0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan12 halaman

Pengaruh Pengendalian Internal dan Komitmen terhadap Pencegahan Fraud di RSUD Aceh Timur

Diunggah oleh

Hana Afifah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan12 halaman

Pengaruh Pengendalian Internal dan Komitmen terhadap Pencegahan Fraud di RSUD Aceh Timur

Diunggah oleh

Hana Afifah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

JURNAL MAHASISWA AKUNTANSI SAMUDRA (JMAS)

Volume 2 Nomor 2, April 2021

PENGARUH PENGENDALIAN INTERNAL DAN


KOMITMEN ORGANISASI TERHADAP PENCEGAHAN
FRAUD PADA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
ACEH TIMUR
Tuti Meutia
Fakultas Ekonomi, Universitas Samudra
tuti_meutia@[Link]

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Pengendalian Internal, Komitmen
Organisasi dan Kesesuaian Kompensasi Terhadap Pencegahan Fraud Pada Rumah Sakit Umum
Daerah Aceh Timur. Data dalam penelitian ini merupakan data primer dengan metode
penyebaran kuesioner untuk pengumpulan data. Penelitian ini menggunakan responden
sebanyak 70 orang yang merupakan karyawan RSUD Aceh Timur. Metode analisis data
menggunakan persamaan regresi linier berganda, uji validitas dan reabilitas, uji asumsi klasik,
uji hipotesis (uji t dan uji F) dan uji koefisien determinasi (R2). Hasil penelitian diperolah Y =
7,314 -0,101X1 + 0,409X2 + 0,077 X3 + e konstanta sebesar 7,314 merupakan pencegahan
fraud sebelum dipengaruhi oleh pengendalian internal, komitmen organisasi dan kesesuaian
kompensasi bernilai konstan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pengendalian Internal tidak
berpengaruh terhadap Pencegahan Fraud. Komitmen Organisasi berpengaruh positif terhadap
Pencegahan Fraud. Kesesuaian Kompensasi tidak berpengaruh terhadap Pencegahan Fraud.
Pengendalian Internal, Komitmen Organisasi Dan Kesesuaian Kompensasi berpengaruh positif
dan signifikan terhadap Pencegahan Fraud pada Rumah Sakit Umum Daerah Aceh Timur.

Kata Kunci: Pengendalian Internal, Komitmen Organisasi, Kesesuaian Kompensasi,


Pencegahan Fraud

ABSTRACT
This study aims to determine the effect of internal control, organizational commitment and
suitability of compensation for fraud prevention at the East Aceh Regional General Hospital. The
data in this study are primary data using questionnaires for data collection. This study used 70
respondents who were employees of the East Aceh Regional Hospital. The data analysis method
uses multiple linear regression equations, validity and reliability tests, classical assumption tests,
hypothesis testing (t test and F test) and determination coefficient test (R2). The research results
obtained that Y = 7,314 -0,101X1 + 0,409X2 + 0,077 X3 + e, a constant of 7,314 is fraud
prevention before it is influenced by internal control, organizational commitment and the
appropriateness of compensation is constant. The results showed that Internal Control had no
effect on Fraud Prevention. Organizational Commitment has a positive effect on Fraud
Prevention. Compensation Suitability has no effect on Fraud Prevention. Internal Control,
Organizational Commitment and Compensation Suitability have a positive and significant effect
on Fraud Prevention at the East Aceh Regional General Hospital.

Keywords: Internal Control, Organizational Commitment, Compensation Compensation,


Fraud Prevention

Pendahuluan
Aktivitas manusia berlangsung dengan seiring kebutuhan yang semakin beragam
seperti kebutuhan sandang, pangan, papan yang melingkupi juga kebutuhan akan kesehatan.
Sejak pelayanan kesehatan diketahui memiliki peran yang besar dalam meningkatkan derajat
kesehatan hidup masyarakat, semua negara termasuk Indonesia, berupaya menyelenggarakan
pelayanan kesehatan yang sebaik-baiknya. Seperti rumah sakit yang merupakan salah satu
jaringan pelayanan kesehatan yang penting, sarat dengan tugas, beban, masalah dan harapan

