0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan8 halaman

Judul

Jurnal

Diunggah oleh

Anita
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan8 halaman

Judul

Jurnal

Diunggah oleh

Anita
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Idarah Tarbawiyah: Journal of Management in Islamic Education

Vol. 4 No. 1 (2023), hlm. 73-80, DOI: 10.32832/idarah.v4i1.9385


ISSN: 2654-5845 (Online)

Pendidikan karakter dalam Islam: Solusi


untuk dekadensi moral generasi muda
Hamdan Abdul Aziz*, Shajaratuddar, Budi Handrianto
Magister Pendidikan Agama Islam Sekolah Pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun Bogor,
Indonesia
*
[Link]@[Link]

Article Information: Received Jan 27, 2023, Accepted May 13, 2023, Published May 20, 2023

Abstract
This research aims to understand character education in Islam as a solution to the moral
decadence of the younger generation. Through a literature study approach and content
analysis, this research explores various related literature and sources to gain a
comprehensive understanding of the importance of instilling morals in the education
process. The results show that character education in Islam plays a very important role
in shaping good morals in the younger generation. Teachers as educators must be role
models in their behaviour and morals, while students need to accept and practice the
moral values taught. Through strong character education, the younger generation can
grow into individuals who are responsible, honest, fair, and have a positive attitude
towards the environment and others. This research provides a deeper understanding of
the importance of character education in Islam as an effort to overcome the moral
decadence of the younger generation. The implication of this research is the need for
greater attention to character education in the education system and curriculum
development that includes moral values as an integral part of learning.
Keywords: Akhlak; Character education; Islam; Moral decadence; Young generation
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk memahami pendidikan karakter dalam Islam sebagai solusi
terhadap dekadensi moral generasi muda. Melalui pendekatan studi pustaka dan analisis
isi, penelitian ini menggali berbagai literatur dan sumber terkait untuk mendapatkan
pemahaman yang komprehensif tentang pentingnya penanaman akhlak dalam proses
pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter dalam Islam
memainkan peran yang sangat penting dalam membentuk akhlak yang baik pada generasi
muda. Guru sebagai pendidik harus menjadi contoh teladan dalam perilaku dan akhlaknya,
sementara murid perlu menerima dan mengamalkan nilai-nilai akhlak yang diajarkan.
Melalui pendidikan karakter yang kuat, generasi muda dapat tumbuh menjadi individu
yang bertanggung jawab, jujur, adil, dan memiliki sikap positif terhadap lingkungan dan
sesama. Penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya
pendidikan karakter dalam Islam sebagai upaya untuk mengatasi dekadensi moral generasi
muda. Implikasi penelitian ini adalah perlunya perhatian yang lebih besar terhadap
pendidikan karakter dalam sistem pendidikan dan pengembangan kurikulum yang
memasukkan nilai-nilai akhlak sebagai bagian integral dari pembelajaran.
Kata kunci: Akhlak; Dekadensi moral; Generasi muda; Islam; Pendidikan karakter

Copyright (c) 2023 Hamdan Abdul Aziz, Shajaratuddar, Budi Handrianto


This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License (CC-BY-SA)
| 73
Aziz, Shajaratuddar, Handrianto

