EVALUASI PROGRAM KELAS UNGGULAN DALAM
MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN
(Studi Evaluatif pada MA DDI Nurul Islam Kab. Mimika)
PROPOSAL TESIS
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Magister
dalam Bidang Manajemen Pendidikan Islam pada Program Pascasarjana
Universitas Islam Makassar
Oleh:
MUHAMMAD TAHIR
NIM: 220262052051
PROGRAM PASCASARJANA MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM MAKASSAR
2023
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Pembimbing penulisan proposal tesis saudara Muhammad Tahir, NIM:
220262052051 Mahasiswa Program Pascasarjana Program Studi Manajemen
Pendidikan Islam Universitas Islam Makassar, setelah dengan seksama meneliti
dan mengoreksi proposal tesis yang bersangkutan dengan judul “Evaluasi
program Kelas Unggulan Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan (Studi Evaluatif
pada MA DDI Nurul Islam Kab. Mimika)” Memandang bahwa tesis tersebut
telah memenuhi syarat-syarat ilmiah dan dapat disetujui untuk diajukan ke
seminar proposal.
Demikian persetujuan ini diberikan untuk diproses lebih lanjut.
Makassar, 16 Januari 2024
PEMBIMBING I PEMBIMBING II
Badruddin Kaddas, [Link].,Ph.D Dr. Muh. Wajedi Ma’ruf, [Link].I.,[Link]
Mengetahui
Ketua Program Studi MPI
Dr. Muh. Wajedi Ma’ruf, [Link].I.,[Link]
ii
iii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL............................................................................................ i
PERSETUJUAN PEMBIMBING...................................................................... ii
DAFTAR ISI........................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................... 1
A. Latar Belakang..................................................................................... 1
B. Fokus Penelitian.................................................................................. 14
C. Rumusan Masalah............................................................................... 14
D. Tujuan Penelitian................................................................................. 15
E. Manfaat Penelitian............................................................................... 15
BAB II TINJAUAN PUSTAKA......................................................................... 18
A. Hubungan Dengan Penelitian Terdahulu............................................. 18
B. Landasan Teori.................................................................................... 21
C. Deskripsi Fokus................................................................................... 63
D. Kerangka Konseptual.......................................................................... 63
BAB III METODE PENELITIAN..................................................................... 65
A. Jenis dan Lokasi Penelitian................................................................. 65
B. Sumber Data........................................................................................ 66
C. Metode Pengumpulan Data................................................................. 68
D. Instrumen Penelitian............................................................................ 69
E. Pengolahan dan Analisis Data............................................................. 71
F. Pengujian Keabsahan Data.................................................................. 75
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 77
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sejatinya, pendidikan adalah kegiatan memanusiakan manusia oleh manusia
yang telah di manusiakan. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukan karakter manusia.
Oleh sebab itu, pemerintah dalam hal pendidikan sangat serius menangani hal- hal
yang menunjang perbaikan dalam pendidikan, karena dengan sistem pendidikan
yang baik diharapkan muncul generasi penerus bangsa yang berkualitas dan
mampu beradaptasi atau menyesuaikan diri serta menjadi contoh untuk hidup
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Tidak dipungkiri bahwa pendidikan merupakan benteng terkuat dalam
membentuk generasi bangsa yang hebat. Berbagai inovasi dalam dunia pendidikan
dilakukan guna meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Berbagai program
juga dilakukan guna meningkatkan mutu sekolah. Salah satunya adalah program
kelas unggulan.
Banyak sekolah di Indonesia, terutama sekolah yang dibawah naungan
Yayasan baik bertaraf nasional maupun internasional sudah mulai menerapkan
1
2
sistem kelas unggulan di sekolah mereka. Kelas unggulan adalah kelas yang
diikuti oleh sejumlah siswa yang unggul dalam tiga ranah penilaian dengan
kecerdasan di atas rata-rata yang dikelompokan secara khusus. Pengelompokan ini
dimaksudkan untuk membina siswa dalam mengembangkan kecerdasan,
kemampuan, keterampilan, dan potensinya seoptimal mungkin sehingga memiliki
pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang terbaik sebagaimana semangat konsep
wawasan keunggulan.1
Berdasarkan uraian diatas, program kelas unggulan merupakan kegiatan
pengelompokan peserta didik berdasarkan tingkat kecerdasan dan kriteria lainnya
yang ditetapkan sebagai dasar acuan sekolah. Adapun tujuan program ini biasanya
agar kelas tersebut menjadi kelas percontohan di sekolah tersebut. Contoh bagi
peserta didik lainnya agar menjadi motivasi untuk lebih meningkatkan prestasi
mereka dan juga sebagai bahan evaluasi sejauh mana kinerja guru dalam
mengembangkan kreativitas anak.
Kelas Unggulan bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan
kualitas pendidikan, menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas,
meningkatkan kemampuan dan pengetahuan tenaga pendidik, mengembangkan
potensi yang ada di sekolah, meningkatkan kemampuan untuk menghadapi
persaingan di dunia pendidikan dengan menciptakan keunggulan kompetitif.2
Penyelenggaraan kelas unggulan bertujuan diantaranya: mengembangkan
dan meningkatkan kualitas pendidikan, menghasilkan sumber daya manusia yang
1
Mulyadi. 2009. Classroom Management Mewujudkan Suasana Kelas Yang
Menyenangkan Bagi Siswa, Malang: Aditya Media h 12
2
Utomo, Amin Mudi.(2012). Pengelolaan Pendidikan Karakter Kelas Unggulan di SMP
Negeri 2 Cepu. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta h 8
3
berkualitas, meningkatkan kemampuan dan pengetahuan tenaga pendidik,
mengembangkan potensi yang ada di madrasah, meningkatkan kemampuan untuk
menghadapi persaingan di dunia pendidikan dengan menciptakan keunggulan
kompetitif.
Adapun pada penerapannya, kelas unggulan ini merupakan implementasi
dari Undang- Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional Pasal 4 yang menyebutkan bahwa: warga negara
yang memiliki kecerdasan dan bakat istimewa berhak mendapatkan pendidikan
khusus. Program kelas unggulan ini mulai diperkenalkan sekitar tahun 1992
oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atau yang sekarang dikenal
dengan Departemen Pendidikan Nasional. Pada saat itu konsep yang ditawarkan
adalah pendidikan berwawasan keunggulan, dimana pengembangan sumber
daya manusia yang memiliki wawasan keunggulan mutlak dibutuhkan.
Hal ini dipersiapkan untuk menuju abad yang diwarnai persaingan bebas
dan menciptakan daya saing bangsa.
Pada hakikatnya wawasan keunggulan merupakan cara pandang bangsa
Indonesia untuk mewujudkan gagasan, ide, dan pemikiran dalam bentuk perilaku
dan sikap yang terbaik menurut kemampuan warga negara secara konsisten dan
berdisiplin dalam rangka pembangunan bangsa. Wawasan keunggulan meliputi
iman dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kemandirian yang mampu
mengahadapi era globalisasi, keunggulan yang dapat mengasilkan karya bermutu,
keahlian dan profesionalisme dalam penguasaan ilmu dan kekeluargaan dalam
mempererat persatuan dan kekeluargaan dalam mempererat persatuan dan
4
kesatuan bangsa. Dengan wawasan keunggulan itu diharapkan mencapai
keunggulan dalam Percaturan.
Hal ini juga didukung oleh arah kebijakan dan strategi pendidikan islam
yang dibuat Kementerian Agama tahun 2015-2019. Salah satu arah kebijakan
yang dibuat untuk meningkatkan akses dan mutu pendidikan menengah adalah
meningkatkan mutu peserta didik. Adapun strategi yang dilakukan diantaranya
yaitu memfasilitasi peserta didik yang berprestasi dan menyusun peraturan untuk
menjamin layanan pendidikan madrasah yang bermutu.
Penerapan program kelas unggulan ini tentu ada kekurangan juga ada
kelebihannya. Adapun kelebihan program ini salah satunya adalah menjadikan
anak lebih giat dalam meningkatkan prestasinya dan memunculkan kelompok
kelas anak- anak pintar yang menjadi contoh dilingkungan sekolah. Adapun
kelemahannya, maka program ini memunculkan persaingan yang kuat diantara
siswa. Selain itu anak yang pintar akan semakin pintar sedangkan anak yang
bodoh akan tetap bodoh karena secara alami terseleksi oleh kelas unggulan ini.
Maka ketika anak tersebut ditempatkan dalam kelas peringkat terakhir, maka tidak
akan ada motivasi peserta didik tersebut untuk bersaing dan menjadi lebih baik.
Meskipun seharusnya tidak boleh terjadi diskriminasi bagi perkembangan
anak, program ini banyak diterapkan disekolah- sekolah terutama sekolah daerah
perkotaan. Program kelas unggulan ini akan memberikan stigma pada pemikiran
para orang tua bahwa anak yang bersekolah disekolah tersebut sudah pasti anak
yang pintar dan jika berhasil mendapatkan kelas A atau yang biasa disebut kelas
5
anak- anak pintar, sudah tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi orang tua
tersebut.
Meskipun sempat terjadi pro dan kontra di awal pelaksanaan program kelas
unggulan ini di Indonesia, tetapi akhir- akhir ini banyak sekolah yang sudah
menerapkannya guna meningkatkan mutu pendidikan sekolah mereka. Tidak
dipungkiri, secara tidak langsung program ini berdampak pada peningkatan mutu
sekolah terutama dari segi mutu siswa. Hal ini juga menjadi perhatian masyarakat
dan menarik minat serta kepercayaan masyarakat sekitar terhadap sekolah
tersebut untuk mendidik anak mereka menjadi lebih baik.
Strategi Kepala Sekolah dalam mewujudkan kelas unggulan mempunyai
dampak yang sangat besar terhadap pengembangan minat dan bakat peserta didik
terutama pada program unggulan yang ditawarkan oleh kelas internasional seperti
sains, bahasa asing dan tahfidz.3 Program tersebut sebagai program unggulan
kelas internasional untuk dapat bersaing secara global terbukti dengan prestasi
yang telah diraih di tingkat nasional dan internasional.
Beberapa strategi untuk pengelolaan kelas unggulan dalam meningkatkan
prestasi belajar siswa yaitu membangun kerjasama dengan siswa dalam
pembelajaran, menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif, evaluasi proses
belajar mengajar. Dalam strategi pengelolaan kelas ada faktor yang mendukung
antara lain: faktor kurikulum, sarana, guru, siswa,keluarga. 4
3
Trisandi, Abd Salam. Strategi Kepala Sekolah dalam Mewujudkan Kelas Unggulan di
SMA Sains Alqur’an Wahid Hasyim Yogyakarta, Managere:Indonesian Journal Of Education
Management, Vol. 2 No. 2 (2020) h 23
4
Amalia Ratna Zaskiah Wati & Syunu Trihantoyo. (2020).Strategi Pengelolaan Kelas
Unggulan dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa: Jurnal Dinamika Manajemen Pendidikan
Volume 5 No. 1 h 17
6
Diatas dapat dipahami bahwa, pelaksanaan program kelas ini harus dibarengi
dengan strategi yang baik dan komponen yang saling mendukung agar
pelaksanaan program ini dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan dan
berdampak positif pada peningkatan mutu sekolah.
Kelas unggulan tentu konsepnya berbeda dengan sekolah unggulan. Sekolah
unggulan merupakan sekolah yang didesain dengan manajemen yang baik
dilengkapi dengan kurikulum unggul yang membuat sekolah dapat meningkatkan
mutu lulusannya dan berdampak pada peminatan masyarakat yang meningkat pula
untuk menitipkan anak mereka di sekolah tersebut agar mendapat pendidikan
yang baik tersebut. Misalnya, kurikulum muatan lokal yang berbasis pada
keunggulan lokal didaerah tersebut. Sekolah akan dikatakan unggul oleh
lingkungan masyarakatnya ketika mampu menerapkan dan mendesain
keunggulan lokalnya dengan efektif dan efisien.
Sedangkan kelas unggulan, merupakan item dari sekolah unggulan tersebut.
Kelas unggulan didesain agar anak- anak yang berbakat dan memiliki kompetensi
khusus, lebih di bimbing lagi dalam bidang- bidang tertentu. Pada kelas unggulan
ini kurikulum yang berlaku di sekolah tersebut tidak berbeda jauh. Hampir sama
dengan kelas reguler, namun pada kelas unggulan di adakan penekanan lebih
dalam dan pasti ada satu aspek yang di unggulkan. Misalnya dalam aspek bahasa,
eksak, atau lainnya.
Program kelas unggulan ini sangat menarik perhatian peneliti, mengingat
sudah banyak sekolah menerapkan program ini namun kurang tepat dalam
pelaksanaannya. Sehingga program kelas unggulan hanya menjadi kelas hasil
7
seleksi anak- anak yang pintar saja tanpa memikirkan harusnya didesain seperti
apa dan dikembangkan bagaimana.
Ada satu madrasah yang menarik perhatian peneliti terhadap program kelas
unggulan ini. MA DDI Nurul Islam Kab. Mimika yang terletak di Jl. Poros
Mapuru Jaya SP.1 Km 5,5 Kampung Kamoro Jaya ini sudah beberapa tahun ini
menerapkan program kelas unggulan ini. Program ini merupakan salah satu
strategi madrasah dalamm memajukan mutu pendidikan madrasah tersebut.
Selama pelaksanaan program ini berdampak positif pada kemajuan madrasah pada
beberapa tahun belakangan terakhir . Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya
grafik jumlah siswa setiap tahunnya di madrasah tersebut.
MA DDI Nurul Islam Kab. Mimika memiliki dua jenis kelas didalamnya,
yaitu kelas unggulan dan kelas reguler. Perwujudan kelas unggulan ini selaras
pada regulasi yang ada bahwa madrasah mendukung peserta didik yang memiliki
bakat dan kecerdasan khusus. Adapun pelaksanaan kelas unggulan ini adalah
sebagai wadah yang melatih bakat dan kreativitas peserta didik. Nantinya
diharapkan peserta didik kelas unggulan di MA DDI Nurul Islam Kab. Mimika
akan memiliki nilai lebih dibandingkan kelas reguler. Dengan berjalannya kelas
unggulan ini, adapun untuk pembelajaran tahun ajaran 2023-2024, MA DDI
Nurul Islam telah mencapai mencapai lebih kurang 56 siswa. Tentu jumlah
pada saat ini adalah sebuah pencapaian yang lebih mengingkat dari tahun
sebelumnya.
Adapun konteks pelaksanaan program adalah dengan diadakannya tes pada
peserta didik untuk menentukan kelas yang akan mereka masuki sesuai daya
8
belajar mereka di awal pembelajaran, lalu kemudian ditawarkan kembali kepada
orang tua siswa yang bersangkutan, bersedia atau tidak jika anaknya dimasukkan
ke dalam kelas unggulan ini. Setelah bersedia, peserta didik akan dilakukan tes
penempatan kelas kembali. Adapun tes penempatan kelas ini tidak hanya berlaku
untuk peserta didik baru saja, tetapi juga berlaku sampai tingkat yang paling
tinggi yaitu kelas IX (sembilan). Awal mula berjalannya program ini, dalam
menentukan kemampuan, bakat dan daya belajar siswa, sekolah bekerja sama
dengan tenaga Psikolog khusus untuk menentukan hal tersebut. Namun
belakangan, untuk menentukan hal itu diserahkan kepada guru yang juga
berkompeten dibidang itu. Tes ini dilakukan setiap tahun saat memulai Tahun
Ajaran baru lalu kemudian hasilnya akan menentukan peserta didik akan berada di
kelas yang mana.
