0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan98 halaman

Supervisi Pendidikan: Konsep dan Teknik

Diunggah oleh

nely023
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan98 halaman

Supervisi Pendidikan: Konsep dan Teknik

Diunggah oleh

nely023
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Dosen pengampu :

Ummi Nur
[Year]
Rokhmah M. Pd. I

Administrasi Pendidikan
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan hidayah-Nya kami dapat
menyelesaikan tugas mandiri ini. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan
kepada junjungan besar kita, Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan kepada
kita jalan yang lurus berupa ajaran agama Islam yang sempurna dan menjadi anugerah
serta rahmat bagi seluruh alam semesta.
Penulis berterima kasih pada Ibu Ummi Nur Rokhmah [Link].I selaku Dosen mata
kuliah Administrasi Pendidikan yang telah memberikan tugas ini. Selain itu, penulis
juga mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
selama pembuatan makalah ini berlangsung.
Penulis berharap makalah ini dapat berguna dan dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Penulis juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, penulis berharap adanya
kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah di masa yang akan datang.

Cirebon, 24 Desember 2018

Penulis
DAFTAR ISI
BAB 1
A. Konsep Supervisi Pendidikan
Supervisi diartikan sebagai aktivitas yang menetukan kondisi atau syarat-
syarat yang esensial yang akan menjamin tercapainya tujuan-tujuan pendidikan.
Pada dasarnya supervisi pendidikan dapat diartikan sebagai bantuan yang
diberikan oleh kepala sekolah untuk melaksanakan penilaian dan supervisi dari
segi teknis pendidikan dan administrasi dalam bentuk memberikan arahan,
bimbingan, dan contoh tentang pelaksanaan mengajar guru, sehingga dapat
memperbaiki dan meningkatkan kinerja guru dalam melaksanakan tugas pokoknya,
yaitu memperbaiki dan meningkatkan proses belajar-mengajar.
Fungsi utama supervisi bukan perbaikan saja, tapi dilaksanakan untuk
mengkoordinasi , menstimulasi dan mendorong ke arah pertumbuhan dan
pengembangan satuan pendidikan.
Ditinjau dari fungsi utama supervisi pendidikan, maka dalam organisasi
pendidikan (sekolah), bahwa supervisi pendidikan dilaksanakan dalam tiga jenis
supervisi, sebagaimana yang dijelaskan oleh (Djalani,2012:62) “Ada tiga jenis
supervisi pendidikan yang diperkenalkan dalam upaya mengembangkan proses
pendidikan dan pengajaran di sekolah, yaitu: supervisi akademik, supervisi
manajerial dan supervisi klinis.”
Di sekolah pelaksanaan supervisi akademik lebih diarahkan untuk
meningkatkan dan mengembangkan kemampuan guru dalam melaksankan proses
pembelajaran, sedangkan supervisi manajerial merupakan kegiatan pengawasan di
bidang personilpelaksana dan manejemen sekolah yang menjalankan
pengadministrasian sekolah dalam rangka meningkatkan proses pembelajaran.
Sementara supervisi klinis ditujukan kepada guru-guru atau personil sekolah yang
mengalami hambatan dalam melaksankan tugas. (Djalani,2012:62)

B. Teknik-teknik Supervisi
a. Kunjungan kelas
b. Pembicaraan Individual
c. Diskusi Kelompok
d. Demonstrasi mengajar
e. Kunjungan kelas antar guru
f. Pengembangan kurikulum
g. Buletin supervisi
h. Perpustakaan profesional
i. Lokakarya
j. Survei sekolah-masyarakat
C. Ruang Lingkup Supervisi Manajerial di Sekolah atau Madrasah
Supervisi manajerial merupakan kegiatan pemantauan, pembinaan dan
penilaian terhadap kepala sekolah dan elemen sekolah lainnya dalam mengelola,
mengadministrasikan dan melaksanakan seluruh kegiatan sekolah. (Darwin dan Irsan,
2012: 124).
Dalam pedoman pelaksanaan pengawas sekolah (Depdiknas, 2010: 124)
dijelaskan mengenai ruang lingkup supervisi manajerial sebagai berikut:
1. Pembinaan
2. Pemantauan
3. Penilaian

Supervisi ini memiliki fokus yang ditujukan pada pelaksanaan bidang


garapan manajemen sekolah atau madrasah, yang meliputi:
a. Manajemen kurikulum dan pembelajaran
b. Kesiswaan
c. Saran dan prasarana
d. Ketenagaan
e. Keuangan
f. Hubungan sekolah dengan masyarakat
g. Layanan khusus

Dan juga pemantauan terhadap pelaksanaan standar nasional pendidikan yang


meliputi delapan komponen, yaitu:
a. Standar isi
b. Standar kompetensi lulusan
c. Standar proses
d. Standar pendidik dan tenaga kependidikan
e. Standar sarana dan prasarana
f. Standar pengelolaan
g. Standar pembiayaan
h. Standar penilaian

Adapun rincian bidang-bidang yang menjadi area pengawasan supervisor


adalah:
1. Bidang akademik, meliputi:
a. Menyusun program tahunan dan semester,
b. Mengatur jadwal pelajaran,
c. Mengatur pelaksanaan penyusunan model satuan pembelajaran,
d. Menentukan norma kenaikan kelas,
e. Menentukan norma penilaian,
f. Mengatur pelaksanaan evaluasi belajar,
g. Meningkatkan perbaikan mengajar,
h. Mengatur kegiatan kelas apabila guru tidak hadir, mengatur disiplin dan tata
tertib kelas.
2. Bidang kesiswaan, meliputi:
a. Mengatur pelaksanaan kegiatan penerimaan siswa baru berdasarkan peraturan
penerimaan siswa baru,
b. Mengelola layanan bimbingan dan konseling,
c. Mencatat kehadiran dan ketidak hadiran siswa,
d. Mengatur dan mengelola kegiatan ekstrakulikuler.
3. Bidang personalia, meliputi:
a. Mengatur pembagian tugas guru,
b. Mengajukan kegiatan kenaikan pangkat, gaji dan mutasi guru,
c. Mengatur program kesejahteraan guru,
d. Mencatat kehadiran dan ketidakhadiran guru,
e. Mencatat maslah atau keluhan-keluhan guru.
4. Bidang keuangan, meliputi:
a. Menyiapkan rencana anggaran dan belanja sekolah,
b. Mencari sumber dana untuk kegiatan sekolah,
c. Mengalokasikan dana untuk kegiatan sekolah,
d. Mempertanggungjawabkan keuangan sesuai dengan peraturan yang
berlaku.
5. Bidang saranadan prasarana, meliputi:
a. Penyediaan dan seleksi buku pegangan guru,
b. Layanan perpustakaan dan laboratorium,
c. Kebersihn dan keindahan lingungan sekolah,
d. Keindahan dan kebersihan kelas,
e. Perbaikan kelengkapan kelas.
6. Bidang hubungan masyarakat, meliputi:
a. Kerjasama sekolah dengan orangtua siswa,
b. Kerjasama sekolah dengan komite sekolah,
c. Kerjasama sekolah dengan lembaga-lembaga terkait,
d. Kerjasama seolah dengan masyarakat sekitar.

Peran supervisor dalam melakukan fungsi supervisi manajerial:


1. Fasilitator, dalam proses perencnaan, koordinasi, pengembangan manajemen
sekolah.
2. Asesor, dalam mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan serta menganalisis
potensi sekolah.
3. Informan, dalam pengembangan mutu sekolah.
4. Evaluator, dalam hasil pengawasan.

Berdasarkan pengertian dan ruang lingkup supervisi manajerial yang dibahas di


atas maka dapat disimpulkan pelaku dari supervisi ini adalah:
Jenis Supervisi Supervisor Yang Disupervisi
Supervisi Manajerial Pengawan Satuan Kepala Sekolah, Tata
Pendidikan Usaha, Wakasek
Kurikulum, Kesiswaan,
Sarana dan Prasarana,
Humas, Bimbingan
Konseling, Komite Sekolah

D. Ruang Lingkup Supervisi Akademik di Sekolah atau Madrasah


Ruang Lingkup Supervisi Akademik meliputi beberapa hal berikut:
1. Pelaksanaan kurikulum yang sedang berlaku,
2. Persiapan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran oleh guru,
3. Pencapaian standar kompetensi lulusan, standar proses, standar isi, dan peraturan
pelaksanaannya,
4. Peningkatan mutu pembelajaran, hal ini dapat dilakukan melalui pengembangan
sebagai berikut:
a. Model pembelajaran yang mengacu pada standar proses,
b. Peran peserta didik dalam proses pembelajaran,
c. Peserta didik dapat membentuk karakter dan memiliki pola pikir serta kebebasan
berfikir,
d. Keterlibatan peserta didik secara aktif dalam proses belajar yang dilakukan
dengan bersunguh-sungguh,
e. Bertanggung jawab terhadap mutu pencernaan kegiatan pembelajaran untuk
setiap mata pelajaran yang diampu, agar peserta didiknya memiliki sejumlah
kemampuan.
Sasaran utama supervisi akademik adalah kemampuan-kemampuan guru
dalam merencanakan kegiatan pembelajaran, melaksanakan kegiatan
pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, memanfaatkan hasil penilaian untuk
peningkatan layanan pembelajaran, menciptakan lingkungan belajar yang
menyenangkan, memanfaatkan sumber belajar yang tersedia, dan
mengembangkan interaksi pembelajaran (strategi, metode, teknik) yang
tepat. Supervisi edukatif juga harus didukung oleh instrumen-instrumen yang
sesuai.
Menurut Sahertian (Sahertian,2000:44-52).
Pendekatan yang digunakandalam melaksanakan supervisi akademik, ada 3
yaitu:
1. Pendekatan Langsung (Direktif)
2. Pendekatan Tidak Langsung (Non-direktif)
3. Pendekatan Kolaboratif
DAFTAR PUSTAKA
Fathurrohman, Pupuh dan AA Suryana. 2011. Supervisi Pendidikan dalam
Pengembangan Proses Pengajaran. Bandung: Refika Aditama.

