0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan72 halaman

Representasi Keluarga di Film Ngeri-Ngeri Sedap

Diunggah oleh

Virgin Nonna
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan72 halaman

Representasi Keluarga di Film Ngeri-Ngeri Sedap

Diunggah oleh

Virgin Nonna
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

REPRESENTASI KELUARGA DALAM FILM NGERI-NGERI SEDAP

(Studi Kasus pada Peer Group yang Menonton Film Ngeri-Ngeri Sedap)

SKRIPSI

Diajukan kepada Program Studi Ilmu Komunikasi

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Katolik Widya Mandira

OLEH

SHERON MARIANA ALEZANDRA ENGELBERT

43120029

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS KATOLIK WIYA MANDIRA
KUPANG
2024
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari, komunikasi merupakan hal yang paling

penting. Hal ini didasari karena komunikasi adalah proses penyampaian pesan

dari seseorang kapada yang lainnya dengan maksud menciptakan pemahaman

yang sama. Sebuah komunikasi memerlukan unsur-unsur yang dapat mendukung

prosesnya agar bisa efektif, yakni komunikator sebagai pengirimm pesan, isi

pesan/konten, komunikan orang yang menerima pesan, media/saluran, dan respon

balasan atau feedback. Komunikasi bertujuan menyampaikan pendapat, saling

bertukar pikiran serta mempengaruhi perilaku lawan bicara sesuai yang

diinginkan (Nurhadi, 2018: 91). Jadi, komunikasi adalah suatu proses pertukaran

pesan yang dilakukan manusia untuk kelangsungan hidupnya dan beradaptasi

dengan lingkungannya.

Suatu proses komunikasi dapat terjalin baik melalui komunikasi verbal

maupun komunikasi nonverbal. Komunikasi verbal merupkan proses komunikasi

yang dilakukan dengan melalui simbol-simbol verbal seperti penggunaan bahasa,

gambar dan bunyi. Sedangkan komunikasi nonverbal merupakan komunikasi

yang dilakukan tidak melalui bahasa, melainkan melalui penggunaan gestur

tubuh, seperti sentuhan dan lirikan mata. Komunikasi nonverbal biasanya juga

ikut digunakan saat seseorang berkomunikasi secara verbal. Hal ini terjadi karena

1
ketika berkomunikasi, seseorang bukan saja menggunakan kata-kata, tapi juga

melibatkan penggunaan gerakan tangan (Lani et al, 2021: 165).

Menurut Weaver komunikasi merupakan suatu prosedur saling

mempengaruhi pikiran yang dilakukan manusia dengan manusia lainnya. Bentuk-

bentuk komunikasi antar lain komunikasi kelompok, komunikasi massa,

komunikasi interpersonal, dan komunikasi interpersonal (Taufik, 2020: 125-126).

Perkembangan teknologi saat ini telah melahirkan bentuk komunikasi yang lebih

canggih, seperti halnya dalam komunikasi massa. Tindakan menyebarkan

informasi kepada masyarakat umum melalui media cetak dan elektronik disebut

penyebaran informasi secara luas Seperti yang diungkapkan oleh Janowitz, media

massa adalah proses komunikasi antar inddividu maupun kelompok yang

melibatkan penggunaan alat teknologi seperti film, radio, televisi, koran untuk

menyebarkan pesan/konten kepada masyarakat yang heterogen dan menyebar

diwaktu yang sama. Lebih lanjut, John Bittner yang mengatakan bahwa

komunikasi massa merupakan sebuah informasi atau kabar yang disebarkan pada

orang-orang yang tersebar secara luas melalui media massa, baik media

elektronik, cetak, maupun web. Media massa berfungsi memberikan informasi,

melakukan persuasif, menghibur dan transmisi budaya pada masyarakat (Hadi et

al, 2020: 34).

Film berfungsi sebagai media yang menggambarkan kehidupan sosial dalam

masyarakat dan memberikan pelajaran serta gambaran hidup yang berharga

kepada pemirsanya, sehingga menjadikannya sebagai bentuk komunikasi yang

paling efektif. Sebagai semacam inovasi budaya, film menawarkan pelajaran

2
hidup dan gambaran realistis kepada pemirsa. Kemampuan sebuah film untuk

menyampaikan kondisi kesadaran manusia sangat dipengaruhi oleh kualitas

konten audiovisualnya (Alfiyatun,2019:1-2). Film disebut juga sebagai

cinematographie yang dimbil dari kata cinema dan tho/phytos bermakna gerak

dan cahaya. Sehingga film secara harafiah diartikan sebagai sebuah gambar yang

bergerak dengan bantuan cahaya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia

(KKBI), film mempunyai arti sebuah teknologi produksi dari seluloid yang

digunakan sebagai media tempat gambar yang akan dipotret (gambar negatif) dan

gambar yang akan ditampilkan di layar bioskop (gambar positif). Film digunakan

sebagai sarana menyebarluaskan sebuah pesan atau informasi kepada masyarakat

luas, khususnya bagi yang menontonnya (Alfathoni, 2020: 2).

Film merupakan salah satu bentuk media yang lebih unggul dibandingkan

bentuk komunikasi lainnya karena mampu menjangkau khalayak yang lebih luas

seta berbagai lapisan masyaraka dan film tersebut bisa berdampak bagi

pengikutnya. Sebuah film yang dibuat harus memperhatikan genre dan makna

yang ingin disampaikan pada penontonnya (Masni, 2020: 197). Film Ngeri-Ngeri

sedap merupakan sebuah film bertema keluarga, film ini mengangkat cerita yang

berlatar belakang suku Batak. Film keluarga garapan Sutradara Bene Dion

Rajaguguk bercerita tentang sebuah keluarga yang tinggal di tepi Danau Toba,

mereka mempunyai 4 (empat) orang anak yang bernama Domu, Sarma, Gabe dan

Sahat. Ketiga putranya merantau seorang putri yang tinggal bersama orantuanya.

Ketiga puteranya tersebut tidak ingin pulang dan memberikan kerinduan yang

besar terhadap orang tuanya.

3
Peer group merupakan sebuah kelompok yang didasarkan atas kesamaan

umur dan memiliki perasaan kedekataan karena faktor- faktor seperti, lingkungan

yang sama. Peer group adalah bentuk kelompok pertemanan yang memiliki

dorongan batin untuk dapat bekerja sama dan bermain. Umur dalam peer group

memiliki jarak yang tidak terlalu jauh, sehingga masih bisa disebut sebaya atau

sama umur. Selain itu, peer group juga bisa memiliki kesamaan dalam hal

psikologis dan tingkah laku adaptasi lingkungan. Kelompok seperti ini dapat

ditemukan di lingkungan sekolah dan lingkungan tempat tinggal (Afifah, 2022:14)

Pada film Ngeri-Ngeri Sedap juga menemukan bahwa film ini mendapat

perhatian dari generasi muda karena mengandung cerita yang dirasa sesuai dengan

kenyataan yang dialami oleh remaja umumnya. Pesan moral tentang keluarga

dalam film ini membuat kaum muda tertarik menontonnya karena bisa menambah

pengetahuan bagi mereka tentang kedekatan sebuah keluarga.

Penelitian ini mengambil informan dari kelompok peer group penulis yang

bernama Meet Team. Peer group ini adalah teman-teman penulis yang berjumlah

10 orang dengan kisaran usia tidak jauh berbeda, yaitu 20-22 tahun. Meet Team

terbentuk karena faktor kedekatan dalam lingkungan pertemanan, selain itu karena

anggota kelompok ini juga mempunyai hobi dan minta yang sama, salah satunya

adalah menonton film.

Berdasarkan wawancara awal yang dilakukan kepada salah satu informan

kelompok peer group Meet Team yang menonton film Ngeri-Ngeri Sedap pada 27

Maret 2024, penulis menemukan bahwa informan memiliki pemahaman terkait

keluarga. Setelah menonton film tersebut, informan mamaknai keluarga sebagai

4
bentuk interaksi penyaluran kasih sayang yang diekspresikan melalui bahasa dan

gestur gerak tubuh. Menurutnya, sebuah keluarga bukan hanya berbicara tentang

cinta kasih, tetapi lebih dari itu keluarga adalah tempat paling nyaman untuk

berbagi suka duka, berkeluh kesah dan menerima pribadi apa adanya.

Menurut informan lain saat diwawancarai pada tanggal 29 Maret 2023, ia

memaknai keluarga dalam film Ngeri-Ngeri Sedap sebagai kelompok kecil dalam

masyarakat yang paling nyaman. Ia juga mengatakan keluarga yang digambarakan

dalam dalam film tersebut adalah sebuah „comfort zone‟ atau zona nyaman untuk

mengespresikan rasa sayang kepada sesama anggota, maupun sebaliknya bersedia

menerima kasih sayang yang diberikan oleh anggota lainnya.

Dalam penelitian ini, penulis akan menganalisis makna keluarga

menggunakan tiga pendekatan dalam teori Stuart Hall. Sesuai pengertiannya, teori

representasi menurut Stuart Hall secara umum membantu menjelaskan makna dan

pemahaman budaya di seluruh dunia. Simbol, gambar, atau tanda digunakan

untuk menciptakan, menyampaikan, dan melestarikan makna dan pemahaman

tersebut. Memahami bagaimana makna diciptakan dan dikomunikasikan melalui

berbagai media dan praktik komunikasi sosial merupakan inti teori representasi.

Hal ini menjelaskan bahwa representasi dapat membentuk sebuah sebuah

persepsi, hubungan sosial dan identitas (Sholichah et al, 2023: 35-36). Teori ini

digunakan untuk melihat representasi keluarga dalam film Ngeri-Ngeri Sedap dan

keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari dalam keluarga oleh kelompok peer

group melalui tiga pendekatan representasi menurut Stuart Hall, yaitu reflektif,

intensional dan konstruksionis.

5
1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang permasalahan di atas terlihat jelas bahwa yang menjadi

perhatian utama penelitian ini adalah “Bagaimana representasi keluarga dalam

film Ngeri-Ngeri Sedap (Studi Kasus pada Peer Group yang Menonton Film

Ngeri-Ngeri Sedap)?”.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Representasi Keluarga dalam

film Ngeri-Ngeri Sedap pada peer group yang menonton film Ngeri-Ngeri Sedap.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah:

a) Secara teori, penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan

terkait representasi keluarga dalam film bergenre drama.

b) Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi

kajian film bergenre drama, khususnya yang berkisah tentang keluarga.

Selain itu, diharapkan juga dapat memberikan wawasan yang dapat

digunakan oleh komunitas penonton film untuk menafsirkan apa yang

mereka tonton.

1.5 Kerangka Pemikiran, Asumsi dan Hipotesis

Berikut ini adalah kerangka pikir, asumsi dan hipotesis dari penelitian ini:

6
1.5.1 Kerangka Pemikiran

Setiap proyek penelitian membutuhkan landasan pemikiran pemecahan

masalah. Oleh karena itu, penelitian harus memasukkan kerangka kerja. Gagasan

utama yang menentukan perspektif dari mana masalah penelitian akan diteliti

terkandung dalam kerangka kerja tersebut. Kerangka pemikiran dalam penelitian

ini berawal dari representasi keluarga yang terdapat dalam film Ngeri-Ngeri

Sedap. Salah satu kelompok penikmat film yang dapat diamati adalah kelompok

peer group. Teman sebaya diartikan sebagai teman, sahabat, atau individu yang

mungkin diajak berkolaborasi. Karena perbedaan usia yang dekat, teman sebaya

juga sering disebut sebagai teman seusia. Anak atau remaja yang berada pada

tahap perkembangan disebut teman sebaya.

Salah satu media komunikasi massa adalah film. Film adalah alat

komunikasi dengan jangkauan tak terbatas yang memungkinkan adanya ekspresi

tak terbatas selama proses pendidikan massal. Banyak orang dapat menikmati film

mulai dari generasi muda, dewasa, lanjut usia, dan remaja. Film dengan judul

Ngeri-Ngeri Sedap meruapakan salah satu film yang menceritakan tentang

keluarga. Keluarga disebut juga sebagai kelompok terkecil dalam masyarakat

dimana setiap individu memiliki perannya masing-masing. Keluarga disatukan

dalam sebuah ikatan perkawinan atau adopsi dengan tujuan meningkatkaan

perkembangan fisik, mental, emosional serta sosial.

Hubungan antara gagasan dan bahasa mengenai benda-benda yang dibuat,

orang-orang nyata, atau peristiwa-peristiwa sejarah juga dapat dipahami sebagai

representasi. Artinya, bahasa yang digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang

7
mempunyai arti bagi orang lain disebut representasi. Representasi keluarga dalam

film ini dapat dimaknai oleh kelompok peer group yang dilihat berdasarkan teori

Stuart Hall melalui 3 pendekatan yaitu, reflektif, intensional dan konstruksionis.

Berikut ini diuraikan bagaimana kerangka penelitian ini mengalir,

berdasarkan uraian yang diberikan di atas:

Bagan 1.1

Kerangka Pemikiran

Sumber: Hasil Abstraksi Penulis, 2024

1.5.2 Asumsi

Asumsi atau dugaan sementara yang merupakan pemberitahuan suatu

permasalahan yang dinyatakan dalam bentuk laporan atau pendapat disebut

8
asumsi. Sebelum melakukan penelitian ini, adapun asumsi yang dipegang oleh

peneliti, yaitu terdapat representasi keluarga dalam film Ngeri-Ngeri Sedap pada

kelompok peer group.

1.5.3 Hipotesis

Hipotesis adalah solusi spekulatif atau perkiraan terhadap suatu masalah.