Jika dilihat dari input pelaksanaan program ini, maka program kelas
unggulan ini di desain khusus yang membedakannya dengan kelas reguler. Salah
satunya adalah, mereka lebih ditekankan dalam hal bahasa yaitu bahasa Arab dan
Inggris. Hal ini dibuktikan dengan adanya mata pelajaran conversation dan
muhadatsah bagi anak kelas unggulan. Apakah dikelas reguler tidak ada? Tidak.
Kelas reguler hanya sekedar belajar Bahasa Inggris dan Bahasa Arab secara teori
namun tidak mendalaminya. Tidak hanya itu, bagi anak unggulan porsi tahfidz
mereka harus tuntas 5 juz minimal. Berbeda dengan anak reguer, mereka hanya
dituntut 3 juz saja. Jika dilihat dari proses pembelajaran, maka anak kelas
unggulan lebih banyak menggunakan e- learning dan teknologi lainnya daripada
9
anak kelas reguler. Selain itu juga disediakan tenaga pendidik yang profesionalitas
dibidangnya pada kelas unggulan ini.
Dengan kata lain, pada program kelas unggulan yang ada di Madrasah
Tsanawiyah DDI Nurul Islam, anak- anak lebih banyak dipersiapkan kegiatan life
skill nya daripada di kelas unggulan. Misalnya, ada kurikulum tambahan seperti
al- khatt, tilawah, paper craft, memanah, dan sebagainya. Ini menjadi keunikan
tersendiri bagi program kelas unggulan yang ada di MA DDI Nurul Islam
Kab. Mimika ini.
Pelaksanaan program kelas unggulan di MA DDI Nurul Islam Kab.
Mimika ini menunjukkan ke efektifannya dalam meningkatkan mutu madrasah.
Meskipun dalam pelaksanaannya banyak terdapat kekurangan dan kelebihan.
Begitupun sekolah tetap melakukan perbaikan terus menerus agar program kelas
unggulan ini dapat terlaksana lebih baik lagi.
Pelaksanaan kelas unggulan merupakan suatu program pembelajaran yang
dilakukan berdasarkan melihat bakat dan tingkat kecerdasan yang dimiliki peserta
didik untuk menghasilkan ouput sumber daya manusia yang memiliki kecerdasan
yang unggul. Idealnya dengan adanya program kelas unggulan diharapkan mampu
menjadi wadah bagi peserta didik yang mempunyai prestasi akademik di atas rata-
rata untuk mengembangkan potensinya, meskipun terjadi kesenjangan prestasi
belajar antara siswa kelas unggulan dengan siswa kelas reguler. Namun itu
merupakan dinamika dari berjalannya sebuah program. Semuanya bermuara pada
pembentukan sekolah yang baik agar tujuan yang diharapkan tercapai dengan
efektif. Adapun sekolah yang baik digambarkan Glover (2005:6) sebagai berikut:
10
Sekolah yang baik adalah sekolah yang memperbaiki diri. Sekolah yang
sukses akan memperlihatkan butir- butir: 1) Etos sekolah yang bagus, 2)
pengelolaan ruang kelas yang bagus, 3) Harapan guru yang tinggi, 4) Guru- guru
sebagai model peran yang positif, 5) umpan balik dan perlakuan yang positif
terhadap siswa, 6) Kondisi kerja yang bagus bagi para guru dan siswa, 7)
tanggung jawab yang diberikan kepada siswa, 8) kegiatan bersama antara staf dan
siswa.
Adapun sekolah efektif yaitu sekolah yang dapat menghasilkan prestasi
akademik peserta didik yang tinggi, menggunakan sumber daya secara cermat,
adanya iklim sekolah yang mendukung kegiatan pembelajaran, proses
pembelajaran yang berkualitas, adanya kepuasan setiap unsur yang ada disekolah,
serta ouput sekolah yang bermanfaat bagi lingkungannya.5
Pelaksanaan kelas unggulan akan meningkatkan prestasi siswa jika
didukung oleh strategi dan pengelolaan yang lebih optimal. Dengan
meningkatnya prestasi siswa, maka ini akan berbanding lurus dengan
peningkatan mutu sekolah.
Maka adapun ciri- ciri sekolah yang baik sebgaimana pemaparan diatas,
dapat dilihat juga pada MA DDI Nurul Islam Kab. Mimika yang mana tetap
melakukan perbaikan demi perbaikan untuk mencapai kualitas yang baik
sehingga tercipta kepuasan masyarakat pada sekolah tersebut. Salah satu item
yang dapat dilihat adalah dengan berjalannya program kelas unggulan ini di MA
DDI Nurul Islam Kab. Mimika dengan baik dan sudah terlihat hasilnya.
5
Supardi. (2013). Sekolah Efektif: Konsep Dasar dan Praktiknya, Jakarta: Rajagrafindo
Persada h 4
11
Maka dengan itu, peneliti ingin mengangkat model evaluasi CIPP sebagai
alat evaluasi dalam penelitian ini. Dalam hal ini fokus evaluasi tersebut ada
empat, yaitu: 1) evaluasi konteks, dalam hal ini evaluasi ini memberikan data
tentang berbagai kebutuhan sesuai prioritasnya, agar tujuan dari program kelas
unggulan ini dapat diformulasikan; 2) evaluasi input, dalam hal ini evaluasi ini
menghasilkan data tentang masukan yang terpilih, item kekuatan dan kelemahan
dari program, strategi yang dilakukan, dan desain yang diciptakan untuk
mewujudkan tujuan program kelas unggulan; 3) evaluasi proses, dalam hal ini
menyediakan informasi bagi evaluator untuk melakukan prosedur monitoring
terpilih yang mungkin baru diimplementasi sehingga muncullah butir- butir yang
kuat yang dapat dimanfaatkan dan yang lemah dapat dihilangkan; dan 4) evaluasi
produk, dalam hal ini membuat informasi untuk meyakinkan dalam kondisi apa
tujuan dapat dicapai dan juga untuk merumuskan jika strategi yang berkaitan
dengan prosedur dan metode yang diterapkan guna mencapai tujuan sebaiknya
berhenti, dimodifikasi atau dilanjutkan namun tetap dilakukan perbaikan hingga
dalam bentuk seperti sekarang.
Berdasarkan pemaparan diatas, Peneliti merasa tertarik hati untuk
melakukan penelitian yang berjudul, ”Evaluasi Program Kelas Unggulan
dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan (Studi Evaluatif pada MA DDI
Nurul Islam Kab. Mimika).
B. Fokus Penelitian
Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi fokus dalam
12
penelitian ini adalah: Evaluasi Program Kelas Unggulan dalam Meningkatkan
Mutu Pendidikan di MA DDI Nurul Islam Kab. Mimika. Penelitian ini
menggunakan model evaluasi CIPP yaitu evaluasi context, input, process, dan
ouput.
C. Rumusan Masalah
1. Bagaimana evaluasi context (konteks) pelaksanaan program kelas unggulan
dalam meningkatkan mutu pendidikan di MA DDI Nurul Islam Kab.
Mimika?
2. Bagaimana evaluasi input (masukan) pelaksanaan program kelas unggulan
dalam meningkatkan mutu pendidikan di MA DDI Nurul Islam Kab.
Mimika?
3. Bagaimana evaluasi process (proses) pelaksanaan program kelas unggulan
dalam meningkatkan mutu pendidikan di MA DDI Nurul Islam Kab.
Mimika?
4. Bagaimana evaluasi product (produk) pelaksanaan program kelas unggulan
dalam meningkatkan mutu pendidikan di MA DDI Nurul Islam Kab.
Mimika?
D. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian dalam hal ini yaitu untuk mengetahui:
1. Evaluasi context (konteks) pelaksanaan program kelas unggulan dalam
meningkatkan mutu pendidikan di MA DDI Nurul Islam Kab. Mimika.
2. Evaluasi input (masukan) pelaksanaan program kelas unggulan dalam
meningkatkan mutu pendidikan di MA DDI Nurul Islam Kab. Mimika.
13
3. Evaluasi process (proses) pelaksanaan program kelas unggulan dalam
meningkatkan mutu pendidikan di MA DDI Nurul Islam Kab. Mimika.
4. Evaluasi product (produk) pelaksanaan program kelas unggulan
dalam meningkatkan mutu pendidikan di MA DDI Nurul Islam Kab.
Mimika.
E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat berguna mencakup sisi teoritis dan sisi
praktis, yaitu:
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini berguna untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan bagi
pembaca khusus nya bagi orang- orang yang menekuni bidang Manajemen
Pendidikan Islam dalam cakupan yang lebih luas. Penelitian ini bertujuan untuk
memberikan konsep pemahaman mengenai pelaksanaan program kelas unggulan
dalam meningkatkan mutu sekolah.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi para guru MA DDI Nurul Islam Kab. Mimika.
1. Sebagai bahan kajian, refleksi dan evaluasi dalam usaha
peningkatan mutu proses pembelajaran di kelas unggulan MA DDI
Nurul Islam Kab. Mimika.
2. Mendorong guru untuk membiasakan bersikap reflektif terhadap
proses pembelajaran yang dilakukan dan melakukan perbaikan
berkesinambungan.
3. Membantu guru untuk mengidentifikasi faktor- faktor yang
14
menjadikan kendala dalam optimalisasi pembelajaran sebagai
layanan yang unggul.
b. Bagi MA DDI Nurul Islam Kab. Mimika sebagai pengelola kelas
unggulan.
1. Sebagai bahan masukan dan pertimbangan dalam merumuskan
kebijakan untuk meningkatkan mutu dan pengembangan program
kelas unggulan.
2. Memberikan gambaran pelaksanaan kelas unggulan sebagai bahan
evaluasi dan intropeksi.
3. Memberi gambaran tentang dampak dari adanya kelas unggulan
bagi siswa.
c. Bagi pengambil kebijakan (Dinas Pendidikan dan Pemerintah Daerah).
Sebagai bahan masukan dalam merumuskan kebijakkan menyangkut
keberadaan program kelas unggulan di MA DDI Nurul Islam Kab.
Mimika.
d. Masyarakat
Memberi gambaran tentang keberadaan kelas unggulan di MA DDI
Nurul Islam Kab. Mimika.
e. Orang tua/wali murid
Sebagai bahan masukan atau tambahan wawasan tentang
penyelenggaraan kelas unggulan.
f. Bagi peneliti
Untuk mendapatkan pengalaman baru dan mendapat wawasan baru
15
terhadap penelitian kualitatif dan pendalaman pengetahuan terhadap
penyelenggaraan kelas unggulan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Hubungan Dengan Penelitian Terdahulu
1. Amalia Ratna Zaskiah Wati & Syunu Trihantoyo. [Link]
Pengelolaan Kelas Unggulan dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa:
Jurnal Dinamika Manajemen Pendidikan Volume 5 No. 1, ISSN: 2540-
7880, DOI: 10.26740/jdmp.v5n1.p46-57. Penelitian ini menyebutkan bahwa
pelaksanaan kelas unggulan akan meningkatkan prestasi siswa jika
didukung oleh strategi dan pengelolaan yang lebih optimal. Dengan
meningkatnya prestasi siswa, maka ini akan berbanding lurus dengan
peningkatan mutu sekolah.
2. Meila Hayudiani dkk,Strategi Kepala Sekolah Meningkatkan Mutu
Pendidikan melalui Program Unggulan Sekolah Volume 8 No. 1 2020,
ISSN: 2461-0550, DOI: [Link]
Penelitian ini menyebutkan bahwa kualitas mutu sekolah dijabarkan melalui
program- program unggul disekolah. Nantinya program tersebut yang akan
membawa branding sekolah untuk menjadi daya tarik sekolah kepada
masyarakat.
3. Farida Hanun, Membangun Citra Madrasah melalui Program Kelas
Unggulan di MTsN 2 Bandar Lampung, Jurnal Penelitian Pendidikan
Agama dan keagamaan, Volume 14 No. 3 Tahun 2016. Jurnal ini
mengatakan bahwa kelas unggulan merupakan kelas yang berisi siswa
18
19
pilihan yang diseleksi berdasarkan syarat- syarat yang ketat, yaitu potensi
akademik, IQ, dan kreativitas siswa yang memadai. Penelitian ini juga
mengatakan bahwa penyelenggaraan program kelas unggulan dapat
meningkatkan citra sekolah.
4. Suresmi,Implikasi Pengelolaan Pembelajaran Bermutu Pada Kelas
Unggulan,Jurnal Tadbir Manajemen Pendidikan vol. 4, no. 2, Nov 2020
ISSN 2580-3581 DOI: [Link]
Penelitian ini menyebutkan bahwa Keberadaan Kelas unggulan pada
madrasah merupakan sebuah lembaga yang didesain secara khusus dan
dikembangkan secara sistematis, sarana/prasarana yang memadai,
kurikulum, tenaga pendidik dan kependidikan yang berkualifikasi, dan lain
sebagainya. Keberadaan kelas unggulan dapat meningkatkan daya saing
madrasah serta posisi tawar madrasah sebagai madrasah unggul akan
semakin kuat. Untuk meningkatkan daya saing madrasah tersebut sebagai
madrasah yang unggul diperlukan pengelolaan pembelajaran bermutu
dengan yang benar.
5. Meila Hayudiani dkk, Strategi Kepala Sekolah dalam Meningkatkan dalam
Meningkatkan Mutu Pendidikan melalui Program Unggulan Sekolah.
Penelitian ini menyebutkan bahwa Strategi yang diterapkan oleh kepala
sekolah dalam meningkatkan mutu sekolah melalui program- program
unggulan menjadi kunci bagi keberhasilan sekolah guna
mengimplementasikan program-program unggulan tersebut. Tentu program-
program tersebut perlu dirumuskan secara matang oleh kepala sekolah.
20
Kepala sekolah juga perlu melihat kencenderungan yang terjadi di
masyarakat untuk melihat sekolah yang seperti apa sebenarnya yang
diminati oleh masyarakat sehingga program unggulan yang disusun dapat
tepat sasaran.
6. Agustanico Dwi Muryadi, Model Evaluasi Program dalam Penelitian
Evaluasi, Jurnal Ilmiah PENJAS, ISSN : 2442-3874 Vol.3 No.1, Januari
2017. Penelitian ini mengatakan bahwa Evaluasi adalah suatu alat atau
prosedur yang digunakan untuk mengetahui dan mengukur sesuatu dalam
suasana dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan. Sedangkan
evaluasi program adalah aktivitas investigasi yang sistematis tentang sesuatu
yang berharga dan bernilai dari suatu objek. Evaluasi program merupakan
suatu proses. Secara eksplisit evaluasi mengacu pada pencapaian tujuan
sedangkan secara implisit evaluasi harus membandingkan apa yang telah
dicapai dari program dengan apa yang seharusnya dicapai berdasarkan
standar yang telah ditetapkan.
