ATLS
(ADVANCE TRAUMA LIFE SUPPORT)
I. TUJUAN PROGRAM
ATLS menyajikan suatu cara yang aman dan terpercaya dalam
penanggulangan penderita yang cedera, dan memberikan
pengetahuan dasar yang diperlukan untuk :
1. Melakukan evaluasi keadaan penderita dengan cepat dan tepat
2. Melakukan resusitasi dan stabilisasi penderita sesuai dengan
prioritas
3. Menentukan apakah kebutuhan penderita melebihi kemampuan
fasilitas bersangkutan
4. Mengatur dengan sebaik mungkin rujukan antara Rumah Sakit
5. Menjamin bahwa penanggulangan yang optimum sudah diberikan
sesuai dengan kebutuhan penderita
II. TUJUAN KURSUS
1. Memperkenalkan pada penilaian dan pengelolaan awal dan
membantu dalam melakukan penanggulangan gawat darurat
pada penderita trauma
2. Melakukan penanggulangan yang baik untuk mencapai hasil yang
maksimal
3. Memberikan informasi dan keterampilan yang penting, sehingga
dapat menerapkan dalam melakukan identifikasi dan
penanggulangan cedera yang mengancam nyawa atau secara
potensial dapat mengancam nyawa
III. DISTRIBUSI KEMATIAN TRIMORDIAL
Tiga Puncak Kematian Akibat Trauma :
1. Terjadi dalam beberapa detik sampai beberapa menit
a. Laserasi otak , batang otak
ATLS doc. 1
January 2002
b. spinal Cord level yang tinggi
c. jantung, aorta dan pembuluh darah besar
2. Terjadi dalam beberapa menit sampai beberapa jam setelah
cedera
a. Perdarahan Subdural dan epidural
b. Hemopneumothoraks
c. Ruptur Limpa
d. Laserasi hati
e. Fraktur pelvis
f. Cedera multiple dengan perdarahan berat
3. Setelah beberapa hari bahkan minggu setelah cedera
a. Sepsis
b. Gagal sisitem organ multiple
IV. KONSEP ATLS
Menanggulangi lebih dahulu gangguan yang paling
membahayakan nyawa
Ketidakpastian diagnosa tidak boleh menghalangi tindakan yang
sudah jelas indikasinya
Anamnesa yang mendetil tidak perlu untuk memulai evaluasi
penderita dengan cedera akut
Mnemonic ABCDE mendefinisikan secara spesifik urutan
evaluasi dan tindakan yang harus diikuti dalam penanggulangan
semua penderita dengan cedera :
A = Airway dengan proteksi vertebra servical
B = Breathing
C = Circulation dengan kontrol perdarahan
D = Disability atau status neurologis
E = Exposure (ditelanjangi) dan Enviroment (Kontrol Temperatur)
ATLS doc. 2
January 2002
V. INITIAL ASSESSMENT DAN RESUSITASI
Secara khusus mampu :
1. Menentukan priorits penilaian pada penderita multi trauma
2. Menerapkan prinsip PRIMARY SURVEY dan SECONDARY
SURVEY pada penderita multi trauma
3. Menerapkan cara dan tehnik terapi baik pada fase Primary
Survey maupun definitif
4. Mengenal bagaimana riwayat trauma dapat membantu dalam
diagnosa
5. Antisipasi permasalahan yang timbul pada saat initial assessment
dan resusitasi, dan mengenal cara untuk mengurangi akibatnya
6. Melakukan initial assessment pada penderita multi-trauma,
dengan menggunakan urutan prioritas dan dapat menerangkan
cara pengelolaan pada resusitasi dan stabilisasi penderita.