Berdasarkan rumusan masalah penelitian hipotesis yang peneliti gunakan yakni,

adanya representasi keluarga dalam film Ngeri-Ngeri Sedap pada anggota peer

group dilihat melalui reflektif, intensional dan kontruksionis.

9
BAB II

LANDASAN KONSEPTUAL

2.1 Penelitian Terdahulu

Penelitian sebelumnya berupaya untuk mengumpulkan referensi dan

memperoleh informasi perbandingan orang dalam rangka penyusunan penelitian

ini. Studi ini mengacu pada sejumlah investigasi sebelumnya, khususnya yang

berikut ini:

Penelitian terdahulu bertujuan untuk mengumpulkan data referensi dan

perbandingan dalam rangka penyusunan penelitian ini. Studi ini mengacu pada

sejumlah investigasi sebelumnya, khususnya yang berikut ini:

1. Penelitian yang dilakukan oleh Sapto Hudoyo dan Prajanata Bagiananda

(2014), mengambil judul Representasi Keluarga Jawa Dalam Film Jokowi.

Dalam Penelitian ini menerapkan, meningkatkan makna melalui bahasa

adalah salah satu dari tiga prinsip panduan pendekatan konstruksionis. pada

teori representasi Stuart Hall. Segmen urutan (acts), adegan (adegan), dan

shot diperiksa untuk mendapatkan data. Selanjutnya, reduksi data digunakan

untuk menganalisis data dan menarik kesimpulan atau mengkonfirmasi data

urutan, atau tindakan, dimana setiap tindakan menyertakan adegan dan

pengambilan gambar tambahan yang berfungsi sebagai elemen pendukung.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Kezia Devinna Kristianto (2015),

mengambil judul Representasi Fungsi Keluarga Dalam Film Ekskul. Dalam

penelitian ini menggunakan teori dari Jhon Fiske. Film ini berkisah tentang

10
persahabatan antara dua orang dari kelas sosial yang berbeda, namun juga

mengandung banyak pelajaran moral baik untuk anak-anak maupun orang

dewasa. Hal ini menunjukkan bagaimana persahabatan dapat terbentuk

dengan mengenali kelebihan dan kekurangan masing-masing. serta perlunya

selalu memberi, saling peduli, dan bersyukur.

Persamaan kedua penelitian terdahulu dengan penelitian ini adalah objek

yang ingin diteliti yakni, representasi keluarga dan sama-sama menggunakan

metode kualitatif digunakan dalam film dan metodologinya untuk memperoleh

data. Sedangkan, letak perbedaaannya pada penelitian terdahulu yang pertama

membahas tentang representasi keluarga Jawa dengan menggunakan teori

representasi oleh Stuart Hall yang ditinjau dari salah satu dari tiga prinsip

pendekatan constructionist (perbaikan makna melalui bahasa). Dan, letak

perbedaan dengan penelitian terdahulu yang kedua adalah teori yang digunakan,

yaitu semiotika oleh Jhon Fiske. Jadi, pada penelitian ini penulis akan

merepresentasikan keluarga dalam Film Ngeri-Ngeri Sedap menggunakan teori

Stuart Hall yang ditinjau dari tiga pendekatan, yaitu reflektif, intensional dan

konstruksionis.

2.2 Komunikasi

2.2.1 Pengertian Komunikasi

Komunikasi merupakan Salah satu aspek paling penting dan rumit dari

keberadaan manusia adalah komunikasi. Orang-orang sangat terpengaruh oleh

komunikasi dengan sesamanya, baik yang sudah mereka kenal maupun yang

11
belum mereka kenal. Karena komunikasi sangat penting bagi keberadaan

manusia, kita harus sangat berhati-hati saat berkomunikasi.

Proses komunikasi adalah penyampaian pesan atau simbol yang bermakna

dari komunikator kepada komunikan dengan tujuan tertentu. Dengan demikian,

setiap langkah dalam proses komunikasi mempunyai makna yang bergantung

pada pemahaman dan persepsi komunikan; setiap aktor dalam proses tersebut

mempunyai persepsi yang sama (Ginting, 2020: 7).

2.2.2 Bentuk Komunikasi

Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dua orang atau lebih

untuk saling melakukan pertukaran informasi. Menurut Lukas Dwiantara (dalam

Ginting, 2020: 9) bentuk dari komunikasi terdiri dari:

1. Komunikasi Interpersonal (Interpersonal Communication)

Komunikasi interpesonal pada dasarnya merupakan proses komunikasi

yang dilakukan dua orang atau lebih secara langsung (tata muka) dan

dialogis.

2. Komunikasi Kelompok (Group Communication)

Pada hakikatnya komunikasi kelompok adalah proses beberapa individu

berkomunikasi satu sama lain sesuai dengan peran dan norma yang

ditetapkan oleh kelompok.

3. Komunikasi Massa (Mass Communication)

Komunikasi massa adalah sebuah komunikasi yang menggunakan media

(saluran) dalam mengaitkan hubungan antara komunikator dan

12
komunikan secara massal, yaitu dalam jumlah besar, hidup berjauhan,

sangat heterogen, dan menghasilkan efek tertentu melalui media

(saluran).

2.2.3 Unsur-Unsur Komunikasi

Menurut Ramadani (2020:26-27) terdapat unsur-unsur dalam komunikasi

yaitu:

a. Pengirim Pesan (Komunikator)

Orang yang memulai proses komunikasi disebut komunikator, yang

merupakan pengirim pesan. Seorang komunikator tentu mempunyai

maksud dan tujuan ketika ingin menyampaikan pesan. Hal ini

menjelaskan mengapa setiap orang dapat berpartisipasi dalam proses

komunikasi sebagai komunikator.

b. Penerima Pesan (Komunikan)

Seseorang yang menerima pesan dari komunikator disebut komunikan.

Peran komunikator dan komunikan dalam komunikasi bersifat dinamis

dan dapat berubah, terutama dalam interaksi interpersonal.

c. Pesan

Segala informasi yang digunakan komunikator untuk mewujudkan

tujuan komunikasinya, baik melalui bahasa lisan atau tulisan, suara,

gambar, gerak tubuh, ekspresi wajah, atau cara lain, dapat dikategorikan

sebagai pesan.

13
d. Saluran/Media

Diperlukan suatu saluran atau medium agar pesan komunikator dapat

sampai kepada komunikan. Saluran adalah jalan yang dilalui pesan dari

si pengirim dengan si penerima. Sarana komunikasi yang normal adalah

gelombang cahaya dan suara yang terlihat dan terdengar.

2.2.4 Tujuan Komunikasi

Pada umumnya komunikasi mempunyai beberapa tujuan antara lain (Akbar,

2021: 25):

1. Pesan yang ingin disampaikan dapat dimengerti.

2. Memahami orang lain.

3. Gagasan dapat diterima oleh orang lain.

Komunikasi memiliki tujuan utama, agar pesan yang disampaikan seorang

komunikator dapat dipahami oleh komunikan.

2.3 Keluarga

2.3.1 Pengertian Keluarga

Keluarga sering digambarkan sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat.

Menurut Effendy (dalam Ramadani, 2020:32), keluarga adalah sekelompok

individu yang dihubungkan oleh kelahiran, pernikahan, atau adopsi. Mereka

terlibat satu sama lain, memainkan peran berbeda dalam membangun dan

menegakkan budaya, dan memajukan pertumbuhan sosial, mental, emosional, dan

fisik setiap anggota keluarga.

14
2.3.2 Peran Keluarga

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, peranan adalah sesuatu yang

terlibat atau berperan besar dalam terjadinya suatu hal atau peristiwa. Sebaliknya

peran sebagaimana diungkapkan Levinson dan dikutip Soejono Soekamto adalah

gagasan tentang apa yang dapat dicapai seseorang yang penting bagi struktur

sosial masyarakat. Peran mencakup norma-norma yang ditetapkan oleh

kedudukan atau lokasi seseorang dalam masyarakat; Peran dalam pengertian ini

adalah seperangkat pedoman yang mengarahkan seseorang dalam kehidupan

bermasyarakat (Shadiqin, 2018:27-28).

2.3.3 Fungsi Keluarga

Keluarga sebagai unit terkecil mempunyai peran dalam memenuhi

kebutuhan psikososial dan spiritual anak melalui interaksi antar anggotanya. Peran

ini dikenal dengan fungsi keluarga. Setiap aspek kehidupan anak diliputi oleh

tugas dan tanggung jawab keluarga yang sangat rumit, antara lain sebagai berikut:

Pertama dan terpenting, keluarga merupakan wadah utama dalam membina dan

mengembangkan setiap anggotanya menjadi manusia yang bertakwa kepada

Tuhan Yang Maha Esa. (Rahayu, 2019:27). Kedua peranan keluarga dalam

membentuk kepribadian anak. Anak memperoleh perilaku, sikap, kepercayaan,

cita-cita, dan nilai-nilai dalam masyarakat dalam kerangka pembentukan

kepribadian melalui interaksi sosial dalam keluarga. Ketiga keluarga adalah

tempat pendidikan pertama bagi anak dalam mengembangkan pengetahuan agama

anak (Rahayu, 2019:41).

15
2.4 Peer Group (Teman Sebaya)

2.4.1 Pengertian Peer Group (Teman Sebaya)

Peer group atau kelompok teman sebaya memiliki kisaran umur yang sama

atau tidak terlalu berbeda jauh. Hal ini disebabkan adanya kemungkinan terjadi

interaksi dan kolaborasi antara seorang siswa dengan teman yang lebih tua.

Teman, sahabat, atau orang yang dapat bekerja atau melakukan sesuatu bersama-

sama dianggap sebagai rekan. Kelompok anak-anak atau remaja yang berada pada

tahap perkembangan yang sama dengan disebut teman sebaya. Peer group

biasanya ditemukan di lingkungan sekolah dan rumah karena mereka memilih

lingkungan berteman yang sesuai dengan kriterianya masing- masing, misalnya

rasa nyama dan aman. Peer group adalah individu yang mirip satu sama lain

dalam hal usia dan status sosial. Cara lain untuk menggambarkan kesamaan peer

group juga dengan perilaku atau psikologis (Afifah, 2022: 14-15).

2.4.2 Fungsi Peer Group

Kemampuan seorang anak untuk mendapatkan umpan balik atas

tindakannya dari teman sebayanya adalah aspek paling penting dalam hubungan

teman sebaya. Hal ini agar anak dapat menilai apakah perilakunya membaik, tetap

sama, atau menjadi lebih buruk dibandingkan dengan tindakan temannya (Afifah,

2022:17)

2.4.3 Jenis Peer Group

Peer Hurlock (dalam Affifah, 2022: 22) menegaskan bahwa terdapat

16
berbagai macam jenis kelompok peer group, antara lain sebagai berikut:

1) Teman dekat, seorang anak biasanya memiliki dua atau tiga teman dekat

yang memiliki minat atau keterampilan yang sama dan merupakan

teman dengan jenis kelamin yang sama.

2) Sekelompok teman dekat biasanya membentuk kelompok semacam ini.

Kelompok ini terdiri dari kelompok peer group berjenis kelamin sama

maupun yang berlainan.

3) Anggota kelompok besar ini terdiri dari sejumlah kelompok kecil dan

kelompok persahabatan. Kelompok yang cukup besar ini memiliki minat

yang sama, sehingga memungkinkan satu orang untuk meningkatkan

dan mengurangi jarak sosial antar orang. Untuk memenuhi kebutuhan

sosial remaja, kelompok terorganisir biasanya dibentuk oleh sekolah

atau organisasi masyarakat dan didukung oleh orang dewasa.

4) Kelompok geng, kelompok ini biasanya terdiri dari anak-anak muda

yang tujuan utamanya menggunakan perilaku sosial untuk mengatasi

penolakan teman-temannya.

Ada beragam tipe teman sebaya di antara yang tercantum di atas, yang

membantu membentuk kelompok dengan tujuan dan minat yang sama.

Kemampuan teman sebaya dalam memberikan umpan balik kepada anak dari

teman lainnya mengenai kemampuan teman sebayanya merupakan salah satu

peran mereka yang paling berharga. Oleh karena itu, seorang anak akan

mempertanyakan apakah yang dilakukannya lebih unggul, lebih rendah, atau sama

dengan yang dilakukan teman-temannya (Afifah, 2022: 22-23).

17
2.5 Film

2.5.1 Pengertian Film

Pesan dan ideologi yang ingin disampaikan oleh para pembuat film

tercermin dalam pemilihan film mereka. Film dianggap mempunyai kekuatan

untuk menyelaraskan persepsi penonton dengan persepsi pembuat film.

Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan film sebagai lembaran tipis

seluloid yang digunakan untuk menampung gambar-gambar positif dan negatif

yang diproyeksikan ke dalam potret dan diputar di bioskop. Fitur pengiriman

pesan dan penerimaan dari komponen komunikasi sistem dimanfaatkan oleh

individu atau kelompok (Alfathoni dan Manesa, 2020:2).

2.5.2 Perkembangan Film di Indonesia

Perkembangan awal pembangunan bioskop di Indonesia bertepatan dengan

pertumbuhan produksi film. Enam tahapan perkembangan film Indonesia dibagi

menjadi dua kategori oleh Garin Nugroho dan Dyna Herlina. Yang pertama

dikenal sebagai panggung seni urban dan berlangsung pada tahun 1900-1930.

Periode kedua, dari tahun 1930 hingga 1950, menyaksikan pertumbuhan film

sebagai bentuk hiburan selama krisis ekonomi global. Ketiga, terjadi ketegangan

ideologi antara tahun 1950 hingga 1970. Keempat, pseudoglobalisme yang

berlangsung pada tahun 1970 hingga 1985. Kelima, tahun 1985–1998 disebut

sebagai tahun krisis dalam konteks globalisasi. Keenam, periode yang ditandai

dengan euforia demokrasi pada tahun 1998 hingga 2013 (Ardiyanti, 2017:168).

