0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan17 halaman

Pemodelan Transportasi: 4 Steps Model

tata cara

Diunggah oleh

Khoirul Anas
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan17 halaman

Pemodelan Transportasi: 4 Steps Model

tata cara

Diunggah oleh

Khoirul Anas
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PEMODELAN TRANSPORTASI

Perencanaan transportasi adalah proses yang sistematis untuk menyelasaikan


permasalahan transportasi yang ada. Mengingat tingkat laju pertumbuhan kendaraan
yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ruas sarana transportasi
menjadi penyebab masalah transportasi sulit diatasi atau diselesaikan. 4 Steps Model
perencanaan transportasi merupakan salah satu metode yang dapat dilakukan untuk
mengatasi berbagai permasalahan di masyarakat yang berkaitan dengan transportasi
seperti kemacetan lalu lintas (congestion), keterlambatan (delay), polusi udara, polusi
suara dan lain-lain.

Gambar 1. Skema 4 Steps Model


1. Trip Generation

Pemodelan bangkitan perjalanan adalah suatu tahapan pemodelan yang


memperkirakan jumlah pergerakan yang dibangkitkan dari zona atau tata guna lahan
(trip produkction/produksi perjalanan) dan jumlah pergerakan yang tertarik kepada
suatu tata guna lahan (trip attraction/penarik perjalanan).

Dimana :

Qtrip = Jumlah perjalanan yang timbul dari suatu tata guna

lahan per satuan waktu.

f = Fungsi matematik.

TGL = Karakteristik dan sosioekonomi tata guna lahan

Dalam lingkup wilayah kajian.

Dalam pengidentifikasian bangkitan perjalanan terdapat beberapa tahapan pemilihan


pendektan yang basis perjalanan dan merumuskan variabel-variabel yang berpengaruh
dalam model.

1. Basis Perjalanan

 Perjalanan berbasiskan rumah: asal-tujuan adalah rumah


 Perjalanan berbasiskan bukan rumah: asal-tujuan tidak ada hubungan dengan rumah.

2. Pendekatan Analisis

 Pendekatan Agregat: Pendekatan yang dilakukan secara menyeluruh dengan


memahami atribut-atribut zona, seperti sosial-ekonomi suatu zona.
 Pendekatan Disagregat: Pendekatan yang dilakukan per individu dengan memahami
langsung atribut-atribut elemen yang lebih kecil, seperti jumlah kendaraan yang
dimiliki, pendapatan pelaku perjalanan.
3. Metode Analisis

 Metode Analisis Regresi Linear: Metode yang digunakan untuk peramalan,


menganalisis faktor-faktor, dan hubungan antar-variabel yang mempengaruhi jumlah
perjalanan/bangkitan perjalanan pada suatu kawasan.
 Analisis regresi linear sederhana

 Analisis regresi linear berganda

Uji korelasi:

 Metode Analisis Kategori: dikembangkan oleh The Puget Sound Transportation Study
pada tahun 1964, dimana variabel dalam analisi kategori dikelompokkan pada setiap
sifat kategori dan rata-rata tingkat bangkitan lalu lintas dibebankan untuk setiap
kategori tersebut.

Berikut tahapan dalam pendekatan analisis kategori, yaitu

1. Tiga buah variabel distratifikasi (pendapatan, keluarga dan pemilikan kendaraan).


Setiap variabel memiliki beberapa kategori sesuai dengan tujuan studi, data yang
tersedia dan kondisi sosio-ekonomi masyarakat.
2. Setiap data dari home interview dimasukkan pada setiap kategori.
3. Rata-rata tingkat bangkitan perjalanan dihitung untuk setiap kategori menggunakan
data dari keluarga.
4. Rata-rata bangkitan perjalanan untuk setiap zona dihitung dengan mengalikan rata-rata
bangkitan lalu lintas per keluarga terhadap jumlah keluarga dalam kategori tersebut.

Dimana:

=Perkiraan jumlah perjalanan yang diproduksi oleh zona permukiman i yang tengah
kita teliti per hari pada tahun rencana.

=Rata-rata tingkt perjalanan per rumah tangga yang ada dalam kelas/kategori ci.
Hci =Perkiraan jumlah rumah tangga yang ada dalam kelas/ kategori ci yang
beralokasi di zona permukiman i yang tengah kita teliti pada tahun rencana.

Faktor-faktor yang berpengaruh dalam bangkitan perjalanan, yaitu:

 Pola dan intensitas tata guna lahan dan perkembangan di daerah studi;
 Karakteristik sosio-ekonomi populasi perilaku perjalanan di daerah studi;
 Kondisi dan kapabilitas sistem transportasi yang tersedia di daerah studi dan skema
perkembangannya.

