0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan7 halaman

Kota Yogyakarta: Sejarah dan Budaya

Diunggah oleh

lw280693
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan7 halaman

Kota Yogyakarta: Sejarah dan Budaya

Diunggah oleh

lw280693
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Kota Yogyakarta

83 bahasa

 Halaman
 Pembicaraan
 Baca
 Sunting
 Sunting sumber
 Lihat riwayat
Perkakas















Tampilan
sembunyikan

Teks

Kecil

Standar

Besar

Lebar


Standar

Lebar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Halaman ini berisi artikel tentang kota. Untuk satuan wilayah di atasnya, lihat Daerah Istimewa
Yogyakarta.

"Yogyakarta kota" beralih ke halaman ini. Untuk kegunaan lain, lihat Yogyakarta (disambiguasi).

Kota Yogyakarta
 Yogya
 Jogja

Ibu kota provinsi

Transkripsi bahasa daerah

• Hanacaraka ꦑꦸ ꦠ꧀ꦧꦔꦪꦺꦴꦒꦾꦏꦂ ꦠ
Dari atas searah jarum jam: Tugu Yogyakarta, Alun-alun Kidul
Kraton Yogyakarta, Gedung Bank Indonesia, Pasar
Beringharjo, Jalan Malioboro, Taman Sari
Yogyakarta, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Bendera

Lambang

Etimologi: Ayodhya + Karta


Julukan:

 Kota Perjuangan
 Kota Gudeg
 Kota Pelajar
 Kota Budaya
Motto:

ꦩꦁ ꦲꦪꦸꦲꦪꦸꦤꦶꦁ ꦧꦮꦤ
Memayu hayuning bawana
Memperindah keindahan dunia

Wikimedia | © OpenStreetMap

Peta

Koordinat: 7.80045677°S 110.39128023°E

Negara Indonesia

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Tanggal berdiri 7 Juni 1947

Dasar hukum UU No. 17 Tahun 1947

Hari jadi 7 Oktober 1756 (umur 267)

Pendiri Sri Sultan Hamengkubuwana I

Jumlah satuan tampil


pemerintahan
Daftar

Pemerintahan

• Wali Kota Sugeng Purwanto (Pj.)

• Wakil Wali lowong


Kota

• Sekretaris Aman Yuriadijaya


Daerah

• Ketua DPRD Danang Rudyatmoko

Luas

• Total 32,5 km2 (12,5 sq mi)

Populasi

(2021)[1]

• Total 415.509

• Kepadatan 13,000/km2 (33,000/sq mi)

Demonim Kawula Ngayogyakarta

Demografi

• Agama 83,40% Islam

o 16,19% Kristen
 9,89% Katolik
 6,30% Protestan
0,28% Buddha
0,12% Hindu
0,01% Lainnya[2]
• Bahasa Bahasa Indonesia, Jawa

• IPM 87,69 (2022)


sangat tinggi[3]
Zona waktu UTC+07:00 (WIB)

Kode pos 55000

Kode BPS 3471

Kode area +62 274


telepon

Pelat AB
kendaraan YB (khusus becak)[4]
YK (khusus andong[4])

Kode 34.71
Kemendagri

Kode SNI YYK


7657:2023

DAU Rp [Link],00 (2019)

Semboyan "Berhati Nyaman"


daerah ("Bersih, Sehat, Indah, dan Nyaman")

Flora resmi Kelapa gading[5]

Fauna resmi Tekukur biasa[5]

Situs web [Link]

Kota Yogyakarta (bahasa Jawa: ꦔꦪꦺꦴꦒꦾꦏꦂ ꦠ, translit. Ngayogyakarta, pengucapan


bahasa Jawa: [kuʈɔ ŋajogjɔˈkart̪ ɔ], atau dikenal oleh masyarakat setempat dengan
sebutan nama Yogya atau Jogja) adalah ibu kota sekaligus pusat pemerintahan dan
perekonomian dari provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Kota ini adalah
kota yang mempertahankan konsep tradisional dan budaya Jawa.

Salah satu kemantren di Yogyakarta, yaitu Kotagede pernah menjadi pusat Kesultanan
Mataram antara kurun tahun 1575–1640. Kini, Yogyakarta menjadi tempat tinggal dua
penerus Mataram, yakni Sultan Hamengkubuwana dan Adipati Paku Alam, yang berada
di Keraton Ngayogyakarta dan Pura Pakualaman.

Etimologi
[sunting | sunting sumber]
Nama Yogyakarta berasal dari dua kata, yaitu Ayogya atau Ayodhya yang berarti
"kedamaian" (atau tanpa perang, a "tidak", yogya merujuk pada yodya atau yudha,
yang berarti "perang"), dan Karta yang berarti "baik". Ayodhya merupakan kota yang
bersejarah di India di mana wiracarita Ramayana terjadi. Tapak Keraton
Yogyakarta sendiri menurut babad (misalnya Babad Giyanti) dan leluri (riwayat oral)
telah berupa sebuah dalem yang bernama Dalem Garjiwati; lalu dinamakan ulang
oleh Susuhunan Pakubuwana II menjadi Dalem Ayogya.[6]

Common questions

Didukung oleh AI

The name 'Yogyakarta' derives from 'Ayogya' or 'Ayodhya' meaning 'peace' and 'Karta' meaning 'good.' Ayodhya is a historic city in India associated with the Ramayana, reflecting values of peace and righteousness, which is mirrored in the city's cultural ethos .

Strategically located in central Java, Yogyakarta's position as a cultural and historical nexus stems from its fertile lands aiding the development of early civilizations and its role as a political center during the Mataram Sultanate. Its proximity to historical sites enhances its status as a special region, blending geographic advantage with rich cultural legacy .

Yogyakarta’s political structure is unique, combining modern administrative governance with traditional roles of the Sultan, as a reflection of historical governance systems from its Sultanate era. This dual governance system preserves the cultural influence of its royal lineage in current political dynamics .

Kotagede was the center of the Mataram Sultanate between 1575 and 1640, representing its historical importance as a once political and cultural hub .

Yogyakarta's economy greatly benefits from tourism, driven by its rich historical background, cultural attractions like Keraton Ngayogyakarta and crafts from Kotagede, and its status as a center for education and arts. This melds economic activity with cultural preservation .

Yogyakarta serves as an educational and cultural hub due to its rich history as a center of the Mataram Sultanate and its preservation of Javanese traditions. It is known as 'Kota Pelajar' (City of Students), hosting numerous universities and cultural institutions that attract students and tourists, fostering a dynamic cultural exchange .

The historical Indian city of Ayodhya, associated with the Ramayana, influences Yogyakarta's cultural identity through its name which signifies peace and goodness. This connection reflects the integration of historical Eastern spiritual and cultural values within Yogyakarta’s identity .

Keraton Ngayogyakarta and Pura Pakualaman continue to house the successors of the Mataram Sultanate, functioning as cultural and spiritual centers while preserving Javanese traditions and royal heritage, thus maintaining historical continuity in Yogyakarta .

The motto 'Memayu hayuning bawana' translates to 'beautifying the beauty of the world,' underscoring Yogyakarta's commitment to maintaining its cultural heritage while promoting harmonious development and the preservation of natural beauty .

Yogyakarta's demographics show a predominant Muslim population (83.40%), with significant Christian (16.19% including both Catholic and Protestant), and small minorities of Buddhists and Hindus. This highlights a relatively high level of religious pluralism, contributing to its cultural diversity .

Anda mungkin juga menyukai