18
2.6 Teori Representasi Stuart Hall

Stuart Hall merupakan tokoh pencetus teori representasi yang lahir di

Kingston Jamaika dan kedua orang tuanya juga adalah orang Jamaika kelas

menengah. Selain itu, Stuart Hall juga dikenal sebagai salah satu tokoh teori

kebudayaan modern bersama bersama Richard Honggart dan Raymond Williams.

Mereka terkenal dengan pionir ide, konsep, dan cara berpikir dalam sains dan

kajian budaya yang sampai sekarang dikenal dengan istilah kajian budaya

Birmingham.

Representasi diartikan sebagai tindakan yang menyampaikan informasi

melalui sesuatu selain dirinya sendiri, biasanya berupa tanda atau simbol. Marcel

Danesi mendefinisikan representasi sebagai tindakan menangkap informasi,

konsep, atau pesan secara fisik. Lebih tepatnya representasi adalah proses

menampilkan sesuatu yang dapat dilihat, dibayangkan, atau dirasakan dalam

bentuk fisik tertentu melalui penggunaan tanda-tanda, seperti suara, gambar, dan

simbol. Berdasarkan pengertian di atas, pemikiran atau persepsi seseorang

terhadap apa yang dilihat, dibayangkan, atau dirasakannya terhadap objek nyata

seperti tanda atau simbol menghasilkan representasi (Sabrin, 2020: 10).

Stuart Hall terkenal dalam teori representasinya yang secara umum

membantu menjelaskan makna dan pemahaman budaya di seluruh dunia. Simbol,

gambar, atau tanda digunakan untuk menciptakan, menyampaikan, dan

melestarikan makna dan pemahaman tersebut. Hal ini menjelaskan bahwa

representasi dapat membentuk sebuah persepsi, hubungan sosial dan identitas.

Memahami bagaimana makna diciptakan dan dikomunikasikan melalui berbagai

19
media dan praktik komunikasi sosial merupakan inti teori representasi. Produsen

representasi memilih, memodifikasi, dan mengemas makna tertentu dalam simbol

dan tanda melalui proses pengkodean (Sholichah et al, 2023: 35- 36).

Terkait representasi, Hall juga memunculkan konsep representasi politik

yang terkenal. Politik representasional dapat dipraktikkan dalam empat tahapan

sesuai rumusannya. Pertama, mengurangi perselisihan internal. Kedua,

membangun pemahaman bersama. Ketiga, masuk ke area publik. Keempat,

berdasarkan hasil dari berbagai tahapan sebelumnya, setiap anggota kebudayaan

harus memulai kembali rangkaian kebudayaan dari awal jika politik representasi

gagal (Ghassani dan Nugroho, 2019: 129).

Menurut Stuart Hall, representasi memainkan peran penting dalam proses

penciptaan makna dan pembagian di antara para partisipan. Ini adalah representasi

budaya dan praktik yang menghubungkan bahasa dan makna dengan budaya.

Anggota masyarakat memproduksi dan bertukar makna melalui representasi.

Dengan demikian, representasi dapat diartikan sebagai sarana untuk menghasilkan

makna (Chris Barker dalam Maulana, 2017:22).

Menurut Stuart Hall 1997 (dalam Hermayanthi, 2021:13), dalam teori Stuart

Hall terdapat 3 (tiga) pendekatan terkait reprsentasi, yaitu:

a. Pendekatan reflektif, merupakan makna yang diciptakan orang melalui

konsep, item media, dan pengalaman sosial langsung.

b. Pendekatan intensional, merupakan kata-kata tertulis dan lisan untuk

memberikan makna berbeda pada setiap karyanya. Bahasa berfungsi sebagai

20
media yang melalui pembicara dalam menyampaikan arti penting segala

sesuatu dan menimbulkan efek khusus yang dikenal sebagai khas.

c. Pendekatan konstruksionis, yaitu penulisan serta memilih pembicara untuk

menyusun makna dalam karya (objek) atau pesannya. Namun yang

meninggalkan makna bukanlah material barang-barang melainkan dibuat

dari karya seni dan upaya.

21
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian dan Jenis Penelitian

3.1.1 Metode Penelitian

Meode penelitian secara umum dijelaskan sebagai rangkaian proses ilmiah

yang digunakan oleh peneliti dengan tujuan mendapatkan data terkait masalah

yang sedang diteliti (Ramdhan, 2021:1). Pada penelitian ini berfokus pada

representasi keluarga dalam film ngeri-ngeri sedap, penulis menggunakan metode

pendekatan analisis Stuart Hall. Metode tersebut penulis anggap cocok dalam

penelitian ini dikarenakan pendekatan menurut Stuart Hall menggambarkan

representasi dengan fokus pada studi kasus. Menurut Kriyantono (2020: 235)

dalam studi kasus, suatu fenomena diperiksa, dijelaskan, dan ditafsirkan dalam

konteks pengalaman tanpa memerlukan bantuan dari luar. Demikian, dalam

penelitian ini berfokus untuk mengumpulkan data spesifik dan sistematis untuk

menganalisis Representasi Keluarga dalam film Ngeri-Ngeri Sedap pada

pergaulan teman sebaya.

3.1.2 Jenis Penelitian

Jenis penelitian deskriptif kualitatif dimaksudkan untuk mengkarakterisasi

atau menjelaskan suatu situasi sebagaimana adanya, menafsirlan objek

sebagaimana adanya kejadian, atau apapun yang berhubungan dengan variabel

yang dijelaskan secara komprehensif oleh baik kata maupun angka. Studi

22
deskriptif tidak dimaksudkan untuk pengujian teori tertentu, melainkan untuk

menjelaskan apa itu gejala, variabel, atau kondisi (ZellaTifanny & Mudjiyanto,

2018: 84).

3.2 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian merupakan wilayah yang dijadikan tempat penulis untuk

meneliti objek penelitian. Penelitian ini mengambil studi kasus pada peer group

yang menonton film Ngeri-Ngeri Sedap, yang berlokasi di Naikoten II,

Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang.

3.3 Prosedur Penelitian

Prosedur pelaksanaan penelitian meliputi beberapa tahap, yaitu tahap

persiapan, tahap pengumpulan data dan tahap pengolahan data. Tahap-tahap

tersebut akan dijelaskan secara lebih rinci berikut ini:

1. Tahap Persiapan

Pelaksanaan penelitian untuk tahap yang pertama meliputi sebagai berikut:

a. Menyiapkan daftar pertanyaan untuk wawancara awal bersama

narasumber dan melakukan studi kepustakaan guna memperoleh dan

mempelajari konsep-konsep tentang representasi keluarga dalam film

Ngeri-Ngeri Sedap.

b. Menyiapkan pedoman wawancara, yaitu daftar pertanyaan wawancara

bersama narasumber dan juga alat-alat yang mendukung proses

wawancara seperti alat tulis, alat perekam suara dan kamera.

23
2. Tahap Pengumpulan Data

Peneliti harus membangun komunikasi yang baik bersama informan yang

akan diwawancarai, sehingga mendapatkan data dan informasi yang faktual dan

terpercaya.

3. Tahap Pengolahan Data

Peneliti akan membangun kesimpulan berdasarkan perolehan data dari

informan yang dilakukan melalui proses wawancara dan observasi.

3.4 Objek Penelitian, Informan Kunci dan Alasan Pemilihan Informan

3.4.1 Objek Penelitian

Objek dalam penelitian ini adalah keseluruhan informan. Untuk menetukan

objek penelitian, peneliti memilih informan dari teman sebaya peneliti yang

berjumlah 4 orang berusia 20-22 tahun.

3.4.2 Informan Kunci

Informan merupakan orang yang dianggap mampu memberikan informasi

dan data secara faktual terkait suatu permasalahan dalam penelitian. Informan

kunci dalam penelitian ini adalah 4 (empat) orang teman sebaya dalam kelompok

peer group yang pernah penonton film Ngeri-Ngeri Sedap.

3.4.3 Alasan Pemilihan Informan

Alasan pemilihan informan adalah karena informan merupakan orang yang

pernah menonton film ngeri-ngeri sedap lebih dari dua kali. Informan yang dipilih

24
berusia kisaran 20-22 tahun, karena mereka sudah dapat memberikan pemaknaan

terhadap film tersebut.

3.5 Jenis Data

3.5.1 Data Primer

Data primer adalah data yang dihasilkan secara internal melalui observasi

dan wawancara langsung dengan informan yang memiliki informasi memadai

(Siregar, 2022:72). Data primer untuk penelitian ini diperoleh dari hasil

wawancara dan observasi yang dilakukan oleh penulis bersama informan.

3.5.2 Data Sekunder

Data sekunder adalah informasi yang berasal dari sumber luar, seperti

publikasi, jurnal, dan sumber lainnya, yang dikumpulkan melalui referensi luar.

Informasi ini diperlukan untuk memperkuat data primer (Siregar, 2022:72). Data

sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari dokumen berupa referensi jurnal dan

foto yang mendukung penelitian.

3.6 Definisi Konstruk dan Indikator Penelitian

3.6.1 Definisi Konstruk

Hesse, 1980 (dalam Eko, 2020:7) mengatakan bahwa tidak mungkin

menemukan sesuatu yang benar-benar ada atau benar-benar berfungsi hanya

dengan berada dalam kerangka teoritis landasannya. Realitas hanya ada dalam

batas-batas model mental atau konstruksi yang melingkupinya. Konstruk dalam

25
penelitian ini adalah representasi keluarga dalam film Ngeri-Ngeri Sedap oleh

peer group yang menonton film Ngeri-Ngeri Sedap. Representasi merupakan hasil

pemikiran atau persepsi seseorang terhadap apa yang dilihat, dibayangkan, atau

dirasakannya terhadap objek nyata seperti tanda atau simbol. Representasi

digunakan untuk mengungkapkan makna yang terdapat dalam sebuah film.

3.6.2 Indikator Penelitian

a. Reflektif

Menurut pendekatan reflektif, makna diciptakan oleh manusia melalui

konsep, item media, dan pengalaman sosial langsung. Reflektif dalam penelitian

ini digunakan untuk mengetahui pemaknaan keluarga oleh peer group melalui

simbol dan tanda keluarga yang digunakan untuk mengungkapkan perasaan

seperti kasih sayang dan cinta dalam keluarga.

b. Intensional

Pendekatan intensional merupakan kata-kata tertulis dan lisan untuk

memberikan makna berbeda pada setiap karyanya. Bahasa berfungsi sebagai

media yang melalui pembicara dalam menyampaikan arti penting segala sesuatu

dan menimbulkan efek khusus. Intensional dalam penelitian ini digunakan untuk

mengungkapkan makna keluarga oleh peer group melalui penggunaan bahasa

yang terdapat dalam film Ngeri-Ngeri Sedap.

c. Kostruksionis

Pendekatan konstruksionis merupakan penulisan dan penyusunan makna

dalam sebuah karya (objek) atau pesannya. Namun yang meninggalkan makna

26
bukanlah material barang-barang melainkan dibuat dari karya seni dan upaya.

Konstruksionis dalam penelitian ini digunakan untuk mengkonstruksi makna

sebuah keluarga menurut kelompok peer group berdasarkan pemahaman dan

pengalaman mereka sehari-hari.

3.7 Teknik Pengumpulan Data

Penulis menggunakan teknik berikut untuk mengumpulkan data atau

informasi yang jelas di lapangan:

a. Wawancara Mendalam

Menurut Taylor dan Bogdan, 1984 (dalam Agusta, 2019:4) merupakan

pertemuan tatap muka yang berulang-ulang antara peneliti dengan subjek Tujuan

dari pertemuan ini adalah untuk memperoleh pemahaman tentang perspektif

subjek mengenai kehidupan, pengalaman, dan situasi sosial sebagaimana

diungkapkan dalam bahasanya sendiri. Teknik pengumpulan data dilakukan

dengan cara mewawancarai langsung peer group yang menonton film Ngeri-

Ngeri Sedap untuk mengetahui pemaknaan mereka tentang sebuah keluarga.

b. Observasi

Observasi adalah suatu proses yang bertujuan untuk mengamati, memahami,

dan merasakan suatu fenomena berdasarkan ide dan pengetahuan yang ditemui

sebelumnya untuk mengumpulkan informasi. Teknik observasi dilakukan dengan

cara mengamati ekspresi kelompok peer group ketika menonton film Ngeri-Ngeri

Sedap.

27
c. Studi Dokumen

Catatan peristiwa masa lalu disebut dokumen. Rekaman dapat berupa karya

seni tertulis, foto, atau kreasi berskala besar yang dibuat oleh seseorang. Pada

studi dokumen, penulis akan mengumpulkan literasi berupa dokumen dan foto

yang mendukung penelitian tentang representasi keluarga dalam film Ngeri-Ngeri

Sedap oleh peer group yang menonton fim tersebut.

3.8 Teknik Analisis Data

3.8.1 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini ada dua

yaitu reduksi data dan penyajian data. Miles dan Hiberman mengembangkan dan

mengadopsi teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini. (Bagus,

2018: 118):

a. Reduksi Data

Hasil wawancara yang diperoleh akan dibuat dalam transkip wawancara

sehingga memudahkan penulis untuk mendapatkan hasil yang diperlukan. Semua

data yang diperoleh akan didiologkan untuk mendapatkan sudut pandangan baru

dari setiap informan.

b. Penyajian Data

Penelitian ini menggunakan deskripsi singkat, bagan, hubungan kategori,

dan teknik penyajian data lain yang sejenis. Artinya proses penyajian data

penelitian representasi keluarga dalam film ngeri-ngeri sedap yang diperoleh akan

28
disampaikan dalam bentuk teks naratif dan memungkinkan untuk menarik

kesimpulan secara menyeluruh.