VI. PENDAHULUAN
Suatu sistem penilaian yang mudah (Initial Assessment), meliputi
1. Persiapan
2. Triase
3. Primary Survey ( ABCDE )
4. Resusitasi
5. Tambahan terhadap Primary Survey dan Resusitasi
6. Secondary Survey, pemeriksaan HEAD TO TOE dan anamnese
7. Tambahan terhadap Secondary Survey
8. Pemantauan dan Re-evaluasi berlanjut
9. Penanganan definitif
Primary Survey dan Secondary Survey dilakukan berulang kali agar
dapat mengenali penurunan keadaan penderita , dan memberikan
terapi bila diperlukan
Dalam prakteknya penanganan dapat berlangsung simultan
ATLS doc. 3
January 2002
VII. PERSIAPAN
Persipan penderita berlangsung dalam dua keadaan yang berbeda :
A. Fase Pra- Rumah Sakit
a. Koordinasi petugas lapangan dengan petugas Rumah Sakit
b. Memberitahukan fihak Rumah Sakit sebelum penderita dikirim,
hal ini unutk mempersiapkan tim trauma sehingga sudah siap
saat penderita datang ke Rumah Sakit
Penangana Pra Rumah Sakit memusatkan pada penanganan
1. Menjaga Airway
2. Kontrol Perdarahan dan syok
3. Imobilisasi penderita
4. Proses rujukan ke Rumah Sakit yang cocok / pusat trauma
5. Mengumpulkan keterangan : waktu kejadian, riwayat
penderita, mekanisme kejadian / jenis dan berat perlukaan
Pemakaian protap dan komuniaksi yang terus menerus akan
meningkatkan pelayanan Pra Rumah Sakit
B. Fase Rumah Sakit
Harus dilakukan perencanaan sebelum penderita tiba di Rumah
Sakit.
1. Peralatan harus disiapkan dan dicoba terlebih dahulu
Laringoscope, ETT, Suction dan lain-lain
Peralatan monitoring
Cairan harus mulai dihangatkan (RL, NaCl)
Tenaga radiologi, laboratorium dan tenaga medik tambahan
Formulir dan surat-surat rujukan
2. Tindakan untuk menghindari penularan penyakit, petugas
harus memakai :
Sarung tangan
Masker
Kaca mata
ATLS doc. 4
January 2002
Baju kedap air
Sepatu
VIII. TRIAGE
Triage adalah cara pemilahan penderita berdasarkan kebutuhan
terapi dan sumber daya yang tersedia
Terapi berdasarkan pada kebutuhan :
A = Airway dengan kontrol vertebra servical
B = Breathing dengan ventilasi
C = Circulation dengan kontrol perdarahan
Berlaku juga di lapangan dan di Rumah Sakit yang dirujuk
Dua jenis keadaan triage dapat terjadi :
1. Musibah masal dengan jumlah penderita dan beratnya
perlukaan tidak melampaui kemampuan Rumah Sakit
Dalam keadaan ini penderita dengan masalah gawat-darurat
dan multi trauma akan dilayani terlebih dahulu
2. Musibah masal dengan jumlah penderita dan beratnya
perlukaan melampaui kemampuan Rumah Sakit.
Dalam kondisi ini yang akan dilayani terlebih dahulu adalah
penderita dengan kemungkinan hidup lebih besar, serta
membutuhkan waktu, tenaga dan peralatan sedikit
IX. PRIMARY SURVEY
Penilaian keadaan penderita dan prioritas terapi dilakukan
berdasarkan jenis perlukaan, tanda vital dan mekanisme trauma.
Tanda vital penderita harus dinilai secara cepat dan efisien
Pengelolan penderita berupa :
Primary Survey yang cepat
Resusitasi
Secondary Survey
Terapy Definitif
Urutan berpatokan pada ABC, dengan berusaha menangani kondisi
yang mengancam jiwa terlebih dahulu.
ATLS doc. 5
January 2002
A = Airway, menjaga jalan nafas dengan kontrol servical (Cervical
spine control)
B = Breathing, Menjaga pernafasan dengan ventilasi
C = Circulation dengan kontrol perdarahan (hemorrhage control)
D = Disability, status neurologis
E = Exposure / Environmental control, buka pakaian penderita, tetapi
cegah hipotermia
Selama Primary Survey keadaan yang mengancam nyawa harus
dikenali dan resusitasi dilakukan pada saat itu juga
A = AIRWAY DENGAN KONTROL SERVICAL
Pertama nilai kelancaran jalan nafas, meliputi pemeriksaan :
Obstruksi oleh benda asing,
Fraktur tulang wajah,
Fraktur mandibula atau maksila,
Fraktur larinks atau trachea.