7. Richard M. Wolf, The Nature of Educational Evaluation, Columbia
University: Inr. J. Educ. Res. Vol. 11, pp. l-143, 1987. Penelitian ini
mengatakan bahwa,” Evaluation is shown to have an important role to play
in education, notably in relation to program improvement,” dimana
dimaksudkan adalah Evaluasi terbukti memiliki peran penting dalam
pendidikan, terutama dalam kaitannya dengan program perbaikan.
8. Subar Junanto, Nur Arini Asmaul Kusna, Evaluasi Program Pembelajaran
di PAUD Inklusi dengan Model Context, Input, Proses, Product (CIPP),
21
Surakarta: Inklusi: Journal Of Disability Studies, Vol. V, No. 2, Juli-
Desember 2018, h. 179-194, DOI: 10.14421/ijds.050202. Penelitian ini
mengatakan bahwa,” The Context, Input, Process, and Product (CIPP)
evaluation model is commonly used to evaluate a program, including a
learning program”. Model evaluasi Context, Input, Process, and Product
(CIPP) umumnya digunakan untuk mengevaluasi suatu program, termasuk
program pembelajaran
B. Landasan Teori
1. Evaluasi
Secara harfiah kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris “Evaluation”,
dalam bahasa arab: al- taqdir (ديرOO) التق, dalam bahasa Indonesia berarti
penilaian. Akar katanya adalah value, dalam bahasa Arab: al- Qimah ( القيمة,
dalam bahasa Indonesia berarti “nilai”. Evaluasi dalam Al-Qur’an maupun
hadits ditunjukkan dengan kata-kata al- fitnah yang berarti ujian. tabayyanu
yang berarti periksalah, Istilah evaluasi dalam al-Qur’an tidak dijumpai
persamaan kata yang pasti, tetapi ada kata-kata tertentu yang mengarah
kepada arti evaluasi, misalnya dalam Surah al-Baqarah 248.
ّٰل ِه َم ا ِفى الَّسٰم ٰو ِت َو َم ا ِفى اَاْلْر ِۗض َو ِاْن ُتْبُد ْو ا َم ا ِفْٓي َاْنُفِس ُك ْم َاْو
ُتْخ ُفْو ُه ُيَح اِس ْبُك ْم ِبِه ُۗهّٰللا َفَيْغ ِفُر ِلَم ْن َّيَش ۤا ُء َو ُيَع ِّذ ُب َم ْن َّيَش ۤا ُۗء َو ُهّٰللا َع ٰل ى
ُك ِّل َش ْي ٍء َقِد ْيٌر
Artinya : Milik Allah lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.
22
Jika kamu menyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu
menyembunyikannya, niscaya Allah memperhitungkannya bagimu. Dia
mengampuni siapa saja yang Dia kehendaki dan mengazab siapa pun yang
Dia kehendaki. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu (QS. Al-Baqarah 248 )
Konsep evaluasi pendidikan dalam hadits tidak jauh berbeda dengan yang
dijelaskan dalam Al-Qur’an. Evaluasi pendidikan didasarkan untuk menguji
daya kemampuan manusia beriman terhadap berbagai macam problema
kehidupan yang dialaminya.
« ِإَّن َهَّللا َال َيْنُظُر ِإَلى-صلى هللا عليه وسلم- َع ْن َأِبى ُهَر ْيَر َة َقاَل َقاَل َر ُسوُل ِهَّللا
رواه مسلم.» ُص َو ِر ُك ْم َو َأْم َو اِلُك ْم َو َلِكْن َيْنُظُر ِإَلى ُقُلوِبُك ْم َو َأْع َم اِلُك ْم
Artinya: Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya
Allah tidak melihat fisik dan harta kalian tetapi Ia melihat hati dan amal kalian”.
HR. Muslim.
Makna dari hadis diatas menerangkan bahwa Evaluasi merupakan penilaian
dari sebuah aktifitas termasuk pendidikan, evaluasi dapat dilakukan ketika
aktifitas itu berproses dan aktifitas itu berakhir, dengan adanya evaluasi atau
penilaian semua kegiatan termasuk kegiatan pendidikan akan terkontrol, terukur
dan teramati, dan ketika sudah diketahui hasilnya maka kegiatan akan
ditingkatkan, kekurangan akan diperbaiki dan ditambah, dan disempurnakan
untuk kegiatan selanjutnya.
23
Menurut defenisi ini, maka isltilah evaluasi itu menunjuk kepada atau
mengandung pengertian: suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai
dari sesuatu.
Evaluasi adalah suatu alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui
dan mengukur sesuatu dalam suasana dengan cara dan aturan-aturan yang sudah
ditentukan. Dari hasil evaluasi biasanya diperoleh tentang atribut atau sifat-sifat
yang terdapat pada individu atau objek yang bersangkutan. Selain menggunakan
tes, data juga dapat dihimpun dengan menggunakan angket, observasi, dan
wawancara atau bentuk instrumen lainnya yang sesuai6.
Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah
kegiatan menentukan penilaian dari suatu hal yang sudah dijalankan untuk
memastikan apa yang kurang dan apa yang seharusnya diperbaiki bahkan
dilengkapi dari suatu hal tersebut. Evaluasi sangat penting dilakukan guna melihat
sejauh mana ketercapaian dari sesuatu yang direncanakan dan sudah dijalankan.
Tanpa evaluasi, bukan hal yang mustahil jika suatu program hanya berjalan di
tempat atau akan mengalami kemunduran. Karena tanpa evaluasi, kita tidak akan
tahu sesuatu yang sudah kita konsep itu berhasil atau tidak.
2. Program
Ada dua pengertian untuk istilah “program”, yaitu pengertian secara khusus
dan umum. Menurut pengertian secara umum, “program” dapat diartikan sebagai
“rencana”. Misalnya ketika Budi ditanya oleh guru BK nya, apa programnya
sesudah lulus dalam menyelesaikan pendidikan di sekolah yang diikuti maka arti
6
Nurhasan. 2001. Tes dan Pengukuran dalam Pendidikan Jasmani. Jakarta: Direktorat
Jenderal Olahraga h 3
24
“program” dalam kalimat tersebut adalah rencana atau rancangan kegiatan yang
akan dilakukan setelah lulus. Rencana ini mungkin berupa keinginan untuk
melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi, mencari pekerjaan, membantu orang
tua dalam membina usaha, melakukan investasi, atau mungkin juga belum
menentukan program apapun. Selain itu, ada juga anak yang sangat tergantung
pada orang tua sehingga memberi jawaban bahwa program masa depan menunggu
keputusan orang tuanya.
Sedangkan pengertian program secara khusus dapat kita lihat dari gambaran
ilustrasi sebagai berikut: Dalam kehidupan sehari- hari, banyak terdapat contoh
program yang berlangsung hanya dalam waktu singkat, misalnya program
Wisudawan Tahfiz terbaik. Kegiatan- kegiatan dalam program ini dapat
diklasifikasikan sebagai program karena mengandung beberapa komponen
kegiatan. Misalnya, pencarian dana, penunjukan kepanitiaan, perizinan, dan lain-
lain. Program dan kegiatan peringatan hari besar ini juga melalui suatu proses
yang panjang, tetapi pelaksanaannya hanya sebentar, mungkin sehari, atau tidak
lebih dari seminggu. Maka dalam hal ini program adalah suatu kegiatan yang
tersusun dan terjadwal dengan baik, dibutuhkan perencaaan dan pengorganisasian
yang matang dan nantinya di evaluasi untuk melihat sejauh mana program
tersebut sudah berhasil terlaksana.
Program adalah suatu rencana yang melibatkan berbagai unit yang berisi
kebijakan dan rangkaian yang harus dilakukan dalam kurun waktu tertentu.
Program dalam hal ini berupa aktivitas atau rangkaian yang direncanakan7.
7
Ananda, Rusydi dan Tien Rafida. (2017). Pengantar Evaluasi Program Pendidikan.
Medan: Perdana Publishing h 5
25
Apabila suatu program dikaitkan dengan evaluasi program maka suatu
program tersebut didefenisikan sebagai suatu unit atau kesatuan kegiatan yang
merupakan realisasi atau implementasi dari suatu kebijakan, berlangsung dalam
suatu proses yang berkesinambungan dan berkelanjutan, dan terjadi dalam suatu
organisasi yang melibatkan sekelompok orang.
Program atau perencanaan merupakan langkah awal dalam proses untuk
mencapai tujuan dari suatu kegiatan yang mana ia sangat berperan penting serta
menjadi modal utama dalam ketercapaian tujuan tersebut.
Ayat yang berkaitan dengan program atau planning terdapat dalam al-Qur’an
surah Al-anfal ayat 60.
َو َاِع ُّد ْو ا َلُهْم َّم ا اْسَتَطْع ُتْم ِّم ْن ُقَّوٍة َّو ِم ْن ِّر َباِط اْلَخْيِل ُتْر ِهُبْو َن ِبٖه َع ُد َّو ِهّٰللا
َو َع ُد َّو ُك ْم َو ٰا َخ ِر ْيَن ِم ْن ُد ْو ِنِهْۚم اَل َتْع َلُم ْو َنُهْۚم ُهّٰللَا َيْع َلُم ُهْۗم َو َم ا ُتْنِفُقْو ا ِم ْن َش ْي ٍء ِفْي َس ِبْيِل
ِهّٰللا ُيَو َّف ِاَلْيُك ْم َو َاْنُتْم اَل ُتْظَلُم ْو َن
Artinya :
Persiapkanlah untuk (menghadapi) mereka apa yang kamu mampu, berupa
kekuatan (yang kamu miliki) dan pasukan berkuda. Dengannya (persiapan itu)
kamu membuat gentar musuh Allah, musuh kamu dan orang-orang selain
mereka yang kamu tidak mengetahuinya, (tetapi) Allah mengetahuinya. Apa pun
yang kamu infakkan di jalan Allah niscaya akan dibalas secara penuh kepadamu,
sedangkan kamu tidak akan dizalimi.
Pada dasarnya ayat ini menjelaskan tentang bagaimana cara pasukan
muslim menghadapi musuh mereka ( orang kafir ) sebagaimana penjelasan yang
26
tertera didalam kitab tafsir Al Muyassar : واعـد وا يا معشر المسلمين لموجهة
اعدائكم كل ما تقدرون علية من عدد وعدة
yaitu hendaklah kalian mempersiapkan – wahai kaum muslimin – untuk
menghadapi musuh – musuh kalian dengan segala kekuatan atau kemampuan
kalian yang meliputi segala perlengkapan dan peralatan perang8.
Surah Al-hasyar ayat 18:
ٰۢٓيَاُّيَها اَّلِذ ْيَن ٰا َم ُنوا اَّتُقوا َهّٰللا َو ْلَتْنُظْر َنْفٌس َّم ا َقَّد َم ْت ِلَغ ٍۚد َو اَّتُقوا َۗهّٰللا ِاَّن َهّٰللا َخ ِبْيٌر
ِبَم ا َتْع َم ُلْو َن
Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan
hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari
esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha teliti
terhadap apa yang kamu kerjakan. ( QS. Al-hasyar 18 )
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa, Program adalah
suatu hal yang direncanakan dalam jangka waktu tertentu, dilakukan
berkesinambungan dan menuntut penilaian diakhir pelaksanaannya. Program juga
harus dijadwalkan dengan baik apakah program tersebut dalam waktu pendek,
atau program untuk jangka waktu yang panjang. Program tidak bisa asal buat atau
asal jadi. Program sendiri menuntut keseriusan dan perhatian yang tinggi agar apa
yang direncanakan dapat tercapai dengan efektif dan efisien.
3. Evaluasi Program
Evaluasi program adalah kegiatan yang dimaksudkan untuk mengetahui
8
Nukhbatun Minal „Ulama. 2010. At Tafsir Al Muyassar. Madinah: Majmu‟ Malik Fahd
27
seberapa tinggi tingkat keberhasilan dari kegiatan yang direncanakan9.
Dilihat dari tujuannya, yaitu bahwa pelaksana ingin mengetahui kondisi
sesuatu, maka evaluasi program dapat dikatakan merupakan salah satu bentuk dari
penelitian, yaitu penelitian evaluatif. Oleh karena itu, dalam pembicaraan evaluasi
program, pelaksana berfikir dan menentukan langkah sebagaimana melaksanakan
penelitian. Perbedaan yang mencolok antara penelitian dan evaluasi program
adalah sebagai berikut:
a. Dalam kegiatan penelitian, peneliti ingin mengetahui gambaran tentang
seuatu kemudian hasilnya dideskripsikan, sedangkan dalam evaluasi
program, pelaksana ingin mengetahui seberapa tinggi mutu atau kondisi
sesuatu sebagai hasil pelaksanaan program, setelah data yang terkumpul
dibandingkan dengan kriteria atau standar tertentu.
b. Dalam kegiatan penelitian, peneliti dituntun oleh rumusan masalah karena
ingin mengetahui jawaban dari penelitannya, sedangkan dalam evaluasi
program pelaksana ingin mengetahui tingkat ketercapaian tujuan program,
dan apabila tujuan belum tercapai sebagaimana ditentukan, pelaksana ingin
mengetahui dimana letak kekurangan itu dan apa sebabnya.
Keputusan-keputusan yang diambil dijadikan sebagai indikator-indikator
penilaian kinerja atau assessment performance pada setiap tahapan evaluasi dalam
tiga kategori yaitu rendah, moderat, dan tinggi. Berangkat dari pengertian di atas
maka evaluasi program merupakan suatu proses. Secara eksplisit evaluasi
mengacu pada pencapaian tujuan sedangkan secara implisit evaluasi harus
9
Arikunto, Suharsimi. 2010. Evaluasi Program Pendidikan: Pedoman Teoritis Praktis
bagi Mahasiswa dan Praktisi Pendidikan Edisi Kedua, Jakarta: Bumi Aksara h 291
28
membandingkan apa yang telah dicapai dari program dengan apa yang seharusnya
dicapai berdasarkan standar yang telah ditetapkan. Dalam konteks pelaksanaan
program, kriteria yang dimaksud adalah kriteria keberhasilan pelaksanaan dan hal
yang dinilai adalah hasil atau prosesnya itu sendiri dalam rangka pengambilan
keputusan. Evaluasi dapat digunakan untuk memeriksa tingkat keberhasilan
program berkaitan dengan lingkungan program dengan suatu ”judgement” apakah
program diteruskan, ditunda, ditingkatkan, dikembangkan, diterima, atau ditolak.
Dengan demikia, sebagaimana dijelaskan diatas, evaluasi program
merupakan penelitian evaluatif. Pada umumnya penelitian evaluatif dimaksudkan
untuk mengetahui akhir dari sebuah program kebijakan, yaitu mengetahui hasil
akhir dari adanya kebijakan, dalam rangka menentukan rekomendasi atas
kebijakan yang lalu, yang pada tujuan akhirnya adalah untuk menentukan
kebijakan selanjutnya. Mengingat betapa pentingnya sebuah rekomendasi
kebijakan, maka untuk penelitian evaluatif dituntut adanya persyaratan khusus
yang harus diikuti oleh penelitinya.