3.8.2 Teknik Interpretasi Data

Interpretasi data dilakukan selain analisis data. Metode analisis umpan balik

digunakan dalam interpretasi data, dimana peneliti meninjau literatur, menafsirkan

data dari lapangan, dan memberikan informasi tentang fungsi hasil penelitian

setelah menerima data.

3.9 Teknik Keabsahan Data

Derajat keakuratan antara data yang dikumpulkan pada objek penelitian

dengan data yang dilaporkan oleh peneliti dikenal dengan teknik keabsahan data.

Tidak ada perbedaan data valid antara apa yang dilaporkan peneliti dengan apa

yang sebenarnya terjadi pada objek penelitian (Winarni, 2018:175). Oleh karena

itu, ada 2 (dua) teknik yang digunakan untuk verifikasi keakuratan data penelitian,

yaitu:

1. Memperhatikan peer group atau rekan sejawat dan melakukan observasi

untuk mengidentifikasi sifat atau komponen dalam keadaan yang sangat

relevan.

2. Memperoleh referensi, alat perekam, dan gambar yang cukup untuk

dijadikan standar penilaian keakuratan data yang telah dievaluasi dan

diinterpretasikan.

29
BAB IV

DATA HASIL PENELITIAN

Pada bab ini penulis akan membahas mengenai deskripsi lokasi penelitian

yaitu Peer Group Meet Team. Bagian ini juga penulis akan menyajikan hasil

wawancara dengan metode mendalam. Penulis akan membahas terkait gambaran

umum Peer Group Meet Team, telaah informan, dan hasil studi dokumen yang

diuraikan sebagai berikut:

4.1 Gambaran Umum Peer Group Meet Team

Penelitian ini mengambil kelompok peer group bernama Meet Team yang

terbentuk sejak 19 Desember 2020. Kelompok peer group ini mulai dibentuk

karena para anggotanya pernah bersekolah di tempat yang sama, yaitu Sekolah

Menengah Atas Katolik (SMAK) Giovanni Kota Kupang. Peer Group Meet Team

memiliki 10 anggota yang terdiri dari enam orang laki-laki dan empat orang

perempuan berusia kisaran 20-22 tahun. Para anggota Meet Team berasal dari

latar belakang keluarga, budaya dan pendidikan yang berbeda-beda, namun

mereka membentuk pertemanan ini karena adanya kesamaan dalam hal minat,

seperti suka menonton film dan mengeksplore hal-hal baru.

Peer Group Meet Team telah menjalin pertemanan selama kurang lebih 4

tahun sejak terbentuk. Sehari-hari, para anggota peer group Meet Team

mempunyai kesibukan yang berbeda, diantaranya ada yang masih berkuliah dan

sudah bekerja, sehingga waktu berkumpul dilakukan pada malam hari pukul 20.00

WITA. Para anggota lebih sering berkumpul dan bermain di rumah salah satu

30
anggota yang berlokasi jalan Pda. Cunha No. 42 Kelurahan Naikoten II, Kota

Kupang.

Berdasarkan kegemaran bersama menonton film, anggota peer group Meet

Team juga pernah menonton film Ngeri-Ngeri Sedap yang digunakan dalam

penelitian ini. Para anggota menonton film ini sejak dirilis di bioskop pada tahun

2022 lalu. Film ini juga masih ditayangkan di aplikasi streaming Netflix, jadi lebih

memudahkan anggota Meet Team untuk menonton ulang film tersebut. Mereka

menganggap film ini mampu memberikan hiburan dan nilai-nilai keluarga,

sehingga menjadi salah satu film bertema keluarga yang sering dibahas dalam

perbincangan ketika bertemu.

4.2 Film Ngeri-Ngeri Sedap

Film Ngeri-Ngeri Sedap adalah film Indonesia bergenre keluarga dan

komedi. Film ini disutdarai oleh Bene Dion Rajaguk dan dirilis pada tanggal 02

Juni 2022. Ngeri-Ngeri Sedap mengisahkan tentang kehidupan keluarga Pak

Domu dan Mak Domu bersama keempat anak mereka yang bernama Domu,

Sarma, Gabe dan Sahat. Keluarga ini sangat memegang teguh tradisi dan budaya

asal mereka, yaitu Batak.

4.2.1 Sinopsis Film “Ngeri-Ngeri Sedap”

Film “Ngeri-Ngeri Sedap” mengisahkan pasangan orang tua Pak Domu

dan Marlina alias Mak Domu. Mereka di karuniai empat orang yang terdiri dari

tiga orang anak laki-laki dan satu orang anak perempuan. Anak-anak tersebut

bernama Domu, Sarma, Gabe, dan Sahat. Suatu hari, Pak Domu dan Mak Domu

31
gelisah karena ke tiga anak laki-lakinya semakin jarang berkunjung ke kampung

halaman. Mak Domu memutuskan untuk berpura-pura bertengkar hebat hingga

ingin cerai dengan sang suami. Pertengkaran itu diatur sedemikian rupa agar

terdengar oleh anak-anaknya. Ketika mengetahui kabar tersebut, ketiga anaknya

yang berada di perantauan memutuskan pulang ke kampung halaman mereka.

Sesampainya di medan terungkap alasan mengapa mereka tidak ingin

pulang ke kampung halamannya yaitu karena yang pertama si Domu ingin

menikah dengan orang sunda akan tetapi sang ayah tidak menyetujui, karena ia

ingin anaknya menikah dengan orang batak. dari sisi Gabe, ia menganggap

bapaknya tidak mengerti akan bakatnya, ia yang merupakan sarjana hukum lebih

memilih bekerja sebagaai komedian. Sedangkan si anak Sahat lebih memilih

tinggal di Yogyakarta bersama ayah asuhnya Pak Pomo karena ingin merawat pak

Pomo dan mengembangkan pertanian di desa tersebut.

Anak-anak sepakat bahwa jika masih tidak ada ujung dalam permasalahan

keluarga mereka akan pulang ke tempatnya masing-masing. Pak Domu lalu

memulai sebuah argumen yang membuat semuanya, termasuk Mak Domu, marah

atas ideologi patrilinealnya. Mak Domu pun membocorkan rahasia bahwa

skenario perceraian itu palsu, dan bahwa Sarma telah mengetahui ini. Sarma

mengaku bahwa ia terus menerus mendapat tekanan karena harus selalu

mengikuti perintah orangtua. Mak Domu mengatakan bahwa ia benar-benar ingin

bercerai. Ia pun pergi ke rumah ibunya, sementara anak-anak pulang, kecuali

Sahat karena ia mengikuti perintah neneknya.

32
Pak Domu curhat pada ibunya bahwa ia cuma mengikuti cara ayahnya,

ibunya mengatakan bahwa tiap keluarga berbeda dan cara memimpinnya juga

harus berbeda. Pak Domu lalu menemui anak-anaknya dan belajar berbagai hal

tentang anak-anaknya. Ia mulai luluh dan memberikan restu kepada calon istri

Domu. Selain itu, ia juga mengunjungi rekan kerja Gabe yang ternyata sangat

berbelas kasih dan pengertian kepada Gabe. Pak Domu juga bertemu langsung

dengan Pak Pomo yang adalah ayah asuh Sahat di Yogyakarta dan memberikan

izin agar Sahat dapat melanjutkan usaha pertaniannya di desa Pak Pomo. Setelah

menyelesaikan perselisihan dengan anak-anaknya, Pak Domu pun pergi ke rumah

Ibu mertuanya untuk menjemput istrinya dan menyelesaikan perselisihan yang

terjadi dalam keluarganya.

Gambar 4.1

Poster dari Film “Ngeri-Ngeri Sedap”

Sumber : Ngeri-Ngeri Sedap, 2024

33
4.3 Telaah Informan

Penulis mengambil 4 orang sebagai narasumber atau informan yang akan

diwawancarai mengenai “Representasi Keluarga Dalam Film Ngeri-Ngeri sedap

(Studi Kasus pada Peer Group yang menonton Film Ngeri-Ngeri Sedap).”

Informan terdiri atas dua orang laki-laki dan dua orang perempuan teman peneliti

yang pernah menonton film Ngeri-Ngeri sedap lebih dari dua kali.

Tabel 4.3

Data Informan

Penelitian

No NAMA Usia Status Jenis Kelamin

1. Lia 21 Tahun Mahasiswi P

2. Kenny 20 Tahun Wiraswasta L

3. Aditia 22 Tahun PNS L

4. Pram 21 Tahun Wiraswasta L

Sumber : Data Primer Penulis, 2024

1. Lia merupakan mahasiswi jurusan Sosiologi di Universitas Nusa Cendana

Kupang yang berusia 20 tahun. Ia sudah pernah menonton film Ngeri-

Ngeri Sedap sejak dirilis di bioskop pada tahun 2022 dan menonton ulang

film ini sebanyak tiga kali lewat aplikasi streaming Netflix dan di bisokop

sebanyak dua kali.

2. Kenny merupakan Laki-Laki berusia 20 tahun, ia merupakaan seorang

wiraswasta. Kenny sudah dua kali menonton film Ngeri-Ngeri Sedap di

34
aplikasi Streaming Telegram.

35
3. Aditia kerap disapa Adit adalah laki-laki yang berusia 22 tahun. Ia

merupakan seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada Kementrian Hukum

dan HAM. Unit Pelaksana Tugas di Lembaga Pembinaan Khusus Anak

(Lapas Anak), sekaligus mahasiswa Muhammadiyah Kupang jurusan

sosiologi. Adit telah menonton film Ngeri-Ngeri Sedap di bioskop

sebanyak dua kali.

4. Pram adalah seorang yang berusia 22 tahun, ia merupakan seorang

wiraswasta. Pram sudah menonton film Ngeri-Ngeri Sedap sebanyak dua

kali melalui aplikasi streaming Netflix.

4.4. Data Hasil Penelitian

4.4.1 Pertanyaan Pokok Penelitian

Proses pengumpulan data yang digunakan untuk penelitian ini adalah

teknik wawancara secara mendalam berdasarkan pertanyaan-pertanyaan pada

indikator seperti yang ada pada konstruk penelitian.

Berikut merupakan pokok pertanyaan penelitian:

1. Reflektif

a) Menurut anda, scene mana dalam film Ngeri-Ngeri Sedap yang berupa

simbol atau gestur tubuh untuk menunjukan adanya bentuk kasih sayang

dalam sebuah keluarga?

b) Dalam film Ngeri-Ngeri Sedap, scene mana yang paling sering anda

gunakan pada anggota keluarga mengungkapkan rasa kasih sayang antar

sesama anggota?

36
c) Scene dalam film Ngeri-Ngeri sedap mana yang menujukkan adanya

konflik?

2. Intensional

a) Scene mana yang menunjukkan makna keluarga yang nampak dari

dialog antar pemeran dalam film Ngeri-Ngeri Sedap?

b) Pesan untuk penonton secara keseluruhan dalam film ngeri-ngeri sedap

bagi kehidupan keluarga?

3. Konstruksionis

a) Setelah menonton film Ngeri-Ngeri Sedap, apa makna keluarga menurut

anda?

b) Apakah film Ngeri-Ngeri Sedap mewakili kehidupan dalam keluarga

anda?

c) Bagaimana cara membentuk pesan tentang kasih sayang?

d) Bagaimana cara membentuk pesan tentang saling memaafkan setelah

berkonflik?

4.4.2 Hasil Wawancara

Pada bagian ini, penulis akan memaparkan hasil wawancara mendalam

yang dilakukan bersama empat orang informan yang telah ditentukan sebelumnya.

1. Reflektif

Intensional merupakan makna diciptakan oleh manusia melalui konsep,

item media, dan pengalaman sosial langsung. Berkaitan dengan indikator ini,

penulis akan menanya dua pertanyaan kepada para informan terkait pemaknaan

37
mereka menunjukan adanya bentuk kasih sayang dalam sebuah keluarga pada

Film Ngeri-Ngeri Sedap.

Penulis mewawancarai para informan terkait apa yang mereka pahami

tentang makna keluarga dalam film ngeri-ngeri sedap

Menurut Lia saat diwawancarai pada Jumat, 02 Mei 2024 pukul 20.25

WITA di rumah peneliti mengatakan:

“Pada saat pak domu datang ke lokasi tempat kerja gabe sebagai bintang
tamu dan mengatakan bahwa ia bangga kepada gabe juga meminta maaf. Scene ini
menunjukan lebih baik meminta maaf dari pada tidak sama sekali, dan tidak ada
salahnya jika orang tua yang meminta maaf terlebih dahulu kepada anak. Itu
merupakan salah satu bentuk cinta yang diberikan dari orang tua kepada anak.
Karena tidak semua orang bisa melakukan itu.”

Hal yang tidak jauh berbeda juga dikatakan oleh Kenny saat diwawancarai

pada hari Jumat, 02 Mei 2024 pukul 20.32 WITA juga mengatakan bahwa:

“Saat adegan berpelukan antara opung dan domu ini masuk dalam gestur
pengungkapan kasih sayang dalam keluarga bagaimana opung nya dengan hangat
menyambut cucu nya dari tanah perantauan. Berpelukan juga termasuk salah satu
cara menyampaikan kasih sayang terhadap keluarga.”
Selain itu Aditia saat diwawancarai pada hari Jumat, 02 Mei 2024 pukul

20.48 WITA mengatakan:

“Pada saat pak Domu dan mak Domu, serta tiga orang anak laki-lakinya
duduk bersama lalu mereka menginginkan kedua orang tua saling memaafkan
dengan mencari jalan keluar dari masalah mereka kemudian mak Domu menangis
karena belum siap membahas masalah tersebut, sehingga ketiga anak laki-laki
memeluknya.”

