0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan99 halaman

Pantangan Kista Baker dan Anemia WUS

Diunggah oleh

2309038
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan99 halaman

Pantangan Kista Baker dan Anemia WUS

Diunggah oleh

2309038
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN KOMPREHENSIF

ASUHAN KEBIDANAN ANEMIA PADA WANITA USIA REPRODUKSI


DALAM MASA PRA KONSEPSI

Disusun oleh :

RIZKI DWI SWESTIANI 2309009

PRODI PENDIDIKAN PROFESI BIDAN

UNIVERSITAS KARYA HUSADA SEMARANG

2023/2024
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Komprehensif

“Asuhan Kebidanan Anemia pada wanita usia reproduksi dalam masa Pra Konsepsi”

Disusun oleh :

RIZKI DWI SWESTIANI 2309009

Menyetujui,

Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan

(Bd. Fitria Hikmatul Ulya, [Link]) (Riska Wijayanti, [Link])

Mengetahui

Ketua Program Studi Profesi Kebidanan

([Link] Puji Astuti [Link])


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya

sehingga kami dapat menyelesaikan laporan Praktek Kebidanan di RS Harapan Sehat,

[Link]. Laporan ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam

menyelesaikan program Profesi Bidan di Universitas Karya Husada Semarang.

Pada kesempatan ini kami ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-

besarnya kepada:

1. Dr. [Link] Agusman MM.,[Link], [Link] selaku Rektor Universitas Karya

Husada Semarang

2. [Link] Puji Astuti,[Link], selaku Ketua Prodi Pendidikan Profesi Bidan di

Universitas Karya Husada Semarang

3. Bd. Fitria Hikmatul Ulya, [Link] selaku pembimbing Akademik Praktek

Kebidanan.

4. Riska Wijayanti, [Link] selaku Pembimbing Lahan Praktek Kebidanan

5. Teman-teman seperjuangan program profesi Bidan

6. Para staf dosen dan tata usaha di Universitas Karya Husada Semarang.

Susunan laporan ini sudah dibuat dengan sebaik-baiknya, namun tentu masih

banyak kekuranganya. Oleh karena itu jika ada kritik saran atau apapun yang sifatnya

membangun dengan senang hati akan kami terima.

Semarang, November 2023


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................. i

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS ILMIAH .... ii

HALAMAN PERSETUJUAN KARYA TULIS ILMIAH ......................... iii

HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ iv

KATA PENGANTAR .................................................................................... v

DAFTAR ISI ............................................................................................ ix

ABSTRAK ...................................................................................................... xi

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1

A. Latar Belakang ................................................................................ 1

B. Ruang Lingkup Pembahasan ........................................................... 6

C. Tujuan Penulisan ............................................................................. 6

D. Manfaat penulisan ........................................................................... 7

E. Metode Penulisan............................................................................. 8

F. Sistematika Penulisan............................................................................ 10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................... 12

A. Tinjauan Umum Tentang


Remaja ............................................................................... 12

B. Tinjauan Khusus Tentang


Prakonsepsi ............................................................ 16

C. Tinjauan Umum Tentang


Anemia ...................................................................... 32

D. Tinjauan Khusus Tentang Anemia Remaja .................................... 41

E. Proses Manajemen Kebidanan....................................................... 55


i
x

BAB III KASUS…………………………………………….. ........................ 65

BAB IV PEMBAHASAN............................................................................... 136

BAB V
1
PENUTUP..........................................................................................
5
5
A.
1
Kesimpulan ................................................................................
5
5
B.
1
Saran ...........................................................................................
5
6
DAFTAR
1
PUSTAKA .....................................................................................
5
7
xi

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masa prakonsepsi adalah masa sebelum hamil, wanita pra-kelahiran

dianggap sebagai wanita dewasa atau wanita usia subur yang dipersiapkan untuk

menjadi seorang ibu, di mana persyaratan sehat saat ini tidak sama dengan

persyaratan sehat anak-anak, orang muda, atau orang tua (Muh. Nur Qalbi dkk,

2014).

Prakonsepsi terdiri dari dua kata, khususnya pra dan Konsepsi. Pra berarti

sebelumnya dan konsepsi berarti berkumpulnya sel telur dan sel sperma sehingga

terjadi persiapan. Dalam arti sebenarnya asumsi adalah periode sebelum persiapan

terjadi, khususnya pertemuan sel sperma dengan sel telur. Periode inklinasi yang

telah ditetapkan sebelumnya berlangsung dari 90 hari hingga satu tahun sebelum

konsepsi, namun sebaiknya mencakup saat ovum dan sperma berkembang,

misalnya 100 hari sebelum originasi (Susilowati, et al 2016).

Pembuahan adalah awal kehamilan, di mana satu sel telur disiapkan oleh

satu sperma. Telur atau ovum manusia dikeluarkan oleh (indung telur) sejak jam

menetas. Sel konsumsi telur (sel stadium awal) mulai terbentuk dengan

mengisolasi pada 90 hari inkubasi. Pembelahan berhenti pada tahap yang terus

turun sampai pubertas dan menjadi indah ketika telur diperlakukan (Khumaira,

2012), Masa remaja merupakan masa terjadinya perubahan yang berlangsung

cepat dalam hal pertumbuhan fisik. Kongnitif, dan psikologi. Masa ini merupakan

masa peralihan dari anak-anak menuju remaja yang di tandai dengan banyak

1
P

perubahan hormone. Perubahan tersebut mempengaruhi kebutuhan gizi. Masa

remaja di bagi berdasarkan kondisi perkembangan fisik, psikologi, dan sosial.

World Health Organization (WHO) / United Nations Chlidren‟s Emergency Fund

(UNICEF) membaginya menjadi tiga fasi, yaitu : 1. Remaja Awal (10-14 tahun),

2. Remaja pertengahan (14-17 tahun), 3. Remaja akhir (17-21 tahun)

( Susetyowati, 2016).

Anemia adalah masalah kesehatan umum terbesar di dunia, terutama di

berbagai kelompok wanita usia reproduksi. Anemia Gizi adalah suatu kondisi di

mana kadar hemoglobin, hematokrit dan trombosit merah lebih rendah dari nilai

normal, karena ketidak cukupan satu atau beberapa komponen makanan dasar

yang dapat mempengaruhi awal ketidak cukupan tersebut (Arisman, 2010).

Anemia merupakan masalah kesehatan yang banyak dijumpai di berbagai

negara, dan masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia. Wanita muda

memiliki resiko yang lebih tinggi menderita anemia dibandingkan dengan laki –

laki muda karena wanita sering mengalami perdarahan menstruasi yang teratur

(Ayuningtyas dian, 2017).

Anemia Defisiensi besi adalah Anemia yang timbul akibat berkurangnya

peyediaan besi untuk eritropoesis, karena cadangan besi kosong ( depeled iron

store ) yang pada akhirnya mengakibatkan pembentukan hemoglobin berkurang.

Anemia defisiensi bisa di tandai oleh anemia hipokromik mikrositer dan

hasil laboratorium menunjukan cadagan besi kosong. Hal ini di sebabkan tubuh

manusia mempunyai kemampuan batas untuk menyerap besi dan seringkali

tubuh mengalami kehilangan besi yang berlebihan yang di akibatkan pendarahan.


P

Data Organisasi Kesehatan Dunia World Health Organization (WHO)

menargetkan penurunan prevalensi anemia pada WUS sebesar 50% pada tahun

2025. Pada usia 15- 49 tahun, wanita dianggap berada pada kurun waktu masa

reproduksi, dimana wanita yang berstatus kawin pada usia tersebut dianjurkan

untuk mengatur dan merencanakan kehamilannaya untuk menceagh masalah-

masalah yang dapat timbul.

Di Afrika dan Asia, anemia di perkirakan berkontribusi lebih dari 115000

kematian ibu dan 591000 kematian perinatal secara global pertahun dimana

Prevalensi anemia diperkirakan 9% di Negara-negara maju. Negara berkembang

prevalensinya 43%. Anak-anak dan wanita usia subur (WUS) adalah kelompok

yang paling beresiko, dengan perkiraan prevalensi anemia pada balita sebesar

47%, pada wanita hamil sebesar 42%. Dan pada wanita yang tidak hamil usia

15-49 tahun sebesar 30% (Sandjaja Sudikno,2016).

Kementrian Kesehatan RI (2010) mendefinisikan bahwa wanita usia subur

(WUS) adalah wanita yang berada dalam priode umur antara 15-49 tahun.

Wanita pranikah merupakan bagian dari kelompok WUS perlu mempersiapkan

kecukupan gizi tubuhnya, karena sebagai calon ibu, gizi yang optimal pada

wanita pranikah akan mempengaruhi tumbuh kembang janin, kondisi kesehatan

bayi yang dilahirkan dan keselamatan selama proses melahirkan (Paratmanitya

dkk.2012).

Wanita Usia Subur (WUS) Merupakan salah satu kelompok yang rawan

menderita anemia gizi. Program penaggulangan anemia gizi telah dikembangkan

yaitu dimulai dari remaja, putri tingkat sekolah,SMP,SMA, dan sederajat, serta
P

wanita di luar sekolah yang termasuk dalam kategori WUS. Penanggulagan

anemia ini dilakukan sebagai upaya strategi dalam memutus simpul siklus

masalah gizi yang prevalensinya di kalagan WUS masih tergolong dalam

kategori tinggi yaitu pada remaja wanita 26,50%, pada WUS 26,9%.

Permasalahan ini mengindikasikan anemia/ hemoglobin rendah masih menjadi

masalah kesehatan di Indonesia (Depkes RI, 2015).

Berdasarakan hasil Riset Keseahatan (Riskesdes) tahun 2013, prevalensi

anemia pada ibu hamil di Indonesia dilaporkan sebesar 37,1%. Upaya

pencegahan melalui program pemberian tablet Fe pada seluruh ibu hamil pada

masa kehamilan belum memenuhi harapan, dimana cakupan pemberian tablet

besi di Indonesia pada tahu 2012 hanya sebesar 85%. Sedikit lebih tinggi

dibangdingkan dengan cakupan pemberian tablet tabah darah pada wanita hamil

tahun 2011 yaitu sebesar 83,3%.

Laporan Riskesdes tahun 2013 prevalensi statis gizi remaja umur 13-15

tahun di Indonesia adalah sangat kurus (11,1%) terdiri dari (3,3%) sanagat kurus

dan (7,8%) kurus. Prevalensi gemuk pada remaja umur 13-15 tahun di Indonesia

sebesar (10,8%) terdiri dari (8,3%) gemuk dan (2,5%) sangat gemuk (obesitas)

(Kemenkes RI, 2013).

Kelompok Wanita Usia Subur (WUS) merupaka masalah keseahatan

masyarakat terbesar di dunia terutama anemia pada WUS yang dapat

menimbulkan kelelahan, badan lemah, penurunan kapasitas atau kemampuan dan

produktifitas kerja. Anemia juga menyebabkan rendahnya kemampuan


P

jasmanai oleh sel-sel tubuh tidak cukup mendapat pasokan oksigen ([Link]

Qalbi dkk,2014).

Hasil Riskesda tahun 2013 menunjukan presentase anemia pada WUS

umur 15-44 tahun sebesar 35,5%. Kondisi anemia dapat meningkatkan resiko

kematian ibu pada saat melahirkan bayi dengam berat badan lahir rendah, janin

dan ibu mudah terkena infeksi, keguguran, dan menigkatkan resiko bayi lahir

prematur.

Distribusi wanita prakonsepsi berdasarkan asupan zat besi (Fe) di kota

Makassar tahun 2013, hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar

responden memiliki asupan zat besi (Fe) kurang yaitu sebesar 98,4% dan hanya

1.6% responden yang memiliki asupan zat besi (Fe) cukup (Juslina, Thaha, &

Virani, 2013).

Pada wanita pra konsepsi yang mengalami anemia diberikan tablet

penambah darah sebanyak 10 biji yang dianjurkan untuk dikomsumsi 1 tablet

perhari. Dan apabila kondisi berlanjut mereka disarankan untuk mendatangkan

layanan kesehatan seperti puskesmas ataupun dokter praktek swasta ([Link]

dkk, 2018).

Menurut Agragawal S, faktor–faktor yang menyebabkan terjadinya

anemia pada populasi melibatkan interaksi kompleks dari faktor–faktor sosial,

politik, ekologi, dan biologi. Sedangkan penyebab utama anemia adalah gizi dan

infekasi (Sandjaja Sudikno,2016).

Berdasarkan data yang diperoleh di Puskemas Jongaya dari tahun 2017

terdapat 30 orang wanita usia subur (WUS) yang mengalami Anemia,sedangkan


P

pada periode 2018 sebanyak 15 orang wanita usia subur yang anemia dan pada

tahun 2019 meningkat menjadi 35 orang wanita usia subur yang mengalami

anemia.

Berdasarkan uraian data diatas, dapat kita ketahui bahwa anemia pada

Wanita Usia Subur masih tinggi di Indonesia utamanya di Kota Makassar

diwilayah kerja Puskesmas Jongaya. Sehingga memerlukan pencegahan dan

penanganan sesegera mungkin agar tidak menimbulkan peningkatan anemia

pada wanita usia subur, yang berbahaya bagi wanita usia subur. Berdasarkan data

di atas, sehingga penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang Manajemen

Asuhan Kebidanan Anemia pada Wanita usia reproduksi dalam masa

prakonsepsi di Puskesmas Jongaya Makassar.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Memberikan asuhan kebidanan anemia pada WUS (Wanita Usia Subur) dalam

masa prakonsepsi

2. Tujuan Khusus

a. Dilaksanakan pengkajian dan analisa data dasar Anemia pada usia

reproduksi Pra Konsepsi.

b. Dilaksanakan pengidentifikasian diagnosa/masalah aktual Anemia pada

wanita usia reproduksi Pra Konsepsi.

c. Dilakasanakan pengidentifikasian diagnosa/masalah potensial Anemia

pada wanita usia reproduksi Pra Konsepsi.

d. Dilaksanakan tindakan segera dan kolaborasi Anemia pada wanita usia

reproduksi Pra Konsepsi.


e. Dilaksanakan penyusunan rencana tindakan asuhan kebidanan AnemiaP

pada wanita usia reproduksi Pra Konsepsi.

f. Dilaksanakan tindakan asuhan kebidanan Anemia pada wanita usia

reproduksi Pra Konsepsi.

g. Dilaksanakan evaluasi asuhan kebidanan Anemia pada wanita usia

reproduksi Pra Konsepsi.

h. Didokumentasikan evaluasi asuhan kebidanan Anemia pada wanita usia

reproduksi Pra Konsepsi.

C. Manfaat
1. Bagi WUS

Hasil laporan ini dapat digunakan sebagai tambahan informasi dan

pengetahuan agar tahu tentang pentingnya anemia dalam masa prakonsepsi

2. Bagi Tenaga Kesehatan

Hasil laporan ini dapat menjadi masukan yang berguna untuk meningkatkan

pelayanan kesehatan terutama pada WUS normal dan khususnya pada anemia

3. Bagi Universitas Karya Husada

Hasil laporan ini dapat menjadi informasi bagi institusi pendidikan

kebidanan untuk mengetahui dan menambah pengetahuan manfaat asuhan

kebidanan anemia pada WUS dalam prakonsepsi


BAB II

TINJAUN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Remaja

1. Pengertian Remaja

Menurut Abrori [Link]., 2017 masa remaja adalah masa penghubung

atau masa peralihan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Istilah

remaja atau adolescence berasal dari Bahasa latin adolescence (dalam

Bahasa inggris) yang dipergunakan saat ini mempunyai arti yang cukup luas

mencakup kematangan mental, emosiaona, sosial, dan fisik.

Remaja merupaka suatu masa kehidupan individu dimana terjadi

eksplorasi psikologis untuk menentukan identitas diri. Pada masa transisi

dari masa anak-anak kemasa remaja, individu mulai mengembangkan ciri-

ciri abstrak dan konsep diri menjadi lebih berbeda. Remaja mulai

memandang diri dari penilaian dan standar pribadi, tetapi kurang dalam

interpretasi perbandingan sosial (Kusmiran Eny,2011).

Definisi remaja (adolescence) menurut organisasi kesehatan dunia

(WHO) adalah periode usia anatar 10 samapai 19 tahun, sedangakan

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut kaum muda (youth) untuk

usia antara 15 samapai 24 tahun. Sementara itu, the Health Resources and

12
P

Servis Adminitrastion Guidelines Amerika Serikat, rentang usia remaja

adalah 11-21 tahun dan terbagi menjadi tiga tahap, yaitu remaja awal ( 11-14

tahum ), remaja menegah (15-17 tahun) dan remaja akhir (18-21 tahun).

Definisi ini kemudian disatukan dalam terminologi kaum muda (young

people ) yang mencakup 10-24 tahun (Widyastuti dkk,2010).

Batasan usia remaja menurut Depkes RI adalah antara 10 samapai 19

tahun dan belum kawin. Menurut BKKBN adalah 10 samapai 19 tahun

(Andira,2010). Definisi remaja atau “ Adolescence “ menurut Harlock

(1992) berasal dalam Bahasa latin”adolescene” yang berarti “tumbuh” atau

“tumbuh menjadi dewasa”. Istilah Adolescene yang berasal dari bahasa

Inggris saat ini mempunyai arti yang cukup luas mencakup kemetangan

mental, emosiaonal, sosial dan fisik. Sedangakan menurut Piaget

mengatakan bahwa masa remaja adalah usia dimana individu mulai

berintergrasi dengan masyarakata dewasa (Andira,2010).

Definisi remaja sendiri dapat di tinjau dari tiga sudut pandang, anatar

lain :

a. Secara kronologis, remaja adalah individu yang berusia anatara 11-12

tahun sampai 20-12 tahun.

b. Secara fisik, remaja ditandai dengan oleh ciri perubahan pada

penampilan fisik dan fungsi psikologis, terutama yang terkait dengan

kelenjar seksual.
P

c. Secara psikologis, remaja merupakan masa dimana inividu mengalami

perubuahan-perubuahan dalam aspek kongnif, emosi, sosial, dan moral

di antara masa anak- anak menuju masa dewasa (Eny,2011).

