0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan62 halaman

Model LASSO untuk Curah Hujan Ekstrim

Diunggah oleh

Arip
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan62 halaman

Model LASSO untuk Curah Hujan Ekstrim

Diunggah oleh

Arip
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PEMODELAN STATISTICAL DOWNSCALING DENGAN

REGRESI KUANTIL MENGGUNAKAN LASSO UNTUK


PENDUGAAN CURAH HUJAN EKSTRIM

DEWI SANTRI

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul “Pemodelan Statistical


Downscaling dengan Regresi Kuantil menggunakan LASSO untuk Pendugaan
Curah Hujan Ekstrim” adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi
pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi
manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan
maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan
dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.
Bogor, Maret 2016

Dewi Santri
G151130031

* pelimpahan hak cipta atas karya tulis dari penelitian kerjasama dengan pihak luar IPB harus
didasarkan pada perjanjian kerjasama yang terkait
RINGKASAN

DEWI SANTRI. Pemodelan Statistical Downscaling dengan Regresi Kuantil


menggunakan LASSO untuk Pendugaan Curah Hujan Ekstrim. Dibimbing oleh AJI
HAMIM WIGENA dan ANIK DJURAIDAH.

Curah hujan ekstrim yang sering terjadi di Indonesia menimbulkan berbagai


dampak negatif, diantaranya yang berkaitan dengan bidang pertanian. Tanaman
padi merupakan tanaman yang rentan terhadap kejadian ekstrim yaitu El-Nino dan
La-Nina. Oleh karena itu pemodelan curah hujan diperlukan untuk meminimumkan
dampak yang terjadi.
Model-model untuk menganalisa curah hujan sudah banyak diterapkan di
antaranya global circulation model (GCM). Data luaran GCM adalah data hasil
simulasi komputer yang memanfaatkan kaidah fisika, kondisi lautan, dan
perubahan iklim pada atmosfer bumi dan dapat merepresentasikan unsur – unsur
iklim pada masa lampau, saat ini dan di masa yang akan datang. Data luaran GCM
masih berskala global, sehingga akan sulit untuk menjelaskan keragaman dalam
skala lokal yang lebih rinci. Hal ini berdampak pada rendahnya tingkat akurasi
prediksi curah hujan yang dihasilkan. Statistical Downscaling (SD) diyakini dapat
menangani permasalahan tersebut. Metode ini menghubungkan antara data luaran
GCM dan curah hujan untuk menduga perubahan pada skala lokal dengan
menggunakan metode regresi.
Regresi kuantil merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk
menganalisis pola terjadinya curah hujan ekstrim. Regresi kuantil dapat mengukur
efek peubah penjelas tidak hanya di pusat sebaran data, tetapi juga pada bagian atas
atau bawah ekor sebaran. Kelebihan lain dari regresi kuantil adalah sangat efisien
jika sisaan tidak menyebar normal dan kekar terhadap adanya pencilan.
Data luaran GCM yang memiliki multikolinearitas tidak dapat langsung
diterapkan dalam model SD. Metode-metode yang dapat digunakan untuk
mengatasi masalah multikolinearitas dalam SD antara lain metode analisis
komponen utama (AKU), metode shrinkage seperti Least Absolute Shrinkage and
Selection Operator (LASSO) dan ridge. Metode AKU paling sering digunakan
dalam mereduksi dimensi data luaran GCM dan menangani masalah
multikolinearitas. Metode shringkage selain dapat menghilangkan
multikolinearitas juga dapat meminimumkan ragam penduga parameter dari model
regresi. Tujuan penelitian ini adalah menentukan model curah hujan ekstrim di
Kabupaten Indramayu dengan pendekatan SD menggunakan metode regresi kuantil
dengan LASSO dan AKU serta memilih model SD terbaik dari kedua metode yang
digunakan tersebut.
Peubah respon yang digunakan adalah data rata-rata curah hujan bulanan
yang diperoleh dari 11 stasiun klimatologi di Kabupaten Indramayu pada tahun
1979-2008. Peubah prediktor (GCM) yang digunakan adalah data curah hujan
bulanan Climate Model Intercomparison Project (CMIP5) yang dikeluarkan oleh
KNMI, Belanda pada tahun 1979 sampai dengan 2008 dengan posisi wilayah –
18.75o – 1.25oLS dan 101.25o – 116.25oBT. Analisis data yang dilakukan meliputi
pemodelan regresi kuantil dengan penalti LASSO dan pemodelan regresi kuantil
dengan AKU.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dugaan curah hujan ekstrim di
kabupaten Indramayu dengan model SD menggunakan regresi kuantil dengan
LASSO menghasilkan prediksi yang lebih konsisten terhadap berbagai selang
waktu dugaan dibandingkan model yang menggunakan metode AKU. Model
terbaik yang diperoleh berasal dari model yang dibangun oleh regresi kuantil
dengan metode LASSO pada grid 6×6 yaitu model regresi kuantil linear. Model ini
memiliki nilai quantile verification skill score (QVSS) paling tinggi dan nilai root
mean square error of prediction (RMSEP) paling rendah diantara model-model
yang lain. RMSEP model SD dengan LASSO pada grid 6×6 lebih rendah
dibandingkan dengan model pada grid 8×8, sedangkan pada model AKU kedua grid
memiliki nilai RMSEP yang hampir sama. Pendugaan curah hujan ekstrim di
Kabupaten Indramayu untuk satu tahun ke depan memberikan hasil dugaan terbaik
dari semua periode analisis yang digunakan.

Kata kunci : curah hujan ekstrim, global circulation model, LASSO, regresi
kuantil , statistical downscaling.
SUMMARY

DEWI SANTRI. Statistical Downscaling Modeling with Quantile Regression using


LASSO to Estimate Extreme Rainfall. Supervised by AJI HAMIM WIGENA and
ANIK DJURAIDAH.

Extreme rainfall that frequently occurs in Indonesia has negative impact. For
example in agriculture, El Nino and La nina can damage rice plants that will reduce
rice production. Therefore modeling extreme rainfall is needed to minimize the
negative impact.
Global circulation model (GCM) has been widely applied to analize the
extreme rainfall. The GCM data is a computer simulation result of a large number
interaction of physics, chemistry, and dynamics of the earth’s atmosphere. GCM
data can represent the past, present or future climate. However, GCM data has
global scale and unable to provide reliable information at local scale. Statistical
Downscaling (SD) has been developed in an attempt to bridge this scale gap. SD
uses regression models to represent the link between GCM data and local rainfall.
Quantile regression is a method that can be used to analyze extreme rainfall.
Quantile regression can measure the effect of explanatory variables not only in the
center of the data, but also on the top or bottom of the distribution data. Quantile
regression does not assume homogenous residual variance and normality of the
error distribution.
GCM data which has multicolinearity can not be directly applied in SD
model. The methods that can be used to overcome multicollinearity are principal
component analysis (PCA) and shrinkage methods such as Least Absolute
Shrinkage and Selection Operator (LASSO) and ridge. PCA is the most commonly
used in SD modeling. PCA can reduce the dimension of GCM data and
multicollinearity. Shringkage method can eliminate multicolinearity and minimize
variance. The objectives of this study are modeling SD using quantile regression
with LASSO and PCA to predict extreme rainfall in Indramayu and to choose the
best SD model of both methods.
This research used the average monthly rainfall data from 11 climatological
stations in Indramayu from 1979 to 2008 as independent variable and precipitation
from GCM data as dependent variables. GCM data used is from Climate Model
Intercomparison Project (CMIP5) issued by KNMI, the Dutch from 1979 to 2008
with the position –18.75o – 1.25oS and 101.25o–116.25oE from the website
[Link] Training data starting from 1979 to 2007 and 2008
for testing data. Data analyzes were performed consisting of quantile regression
modeling with LASSO penalty and quantile regression modeling with PCA.
The result shows that the prediction of extreme rainfall in Indramayu with SD
models using quantile regression with LASSO is more consistent at any time
prediction compared to models using PCA. The best model is a linear quantile
regression (model using LASSO and 6×6 grid). The model has the highest quantile
verification skill scores (QVSS) and the the lowest root mean square error of
prediction (RMSEP) among the other models. For the model that using LASSO, it
shows that prediction of the model with a 6×6 grid has the lower RMSEP than 8×8
grid, while model that use PCA shows that there is not much difference between
the two size of grid. The estimation of extreme rainfall in Indramayu for one year
ahead provides the best estimates compare to all periods of analysis used.

Keywords: extreme rainfall, global circulation model, LASSO, quantile regression,


statistical downscaling,
© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2016
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau
menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB
PEMODELAN STATISTICAL DOWNSCALING DENGAN
REGRESI KUANTIL MENGGUNAKAN LASSO UNTUK
PENDUGAAN CURAH HUJAN EKSTRIM

DEWI SANTRI

Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains
pada
Program Studi Statistika

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016
Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: Dr Ir Muhammad Nur Aidi, MS
Judul Tesis : Pemodelan Statistical Downscaling dengan Regresi Kuantil
menggunakan LASSO untuk Pendugaan Curah Hujan Ekstrim
Nama : Dewi Santri
NIM : G151130031

Disetujui oleh

Komisi Pembimbing

Dr Ir Aji Hamim Wigena, MSc Dr Ir Anik Djuraidah, MS


Ketua Anggota

Diketahui oleh

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana


Statistika

Dr Ir Kusman Sadik, Msi Dr Ir Dahrul Syah, MScAgr

Tanggal Ujian: 31 Desember 2015 Tanggal Lulus:


PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas
segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Judul yang
dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Mei 2015 ini ialah
Pemodelan statistical downscaling dengan regresi kuantil menggunakan LASSO
untuk pendugaan curah hujan ekstrim.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr Ir Aji Hamim Wigena, MSc
dan Ibu Dr Ir Anik Djuraidah, MS selaku pembimbing, atas kesediaan dan
kesabaran untuk membimbing dan membagi ilmunya kepada penulis dalam
penyusunan tesis ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan sebesar-besarnya
kepada seluruh Dosen Departemen Statistika IPB yang telah mengasuh dan
mendidik penulis selama di bangku kuliah hingga berhasil menyelesaikan studi,
serta seluruh staf Departemen Statistika IPB atas bantuan, pelayanan, dan
kerjasamanya selama ini.
Ucapan terima kasih yang tulus dan penghargaan yang tak terhingga juga
penulis ucapkan kepada Ayahanda dan Ibunda tercinta La Hafili dan Wa Nia
yang telah membesarkan dan mendidik penulis dengan penuh kasih sayang demi
keberhasilan penulis selama menjalani proses pendidikan, juga kakak tersayang
beserta suami Rahmatia, SPd dan Saharudin, AMd serta keluarga besarku atas doa
dan semangatnya.
Terakhir tak lupa penulis juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh
mahasiswa Pascasarjana Departemen Statistika atas segala bantuan dan
kebersamaannya selama menghadapi masa-masa terindah maupun tersulit dalam
menuntut ilmu, serta semua pihak yang telah banyak membantu dan tak sempat
penulis sebutkan satu per satu.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.

Bogor, Maret 2016

Dewi Santri
DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi
DAFTAR GAMBAR vi
DAFTAR LAMPIRAN vi
1 PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Tujuan Penelitian 2
2 TINJAUAN PUSTAKA 2
Global circulation model (GCM) dan Statistical Downscaling (SD) 2
Regresi Kuantil 3
Least Absolute Shrinkage and Selection Operator (LASSO) 5
Validasi Silang 6
3 METODE 7
Data 7
Metode Analisis 7
4 HASIL DAN PEMBAHASAN 10
Deskripsi Data 10
Regresi Kuaantil dengan LASSO 11
Regresi Kuantil dengan Analisi Komponen Utama 14
Perbandingan SD Regresi Kuantil menggunakan LASSO dan Analisis
Komponen Utama 16
Validasi dan Uji Konsistensi Model LASSO 16
5 SIMPULAN DAN SARAN 18
Simpulan 18
Saran 18
DAFTAR PUSTAKA 18
LAMPIRAN 21
RIWAYAT HIDUP 46
DAFTAR TABEL
1 Deskripsi data curah hujan di Kabupaten Indramayu 10
2 Nilai lambda optimum untuk masing-masing model 11
3 Perbandingan nilai RMSEP di setiap panjang data pendugaan model SD
dengan regresi kuantil menggunakan LASSO dan AKU 16
4 Nilai RMSEP dan korelasi di setiap panjang data pendugaan model SD
dengan regresi kuantil menggunakan LASSO 17
5 Nilai korelasi pendugaan model SD dengan regresi kuantil menggunakan
LASSO untuk pendugaan curah hujan ekstrim 1 tahun ke depan 17

DAFTAR GAMBAR
1 Ilustrasi proses Statistical Downscaling 3
2 Diagram alir metode analisis 9
3 Diagram kotak garis curah hujan Kabupaten Indramayu 11
4 Nilai QVSS dari keenam model yang menggunakan LASSO untuk grid
8×8 dan grid 6×6 12
5 Nilai RMSEP dari keenam model yang menggunakan LASSO untuk grid
8×8 dan grid 6×6 13
6 Nilai prediksi dari Model M4 untuk metode LASSO pada grid 8×8 13
7 Nilai prediksi dari Model M1 untuk metode LASSO pada grid 6×6 13
8 Nilai QVSS dari keenam model yang menggunakan AKU untuk grid 8×8
dan grid 6×6 14
9 Nilai RMSEP dari keenam model yang menggunakan AKU untuk grid
8×8 dan grid 6×6 14
10 Nilai prediksi dari Model M2 untuk metode AKU pada grid 8×8 15
11 Nilai prediksi dari Model M1 untuk metode AKU pada grid 6×6 15

DAFTAR LAMPIRAN
1 Nilai λ dan CV untuk grid 8×8 21
2 Nilai λ dan CV untuk grid 6×6 21
3 Proporsi keragaman, proporsi kumulatif dan standar deviasi dari
komponen utama model linear menggunakan AKU untuk grid 8×8 22
4 Proporsi keragaman, proporsi kumulatif dan standar deviasi dari
komponen utama model kuadrat menggunakan AKU untuk grid 8×8 22
5 Proporsi keragaman, proporsi kumulatif dan standar deviasi dari
komponen utama model linear menggunakan AKU untuk grid 6×6 22
6 Proporsi keragaman, proporsi kumulatif dan standar deviasi dari
komponen utama model kuadrat menggunakan AKU untuk grid 6×6 23
7 Penduga parameter model M1 metode LASSO untuk grid 8×8 23
8 Penduga parameter model M2 metode LASSO untuk grid 8×8 24
9 Penduga parameter model M3 metode LASSO untuk grid 8×8 25
10 Penduga parameter model M4 metode LASSO untuk grid 8×8 26
11 Penduga parameter model M5 metode LASSO untuk grid 8×8 28
12 Penduga parameter model M6 metode LASSO untuk grid 8×8 29
13 Penduga parameter model M1 metode LASSO untuk grid 6×6 31
14 Penduga parameter model M2 metode LASSO untuk grid 6×6 32
15 Penduga parameter model M3 metode LASSO untuk grid 6×6 32
16 Penduga parameter model M4 metode LASSO untuk grid 6×6 33
17 Penduga parameter model M5 metode LASSO untuk grid 6×6 34
18 Penduga parameter model M6 metode LASSO untuk grid 6×6 35
19 Penduga parameter model M1 metode AKU untuk grid 8×8 36
20 Penduga parameter model M2 metode AKU untuk grid 8×8 36
21 Penduga parameter model M3 metode AKU untuk grid 8×8 37
22 Penduga parameter model M4 metode AKU untuk grid 8×8 37
23 Penduga parameter model M5 metode AKU untuk grid 8×8 37
24 Penduga parameter model M6 metode AKU untuk grid 8×8 38
25 Penduga parameter model M1 metode AKU untuk grid 6×6 38
26 Penduga parameter model M2 metode AKU untuk grid 6×6 38
27 Penduga parameter model M3 metode AKU untuk grid 6×6 39
28 Penduga parameter model M4 metode AKU untuk grid 6×6 39
29 Penduga parameter model M5 metode AKU untuk grid 6×6 39
30 Penduga parameter model M6 metode AKU untuk grid 6×6 40
31 Nilai QVSS dan RMSEP model yang menggunakan LASSO 40
32 Nilai QVSS dan RMSEP model yang menggunakan AKU 41
33 Nilai prediksi masing-masing model untuk metode LASSO grid 8×8 42
34 Nilai prediksi masing-masing model untuk metode AKU grid 8×8 43
35 Nilai prediksi masing-masing model untuk metode LASSO grid 6×6 44
36 Nilai prediksi masing-masing model untuk metode AKU grid 6×6 45
1 PENDAHULUAN

