN 10
Deskripsi Data 10
Regresi Kuaantil dengan LASSO 11
Regresi Kuantil dengan Analisi Komponen Utama 14
Perbandingan SD Regresi Kuantil menggunakan LASSO dan Analisis
Komponen Utama 16
Validasi dan Uji Konsistensi Model LASSO 16
5 SIMPULAN DAN SARAN 18
Simpulan 18
Saran 18
DAFTAR PUSTAKA 18
LAMPIRAN 21
RIWAYAT HIDUP 46
DAFTAR TABEL
1 Deskripsi data curah hujan di Kabupaten Indramayu 10
2 Nilai lambda optimum untuk masing-masing model 11
3 Perbandingan nilai RMSEP di setiap panjang data pendugaan model SD
dengan regresi kuantil menggunakan LASSO dan AKU 16
4 Nilai RMSEP dan korelasi di setiap panjang data pendugaan model SD
dengan regresi kuantil menggunakan LASSO 17
5 Nilai korelasi pendugaan model SD dengan regresi kuantil menggunakan
LASSO untuk pendugaan curah hujan ekstrim 1 tahun ke depan 17
DAFTAR GAMBAR
1 Ilustrasi proses Statistical Downscaling 3
2 Diagram alir metode analisis 9
3 Diagram kotak garis curah hujan Kabupaten Indramayu 11
4 Nilai QVSS dari keenam model yang menggunakan LASSO untuk grid
8×8 dan grid 6×6 12
5 Nilai RMSEP dari keenam model yang menggunakan LASSO untuk grid
8×8 dan grid 6×6 13
6 Nilai prediksi dari Model M4 untuk metode LASSO pada grid 8×8 13
7 Nilai prediksi dari Model M1 untuk metode LASSO pada grid 6×6 13
8 Nilai QVSS dari keenam model yang menggunakan AKU untuk grid 8×8
dan grid 6×6 14
9 Nilai RMSEP dari keenam model yang menggunakan AKU untuk grid
8×8 dan grid 6×6 14
10 Nilai prediksi dari Model M2 untuk metode AKU pada grid 8×8 15
11 Nilai prediksi dari Model M1 untuk metode AKU pada grid 6×6 15
DAFTAR LAMPIRAN
1 Nilai λ dan CV untuk grid 8×8 21
2 Nilai λ dan CV untuk grid 6×6 21
3 Proporsi keragaman, proporsi kumulatif dan standar deviasi dari
komponen utama model linear menggunakan AKU untuk grid 8×8 22
4 Proporsi keragaman, proporsi kumulatif dan standar deviasi dari
komponen utama model kuadrat menggunakan AKU untuk grid 8×8 22
5 Proporsi keragaman, proporsi kumulatif dan standar deviasi dari
komponen utama model linear menggunakan AKU untuk grid 6×6 22
6 Proporsi keragaman, proporsi kumulatif dan standar deviasi dari
komponen utama model kuadrat menggunakan AKU untuk grid 6×6 23
7 Penduga parameter model M1 metode LASSO untuk grid 8×8 23
8 Penduga parameter model M2 metode LASSO untuk grid 8×8 24
9 Penduga parameter model M3 metode LASSO untuk grid 8×8 25
10 Penduga parameter model M4 metode LASSO untuk grid 8×8 26
11 Penduga parameter model M5 metode LASSO untuk grid 8×8 28
12 Penduga parameter model M6 metode LASSO untuk grid 8×8 29
13 Penduga parameter model M1 metode LASSO untuk grid 6×6 31
14 Penduga parameter model M2 metode LASSO untuk grid 6×6 32
15 Penduga parameter model M3 metode LASSO untuk grid 6×6 32
16 Penduga parameter model M4 metode LASSO untuk grid 6×6 33
17 Penduga parameter model M5 metode LASSO untuk grid 6×6 34
18 Penduga parameter model M6 metode LASSO untuk grid 6×6 35
19 Penduga parameter model M1 metode AKU untuk grid 8×8 36
20 Penduga parameter model M2 metode AKU untuk grid 8×8 36
21 Penduga parameter model M3 metode AKU untuk grid 8×8 37
22 Penduga parameter model M4 metode AKU untuk grid 8×8 37
23 Penduga parameter model M5 metode AKU untuk grid 8×8 37
24 Penduga parameter model M6 metode AKU untuk grid 8×8 38
25 Penduga parameter model M1 metode AKU untuk grid 6×6 38
26 Penduga parameter model M2 metode AKU untuk grid 6×6 38
27 Penduga parameter model M3 metode AKU untuk grid 6×6 39
28 Penduga parameter model M4 metode AKU untuk grid 6×6 39
29 Penduga parameter model M5 metode AKU untuk grid 6×6 39
30 Penduga parameter model M6 metode AKU untuk grid 6×6 40
31 Nilai QVSS dan RMSEP model yang menggunakan LASSO 40
32 Nilai QVSS dan RMSEP model yang menggunakan AKU 41
33 Nilai prediksi masing-masing model untuk metode LASSO grid 8×8 42
34 Nilai prediksi masing-masing model untuk metode AKU grid 8×8 43
35 Nilai prediksi masing-masing model untuk metode LASSO grid 6×6 44
36 Nilai prediksi masing-masing model untuk metode AKU grid 6×6 45
1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Curah hujan ekstrim adalah kondisi curah hujan di atas atau di bawah rata-
rata kondisi normalnya. Menurut BMKG (2008) curah hujan ekstrim adalah curah
hujan di atas 400 mm/bulan atau di atas 100 mm/hari. Dampak negatif dari
terjadinya curah hujan ekstrim salah satunya yang berkaitan dengan masalah di
bidang pertanian misalnya terjadinya gagal panen. Pada tahun 2010 produksi padi
mengalami penurunan akibat iklim ekstrim yaitu dari 1.58 juta ton di tahun 2009
menjadi sebesar 1.55 juta ton di tahun 2010 (BPS 2011). Hal ini menjadikan studi
tentang perubahan iklim sangat diperlukan untuk meminimumkan kerugian yang
mungkin terjadi.
Curah hujan merupakan kejadian kompleks yang melibatkan topografi dan
interaksi antara laut, darat dan atmosfir sehingga mempersulit prediksi curah hujan
itu sendiri. Oleh karena itu diperlukan model peramalan curah hujan yang akurat
pada skala lokal dengan mempertimbangkan informasi tentang sirkulasi atmosfir
global yang dapat diperoleh dari data luaran GCM (global circulation model).