Evaluasi program dilakukan dengan cara sistematis menggunakan metode
penelitian untuk mempelajari, menilai, dan membantu meningkatkan program-
program pendidikan dalam semua aspek penting terkait dengan pendidikan
termasuk dalam diagnosis masalah pendidikan yang ditangani oleh seorang
evaluator. Kegiatan konseptualisasi dan desain evaluasi, pelaksanaan dan
administrasi evaluasi, hasil evaluasi dan efisiensi evaluasi yang menghasilkan
suatu rekomendasi. Evaluasi program dilakukan untuk kepentingan dalam
menentukan suatu keputusan atau kebijakan (rekomendasi) untuk program.
29
Evaluasi terhadap suatu program dilakukan dengan menggunakan metoda-metoda
tertentu untuk menjamin evaluasi yang dilakukan menghasilkan data yang handal
dan dapat dipercaya sehingga kebijakan yang ditetapkan atas dasar evaluasi
tersebut menjadi suatu keputusan yang tepat, benar dan akurat serta bermanfaat
bagi program.
Evaluasi program adalah suatu kegiatan atau upaya untuk memperoleh
informasi mengenai suatu program yang dilaksanakan untuk menilai sejauh mana
kegiatan tersebut telah terlaksana sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan
kemudian untuk mengetahui keputusan apa yang dapat di ambil terkait dengan
penilaian yang telah dilakukan.
4. Langkah-langkah Evaluasi Program Dalam Pendidikan
Berikut dikemukakan 5 langkah yang dapat membantu dalam meringankan
evaluator dalam melaksanakan evaluasi program pendidikan, idealnya sebuah
sekolah harus memiliki rencana dalam mengevaluasi program yang dapat
diterapkan tidak hanya program yang besar, program sederhana bahkan program
yang kecil sekalipun harus memiliki rencana (langkah) dalam melakukan evaluasi
adalah sebagai berikut:
a. Mendefinisikan Program.
Langkah pertama adalah mendefinisikan istilah atau program itu sendiri.
Program didefinisikan sebagai usaha-usaha yang maksimal yang dilakukan
berdasarkan seperangkat sumber daya dengan melakukan serangkaian kegiatan
yang ditentukan. Sebuah strategi dilakukan mengacu dan ditentukan dari definisi
program dan mengacu pada aktivitas terencana yang bertujuan untuk mencapai
30
tujuan atau memecahkan masalah. Strategi yang dilakukan harus berdasarkan
bukti dan fakta mengenai konsep dan definisi program itu sendiri.
b. Mendapatkan Data dari Tim yang Akurat.
Dalam memperoleh data, lakukan langkah mengumpulkan data hanya dari
orang-orang yang tepat. Kumpulkan Tim data sekolah atau organisasi yang
bertanggung jawab untuk mengelola pengumpulan dan analisis data. Bentuklah
tim yang solid dengan anggota yang memiliki keahlian yang diperlukan untuk
menangani data. Tim adalah orang-orang yang memiliki keahlian yang diperlukan
untuk masalah akademik dan sosial akademik program, praktek dan strategi di
sekolah. Anggota tim mungkin termasuk kepala sekolah; direktur pendidikan,
guru kelas (mungkin salah satu yang mewakili masing-masing tingkat kelas);
konselor sekolah; psikolog sekolah atau pekerja sosial, lainnya. Beberapa tim
bahkan termasuk orang tua dan siswa.
c. Lakukan Pembatasan Sumber Daya yang Digunakan dan Sub
Sistem yang Akan Dievaluasi.
Berbekal daftar catatan sekolah, evaluator akan dapat mengidentifikasi
program yang kurang terkoordinasi dan kemudian menghilangkan program yang
menyedot terlalu banyak sumber daya, atau yang tidak selaras dengan tujuan
evaluasi. Upayakan waktu seefektif mungkin untuk melakukan evaluasi. Selain itu
dukungan dari system akademis adalah unsure kunci dari iklim sekolah dapat
dievaluasi Jika evaluator menemukan bahwa tidak ada dukungan akademis atau
iklim sekolah tidak mendukung dilakukan evaluasi, hal mungkin menunjukkan
bahwa upaya evaluasi ini tidak layak dilanjutkan. Setelah evaluator melakukan
31
beberapa "pemangkasan" atau pembatasan dari daftar maka berikutnya evaluator
dapat mengevaluasi bagian program yang tersisa.
d. Mengevaluasi Semua Rencana yang Ada Pada Daftar.
Untuk melukiskan gambaran yang lengkap, rencana evaluasi sekolah yang
komprehensif harus mencakup setiap usaha pada daftar yang telah dikemukakan.
Lakukan identifikasi tujuan dari setiap usaha dan memilih metode jangka pendek
dan jangka panjang dari pengukuran dan menilai dampaknya pada siswa. Catatan
penting dalam langkah ini adalah berpedoman pada urgensi masalah sebagai
ukuran dasar dari menerapkan upaya-upaya baru dalam menyelesaikan masalah.
Semakin mendesak suatu masalah maka evaluasi semakin prioritas untuk
dilakukan. Selanjutnya juga merencanakan waktu, menempatkan instrumen
pengukuran atau mekanisme untuk pengumpulan data. Melakukan konsultasi
dengan ahli evaluasi merupakan suatu gagasan yang baik agar evaluator sekolah
siap untuk memilih metode dalam pengukuran hasil evaluasi. Seorang ahli dapat
membantu a memilih alat pengukuran yang baik (misalnya, tidak semua survei
diciptakan sama, dan ada beberapa keahlian yang terlibat dalam melakukan
kelompok fokus). Ahli juga dapat merencanakan pengumpulan data yang optimal
dan menentukan bagaimana data dari titik waktu yang berbeda akan dibandingkan
(misalnya, akan perbedaan yang signifikan secara statistic menjadi standar untuk
menilai perubahan).
e. Lengkapi Rencana Evaluasi.
Setelah perencanaan evaluasi dilakukan maka langkah selanjutnya adalah
32
melakukan persiapan Perencanaan Lembar Kerja untuk menyempurnakan rencana
evaluasi. Evaluator sekolah mungkin saja belum dapat menerapkan praktek
evaluasi tapi secara keseluruhan, rencana dalam evaluasi harus melakukan hal
berikut:
1. Menjadwalkan evaluasi sedari awal dan menetapkan waktu yang tepat untuk
melakukan evaluasi.
2. Jika memungkinkan melakukan pretest pengukuran serta beberapa posttest
pengukuran pada jarak waktu tertentu.
3. Melakukan pengumpulan data secara berkelanjutan dengan dibantu pihak-
pihak terkait di sekolah.
4. Melakukan pengukuran di berbagai tingkat, seperti individu, kelompok
kelas kecil dan besar, hingga pada tingkat populasi atau sekolah. Mengukur
di tingkat kelompok untuk mengevaluasi upaya yang mencapai kelompok-
kelompok kecil; mengukur pada tingkat populasi untuk mengevaluasi upaya
yang menjangkau seluruh sekolah. Pengukuran pada tingkat populasi
cenderung dilakukan lebih jarang, misalnya, setiap tahun atau setiap tahun,
dibandingkan dengan pengukuran pada tingkat lain.
5. Gunakan beberapa informan (siswa, orang tua dan guru). Gunakan beberapa
alat pengumpulan data formal dan informal (misalnya, observasi, catatan
review, survei, wawancara).
6. Melacak baik jangka pendek dan jangka panjang indikator hasil, menilai apa
upaya yang segera dapat dilakukan setelah melakukan pelacakan jangka
pendek.
33
7. Kumpulkan secara subjektif, hasil kualitatif dari data dengan menggunakan
instrument yang handal dan valid
Terdapat hal-hal penting yang terkait dengan pemahaman evaluasi Program
pendidikan:
a. Hal utama yang terkait dengan evaluasi program adalah bahwa evaluasi
program pendidikan harus dilakukan dengan sistematis. Ini berarti bahwa
evaluator harus bijaksana, melakukan evaluasi dengan sengaja, terstruktur
dan melakukan pendekatan benar-benar ketat dalam evaluasi.
b. Memperhatikan metode penelitian dan model evaluasi yang sesuai untuk
mengevaluasi sebuah program pendidikan karena metode dan model yang
dapat digunakan dalam evaluasi sangat majemuk. Hal ini berarti bahwa
evaluator dapat memiliki banyak instrument (alat) dalam melakukan
pengukuran, namun tindakan pemilihan instrument yang sesuai dengan
kebutuhan evaluasi program harus dilakukan dengan hati-hati. Instrumen
alat atau tools apa yang akan dipilih dalam evaluasi program sangat
tergantung pada apa yang ingin dicapai melalui upaya evaluasi.
c. Evaluator meski teliti dengan hal-hal yang mungkin memandu pilihan
instrument evaluasi seperti: fokus pada struktur desain program, cara
implementasi instrument dalam evaluasi, populasi atau sampel yang akan
dievaluasi, dan pengukuran hasil atau dampak yang akan dilakukan.
5. Tujuan Evaluasi Program Pendidikan
Tercapainya tujuan program merupakan indikator utama keberhasilan
34
program tersebut. Oleh karena itu, kriteria pokok dalam evaluasi program adalah
sejauh mana keberhasilan telah diperoleh setelah pelaksanaan program. Tujuan
evaluasi program adalah untuk memperoleh informasi yang akurat tentang derajat
keberhasilan program dan kelancaran pelaksanaan program, yang pada gilirannya
dapat mengetahui beberapa kelemahan dan kelebihannya.
6. Model-model Evaluasi Program
a. Model Berorientasi Pada Tujuan (Goal Oriented Evaluation Model)
Model ini dipelopori oleh Tyler. Tujuan program adalah objek dari
pengamatan model ini. Evaluasi ini dilakukan secara terus menerus dan
berkesinambungan untuk melihat ketercapaian program yang dilaksanakan.
b. Model Lepas Tujuan ( Goal Free Evaluation Model)
Model ini dikemukakan oleh Scriven. Dalam melaksanakan evaluasi tidak
memperhatikan tujuan khusus program, melainkan bagaimana terlaksananya
program dan mencatat hal-hal yang positif maupun negatif. Model evaluasi ini
berfokus pada adanya perubahan perilaku yang terjadi sebagai dampak dari
program yang diimplementasikan. Melihat dampak sampingan baik yang
diharapkan maupun yang tidak diharapkan dan membandingkan dengan program
sebelum dilakukan. Evaluasi ini juga membandingkan antara hasil yang dicapai
dengan besarnya biaya yang dikeluarkan untuk program tersebut atau melakukan
cost benefit analysis10.
Dengan kata lain, model evaluasi program ini dapat disimpulkan bahwa
bukan berarti model ini lepas dari tujuan secara keseluruhan. Model ini hanya
10
Ananda, Rusydi dan Tien Rafida. (2017). Pengantar Evaluasi Program Pendidikan.
Medan: Perdana Publishing h 55
35
lepas dari tujuan khusus. Model ini hanya mempertimbangkan tujuan umum yang
akan dicapai oleh program, bukan secara rindi atas komponen- komponen yang
ada.
Dari pemaparan diatas, dapat dipahami bahwa dalam model evaluasi ini,
evaluator sengaja menghindari mengetahui tujuan program. Dikarenakan model
evaluasi ini befokus pada hasil tanpa tujuan (goal). Namun kembali lagi bahwa,
tujuan yang dimaksud adalah tujuan khusus, bukan tujuan umum dari program
tersebut. Model evaluasi ini pada akhirnya hanya akan berfokus pada hasil yang
sebenarnya, bukan hasil yang direncanakan.
c. Model Formatif- Sumatif ( Formative- Summative Evaluation Model)
Model evaluasi ini dilaksanakan ketika program masih berjalan (evaluasi
formatif) dan ketika program sudah selesai (evaluasi sumatif). Adapun evaluasi
formatif didefinisikan sebagai proses menyediakan dan menggunakan informasi
untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan dalam meningkatkan kualitas
produk atau program yang dirancang. Evaluasi formatif bertujuan untuk
menentukan apa yang harus ditingkatkan atau direvisi agar produk atau program
tersebut lebih sistematis, efektif dan efisien.
Evaluasi formatif dilaksanakan selama program berjalan untuk memberikan
informasi yang berguna kepada pemimpin program untuk perbaikan program.
Misalnya selama pengembangan program paket kurikulum, evaluasi formatif akan
melibatkan pemeriksaan konten oleh ahli, melakukan pilot tes terhadap sejumlah
siswa, tes lapangan terhadap siswa yang lebih banyak dan dengan guru di
beberapa sekolah dan lain sebagainya.
36
Adapun evaluasi sumatif, dilakukan pada akhir program untuk memberi
informasi kepada pengguna/konsumen yang potensial tentang manfaat atau
kegunaan program. Misalnya, sesudah paket kurikulum dikembangkan, evaluasi
sumatif mungkin dilaksanakan untuk menentukan efektifitas paket tersebut pada
tingkat nasional atas sampel sekolah khusus, guru dan siswa pada tingkat
perkembangan tertentu. Penemuan hasil pada evaluasi sumatif ini akan diberikan
kepada konsumen/ pengguna.
Objek atau subjek dan pemakaian evaluasi antara evaluasi formatif dan
evaluasi sumatif berbeda. Pada evaluasi formatif, audiensinya adalah personalia
program, dalam contoh di atas, adalah mereka yang bertanggung jawab atas
pengembangan kurikulum. Pada evaluasi sumatif, audiensinya termasuk
konsumen yang potensial seperti siswa, guru, dan lain-lain yang terlibat dalam
program. Evaluasi formatif harus mengarah kepada keputusan tentang
perkembangan program tersebut termasuk perbaikan atau revisi. Sedangkan
evaluasi sumatif mengarah ke arah keputusan tentang kelanjutan program,
berhenti atau program diteruskan, pengadopsian, dan sebagainya.
Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa, evaluasi formatif
dilakukan saat program berjalan, karena yang menjadi penilaian adalah personalia
yang ada didalam program itu. Sedangkan evaluasi sumatif dilakukan setelah
program selesai. Karena evaluasi sumatis menilai dan mengukur bagaimana
respon audience dalam berjalannya program tersebut.
d. Model Deskripsi Pertimbangan (Countenance Evaluation Model)
Model ini dipelopori oleh Stake. Model ini juga disebut model evaluasi
37
pertimbangan. Maksudnya evaluator mempertimbangkan program dengan
memperbandingkan kondisi hasil evaluasi program dengan yang terjadi di
program lain, dengan objek sasaran yang sama dan membandingkan kondisi hasil
pelaksanaan program dengan standar yang ditentukan oleh program tersebut.
Tujuan dari model evaluasi ini ialah untuk melengkapi kerangka suatu rencana
kurikulum. Perhatian utamanya adalah hubungan antara tujuan penilaian dengan
keputusan berikutnya berdasarkan data yang dikumpulkan.
e. Model CIPP (CIPP Evaluation Model)
CIPP yang merupakan sebuah singkatan dari huruf awal empat buah kata
yaitu:
Context Evaluation : Evaluasi terhadap konteks
Input Evaluation : Evaluasi terhadap masukan
Process evaluation : Evaluasi terhadap proses
Product Evaluation : Evaluasi terhadap hasil11
Dengan kata lain, model CIPP adalah model evaluasi yang
memandang program yang dievaluasi sebagai sebuah sistem.