2. Trip Distribution

Sebaran perjalanan (trip distribution) merupakan tahapan pemodelan yang


memperkirakan distribusi jumlah pergerakan yang berasal dari suatu zona asal (origin
(i)) menuju ke suatu zona tujuan (destination (j)). Pendistribusian perjalanan dapat
dilakukan dengan cara pembuatan matriks asal-tujuan (MAT). Menurut Bruton
terdapat 4 metode matematika yang sering digunakan, yaitu:

1. Metode Analogi
2. Metode Sintetis
3. Metode Analisis Regresi Linear
4. Program Linear

Gambar 2. Empat metode menurut Bruton (Sumber: Tamin, O.Z, 1997)

Metode Analogi

 Model Uniform: untuk memproyeksikan sebaran perjalanan pada masa akan datang.

Dimana :

Tij = perjalanan yang akan datang dari i ke j

Qij = perjalanan pada base year dari i ke j


E = faktor pertumbuhan = T/Q

 Model Average: untuk masing-masing zona di dalam lingkup wilayah studi memiliki
karakteristik berbeda-beda.

Dimana :

Tij = perjalanan yang akan datang dari i ke j

Qij = perjalanan pada base year dari i ke j

Ei = Ti / Qi, dan Ej = Tj / Qj

 Model Fratar: distribusi perjalanan dari suatu zona pada waktu akan datang
proporsional dengan distribusi perjalanan pada waktu sekarang.

Dimana:

Ti-j = perkiraan jumlah perjalanan dari zona i ke zona j.

Ti (G) = jumlah perjalanan masa mendatang berdasarkan

bangkitan perjalanan dari zona asal.

Ti-j/i-k/i-n = jumlah perjalanan masa sekarang.

Ej/k/n = Faktor pertumbuhan masing-masing zona.

 Model Detroit: model ini penyempurnaan dari model average dan fratar.

Dimana:

Ti-j = Perkiraan perjalanan masa akan datang.


ti-j = Jumlah perjalanan eksisting dari zona i ke zona j.

Ei, Ej = Faktor pertumbuhan di zona i dan zona j.

E = Faktor pertumbuhan di wilayah studi (Global).

 Model Furness: berdasarkan estimasi faktor pertumbuhan (growth factor) untuk


produksi perjalanan dan tarikan perjalanan, yaitu dua buah faktor pertumbuhan untuk
setiap zona.

Dimana:

Ti-j = Perkiraan perjalanan masa akan datang.

ti-j = Jumlah perjalanan eksisting dari zona i ke zona j.

Ei, Ej = Faktor pertumbuhan di zona i dan zona j.

Metode Sintesis

 Model Gravity

Dimana:

Ti-j = Jumlah perjalanan dari zona i ke zona j.

Oi & Dj = Banyaknya perjalanan dihasilkan zona i ke zona j.

d2i-j = Kuadrat jarak aksesibilitas, waktu tempuh, ongkos

disebut hambatan i-j.

k = Konstanta gravitasi.
Dalam penggunaan model gravity ini terdapat 4 jenis, yaitu model tanpa batasan, model
dengan satu batasan zona i, model dengan zona j, dan model dengan dua batasan.

 Model Opportunity: dalam model ini terbagi menjadi 2, yaitu model intervening
opportunity dan model competing opportunity. Berikut model competing opportunity.

Dimana:

Ti-j = Perkiraan jumlah perjalanan dari zona i ke zona j.

Ti (G) = Jumlah keseluruhan perjalanan dihasilkan zona i.

Pj = Perhitungan probabilitas perjalanan antara zona j.

 Model Gravity-Opportunity: berikut adalah model intervening opportunity.

Dimana:

Ti-j = Jumlah perjalanan dari zona i ke j.

Ki = Konstanta.

Oi = Jumlah keseluruhan perjalanan dibangkitkan zona i.

= Kemungkinan perjalanan akan menuju j.

= Kemungkinan perjalanan berhenti di zona antara.

3. Mode Choice

Pilihan moda transportasi bagian terpenting dalam melaku-kan perencanaan


transportasi dan tahap tersulit. Mendapatkan hasil perhitungan jumlah pelaku jalan
yang menggunakan dua atau lebih moda transportasi dengan beberapa tahap, yaitu:
1. Tahap pertama, identifikasi faktor dan variabel yang diasumsikan berpengaruh
terhadap perilaku pelaku perjalanan dalam memilih alternatif alat angkutan yang
digunakan. Faktor-faktor tersebut sebagai berikut.