Lindungi vertebra cervical pada saat membebaskan jalan nafas.
Selama pemeriksaan airway, tidak boleh melakuan ekstensi,
fleksi atau rotasi dari leher,
adanya kelainan vertebra didasarkan pada riwayat trauma
Foto rateral cervical dapat melihat ke 7 vertebre servical dan
vertebre torakal pertama.
Pakai alat imobilisasi apabila ada kecurigaan fraktur servical,
dengan neck collar plastik. Pelepasan neck collar dilakukan
hanya pada saat pemeriksaan leher atau pada saat telah
dilakukan xray cervikal dan diyakini tidak ada kelainan
Lakukan imobilisasi manual apabila alat imobilasasi akan dibuka
sementara
Lakukan pemeriksaan leher dengan cepat / seksama, meliputi :
Pergeseran trachea
Pembesarab vena leher
Bengkak / kelainan bentuk
ATLS doc. 6
January 2002
Lecet-lecet
Alat imobilisasi harus tetap dipakai sampai kemungkinan fraktur
servical dapat disingkirkan
Foto servical dapat dilakukan setelah keadaan yang
mengancam nyawa telah dilakukan resusitasi
Pada penderita dengan multi trauma harus dianggap adanya
fraktur servical
Lakukan re-evaluasi berulang terhadap airway untuk mengenali
kemungkinan gangguan airway kemudian
RESUSITASI AIRWAY
Resusitasi yang agresip dan pengelolaan keadaan yang
mengancam nyawa saat ditemukan merupakan hal yang mutlak
bila penderita ingin tetap hidup
Lakukan segala usaha untuk menjaga jalan nafas dan memasang
airway definitif bila diperlukan
Lakukan manuver Chin Lift atau Jaw Trust untuk menjaga jalan
nafas
Penderita sadar = Pasang Naso-pharyngeal airway, mungkin
akan menyebabkan perdarahan pada hidung
Penderita tidak sadar dan tidak ada reflek muntah (gag Reflex)
= Pakai Oropharyngeal airway (Guedel). Pada pasien sadar
mungkin akan menyebabkan muntah, kondisi ini berakibat
terjadinya gerakan leher dan meningkatkan tekanan intrakranial
Lakukan pemasangan airway definitif bila menjaga airway
meragukan
Intubasi dengan ETT, jika tidak ada reflek muntah dan
untuk melindungi dari aspirasi paru-paru
Cricothyrotomy, jika ada hambatan jalan nafas bagian atas
yang permanen (gagal melakukan oro / nasotracheal
intubasi
Tracheostomy, tindakan yang lebih rumit dan dilakukan di
Rumah Sakit atau di kamar bedah
ATLS doc. 7
January 2002
PERMASALAHAN
Gangguan alat
Keterampilan tidak memadai
Penyulit dari anatomi fisiologi penderita
Penyulit dari decera penyerta, adanya fraktur larinks
B = BREATHING DAN VENTILASI
Airway yang baik tidak menjamin ventilasi yang baik
Ventilasi yang baik meliputi fungsi yang baik dari paru, dinding
dada dan diafragma
Inspeksi, dengan membuka dada penderita untuk melihat
ekspansi pernafasan dan bentuk toraks
Palpasi, Meraba dan merasakan dinding dada, perabaan
dilakukan keseluruh permukaan dada
Perkusi dinding dada dengan cara mengetuk untuk menilai
adanya udara atau darah dalam rongga pleura
Sonor adalah suara perkusi jaringan paru yang normal
Redup adalah suara perkusi jaringan yang lebih padat
(pneumonia)
Pekak, suara perkusi jaringan yang padat (adanya cairan di
rongga pleura)
Hypersonor, suara perkusi pada daerah yang lebih
berongga kosong
Perkusi dilakukan dengan cara membandingkan kiri-kanan
pada setiap daerah permukaan thorax