Masa remaja adalah masa transisi yang ditandai oleh adanya

perubahan fisisk, emosi dan psikis. Masa remaja, yakni anatar 10 – 19

tahun adalah suara periode masa pematangan organ reprosuksi

manusia, dan sering disebut masa pubertas. Masa remaja adalah

periode peralihan dan masa anak ke masa dewasa.

2. Perkembangan remaja dan ciri- cirinya

Berkaitan dengan kesehatan reproduksi remaja, kita sangat perlu

mengenal perkembangan remaja serta ciri-cirinya. Berdasarkan sifat atau ciri

perkembangannya, masa ( rentang waktu ) remaja ada tiga tahap yaitu :

a. Usia remaja muda (12-15 tahun)

Adapun ciri-ciri perkembangan psikologi pada remaja muda terlihat dari:

1) Sikap protes terhadap orang tua.

2) Preokupasi dengan badan sendiri.

3) Kesetia kawanan dengan kelompok seusia.

4) Kemampuan untuk berfikir secara abstrak.

5) Prilaku yang labil dan berubah-ubah.

b. Uisa remaja penuh (16-19 tahun)

Adapun ciri-ciri perkembangan psikologi pada remaja muda terlihat dari:

1) Kebebasan dari orang tua.

2) Ikatan terhadap pekerjaan atau tugas.


P

3) Pengembagan nilai moral dan etis yang mantap

4) Pengembagan hubungan pribadi yang labil

5) Pernghargaan kembali kepada orag tua dalam kedudukan yang sejajar

(Eny,2011).

3. Masa Transisi Remaja

Pada usia remaja, terdapat masa transisi yang akan dialami. Masa transisi

tersebut anatar lain :

[Link] fisik berkaitan dengan perubahan bentuk tubuh

Bentuk tubuh remaja sudah berbeda dengan anak-anak, tapi belum

sepenuhnya menampilkan bentuk tubuh orang dewasa. Hal ini

menyebabkan kebingungan peran, didukung pula dengan sikap

masyarakat yang kurang konsisten.

b. Transisi dalam kehidupan ekonomi

Perubhaan hormonal dalam tubuh remaja berhubungan erat dengan

peningkatan kehidupan emosi. Remaja sering memperlihatkan ketidak

stabilan emosi.

[Link] dalam kehidupan sosial

Lingkunagan sosial anak semakin besar keluar dari keluarga, di

mana lingkugan teman sebaya mulai memegang peran penting.

Pergesearan ikatan pada teman sebaya merupakan upaya remaja untuk

mandiri (melepaskan ikatan dengan keluarga).

d. Transisi dalam pemahann

Remaja mengalami perkembangan konginitif yang pesat sehingga


P

mulai mengembangkan kemampauan berfikir abstrak (Eny, 2011).

Dalam hubungannya dengan proses perkembangan, masa remaja

merupakan masa transisi dari control ekxternal (paling sering orang tua)

ke control internal. Masa ini merupakan periode yang sangat penting dan

berpengaruh terhadap perkembang pola tingkah laku, yang meliputi pola

makan dan perawatan diri. Sumber-sumber informasi di luar keluarga,

seperti media ( Tv dan radio) dapat menjadi lebih bermakna. Oleh sebab

itu, masa remaja meupakan masa yang tepat untuk intervensi pendidikan

dasar.

Remaja yang terkena anemia lebih banyak di alami pada anak

wanita yang sudah menstruasi. Kurangnya zat besi bisa terjadi pada semua

anak di usia sekolah dari segala lapisan ekonomi. Darah yang keluar dari

tubuh dapat menyebabkan kurangnya zat besi dalam tubuh. Maka jumlah

hemoglobin di dalam sel darah juga akan berkurang, sehingga jumlah

oksigen yang dapat di angkut oleh darah keseluruhan tubuh akan

berkurang. Apalagi pada remaja putri biasanya mulai pilih-pilih makanan,

sehingga dapat mengakibatkan indeks zat besi terganggu (Zein,2010).

B. Tinjauan Umum Tentang Pra Konsepsi

1. Definisi

Masa pra konsepsi merupakan masa sebelum hamil, wanita

prakonsepsi diasumsikan sebagai wanita dewasa atau wanita usia subur yang

siap menjadi seorang ibu, dimana kebutuhan gizi pada masa ini berbeda
P

dengan masa anak- anak, remaja, ataupun lanjut usia (Muh. Nur Qalbi

dkk,2014).

Masa prakonsepsi merupakan periode kritis dalam mencapai hidup

yang sehat, terutama bagi pasangan yang akan membagun rumah tangga.

Prakonsepsi terdiri atas dua kata, yaitu pra dan konsepsi. Pra berarti sebelum

dan konsepsi berarti pertemuan sel ovum dan sel sperma sehingga terjadi

pembuahan. Secara harfiah prakonsepsi adalah periode sebelum terjadinya

pembuhan yaitu pertemuan sel sperma dengan ovum.

Periode prakonsepsi memiliki tentang waktu dari tiga bulan hingga

satu tahun sebelum konsepsi, tetapi idealnya harus mencakup waktu saat

ovum dan sperma matur, yaitu 100 hari sebelum konsepsi. Status gizi dalam

kurun waktu tiga sampai enam bulan pada masa prakonsepsi merupakan

penentu bagi bayi yang akan dilahirkan.

Wanita prakonsepsi diasumsikan sebagai wanita dewasa atau wanita

usia subur (WUS) yang sudah siap menjadi seorang ibu. Pada masa

prakonsepsi kebutuhan gizi pada WUS tentunya berbeda dengan kelompok

remaja, anak-anak maupun lansia. Prasyarat gizi sempurna pada masa

prakonsepsi merupakan kunci kelahiran bayi normal dan sehat

(Susilowati,dkk 2016).

2. Asuhan Gizi Prakonsepsi

Gizi yang optimal pada masa prakonsepsi berperan sangat penting

dalam proses pembuhaan dalam kehamilan. Keadaan kesehatan dan status

gizi ibu hamil sesungguhnya ditentukan jauh sebelumnya, yaitu pada masa

dewasa dan masa sebelum hamil (prakonsepsi) atau selama menjadi wanita

usia subur (WUS)(Indriani dkk, 2013).


Kecukupan gizi ibu hamil akan mempegaruhi konsidi janin dalam
P

tumbuh kembangnya selama kehamilan,menurunkan resiko kesakitan pada

bayi, menunjang fungsi optimal dari alat-alat reproduksi dan meningkatkan

produksi sel telur dan sperma yang berkualitas. Menurut Bappenas (2011)

status gizi janin dalam kandungan di pengaruhi oleh status gizi ibu hamil,

bahkan status gizi ibu pada sebelum hamil.

Kurang gizi pada janin akan menyebabkan bayi berat lahir rendah

(BBLR) karena sejak dalam kandugan janin sudah mengalami kegagalan

pertumbuhan (foetal growth relardation). Bayi dengan kondisi kekuragan

gizi apabila asupan gizinya tidak segera diperbaiki maka akan berdampak

pada pertumbuhan dan perkembagannya, kondisi ini akan berlanjut

samapai dewasa. Salah satu cara untuk memutus siklus ini adalah dengan

cara perbaikan gizi pada masa prakonsepsi (Susilowati dkk, 2016)

Setidaknya akan dua alasan utama mengapa calon ibu harus menjaga

kondisi gizi sebelumn hamil, yaitu :

a. Gizi yang baik akan menunjang fungsi optimal alat-alat reproduksi,

seperti lacarnya proses pematagan sel telur, produksi sel telu dengan

kualitas baik, dan proses pembuhannya yang sempurna.

b. Gizi yang baik berperan penting dalam mempersiapkan cadagan nutrisi

bagi tumbuh kembang janin. Bagi calon ibu, gizi yang cukup dan

seimbang memegaruhi kondisi kesehatan secara menyeluruh pada masa

pembuahan (konsepsi) dan kehamilan.

Pengtahuan dan kesadaraan tentang pentingnya mengonsumsi

sumber makanan yang bergizi selama masa prakonsepsi adalah satu

penyebab kekuragan gizi pada calon ibu. Kekuragan pengetahuan dan

kesadaran seimbang, pola makan yang tidak teratur, komsumsi

berlebihhan terhadap satu atau beberapa jenis makanan, komsusi


junkfood dan diet berlebihan pada masa prakonsepsi harus dihindari
P

sebelum terlambat (Susilowati dkk. 2016).

3. Kebutuhan Gizi pada Masa Prakonsepsi

Kebutuhan gizi pada WUS tentunya mengalami peningkatan jika

dibandingkan dengan kebutuhan sesama bayi dan anak- anak.

(Patimah,2017).

Gizi yang mempegaruhi pada masa prakonsepsi adalah

karabohidrat, lemak, protein, asam folat, beberapa kelompok vitamin

seperti vitamin A, E, dan B12, serta mineral seperti zinc, besi, kalsium, dan

Omega-3(Patimah,2017). Berikut zat gizi yang perlu di perhatikan dalam

masa prakonsepsi agar calon ibu dapat memenuhi kecukupan gizinya:

a. Karbohidrat

Karbohidrat dapat memenuhi 55-57% dari total kebutuhan

energy individu. Karbohidrat merupakan zat gizi yang paling berperan

sebagai penyedia energi bagi ibu dan janin(Fikawati,dkk 2015).

Karbohidrat dengan kadar indeks glikemik yang tinggi akan

mengakibatkan tubuh lebih cepat keying dan berdampak pada resiko

kegemukan. Hal ini di akibatkan oleh tingginya kadar gula sehingga

akan terjadi penumpukan berupa lemak dalam tubuh. Lemak jahat

adalah Trans Fatty Acids (TFA),semakin tinggi kadar TFA maka akan

semakin tinggi resiko seseorang untuk terkena penyakit degeratif

seperti Diabetes.

Hal ini karena lemak yang menumpuk akan menganggu sistem

produksi hormone, isulin dalam tubuh serta dapat merusak kualiatas

sperma pada pria. Karbohidrat yang disarakan adalah kelompok

polisakarida (seperti nasi, jagung, sereal, umbian-umbian) dan

disarakan membatasi komsumsi monosakarida (seoerti gula, sirup,

makanan dan minuman yang tinggi kadar gula) (Susilowati,dkk 2016).


b. Protein P

Protein sangat dibutuhkan oleh tubuh, protein tersusun oleh

asam amino, dan salah satunya adalah arginin. Arginin berfungsi

memperkuat daya tahan hidup sperma dan mencegah

kemandulan mengkomsumsi sumber protein dapat membantu

merangsang produksi hormon estrogen pada wanita dimana hormone

ini berfungsi untuk menguragi peradagan serta kram pada saat

menstruasi. Selain itu protein berperan penting dalam pembentukan

dan pemeliharaan sel yang menunjang pertumbuhan janin,

perbanyaknya sel payudara, rahim dan plasma. Protein juga dapat

menjadi cadangan energi. Cadagan ini dipakai untuk persiapan

persalinan, masa sehabis melahirkan, dan menyusui. Sebaiknyaa 2/3

porsi protein yang dikomsumsi berasal dari sumber protein yang

bernialai biologi tinggi, yaitu bersumber dari protein hewani, seperti

daging, ikan, telur, susu dan hasil olahannya (Fikawati,dkk 2015)

c. Vitamin C

Vitamin C berperan penting untuk fungsi indung telur dan

pembentukan sel telur. Selain sebagai antioksida (bekerja sama

dengan vitamin E dan karoten), vitamin C berperan melindungi sel-sel

organ tubuh dari serangan radikal bebas (oksida) yang mempegaruhi

kesehatan sistem produksi.

d. Asam Folat (Vitamin B9)

Asam folat berperan pada masa pembuahan dan kehamilan

trimester pertama. Kecukupan asam folat terbukti dapat mengurangi

bayi lahir dengan resiko kecacatan sistem syaraf dengan neural tube

defect (NTD) seperti spina bifida sebanyak 70%. Asam folat juga
P

dibutuhkan untuk pembelahan sel normal dan sangat penting selama

periode pertumbuhan dan perkembagan janin.

e. Vitamin B6

Definisi vitamin B6 akan mengakibatkan terjadinya ketidak

seimbagan hormon. Padahal, keseimbagan hormone estrogen dan

progestreron penting untuk terjadinya kehamilan. Bersama dengan

asam amino vitamin B6 akan mensintesis hemoglobin Dan

mengangkut pembentukan hem yang berdampak pada terjadinya

anemia (Patimah 2017).

f. Vitamin D

Kekuragan vitamin D akan menurukan kesuburan hingga 75%

serta gangguan metabolisme kalsium pada ibu dan janin. Sumber

vitamin D diproduksi di dalam tubuh dengan bantuan matahari, selain

itu dapat diperoleh dari susu, telur, mentega, keju, minyak ikan, ikan

tuna, dan ikan salmon.

g. Vitamin B12

Kekuragan vitamin B12 dapat menyebabkan gangguan sintesis

DNA dan kekuragan dari hematopoiesis yang menimbulkan

peningkatan anemia, ditandai oleh sel darah merah lebih besar dari

pada ukuran normal (anemia makrositik), serta dapat berdampak pada

perkembagan organ janin yang abnormal yang nantinya akan

berakibat cacat bawaan, jenis makanan yang mengandung asam folat


P

yaitu hati, sayuran hijau, kacang-kacangan, daging, jeruk dan telur

(Fikawati, dkk 2015).

h. Vitamin A

Di dalam vitamin A digunakan untuk mensistesi Hb dan

memobilisasi cadagan besi ke jarigan tubuh untuk membagun sel darah

baru (IHE Report dalam patimah 2017). Kekuragan vitamin A

menyebabkan gangguan pengangkutan zat besi dari tempat

penyimpanan di dalam tubuh (hepar, sumsum tulang, sel-sel

retikuloendithel) kedalam sirkulasi dan konsekuensinya terhadap

hematopoietic jarigan tubuh. Suplementasi vitamin A dapat

memperbaiki kadar hemoglobin. Kuning telur, hati dan mentega

tergolong makanan yang banyak mengadung vitamin A. Selain itu,

sayuran berwarna hijau dan buah-buahan berwarna kuning,, terutama

wortel, tomat, apel, nangka juga merupakan sumber vitamin A

(Fikawati,dkk 2015).

i. Vitamin E

Vitamin E berperan dalam stabilitas membran sel darah

merah, meningkatkan fungsi dan daya tahan sel darah merah. Vitamin

E yang tidak adekuat mengakibatkan dampak yang buruk pada sel

darah merah. Ketika PUFA dalam membran lipid darah dari sel darah

merah terkena radikal bebas, maka membran akan pecah, isi sel

menghilang, dan sel menajdi rusak. Kehilagan sel darah merah secara

terus menerus dapat mengakibatkan anemia hemolitik (Patimah 2017).


P

j. Zinc

Zinc sangat penting bagi calon ibu karena dapat membantu

produksi materi genetik ketika pembuahan terjadi. Zinc berperan

penting dalam pertumbuhan organ seks dan juga berkontribusi untuk

produksi ovum sera kesuburan pada wanita (Patimah 2017).

k. Zat Besi

Kekuragan Zat besi pada calon ibu dapat menyebabkan

anemia dengan gejala lelah, sulit konsentrasi, dan gampang infeksi. Zat

besi (Fe) juga berperan dalam proses memperlancar ovulasi. Ketika

terjadi ketidak seimbagan besi akan menimbulkan gangguan

perkembagan dari anemia karena kekuragan zat besi yang merupakan

rangkain dari perubahan cadangan zat besi, transport besi, akhirnya

terhadap fungsi metabolic yang terkait dengan zat besi. Sumber

makanan yang mengadug zat besi adalah hati, daging, telur, kacang-

kacangan, dan sayuran berwarna hijau.

l. Kalsium

Kalsium sangat dibutuhkan pada masa sebelum kehamilan,

karena simpanan kalsium yang cukup akan mengcegah kelainan

tulangpada janin. Selain itu kekuragan kalsium dapat mengakibatkan

janin mengambil persedian kalsium pada tulang ibu yang

menyebabkan ibu menderita kerapuhan tulang atau osteoporosis.

Sumber kalsium berasal dari susu dan hasil olahannya seperti keju,

serta kacang-kacangan dan sayuran hijau (Fikawati,dkk 2015).


P

m. Fostor

Kecukupan zat fostor diperlukan agar pembuhaan dapat

berlangsung dengan baik. Fostor berhubungan dengan kalsium,

sebagian besar kedua zat gizi ini berbentuk garam kalsium fosfat di

dalam jarigan keras tubuh yaitu tukang dan gigi. Zat gizi ini bisa

ditemui pada makanan berkalsium tinggi, seperti susu dan ikan teri.

n. Selenium

Selenium berkontribusi terhadap terjadinya anemia melalui

pemeliharaan konsentrasi optimal glutation perioxidase yang

merupakan antiolsida seleno-enzim penting dalam eritrosit. Glutation

perixoidase membantu melindungi,hemoglobin melawan oksida

(radikal bebas) dalam eritrosit (Patimah 2017).

o. Asam lemak Omega-3

Jenis asam lemak omega-3 yang sanagt bermanfaat pada calon

ibu adalah eicosapentaeonic acid (EPA) dan docosahexaeonic acid

(DHA). EPA dan DHA mampu menunjang fungsi otak, mata, dan

sistem saraf pusat sehingga penting bagi ibu pasa masa kehamilan.

Peningkatan komsumsi omega-3 terbukti dapat mencegah bayi lahir

premature dan dapat meningkatkan berat badan bayi saat lahir,

makanan yang menjadi sumber omega-3 adalah ikan dan makanan laut

lainnya (Sulilowati,dkk 2016).


P

4. Permasalahan Gizi Masa Prakonsepsi

Masalah gizi yang terjadi pada wanita subur (WUS) dapat berakibat

intergenerasi. Siklus intergenerasi dari gagal tumbuh, pertama kali

dijelaskan oleh The Second Report on The World Nurtition Siluation

(Gambar 1.) yang menjelaskan bahwa bagaimana siklus gagal tumbuh

berawal dari keadaan gizi calon ibu yang buruk. Teori tersebut

menyebutkan bahwa Wanita Usia Subur (WUS) yang mengalami kurang

Energi Kronik (KEK) akan memiliki resiko untuk melahirkan bayi BBLR

dari pada wanita yang tidak KEK. Anak yang lahir dengan kondisi BBLR

akan mengalami kegagalan dalam pertumbuhan dan perkembagannya.