Latar Belakang

Curah hujan ekstrim adalah kondisi curah hujan di atas atau di bawah rata-
rata kondisi normalnya. Menurut BMKG (2008) curah hujan ekstrim adalah curah
hujan di atas 400 mm/bulan atau di atas 100 mm/hari. Dampak negatif dari
terjadinya curah hujan ekstrim salah satunya yang berkaitan dengan masalah di
bidang pertanian misalnya terjadinya gagal panen. Pada tahun 2010 produksi padi
mengalami penurunan akibat iklim ekstrim yaitu dari 1.58 juta ton di tahun 2009
menjadi sebesar 1.55 juta ton di tahun 2010 (BPS 2011). Hal ini menjadikan studi
tentang perubahan iklim sangat diperlukan untuk meminimumkan kerugian yang
mungkin terjadi.
Curah hujan merupakan kejadian kompleks yang melibatkan topografi dan
interaksi antara laut, darat dan atmosfir sehingga mempersulit prediksi curah hujan
itu sendiri. Oleh karena itu diperlukan model peramalan curah hujan yang akurat
pada skala lokal dengan mempertimbangkan informasi tentang sirkulasi atmosfir
global yang dapat diperoleh dari data luaran GCM (global circulation model).
(Handayani, 2014)
GCM tersusun atas rangkaian model-model numerik yang merepresentasikan
sejumlah komponen subsistem dari iklim bumi. GCM memiliki kemampuan untuk
melakukan simulasi iklim secara skala besar. Model ini diyakini sebagai model
penting dalam upaya memahami iklim di masa lampau, sekarang dan masa yang
akan datang (Wilby et al. 2009).
Data luaran GCM masih berskala global sehingga akan sulit untuk
memperoleh informasi yang berskala lokal (kabupaten atau kota). Agar dapat
menangani masalah tersebut diperlukan suatu metode untuk mentransformasi hasil
simulasi GCM pada skala global ke skala lokal. Pendekatan statistical downscaling
(SD) diyakini dapat menangani permasalahan rendahnya akurasi prediksi curah
hujan. Metode ini menghubungkan antara data luaran GCM dan curah hujan untuk
menduga perubahan pada skala lokal dengan menggunakan model regresi.
Informasi dari skala global dalam data luaran GCM akan diproyeksikan terhadap
informasi skala lokal stasiun cuaca.
Metode regresi yang dapat digunakan untuk menganalisis data yang
mengandung nilai ekstrim adalah regresi kuantil. Regresi kuantil tidak
membutuhkan asumsi parametrik dan bermanfaat untuk menganalisis bagian
tertentu dari suatu sebaran bersyarat (Buhai 2004). Kelebihan lain dari regresi
kuantil adalah efisien jika sisaan tidak menyebar normal dan kekar terhadap
pencilan. Hal tersebut membuat regresi kuantil banyak digunakan untuk
memodelkan data yang mengandung nilai ekstrim.
Pada data luaran GCM terdapat multikolinearitas atau antar peubah GCM
saling berkorelasi tinggi. Hal ini akan menyebabkan nilai dugaan parameter model
regresi menjadi tidak tepat. Oleh karena itu langkah pertama yang harus dilakukan
adalah mengatasi masalah multikolinearitas dalam data GCM tersebut.
Metode-metode yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah
multikolinearitas dalam SD antara lain metode analisis komponen utama (AKU),
metode shrinkage ridge dan Least Absolute Shrinkage and Selection Operator
2

(LASSO). Metode AKU merupakan metode yang paling sering digunakan. Metode
AKU dapat mereduksi dimensi dari GCM dan menangani masalah
multikolinearitas. Metode shringkage selain dapat menghilangkan
multikolinearitas juga dapat meminimumkan ragam penduga parameter dari model
regresi. Kelebihan LASSO dibandingkan metode ridge adalah LASSO dapat
menyusutkan koefisien penduga tepat nol sehingga dapat melakukan seleksi peubah
sehingga model lebih sederhana dan saling bebas (Hastie [Link] 1990).
Penelitian mengenai model SD dengan regresi kuantil sebelumnya telah
banyak dilakukan, antara lain Djuraidah dan Wigena (2011) menggunakan regresi
kuantil untuk mengeksplorasi curah hujan di Kabupaten Indramayu pada data yang
mengandung pencilan. Penelitian tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa regresi
kuantil dapat digunakan untuk mendeteksi kondisi-kondisi ekstrim, baik ekstrim
kering (kuantil ke-5) maupun ekstrim basah (kuantil ke-95). Mondiana (2012)
mengkaji pemodelan curah hujan ekstrim dengan menggunakan regresi kuantil
dengan reduksi peubah GCM menggunakan analisis komponen utama, namun
model yang dihasilkan belum dapat mengakomodasi dengan baik pengaruh
nonlinear. Keseluruhan dari penelitian tersebut menggunakan metode AKU dalam
pemodelan SD.
Pemodelan SD pada penelitian ini menggunakan regresi kuantil dengan
LASSO. Penambahan penalti LASSO dalam model regresi kuantil membuat
analisis SD menjadi lebih sederhana karena pemodelan SD dan penanganan
multikolinearitas data luaran GCM dapat dilakukan dalam satu kali tahapan. Selain
itu LASSO juga dapat secara simultan melakukan reduksi dimensi data luaran GCM
dan mengontrol ragam penduga koefisien pada regresi kuantil.

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini. yaitu :


1. Menentukan model curah hujan ekstrim di Kabupaten Indramayu dengan
pendekatan statistical downscaling menggunakan metode regresi kuantil
dengan LASSO dan AKU.
2. Menentukan model SD terbaik antara model yang menggunakan metode
LASSO dan AKU.

2 TINJAUAN PUSTAKA

Global Circulation Model (GCM) dan Statistical Downscaling (SD)

Global circulation model (GCM) merupakan alat terpenting dalam


memahami sistem iklim karena mampu memberikan informasi tentang pergeseran
iklim dari masa lampau sekarang dan di masa yang akan datang. GCM berskala
besar (global) atau memiliki resolusi yang rendah sehingga belum
memperhitungkan fenomena pada skala kecil (lokal). GCM membuat simulasi
peubah-peubah iklim global pada setiap grid (berukuran ±2,5° atau ±300 km2)
setiap lapisan (layer) atmosfir, yang selanjutnya digunakan untuk memprediksi
pola-pola iklim dalam jangka waktu tahunan (Wigena 2006).
Kelemahan model GCM dalam melakukan pendugaan adalah tingkat akurasi
prediksinya yang rendah. Kelemahan ini disebabkan oleh curah hujan yang
3

ditentukan oleh suatu proses fisika yang sangat rumit, sensitif, dan nonlinier yang
tidak dapat dimodelkan oleh GCM (Stockdale et al. 1998).

Gambar 1 Ilustrasi proses Statistical Downscaling (Sutikno 2008)

Model SD adalah suatu fungsi transfer yang menggambarkan hubungan


fungsional sirkulasi atmosfir global (hasil GCM) dengan unsur-unsur iklim lokal.
Pemilihan peubah-peubah prediktor dan penentuan domain (lokasi dan jumlah grid)
merupakan faktor kritis yang akan mempengaruhi kestabilan peramalan (Wilby dan
Wigley 2000). Model ini juga memerlukan data deret waktu yang homogen dalam
berbagai perubahan iklim. Model SD memberikan hasil yang baik dengan syarat
berikut: (1) Hubungan erat antara respon dengan prediktor yang menjelaskan
keragaman iklim lokal dengan baik, (2) Peubah prediktor disimulasi baik oleh
GCM, dan (3) Hubungan antara respon dengan prediktor tidak berubah dengan
perubahan waktu dan tetap sama meskipun ada perubahan iklim (Busuioc et al.
2001). Bentuk umum model SD, yaitu :
𝒚𝑡 = 𝑓(𝑿𝑡×𝑔 )
dengan,
𝒚𝑡 : peubah iklim lokal (curah hujan)
𝑿𝑡×𝑔 : peubah luaran GCM (presipitasi)
𝑡 : banyaknya waktu (bulanan)
𝑔 : banyaknya grid domain GCM

Regresi Kuantil

Regresi kuantil pertama kali dikemukakan oleh Koenker dan Bassett pada
tahun 1978. Regresi kuantil merupakan teknik statistika yang digunakan untuk
menduga hubungan antara peubah respon dengan peubah penjelas pada fungsi
kuantil bersyarat tertentu (Mondiana 2012). Metode ini merupakan suatu metode
4

regresi dengan pendekatan memisahkan atau membagi data menjadi kuantil-kuantil


tertentu yang kemungkinan memiliki nilai dugaan yang berbeda (Sari 2015)
Regresi kuantil meminimumkan galat mutlak terboboti dan menduga model
dengan menggunakan fungsi kuantil bersyarat pada suatu sebaran data. Metode
regresi kuantil tidak membutuhkan asumsi parametrik dan regresi kuantil sangat
bermanfaat untuk menganalisis bagian tertentu dari suatu sebaran bersyarat (Buhai
2004). Keuntungan utama dari regresi kuantil adalah efisien jika sisaan tidak
menyebar normal dan kekar terhadap adanya pencilan.
Untuk peubah acak 𝑌 dengan fungsi sebaran peluang
𝐹(𝑦) = 𝑃(𝑌 ≤ 𝑦)
kuantil ke-𝜏 dari 𝑌 didefenisikan sebagai fungsi invers 𝑄(𝜏) = inf⁡{𝑦, 𝐹(𝑦) ≥ 𝜏}
dengan 𝜏 ∈ (0,1), sebagai contoh median adalah 𝑄(0.5)
Untuk contoh acak berukuran 𝑛 dari peubah acak 𝑌 =(𝑦1 , … , 𝑦𝑛 ), median
contoh adalah penduga yang meminimumkan jumlah mutlak galat yaitu
𝑛

min ∑|𝑦𝑖 − 𝜉|
𝜉∈𝑅
𝑖=1
seperti halnya median contoh, metode ini bisa dikembangkan untuk model regresi
kuantil
𝒚 = 𝑿′ 𝜷 + 𝜺
dengan 𝒚 = (𝑦1 , … , 𝑦𝑛 )′ adalah vektor respon berukuran (𝑛 × 1), 𝑿 = (𝒙1 , … , 𝒙𝑝 )
adalah matriks peubah penjelas berukuran (𝑛 × 𝑝), 𝜷 = (𝛽1 , … , 𝛽𝑝 )′ adalah vektor
parameter berukuran (𝑝 × 1), dan 𝜺 = (𝜀1 , … , 𝜀𝑛 )′ adalah vektor galat berukuran
(𝑛 × 1). Regresi 𝐿1 disebut sebagai regresi median yang merupakan perluasan dari
median contoh. Penduga koefisien pada model regresi 𝐿1 merupakan solusi dari
minimisasi fungsi
𝑛

min ∑|𝑦𝑖 − 𝒙𝑖 ′𝜷|


𝜷∈𝑅
𝑖=1
Hubungan fungsional antara peubah respon dengan peubah penjelas pada
regresi kuantil merupakan hubungan fungsional antara kuantil bersyarat peubah
respon dengan peubah penjelas yang membentuk fungsi linier yaitu 𝑄(𝜏|𝑋 = 𝑥) =
𝑥′𝜷(𝜏). Menurut Koenker (2005), penduga regresi kuantil ke-𝜏 untuk 𝜏⁡𝜖⁡(0,1)
merupakan solusi dari masalah minimisasi fungsi
min [∑𝑖𝜖{𝑖|𝑦𝑖 ≥𝒙′𝒊 𝜷} 𝜏|𝑦𝑖 − 𝒙𝑖 ′𝜷| + ∑𝑖𝜖{𝑖|𝑦𝑖 <𝒙′𝒊 𝜷}(1 − 𝜏)|𝑦𝑖 − 𝒙𝑖 ′𝜷|] (3)
𝜷∈𝑅
Persamaan (3) memberikan bobot 𝜏 untuk seluruh pengamatan yang lebih
besar dari nilai optimum yang belum diketahui dan memberikan bobot (1 − 𝜏)
terhadap seluruh pengamatan yang lebih kecil dari nilai optimum. Persamaan (3)
kemudian dapat diringkas menjadi persamaan dengan ekspresi tunggal seperti pada
persamaan (4) berikut:
min ∑𝑛𝑖=1 𝜌𝜏 (𝑦𝑖 − 𝒙𝑖 ′𝜷) (4)
𝜷∈𝑅
dengan 𝜌𝜏 (𝑢) adalah fungsi kerugian yang tidak simetrik. Fungsi kerugian dapat
dijabarkan sebagai berikut:
𝜌𝜏 (𝑢) = ⁡𝑢(𝜏 − 𝐼(𝑢 < 0))⁡⁡⁡,⁡⁡⁡0 < 𝜏 < 1
dengan I(.) merupakan fungsi indikator, I(A) = 1 jika A benar dan I(A) = 0 selainnya.
5

Pendugaan dalam regresi kuantil diperoleh dengan menyelesaikan masalah


pemrograman linier. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk pendugaan
parameter regresi kuantil adalah metode simpleks.
Chen dan Wei (2005) mengemukakan tahapan dalam metode simpleks
sebagai berikut :
misalkan 𝝁⁡ = [𝒚 − 𝑿′𝜷]+ , 𝒗⁡ = [𝑿′ 𝜷 − 𝒚]+ , ∅ = [𝜷]+ , dan 𝝋 = [−𝜷]+ dengan
𝒚⁡ = (𝑦1 , , , 𝑦𝑛 )′, X merupakan matriks peubah penjelas dan [𝒛]+ adalah bagian
yang tidak negatif dari z.
Untuk kasus regresi median, pendekatan simpleks menyelesaikan masalah
𝑛

min ∑|𝑦𝑖 − 𝒙𝒊 ′𝜷|


𝛽∈𝑅
𝑖=1
dapat diselesaikan dengan :
min{𝒆′ 𝝁 + 𝒆′ 𝒗|𝒚 = 𝑿′ 𝜷 + 𝝁 − 𝒗}
𝛽
dimana 𝒆 adalah vektor satu berukuran 𝑛.
Misalkan 𝑩⁡ = [𝑿′ −𝑿′ 𝑰 −𝑰], 𝜽 = (∅′ , 𝝋′ , 𝝁′ , 𝒗′)′, dan 𝒅 = (𝟎′ , 𝟎′ 𝒆′ , 𝒆′)′,
dengan 𝟎′ = (𝟎, 𝟎 … 𝟎)p , perumusan ulang dari masalah model linier baku:
min 𝒅′𝜽
𝜃
dengan kendala 𝑩𝜽 = 𝒚, , 𝜽 ≥ 𝟎. Masalah ini memiliki bentuk ganda yaitu
max𝑧 𝒚′𝒛, dengan kendala 𝑩′𝒛 ≤ 𝒅, yang dapat disederhanakan menjadi
max⁡𝒚′𝒛| 𝑿𝒛 = 𝟎
𝑧
′ 𝟏 𝟏 𝟏
Jika 𝜼 = 𝟐 𝒛 + 𝟐 𝒆, 𝒃 = 𝟐 𝑿𝒆, maka rumusan menjadi
max𝜂′ {𝒚′𝜼|𝑿𝜼 = 𝒃}
Untuk regresi kuantil, masalah minimisasi adalah
𝑛

min𝛽 ∑ 𝜌𝜏 (𝑦𝑖 − 𝒙𝒊 ′𝜷)


𝑖=1
dan analog dengan tahapan sebelumnya, rumusan masalah menjadi
max𝛽 ⁡𝒚′𝒛| 𝑿𝒛 = (1 − 𝜏)𝑿𝒆
Penilaian kebaikan model dilakukan dengan menghitung Quantile
Verification Skill Score (QVSS). QVSS didefinisikan sebagai berikut :
∑𝑛𝑖=1 𝜌𝜏 |𝑦𝑖 − 𝛽̂𝜏𝑇 𝑥𝑖 |
𝑄𝑉𝑆𝑆 = 1 − 𝑛
∑𝑖=1 𝜌𝜏 |𝑦𝑖 − 𝑄𝜏 (𝑦)|
dengan 𝑄𝜏 (𝑦) merupakan kuantil ke-𝜏 dari 𝑦. Nilai QVSS berada pada selang [0,1].
Nilai QVSS yang mendekati 1 mengindikasikan bahwa model memiliki
kemampuan ramalan yang baik dan jika nilai QVSS yang mendekati 0
mengindikasi model memiliki kemampuan ramalan yang kurang baik.