Hamzah, Siti Nur Aini. 2015. Mengenal Supervisi Manajerial dalam Lembaga
Pendidikan. Vol. 6, No. 2, Tahun 2015. diambil dari:
[Link] (15 September
2018)

Joni, Syarwan dkk. 2016 Pelaksanaan Supervisi Manajerial Pengawas Sekolah


Menengah Atas Swasta di Kota Aceh. Vol. 4, No. 1, Februari 2016) diambil
dari: [Link] (15
September 2018)
Purwanto, Ngalim. 2012. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Rosda.
Sutisna, Oteng. 1986. Administrasi Pendidikan dasar teoristik untuk praktek
profesional. Bandung: Angkasa.
BAB II
A. Konsep kepemimpinan pendidikan
Kepemimpinan seseorang berperan sebagai penggerak dalam proses kerja sama
antarmanusia dalam organisasi termasuk sekolah. Kepemimpinan menjadikan suatu
organisasi dapat bergerak secara terarah dalam upaya mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Bernard Bass dalam bukunya “The concept s of Leadership” (1990)
sebagaimana dikutip oleh Pierce dan Newstrom (2006: 3) berdasarkan hasil
penelaahan akan definisi kepemimpinan mengemukakan beberapa pendekatan berkaitan
dengan konsep kepemimpinan yaitu:
“as the focus of group process, as a personaity attribute, as art of inducing
compliance, as an ecercise of influence, as a particular kind of act, as a form of
persuasion, as a power relation, as instrument in the attainment of goals, as an effect of
interaction, as differentated role, and as the initiation of structure”
Kutipan di atas menunjukkan variasi pengertian kepemimpinan yang
dikemukakan ole para ahli, yang dikarenakan oleh titik tekan yang diberikan pada
kepemimpinan dlaam konteks kehidupan manusia, dari yang berorientasi pada proses
kelompok, perilaku tertentu, sampai pada yang berorientasi pada sifat yang dimiliki
individu pemimpin. Namun yang jelas semua pendekatan tersebut mengindikasikan
adanya pengaruh yang dimiliki oleh pemimpin, sebagaimana akan terlihat dari beberapa
pengertian tentang kepemimpinan yang dikemukakan para ahi berikut ini.
Kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi orang lain, ini mempunyai
maksud mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam mempengaruhi orang, pemimpin
dapat melakukannya melalui pemotivasian yang dapat menggerakkan seseorang untuk
melakuakan sesuatu sesuai dengan yang ingin dilakukan oleh pemimpin.
Ditinjau dari sejarah perkembangannya dapat dikemukakan di sini adanya tiga
konsep kepemimpinan, yaitu:
1. Suatu konsep menganggap bahwa kepemimpinan merupakan suatu kemampuan
yang berupa sifat-sifat yang dibawa sejak lahir yang ada pada diri seorang
pemimpin. Menurut konsep ini kepemimpinan diartikan sebagai traits within
the.
2. Konsep kedua agak lebih maju lagi. Konsep ini memandang kepemimpinan
sebagai fungsi keomik (function of the group). Menurut konsep ini, sukses-
tidaknya suatu kepemimpinan tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan atau
sifat-sifat yang ada pada seseorang, tetapi justru yang lebih penting adalah
dipengaruhi oleh sifat-sifat dan ciri-ciri kelompok yang dipimpinnya.
3. Konsep ketiga merupakan konsep yang lebih maju lagi. Kosep yang ketiga ini
menunjukkan bahwa, berapa pun seorang pemimpin telah memiliki sifat-sifat
kepemimpinan yang baik dan dapat menjalankan fungsinya sebagai anggota
keompok, sukses-tidaknya kepemimpinannya masih ditentukan pula oleh situasi
yang selalu berubah yang mempengaruhi perubahan dan perkembangan
kehidupan kelompok yang dipimpinnya.

Demikianlah, untuk mendapat kepemimpinan yang ideal, ketiga konsep


tersebut di atas harus dipadukan karena ketiga-tiganya saling melengkapi.

B. Tipe-tipe Kepemimpinan Pendidikan

Di dalam kepemimpinan ada tiga unsur yang saling berkaitan, yaitu unsur
manusia, unsur sarana, dan unsur tujuan. Untuk dapat memperlakukan ketiga
unsur tersebut secara seimbang, seorang pemimpin harus memiliki pengetahuan
atau kecakapan dan keterampilan yang diperlukan dalam melaksanakan
kepemimpinannya. Cara atau teknik seseorang dalam menjalankan suatu
kepemimpinan disebut tipe atau gaya kepemimpinan.

Cara-cara seorang pemimpin melaksanakan kepemimpinannya berbeda-


beda. Berdasarkan cara pelaksanaannya, ada empat tipe kepemimpinan yaitu:

1. Kepemimpinan Otokratis
2. Kepemimpinan Pseudo-demokratis
3. Kepemimpinan "laissez-faire"
4. Kepemimpinan demokratis
C. Karakteristik Pemimpin Efektif
1. Pemimpin harus peka terhadap lingkungannya, harus mendengarkan saran-saran
dan nasehat dari orang-orang di sekitarnya.

2. Pemimpin harus menjadi teladan dalam lingkungannya.

3. Pemimpin harus bersikap dan bersifat setia kepada janjinya, kepada


organisasinya.

4. Pemimpin harus mampu mengambil keputusan, harus pandai, cakap dan berani
setelah semua faktor yang relevan diperhitungkan.
Berdasarkan uraian-uraian tersebut, dapat dinyatakan bahwa pemimpin
harus memiliki keahlian dan kemampuan yang lebih baik dibandingkan orang-
orang yang dipimpin. Keahlian ini terlihat dari sifat, watak dan perilaku yang
tercermin dalam setiap tindakan.
D. Peran Kepala Sekolah/Madrasah
1. Kepala Sekolah Sebagai Educator (pendidik)
2. Kepala Sekolah Sebagai Manager
3. Kepala Sekolah Sebagai Administrator
Tugas secara rinci pengelola (administrator) pendidikan menurut Poerbakawatja
dan Harahap seperti dikutip Syaiful Sagala antara lain adalah:
a. Perencanaan
b. Menyusun suatu staf
c. Memimpin suatu tugas secara terus-menerus
d. Mengoordinasi
e. Membuat laporan untuk atasan
f. Menentukan anggaran belanja

Rangkaian tugas kepala sekolah/madrasah ini menyiratkan adanya kebijakan-


kebijakan penting yang diambil kepala sekolah/madrasah sebagai administrator
di sekolah/madrasah yang dipimpinnya.

4. Kepala Sekolah Sebagai Supervisor


Kepala sekolah dalam pelaksanaanya sebagai supervisor harus memperhatikan
prinip-prinsip sebagai berikut :
a. Hubungan konsultatif, kolegial dan bukan hirarkhis.
b. Dilaksanakan secara demokratis
c. Berpusat kepada tenaga kependidikan (guru).
d. Dilakukan berdasarkan kebutuhan tenaga kependidikan (guru).
e. Merupakan bantuan profesional.

Sebagai supervisor yang harus melaksanakan tugas tanggung jawabnya hendaknya


mempunyai persyaratan-persyaratan idiil. Dilihat dari segi kepribadiannya
(personality) syarat-syarat tersebut adalah sebagaiberikut :
a. Ia harus mempunyai perikemanusiaan dan solidaritas yang tinggi, dapat menilai
orang lain secara teliti dari segi kemanusiaannya serta dapat bergaul dengan
baik.
b. Ia harus dapat memelihara dan menghargai dengan sungguh- sungguh semua
kepercayaan yang diberikan oleh orang-orang yang berhubungan dengannya.
c. Ia harus berjiwa optimis yang berusaha mencari yang baik, mengharapkan yang
baik dan melihat segi-segi yang baik.
d. Hendaknya bersifat adil dan jujur, sehingga tidak dapat dipengaruhi oleh
penyimpangan-penyimpangan manusia.
e. Hendaknya ia cukup tegas dan obyektif (tidak memihak).
f. Ia harus berjiwa terbuka dan luas, sehingga lekas dan mudah dapat memberikan
pengakuan dan penghargaan terhadap prestasi yang baik.
g. Jiwanya yang terbuka tidak boleh menimbulkan prasangka terhadap seseorang
untuk selama-lamanya hanya karena sesuatu kesalahan saja.
h. Ia hendaknya sedemikian jujur, terbuka dan penuh tanggung jawab.
i. Ia harus cukup taktik, sehingga kritiknya tidak menyinggung perasaan orang.
j. Sikapnya harus ramah, terbuka dan mudah dihubungi sehingga guru-guru dan
siapa saja yang memerlukannya tidak akan ragu untuk menemuinya.
k. Ia harus dapat beerja dengan tekun, rajin serta teliti, sehingga merupakan contoh
anggota stafnya.
5. Kepala Sekolah Sebagai Leader (pemimpin)
Kepala sekolah sebagai seorang pemimpin harus mampu :
a. Mendorong timbulnya kemauan yang kuat dengan penuh semangat dan percaya
diri para guru, staf dab siswa dalam melaksanakan tugas masing-masing.
b. Memberikan bimbingan dan mengarahkan para guru, staf dan para siswa serta
memberikan doronganmemacu dan berdiri didepandemi kemajuan dan
memberikan inspirasi sekolah dalam mencapai tujuan.
6. Kepala Sekolah Sebagai Inovator
7. Kepala Sekolah Sebagai Motivator