79
JURNAL MAHASISWA AKUNTANSI SAMUDRA (JMAS) VOLUME 2 NOMOR 2 TAHUN 2021

yang diberikan kepadanya. Kegiatan utama sebuah rumah sakit adalah memberikan
pelayanan kesehatan yang maksimal kepada pasien. Memberikan pelayanan yang baik serta
dimilikinya instrumen organisasi yang handal menjadikan rumah sakit tetap bertahan sebagai
pelayanan publik merupakan tuntutan yang harus dipenuhi. Hal ini merupakan isu yang
penting karena rumah sakit merupakan pusat pertanggungjawaban yang bertanggungjawab
terhadap pelayanan kesehatan masyarakat, sehingga pelayanan kesehatan yang diterima
masyarakat dapat terjangkau dan berkualitas (Natasya, 2017).
Rumah sakit sebagai entitas pelayanan umum tetap dituntut untuk tetap bertahan dan
memperlihatkan kinerjanya dengan baik, memberikan dampak pada hampir seluruh sektor
perekonomian, termasuk rumah sakit. Pengelolaan rumah sakit yang baik tentunya akan
memberikan acuan atau gambaran bagaimana rumah sakit terkelola secara transparan,
mandiri, akuntabel, bertanggungjawab dan wajar sehingga kinerja karyawan pada rumah
sakit dapat dicapai sesuai dengan visi dan misi rumah sakit yang telah ditentukan
sebelumnya.
Fraud merupakan konsep pelanggaran yang memiliki sudut pandang yang luas.
Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) menyebutkan fraud sebagai perbuatan
melawan hukum yang dilakukan dengan sengaja untuk tujuan tertentu (manipulasi atau
memberikan laporan keliru terhadap pihak lain) yang dilakukan oleh orang-orang dari dalam
atau luar organisasi untuk mendapatkan keuntungan pribadi ataupun kelompok yang secara
langsung atau tidak langsung merugikan pihak lain (Yudistira, et al. 2017).
Pengendalian internal yang kurang memadai dapat memberikan kesempatan untuk
melakukan kecurangan. Dengan meningkatkan moralitas, integritas, komitmen organisasi,
dan pengendalian internal maka kecurangan dapat dicegah. Dalam teori atribusi, tindakan
seseorang dalam organisasi dipengaruhi oleh atribut penyebab (Waworuntu, 2013). Tindakan
curang yang dilakukan seseorang, disebabkan oleh keinginan untuk memaksimalkan
keuntungan pribadi.
Komitmen sebagai suatu keadaaan dimana seorang individu memihak organisasi
serta tujuan-tujuan dan keinginannya untuk mempertahankan keanggotaanya dalam
organisasi. Semakin tinggi komitmen pegawai terhadap organisasi, pegawai tersebut
cenderung tidak akan melakukan hal-hal yang bisa saja menghambat tercapainya tujuan
organisasi. Sebaliknya, jika pegawai memiliki komitmen yang rendah terhadap
organisasinya, maka pegawai cenderung akan melakukan hal-hal yang menghambat
tercapainya tujuan organisasi demi tujuan pribadinya sendiri (Widiutami dalam
Najahninggrum, 2013).
Masalah kecurangan muncul akibat terjadinya kelemahan pengendalian internal dan
komitmen organisasi antara pemegang kekuasaan dan pihak lain untuk melakukan tindakan
kecurangan dalam menetapkan anggaran pendapatan belanja daerah, pada kasus tersebut,
ditemukan indikasi kerugian negara. Berkaitan tentang kecurangan, maka diperlukan upaya
yang sistematis dan terintegrasi dalam strategi investigatif dan strategi preventif untuk
mengatasinya (Dewi, 2017).
Pentingnya pengendalian internal dan komitmen organisasi yang merupakan salah
satu cara untuk meminimalisir tindakan fraud. Komitmen organisasi sebagai perasaan

Tuti Meutia : Pengaruh Pengendalian Internal dan Komitmen Organisasi terhadap Pencegahan Freud… 80
JURNAL MAHASISWA AKUNTANSI SAMUDRA (JMAS) VOLUME 2 NOMOR 2 TAHUN 2021

karyawan yang memaksa mereka untuk menjadi bagian dari organisasi mereka dan
mengakui tujuan, nilai, norma dan standar etika di suatu organisasi.

Kerangka Teoritis dan Pengembangan Hipotesis


Pencegahan Fraud
Menurut Hardianto (2011) fraud merupakan suatu perbuatan yang melawan hukum
yang dilakukan oleh orang-orang dari dalam atau luar organisasi dengan maksud
mendapatkan keuntungan pribadi dan kelompoknya yang secara langsung merugikan pihak
lain. Hal ini termasuk berbohong, menipu, menggelapkan, dan mencuri. Sedangkan menurut
Karyono (2013) fraud dapat diistilahkan sebagai kecurangan yang mengandung makna suatu
penyimpangan dan perbuatan melanggar hukum, yang dilakukan dengan sengaja untuk
tujuan tertentu misalnya menipu atau memberikan gambaran keliru kepada pihak-pihak lain,
yang dilakukan oleh orang-orang, baik dari dalam maupun dari luar organisasi. Kecurangan
dirancang untuk memanfaatkan peluang-peluang secara tidak jujur, yang secara langsung
maupun tidak langsung merugikan pihak lain.
Tunggal (2011) menyatakan bahwa tindakan fraud harus memenuhi lima syarat yaitu:
1) Kesalahan penyajian, ada pernyataan palsu atau tidak diungkapkannya suatu hal.
2) Fakta yang material, fakta harus merupakan faktor yang substansial untuk mendorong
seseorang agar bertindak.
3) Niat, Ada niat untuk menipu atau menegtahui bahwa pernyataan pihak tertentu adalah
salah.
4) Ketergantungan yang dapat dijustufikasi, kesalahan penyajian tersebut merupakan
faktor yang substansial, yaitu pihak yang dirugikan bergantung padanya.
5) Kerusakan atau kerugian, penipuan tersebut menyebabkan kerusakan atau kerugian
bagi korban kecurangan