Demikian halnya dengan anak perempuan yang lahir dengan kondisi BBLR

maka kemungkinan memiliki postur tubuh pendek lebih besar. Cara untuk

memutus mata rantai tersebut adalah dengan memperbaiki status gizi WUS

sehingga bayi yang dilahirkan nantinya akan sehat dan normal.

Gambar.1 Siklus Gangguan Pertumbuhan Intergenerasi

Sumber: Patimah,2017
P

Kerusakan di awal kehidupan akan menibulkan gangguan permanen,

juga dapat mempegaruhi generasi berikutnya, dimana perempuan yang

memiliki postur tubuh pendek, kelak akan melahirkan bayi BBLR pula

nantinya (Patimah 2017). Berat-rigannya gagal tumbuh bergantung pada

statsu gizi sebelum dan selama kehamilan, keadann kekuragan zat gizi, serta

dapat menyebabkan BBLR, kurangnya jumlah sel-sel otak dan ukuran

kepala, rendahnya ukuran organ-organ tubuh yang lain, perubahan sel-sel

utama tubuh, dan organ-organ tubuh yang lain, perubahan sel-sel utama

tubuh, dan perubahan proses biokimia, serta kematian. Namun jika anak

tersebut lahir dan bertahan hidup, maka perubuahan yang bersifat permanen

terhadap struktur tubuh, fisiologi dan metabolisme akan menjadi predisosisi

untuk mengalami penyakit kordiovaskular (jantung, hioertensi), gangguan

metabolik dan endokrin pada saat usia dewasa.

Nutrisi yang tidak adekuat pada WUS akan mengakibatkan

manifestasi penyakit seperti kurang energy protein (KEK) yang akan

mengakibatkan anemia dan defiensi zat mikronutrien, sehingga akan

berdampak buruk bagi bagi calon ibu. Janin, maupun bayi yang akan

dilahirkan, osteomalasia, dan kelelahan yang berlebihan serta mudah

terkena infeksi selama kehamilan (Fauziyah,2012).

Kurang energi kronik (KEK) didefinesikan sebagai suatu keadaan

kekuragan energy dalam kurun waktu yang lama yang ditandai dengan

ukuran lingkar legan atas (LILA) <23,5 cm (Almatier,2011).


P

Kekuragan energy kronik mengakibatkan perawakan tubuh yang

pendek (tinggi badan <145cm) merupakan penyebab terjadinya hambatan

pertumbuhan dan maturasi, memperbesar resiko obstetric (kandugan), dan

berkurangnya kapasitas kerja. WUS yang kekuragan akan berisiko

mengalami komplikasi kehamilan, seperti persalinan macet akibat pengual

yang sempit, janin yang dikandung mengalami

gangguan pertumbuhan (intra uterine growth retardation), bayi lahir berat

dengan berat badan rendah (BBLR) hingga tiga generasi berikutnya, bayi

lahir prematur, lahir mati (stillbirths), dan kematian dimasa neonatal (dari

lahir-28 hari kelahiran) (Patimah 2017).

Kurang energi kronik (KEK) adalah masalah gizi yang sering

menimpa WUS. Berdasarkan hasil indeks pembagunan kesehatan

masyarakat (PKM) tahun 2013 prevalensi KEK pada WUS di Indonesia

menunjukan angka sebesar 20,97%. Salah satu dampak KEK pada WUS

adalah anemia gizi besi (AGB). Seeorang dikatakan anemia apabila kadar

Hemoglobin berada dibawah 12gr/dL yang akan menyebabkan penurunan

kapsitas darah untuk membawa oksigen.

Dampak dari ibu hamil yang menderita anemia secara signifikan

dapat meningkatkan resiko kelahiran premature sesuai derajat keparahan

anemia. WUS yang menderita anemia berat mempunyai resiko 3,8 kali

lebih besar melahirkan bayi berat lahir rendah dibandingkan WUS yang

tidak anemia (BBLR) (Patimah, 2017). Prevalensia anemia WUS di negara

berkembang diperkirakan sebesar 43% (Sudikno dan Sandjaja, 2016)


P

sedangkan berdasarkan hasil Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa

prevalensi anemia WUS di Indonesia sebesar 35,3%.

5. Faktor yang mempegaruhi Status gizi

Secara umum, status gizi dipegaruhi oleh tingkat asupan dan

penyakit infeksi yang menganggu proses metabolisme, aborpsi, dan ulitas

zat gizi oleh [Link] gizi wanita usia subur (WUS) merupakan

kondisi tubuh yang muncul diakibatkan adanya kesinambungan Antara

konsumsi dan defisiansi zat gizi. Masalah gizi yang terjadi pada remaja

merupakan manifestasi dari masalah gizi pada usia anak, yaitu anemia zat

besi, serta kekurangan maupun kelebihan berat badan. WUS yang secara

fisik tidak ideal akan berisiko melahirkan bayi berat badan rendah, jika

janin yang dikandung tumbuh normal, jalan lahir kemudian yang menjadi

masalah. Karena ukuran panggul yang sempit dapat menyebabkan partus

macet.

Ketidak berhasilan janin melewati lorong kelahiran secara alami

tidak jarang menyebabkan kematian (Patimah 2017). Selain ada beberapa

faktor yang mempengaruhi status gizi WUS sebelum memasuki masa

kehamilan, diantaranya:

a. Umur

Umur WUS pada saat pertama kali hamil kurang dari 20

tahun dan lebih dari 35 tahun merupakan kehamilan yang beresiko.

Hal ini dapat dijelaskan, bahwa pada usia yang masih muda

pertumbuhan seorang wanita belum sempurna, perkembangan alat


P

reproduksi belum optimal, dan secara psikologis kejiwaan masih

belum siap untuk memasuki masa kehamilan (Sharon, dkk 2017).

Selain itu, Kehamilan di usia muda menjadi sebuah

masalah karena akan memberikan konsekuensi terhadap gangguan

obstetric dan outcome neonatal secara biologi hal ini disebabkan

kebutuhan zat gizi yang seharusnya hanya untuk pertumbuhan

WUS maka apabila sedang hamil akan terbagi dengan janin yang

dikandungnya, akibatnya WUS akan berisiko mengalami

komplikasi kehamilan (Baker, et al, 2009) . Adapun kehamilan

diatas umur 35 tahun, terjadinya komplikasi seperti anemia

disebabkan oleh kemunduran fungsi faal tubuh dan kemungkinan

berisiko hipertensi, diabetes, dan beberapa penyakit lainnya

sehingga dapat menyebabkan terjadinya gangguan terhadap

pendarahan, serta turunnya metabolisme tubuh dan kemampuan

absorpsi tubuh terhadap zat besi (Patimah 2017).

b. Pendidikan

Pendidikan merupakan suatu faktor yang memengaruhi persepsi

seseorang agar mereka dapat menerima ide-ide baru. Bagi seorang

wanita, pendidikan adalah sebuah media yang sangat

memengaruhi perubahan seperti pengendalian status kesehatan

dan fertilitasnya. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang

makan akan semakin mudah menerima informasi yang ada

termasuk mengenai gizi. Fauziyah (2012) menyatakan dalam


P

penelitiannya bahwa semakin lama seorang wanita menerima

pendidikan maka semakin besar kemungkinan untuk menerapkan

praktik hidup sehat.

c. Status Gizi

Status gizi WUS pada masa prakonsepsi meruoakan faktor

utama yang mempengaruhi hasil konseps, selain multiparitas, jarak

kehamilan, dan keadaan kesehatan ibu. WUS yang sebelum masa

kehamilannya memiliki status gizi baik maka akan lebih mudah

untuk menjalani dan memelihara kemailan, dibandingkan dengan

WUS yang kurus atau obesitas. Akan tetapi di Indonesia masih

banyak WUS yang mengalami masalah gizi seperti anemia dan

KEK. (Fauziyah 2012).

Anemia yang dialami oleh WUS sebelum memasuki masa

prakonsepsi biasanya adalah anemia yang disebabkan karena

defisit zat besi dan berdasarkan Riskesdas (2013) sebanyak 35,3%

WUS menderita anemia. Anemia defisiensi besi ditandai dengan

hemoglobin kurang dari 12 gram/dl dan konsentrasi serum ferritin

kurang dari 12 mcq/dl, secara fisik seseorang yang anemia akan

mengalami kondisi rambut rapuh, kuku tipis. Mudah patah dan

berbentuk seperti sendok (koilonika), lidah tampak pucat hal in

disebabkan oleh atropi yang terjadi pada papila lidah, serta bibir

pecah-pecah.
P

Kurang energi kronik (KEK) adalah masalah gizi utama

ynag dialami wanita, sebanyak 20,97% WUS di Indonesia

mengalami KEK (IPKM, 2013). Ciri utama wanita yang

mengalami KEK adalah ukuran lingkar lengan atas (LILA) kurang

dari 23,5 cm. WUS yang menderita KEK akan berisiko melahirkan

bayi berat lahir rendah. Dampak lain yang akan dialami adalah

cepat lelah, penurunan daya tahan tubuh terhadap infeksi hingga

munculnya penyakit degeneratif.

C. Anemia

1. Pengertian

a. Anemia merupakan suatu keadaan kadar hemoglobin (Hb) di dalam

darah lebih rendah daripada nilai normal untuk kelompok orang

menurut umur dan jenis kelamin. Hemoglobin adalah zat warna di

dalam darah yang berfungsi mengangkut oksigen dan karbondioksida

dalam tubuh.

b. Anemia adalah keadaan berkurangnya jumlah eritrosit atau

hemoglobin (protein pembawa O2) dari nilai normal dalam darah

sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa O 2 dalam

jumlah yang cukup ke jaringan perifer sehingga pengiriman O2 ke

jaringan menurun.

c. Anemia adalah penurunan kapasitas darah dalam membawa oksigen

akibat penurunan produksi sel darah merah, dan atau penurunan

hemoglobin (Hb) dalam darah. Anemia sering di definisikan sebagai


P

penurunan kadar Hb dalam darah sampai dibawah rentang normal 13,3

gr% (pria), 11,5 gr% (wanita dan 11 gr% (anak-anak) (fraser,Diare M,

2009).

d. Anemia adalah penurunan kapasitas darah dalam membawa oksigen;

hal tersebut dapat terjadi akibat penurunan sel darah merah (SDM), dan

/ atau penurunan hemoglobin (Hb) dalam darah. (Fraser Diane dan

Cooper A marganet, 2009).

Dari pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa anemia

adalah suatu keadaan dimana kadar Hb dalam tubuh di bawah batas normal

karena dipengaruhi oleh berbagai hal yang mengakibatkan penurunan

kapasitas pengangkut oksigen darah.

2. Etiologi

Anemia dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain :

a. Gangguan pembentukan eritrosit

Gangguan pembentukan eritrosit terjadi apabila terdapat defisiensi

substansi tertentu seperti mineral (besi, tembaga), vitamin (B12, asam

folat), asam amino, serta gangguan pada sumsum tulang.

b. Perdarahan

Perdarahan baik akut maupun kronis mengakibatkan penurunan total

sel darah merah dalam sirkulasi.

c. Hemolisis

Hemolisis adalah proses penghancuran eritrosit.


P

Secara umum penyebab anemia adalah:

a. Kekurangan zat gizi dalam makanan yang di komsumsi.

b. Penyerapan zat besi yang tidak optimal, misalnya karena diare,

pembedahan saluran pencernaan.

c. Kehilangan darah yang disebabkan oleh perdarahan menstruasi yang

banyak, perdarahan akibat luka, perdarahan karena penyakit tertentu,

kanker (Tarwoto [Link],dkk.2007:13).

3. Batas Normal Kadar Hb dan Metode Pengukuran Hb

Hemoglobin adalah metaloprotein pengangkut oksigen yang

mengandung besi dalam [Link] adalah suatu zat di dalam sel

darah merah yang berfungsi mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh

tubuh.

Hemoglobin terdiri oleh 4 molekul zat besi ( Hame ), 2 Molekul rantai

Globin Alpa dan 2 molekul rantai globin beta. Rantai globin alpha dan beta

adalah protein yang produksinya disandi oleh gen globin alpha dan beta

(Yuni, 2015).

Kadar hemoglobin pada setiap golongan berbeda, kadar hemoglobin

bervariasi tergantung umur dan jenis kelamin.

Tabel 1
Batas Normal Kadar Hemoglobin (Hb)
N Kelompok Hemoglobin (gr/dl)
o
1 Bayi Baru Lahir 17-
22
2 Bayi 1 Minggu 15-
20
P

3 Bayi 1 Bulan 11-


15
4 Anak-anak 11-
13
5 Remaja Laki-laki 14-
18
6 Remaja Putri 12-
16
7 Laki-laki Dewasa 14-
18
8 Wanita Dewasa 12-
16
9 Laki-laki Paruh Baya 12,4-
14,9
1 Wanita Paruh Baya 11,7-
0 13,8
Sumber :(Yuni, 2015)

Beberapa metode pengukuran Hb yang dapat digunakan yaitu:


a. Pemeriksaan Hb dengan metode Sahli, dalam peggunaan metode ini Hb

dihidrolisis dengan HCL (asam klorida) menjadi globin ferrp-hem

(Supariasa, 2001).

b. Pemeriksaan Hb dengan metode Cyanmethemoglobin, yaitu cara

pemeriksaan hemoglobin dengan menggunakan larutan Drabskin dan

diukur dengan alat spektrofotometer pada panjang gelombang

tertentu (Supariasa, 2001).

c. Pemeriksaan Hb dengan metode hemocue, metode ini dilakukan

dengan pengukuran optical density pada kuvet yang mempunyai

kapasitas volume sebesar 10 mikroliter oleh sinar yang berasal dari

lampu berjarak 0.133 milimeter sampai pada dinding parallel celah

optis tempat kuvet berada. Prinsip system hemocue terdiri dari

pembaca hemoglobin kecil portable, dan memakai mikrocuvettes


P

sekali pakai.

4. Penyebab Anemia

Beberapa jenis anemia dapat diakibatkan oleh defisiensi zat besi,

infeksi atau ganguan genetic, yang paling sering terjadi adalah anemia yang

disebabkan oleh kekurangan asupan zat besi. Kehilangan darah yang cukup

banyak, seperti saat menstruasi, kecelakaan dan donor darah berlebihan juga

dapat menghilangkan zat besi dalam [Link] yang mengalami

menstruasi setiap bulan berisiko menderita anemia. Kehilangan darah secara

perlahan-lahan di dalam tubuh, seperti ulserasi polip kolon dan kanker kolon

juga dapat menyebabkan anemia.(Briawan, 2014).

Selain zat besi, masih ada dua jenis lagi anemia yang sering timbul

pada anak-anak, remaja dan wanita usia subur. Aplastik anemia terjadi bila

sel yang memproduksi butiran darah merah tidak dapat menjalankan

tugasnya. Hal ini dapat terjadi karena infeksi virus, radiasi, kemoterapi atau

obat tertentu. Adapun jenis berikutnya adalah haemolityc anemia, yang

terjadi karena sel darah merah hancur secara dini, lebih cepat dari

kemampuan tubuh untuk memperbaharuinya. Penyebab anemia jenis ini

bermacam-macam, bisa bawaan seperti talasemia atau sickle cell

anemia(Adriani & Wirjatmadi, 2014).

5. Gejala Anemia

Menurut Natalia Erlina Yuni (2015) dalam bukunya yang berjudul

kelainan darah menyebutkan gejala anemia sebagai berikut:

a. Kulit Pucat
P

b. Detak Jantung Meningkat.

c. Sulit Bernafas.

d. Kurang Tenaga atau cepat lelah,

e. Pusing terutama saat berdiri.

f. Sakit kepala,

g. Siklus menstruasi tidak menentu.

h. Lidah yang bengkak dan nyeri.

i. Kulit mata dan mulut berwarna kuning, limpa atau hati membesar,

penyembuhan luka atau jaringan yang terganggu.

6. Dampak Anemia

Anemia memiliki dampak buruk pada kesehatan bagi

penderitanya, terutama pada golongan rawan gizi yaitu, anak balita, anak

sekolah, remaja, wanita usia subur,ibu hamil dan menyusui dan juga

pekerja.

Menurtut (Fikawati, Syafiq, & Veretamala, 2017) dampak anemia

sebagai beritkut:

a. Menurunkan Daya tahan terhadap infeksi

Defisiensi zat besi menyebabkan menurunnya daya tahan terhadap

penyakit infeksi (Thompson & Ward, 2008) dan meningkatnya

kerentanan mengalami keracunan (Bersamin et al., 2008).

Pada populasi yang mengalami kekurangan zat besi, kematian akibat

penyakit infeksi meningkat karena kurangnya zat besi berdampak pada

system imun.
P

b. Mengganggu Produktivitas kerja

Selain itu, anemia juga berdampak pada produktivitas kerja dan juga

menyebabkan kelelahan .

c. Berdampak saat kehamilan

Anemia yang terjadi pada massa hamil berhubungan dengan kejadian

BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah) dan peningkatan risiko kematian ibu

dan bayi perinatal. Selama kehamilan, anemia diasosiasikan dengan

peningkatan kesakitan dan [Link] tingkat berat diketahui

merupakan faktor risiko kematian [Link] janinnya sendiri, anemia

selama kehamilan dapat meningkatkan risiko BBLR, kelahiran

prematur, dan defisiensi zat besi serta anemia pada bayi nantinya.