E. Peran Guru Sebagai Pemimpin


Hakekat kepemimpinan di kelas adalah kemampuan untuk mempengaruhi dan
menggerakkan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran di kelas. Dalam lingkungan
sekolah, Guru merupakan sosok pemimpin yang memiliki tanggung jawab besar dalam
menghasilkan generasi yang berkarakter, berbudaya, dan bermoral. Olehnya itu guru
harus mampu menjadi contoh yang baik, mampu membangun semangat, serta harus
mampu mendorong anak/siswa yang dipimpinnya.
Menurut Ki Hadjar Dewantara, Dalam Konsep Trilogi Kepemimpinannya Yang
terdiri dari ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, serta tut wuri handa-
yani. Maksudnya adalah, ketika berada di depan harus mampu menjadi teladan (contoh
baik), ketika berada di tengah-tengah harus mampu membangun semangat, serta ketika
berada di belakang harus mampu mendorong anak/siswa yang dipimpinnya. Sehingga
Seorang guru harus selalu memikirkan perilakunya, karena segala hal yang
dilakukannya akan dijadikan teladan murid-muridnya.
F. Dimensi Pengembangan Kepemimpinan Guru
Kepemimpinan guru memfokuskan pada 3 dimensi pengembangan, yaitu:
1. Dimensi pengembangan individu merupakan dimensi utama yang berkaitan dengan
peran dan tugas guru dalam memanfaatkan waktu di kelas bersama siswa.
2. Dimensi pengembangan tim menunjuk pada upaya kolaboratif untuk membantu
rekan sejawat dalam mengeksplorasi dan mencobakan gagasan-gagasan baru dalam
rangka meningkatkan mutu pembelajaran, melalui kegiatan mentoring, coaching,
pengamatan, diskusi, dan pemberian umpan balik yang konstruktif. Dimensi yang
kedua ini berkaitan upaya pengembangan profesi guru.
3. Sedangkan dimensi organisasi menunjuk pada peran guru untuk mendukung
kebijakan dan program pendidikan di sekolah (dinas pendidikan), mendukung
kepemimpinan kepala sekolah (administrative leadership) dalam melakukan
reformasi pendidikan di sekolah serta bagian dari peran serta guru dalam upaya
mempertahankan keberlanjutan (sustanability) sekolah.
Ketiga dimensi di atas memberikan gambaran tentang: (1) peran guru dalam
memimpin siswanya, (2) peran guru dalam memimpin rekan sejawatnya; dan (3)
peran guru dalam memimpin komunitas pendidikan yang lebih luas.
DAFTAR PUSTAKA
Suharsaputra, Uhar. 2013. Administrasi Pendidikan. Bandung: PT Refika Aditama
Purwanto, Ngalim. 2012. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya
[Link]
BAB 3
A. Konsep Dasar Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
Dalam sejarahnya, konsep manajemen berbasis sekolah muncul pertama kali di
Amerika Serikat. Saat itu, banyak masyarakat yang memprotes tentang
penyelenggaraan pendidikan yang ada pada saat itu. Karena sistem pendidikannya
dianggap kurang sesuai dengan harapan peserta didik untuk mudah saat terjun ke dunia
[Link] itu, sistem pendidikan yang ada juga dianggap kurang memberikan hasil
yang maksimal terkait kemampuan untuk bersaing di dunia usaha secara kompetitif.
Akibatnya munculah konsep manajemen berbasis sekolah yang merupakan wujud dari
reformasi pendidikan yang ada saat itu dengan melakukan pemberdayaan sekolah untuk
meningkatkan kualitas pendidikan nasional.
Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pada bagian
penjelasan pasal 51 ayat 1; “Manajemen berbasis sekolah atau madrasah adalah bentuk
otonomi manajemen pendidikan pada satuan pendidikan, yang dalam hal ini kepala
sekolah atau madrasah dan guru dibantu oleh komite sekolah atau madrasah dalam
mengelola kegiatan pendidikan”.
Jadi, manajemen berbasis sekolah adalah suatu bentuk manajemen dimana
pemerintah memberikan otonomi atau tanggung jawab yang lebih besar kepada pihak
sekolah untuk dapat merencanakan hingga mengelola kegiatan pendidikannya untuk
meningkatkan kualitas pendidikan dengan melibatkan seluruh tenaga di sekolah
sekaligus masyarakat sekitar secara mandiri dan terbuka.
Tujuan dari penerapan manajemen berbasis sekolah : (Satory (2001:5), dalam Laili,
2011)
1. Meningkatkan kualitas pendidikan dan inisiatif sekolah dalam memberdayakan
dan mengelola potensi serta sumber daya yang ada.
2. Meningkatkan partisipasi warga di sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan
secara keseluruhan.
3. Meningkatkan rasa tanggung jawab pihak sekolah kepada murid, pemerintah,
orang tua/wali murid, dan masyarakat sekitar tentang kualitas sekolah.
4. Meningkatkan persaingan yang sehat antar sekolah untuk mencapai kualitas
pendidikan yang diharapkan.
Dalam prinsipnya, MBS ini akan mendapatkan kewenangan dalam mengatur
pengayaan kurikulum dalam berbagai bentuk. Misalnya, dalam mata pelajaran
menambahkan subpokok materi yang dianggap perlu serta memberikan perhatian yang
lebih terhadap pengembangan minat dan bakat peserta didik.
B. Manfaat Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
Manfaat Penerapan MBS yaitu:
1) Memperkenan-kan orang-orang yang kompeten di sekolah untuk mengambil
keputusan yang akan dapat meningkatkan pembelajaran
2) Memberikan kesempatan kepada komunitas sekolah (guru, staf sekolah, orang tua
dan masyarakat) dalam keterlibatan mengambil keputusan utama (prioritas)
3) Memfokuskan akuntabilitas pada keputusan; (4) mengarahkan pada kreativitas dan
fleksibilitas yang lebih besar dalam mendesain program sehingga dapat memenuhi
kebutuhan siswa
4) Mengatur ulang sumber daya untuk mendukung tujuan yang dikembangkan di
sekolah
5) Mengarahkan pada penganggaran yang realistik yang mendorong orang tua dan
guru semakin menyadari akan status keuangan sekolah, batasan pembelanjaan dan
biaya dari setiap program
6) Meningkatkan moral para guru dan memelihara kepemimpinan baru pada setiap
tingkat
7) Meningkatkan kuantitas, kualitas, dan fleksibilitas komunikasi di antara komunitas
sekolah.
a. Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
Manajemen Berbasis Sekolah memiliki karakteristik yang perlu dipahami oleh
sekolah yang akan menerapkannya. Karakteristik MBS memuat secara inklusif elemen-
elemen sekolah efektif yang dikategorikan menjadi input, proses, dan output.
1) Output yang Diharapkan
Sekolah memiliki output yang diharapkan. Output sekolah adalah prestasi sekolah
yang dihasilkan melalui proses pembelajaran dan manajemen di sekolah. Pada
umumnya, output dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu output berupa prestasi
akademik (academic achievement) dan output yang berupa prestasi non akademik
(nonacademic achievement). Output prestasi akademik misalnya, lomba karya ilmiah
remaja, lomba (Bahasa Inggris, Matematika, Fisika), cara berfikir (kritis, kreatif
divergen, nalar, rasional, induktif, deduktif, dan ilmiah). Output non akademik,
misalnya akhlak/budi pekerti, dan perilaku sosial yang baik seperti bebas narkoba,
kejujuran, kerjasama yang baik, rasa kasih sayang yang tinggi terhadap sesama,
solidaritas yang tinggi, toleransi, kedisiplinan, kerajinan, prestasi olahraga, kesenian,
dan kepramukaan.
2) Proses
Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki sejumlah karakteristik proses sebagai
berikut:
a. Proses Belajar Mengajar dengan Efektivitas yang Tinggi
Belajar yang efektif juga mengacu pada pilar-pilar pendidikan menurut
UNESCO yaitu:
 Learning to know yaitu belajar untuk mengetahui
 Learning to do yaitu belajar untuk melakukan
 Learning to live together yaitu belajar untuk bermasyarakat
 Learning to be yaitu belajar tentang apa yang bisa dihubungkan dengan kehidupan
sehari-hari, serta ditambah dengan
 Learning to religi yaitu belajar untuk memahami agama.
Dengan demikian maka kegiatan pembelajaran akan dapat memiliki efektivitas
yang tinggi.
b. Kepemimpinan Sekolah yang Kuat
c. Lingkungan Sekolah yang Aman dan Tertib
d. Pengelolaan Tenaga Kependidikan yang Efektif
e. Sekolah Memiliki Budaya Mutu
f. Sekolah Memiliki Teamwork yang Kompak, Cerdas, dan Dinamis
g. Sekolah Memiliki Kewenangan (Kemandirian)
h. Partisipasi yang Tinggi dari Warga Sekolah dan Masyarakat
i. Sekolah Memiliki Keterbukaan (Transparansi) Manajemen
j. Sekolah Memiliki Kemauan untuk Berubah (Psikologi dan Fisik)
k. Sekolah Melakukan Evaluasi dan Perbaikan Secara Berkelanjutan
l. Sekolah Responsif dan Antisipatif terhadap Kebutuhan
m. Memiliki Komunikasi yang Baik
n. Sekolah Memiliki Akuntabilitas
o. Manajemen Lingkungan Hidup Sekolah Baik
p. Sekolah Memiliki Kemampuan Menjaga Sustainabilitas
3) Input Pendidikan
a. Memiliki Kebijakan, Tujuan, dan Sasaran Mutu yang Jelas
b. Sumberdaya Tersedia dan Siap
c. Staf yang Kompeten dan Berdedikasi Tinggi
d. Memiliki Harapan Prestasi yang Tinggi
e. Fokus pada Pelanggan (Khususnya Siswa)
f. Input Manajemen
Karakteristik MBS juga bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dapat
mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah, proses belajar-mengajar, pengelolaan
sumber daya manusia, dan pengelolaan sumber daya dan administrasi.
Menurut Nurkholis (2003:56), MBS memiliki 8 karakteristik:
1) Sekolah dengan MBS memiliki misi atau cita-cita menjalankan sekolah untuk
mewakili sekelompok harapan bersama, keyakinan dan nilai-nilai sekolah,
membimbing warga sekolah di dalam aktivitas pendidikan dan memberi arah kerja.
Misi ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap fungsi dan efektivitas sekolah,
karena dengan misi ini warga sekolah dapat mengembangkan budaya organisasi
sekolah yang tepat, membangun komitmen yang tinggi terhadap sekolah, dan
mempunyai insiatif untuk memberikan tingkat layanan pendidikan yang lebih baik.
2) Aktivitas pendidikan dijalankan berdasarkan karakteristik kebutuhan dan situasi
sekolah. Hakikat aktivitas sangat penting bagi sekolah untuk meningkatkan kualitas
pendidikan, karena secara tidak langsung memperkenalkan perubahan manajemen
sekolah dari menajemen kontrol eksternal menjadi model berbasis sekolah.
3) Terjadinya proses perubahan strategi manajemen yang menyangkut hakikat
manusia, organisasi sekolah, gaya pengambilan keputusan, gaya kepemimpinan,
penggunaan kekuasaan, dan keterampilan-keterampilan manajemen. Oleh karena
itu dalam konteks pelaksanaan MBS, perubahan strategi manajemen lebih
memandang pada aspek pengembangan yang tepat dan relevan dengan kebutuhan
sekolah.
4) Keleluasaan dan kewenangan dalam pengelolaan sumber daya yang efektif untuk
mencapai tujuan pendidikan, guna memecahkan masalah-masalah pendidikan yang
dihadapi, baik tenaga kependidikan, keuangan dan sebagainya.
5) MBS menuntut peran aktif sekolah, adiministrator sekolah, guru, orang tua, dan
pihak-pihak yang terkait dengan pendidikan di sekolah. Dengan MBS sekolah
dapat mengembangkan siswa dan guru sesuai dengan karakteristik sekolah masing-
[Link] konteks ini, sekolah berperan mengembangkan insiatif,
memecahkan masalah, dan mengeksplorasi semua kemungkinan untuk
menfasilitasi efektivitas pembelajaran. Demikian halnya dengan unsur-unsur lain
seperti guru, orang tua, komite sekolah, administrator sekolah, dinas pendidikan,
dan sebagainya sesuai dengan perannya masing-masing.
6) MBS menekankan hubungan antarmanusia yang cenderung terbuka, bekerja sama,
semangat tim, dan komitmen Manajemen Berbasis sekolah yang menguntungkan.
7) Peran administrator sangat penting dalam kerangka MBS, termasuk di dalamnya
kualitas yang dimiliki administrator. Kedelapan, dalam MBS, efektivitas sekolah
dinilai menurut indikator multitingkat dan multisegi. Penilaian tentang efektivitas
sekolah harus mencakup proses pembelajaran dan metode untuk membantu
kemajuan sekolah.
b. Strategi Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Di Sekolah
Strategi implementasi MBS di satu negara dengan negara lain bisa berlainan,
antara satu daerah dengan daerah lain juga bisa berbeda, bahkan antar sekolah dalam
daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya.
Secara umum dapat disimpulkan bahwa implementasi MBS akan berhasil
melalui strategi-strategi berikut ini, yaitu:
1) Membuat kurikulum yang pro kepada siswa
2) Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Menyenangkan
3) Meningkatkan Mutu Para Pendidik
4) Dukungan Tenaga Kependidikan di Sekolah

5) Keaktifan Peserta Didik


6) Peran Aktif Orang Tua Peserta Didik
7) Sarana Prasarana Pendukung yang Memadai
8) Pengawasan Masyarakat Sekitar
9) Dukungan Finansial
10) Peran Pemerintah.