Auskultasi mendengarkan suara pada dinding thorax dengan
menggunakan stetoscope secara sistematik dari atas ke
bawah dengan membandingkan kiri dan kanan, untuk
memastikan masuknya udara ke dalam paru
Ronchi, terkumpulnya cairan mukus dalam trachea atau
bronchus besar (pada odema paru)
ATLS doc. 8
January 2002
Whezzing, Bronchial yang menyempit atau adanya
exudat
Perlukaan yang mengakibatkan ventilas yang berat dan harus
dikenali pada saat Primary Survey :
Tension pneumothorax
Fail chest dengan kontusio paru
Open pneumothorax
Gangguan ventilasi derajat lebih ringan dan harus dikenali
pada saat Secondary Survey :
Hemoto-thorax
Simple pneumo-thorax
Patah tulang iga
Kontusio paru
RESUSITASI Breathing / Ventilasi / Oksigenasi
Lakukan pemasangan endo-tracheal intubasi oral / nasal untuk
mengontrol jalan nafas karena faktor mekanik, gangguan
ventilasi atau gangguan kesadaran
Lakukan Surgical airway (crico-thyroidectomy), bila
pemasangan ETT tidak memungkinkan atau adanya
kontraindikasi atau karena masalah tehnik
Lakukan dekompresi bila injury (tension pneumothorax)
mengganggu ventilasi
Berikan oksigen pada semua penderita trauma, jika korban
tidak di intubasi, harus diberikan oksigen lewat Nonrebreathing
mask untuk mencapai oksigen yang maksimal
Monitoring saturasi oksigen untuk menilai oxihaemoglobin
PERMASALAHAN
1. Sulit membedakan gangguan airway dengan gangguan
pernafasan
ATLS doc. 9
January 2002
2. Prosedur tindakan penyelamatan pasien bisa menambah
berat dari injurynya
C = CIRCULATION DENGAN KONTROL PERDARAHAN
1. Volume darah dan cardiac output
Perdarahan merupakan sebab utama kematian pasca bedah
yang mungkin dapat diatasi dengan terapy yang cepat dan tepat
di Rumah Sakit
Ada tiga penemuan klinis yang dalam hitungan detik dapat
memberi informasi mengenai keadaa kemodinamik yakni :
a. Tingkat kesadaran
Bila volume darah menurun, ferfusi otak dapat berkurang,
mengakibatkan penurunan kesadaran – Penderita yang
sadar belum tentu normo-volemik
b. Warna kulit
Warna kulit dapat membantu evaluasi hipovolemik
Normovolemik : Kulit kemerahan, terutama pada wajah
extremitas
Hipovolemik : Wajah pucat keabuan dan kulit extremitas
yang pucat
c. Nadi
Periksa nadi besar : arteri karotis, femoralis (kiri – kanan)
untuk kekuatan nadi, kecepatan dan irama
Tanda normovolemik : nadi tidak cepat, kuat dan teratur è
bukan jaminan keadaan normovolemik
Tanda hipovolemik : nadi cepat dan kecil
Nadi yang tidak teratur merupakan tanda gagguan jantung
Tidak ada pulsasi di arteri besar diperlukan resusitasi segera
2. Perdarahan
Perdarahan luar harus dikelola pada saat Primary Survey
Perdarahan luar dihentikan dengan tindakan balut tekan
pada daerah luka
ATLS doc. 10
January 2002
Gunakan spalk yang tembus pandang (air splint) untuk
mengontrol perdarahan / pengawasan perdarahan
Jangan menggunakan tourniquet, karena dapat merusak
jaringan dan menyebabkan iskemik daerah distal
Tourniquet hanya digunakan pada kasus traumatik amputasi
Perdarahan internal (perdarahan tidak terlihat) :
Dalam rongga thorax,
Abdomen,
Fraktur tulang panjang,
Retro peritoneal akibat fraktur pelvis, atau
Akibat luka tembus dada / perut.