7. Pencegahan Anemia dan penanggulangan Rematri dan WUS

Anemia dapat dicegah dengan cara:

a. Meningkatkan konsumsi makanan bergizi.

b. Makan makanan yang banyak mengandung zat besi dari bahan

makanan hewani (daging, ikan, ayam, hati, telur) dan bahan makanan

nabati (sayuran berwarna hijau tua, kacang-kacangan, tempe.

c. Makan sayur-sayuran dan buah-buahan yang banyak mengandung

vitamin c (daun katuk, daun singkong, bayam, jambu, tomat, jeruk dan

nenas) sangat bermanfaat untuk meningkatkan penyerapan zat besi

dalam usus.

d. Menambah pemasukan zat besi kedalam tubuh dengan minum Tablet

Tambah Darah (TTD). Mengobati penyakit yang menyebabkan atau


P

memperberat anemia seperti: kecacingan, malaria, dan penyakit TBC.

Upaya pencegahan dan penanggulangan anemia dilakukan

dengan memberikan asupan zat besi yang cukup ke dalam tubuh untuk

meningkatkan pembentukan haemoglobin. Upaya yang dapat

dilakukan adalah:

a. Meningkatkan asupan makanan sumber zat besi

Meningktkan asupan makanan sumber zat besi dengan pola

makan bergizi seimbang, yang terdiri dari aneka ragam makanan,

terutama sumber pangan hewani yang kaya zat besi (besi heme)

dalam jumlah yang cukup sesuai dengan [Link] itu juga

perlu meningkatkan sumber pangan anabatic yang kaya zat besi

(besi non- heme), walaupun penyerapannya lebih rendah

dibanding dengan hewani. Makanan yang kaya sumber zat besi

dari hewani contohnya hati, ikan, daging dan unggas, sedangkan

dari nabati yaitu sayuran berwarna hijau tua dan kacang-kacangan.

b. Fortifikasi bahan makanan dengan zat besi

Fortifikasi bahan makanan yaitu menambahkan satu atau

lebih zat gizi kedalam pangan untuk meningkatkan nilai gizi pada

pangan [Link] zat gizi dilakukan pada industry

pangan, untuk itu disarankan membaca label kemasan untuk

mengetahui apakah bahan makanan tersebut sudah difortifikasi

dengan zat [Link] yang sudah difortifikasi di Indonesia

antara lain tepung terigu, beras, minyak goreng, mentega, dan


P

beberapa snack.

c. Suplementasi zat besi

Pada keadaan dimana zat besi dari makanan tidak

mencukupi kebutuhan terhadap zat besi, perlu didapat dari

suplementasi zat besi. Pemberian suplementasi zat besi secara

rutin selama jangka waktu tertentu bertujuan untuk meningkatkan

kadar hemoglobin secara cepat, dan perlu dilanjutkan untuk

meningkatkan simpanan zat besi didalam tubuh.

Suplementasi Tablet Tambah Darah (TTD) Pada Rematri

dan WUS merupakan salah satu upaya pemerintah Indonesia

untuk memenuhi asupan zat besi. Pemberian tablet tambah darah

(TTD) dengan dosis yang tepat dapat mencegah anemia dan

meningkatkan cadangan zat besi di dalam tubuh.

Di beberapa Negara lain seperti: India, Bangladesh, dan

Vietnam, Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) dilakukan 1 kali

seminggu dan hal ini berhasil menurunkan prevalensi anemia di

Negara tersebut.

Berdasarkan penelitian di Indonesia dan di beberapa negar

lain tersebut, maka pemerintah menetapkan kebijakan program

pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) pada remaja putri

(rematri) dan wanita usia subur (WUS) dilakukan setiap 1 kali

seminggu dan sesuai dengan permenkes yang berlaku.

Untuk meningkatkan penyerapan zat besi sebaiknya Tablet


P

Tambah Darah (TTD) dikonsumsikan bersama dengan :

1) Buah –buahan sumber vitamin C ( jeruk, papaya, manga, jambu

biji dan lain-lain).

2) Sumber protein hewani, seperti hati, ikan, unggas dan daging.

3) Hindari mengonsumsi tablet tambah darah (TTD) bersamaan

dengan: Teh dan kopi karena mengandung senyawa fitat dan

tannin yang dapat mengikat zat besi menjadi senyawa yang

kompleks sehingga tidak dapat diserap.

4) Tablet kalsium dosis yang tinggi, dapat menghambat penyerapan

zat besi. Susu hewani umumnya mengandung kalsium dalam

jumlah yang tinggi sehingga dapat menurunkan penyerapan zat

besi di mukosa usus.

D. Anemia Remaja

Anemia adalah suatu keadaan ketika kadar hemoglobin (Hb) dalam darah

berkurang dari normal, dengan berkurangnya hemoglobin dari normal maka

kemampuan sel darah merah untuk membawa oksigen keseluruh tubuh

berkurang. Akibatnya, tubuh kita kurang mendapatkan pasokan oksigen yang

menyebabkan tubuh lemas dan dapat terjadi karena sejak bayi sudah anemia,

infeksi cacing tambang, kurangnya asupan zat besi (Yuni, 2018).

Seseorang dikatakan menderita anemia apabila kadar Hemoglobin

dibawah 13gr% bagi pria dewasa, dan bagi remaja dibawah 12gr% dan kurang

daei 11gr% bagi anak-anak usia 5tahun sampai masa pubertas, dan apabila Hb

dibawah normal maka distribusi oksigen juga tidak normal maka akibatnya
P

fungsi tubuh juga terganggu. Contohnya pada otot maka akan mudah terasa

lelah bila melakukan akitivitas sebentar saja (Zein, 2010).

Anemia merupakan salah satu masalah gizi di Indonesia, anemia sangat

sering terjadi pada anak-anak sekolah terutama remaja putri. Remaja putri

berisiko tinggi menderita anemia, karena pada masa ini terjadi peningkatan

kebutuhan zat besi akibat adanya pertumbuhan dan menstruasi, aktifitas

sekolah, perkuliahan maupun berbagai aktifitas yang tinggi akan berdampak

pada pola makan yang tidak teratur, selain itu kebiasaan mengkinsumsi

minuman yang menghambat absorbsi zat besi akan mempengaruhi kadar Hb

seseorang (Tiaki,2017).

Briawan, 2012 Menyatakan bahwa anemia disebabkan oleh penurunan

produksi sel darah merah dan hemoglobin, peningkatan pengrusakan sel-sel

merah (hemolisis) atau kehilangan darah karena perdarahan berat. Anemia

didefinisikan suatu keadaa n yang mana nilai Hb dalam darah lebih rendah

dari keadaan normal (WHO, 2010). Batas kadar normal Hb untuk kelompok

orang ditentukan menurut umur dan jenis kelamin seperti yang diperlihatkan

dalam tabel 2.1 dibawah ini :


P

Tabel 2.1

Batas Normal Kadar Hb Menurut Umur dan Jenis Kelamin

Kelompok Um Hb
ur (gr/dl)
6 bulan - 59 bulan 1
1
Anak-anak 5 - 11 tahun 11,
5
12-14 tahun 1
2
wanita > 14 tahun 1
2
Dewasa wanita hamil 1
1
laki-laki >14 tahun 1
3
Sumber: WHO,2010

Berdasarkan etiologinya, (Titin, 2015) menerangkan anemia dapat

dibagi menjadi dua. Penyebab utama adalah meningkatnya kehilangan sel

darah merah dan gangguan atau penurunan pembentukan sel. Meningkatnya

kehilangan sel darah merah dapat disebabkan oleh perdarahan dan

penghancuran sel. Perdarahan dapat disebabkan oleh trauma atau luka,

perdarahan kronik karena polip pada kolon, penyakit keganasan, hemoroid,

dan menstruasi yang abnormal.

Etiologi yang kedua adalah pembantukan sel darah merah yang

terganggu. Setiap keadaan yang mempengaruhi sumsum trulang dimasukkan

dalam kelompok ini, seperti :

1. keganasan yang tersebar seperti kanker, obat dan zat toksik, serta radiasi.
P

2. Penyakit menahun melibatkan ginjal dan hati, infeksi dan defisiensi

endokrin. Kekurangan vitamin-vitamin penting seperti vitamin B12,

vitamin C dan zat besi juga dapat mengakibatkan pembentukan sel darah

merah tidak efektif sehingga menimbulkan anemia.

Menurut Titin,2015, terdapat tiga faktor yang mempengaruhi

timbulnya anemia, yaitu :

1. Sebab langsung, yaitu karena ketidakcukupan zat besi dan infeksi

penyakit.

Kurangnya zat besi dalam tubuh disebabkan karena kurangnya asupan

makanan yang mengandung zat besi, makanan cukup, namun

bioavailabilitas rendah, serta makanan yang dimakan mengandung zat

penghambat absorpsi besi. Infeksi penyakit yang umumnya memperbesar

resiko anemia adalah cacing dan malaria.

2. Sebab tidak langsung, yaitu rendahnya perhatian keluarga terhadap

wanita, aktifitas wanita tinggi, pola distribusi makanan dalam keluarga

dimana ibu dan anak wanita tidak menjadi prioritas.

3. Sebab mendasar yaitu masalah ekonomi, antara lain rendahnya

pendidikan, redahnya pendapatan, status sosial yang rendah dan lokasi

geografis yang sulit

Menurut Depkes (2016), penyebab anemia pada remaja putri dan

wanita adalah:

1. Pada umumnya konsumsi makanan nabati pada remaja putri dan wania

tinggi, dibanding makanan hewani sehingga kebutuhan Fe tidak


P

terpenuhi.

2. Sering melakukan diet (pengurangan makan) karena ingin langsing dan

mempertahankan berat badannya.

3. Remaja putri dan wanita mengalami menstruasi tiap bulan yag

membutuhkan zat besi tiga kali lebih banyak dibanding laki-laki.

WHO (2010) menetapkan batasan prevalensi anemia yang

merupakan masalah kesehatan masyarakat dapat dilihat dalam tabel 2.2

berikut :

Tabel 2.2
Ketentuan Masalah Kesehatan Masyarakat Berdasarkan
Prevalensi Anemia

Kategori Masalah
Prevalensi Anemia

Kesehatan Masyarakat

Tidak masalah < 4,9

Ringan 5,0 – 19,9

Sedang 20,0 – 39,9

Berat >40,0

Sumber: WHO, 2010

Berdasarkan batasan hemoglobin, WHO 2010 juga melakukan

klasifikasi anemia, yaitu normal atau tidak anemia, anemia ringan,

anemia sedang, anemia berat, dan anemia sangat berat. Batasan

hemoglobin untuk setiap klasifikasi, dapat dilihat pada tabel 2.3 di bawah

ini :
P

Tabel 2.3 Klasifikasi Anemia Berdasarkan Batasan Hemoglobin

Klasifikasi Batasan

Anemia Hemoglobin

Normal 12 – 14 gr/dl

Ringan 11 – 11,9 gr/dl

Sedang 8 – 10,9 gr dl

Berat 5 – 7,9 gr/dl

Sangat Berat < 5 gr/dl

Sumber:WHO, 2010.

E. Manajemen Kebidanan

1. Pengertian Manajemen Asuhan Kebidanan

Manajemen kebidanan adalah suatu metode atau bentuk pendekatan

yang digunakan oleh bidan dalam memberi asuhan kebidanan. Langkah-

langkah dalam manajemen kebidanan menggambarkan alur pola berpikir

dan bertindak dalam mengambil keputusan klinis dalam menyelesaikan

masalah (Yulifah & Surachmindari, 2014: 125-137).

Proses asuhan kebidanan yang telah dilakukan harus dicatat secara

benar, singkat, jelas danlogis dalam suatu metode pendokumentasian yang

dapat mengomunikasikan kepada orang lain mengenai asuhan yang telah

dilakukan dan yang akan dilakukan pada seorang klien, yang didalamnya

tersirat proses berpikir yang sistematis dalam menghadapi seorang klien

sesuai langkah-langkah dalam proses manajemen kebidanan (Yulifah &

Surachmindari, 2014: 125-137).


P

2. Tahapan Dalam Manajemen Asuhan Kebidanan

Proses manajemen terdiri dari 7 langkah asuhan kebidanan

yangdimulai dari pengumpulan data dasar dan diakhiri dengan

[Link] dalam proses asuhan kebidanan ada 7 langkah, yaitu:

a. Langkah I : Identifikasi Data Dasar

Pada langkah pertama, dilakukan pengkajian melalui pengumpulan

semua data dasar yang diperlukan untuk mengavaluasi keadaan klien

secara lengkap, yaitu riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik sesuai

kebutuhan ,peninjauan catatan terbaru atau catatan sebelumnya dan data

laboratorium, serta perbandingannya dengan hasil study (Saminem,

2009). Data yang diperoleh untuk kasus anemia yang dilakukan dengan

cara mengumpulkan data lengkap dari klien dengan menilai keadaan

klien melalui anamnesa, pemeriksaan fisik,pemeriksaan penunjang

(Laboratorium).

Data subjektif adalah data yang ditetapkan dari ibu seperti ibu

mengeluh sering merasa lelah dan dan sering mengantuk, merasa pusing

dan lemah, merasa tidak enak badan, mengeluh sakit [Link]

objektif adalah data dari hasil pemeriksaan yang seperti tampak kaku

pada tangan, pucat, konjungtiva pucat dan hasil pemeriksaan

laboratorium di dapatkan Hb <12 gr.

b. Langkah II : Mengidentifikasi diagnosis atau masalah aktual

Pada langkah ini, bidan melakukan identifikasi diagnosis atau

masalah berdasarkan interpretasi yang akurat terhadap datadata yang

telah dikumpulkan. Data dasar yang sudah dikumpulkan diinterpretasi

sehingga dapat merumuskan diagnosis dan masalah yang spesifik.

Diagnosis kebidanan adalah diagnosis yang ditegakkan bidan dalam

lingkup praktik kebidanan dan memenuhi standard nomenklatur


diagnosis kebidanan (Atik Purwandari, 2008). dari data subjektif dan
P

objektif yang didapatkan pada saat pengkajian data maka diagnosa yang

ditegakkan yaitu anemia dengan kadar Hb < 12 gr%. Masalah aktual

yang dirasakan ibu adalah sering merasa lelah danmengantuk, merasa

pusing, sering merasakan sakit kepala dan konjungtivapucat.

Diagnosa anemia dapat ditegakkan dengan pemeriksaan

laboratorium apabila kadar Hb <12 gr% yang ditandai dengan wajah

tampak pucat, konjungtiva pucat, disertai dengan keluhan diantaranya

lemah, lesu, sakit kepala, mata berkunang-kunang (Kemenkes, 2016).

c. Penyakit infeksi, beberapa infeksi memperbesar risiko anemia.

Infeksi itu Langkah III :

Mengidentifikasi diagnosis atau masalah potensial umumnya adalah

Tuberculosis (TBC), cacingan dan malaria, karena menyebabkan

terjadinya peningkatan penghancuran sel darah merah dan terganggunya

eritrosit. Infeksi cacingan akan menyebabkan malnutrisi dan dapat

mengakibatkan anemia defisiensi besi. Infeksi malaria dapat

menyebabkan anemia (Nurhidayati Rohmah Dyah, 2013).

Pada langkah ini, bidan mengidentifikasi masalah atau diagnosis

potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosis yang sudah

diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi. Jika memungkinkan,

dilakukan pencegahan. Sambil mengamati kondisi klien, bidan

diharapkan dapat bersiap jika diagnosis atau masalah potensial benar-

benar terjadi (Saminem,2009).

Adapun masalah potensial anemia pada wanita usia subur dapat

menurunkan daya tahan tubuh sehingga penderita anemia mudah terkena

infeksi, menurunnya kebugaran dan ketangkasan berfikir karena

kurangnnya oksigen ke sel otot dan sel otak (Kemenkes, 2016).

Kekurangan hemoglobin dalam darah dapat mengakibatkan


P

kurangnya oksigen yang ditransport ke sel tubuh maupun otak, sehingga

dapat menurunkan kebugaran jasmani seseorang dalam melaksanakan

aktifitas fisik secara maksimal. Haemoglobin dalam sel darah merah

berfungsi untuk mengalirkan oksigen ke dalam sel untuk metabolisme,

apabila asupan oksigen ke dalam sel rendah maka akan menyebabkan

menurunnya kebugaran jasmani dan mudah lelah (Sherwood, 2011).

Selain itu, anemia yang dialami pada Rematri ( remaja putri) dan WUS

(wanita usia subur ) akan terbawa hingga dia menjadi ibu hamil dapat

mengakibatkan, Risiko pertumbuhan janin terhambat (PJT), premature,

BBLR, dan gangguan tumbuh kembang anak diantaranya stunting dan

gangguan neurokogniti. Perdarahan sebelum dan saat melahirkan yang

dapt mengancam keselamatan ibu dan bayinya (Kemenkes, 2016).

d. Langkah IV : Penetapan kebutuhann/ tindakan segera

Bidan atau dokter mengidentifikasi perlunya tindakan segera

dan/atau konsultasi atau penanganan bersama dengan anggota tim

kesehatan yang sesuai dengan kondisi klien. Langkah keempat

mencerminkan kesinambungan proses manajemen kebidanan.

Manajemen bukan hanya selama asuhan primer periodic atau kunjungan

prenatal, tetapi juga selama wanita tersebut dalam persalinan (Saminem,

2009).

Pada kasus anemia tidak diperlukan tindakan segera kepada klien

selama keadaan atau kondisi klien yang mengalami anemia ini tidak

merasakan seperti sesak napas, pingsan, syok atau dalam keadaan tidak
P

sedarkan diri.

Pingsan adalah kehilangan kesadaran yang secara tiba-tiba dan

bersifat sementara,kehilangan kesadaran tersebut terjadi akibat

penurunan aliran darah ke [Link] ini bisa diawali dengan rasa

pusing dan penglihatan [Link] merupakan respon tubuh terhadap

gangguan pada system peredaran darah yang menghambat darah

mengalir dalam jumlah yang cukup ke seluruh bagian

[Link] jumlah darah yang mengalir bisa menyebabkan

syok. Yang akan dilakukan adalah pemberian oksigen dan stabilisasi

jalan nafas.

e. Langkah V: Intervensi/ Perencanaan tindakan asuhan kebidanan.

Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh yang

ditentukan oleh langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan

manajemen terhadap diagnosis atau masalah yang telah diidentifikasi

atau diantisipasi. Pada langkah ini, informasi atau data yang tidak

lengkap dapat dilengkapi (Saminem, 2009).