Sedangkan menurut Slamet P.H. karena pelaksanaan MBS merupakan proses


yang berlangsung secara terus-menerus dan melibatkan semua unsur yang bertanggung
jawab dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah, strategi yang ditempuh adalah
sebagai berikut:
1. Mensosialisasikan konsep MBS ke seluruh warga sekolah melalui seminar, diskusi,
forum ilmiah, dan media massa.
2. Melakukan analisis situasi sekolah dan luar sekolah yang hasilnya berupa tantangan
nyata yang harus dihadapi oleh sekolah dalam rangka mengubah manajemen
berbasis pusat ke MBS.
3. Merumuskan tujuan situasional yang akan dicapai dari pelaksanaan MBS
berdasarkan tantangan nyata yang harus dihadapi.
4. Mengidentifikasi fungsi-fungsi yang perlu dilibatkan untuk mencapai tujuan
situasional dan yang masih perlu diteliti tingkat kesiapannya. Fungsi-fungsi yang
dimaksud antara lain: pengembangan kurikulum, pengembangan tenaga
kependidikan dan non kependidikan, pengembangan siswa, pengembangan iklim
akademik sekolah, pengembangan hubungan sekolah dengan masyarakat, fasilitas
dan fungsi-fungsi lain.
5. Menentukan tingkat kesiapan setiap fungsi dan faktor-faktornya melalui analisis
SWOT.
6. Memilih langkah-langkah pemecahan persoalan, yakni tindakan yang diperlukan
untuk mengubah fungsi yang tidak siap menjadi fungsi yang siap.
7. Membuat rencana jangka pendek, menengah dan panjang beserta program-
programnya untuk merealisasikan rencana tersebut.
8. Melaksanakan program-program untuk merealisasikan rencana jangka pendek MBS.
9. Melakukan pemantauan terhadap proses dan evaluasi terhadap hasil MBS.
Pendapat lain mengatakan bahwa terdapat unsur-unsur pokok yang merupakan
prasyarat minimal bagi MBS, yaitu: partisipasi masyarakat, ketenagakerjaan, keuangan,
kurikulum, sarana dan prasarana serta strategi pelaksanaan. Dengan demikian strategi
implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dapat terkait dengan kondisi
obyektif yang ada di sekolah dan stakeholders. Oleh karena itu, peluang kepala sekolah
dan guru sebagai tumpuan sekolah ditantang untuk bertindak sekreatif mungkin.
Sejalan dengan hal itu guru dan kepala sekolah dituntut untuk terus meningkatkan
profesionalitasnya sehingga dapat memberdayakan semua sumber daya secara optimal.
Syarat dalam penerapan MBS sebagai berikut :
1. MBS perlu mendapatkan dukungan dari staf sekolah.
2. MBS perlu diterapkan secara bertahap agar kemungkinan berhasil lebih baik.
3. Diperlukan waktu kurang lebih 5 tahun untuk dapat menerapkan MBS secara
berhasil.
4. Kantor dinas beserta staf sekolah perlu pelatihan penerapan MBS serta harus
menyesuaikan diri dengan peran dan saluran komunikasi yang baru.
5. Perlu disediakan anggaran untuk pelatihan dan penyediaan waktu untuk saling
bertemu dengan antar staf secara teratur.
6. Pemerintah pusat dan daerah harus memberikan wewenangnya kepada kepala
sekolah kemudian selanjutnya membagikan wewenang ini kepada guru dan
orang tua atau wali murid.
Sedangkan menurut JC Tukiman Taruna (dalam Laili, 2011), implementasi MBS
secara ideal mensyaratkan sebagai berikut :
1. Peningkatan mutu manajemen sekolah yang dapat dibuktikan melalui keuangan,
transparansi, tanggung-gugat (akuntabilitas) dan perencanaan partisipatif.
2. Peningkatan pembelajaran yang dilakukan melalui PAKEM (Pembelajaran aktif
kreatif efektif dan menyenangkan).
3. Peningkatan partisipasi masyarakat melalui intensitas kepedulian masyarakat
terhadap sekolah.

 Partisipasi adalah kemampuan warga langsung dan tidak langsung untuk


mengerti dan bersuara atau mempengaruhi proses pengambilan keputusan
(politis). Partisipasi mulai dari tingkat rendah (a) berbagi informasi, (b)
konsultasi, lalu ketingkat yg lebih tinggi, (c) kolaborasi berbagai peran dalam
pengambilan keputusan dan sumberdaya, dan (d) pemberdayaan memberikan
wewenang untuk pengambilan keputusan dan sumberdaya.

 Transparansi adalah kemampuan rakyat/warga untuk (a) memperoleh dan


mengerti informasi tentang pelayanan SD/MI, proses penyusunan anggaran dan
penetapan keputusan biaya; dan (b) memantau atau mengidentifikasikan secara
tepat siapa sebenarnya pembuat keputusan serta apa peran mereka dalam
pengambilan keputusan.

 Akuntabilitas berarti kewajiban pembuat keputusan untuk (a) tanggap atas


warga perihal kebutuhan mereka; dan (b) kemampuan warga untuk meminta
pertanggungjawaban pembuat kebijakan atas janji mereka.

Contoh dari MBS sendiri yaitu:


a) Adanya beberapa bantuan yang diberikan oleh lembaga bantuan Australia
(AusAID), sehingga pada tahun 2004 program tersebut telah berkembang ke 40
kabupaten di 9 propinsi dengan 1479 SD/MI.
b) Replikasi program juga telah dilaksanakan oleh pemerintah pusat (Depdiknas)
di 30 propinsi di Indonesia di bawah lambang “MBS”.
c) USAID – lembaga bantuan dari pemerintah Amerika Serikat juga telah
mengembangkan program MBS sejenis di Jawa Timur dan Jawa Tengah yaitu
Managing Basic Education (MBE).
d) Pada tahun 2004 model MBS juga dilaksanakan di tiga kabupaten Jawa Timur
dengan dukungan Indonesia – Australia Partnership in Basic Education
(IAPBE).
e) Mulai tahun 2005, USAID juga memberikan bantuan untuk model MBS ini di 7
propinsi di Indonesia melalui program Decentralized Basic Education (DBE).
MBS menyebabkan kepala dinas, pejabat atau staf pusat serta jajarannya berperan
sebagai fasilitator pengambilan keputusan di sekolah. Pemerintah pusat hanya berperan
dalam menetapkan standar pendidikan nasional yang mencakup standar fasilitas,
standar kompetensi, standar tenaga pendidik dan tenaga kependidikan dan sebagainya.
Dalam menerapkan standar yang ditetapkan oleh pemerintah, hal ini disesuaikan
dengan keadaan di [Link] tersebut diterapkan dengan mempertimbangkan
ciri khas dan potensi dari wilayah tersebut sehingga pemerintah tidak mengekang
kreativitas dan inovasi dari setiap sekolah.
Dalam kebanyakan model MBS, setiap sekolah akan mendapatkan anggaran
pendidikan sejumlah tertentu yang masuk akal sesuai kebutuhan yang diperlukan.
Kebutuhan ini berupa pelaksanaan supervisi pendidikan di daerahnya misalnya biaya
transportasi, [Link] anggaran yang diberikan ke setiap sekolah
dipertimbangkan berdasarkan jumlah dan jenis murid di setiap sekolah.
Hambatan dalam penerapan MBS:
1. Kurang berminat untuk ikut terlibat dalam pengelolaan MBS
2. Tidak efisien
3. Memerlukan pelatihan khusus
4. Kebingungan terhadap peran dan tanggung jawab baru dalam MBS
5. Kesulitan koordinasi
6. Kepala sekolah kurang memahami penerapan MBS
DAFTAR PUSTAKA
Amiruddin Siahaan dkk, Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah, (Jakarta: Quantum
Teaching, 2006)
BAB 4
A. Proses Penerimaan Siswa Baru
1. Kegiatan Penerimaan Peserta Didik Baru
Ada beberapa kegiatan yang harus dilaksanakan berkenaan dengan program
penerimaan peserta didik baru itu, diantaranya yaitu:
a. Pembentukan panitia
Panitia dibentuk oleh sekolah untuk bertugas pada tahun tersebut sesuai dengan
tugasnya masing-masing. Tugas panitia ini antara lain yaitu, membuat publikasi
tentang penerimaan peserta didik, menyiapkan formulir pendaftaran, menerima
pendaftaran, menyelenggarakan testing dan penyampaian hasil tes.
b. Penetapan Daya Tampung
Penetapan daya tampung peserta didik baru suatu sekolah dimaksudkan agar dapat
diketahui berapa daya tamping sekolah tersebut. Hal ini dapat diketahui dengan
menghitung berapa banyak lokal yang tersedia untuk dapat menampung calon
peserta didik baru dan berapa jumlah daya tampung masing-masing lokal tersebut,
dan setelah itu dikurangi jumlah peserta didik yang tidak naik kelas.
c. Penetapan Persyaratan Calon
Adapun untuk kriteria peserta didik baru terdapat persyaratan sebagai berikut:
1) Persyaratan Administratif
a) STTB
b) Surat keterangan kelahiran
c) Surat keterangan kesehatan
d) Mengisi formulilr pendaftaran
e) Pas photo
f) Biaya pendaftaran
g) Dan lain-lain yang dirasa perlu
2) Persyaratan yang bersifat akademik
Persyaratan ini berkaitan dengan mutu yang wajib dimiliki oleh calon peserta
didik.
a) Seleksi calon
Seleksi selanjutnya setelah seleksi persyaratan administratif yaitu berkenaan
dengan persyaratan yang bersifat akademik. Seleksi ini biasanya dilakukan dengan
banyak cara antara lain melalui tes dan non tes.
b) Pengumuman hasil tes
Pengumuman dapat melalui media massa seperti surat kabar dan sebagainya,
tetapi dapat juga hanya menggunakan papan pengumuman di sekolah atau dengan
mengirimkan hasil seleksi tersebut kepada calon siswa yang bersangkutan.
2. Kegiatan Orientasi Siswa
Kegiatan Orientasi Siswa Baru meliputi tiga hal penting yaitu :
a. Memperkenalkan struktur organisasi
b. Memperkenalkan program studi
c. Memberitahu cara-cara belajar efektif dan efisien.
Dalam hal ini, kepala sekolah mempunyai tanggung jawab pokok dalam
penyesuaian permulaan pesrta didik baru dengan situasi sekolah yang baru bagi
mereka. Orientasi ini diperlukan pada dua saat, yaitu:
1) Siswa meninggalkan sekolah dasar menuju sekolah menengah tingkat pertama.
2) Siswa melanjutkan dari sekolah menengah pertama ke sekolah menengah tingkat
atas.
B. Jenis Dokumen Kesiswaan