1. Evaluasi Konteks
2. Evaluasi Masukan
3. Evaluasi proses
4. Evaluasi produk atau hasil
11
Stufflebeam, D.L. H McKee and B McKee. 2003. The CIPP Model for Evaluation. Paper
presented at the 2003 Annual Conference of the Oregon Program Evaluation Network (OPEN).
Portland, Oregon h 118
38
Evaluasi konteks (context) dimaksud untuk menilai kebutuhan, masalah, aset
dan peluang guna membantu pembuat kebijakan menetapkan tujuan dan
prioritas, serta membantu kelompok pengguna lainnya untuk mengetahui tujuan,
peluang dan hasilnya. Evaluasi konteks program menyajikan data tentang alasan-
alasan untuk menetapkan tujuan-tujuan program dan prioritas tujuan. Evaluasi ini
menjelaskan mengenai kondisi lingkungan yang relevan, menggambarkan kondisi
yang ada dan yang diinginkan dalam lingkungan, dan mengidentifikasi
kebutuhan-kebutuhan yang belum terpenuhi dan peluang yang belum
dimanfaatkan.
Evaluasi masukan (input) dilaksanakan untuk menilai alternative
pendekatan, rencana tindak, rencana staf dan pembiayaan bagi kelangsungan
program dalam memenuhi kebutuhan kelompok sasaran serta mencapai tujuan
yang ditetapkan. evaluasi input (masukan), evaluasi menolong mengatur
keputusan, menentukan sumber-sumber yang ada, alternative apa yang diambil,
apa rencana dan strategi untuk mencapai kebutuhan. Bagaimana prosedur kerja
untuk mencapainya. Evaluasi ini berguna bagi pembuat kebijakan untuk memilih
rancangan, bentuk pembiayaan, alokasi sumberdaya, pelaksana dan jadwal
kegiatan yang paling sesuai bagi kelangsungan program.
Evaluasi proses (process) ditujukan untuk menilai implementasi dari
rencana yang telah ditetapkan guna membantu para pelaksana dalam menjalankan
kegiatan dan kemudian akan dapat membantu kelompok pengguna lainnya untuk
mengetahui kinerja program dan memperkirakan hasilnya. evaluasi proses untuk
39
membantu mengimplementasikan keputusan. Sampai sejauh mana rencana telah
diterapkan? Apa yang harus direvisi? Begitu pertanyaan terjawab, prosedur dapat
dimonitor, dikontrol, dan diperbaiki.
Evaluasi hasil (product) dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi
dan menilai hasil yang dicapai, diharapkan dan tidak diharapkan, jangka pendek
dan jangka panjang, baik bagi pelaksana kegiatan agar dapat memfokuskan diri
dalam mencapai sasaran program maupun bagi pengguna lainnya dalam
menghimpun upaya untuk memenuhi kebutuhan kelompok sasaran. Evaluasi hasil
ini dapat dibagi ke dalam penilaian terhadap dampak (impact), efektivitas
(effectiveness), keberlanjutan (sustainability) dan daya adaptasi
(transportability)12.
Evaluasi produk mengukur dan menginterpretasi pencapaian program
selama pelaksanaan program dan pada akhir program. Evaluasi ini berkaitan
dengan pengaruh utama, pengaruh sampingan, biaya, dan keunggulan program.
Evaluasi produk melibatkan upaya penetapan kriteria, melakukan pengukuran,
membandingkan ukuran keberhasilan dengan standar absolut atau relatif, dan
melakukan interpretasi rasional tentang hasil dan pengaruh dengan menggunakan
data tentang konteks, input dan proses.
Model CIPP (Context, Input, Process, dan Product) merupakan
model evaluasi di mana evaluasi dilakukan secara keseluruhan sebagai suatu
sistem. Evaluasi model CIPP merupakan konsep yang ditawarkan oleh
12
Stufflebeam, D.L. H McKee and B McKee. 2003. The CIPP Model for Evaluation. Paper
presented at the 2003 Annual Conference of the Oregon Program Evaluation Network (OPEN).
Portland, Oregon h 118
40
Stufflebeam dengan pandangan bahwa tujuan penting evaluasi adalah bukan
membuktikan tetapi untuk. Evaluasi model CIPP dapat diterapkan dalam berbagai
bidang. Makna dari masing-masing dimensi tersebut sebagai berikut :
a. Context : situasi atau latar belakang yang mempengaruhi perencanaan
program pembinaan.
b. Input : kualitas masukan yang dapat menunjang ketercapaian program
pembinaan.
c. Process : pelaksanaan program dan penggunaan fasilitas sesuai dengan apa
yang telah direncanakan.
d. Product : hasil yang dicapai dalam penyelenggaraan program tersebut.
Keunikan model ini adalah pada setiap evaluasi terkait pada perangkat
pengambil keputusan yang menyangkut perencanaan dan operasional sebuah
program. Untuk lebih memahami mengenai CIPP dapat dijelaskan sebagai
berikut:
1. Evaluasi konteks mencakup analisis masalah yang berkaitan dengan
lingkungan program atau kondisi obyekyif yang akan dilaksanakan. Berisi
tentang analisis kekuatan dan kelemahan obyek tertentu. Stufflebeam
menyatakan evaluasi konteks sebagai fokus institusi yang mengidentifikasi
peluang dan menilai kebutuhan. Suatu kebutuhan dirumuskan sebagai suatu
kesenjangan (discrepancy view) kondisi nyata (reality) dengan kondisi
yang diharapkan (ideality). Dengan kata lain evaluasi konteks berhubungan
dengan analisis masalah kekuatan dan kelemahan dari obyek tertentu yang
akan atau sedang berjalan. Evaluasi konteks memberi informasi bagi
41
pengambil keputusan dalam perencanaan suatu program yang akan
dilakukan. Selain itu, konteks juga bermaksud bagaimana rasionalnya suatu
program.
2. Evaluasi input meliputi analisis personal yang berhubungan dengan
bagaimana penggunaan sumber-sumber yang tersedia, alternatif-alternatif
strategi yang harus dipertimbangkan untuk mencapai suatu program.
Mengidentifikasi dan menilai kapabillitas sistem, alternatif strategi desain
prosedur untuk strategi implementasi, pembiayaan dan penjadwalan
program pembinaan prestasi sepak bola. Evaluasi masukan bermanfaat
untuk membimbing pemilihan strategi program dalam menspesifikasikan
rancangan prosedural. Informasi dan data yang terkumpul dapat digunakan
untuk menentukan sumber dan strategi dalam keterbatasan yang ada
3. Evaluasi proses merupakan evaluasi yang dirancang dan diaplikasikan
dalam praktik implementasi kegiatan. Termasuk mengindentifikasi
permasalahan prosedur baik tatalaksana kejadian dan aktivitas. Setiap
aktivitas dimonitor perubahan-perubahan yang terjadi secara jujur dan
cermat.
4. Evaluasi produk merupakan kumpulan deskripsi dan “judgment outcomes”
dalam hubungannya dengan konteks, input, dan proses, kemudian
diinterpretasikan harga dan jasa yang diberikan. Evaluasi produk adalah
evaluasi mengukur keberhasilan pencapaian tujuan. Evaluasi ini merupakan
catatan pencapaian hasil dan keputusan-keputusan untuk perbaikan dan
aktualisasi. Aktivitas evaluasi produk adalah mengukur dan menafsirkan
42
hasil yang telah dicapai. Pengukuran dikembangkan dan diadministrasikan
secara cermat dan teliti. Keakuratan analisis akan menjadi bahan penarikan
kesimpulan dan pengajuan sarana sesuai standar kelayakan. Secara garis
besar, kegiatan evaluasi produk meliputi kegiatan penetapan tujuan
operasional program, kriteria-kriteria pengukuran yang telah dicapai,
membandingkannya antara kenyataan lapangan rumusan tujuan, dan
menyusun penafsiran secara rasional.
Analisis produk ini diperlukan pembandingan antara tujuan, yang ditetapkan
dalam rancangan dengan hasil program yang dicapai. Hasil yang dinilai dapat
berupa skor tes, persentase, data observasi, diagram data, sosiometri dan
sebagainya yang dapat ditelusuri kaitannya dengan tujuan-tujuan yang lebih rinci.
Selanjutnya dilakukan analisis kualitatif tentang mengapa hasilnya seperti itu.
Keputusan-keputusan yang diambil dari penilaian implementasi pada setiap
tahapan evaluasi program diklasifikasikan dalam tiga kategori yaitu rendah,
moderat, dan tinggi.
Model CIPP merupakan model yang berorientasi kepada pemegang
keputusan. Model ini membagi evaluasi dalam empat macam, yaitu :
a) Evaluasi konteks melayani keputusan perencanaan yaitu membantu
merencanakan pilihan keputusan, menentukan kebutuhan yang akan
dicapai dan merumuskan tujuan program.
b) Evaluasi input atau masukan untuk keputusan strukturisasi yaitu
menolong mengatur keputusan menentukan sumber-sumber yang
tersedia, alternatifalternatif yang diambil, rencana dan strategi untuk
43
mencapai kebutuhan, serta prosedur kerja untuk mencapai tujuan yang
dimaksud.
c) Evaluasi proses melayani keputusan implementasi, yaitu membantu
keputusan sampai sejauh mana program telah dilaksanakan.
d) Evaluasi produk untuk melayani daur ulang keputusan. Keunggulan
model CIPP merupakan sistem kerja yang dinamis.
Fokus evaluasi untuk melaksanakan empat macam keputusan tersebut ada
empat, yaitu: 1) evaluasi konteks, menghasilkan informasi tentang macam-macam
kebutuhan yang telah diatur prioritasnya, agar tujuan dapat diformulasikan; 2)
evaluasi input, menyediakan informasi tentang masukan yang terpilih, butir-butir
kekuatan dan kelemahan, strategi, dan desain untuk merealisasikan tujuan; 3)
evaluasi proses, menyediakan informasi bagi evaluator untuk melakukan prosedur
monitoring terpilih yang mungkin baru diimplementasi sehingga butir yang kuat
dapat dimanfaatkan dan yang lemah dapat dihilangkan; dan 4) evaluasi produk,
mengakomodasi informasi untuk meyakinkan dalam kondisi apa tujuan dapat
dicapai dan juga untuk menentukan jika strategi yang berkaitan dengan prosedur
dan metode yang diterapkan guna mencapai tujuan sebaiknya berhenti,
dimodifikasi atau dilanjutkan dalam bentuk seperti sekarang. Keempat macam
evaluasi tersebut divisualisasikan sebagai berikut, bentuk pendekatan dalam
melakukan evaluasi yang sering digunakan yaitu pendekatan eksperimental, pendekatan
yang berorientasikan pada tujuan, yang berfokus pada keputusan, berorientasi pada
pemakai dan pendekatan yang responsif yang berorientasi terhadap target keberhasilan
dalam evaluasi.
f. Model Kesenjangan (Discrepancy Model)
44
Model ini dipelopori oleh Malcom Provus. Model ini ditekankan untuk
mengetahui kesenjangan yang terjadi pada setiap komponen program. Evaluasi
kesenjangan dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kesesuaian antara standar
yang sudah ditentukan dalam program dengan penampilan aktual dari program
tersebut.
g. Model CSE- UCLA
Model ini dikemukakan oleh Alkin- Fernades. Model ini memiliki lima
macam evaluasi sebagai berikut:
1. Needs assessment, memusatkan pada penentuan masalah hal-hal yang
perlu dipertimbangkan dalam program, kebutuhan program, dan
tujuan yang dapat dicapai.
2. Program planning, perencanaan program dievaluasi untuk mengetahui
program disusun sesuai analisis kebutuhan atau tidak dengan
melibatkan unsur-unsur pelaksanaan program.
3. Formative evaluation, evaluasi dilakukan untuk mengetahui hambatan
pelaksanaan dan keterlaksanaan program.
4. Summative program, evaluasi untuk mengetahui hasil dan dampak
dari program serta untuk mengetahui ketercapaian program.
Model evaluasi program ini diberi nama sesuai dengan singkatan organisasi
yang mempopulerkannya yaitu CSE singkatan dari Center for The Study of
Evaluation, sedangkan UCLA singkatan dari University of California in Los
Angeles. Model CSE-UCLA dikembangkan pada universitas ternama di Amerika
Serikat yang notabene menjadi pusat perkembangan dari evaluasi pendidikan di
45
dunia.
Alkin menjabarkan lima identifikasi bagian dalam evaluasi program adalah
(1) kebutuhan penilaian, (2) perencanaan program, (3) pelaksanaan program, (4)
program peningkatan, dan (5) program sertifikasi13.
Menurut Martin C Alkin tokoh pencetus Evaluation Theory Development
dari University of California Los Angeles (UCLA) menyatakan bahwa ciri model
evaluasi pada Center for Study of Evaluation (CSE) adalah ada lima
komponen/tahap yang dilakukan, yaitu perencanaan, pengembangan,
implementasi, hasil dan dampak. Berbeda dengan model evaluasi program yang
lainnya yang sebagian besar hanya menganalisis beberapa bagian dari program
saja, model evaluasi program CSE UCLA menganalisis lebih lengkap mengenai
seluruh komponen dari program yang dirasa patut untuk dievaluasi agar hasil
evaluasi dapat lebih merangkum semua permasalahan yang terjadi dalam suatu
program. Meskipun secara kerangka model CSE UCLA memiliki kemiripan
dengan model evaluasi CIPP namun model CSE UCLA memiliki kelebihan yaitu
pada proses penilaian hingga ke dampak evaluasi program.
Kelebihan model ini adalah keterikatannya dengan sistem. Dengan model
ini, kegiatan sekolah dapat diikuti dengan seksama mulai dari variabelvariabel
yang ada dalam komponen masukan, proses, dan keluaran. Komponen masukan
yang dimaksud adalah semua informasi yang berhubungan dengan karakteristik
siswa, kemampuan intelektual, hasil belajar sebelumnya, kepribadian, kebiasaan,
latar belakang keluarga, latar belakang lingkungan dan sebagainya.
13
Worthen, B.R. (2001). ”Whither Evaluation? That All Depends”. American Journal of
Evaluation. Vol. 22(3) h 150
46
7. Program Kelas Unggulan
A. Pengertian Kelas Unggulan
Pada hakikatnya kelas unggulan merupakan kelas yang menyediakan
program pelayanan khusus bagi peserta didik dengan cara mengembangkan bakat
dan kreativitas yang dimilikinya untuk memenuhi kebutuhan peserta didik yang
memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa14.
Selanjutnya menurut Suhartono dan Ngadirun, kelas unggulan adalah kelas
yang dirancang untuk memberikan pelayanan belajar yang memadai bagi siswa
yang benar-benar mempunyai kemampuan yang luar biasa15. Menurut Mulyadi
kelas unggulan adalah kelas yang diikuti oleh sejumlah siswa yang unggul dalam
tiga ranah penilaian dengan kecerdasan di atas rata-rata yang dikelompokan secara
khusus16. Pengelompokan ini dimaksudkan untuk membina siswa dalam
mengembangkan kecerdasan, kemampuan, keterampilan, dan potensinya
seoptimal mungkin sehingga memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang
terbaik sebagaimana semangat konsep wawasan keunggulan.
Dari bebeapa pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa kelas
unggulan adalah kelas yang dirancang dan didesain dengan baik dilengkapi
dengan kurikulum tambahan yang membedakannya dengan kelas biasa lainnya.