Least Absolute Shrinkage and Selection Operator (LASSO)

Metode Least Absolute Shrinkage and Selection Operator (LASSO)


diperkenalkan pertama kali oleh Tibshirani pada tahun 1996. LASSO adalah
metode penalti alternatif dari metode kuadrat terkecil yang berfungsi dalam
penyeleksian peubah dan menghindari masalah overfitting.
Penduga koefisien LASSO 𝛽 𝐿𝐴𝑆𝑆𝑂 juga dapat ditulis dalam persamaan
Lagrangian berikut:
6

1 𝑝 2 𝑝
𝛽̂ 𝐿𝐴𝑆𝑆𝑂 = min ∑𝑁 𝑖=1 2 (𝑦𝑖 − 𝛽0 − ∑𝑗=1 𝑥𝑖𝑗 𝛽𝑗 ) + 𝜆 ∑𝑗=1|𝛽𝑗 |
Sedangkan pada penduga regresi kuantil ke-𝜏 untuk 𝜏⁡𝜖⁡(0,1) setelah ditambahkan
penalti LASSO dapat ditulis sebagai berikut
min ∑𝑛𝑖=1 𝜌𝜏 (𝑦𝑖 − 𝒙𝒊 ′𝜷) + 𝜆 ∑𝑝𝑗=1|𝛽𝑗 | (5)
𝜷∈𝑅
dengan 𝜆 adalah parameter penalti (regularizer) yang mengontrol besarnya
penyusutan. Salah satu cara untuk mencari nilai 𝜆 yang optimal adalah dengan
menggunakan metode cross validation (CV). Nilai 𝜆 yang optimal adalah 𝜆 dengan
nilai CV terkecil. Jika 𝜆 = 0, maka maka penduga LASSO memberikan hasil yang
sama dengan penduga kuadrat terkecil. Jika 𝜆 dinaikkan, maka nilai mutlak dugaan
koefisiennya menjadi semakin kecil menuju nol untuk 𝜆 menuju tak hingga dan
memungkinkan beberapa koefisien tepat nol, sehingga dapat berfungsi sebagai
seleksi peubah.
Least Angle Regression (LAR) merupakan suatu metode regresi yang
algoritmanya dapat dimodifikasi menjadi algoritma komputasi untuk metode
LASSO. Modifikasi dari LAR untuk LASSO menghasilkan efisiensi algoritma
dalam menduga koefisien LASSO dengan komputasi yang lebih cepat
dibandingkan pemrograman kuadratik. Algoritma LAR untuk melakukan
pendugaan koefisien dari LASSO adalah sebagai berikut (Hastie et al. 1990):
1. Membakukan peubah bebas sehingga memiliki nilai tengah nol dan ragam satu.
Dimulai dengan sisaan 𝑟⁡ = ⁡𝑦 − 𝑦̅ , dan 𝛽1 , 𝛽2 , …⁡, 𝛽𝑝 = 0⁡. Pembakuan ini
dimaksudkan agar dapat membandingkan dugaan koefisien regresi yang
memiliki ragam yang berbeda dalam suatu model.
2. Mencari peubah bebas 𝑥𝑗 yang paling berkorelasi dengan 𝑟.
3. Mengubah nilai 𝛽𝑗 dari 0 bergerak menuju koefisien kuadrat terkecil (𝑥𝑗 , 𝑟),
sampai kompetitor 𝑥𝑘 ⁡yang lain memiliki korelasi yang cukup dengan sisaan
akibat 𝑥𝑗 .
4. Mengubah nilai 𝛽𝑗 dan 𝛽𝑘 bergerak ke arah koefisien kuadrat terkecil bersama
dari sisaan sekarang dengan (𝑥𝑗 , 𝑥𝑘 ) sampai kompetitor 𝑥𝑙 yang lain memiliki
korelasi yang cukup dengan sisaan akibat (𝑥𝑗 , 𝑥𝑘 )
5. Jika koefisien bukan nol mencapai nilai nol, keluarkan peubah tersebut dari
gugus peubah aktif dan hitung kembali arah kuadrat terkecil bersama.
6. Mengulang langkah nomor 4 sampai semua 𝑝 peubah bebas dimasukkan.
Setelah min (𝑁 − 1, 𝑝)⁡langkah, solusi model penuh untuk kuadrat terkecil
diperoleh.

Validasi Silang

Setiap metode regulasi memiliki koefisien penalti yang berfungsi untuk


mengontrol jumlah regulasi yang ada. Hal ini juga dapat menentukan seberapa baik
model yang terbentuk. Terdapat beberapa metode pemilihan model terbaik yang
dapat digunakan antara lain nilai Cp Mallows, validasi silang atau Cross Validation
(CV), dan validasi silang terampat atau Generalized Cross Validation (GCV).
Metode validasi silang paling baik digunakan untuk menangani masalah over
fitting. Ide utama dari metode ini adalah tidak menggunakan semua data yang ada
dalam membangun model dan menyisakan sebagian data untuk validasi. Metode ini
juga merupakan cara paling sederhana dan intuitif untuk menduga sisaan prediksi.
7

Salah satu metode tipe validasi silang adalah k-fold. Pada metode ini semua
data dibagi secara acak ke dalam k bagian atau folds dengan 𝑘 = 1, . . . , 𝐾. Fold ke-
k digunakan sebagai validasi (testing) dan sisanya digunakan untuk membangun
model (training), iterasi ini berulang sampai K kali. Pada saat 𝐾 = 𝑛 metode ini
disebut validasi silang leave-one-out.
Prosedur dari validasi silang k-fold adalah sebagai berikut:
1. Bagi data set {1, … , 𝑛} secara acak menjadi k- fold yang sama besar, 𝐹1 , … , 𝐹𝐾
2. Untuk 𝑘 = 1, . . . , 𝐾:
 Gunakan (𝒙𝑖 , 𝒚𝑖 ) , 𝑖 ∉ 𝐹𝑘 sebagai data training dan 𝒙𝑖 , 𝒚𝑖 ) , 𝑖 ∈ 𝐹𝑘
sebagai data testing.
−𝑘
 Untuk masing-masing parameter 𝜆 ∈ {𝜆1 , … , 𝜆𝑚 }, hitung nilai 𝛽̂𝜆 pada
data training serta hitung jumlah sisaan pada data testing:
−𝑘
𝑒𝑘 (𝜃) = ∑ (𝑦𝑖 − 𝛽̂𝜆 (𝑦𝑖 ))⁡2
𝑖∉𝐹𝑘
3. Untuk setiap nilai 𝜆, hitung rata-rata sisaan dari semua fold,
𝐾 𝐾
1 1 −𝑘
𝐶𝑉(𝜃) = ∑ 𝑒𝑘 (𝜃) = ∑ ∑ (𝑦𝑖 − 𝛽̂𝜆 (𝑦𝑖 ))⁡2
𝑛 𝑛
𝑘=1 𝑘=1 𝑖∉𝐹𝑘
4. Nilai 𝜆 terbaik adalah 𝜆 dengan nilai CV paling kecil.

3 METODE

Data

Data luaran GCM yang digunakan adalah data presipitasi bulanan Climate
Model Intercomparison Project (CMIP5) yang dikeluarkan oleh KNMI. Belanda
dari situs web [Link] pada tahun 1979 sampai dengan 2008
dengan posisi wilayah –18.75o – 1.25oLS dan 101.25o – 116.25oBT. Data curah
hujan lokal yang digunakan adalah data rata-rata curah hujan di Kabupaten
Indramayu Propinsi Jawa Barat yang diukur dari 11 stasiun klimatologi yakni
stasiun Karang Anyar, Pusakanegara, Tulang Kacang, Juntinyuat, Losarang,
Dempet, Indramayu, Krangkeng, Sukadana, Karangkendal dan Gegesik.

Metode Analisis

1. Eksplorasi Data
a. Mendeskripsikan data curah hujan di Kabupaten Indramayu dengan statistika
deskriptif
b. Mengidentifikasi data curah hujan ekstrim dengan diagram kotak garis, data
curah hujan yang berada di luar kotak garis merupakan curah hujan ekstrim.
c. Membagi data curah hujan di Kabupaten Indramayu menjadi dua yaitu curah
hujan tahun 1979 sampai tahun 2007 sebagai data training dan curah hujan
tahun 2008 sebagai data testing.

2. Pemodelan SD menggunakan regresi kuantil dengan LASSO


8

a. Memilih nilai koefisien penalti (𝜆 ) yang optimum dengan menggunakan


metode cross validation (CV), nilai lambda dengan nilai CV terkecil
merupakan nilai lambda optimum.
b. Memodelkan data curah hujan di Kabupaten Indramayu dengan data luaran
GCM dengan menggunakan nilai lambda optimum.

3. Pemodelan SD menggunakan regresi kuantil dengan AKU


a. Mereduksi dimensi peubah penjelas (data GCM) yang bersesuaian dengan
curah hujan ekstrim menggunakan analisis komponen utama (AKU)
b. Memodelkan regresi kuantil dengan peubah respon curah hujan di Indramayu
dan peubah prediktor skor KU.

4. Validasi dan Uji Konsistensi Model


a. Menghitung nilai root mean square error of prediction (RMSEP)
1 n
menggunakan formula RMSEP    yi  yˆ i 2 . Semakin kecil nilai
n i 1
RMSEP, maka semakin kecil perbedaan antara nilai dugaan dengan nilai
aktual, yang berarti model yang dibentuk semakin akurat dalam menghasilkan
nilai dugaan
b. Menghitung nilai korelasi antara curah hujan ekstrim dengan nilai dugaan
n
 n  n 
n y i yˆ i    y i   yˆ i 
menggunakan formula r 
i 1  i 1  i 1  yang
 n
 n
 
2 n
 n
 
2

n y i2    y i   n yˆ i2    yˆ i  
 i 1  i 1    i 1  i 1  
menunjukkan keeratan hubungan antara nilai dugaan dengan nilai aktualnya.
Semakin besar (dan positif) nilai korelasi maka semakin kuat hubungan antara
nilai dugaan dan nilai aktualnya, yang berarti pola nilai dugaan semakin
mendekati pola data aktualnya (Draper & Smith 1981)
9

Gambar 2 Diagram alir metode analisis

Jumlah model yang akan dibangun pada penelitian ini sebanyak 6 model yang
terdiri dari:
1. M1 adalah model regresi kuantil linear
2. M2 model regresi kuantil linear dengan tambahan peubah boneka pada setiap
bulan
3. M3 model regresi kuantil linear dengan tambahan peubah boneka untuk empat
bulanan. Model ini didasarkan pada penelitian Sutikno (2008) yang mengatakan
bahwa curah hujan dibagi dalam 4 kelompok bulan yakni bulan basah (Januari,
Februari, Desember), kelompok bulan peralihan bulan basah ke bulan kering
(Maret,April dan Mei), kelompok bulan kering (Juni, Juli dan Agustus) dan
kelompok bulan peralihan bulan kering ke bulan basah (September, Oktober dan
November) sehingga untuk menampung informasi tersebut bisa ditambahkan
peubah boneka dalam model sesuai dengan kelompok bulan yang ada.
4. M4 model regresi kuantil kuadratik, model ini didasari oleh penelitian Djuraidah
dan Wigena (2011) yang mengatakan curah hujan bulanan di Indramayu
memiliki pola kuadratik.
5. M5 model regresi kuantil kuadratik dengan penambahan peubah boneka untuk
setiap bulan.
6. M6 model regresi kuantil kuadratik dengan penambahan peubah boneka untuk
empat bulanan.
10

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Data

Deskripsi data curah hujan bulanan untuk Kabupaten Indramayu perlu


dilakukan sebagai informasi awal untuk mengetahui karakteristik dan pola curah
hujan yang digunakan untuk analisis berikutnya. Tabel 1 menunjukkan deskripsi
data curah hujan di Kabupaten Indramayu. Menurut Haryoko (2004), musim
kemarau mulai pada bulan April - September dan musim hujan berada antara
Oktober – Maret. Dapat dilihat pada Tabel 1 bahwa bulan-bulan yang termasuk
dalam musim hujan rata-rata memiliki curah hujan yang relatif tinggi akan tetapi
terjadi pergeseran musim dimana musim hujan baru terjadi pada bulan November
yang seharusnya sudah terjadi pada bulan Oktober. Pergeseran juga terjadi pada
musim kemarau yakni pada bulan April yang seharusnya tidak terjadi curah hujan
yang tinggi ternyata memiliki curah hujan yang tinggi. Rata-rata curah hujan
tertinggi terjadi pada bulan Januari dengan intensitas 308.8 mm. Simpangan baku
tertinggi terjadi pada bulan januari yaitu 126.3 mm yang menunjukkan bahwa pada
bulan january memiliki tingkat keragaman curah hujan yang tinggi. Koefisien
kemiringan untuk semua bulan lebih dari nol yang menandakan bahwa sebaran data
pengamatan tidak normal dan menjulur ke kanan, artinya nilai rata-rata lebih besar
dari median dan modus. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat curah hujan
ekstrim pada data data pengamatan.

Tabel 1 Deskripsi data curah hujan di Kabupaten Indramayu


Bulan Rataan Simpangan Baku Minimum Maksimum kemiringan
Jan 308.8 126.3 78.7 582.6 0.53
Feb 226.8 106.9 89.8 521.3 1.14
Mar 161.2 57.2 75.7 280.1 0.67
Apr 141.24 46.49 54.47 245.67 0.31
May 86.43 46.09 6.40 185.67 0.24
Jun 62.11 41.24 9.93 166.87 0.75
Jul 30.66 33.55 0.00 153.33 2.01
Aug 14.62 16.52 0.00 58.20 1.42
Sep 16.94 21.76 0.00 66.00 1.33
Oct 63.76 51.07 0.07 165.60 0.34
Nov 148.2 83.5 17.5 346.2 0.82
Dec 210.6 62.4 122.7 402.2 1.36

Gambar 3 merupakan diagram kotak garis dari data curah hujan di Kabupaten
Indramayu menunjukkan bahwa pada bulan Februari, Juli, Agustus, September,
November dan Desember terdapat curah curah hujan bulanan yang lebih tinggi dari
kondisi normalnya hal ini membuktikan bahwa curah hujan di Indramayu
terindikasi terjadi curah hujan ekstrim. Gambar 3 juga menunjukkan bahwa data
curah hujan di Kabupaten Indramayu merupakan tipe monsunal karena memiliki
pola sinusoidal dimana terdapat satu puncak terendah. Menurut Tjasjono (1999)
dalam Pribadi (2012) tipe seperti ini dipengaruhi oleh angin monsoon. Angin
11

monsoon adalah angin yang sangat mempengaruhi pola cuaca di daerah tropis dan
berkaitan dengan musim hujan dan musim kemarau.

600

500

Curah Hujan (mm/bulan) 400

300

200

100

Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des
Bulan

Gambar 3 Diagram kotak garis curah hujan Kabupaten Indramayu

Regresi Kuantil dengan LASSO

Korelasi tertinggi antar peubah GCM adalah sebesar 0.99 yang terletak pada
grid 75 dan grid 65 di mana kedua grid ini saling berdekatan. Semakin dekat letak
antar grid maka akan memiliki korelasi yang semakin tinggi dan sebaliknya
semakin jauh letak antar grid maka korelasinya akan semakin kecil.
Kendala yang sering dihadapi oleh peneliti adalah tentang penetuan luasan
grid dari data GCM. Terlalu sempit luasan grid/domain yang digunakan akan
mengurangi informasi pengaruh global/regional. Sebaliknya, luasan grid yang
terlalu luas menyebabkan informasi lokal akan berkurang (Sutikno 2008). Oleh
karena itu pada penelitian ini juga akan dicobakan jumlah grid yang lebih kecil dari
grid 8×8 yaitu 6×6 grid. Hasil prediksi dari kedua jumlah grid tersebut
dibandingkan untuk mengetahui jumlah grid mana yang memiliki tingkat ketepatan
prediksi yang lebih baik.
Langkah pertama yang dilakukan adalah mencari nilai lambda optimum dari
LASSO dengan menggunakan metode validasi silang. Nilai lambda optimum yang
diperoleh untuk Model M1 yaitu sebesar 0.35 dengan nilai CV sebesar 38.75. Tabel
2 adalah nilai lambda optimum dari LASSO pada masing-masing model pada kedua
ukuran luasan grid.

