PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Al-Qur’an, secara etimologi berasal dari kata “Qara’a-Yaqra’u-Qur’anan” yang
bermakna bacaan atau sesuatu yang dibaca berulang-ulang. Sementara secara terminologi,
Al-Qur’an diartikan sebagai kalam Allâh SWT, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
SAW sebagai mukjizat, disampaikan dengan jalan mutawatir dari Allâh SWT, melalui
perantaraan Malaikat Jibril dan membacanya dinilai ibadah. Salah satu alasan yang
menjadinya Al-Qur’an sebagai sumber ajaran Islam ialah karena keotentikannya yang
langsung dijaga oleh Allâh SWT. Berkaitan dengan paparan di atas, Al-Quran sebagai
kitab suci dan perdoman bagi umat Islam, dalam pengalamannya Al-Quran itu sendiri
harus dilafalkan sesuai dengan kaidah pelafalannya. Hal ini menunjukan bahkan selain
keotentikannya Al-Quran juga dijaga sedemikian rupa dalam pelafalannya. Oleh sebab itu
pelafalan Al-Quran secara Tahsin menjadi hal yang semestinya dilaksanakan.
Kata tahsin berasal dari kata “Hasana-Yahsunu-Husnan” yang berarti baik, bagus.
Kemudian jika dilihat dari pengertian kata tahsin itu sendiri berarti menjadi baik. Jadi
tahsin ialah menjadikan bacaan Al-Qur’an menjadi lebih baik yang sesuai dengan kaidah-
kaidah hukum ilmu tajwid dan juga memperindah di dalam lantunan bacaanya (Leu 2020).
Dengan membaca Al-Quran secara Tahsin maka salah satu kaidah pelantunan ayat suci
Al-Quran terpenuhi. Della (Ftiriani and Hayati 2020) menyatakan bahwa program Tahsin
sesungguhnya berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kemampuan membaca Al-
Quran yang sesuai dengan makharijul huruf dan kaidah-kaidah ilmu tajwid. Selaras
Selaras dengan temuan tersebut, Darwin (Darwin 2018) menyatakan bahwa penguasaan
Tahsin akan berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar AlQuran. Adapun Khoiruddin
(Khoiruddin and Kustiani 2020) mengemukakan bahwa dengan mempelajari Tahsin dan
menguasainya maka anak-anak akan siap untuk melanjutkan pada kegiatan Tahfidz.
Program Tahsin dan Tahfidz pada praktiknya dapat meningkatkan keterampilan literasi
Al-Quran (Assingkily 2019).
Berangkat dari temuan hasil tes Baca Tulis Al-Qur’an di Kegiatan MATSAMA
Mts. Al-Ma’arif Cilageni bahwa ditemukan ada sebagian anak-anak usia sekolah Dasar
yang sama sekali belum memahami cara membaca Al-Quran yang baik dan benar telah
mendorong tim pengabdian untuk melaksanakan sebuah program yang fokus
meningkatkan keterampilan membaca Al-Quran anak-anak. Oleh sebab itu terbentuklah
program Tahsin di Mts. Al-Ma’arif Cilageni khusus bagi anak-anak. Namun program
Tahsin sendiri pada praktiknya diperkaya dengan kegiatan Tahfidz yang mengajarkan
1
anak-anak untuk menghafal ayat suci Al-Quran. Hal ini berdasarkan pada pertimbangan
bahwa selain mampu membaca, anak-anak pun harus diarahkan untuk mampu menghafal
serta menghayati makna dari kandungan Al-Quran tersebut. Oleh sebab itu, lahirkan
program Tahsin dan Tahfidz di Mts. Al-Ma’arif Cilageni yang memfasilitasi para anak
anak untuk belajar membaca dan menghafal Al-Quran.
2. METODE
Kegiatan ini dilaksanakan di Mts. Al-Ma’arif Cilageni. Adapun waktu pelaksanaan
pengabdian ini dilaksanakan mulai dari bulan Juli. Metode pelaksanaan program Tahsin
dan Tahfidz dilaksanakan dengan:
(1) Mengidentifikasi kemampuan membaca Al-Quran pada anak-anak usia Sekolah Dasar
di wilayah Mts. Al-Ma’arif Cilageni;
(2) Membuat pengkategorian kemampuan membaca Al-Quran;
(3) Menyusun rencana pelaksanaan program Tahsin dan Tahfidz;
(4) Melaksanakan program Tahsin dan Tahfidz;
(5) Melaksanakan evaluasi program Tahsin dan Tahfidz.