RESUSITASI SIRKULASI DENGAN KONTROL PERDARAHAN
Lakukan kontrol perdarahan dengan balut tekan pada daerah
luka atau dengan tindakan operasi
Pasang sedikitnya 2 IV line dengan cateter yang besar, lakukan
pemasangan pertama pada vena lengan
Pemasangan vena central dan tindakan vena sectie tergantung
dari kemampuan si penolong
Ambil sampel darah pada saat pemasangan IV line untuk
pemeriksaan darah rutin, tes kehamilan pada wanita usia subur
Syok pada penderita trauma biasanya disebabkan hipovolemik,
berikan caiarn lewat IV line dengan 2 – 3 liter dengan cairan
kristaloid (RL / NaCl), semua cairan harus dihangatkan antara
39 – 40 derajat celsius
Bila tidak ada respon berikan darah type spesifik atau bila tidak
ada yang spesifik berikan darah type O Rhesus negatif atau
type O Rh positif titer rendah
JANGAN BERIKAN VASOPRESOR, STEROID atau Bic-Nat,
juga jangan diberikan caira RL atau darah terus menerus.
Dalam keadaan ini harus dilakukan resusitassi operatif untuk
menghentikan perdarahan
ATLS doc. 11
January 2002
Hypotermia mungkin terjadi saat pasien datang, dan meningkat
dengan cepat apabila pasien tidak diselimuti, pemberian cairan
dan darah yang masih dingin
PERMASALAHAN
Hati-hati pada penderita umur muda, tua, atlit dan pemakaian
obat-obatan tertentu
Harus waspada penderita dengan hemodinamik normal yang
belum tentu normal
D = DISABILITY (EVALUASI NEEUROLOGIS)
Lakukan pemeriksaan neurologis yang cepat pada akhir
Primary Survey
Penilaian pada tingkat kesadaran, ukuran pupil dan reaksi pupil
Penilaian secara singkat dengan motode AVPU :
A = Alert (sadar)
V = Vocal (respon terhadap suara)
P = Pain ( respon terhadap rangsangan nyeri)
U = Unresponsive (tidak ada respons)
GSC (Glsgow Coma Scale) adalah sistem skorsing yang
sederhana dan merupakan pengganti dari metode AVPU
Bila tidak dilakukan pada akhir Primary Survey, harus dilakukan
pada Secondary Survey pada saat pemeriksaan neurologis
Penurunan kesadaran dapat disebabkan oleh penurunan
oksigenasi atau penurunan perfusi ke otak, atau disebabkan
trauma langsung pada otak, lakukan re-evaluasi terhadap
keadaan oksigenasi, ventilasi dan ferfusi
Alkohol dan obat-obatan dapat mengganggu tinngkat kesadaran
penderita
ATLS doc. 12
January 2002
PERMASALAHAN
Penderita dengan trauma kapitis dapat dengan cepat
mengalami penurunan kesadaran bahkan dapat meninggal
secara mendadak
Lakukan tindakan kembali ke Primary survey, untuk
memperbaiki airway, oksigenasi, ventilasi dan perfusi, bila perlu
konsul cito ke ahli bedah syaraf
E = EXPOSURE / KONTROL HYPOTERMIA
Buka seluruh pakaian penderita untuk memeriksa dan meng-
evaluasi penderita di tempat yang terlindung
Hindari terjadinya hypotermia pada saat pemeriksaan, selimuti
pasien dan berikan cairan IV yang sudah dihangatkan
PERMASALAHAN
Penderita datang ke Rumah Sakit sudah mengalami hypotermia
dan diperberat dengan pemberian cairan atau darah
Kontrol Perdarahan dengan tindakan fiksasi eksternal atau
tindakan operasi dengan cepat
Lakukan pencegahan hypotermia dengan sungguh-sungguh
X. TAMBAHAN PADA PRMARY SURVEY DAN RESUSITASI
A. Monitor EKG
Pasang monitor EKG pada semua penderita trauma
Kontusio Jantung :Perubahan irama jantung ; AF, Extra
Systole, perubahan segmen ST
Tamponade jantung, Tension Pneumothotax atau
hypovolemia berat mengakibatkan EMD (Electro mechanical
dissociation)