Tabel 2 Nilai lambda optimum untuk masing-masing model


Model Lambda optimum
Grid 8×8 Grid 6×6
M1 0.35 21.14
M2 0.22 0.41
M3 1.10 21.63
M4 94.70 0.45
M5 6.92 0.49
M6 94.70 0.45
12

Pemodelan data dilakukan dengan menggunakan nilai lamda optimum dari


masing-masing model dan akan dihitung nilai QVSS dan RMSEP dari tiap model.
Gambar 4 menunjukkan bahwa untuk grid 8×8 nilai QVSS tertinggi ada pada
Model M4 (kuantil kuadratik), model dengan nilai QVSS tertinggi adalah model
terbaik. Nilai RMSEP dari Model M4 dapat dilihat pada gambar 5 yaitu 71.85 untuk
kuantil ke 75, 103.88 untuk kuantil ke 90 dan 135.56 untuk kuantil 95. Nilai
RMSEP ini relatif kecil jika dibandingkan dengan model lainnya. Sedangkan pada
grid 6×6 model M1 memiliki nilai QVSS tertinggi (Gambar 4) dan memiliki nilai
RMSEP terendah, sehingga diperoleh model terbaik adalah Model M4 pada grid
8×8 dan M1 pada grid 6×6. Diketahui kedua model tersebut merupakan model yang
tidak memiliki peubah boneka. Hal ini mengindikasikan bahwa penambahan
peubah boneka atau pengelompokan bulan tidak memberikan pengaruh yang
signifikan terhadap kebaikan hasil prediksi. Hal ini juga terjadi pada penelitian
Mondiana (2012) dimana model terbaik yang didapatkan adalah model tanpa
peubah boneka. Secara grafis juga dapat dilihat pada gambar 5 bahwa nilai RMSEP
model pada grid 6×6 cenderung lebih kecil dibandingkan model pada grid 8×8
sehingga dapat dikatakan bahwa grid 6×6 memiliki ketepatan prediksi yang lebih
baik dibandingkan dengan model pada grid 8×8.
Prediksi curah hujan untuk tahun 2008 dilakukan dengan menggunakan
model terbaik. Gambar 6 adalah hasil prediksi curah hujan oleh model M4 dengan
jumlah grid 8×8 . Pada Model M4 dapat dilihat bahwa curah hujan ekstrim pada
bulan februari dapat diprediksi dengan baik oleh Model M4 pada kuantil ke 95.
Bulan Februari merupakan intensitas curah hujan tertinggi yang terjadi di tahun
2008 dengan nilai 439 mm/bulan. Nilai ini dapat diestimasi dengan baik oleh
prediksi pada kuantil ke-90 yakni 429.177 mm/bulan. Model M1 juga dapat
menduga curah hujan pada bulan Januari dan Maret dengan baik. Secara umum,
untuk bulan-bulan yang berada di musim kemarau (April-September), nilai prediksi
pada kuantil ke-75, ke-90, dan ke-95 lebih tinggi dari nilai aktual, namun mampu
mengikuti pola curah hujan aktual dengan baik. Hal yang sama terjadi pada model
terbaik yang menggunakan grid 6×6 (Model M1) pada gambar 7 dimana curah
hujan pada bulan januari dan maret dapat diprediksi dengan baik oleh Model M1
pada kuantil ke 90.

0,7

0,6

0,5

0,4
QVSS

q75
0,3 q90
0,2 q95

0,1

0
M1 M2 M3 M4 M5 M6 M1 M2 M3 M4 M5 M6
grid 8x8 grid 6x6

Gambar 4 Nilai QVSS dari keenam model yang menggunakan LASSO untuk grid
8×8 dan grid 6×6
13

180
160
140
120
RMSEP 100
q75
80
q90
60
q95
40
20
0
M1 M2 M3 M4 M5 M6 M1 M2 M3 M4 M5 M6
grid 8x8 grid 6x6

Gambar 5 Nilai RMSEP keenam model yang menggunakan LASSO untuk grid 8×8
dan grid 6×6

500
Curah Hujan (mm/bulan)

450
400
350
300 tau= 0.95
250
tau= 0.90
200
150 tau= 0.75
100 aktual
50
0
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sept Okt Nov Des
Bulan

Gambar 6 Nilai prediksi dari Model M4 untuk metode LASSO pada grid 8×8

500
450
Curah Hujan (mm/bulan)

400
350
300 tau= 0.95
250
tau= 0.90
200
150 tau= 0.75
100 aktual
50
0
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sept Okt Nov Des
Bulan

Gambar 7 Nilai prediksi dari Model M1 untuk metode LASSO pada grid 6×6
14

Regresi Kuantil dengan Analisis Komponen Utama

Langkah pertama yang dilakukan sebelum memodelkan regresi kuantil adalah


melakukan reduksi dimensi GCM dengan menggunakan AKU. Pemilihan jumlah
komponen utama yang digunakan dengan menggunakan kriteria ragam kumulatif
dari komponen utama (KU). Jumlah KU yang terpilih adalah KU dengan ragam
kumulatif yang lebih dari 95%. Sama halnya dengan metode LASSO kriteria
pemilihan model terbaik pada metode AKU juga menggunakan nilai QVSS, model
dengan nilai QVSS tertinggi merupakan model terbaik. Gambar 8 menunjukkan
nilai QVSS masing-masing model untuk jumlah grid 8×8 dan grid 6×6. Pada jumlah
grid 8×8 model terbaik ada pada Model M5 sedangkan pada jumlah grid 6×6 model
terbaik ada pada Model M1. Gambar 9 juga menunjukkan bahwa RMSEP antara
model yang menggunakan grid 8×8 dan grid 6×6 tidak menunjukkan perbedaan
yang signifikan sehingga tidak bisa diketahui jumlah grid yang paling baik untuk
model yang menggunakan metode AKU.

0,8
0,7
0,6
0,5
QVSS

0,4 q75

0,3 q90
q95
0,2
0,1
0
M1 M2 M3 M4 M5 M6 M1 M2 M3 M4 M5 M6
grid 8x8 grid 6x6

Gambar 8 Nilai QVSS dari enam model yang menggunakan AKU untuk grid 8×8
dan grid 6×6

140

120

100
RMSEP

80
q75
60 q90
40 q95

20

0
M1 M2 M3 M4 M5 M6 M1 M2 M3 M4 M5 M6
grid 8x8 grid 6x6

Gambar 9 Nilai RMSEP dari enam model yang menggunakan AKU untuk grid 8×8
dan grid 6×6
15

Prediksi curah hujan untuk tahun 2008 dengan menggunakan model terbaik.
Gambar 10 adalah hasil prediksi curah hujan untuk model dengan jumlah grid 8×8
(Model M2) dan gambar 11 untuk hasil prediksi curah hujan model yang
menggunakan grid 6×6 (Model M1). Dapat dilihat pada gambar 10 bahwa prediksi
M2 menunjukkan pola yang sedikit berbeda dari curah hujan sebenarnya dimana
prediksi bulan Februari lebih rendah dari bulan Januari. M1 pada grid 6×6
menunjukkan pola prediksi yang lrbih baik dari M2 pada grid 8 × 8 dimana M1
dapat mengkuti pola data aktual dengan baik. M1 juga dapat menduga curah hujan
pada bulan Januari, Februari dan Maret dengan baik.

600
Curah Hujan (mm/bulan)

500

400
tau= 0.95
300
tau= 0.90
200 tau= 0.75
aktual
100

0
jan feb mar apr mei jun jul agu sept okt Nov Des
Bulan

Gambar 10 Nilai prediksi dari Model M2 untuk metode AKU pada grid 8×8

500
450
400
curah hujan (mm/bulan)

350
300
tau= 0.95
250
tau= 0.90
200
tau= 0.75
150
aktual
100
50
0
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sept Okt Nov Des
Bulan

Gambar 11 Nilai prediksi dari Model M1 untuk metode AKU pada grid 6×6
16

Perbandingan SD Regresi Kuantil menggunakan LASSO dan Analisis


Komponen Utama

Perbandingkan hasil prediksi dari model SD yang menggunakan metode


LASSO dan yang menggunakan metode AKU dapat dilihat dari nilai RMSEP.
Menurut Hastie et all (1990), pada dasarnya ketepatan hasil prediksi yang diperoleh
dari regresi LASSO dan AKU saling berkompetisi. Salah satu kelebihan metode
LASSO dibandingkan AKU terletak pada model yang dihasilkan dimana model
yang menggunalan LASSO lebih sederhana dan mudah diinterpretasi. Acharjee
(2013) juga membandingkan regresi LASSO dan AKU dengan menggunakan
kriteria RMSEP dimana diketahui bahwa regresi LASSO memiliki nilai RMSEP
yang lebih rendah dibandingkan dengan regresi AKU. Pada kasus ini diketahui
bahwa nilai RMSEP model yang menggunakan metode LASSO dan AKU tidak
berbeda signifikan atau cenderung sama. Tabel 3 adalah perbandingan nilai RMSEP
dari kedua metode untuk panjang data yang berbeda. Dapat diketahui bahwa nilai
RMSEP dari LASSO khususnya pada kuantil 90 memiliki standar deviasi yang
kecil, hal ini menunjukkan bahwa model LASSO khususnya model pada kuantil ke
90 memiliki hasil prediksi yang lebih konsisten dibandingkan dengan model yang
menggunakan metode AKU.

Tabel 3 Perbandingan nilai RMSEP di setiap panjang data pendugaan model SD


dengan regresi kuantil menggunakan LASSO dan AKU
Data Data RMSEP
Model Validasi
LASSO AKU
Q90 Q95 Q90 Q95
1979-2007 2008 90.71 118.92 91.70 110.46
1979-2006 2007-2008 89.48 119.99 115.36 121.73
1979-2005 2006-2008 95.30 133.62 102.93 126.45
1979-2004 2005-2008 98.95 147.50 110.68 133.21
1979-2003 2004-2008 106.32 141.30 116.37 136.53
Standar deviasi 6.82 11.35 10.26 10.28

Validasi dan Uji Konsistensi Model LASSO

Validasi adalah tahapan untuk memperoleh gambaran tentang keakuratan


dugaan model tersebut. Tabel 4 menunjukan bahwa semakin panjang data yang
akan diduga maka akan menghasilkan nilai RMSEP yang semakin besar pula dan
nilai korelasi data curah hujan aktual dan curah hujan prediksi akan semakin
mengecil, meskipun tidak menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan. Model
SD dengan regresi kuantil menggunakan LASSO yang memberikan nilai RMSEP
terkecil, sekaligus nilai korelasi terbesar pada pendugaan data curah hujan ekstrim
untuk 1 tahun ke depan.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa pendugaan model SD dengan regresi
kuantil menggunakan LASSO sangat baik digunakan untuk menduga curah hujan
17

ekstrim di Kabupaten Indramayu untuk 1 tahun ke depan karena memiliki korelasi


yang tinggi serta nilai RMSE dan RMSEP yang rendah. Namun, perlu
diperhitungkan lagi kekonsistenan model yang dihasilkan tersebut untuk setiap
waktu pendugaan yang berbeda.

Tabel 4 Nilai RMSEP dan korelasi di setiap panjang data pendugaan model SD
dengan regresi kuantil menggunakan LASSO
Data
Data Dugaan Kuantil ke 𝜏 RMSE RMSEP Korelasi
Historis
75 73.47 68.71 0.94
29 th 1 th 90 105.73 90.71 0.94
95 129.66 118.92 0.90
75 73.58 67.53 0.87
28 th 2 th 90 107.41 89.48 0.90
95 133.66 119.99 0.87
75 73.70 69.04 0.87
27 th 3 th 90 106.79 95.30 0.89
95 141.54 133.62 0.86
75 74.10 67.47 0.86
26 th 4 th 90 106.69 98.95 0.87
95 151.54 147.50 0.84

Konsistensi model SD dengan regresi kuantil menggunakan LASSO dapat


diketahui dari hasil pendugaan yang konsisten pada berbagai waktu pendugaan.
Model SD akan memberikan hasil yang baik jika hubungan antara peubah respon
dengan peubah penjelas tidak berubah dengan perubahan waktu dan tetap sama
meskipun ada perubahan iklim, atau model SD tetap konsisten dalam pendugaannya
pada waktu-waktu yang berbeda (Wigena 2006). Nilai korelasi untuk setiap data
historis yang tercantum pada Tabel 5 berikut.
Tabel 5 Nilai korelasi pendugaan model SD dengan regresi kuantil menggunakan
LASSO untuk pendugaan curah hujan ekstrim 1 tahun ke depan
Data Historis Data Dugaan Kuantil ke - 𝜏 Korelasi
75 0.94
1979-2007 2008 90 0.94
95 0.90
75 0.91
1979-2006 2007 90 0.93
95 0.86
75 0.87
1979-2005 2006 90 0.90
95 0.84
75 0.85
1979-2004 2005 90 0.88
95 0.84
18

Berdasarkan hasil di atas diperoleh nilai simpangan baku dari nilai korelasi
pada setiap waktu pendugaan untuk masing-masing kuantil yang sangat kecil yaitu
sebesar 0.04 untuk kuantil ke 75, 0.02 untuk kuantil ke 90 dan 0.03 untuk kuantil
ke 95 yang menunjukkan bahwa model yang dihasilkan dapat dikatakan cukup
konsisten dalam menghasilkan nilai dugaan 1 tahun ke depan.

5 SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil analisis curah hujan ekstrim di Kabupaten Indramayu,


dapat disimpulkan bahwa :
1. Curah hujan ekstrim di Kabupaten Indramayu pada bulan basah Januari dan
Maret dapat diprediksi baik dengan model yang menggunakan metode LASSO
pada kuantil ke 90 sedangkan pada bulan-bulan lainnya nilai prediksi curah
hujan cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan nilai aktualnya tetapi model
yang didapatkan dapat mengikuti pola data curah hujan yang sebenarnya.
2. Berdasarkan kriteria RMSEP model yang menggunakan metode LASSO untuk
jumlah grid 6×6 menghasilkan nilai prediksi yang lebih baik dibandingkan grid
8×8 sedangkan untuk model yang menggunakan metode AKU tidak ada
perbedaan nilai prediksi antara kedua jumlah grid.
3. Pemodelan statistical downscaling dengan regresi kuantil menggunakan
LASSO untuk data curah hujan di Kabupaten Indramayu menghasilkan nilai
prediksi yang lebih konsisten terhadap perubahan waktu jika dibandingkan
dengan model regresi komponen utama berdasarkan kriteria RMSEP

Saran

Pada penelitian ini, statistical downscaling dengan regresi kuantil


menggunakan metode shringkage LASSO untuk penelitian selanjutnya dapat
dicobakan pemodelan statistical downscaling dengan regresi kuantil menggunakan
metode shringkage RIDGE untuk mengetahui perbandingan prediksi dari kedua
metode tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Acharjee A, Finkers R, Visser RGF, Maliepaard C. 2013. Comparison of


regularized regression methods for omics data. Metabolomics 3:126.
Bergant K, Bogotaj L.K, Crepinsek Z. 2002. The use of EOF analysis for preparing
the phenological and climatological data for statistical downscaling - case
study: the beginning of flowering of the dandelion (Taraxacum officinale) in
Slovenia. International Journal Climatology.
19

[BMKG] Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. 2011. Perubahan Iklim


dan Dampaknya di Indonesia.
[BPS]. Badan Pusat Statistik. 2011. Indramayu dalam Angka 2011. Indramayu :
BPS Kabupaten Indramayu.
Bremnes J.B. 2004. Probabilistic forecast of prepicipitation in terms of quantile
using NWP model output. Monthly Weather Review. 338-347.
Buhai S. 2004. Quantile regression overview and selected application. Ad Astra.
4:1-17
Busuoic A, Chen D, Hellstrom C. 2001. Performance of statistical downscaling
models in GCM validation and regional climate change estiamates:
application for Swedish precipitation. International Journal Climatology.
557-558.
Chen C, Wei Y. 2005. Computational Issues on Quantile Regression. The Indian
Journal of Statistics. 67:299-417.
Djuraidah A, Wigena AH. 2011. Regresi kuantil untuk eksplorasi pola curah hujan
di Kabupaten Indramayu. Jurnal Ilmu Dasar. 12(1): 50 – 56.
Draper NR, Smith H. 1981. Applied Regression Analysis. Ed ke-2. John Wiley and
Sons, Inc.
Haryoko U. 2004. Pendekatan reduksi dimensi luaran GCM untuk penyusunan
model SD [tesis]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.
Handayani L. 2014. Statistical downscaling dengan model aditif terampat untuk
pendugaan curah hujan ekstrim [tesis]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Hastie T, Tibshirani R, Friedman J. 1990. The Elements of Statistical Learning. Ed
ke-2. London (GB): Springer.
Koenker R, W Bassett, Gilbert Jr .1978. Regression quantiles econometric society.
Econometrica. 46(1):33–50.
Koenker R. 2005. Quantile Regression. New York: Cambridge University Press.
Li Y, Zhu J. 2008. L1 – norm quantile regression. J Comp Graph Stat. 17(1):1-23
Mondiana YQ. 2012. Pemodelan statistical downscaling dengan regresi kuantil
untuk pendugaan curah hujan ekstrim [tesis]. Bogor (ID) : Institut Pertanian
Bogor.
Pribadi HY. 2012. Variabilitas curah hujan dan pergeseran musim di wilayah
Banten sehubungan dengan variasi suhu muka laut perairan Indonesia,
Samudera Pasifik dan Samudera Hindia [tesis]. Depok (ID): Universitas
Indonesia.
Sari WJ. 2015. Pemodelan statistical downscaling dengan regresi kuantil komponen
utama fungsional untuk prediksi curah hujan ekstrim [tesis]. Bogor: Institut
Pertanian Bogor.
Stockdale TN, Busalacchi AJ, Harrison DE, Seager R. 1998. Ocean modeling for
ENSO. Journal of Geophysical research. 103:14325-14355.
Sutikno. 2008. Statistical downscaling luaran GCM dan pemanfaatannya untuk
peramalan produksi padi, [disertasi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.
Tareghian R, Rasmussen P. 2013. Statistical downscaling of precpitation using
quantile regression. Journal of Hydrology. 122-135.
Wigena AH. 2006. Pemodelan statistical downscaling dengan regresi projection
pursuit untuk peramalan curah hujan bulanan (kasus curah hujan bulanan di
Indramayu) [disertasi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
20