1. Buku Induk
Buku induk merupakan buku pokok, karena didalamnya memuat semua
informasi yang dianggap lengkap mengenai keadaan siswa. Informasi tersebut dapat
meliputi identitas pribadi siswa sampai pada informasi mengenai nilai-nilai hasil
belajar yang diperoleh siswa selama belajar di sekolah yang bersangkutan. Buku
induk ini sangat penting dimiliki oleh setiap sekolah karena melalui buku induk ini
akan dapat diketahui berapa jumlah siswa yang terdaftar dan identitas siswa secara
lengkap.
2. Buku Klaper
Buku ini berfungsi untuk membantu buku induk memuat data murid yang
penting-penting. Pengisiannnya dapat diambil dari buku induk tetapi tidak
selengkap buku induk itu. Daftar nilai juga tercatat. Kegunaan utama buku klaper
adalah untuk memudahkan mencari data murid, apalagi belum diketahui nomor
induknya. Hal ini mudah ditemukan dalam buku klaper karena nama murid disusun
menurut abjad.
3. Buku /Daftar Keadaan Siswa
Buku ini menggambarkan keadaan jumlah keseluruhan siswa di sekolah.
Biasanya gambaran keadaan siswa di suatu sekolah akan terus teridentifikasi setiap
bulannya.
4. Daftar Hadir Siswa / Absensi
Daftar hadir siswa ini dibuat untuk mengendalikan keaktifan siswa mengikuti
kegiatan di sekolah.
5. File Penyimpan Berkas Siswa
Berkas-berkas yang sifatnya terlepas-lepas perlu diarsipkan dengan baik oleh
sekolah, misalnya foto copy STTB, akte kelahiran, surat keterangan pindah dan
sebagainya. Semua berkas itu sebaiknya dibundelkan menurut kelompok masing-
masing, sehingga berkas itu akan mudah ditemukan bila diperlukan.
C. Organisasi Peserta Didik
A. Pengertian Organisasi
Istilah organisasi secara etimologi berasal dari bahasa latin organum yang
berarti alat. Dari beberapa pengertian tersebut, organisasi adalah sebuah wadah, tempat,
atau system untuk melakukan kegiatan bersama untuk mencapai tujuan yang
diinginkan.
Jika dikaitkan dengan pendidikan (organisasi pendidikan), organisasi adalah
tempat untuk melakukan aktivitas pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang
diinginkan.
Unsur-unsur dasar yang membentuk sebuah organisasi adalah sebagai berikut:
1. Adanya tujuan bersama. Organisasi mensyaratkan sesuatu yang akan diinginkan,
biasanya terumuskan dalam visi, misi, target, dan tujuan. Tujuan inilah yang
menyatukan berbagai unsur dalam organisasi.
2. Adanya kerja sama dua orang atau lebih. Organisasi terbentuk karena adanya kerja
sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan bersama.
3. Adanya pembagian tugas. Untuk efektifitas, efisiensi, dan produktivitas organisasi
dibutuhkan pembagian tugas.
4. Adanya kehendak untuk bekerja sama. Anggota organisasi mempunyai kemauan
atau kehendak untuk bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.
B. Asas-asas pengorganisasian
Asas Pengorganisasian:
1. Asas Pembagian Tugas
2. Asas keseimbangan wewenang dan tanggung jawab
3. Asas disiplin
4. Asas kesatuan komando
5. Asas mengutamakan kepentingan umum
6. Asas keadilan
7. Asas inisiatif
8. Asas kesatuan dan kebersamaan
C. Tujuan dan manfaat Organisasi Pendidikan
Pendidikan sebagai sebuah organisasi harus dikelola sedemikian rupa agar
aktivitas pelaksanaan program pendidikan dapat berjalan secara efektif, efisien, dan
produktif untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Dengan demikian, di antara tujuan dan manfaat organisasi pendidikan
sebagai berikut:
1. Mengatasi keterbatasan kemampuan, kemauan, dan sumber daya yang
dimilik dalam mencapai tujuan pendidikan.
2. Terciptanya efektifitas dan efisiensi organisasi dalam rangka mencapai
tujuan pendidikan.
3. Dapat menjadi wadah pengembangan potensi dan spesialisasi yang dimilik.
4. Menjadi tempat pengembangan ilmu pengetahuan.

D. .Kegiatan Bimbingan dan Konseling


a. Definisi

Bimbingan dan konseling adalah upaya dalam memberikan pelayanan bantuan


kepada anak agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal. Tujuan
bimbingan dan konseling agar anak dapat memilih, mempersiapkan diri, memegang
tanggung jawab dan mendapatkan hal yang berharga dari keputusan yang
diambilnya.
Secara khusus layanan bimbingan dan konseling memiliki tujuan sebagai berikut
(Balitbang, 2006:16):

1. Merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir serta kehidupan


peserta didik di masa yang akan datang.

2. Mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimiliki oleh peserta didik
seoptimal mungkin.

3. Menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan dan lingkungan masyarakat.

4. Mengetahui hambatan dan kesulitan yang dihadapi peserta didik dalam studi,
penyesuaian dengan lingkungan pendidikan dan masyarakat.
Bimbingan dan konseling berfungsi sebagai pemberi layanan kepada peserta
didik agar masing-masing peserta didik dapat berkembang secara optimal sehingga
menjadi pribadi yang utuh dan mandiri. Adapun fungsi-fungsi bimbingan dan
konseling dijelaskan sebagai berikut (Hallen, 2003:60):
a. Fungsi Pemahaman

Fungsi pemahaman yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan


menghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh pihak-pihak tertentu sesuai dengan
kepentingan pengembangan peserta didik.
b. Fungsi Pencegahan
Fungsi pencegahan yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan
menghasilkan tercegahnya atau terhindarnya peserta didik dari berbagai
permasalahan yang mungkin timbul yang akan dapat mengganggu, menghambat
ataupun menimbulkan kesulitan, kerugian-kerugian tertentu dalam proses
perkembangannya.
c. Fungsi Pengentasan
Melalui fungsi pengentasan ini pelayanan bimbingan dan konseling akan
menghasilkan terentaskannya atau teratasinya berbagai permasalahan yang dialami
oleh peserta didik. Pelayanan bimbingan dan konseling berusaha membantu
memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh peserta didik, baik dalam
sifatnya, jenisnya maupun bentuknya.
d. Fungsi Pemeliharaan dan Pengembangan
Fungsi pemeliharaan dan pengembangan adalah fungsi bimbingan dan
konseling yang akan menghasilkan terpeliharanya dan terkembangkannya berbagai
potensi dan kondisi positif peserta didik dalam rangka perkembangan dirinya secara
terarah, mantap dan berkelanjutan.
e. Fungsi Advokasi
Fungsi advokasi yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan
teradvokasi atau pembelaan terhadap peserta didik dalam rangka upaya
pengembangan seluruh potensi secara optimal.
Asas-Asas Bimbingan dan Konseling
Menurut Prayetno (2009:115), asas-asas bimbingan dan konseling yaitu :
1. Asas Kerahasiaan.
2. Asas Kesukarelaan.
3. Asas Keterbukaan.
4. Asas Kekinian
5. Asas Kemandirian.
6. Asas Kegiatan.
7. Asas Kedinamisan.
8. Asas Keterpaduan
9. Asas Kenormatifan.
10. Asas Keahlian.
11. Asas Alih tangan.
12. Asas Tutwuri handayani.
[Link] Ekstrakulikuler, Pengembangan Bakat dan Minat Peserta Didik
A. Kegiatan Ekstrakurikuler.
Kegiatan ekstrakurikuler adalah “kegiatan yang dilakukan di luar jam
pelajaran tatap muka, dilaksanakan di sekolah atau di luar sekolah agar lebih
memperkaya dan memperluas wawasan pengetahuan dan kemampuan yang telah
dipelajari dari berbagai mata pelajaran dalam [Link] dan Prinsip-Prinsip
Program Ekstrakurikuler
Kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan sekolah, tentunya membawa
manfaat, baik bagi siswa, sekolah, pendidikan, maupun bagi masyarakat luas. Secara
terinci manfaat kegiatan ekstrakurikuler sebagai berikut :
1. Manfaat kegiatan ekstrakurikuler bagi siswa :
- Untuk membangun semangat dan mentalitas bersekolah.
- Untuk memberikan kepuasan bagi perkembangan jiwa anak atau pemuda.
- Untuk mendorong pembangunan jiwa dan moralitas.
- Untuk menguatkan kekuatan mental dan jiwa siswa.
- Untuk memberikan kesempatan bergaul bagi siswa.
- Untuk memperluas interaksi siswa.
- Untuk memberikan kesempatan kepada siswa dalam melatih kapasitas kreativitas
mereka lebih mendalam.
Manfaat kegiatan ekstrakurikuler bagi pengembangan kurikulum :
- Untuk memberikan tambahan pengayaan pengalaman di kelas.
- Untuk mengeksplorasi pengalaman belajar yang baru yang mungkin menunjung
kurikulum.
- Untuk memberikan tambahan kesempatan dalam bimbingan kelompok ataupun
individu.
- Untuk memberikan motivasi dalam proses pembelajaran di kelas.
2. Manfaat kegiatan ekstrakurikuler bagi masyarakat :
- Untuk mempromosikan sekolah yang lebih baik dan hubungan masyarakat.
-Untuk meningkatkan ketertarikan yang besar pada masyarakat dan dorongan mereka
kepada sekolah.

3. Manfaat kegiatan ekstrakurikuler bagi sekolah :


-Untuk membantu perkembangan kerjasama kelompok yang lebih efektif antara
personel dan penanggung jawab akademis siswa.
-Untuk mengintegrasikan lebih dekat beberapa devisi di sekolah.
-Untuk menyediakan sedikit peluang yang dirancang untuk membantu siswa dalam
memanfaatkan situasi guna memecahkan masalah yang dihadapi.
B. Prinsip-Prinsip Program Ekstrakurikuler
Dengan berpedoman kepada tujuan dan maksud kegiatan ekstrakurikuler di sekolah
dapat ditetapkan prinsip-prinsip program [Link] Oteng Sutisna dalam
bukunya Administrasi Pendidikan Dasar Teoritika Untuk Praktek Profesional prinsip
program ekstrakurikuler adalah :
1. Semua murid, guru, dan personel administrasi hendaknya ikut serta dalam usaha
meningkatkan program.
2. Kerjasama dalam tim adalah fundamental.
3. Pembatasan-pembatasan untuk partisipasi hendaknya dihindarkan.
4. Proses adalah lebih penting daripada hasil.
5. Program hendaknya cukup komprehensif dan seimbang dapat memenuhi
kebutuhan dan minat semua siswa.
6. Program hendaknya memperhitungkan kebutuhan khusus sekolah.
7. Program harus dinilai berdasarkan sumbangannya kepada nilai-nilai pendidikan
di sekolah dan efisiensi pelaksanaannya.
8. Kegiatan ini hendaknya menyediakan sumber-sumber motivasi yang kaya bagi
pengajaran kelas, sebaliknya pengajaran kelas hendaknya juga menyediakan
sumber motivasi yang kaya bagi kegiatan murid.
9. Kegiatan ekstrakurikuler ini hendaknya dipandang sebagai integral dari
kesekuruhan program pendidikan di sekolah, tidak sekedar tambahan atau
sebagai kegiatan yang berdiri sendiri.
10. Dalam usaha membina dan mengembangkan pogram ekstrakurikuler
DAFTAR PUSTAKA

[ONLINE] 11.05 06 Oktober 2018 Supian Hadi


content://[Link]/readinglist/[Link]
Sutisna, oteng. 2010. Administrasi Pendidikan. Bandung: Angkasa
Muchlisin Riadi, 2018, [Link]
[Link], kajian [Link], 11 oktober 2018,
20:52
[ONLINE] 23.06 13 Oktober 2018 Milal Helmy
[Link]
[Link]
[Link]
BAB 5