(Handayani, 2014)
GCM tersusun atas rangkaian model-model numerik yang merepresentasikan
sejumlah komponen subsistem dari iklim bumi. GCM memiliki kemampuan untuk
melakukan simulasi iklim secara skala besar. Model ini diyakini sebagai model
penting dalam upaya memahami iklim di masa lampau, sekarang dan masa yang
akan datang (Wilby et al. 2009).
Data luaran GCM masih berskala global sehingga akan sulit untuk
memperoleh informasi yang berskala lokal (kabupaten atau kota). Agar dapat
menangani masalah tersebut diperlukan suatu metode untuk mentransformasi hasil
simulasi GCM pada skala global ke skala lokal. Pendekatan statistical downscaling
(SD) diyakini dapat menangani permasalahan rendahnya akurasi prediksi curah
hujan. Metode ini menghubungkan antara data luaran GCM dan curah hujan untuk
menduga perubahan pada skala lokal dengan menggunakan model regresi.
Informasi dari skala global dalam data luaran GCM akan diproyeksikan terhadap
informasi skala lokal stasiun cuaca.
Metode regresi yang dapat digunakan untuk menganalisis data yang
mengandung nilai ekstrim adalah regresi kuantil. Regresi kuantil tidak
membutuhkan asumsi parametrik dan bermanfaat untuk menganalisis bagian
tertentu dari suatu sebaran bersyarat (Buhai 2004). Kelebihan lain dari regresi
kuantil adalah efisien jika sisaan tidak menyebar normal dan kekar terhadap
pencilan. Hal tersebut membuat regresi kuantil banyak digunakan untuk
memodelkan data yang mengandung nilai ekstrim.
Pada data luaran GCM terdapat multikolinearitas atau antar peubah GCM
saling berkorelasi tinggi. Hal ini akan menyebabkan nilai dugaan parameter model
regresi menjadi tidak tepat. Oleh karena itu langkah pertama yang harus dilakukan
adalah mengatasi masalah multikolinearitas dalam data GCM tersebut.
Metode-metode yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah
multikolinearitas dalam SD antara lain metode analisis komponen utama (AKU),
metode shrinkage ridge dan Least Absolute Shrinkage and Selection Operator
2
(LASSO). Metode AKU merupakan metode yang paling sering digunakan. Metode
AKU dapat mereduksi dimensi dari GCM dan menangani masalah
multikolinearitas. Metode shringkage selain dapat menghilangkan
multikolinearitas juga dapat meminimumkan ragam penduga parameter dari model
regresi. Kelebihan LASSO dibandingkan metode ridge adalah LASSO dapat
menyusutkan koefisien penduga tepat nol sehingga dapat melakukan seleksi peubah
sehingga model lebih sederhana dan saling bebas (Hastie [Link] 1990).
Penelitian mengenai model SD dengan regresi kuantil sebelumnya telah
banyak dilakukan, antara lain Djuraidah dan Wigena (2011) menggunakan regresi
kuantil untuk mengeksplorasi curah hujan di Kabupaten Indramayu pada data yang
mengandung pencilan. Penelitian tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa regresi
kuantil dapat digunakan untuk mendeteksi kondisi-kondisi ekstrim, baik ekstrim
kering (kuantil ke-5) maupun ekstrim basah (kuantil ke-95). Mondiana (2012)
mengkaji pemodelan curah hujan ekstrim dengan menggunakan regresi kuantil
dengan reduksi peubah GCM menggunakan analisis komponen utama, namun
model yang dihasilkan belum dapat mengakomodasi dengan baik pengaruh
nonlinear. Keseluruhan dari penelitian tersebut menggunakan metode AKU dalam
pemodelan SD.
Pemodelan SD pada penelitian ini menggunakan regresi kuantil dengan
LASSO. Penambahan penalti LASSO dalam model regresi kuantil membuat
analisis SD menjadi lebih sederhana karena pemodelan SD dan penanganan
multikolinearitas data luaran GCM dapat dilakukan dalam satu kali tahapan. Selain
itu LASSO juga dapat secara simultan melakukan reduksi dimensi data luaran GCM
dan mengontrol ragam penduga koefisien pada regresi kuantil.
Tujuan Penelitian
2 TINJAUAN PUSTAKA
ditentukan oleh suatu proses fisika yang sangat rumit, sensitif, dan nonlinier yang
tidak dapat dimodelkan oleh GCM (Stockdale et al. 1998).
Regresi Kuantil
Regresi kuantil pertama kali dikemukakan oleh Koenker dan Bassett pada
tahun 1978. Regresi kuantil merupakan teknik statistika yang digunakan untuk
menduga hubungan antara peubah respon dengan peubah penjelas pada fungsi
kuantil bersyarat tertentu (Mondiana 2012). Metode ini merupakan suatu metode
4
min ∑|𝑦𝑖 − 𝜉|
𝜉∈𝑅
𝑖=1
seperti halnya median contoh, metode ini bisa dikembangkan untuk model regresi
kuantil
𝒚 = 𝑿′ 𝜷 + 𝜺
dengan 𝒚 = (𝑦1 , … , 𝑦𝑛 )′ adalah vektor respon berukuran (𝑛 × 1), 𝑿 = (𝒙1 , … , 𝒙𝑝 )
adalah matriks peubah penjelas berukuran (𝑛 × 𝑝), 𝜷 = (𝛽1 , … , 𝛽𝑝 )′ adalah vektor
parameter berukuran (𝑝 × 1), dan 𝜺 = (𝜀1 , … , 𝜀𝑛 )′ adalah vektor galat berukuran
(𝑛 × 1). Regresi 𝐿1 disebut sebagai regresi median yang merupakan perluasan dari
median contoh. Penduga koefisien pada model regresi 𝐿1 merupakan solusi dari
minimisasi fungsi
𝑛
1 𝑝 2 𝑝
𝛽̂ 𝐿𝐴𝑆𝑆𝑂 = min ∑𝑁 𝑖=1 2 (𝑦𝑖 − 𝛽0 − ∑𝑗=1 𝑥𝑖𝑗 𝛽𝑗 ) + 𝜆 ∑𝑗=1|𝛽𝑗 |
Sedangkan pada penduga regresi kuantil ke-𝜏 untuk 𝜏𝜖(0,1) setelah ditambahkan
penalti LASSO dapat ditulis sebagai berikut
min ∑𝑛𝑖=1 𝜌𝜏 (𝑦𝑖 − 𝒙𝒊 ′𝜷) + 𝜆 ∑𝑝𝑗=1|𝛽𝑗 | (5)
𝜷∈𝑅
dengan 𝜆 adalah parameter penalti (regularizer) yang mengontrol besarnya
penyusutan. Salah satu cara untuk mencari nilai 𝜆 yang optimal adalah dengan
menggunakan metode cross validation (CV). Nilai 𝜆 yang optimal adalah 𝜆 dengan
nilai CV terkecil. Jika 𝜆 = 0, maka maka penduga LASSO memberikan hasil yang
sama dengan penduga kuadrat terkecil. Jika 𝜆 dinaikkan, maka nilai mutlak dugaan
koefisiennya menjadi semakin kecil menuju nol untuk 𝜆 menuju tak hingga dan
memungkinkan beberapa koefisien tepat nol, sehingga dapat berfungsi sebagai
seleksi peubah.