Wilby RL, Wigley TML. 2000. Precipitation predictors for downscaling: observed
and general circulation model relationships. Journal of Climatology. 20: 641-
661.
Wilby RL, Charles SP, Zorita E, Timbal B, Whetton P, Mearns LO. 2009. A review
of climate risk information for adaptation and development planning. Journal of
Climatology. 29: 1193-1215.
21

Lampiran 1 Nilai λ dan CV untuk grid 8×8 model M1, M2 dan M3


model M1 model M2 model M3 model M4 model M5 model M6
No
λ CV λ CV λ CV λ CV λ CV λ CV
1 0.17 39.45 0.15 37.67 0.16 39.19 13.42 40.58 6.31 39.60 13.42 40.60
2 0.18 39.77 0.17 37.48 0.17 39.12 14.73 40.50 6.92 39.57 14.73 40.53
3 0.20 40.15 0.18 37.92 0.19 39.08 16.17 40.94 7.60 39.68 16.17 40.98
4 0.22 39.98 0.20 37.64 0.21 39.29 17.74 40.87 8.34 40.21 17.74 40.93
5 0.24 39.21 0.22 36.46 0.23 39.41 19.47 40.94 9.15 40.24 19.47 41.00
6 0.27 39.27 0.24 36.57 0.25 39.53 21.37 41.49 10.04 40.55 21.37 41.58
7 0.29 39.45 0.27 36.62 0.27 39.59 23.46 41.57 11.02 40.21 23.46 41.63
8 0.32 39.43 0.29 36.53 0.30 39.53 25.74 41.80 12.10 40.16 25.74 41.86
9 0.35 38.75 0.32 37.09 0.33 39.97 28.25 41.46 13.28 40.44 28.25 41.48
10 0.39 38.93 0.35 37.10 0.36 40.33 31.01 41.51 14.57 40.37 31.01 41.54
11 0.42 39.35 0.39 37.15 0.39 40.25 34.03 41.74 15.99 40.83 34.03 41.79
12 0.47 39.70 0.42 37.52 0.43 39.80 37.35 41.97 17.55 40.82 37.35 42.11
13 0.51 39.70 0.46 37.94 0.48 39.94 40.99 41.25 19.26 40.82 40.99 41.41
14 0.56 39.89 0.51 37.94 0.52 40.61 44.99 40.56 21.14 41.52 44.99 40.69
15 0.62 40.18 0.56 38.01 0.57 40.90 49.38 40.95 23.20 41.56 49.38 41.11
16 0.68 39.60 0.61 37.94 0.63 41.22 54.19 41.15 25.47 41.77 54.19 41.31
17 0.74 39.86 0.67 38.67 0.69 41.26 59.47 41.35 27.95 41.36 59.47 41.48
18 0.81 40.02 0.74 39.28 0.76 41.07 65.27 41.74 30.67 41.42 65.27 41.82
19 0.89 39.64 0.81 38.76 0.83 41.20 71.64 41.70 33.67 41.77 71.64 41.79
20 0.98 39.59 0.89 38.59 1.10 38.92 94.70 40.02 36.95 41.88 94.70 40.14

Lampiran 2 Nilai λ dan CV untuk grid 6×6


model M1 model M2 model M3 model M4 model M5 model M6
No
λ CV λ CV λ CV λ CV λ CV λ CV
1 0.98 40.35 0.15 37.25 0.69 39.51 0.45 35.73 0.45 35.72 0.45 36.80
2 1.08 41.09 0.16 37.28 0.76 39.56 0.50 36.22 0.49 35.40 0.50 36.80
3 1.18 41.51 0.18 37.34 0.83 39.69 0.55 36.17 0.54 35.56 0.55 36.97
4 1.30 41.50 0.19 37.34 0.91 40.14 0.60 36.61 0.59 35.50 0.60 37.12
5 1.42 41.57 0.21 37.52 1.00 41.06 0.66 36.66 0.65 35.41 0.66 37.48
6 1.56 41.45 0.23 37.53 1.10 41.26 0.72 36.32 0.71 35.50 0.72 37.48
7 1.71 41.01 0.26 37.36 1.21 41.69 0.79 36.12 0.78 35.73 0.79 37.41
8 1.88 41.01 0.28 37.13 1.33 41.64 0.87 36.43 0.86 35.85 0.87 37.51
9 2.07 40.53 0.31 37.06 1.46 41.71 0.95 36.52 0.94 36.10 0.95 37.52
10 2.27 40.53 0.34 36.87 1.60 41.30 1.05 36.45 1.03 36.30 1.05 37.53
11 2.49 40.53 0.37 36.86 1.75 41.14 1.15 36.61 1.13 36.18 1.15 37.81
12 2.73 40.49 0.41 36.80 1.93 41.15 1.26 36.93 1.24 36.21 1.26 37.44
13 3.00 41.84 0.45 37.52 2.11 40.65 1.38 36.82 1.37 36.24 1.38 37.41
14 3.29 42.86 0.49 37.51 2.32 40.64 1.52 36.79 1.50 35.95 1.52 37.37
15 3.61 43.51 0.54 37.83 2.55 40.59 1.67 37.17 1.64 35.77 1.67 37.78
16 3.96 44.14 0.59 37.65 2.79 40.10 1.83 37.50 1.80 36.43 1.83 38.16
17 4.35 44.11 0.65 37.60 3.07 42.88 2.01 37.70 1.98 36.45 2.01 38.37
22

Lampiran 2 (lanjutan)
model M1 model M2 model M3 model M4 model M5 model M6
No
λ CV λ CV λ CV λ CV λ CV λ CV
18 4.77 44.05 0.71 37.85 3.37 42.99 2.20 37.66 2.17 36.41 2.20 38.32
19 5.24 43.23 0.78 37.86 3.69 44.24 2.42 37.85 2.39 36.66 2.42 38.51
20 21.14 37.92 0.86 38.01 21.63 37.92 2.65 37.84 2.62 36.28 2.65 38.50

Lampiran 3 Proporsi keragaman. proporsi kumulatif dan Nilai Eigen dari


komponen utama model linear menggunakan AKU untuk grid 8×8
Proporsi
Komponen Nilai Eigen Proporsi Keragaman
Kumulatif
1 6.51 0.66 0.66
2 3.53 0.20 0.86
3 2.14 0.07 0.93
4 1.20 0.02 0.95
5 0.85 0.01 0.96
6 0.69 0.01 0.97
7 0.59 0.01 0.98
8 0.47 0.00 0.98
9 0.46 0.00 0.98
10 0.41 0.00 0.98

Lampiran 4 Proporsi keragaman. proporsi kumulatif dan Nilai Eigen dari


komponen utama model kuadrat menggunakan AKU untuk grid 8×8
Komponen Nilai Eigen Proporsi Keragaman Proporsi Kumulatif
1 9.06 0.64 0.64
2 4.99 0.19 0.84
3 3.21 0.08 0.92
4 1.87 0.03 0.94
5 1.21 0.01 0.96
6 1.04 0.01 0.96
7 0.84 0.01 0.97
8 0.77 0.00 0.97
9 0.66 0.00 0.98
10 0.59 0.00 0.98

Lampiran 5 Proporsi keragaman. proporsi kumulatif dan Nilai Eigen dari


komponen utama model linear menggunakan AKU untuk grid 6×6
Komponen Nilai Eigen Proporsi Keragaman Proporsi Kumulatif
1 5.65 0.89 0.89
2 1.60 0.07 0.96
3 0.86 0.02 0.98
4 0.54 0.01 0.99
5 0.40 0.00 0.99
6 0.25 0.00 0.99
23

Lampiran 5 (Lanjutan)
Komponen Nilai Eigen Proporsi Keragaman Proporsi Kumulatif
7 0.20 0.00 0.99
8 0.19 0.00 0.99
9 0.17 0.00 1.00
10 0.16 0.00 1.00

Lampiran 6 Proporsi keragaman. proporsi kumulatif dan Nilai Eigen dari


komponen utama model kuadrat menggunakan LASSO untuk grid
6×6
Komponen Nilai Eigen Proporsi Keragaman Proporsi Kumulatif
1 7.86 0.86 0.86
2 2.44 0.08 0.94
3 1.49 0.03 0.97
4 0.80 0.01 0.98
5 0.66 0.01 0.99
6 0.38 0.00 0.99
7 0.35 0.00 0.99
8 0.32 0.00 0.99
9 0.27 0.00 0.99
10 0.27 0.00 0.99

Lampiran 7 Penduga parameter model M1 metode LASSO untuk grid 8×8


Kuantil Kuantil
Parameter Parameter
0.75 0.90 0.95 0.75 0.90 0.95
(Intercept) -38.25 -40.85 -14.52 x33 43.91 0.00 0.00
x1 0.00 6.98 0.00 x34 -17.34 10.92 27.89
x2 -13.28 0.00 10.64 x35 -33.09 0.00 0.00
x3 -7.54 -2.17 0.00 x36 -4.58 -58.77 -65.47
x4 6.50 -11.25 -7.18 x37 -0.47 -3.40 0.00
x5 -18.13 -16.64 -29.97 x38 35.32 12.88 7.70
x6 -3.25 20.17 14.87 x39 -30.50 -1.18 -4.68
x7 -9.01 -0.41 15.77 x40 24.93 -18.97 -23.14
x8 9.94 33.76 35.09 x41 -36.97 0.00 0.00
x9 0.00 4.96 -1.60 x42 -34.23 0.00 0.00
x10 14.16 -44.89 -42.45 x43 90.64 8.03 0.00
x11 25.53 50.08 54.27 x44 -27.12 0.00 13.35
x12 0.00 0.00 0.00 x45 0.00 0.00 -2.69
x13 12.46 0.00 20.01 x46 -32.86 0.00 0.00
x14 22.20 -4.29 0.00 x47 20.92 64.03 75.31
x15 -44.10 -63.70 -80.02 x48 15.76 2.02 0.00
x16 20.46 0.00 -2.13 x49 64.42 -46.06 -64.40
x17 39.67 0.00 0.00 x50 65.03 13.59 35.99
x18 -29.61 39.72 0.00 x51 -95.24 -27.50 -16.32
x19 -43.09 -21.33 -9.06 x52 10.01 0.00 -18.22
24

Lampiran 7 (Lanjutan)
Kuantil Kuantil
Parameter Parameter
0.75 0.90 0.95 0.75 0.90 0.95
x20 -5.31 10.80 11.02 x53 37.60 13.98 46.23
x21 -2.23 21.09 0.87 x54 -9.60 -54.52 -65.49
x22 -2.16 -3.33 2.82 x55 0.00 -4.03 -1.01
x23 8.32 10.55 11.21 x56 -12.58 0.00 0.00
x24 -16.08 -11.17 -15.48 x57 -54.92 0.00 0.00
x25 -84.82 -46.73 -39.18 x58 6.93 59.84 61.04
x26 64.68 40.83 45.80 x59 48.42 22.65 0.00
x27 0.00 -48.81 -50.16 x60 -35.93 -27.80 -32.08
x28 -8.25 -10.79 -21.06 x61 33.22 82.93 63.02
x29 35.67 64.19 102.70 x62 -35.47 -45.42 -44.72
x30 -15.20 -39.58 -58.68 x63 11.80 17.59 12.84
x31 36.31 11.20 20.65 x64 5.26 1.26 6.83
x32 -23.15 15.78 18.98

Lampiran 8 Penduga parameter model M2 metode LASSO untuk grid 8×8


Kuantil Kuantil
Parameter Parameter
0.75 0.90 0.95 0.75 0.90 0.95
(Intercept) 113.15 119.65 -13.91 x38 48.76 45.47 52.12
x1 0.00 -22.12 0.00 x39 -21.80 -20.85 -38.09
x2 -2.76 0.00 0.00 x40 5.34 -21.99 -12.36
x3 -25.45 5.90 9.31 x41 -33.84 -69.17 -27.54
x4 7.42 -12.65 -26.59 x42 -3.73 -23.01 0.00
x5 -0.77 -9.12 -23.70 x43 73.74 42.55 5.59
x6 -17.28 0.00 16.85 x44 -31.60 20.47 48.51
x7 -5.74 -21.27 4.42 x45 -35.53 0.00 -41.96
x8 19.15 25.45 29.14 x46 -16.51 -20.42 -12.79
x9 0.00 56.51 0.00 x47 22.01 68.36 62.38
x10 10.83 -44.57 -8.23 x48 12.28 2.86 7.43
x11 15.71 20.11 12.74 x49 24.87 0.00 -101.40
x12 -22.97 -1.04 41.71 x50 69.15 78.41 42.38
x13 0.00 0.00 0.00 x51 -108.63 -90.47 -47.30
x14 18.24 21.51 0.00 x52 36.13 22.54 -15.20
x15 -23.26 -35.35 -43.06 x53 42.97 16.90 0.00
x16 0.00 0.00 -5.25 x54 -24.57 -19.44 -14.95
x17 64.17 0.00 0.00 x55 3.17 -52.47 -25.43
x18 -31.79 51.20 0.00 x56 -24.16 5.74 17.47
x19 -13.75 -55.63 -30.20 x57 -37.74 0.00 48.26
x20 6.03 36.27 26.65 x58 -11.51 0.00 61.81
x21 13.64 3.77 0.00 x59 81.94 54.85 0.00
x22 2.65 5.09 13.90 x60 -41.82 -41.61 -45.27
x23 -8.41 -1.53 -12.93 x61 21.35 53.81 124.52
25

Lampiran 8 (Lanjutan)
Kuantil Kuantil
Parameter Parameter
0.75 0.90 0.95 0.75 0.90 0.95
x24 -1.52 0.00 -6.86 x62 -21.56 -30.18 -65.17
x25 -124.28 -99.16 0.00 x63 4.56 20.10 25.14
x26 48.90 78.60 17.18 x64 15.59 6.31 -9.34
x27 0.00 -52.80 -64.64 D1 92.78 60.51 25.33
x28 -4.23 -37.41 -16.71 D2 33.21 25.96 11.70
x29 0.00 45.05 64.46 D3 0.00 0.00 -45.95
x30 -26.10 -46.76 -66.13 D4 23.05 12.93 0.00
x31 29.05 20.02 35.71 D5 -10.78 -3.01 0.00
x32 -19.99 -4.53 9.82 D6 0.00 -1.53 -10.36
x33 62.70 60.92 0.00 D7 3.23 0.00 0.00
x34 -9.94 -11.96 83.05 D8 -19.88 1.78 0.00
x35 -39.36 0.00 0.00 D9 -42.95 -45.67 -7.93
x36 0.00 -41.32 -69.15 D10 0.00 -0.15 0.00
x37 27.06 7.00 7.12 D11 15.98 129.05 128.23

Lampiran 9 Penduga parameter model M3 metode LASSO untuk grid 8×8


Kuantil Kuantil
Parameter Parameter
0.75 0.90 0.95 0.75 0.90 0.95
Intercept -146.01 -149.02 129.04 x34 0.00 5.17 0.00
x1 0.00 0.00 -3.41 x35 -19.62 0.00 0.00
x2 -1.40 0.00 0.00 x36 0.00 -26.10 -91.68
x3 0.00 0.00 0.00 x37 0.00 12.05 0.00
x4 0.00 -2.16 -8.19 x38 9.79 0.00 0.00
x5 -19.44 -17.90 -44.63 x39 -2.69 0.00 0.00
x6 0.00 14.37 0.00 x40 4.41 -0.34 0.00
x7 -15.33 -0.80 0.58 x41 0.00 0.00 0.00
x8 15.35 27.19 9.90 x42 0.00 0.00 0.00
x9 0.00 0.00 0.00 x43 37.53 0.00 0.00
x10 -0.53 0.00 -16.20 x44 -23.32 -14.09 0.00
x11 15.47 16.41 15.47 x45 0.00 16.74 8.52
x12 -13.91 0.00 0.00 x46 0.00 0.00 0.00
x13 24.79 1.90 20.55 x47 14.62 60.12 28.13
x14 3.55 0.00 4.85 x48 8.77 0.00 5.96
x15 -23.27 -53.69 -42.91 x49 26.92 0.00 -9.54
x16 11.81 6.37 0.00 x50 22.36 2.71 0.00
x17 0.00 0.00 -9.78 x51 -26.60 -5.95 0.00
x18 0.00 0.00 0.00 x52 0.00 0.00 0.00
x19 -23.81 0.00 0.00 x53 22.30 0.00 20.00
x20 0.00 0.00 0.00 x54 -11.55 -55.83 -30.00
x21 0.00 32.91 1.63 x55 -11.70 0.00 0.00
x22 0.00 -6.03 0.00 x56 0.00 -4.08 0.00
26