Perencanaan asuhan yang akan di ambil jika ditemukan anemia

pada wanita usia subur yaitu pemberian suplementasi zat besi secara

rutin selama jangka waktu tertentu,bertujuan unruk meningkatkan kadar

hemoglobin secara [Link] kepada ibu untuk tetap

mengonsumsi makanan yang kaya sumber zat besi dari hewani

contohnya hati, ikan, daging, dan unggas, sedangkan dari nabati yaitu

sayuran berwarna hijau tua dan kacang-kacangan. Untuk meningkatkan


P

penyerapan zat besi dari sumber nabati perlu mengonsumsi buah-buahan

yang mengandung vitamin C, seperti jeruk, jambu. Pemberian Tablet

Tambah Darah dengan dosis yang tepat dapat mencegah anemia dan

meningkatkan cadangan zat besi didalam tubuh.

[Link] VI : Implementasi/ pelaksanaan asuhan

Pada langkah ini, rencana asuhan menyeluruh yang diuraikan pada

langkah kelima dilaksanakan secara efisien dan aman. Perencanaan ini

dapat dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian dilakukan oleh

bidan, dan sebagian lagi oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya

(Saminem, 2009).

Menganjurkan kepada ibu untuk tetap mengonsumsi makanan yang

kaya sumber zat besi dari hewani seperti hati, ikan, daging, dan unggas,

sedangkan dari nabati yaitu sayuran berwarna hijau tua dan kacang-

kacangan. Untuk meningkatkan penyerapan zat besi dari sumber nabati

perlu mengonsumsi buah-buahan yang mengandung vitamin C, seperti

jeruk, jambu. dan menganjurkan ibu untuk tetap mengonsumsi tablet

tambah darah.

g. Langkah VII :. Evaluasi

Pada langkah terakhir ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan

yang sudah diberikan, meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan

apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan

sebagaimana telah diidentifikasikan didalam diagnose dan masalah.

Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar efektif


P

dalam pelaksanaannya (Miratu Megasari et al., 2015).

Pada tahapan evaluasi adalah pengkajian kembali terhadap klien

untuk menjawab pertanyaan seberapa jauh tercapainya rencana yang

dilakukan. Untuk menilai keefektifan tindakan yang diberikan, bidan

dapat menyimpulkan jumlah kadar Hb dengan melakukan pemeriksaan

laboratorium dengan kadar Hb kembali normal atau >12 gr%, serta

kebutuhan klien terpenuhi sesuai gestasinya.

3. Pendokumentasian Tindakan Asuhan Kebidanan

Pendokumentasian yang benar adalah pendokumentasian mengenai

asuhan yang telah dan akan dilakukan pada seorang pasien. Menurut

Varney, didalamnya tersirat proses berfikir bidan yang sitematis dalam

menghadapi seorang pasien sesuai langkah-langkah manajemen kebidanan

maka didokumentasikan dalam bentuk SOAP , yaitu:

a. S (Data Subjektif)

Data subjektif (S), merupakan pendokumentasian manajemen

kebidanan menurut helen varney langkah pertama (pengkajian data),

terutama data yang diperoleh melalui anamnesis. Data Subjektif ini

berhubungan dengan masalah dari sudut pandang pasien. Expresi pasien

mengenai kekhawatiran dan keluhannya yang dicatat sebagai kutipan

lansung atau ringkasan yang akan berhubungan lansung atau ringkasan

yang akan berhubungan lansung dengan diagnosis.


P

b. O (Data Objektif)

Data Objektif (O) merupakan pendokumentasian manajemen

kebidanan menurut Helen Varney pertama (pengkajian data), terutama

data yang diperoleh melalui hasil observasi yang jujur dari pemeriksaan

fisik pasien, pemeriksaan laboratorium/pemeriksaan diagnostik

[Link] medik dan informasi dari keluarga atau orang lain dapat

dimaksudkan dalam data objektif ini.

c. A (Assessment)

A (Assessment), merupakan pendokumentasian hasil analisis dan

intrepretasi (kesimpulan) dari data subjektif dan objektif. Dalam

pendokumentasian manajemen kebidanan, karena keadaan pasien yang

setiap saat bisa mengalami perubahan, dan akan ditemukan informasi

baru dalam data subjektif maupun data objektif, maka proses pengkajian

data akan menjadi sangat dinamis. Hal ini juga menuntut bidan untuk

sering melakukan analisis data yang dinamis tersebut dalam rangka

mengikuti perkembangan pasien dan analisis yang tepat dan akurat

mengikuti perkembangan data pasien akan menjamin cepat diketahuinya

perubahan pada pasien, dapat terus diikuti dan diambil

keputusan/tindakanyang tepat. Analysis/assessment merupakan

pendokumentasian manajemen kebidann menurut helen varney langkah

kedua, ketiga, dan keempat sehingga mencakup hal-hal berikut ini:

diagnosis/masalah kebidanan, diagnosis/masalah potensial serta perlunya

mengidentifikasi kebutuhan tindakan segera untuk antisipasi


P

diagnosis/masalah potensial dan kebutuhan tindakan segera harus

diidentifikasi menurut kewenangan bidan, meliputi: tindakan mandiri,

tindakan kolaborasi dan tindakan merujuk klien.

d. P (Planning)

Planning /perencanaan, adalah membuat rencana asuhan saat ini

dan yang akan datang. Rencana asuhan disusun berdasarkan hasil

analisis dan interpretasi data. Rencana asuhan ini bertujuan untuk

mengusahakan tercapainya kondisi pasien seoptimal mungkin dan

mempertahankan kesejahteraannnya. Rencana asuhan ini harus bidan

mencapai kriteriatujuan yang ingin dicapat dalam batas waktu tertentu.

Tindakan yang akan dilaksanakan harus mampu membantu pasien

mencapai kemajuan dan harus sesuai dengan hasil kolaborasi tenaga

kesehatan lain, anatara lain dokter.

Meskipun secara istilah, P adalah planning/perencanaan saja,

namun P dalam metode SOAP ini juga merupakan gambaran

pendokumentasian implementasi dan evaluasi. Dengan kata lain, P

dalam SOAP meliputi pendokumentasian manajemen kebidanan

menurut Helen Varney langkah kelima, keenam, dan ketujuh.

Pendokumentasian P dalam SOAP ini,adalah pelaksanaan asuhan

sesuai rencana yang telah disusun sesuai dengan keadaan dan dalam

rangka mengarasi masalah pasien. Pelaksanaan tindakan harus disetujui

oleh pasien, kecuali bila tindakan tidakdilaksanakan akan

membahayakan keselamatan pasien. Sebanyak mungkin pasien harus


dilibatkan dalam proses implementasi ini. Bila kondisi pasien berubah,

analisis juga berubah, maka rencana asuhan maupun implementasinya pun

kemungkinan besar akan ikut berubah atau harus disesuaikan.


BAB III
KAJIAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PADA Nn. P DENGAN ANEMIA PADA MASA


PRAKONSEPSI DI RS HARAPAN SEHAT
TAHUN 2023

Tanggal : 03 November 2023


Waktu : 09.00 WIB
Tempat : RS Harapan Sehat Pemalang

I. PENGUMPULAN DATA

A. DATA SUBJEKTIF

1. Biodata

Nama : Nn. P
Umur : 25 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Wiraswasta
Suku Bangsa : Jawa
Alamat : Mulyoharjo 4/7, Pemalang
Tanggal masuk/jam : 3 November 2023 / 09.00 WIB
No RM : -
2. Alasan Datang

Pasien mengatakan ingin memeriksakan kesehatannya

55
32

3. Keluhan utama

Pasien mengatakan mengeluarkan darah salaam 1 bulan, sehari ganti pembalut


5x, pusing dan mual sejak 4 hari yang lalu

4. Riwayat Obstetric dan Ginekologi

a. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu

Ana Umur Jenis Penolong Nifas JK Keadaan

k kehamilan persalinan persalinan

Ke

- -

b. Riwayat kehamilan sekarang

G0P0A0

c. Riwayat Haid

● Menarche : 11 tahun

● Siklus/teratur : 28 hari/teratur

● Lama/jumlah : 15 hari

● Dysmenorhea : Tidak ada

● HPHT : 4 Oktober 2023

d. Riwayat penggunaan kontrasepsi : -

5. Riwayat Kesehatan

a. Penyakit yang pernah diderita

56
● Penyakit infeksi : ps mengatakan tidak pernah menderita penyakit

hepatitis, TBC, HIV/AIDS

● Penyakit keturunan : ps mengatakan tidak pernah menderita penyakit

jantung, asma dan gula/DM

● Kecelakaan/trauma : ps mengatakan tidak pernah kecelakaan

● Riwayat operasi : ps mengatakan tidak pernah operasi dibagian perut

● Penyakit organ : ps mengatakan tidak pernah menderita penyakit

jantung/ginjal

b. Kesehatan ps sekarang

● Penyakit infeksi : ps mengatakan tidak sedang menderita penyakit

hepatitis, TBC dan HIV/AIDS

● Penyakit keturunan : ps mengatakan tidak sedang menderita penyakit

jantung, asma dan gula/DM

● Penyakit organ : ps mengatakan tidak sedang menderita penyakit

jantung/ginjal

c. Riwayat Kesehatan Keluarga

● Penyakit infeksi : ps mengatakan keluarga tidak ada riwayat penyakit

hepatitis, TBC, HIV/AIDS.

● Penyakit keturunan : ps mengatakan keluarga tidak ada riwayat

penyakit jantung, asma dan gula/DM

● Penyakit organ : ps mengatakan keluarga tidak ada riwayat penyakit

jantung/ginjal.
57
● Riwayat gamely : ps mengatakan keluarga tidak ada riwayat

hamil kembar
6. Kebiasaan

● Pantangan makan : ps mengatakan tidak ada pantangan makan

● Minum jamu : ps mengatakan tidak minum jamu

● Obat-obatan : ps mengatakan hanya minum obat dari puskesmas

● Miras/rokok : ps mengatakan tidak minum miras/rokok

● Memelihara binatang : ps mengatakan tidak memelihara binatang

7. Kebutuhan sehari – hari

a. Pola nutrisi

Sebelum sakit Saat sakit

Makan 3x / hari 3x / hari

Porsi 1 piring 1 piring

Jenis Karbo, protein, vitamin Karbohidrat dan protein

Macam Nasi, sayur , lauk Nasi dan lauk

Gangguan Tidak ada Mual

Minum 7 – 8 gelas / hari 7-8x / hari

Jenis Air putih, teh Air putih, susu, teh

Gangguan Tidak ada Mual

b. Pola Eliminasi

Sebelum sakit Selama sakit

BAB 1x / hari 1x / hari

58
Warna Kekuningan Kekuningan

Konsistensi Lembek Lembek

Gangguan Tidak ada Tidak ada

BAK 5– 6x / hari 8-10x / hari

Warna Kekuningan Kekuningan

gangguan Tidak ada Tidak ada

c. Pola Istirahat

Sebelum sakit Selama sakit

Siang ±1 jam ±2 jam

Malam ±8 jam ±5 jam

Gangguan Tidak ada Mual

d. Pola Aktivitas

Sebelum sakit Selama sakit

ps mengatakan melakukan ps mengatakan hanya ditempat


aktivitas sendiri. tidur.

e. Pola Personal Hygiene

Sebelum sakit Selama sakit

Mandi 2x / hari 1x / hari

Keramas 2x / minggu 1x / minggu

Gosok gigi 2x / hari 1x / hari

Ganti baju 2x / hari 2x / hari

8. Data Psikologis

● Kesiapan mental ps : ps khawatir dengan kondisinya

59
9. Data Sosial Ekonomi

● Penghasilan : ps mengatakan penghasilan cukup

● Tanggung jawab perekonomian : orang tua dan sendiri

● Pengambil keputusan : Bersama dengan orang tua

10. Data Perkawinan

● Status perkawinan : ps mengatakan belum menikah

11. Data Spiritual

ps mengatakan beragama islam dan saat ini tdk melakukan ibadah sholat 5
waktu.
12. Data Sosial Budaya

ps mengatakan masih mempercayai adat istiadat yang ada di daerahnya

13. Data Pengetahuan

ps mengatakan mengetahui kondisinya dari bidan dan tenaga kesehatan

B. DATA OBYEKTIF

1. Pemeriksaan Fisik

a. Kesadaran : Composmentis

b. Keadaan umum : sedang

c. Tanda-tanda Vital : TD : 112/63 mmHg

Nadi : 125 x/menit


Suhu : 36,5°C
Respirasi : 20 x/menit
d. Tinggi badan : 158 cm

e. Berat badan : 53 kg

f. LILA : 24,5 cm
60
g. Status Present

Kepala : Mesochepal
Rambut : Warna hitam, tidak rontok
Muka : pucat,
Mata : Simetris, konjungtiva merah muda, sklera putih
Hidung : Bersih, tidak ada tanda-tanda infeksi
Mulut/bibir : Simetris, tidak ada stomatitis dan caries dentis
Telinga : Simetris, tidak ada tanda-tanda infeksi
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
Aksila : Tidak ada pembesaran kelenjar limfe
Dada : jantung, paru DBN
Abdomen : Tidak ada luka bekas operasi
Genetalia : keluar darah dari genetalia, warna merah
Anus : Tidak ada hemorroid
Ekstremitas : oedema pada kaki

2. Pemeriksaan Obstetri

Abdomen & pelvis : DBN

Punggung & pinggang : DBN

3. Pemeriksaan Penunjang

● Pemeriksaan laboratorium

Dilakukan pada tanggal 09 Nov 23


Hasil: HB: 7.6 gr %
● Pemeriksaan rontgen

Tidak dilakukan
● USG

Tidak dilakukan
II. INTERPRETASI DATA

1. Diagnosa

Nn. P umur 21 tahun dengan menorrhagia (perdarahan uterus abnormal (PUA))


Data Dasar : Data S : a. ps mengatakan bernama Nn. M berumur 21tahun,
mengeluarkan darah sebulan, sehari 5x ganti pembalut
b. ps mengatakan mual dan pusing sejak 4 hari yang lalu
61
Data O :a. Keadaan umum : sedang
b. Tanda-tanda Vital : TD : 112/63 mHg
Nadi : 125 x/menit
Suhu : 36,5 °C
Pernafasan : 20 x/menit
[Link] Lab: Hb. 7,6 gr%
2. Masalah : mual, perdarahan

3. Kebutuhan : rehidrasi cairan, transfusi

III. DIAGNOSA POTENSIAL : anemia

IV. ANTISIPASI PENANGANAN SEGERA : rehidrasi cairan, transfuse darah

V. INTERVENSI jam 09.15

1. Beritahu ibu hasil pemeriksaan

2. Berikan konseling tentang gizi seimbang

3. Jelaskan gangguan ketidaknyamanan mual yang dialami

4. Lakukan penanganan rehidrasi cairan dengan pemasangan infus

5. Lakukan pemberian terapi

6. Beritahu tanda bahaya menorhagia seperti mual, pusing, anemia defisiensi

besi

VI. IMPLEMENTASI

1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahwa ibu mengalami gangguan

menstruasi

Hasil : KU :baik,TD:100/80 x/m, N:90x/m, RR:20x/m, S:36,5c

PPV: keluar darah+stosel-stosel bayak, Hb : 7,6 gr/dL

2. Memberikan konseling tentang gizi seimbang seperti sayur-sayuran hijau, hati

ayam dan ikan

3. Menjelaskan gangguan ketidaknyamanan mual disebabkan kondisi ps

kekurangan darah

4. Melakukan penanganan pada awal kondisi ps rehidrasi cairan dengan

pemasangan infus

5. Melakukan pemberian terapi sesuai advis dr. SpOG


62
Oksigen 3 lt/mnt

Infus RL guyur 500 cc. habis lanjut RL+crom+vit k+vit c 28 tpm

Inj. As. Tranexamat 1 amp/8 jam

Regumen tab 2x1

Transfusi 4 kolf 🡪 pre dexa 1 amp

6. Beritahu tanda bahaya perdarahan yaitu mual, pusing, lemas

VII. EVALUASI

1. ps sudah mengetahui hasil pemeriksaan

2. ps bersedia

3. ps sudah mengetahui penyebab mual yang dialaminya

4. ps bersedia melakukan anjuran bidan dan sudah dilakukan pemasangan infus

5. ps bersedia diberikan terapi

6. ps paham tentang tanda bahaya perdarahan

Data Perkembangan

Tgl Subjektif Objektif Assament Planning


pukul
4 Nov Ps mengatakan Ku: baik Nn. M umur Melanjutkan therapi :
2023 lemas dan Kesadaran: CM 21 tahun a. Makan sedikit sering
Pukul pusing TD :101/67 mmhg dengan PUA b. Transfusi lanjut
c. Rencana USG
09.00 berkurang N: 85x/mnt
d. Stop as. tranexamat
WIB S:36,5⁰ C Ev: Setelah dilakukan
Rr: 22x/mnt konseling dan terapi ibu
merasa agak membaik
Hasil USG: dalam batas
normal
5 Nov Ps mengatakan Ku: baik Nn. M umur Melanjutkan therapi:
2023 pusing dn lemas Kesadaran: CM 21 tahun a. Makan sedikit tapi
Pukul berkurang TD :106/68 mmhg dengan PUA sering
b. Lanjutkan terapi
09.00 N: 82x/mnt
injeksi
WIB S:36,5⁰ C
Rr: 22x/mnt Ev: Setelah dilakukan
konseling dan terapi ps
merasa agak membaik
63
6 Nov ps mengatakan Ku: baik Nn. M umur Melanjutkan therapi:
2023 pusing lemas Kesadaran: CM 21 tahun a. Makan sedikit tapi
Pukul berkurang TD :110/70 mmhg dengan PUA sering
b. Lanjutkan terapi
09.00 N: 80x/mnt
WIB S:36,5⁰ C Ev: Setelah dilakukan
Rr: 22x/mnt konseling dan terapi ibu
merasa agak membaik
Hasil Lab: Hb.10,4 gr%
7 Nov ps mengatakan Ku: baik Nn. M umur Melanjutkan therapi:
2023 sudah tidak Kesadaran: CM 21 tahun a. Makan sedikit tapi
Pukul lemas dan TD :110/75 mmhg dengan PUA sering
b. Rencana pulang
09.00 pusing N: 82x/mnt
c. Kontrol poli 1 mgg
WIB S:36,5⁰ C
Rr: 22x/mnt Ev: Setelah dilakukan
konseling ibu
memahami