Kelas ini dimaksudkan agar anak yang memiliki potensi, kreativitas dan
kecerdasan lebih dapat mendapat pembelajaran yang lebih optimal untuk
mengasah kecerdasan dan bakat mereka tersebut sebagai bekal mereka di
14
Silalahi , Aripin.(2006). Program Kelas Unggulan. Jakarta: Sidikalang h 1-2
15
Suhartono dan Ngadirun. (2009). Penyelenggaraan Program Kelas Unggulan di Sekolah
Dasar, Jakarta: Universitas Terbuka h 114
16
Mulyadi. 2009. Classroom Management Mewujudkan Suasana Kelas Yang
Menyenangkan Bagi Siswa,Malang: Aditya Media h 4
47
pendidikan masa depan. Dengan adanya kelas unggulan, maka diharapkan
kemampuan anak tersebut dapat meningkat sehingga siswa yang berkualitas
tersebut dapat menjadi ikon madrasah dimasyarakat dan disekolah selanjutnya.
Program kelas unggulan ini diselesaikan dalam waktu 3 tahun, mempunyai
kurikulum tersendiri, menambah penambahan mata pelajaran sesuai jurusan yang
dipilih. Dalam proses belajar siswa kelas unggulan ditargetkan mencapai
ketuntasan belajar di atas kelas reguler.
Kelas unggulan merupakan kelas percontohan yang dapat dilakukan dengan
melibatkan semua Stakeholder sekolah mulai dari orang tua, siswa, guru- guru,
karyawan, lingkungan, pengawas, instansi Diknas dan semua pihak yang terkait
dengan urusan pendidikan.
Pada dasarnya bentuk pelaksanaan pendidikan bagi anak yang berprestasi
atau di atas rata-rata menurut Sutratinah, dapat dilakukan dengan beberapa cara,
yaitu:
a. Acceleration (percepatan)
b. Segregation (pengelompokan)
c. Enrichment (pengayaan)
Segregation adalah pengelompokan atau pengasingan, siswa disendirikan
menjadi kelompok khusus semacam Ability Grouping (kelompok kecakapan).
48
Segregation menurut Sutratinah dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Kelas biasa ditambah dengan kelas khusus. Anak di atas rata-rata
mengikuti secara penuh seluruh kegiatan di sekolahnya setelah itu
mendapat pelajaran tambahan dalam kelas khusus.
b. Mengikuti kelas biasa (regular class) tetapi tidak penuh 100% (hanya ±
75%) ditambah dengan mengikuti kelas khusus (special class), karena
jumlah jam pelajaran, maka anak di atas masih mempunyai waktu untuk
melakukan kegiatan-kegiatan lain yang dibutuhkan untuk pengembangan
aspek kepribadian, karena jumlah jam belajar yang cukup lama di kelas
khusus, anak di atas rata-rata masih memperoleh kesempatan bersaing
dengan teman sesama di atas rata-rata.
c. Secara penuh anak di atas rata-rata dimasukkan dalam kelas khusus. Ini
berarti guru-guru, kurikulum, metode dan komponen pendidikan yang
lain dilaksanakan secara khusus. Pihak guru dapat dengan mudah
melakukan tugasnya karena murid yang dihadapi mempunyai tingkat
kecerdasan yang sederajat. Pihak murid merasa ada persaingan dengan
teman-teman yang memiliki kemampuan seimbang, sehingga dapat
mempercepat pelajaran sesuai dengan kondisi mental peserta didik.
d. Alternatif terakhir dengan mendirikan sekolah khusus untuk anak di atas
rata-rata agar mereka mendapat kesempatan seluas-luasnya untuk
mengembangkan diri, karena dapat bersaing dengan anak lain yang juga
sama-sama super dengan segala fasilitas yang diperlukan17.
17
Tirtonegoro, Sutratinah. (2000). Anak Supernormal dan Program Pendidikannya,
Jakarta: BinaAksara h 110
49
B. Konsep Dasar Kelas Unggulan
Adapun konsep dasar kelas unggulan antara lain:
a. Setiap anak pada dasarnya memiliki kemampuan, bakat dan minat yang
berbeda, oleh karena itu setiap anak perlu mendapat pelayanan belajar yang
memadai agar kemampuan, bakat dan minat yang dimilikinya dapat
berkembang secara optimal.
b. Anak yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa, apabila tidak
memperoleh pelayanan khusus, akan menimbulkan perilaku negatif seperti
lekas bosan terhadap rutinitas sehari-hari, suka memaksakan pendapat
kepada orang lain, sikap tenggang rasa yang kurang, acuh tak acuh, dan
mudah tersinggung yang pada akhirnya akan menghambat perkembangan
dirinya.
c. Pengelompokan siswa yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata ke dalam
kelas khusus, akan memudahkan guru atau pendidik dalam memberikan
pelayanan belajar, sehingga siswa akan memperoleh kesempatan
berkembang lebih cepat.
C. Tujuan Program Kelas Unggulan
Tujuan penyelenggaraan kelas unggulan diantaranya:
- Mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan. Dengan
meningkatnya kualits lulusan maka ini akan berdampak lurus pada
peningkatan kualitas pendidikan.
- Menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Kelas unggulan
50
didesain untuk lebih mengoptimalkan bakat dan kemampuan anak.
Agar anak dapat mengeksplor lebih jauh bakat dan kemampuannya.
- Meningkatkan kemampuan dan pengetahuan tenaga pendidik. Tidak
hanya peserta didik yang kemampuannya meningkat, tetapi tenada
pendidik juga. Ini akan memotivasi tenaga pendidik untuk semakin
mengeksplor pembelajaran dengan metode- metode menarik dan fresh
untuk peserta didik agar kegiatan pembelajaran menjadi hal yang
menyenangkan.
- Mengembangkan potensi yang dimiliki sekolah. Jika sekolah berhasil
menerapkan program ini dengan baik, tentu sekolah akan mengeksplor
lebih jauh strategi- strategi apa yang selanjutnya perlu dilakukan agar
mutu sekolah lebih membaik.
- Meningkatkan kemampuan untuk menghadapi persaingan di dunia
pendidikan dengan menciptakan keunggulan kompetitif18.
Tujuan diselenggarakannya kelas khusus bagi siswa yang memiliki
kemampuan yang menonjol adalah:
- Pemberian perlakuan yang berbeda dari setiap siswa yang memiliki
kemampuan yang berbeda. Perbedaan dalam hal ini adalah ada sesuatu
yang lebih ditonjolkan. Misalnya dari aspek pembelajaran atau kegiatan
lainnya.
- Ada kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan yang
dimilikinya. Dengan adanya kelas unggulan ini harapannya peserta
didik lebih berani dalam mengembangkan bakat yang dimilikinya.
18
Silalahi , Aripin.(2006). Program Kelas Unggulan. Jakarta: Sidikalang h 9
51
- Menimbulkan perasaan bebas dalam belajar sehingga terjadi hubungan
yang harmonis antara guru dengan siswa dalam belajar19.
D. Ciri-ciri kelas Unggulan
Kelas Unggulan harus memiliki karakteristik sebagai berikut:
- Masukan diseleksi secara ketat dengan menggunakan kriteria yang
dapat dipertanggung-jawabkan. Kriteria ini harus punya landasan yang
jelas dan tidak asal dibuat- buat.
- Sarana dan prasarana menunjang untuk pemenuhan kebutuhan belajar
dan penyaluran minat dan bakat siswa. Pembelajaran yang baik adalah
yang didukung oleh sarana prasarana yang baik. Dalam hal ini sekolah
harus siap siaga memfasilitasi kebutuhan belajar anak- anak yang
berkompeten.
- Lingkungan belajar yang kondusif untuk berkembangnya potensi
keunggulan menjadi keunggulan yang nyata. Dalam hal ini sekolah
harus bisa membuat manajemen kelas yang baik, karena manajemen
kelas juga sangat berpengaruh dalam kelancaran proses pembelajaran.
- Memiliki kepala sekolah dan tenaga kependidikan yang unggul, baik
dari segi penguasaan materi pelajaran, metode mengajar, maupun
komitmen dalam melaksanakan tugas. Hal ini selaras bahwa sumber
daya manusia yang baik akan memberikan hasil yang baik dan
memberikan kemajuan dalam manajemen sekolah.
19
Sagala, Syaiful. (2003). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta. h 184
52
- Kurikulum yang diperkaya, yakni melakukan pengembangan dan
improvisasi kurikulum secara maksimal sesuai dengan tuntutan belajar.
- Rentang waktu belajar di sekolah yang lebih panjang dibandingkan
kelas lain dan tersedianya asrama yang memadai.
- Proses pembelajaran yang berkualitas dan hasilnya selalu dapat
dipertanggungjawabkan kepada siswa, lembaga, maupun masyarakat.
- Adanya perlakuan tambahan di luar kurikulum, program pengayaan dan
perluasan, pengajaran remedial, pelayanan bimbingan dan konseling
yang berkualitas, pembinaan kreativitas, dan disiplin, sistem asrama,
serta kegiatan ekstrakurikuler lainnya,
- Pembinaan kemampuan kepemimpinan yang menyatu dalam
keseluruhan sistem pembinaan siswa melalui praktik langsung dalam
kehidupan sehari- hari.
Kelas Unggulan adalah kelas yang dipersiapkan secara dini untuk
pengembangan kelas yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Memiliki sejumlah siswa dengan minat, bakat, kemampuan, dan
kecerdasan yang tinggi.
b. Diasuh oleh sejumlah pembimbing atau guru atau tutor yang
professional dan handal di bidangnya.
c. Melaksanakan kurikulum dengan menekankan pada mata pelajaran
Matematika, IPA, Seni, Olahraga, Bahasa Inggris, dan Ketrampilan
Komputer.
d. Didukung sarana dan prasarana yang memadai, antara lain : Kelas yang
53
nyaman dan representative, Laboratorium IPA, Bahasa dan Komputer,
Ruang Pusat Belajar Sekolah (PBS) multimedia yang dilengkapi dengan
sistem audiovisual yang lengkap, Perpustakaan yang memiliki
minimal 2.000 judul buku yang relevan dan ruang yang cukup luas
untuk belajar sendiri, Lapangan olahraga dan atau ruangan yang dapat
meningkatkan kebugaran jasmani dan peningkatan prestasi., Ruang
pengembangan minat dan bakat siswa lengkap dengan peralatan yang
dibutuhkan, Suasana belajar dan lingkungan yang kondusif, Buku
belajar, diktat dan bank soal latihan yang menunjang, Waktu belajar
lebih banyak, Jumlah siswa di kelas antara 20 s/d 30 orang, sehingga
siswa menjadi lebih efektif, Di dalam kelas dilengkapi dengan alat
pembelajaran yang lengkap dan memadai.
Penerapan kelas unggulan merupakan penerapan dan implementasi dari
Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 yang berisi,” warga
negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak mendapatkan
pendidikan khusus”. Penyelenggaran kelas unggulan bertujuan untuk
mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan, menghasilkan sumber
daya manusia, meningkatkan kemampuan serta pengetahuan tenaga pendidik agar
dapat menghadapi persaingan secara global dan menciptkan keunggulan
kompetitif20.
Tuntutan peran terhadap siswa kelas unggulan berupa harapan memiliki
nilai yang bagus, mempertahankan keunggulan sekolah, serta memiliki sikap dan
20
Farida Hanun. (2016). Membangun Citra Madrasah melalui Program Kelas Unggulan
di MTsN 2 Bandar Lampung, Jurnal Penelitian Pendidikan Agama dan keagamaan, Volume 14
No. 3
54
tingkahlaku yang baik. Pada kenyatannya, adanya tuntutan peran ini dimunculkan
dengan pemberian label (labelling) kepada mereka yang berada di kelas unggulan
dari orang-orang disekitarnya, sehingga muncul label yang bersifat positif dan ada
pula yang negatif. Label yang positif peserta didik merasa lebih percaya diri,
berharga terhadap kemampuannya. Sedangakan yang berlabel negatif peserta
didik lebih terbebani terhadap tuntutan yang mengaharuskan mereka lebih pandai
dari kelas lain.
Banyak sekolah sekarang merancang kelas menjadi kelas favorit atau kelas
unggulan disebabkan kerena sekolah menginginkan menjadi sekoah bertaraf
internasional sesuai dengan Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional pasal 50 ayat 3 memberikan dasar hukum yang kuat bahwa
“Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya
satu satuan pendidikan bertaraf internasional”. Sehingga dalam menghadapi
tantangan globalisasi memungkinkan sebuah Lembaga pendidikan mesti memiliki
kualifikasi tertentu yang bertaraf internasional21.
E. Definisi Manajemen Mutu Terpadu (TQM)
Secara umum mutu dapat diartikan sebagai gambaran dan karakteristik
menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam
memuaskan kebutuhan yang diharapkan atau yang tersirat. Dalam konteks
pendidikan, pengertian mutu mencakup input, proses, dan ouput pendidikan22.
21
Zada, Khamami. n.d. (2009)“Orientasi Studi Islam Di Indonesia: Mengenal Pendidikan
Kelas Internasional Di Lingkungan PTAI.” INSANIA: Jurnal Pemikiran Alternatif Kependidikan
11
22
Mulyasa. (2013). Manajemen dan Kepemimpinan Kepala Sekolahi, Jakarta:Bumi Aksara
h 157
55
Adapun manajemen yang baik adalah manajemen yang dilaksanakan oleh
orang-orang yang benar-benar mempunyai kompetensi dibidangnya,
sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW:
ِاَذ ا ُضِّيَع ْت اَأْلَم اَنُة َفاْنَتِظ ْر الَّس اَع َة َقاَل َك ْيَف ِإَض اَع ُتَها َيا َر ُسوَل ِهَّللا َقاَل ِإَذ ا
ُأْس ِنَد اَأْلْم ُر ِإَلى َغْيِر َأْهِلِه َفاْنَتِظ ْر الَّس اَع َة
Artinya:
Dari Abu Hurairah menyatakan bahwa Rasulullah bersabda: “Jika amanat
telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Kemudian ada seorang sahabat
yang bertanya, “Bagaimana maksud amanat disia-siakan ya Rasulullah?” Beliau
menjawab, “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah
kehancuran itu.” (HR. Bukhari)
Manajemen mutu terpadu merupakan, sistem manajemen yang mengangkat
sesuatu sebagai strategi kepuasan pelanggan dengan cara melibatkan pelanggan
dan seluruh anggota organisasi.
Manajemen Mutu terpadu (MMT) dapat memberikan fokus pada pendidikan
masyarakat, serta membentuk infrastruktur yang fleksibel yang dapat memberikan
respon yang cepat terhadap perubahan tuntutan masyarakat dan dapat membantu
pendidikan menyesuaikan diri dengan keterbatasan dana dan waktu. Transformasi
menuju sekolah bermutu terpadu diawali dengan mengadopsi dedikasi bersama
terhadap mutu dewan sekolah, tenaga administrasi, staf, siswa, guru dan
komunitas Dengan adanya penerapan Manajemen Mutu Terpadu sekolah
56
mengembangkan fokus mutu terpadu dapat membantu sekolah menyesuaikan diri
dengan perubahan dengan cara yang positif dan konstruktif pada standar proses
dan tenaga pendidik dan kependidikan.