 Kelompok faktor karakteristik perjalanan (travel characteristics factor)


1. Variabel tujuan perjalanan (trip purpose)
2. Variable waktu perjalanan (time of trip made)
3. Variabel panjang perjalanan (trip length)

 Kelompok faktor karakteristik pelaku perjalanan (traveler characteristics factor)

1. Variabel pendapatan (income)


2. Variabel kepemilikan kendaraan (car ownership)
3. Variabel kondisi kendaraan pribadi (tua, jelek, baru)
4. Variabel kepadatan pemukiman (density of resedential development)
5. Variabel sosial ekonomi lainnya(struktur dan ukuran keluarga, usia, jenis kelamin,
lokasi pekerjaan, kepemilikan SIM, serta variabel lainnya

 Kelompok faktor karakteristik sistem transportasi (transportation system


characteristics factor)

1. Variabel waktu relatif (lama) perjalanan (relative time travel)

RWP (rasio waktu perjalanan) =

Dimana

1. Variabel biaya relatif perjalanan (relative travel cost)

RBP (rasio biaya perjalanan)

1. Variabel tingkat pelayanan relatif (relative level of service)


2. Variabel tingkat akses/indeks daya hubung/ kemudahan mencapai tempat tujuan
3. Variabel tingkat kehandalan angkutan umum di segi waktu (tepat waktu/reliability),
ketersediaan ruang parkir dan tarif

RPP (rasio pelayanan perjalanan) =


 Kelompok faktor karakteristik kota dan zona (spacial characteristics factor)

1. Variabel jarak kediaman dengan tempat kegiatan (cbd)


2. Variabel kepadatan penduduk

2. Tahap kedua, memodelkan nilai kepuasan pelaku perjalanan berdasarkan data survei
yang sudah dilakukan dari masing-masing moda angkutan melalui pendekatan agregat
dan disagregat. Nilai kepuasan pelaku perjalanan (user) dalam menggunakan moda
transportasi alternatif, dipengaruhi dan berhubungan dengan varibel-variabel yang
sudah dianggap memiliki hubungan yang kuat dengan perilaku pelaku perjalanan dan
bentuk hubungannya dapat dilihat melalui fungsi utility berikut (Akiva dan Lerman,
1985)

Dimana:

nilai kepuasan pelaku perjalanan menggunakan moda

transportasi

= variabel-variabel yang dianggap berpengaruh terhadap

nilai kepuasan menggunakan moda trasnportasi tertentu

f = hubungan fungsional

1. Pendekatan agregat

Menganalisis perilaku perjalanan secara menyeluruh yang menurut Manheim (1979)


dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu membagi objek pengamatan menjadi beberapa
kelompok yang mempunyai karakteristik elemen yang relatif homogen (sama) dan
melakukan agregasi dari datadata disagregat.

2. Pendekatan disagregat
Menganalisis perilaku perjalanan secara individu. Hal ini mencakup bagaimanan
merumuskan tingkah laku individu ke dalam model kebutuhan transportasi,
pendekatannya dibagi menjadi 2, yaitu:

1. Disagregat deterministik

Dilakukan jika pelaku perjalanan mampu mengudentifikasikan semua alternatif moda


yang ada, semua variabel yang ada, persepsi/preferensi variabel secara eksplisit, dan
menggunakan seluruh informasi untuk mengambil keputusan.

Dimana

= nilai kepuasan menggunakan moda i.

T= variabel waktu diatas kendaraan.

X= variabel waktu diluar kendaraan

C= variabel ongkos transportasi

a= konstanta

2. Disagregat stokastik

Dimana

= nilai kepuasan menggunakan moda m.

tm s/d cm = variabel waktu diatas kendaraan, diluar kendaraan, ongkos transportasi

ß = parameter fungsi kepuasan untuk masing-masing variabel tersebut (koef regresi)

en = konstanta

3. Tahap ketiga, memodelkan peluang dari masing-masing alternatif pilihan moda


angkutan yang dipakai melalui beberapa model pilihan moda angkutan dengan cara
mengeksponenkan nilai kepuasan masing-masing moda angkutan yang sudah
didapatkan pada tahap kedua. Beberapa metode menurut Bruton:
4. Model ujung perjalanan (trip end model): Proses ini menghitung persentase perjalanan
dari total pelaku perjalanan untuk suatu moda tertentu dan dari zona tertentu serta
tujuan perjalanan tertentu.