Terapi Komplementer
Terapi komplementer yang diberikan ke ps berupa pemberian acupressure dan jus buah
1. Terapi acupressure
Menometrorhargia merupakan masalah ginekologis yang sering dikeluhkan oleh
sebagian besar wanita usia reproduksi. Menometrorhargia merupakan perdarahan
uterus abnormal tanpa penyebab organik atau gangguan organ saat menstruasi.
Menometrorhargia terjadi karena ketidakseimbangan hormon yang mengatur siklus
menstruasi dan kondisi medis lainnya. Perdarahan uterus abnormal dapat dipicu
karena obesitas, pekerjaan berat, dan stress. Menometrorhargia dapat diiringi dengan
gelaja nyeri haid yang dikarenakan kondisi lapisan endometrium berada pada fase
sekresi sehingga mulai memproduksi prostaglandine (PGF2a) berlebih yang
berakibat pada hipertonik dan vasokontriksi myometrium. Kondisi ini
mengakibatkan iskemia, disintegrasi dinding endometrium, perdarahan, dan nyeri.
terapi alami atau natural (non medical therapy) yang aman dilakukan yakni dengan
exercise/ latihan, mandi air hangat/ sauna, memakai buli-buli panas, meditasi, serta
dapat juga dengan pemberian suplemen, pengobatan herbal, terapi horizon, terapi
bedah, Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation (TRANS) akupuntur, dan
akupresur (Petraglia et al., 2017).
Akupresur merupakan salah satu pengobatan komplementer. Pengobatan ini berasal
dari Cina dan telah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Teknik yang digunakan pada
akupresur adalah dengan cara memberikan tekanan atau pemijatan sebagai stimulasi
pada titik-titik tertentu dalam tubuh. Awalnya terapi akupresur merupakan
pengembangan dari teknik akupuntur yang menggunakan media jarum, sedangkan
64
teknik akupresur menggunakan jari tangan atau benda tumpul sebagai media. Tujuan
akupresur untuk merangsang kemampuan tubuh secara alami. Rangsangan secara
alami ini digunakan untuk mengembalikan keseimbangan energi positif tubuh
(Gharloghi et al., 2012); (Dong, 2018.); (Maryam et al., 2016). Terapi akupresur
diberikan pada titik PC6 dan LI4 sebanyak tiga kali dalam sehari, lamanya 30 menit
dan jeda 10 menit setiap perlakuan.
2. Terapi jus buah
Jus buah yang digunakan untuk mengatasi anemia yaitu pemberian jus jambu (NAT),
sari kurma, buah bit+lemon. Pencegahan dan pengendalian anemia gizi besi selain
melalui pendekatan farmakologis dengan pemberian suplementasi tablet Fe, namun
juga melalui pendekatan non farmakologis dengan memperbaiki pola makan dan
mengonsumsi makanan kaya zat besi dan zat gizi lainnya seperti vitamin C yang
membantu meningkatkan penyerapan zat besi dalam tubuh. Menurut (Kirana, 2011),
kadar hemoglobin akan meningkat sejalan dengan tercukupinya asupan zat besi dan
vitamin C sehingga angka anemia akan menurun. Vitamin dan mineral bersumber
dari buah dan sayur yang mana juga memiliki senyawa antioksidan yang penting
bagi tubuh. Bahan pangan yang berpotensi untuk mencegah dan mengendalikan
anemia gizi besi diantaranya adalah bit dan jambu biji merah.
Buah bit (Beta vulgaris L.) merupakan tanaman dengan umbi berwarna merah
keunguan, memiliki rasa yang manis namun beraroma langu seperti tanah (earthy
taste), dan belum banyak diketahui masyarakat (Widyaningrum & Suhartiningsih,
2014). Buah bit mulanya dikenal dan banyak digunakan sebagai obat, namun seiring
waktu digunakan sebagai bahan makanan(Ananingsih et al., 2015). Buah bit kaya
asam folat, vitamin B, vitamin C dan zat besi. Buah bit juga mengandung metabolit
sekuder berupa pigmen warna betalain (betasianin/betanin dan betasantin), nitrat,
flavonoid, polifenol, saponin, alkaloid, tannin dan asam organik (Babarykin et al.,
2019; Odoh & Okoro, 2013). Kandungan gizi yang beragam dalam buah bit
bermanfaat sebagai antioksidan, antikanker, menjaga system pencernaan dan
kardiovaskuler hingga meningkatkan performa olahraga (Babarykin et al., 2019).
Jambu biji merah (Psidium guajava L.) merupakan buah yang banyak dan mudah
ditemui di pasaran dan tidak jarang ditanam sendiri di halaman rumah serta memiliki
julukan “the poor man’s apple” karena harganya murah, memiliki kandungan yang
lebih unggul dibanding buah lainnya khususnya apel dengan nilai gizi pada setiap
bagian tanamannya yangbermanfaat dan multiguna bagi manusia (Sahu et al., 2016).
Buah jambu biji merah tinggi akan vitamin C, dengan kandungan vitamin C lebih
tinggi dari pepaya dan 2 kali lebih banyak dari buah jeruk. Buah jambu biji merah
65
juga mengandung zat besi, vitamin A, kalsium, dan zat metabolit sekunder seperti
antosianin, quercetin, karotenoid, polifenol, flavonoid, likopen, saponin, katekin,
guajaverin, dan guavin (Naseer et al., 2018; Rachmaniar et al., 2016). Jambu biji
merah bermanfaat sebagai antianemia, antioksidan, antiinflamasi, menjaga system
kardiovaskuler dan saluran pencernaan (Daswani et al., 2017).
Buah bit dan jambu biji merah samasama memiliki kandungan zat besi dan vitamin
C yang baik bagi kesehatan. Zat besi penting dalam sintesis hemoglobin dan
pematangan sel darah merah sehingga dapat mencegah anemia. Vitamin C berkaitan
dengan farmakokinetik zat besi, sebagai promotor yang membantu penyerapan besi
non heme dalam usus halus melalui proses reduksi besi ferri (Fe3+) menjadi ferro
(Fe2+) sehingga mudah diabsorbsi serta membantu pelepasan besi dari transferin ke
dalam jaringan tubuh dan menghambat pembentukan hemosiderin (protein darah)
yang sulit dimobilisasi dalam pembebasan besi serta meningkatkan pembentukan
darah.

BAB IV
PEMBAHASAN

A. Pembahasan Asuhan 7 Langkah Varney

Pada bab pembahasan ini akan diuraikan tentang asuhan kebidanan

mengenai anemia pada wanita usia reproduksi berdasarkan referensi yang

telah di temukan. Pembahasan ini akan diuraikan secara narasi berdasarka n

66
asuhan kebidanan dengan 7 langkah varney yaitu: pengumpulan data dasar,

merumuskan diagnosis atau masalah aktual, merumuskan diagnosis atau

masalah potesial, melaksanakan tindakan segera atau kolaborasi, perencanaan

tindakan asuhan kebidanan, melakukan tindakan asuhan kebidanan dan

mengevaluasi asuhan kebidanan.

1. Langkah I : Identifikasi Data Dasar

Pada langkah pertama mengidentifikasi terjadinya anemia pada

wanita usia reproduksi mengumpulkan semua informasi akurat dan

lengkap dari semua sumber yang telah melakukan penelitian terhadap

anemia. Dilangkah ini akan didapatkan berbagai referensi tentang definisi,

tanda dan gejala serta faktor-faktor penyebab terjadinya anemia.

Berdasarkan dari referensi matriks langkah I diatas, maka dapat

disimpulkan sebagai berikut.

Pada penelitian (I Putu Suiraoka, A.A. Gede Raka Karanaya, 2016)

anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin lebih rendah dari

normal. Serupa dengan penelitian (Hidayah, 2016) yang mengatakan

anemia

136

67
PA

merupakan suatu kondisi terdapat defesiensi ukuran/jumlah eritrosit atau

kandungan hemoglobin. Anemia terjadi apabila kepekatan hemoglobin

dalam darah dibawah batas normal. Hemoglobin adalah sejenis pigmen

yang terdapat dalam sel darah merah bertugas dari paru-paru ke jaringan

tubuh (Ahmady, Mariana Dina, 2016).

Sedangkan penelitian (Sufyan, Oy, & Mardiana, 2019) mengatakan

zat besi mempunyai peranan penting dalam tubuh, selain membantu

hemoglobin mengangkut oksigen dan myoglobin menyimpan oksigen, zat

besi juga membantu berbagai macam enzim dalam mengikat oksigen

untuk proses pembakaran. Penelitian lainya mengatakan anemia adalah

suatu keadaan kekurangan hemoglobin dan zat besi dalam darah yang

sering terjadi pada wanita usia resproduksi dan subu (Silawati & Sari,

2020).

Pada matriks penyebab terjadinya anemia pada wanita reproduksi

(Juraida Roito Harahap, 2015) mengatakan faktor-faktor yang

menyebabkan anemia dipengaruhi oleh faktor sosial, politik, ekologi, dan

biologi. Dalam penelitian ini faktor terjadinya anemia adalah faktor

ekonomi, kurang mengomsumsi makanan hewani salah satu sumber zat

besi yang mudah diserap (heme iron), sedangkan bahan makanan nabati

(non-heme iron) adalah zat besi yang tinggi tetapi sulit diserap oleh tubuh

sehingga diperlukan porsi besar untuk mencukupi kebutuhan zat besi.

Menurut penelitian (Erizka Marwia, 2015) faktor lain yang dapat

mempengaruhi anemia pada wanita usia reproduksi adalah faktor

137
PA

pendidikan yang kurang pada wanita cenderum untuk tidak

memmperhatikan kedaan dirinya untuk mengomsumsi makanan yang

tinggi zat besi untuk mencegah terjadinya anemia. Berdasarkan penelitian

(Desri Suryani, 2015) obesitas juga merupakan faktor resiko anemia dapat

meningkatkan 2-4 kali resiko terjadinya anemia pada wanita. Hasil

penelitian (Hidayah, 2016) mengatakan bahwa faktor yang mempengaruhi

anemia adalah faktor makanan, kebutuhan manakan perlu dilihat bukan

hanya dalam konteks porsi saja, melainkan harus ditentukan pula

berdasarkan mutu zat-zat gizi yang terkandung didalam makanan yang

dikomsumsi seperti, karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral

serta kecukupan dalam cairan. Penelitian (Wijayanti, 2019) Faktor yang

mempengaruhi terjadinya anemia adalah kebutuhan mengomsumsi Fe

yang tidak terpenuhi, zat besi merupakan mineral mikro terdapat pada

manusia yaitu 3-5 gram sebagai alat angkut oksigen dan paru-paru

kejaringan tubuh dan meningkatkan volume darah sehingga akan banyak

melakukan pembentukan hemoglobin maka, jika sebaliknya komsumsi Fe

yang kurang maka akan terjadi sebaliknya dan mengakibatkan anemia

1. Langkah II: Identifikasi Diagnosa Masalah Aktual

Pada langkah ini kegiatan yang dilakukan adalah

menginterpretasikan semua referensi yang telah dikumpulkan sehingga

ditemukan diagnosa atau masalah yang ada pada wanita subur yang

mengalami anemia

138
PA

Menurut penelitia (Siti, 2015) penentuan diagnosa anemia dapat

dikalakukan dengan meanamnesa yang dilakukan didapatkan klien mudah

lelah, sering pusing, mata berkunang kunang dan keluah mual muntah,

serta dilakukan pemeriksaan dan pengawasan Hb yang dilakukan

mengunakan alat sahli didapatkan hasil pemeriksaan Hb 11g%, Hb 9-

10g%, Hb 7-8g%, Hb <7g%. menurut penelitian (Sudikno, 2016)

mengatakan metode yang paling sering digunakan di labolatorium dan

paling sederhana adalah metode sahli, dan yang lebih canggih adalah

metode cynmethemoglobin, hasil pembacaan metode sahli dipengaruhi

subjektivitas karena yang membandingkan warna adalah mata telanjang,

maka disimpulkan untuk menegakkan diagnose anemia tidak hanya dilihat

dari hasil anamnesa yang didapatkan dari data pasien atau pun keluhan

tetapi didapat dengan pemeriksaan labolatorium. Sedangkan penelitian

lainnya yang dilakukan (Desmon, 2017).

Diagnose anemia dapat kita lihat dengan melakukan anamnesa yang

didapatkan dari pasien atau pun data objektif yang di dapatkan oleh

klien seperti terjadinya seperti, klien mudah lelah, sering pusing, mata

berkunang kunang dan keluhan mual muntah. Sejalan dengan penelitian

(Elya Sugianti, 2017) yang mengatakan bahwa untuk menegakkan

diagnosa perlu diperhatikan anamnesa melalui pengkajian yang dilakukan

karena kita tidak selamanya ada pada daerah yang memiliki labolatorium

maka penegakkan diagnose dapat dilihat melalui data subjektif ataupun

keluahan yang didapatkan dari klien, maka kesimpulan dari langkah 2 ini

adalah penegakan diagnose

139
PA

dapat dilihat dari 2 aspek yaitu melalui anamnesa dan pemeriksaan

labolatorium yang dilakukan lalu memcocokkan dan mengidentifikasi lalu

menengakkan diagnose yang ada.

2. Langkah III: Antisipasi Diagnosa/Masalah Potensial

Pada langkah ini merupakan langkah ketika melakuakn identifikasi

diagnosis atau masalah potensial dan mengantisipasi penanganannya.

Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan

pencegahan.

Menurut (Purwandari, 2019) mudah lelah, mata berkunang-kunang,

mual- mual adalah tanda awal dicurighainya anemia sebelum dilakukan

pemeriksaan lebih lanjut maka bisa dilakukan pencegahan yang mungkin

dilakukan pada bidan guna meminimalisir terjadinya komlikasi yang

parah.

Pada penelitian (Zafira, 2019) mengatakan anemia pada wanita

usia subur yang disebabkan kekurangan zat besi yang akan berdampak

pada kesehatan resproduksi wanita usia subur, menurungkan konsetrasi

belajar, menurungkan kemampuan fisik, dan mengakibatkan muka pucat.

Menurut (Yohanes, 2020) yang mengatakan komplikasi dari anemia

adalah gagal jantung kongestif, konfusi kanker, penyakit ginjal, gondok,

gangguan pembentuka heme, penyakit infeksi kuman, thalassemia,

rematoid, dan gangguan system imun,, komplikasi diatas adalah akibat

yang terjadi jika anemia tidak ditangani secara baik. Sedangkan penelitian

140
PA

lainnya mengatakan komplikasi dari anemia pada wanita usia produksi

adalah mempengaruhi kesuburan yang mengakibatkan kemandulan, dan

kelemahan saat hamil yang dapat mengakibatkan kematian pada wanita

(Dewi Novitasari, 2012)

Berbeda dengan penelitian (Tsalissavrina, 2012) Yang mengatakan

komplikasi dari anemia adalah kemampuan belajar pada remaja, kegagalan

pertumbuhan pada anak sehingga tingginya tidak maksimal, dan kegagalan

pertumbuhan dan perkembangan janin yang dikandung ibu hamil.

Penelitian lainnya mengatakan bahwa komplikasi dari anemia sangat fatal

jika tidak ditangani dengan baik dikarenakan bisa berdampak buruk pada

wanita terutama pada wanita usia subur seperti terganggunya kesuburan

yang bahkan bisa mengakibatkan kesulitan dalam mengandung

(Kaderman, 2018)

3. Langkah IV: Identifikasi Perlunya Tindakan Segera atau Kolaborasi

Pada langkah ini dilakukan oleh bidan adalah mengidentifikasikan

perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter untuk konsultasi atau

ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan lainnya sesuai dengan

kondisi klien.

Menurut (Sudirman, 2016) Pada setiap kasus anemia perlu perlu

diperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:

a. terapi spesifik sebaiknya diberikan setelah diagnosis ditegakkan

b. terapi diberikan atas indikasi yang jelas, rasional, dan efisien.

141
PA

Jenis-jenis terapi yang dapat diberikan adalah :

1. terapi gawat darurat

Pada kasus anemia dengan payah jantung atau ancaman payah

jantung, maka harus harus segera terapi darurat dengan transfuse sel

darah yang ditampankan (PRC) untuk mencegah perburukan payah

jantung tersebut

2. terapi khusus masing-masing anemia

Terapi ini bergantung pada jenis anemia yang dijumpai, misalnya

preparat besi untuk anemia defesiensi besi.

3. terapi kausal

Terapi kausar adalah terapi yang dilakukan untuk mengobati

penyakit dasar penyebab anemia. Misalnya anemia defesiensi besi

yang disebabkan oleh infeksi cacing tambang.

4. terapi ex-juvantivus (empiris)

Terapi yang terpaksa dilakukan sebelum diagnosis dapat dipastikan,

jika terapi ini berhasil, berarti diagnosis dapat dikuatkan. Terapi

hanya dilakukan jika tidak tersedia fasilitas diagnosis yang

mencukupi. Pada pemberian terapi jenis ini penderita harus diawasi

dengan ketat

Menurut (Kaderman, 2018) Setelah diagnosis di tegakkan maka disebutkan

rencana pemberian terapi, terapi terhadap anemia difesiensi besi dapat

berupa

142
PA

a. terapi kausal : tergantung penyebabnya misalnya, pengobatan cacing

tambang, pengobatan hemoroid, pengobatan memoragia. Terapi kausal

harus dilakukan, kalau tidak maka anemia akan kambuh kembali

b. pemberian preparat besi untuk menganti kekurangan besi dalam tubuh,

besi per oral merupakan obat merupakan obat pilihan pertama karena

efektif, murah, dan aman. Penelitian ini sejalan dengan penelitian (Desri

Suryani, 2015) Yang mengatakan untuk mengatasi anemia besi pada

wanita subur dengan mengomsumsi zat besi dan vitamin dibuktikan

dengan hasil hubungan pemberian Fe dan zat besi dalam meningkatkan

hemoblobin terhadap wanita usia subur yang memiliki distribusi

frekuenasi yang tinggi.