Hypoksia dan hypoperfusi mengakibatkan bradikardi,
konduksio aberan atau ekstrasystole
ATLS doc. 13
January 2002
Hypotermia dapat menyebabkan disritmia
B. Kateter urin dan Lambung
Pemasangan kateter urin dan lambung harus
dipertimbangkan
Ambil sampel urine untuk pemeriksaan
1. Kateter Uretra
Produksi urine merupakan indikator peka untuk menilai
keadaan perfusi ginjal dan hemodinamik penderita
Jangan melakukan pemasangan katerter urine bila ada
dugaan ruptur uretra, dengan tanda :
a. Adanya darah di orifisium uretra eksterna
b. Hematom di skrotum
c. Colok dubur prostat letak tinggi atau tidak teraba
Kesulitan pada pemasangan kateter uretra terjadi pada
striktur uretra atau hypertropi prostat, konsul ke urolog
2. Kateter Lambung
Untuk mengurangi distensi lambung dan mencegah
muntah
Darah dalam lambung dapat disebabkan darah
tertelan, akibat dari pemasangan kateter atau adanya
perlukaan di lambung
Pasang kateter lambung lewat oral bila diduga adanya
lamina fibrosa patah, untuk mencegah kateter masuk
ke rongga otak
Pemasangan kateter lambung dapat mengakibatkan
pasien muntah dan terjadi aspirasi
Permasalahan
Pipa / Tube tercabut pada saat resusitasi atau saat transportasi,
sehingga dapat mengakibatkan fatal
C. Monitor
Monitor hasil resusitasi seperti :
ATLS doc. 14
January 2002
Laju nafas,
Tekanan nadi,
Tekanan darah,
ABG (Arterial Blood Gases),
Suhu tubuh,
Urine output
Laju nafas dan ABG untuk menilai airway dan breathing
End-Tidal CO2 (Capnograf) untuk menilai posisi ETT dalam
Trachea bukan dalam eosofagus
Pulse Oxymetry mengukur kadar o2 saturasi, bukan PaO2,
hasil Pulse Oxymeter harus dibandingkan dengan hasil ABG
Pada penilaian tekanan darah merupakan indikator yang
kurang baik untuk menilai perfusi jantung.
Permasalahan
Tekanan darah normal bukan patokan, harus dipastikan
bahwa perfusi perifer sudah baik
Pada orang tua mungkin perlu tindakan invasif
C. Pemeriksaan Rontgen dan Pemeriksaan Tambahan
lainnya
Foto rontgen harus selektif dan jangan mengganggu pada
proses tindakan resusitasi
Pada trauma tumpul harus dilakukan 3 foto
Servical (lateral)
Foto servical menunjukan adanya fraktur, merupakan
penemuan yang sangat penting
Thorax (AP)
Foto thorax mungkin dapat menunjukan gangguan yang
mengancam nyawa
Pelvis (AP)
ATLS doc. 15
January 2002
Foto pelvis dapat menunjukan fraktur yang dapat
menerangkan syok
Pada Secondary Survey lakukan foto lengkap dan DPL atau
USG untuk menemukan adanya perdarahan abdomen
PERMASALAHAN
Tindakan DPL dan USG dapat menimbulkan interpretasi lain
akibat dari anatomi fisiologi penderita
XI. PERTIMBANGAN RUJUKAN PENDERITA
Setelah Primary Survey dan resusitasi, pertimbangkan untuk
merujuk penderita
Proses rujukan sudah dimulai saat resusitasi
Komunikasi penting antara yang merujuk dengan yang dirujuk
TINDAKAN RESUSITASI DILAKUKAN PADA SAAT MASALAH
DIKENALI, BUKAN SETELAH PRIMARY SURVEY SELESAI
SECONDARY SURVEY
Seconadry Survey adalah pemeriksaan kepala sampai kaki ( Head to
Toe Examination), termasuk re-evaluasi pemeriksaan tanda vital
Secondary Survey baru dilakukan setelah Primary Survey selesai
Resusitasi dilakukan dan ABC penderita dipastikan membaik
Diperlukan penilaian yang teliti secara menyeluruh, karen peluang
untuk membuat kesalahan dalam penilaian penderita gawat atau tidak
sadar cukup besar
ATLS doc. 16
January 2002