Dimana

Y = % perjalanan bekerja dengan moda

= Rasio waktu perjalanan(RWP)

= Rasio biaya perjalanan(RBP)

= Pemilik kendaraan

= Indeks ukuran keluarga

= Indeks tingkat ekonomi

= Panjang perjalanan

= % pekerja wanita dari penduduk

1. Model pertukaran perjalanan: Model ini mengalokasi-kan sejumlah perjalanan ke


berbagai moda transportasi pilihan setelah total pelaku perjalanan bergerak diantara
zona yang ada (angka sebaran perjalanan dialokasikan ke berbagai moda transportasi
alternatif). Dalam analisis, model ini menggunakan variabel-variabel yang sudah kita
identifikasikan ke depan dan dilakukan setelah tahap sebaran perjalanan (M.A.T)

1. Model I: Analisis pilihan moda dilakukan bersamaan dengna bangkitan perjalanan,


tetapi perhitungan dilakukan secara terpisah.
2. Model II: Model ini mengabaikan pergerakan angkutan umum sehingga sebaran
perjalanan lansung menyatu dengan pergerakan angkutan pribadi. Estimasi besarnya
pilihan moda diperoleh dari kurva diversi seperti gambar berikut dan analisis pilihan
moda dilakukan setelah tahap bangkitan perjalanan.
3. Model III: estimasi besarnya pilihan moda dihitung dengan memakai model gravitas
yang fungsi eksponensialnya.

Dimana

= estimasi jumlah perjalanan dari i ke j dengan

moda 1.

= estimasi jumlah perjalanan dari i ke j dengan

moda m.

= kendala perjalanan dari i ke j dengan moda 1.

= kendala perjalanan dari i ke j dengan moda 2.

= parameter model gravitasi

1. Mode IV: Analisis pilihan moda dilakukan setelah tahap sebaran perjalanan. Estimasi
besarnya pilhan moda dihitung dengan menggunakan:

 Kurva diversi
 Analisis regresi linaer berganda
 Atau, seperti pada model III, melalui perbandingan dengan kendala perjalanan pada 2
moda

Pada model IV ini, kendala perjalanan terdiri dari 4 unsur yaitu: waktu, biaya,
pendapatan waktu ganti moda

Dimana

MSt = % perjalanan menggunakan angkutan umum

(pangsa pasarnya)

l t = kendala perjalanan dari i ke j dengan angutan

umum
la = kendala perjalanan dari i ke j dengan angkutan

pribadi

b = faktor (parameter) yang dikalibrasi dari data

survey

1. Model 2 moda yang dipilih (angkutan umum dan angkutan pribadi): proses pilihan
moda pada model ini adalah sebagai berikut.

1. Model lebih dari 2 moda yang dipilih (apa saja modanya): Proses pemlihan sangat
bergantung pada kondisi geografis wilayah dan ketersediaan moda transportasi yang
ada, seperti hirarki pilihan berikut.

1. Model sintesis/logit biner model: kombinasi sebaran perjalanan dengan pilihan moda.
Bentuk model ini adalah:

Dimana

= proporsi (%) perjalanan dari zona asal i ke zona

tujuan j menggunakan moda 1.

= kendala perjalanan dari i ke j, dengan

menggunakan moda 1.

= parameter yang dikalibrasi berdasarkan data

survey.

Model ini memiliki beberpa kecendrungan

 Akan menghasilkan kurva diversi berbentuk S.


 Jika atau kendala perjalanan moda 1 dan 2 sama, maka (0,5) atau peluang pangsanya
akan sama.
 Jika atau kendala perjalanan moda 2 lebih besar daripada moda 1 , maka akan menjadi 1
atau probabilitas moda 2 akan cendrung mengarah ke 0 (pangsa pasar menurun).

1. Model pilihan multi moda: a) struktur N-way, b) struktur pertambahan moda, c)


struktur berjenjang.
2. Model pemilihan diskrit: Model ini menganalisis pilihan konsumen (pelaku perjalanan)
dari sekumpulan alternatif pilihan moda yang saling bersaing dan tidak bisa dipilih
(digunakan) secara bersama-sama lebih dari satu moda (mutually exclusive).
3. Model logit biner

Bentuk model ini sebagai berikut

Model ini hanya untuk 2 pilihan moda transportasi alternatif.