Secara skematis, format klasifikasi yang diambil dari The Association of Certified
Fraud Examiners (ACFE) dalam Widardi (2015) ada tiga bentuk kecurangan yaitu:
a) Penyalahgunaan Aset
Penyalahgunaan aset merupakan kecurangan yang melibatkan pencurian atas aset milik
suatu entitas (Elder, et al., 2008). Ini merupakan bentuk fraud yang paling mudah
dideteksi karena sifatnya tangible atau dapat diukur/dihitung.
b) Kecurangan Laporan Keuangan
Kecurangan dalam laporan keuangan merupakan salah saji atau penghapusan terhadap
jumlah atau pun pengungkapan yang sengaja dilakukan dengan tujuan untuk
mengelabui para penggunanya (Elder, et al., 2008). Dalam hal ini perusahaan dengan
sengaja melebihsajikan ataupun mengurangsajikan pendapatan. Praktik semacam ini
dikenal dengan income smoothing dan earnings management.
c) Korupsi
Korupsi banyak terjadi di negara-negara yang memilki sistem penegakan hukum yang
lemah, serta kurangnya kesadaran tata kelola yang baik sehingga faktor integritasnya
masih dipertanyakan. Jenis fraud ini yang paling sulit dideteksi karena menyangkut
kerja sama dengan pihak lain seperti suap dan korupsi yang memiliki hubungan

Tuti Meutia : Pengaruh Pengendalian Internal dan Komitmen Organisasi terhadap Pencegahan Freud… 81
JURNAL MAHASISWA AKUNTANSI SAMUDRA (JMAS) VOLUME 2 NOMOR 2 TAHUN 2021

simbiosis mutualisme. Menurut the Association of Certified Fraud Examiners (ACFE)


dalam Widardi (2015), korupsi terbagi atas penyalahgunaan wewenang/konflik
kepentingan, penyuapan, penerimaan yang tidak sah/illegal dan pemerasan secara
ekonomi.

Pengendalian Internal
Pengendalian intern adalah rencana organisasi dan metode yang digunakan untuk
menjaga atau melindungi aktiva, menghasilkan informasi yang akurat dan dapat dipercaya,
memperbaiki efisiensi dan untuk mendorong ditaatinya kebijakan manajemen (Krismiaji,
2015). Sedangkan menurut Rizky dan Fitri (2017) pengendalian internal merupakan proses
yang dipengaruhi manajemen untuk memberikan keyakinan yang memadai dalam
pencapaian efektifitas, efisiensi, ketaatan terhadap perundang-undangan yang berlaku dan
keandalan laporan keuangan.
Pengendalian internal yang dilakukan bertujuan untuk terciptanya keandalan dalam
pelaporan keuangan, kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku dan terciptanya
efektivitas dan efisiensi operasi (Muna dan Harris, 2018). Salah satu cara untuk mencegah
timbulnya fraud dengan merancang sistem yang dilengkapi dengan internal control yang
cukup memadai sehingga kecurangan sulit dilakukan oleh pihak dalam atau luar perusahaan
(Eliza, 2015). Pengendalian internal yang efektif dapat melindungi dari pencurian,
penggelapan, penyalahgunaan aset pada lokasi yang tidak tepat (Paranoa, Tandungan dan
Sipi, 2018).
Mulyadi (2016) menyatakan bahwa tujuan pengendalian internal akuntansi yaitu:
1. Menjaga kekayaan perusahaan
a. Penggunaan kekayaan perusahaan hanya melalui sistem otorisasi yang telah
ditetapkan.
b. Pertanggung jawaban kekayaan perusahaan yang dicatat dibandingkan dengan
kekayaan yang sesungguhnya ada.
2. Mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi:
a. Pelaksanaan transaksi melalui sistem otorisasi yang telah ditetapkan.
b. Pencatatan transaksi yang terjadi dalam catatan akuntansi.

Mulyadi (2016) menyatakan bahwa tujuan pengendalian internal akuntansi yaitu:


1. Menjaga kekayaan perusahaan
a. Penggunaan kekayaan perusahaan hanya melalui sistem otorisasi yang telah
ditetapkan.
b. Pertanggung jawaban kekayaan perusahaan yang dicatat dibandingkan dengan
kekayaan yang sesungguhnya ada.
2. Mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi:
a. Pelaksanaan transaksi melalui sistem otorisasi yang telah ditetapkan.
b. Pencatatan transaksi yang terjadi dalam catatan akuntansi.