38
Tidak jauh bebeda seperti yang dikatakan oleh aditia, Pram juga

mengatakan saat diwawancarai pada Jumat, 02 Mei 2024 pukul 20.55 WITA

mengatakan:

“Sebagian besar scene yang di tunjukan merupakan bentuk cinta dan


kasih dalam keluarga tetapi dalam bentuk dan sudut pandang masing - masing
pemeran itu sendiri. Saya memberi contoh dari scene pertama ketika pak Domu
mencoba meyakinkan anak-anaknya untuk mendapatkan pakerjaan yang benar
dan layak serta mendapatkan pasangan yang tepat menurut nya, menurut saya itu
adalah bentuk kasih sayang dari pak domu untuk anak-anaknya yang di mana dia
tidak mau anak-anaknya tidak mendapatkan kehidupan yang layak karena tidak
mendapatkan pekerjaan dan pasangan yang pasti, dan dimana menurut pak domu
itu bisa menjamin akan masa depan mereka masing-masing. Itu adalah salah satu
bentuk cinta kasih yang menurut saya pak domu berusaha untuk tunjukan ke
keluarga nya dengan cara pak domu itu sendiri”

Selanjutnya penulis juga mewawancarai para informan berkaitan dengan

scene dalam film ngeri-ngeri sedap mana yang paling sering mereka gunakan

pada anggota keluarga mengungkapkan rasa kasih sayang antar sesama anggota

Menurut Lia saat diwawancarai pada Jumat, 02 Mei 2024 pukul 20.25

WITA di rumah peneliti mengatakan:

“Pada saat keluarga pak domu makan bersama di meja makan sambil
bercerita. “Hal itu juga terjadi dalam keluarga saya pada saat kami makan bersama
seringkali bercerita tentang berbagai hal terutama masa kecil yang tak terulang
lagi.”
Hal yang tidak jauh berbeda juga dikatakan oleh Lia, menurut Kenny saat

diwawancarai pada hari Jumat, 02 Mei 2024 pukul 20.32 WITA juga mengatakan

bahwa:

“Ketika mak domu sakit dan sarma mengatakan “mak kumasakkin bubur
ya”.“Itu menunjukkan bentuk kasih sayang yang terjadi dalam keluarga dimana
anggota keluarga lain mungkin menunjukkan rasa peduli atau rasa sayang nya
dengan cara merwat anggota keluarga yang sakit. Hal ini pun sama terjadi di

39
dalam keluarga saya, cara kami menunjukkan kasih sayang dan peduli adalah
dengan bagaimana kita mengurus keluarga yang sedang sakit.”

Selain itu Aditia saat diwawancarai pada hari Jumat, 02 Mei 2024 pukul

20.48 WITA mengatakan:

“Pada saat jalan-jalan bersama keluarga, menemani mama ke pasar


merupakan bentuk kasih sayang yang saya alami dalam keluarga.”

Tidak jauh bebeda seperti yang dikatakan oleh Aditia, Pram juga

mengatakan saat diwawancarai pada Jumat, 02 Mei 2024 pukul 20.55 WITA

mengatakan:

“Ada beberapa scene yang yang berhubungan dengan kehidupan saya, seperti
scene jalan-jalan bersama dengan keluarga, makan di meja makan bersama,
berdoa sebelum makan, hal-hal kecil juga seperti menanyakan kabar dan hari
kita.”
Penulis juga mewawancarai para informan berkaitan dengan Scene dalam film
Ngeri-Ngeri sedap mana yang menujukkan adanya konflik
Menurut Lia saat diwawancarai pada Jumat, 02 Mei 2024 pukul 20.25

WITA di rumah peneliti mengatakan:

“Pada saat Pak Domu dan anak-anaknya bertengkar sehingga mak domu pun
ikut kesal dan membela anak-anaknya, lalu kebohongan tentang perceraian suami
istri itu terungkap.”
Hal yang tidak jauh berbeda juga dikatakan oleh Lia, menurut Kenny saat

diwawancarai pada hari Jumat, 02 Mei 2024 pukul 20.32 WITA juga mengatakan

bahwa:

“Saat pak domu ngumpulin anak laki-lakinya untuk berbicara bersama-sama


dimana pak Domu ingin Domu menikah dengan boru batak tetapi Domu
menentang itu, lalu anak kedua yaitu Gabe merasa bapaknya kolot karna
menginginkannya menjadi jaksa atau hakim sedangkan Gabe lebih nyaman
menjadi seorang pelawak sedangkan sahat anak bungsu laki-laki yang akan

40
menjaga rumah tetapi ia memilih tidak mendapat warisan itu menjadi konflik
karena anak-anaknya satu per satu menentang ayahnya
Selain itu Aditia saat diwawancarai pada hari Jumat, 02 Mei 2024 pukul

20.48 WITA mengatakan:

“Saat terjadi perdebatan sengit antara Pak Domu dan anak-anaknya, dimana
kedua belah pihak tidak mau mengalah. Hal ini memperparah konflik dan
menciptakan suasana yang penuh tekanan.”
Saat di wawancarai pada Jumat, 02 Mei 2024 pukul 20.55 Pram juga

mengatakan:

“pada saat pulang acara, di jalan Gabe tertawa lalu mengatakan ini keluarga
seniman sambil mengulang kata opung yang mengatakan bangga kali sama
keluarga kalian. Disitu terjadi ketegangan antara pak Domu dan anak-anaknya.”
2. Intensional

Intensional adalah kata-kata tertulis dan lisan untuk memberikan makna

berbeda pada setiap karyanya. Berkaitan dengan indikator ini, penulis akan

menanyakan dua pertanyaan kepada para informan tentang makna keluarga film

ngeri-ngeri sedap melalui penggunaan bahasa dan makna keluarga yang nampak

dari dialog antar pemeran dalam film ngeri-ngeri sedap oleh peer group

Terkait Intensional, penulis mewawancarai para informan terkait tentang

makna keluarga film ngeri-ngeri sedap melalui penggunaan bahasa.

Menurut Lia saat diwawancarai pada Jumat, 02 Mei 2024 pukul 21.45

WITA di rumah peneliti mengatakan:

“Pada saat sarma mengatakan “kalau mikirin diriku sendiri, yang mikirin
bapak sama mama siapa?” adegan itu mengatakan bahwa karena lebih besar cinta
nya kepada saudara dan orang tua anak perempuan rela menurunkan egonya dan
mengubur mimpinya untuk saudara dn orang tua.”

41
Hal yang tidak jauh berbeda juga dikatakan oleh Lia, menurut Kenny saat

diwawancarai pada hari Jumat, 02 Mei 2024 pukul 21.50 WITA juga mengatakan

bahwa:

“Saat mak Domu sakit, gabe bertanya kepada mak domu, Mak. Mama tak apa-
apa?” itu menunjukkan kekhawatiran terhadap anggota keluarga.”
Selain itu Aditia saat diwawancarai pada hari Jumat, 02 Mei 2024 pukul

21.56 WITA mengatakan:

“Dialog pada saat pak Domu bercanda kepada gabe “betul rupanya tak
diracuni” jawab gabe” sudah lima sendok kumakan dan sudah kudoakan” itu
merupakan bentuk candaan orang tua kepada anak agar lebih akrab.”

Tidak jauh bebeda seperti yang dikatakan oleh Aditia, menurut Pram saat

diwawancarai pada Jumat, 02 Mei 2024 pukul 22.05 WITA mengatakan:

“Dalam film “Ngeri-Ngeri Sedap” terjadi dalam scene dimana salah satu
karakter menyampaikan ucapan terima kasih atau meminta maaf dengan penuh
kehangatan dan empati kepada anggota keluarga lainnya. Misalnya, saat pak
domu menyatakan cinta akan prestasi anak-anaknya, mau menerima keputusan
mereka sendiri dan meminta maaf kepada istri dan anak nya serta saat pak domu
berhasil membawa pulang anak-anaknya kembali ke kampung halaman.”

Selanjutnya penulis juga mewawancarai para informan berkaitan dengan pesan

untuk penonton secara keseluruhan dalam film ngeri-ngeri sedap bagi kehidupan

keluarga

Menurut Lia saat diwawancarai pada Jumat, 02 Mei 2024 pukul 21.45

WITA di rumah peneliti mengatakan:

“Kejujuran dalam satu keluarga itu sangat penting, karena kalau tidak jujur
banyak dampak yang terjadi dalam keluarga salah satunya karena tidak jujur
banyak kepercayaan dalam keluarga yang membuat keluarga jadi renggang dan

42
untuk orang tua tidak selamanya pilihan anak itu salah, seharusnya orang tua
mendukung penuh anak tanpa ada paksaan dan tuntutan.”
Hal yang tidak jauh berbeda juga dikatakan oleh Lia, menurut Kenny saat

diwawancarai pada hari Jumat, 02 Mei 2024 pukul 21.50 WITA juga mengatakan

bahwa:

“Memang setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya, begitu
juga sebaliknya tetapi ada halnya semuanya itu tidak boleh ditentang langsung,
tapi harus dibicarakan baik-baik orang tua juga harus mengerti apa yang anaknya
inginkan.”
Selain itu Aditia saat diwawancarai pada hari Jumat, 02 Mei 2024 pukul

21.56 WITA mengatakan:

“Pentingnya komunikasi yang terbuka dan jujur. Film Ngeri-Ngeri Sedap


menggambarkan pentingnya komunikasi yang baik antara orang tua dan anak
karena kejujuran membantu membangun kepercayaan dan membangun hubungan
yang sehat dalam keluarga.”
Saat di wawancarai pada Jumat, 02 Mei 2024 pukul 22.05 Pram juga

mengatakan:

“Menurut saya Pemahaman dan dukungan juga harus dibangun dalam


keluarga. Film ini menujukkan bahwa pentingnya memahami perspektif anggota
keluarga lain karena dengan saling mengerti, keluarga bisa saling mendukung dan
menghadapi masalah bersama.”

3. Konstruksionis

Konstruksionis adalah Pendekatan konstruksionis merupakan penulisan

dan penyusunan makna dalam sebuah karya (objek) atau pesannya. Namun yang

meninggalkan makna bukanlah material barang-barang melainkan dibuat dari

karya seni dan upaya. Berkaitan dengan indikator ini, penulis akan menanyakan

dua pertanyaan kepada para informan terkait makna sebuah keluarga menurut

43
kelompok peer group berdasarkan pemahaman dan pengalaman mereka sehari-

hari.

Penulis mewawancarai para informan terkait apa yang mereka pahami

tentang makna sebuah keluarga menurut kelompok peer group berdasarkan

pemahaman dan pengalaman mereka sehari-hari.

Menurut Lia saat diwawancarai pada Jumat, 02 Mei 2024 pukul 22.10

WITA di rumah peneliti mengatakan:

“Keluarga itu segalanya, keluarga tempat kita berpulang. Mungkin dalam


keluarga tidak begitu terlihat adanya rasa cinta atau kasih sayang yang di berikan
satu sama lain, tapi itu bukan menjadi alasan untuk kita tidak berpulang ke
pelukan keluarga. Tidak adanya rasa cinta dan sayang di berikan bukan berarti
tidak saling peduli dan tidak saling menopang. Karna pada akhirnya hanya
keluarga yang jadi tempat kita berpulang untuk mendapatkan cinta yang
sesungguhnya.”
Hal yang tidak jauh berbeda juga dikatakan oleh Lia, Kenny juga

diwawancarai pada hari Jumat, 02 Mei 2024 pukul 22.15 WITA juga mengatakan

bahwa:

“Ngeri-Ngeri Sedap mengajarkan makna keluarga sebagai tempat bernaung


dengan penuh kasih sayang. Ada konflik antar generasi, seperti orang tua yang
ingin mempertahankan tradisi, namun film ini menunjukkan pentingnya
komunikasi dan melalui dialog dan gestur kasih sayang, keluarga bisa saling
mengerti dan bersatu meski berbeda pendapat.”
Selain itu Aditia saat diwawancarai pada hari Jumat, 02 Mei 2024 pukul

22.27 WITA mengatakan:

“Keluarga ketika saya merasa capek atau lelah, mau jalan sejauh apapun
pasti tempat pulang saya adalah keluarga tempat dimana saya merasa nyaman dan
hanya di keluarga saya merasa seperti diri sendiri, keluarga juga merupakan
tempat dimana saya dapat dimengerti.”

44
Tidak jauh bebeda seperti yang dikatakan oleh Aditia, Pram juga

mengatakan saat diwawancarai pada Jumat, 02 Mei 2024 pukul 22.35 WITA

bahwa:

“Makna keluarga dari film Ngeri” sedap menurut saya, keluarga


merupakan tempat di mana kita merasa paling nyaman dan diterima dan Keluarga
adalah orang-orang yang kita sayangi dan menyayangi kita, terlepas dari apapun
situasinya.”
Selanjutnya penulis juga mewawancarai para informan berkaitan dengan

film Ngeri-Ngeri Sedap mewakili kehidupan dalam keluarga mereka

Menurut Lia saat diwawancarai pada Jumat, 02 Mei 2024 pukul 22.10

WITA di rumah peneliti mengatakan:

“Tidak mewakili karna, adanya perbedaan didikan atau pandangan bapak


domu dengan keluarga saya, di mana adanya tuntutan dalam bekerja dan
pendidikan. Orang tua saya mendukung penuh apa yang sudah menjadi keputusan
anaknya tanpa ada perkataan bahawa apa yang menjadi pilihan anaknya itu
buruk, salah atau tidak baik. Dan tidak adanya paksaan dalam menentukan pilihan
juga tidak adanya penerapan parenting yang sudah di rasakan orang tua saya di
masa lampau dengan parenting yang dilakukan orang tua saya di masa kini.”