Lampran 9 (Lanjutan)
Kuantil Kuantil
Parameter Parameter
0.75 0.90 0.95 0.75 0.90 0.95
x23 1.53 6.82 0.00 x57 -29.73 0.00 0.00
x24 -9.21 0.00 -1.23 x58 24.16 51.99 34.48
x25 -17.39 -34.72 -6.57 x59 21.15 13.48 0.00
x26 1.37 19.34 0.00 x60 -25.11 -27.81 0.00
x27 -2.10 -32.31 0.00 x61 31.08 73.06 19.72
x28 0.00 -5.61 0.00 x62 -32.75 -25.36 0.00
x29 27.01 2.62 112.58 x63 16.35 9.18 3.86
x30 0.00 -11.59 -29.05 x64 3.56 0.00 0.00
x31 10.24 4.68 0.00 D12 -7.28 0.00 0.00
x32 -3.49 0.14 10.01 D13 -21.11 -4.98 -10.51
x33 0.00 -0.13 0.00 D14 9.48 0.00 0.00

Lampiran 10 Penduga parameter model M4 metode LASSO untuk grid 8×8


Kuantil Kuantil
Parameter Parameter
0.75 0.90 0.95 0.75 0.90 0.95
2
Intercept -57.54 -76.08 -113.50 x1 0.00 0.00 0.00
2
x1 0.00 0.00 0.00 x2 0.00 0.00 0.00
2
x2 0.00 0.00 0.00 x3 0.00 0.00 0.00
x3 0.00 0.00 0.00 x42 -0.47 0.00 0.00
2
x4 0.00 0.00 0.00 x5 0.00 0.00 0.00
2
x5 0.00 0.00 0.00 x6 -0.38 -0.06 0.00
2
x6 0.00 0.00 0.00 x7 -0.31 0.00 0.00
x7 0.00 0.00 0.00 x82 0.08 0.00 0.10
2
x8 0.00 0.00 0.00 x9 0.00 0.00 0.00
2
x9 0.00 0.00 0.00 x10 0.00 0.00 0.00
2
x10 0.00 0.00 0.00 x11 0.00 0.00 0.00
x11 0.00 0.00 0.00 x122 0.00 0.00 0.00
2
x12 0.00 0.00 0.00 x13 0.51 0.00 0.29
2
x13 0.00 0.00 0.00 x14 0.00 0.00 0.00
2
x14 0.00 0.00 0.00 x15 -0.74 0.00 0.00
x15 0.00 0.00 0.00 x162 0.60 0.02 0.00
2
x16 0.00 0.00 0.00 x17 0.00 0.00 0.00
2
x17 0.00 0.00 0.00 x18 0.00 0.00 0.00
2
x18 0.00 0.00 0.00 x19 0.00 0.00 0.00
x19 0.00 0.00 0.00 x202 0.00 0.00 0.00
2
x20 0.00 0.00 0.00 x21 0.56 0.49 0.00
2
x21 0.00 0.00 0.00 x22 0.51 0.00 0.00
2
x22 0.00 0.00 0.00 x23 0.00 0.00 0.00
x23 0.00 0.00 0.00 x242 0.00 0.00 0.00
2
x24 0.00 0.00 0.00 x25 0.00 0.00 0.00
2
x25 0.00 0.00 0.00 x26 0.00 0.00 0.00
27

Lampiran 10 (Lanjutan)
Kuantil Kuantil
Parameter Parameter
0.75 0.90 0.95 0.75 0.90 0.95
2
x26 0.00 0.00 0.00 x27 -1.18 -0.29 0.00
x27 0.00 0.00 0.00 x282 0.00 0.00 0.00
x28 0.00 0.00 0.00 x292 0.42 0.00 0.00
x29 0.00 0.00 0.00 x302 0.88 0.00 0.00
x30 0.00 0.00 0.00 x312 0.00 0.00 0.00
x31 0.00 0.00 0.00 x322 0.00 0.75 0.06
x32 0.00 0.00 0.00 x332 0.00 0.00 0.00
x33 0.00 0.00 0.00 x342 0.00 0.00 0.00
x34 0.00 0.00 0.00 x352 0.00 0.00 0.00
x35 0.00 0.00 0.00 x362 0.00 0.00 0.00
x36 0.00 0.00 0.00 x372 0.00 0.34 0.15
x37 0.00 0.00 0.00 x382 0.45 0.00 0.00
x38 0.00 0.00 0.00 x392 0.00 0.23 0.00
x39 0.00 0.00 0.00 x402 0.03 0.29 1.59
x40 0.00 0.00 0.00 x412 0.00 0.00 0.00
x41 0.00 0.00 0.00 x422 0.00 0.00 0.00
x42 0.00 0.00 0.00 x432 0.00 0.00 0.00
x43 0.00 0.00 0.00 x442 0.00 0.00 0.00
x44 0.00 0.00 0.00 x452 0.00 0.00 1.28
x45 0.00 0.00 0.00 x462 0.00 0.00 0.00
x46 0.00 0.00 0.00 x472 0.00 0.00 0.00
x47 0.00 0.00 0.00 x482 1.13 1.08 0.95
x48 0.00 0.00 0.00 x492 0.00 0.00 0.00
x49 0.00 0.00 0.00 x502 0.00 0.00 0.00
x50 0.00 0.00 0.00 x512 0.00 0.00 0.00
x51 0.00 0.00 0.00 x522 0.00 0.00 0.00
x52 0.00 0.00 0.00 x532 0.00 0.00 0.00
x53 0.00 0.00 0.00 x542 -0.14 0.00 0.00
x54 0.00 0.00 0.00 x552 0.00 0.00 0.00
x55 0.00 0.00 0.00 x562 -0.09 0.00 0.00
x56 0.00 0.00 0.00 x572 0.00 0.00 0.00
x57 0.00 0.00 0.00 x582 0.00 0.00 0.00
x58 0.00 0.00 0.00 x592 0.52 0.00 0.00
x59 0.00 0.00 0.00 x602 0.00 0.00 0.00
x60 0.00 0.00 0.00 x612 1.00 1.91 1.18
x61 0.00 0.00 0.00 x622 -0.40 0.00 0.00
x62 0.00 0.00 0.00 x632 0.00 -0.18 0.00
x63 0.00 0.00 0.00 x642 0.00 0.00 0.00
x64 0.00 0.00 0.00
28

Lampiran 11 Penduga parameter model M5 metode LASSO untuk grid 8×8


Kuantil Kuantil
Parameter Parameter
0.75 0.90 0.95 0.75 0.90 0.95
2
Intercept 15.92 -3.04 -57.73 x6 -0.29 -0.82 -0.46
2
x1 0.00 0.00 0.00 x7 -1.08 0.00 2.68
x2 0.00 0.00 0.00 x82 0.61 1.52 1.88
2
x3 0.00 0.00 0.00 x9 0.00 0.00 0.00
2
x4 0.00 0.00 0.00 x10 -1.09 -0.52 -2.08
2
x5 0.00 0.00 0.00 x11 2.03 1.43 3.49
x6 0.00 0.00 0.00 x122 -1.97 0.10 0.38
2
x7 0.00 0.00 0.00 x13 0.66 1.76 2.83
2
x8 0.00 0.00 0.00 x14 0.75 0.00 0.00
2
x9 0.00 0.00 0.00 x15 -2.48 -3.19 -5.00
x10 0.00 0.00 0.00 x162 2.20 1.12 1.45
2
x11 0.00 0.00 0.00 x17 4.45 0.00 0.00
2
x12 0.00 0.00 0.00 x18 0.00 1.23 0.00
2
x13 0.00 0.00 0.00 x19 -2.30 0.00 0.00
x14 0.00 0.00 0.00 x202 0.66 0.06 0.00
2
x15 0.00 0.00 0.00 x21 0.00 1.07 0.00
2
x16 0.00 0.00 0.00 x22 0.50 1.33 1.47
2
x17 0.00 0.00 0.00 x23 0.99 0.00 0.16
x18 0.00 0.00 0.00 x242 -2.11 -1.28 -0.81
x19 0.00 0.00 0.00 x252 -8.07 -1.11 0.00
2
x20 0.00 0.00 0.00 x26 3.11 0.00 0.00
2
x21 0.00 0.00 0.00 x27 0.00 -4.45 -4.60
x22 0.00 0.00 0.00 x282 0.00 0.23 0.00
2
x23 0.00 0.00 0.00 x29 0.56 2.44 3.40
2
x24 0.00 0.00 0.00 x30 -0.38 -1.48 -2.48
2
x25 0.00 0.00 0.00 x31 0.86 1.28 0.88
x26 0.00 0.00 0.00 x322 0.00 1.37 0.00
2
x27 0.00 0.00 0.00 x33 0.00 -1.06 0.00
2
x28 0.00 0.00 0.00 x34 0.00 0.00 0.00
2
x29 0.00 0.00 0.00 x35 -3.13 0.00 0.00
x30 0.00 0.00 0.00 x362 0.00 -3.61 -5.77
x31 0.00 0.00 0.00 x372 1.12 0.00 1.24
2
x32 0.00 0.00 0.00 x38 1.53 0.67 0.00
2
x33 0.00 0.00 0.00 x39 0.00 0.00 0.00
x34 0.00 0.00 0.00 x402 0.00 -1.47 0.00
2
x35 0.00 0.00 0.00 x41 0.00 0.00 -1.83
2
x36 0.00 0.00 0.00 x42 -1.84 0.00 0.00
2
x37 0.00 0.00 0.00 x43 4.08 3.02 2.31
x38 0.00 0.00 0.00 x442 0.00 0.00 0.51
2
x39 0.00 0.00 0.00 x45 -1.51 0.58 0.00
2
x40 0.00 0.00 0.00 x46 0.00 0.00 0.00
29

Lampiran 11 (Lanjutan)
Kuantil Kuantil
Parameter Parameter
0.75 0.90 0.95 0.75 0.90 0.95
2
x41 0.00 0.00 0.00 x47 0.51 3.65 4.09
x42 0.00 0.00 0.00 x482 1.11 0.24 -0.55
x43 1.68 0.00 0.00 x492 4.31 0.00 0.00
x44 0.00 0.00 0.00 x502 5.22 0.00 0.00
x45 0.00 0.00 0.00 x512 -6.42 -0.26 0.00
x46 0.00 0.00 0.00 x522 0.41 -0.63 0.00
x47 0.00 0.00 0.00 x532 2.84 0.00 2.84
x48 0.00 0.00 0.00 x542 -1.70 -1.70 -3.32
x49 0.00 0.00 0.00 x552 0.02 -1.22 -0.40
x50 2.63 0.00 0.00 x562 -0.33 0.00 -0.48
x51 0.00 0.00 0.00 x572 -6.19 -0.04 0.00
x52 0.00 0.00 0.00 x582 0.00 3.14 6.17
x53 0.00 0.00 0.00 x592 4.46 1.22 0.00
x54 0.00 0.00 0.00 x602 -2.41 -3.04 -3.43
x55 0.00 0.00 0.00 x612 1.04 5.18 2.75
x56 0.00 0.00 0.00 x622 -1.65 -2.71 -0.14
x57 0.00 0.00 0.00 x632 0.35 1.06 0.02
x58 0.00 0.00 0.00 x642 0.00 0.00 1.13
x59 12.58 0.00 0.00 D1 0.00 0.00 0.00
x60 0.00 0.00 0.00 D2 0.00 0.00 0.00
x61 0.00 0.00 0.00 D3 0.00 0.00 0.00
x62 0.00 0.00 0.00 D4 0.00 0.00 0.00
x63 0.00 0.00 0.00 D5 0.00 0.00 0.00
x64 0.00 0.00 0.00 D6 0.00 0.00 0.00
2
x1 0.00 0.00 0.00 D7 0.00 0.00 0.00
2
x2 -0.22 -0.13 0.00 D8 0.00 0.00 0.00
x32 -0.45 0.00 0.00 D9 0.00 0.00 0.00
2
x4 -0.06 0.00 0.44 D10 0.00 0.00 0.00
2
x5 0.00 -1.81 -3.34 D11 0.00 0.00 0.00

Lampiran 12 Penduga parameter model M6 metode LASSO untuk grid 8×8


Kuantil Kuantil
Parameter Parameter
75 90 95 75 90 95
2
Intercept -57.54 -76.08 -113.50 x2 0.00 0.00 0.00
x1 0.00 0.00 0.00 x32 0.00 0.00 0.00
2
x2 0.00 0.00 0.00 x4 -0.47 0.00 0.00
2
x3 0.00 0.00 0.00 x5 0.00 0.00 0.00
2
x4 0.00 0.00 0.00 x6 -0.38 -0.06 0.00
x5 0.00 0.00 0.00 x72 -0.31 0.00 0.00
2
x6 0.00 0.00 0.00 x8 0.08 0.00 0.10
2
x7 0.00 0.00 0.00 x9 0.00 0.00 0.00
30

Lampiran 12 (Lanjutan)
Kuantil Kuantil
Parameter Parameter
75 90 95 75 90 95
2
x8 0.00 0.00 0.00 x10 0.00 0.00 0.00
x9 0.00 0.00 0.00 x112 0.00 0.00 0.00
x10 0.00 0.00 0.00 x122 0.00 0.00 0.00
x11 0.00 0.00 0.00 x132 0.51 0.00 0.29
x12 0.00 0.00 0.00 x142 0.00 0.00 0.00
x13 0.00 0.00 0.00 x152 -0.74 0.00 0.00
x14 0.00 0.00 0.00 x162 0.60 0.02 0.00
x15 0.00 0.00 0.00 x172 0.00 0.00 0.00
x16 0.00 0.00 0.00 x182 0.00 0.00 0.00
x17 0.00 0.00 0.00 x192 0.00 0.00 0.00
x18 0.00 0.00 0.00 x202 0.00 0.00 0.00
x19 0.00 0.00 0.00 x212 0.56 0.49 0.00
x20 0.00 0.00 0.00 x222 0.51 0.00 0.00
x21 0.00 0.00 0.00 x232 0.00 0.00 0.00
x22 0.00 0.00 0.00 x242 0.00 0.00 0.00
x23 0.00 0.00 0.00 x252 0.00 0.00 0.00
x24 0.00 0.00 0.00 x262 0.00 0.00 0.00
x25 0.00 0.00 0.00 x272 -1.18 -0.29 0.00
x26 0.00 0.00 0.00 x282 0.00 0.00 0.00
x27 0.00 0.00 0.00 x292 0.42 0.00 0.00
x28 0.00 0.00 0.00 x302 0.88 0.00 0.00
x29 0.00 0.00 0.00 x312 0.00 0.00 0.00
x30 0.00 0.00 0.00 x322 0.00 0.75 0.06
x31 0.00 0.00 0.00 x332 0.00 0.00 0.00
x32 0.00 0.00 0.00 x342 0.00 0.00 0.00
x33 0.00 0.00 0.00 x352 0.00 0.00 0.00
x34 0.00 0.00 0.00 x362 0.00 0.00 0.00
x35 0.00 0.00 0.00 x372 0.00 0.34 0.15
x36 0.00 0.00 0.00 x382 0.45 0.00 0.00
x37 0.00 0.00 0.00 x392 0.00 0.23 0.00
x38 0.00 0.00 0.00 x402 0.03 0.29 1.59
x39 0.00 0.00 0.00 x412 0.00 0.00 0.00
x40 0.00 0.00 0.00 x422 0.00 0.00 0.00
x41 0.00 0.00 0.00 x432 0.00 0.00 0.00
x42 0.00 0.00 0.00 x442 0.00 0.00 0.00
x43 0.00 0.00 0.00 x452 0.00 0.00 1.28
x44 0.00 0.00 0.00 x462 0.00 0.00 0.00
x45 0.00 0.00 0.00 x472 0.00 0.00 0.00
x46 0.00 0.00 0.00 x482 1.13 1.08 0.95
x47 0.00 0.00 0.00 x492 0.00 0.00 0.00
x48 0.00 0.00 0.00 x502 0.00 0.00 0.00
31