4. Langkah V: Rencana Tindakan

Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh

berdasarkan silangkah [Link] perencanaan yang dibuatkan

harus berdasarkan pertimbangan yang tepat meliputi pengetahuan,

penelitian-penelitian terbaru, terkait rencana tindakan yang dilakukan

untuk mengatasi anemia berdasarkan bukti (evidence besed care).

Adapun penatalaksanaan yang dilakukan pada wanita usia subur

yang menderita anemia adalah

Menurut Tarwoto, (2010) penatalaksanaan yang dilakukan pada

wanita usia produksi yang mengalami anemia antara lain:

143
PA

a. mengomsumsi makanan yang mengandung zat besi dari bahan hewani

(daging, ikan, ayam, hati, dan telur): dan dari bahan nabati (sayuran

yang berwarna hijau tua, kacang-kacangan, dan tempe)

b. banyak makan makanan sumber vitamin c yang bermamfaat untuk

meningkatkan penyerapan zat besi, misalnya: jambu, jeruk, tomat dan

nanas

c. minum 1 tablet penambah darah setiap hari, khususnya saat mengalami

haid

d. bila merasakan adanya tanda dan gejala anemia, segera kepelayanan

kesehatan untuk diberikan pengobatan

Menurut Anie Kurniawan, (2010) mengatakan tindakan yang

dilakukan untuk mengatasi anemia adalah:

a. terapi spesifik diberikan setelah ditegakkan diagnosis

b. terapi diberikan atas indikasi yang jelas, rasional, dan efisien

jenis terapi yang diakukan adalah:

a. terapi gawat darurat

pada kasus anemia dengan payah jantung atau ancaman paya jantung,

maka harus segera diberikan terapi darurat dengan transfuse sel darah

merah yang dimampatkan (prc) untuk mencegah perburukan payah

jantung

b. terapi khas untuk masing masing anemia

terapi ini tergantung pada jenis anemia yang dijumpai misalnya,

preparat besi untuk anemia defesiensi zat besi

144
PA

c. terapi kausal

terapi kausal merupakan terapi untuk mengobati penyakit dasar menjadi

penyebab anemia. Misalnya, anemia defesiensi zat besi yang

disebabkan infeksi cacing tambang harus diberikan obat anti cacing

d. terapi ex-juvanvirus (empiris)

terapi ini adalah terapi yang terpaksa diberikan sebelum ditegakkan

diagnosis, jika terapi ini berhasil, berarti diagnosis dapat sikuatkan.

Terapi hanya dilakukan jika tidak tersedia fasilitas diagnosis yang

mencukupi. Pada pemberian terapi jenis ini, pada penderita harus

diawasi dengan ketat. Jika terdapat respon yang baik, terapi diteruskan,

tetapi jika terjadi sebalikanya maka harus dulakukan evaluasi kembali

Menurut (Susarmi, 2017) setelah ditegakkan diagnosis maka dibuat

rencana tindakan terapi yang akan dilakukan pada wanita yang mengalami

anemia.

a. terapi kausal : tergantung pada penyebab, misalnya pengobatan cacing

tambang, pemgobatan hemoroid, pengobatan menoragia. Terapi kausal

ini dilakukan, kalau tidak maka anemia akan kambuh kembali.

b. pemberian preparat besi untuk menganti kekurangan zat besi dalam

tubuh adalah besi per oral merupakan obat pilihan pertama karena

efektif, murah, dan aman, ada beberapa preparat yang tersedia yaitu

ferrous sulphat (sulfat ferosus)preparat pilihan pertama dengan dosis

3x200 mg, dan ferrous gluconate, ferrous fumarate, ferrous laclate, dan

145
PA

ferrous succinate, harga lebih mahal tetapi efektifitasnya dan

efeksamping ampir sama

5. Langkah VI: Penatalaksanaan Tindakan Asuhan Kebidanan

Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang

diuraikan pada langkah kelima di atas dilaksankan secara efisien dan

aman. Realisasi dari perencanaan dapat dilakukan oleh bidan, pasien, atau

anggota keluarga lain. Jika bidan tidak melakukannya sendiri, ia tetap

memikul tanggung jawab atas terlaksananya seluruh perencanaan

Berdasarkan klasifikasi anemia tingkat WHO dimana rerata kadar

HB yang memiliki <11 g/dl wanita usia reproduksi merupakan salah satu

kelompok yang beresiko tinggi mengalami anemia, wanita usia subur

rentang mengalami anemia dimana salah satu penyebabnya karena siklus

menstruasi setiap bulan sehingga terjadi peningkatan kebutuhan zat besi

Status gizi responden berdasarkan IMT pada Penelitian yang dilakukan

(Siagian, 2017) menunjukkan bahwa responden kurus memiliki peluang

mengalami anemia dibanding dengan yang tidak kurus (Siagian, 2017)

Penelitian lainnya menyebutkan bahwa kejadian anemia pada WUS

cenderung terjadi pada WUS dengan MT kategori kurus dibandingkan

dengan yang memiliki IMT normal.1 Hal ini berbeda dengan penelitian

yang dilakukan di Iran yang menunjukkan tidak ada perbedaan kadar Hb,

mean corpuscular volume (MCV), serum Iron, total iron binding capacity

(TIBC), indeks saturasi transferin, dan kadar feritin dengan IM Penelitian

(Sahana ON, 2015) menyebutkan sebanyak 32 persen WUS yang

146
PA

mengalami anemia gizi besi juga mengalami

obesitas. Hasil penelitian (Sudigno, 2017)

menunjukkan tidak ada hubungan antara status

gizi dengan status anemia subjek. Hasil analisis

terhadap konsumsi zat gizi berupa energi, protein, zat

besi, asam folat, vitamin C, vitamin A, dan seng pada

subjek WUS penderita anemia dibandingkan AKG,

diketahui tingkat konsumsi energi rata-rata

tergolong rendah dibandingkan AKG pada semua

tingkatan umur, akan tetapi tingkat kecukupan

konsumsi energi termasuk kategori cukup (≥70% AKG).

Penelitian yang dilakukan melaporkan bahwa tingkat

konsumsi energi berpengaruh terhadap kejadian

anemia. Subjek dengan konsumsi energi yang rendah

cenderung lebih rentan mengalami anemia dibanding

dengan yang konsumsi energinya cukup. Energi

diperlukan dalam proses fisiologis tubuh antara lain

dalam metabolisme zat gizi. Kekurangan asupan energi

akan menghambat proses pembentukan Hb (Masthalina

H, 2015) Penelitian lain menyebutkan bahwa

kekurangan konsumsi energi meningkatkan risiko

anemia karena terjadi pemecahan protein yang

digunakan untuk energi. Hal ini menyebabkan

ketidakseimbangan dalam tubuh yang berakibat pada

gangguan dalam proses pembentukan Hb. Hasil ini

147
berbeda dengan penelitian yang dilakukan PA
oleh

Sudigno, (2015) bahwa tingkat konsumsi energi tidak

berhubungan dengan kejadian anemia.

Konsumsi protein subjek penelitian sebagian besar tergolong cukup

meskipun masih terdapat subjek dengan tingkat konsumsi protein yang

kurang. Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan antara

148
PA

tingkat konsumsi protein dengan status anemia. Wanita usia subur

meskipun tingkat konsumsi proteinnya cukup namun tetap mengalami

anemia, kemungkinan karena cukupnya konsumsi protein tidak disertai

dengan kecukupan konsumsi sumber zat besi yang siap pakai (sumber

hewani). Protein yang dikonsumsi cenderung berasal dari protein nabati

yang memiliki bioavailabilitas yang lebih rendah, sehingga kurang

mendukung dalam pembentukan Hb. Hal ini tidak sesuai dengan penelitian

yang menyebutkan jika pada umumnya penderita anemia tingkat konsumsi

proteinnya rendah akan berdampak pada asupan dari zat besi yang ikut

rendah sehingga berisiko mengalami anemia (Sudigno, 2017) Protein

merupakan komponen utama dari globin yang berperan dalam transportasi

dan penyimpanan zat besi. Selain itu, di dalam usus halus penyerapan zat

besi dibantu oleh heme carrier protein (HCP1) Absorbsi zat besi di dalam

usus halus dibantu protein yang bertindak sebagai alat angkut yakni

transferin dan ferritin Konsumsi zat besi subjek seluruhnya masuk dalam

kategori kurang bila dibandingkan dengan angka kecukupan yang

dianjurkan.

Zat besi merupakan komponen penting dalam pembentukan Hb.

Apabila jumlah zat besi dan simpanan besi dalam tubuh cukup, maka

kebutuhan untuk pembentukan sel darah merah dalam sumsum tulang akan

tercukupi. Namun bila simpanan zat besi dan asupan zat besi dari makanan

kurang, maka akan terjadi ketidakseimbangan zat besi sehingga

menyebabkan anemia gizi besi (Masthalina H, 2015) Terlepas dari

149
PA

tingginya kebutuhan zat besi, terdapat beberapa faktor yang menjadi

penyebab tingginya prevalensi defisiensi besi, yakni asupan zat besi

inadekuat, tingkat bioavailabilitas zat besi yang rendah dari diet sehari-

hari, dan bioavailabilitas rendah dari besi karboni, Selain itu dapat terjadi

karena adanya gangguan absorpsi zat Penelitian (Siti et al., 2015),

menyebutkan bahwa asupan zat besi akan memengaruhi peningkatan Hb

hampir sembilan kali dibandingkan asupan seng, vitamin B9, vitamin B12,

dan vitamin C. Pada penelitian ini ratarata asupan zat besi subjek lebih

didominasi oleh sumber zat besi non-heme dibandingkan dengan besi

heme. Berdasarkan hasil recall makanan subjek penelitian diketahui dalam

sehari subjek mengonsumsi karbohidrat nasi sebanyak 3-6 centong.

Mengonsumsi beras, sementara diketahui kandungan zat besi dalam 100

gram beras hanya sebesar 1,8 mg.4 Hasil recall juga menunjukkan bahwa

dalam sehari sebagian besar subjek mengonsumsi protein nabati seperti

kacang-kacangan dan olahannya seperti tahu, tempe, sari kedelai serta

protein dari sayuran dengan porsi yang lebih banyak dibandingkan sumber

hewani. Bahan makanan dari nabati seperti kacangkacangan, sayuran serta

serealia kaya akan sumber zat besi non-heme. 18,26,27 Konsumsi sumber

zat besi yang berasal dari non-heme memiliki bioavailabilitas yang lebih

rendah yaitu 2-10 persen dibandingkan dengan zat besi heme yang

memiliki bioavailabilitas mencapai 25-30 persen.9,27 Tingkat konsumsi

asam folat dari seluruh subjek dalam penelitian ini masih tergolong kurang

dibandingkan angka kecukupan yang dianjurkan. Defisiensi asam folat

150
PA

dapat menyebabkan gangguan pematangan inti eritrosit sehingga

berpengaruh terhadap bentuk dan ukuran sel darah merah.24 Kekurangan

asam folat dapat menjadi penyebab terjadinya anemia megaloblastik

dengan kadar MCV yang tinggi.

Defisiensi asam folat menyebabkan gangguan metabolisme DNA

yang selanjutnya mengakibatkan perubahan morfologi inti sel seperti sel

darah merah, sel darah putih, sel Zat gizi yang memengaruhi penyerapan

zat besi dalam tubuh salah satunya adalah vitamin C. Vitamin C berfungsi

dalam metabolisme besi yaitu mempercepat absorpsi zat besi di usus dan

terlibat dalam mobilisasi simpanan besi terutama hemosiderin dalam

limpa.

Vitamin C mempunyai peranan yang sangat penting dalam

penyerapan besi terutama dari besi non-heme yang banyak ditemukan

dalam produk makanan nabati. Vitamin C juga menghambat pembentukan

hemosiderin yang sulit dimobilisasi untuk membebaskan besi bila

diperlukan. Asupan vitamin C makanan yang dikonsumsi bersama

makanan yang kaya akan zat besi dapat meningkatkan penyerapan zat besi

secara signifikan Tingkat konsumsi vitamin A pada sebagian besar subjek

dalam penelitian ini termasuk kategori cukup bila dibandingkan dengan

AKG yang dianjurkan. Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat

hubungan antara tingkat konsumsi vitamin A dengan status anemia

(p>0,05). Hal ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan di

Malaysia bahwa terdapat hubungan antara anemia defisiensi besi dengan

151
PA

defisiensi vitamin A.14 Vitamin A berfungsi dalam membantu penyerapan

zat besi dan pembentukan Hb. Zat besi bersama dengan retinol akan

diangkut oleh retinol binding protein (RBP) dan transferin yang disintesis

di dalam hati.

Adanya defisiensi vitamin A dapat mengakibatkan gangguan

mobilisasi zat besi dari hati. Pada penelitian ini, meskipun subjek

mengonsumsi vitamin A cukup namun masih mengalami anemia,

kemungkinan karena kecukupan konsumsi vitamin A tidak diimbangi

dengan kecukupan konsumsi zat besi. Penelitian Suharno et al,

menyebutkan bahwa terdapat penurunan prevalensi anemia saat vitamin A

dan zat besi diberikan dalam waktu bersamaan. Hampir seluruh responden

memiliki tingkat konsumsi seng yang kurang dari angka kecukupan yang

dianjurkan.

6. Langkah VII: Evaluasi Hasil Asuhan Kebidanan

Evaluasi merupakan langkah akhir dari proses manajemen

kebidanan dimana pada tahap ini ditemukan kemajuan atau keberhasilan

dalam mengatasi masalah yang dihadapi klien. Proses evaluasi merupakan

langkah dari proses manejemen asuhan kebidanan pada tahap ini penulis

tidak mendapatkan permasalahan atau kesenjangan pada evaluasi

menunjukan masalah teratasi tanpa adanya komplikasi (Mangkuji Betty,

2013)

Hasil evaluasi setelah melakukan asuhan kebidanan menurut

(Ratna Ayu, 2017) Adalah ketikan proses asuhan kebidanan penanganan

152
PA

anemia pada wanita usia subur sudah dilakukan dari tahap pengkajian

sampai implementasi pemberian kandungan zat besi dan vitamin sudah dan

sampai pada tahap evaluasi dianggap berhasil ketika Hb meningkat dari 7,4

gram% menjadi 10,2 gram% maka wanita usia subur menghabiskan obat

yang diberikan, serta mengurangi aktifitasnya. Dengan demikian hasil

asuhan kebidanan yang telah diberikan berhasil dengan melihat perubahan

yang telah dirasakan klien baik dari keluhan, kadar Hb. Evaluasi

penelitian (Nurjannah. A, 2017) Yang mengatakan setelah melakukan

asuhan kebidanan yang ditandai dengan keadaan umum baik, kesadaran

composmentis, tanda- tanda vital dalam batas normal. Pusing, sakit kepala,

terkadang cepat merasakan lelah yang sering dirasakan klien sudah

teratasi, Hb meningkat dari 8,4 gram% menjadi 10 gram% dengan klien

menghabiskan obat yang diberikan, serta mengurangi aktifitasnya. Dengan

demikian hasil asuhan kebidanan yang telah diberikan klien berhasil

dengan melihat perubahan yang telah dirasakan klien baik dari keluhan dan

kadar Hb klien. Sedangkan penelitian lainnya mengemukakan hal yang

sama yaitu evaluasi asuhan kebidanan dilakukan untuk melihat kembali

keadaan klien setelah dilakukan tahap pengkajian sampai implementasi

dimana untuk melihat keberhasilan dari implementasi atau tindakan yang

diberikan kepada klien berhasil atau tidak (Uto, 2016)

B. Implantasi Kebidanan

Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin lebih rendah

dari normal. Serupa dengan penelitian (Hidayah, 2016) yang mengatakan

153
PA

anemia merupakan suatu kondisi terdapat defesiensi ukuran/jumlah eritrosit

atau kandungan hemoglobin. Anemia terjadi apabila kepekatan hemoglobin

dalam darah dibawah batas normal. Hemoglobin adalah sejenis pigmen yang

terdapat dalam sel darah merah bertugas dari paru-paru ke jaringan tubuh

(Ahmady, 2016).

Penyebab anemia yang terjadi pada wanita usia subur ada beberapa yaitu

gangguan pembentukan eritrosit terjadi apabila terdapat defisiensi substansi

tertentu seperti mineral (besi, tembaga), vitamin (B12, asam folat), asam

amino, serta gangguan pada sumsum tulang. Perdarahan baik akut maupun

kronis mengakibatkan penurunan total sel darah merah dalam sirkulasi dan

hemolisis atau proses penghancuran eritrosit adapun penyebab anemia secara

umum adalah Kekurangan zat gizi dalam makanan yang di komsumsi,

penyerapan zat besi yang tidak optimal, misalnya karena diare, pembedahan

saluran pencernaan, kehilangan darah yang disebabkan oleh perdarahan

menstruasi yang banyak, perdarahan akibat luka, perdarahan karena penyakit

tertentu, kanker (Wijayanti, 2019)

Dampak dari anemia adalah menurunkan Daya tahan terhadap infeksi

Defisiensi zat besi menyebabkan menurunnya daya tahan terhadap penyakit

infeksi dan meningkatnya kerentanan mengalami keracunan, kekurangan zat

besi, kematian akibat penyakit infeksi meningkat karena kurangnya zat besi

berdampak pada system imun, mengganggu Produktivitas kerja, selain itu,

anemia juga berdampak pada produktivitas kerja dan juga menyebabkan

kelelahan dan berdampak saat kehamilan, simana pada masa hamil

154
PA

berhubungan dengan kejadian BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah) dan

peningkatan risiko kematian ibu dan bayi perinatal. Selama kehamilan, anemia

diasosiasikan dengan peningkatan kesakitan dan [Link] tingkat

berat diketahui merupakan faktor risiko kematian [Link] janinnya sendiri,

anemia selama kehamilan dapat meningkatkan risiko BBLR, kelahiran

prematur, dan defisiensi zat besi serta anemia pada bayi nantinya (Syakir,

2018)

Sedangkan pencegahan yang dilakukan pada pasien yang mengalami

anemia adalah Meningkatkan konsumsi makanan bergizi yang banyak

mengandung zat besi dari bahan makanan hewani (daging, ikan, ayam, hati,

telur) dan bahan makanan nabati (sayuran berwarna hijau tua, kacang-

kacangan, tempe, makan sayur-sayuran dan buah-buahan yang banyak

mengandung vitamin c (daun katuk, daun singkong, bayam, jambu, tomat,

jeruk, buah bit, jambu, lemon) sangat bermanfaat untuk meningkatkan

penyerapan zat besi dalam usus, menambah pemasukan zat besi kedalam tubuh

dengan minum Tablet Tambah Darah (TTD). Mengobati penyakit yang

menyebabkan atau memperberat anemia seperti: kecacingan, malaria, dan

penyakit TBC (Wijayanti, 2019)

Buah bit dan jambu biji merah samasama memiliki kandungan zat besi

dan vitamin C yang baik bagi kesehatan. Zat besi penting dalam sintesis

hemoglobin dan pematangan sel darah merah sehingga dapat mencegah

anemia. Vitamin C berkaitan dengan farmakokinetik zat besi, sebagai

promotor yang membantu penyerapan besi non heme dalam usus halus melalui

proses reduksi besi ferri (Fe3+) menjadi ferro (Fe2+) sehingga mudah

diabsorbsi serta membantu pelepasan besi dari transferin ke dalam jaringan

155
PA
tubuh dan menghambat pembentukan hemosiderin (protein darah) yang sulit

dimobilisasi dalam pembebasan besi serta meningkatkan pembentukan darah.