Least Angle Regression (LAR) merupakan suatu metode regresi yang
algoritmanya dapat dimodifikasi menjadi algoritma komputasi untuk metode
LASSO. Modifikasi dari LAR untuk LASSO menghasilkan efisiensi algoritma
dalam menduga koefisien LASSO dengan komputasi yang lebih cepat
dibandingkan pemrograman kuadratik. Algoritma LAR untuk melakukan
pendugaan koefisien dari LASSO adalah sebagai berikut (Hastie et al. 1990):
1. Membakukan peubah bebas sehingga memiliki nilai tengah nol dan ragam satu.
Dimulai dengan sisaan 𝑟 = 𝑦 − 𝑦̅ , dan 𝛽1 , 𝛽2 , …, 𝛽𝑝 = 0. Pembakuan ini
dimaksudkan agar dapat membandingkan dugaan koefisien regresi yang
memiliki ragam yang berbeda dalam suatu model.
2. Mencari peubah bebas 𝑥𝑗 yang paling berkorelasi dengan 𝑟.
3. Mengubah nilai 𝛽𝑗 dari 0 bergerak menuju koefisien kuadrat terkecil (𝑥𝑗 , 𝑟),
sampai kompetitor 𝑥𝑘 yang lain memiliki korelasi yang cukup dengan sisaan
akibat 𝑥𝑗 .
4. Mengubah nilai 𝛽𝑗 dan 𝛽𝑘 bergerak ke arah koefisien kuadrat terkecil bersama
dari sisaan sekarang dengan (𝑥𝑗 , 𝑥𝑘 ) sampai kompetitor 𝑥𝑙 yang lain memiliki
korelasi yang cukup dengan sisaan akibat (𝑥𝑗 , 𝑥𝑘 )
5. Jika koefisien bukan nol mencapai nilai nol, keluarkan peubah tersebut dari
gugus peubah aktif dan hitung kembali arah kuadrat terkecil bersama.
6. Mengulang langkah nomor 4 sampai semua 𝑝 peubah bebas dimasukkan.
Setelah min (𝑁 − 1, 𝑝)langkah, solusi model penuh untuk kuadrat terkecil
diperoleh.
Validasi Silang
Salah satu metode tipe validasi silang adalah k-fold. Pada metode ini semua
data dibagi secara acak ke dalam k bagian atau folds dengan 𝑘 = 1, . . . , 𝐾. Fold ke-
k digunakan sebagai validasi (testing) dan sisanya digunakan untuk membangun
model (training), iterasi ini berulang sampai K kali. Pada saat 𝐾 = 𝑛 metode ini
disebut validasi silang leave-one-out.
Prosedur dari validasi silang k-fold adalah sebagai berikut:
1. Bagi data set {1, … , 𝑛} secara acak menjadi k- fold yang sama besar, 𝐹1 , … , 𝐹𝐾
2. Untuk 𝑘 = 1, . . . , 𝐾:
Gunakan (𝒙𝑖 , 𝒚𝑖 ) , 𝑖 ∉ 𝐹𝑘 sebagai data training dan 𝒙𝑖 , 𝒚𝑖 ) , 𝑖 ∈ 𝐹𝑘
sebagai data testing.
−𝑘
Untuk masing-masing parameter 𝜆 ∈ {𝜆1 , … , 𝜆𝑚 }, hitung nilai 𝛽̂𝜆 pada
data training serta hitung jumlah sisaan pada data testing:
−𝑘
𝑒𝑘 (𝜃) = ∑ (𝑦𝑖 − 𝛽̂𝜆 (𝑦𝑖 ))2
𝑖∉𝐹𝑘
3. Untuk setiap nilai 𝜆, hitung rata-rata sisaan dari semua fold,
𝐾 𝐾
1 1 −𝑘
𝐶𝑉(𝜃) = ∑ 𝑒𝑘 (𝜃) = ∑ ∑ (𝑦𝑖 − 𝛽̂𝜆 (𝑦𝑖 ))2
𝑛 𝑛
𝑘=1 𝑘=1 𝑖∉𝐹𝑘
4. Nilai 𝜆 terbaik adalah 𝜆 dengan nilai CV paling kecil.
3 METODE
Data
Data luaran GCM yang digunakan adalah data presipitasi bulanan Climate
Model Intercomparison Project (CMIP5) yang dikeluarkan oleh KNMI. Belanda
dari situs web [Link] pada tahun 1979 sampai dengan 2008
dengan posisi wilayah –18.75o – 1.25oLS dan 101.25o – 116.25oBT. Data curah
hujan lokal yang digunakan adalah data rata-rata curah hujan di Kabupaten
Indramayu Propinsi Jawa Barat yang diukur dari 11 stasiun klimatologi yakni
stasiun Karang Anyar, Pusakanegara, Tulang Kacang, Juntinyuat, Losarang,
Dempet, Indramayu, Krangkeng, Sukadana, Karangkendal dan Gegesik.
Metode Analisis
1. Eksplorasi Data
a. Mendeskripsikan data curah hujan di Kabupaten Indramayu dengan statistika
deskriptif
b. Mengidentifikasi data curah hujan ekstrim dengan diagram kotak garis, data
curah hujan yang berada di luar kotak garis merupakan curah hujan ekstrim.
c. Membagi data curah hujan di Kabupaten Indramayu menjadi dua yaitu curah
hujan tahun 1979 sampai tahun 2007 sebagai data training dan curah hujan
tahun 2008 sebagai data testing.
n y i2 y i n yˆ i2 yˆ i
i 1 i 1 i 1 i 1
menunjukkan keeratan hubungan antara nilai dugaan dengan nilai aktualnya.