Tuti Meutia : Pengaruh Pengendalian Internal dan Komitmen Organisasi terhadap Pencegahan Freud… 82
JURNAL MAHASISWA AKUNTANSI SAMUDRA (JMAS) VOLUME 2 NOMOR 2 TAHUN 2021

Komitmen Organisasi
Komitmen organisasi adalah dorongan dari dalam individu untuk berbuat sesuatu
agar dapat menunjang keberhasilan organisasi sesuai dengan tujuan dan lebih mengutamakan
kepentingan organisasi (Darlis, 2002 dalam Ika, et al, 2011). Komitmen organisasi
ditunjukkan dalam bentuk sikap penerimaan dan keyakinan yang kuat terhadap nilai nilai
dan tujuan sebuah organisasi, adanya dorongan yang kuat untuk mempertahankan
keanggotaan dalam organisasi demi tercapainya tujuan organisasi (Rahayu, 2015).
Komitmen organisasi yang dimiliki karyawan dibentuk oleh lingkungan kerja dan melalui
proses pengembangan diri yang dilakukan oleh karyawan. Komitmen organisasi merupakan
suatu keadaan yang dirasakan individu untuk terikat dalam organisasi dan mempertahankan
keanggotaannya dalam organisasi sehingga mereka memberikan usaha yang baik untuk
mencapai tujuan organisasi dan tidak mudah untuk mencari pekerjaan di luar dari perusahaan
tempat mereka bekerja.
Menurut Robbins and Judge (2011) dimensi untuk mengukur komitmen organisasi
adalah:
1. Affective commitment
Affecive commitment berkaitan dengan hubungan emosional anggota terhadap
organisasinya, identifikasi dengan organisasi, dan keterlibatan anggota dengan kegiatan
di organisasi. Anggota organisasi dengan affective commitment yang tinggi akan terus
menjadi anggota dalam organisasi karena memang memiliki keinginan untuk itu.
Affective commitment memiliki indikator sebagai berikut :
a. Memahami dan meyakini tujuan perusahaan
b. Menerima norma-norma yang berlaku
c. Mematuhi peraturan dan kebijakan yang berlaku
d. Bekerja secara rutin dan full day
e. Mengerjakan tugas yang diberikan
f. Menempatkan prioritas perusahaan diatas kepentingan pribadi
2. Continuance commitment
Continuance commitment berkaitan dengan kesadaran anggota organisasi akan
mengalami kerugian jika meninggalkan organisasi. Anggota organisasi dengan
continuance commitment yang tinggi akan terus menjadi anggota organisasi karena
mereka memiliki kebutuhan untuk menjadi anggota organisasi tersebut. Indikator untuk
continuance commitment adalah sebagai berikut :
a. Melindungi aset-aset perusahaan
b. Merasa merugi jika meninggalkan karena investasi yang telah diberikan kepada
perusahaan
c. Mendapatkan keuntungan lebih jika tetap tinggal dengan perusahaan
3. Normative commitment
Normative commitment menggambarkan perasaan keterikatan untuk terus berada dalam
organisasi. Anggota organisasi dengan normative commitment yang tinggi akan terus
menjadi anggota dalam organisasi karena merasa dirinya harus dalam organisasi tersebut
indikator pada dimensi normative commitment adalah sebagai berikut :

Tuti Meutia : Pengaruh Pengendalian Internal dan Komitmen Organisasi terhadap Pencegahan Freud… 83
JURNAL MAHASISWA AKUNTANSI SAMUDRA (JMAS) VOLUME 2 NOMOR 2 TAHUN 2021

a. Kesetiaan dan rasa patuh


b. Melaksanakan semua tugas dan kewajiban yang diberikan organisasi
c. Merasa wajib membantu organisasi atas kesempatan yang telah diberikan
d. Lamanya masa kerja pada perusahaan sebelumnya.

Menurut Sopiah (2008) komitmen organisasi memiliki tiga pengukuran yaitu:


1. Kemauan karyawan, dimana adanya keinginan karyawan untuk mengusahakan agar
tercapainya kepentingan organisasi.
2. Kesetiaan karyawan, yang mana karyawan berkeinginan untuk mempertahankan
keanggotaannya untuk terus menjadi salah satu bagian dari organisasi.
3. Kebanggaan karyawan, ditandai dengan karyawan merasa bangga telah menjadi bagian
dari organisasi yang diikutinya dan merasa bahwa organisasi tersebut telah menjadi
bagian dalam hidupnya.

Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual dapat ditunjukkan pada gambar berikut:
Pengendalian Internal (X1)
Pencegahan Fraud
Komitmen Organisasi (X2) (Y)

Gambar 1 Kerangka Konseptual

Hipotesis mengenai pengaruh Pengelolaan Keuangan Daerah dan Sistem


Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP) terhadap Kinerja Aparatur Pemerintah Daerah
yaitu :
H1: Pengendalian Internal berpengaruh terhadap Pencegahan Fraud
H2: Komitmen Organisasi berpengaruh terhadap Pencegahan Fraud
H3: Pengendalian Internal dan Komitmen Organisasi berpengaruh terhadap Pencegahan
Fraud

Metode Penelitian
Ruang Lingkup dan Lokasi Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh Pengendalian
Internal dan Komitmen Organisasi sebagai variabel independen terhadap Pencegahan Fraud
sebagai variabel dependen. Penelitian ini merupakan studi pada Rumah Sakit Umum Daerah
Aceh Timur.