Pendahuluan
Tujuan dari pendidikan agama Islam tidak hanya untuk membentuk peserta didik
menjadi cerdas, tetapi juga untuk membentuk peserta didik menjadi generasi yang
berakhlak dan berkarakter. Menurut Muhammmad Athiya Al Abrasy (1970) tujuan
pendidikan Islam adalah mencetak manusia yang berakhlak mulia. Zakiyah Darajat
(2014) mendefinisikan pendidikan muslim sebagai upaya pembentukan kepribadian
muslim sesuai dengan ajaran Islam. sedangkan M. Arifin (1990) menjelaskan
pendidikan Islam sebagai sistem pendidikan yang mencakup seluruh aspek
kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah, sebagaimana Islam telah menjadi
pedoman bagi seluruh aspek kehidupan manusia baik dunia maupun ukhrawi.
Tujuan pendidikan nasional terdapat dalam pasal 3 Undang-undang No. 20
Tahun (2003) yang berbunyi: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat
dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
Dalam penjelasan kemendiknas, pendidikan karakter adalah pendidikan nilai,
pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak serta Amanat dari
Pancasila dan Pembukaan UUD 1945. Yaitu mendukung perwujudan cita-cita
pembangunan karakter bangsa serta mengatasi permasalahan bangsa, yaitu
menjadikan pendidikan karakter sebagai salah satu program pembangunan
nasional. Namun pada realitasnya saat ini, pendidikan karakter masih perlu terus
digalakkan, terutama pada generasi muda dengan banyaknya kasus pergaulan bebas,
perkelahian, narkoba, seks bebas, pencurian, perkelahian massal, narkoba,
pergaulan bebas, aborsi dan lainnya yang menjadi masalah di negeri ini.
Oleh sebab itu, salah satu solusi dari permasalahan krisis karakter generasi muda
saat ini ialah dengan mengoptimalkan peran guru di sekolah. Peran guru memang
sangat besar di dalam pembelajaran, karena guru sebagai penanggung jawab
kegiatan belajar mengajar, akan tetapi guru juga sebagai pembimbing, pengarah, dan
pelatih terhadap pembentukan sikap, mental dan watak kepribadian siswa-siswinya.
Dengan Pentingnya peran guru dalam mengajarkan akhlak, adab dan karakter
kepada anak didik, maka penting menggali konsep pendidikan karakter dalam Islam
sebagai solusi untuk dekadensi moral generasi muda.

Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, di mana
penelitian ini menggunakan penelitian library research. Yaitu pengumpulan data
dari berbagai kepustakaan seperti catatan ilmiah, buku, hasil penelitian dan lain
sebagainya. Pendekatan penelitian yang dilakukan pada tulisan ini adalah analisis isi

74 | Idarah Tarbawiyah: Journal of Management in Islamic Education


Pendidikan karakter dalam Islam...

terkait pendidikan karakter dalam Islam sebagai solusi untuk dekadensi moral
generasi muda.

Hasil dan Pembahasan


A. Hakikat Pendidikan karakter
Pendidikan karakter adalah proses pembentukan nilai-nilai, sikap, dan perilaku
yang diperlukan untuk menjadi individu yang bermoral, bertanggung jawab, dan
memiliki etika yang baik. Pendidikan karakter adalah proses yang berkelanjutan
yang memerlukan komitmen dan kesabaran untuk menanamkan nilai-nilai dan
sikap yang diperlukan untuk menjadi pribadi yang bermoral dan bertanggung jawab.
Pendidikan karakter sejatinya dapat dimulai dari keluarga. Orang tua harus
memberikan contoh yang baik dan menanamkan nilai-nilai kepada anak-anak
mereka. Orang tua juga perlu mengajarkan anak-anak mereka tentang etika,
tanggung jawab, dan perilaku yang baik.
Selain itu, pendidikan karakter perlu diajarkan di sekolah. Sekolah berperan
dalam membantu siswa memahami nilai-nilai moral dan etika. Sekolah juga harus
mengajarkan siswa tentang perilaku yang baik dan bertanggung jawab. Tak hanya
itu, pendidikan karakter seharusnya digalakkan melalui media. Media berperan
penting dalam menyebarkan pesan-pesan positif tentang nilai-nilai moral dan etika.
Media juga dapat digunakan untuk menyebarkan pesan-pesan tentang perilaku yang
baik dan bertanggung jawab. Tentunya, pendidikan karakter merupakan proses yang
berkelanjutan. Keluarga, sekolah, dan media berperan penting dalam proses dalam
menanamkan dan menyebarkan nilai karakter positif di negeri ini sehingga dapat
membentuk generasi yang bermoral dan bertanggung jawab.
Untuk bisa menerapkan pendidikan karakter, langkah penting yang harus
dilakukan adalah memahami makna pendidikan karakter itu. Pendidikan karakter
dapat didefinisikan sebagai suatu usaha yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi
karakter pada peserta didik. Definisi lainnya, menyebutkan bahwa pendidikan
karakter adalah suatu proses penanaman nilai-nilai karakter kepada siswa sehingga
mereka menjadi individu yang seutuhnya berkarakter dalam komponen hati, otak,
tubuh, serta rasa dan tujuan. Pendidikan karakter juga dimaknai sebagai suatu
proses pendidikan secara holistik yang menghubungkan dimensi moral dengan
ranah sosial dalam kehidupan peserta didik sebagai fondasi bagi terbentuknya
generasi yang berkualitas yang mampu hidup mandiri dan memiliki prinsip suatu
kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan (Raharjo, 2010).
Tujuan pendidikan karakter merupakan arah dalam pelaksanaan pendidikan di
dalam sebuah lembaga. Pada era sekarang ini, pendidikan karakter sangatlah
penting untuk membantu dalam menghadapi krisis moral yang melanda generasi
muda Indonesia. Pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa
yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleransi, bergotong
royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan

Vol. 4 No. 1 (2023), pp. 73-80 | 75


Aziz, Shajaratuddar, Handrianto

teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada tuhan yang maha esa
berdasarkan Pancasila (Hendriana & Jacobus, 2017).
Menurut Handayani dan Indartono (2016) tujuan pendidikan karakter adalah
untuk mendorong lahirnya anak-anak yang baik. Tumbuh dengan karakter yang
baik, anak akan tumbuh dengan kapasitas dan komitmen untuk melakukan yang
terbaik. Sementara Omeri (2015) menjelaskan tujuan pendidikan karakter sebagai
berikut:
1. Mengembangkan potensi afektif peserta didik sebagai manusia dan Warga
Negara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa.
2. Mengembangkan Kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan
dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya dan karakter bangsa.
3. Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai
generasi penerus bangsa.
4. Mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri,
kreatif, berwawasan kebangsaan.
5. Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang
aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan
yang tinggi dan penuh kekuatan.
6. Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil
pendidikan yang mengarah pada pendidikan karakter dan akhlak mulia
pembelajar secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai dengan standar
kompetensi lulusan pada setiap satuan pendidikan. Melalui pendidikan karakter
pembelajar diharapkan mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan
pengetahuannya, mengkaji, dan menginternalisasikan, serta mempersonalisa-
sikan nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku
sehari-hari.
Pendidikan karakter di sekolah akan terlaksana dengan lancar, apabila guru
dalam pelaksanaannya memperhatikan beberapa prinsip pendidikan karakter.
Kemendiknas dalam (Julaiha, 2014) memberikan rekomendasi 11 prinsip untuk
mewujudkan pendidikan karakter sebagai berikut:
1. Mempromosikan nilai-nilai etika sebagai dasar karakter
2. Mengidentifikasi karakter secara komprehensif yang mencakup pemikiran,
perasaan dan perilaku.
3. Menggunakan pendekatan yang tajam, proaktif dan efektif untuk membangun
karakter.
4. Menciptakan komunitas sekolah yang memiliki kepedulian.
5. Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan perilaku yang
baik.
6. Memiliki cakupan terhadap kurikulum yang bermakna dan menantang yang
menghargai semua peserta didik, membangun karakter dan membantu mereka
untuk sukses.

76 | Idarah Tarbawiyah: Journal of Management in Islamic Education


Pendidikan karakter dalam Islam...

7. Mengusahakan tumbuhnya motivasi diri pada para peserta didik.


8. Memfungsikan seluruh staf sekolah sebagai komunitas moral yang berbagi
tanggung jawab untuk pendidikan karakter dan setia pada nilai dasar yang sama.
9. Adanya pembagian kepemimpinan moral dan dukungan luas dalam membangun
inisiatif pendidikan karakter.
10. Memfungsikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam usaha
membangun karakter.
11. Mengevaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai guru karakter dan
manifestasi karakter positif dalam kehidupan peserta didik.

B. Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah


Implementasi Pendidikan karakter di sekolah bisa dilakukan dengan
keteladanan seorang guru. Keteladanan ini dapat dilakukan dengan menggunakan
karakter dan tutur yang bagus di dalam sebuah kelas. Dengan menggunakan
karakter dan tutur yang bagus, in ikan berdampak pada pembentukan adab,
kepribadian dan karakter murid. Karena Guru haruslah menjadi ‘the role of model’,
guru yang berperilaku dan bertutur kata baik yang dapat dijadikan sebagai rujukan,
dan juga bisa dijadikan teladan oleh peserta didiknya
Untuk mengimplementasikan pendidikan karakter ini perlu kolaborasi karena
implementasi ini tidak dapat berdiri sendiri, perlu adanya kolaborasi semua pihak
dan perlu adanya integrasi dengan pelajaran-pelajaran yang ada, sehingga
pendidikan karakter ini dapat dimasukkan di pelajaran-pelajaran di sekolah.
Implementasi pendidikan karakter ini bisa dilakukan dengan pembiasaan nilai
moral luhur kepada peserta didik dan membiasakan mereka dengan kebiasaan
(habit) yang sesuai dengan karakter kebangsaan. Melalui implementasi pendidikan
karakter ini, diharapkan bisa menambah nilai karakter SDM di Indonesia, sehingga
bisa menghasilkan SDM yang berkarakter.
Implementasi pendidikan karakter ini tidaklah mudah, karena ini bukan
pekerjaan yang sangat mudah. Implementasi Pendidikan karakter ini merupakan
pekerjaan yang sangat berat. Karena dalam pengajarannya tidak hanya pengetahuan
saja tapi harus dibiasakan juga oleh para guru. Karakter dalam pendidikan Islam
dikenal dengan istilah adab. Adab sebagaimana yang didefiniskan oleh Al-Attas
adalah pengenalan serta pengakuan akan hak keadaan sesuatu dan kedudukan
seseorang, dalam rencana susunan berperingkat martabat dan darjat, yang
merupakan suatu hakikat yang berlaku dalam tabiat semesta. Pengenalan adalah
ilmu; pengakuan adalah amal. Maka, pengenalan tanpa pengakuan seperti ilmu
tanpa amal; dan pengakuan tanpa pengenalan seperti amal tanpa ilmu. ”Keduanya
sia-sia kerana yang satu mensifatkan keingkaran dan keangkuhan, dan yang satu lagi
mensifatkan ketiadasedaran dan kejahilan (Husaini, 2012).
Hilangnya adab dalam pendidikan akan melahirkan generasi yang sangat lemah,
maka dari itu pendidikan Islam membutuhkan para pendidik yang memiliki kualitas