Semakin besar (dan positif) nilai korelasi maka semakin kuat hubungan antara
nilai dugaan dan nilai aktualnya, yang berarti pola nilai dugaan semakin
mendekati pola data aktualnya (Draper & Smith 1981)
9
Jumlah model yang akan dibangun pada penelitian ini sebanyak 6 model yang
terdiri dari:
1. M1 adalah model regresi kuantil linear
2. M2 model regresi kuantil linear dengan tambahan peubah boneka pada setiap
bulan
3. M3 model regresi kuantil linear dengan tambahan peubah boneka untuk empat
bulanan. Model ini didasarkan pada penelitian Sutikno (2008) yang mengatakan
bahwa curah hujan dibagi dalam 4 kelompok bulan yakni bulan basah (Januari,
Februari, Desember), kelompok bulan peralihan bulan basah ke bulan kering
(Maret,April dan Mei), kelompok bulan kering (Juni, Juli dan Agustus) dan
kelompok bulan peralihan bulan kering ke bulan basah (September, Oktober dan
November) sehingga untuk menampung informasi tersebut bisa ditambahkan
peubah boneka dalam model sesuai dengan kelompok bulan yang ada.
4. M4 model regresi kuantil kuadratik, model ini didasari oleh penelitian Djuraidah
dan Wigena (2011) yang mengatakan curah hujan bulanan di Indramayu
memiliki pola kuadratik.
5. M5 model regresi kuantil kuadratik dengan penambahan peubah boneka untuk
setiap bulan.
6. M6 model regresi kuantil kuadratik dengan penambahan peubah boneka untuk
empat bulanan.
10
Deskripsi Data
Gambar 3 merupakan diagram kotak garis dari data curah hujan di Kabupaten
Indramayu menunjukkan bahwa pada bulan Februari, Juli, Agustus, September,
November dan Desember terdapat curah curah hujan bulanan yang lebih tinggi dari
kondisi normalnya hal ini membuktikan bahwa curah hujan di Indramayu
terindikasi terjadi curah hujan ekstrim. Gambar 3 juga menunjukkan bahwa data
curah hujan di Kabupaten Indramayu merupakan tipe monsunal karena memiliki
pola sinusoidal dimana terdapat satu puncak terendah. Menurut Tjasjono (1999)
dalam Pribadi (2012) tipe seperti ini dipengaruhi oleh angin monsoon. Angin
11
monsoon adalah angin yang sangat mempengaruhi pola cuaca di daerah tropis dan
berkaitan dengan musim hujan dan musim kemarau.
600
500
300
200
100
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des
Bulan
Korelasi tertinggi antar peubah GCM adalah sebesar 0.99 yang terletak pada
grid 75 dan grid 65 di mana kedua grid ini saling berdekatan. Semakin dekat letak
antar grid maka akan memiliki korelasi yang semakin tinggi dan sebaliknya
semakin jauh letak antar grid maka korelasinya akan semakin kecil.
Kendala yang sering dihadapi oleh peneliti adalah tentang penetuan luasan
grid dari data GCM. Terlalu sempit luasan grid/domain yang digunakan akan
mengurangi informasi pengaruh global/regional. Sebaliknya, luasan grid yang
terlalu luas menyebabkan informasi lokal akan berkurang (Sutikno 2008). Oleh
karena itu pada penelitian ini juga akan dicobakan jumlah grid yang lebih kecil dari
grid 8×8 yaitu 6×6 grid. Hasil prediksi dari kedua jumlah grid tersebut
dibandingkan untuk mengetahui jumlah grid mana yang memiliki tingkat ketepatan
prediksi yang lebih baik.
Langkah pertama yang dilakukan adalah mencari nilai lambda optimum dari
LASSO dengan menggunakan metode validasi silang. Nilai lambda optimum yang
diperoleh untuk Model M1 yaitu sebesar 0.35 dengan nilai CV sebesar 38.75. Tabel
2 adalah nilai lambda optimum dari LASSO pada masing-masing model pada kedua
ukuran luasan grid.
0,7
0,6
0,5
0,4
QVSS
q75
0,3 q90
0,2 q95
0,1
0
M1 M2 M3 M4 M5 M6 M1 M2 M3 M4 M5 M6
grid 8x8 grid 6x6
Gambar 4 Nilai QVSS dari keenam model yang menggunakan LASSO untuk grid
8×8 dan grid 6×6
13
180
160
140
120
RMSEP 100
q75
80
q90
60
q95
40
20
0
M1 M2 M3 M4 M5 M6 M1 M2 M3 M4 M5 M6
grid 8x8 grid 6x6
Gambar 5 Nilai RMSEP keenam model yang menggunakan LASSO untuk grid 8×8
dan grid 6×6
500
Curah Hujan (mm/bulan)
450
400
350
300 tau= 0.95
250
tau= 0.90
200
150 tau= 0.75
100 aktual
50
0
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sept Okt Nov Des
Bulan
Gambar 6 Nilai prediksi dari Model M4 untuk metode LASSO pada grid 8×8
500
450
Curah Hujan (mm/bulan)
400
350
300 tau= 0.95
250
tau= 0.90
200
150 tau= 0.75
100 aktual
50
0
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sept Okt Nov Des
Bulan
Gambar 7 Nilai prediksi dari Model M1 untuk metode LASSO pada grid 6×6
14
0,8
0,7
0,6
0,5
QVSS
0,4 q75
0,3 q90
q95
0,2
0,1
0
M1 M2 M3 M4 M5 M6 M1 M2 M3 M4 M5 M6
grid 8x8 grid 6x6
Gambar 8 Nilai QVSS dari enam model yang menggunakan AKU untuk grid 8×8
dan grid 6×6
140
120
100
RMSEP
80
q75
60 q90
40 q95
20
0
M1 M2 M3 M4 M5 M6 M1 M2 M3 M4 M5 M6
grid 8x8 grid 6x6
Gambar 9 Nilai RMSEP dari enam model yang menggunakan AKU untuk grid 8×8
dan grid 6×6
15
Prediksi curah hujan untuk tahun 2008 dengan menggunakan model terbaik.
Gambar 10 adalah hasil prediksi curah hujan untuk model dengan jumlah grid 8×8
(Model M2) dan gambar 11 untuk hasil prediksi curah hujan model yang
menggunakan grid 6×6 (Model M1). Dapat dilihat pada gambar 10 bahwa prediksi
M2 menunjukkan pola yang sedikit berbeda dari curah hujan sebenarnya dimana
prediksi bulan Februari lebih rendah dari bulan Januari. M1 pada grid 6×6
menunjukkan pola prediksi yang lrbih baik dari M2 pada grid 8 × 8 dimana M1
dapat mengkuti pola data aktual dengan baik. M1 juga dapat menduga curah hujan
pada bulan Januari, Februari dan Maret dengan baik.