156
155

BAB V

PENUTUP

Setelah melakukan penulisan literatur review dengan Anemia pada usia

reproduksi sedang serta menghubungkan dengan teori dan Avidance Based maka

penulis dapat menarik kesimpulan dan saran yaitu :

A. Kesimpulan

1. Berdasarkan kasus di dapatkan bahwa nona mengalami menorraghia

disertai anemia sedang dengan Hb awal 7,4 diberikan transfuse dan terapi

berupa terapi obat dan herbal mengalami perbaikan.

2. Berdasarkan kasus bahwa diagnosa / masalah aktual pada wanita usia

reprodusi yang mengalami anemia maka didapatkan diagnosa aktual dilihat

dari keadaan klinis, hasil pemeriksaan fisik bahwa wanit usia subur yang

mengalami anemia akan cenderung tidak bersemangat, mudah lelah, lemas

dan pucat

3. Berdasarkan kasus bahwa diagnosa / masalah potensial adalah di

antisipasi terjadinya anemia berat.

4. Berdasarkan kasus bahwa tindakan segera dan kolaborasi pada yang

dilakukan untuk mengatasi anemia pada wanita usia reproduksi adalah

pemberian vitamin, obat dan terapi komplementer berupa akupresur dan jus

buah.

157
155

158
156

6. Berdasarkan kasus bahwa tindakan asuhan pada wanita usia reproduksi yang

mengalami anemia yaitu melakukan kolaborasi dengan tenaga kesehatan dan

pemberian terapi komplementer berupa akupresur dan pemberian jus buah.

Memperbaiki keadaan umum klien serta memberikan pengetahuan kepada

wanita terkait makanan yang harus dikomsumsi untuk mencegah terjadinya

anemia

7. Berdasarkan kasus mengenai wanita usia reproduksi yang mengalami

anemia, hal yang harus di evaluasi yaitu penanganan yang sudah dilakukan

berhasil meningkatkan kadar Hb pada klien yang mengalami anemia

B. Saran

Melihat besarnya efek yang ditimbulkan dengan adanya anemia pada

wanita uisa subur yang akan berdampak pada buruknya perlu diberikan

tindakan yang tepat dan segera untuk mengantisipasi masalah tersebut. Oleh

karena itu, adapun saran dari penulis sebagai berikut :

1. Untuk mencegah terjadinya komplikasi pada klien wanita mengalami

anemia agar mendapat pertolongan yang cepat dan tepat, sehingga dapat

segera di antisipasi kemungkinan masalah lain yang dapat terjadi.

2. Seorang bidan harus dapat menilai dan mengetahui penyulit-penyulit lewat

pengetahuan yang dimiliki sehingga terjadi pertolongan secara cepat serta

memberikan tindakan yang efektif dan efesien.

159
157

DAFTAR PUSTAKA

Adriani,M., & Wirjatmadi, B. 2014. Gizi dan Kesehatan Balita Peranan Micro
Zinc pada Pertumbuhan Balita. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.

Almatsier Sunita, Susirah Soetardjo dan Moesijanti Soekarti. 2011. Gizi Dalam
Daur Kehidupan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Ahmady, Mariana Dina, H. (2016). Penyuluhan Gizi Dan Pemberian Tablet


Besi Terhadap Pengetahuan Dan Kadar Hemoglobin Siswi Sekolah
Menengah Atas Negeri Di Mamuju. Jurnal Kesehatan Manarang, 2

Andira Dita. 2010. Seluk Beluk Kesehatan Reproduksi Wanita. Cetakan:


Yogyakarta: A Plus Book.

Ani, L. S., Weta, I. W., Utami, N. W. A., Suranadi, W., & Suwiyoga, K. (2018).
Program Pencegahan Anemia Bagi Wanita Masa Prakonsepsi Di Wilayah
Kerja Puskesmas Sidemen Kabupaten Karangasem. Buletin Udayana
Mengabdi, 17(3), 145–151. [Link]

Ahmady, Mariana Dina, H. (2016). Penyuluhan Gizi Dan Pemberian Tablet Besi
Terhadap Pengetahuan Dan Kadar Hemoglobin Siswi Sekolah Menengah
Atas Negeri Di Mamuju. Jurnal Kesehatan Manarang, 2.

Arisman, M. B. (2010). Buku Ajar Ilmu Gizi Dalam Daur Kehidupan. Edisi-2.
Jakarta: EGC.

Atik Purwandari, [Link]., S. (2008). Konsep Kebidanan Sejarah &


Profesionalisme

Baker, PN.;S.J. Wheeler; Sanders, TA.; Thomas, JE.; Hutchinson, Cj,;Clarke, K.;
et al. 2009. A Prospe ctive Study of Micronutrient Status in Adolescent
Pregnancy. American Journal of Clinical Nutrition, Vol. 89 (4); 1114-1124.

Bersamin, Andrea, Heneman, Karrie, Hathaway, Cristy, et al. 2008. Nutritional


and Health Info Sheet: Iron and Iron Deficiency Anemia. dalam S.
Fikawati, A. Syarif, & a, Veratamala, Gizi Anak dan Remaja, PGM: 33 (2).
Briawan D. Anemia:Masalah Gizi pada Remaja Wanita. Jakarta: EGC; 2014

Briawan, Dodik. 2012. Anemia Masalah Gizi Pada Remaja Wanita. Buku
Kedokteran ECG Jakarta.

Caturiyanti Nigtiyasi Titin. Hubungan antara pengetahuan, sikap dan tidak dengan
kejadian anemia remaja putri kels X dan XI SMA Negri 1 polokarya, 2015

157
160
Desmon Wirawati, Astuti Yuni Nursasi, dan S. M. (2017). gerakan remaja setia
(sehat tampa anemia) dapat pencegahan anemia pada remaja. Jurnal
Medikes, 4(November 2017), 185–194.

Desri Suryani, Riska Hanafi, & R. J. (2015). Analisis Pola Makan dan Anemia
Gizi Besi pada Remaja Putri kota Bengkulu. Jurnal Kesehatan Msyarakat
Andalas, 11–18.

Dewi Novitasari. (2012). Faktor-Faktor Risiko Kejadian Gizi Buruk Pada


Semarang.

Elya Sugianti. (2017). Evaluation Of Feeding Programme To The Malnutrition.


Jurnal Cakrawala, 11(2), 217–224.

Erizka Marwia Triyonate, A. K. (2015). faktor determinan anemia pada wanita


dewasa usia 23-35 tahun. Journal of Nutrition Collage, 4.

Fauziyah, Anny. 2012. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Tentang Nutrisi


Prakonsepsi Terhadap Tingkat Pengetahuan, Sikap dan Praktik Konsumsi
Makanan Sehat Wanita Pranikah di Kota Tegal. [Link]: Universitas
Indonesia.

Fikawati, Sandra, Ahmad Syafiq dan Khaula Karima. 2015. Gizi Ibu dan Bayi.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Fikawati S, Syafiq A, Veratamala A Gizi Anak dan Remaja. Depok: Rajawali


Pers; 2017

Fraser Diane & Cooper Margaret .2009 Rencana Asuhan Keperawatan Medical
Bedah. [Link]

Hidayah, N. (2016). Analisis Faktor Penyebab Anemia Wanita Usia Subur Di


Desa Jepang Pakis Kabupaten Kudus. The 3
University Reseach Colloquium, 70–78.

I Putu Suiraoka, A.A. Gede Raka Karanaya, & H. N. (2016). pengaruh model
pendidikan sebaya terhadap pengetahuan dan sikap remaja tentang anemia
gizi besi di SMK Negeri 4 Dempasar. Jurnal Ilmu Gizi, vol 5 no 4, 1–9.

Indriani Yaktiworo, Reni Zuraida dan Rabiatul Adawiyah. 2013. Pola Makan Dan
Tingkat Kecukupan Gizi Wanita Usia Subur Pada Rumah Tangga Miskin.
Seminar Nasional Sains & Teknologi V Lembaga Penelitian. Universitas
Lampung.

158
Juraida Roito Harahap. (2015). pengaruh distribusi makanan beban ganda dan
pengambilan keputusan terhadap anemia dalam kehamilan di wilayah kerja
puskesmas rumbio jaya kabupaten kempar. Jurnal Proteksi Kesehatan,
volum 4 no, 79–90.

Juslina, Thaha, A. R., & Virani, D. (2013). Asupan Zat Besi (Fe) dan
Hubungannya dengan Jenis-Jenis Anemia pada Wanita Prakonsepsi di
Kecamatan Ujung Tanah dan Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar.
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, 190, 1–10.

Kaderman Matius Harita. (2018). Perbedaan Asupan FE dan Kadar HB Anak Gizi
Kurang 12-59 Bulan Sebelum Dan Sesudah Di Intervensi Cookies Tepung
Daun Kelor Di Wilayah Kerja Puskesmas Pertumbukan.

Kementrian Agama RI. (2015). [Link]-Quran Dan Terjemahannya. jakarta Toha


Putra
Kementerian Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) [Link]
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementeria Kesehatan RI.
Jakarta: 2013.
KEMENKES. (2016). Pedoman Pencegahan dan Penanggulangan Anemia. 97.
Khumaira, [Link] Kebidanan, Yogyakarta: Citra Pustaka.
Kusmiran, Eny. 2011. Kesehatan reproduksi remaja dan wanita . Jakarta.
Salemba Medika.
Nurhidayati Rohmah Dyah. (2013). Analisis Faktor Penyebab Terjadinya
Anemia Pada Ibu Hamil Diwilayah Kerja Puskesmas Tawangsari
Kabupaten Sukoharjo. Naskah Publikasi, 1–16.

Nurjannah. A. (2017). Manajemen Asuhan Kebidanan Antenatal Care Pada Ny


“M” Dengan Anemia Di Puskesmas Mamajang. Fakultas Kedokteran Dan
Ilmu Kesehtan.
Manshur Abd al-Qadir.2009. Buku Pintar Fikih Wanita. Cetakan : Jakarta:
Zaman.

Mangkuji Betty. (2013). Asuhan Kebidanan 7 Langkah Varney. jakarta: penerbit


buku kedokteran EGC.

Masthalina H, L. D. Y. (2015). Pola Konsumsi (Faktor Inhibitor dan Enhacer Fe)


terhadap Status Anemia Remaja Putri. Jurnal Kesehatan Masayrakat, 11(1),
80–6.

159
Miratu Megasari, S.S.T., M. K., Juli Selvi Yanti, M. K., Een Husanah, M. K., &
Novita Lusiana, M. K. (2015). Rujukan Lengkap KONSEP KEBIDANAN.

Purwandari, A., Lumy, F., Dalema, A., & Tuminting, P. (2019). Pemanfaatan
Jambu Biji Merah Dan Pisang Ambon Terhadap Peningkatan Kadar
Haemoglobin Ibu Hamil. Jurnal Ilmiah Bidan, 7, 29–37.

Paratmanitya, Y., Hadi, H., & Susetyowati. (2014). Citra Tubuh , Asupan Makan
Dan Status Gizi Wanita Usia Subur ( Wus ) Pranikah Program
Pascasarjana. Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 8(3), 126–134.
[Link]

Patimah, Sitti. 2017. Gizi Remaja Putri Plus 1000 Hari Pertama Kehidupan.
Bandung: PT Refika Aditama

Qalbi, M. N., Thaha, A. R., & Syam, A. (2014). Indikator Antropometri dan
Gambaran Conjunctiva sebagai Prediktor Status Anemia pada Wanita
Prakonsepsi di Kota Makassar. 1–11.

Ratna Ayu Dinar. (2017). Manajemen asuhan antenatal pada ny R dengan


anemia di puskesmas somba opu Gowa.

Riskesdes, 2016. Badan Penelitian dan Pengembagan Kesehatan Kementrian


Kesehatan RI. Jakarta.

Sahana ON, S. S. (2015). Hubungan Asupan Mikronutrien dengan Kadar


Hemoglobin pada Wanita Usia Subur (WUS). Media Gizi Indonesia, 10(2),
184–91.
Sherwood, L. (2011). Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Ed 2 Jakarta: EGC.
Siagian, A. E. (2017). Research Article Relation Between Food Consumption and
Anemia in Children in Primary School in a. Final Disposal Waste Area.
Pakistan J Nutr, 16(4), 242–8.

Silawati, V., & Sari, A. K. (2020). Upaya Berbasis Sekolah Peningkatan


Hemoglobin dalam Masa Menstruasi Remaja Putri : Studi di SMP 113
Jakarta. Jurnal Sosiologi Andalas, 6(2), 8–13.

Siti, O., Dan, A., & Irianto, S. (2015). status anemia, perilaku dan pengetahuan
gizi serta kesehatan resproduksi buruh perempuan. Jurnal Unimus, 219–232.

Sudigno, S. (2017). Prevalensi dan Faktor Risiko Anemia pada WUS di Rumah
Tangga Miskin di Kabupaten Tasikmalaya dan Ciamis, Provinsi Jawa Barat.
Jurnal Kesehatan Reproduksi, 7(2), 71–82.

160
Sudikno, S. (2016). prevalensi dan faktor resiko anemia pada wanita usia subur si
rumah tangga miskin di bkabupaten tasikmalaya dan ciamis provinsi jawa
barat. Jurnal Kesehatan Reproduksi, 7(2), 71–82.

Sudirman. (2016). Indonesian Journal of Human Nutrition. 3(2), 105–122.

Sufyan, D., Oy, S., & Mardiana, S. (2019). Hubungan antara Kecukupan Energi
dan Protein dengan Prevalensi Anemia pada Wanita Usia Subur di
Kecamatan Ciampea Bogor. Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat, 11, 232–
237.

Susarmi. (2017). Laporan Tugas Akhir Asuhan Kebidanan Pada Ny .” H ”


Dengan Anemia Sedang Di Wilayah Kerja Puskesmas Gunung Samarinda
Kota Balikpapan 01 Maret - 10 Juni 2017
Oleh : Andi Wahyuni Nim : Po 7224114002.

[Link].2016. Gizi Dalam Daur [Link]: Pt Refika


Aditama

Syakir, S. (2018). Pengaruh Intervensi Penyuluhan Gizi Dengan Media Animasi


Terhadap Perubahan Pengetahuan Dan Sikap Tentang Anemia Pada Remaja
Putri. Journal Uhamka,
3(1), 18–25.

Tarwoto,Ns., dan Wasnidar. 2007. Anemia Pada Ibu Hamil. Trans Info Media.
Jakarta.

Tiaki Nur Khatim Ah. 2017. Hubungan Pola Makan dengan Kejadian Anemia
Pada Remaja Putri Kelas XI Di SMKN 2 Yogyakarta.

Tsalissavrina, I., Prawirohartono, E. P., & Lestari, L. A. (2012). Efek F100 dan
formula tepung tempe terhadap kadar serum Fe dan hemoglobin pada anak
gizi kurang. Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 9(1), 25–33.

Uto, M. Y. (2016). Asuhan Kebidanan Pada Ny A.M ia ruangan edelweis RUSD


[Link]. W. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Citra Husada Mandiri.

Wijayanti, E., Fitriani, U., & Tengah, J. (2019). PROFIL KONSUMSI ZAT GIZI
PADA WANITA USIA SUBUR ANEMIA Nutrient Intake Profil in Anemic
Childbearing Age Women payung “ Observasi Klinik Formula Jamu. MGMI,
VOL 11 No, 39–48.

Widyaastuti,dkk. Kesehatan Reproduksi . Yogyakarta: Fitramaya. 2010.

Yohanes. (2020). potensi sirsak (annona moricata) sebagai pecegahan kista


ovarium. 8(1), 92–101.

161
Yulifah, R., & Surachmindari. (2013). Konsep Kebidanan Untuk Pendidikan
Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika.

Yulifah, R., & Surachmindari. (2013). Konsep Kebidanan Untuk Pendidikan


Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika.

Yuni,Erlina,Natalia.2018. Kelainan Darah. Yogyakarta.

Yuni EY. Kelaiana Darah. Yogyakarta: Nuha Medika: 2015

Yulifah, Rita dan Sucarhmindari. [Link] Kebidanan Untuk Pendidikan


Kebidanan, Jakarta: Salemba Medika.

Zafira, A. I. (2019). Analisis Pencegahan dan Penanganan Ovarian Cysts


Ditinjau dari Pola Makan Pasien.

Zeln,Umar. 2010. Ilmu Kesehatan Umum. Medan. USU Press

162
Dokumentasi

163

Anda mungkin juga menyukai