Vol. 4 No. 1 (2023), pp. 73-80 | 77


Aziz, Shajaratuddar, Handrianto

adab yang tinggi. Dengan pendidik yang memiliki adab maka ilmu dan amalnya akan
selaras. Seorang pendidik dalam hal ini menjadi penerus ulama yang melanjutkan
ajaran nabi. Sebaliknya, jika seorang guru yang tidak memiliki adab yang baik, maka
proses pembelajaran tidak akan mengarah kepada pembentukan manusia
seutuhnya. Sehingga generasi yang dilahirkan dapat mengarah kepada kurangnya
adab dan akhlak, sehingga narkoba, free sex, korupsi, tawuran, dan lainnya sulit
dihilangkan dari kehidupan bangsa ini. Termasuk ketika perbuatan-perbuatan
tersebut sering dilakukan oleh anak bangsa yang sedang dididik di tempat bernama
pendidikan. Inilah yang menjadi problem terbesar yang dihadapi oleh bangsa ini,
seperti yang telah dijelaskan oleh pakar pendidikan Islam, al-Attas (2001) bahwa
krisis dunia saat ini adalah berpangkal pada fenomena dekadensi adab yang
diistilahkan beliau sebagai the loss of adab.
Imam Nawawi (2019) dalam kitabnya menjelaskan bahwa adab di atas ilmu.
Sepintar apa pun seseorang, namun ia tidak memiliki adab, gugurlah nilai semua
pengetahuannya; tak dapat dijadikan rujukan, tak akan pula memproduksi
kebaikan-kebaikan. Bahkan amal-amal ibadahnya pun tak ternilai apa-apa bila tidak
dihiasi dengan adab. Hal ini karena adab merupakan pondasi agama. Rasulullah
diutus untuk memperbaiki adab-adab (yang baik). Tentang pentingnya adab
sebelum ilmu, Abdurahman bin Al-Qasim menjelaskan bahwa ia selama 18 tahun
mempelajari adab dan hanya 2 tahun mempelajari ilmu lainnya. Ibnu Al-Mubarak
merelakan waktunya 30 tahun untuk mendalami adab-adab. Demikian pula para
ulama terdahulu lainnya yang lebih mendahulukan adab daripada ilmu. Maka dari
itu, persoalan adab untuk seorang menjadi sangat penting, karena ini adalah
permasalahan yang krusial terkait generasi muda. Dengan guru memiliki adab yang
bagus maka guru tersebut bisa menjadi contoh bagi para peserta didik.
C. Strategi Pelaksanaan Pendidikan Karakter
“Orang Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik
akhlaknya di antara mereka”. Pernyataan ini merupakan hadis dari Nabi
Muhammad SAW yang menjelaskan bahwa kesempurnaan iman adalah yang baik
akhlaknya. Penerapan pendidikan akhlak ini salah satunya adalah dengan sekolah.
Karena sekolah menjadi tempat yang strategis dalam pengajaran akhlak setelah
keluarga.
Dalam dunia pendidikan pembaharuan sistem sangatlah penting untuk
eksistensinya dalam perubahan zaman. Namun yang banyak terjadi, pembaharuan
sistem pendidikan lebih sering ditujukkan pada ranah fisik dan pengelolaan, tidak
tertuju kepada ruh pendidikan itu sendiri, yaitu ruh pendidik. Sebagaimana pesan
penting pendidikan, “Metode Mengajar lebih Penting daripada materi, Guru lebih
Penting daripada Metode Mengajar, dan Jiwa (Ruh) seorang guru jauh lebih penting
dari pada guru itu sendiri”. Pembaharuan ruh dari seorang pendidik jarang
mendapat perhatian besar dalam pembaharuan sistem pendidikan saat ini, padahal
itu merupakan inti dari suatu pendidikan.

78 | Idarah Tarbawiyah: Journal of Management in Islamic Education


Pendidikan karakter dalam Islam...