A. Proses Pengadaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK)


Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pengadaan tenaga kependidikan
adalah :
1. formasi (benar-benar diperlukan tambahan tenaga adukatif).
2. mengacu pada analisa jabatan yang telah disusun agar sesuai dengan kualifikasi
maupun syarat yang ditentukan.
3. objektif, artinya dalam pelaksanaan tenaga kependidikan tidak menganut
nepotisme dan kolusi (pemberian sesuatu).
4. the right man on the right place, kesesuaian tugas dengan kemampuan yang
dimiliki pegawai.
Pengadaan tenaga kependidikan diselenggarakan dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
1. pengumuman
2. Pendaftaran
3. seleksi dan penyaringan
Dalam pengadaan tenaga kependidikan, penyaringan dilaksanakan melalaui 2
tahap yaitu :
a. Penyaringan administrative
b. Ujian atau test
4. pengumuman
PendayaGunaan (PTK)
Pembinaan dan pengembangan tenaga kependidikan merupakan usaha
mendayagunakan, memajukan dan meningkatkan produktivitas kerja setiap tenaga
kependidikan yang ada di seluruh tingkatan manajemen organisasi dan jenjang
pendidikan. Tujuan dari kegiatan pembinaan ini adalah tumbuhnya kemampuan
tenaga kependidikan yang meliputi pertumbuhan keilmuan, wawasan berpikir, sikap
terhadap pekerjaan dan ketrampilan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari sehingga
produktivitas kerja dapat ditingkatkan.
Prinsip yang patut diperhatikan dalam penyelenggaraan pembinaan tenaga
kependidikan, yaitu:
a. dilakukan untuk semua jenis tenaga kependidikan baik untuk tenaga struktural,
tenaga fungsional maupun tenaga teknis penyelenggaraan pendidikan.
b. berorientasi pada perubahan tingkah laku dalam rangka peningkatan
kemampuan profesional dan teknis untuk pelaksanan tugas sehari-hari sesuai
dengan osisinya masing-masing.
c. mendorong peningkatan kontribusi setiap individu terhadap organisasi
pendidikan atau sistem sekolah dan menyediakan bentuk-bentuk penghargaan,
kesejahteraan dan insentif sebagai imbalan guna menjamin terpenuhinya secara
optimal kebutuhan sosial ekonomis maupun kebutuhan sosial-psikologi.
d. mendidik dan melatih seseorang sebelum maupun sesudah menduduki
jabatan/posisi.
e. dirancang untuh memenuhi tuntutan pertumbuhan dalam jabatan,
pengembangan profesi, pemecahan masalah, kegiatan remidial, pemeliharaan
motivasi kerja dan ketahanan organisasi pendidikan.
f. pembinaan dan jenjang karir tenaga kependidikan disesuaikan dengan kategori
masing-masing jenis kependidikan itu sendiri.
Ditinjau dari sudut manajemen secara umum, proses pembinaan dan
pengembangan meliputi beberapa langkah :
a. Menganalisi kebutuhan
b. Menyusun rancangan intruksional
c. Mengesahkan program latihan
d. Tahap implementasi
e. Tahap evaluasi dan tindak lanjut
B. Pemberian Kompensasi (PTK)
Kompensasi adalah balas jasa yang diberikan organisasi kepada pegawai, yang
dapat dinilai dengan uang dan mempunyai kecenderungan di berikan secara tetap.
Pamberian kompensasi, selain dalam bentuk gaji, dapat juga berupa tunjangan,
fasilitas perumahan, kendaraan dan lain-lain.
Peterson dan plowman (dalam melayu;2003:120) orang mau bekerja sama
karena hal-hal berikut ini:
a. .The Desire To life, artinya keinginan untuk hidup merupakan keinginan utama
setiap orang. Manusia bekerja untuk mendapatkan makan dan makan untuk
melanjutkan hidupnya.
b. The Desire For Possesion, artinya keinginan untuk memiliki sesuatu merupakan
keinginan manusia yang ke dua ini merupakan salah satu sebab mengapa orang
mau bekerja.
c. The Desire For power, artinya keinginan akan kekuasaan merupakan keinginan
selangkah di atas keinginan untuk memiliki, mendorong mau bekerja.
d. The Desire For Recognition, artinya keinginan akan pengakuan merupakan jenis
terakhir dari kebutuhan dan juga mendorong orang untuk bekerja.
Tujuan pemberian kompensasi antara lain adalah sebagai ikatan kerja sama,
kepuasan kerja, motivasi, stabilitas karyawan serta disiplin.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kompensasi adalah:
1. Produktivitas kerja karyawan
2. Pemerintah dan undang-undangnya
3. Biaya hidup/ cost of living
4. Posisi jabatan karyawan
5. Pendidikan dan pengalaman pekerjaan
6. Kondisi perekonomian nasional
7. Jenis dan sifat pekerjaan
Bagi tenaga pendidik dan kependidikan yang berstatus sebagai pegawai negeri
sipil pemerintah telah mengatur pemberian kompensasi ini dengan di keluarkannya
undang-undang nomor 43 tahun 1999 tentang pokok-pokok kepegawaian dan
peraturan pemerintah no 1 tahun 2006 tentang penyesuaian gaji pokok PNS, PP no
3 tahun 2006 tentang tunjangan jabatan struktural, PP 12 tahun 2006 tentang
tunjangan umum bagi pegawai negeri sipil, PP no 25 tahun 2006 tentang pemberian
gaji/pensiun/tunjangan bulan ke 13 kepada pegawai negeri, pejabat negara, dan
penerima pensiun/tunjangan.
Dari beberapa aturan tersebut, selain gaji pokok yang di terima oleh tenaga
pendidik dan kependidikan yang berstatus PNS yang di berikan tunjangan antara
lain:
1. Tunjangan jabatan struktural
2. Tunjangan jabatan fungsional
3. Tunjangan keluarga
Bagi tenaga pendidik dan kependidikan yang berstatus sebagai non PNS pemberian
kompensasi ini di dasarkan pada kebijakan lembaga/yayasan.
C. Peningkatan Kualitas (PTK)
Upaya peningkatan mutu pendidikan dipengaruhi oleh faktor majemuk. Namun
demikian, faktor yang paling penting adalah guru, karena hitam-putihnya proses
belajar mengajar di dalam kelas banyak dipengaruhi oleh mutu gurunya. Guru
dikenal sebagai 'hidden currickulum' atau kurikulum tersembunyi, karena sikap
dan tingkah laku, penampilan profesional, kemampuan individual, dan apa saja
yang melekat pada pribadi sang guru, akan diterima oleh peserta didiknya sebagai
rambu-rambu untuk diteladani atau dijadikan bahan pembelajaran.
Dengan kata lain, peran pendidik tidak dapat digantikan oleh apa dan siapa,
serta dalam era apa saja. Untuk dapat melaksanakan peran tersebut secara efektif
dalam proses pendidikan, pendidik dan tenaga kependidikan harus ditingkatkan
mutunya dengan cara sebagai berikut :
a. Peningkatan Gaji dan Kesejahteraan Guru
Hak utama pendidik yang harus memperoleh perhatian dalam kebijakan
pemerintah adalah hak untuk memperoleh penghasilan dan kesejahteraan dengan
standar upah yang layak, bukan 'upah minimum'. Kebijakan "upah minimum"
boleh jadi telah menyebabkan pegawai bermental kuli, bukan pegawai yang
mengejar prestasi. Itulah sebabnya, maka langkah pertama peningkatan mutu
pendidik dan tenaga kependidikan adalah memberikan kesejahteraan guru dengan
gaji yang layak untuk kehidupannya.
Kelima syarat pekerjaan sebagai profesi adalah :
1. bahwa pekerjaan itu memiliki fungsi dan signifikansi bagi masyarakat.
2. bahwa pekerjaan itu memerlukan bidang keahlian tertentu,
3. bidang keahlian itu dapat dicapai dengan melalui cabang pendidikan tertentu
(body of knowledge).
4. bahwa pekerjaan itu memerlukan organisasi profesi dan adanya kode etik
tertentu, dan kemudian.
5. bahwa pekerjaan tersebut memerlukan gaji atau kompensasi yang memadai agar
pekerjaan itu dapat dilaksanakan secara profesional.

Dari kelima syarat tersebut, yang masih belum terpenuhi sepenuhnya adalah
syarat yang kelima, yakni gaji dan kompensasi yang memadai. Alasan kedua,
karena peningkatan gaji dan kesejahteraan merupakan langkah yang memiliki
dampak yang paling berpengaruh (multiplier effects) terhadap langkah-langkah
lainnya.

b. Alih Tugas Profesi dan Rekruitmen Guru Untuk Menggantikan Guru atau
Pendidik yang Dialihtugaskan ke Profesi Lain
Upaya kedua ini merupakan konsekuensi dan kesinambungan dari langkah
pertama. Para pendidik yang tidak memenuhi standar kompetensi harus
dialihtugaskan kepada profesi lain. Pengalihtugasan tersebut dilakukan dengan
syarat sebagai berikut:
1. mereka telah diberikan kesempatan untuk mengikuti diklat dan pembinaan
secara intensif, tetapi tidak menunjukkan adanya perbagian yang signifikan,
2. guru tersebut memang tidak menunjukkan adanya perubahan kompetensi dan
juga tidak ada indikasi positif untuk meningkatkan kompetensinya.
c. Membangun Sistem Sertifikasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Serta
Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan
Sebagaimana diamanatkan dalam PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan, pembangunan sistem sertifikasi pendidik dan tenaga
Kependidikan serta sistem penjamin mutu pendidikan merupakan langkah yang
amat besar, yang akan memberikan dukungan bagi pelaksanaan langkah
pertama, yang juga sangat berat, karena terkait dengan anggaran belanja negara
yang sangat besar. Penataan sistem sertifikasi pendidik dan tenaga kependidikan
tidak harus dilakukan untuk menjamin terpenuhinya berbagai standar nasional
pendidikan yang telah ditetapkan.
Prasyarat yang harus dipernuhi sebagai berikut; untuk pendidik yang akan
diangkat menjadi PNS harus diterapkan standar minimal kualifikasi pendidikan.
Sementara bagi guru yang sudah memiliki pengalaman tidak perlu dituntut
untuk memenuhi standar ijazah tersebut, karena hanya akan menyebabkan
terjadinya apa yang disebut dengan 'jual beli ijazah' yang juga dikenal dengan
'STIA' atau 'sekolah tidak ijazah ada'. Yang diperlukan bagi mereka adalah
pendidikan profesi dan sistem diklat berjenjang yang harus dihargai setara
dengan kualifikasi pendidikan tertentu. Jika sistem sertifikasi ini telah mulai
berjalan, maka sistem kenaikan pangkat bagi pendidik dan tenaga kependidikan
sudah waktunya disesuaikan. Kenaikan pangkat pendidik dan tenaga
kependidikan bukan semata-mata sebagai proses administrasi semata-mata,
melainkan lebih merupakan proses penting dalam sertifikasi yang berdasarkan
kompetensi.
d. Membangun Satu Standar Pembinaan Karir (Career Development Path)
Seiring dengan pelaksanaan sertifikasi tersebut, disusunlah satu standar
pembinaan karir. Sistem itu harus dalam bentuk dokumen yang disyahkan
dalam bentuk undang-undang atau setidaknya berupa peraturan pemerintah yang
harus dilaksanakan oleh aparat otonomi daerah. Standar pembinaan karir ini
akan dapat dilaksanakan dengan mantap apabila memenuhi prasyarat antara lain
jika sistem sertifikasi pendidik dan tenaga kependidikan telah berjalan dengan
lancar. Selain itu, langkah ketiga ini akan berjalan lancar jika sistem kenaikan
pangkat pegawai berdasarkan sertifikasi sudah berjalan.
e. Peningkatan Kompetensi Yang Berkelanjutan
Sementara itu, untuk para pendidik yang sudah berpengalaman perlu diberikan
kesempatan untuk mengikuti penataran yang dilaksanakan oleh lembaga inservice
training yang juga sudah terakreditasi. Selain itu, mereka juga disyaratkan untuk
mengikuti pendidikan profesi yang dapat dilaksanakan oleh lembaga tenaga
kependidikan (LPTK) yang juga harus terakreditasi.
Upaya peningkatan kompetensi bagi pendidik dan tenaga kependidikan harus
dilaksanakan secara terencana dan terprogram dengan sistem yang jelas. Jumlah
pendidik yang besar di negeri ini memerlukan penanganan secara sinergis oleh
semua instansi yang terkait dengan preservice education, inservice training, dan
on the job training. Kegiatan sinergis peningkatan mutu pendidik dan tenaga
kependidikan harus melibatkan organisasi pembinaan profesi guru, seperti
Kelompok Kerja Guru (KKG), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP),
Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), dan Musyawarah Kerja Penilik
Sekolah (MKPS). Sudah tentu termasuk PGRI, organisasi perjuangan para guru.
Di antara kriteria-kriteria kompetensi guru yang harus dimiliki meliputi:
1. Kompetensi kognitif
2. Kompetensi afektif
3. Kompetensi psikomotorik