Jenis dan Sumber Data


Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif, yaitu data
yang telah diolah dari jawaban kuesioner yang dibagikan kepada karyawan yang bekerja
pada Rumah Sakit Umum Daerah Aceh Timur. Sumber data yang digunakan dalam penelitin
ini adalah data primer merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung
dari sumber asli (tidak melalui media perantara). Data primer dapat berupa opini subyek

Tuti Meutia : Pengaruh Pengendalian Internal dan Komitmen Organisasi terhadap Pencegahan Freud… 84
JURNAL MAHASISWA AKUNTANSI SAMUDRA (JMAS) VOLUME 2 NOMOR 2 TAHUN 2021

(orang) secara individual atau kelompok, hasil observasi terhadap suatu benda (fisik),
kejadian atau kegiatan, dan hasil pengujian (Indriantoro dan Supomo, 2011). Data primer
dalam penelitian diperoleh melalui kuesioner yang dibagikan terhadap karyawan.

Populasi dan Sampel


Populasi adalah wilayah generalisasi yang meliputi obyek atau subyek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh penelitian untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiono, 2012). Populasi penelitian ini seluruh
karyawan Rumah Sakit Umum Daerah Aceh Timur. Sampel adalah menurut bagian dari
jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut sampel yang diambil dari
populasi tersebut harus betul-betul representative (mewakili) (Sugiyono, 2012). Menurut
Arikunto (2012) jika jumlah populasinya kurang dari 100 orang, maka jumlah sampelnya
diambil secara keseluruhan. Berdasarkan penelitian ini karena jumlah populasinya tidak
lebih besar dari 100 orang responden, maka penulis mengambil 100% jumlah populasi yang
ada pada rumah sakit yaitu sebanyak 70 orang responden.
Sampel dalam penelitian ini adalah karyawan Rumah Sakit Umum Daerah Aceh Timur.
Berikut adalah populasi karyawan rumah sakit:
Tabel 1 Jumlah Populasi Penelitian
No Bidang Jumlah Karyawan
1. Tata usaha 47 orang
2. Keperawatan 7 orang
3. Pelayanan medis 10 orang
4. Penunjang pelayanan medis 6 orang
TOTAL 70 Orang

Metode Analisis Data


Data primer yang telah berhasil dikumpulkan dalam penelitian ini, akan dianalisis
dengan menggunakan metode analisis kuantitatif, yaitu analisis yang menggunakan angka-
angka dan perhitungan statistik untuk menganalisis suatu hipotesis. Sedangkan alat analisis
yang digunakan adalah SPSS (Statistical Product and Service Solutions) untuk menguji
hubungan antar variabel.
Adapun penelitian ini menguji hipotesis dengan menggunakan model regresi linier
berganda untuk memperoleh gambaran mengenai pengaruh pengendalian internal dan
komitmen organisasi, terhadap pencegahan fraud. Analisis regresi pengujian hipotesis
dilakukan dengan persamaan regresi berganda, dengan rumus:
Y = α + β1.X1 + β2.X2 + e
Keterangan:
Y = Pencegahan kecurangan (fraud)
α = Konstanta
β1, β2, β3, = Koefisien regresi
X1 = Pengendalian Internal
X2 = Komitmen Organisasi
e = Error term

Tuti Meutia : Pengaruh Pengendalian Internal dan Komitmen Organisasi terhadap Pencegahan Freud… 85
JURNAL MAHASISWA AKUNTANSI SAMUDRA (JMAS) VOLUME 2 NOMOR 2 TAHUN 2021

Hasil dan Pembahasan


Analisis Regresi Linear Berganda

Uji hipotesis dilakukan untuk menguji apakah hipotesis yang diajukan dapat diterima
atau ditolak dalam penelitian ini dilakukan dengan uji statistik t (parsial), uji statistik F
(simultan) dan Uji koefisien determinasi.

Hasil Uji t
Uji t pada persamaan I dilakukan untuk membuktikan secara parsial apakah terdapat
pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen.
Tabel 2 Hasil Uji t
Coefficientsa
Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients
1Model B Std. Error Beta T Sig.
1 (Constant) 7.314 2.269 3.224 .002
pengendalian internal -.101 .071 -.144 -1.426 .159
komitmen organisasi .409 .075 .546 5.452 .000
a. Dependent Variable: pencegahan fraud
Sumber: Hasil pengolahan data dengan SPSS, (2020)

Tabel 2 menunjukkan nilai uji t pada pengendalian internal memiliki t hitung sebesar -
1,426 dengan sig.t sebesar 0,159 (lebih besar dari 0,05). Karena nilai sig t < α (0,05) maka
dapat dinyatakan bahwa pengendalian internal terhadap pencegahan fraud berpengaruh
positif tidak signifikan. Pada nilai t komitmen organisasi memiliki t hitung sebesar 5,452
dengan sig.t sebesar 0,000. Karena nilai sig t < α (0,05) maka dapat dinyatakan bahwa
komitmen organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap pencegahan fraud.
Berdasarkan Tabel 2 maka dapat diperoleh model persamaan regresi sebagai berikut:
Y = 7,314 -0,101X1 + 0,409X2 + e