600
Curah Hujan (mm/bulan)
500
400
tau= 0.95
300
tau= 0.90
200 tau= 0.75
aktual
100
0
jan feb mar apr mei jun jul agu sept okt Nov Des
Bulan
Gambar 10 Nilai prediksi dari Model M2 untuk metode AKU pada grid 8×8
500
450
400
curah hujan (mm/bulan)
350
300
tau= 0.95
250
tau= 0.90
200
tau= 0.75
150
aktual
100
50
0
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sept Okt Nov Des
Bulan
Gambar 11 Nilai prediksi dari Model M1 untuk metode AKU pada grid 6×6
16
Tabel 4 Nilai RMSEP dan korelasi di setiap panjang data pendugaan model SD
dengan regresi kuantil menggunakan LASSO
Data
Data Dugaan Kuantil ke 𝜏 RMSE RMSEP Korelasi
Historis
75 73.47 68.71 0.94
29 th 1 th 90 105.73 90.71 0.94
95 129.66 118.92 0.90
75 73.58 67.53 0.87
28 th 2 th 90 107.41 89.48 0.90
95 133.66 119.99 0.87
75 73.70 69.04 0.87
27 th 3 th 90 106.79 95.30 0.89
95 141.54 133.62 0.86
75 74.10 67.47 0.86
26 th 4 th 90 106.69 98.95 0.87
95 151.54 147.50 0.84
Berdasarkan hasil di atas diperoleh nilai simpangan baku dari nilai korelasi
pada setiap waktu pendugaan untuk masing-masing kuantil yang sangat kecil yaitu
sebesar 0.04 untuk kuantil ke 75, 0.02 untuk kuantil ke 90 dan 0.03 untuk kuantil
ke 95 yang menunjukkan bahwa model yang dihasilkan dapat dikatakan cukup
konsisten dalam menghasilkan nilai dugaan 1 tahun ke depan.
Simpulan
Saran
DAFTAR PUSTAKA
Wilby RL, Wigley TML. 2000. Precipitation predictors for downscaling: observed
and general circulation model relationships. Journal of Climatology. 20: 641-
661.
Wilby RL, Charles SP, Zorita E, Timbal B, Whetton P, Mearns LO. 2009. A review
of climate risk information for adaptation and development planning. Journal of
Climatology. 29: 1193-1215.
21
Lampiran 2 (lanjutan)
model M1 model M2 model M3 model M4 model M5 model M6
No
λ CV λ CV λ CV λ CV λ CV λ CV
18 4.77 44.05 0.71 37.85 3.37 42.99 2.20 37.66 2.17 36.41 2.20 38.32
19 5.24 43.23 0.78 37.86 3.69 44.24 2.42 37.85 2.39 36.66 2.42 38.51
20 21.14 37.92 0.86 38.01 21.63 37.92 2.65 37.84 2.62 36.28 2.65 38.50
Lampiran 5 (Lanjutan)
Komponen Nilai Eigen Proporsi Keragaman Proporsi Kumulatif
7 0.20 0.00 0.99
8 0.19 0.00 0.99
9 0.17 0.00 1.00
10 0.16 0.00 1.00
Lampiran 7 (Lanjutan)
Kuantil Kuantil
Parameter Parameter
0.75 0.90 0.95 0.75 0.90 0.95
x20 -5.31 10.80 11.02 x53 37.60 13.98 46.23
x21 -2.23 21.09 0.87 x54 -9.60 -54.52 -65.49
x22 -2.16 -3.33 2.82 x55 0.00 -4.03 -1.01
x23 8.32 10.55 11.21 x56 -12.58 0.00 0.00
x24 -16.08 -11.17 -15.48 x57 -54.92 0.00 0.00
x25 -84.82 -46.73 -39.18 x58 6.93 59.84 61.04
x26 64.68 40.83 45.80 x59 48.42 22.65 0.00
x27 0.00 -48.81 -50.16 x60 -35.93 -27.80 -32.08
x28 -8.25 -10.79 -21.06 x61 33.22 82.93 63.02
x29 35.67 64.19 102.70 x62 -35.47 -45.42 -44.72
x30 -15.20 -39.58 -58.68 x63 11.80 17.59 12.84
x31 36.31 11.20 20.65 x64 5.26 1.26 6.83
x32 -23.15 15.78 18.98
Lampiran 8 (Lanjutan)
Kuantil Kuantil
Parameter Parameter
0.75 0.90 0.95 0.75 0.90 0.95
x24 -1.52 0.00 -6.86 x62 -21.56 -30.18 -65.17
x25 -124.28 -99.16 0.00 x63 4.56 20.10 25.14
x26 48.90 78.60 17.18 x64 15.59 6.31 -9.34
x27 0.00 -52.80 -64.64 D1 92.78 60.51 25.33
x28 -4.23 -37.41 -16.71 D2 33.21 25.96 11.70
x29 0.00 45.05 64.46 D3 0.00 0.00 -45.95
x30 -26.10 -46.76 -66.13 D4 23.05 12.93 0.00
x31 29.05 20.02 35.71 D5 -10.78 -3.01 0.00
x32 -19.99 -4.53 9.82 D6 0.00 -1.53 -10.36
x33 62.70 60.92 0.00 D7 3.23 0.00 0.00
x34 -9.94 -11.96 83.05 D8 -19.88 1.78 0.00
x35 -39.36 0.00 0.00 D9 -42.95 -45.67 -7.93
x36 0.00 -41.32 -69.15 D10 0.00 -0.15 0.00
x37 27.06 7.00 7.12 D11 15.98 129.05 128.23
Lampran 9 (Lanjutan)
Kuantil Kuantil
Parameter Parameter
0.75 0.90 0.95 0.75 0.90 0.95
x23 1.53 6.82 0.00 x57 -29.73 0.00 0.00
x24 -9.21 0.00 -1.23 x58 24.16 51.99 34.48
x25 -17.39 -34.72 -6.57 x59 21.15 13.48 0.00
x26 1.37 19.34 0.00 x60 -25.11 -27.81 0.00
x27 -2.10 -32.31 0.00 x61 31.08 73.06 19.72