Perbedaan antara TQM dengan pendekatan-pendekatan lain mencakup dua
komponen yaitu apa dan bagaimana dalam menjalankan usaha. Dari sini maka
dapat dipahami bahwa TQM merupakan suatu pendekatan dalam menjalankan
usaha yang mencoba untuk memaksimalkan daya saing organisasi melalui
perbaikan terus menerus atas produk, jasa/layanan, manusia, proses dan
lingkungan. Komponen TQM ini memiliki beberapa unsur utama yaitu :
a. Fokus pada pelanggan (internal & eksternal)
b. Memiliki obsesi tinggi terhadap kualitas
c. Menggunakan pendekatan ilmiah dalam pengambilan keputusan
dan masalah
d. Memiliki komitmen jangka panjang
e. Membutuhkan kerjasama tim (teamwork)
f. Memperbaiki proses secara berkesinambungan/ kontinu
g. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan
h. Memberikan kebebasan yang terkendali
i. Memiliki kesatuan tujuan
j. Adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan.
Total Quality Management (TQM) juga digambarkan dalam firman Allah
bahwa Perbaikan terus menerus sebagai upaya pengembangan diri dilandasi oleh
kesadaran bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mengubah keadaannya
57
menjadi lebih baik. Prinsip ini sesuai dengan firman Allah Swt:
ۗ ِإَّن ٱَهَّلل اَل ُيَغ ِّيُر َم ا ِبَقْو ٍم َح َّت ٰى ُيَغ ِّيُرو۟ا َم ا ِبَأنُفِس ِه ْم
Artinya:
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka
mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. ([Link]-Ra‟du : 11).
Dalam Al-Qur’an surat Al-‘Ankabut ayat 69 juga disebutkan:
َو ٱَّلِذ يَن َٰج َهُدو۟ا ِفيَنا َلَنْهِدَيَّنُهْم ُس ُبَلَناۚ َوِإَّن ٱَهَّلل َلَم َع ٱْلُم ْح ِسِنيَن
Artinya: orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk (mencari
keridaan) Kami benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan
Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat
kebaikan. (Q.S. al-Ankabut [29]: 69)
Al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib menafsirkan “lanahdiyannahum subulana”
dengan barang siapa yang bersungguh-sungguh dalam belajar maka sungguh dia
memperoleh petunjuk dari ilmu-Nya, dan penjelasan atas sesuatu dengan sejelas-
jelasnya (linashila fihim al-ilm bina wa linubayyina hadza fadhlu bayan)23
F. Strategi Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan
Ada beberapa strategi dalam meningkatkan mutu pendidikan yaitu:
a. Pengembangan Kurikulum
Pada dasarnya pengembangan kurikulum ialah mengarahkan kurikulum
sekarang ke tujuan pendidikan yang diharapkan karena adanya berbagai pengaruh
yang sifatnya positif yang datangnya dari lluar atau dari dalam sendiri, dengan
23
1 “Surah Al-Ankabut Ayat 69: Bersungguh-sungguh dalam Belajar.”
[Link] (accessed
Jan. 16, 2023).
58
harapan agar peserta didik dapat menghadapi masa depannya dengan baik24.
Oleh karena itu, kurikulum yang ada sekarang sangatlah berpengaruh
terhadap tujuan pendidikan, untuk menyiapkan peserta didik meraih masa depan
yang lebih baik. Dalam pengembangan kurikulum banyak hal yng harus
diperhatikan dan dipertimbangkan sebelum mengambil suatu keputusan.
b. Peningkatan Sumber Daya Manusia
Sumber daya Manusia adalah salah satu faktor yang mendukung
terwujudnya pendidikan yang bermutu. Berkenaan dengan pemberdayaan sumber
daya manusia, dapat disimpulkan bahwa inti dari pemberdayaan itu sendiri
meliputi tiga hal yaitu pengembangan, memperkuat potensi/daya, terciptanya
kemandirian25.
c. Peningkatan Prestasi Siswa
Mukhammad Ilyasin dan Nanik Nurhayati menjelaskan bahwa pendidikan
yang berkualitas berdasarkan konsep relatif tentang kualitas, maka para siswa
diharapkan menjadi pembelajar sepanjang hayat, komunikator yang baik dalam
bahasa nasional dan internasional, punya keterampilan teknologi untuk lapangan
kerja dan kehidupan sehari- hari, siap secara kognitif untuk pekerjaan yang
kompleks, pemecahan masalah dan penciptaan pengetahuan, dan menjadi warga
negara yang bertanggung jawab secara sosial, politik dan budaya. Intinya para
siswa menjadi manusia dewsa yang bertanggungjawab akan hidupnya26.
24
Dakir, (2004). Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Rineke Cipta h 84
25
Ambar Teguh Sulistiyani, (2004), Kemitraan dan Model-model Pemberdayaan,
Yogyakarta: Gava Media h 79
26
Mukhammad Ilyasin & Nanik Nurhayati, Manajemen Pendidikan Islam, Malang: Aditya
Media Publishing, 2012 h 293
59
d. Membangun Citra Sekolah
Membangun citra sekolah merupakan suatu strategi yang sangat ampuh
untuk menarik simpati masyarakat agar menyekolahkan anaknya ke sekolah yang
dipimpin. Nanang Fattah menjelaskan bahwa hubungan sekolah dengan
masyarakat adalah suatu proses komunikasi antara sekolah dan masyarakat
dengan tujuan meningkatkan pengertian anggota masyarakat tentang kebutuhan
dari praktik pendidikan serta mendorong minat dan kerja sama para anggota
masyarakat dalam rangka usaha memperbaiki sekolah27.
C. Deskripsi Fokus
Dalam penelitian ini, yang menjadi deskripsi fokus penelitian adalah sebagai
berikut:
NO Fokus Penelitian Deskripsi Fokus
Evaluasi Program Kelas 1. mengumpulkan data yang deskriptif,
Unggulan dalam informatif, dan prediktif
1 Meningkatkan Mutu 2. Pelaksanaan Program Kelas Unggulan
Pendidikan di MA DDI
Nurul Islam Kab.
Mimika
27
Nanang Fattah, Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan , Bandung: Remaja Rosdakarya,
2013 h 208
60
Menggunakan model 1. Pemfokusan terhadap fenomena
evaluasi CIPP yaitu kurikulum yang akan dievaluasi
2 evaluasi context, input, 2. Mengumpulkan informasi dari lingkungan
madrasah
process, dan ouput
3. Mengorganisasikan informasi dari
lingkungan madrasah
D. Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual merupakan dasar dari penelitian yang disesuaikan dari
fakta–fakta, observasi dan telaah kepustakaan, yang didalamnya memuat teori–
teori, kerangka pemikiran juga dijadikan konsep yang akan dijadikan dasar dalam
penelitian serta mampu menjelaskan hubungan keterkaitan antara variabel–
variabel penelitian, sehingga dapat dijadikan dasar untuk menjawab
permasalahan–permasalahan penelitian. berdasarkan hal itu kami menjabarkan
vriabel–variabel penelitian seperti skeme di bawah ini.
Landasan Normatif Landasan Yuridis
QS. Ar-Ra’du ayat 11 UU No. 20 Tahun 2003 pasal 4
HR. Bukhari UU No. 20 Tahun 2003 pasal 50 ayat 5
Madrasah Aliyah DDI Nurul Islam
Kabupaten Mimika
Imlementasi CIPP
Context Evaluation : Evaluasi terhadap konteks
Input Evaluation : Evaluasi terhadap masukan
Process evaluation : Evaluasi terhadap proses
Product Evaluation : Evaluasi terhadap hasil
61
Peningkatan Mutu siswa
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Lokasi Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan evaluasi program dengan model CIPP
(Context, Input, Process, Product) kualitatif kebijakan yaitu data yang
dikumpulkan berbentuk kata-kata, gambar dan bukan angka. Dengan dasar
pendekatan fenomenologis dan interaksi simbolik. Hal ini didasarkan pada
pandangan dan asumsi bahwa pengalaman manusia diperoleh lewat
interaksi. Disini peneliti berusaha memahami arti dari berbagai peristiwa
dalam setting tertentu dengan kacamata peneliti sendiri.
Pendekatan ini dimulai dari sikap diam, ditunjukkan untuk menelaah
apa yang sedang dipelajari kemudian ikut berpartisipasi dengan berinteraksi
secara langsung dengan subyek yang diteliti. Obyek, orang-orang, situasi
dan peristiwa- peristiwa tidak dengan sendirinya mempunyai arti dan arti
diberi untuknya. Untuk dapat memahami perilaku, peneliti harus mengerti
defenisi-defenisi itu dibuat28.
Penelitian kualitatif merupakan salah satu metode penelitian yang
digunakan dalam melakukan evaluasi program. Penelitian Kualitatif
merupakan suatu eksplorasi dari permasalahan penelitian yang memiliki
sekop yang kecil yang kemudian berkembang pada saat penelitian
28
Salim, Syahrum. (2011). Metodologi Penelitian Kualitatif: Konsep dan Aplikasi dalam
Ilmu Sosial, Keagamaan dan Pendidikan, Bandung: Citapustaka Media h 88
65
66
dilakukan. Kecenderungan penelitian kualitatif dalam telaah teori adalah
memainkan peran yang tidak terlalu kuat (minor) dalam menyatakan
permasalahan yang akan diteliti Membenarkan bahwa penelitian penting
untuk diteliti. Pengumpulan data dalam penelitian kualitatif memungkinkan
peneliti mendapatkan data berupa kata-kata (narasi) dalam kalimat yang
panjang dari berbagai informan. Hasil berupa fenomena dan kenyataan yang
menggambarkan individu dan mengidentifikasi tema, gambar yang muncul.
2. Lokasi Penelitian
Lokasi atau tempat pelaksanaan penelitian adalah MA DDI Nurul Islam
Kab. Mimika.
B. Sumber Data
Berdasarkan sumbernya, data dibedakan menjadi dua, yaitu data primer dan
data sekunder.
1. Data Primer
Menurut Sugiyono yang dimaksud data primer adalah sumber data
yang langsung memberikan data kepada pengumpul data. Artinya sumber
data penelitian diperoleh secara langsung dari sumber aslinya yang berupa
wawancara, jejak pendapat dari individu atau kelompok (orang) maupun hasil
obersvasi dari suatu objek, kejadian atau hasil pengajuan (benda). Dengan
kata lain, peneliti membutuhkan pengumpulan data dengan cara menjawab
pertanyaan riset (metode survei) atau penelitin benda (metode observasi).29
29
Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. (Bandung: Alfabeta,
CV, 2017) h. 193
67
Kelebihan dari data primer adalah data lebih mencerminkan kebenaran
berdasarkan dengan apa yang dilihat dan didengar langsung oleh peneliti
sehingga unsur-unsur kebohongan dari sumber yang fenomenal dapat
dihindari. sedangkan kekurangan dari data primer adalah membutuhkan
waktu yang relatif lama serta biaya yang dikeluarkan relatif cukup besar.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang dapat di jadikan sebagai pendukung
data pokok, atau dapat pula di definisikan sebagai sumber data yang mampu
atau dapat memberikan informasi atau data tambahan yang dapat memperkuat
data pokok.
Kelebihan dari data sekunder adalah waktu dan biaya yang dibutuhkan
untuk penelitian untuk mengklasifikasi permasalahan dan mengevaluasi data,
relatif lebih sedikit dibandingkan dengan pengumpulan data primer titik
sedangkan kekurangan dari data sekunder adalah jika terjadi Sumber data
kesalahan, kadaluarsa atau sudah tidak relevan dapat mempengaruhi hasil
penelitian.
Adapun sumber data yang mendukung dan melengkapi sumber data
sekunder adalah berupa buku, jurnal dan penelitian lain yang berkaitan
dengan masalah yang di teliti . Hal ini dilakukan sebagai upaya penyesuaian
dengan kebutuhan data lapangan. Data sekunder terutama diperoleh melalui
dokumentasi.
68
C. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini,
yaitu:
a. Interview
Adapun obyek interview dalam penelitian ini antara lain: Kepala
Madrasah, Wakil Kepala Madrasah bidang Kurikulum, Wakil Kepala
Madrasah bidang Kesiswaan, Guru MA DDI Nurul Islam Kab. Mimika.
b. Observasi
Observasi yang dilakukan disini adalah observasi partisipan
(Participant Observation) yaitu pengamatan yang dalam yang dilakukan
dengan cara ikut ambil bagian atau melibatkan diri dalam situasi obyek
yang akan diteliti.
c. Dokumentasi
Metode pengumpulan data dengan dokumentasi adalah
pengambilan data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen. Metode
ini digunakan untuk mendapatkan data tentang keadaan guru- guru MA
DDI Nurul Islam Kab. Mimika , keadaan peserta didik di MA DDI
Nurul Islam Kab. Mimika , struktur organisasi sekolah MA DDI Nurul
Islam Kab. Mimika, letak geografis sekolah MA DDI Nurul Islam Kab.
Mimika, sejarah sekolah MA DDI Nurul Islam Kab. Mimika, dan sarana
prasarana yang ada di sekolah tersebut, dengan tujuan agar pembaca
memiliki gambaran yang utuh mengenai obyek penelitian.
69
D. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian kualitatif, yang menjadi instrumen atau alat
penelitian adalah peneliti itu sendiri. Peneliti kualitatif sebagai human
instrument, berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan
sebagai sumber data, malakukan pengumpulan data, menilai kualitas data,
analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan temuannya30
Peneliti sebagai instrument dalam penelitian kualitatif mengandung
arti bahwa peneliti melakukan kerja lapangan secara langsung dan
bersama beaktivitas dengan orang-orang yang diteliti untuk mengumpulkan
data. Konsekuensi peneliti sebagai instrumen penelitian adalah peneliti
harus memahami masalah yang akan diteliti, memahami teknik
pengumpulan data penelitian kualitatif yang akan digunakan. Peneliti
harus dapat menangkap makna yang tersurat dan tersirat dari apa yang
dilihat, didengar dan dirasakan, untuk itu dibutuhkan kepandaian dalam
memahami masalah. Peneliti harus dapat menyesuaikan diri dengan
lingkungan yang akan diteliti, untuk itu dibutuhkan sikap yang toleran,
sabar dan menjadi pendengar yang baik.
E. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dua proses analisis, yaitu
analisis data sebelum dilapangan dan analisis data selama dilapangan.
Analisis data sebelum dilapangan dilakukan terhadap data hasil studi
pendahuluan, atau data sekunder, yang akan digunakan untuk menentukan
fokus penelitian. Fokus penelitian ini menggunakan CIPP Evaluation
30
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), h.222
70
Model. Model ini merupakan model yang paling banyak dikenal dan
diterapkan oleh para evaluator.
Evaluasi ini terdiri atas model evaluasi konteks, masukan, evaluasi,
dan produk (Context, Input, Process, Product atau CIPP), sebagai salah satu
model evaluasi yang terfokus pada pengambilan keputusan. Metode ini
mengidentifikasi 4 tipe evaluasi program yang berkaitan dengan 4 tipe
keputusan dalam perencanaan program.