Hal yang tidak jauh berbeda juga dikatakan oleh lia, menurut Kenny juga

saat diwawancarai pada hari Jumat, 02 Mei 2024 pukul 22.15 WITA juga

mengatakan bahwa:

“Tidak mewakili karena keluarga saya, sangat menghargai keputusan


yang saya pilih dan tidak memaksa kehendak.”
Selain itu Aditia saat diwawancarai pada hari Jumat, 02 Mei 2024 pukul

22.27 WITA mengatakan:

“Tidak, karena saya merasa tidak dipaksakan dan saya dilahirkan dari
keluarga yang sangat demokrasi jadi tidak semua keputusan diambil oleh kepala

45
keluarga (Bapak) selalui melalui musyawarah, tidak pernah merasa dipaksa dan
selalu mendukung apa yang menjadi pilihan anak-anaknya.”
Tidak jauh bebeda seperti yang dikatakan oleh Aditia, Pram juga

mengatakan saat diwawancarai pada Jumat, 02 Mei 2024 pukul 22.35 WITA

bahwa:

”Film Ngeri-Ngeri Sedap mungkin mewakili beberapa aspek kehidupan


keluarga saya, terutama dalam hal kompleksitas dinamika keluarga dan
bagaimana anggota keluarga saling berinteraksi dalam menghadapi tantangan dan
konflik.”
Selanjutnya penulis juga mewawancarai para informan berkaitan dengan

bagaimana cara membentuk pesan tentang kasih sayang berdasarkan pemahaman

para informan

Menurut Lia saat diwawancarai pada Jumat, 02 Mei 2024 pukul 22.10

WITA di rumah peneliti mengatakan:

“Menunjukkan kasih sayang melalui tindakan karena kata-kata saja tidak


cukup. Tunjukkan kepada orang yang kita sayangi bahwa kita peduli dengan
mereka melalui tindakan yang dilakukan. Lakukan hal-hal kecil yang membuat
mereka bahagia, bantu mereka saat mereka membutuhkan, dan selalu ada untuk
mereka.”
Hal yang tidak jauh berbeda juga dikatakan oleh lia, menurut Kenny juga

saat diwawancarai pada hari Jumat, 02 Mei 2024 pukul 22.15 WITA juga

mengatakan bahwa:

“Kita dapat menunjukkan kasih sayang melalui ucapan, seperti semangat


serta mendukung keputusan yang mereka ambil tanpa membuat tersinggung dan
dapat memberi saran terbaik dari kita.”
Selain itu Aditia saat diwawancarai pada hari Jumat, 02 Mei 2024 pukul

22.27 WITA mengatakan:

46
“kasih sayang dapat diberikkan melalui apa saja misalkan tindakan,
hadiah, ucapan dan yang terpenting dilakukan dengan tulus.”
Tidak jauh bebeda seperti yang dikatakan oleh Aditia, Pram juga

mengatakan saat diwawancarai pada Jumat, 02 Mei 2024 pukul 22.35 WITA

bahwa:

“Membentuk kasih sayang bisa lewat perkataan,perbuatan dan sering


bertukar cerita, memberikan masukkan serta menerima kita apa adanya tanpa
memandang apapun dari kita karena memang tulus dari hati kasih sayang
diberikkan.”

Penulis juga mewawancarai para informan berkaitan dengan bagaimana


cara membentuk pesan tentang saling memaafkan setelah konflik
Menurut Lia saat diwawancarai pada Jumat, 02 Mei 2024 pukul 22.10

WITA di rumah peneliti mengatakan:

“Dengan menurunkan ego dalam diri masing-masing untuk saling


memaafkan agar tidak membuat kekacauan yang semakin terjadi.”

Hal yang tidak jauh berbeda juga dikatakan oleh lia, menurut Kenny juga

saat diwawancarai pada hari Jumat, 02 Mei 2024 pukul 22.15 WITA juga

mengatakan bahwa:

“Caranya adalah dengan mau menerima apa yang sudah menjadi jalan
untuk diri masing-masing dan dengan rasa penerimaan itu dapat mengerti keadaan
dan menerima semua yang sudah menjadi jalannya dengan ikhlas. Sehingga
semua ending dari konflik yang ada mendapatkan jalan keluar yang terbaik.
Selain itu Aditia saat diwawancarai pada hari Jumat, 02 Mei 2024 pukul

22.27 WITA mengatakan:

“Memperbaiki kesalahan dan membangun kepercayaan yang runtuh agar


terciptanya lagi suasana yang harmonis dan mampu memahami perasaan satu
sama lain.”

47
Tidak jauh bebeda seperti yang dikatakan oleh Aditia, Pram juga

mengatakan saat diwawancarai pada Jumat, 02 Mei 2024 pukul 22.35 WITA

bahwa:

“Menerima permintaan maaf dengan lapang dada serta mengakui


kesalahan dan adanya penyesalan yang ada dalam diri sendiri agar dapat
menerima semuanya dengan tulus tanpa ada dendam.”

4.4.3 Hasil Studi Dokumen

Dokumen yang dimaksudkan dalam studi ini adalah film. Penulis akan

menjelaskan Representasi Keluarga Dalam Film Ngeri-Ngeri Sedap berdasarkan

hasil studi dokumen pada penelitian sebelumnya. Penelitian pertama dilakukan

oleh Tarekh Afdal Mohamad Yazid pada tahun 2021 berjudul “Representasi

Keluarga pada Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini.” Pada penelitian ini

ditemukan bahwa keluarga adalah tempat seluruh anggota keluarga terutama anak

merasa aman, nyaman dan dicintai. Kehangatan dan kasih sayang satu sama lain

menjadi salah satu ciri sebuah keluarga yang harmonis. Dengan perhatian dan

dukungan yang diberikan individu kepada individu lain akan membuat ikatan

batin semakin terjaga. Selain itu, walaupun terjadi konfilk dalam keluarga tetapi

akan tetap tercipta suasanya yang nyaman dan harmonis karena anggota keluarga

mampu berkomunikasi dengan baik. Hal ini yang akan membuat setiap individu

merasa dihargai dan nyaman berada dalam ruang lingkup keluarga. Informan yang

ditanyai pada penelitian tersebut mengartikan bahwa komunikasi merupakan

kunci agar keluarga bisa dirasakan sebagai tempat dimana bisa mendapatkan kasih

48
sayang, diterima dengan apa adanya tempat untuk berpulang serta saling

menerima. Hal ini mengindikasi bahwa kebanyakan informan memahami bahwa

dalam keluarga harus terjalin komunikasi yang baik, sehingga tercipta suasana

harmonis dan kehangatan antar satu sama lain.

Studi dokumen kedua adalah penelitian yang dilakukan oleh Emie

Oktavianie pada tahun 2023 dengan judul “Representasi Problematik Anak Akibat

Broken Home dalam Film Susah Sinyal.” Penelitian ini menunjukan bahwa

keluarga dimaknai sebagai lingkungan pertama bagi anak untuk belajar

berkomunikasi, bersosialisasi dan menyalurkan rasa kasih sayang antar satu sama

lain. Dalam penelitian ini ditemukan juga bahwa kurangnya komunikasi dapat

membuat anggota keluarga sulit untuk memahami niat dan kasih sayang yang

ingin disalurkan. Hal ini berdampak pada hubungan orang tua dan anak yang

merenggang akibat kesalahpahaman yang tidak diselesaikan. Berdasarkan

penelitian ini ditemukan bahwa keluarga membutuhkan keterbukaan diri untuk

saling mengungkapkan kasih sayang dan mengurangi kesalahpahaman.

4.4.4. Hasil Observasi

Film merupakan salah satu sarana hiburan yang mempunyai daya tarik

cukup tinggi di kalangan masyarakat dan film juga mempunyai klasifikasi

penonton tersendiri, mulai dari kalangan anak–anak hingga dewasa. Film Ngeri-

Ngeri Sedap merupakan film bergenre drama keluarga yang mengandung banyak

nilai-nilai moral dalam film tersebut. Pada film Ngeri-Ngeri Sedap penulis

menemukan bahwa film ini mendapat perhatian dari generasi muda karena

49
mengandung cerita yang dirasa sesuai dengan kenyataan yang dialami oleh remaja

umumnya. Pesan moral tentang keluarga dalam film ini membuat kaum muda

tertarik menontonnya karena bisa menambah pengetahuan bagi mereka tentang

kedekatan sebuah keluarga. Salah satunya pada kaum muda peer group. Pada

bagian ini penulis melakukan observasi atau pengamatan pada peer group dengan

mengamati secara langsung perilaku dan ekspresi informan ketika sedang

menonton Film Ngeri-Ngeri Sedap.

Pada tanggal 26 April,2024 pukul 20.05 penulis melakukan observasi

pada empat informan yakni Lia (21), Kenny (20), Aditia (22), Pram (21). Penulis

mengamati keempat informan dengan mengundang para informan untuk datang

ke lokasi penelitian. Penulis mengamati langsung ekspresi mereka saat menonton

film Ngeri-ngeri Sedap tanpa memberitahukan mereka bahwa peeneliti

mengambil gambar. Penulis melihat para iforman menonton Film Ngeri-Ngeri

Sedap, penulis melihat pada saat menonton scene saat Gabe bercanda dengan Pak

Domu di meja makan. Penulis melihat para informan tersenyum bahkan tertawa.

Setelah itu penulis melihat para informan menonton scene Pak Domu dan Mak

Domu sedang berdebat , penulis melihat ekspresi informan tampak serius

mengamati scene tersebut.

Terdapat banyak scene pada film tersebut, dan masing-masing scene

memiliki cerita yang menarik. Penulis melihat para informan menunjukan

ekspresi yang beragam sesuai dengan jalan ceritanya.

50
Gambar 4.2

Foto Informan Saat Menonton Film Ngeri-Ngeri Sedap

Kamera: Tersembunyi

Sumber: Dokumentasi Penulis, 2024

Berdasarkan hasil observasi, penulis menemukan bahwa informan

menunjukan ekspresi yang beragam sesuai scene yang ditujukan di dalam film

Ngeri-Ngeri sedap seperti ekspresi serius, tertawa, sedih, dan lain-lain. Penulis

melihat informan sangat serius dan penuh perhatian dalam menonton film

tersebut. Setelah melakukan observasi, penulis kemudian melakukan wawancara

dengan keempat informan berdasarkan indikator.

51
BAB V

PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Dalam bab ini akan dideskripsikan hasil penelitian dengan merujuk maksud

dan tujuan dalam penelitian ini diungkapkan secara operasional yang tampak pada

indikator-indikator yang dirusmukan dalam penelitian ini. Data yang diperoleh

peneliti baik data primer maupun data sekunder yakni dalam bentuk hasil

wawancara dan observasi, kemudian dengan menggunakan metode deskriptif

kualitatif dengan studi kasus, peneliti akan menganalisis data dengan menyusun

kalimat-kalimat sistematis untuk menggambarkan informasi yang diperoleh dari

temuan penelitian dengan mengacu pada tujuan dan kegunaan penelitian, sehingga

akan memperoleh gambaran yang jelas mengenai Representasi Keluarga dalam

Film Ngeri-Ngeri Sedap (Studi Kasus pada Peer Group yang Menonton Film

Ngeri-Ngeri Sedap) Peneliti menganalisis dan menginterpretasi data tersebut

dalam pembahasan berikut.

5.1 Analisis Data

Dalam perkembangan media komunikasi masa sekarang ini, film menjadi

salah satu media massa yang banyak diminati. Selain sebagai audio visual, film

juga kaya akan kualitas artistik. Sebuah film dapat mengajari kita banyak hal, dan

seringkali berisi pelajaran-pelajaran berbeda yang dapat kita terapkan dalam

kehidupan kita pada tingkat pribadi dan masyarakat. Untuk menghubungkan suatu

makna dalam film diperlukan sebuah representasi. Representasi adalah

konfigurasi (bentuk atau susunan) yang dapat berfungsi sebagai gambaran,

simbol, atau makna.

52
Sesuai dengan maksud penelitian yang telah dijelaskan yaitu untuk

mengetahui Representasi Keluarga dalam Film Ngeri-Ngeri Sedap Pada Peer

Group yang menonton Film Ngeri-Ngeri Sedap sehingga untuk tujuan dimaksud

maka peneliti kemudian melakukan analisa hasil wawancara dan observasi

informan berdasarkan Teori Stuart Hall melalui tiga pendekatan, yaitu reflektif,

intensional dan konstruksionis sebagai berikut:

5.1.1 Reflektif

Reflektif dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui pemaknaan

keluarga oleh peer group melalui simbol dan tanda keluarga yang digunakan

untuk mengungkapkan perasaan seperti kasih sayang dan cinta

Berdasarkan hasil wawancara bersama keempat orang informan yaitu Lia

(21), Kenny (20), Aditia (22) dan Pram (21), makna keluarga secara reflektif

ditemukan pertama pada scene Pak Domu meminta maaf pada Gabe. Menurut

para informan, gestur tubuh ini melambangkan makna keluarga yang saling

memaafkan dengan cara menurunkan ego masing-masing, sehingga tercipta

suasana keluarga yang nyaman antar satu sama lain. Kedua, makna keluarga

melalui gestur ditemukan pada scene Opung dengan hangat menyambut dan

memeluk para cucunya yang baru pulang dari perantauan juga Hal ini menurut

para informan menujukan keluarga sebagai tempat tujuan kita berpulang sejauh

apapun kita pergi. Ketiga, terlihat pada scene makan bersama di meja makan

sambil berbincang. Menurut para informan, scene ini menunjukan kehangatan

sebuah keluarga. Selain itu, juga menunjukan anggota keluarga yang saling peduli

dan menyempatkan diri untuk sekedar bincang bersama saat makan. Keempat,

53
pemaknaan keluarga juga nampak scene pak Domu menyakinkan anak-anaknya

untuk mendapatkan pekerjaan yang layak serta mendapatkan pasangan yang tepat.