x28 0.00 -5.61 0.00 x62 -32.75 -25.36 0.00
x29 27.01 2.62 112.58 x63 16.35 9.18 3.86
x30 0.00 -11.59 -29.05 x64 3.56 0.00 0.00
x31 10.24 4.68 0.00 D12 -7.28 0.00 0.00
x32 -3.49 0.14 10.01 D13 -21.11 -4.98 -10.51
x33 0.00 -0.13 0.00 D14 9.48 0.00 0.00
Lampiran 10 (Lanjutan)
Kuantil Kuantil
Parameter Parameter
0.75 0.90 0.95 0.75 0.90 0.95
2
x26 0.00 0.00 0.00 x27 -1.18 -0.29 0.00
x27 0.00 0.00 0.00 x282 0.00 0.00 0.00
x28 0.00 0.00 0.00 x292 0.42 0.00 0.00
x29 0.00 0.00 0.00 x302 0.88 0.00 0.00
x30 0.00 0.00 0.00 x312 0.00 0.00 0.00
x31 0.00 0.00 0.00 x322 0.00 0.75 0.06
x32 0.00 0.00 0.00 x332 0.00 0.00 0.00
x33 0.00 0.00 0.00 x342 0.00 0.00 0.00
x34 0.00 0.00 0.00 x352 0.00 0.00 0.00
x35 0.00 0.00 0.00 x362 0.00 0.00 0.00
x36 0.00 0.00 0.00 x372 0.00 0.34 0.15
x37 0.00 0.00 0.00 x382 0.45 0.00 0.00
x38 0.00 0.00 0.00 x392 0.00 0.23 0.00
x39 0.00 0.00 0.00 x402 0.03 0.29 1.59
x40 0.00 0.00 0.00 x412 0.00 0.00 0.00
x41 0.00 0.00 0.00 x422 0.00 0.00 0.00
x42 0.00 0.00 0.00 x432 0.00 0.00 0.00
x43 0.00 0.00 0.00 x442 0.00 0.00 0.00
x44 0.00 0.00 0.00 x452 0.00 0.00 1.28
x45 0.00 0.00 0.00 x462 0.00 0.00 0.00
x46 0.00 0.00 0.00 x472 0.00 0.00 0.00
x47 0.00 0.00 0.00 x482 1.13 1.08 0.95
x48 0.00 0.00 0.00 x492 0.00 0.00 0.00
x49 0.00 0.00 0.00 x502 0.00 0.00 0.00
x50 0.00 0.00 0.00 x512 0.00 0.00 0.00
x51 0.00 0.00 0.00 x522 0.00 0.00 0.00
x52 0.00 0.00 0.00 x532 0.00 0.00 0.00
x53 0.00 0.00 0.00 x542 -0.14 0.00 0.00
x54 0.00 0.00 0.00 x552 0.00 0.00 0.00
x55 0.00 0.00 0.00 x562 -0.09 0.00 0.00
x56 0.00 0.00 0.00 x572 0.00 0.00 0.00
x57 0.00 0.00 0.00 x582 0.00 0.00 0.00
x58 0.00 0.00 0.00 x592 0.52 0.00 0.00
x59 0.00 0.00 0.00 x602 0.00 0.00 0.00
x60 0.00 0.00 0.00 x612 1.00 1.91 1.18
x61 0.00 0.00 0.00 x622 -0.40 0.00 0.00
x62 0.00 0.00 0.00 x632 0.00 -0.18 0.00
x63 0.00 0.00 0.00 x642 0.00 0.00 0.00
x64 0.00 0.00 0.00
28
Lampiran 11 (Lanjutan)
Kuantil Kuantil
Parameter Parameter
0.75 0.90 0.95 0.75 0.90 0.95
2
x41 0.00 0.00 0.00 x47 0.51 3.65 4.09
x42 0.00 0.00 0.00 x482 1.11 0.24 -0.55
x43 1.68 0.00 0.00 x492 4.31 0.00 0.00
x44 0.00 0.00 0.00 x502 5.22 0.00 0.00
x45 0.00 0.00 0.00 x512 -6.42 -0.26 0.00
x46 0.00 0.00 0.00 x522 0.41 -0.63 0.00
x47 0.00 0.00 0.00 x532 2.84 0.00 2.84
x48 0.00 0.00 0.00 x542 -1.70 -1.70 -3.32
x49 0.00 0.00 0.00 x552 0.02 -1.22 -0.40
x50 2.63 0.00 0.00 x562 -0.33 0.00 -0.48
x51 0.00 0.00 0.00 x572 -6.19 -0.04 0.00
x52 0.00 0.00 0.00 x582 0.00 3.14 6.17
x53 0.00 0.00 0.00 x592 4.46 1.22 0.00
x54 0.00 0.00 0.00 x602 -2.41 -3.04 -3.43
x55 0.00 0.00 0.00 x612 1.04 5.18 2.75
x56 0.00 0.00 0.00 x622 -1.65 -2.71 -0.14
x57 0.00 0.00 0.00 x632 0.35 1.06 0.02
x58 0.00 0.00 0.00 x642 0.00 0.00 1.13
x59 12.58 0.00 0.00 D1 0.00 0.00 0.00
x60 0.00 0.00 0.00 D2 0.00 0.00 0.00
x61 0.00 0.00 0.00 D3 0.00 0.00 0.00
x62 0.00 0.00 0.00 D4 0.00 0.00 0.00
x63 0.00 0.00 0.00 D5 0.00 0.00 0.00
x64 0.00 0.00 0.00 D6 0.00 0.00 0.00
2
x1 0.00 0.00 0.00 D7 0.00 0.00 0.00
2
x2 -0.22 -0.13 0.00 D8 0.00 0.00 0.00
x32 -0.45 0.00 0.00 D9 0.00 0.00 0.00
2
x4 -0.06 0.00 0.44 D10 0.00 0.00 0.00
2
x5 0.00 -1.81 -3.34 D11 0.00 0.00 0.00
Lampiran 12 (Lanjutan)
Kuantil Kuantil
Parameter Parameter
75 90 95 75 90 95
2
x8 0.00 0.00 0.00 x10 0.00 0.00 0.00
x9 0.00 0.00 0.00 x112 0.00 0.00 0.00
x10 0.00 0.00 0.00 x122 0.00 0.00 0.00
x11 0.00 0.00 0.00 x132 0.51 0.00 0.29
x12 0.00 0.00 0.00 x142 0.00 0.00 0.00
x13 0.00 0.00 0.00 x152 -0.74 0.00 0.00
x14 0.00 0.00 0.00 x162 0.60 0.02 0.00
x15 0.00 0.00 0.00 x172 0.00 0.00 0.00
x16 0.00 0.00 0.00 x182 0.00 0.00 0.00
x17 0.00 0.00 0.00 x192 0.00 0.00 0.00
x18 0.00 0.00 0.00 x202 0.00 0.00 0.00
x19 0.00 0.00 0.00 x212 0.56 0.49 0.00
x20 0.00 0.00 0.00 x222 0.51 0.00 0.00
x21 0.00 0.00 0.00 x232 0.00 0.00 0.00
x22 0.00 0.00 0.00 x242 0.00 0.00 0.00
x23 0.00 0.00 0.00 x252 0.00 0.00 0.00
x24 0.00 0.00 0.00 x262 0.00 0.00 0.00