Lampiran 12 (Lanjutan)
Kuantil Kuantil
Parameter Parameter
75 90 95 75 90 95
2
x49 0.00 0.00 0.00 x51 0.00 0.00 0.00
x50 0.00 0.00 0.00 x522 0.00 0.00 0.00
x51 0.00 0.00 0.00 x532 0.00 0.00 0.00
x52 0.00 0.00 0.00 x542 -0.14 0.00 0.00
x53 0.00 0.00 0.00 x552 0.00 0.00 0.00
x54 0.00 0.00 0.00 x562 -0.09 0.00 0.00
x55 0.00 0.00 0.00 x572 0.00 0.00 0.00
x56 0.00 0.00 0.00 x582 0.00 0.00 0.00
x57 0.00 0.00 0.00 x592 0.52 0.00 0.00
x58 0.00 0.00 0.00 x602 0.00 0.00 0.00
x59 0.00 0.00 0.00 x612 1.00 1.91 1.18
x60 0.00 0.00 0.00 x622 -0.40 0.00 0.00
x61 0.00 0.00 0.00 x632 0.00 -0.18 0.00
x62 0.00 0.00 0.00 x642 0.00 0.00 0.00
x63 0.00 0.00 0.00 D12 0.00 0.00 0.00
x64 0.00 0.00 0.00 D13 0.00 0.00 0.00
2
x1 0.00 0.00 0.00 D14 0.00 0.00 0.00

Lampiran 13 Penduga parameter model M1 metode LASSO untuk grid 6×6


Kuantil Kuantil
Parameter Parameter
75 90 95 75 90 95
Intercept -117.39 -112.91 -129.43 x19 0.00 0.00 0.00
x1 -5.75 -21.42 -5.57 x20 0.00 0.00 0.00
x2 -12.47 0.00 0.00 x21 0.00 0.00 0.00
x3 0.00 0.00 0.00 x22 0.00 0.00 0.00
x4 0.00 0.00 0.00 x23 0.00 0.00 0.00
x5 2.55 0.00 0.00 x24 0.00 0.00 0.00
x6 16.55 0.00 0.00 x25 0.00 0.00 0.00
x7 0.00 0.00 0.00 x26 0.00 0.00 0.00
x8 0.00 0.00 0.00 x27 0.00 0.00 0.00
x9 0.00 0.00 0.00 x28 0.00 0.00 0.00
x10 0.00 0.00 0.00 x29 0.00 0.00 0.00
x11 22.80 39.98 30.79 x30 -1.91 0.00 0.00
x12 0.00 10.93 20.80 x31 0.00 0.00 0.00
x13 0.00 0.00 0.00 x32 0.00 0.00 0.00
x14 0.00 0.00 0.00 x33 8.81 0.00 0.00
x15 0.00 0.00 0.00 x34 0.00 0.00 0.00
x16 0.00 0.00 0.00 x35 0.00 0.00 0.00
x17 0.00 0.00 0.00 x36 0.00 0.00 0.00
x18 0.00 0.00 0.00
32

Lampiran 14 Penduga parameter model M2 metode LASSO untuk grid 6×6


Kuantil Kuantil
Parameter Parameter
75 90 95 75 90 95
Intercept 24.34 161.44 60.10 x24 -32.68 -36.03 -36.28
x1 -26.37 -63.29 -9.57 x25 -23.06 0.00 -22.42
x2 0.00 72.37 0.60 x26 0.00 34.34 49.98
x3 -5.36 -95.95 -47.87 x27 0.00 19.40 14.42
x4 0.00 0.00 0.00 x28 -51.37 -17.97 0.00
x5 11.12 9.95 6.80 x29 13.95 38.10 36.36
x6 -16.31 -31.30 -10.89 x30 -7.37 -0.61 -6.20
x7 18.47 0.00 -2.86 x31 15.47 0.65 0.00
x8 12.04 7.59 22.90 x32 -32.38 8.64 0.00
x9 -47.90 -2.27 0.00 x33 55.37 0.00 10.26
x10 1.07 -16.20 -39.55 x34 6.48 -21.39 -28.72
x11 17.94 42.96 69.27 x35 0.00 0.00 0.00
x12 30.10 16.40 4.10 x36 6.27 17.06 15.40
x13 -4.37 0.00 0.00 D1 41.15 14.79 34.13
x14 -5.58 0.00 0.00 D2 2.39 0.00 41.61
x15 33.24 0.00 0.00 D3 0.00 -67.51 -58.69
x16 -39.92 18.37 0.00 D4 36.50 27.98 -9.80
x17 -21.03 -12.01 0.00 D5 -10.59 24.84 23.18
x18 0.98 0.00 0.10 D6 -14.03 0.00 7.99
x19 0.00 -19.31 -19.40 D7 -5.10 -36.98 0.00
x20 48.72 41.73 70.27 D8 -3.21 -45.58 0.00
x21 -18.59 -15.38 -45.52 D9 0.00 -47.42 -23.30
x22 36.28 12.59 0.00 D10 62.00 19.65 46.51
x23 38.16 0.00 -0.10 D11 82.55 100.63 204.35

Lampiran 15 Penduga parameter model M3 metode LASSO untuk grid 6×6


Kuantil Kuantil
Parameter Parameter
75 90 95 75 90 95
Intercept -118.54 -108.23 -129.43 x20 0.00 0.00 0.00
x1 -6.12 -18.76 -5.57 x21 0.00 0.00 0.00
x2 -12.06 0.00 0.00 x22 0.00 0.00 0.00
x3 0.00 0.00 0.00 x23 0.00 0.00 0.00
x4 0.00 0.00 0.00 x24 0.00 0.00 0.00
x5 2.68 0.00 0.00 x25 0.00 0.00 0.00
x6 16.85 0.00 0.00 x26 0.00 0.00 0.00
x7 0.00 0.00 0.00 x27 0.00 0.00 0.00
x8 0.00 0.00 0.00 x28 0.00 0.00 0.00
x9 0.00 0.00 0.00 x29 0.00 0.00 0.00
x10 0.00 0.00 0.00 x30 -1.79 0.00 0.00
x11 22.18 39.10 30.79 x31 0.00 0.00 0.00
x12 0.00 10.53 20.80 x32 0.00 0.00 0.00
33

Lampiran 15 (Lanjutan)
Kuantil Kuantil
Parameter Parameter
75 90 95 75 90 95
x13 0.00 0.00 0.00 x33 8.95 0.00 0.00
x14 0.00 0.00 0.00 x34 0.00 0.00 0.00
x15 0.00 0.00 0.00 x35 0.00 0.00 0.00
x16 0.00 0.00 0.00 x36 0.00 0.00 0.00
x17 0.00 0.00 0.00 D12 0.00 0.00 0.00
x18 0.00 0.00 0.00 D13 0.00 0.00 0.00
x19 0.00 0.00 0.00 D14 0.00 0.00 0.00

Lampiran 16 Penduga parameter model M4 metode LASSO untuk grid 6×6


Kuantil Kuantil
Parameter Parameter
75 90 95 75 90 95
2
(Intercept) -104.17 -457.27 -286.93 x1 2.06 -6.04 -4.48
2
x1 -39.34 0.00 0.00 x2 4.64 2.15 0.00
2
x2 0.00 17.71 49.98 x3 -4.91 -7.90 -7.96
x3 0.00 0.00 0.00 x42 2.93 6.35 6.45
2
x4 -19.16 -63.57 -75.40 x5 0.85 -0.50 -3.90
2
x5 0.00 13.45 94.83 x6 -2.01 -8.41 -5.18
2
x6 38.66 126.09 79.31 x7 1.12 -2.10 -9.60
x7 17.09 0.00 0.00 x82 -5.65 5.91 8.55
2
x8 3.25 0.00 0.00 x9 0.39 -3.41 -5.79
2
x9 -13.41 -3.64 0.00 x10 -0.56 -1.37 1.68
2
x10 0.00 0.00 0.00 x11 3.85 4.80 3.52
x11 0.00 3.43 0.00 x122 0.03 -1.42 -1.17
x12 0.00 0.00 0.00 x132 -7.32 -2.71 0.00
2
x13 6.18 1.55 0.00 x14 -0.67 -4.53 -8.55
2
x14 24.95 0.00 0.00 x15 3.35 3.82 4.77
x15 -1.74 0.00 0.00 x162 -9.47 -5.74 -8.34
x16 25.35 21.82 0.00 x172 -0.67 0.76 0.61
2
x17 0.00 0.00 0.00 x18 0.50 1.25 1.20
2
x18 0.00 0.00 0.00 x19 3.83 0.00 0.00
x19 0.00 0.00 -8.25 x202 4.93 5.43 13.28
2
x20 15.92 46.45 0.00 x21 0.00 -4.26 -2.10
2
x21 16.13 0.00 0.00 x22 5.84 4.75 1.46
2
x22 0.43 0.84 77.88 x23 2.73 0.13 2.66
x23 -11.68 0.00 -44.57 x242 -3.78 -5.01 -5.18
x24 0.00 0.00 0.00 x252 -24.36 -23.27 -17.10
2
x25 0.00 0.00 0.00 x26 13.94 12.36 2.53
2
x26 0.00 0.00 0.00 x27 -13.43 -10.91 -4.93
x27 53.91 108.44 0.00 x282 -5.83 -8.88 -5.76
2
x28 18.27 83.87 54.90 x29 3.65 8.49 8.54
2
x29 -27.53 -118.95 -99.12 x30 1.43 3.63 2.66
34

Lampiran 16 (Lanjutan)
Kuantil Kuantil
Parameter Parameter
75 90 95 75 90 95
2
x30 -36.72 -34.68 0.00 x31 19.28 15.70 15.06
x31 -10.93 0.00 0.00 x322 -13.07 -11.31 -11.37
x32 -10.33 -15.58 0.00 x332 9.74 11.54 11.99
x33 -10.60 -36.24 0.00 x342 -1.24 -3.38 -7.26
x34 8.95 0.00 63.79 x352 -2.49 -0.67 -3.87
x35 0.00 0.00 0.00 x362 -1.72 -4.18 0.43
x36 47.08 90.56 0.00

Lampiran 17 Penduga parameter Model M5 metode LASSO untuk grid 6×6


Kuantil Kuantil
Parameter Parameter
75 90 95 75 90 95
Intercept -31.56 -243.07 -59.51 D6 -25.33 -48.39 -50.58
x1 0.00 0.00 11.73 D7 -22.03 -43.77 -46.61
x2 0.00 84.11 55.71 D8 -19.38 -7.27 -31.71
x3 -21.69 0.00 0.00 D9 0.00 0.00 0.00
x4 -34.49 -97.28 -71.48 D10 89.82 68.13 81.86
x5 0.00 0.00 0.00 D11 109.92 61.13 192.55
2
x6 28.18 76.58 17.12 x1 -4.44 -9.33 4.14
x7 3.58 0.00 0.00 x22 1.90 -2.53 0.00
2
x8 54.66 0.00 0.00 x3 -1.57 -10.23 -7.76
2
x9 -33.65 -11.04 0.00 x4 4.23 9.81 4.49
2
x10 0.00 0.00 0.00 x5 0.23 1.06 3.48
x11 0.00 0.00 0.00 x62 -2.82 -5.97 -3.13
x12 0.00 0.00 0.00 x72 12.14 3.01 -8.22
2
x13 0.00 0.00 0.00 x8 -9.11 6.27 2.16
2
x14 44.71 0.00 0.00 x9 1.14 0.00 -1.92
x15 0.00 0.00 0.00 x102 -1.58 -1.67 0.90
2
x16 0.00 0.00 0.00 x11 3.13 3.95 1.40
2
x17 -41.94 -3.87 0.00 x12 1.60 0.00 0.88
2
x18 -29.44 0.00 0.00 x13 -18.69 -2.96 -6.15
x19 0.00 0.00 0.00 x142 0.00 -8.67 -0.77
2
x20 15.36 0.00 0.00 x15 6.25 4.06 1.46
2
x21 0.00 18.40 0.00 x16 -5.59 -4.19 -2.14
2
x22 -12.27 0.00 0.00 x17 1.95 0.00 -1.77
x23 0.00 -17.97 -19.98 x182 3.07 0.90 2.66
2
x24 0.00 0.00 0.00 x19 11.16 -2.75 -2.24
2
x25 0.00 0.00 0.00 x20 5.82 16.80 9.08
2
x26 0.00 0.00 0.00 x21 -9.39 -10.39 -6.89
x27 108.12 78.64 37.75 x222 5.55 4.20 4.48
2
x28 0.00 0.00 0.00 x23 1.02 2.05 1.42
2
x29 0.00 0.00 0.00 x24 -3.11 -4.04 -7.07
35

Lampiran 17 (Lanjutan)
Kuantil Kuantil
Parameter Parameter
75 90 95 75 90 95
2
x30 0.00 0.00 0.00 x25 -13.75 -18.42 -9.69
x31 0.00 0.00 0.00 x262 3.07 2.96 2.43
x32 -86.62 0.00 0.00 x272 -7.29 -4.13 0.00
x33 0.00 0.00 0.00 x282 -3.36 -4.20 -5.73
x34 7.27 38.58 51.05 x292 2.74 2.81 8.22
x35 0.00 0.00 0.00 x302 -0.58 1.05 2.33
x36 57.65 26.05 28.30 x312 8.55 17.05 9.68
D1 0.00 0.00 0.00 x322 1.90 -10.67 -8.48
D2 0.00 0.00 0.00 x332 4.57 7.06 8.31
D3 26.06 0.00 -3.84 x342 -0.79 -5.59 -5.26
D4 65.25 48.71 18.78 x352 -1.64 -1.16 -6.10
D5 -11.64 0.00 0.00 x362 -3.36 -1.12 0.27

Lampiran 18 Penduga parameter model M6 metode LASSO untuk grid 6×6


Kuantil Kuantil
Parameter Parameter
75 90 95 75 90 95
Intercept -135.70 -355.06 -225.39 D13 -46.22 -12.09 -57.12
x1 -33.20 0.00 0.00 D14 -10.78 -34.18 -44.02
x2 0.00 49.01 105.00 x12 -2.33 -6.69 -2.89
2
x3 0.00 0.00 0.00 x2 6.20 0.72 -5.90
2
x4 -16.36 -57.39 -24.75 x3 -4.42 -8.69 -5.83
2
x5 0.00 0.00 0.00 x4 1.77 5.92 1.48
x6 32.69 96.35 69.87 x52 1.27 -0.32 0.00
2
x7 16.21 0.00 0.00 x6 -1.53 -6.00 -2.62
2
x8 0.00 0.00 0.00 x7 9.14 -1.02 -10.45
2
x9 -47.63 0.00 0.00 x8 -8.93 5.27 6.07
x10 0.00 0.00 0.00 x92 4.17 -3.43 -5.61
x11 21.23 3.31 0.00 x102 -0.43 -0.82 4.68
2
x12 0.00 0.00 0.00 x11 2.52 5.01 4.80
2
x13 17.83 0.00 0.00 x12 0.07 -1.80 -2.43
x14 39.90 0.00 0.00 x132 -14.47 -1.58 0.00
2
x15 0.00 0.00 0.00 x14 0.69 -5.00 -4.93
2
x16 20.44 13.72 0.00 x15 4.93 3.90 3.04
2
x17 0.00 0.00 0.00 x16 -9.12 -5.41 -9.57
x18 -36.98 0.00 0.00 x172 -0.70 0.73 0.16
2
x19 0.00 0.00 -32.73 x18 2.38 1.21 1.47
2
x20 8.08 34.51 0.00 x19 7.97 0.00 4.93
2
x21 14.54 0.00 0.00 x20 3.56 6.19 10.13
x22 6.06 0.00 28.91 x212 -3.82 -4.82 -3.83
2
x23 -32.59 0.00 -70.44 x22 5.51 4.34 4.71
2
x24 0.00 0.00 0.00 x23 3.54 0.78 5.40
36

Lampiran 18 (Lanjutan)
Kuantil Kuantil
Parameter Parameter
75 90 95 75 90 95
2
x25 0.00 0.00 0.00 x24 -3.14 -5.05 -6.56
x26 0.00 0.00 0.00 x252 -22.74 -23.41 -20.78
x27 57.88 71.57 0.00 x262 12.53 12.02 7.52
x28 23.57 73.12 57.77 x272 -10.37 -8.14 -3.40
x29 -40.70 -92.16 -61.01 x282 -5.79 -8.23 -6.23
x30 0.00 -16.42 0.00 x292 4.75 7.12 4.52
x31 0.00 0.00 0.00 x302 -1.16 2.57 3.01
x32 -35.50 -8.90 0.00 x312 15.65 15.04 18.12
x33 -0.52 -30.16 0.00 x322 -8.86 -10.75 -16.48
x34 14.51 16.61 100.12 x332 7.11 10.90 13.99
x35 0.00 0.00 0.00 x342 -1.62 -3.99 -10.18
x36 74.93 68.60 28.78 x352 -2.48 -1.01 -3.40
D12 -14.92 0.00 0.00 x362 -3.33 -3.15 -0.73

Lampiran 19 Penduga parameter model M1 metode AKU untuk grid 8×8


Kuantil
Parameter
75 90 95
(Intercept) 155.42 200.81 242.32
xComp.1 -5.68 -6.26 -6.83
xComp.2 10.52 12.63 15.19
xComp.3 -3.04 -2.36 -5.81
xComp.4 -3.18 -5.73 -11.39