1. Konteks (Context)
Evaluasi program menyajikan data tentang alasan- alasan untuk
menetapkan tujuan- tujuan program dan prioritas tujuan dilaksanakannya
program kelas unggulan di MA DDI Nurul Islam Kab. Mimika. Evaluasi
ini menjelaskan mengenai kondisi lingkungan yang relevan,
menggambarkan kondisi yang ada dan yang diinginkan madrasah, dan
mengidentifikasi kebutuhan- kebutuhan yang belum terpenuhi dan
peluang yang belum dimanfaatkan pada saat pelaksanaan program.
2. Masukan (Input)
Pada evaluasi input menolong mengatur keputusan, menentukan
sumber- sumber yang ada, alternatif apa yang diambil, apa rencana dan
strategi untuk mencapai kebutuhan. Bagaimana prosedur kerja yang
dilakukan selama pelaksanaan program kelas unggulan ini untuk
mencapainya.
Model ini menjawab pertanyaan-pertanyaan (1) apakah rencana
yang disusun pernah dilaksanakan pada waktu yang lalu? (2) Apakah
asumsi-asumsi yang digunakan akan dapat dicapai? (3) Apakah aspek-
71
aspek sampingan yang dihasilkan program? (4) Bagaimana masyarakat
mereaksi program? dan (5) dapatkah program dilakukan dengan
berhasil31.
3. Proses (Process)
Model evaluasi ini berkaitan pula dengan hubungan akrab antar
pelaksana dan peserta didik selama pelaksanaan program, media
komunikasi yang digunakan, logistik, sumber-sumber, jadwal kegiatan
yang dipakai, dan potensi penyebab kegagalan program. Dokumentasi
tentang prosedur kegiatan program kelas unggulan akan membantu untuk
kegiatan analisis akhir tentang hasil-hasil program yang telah dicapai32.
Evaluasi proses untuk membantu mengimplementasikan keputusan.
Sampai sejauh mana rencana telah diterapkan? Apa yang harus direvisi?
Begitu pertanyaan terjawab, prosedur dapat dimonitor, dikontrol, dan
diperbaiki.
4. Produk (Product)
Evaluasi produk mengukur dan menginterpretasi pencapaian
program selama pelaksanaan program dan pada akhir program. Evaluasi
ini berkaitan dengan pengaruh utama, pengaruh sampingan, biaya, dan
keunggulan program. Evaluasi produk melibatkan upaya penetapan
kriteria, melakukan pengukuran, membandingkan ukuran keberhasilan
dengan standar absolut atau relatif, dan melakukan interpretasi rasional
31
Sudjana, Djudju. 2008. Evaluasi Program Pendidikan Luar Sekolah. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya h 55
32
Sudjana, Djudju. 2008. Evaluasi Program Pendidikan Luar Sekolah. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya h 54
72
tentang hasil dan pengaruh dengan menggunakan data tentang konteks,
input dan proses.
Adapun langkah- langkah yang dilakukan dalam model ini menurut
Chelimsky33 (1989) adalah sebagai berikut:
- Menetapkan keputusan yang akan diambil. Dalam hal ini
peneliti harus paham tujuan apa yang akan dicapai.
- Menetapkan jenis data yang diperlukan. Peneliti harus tahu
dengan jelas data apa yang diperlukan.
- Pengumpulan data. Dalam hal ini peneliti mengumpulkan
data- data yang diperlukan.
- Menetapkan kriteria mengenai kualitas,
- Menganalisis dan menginterpretasi data berdasarkan kriteria,
- Memberikan informasi kepada pihak penanggungjawab
program atau pengambil keputusan untuk menentukan
kebijakan.
F. Uji Keabsahan Data
Moleong34 menyatakan bahwa untuk menetapkan keabsahan data
diperlukan teknik pemeriksaan atas empat kriteria yaitu; (1)
Credibility/derajat kepercayaan; (2) Transferability/keteralihan; (3)
Dependability/kebergantungan dan; (4) Confirmability/kepastian, berikut
uraiannya:
33
Chelimsky, Elanor. 1989. Program Evaluation: Pattern and Directions, 2nd Edition.
Washington, DC; American Society for Public Administration h 133
34
Moleong, Lexy J. (2011) Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung. Remaja:
Rosdakarya h 144
73
a. Credibility atau Derajat Kepercayaan
Ada beberapa kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan derajat
kepercayaan yaitu; (a) memperpanjang waktu penelitian; (b), observasi
detail yang terus menerus; (c) triangulasi atau pengecekan data dengan
berbagai sumber sebagai pembanding terhadap data tersebut; (d)
mengekspos hasil sementara atau akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi
analitis dengan rekan sejawat; (e) kajian kasus negatif dengan
mengumpulkan kasus yang tidak sesuai dengan pola yang ada sebagai
pembanding; (f) membandingkan dengan hasil penelitian lain dan; (g)
pengecekan data, penafsiran dan kesimpulan dengan sesama anggota
penelitian.
b. Transferability atau Keteralihan
Transferability atau keteralihan yaitu dapat tidaknya hasil penelitian
ini ditransfer atau dialihkan atau tepatnya diterapkan pada situasi yang lain.
c. Dependability atau Kebergantungan
Dependability atau kebergantungan yaitu apakah hasil penelitian
mengacu pada kekonsistenan peneliti dalam mengumpulkan data,
membentuk, dan menggunakan konsep-konsep ketika membuat interpretasi
untuk menarik kesimpulan
d. Confirmability atau Kepastian
74
Confirmability atau kepastian yaitu dapat tidaknya hasil penelitian dibuktikan
kebenarannya dimana hasil penelitian sesuai dengan data yang dikumpulkan dan
dicantumkan dalam laporan lapangan. Hal ini dilakukan dengan membicarakan
hasil penelitian dengan orang yang tidak ikut dan tidak berkepentingan dalam
penelitian dengan tujuan agar hasil dapat lebih objektif.
DAFTAR PUSTAKA
Ambiyar dan Muharika(2019). Metodologi Penelitian Evaluasi
Program,Bandung: Alfabeta.
Ananda, Rusydi dan Tien Rafida. (2017). Pengantar Evaluasi Program
Pendidikan. Medan: Perdana Publishing
Arikunto, Suharsimi. (1996). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan
Praktik:cet ke 10, Jakarta: Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi. 2010. Evaluasi Program Pendidikan: Pedoman
Teoritis Praktis bagi Mahasiswa dan Praktisi Pendidikan Edisi
Kedua, Jakarta: Bumi Aksara.
Bafadal, Ibrahim. (2006). Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah Dasar
dari Sentralisasi Menuju Desentralisasi, Jakarta: Bumi Aksara.
Ghufron, M. N., & Risnawita, R. (2012). Gaya Belajar Kajian Teoritik.
Yogyakarta: Pustaka.
Hardjosoedarmo, Soewarso. (2002). Total Quality Management, Jogjakarta:
Andi
Komariah, Aan dan Cepi Triatna. 2008. Visionary Leadership: Menuju
Sekolah Efektif, Jakarta: Bumi Aksara.
Komariah, Aan dkk. (2010). Manajemen Pendidikan,Bandung:Alfabeta.
Engkoswara., Komariah. (2011). Administrasi Pendidikan. Bandung:.
Moleong, Lexy J. (2011) Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung.
Remaja: Rosdakarya.
Mulyadi. 2009. Classroom Management Mewujudkan Suasana Kelas Yang
Menyenangkan Bagi Siswa,Malang: Aditya Media.
Mulyasa. (2013). Manajemen dan Kepemimpinan Kepala Sekolahi,
Jakarta:Bumi Aksara.
Musfah Jejen. (2015). Manajemen Pendidikan: Teori, Kebijakan, dan
Praktik Edisi Pertama, Jakarta: Prenamedia Group.
Mutohar, Prim Masrokan. (2013). Manajemen Mutu Sekolah. Jogjakarta:Ar-
Ruzz Media.
Nurhasan. 2001. Tes dan Pengukuran dalam Pendidikan Jasmani. Jakarta:
Direktorat Jenderal Olahraga.
77
78
Rifai, Muhammad. (2011). .Politik Pendidikan Nasional, Yogyakarta:
Ruzzmedia
Rivai, Veithzal dan Hj. Sylviana Murni. (2012). Education Management:
Analisis Teori dan Praktik, Jakarta: Rajawali Pers.
Rochaety, Eti dkk. (2010). Sistem Informasi Manajemen Pendidikan
Cet.4,Jakarta:Bumi Aksara.
Rohman, Muhammad. (2012). Kurikulum Berkarakter, Jakarta: prestasi
Pustaka Jakarta.
Salim, Syahrum. (2011). Metodologi Penelitian Kualitatif: Konsep dan
Aplikasi dalam Ilmu Sosial, Keagamaan dan Pendidikan, Bandung:
Citapustaka Media.
Sallis, Edward. (2006). Total Quality Management In Education,
terjemahan Ahmad Ali Riyadi dan Fahrurrozi, Yogyakarta:
IRCISOD.
Silalahi , Aripin.(2006). Program Kelas Unggulan. Jakarta: Sidikalang.
Singarimbun, Masri dkk. (1985) Metode Penelitian Survei, Jakarta:
LP3ES. Sudiono, Anas. (1996). Pengantar Evaluasi Pendidikan,
Jakarta: RajaGrafindo
Sudjana, Djudju. 2008. Evaluasi Program Pendidikan Luar Sekolah.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Sugiono. (2010). Statistik untuk Penelitian, Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. (2015). Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods),
Bandung: Alfabeta
Suhartono dan Ngadirun. (2009). Penyelenggaraan Program Kelas
Unggulan di Sekolah Dasar, Jakarta: Universitas Terbuka.
Sukardi. 2009. Evaluasi Pendidikan, Prinsip dan Operasionalnya. Jakarta:
Bumi Aksara.
Supardi. (2013). Sekolah Efektif: Konsep Dasar dan Praktiknya, Jakarta:
Rajagrafindo Persada.
Susanto, Pendi.(2016). Produktivitas Sekolah, Teori dan Praktik di Tingkat
Satuan Pendidikan, Bandung: Alfabeta.
Stufflebeam, D.L. H McKee and B McKee. 2003. The CIPP Model for
Evaluation. Paper presented at the 2003 Annual Conference of the
Oregon Program Evaluation Network (OPEN). Portland, Oregon.
79
Syafaruddin dan Asrul. (2015) Kepemimpinan Pendidikan Kontemporer,
Bandung: CitaPustaka Media..
Tjiptono, Fandi dan Anastasia Diana. (2003). Total Quality Management ,
Yogyakarta:Andi Offset.
Usman , Husaini. (2011). Manajeman,Jakarta:Bumi Aksara.
Utomo, Amin Mudi.(2012). Pengelolaan Pendidikan Karakter Kelas
Unggulan di SMP Negeri 2 Cepu. Surakarta: Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
Jurnal:
Amalia Ratna Zaskiah Wati & Syunu Trihantoyo. (2020).Strategi
Pengelolaan Kelas Unggulan dalam Meningkatkan Prestasi Belajar
Siswa: Jurnal Dinamika Manajemen Pendidikan Volume 5 No. 1,
(ISSN: 2540-7880), DOI: 10.26740/jdmp.v5n1.p46-57.
Agustanico Dwi Muryadi, Model Evaluasi Program dalam Penelitian
Evaluasi, Surakarta: Jurnal Ilmiah PENJAS, ISSN : 2442-3874
Vol.3 No.1, Januari 2017.
Azhari, Ulpha Lizni dkk. (2016). Manajemen Pembiayaan Pendidikan,
Fasilitas Pembelajaran dan Mutu Sekolah, Jurnal Administrasi
Pendidikan [Link] No.2 ISSN: p.1412-8152 e.2580-1007
Universitas Pendidikan Indonesia.
Azizah, Utiya, and Harun Nasrudin. (2013). “Pemberdayaan Kecakapan
Berpikir Siswa SMA Bertaraf Internasional Melalui Pengembangan
Perangkat Pembelajaran Meteri Redox Reaction Berorientasi
Group Investigation Cooperative.‟” Jurnal Pendidikan Dan
Pembelajaran.
Blatchford, Peter; Russell, Anthony . (2018). Class Size, Grouping
Practices and Classroom Management, International Journal Of
Education Research Vol.96.
[Link]
Darminto, Eko, and Lailatul Rokhmatika. 2013. “Hubungan Antara Persepsi
Terhadap Dukungan Sosial Teman Sebaya Dan Konsep Diri Dengan
Penyesuaian Diri Di Sekolah Pada Siswa Kelas Unggulan.” Journal
Mahasiswa Bimbingan Dan Konseling.
Farida Hanun. (2016). Membangun Citra Madrasah melalui Program Kelas
Unggulan di MTsN 2 Bandar Lampung, Jurnal Penelitian
Pendidikan Agama dan keagamaan, Volume 14 No. 3.
80
John Mayne & Ray C. Rist. (2006). ”Studies are Not Enough: The
Necessary Transformation of Evaluation”. The Canadian Journal of
Program Evaluation. Vol. 21 No. 3.
Meila Hayudiani dkk,Strategi Kepala Sekolah Meningkatkan Mutu
Pendidikan melalui Program Unggulan Sekolah Volume 8 No. 1
2020, ISSN: 24610550, DOI:
[Link]
Muryadi, Agustanico Dwi. (2017). Model Evaluasi Program dalam
Penelitian Evaluasi, Jurnal Ilmiah PENJAS, ISSN : 2442-3874
Vol.3 No.1, Januari.
Rahmi, Ihyaur dkk. (2019). “Historical Dynamics Madrasah Muallimin
UNIVA Medan, Jurnal Edu- Riligia Vol. 3 No. 4 Oktober –
Desember.
Richard M. Wolf, The Nature of Educational Evaluation, Columbia
University: Inr. J. Educ. Res. Vol. 11, pp. l-143, 1987.
Subar Junanto, Nur Arini Asmaul Kusna, Evaluasi Program Pembelajaran
di PAUD Inklusi dengan Model Context, Input, Proses, Product
(CIPP), Surakarta: Inklusi: Journal Of Disability Studies, Vol. V,
No. 2, Juli Desember 2018, h. 179-194, DOI: 10.14421/ijds.050202.
Suresmi. (2020). Implikasi Pengelolaan Pembelajaran Bermutu Pada Kelas
Unggulan,Jurnal Tadbir Manajemen Pendidikan vol. 4, no. 2, Nov.
ISSN 2580-3581 DOI: [Link]
Supriyono, Agus.(2009). Penyelenggaraan Kelas Unggulan di SMA Negeri
2 Ngawi. Tesis, Universitas Sebelas Mare. Surakarta: Universitas
Sebelas Maret.
Trisandi, Abd Salam. Strategi Kepala Sekolah dalam Mewujudkan Kelas
Unggulan di SMA Sains Alqur’an Wahid Hasyim Yogyakarta,
Managere:Indonesian Journal Of Education Management, Vol. 2
No. 2 (2020) ISSN: 2721-1053.
Umar, Mardan; Ismail, Feiby. (2017). Peningkatan Mutu Lembaga
Pendidikan Islam (Tinjauan Konsep Mutu Edward Deming dan
Joseph Juran), Jurnal Ilmiah Iqra‟ Vol. 11 Online- ISSN= 2541-
2108 IAIN Manado, DOI: [Link]