3. HASIL & PEMBAHASAN
Pada praktiknya program Tahsin dilaksanakan dengan mengajarkan materi tajwid,
tartil dan makhraj yang bertujuan untuk memperbagus bacaan Al-Qur’an. Materi Tajwid
berisi kaidahkaidah / hukum-hukum dalam membaca Al-Qur’an. Adapun Tajwid dimulai
dengan bab cara membaca Ta’awudz, Basmallah dan Surat yang terbagi menjadi empat
macam, kemudian ada hukum Nun mati dan Tanwin yang terbagi menjadi empat yaitu
Idzhar, Ikhfa’, Idgham dan Iqlab. Kemudian ada hukum Ra’ yang terbagi menjadi dua
yaitu Tafkhim dan Tarqiq. Kemudian ada hukum Al yang juga terbagi menjadi dua yaitu
AlQomariyah dan Al-Syamsiyyah. Kemudian hukum Nun dan Mim yang disebut
Ghunnah. Lalu ada hukum Mim mati yang terbagi menjadi tiga yaitu; Ikhfa’ Syafawi,
Idgham Mutamatsilain dan Izhar Syafawi. Sampai dengan Hukum Mad yang terbagi
menjadi 13 yaitu; Mad Wajib Muttashil, Mad Jaiz Munfashil, Mad ‘Arid Lissukun, Mad
Badal, Mad ‘Iwadh ‘Anittanwin, Mad Lazim Mutsaqqal Kilmi, Mad Lazim Mukhoffaf
Kilmi, Mad Lazim Harfi Musyba’, Mad Lin, Mad Shilah Qashirah dan Thawilah, Mad
Farq dan Mad Tamkin.
Adapun proses pembelajaran tajwidnya yaitu:
1) Menjelaskan mengenai salah satu hukum.
2
2) Memberi contoh bacaan.
3) Memberi waktu untuk anak-anak mencari contohnya di Al-Qur’an.
4) Anak-anak membaca contoh yang telah ditemukannya secara bergiliran.
5) Melakukan tanya jawab.
Materi selanjutnya ialah tartil yang bertujuan untuk melatih agar bacaan AlQur’an
menjadi lebih indah karena membaca dengan perlahan-lahan sesuai dengan hukum
tajwidnya. Adapun teknis pengajarannya yaitu:
1) Membaca satu ayat secara tartil yang diulangulang.
2) Anak-anak menyimak dengan baik.
3) Anak-anak meniru apa yang dibaca oleh guru secara bergiliran.
4) Mempersilahkan anak-anak untuk bertanya jika ada penjelasan yang belum dimengerti.
Pada materi makhraj anak-anak dilatih untuk mengucapkan huruf sesuai dengan
sifat dan tempat keluarnya dari mulai huruf Alif, Ba’, Ta’, Tsa sampai Ya’. Adapun cara
pengajarannya yaitu;
1) Mencontohkan huruf per huruf.
2) Anak-anak menyimak dan meniru secara bergiliran.
3) Mempersilahkan anakanak untuk bertanya jika masih ada penjelasan yang belum
dipahami.
Selanjutnya setelah ditambahnya program Tahsin, maka selanjutnya anak-anak
diarahkan untuk belajar Tahfidz yang dimulai dengan menghafal, mengulang dan menjaga
hafalan Al-Qur’an. Program Tahfidz di Mts. Al-Ma’arif Cilageni dimulai dengan
menghafal Surat Al-Waqi’ah, Surat Al-Kahfi kemudian Juz 30 yang dimulai dari surat An-
Naba’ sampai AnNas. Peserta pada program Tahfidz adalah anak-anak yang dianggap
telah memahami Tahsin sehingga mampu melanjutkan pada kegiatan Tahfidz.
Adapun teknik pembelajaran dalam program Tahfidz yaitu;
1) Anak-anak diberi waktu untuk menghafal.
2) Anakanak menyetorkan hafalannya secara individu.
3) Menyimak lalu meluruskan jika ada hafalan yang keliru.
4) Anakanak membuat lingkaran.
5) Membaca satu ayat kemudian disambung oleh anak-anak ayat per ayat.
6) Memberikan motivasi dan mempersilahkan anakanak untuk bertanya jika masih ada
penjelasan yang masih belum dipahami.
Pada praktiknya, pelaksanaan pengabdian dalam bentuk program Tahsin dan
Tahfidz ini menemui kendala yaitu:
3
1) Masih ada sebagian anak-anak yang belum bisa beradaptasi.
2) Masih ada anak-anak yang belum menguasai Makhraj khususnya huruf Shod, Dho’ dan
Ghain.
3) Masih ada sebagian anak-anak yang sulit dalam menghafal.
Namun sesungguhnya kendala-kendala tersebut dapat diatasi dengan pemberian
motivasi pada anakanak. Hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian ini menunjukan bahwa
tingkat kemampuan membaca AlQuran anak-anak cenderung meningkat. Sehingga
kemudian muncul potensi baru dalam diri anak-anak dalam membaca Al-Qur’an secara
tartil dengan nada yang bagus. Selain itu, anak-anak yang mengikuti program Tahfidz
sudah mampu menyelesaikan hafalan surat Al-Waqi’ah, surat Al-Kahfi dan sedang proses
menghafal Juz 30.
4. SIMPULAN
Pelaksanaan program Tahsin dan Tahfidz bagi anak-anak di Mts. Al-Ma’arif
Cilageni berhasil mendorong peningkatan kemampuan anak dalam membaca Al-Quran
sesuai dengan kaidah. Adapun program ini pula mendorong peningkatan motivasi dan
kemampuan anak dalam menghafal Al-Quran yakni surat Waqiah, Kahfi dan Juz 30
Kadungora, ….Juli 2023
Mengetahui
Kepala Madrasah Koordinator Pelaksana
Drs. Aceng D. Usnaeni, [Link]. Nurul Ramdhani, [Link].
NIP. 196709152000031004