Hal ini menurut informan, dimaknai sebagai kasih sayang seorang ayah yang

menginginkan anak-ankanya sukses dan mendapatkan jodoh yang tepat bagi masa

depan mereka juga dalam film terdapat adanya konflik ditemukan pada scene saat

Pak Domu mengumpulkan anak laki-lakinya untuk berbicara bersama-sama

terkait masa depan mereka.

Para informan sering mendapatkan bentuk kasih sayang dengan berbagai

macam hal yang diterima. Hal itu tidak jauh berbeda dengan yang ada pada film

Ngeri-Ngeri sedap, yang terjadi pada scene saat mereka makan di meja makan

bersama keluarga, jalan-jalan bersama keluarga, juga pada saat ada anggota

keluarga yang sakit, anggota yang lain merasa khawatir dan memberikan

perhatian. Keempat infroman mengalami peristiwa dalam kehidupan mereka

yang sama dalam scene yang terdapat pada Film Ngeri-Ngeri Sedap. Konflik yang

terjadi dalam film tentu sering terjadi dalam keluarga yang membuat tekanan itu

ada karena adanya ekspetasi orang tua terhadap anak dan juga kemauan anak yang

tidak bisa orang tua ikhlaskan.

Hal ini juga dibuktikan dengan studi dokumen yang dilakukan. Pada kedua

penelitian terdahulu ditemukan bahwa kelaurga juga dimaknai sebagai tempat

ternyaman untuk saling berbagi dan menyalurkan rasa kasih sayang satu sama

lain.

54
Berdasarkan hasil observasi yang penulis lakukan ditemukan bahwa

informan menunjukkan ekspresi yang beragam sesuai dengan scene yang

ditampilkan dalam Film Ngeri-Ngeri Sedap. Salah satunya pada scene saat

Domu,Gabe dan Sahat lalu disambut dengan pelukan hangat dari Opung pada

scene ini menjukkan makna keluarga yang mengungkapkan rasa kasih sayang.

5.1.2 Intensional

Intensional dalam penelitian ini digunakan untuk mengungkapkan makna

keluarga oleh peer group melalui penggunaan bahasa yang terdapat dalam film

Ngeri-Ngeri Sedap.

Berdasarkan hasil wawancara bersama keempat orang informan yaitu Lia (21),

Kenny (20), Aditia (22) dan Pram (21), makna keluarga secara intensional

ditemukan pertama terdapat scene pada saat Sarma mengatakan, “Kalau mikirin

diriku sendiri, yang mikirin bapak dana mama siapa?” Menurut para informan

dialog Sarma dalam film ini memberikan makna keluarga, khsusnya pada anak

perempuannya yang rela menurunkan ego dan mengubur cita-cita demi

kebahagiaan orang tua dan para saudara laki-lakinya.

Kedua terdapat pada scene saat Mak Domu sakit, gabe bertanya kepada

ibunya, katanya, “Mak, mama tak apa-apa?” Hal ini menurut para informan

menujukan makna keluarga yang saling peduli dan memperlihatkan kasih sayang

antar anggota keluarga. Sebuah keluarga membutuhkan komunikasi untuk

mengungkapkan isi hati dan perhatian satu sama lain.

55
Ketiga, terdapat pada scene terlihat Pak Domu dan Gabe yang bercanda saat

akan memberi makan pada Mak Domu yang sedang sakit, pak Domu berkata pada

Gabe, “Betul rupanya tak diracuni.” Lalu, Gabe menjawab katanya, “Sudah lima

sendok kumakan dan sudah kudoakan.” Menurut informan, scene tersebut cukup

menghangatkan hati, karena mereka berpendapat bahwa makna keluarga dapat

ditemukan juga saat sedang bercanda antar anggota keluarga. Candaan antar

keluarga ini menurut informan ingin mengungkapkan kasih sayang melalui

candaan, juga sekaligus menghibur yang sedang sakit. Keempat pesan untuk

penonton Film Ngeri-Ngeri Sedap bagi kehidupan keluarga yakni harus adanya

sebuah kejujuran, masalah bisa dibicarakan dengan baik-baik, pentingnya

komunikasi,keluarga bisa saling mendukung dan dapat menghadapi masalah

bersama-sama yang dapat menjadi pedoman dalam kehidupan khususnya

keluarga.

Berdasarkan wawancara bersama informan juga ditemukan pemaknaan

keluarga saat scene anggota keluarga Pak Domu saling mengungkapkan isi hati,

meminta maaf dan berterima kasih satu sama lain. Hal ini, menurut mereka

mengungkapkan makna keluarga yang penuh kehangatan, empati, serta saling

menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. Keluarga membutuhkan

komunikasi untuk menyalurkan perasaan kasih sayang antar satu sama lain,

karena tanpa komunikasi yang baik hubungan dalam keluarga dapat merenggang.

Hal ini juga terlihat dari hasil studi dokumen. Dari kedua penelitian ditemukan

bahwa dalam sebuah keluarga dibutuhkan keterbukaan diri untuk saling

berkomunikasi dan interaksi, sehingga dapat menyalurkan perasaan kasih sayang,

56
menghargai dan empati. Komunikasi melalui penggunaan bahasa dianggap

penting dalam sebuah keluarga, karena dalam komunikasi dapat mempererat

ikatan antar anggota keluarga, meluruskan persoalan-persoalan yang terjadi, serta

mencapai tujuan yang diinginkan bersama.

Berdasarkan hasil observasi yang penulis lakukan ditemukan bahwa informan

menunjukkan ekspresi tertawa pada scene ketika Pak Domu bercanda dengan

Gabe “betul rupanya tak diracuni” Gabe menanggapinya dengan menjawab “

sudah lima sendok kumakan dan sudah kudoakan” merupakan candaan yang

membuat keakraban orang tua dengan anak.

5.1.3 Konstruksionis

Konstruksionis dalam penelitian ini digunakan untuk mengkonstruksi

makna sebuah keluarga menurut kelompok peer group berdasarkan pemahaman

dan pengalaman mereka sehari-hari.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan bersama keempat informan

Lia (21), Kenny (20), Aditia (22) dan Pram (21), ditemukan bahwa informan

pertama dan ketiga mengartikan keluarga sebagai tempat tujuan kita berpulang

dan menjadi sandaran utama saat mengalami masalah hidup. Pemaknaan mereka

ini berdasarkan adegan dalam film Ngeri-Ngeri Sedap saat Pak Domu mengalami

persoalan, yang menjadi tempat ia pulang adalah ibu kandungnya untuk

menceritakan segala keluh kesah hatinya. Selain itu, makna keluarga juga

dikonstruksikan sebagai tempat bernaung yang penuh dengan kasih sayang.

Keluarga dianggap sebagai sebuah rumah ternyaman, damai, dan juga tempat kita

57
bisa berekspersi secara bebas tanpa khawatir akan persoalan yang sedang

dihadapi.

Kendati demikian, ketiga informan yaitu Lia (21), Kenny (20), Aditia (22)

mengatakan keseluruhan scene dalam film Ngeri-Ngeri Sedap ini tidak

sepenuhnya mewakili kehidupan keluarga mereka sehari-hari. Dalam film ini

ditemukan watak pak Domu yang keras dan menginginkan anak-anaknya untuk

mengikuti kepututsannya. Hal ini tidak disetujui oleh para informan, karena orang

tua dari para informan tidak memaksakan kehendak pada anak-anaknya, juga

orang tua mereka lebih menghargai dan mendukung keputusan anak-anaknya.

Sedangkan, informan lainnya yaitu Pram (21) berpendapat bahwa cara

keluarganya menghadapi tantangan hidup memiliki kesamaan seperti dalam film

Ngeri-Ngeri Sedap. Walaupun ia dan keluarganya jarang berdiskusi tentang masa

depan masing-masing, namun mereka masih saling mengungkapkan kasih sayang

melalui gestur maupun bahasa.

Para informan juga belajar dari film Ngeri-Ngeri Sedap bagaimana cara

membentuk pesan tentang kasih sayang dengan cara bisa melalui tindakan,

perkataan, perbuatan, hadiah,dan yang terpenting dengan ketulusan dan pesan

tentang saling memaafkan setelah konflik bisa dengan menurunkan ego,

menyesali perbuatan, menerima permintaan maaf dengan lapang dada,

memperbaiki kesalahan yang telah dibuat serta membangun kepercayaan lagi.

Berdasarkan hasil observasi yang penulis lakukan ditemukan bahwa

informan menunjukkan ekspresi berkaca-kaca atau terharu saat menonton Film

58
Ngeri-Ngeri Sedap saat scene pak Domu pulang ke rumah ibunya karena ia

ditinggalkan oleh anak dan istrinya bahwa menurut para informan tempat

berpulang yang nyaman dan diterima adalah keluarga.

5.2 Interpretasi Data

5.2.1 Representasi Keluarga dalam Film Ngeri-Ngeri Sedap oleh Peer

Group Meet Team

Setelah menganalisis data-data dari hasil penelitian, maka

selanjutnya penulis akan melakukan penafsiran atau menginterpretasi data-

data tersebut berkaitan dengan konsep-konsep yang digunakan dalam

penelitan ini. Interpretrasi data sangat penting sebagai upaya untuk

menganalisi hubungan antara konsep dengan data yang diperoleh selama

masa penelitian, untuk memudahkan dalam menginterpretasi data, penulis

membagi data-data tersebut menjadi tiga bagian sesuai dengan indikator

yang menjadi fokus penelitian ini. Hubungan antara konsep dan data

penelitian kemudian dianalisis oleh penulis melalui interpretasi ketiga

indikator penelitian tersebut, yang kemudian dirumuskan secara deskriptif

kualitatif. Interpretasi data penulis menghasilkan kesimpulan sebagai

berikut:

A. Reflektif

Reflektif menurut Stuart Hall (dalam Hermayanthi, 2021:13) didefinisikan

sebagai makna yang diciptakan oleh manusia melalui konsep, item media, dan

pengalaman sosial langsung. Reflektif merupakan sebuah konsep yang

59
mencerminkan makna melalui pengalaman sosial langsung seperti dalam Film

Ngeri-Ngeri Sedap yang mengangkat secara autentik simbol-simbol dalam

keluarga. Melalui film tersebut para informan menyampaikan pesan-pesan yang

mencerminkan makna dari kehidupan sehari-harinya.

Berdasarkan hasil analisis data penelitian, penulis menemukan bahwa para

informan memaknai rasa kasih sayang mereka dengan orang tua dengan berbagai

cara salah satu contoh yang ada pada scene ketika jalan dan makan bersama

keluarga hal ini juga sering kali terjadi dalam kehidupan para informan.

Hal ini berkaitan dengan pendekatan reflektif yang memperlihatkan bahwa

beberapa dari scene. film Ngeri-Ngeri Sedap yang relate dengan kejadian dalam

kehidupan mereka dan itu merupakan gesture dari pengalaman sosial langsung

yang terjadi pada kehidupan sehari-hari para informan.

Hal ini berkaitan juga terhadap konsep keluarga bahwa keluarga

merupakan tempat ternyaman untuk bertukar cerita tentang berbagai hal di situasi

manapun yang membuat dan merasa adanya kasih sayang yang diterima dengan

cara yang diberikan.

B. Intensional

Menurut Stuart Hall (dalam Hermayanthi, 2021:13) Intensional merupakan

kata-kata tertulis dan lisan untuk memberikan makna berbeda pada setiap

Intensional adalah pemaknaan oleh yang ditujukkan melalui penggunaan bahasa

yang terdapat makna keluarga dalam Film Ngeri-Ngeri Sedap yang mengangkat

dialog berdasarkan pemeran film tersebut.

60
Berdasarkan hasil analisis data penelitian, penulis menemukan bahwa para

informan mengungkapkan adanya makna yang terjadi pada beberapa dialog pada

Film Ngeri-Ngeri Sedap contohnya pada saat pak Domu dan Gabe bercanda di

meja sambil makan bersama. Menurut informan dengan adanya candaan bisa

mencairkan suasana dan lebih mempererat terjalinnya kekeluargaan agar tidak

merasa canggung juga merasa lebih dekat dengan anggota keluarga lainnya.

C. Konstruksionis

Pendekatan konstruksionis menurut Stuart Hall (dalam Hermayanthi,

2021:13) Konstruksionis adalah makna yang menjadi penghubung dari

pendekatan Reflektif dan Intensional dalam pemaknaan, maka konsep dalam

pikiran dan tanda bahasa menjadi bagian penting yang digunakan untuk

mengkontruksi produksi makna atau arti.

Berdasarkan hasil analisis data penelitian, penulis menemukan bahwa

informan memaknai keluarga sebagai tempat ternyaman dan tempat mereka

berpulang dalam kehangatan yang dapat diterima tanpa merasa canggung. Para

informan juga mengatakan bahwa dalam Film Ngeri-Ngeri Sedap tidak mewakili

kehidupan keluarga mereka, karena terdapat perbedaan, padangan dan cara

didikan dari orang tua terhadap anak juga tuntutan dan cara penyelesain konflik,

orang tua dan anak.