1. Model probit

Model ini juga untuk 2 moda alternatif, tetapi model ini menekankan untuk
menyamakan peluang (kemungkinan) individu untuk memilih moda 1, bukan moda 2
dan berusaha menghubungkan antara jumlah perjalanan dengan variabel bebas yang
mempengaruhi, misalnya biaya (cost) dan variabel ini harus terdistribusi normal.
Bentuknya adalah:

= komulatif standar normal (dari tabel)

= nilai manfaat moda

1. Model multi nominal logit (NML)

Model ini merupakan mode; pilihan diskret yang terkenal dan paling populer

4. Tahap keempat, menghitung angka proporsi peluang atau pangsa pasar masing-masing
moda angkutan untuk dipilih dari sejumlah calon pengguna moda tertentu sebagai
perkiraan serat angka mutlak. Fungsi kepuasan pelaku perjalanan dalam menggunakan
moda pilihannya seperti model dalam dunia nyata banyak mengandung unsur relatif
atau random sehingga fungsi kepuasan bersifat acak (random utility). Manski, orang
yang pertama kali mencetuskan konsep utilitas acak, menyebutkan 4 sumber penyebab
keacakan fungsi utilitas tersebut, yaitu
5. Terdapat karakteristik sistem transportasi (variabel) yang tidak teramati (unobserved
attributes) atau ada faktor X yang bermain dalam pengamatan.
6. Adanya variasi selera pelaku perjalanan yang tak teramati (unobserved variations).
7. Adanya kesalahan pengukuran (measurement errors) dan data yang kurang (imperfect
information).
8. Adanya variabel acak yang bersifat instrumental (instrmental variabel) atau proxy.

Dimana:

nilai kepuasan konsumen pemakai moda i

kelompok variabel bebas yang mempengaruhi kepuasan maksimum

= koefisien regresi/parameter variabel bebas

4. Trip Assignment

Pilihan rute merupakan tahapan terakhir dalam peramalan perjalanan transportasi.


Input sebelum dilakukan pilihan rute yaitu 1) data jarak, waktu, biaya tiap-tiap jaringan
yang mengubungkan zona i ke zona j, 2) sebaran perjalanan antar zona dari MAT, 3)
data kapasitsa ruas jalan dalam jaringan jalan, dan 4) data jaringan yang
menghubungkan pusat-ousat zona tentang waktu perjalanan dan kecepatan rencana.

Sehingga keluaran dari input data tersebut yaitu 1) jumlah arus perjalanan kendaraan
yang melewati setiap ruas jalan yang menghubungkan zona i dengan zona j, 2) jumlah
arus kendaraan yang membelok pada persimpangan utama, 3) data unuk menentukan
kecepatan rata-rata dan waktu perjalanan, dan 4) data jumlah kilometer kendaraan atau
jam pengoperasian. Beberapa faktor yang dipertimbangkan dalam pemilihan rute :

1. Waktu tempuh,
2. Jarak,
3. Kombinasi Waktu – Jarak,
4. Biaya dalam bentuk uang,
5. Rambu Lalu Lintas,
6. Keselamatan,
7. Jumlah Persimpangan,
8. Kondisi Permukaan Jalan, dan lain sebagainya.
Dalam pilihan rute dapat dilakukan dengan metode analisis pilihan rute, yaitu:

 Model Semua atau Tidak Sama Sekali

Model ini tidak memperdulikan pengaruh kendala kapasitas suatu ruas jalan dan
sebagainya. Hanya tiga variabel yang mempengaruhi perilaku perjalanan, yaitu:

1. Jarak minimal (dekat);


2. Waktu minimal (singkat);
3. Ongkos minimal (murah);

 Model Keseimbangan Wardrop

Model ini yakni pemakai jalan terpengaruh oleh variabel kepadatan volume lalu lintas.

Dimana:

p(k) = Probabilitas pengguna jalan menggunakan ruas k.

Tk = Waktu perjalanan pada ruas k.

b = Parameter diversi lalulintas.

 Model Stokastik Murni

Model ini digunakan berdasarkan asumsi bahwa para pelaku perajalanan yang akan
menggunakan rute alternatif, perilakunya tidak dipengaruhi sedikit pun oleh kondisi
ruas jalan yang macet, sehingga tergantung presepsi masing-masing individu perilaku
perjalanan.

 Model Pengguna Stokastik

Model ini menggabungkan unsur random dengan kepadatan arus lalulintas pada suatu
rute dengan mengikuti fungsi biaya yang dipengaruhi oleh kepadatan volume lalulintas
pada suatu ruas jalan.
Daftar Pustaka

Miro, Fidel. 2006. Perencanaan Transportasi.

Anda mungkin juga menyukai