Lampiran 20 Penduga parameter model M2 metode AKU untuk grid 8×8


Kuantil
Parameter
75 90 75
(Intercept) 186.85 280.15 258.51
KU 1 -0.31 4.59 6.47
KU 2 2.76 -2.60 2.71
KU 3 -9.68 -6.74 -10.05
KU 4 4.10 20.97 12.43
D1 147.83 309.89 369.49
D2 70.62 246.45 284.64
D3 48.66 110.45 184.83
D4 41.27 -19.53 81.81
D5 -58.37 -139.64 -55.53
D6 -119.97 -250.28 -174.19
D7 -168.12 -316.40 -271.68
D8 -164.56 -329.75 -319.52
D9 -139.45 -279.21 -282.85
D10 -47.33 -143.47 -160.94
37

Lampiran 20 (Lanjutan)
Kuantil
Parameter
75 90 75
D11 7.22 40.46 20.53

Lampiran 21 Penduga parameter model M3 metode AKU untuk grid 8×8


Kuantil
Parameter
75 90 75
(Intercept) 174.29 225.73 279.05
KU 1 -7.03 -7.66 -9.08
KU 2 11.39 10.37 12.66
KU 3 -0.97 1.37 -1.20
KU 4 -5.17 -2.99 -5.11
D12 -47.67 -9.09 -29.94
D13 -38.85 -69.36 -103.50
D14 7.96 -15.61 -38.17

Lampiran 22 Penduga parameter model M4 metode AKU untuk grid 8×8


Kuantil
Parameter
75 90 75
(Intercept) 159.01 201.60 232.89
KU 1 -0.54 -0.63 -0.67
KU 2 0.61 0.79 0.86
KU 3 -0.28 -0.35 -0.37
KU 4 0.16 0.23 0.61
KU 5 -0.08 0.44 0.26
KU 6 -0.42 -0.72 -0.15

Lampiran 23 Penduga parameter model M5 metode AKU untuk grid 8×8


Kuantil
Parameter
75 90 75
(Intercept) 166.71 271.50 277.83
KU 1 -0.20 0.14 0.16
KU 2 0.26 0.12 0.37
KU 3 -0.64 -0.25 -0.69
KU 4 0.02 0.10 0.27
KU 5 -0.38 -1.58 -1.11
KU 6 -0.33 -0.22 -0.19
D1 104.39 249.56 215.54
D2 66.40 176.81 177.83
D3 37.93 7.99 69.48
D4 55.01 -48.24 7.55
D5 -34.00 -87.30 -56.03
38

Lampiran 23 (Lanjutan)
Kuantil
Parameter
75 90 75
D6 -67.79 -128.02 -134.07
D7 -106.36 -217.23 -215.51
D8 -121.14 -281.08 -275.27
D9 -105.37 -262.18 -266.17
D10 -8.25 -154.06 -144.25
D11 40.47 67.06 38.72

Lampiran 24 Penduga parameter model M6 metode AKU untuk grid 8×8


Kuantil
Parameter
75 90 75
(Intercept) 187.52 224.54 319.47
KU 1 -0.73 -0.68 -0.94
KU 2 0.66 0.65 0.78
KU 3 -0.22 -0.27 -0.27
KU 4 0.21 -0.09 -0.22
KU 5 -0.22 0.45 -0.29
KU 6 -0.54 -0.69 -0.45
D12 -80.86 -13.01 -135.56
D13 -50.19 -43.96 -126.63
D14 1.35 -18.03 -67.07

Lampiran 25 Penduga parameter model M1 metode AKU untuk grid 6×6


Kuantil
Parameter
75 90 95
(Intercept) 160.44 206.74 230.94
xComp.1 -6.70 -7.84 -8.24
xComp.2 18.53 22.42 22.68
xComp.3 -15.17 -19.99 -24.07
xComp.4 -9.11 -0.41 0.03

Lampiran 26 Penduga parameter model M2 metode AKU untuk grid 6×6


Kuantil
Parameter
75 90 75
(Intercept) 192.56 290.30 295.28
KU 1 -5.52 -3.29 -0.42
KU 2 5.34 0.74 5.78
KU 3 -4.96 1.98 2.49
KU 4 12.97 24.84 19.31
D1 75.40 144.98 238.11
D2 -47.77 36.65 101.02
D3 -76.41 -84.90 3.41
39

Lampiran 26 (Lanjutan)
Kuantil
Parameter
75 90 75
D4 -36.87 -90.67 -52.99
D5 -72.98 -134.42 -122.50
D6 -75.60 -187.86 -169.70
D7 -92.69 -223.74 -223.28
D8 -93.52 -210.63 -245.61
D9 -81.38 -178.74 -221.53
D10 8.42 -75.71 -120.54
D11 49.87 96.30 67.37

Lampiran 27 Penduga parameter model M3 metode AKU untuk grid 6×6


Kuantil
Parameter
75 90 75
(Intercept) 191.27 252.83 284.45
KU 1 -8.51 -9.18 -9.10
KU 2 18.05 20.38 16.42
KU 3 -15.60 -13.47 -13.06
KU 4 -3.70 10.60 9.69
D12 -73.35 -85.36 -39.62
D13 -39.83 -60.80 -99.47
D14 -15.49 -66.05 -80.37

Lampiran 28 Penduga parameter model M4 metode AKU untuk grid 6×6


Kuantil
Parameter
75 90 75
(Intercept) 156.88 210.22 237.89
KU 1 -0.63 -0.70 -0.69
KU 2 0.68 0.86 1.06
KU 3 1.59 2.08 2.44

Lampiran 29 Penduga parameter model M5 metode AKU untuk grid 6×6


Kuantil
Parameter
75 90 75
(Intercept) 154.88 214.80 224.24
KU 1 -0.29 -0.54 0.34
KU 2 0.81 0.89 1.30
KU 3 1.44 2.40 0.42
D1 84.45 30.52 349.23
D2 53.74 -12.92 332.22
D3 55.20 12.69 172.90
D4 64.10 42.69 58.34
D5 -2.90 -15.35 -40.32
40

Lampiran 29 (Lanjutan)
Kuantil
Parameter
75 90 75
D6 -26.92 -9.26 -109.25
D7 -62.31 -36.10 -182.59
D8 -86.84 -94.20 -213.58
D9 -83.39 -85.20 -205.84
D10 -9.00 -14.43 -109.06
D11 26.13 138.70 61.22

Lampiran 30 Penduga parameter model M6 metode AKU untuk grid 6×6


Kuantil
Parameter
75 90 75
(Intercept) 207.65 259.38 295.09
KU 1 -0.80 -0.87 -0.92
KU 2 1.20 1.16 1.66
KU 3 1.89 1.60 2.22
D12 -126.71 -110.65 -134.77
D13 -34.88 -49.57 -46.75
D14 -45.82 -56.30 -73.87

Lampiran 31 Nilai QVSS dan RMSEP model yang menggunakan LASSO


QVSS RMSEP
model kuantil
grid 8×8 grid 6×6 grid 8×8 grid 6×6
75 0.43 0.49 89.46 71.77
1 90 0.43 0.63 114.71 94.74
95 0.40 0.58 133.54 124.21
75 0.40 0.45 88.57 75.36
2 90 0.60 0.61 117.52 95.33
95 0.43 0.59 122.22 123.56
75 0.39 0.49 85.58 72.06
3 90 0.49 0.63 106.27 96.43
95 0.55 0.58 130.91 124.21
75 0.54 0.44 71.85 83.59
4 90 0.62 0.61 103.98 115.36
95 0.61 0.58 135.56 137.64
75 0.42 0.40 79.58 84.57
5 90 0.60 0.51 100.92 107.23
95 0.59 0.51 141.51 131.89
75 0.54 0.44 85.23 84.53
6 90 0.62 0.60 108.66 120.01
95 0.61 0.60 164.35 140.38
41

Lampiran 32 Nilai QVSS dan RMSEP model yang menggunakan AKU


QVSS RMSEP
model kuantil
grid 8×8 grid 6×6 grid 8×8 grid 6×6
75 0.43 0.55 78.93 66.47
1 90 0.53 0.69 101.80 91.70
95 0.66 0.71 131.40 110.46
75 0.49 0.42 69.02 77.83
2 90 0.65 0.56 111.47 110.95
95 0.62 0.57 125.33 130.27
75 0.42 0.58 78.93 63.74
3 90 0.58 0.66 101.80 89.46
95 0.67 0.71 131.40 114.70
75 0.50 0.57 75.74 61.63
4 90 0.49 0.69 101.37 95.02
95 0.69 0.69 123.29 122.06
75 0.52 0.52 65.77 65.86
5 90 0.63 0.51 112.52 105.56
95 0.62 0.69 121.48 126.22
75 0.54 0.58 68.82 64.92
6 90 0.54 0.68 104.41 96.29
95 0.66 0.69 132.31 122.94
42

Lampiran 33 Nilai prediksi masing-masing model untuk metode LASSO grid 8×8
600 500
Curah hujan (mm/bulan)

Curah hujan (mm/bulan)


500 400
400 300 tau=
300 tau= 0.95 0.95
200
200 tau= 0.90 tau=
100 0.90
100 tau=
tau= 0.75 0
0 0.75

Nov
Sept
Apr
Jan

Mei
Feb

Okt
Mar

Jun
Jul
Agustus

Des
aktual

Nov
Feb

Sept
Apr
Mei
Jan

Jul

Okt
Mar

Jun

Agustus

Des
-100

Bulan Bulan

a) Prediksi dari model M1 d) Prediksi dari model M4


700 500

Curah hujan (mm/bulan)


Curah hujan (mm/bulan)

600 400
500 300
400 tau= 0.95 tau= 0.95
200
300 tau= 0.90 tau= 0.90
200 100
tau= 0.75 0 tau= 0.75
100

Sept

Nov
Jan
Feb

Apr
Mei

Jul

Okt
Mar

Jun

Agustus

Des
0 aktual aktual
Oct
Nov
Feb

Apr

Aug
Jan

Jul

Sep
Mar

May
Jun

Dec

-100
Bulan Bulan

b) Prediksi dari model M2 e) Prediksi dari model M5


600 500
Curah hujan (mm/bulan)

Curah hujan (mm/bulan)

500 400
400
300
300 tau= 0.95 tau= 0.95
200
200 tau= 0.90 tau= 0.90
100 100
tau= 0.75 tau= 0.75
0 0
aktual aktual
Nov
Sept
Apr
Mei
Jan
Feb
Mar

Jun
Jul

Okt
Agustus

Des

Nov
Apr

Sept
Jan

Mei
Feb
Mar

Jun
Jul

Okt
Agustus

Des

-100

Bulan Bulan

c) Prediksi dari model M3 d) Prediksi dari model M6


43

Lampiran 34 Nilai prediksi masing-masing model untuk metode AKU grid 8×8
500 500
Curah Hujan (mm/bulan)

Curah Hujan (mm/bulan)


400 400
300 tau= 0.95 300 #REF!
200 tau= 0.90 200 #REF!
100 tau= 0.75 100 #REF!
0 aktual 0 #REF!

Nov
mei
jun
jul

mei
jun
jul
mar

agu

des

mar

agu
sept
okt

sept
okt
feb

apr

nov

feb

apr
jan

jan

Des
Bulan Bulan

a) Prediksi dari model M1 d Prediksi dari model M4


700 600
Curah Hujan (mm/bulan)

Curah Hujan (mm/bulan)


600 500
500
400
400 tau= 0.95 tau= 0.95
300
300 tau= 0.90 tau= 0.90
200
200 tau= 0.75 tau= 0.75
100 100
aktual aktual
0 0
Nov
mei
jun
jul

mei

Nov
jun
jul
agu
feb
mar

mar

agu
apr

sept
okt

feb

apr

sept
okt
jan

jan
Des

Des
Bulan Bulan

b) Prediksi dari model M2 e) Prediksi dari model M5


500 500
Curah Hujan (mm/bulan)
Curah Hujan (mm/bulan)

450 450
400 400
350 350
300 300
#REF! #REF!
250 250
200 #REF! 200 #REF!
150 #REF! 150 #REF!
100 100
50 #REF! 50 #REF!
0 0
jul

Nov
mar

mei
jun

agu
apr

sept
okt
feb
jan

Des
jul

Nov
mar

mei
jun

agu
apr

sept
okt
feb
jan

Des

Bulan Bulan

c) Prediksi dari model M3 d) Prediksi dari model M6


44

Lampiran 35 Nilai prediksi masing-masing model untuk metode LASSO untuk grid
6×6
500 700
Curah Hujan (mm/bulan)

Curah Hujan (mm/bulan)


600
400
500
300 tau= 0.95 400 tau= 0.95
200 tau= 0.90 300 tau= 0.90
tau= 0.75 200 tau= 0.75
100
100
aktual aktual
0 0
Nov
mei
jun
mar

jul
feb

agu
apr

sept
okt
jan

Des

mei
jun

Nov
jul
mar

agu
sept
okt
feb

apr
jan

Des
-100
Bulan Bulan

a) Prediksi dari model M1 d) Prediksi dari model 4


700 600
Curah Hujan (mm/bulan)

Curah Hujan (mm/bulan)


600 500
500
400
400 tau= 0.95 tau= 0.95
300
300 tau= 0.90 tau= 0.90
200 200
tau= 0.75 tau= 0.75
100 100 aktual
aktual
0 0
Nov
jul
mei
mar

jun

agu
feb

apr

sept
okt
jan

Des

mei
jun
jul

Nov
mar

agu
feb

apr

sept
okt
jan

Des
-100
Bulan Bulan

b) Prediksi dari model M2 e) Prediksi dari model M5


500 700
Curah Hujan (mm/bulan)

450
Curah Hujan (mm/bulan)

600
400
350 500
300 tau= 0.95
tau= 0.95 400
250
200 tau= 0.90 300 tau= 0.90
150 tau= 0.75 200 tau= 0.75
100
50 aktual 100 aktual
0 0
mei
jun
jul

Nov
feb
mar

agu
apr

sept
okt
jan

Des

Nov
mei
jun
jul
mar

agu
feb

apr

sept
okt
jan

Des

-100
Bulan Bulan

c Prediksi dari model M3 d) Prediksi dari model M6


45

Lampiran 36 Nilai prediksi masing-masing model untuk metode AKU untuk grid 6×6
500 600

Curah Hujan (mm/bulan)


curah hujan (mm/bulan)
400 500
400
300 tau= 0.95 tau= 0.95
300
200 tau= 0.90 tau= 0.90
200
100 tau= 0.75 tau= 0.75
100
aktual aktual
0 0

jul
mei
mar

jun

agu

des
feb

apr

sept
okt
nov
jan
mei
jun
jul
mar

agu

des
feb

apr

sept
okt
nov
jan

Bulan Bulan

a) Prediksi dari model M1 d) Prediksi dari model M4


700 600

Curah Hujan (mm/bulan)


Curah hujan (mm/bulan)

600 500
500 400
400 tau= 0.95 tau= 0.95
300
300 tau= 0.90 tau= 0.90
200
200 tau= 0.75 tau= 0.75
100 100
aktual aktual
0 0

jun
mei

jul
mar

agu

des
feb

apr

sept
okt
nov
jan
jul
mei
jun
mar

agu
apr

nov
des
feb

sept
okt
jan

Bulan Bulan

b) Prediksi dari model M2 e) Prediksi dari model M5


600 600
Curah Hujan (mm/bulan)
Curah hujan (mm/bulan)

500 500

400 400
tau= 0.95 tau= 0.95
300 300
tau= 0.90 tau= 0.90
200 200
tau= 0.75 tau= 0.75
100 100
aktual aktual
0 0
jul
mar

mei
jun

agu
apr

des
feb

sept
okt
nov
jan
mei

jul
jun
mar

agu

des
okt
feb

apr

sept

nov
jan

Bulan Bulan

c Prediksi dari model M3 d) Prediksi dari model M6


46

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Raha pada tanggal 24 Oktober 1990, sebagai anak kedua
dari pasangan La Hafili dan Wa Nia. Pendidikan sekolah menengah ditempuh di
SMA Negeri 1 Lawa Program IPA, lulus pada tahun 2008. Pada tahun yang sama
penulis diterima di program studi Statistika Universitas Hasanuddin, Makassar dan
menyelesaikannya pada tahun 2012.
Kesempatan untuk melanjutkan program master (S2) pada program studi
Statistika, Sekolah Pascasarjana IPB, diperoleh pada tahun 2013 dengan program
Beasiswa Pendidikan Dalam Negeri (BPPDN) dari Direktorat Jendral Pendidikan
Tinggi (Dikti).
Karya ilmiah ini telah dipresentasikan dalam SEAMS UGM International
Conference on Mathematics and Its Applications di Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta pada tanggal 18-21 Agustus 2015.

Anda mungkin juga menyukai