Hal ini berkaitan dengan pendekatan konstruksionis dimana pendekatan

konstruksionis dikemukakan oleh Stuart Hall bahwa informan memaknai, konsep

dan bahasa yang ada dalam film Ngeri-Ngeri Sedap dalam kehidupan sehari-hari.

61
Hal ini juga berkaitan dengan konsep komunikasi bahwa komunikasi

sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia untuk tidak terjadi kesalahpahaman

dan merupakan cara manusia untuk berinteraksi dengan sesama. Dalam hal ini

sebuah keluarga membutuhkan adanya komunukasi yang terjalin agar lancar

untuk mencapai tujuan bersama yang hendak di inginkan anggota keluarga.

5.2.2 Kaitan Representasi Keluarga dalam Film Ngeri-Ngeri Sedap oleh Peer

Group Meet Team dan Teori Stuart Hall

Menurut Hall (Surahman, 2014) representasi merupakan makna yang

diciptakan melalui bahasa dan dibagikan di antara anggota kelompok dalam suatu

budaya. Melalui penggunaan bahasa, representasi menciptakan hubungan antara

ide-ide dalam pikiran kita, memungkinkan kita menafsirkan dunia nyata dan dunia

buatan yang berisi objek, orang, dan peristiwa fiksi atau tidak nyata. Selain itu,

representasi menurut Stuart Hall juga membantu menjelaskan makna dan

pemahaman budaya di seluruh dunia. Simbol, gambar, atau tanda digunakan

untuk menciptakan, menyampaikan, dan melestarikan makna dan pemahaman

tersebut. Hal ini menjelaskan bahwa representasi dapat membentuk sebuah

persepsi, hubungan sosial dan identitas (Sholichah et al, 2023: 35- 36).

Berdasarkan pengertian representasi oleh Stuart Hall yang dikaitkan

dengan hasil penelitian di atas didapati bahwa keluarga di representasikan oleh

kelompok peer group sebagai tempat ternyaman dan tempat berpulang. Berawal

dari keluarga segala sesuatu berkembang, kemampuan untuk bersosialisasi,

mengaktualisasikan diri, berpendapat, hingga perilaku yang menyimpang. Dalam

sebuah keluarga, komunikasi adalah hal yang terpenting yang harus bisa diikuasi

62
oleh anggotanya, karena lewat komunikasilah anggota saling menyalurkan kasih

sayang, perhatian, hingga dapat menyelesaikan persoalan yang terjadi di antara

anggota. Adapun konflik dalam keluarga seringkali terjadi karena faktor

perbedaan pendapat antara orang tua dan anak, kurangnya komunikasi yang baik

dan juga kurangnya kepekaan anggota keluarga. Konflik dapat dihindari dengan

berbagai cara yaitu dengan cara salah satu anggota keluarga harus ada yang bisa

menurunkan egonya , menyesali perbuatan, dan memperbaiki kesalahan yang

telah dibuat serta membangun kepercayaan ini agar konflik dapat dihindari

dengan beberapa hal tersebut jadi, keluarga yang baik adalah keluarga yang dapat

mentransfer perilaku, nilai dan informasi yang baik kepada anak-anaknya dan

seluruh anggota dalam lingkungan keluarganya.

63
BAB VI

PENUTUP

Berdasarkan hasil analisis dan interpretasi yang telah dilakukan pada bab

sebelumnya, maka pada bab ini berisi kesimpulan terkait penelitian dan saran

yang coba penulis tawarkan bagi untuk menyempurnakan hasil penelitian ini dan

juga saran bagi peneliti selanjutnya atau perbaikan guna menyenpurnakan

penelitian ini.

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan

penulis, bahwa Representasi Keluarga Dalam Film Ngeri-Ngeri Sedap (Studi

Kasus pada Peer Group yang menonton Film Ngeri-Ngeri Sedap) menggunakan

Teori Stuart Hall terdapat pemaknaan dalam film Ngeri-Ngeri Sedap ditinjau dari

pendekatan Reflektif, Intensional dan Konstruksionis.

Pada pendekatan Reflektif, rasa kasih sayang yang menunjukkan gestur

yang dilakukan oleh keluarga dalam kehidupan sehari-hari bisa berbeda-beda

tergantung cara kita menerima perlakuan tersebut juga keluarga merupakan

tempat ternyaman.

Intensional melalui penggunaan bahasa yang terjadi dalam kehidupan

sehari-hari digunakan sebagai pemakanaan karena adanya rasa cinta dan kasih

sayang melalui dialog yang digunakan.

Sedangkan pendekatan Konstruksionis proses pembangunan makna yang

melibatkan makna dan penggunaan bahasa merupakan gabungan dalam sebuah

64
pemaknaan. Keluarga merupakan tempat ternyaman untuk berpulang dan dapat

diterima serta pentingnya belajara menjalin sebuah komunikasi yang baik sesama

anggota keluarga terutama tentang bagaimana setiap anggota keluarga belajar

saling memahami dan juga menghargai keputusan dari anggota keluarga.

Film Ngeri-Ngeri Sedap menggambarkan ekspetasi orang tua terhadap

anak-anak mereka. Orang tua seringkali memberikan tekanan kepada anak-anak

untuk memenuhi ekspetasi mereka, seperti dalam hal pekerjaan dan jodoh.

Hal ini dapat menciptakan tekanan dan konflik dalam keluarga juga

komunikasi yang tertutup juga menjadi salah satu aspek yang ditampilkan dalam

film tersebut dan juga mengangkat stigma terhadap pernikahan beda suku dan

pilihan hidup yang tidak sesuai dengan norma. Hal ini mencermikan realitas sosial

di masyarakat yang masih menghadapi stereotip dan diskrimininasi terhadap

perbedaan.

6.2 Saran

Terdapat beberapan saran yang hendak penulis tawarkan dalam penelitian

ini, yaitu:

1. Bagi Pembaca

Setelah membaca penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi untuk

mempelajari cara agar komunikasi bisa terjalin antar anggota keluarga sehingga

dapat saling memahami, menerima, dan tidak memaksa kehendak orang lain serta

berani menurunkan egonya agar tidak terjadi kesalahpahaman

65
2. Bagi Peneliti Selanjutnya

Kiranya penelitian yang telah dilakukan mengenai Representasi Keluarga Dalam

Film Ngeri-Ngeri Sedap (Studi Kasus pada Peer Group yang menonton Film

Ngeri-Ngeri Sedap) agar dapat menghasilkan hasil penelitian yang lebih baik lagi,

diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi peneliti selanjutnya untuk mengambil

sudut pandang berbeda dan lebih kritis.

66
DAFTAR PUSTAKA

Buku:

Alfathoni, M. A. (2020). Pengantar Teori Film. Yogyakarta: Deepublish.

Kriyantono, R. (2020). Teknis Praktis Riset Komunikasi Kuantitatif dan

Kualitatif. Jakarta: Prenamedia Group.

Ramadhan, M. (2021). Metode Penelitian. Surabaya: Cipta Media Nusantara.

Winarni,Widi, Endang, 2018. Teori Dan Praktik ; Penelitian Kuantitatif

Kualitatif. Jakarta: Bumi Aksara

Jurnal:

Afifah, B. E. (2022). Pengaruh Teman Sebaya (Peer Group) Terhadap Perilaku

Menyimpang Siswa Kelas Vii dan Viii Smp Negeri 5 Ngawi. IAIN

Ponorogo.

Agusta, I. (2019). Teknik Pengumpulan dan Analisis Kualitatif. Pusat Penelitian

Ekonomi. Litbang Pertanian, Bogor, 27(10), 179-188.

Akbar, A. M. (2021). Strategi Komunikasi dalam Peningkatan Eksistensi

Komunitas Youtuber Batam. Doctoral dissertation, Prodi Ilmu Komunikasi.

Amelia, K. P. (2022). PESAN MORAL ISLAM DALAM FILM AJARI AKU

ISLAM (Analisis Semiotika Roland Barthes). Doctoral dissertation, UIN

RADEN INTAN LAMPUNG.

67
Ardiyanti, H. (2020). Perfilman Indonesia: Perkembangan dan Kebijakan, Sebuah

Telaah dari Perspektif Industri Budaya. Kajian, 22(2), 163-179. Bagus,

Candra, 2018. Analisis kemampuan representasi matematis siswa dalam

menyelesaikan soal lingkaran pada kelas VII-B MTs

Assyafi‟iyah Gondang." Suska Journal of Mathematics Education, 4(2), 115-124.

Damanik, G. R., Kartika, L. A., & Febriana, I. (2023). Analisis Alih Kode dan

Campur Kode dalam Film Ngeri–Ngeri Sedap Karya Bene Dion. Harmoni:

Jurnal Ilmu Komunikasi dan Sosial, 1(2), 37-47.

Ghassani, A., & Nugroho, C. (2019). Pemaknaan Rasisme Dalam Film (Analisis

Resepsi Film Get Out). Jurnal Manajemen Maranatha, 18(2), 127-134.

Ginting, E. (2020). Pengaruh Komunikasi Terhadap Kinerja Pegawai Pada

Puskesmas Desa Merdeka, Kecamatan Merdeka Kabupaten Karo . Doctoral

dissertation, Universitas Quality.

Hadi, I. P., Wahjudianata, M., & Indrayani, I. I. (2020). Komunikasi Massa.

KOMUNIKASI MASSA.

Hermayanthi, G. B. (2021). Representasi Kekerasan pada Anak dalam Film Miss

Baek (Analsisi Representasi Stuart Hall). Universitas Islam Indonesia

Yogyakarta.

Hudoyo, S., & Mulia, P. B. (2014). Representasi Keluarga Jawa dalam Film

Jokowi . Capture: Jurnal Seni Media Rekam, 6(1), 90-105.

68
Kristianto, K. D. (2015). Representasi Fungsi Keluarga Dalam Film Ekskul.

Jurnal e-Komunikasi, 3(2).

Lani, O. P., Mastanora, R., Handayani, B., & Maimori, R. (2021). Komunikasi

Verbal dan Nonverbal Pada Film Kartun Shaun The Sheep. Jurnal Ilmu

Komunikasi (JKMS), 10(2), 161-169.

Masni, H. Y. (2020). Bentuk-Bentuk Gaya Bahasa Sindiran pada Film Comic 8

Kasino King Part 2 Karya Anggy Umbara (Analisis Struktural). Aksara:

Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 3(2), 196-207.

Maulana, A. H. (2017). Representasi nilai keislaman dalam film Jinn karya Ajmal

Zaheer Ahmad. Bachelor's thesis, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: Fakultas

Dakwah dan Ilmu Komunikasi.

Nurhadi, Z. F., & Kurniawan, A. W. (2018). KAJIAN TENTANG

EFEKTIVITAS PESAN DALAM KOMUNIKASI. Jurnal Komunikasi

Universitas Garut: Hasil Pemikiran dan Penelitian, 3(1), 90-95.

Oktavianie, Emie dan Aggasi, Abbyzar. 2023. Representasi problematik anak

akibat broken home dalam film susah sinyal. Jurnal politik, Sosial, hukum

dan humaniora. Universitas Teknologi Sumbawa.

Rahayu, W. D. (2019). Hubungan Antara Fungsi Keluarga Dengan Kesadaran

Beragama Anak di Dukuh Kedungdowo Desa Hadiluwih Kecamatan

Sumberlawang Sragen. Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.

69
Ramadani, U. (2020). Harmonisasi Pola Komunikasi Keluarga dalam Film

Keluarga Cemara (Analisis Semiotika). Doctoral dissertation, Universitas

Hasanuddin.

Sabrin, M. (2020). Representasi Feminisme Dalam Film 3 Srikandi (studi analisis

semiotika). Universitas Islam Negeri Sumatera Utara kota Medan.

Salsa, S. A., & Wahidar, T. I. (2023). Representasi Konflik Orang Tua dan Anak

dalam Film Ngeri-Ngeri Sedap. Jurnal PIKMA: Publikasi Ilmu Komunikasi

Media Dan Cinema, 6(1), 191-213.

Shadiqin, N. (2018). Peran Keluarga Dalam Pembinaan Anak Jalanan Di Jalan

Sultan Alauddin Makassar. UIN Alauddin Makassar Jurusan Sosiologi

Agama.

Siregar, Y. S., Darwis, M., Baroroh, R., & Andriyani, W. (2022). Peningkatan

Minat Belajar Peserta Didik dengan Menggunakan Media Pembelajaran

yang Menarik pada Masa Pandemi Covid 19 di SD Swasta HKBP 1 Padang

Sidempuan. Jurnal Ilmiah Kampus Mengajar, 69-75.

Surahman, S. (2014). Representasi Perempuan Metropolitan Dalam Film 7 Hati 7

Cinta 7 Wanita. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Serang Raya.

Taufik, A. (2020). Interaksi Komunikasi dalam Pendidikan. Edification Journal:

Pendidikan Agama Islam, 2(2), 123-132.

Yazid, Tarekh Afdal Mohammad. (2021). Representasi Keluarga pada film "nanti

kita cerita tentang hari ini". Universitas Islam Bandung.

70
Zellatifanny, C. M., & Mudjiyanto, B. (2018). Tipe Penelitian Deskripsi dalam

Ilmu Komunikasi. Diakom: Jurnal Media Dan Komunikasi, 1(2), 83- 90.

Internet:

Ngeri-Ngeri Sedap :

[Link]

Fngeri-ngeri-sedap%2F&psig=AOvVaw3LD1UxQcNEknf5tYp8_5--

&ust=1715084083238000&source=images&cd=vfe&opi=89978449&ved=0CBI

QjRxqFwoTCPjW-OWB-YUDFQAAAAAdAAAAABAE di akses pada 23 April

2024 pukul 19:45

71

Anda mungkin juga menyukai