x25 0.00 0.00 0.00 x272 -1.18 -0.29 0.00
x26 0.00 0.00 0.00 x282 0.00 0.00 0.00
x27 0.00 0.00 0.00 x292 0.42 0.00 0.00
x28 0.00 0.00 0.00 x302 0.88 0.00 0.00
x29 0.00 0.00 0.00 x312 0.00 0.00 0.00
x30 0.00 0.00 0.00 x322 0.00 0.75 0.06
x31 0.00 0.00 0.00 x332 0.00 0.00 0.00
x32 0.00 0.00 0.00 x342 0.00 0.00 0.00
x33 0.00 0.00 0.00 x352 0.00 0.00 0.00
x34 0.00 0.00 0.00 x362 0.00 0.00 0.00
x35 0.00 0.00 0.00 x372 0.00 0.34 0.15
x36 0.00 0.00 0.00 x382 0.45 0.00 0.00
x37 0.00 0.00 0.00 x392 0.00 0.23 0.00
x38 0.00 0.00 0.00 x402 0.03 0.29 1.59
x39 0.00 0.00 0.00 x412 0.00 0.00 0.00
x40 0.00 0.00 0.00 x422 0.00 0.00 0.00
x41 0.00 0.00 0.00 x432 0.00 0.00 0.00
x42 0.00 0.00 0.00 x442 0.00 0.00 0.00
x43 0.00 0.00 0.00 x452 0.00 0.00 1.28
x44 0.00 0.00 0.00 x462 0.00 0.00 0.00
x45 0.00 0.00 0.00 x472 0.00 0.00 0.00
x46 0.00 0.00 0.00 x482 1.13 1.08 0.95
x47 0.00 0.00 0.00 x492 0.00 0.00 0.00
x48 0.00 0.00 0.00 x502 0.00 0.00 0.00
31
Lampiran 12 (Lanjutan)
Kuantil Kuantil
Parameter Parameter
75 90 95 75 90 95
2
x49 0.00 0.00 0.00 x51 0.00 0.00 0.00
x50 0.00 0.00 0.00 x522 0.00 0.00 0.00
x51 0.00 0.00 0.00 x532 0.00 0.00 0.00
x52 0.00 0.00 0.00 x542 -0.14 0.00 0.00
x53 0.00 0.00 0.00 x552 0.00 0.00 0.00
x54 0.00 0.00 0.00 x562 -0.09 0.00 0.00
x55 0.00 0.00 0.00 x572 0.00 0.00 0.00
x56 0.00 0.00 0.00 x582 0.00 0.00 0.00
x57 0.00 0.00 0.00 x592 0.52 0.00 0.00
x58 0.00 0.00 0.00 x602 0.00 0.00 0.00
x59 0.00 0.00 0.00 x612 1.00 1.91 1.18
x60 0.00 0.00 0.00 x622 -0.40 0.00 0.00
x61 0.00 0.00 0.00 x632 0.00 -0.18 0.00
x62 0.00 0.00 0.00 x642 0.00 0.00 0.00
x63 0.00 0.00 0.00 D12 0.00 0.00 0.00
x64 0.00 0.00 0.00 D13 0.00 0.00 0.00
2
x1 0.00 0.00 0.00 D14 0.00 0.00 0.00
Lampiran 15 (Lanjutan)
Kuantil Kuantil
Parameter Parameter
75 90 95 75 90 95
x13 0.00 0.00 0.00 x33 8.95 0.00 0.00
x14 0.00 0.00 0.00 x34 0.00 0.00 0.00
x15 0.00 0.00 0.00 x35 0.00 0.00 0.00
x16 0.00 0.00 0.00 x36 0.00 0.00 0.00
x17 0.00 0.00 0.00 D12 0.00 0.00 0.00
x18 0.00 0.00 0.00 D13 0.00 0.00 0.00
x19 0.00 0.00 0.00 D14 0.00 0.00 0.00
Lampiran 16 (Lanjutan)
Kuantil Kuantil
Parameter Parameter
75 90 95 75 90 95
2
x30 -36.72 -34.68 0.00 x31 19.28 15.70 15.06
x31 -10.93 0.00 0.00 x322 -13.07 -11.31 -11.37
x32 -10.33 -15.58 0.00 x332 9.74 11.54 11.99
x33 -10.60 -36.24 0.00 x342 -1.24 -3.38 -7.26
x34 8.95 0.00 63.79 x352 -2.49 -0.67 -3.87
x35 0.00 0.00 0.00 x362 -1.72 -4.18 0.43
x36 47.08 90.56 0.00
Lampiran 17 (Lanjutan)
Kuantil Kuantil
Parameter Parameter
75 90 95 75 90 95
2
x30 0.00 0.00 0.00 x25 -13.75 -18.42 -9.69
x31 0.00 0.00 0.00 x262 3.07 2.96 2.43
x32 -86.62 0.00 0.00 x272 -7.29 -4.13 0.00
x33 0.00 0.00 0.00 x282 -3.36 -4.20 -5.73
x34 7.27 38.58 51.05 x292 2.74 2.81 8.22
x35 0.00 0.00 0.00 x302 -0.58 1.05 2.33
x36 57.65 26.05 28.30 x312 8.55 17.05 9.68
D1 0.00 0.00 0.00 x322 1.90 -10.67 -8.48
D2 0.00 0.00 0.00 x332 4.57 7.06 8.31
D3 26.06 0.00 -3.84 x342 -0.79 -5.59 -5.26
D4 65.25 48.71 18.78 x352 -1.64 -1.16 -6.10
D5 -11.64 0.00 0.00 x362 -3.36 -1.12 0.27
Lampiran 18 (Lanjutan)
Kuantil Kuantil
Parameter Parameter
75 90 95 75 90 95
2
x25 0.00 0.00 0.00 x24 -3.14 -5.05 -6.56
x26 0.00 0.00 0.00 x252 -22.74 -23.41 -20.78
x27 57.88 71.57 0.00 x262 12.53 12.02 7.52
x28 23.57 73.12 57.77 x272 -10.37 -8.14 -3.40
x29 -40.70 -92.16 -61.01 x282 -5.79 -8.23 -6.23
x30 0.00 -16.42 0.00 x292 4.75 7.12 4.52
x31 0.00 0.00 0.00 x302 -1.16 2.57 3.01
x32 -35.50 -8.90 0.00 x312 15.65 15.04 18.12
x33 -0.52 -30.16 0.00 x322 -8.86 -10.75 -16.48
x34 14.51 16.61 100.12 x332 7.11 10.90 13.99
x35 0.00 0.00 0.00 x342 -1.62 -3.99 -10.18
x36 74.93 68.60 28.78 x352 -2.48 -1.01 -3.40
D12 -14.92 0.00 0.00 x362 -3.33 -3.15 -0.73
Lampiran 20 (Lanjutan)
Kuantil
Parameter
75 90 75
D11 7.22 40.46 20.53
Lampiran 23 (Lanjutan)
Kuantil
Parameter
75 90 75
D6 -67.79 -128.02 -134.07
D7 -106.36 -217.23 -215.51
D8 -121.14 -281.08 -275.27