Untuk dapat mewujudkan generasi terbaik bagi bangsa ini, lembaga pendidikan
Islam haruslah mengikuti pedoman proses pendidikan dari konsep diutusnya rasul
Muhammad Saw. yaitu penyempurnaan Akhlak. Pembentukan dan pengajaran
Akhlak yang baik harus menjadi prioritas proses pendidikan. Sesuai sabda Nabi
SAW, yang menggambarkan bahwa akhlak atau karakter manusia yang baik adalah
tugas yang menjadi prioritas utama yang harus diperbaiki, “Sesungguhnya aku
(Muhammad) diutus untuk menyempurnakan akhlak.”
Dalam penerapannya, strategi penerapan pendidikan karakter di sekolah dapat
di laksanakan melalui: (1) kegiatan-kegiatan pembiasaan baik pembiasaan
terprogram, spontan, dan keteladanan. (2) Keteladanan melalui tindak tutur guru di
dalam penyampaian pembelajaran di kelas. (3) Tindak tutur guru yang di sampaikan
di kelas dalam menerapkan pendidikan karakter bersifat memberikan bimbingan,
pengarahan, nasihat, dan pembinaan dalam rangka pembentukan moral dan
kepribadian siswa yang berkarakter. (4) Strategi penerapannya di laksanakan selain
melalui pembinaan, pengarahan dan nasihat melalui tindak tutur guru di dalam
kelas. (5) Berpedoman pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sudah
di susun di setiap mata pelajaran dengan memasukkan pendidikan karakter di dalam
kegiatan pembelajaran mulai dari kegiatan awal, inti, dan penutup.
Sementara kegiatan pembiasaan terprogram yang bisa diterapkan antara lain: (1)
berdoa sebelum pelajaran di mulai dan sesudah pelajaran selesai. (2) Pembiasaan
dalam pembelajaran dilakukan guru dengan nasihat-nasihat dalam bentuk tindak
tutur guru yang di sesuaikan dengan materi pembelajaran, bimbingan dan konseling
bagi peserta didik yang membutuhkan dan dianggap guru perlu bimbingan konseling
sehingga penerapan pendidikan karakter pun dapat di lakukan melalui beberapa
tindak tutur berupa arahan, nasihat, bimbingan, ajakan, perintah, anjuran. 930
Tindak tutur yang paling dominan dalam penerapan pendidikan karakter ini adalah
tindak tutur direktif, karena guru sering memberi nasihat, memesan,
memerintahkan, menganjurkan, dan memohon, agar peserta didik mau melakukan
tindakan sesuai yang diharapkan guru. (4) Ucapan dan tindakan yang di lakukan
guru di mata peserta didik akan selalu di ingat dan di kenang. Nasihat-nasihat dan
bimbingan arahan yang di ucapkan guru dapat di katakan sebagai ”kata yang hidup”
yang akan bertumbuh di hati peserta didik.
Dengan strategi ini diharapkan program pendidikan karakter dapat diterapkan
di lembaga pendidikan. Sehingga para guru bisa dijadikan contoh untuk para
muridnya, sehingga para murid bisa menjadi generasi yang beradab dan mempunyai
akhlak mulia. Sesuai dengan tujuan pendidikan kita yaitu supaya berkembangnya
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakep, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Kesimpulan

Vol. 4 No. 1 (2023), pp. 73-80 | 79


Aziz, Shajaratuddar, Handrianto

Implementasi dalam pendidikan karakter sangatlah banyak, salah satunya


adalah dengan penanaman akhlak dan perilaku dari seorang guru atau pendidik.
Seorang guru atau pendidik haruslah memiliki akhlak yang baik, karena dengan ini
akan menjadi contoh untuk para muridnya. Lembaga pendidikan termasuk guru-
gurunya harus lebih memperhatikan dengan serius untuk pembentukan dan
pengajaran akhlak terhadap peserta didiknya. Karena sesuai sabda Nabi Saw. yang
menggambarkan bahwa akhlak atau karakter manusia yang baik adalah tugas yang
menjadi prioritas utama yang harus diperbaiki.

Daftar Pustaka
Al-Abrasyi, M. A. (1970). Dasar Pendidikan Islam. Bandung: Bulan Bintang.
Al-Attas, S. M. N. (2001). Risalah untuk Kaum Muslimin. Kuala Lumpur.
An-Nawawi. (2019). Adab al-Alim wa al-Muta’allim. Solo: PQS Publishing.
Daradjat, Z. (2014). Metodik Khusus Pembelajaran Agama Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Handayani, N., & Indartono, S. (2016). The implementation of multicultural character
education. 508518.
Hendriana, E. C., & Jacobus, A. (2017). Implementasi pendidikan karakter di sekolah
melalui keteladanan dan pembiasaan. JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia),
1(2), 25–29.
Husaini, A. (2012, October 3). Makna Adab Dalam Perspektif Pendidikan Islam (2).
Retrieved September 7, 2020, from INSISTS website: [Link]
adab-dalam-perspektif-pendidikan-islam-2/
Indonesia, D. R. (2003). Undang-Undang Republik Indonesia, Sistem Pendidikan
Nasional (No.20),. Jakarta: DPR RI.
MArifin. (1990). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Omeri, N. (2015). Pentingnya pendidikan karakter dalam dunia pendidikan. Manajer
Pendidikan: Jurnal Ilmiah Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana, 9(3).
Raharjo, S. B. (2010). Pendidikan karakter sebagai upaya menciptakan akhlak mulia.
Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, 16(3), 229–238.

80 | Idarah Tarbawiyah: Journal of Management in Islamic Education

Anda mungkin juga menyukai