Dari persamaan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:


a. Nilai konstanta sebesar 7,314. Artinya apabila variabel pengendalian internal dan
komitmen organisasi tetap, maka pencegahan fraud 7,314 satuan.
b. Variabel pengendalian internal berpengaruh negatif terhadap pencegahan fraud dengan
nilai koefisien sebesar -0,101. Maka dapat diartikan setiap kenaikan satu satuan variabel
pengendalian internal dengan asumsi variabel lain tetap akan menurunkan pencegahan
fraud sebesar 0,101 satuan.
c. Variabel komitmen organisasi berpengaruh positif terhadap pencegahan fraud dengan
nilai koefisien sebesar 0,409. Maka dapat diartikan setiap pertambahan satu satuan
variabel komitmen organisasi dengan asumsi variabel lain tatap, maka pencegahan fraud
juga akan meningkat sebesar 0,409 satuan.

Uji Statistik F
Uji F untuk menguji signifikansi sejauh mana variabel independen secara simultan
mampu menjelaskan variabel dependen dalam penelitian ini. Hasil uji F dapat dilihat pada
tabel berikut:

Tuti Meutia : Pengaruh Pengendalian Internal dan Komitmen Organisasi terhadap Pencegahan Freud… 86
JURNAL MAHASISWA AKUNTANSI SAMUDRA (JMAS) VOLUME 2 NOMOR 2 TAHUN 2021

Tabel 3 Hasil Uji F


ANOVAa
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
1 Regression 34.769 3 11.590 12.703 .000b
Residual 60.217 66 .912
Total 94.986 69
a. Dependent Variable: pencegahan fraud
b. Predictors: (Constant), komitmen organisasi, pengendalian internal
Sumber: Hasil pengolahan data dengan SPSS, (2020)

Dari tabel 3 nilai F menunjukkan angka 12,703 dengan signifikansi sebesar 0,000
sehingga dapat disimpulkan bahwa pengendalian internal dan komitmen organisasi secara
simultan berpengaruh terhadap pencegahan fraud karena nilai signifikansi < 0,05.

Uji Koefisien Determinasi (Adjusted R2)


Koefisien determinasi (R2) bertujuan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan
model menerangkan variasi variabel dependen. Range nilainya antar 0-1, apabila nilai R2
kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi dependen
sangat terbatas dan sebaliknya apabila R2 besar berarti kemampuan variabel-variabel
independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen besar. Nilai R 2 dapat dilihat pada
Tabel 4 berikut:

Tabel 4 Hasil Uji Koefisien Determinasi


Model Summary
Adjusted R Std. Error of the
Model R R Square Square Estimate
1 .605a .366 .337 .955
a. Predictors: (Constant), komitmen organisasi, pengendalian internal
b. Dependent Variable: pencegahan fraud
Sumber: Hasil pengolahan data dengan SPSS, (2020)

Data tabel 4 menunjukkan bahwa nilai Adjusted R Square sebesar 0,337 yang artinya
hubungan antara pengendalian internal dan komitmen organisasi terhadap pencegahan fraud
sebesar 33,7% variabel pengendalian internal dan komitmen organisasi mampu menjelaskan
variabel pencegahan fraud sisanya sebesar 66,3% dijelaskan oleh variabel lainnya yang tidak
dimasukkan dalam pengujian ini.

Pengaruh Pengendalian Internal terhadap Pencegahan Fraud


Hipotesis pertama menyatakan bahwa pengendalian internal berpengaruh positif dalam
pencegahan fraud. Hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai signifikansi 0,159 dimana
nilai tersebut lebih besar dari 0,05 yang berarti pengendalian internal tidak berpengaruh
terhadap pencegahan fraud sehingga H1 ditolak. Penelitian ini membuktikan bahwa
pengendalian internal tidak dapat menekan terjadinya pencegahan kecurangan (fraud). Hasil
penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Mustikasari (2013) yang

Tuti Meutia : Pengaruh Pengendalian Internal dan Komitmen Organisasi terhadap Pencegahan Freud… 87
JURNAL MAHASISWA AKUNTANSI SAMUDRA (JMAS) VOLUME 2 NOMOR 2 TAHUN 2021

menyatakan bahwa terjadinya praktik kolusi di suatu instansi dimana individu yang
bertindak bersama-sama dapat melakukan sekaligus menutupi kecurangan sehingga tidak
dapat dideteksi oleh pengendalian internal. Hasil ini juga sesuai dengan penelitian Coso
(2014), pengendalian internal merupakan sebuah proses dalam organisasi, yang dirancang
untuk memberikan keyakinan memadai mengenai pencapaian tujuan yang berkaitan dengan
operasi, pelaporan dan kepatuhan. Pengendalian internal yang efektif mengurangi
pencegahan kecurangan, maka sistem pengendalian yang tidak efektif cenderung akan
membuat seseorang memiliki kesempatan untuk melakukan fraud yang akan merugikan
perusahaan.