D9 -105.37 -262.18 -266.17
D10 -8.25 -154.06 -144.25
D11 40.47 67.06 38.72
Lampiran 26 (Lanjutan)
Kuantil
Parameter
75 90 75
D4 -36.87 -90.67 -52.99
D5 -72.98 -134.42 -122.50
D6 -75.60 -187.86 -169.70
D7 -92.69 -223.74 -223.28
D8 -93.52 -210.63 -245.61
D9 -81.38 -178.74 -221.53
D10 8.42 -75.71 -120.54
D11 49.87 96.30 67.37
Lampiran 29 (Lanjutan)
Kuantil
Parameter
75 90 75
D6 -26.92 -9.26 -109.25
D7 -62.31 -36.10 -182.59
D8 -86.84 -94.20 -213.58
D9 -83.39 -85.20 -205.84
D10 -9.00 -14.43 -109.06
D11 26.13 138.70 61.22
Lampiran 33 Nilai prediksi masing-masing model untuk metode LASSO grid 8×8
600 500
Curah hujan (mm/bulan)
Nov
Sept
Apr
Jan
Mei
Feb
Okt
Mar
Jun
Jul
Agustus
Des
aktual
Nov
Feb
Sept
Apr
Mei
Jan
Jul
Okt
Mar
Jun
Agustus
Des
-100
Bulan Bulan
600 400
500 300
400 tau= 0.95 tau= 0.95
200
300 tau= 0.90 tau= 0.90
200 100
tau= 0.75 0 tau= 0.75
100
Sept
Nov
Jan
Feb
Apr
Mei
Jul
Okt
Mar
Jun
Agustus
Des
0 aktual aktual
Oct
Nov
Feb
Apr
Aug
Jan
Jul
Sep
Mar
May
Jun
Dec
-100
Bulan Bulan
500 400
400
300
300 tau= 0.95 tau= 0.95
200
200 tau= 0.90 tau= 0.90
100 100
tau= 0.75 tau= 0.75
0 0
aktual aktual
Nov
Sept
Apr
Mei
Jan
Feb
Mar
Jun
Jul
Okt
Agustus
Des
Nov
Apr
Sept
Jan
Mei
Feb
Mar
Jun
Jul
Okt
Agustus
Des
-100
Bulan Bulan
Lampiran 34 Nilai prediksi masing-masing model untuk metode AKU grid 8×8
500 500
Curah Hujan (mm/bulan)
Nov
mei
jun
jul
mei
jun
jul
mar
agu
des
mar
agu
sept
okt
sept
okt
feb
apr
nov
feb
apr
jan
jan
Des
Bulan Bulan
mei
Nov
jun
jul
agu
feb
mar
mar
agu
apr
sept
okt
feb
apr
sept
okt
jan
jan
Des
Des
Bulan Bulan
450 450
400 400
350 350
300 300
#REF! #REF!
250 250
200 #REF! 200 #REF!
150 #REF! 150 #REF!
100 100
50 #REF! 50 #REF!
0 0
jul
Nov
mar
mei
jun
agu
apr
sept
okt
feb
jan
Des
jul
Nov
mar
mei
jun
agu
apr
sept
okt
feb
jan
Des
Bulan Bulan
Lampiran 35 Nilai prediksi masing-masing model untuk metode LASSO untuk grid
6×6
500 700
Curah Hujan (mm/bulan)
jul
feb
agu
apr
sept
okt
jan
Des
mei
jun
Nov
jul
mar
agu
sept
okt
feb
apr
jan
Des
-100
Bulan Bulan
jun
agu
feb
apr
sept
okt
jan
Des
mei
jun
jul
Nov
mar
agu
feb
apr
sept
okt
jan
Des
-100
Bulan Bulan
450
Curah Hujan (mm/bulan)
600
400
350 500
300 tau= 0.95
tau= 0.95 400
250
200 tau= 0.90 300 tau= 0.90
150 tau= 0.75 200 tau= 0.75
100
50 aktual 100 aktual
0 0
mei
jun
jul
Nov
feb
mar
agu
apr
sept
okt
jan
Des
Nov
mei
jun
jul
mar
agu
feb
apr
sept
okt
jan
Des
-100
Bulan Bulan
Lampiran 36 Nilai prediksi masing-masing model untuk metode AKU untuk grid 6×6
500 600
jul
mei
mar
jun
agu
des
feb
apr
sept
okt
nov
jan
mei
jun
jul
mar
agu
des
feb
apr
sept
okt
nov
jan
Bulan Bulan
600 500
500 400
400 tau= 0.95 tau= 0.95
300
300 tau= 0.90 tau= 0.90
200
200 tau= 0.75 tau= 0.75
100 100
aktual aktual
0 0
jun
mei
jul
mar
agu
des
feb
apr
sept
okt
nov
jan
jul
mei
jun
mar
agu
apr
nov
des
feb
sept
okt
jan
Bulan Bulan
500 500
400 400
tau= 0.95 tau= 0.95
300 300
tau= 0.90 tau= 0.90
200 200
tau= 0.75 tau= 0.75
100 100
aktual aktual
0 0
jul
mar
mei
jun
agu
apr
des
feb
sept
okt
nov
jan
mei
jul
jun
mar
agu
des
okt
feb
apr
sept
nov
jan
Bulan Bulan
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Raha pada tanggal 24 Oktober 1990, sebagai anak kedua
dari pasangan La Hafili dan Wa Nia. Pendidikan sekolah menengah ditempuh di
SMA Negeri 1 Lawa Program IPA, lulus pada tahun 2008. Pada tahun yang sama
penulis diterima di program studi Statistika Universitas Hasanuddin, Makassar dan
menyelesaikannya pada tahun 2012.
Kesempatan untuk melanjutkan program master (S2) pada program studi
Statistika, Sekolah Pascasarjana IPB, diperoleh pada tahun 2013 dengan program
Beasiswa Pendidikan Dalam Negeri (BPPDN) dari Direktorat Jendral Pendidikan
Tinggi (Dikti).
Karya ilmiah ini telah dipresentasikan dalam SEAMS UGM International
Conference on Mathematics and Its Applications di Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta pada tanggal 18-21 Agustus 2015.