Pengaruh Komitmen Organisasi terhadap Pencegahan Fraud


Hipotesis kedua menyatakan bahwa komitmen organisasi berpengaruh positif dalam
pencegahan fraud. Hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai signifikansi 0,000 dimana
nilai tersebut lebih kecil dari 0,05 yang berarti komitmen organisasi berpengaruh positif
dalam pencegahan fraud sehingga H2 diterima. Hasil ini mengindikasikan bahwa komitmen
organisasi dapat membantu menanamkan kejujuran, keterbukaan dan rasa saling membantu
satu sama lain dalam keterlibatan diri sebagai bagian organisasi sehingga dapat membantu
upaya pencegahan kecurangan (fraud). Komitmen organisasi juga membuat karyawan
memandang usaha dan kinerja yang mereka berikan terhadap organisasi memiliki makna
yang positif dan memunculkan loyalitas pada organisasi. Loyalitas tersebut membuat
karyawan bekerja dan berperilaku baik terhadap organisasinya sehingga membantu dalam
pencegahan kecurangan dalam organisasi. Hasil penelitian ini sejalan oleh penelitian yang
dilakukan oleh Anggit (2013) yang menyatakan bahwa komitmen organisasi dapat
memunculkan rasa loyal karyawan terhadap organisasinya dimana rasa loyal tersebut dapat
memperkecil penyimpangan sehingga dapat membantu pencegahan kecurangan (fraud).
Hasil ini juga sesuai dengan penelitian Aulya (2015) yang menyatakan bahwa komitmen
organisasi berpengaruh positif terhadap pencegahan kecurangan (fraud).

Pengaruh Pengendalian Internal dan Komitmen Organisasi terhadap Pencegahan


Fraud
Hipotesis ketiga menyatakan bahwa Pengendalian Internal dan Komitmen Organisasi
berpengaruh terhadap Pencegahan Fraud. Berdasarkan hasil uji simultan, nilai signifikan
secara simultan sebesar 0,000 < standar statistik (taraf nyata) 0,05 yang berarti Ha diterima.
Selain itu, nilai Fhitung 12,703 > Ftabel 3,99 yang artinya Ha diterima. Maka dapat disimpulkan
bahwa pengendalian internal dan komitmen organisasi berpengaruh signifikan terhadap
pencegahan kecurangan (fraud). Kecurangan (fraud) dapat dicegah dengan mengeliminasi
faktor-faktor pendorong timbulnya kecurangan (fraud) itu sendiri. Dalam teori GONE, faktor
pendorong timbulnya kecurangan adalah keserakahan, kesempatan, kebutuhan, dan
pengungkapan (Karyono, 2013). Individu yang serakah memicu perbuatan yang tidak jujur
dan mengabaikan tanggungjawabnya demi memenuhi kepentingan pribadinya dan
mengenyampingkan kepentingan orang lain termasuk tujuan organisasinya. Kurangnya
komitmen pegawai terhadap organisasinya juga dapat dipicu karena adanya kebutuhan
pribadi yang mendesak sehingga pegawai lebih mementingkan memenuhi kebutuhan

Tuti Meutia : Pengaruh Pengendalian Internal dan Komitmen Organisasi terhadap Pencegahan Freud… 88
JURNAL MAHASISWA AKUNTANSI SAMUDRA (JMAS) VOLUME 2 NOMOR 2 TAHUN 2021

pribadinya yang dapat menghambat tujuan organisasinya. Pengendalian internal termasuk


dalam faktor pendorong kecurangan yaitu kesempatan. Pengendalian internal yang kurang
memadai dapat memberikan kesempatan untuk melakukan [Link] dengan
meningkatkan pengendalian internal dan komitmen organisasi maka kecurangan (fraud)
dapat dicegah.

Kesimpulan dan Saran


Kesimpulan yang dihasilkan berdasarkan analisis data dan pembahasan hasil penelitian
adalah sebagai berikut:
1. Pengendalian internal tidak berpengaruh dalam pencegahan fraud pada RSUD Aceh
Timur. Ini menunjukkan bahwa semakin baik dan efektif system pengendalian internal
maka semakin kecil pula kejadian kecurangan di instansi tersebut.
2. Komitmen organisasi berpengaruh positif dalam pencegahan fraud pada RSUD Aceh
Timur. Hal ini berarti komitmen organisasi dapat membantu menanamkan kejujuran,
keterbukaan, rasa saling membantu satu sama lain serta menimbulkan loyalitas yang
membuat karyawan bekerja dan berperilaku baik terhadap organisasinya sehingga dapat
membantu upaya pencegahan kecurangan fraud.
3. Pengendalian internal dan Komitmen organisasi berpengaruh positif dalam pencegahan
fraud pada RSUD Aceh Timur. Hal ini berarti kurangnya komitmen pegawai terhadap
organisasinya juga dapat dipicu karena adanya kebutuhan pribadi yang mendesak
sehingga pegawai lebih mementingkan memenuhi kebutuhan pribadinya yang dapat
menghambat tujuan organisasinya. Pengendalian internal termasuk dalam faktor
pendorong kecurangan yaitu kesempatan. Pengendalian internal yang kurang memadai
dapat memberikan kesempatan untuk melakukan kecurangan. Dengan meningkatkan
pengendalian internal dan komitmen organisasi, d maka kecurangan (fraud) dapat
dicegah.

Berdasarkan hasil analisis data dan simpulan di atas, adapun saran yang dapat
diberikan peneliti adalah sebagai berikut:
1. Penelitian ini hanya menguji pengaruh pengendalian internal, komitmen organisasi dan
kompensasi dalam pencegahan fraud.
2. Untuk penelitian selanjutnya, variabel dapat ditambah dengan variabel lain seperti
budaya etis organisasi.
3. Untuk rumah sakit, saran yang dapat diberikan antara lain:
a. Rumah sakit disarankan untuk tidak melakukan penekanan pada karyawan agar
karyawan dapat lebih tenang dan fokus dalam bekerja sehingga kinerja karyawan
meningkat dan sesuai dengan apa yang diinginkan perusahaan. Dengan demikian,
pengendalian internal dapat berjalan lebih efektif serta diharapkan dapat membantu
mencegah kecurangan (fraud).
b. Rumah sakit disarankan untuk tetap menjaga dan meningkatkan komitmenorganisasi
karyawan seperti tetap menjaga kejujuran dan saling membantu satu sama lain
sebagai bagian organisasi sehingga dapat mencegah terjadinya kecurangan (fraud).

Tuti Meutia : Pengaruh Pengendalian Internal dan Komitmen Organisasi terhadap Pencegahan Freud… 89
JURNAL MAHASISWA AKUNTANSI SAMUDRA (JMAS) VOLUME 2 NOMOR 2 TAHUN 2021

Daftar Pustaka
Agoes, Sukrisno. 2016. Auditing, Petunjuk Praktis Pemeriksaan Akuntan oleh Kantor
Akuntan Publik. 4th ed. Jakarta: Salemba Empat.
Anggit, Purwitasari. 2013. Pengaruh Pengendalian Internal dan Komitmen Organisasi dalam
Pencegahan Fraud Pengadaan Barang. Skripsi. Universitas Widyatama.
Dewi, Chindy Kurnia Rahma. 2017. “Pengaruh Pengendalian Internal, Kesesuaian
Kompensasi, Ketaatan Aturan Akuntansi, serta Perilaku Tidak Etis terhadap
Kecenderungan Kecurangan Akuntansi (Studi Empiris pada SKPD Kabupaten
Bengkalis)”. JOM Fekon Vol. 4, No. 1. tersedia pada media [Link]
(Diakses pada tanggal 10 September 2018)
Elder, Randal J., Beasley, Mark S., Arens, Alvin A. 2008. Jasa Audit dan Assurance.
Jakarta: Salemba Empat.
Eliza, Yulina. 2015. Pengaruh Moralitas Individu dan Pengendalian Internal terhadap
Kecenderungan Kecurangan Akuntansi (Studi Empiris pada SKPD Kota Padang).
Jurnal Akuntansi, Vol. 4, No.1, 86-100.
Karyono. 2013. Forensic Fraud, Edisi [Link]: Andi.
Mulyadi. 2016. Sistem Akuntansi, Edisi ke 4, Cetakan ke 3. Salemba Empat. Jakarta.
Mustikasari, Dhermawati Putri, 2013. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Fraud di Sektor
Pemerintahan Kabupaten Batang, Jurnal vol 2 no 3, Universitas Negri Semarang.
Najahningrum, Anik Fatun. 2013. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecenderungan
Kecurangan (Fraud): Persepsi Pegawai Dinas Provinsi DIY. Skripsi. Fakultas
Ekonomi Universitas Negeri Semarang. Semarang.
Paranoan, Natalia, Edmondus Sadeto Tandungan dan Afian Dezi Sipi. 2018. Efektivitas
Pengendalian Internal, Kepuasan Kerja dan Kecenderungan Kecurangan Akuntansi.
Jurnal Akun Nabelo. Vol. 1, No. 1, 1-13.
Rizky, Muammar, dan Fauziah Alda Fitri. 2017. Pengaruh Keefektivan Pengendalian
Internal, Ketaatan Aturan Akuntansi, Penegakan Hukum, dan Perilaku Tidak Etis
terhadap Kecurangan Akuntansi. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Ekonomi Akuntansi. Vol.
2, No. 2, 10-20.
Robbins, S,P and judge, T, A. 2011. “Organisasi Behavior”, Edisi Empatbelas, person
Education Inc, New Jersey.
Sopiah. 2008. Perilaku organisasi. Jakarta: CV. Andi Offeset

Tuti Meutia : Pengaruh Pengendalian Internal dan Komitmen Organisasi terhadap Pencegahan Freud… 90

Anda mungkin juga menyukai