Adapun Strategi Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan


Secara umum terdapat beberapa langkah strategi yang dapat diimplementasikan
dalam lingkungan kependidikan dengan tujuan bahwa peningkatan mutu
pendidik dan tenaga kependidikan akan behasil melalui strategi- strategi berikut
ini:

1) Evaluasi diri (self assessment)


Kegiatan evalusi diri ini bertujuan untuk mengetahui kondisi sekolah saat ini
dalam segala aspeknya (seluruh komponen sekolah), kemajuan yang telah dicapai,
maupun masalah-masalah yang dihadapi ataupun kelemahan yang dialami.
2) Perumusan Visi, Misi, dan tujuan
Bagi pihak sekolah yang baru berdiri atau baru didirikan, perumusan visi dan
misi serta tujuan merupakan langkah awal / pertama yang harus dilakukan yang
menjelaskan kemana arah pendidikan yang ingin dituju oleh para pendiri/
penyelenggara [Link] yang diharapkan / diinginkan dan diimpikan
dalam jangka panjang itu, kalau dirumuskan secara singkat dan menyeluruh disebut
visi. Sedangkan misi, merupakan jabaran dan visi atau merupakan komponen-
komponen pokok yang harus direalisasikan untuk mencapai visi yang telah
ditetapkan. Dengan kata lain, misi merupakan tugas-tugas pokok yang harus
dilakukan untuk mewujudkan visi.
3) Perencanaan
Perencanaan adalah kegiatan menetapkan lebih dulu tentang apa-apa yang harus
dilakukan, prosedurnya serta metode pelaksanaannya untuk mencapai suatu tujuan
organisasi atau satuan organisasi.
4) Pelaksanaan

Pelaksanaan dapat diartikan sebagai suatu proses kegiatan merealisasikan apa-


apa yang telah direncanakan.

5) Evaluasi

Evaluasi pada tahap ini adalah evaluasi menyeluruh, menyangkut pengelolaan


semua bidang dalam satuan pendidikan yaitu bidang teknis edukatif (pelaksanaan
kurikulum/proses pembelajaran dengan segala aspeknya), bidang ketenagaan,
bidang keuangan, bidang sarana prasarana dan administrasi ketatalaksanaan sekola.
DAFTAR PUSTAKA
Nurdin,Diding & Sibaweh,Imam.(2015). Pengelolaan [Link]: PT
Rajagrafindo Persada.
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
([Link]
perencanaan-dan-tenaga-pendidikkependidikan/,
BAB 6

A. Sarana dan Prasarana


a. Pengertian Sarana dan PrasaranaPendidikan
Menurut kamus besar bahasa Indonesia dikatakan perbedaan dari sarana dan
prasarana yaitu sarana adalah segala sesuatu yang dipakai sebagai alat dalam
mencapai maksud atau tujuan, sedangkan prasarana adalah penunjang
terselenggarakannya suatu proses.

b. Jenis Sarana dan Prasarana Pendidikan


Sarana dan prasarana disebut juga dengan fasilitas pendidikan. Sarana
dan prasarana dibedakan menjadi beberapa jenis menurut suatu sudut pandang
tertentu.
Menurut Daryanto dan Farid (2013: 103-104) fasilitas atau sarana
dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
1. Fasilitas fisik, yakni segala sesuatu yang berupa benda atau fisik yang dapat
dibedakan, yang mempunyai peranan untuk memudahkan dan melancarkan
sesuatu usaha. Fasilitas fisik juga disebut fasilitas materiil.
2. Fasilitas uang, yakni segala sesuatu yang bersifat mempermudah suatu
kegiatan sebagai akibat bekerjanya nilai uang.

Menurut Daryanto dan Farid, sarana pendidikan diklasifikasikan menjadi


tiga macam, yaitu:

1) habis tidaknya dipakai;

2) bergerak tidaknya pada saat digunakan;

3) hubungannya dengan proses belajar mengajar.

Ada pun prasarana pendidikan disekolah bisa diklasifikasikan menjadi


dua macam, yaitu:

1. Prasarana pendidikan yang secara langsung digunakan untuk proses belajar


mengajar, seperti: ruang teori, ruang perpustakaan, ruang praktik ketrampilan,
dan ruang laboratorium.
2. Prasarana sekolah yang keberadaannya tidak digunakan untuk proses belajar
mengajar, tetapi secara langsung sangat menunjang terjadinya proses belajar
mengajar, misalnya: ruang kantor, kantin sekolah, tanah dan jalan menuju
sekolah, kamar kecil, ruang usaha kesehatan sekolah, ruang guru, ruang
kepala sekolah, dan tempat parkir kendaraan.
c. Fungsi Sarana dan Prasarana Pendidikan

Sarana dan prasarana pendidikan merupakan hal yang harus


dipenuhi dalam dunia pendidikan. Daryanto dan Farid mengemukakan
fungsi sarana dan prasarana pendidikan.

Sarana prasarana pendidikan berfungsi sebagai penunjang aktivitas belajar


mengajar di sekolah. Tanpa adanya sarana prasarana dalam proses pembelajaran,
tujuan pembelajaran tidak akan tercapai.

B. Pengelolaan Sarana dan Prasarana Pendidikan

a. Pengertian Pengelolaan Sarana dan PrasaranaPendidikan

Pengelolaan adalah kemampuan untuk melakukan suatu kegiatan yang


meilputi penyusunan data, perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaa,
pengawasan,dan penilaian yang dilakukan secara bersama-sama untuk mencapai
tujuan tertentu dalam suatu organisasi.

Sarana dan prasarana pendidikan di sekolah perlu dikelola secara efektif


dan efisien untuk menunjang tercapainya tujuan pembelajaran. Pengelolaan
sarana prasarana adalah kegiatan untuk memanfaatkan sarana dan prasarana di
sekolah secara efektif dan efisien dengan melibatkan seluruh anggota sekolah.
b. Tujuan Pengelolaan Sarana dan PrasaranaPendidikan
Tujuan pengelolaan sarana dan prasarana pendidikan adalah untuk memberikan
pelayanan dalam perencanaan, pengadaan, penggunaan, dan pemeliharaan sarana
dan prasarana di sekolah secara efektif dan efisien.
C. Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan
Direktorat Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional dalam
bukunya Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan Persekolahan Berbasis Sekolah
(2007: 3), dijelaskan bahwa manajemen sarana dan prasarana diharapkan dapat
membantu sekolah dalam merencanakan kebutuhan fasilitas, mengelola pengadaan
fasilitas, mengelola pemeliharaan fasilitas, mengelola kegiatan inventaris sarana dan
prasarana, serta mengelola kegiatan penghapusan barang inventaris sekolah.

.
a. Perencanaan Sarana dan Prasarana Pendidikan
b. Pengadaan Sarana dan Prasarana Pendidikan

Direktorat Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional dalam


bukunya Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan Persekolahan Berbasis
Sekolah (2007: 17), menjelaskan prosedur pengadaan barang dan jasa harus
mengacu pada Peraturan Menteri No. 24 tahun 2007. Pengadaan sarana dan
prasarana pendidikan di sekolah umumnya melalui prosedur sebagai berikut:

a. menganalisis kebutuhan dan fungsi sarana dan prasarana,


b. mengklasifikasikan sarana dan prasarana yang dibutuhkan,
c. membuat proposal pengadaan sarana dan prasarana yang ditujukan kepada
pemerintah bagi sekolah negeri, pihak yayasan sekolah swasta,
d. bila disetujui maka akan ditinjau dan dinilai kelayakannya untuk mendapat
persetujuan dari pihak yang dituju, dan
e. setelah dikunjungi dan disetujui maka sarana dan prasarana akan dikirim
ke sekolah yang mengajukan permohonan pengadaan sarana dan prasarana
tersebut.
f. pengontrolan pengadaan sarana dan prasarana pendidikan baik yang
dilakukan sendiri oleh sekolah maupun dari luar sekolah, hendaknya dapat
dicatat sesuai dengan keadaan dan kondisinya
Prosedur pengadaan sarana dan prasarana pendidikan berdasarkan
uraian tersebut yaitu penetapan pengadaan sarana dan prasarana,
pengajuan proposal pengadaan sarana dan prasarana, menentukan cara
pengadaan sarana dan prasarana, serta pengiriman dan pengontrolan
sarana dan prasarana sesuai permohonan sekolah.
c. Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Pendidikan
Departemen Pendidikan Nasional (2007: 31), pemeliharaan sarana dan prasarana
pendidikan adalah kegiatan untuk melaksanakan pengurusan dan pengaturan agar
semua sarana dan prasarana selalu dalam keadaan baik dan siap untuk digunakan
secara berdayaguna dan berhasil guna dalam mencapai tujuan pendidikan.
d. Inventarisasi Sarana dan Prasarana Pendidikan
Direktorat Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional (2007: 41),
menjelaskan bahwa inventarisasi sarana dan prasarana pendidikan adalah pencatatan
sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah kedalam suatu daftar inventaris
barang secara tertib dan teratur menurut tata cara yang berlaku.
e. Penghapusan Sarana dan Prasarana Pendidikan
Penghapusan sarana dan prasarana adalah kegiatan untuk menghilangkan sarana
dan prasarana dari daftar inventarisasi karena sudah tidak memiliki fungsi untuk
kegiatan pembelajaran.
D. Manajemen Laboratorium
a. Pengertian Laroratorium
Laboratorium adalah suatu tempat dilakukannya percobaan dan penelitian. Tempat
ini dapat merupakan ruangan tertutup, kamar atau ruangan terbuka. Laboratorium
adalah suatu ruangan yang tertutup di mana percobaan eksperimen dan penelitian
dilakukan (Depdikbud : 1995, 2003).
- Fungsi Laboratorium
Fungsi laboratorium yaitu sebagai sumber belajar dan mengajar, sebagai metode
pengamatan dan metode percobaan, sebagai prasarana pendidikan atau sebagai wadah
dalam proses belajar mengajar.
- Manfaat Laboratorium
Dalam proses belajar mengajar kegiatan laboratorium atau praktikum juga
memiliki peran penting yang bermanfaat dalam mencapai 3 tujuan pembelajaran,
antara lain:
1. Keterampilan kognitif, misalnya:
a) Melatih agar teori dapat dimengerti.
b) Agar teori dapat diterapkan pada keadaan problem nyata.
2. Keterampilan afektif, misalnya:
a) Belajar bekerja sama.
b) Belajar menghargai bidangnya.
c) Belajar merencanakan kegiatan secara mandiri.
3. Keterampilan psikomotorik, misalnya:
a) Belajar memasang peralatan sehingga betul-betul berjalan.
b) Belajar memakai peralatan dan instrumen tertentu.
b. Pengelolaan Laboratorium
a) Pengertian, Kedudukan dan Fungsi
Pengelolaan laboratorium merupakan suatu proses pendayagunaan sumber daya
secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu sasaran yang diharapkan secara
optimal dengan memperhatikan keberlanjutan fungsi sumber daya. Pengelolaan
laboratorium berkaitan dengan pengelola dan pengguna, fasilitas laboratorium
(bangunan, peralatan laboratorium, spesimen biologi, bahan kimia), dan aktivitas
yang dilaksanakan di laboratorium yang menjaga keberlanjutan fungsinya. Pada
dasarnya pengelolaan laboratorium merupakan tanggung jawab bersama baik
pengelola maupun pengguna. Oleh karena itu, setiap orang yang terlibat harus
memiliki kesadaran dan merasa terpanggil untuk mengatur, memelihara, dan
mengusahakan keselamatan kerja. Mengatur dan memelihara laboratorium
merupakan upaya agar laboratorium selalu tetap berfungsi
sebagaimana mestinya. Sedangkan upaya menjaga keselamatan kerja mencakup
usaha untuk selalu mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan sewaktu bekerja
di laboratorium dan penangannya bila terjadi kecelakaan.
b) Penanganan dan Penataan Laboratorium
1. Penanganan Laboratorium
Penanganan laboratorium secara umum adalah sebagai berikut:
a. Mencampur zat-zat kimia
Jangan campur zat kimia tanpa mengetahui sipat reaksinya. Jika tidak tahu
tanyakan pada orang yang mengetahuinya.
b. Zat-zat baru atau kurang diketahui
Berkonsultasilah bagi keamanan laboratorium sebelum menggunakan zat-zat
kimia baru atau yang kurang diketahui. Harus dicheck secara teratur semua zat-
zat kimia yang digunakan, karena mungkin menimbulkan resiko.
c. Membuang material-material yang berbahaya
Sebelum membuang material-material yang berbahaya harus diketahui resiko
yang mungkin terjadi. Karena itu pastikan bahwa cara membuangnya tidak
menimbulkan bahaya. Jika tidak tahu tanyakan pada orang yang mengetahuinya.
Demikian juga terhadap air buangan dari Laboratorium. Apakah ada bak
penampung khusus atau dibuang begitu saja. Sebaiknya harus ada bak penampung
khusus, karena disitu telah banyak tercemar dengan bahan-bahan kimia yang
berbahaya. Bak ini juga harus ditreatment, agar dapat dinetralisasi.
d. Tumpahan
Tumpahan asam diencerkan dahulu dengan air dan dinetralkan dengan CaC03
atau soda ash, dan untuk basa dengan air dan dinetraliser dengan asam encer.
Setelahnya dipel, dan pastikan kain-kain yang digunakan bebas dari asam atau
alkali. Tumbahan minyak, harus ditaburi dengan pasir, kemudian disapu dan
dimasukkan dalam tong yang terbuat dari logam dan ditutup rapat.
2. Penataan Laboratorium
Tata letak peralatan adalah suatu bentuk usaha pengaturan penempatan peralatan
di laboratorium, sehingga laboratorium tersebut berwujud dan memenuhi
persyaratan untuk beroperasi. Prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam
menyusun tata letak peralatan dan perabotan laboratorium adalah:
1. mudah dilihat, 2. mudah dijangkau, 3. aman untuk alat, [Link] untuk pemakai
c. Administrasi Laboratorium
Administrasi merupakan suatu proses pencatatan atau inventarisasi
fasilitas dan aktifitas laboratorium, supaya semua fasilitas dan aktifitas
laboratorium dapat terorganisir dengan sistematis.
Komponen laboratorium yang perlu dilakukan administrasi meliputi:
1. Bangunan/Ruangan laboratorium
2. Fasilitas umum laboratorium
3. Peralatan dan bahan
4. Ketenagaan laboratorium
5. Kegiatan laboratorium
Adapun administrasi alat praktek IPA menurut sukarso (2005), terdiri dari
beberapa bagian antara lain :
1. Kartu stok
2. Buku inventaris, memuat catatan tentang jumlah semua macam barang yang
ada di laboratorium termasuk perabot laboratorium 3. Daftar alat/bahan sesuai
LKS 4. Buku harian kegiatan laboratorium berguna untuk merekam semua
kejadian dalam kegiatan laboratorium 5. Label, memuat kode alat, nama alat dan
jumlah alat dan keterangan mengenai kondisi alat tersebut 6. Format permintaan
alat/bahan, biasanya diisi oleh guru bila akan melaksanakan kegiatan laboratorium
dan diberikan kepada laboran sebelum kegiatan dilakukan 7. Jadwal kegiatan
laboratorium.
d. Struktur Organisasi Laboratorium
Di Sekolah Menengah, pengelola laboratorium bertanggung jawab kepada Kepala
Sekolah. Selain pengelola laboratorium biasanya terdapat pula seorang teknisi
laboratorium. Tugas teknisi laboratorium membantu penyiapan bahan-bahan /
alat-alat praktikum, pengecekan secara periodik, pemeliharaan dan penyimpanan
alat dan bahan.
Tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) Struktur organisasi laboratorium IPA SMA
1. Kepala Sekolah
a. Memberi tugas kepada penangung jawab laboratorium IPA, penanggung jawab
mata pelajaran (fisika, kimia, dan biologi), dan laboran.
b. Memberikan bimbingan, motivasi, pemantauan, dan evaluasi kepada petugas-
petugas laboratorium IPA.
c. Memberikan motivasi kepada guru-guru IPA dalam hal kegiatan laboratorium
IPA.
d. Menyediakan dana keperluan operasional laboratorium.
2. Wakasek Kurikulum
Membantu tugas kepala sekolah terkait kegiatan pembelajaran/praktikum di
laboratorium.
3. Wakasek Sarana dan Prasarana
Membantu tugas kepala sekolah dalam pengadaan dan pengelolaan sarana dan
prasarana laboratorium.
4. Penanggung Jawab Laboratorium
a. Mengkoordinir tenaga laboratorium dibawahnya (koordinator laboratorium dan
guru-guru IPA) dalam penggunaan laboratorium.
b. Mengusulkan dana untuk pengadaan alat dan bahan praktikum.
c. Mengatur penjadwalan penggunaan laboratorium.
d. Bertanggung jawab atas kelancaran semua kegiatan laboratorium.
e. Bertanggung jawab atas penyelidikan, pemeliharaan dan optimalisasi
laboratorium.
f. Menyusun tata tertib laboratorium, program kerja laboratorium, dan jadwal
pelaksanaan kegiatan praktikum.
g. Mengusulkan peningkatan sumber daya manusia di laboratorium pada kepala
sekolah.
5. Teknisi Laboratorium
a. Membantu tugas-tugas penangung jawab laboratorium.
b. Mengecek kelengkapan dan fungsi alat dan bahan lab serta mengawasi
pengelolaan laboratorium.
c. Bertanggung jawab atas perbaikan alat-alat yang rusak atau tidak berfungsi.
d. Melatih guru-guru IPA tentang alat-alat yang belum diketahui penggunaannya
oleh guru-guru tersebut.
e. Membantu penyiapan bahan-bahan atau alat-alat praktikum, pengecekan secara
periodik, kalibrasi serta pemeliharan alat dan bahan.
6. Koordinator Laboratorium
a. Mengkoordinir guru mata pelajaran (fisika, kimia, biologi) dalam penggunaan
laboratorium. b. Mengusulkan kepada penanggung jawab laboratorium untuk
pengadaan alat/bahan praktikum.
c. Bertanggung jawab tentang kebersihan, penyimpanan, perawatan, dan
perbaikan alat.
d. Menyusun jadwal dan tata tertib penggunaan laboratorium.
[Link] dan pengadministrasian peminjaman alat-alat laboratorium.
f. Menyusun laporan pelaksanaan kegiaan laboratorium.
7. Guru Mata Pelajaran
a. Merencanakan dan mengatur pelaksanaan praktikum secara teratur sesuai
bidangnya (fisika, kimia atau biologi dll).
b. Membimbing kegiatan praktikum.
c. Memantau dan mengevaluasi kegiatan praktikum..
D. Manajemen Perpustakaan
a. Pengertian Perpustakaan
Secara umum perpustakaan mempunyai arti sebagai tempat yang di dalamnya
terdapat kegiatan penghimpunan, pengolahan dan penyebarluasan (pelayanan)
segala macam informasi.
tujuan perpustakaan sekolah adalah sebagai berikut :
-Mendorong mempercepat proses penguasaan teknik membaca para siswa.
-Membantu menulis kreatif bagi para siswa dengan bimbingan guru dan
pustakaan.
-Menumbuhkembangkan minat dan kebiasaan membaca para siswa.
-Menyediakan berbagai macam sumber informasi untuk kepentingan pelaksanaan
kurikulum.
-Mendorong, memelihara, dan memberi semangat membaca dan semangat belajar
bagi para siswa.
-Memperluas, memperdalam dan memperkaya pengalaman belajar para siswa
dengan membaca buku dan koleksi lain yang mengandung ilmu pengetahuan dan
teknologi yang disediakan oleh perpustakaan.
-Memberikan hiburan sehat untuk mengisi waktu senggang melalui kegiatan
membaca, khususnya buku dan sumber bacaan lain yang bersifat kreatif dan
ringan, seperti fiksi, cerpen dan lainnya.
b. Pengelolaan Koleksi/Bahan Pustaka
Kegiatan pengolahan koleksi/bahan pustaka termasuk ke dalam salah satu tugas
inti perpustakaan. Secara umum kegiatan pengolahan koleksi/bahan pustaka di
perpustakaan dikelompokkan sebagai berikut :
a) Inventarisasi
Kegiatan inventarisasi ini terdiri atas beberapa pekerjaan yang antara lain sebagai
berikut:
*. Pemeriksaan
Koleksi buku/bahan pustaka yang sampai di perpustakaan harus diperiksa, apakah
sudah sesuai dengan yang diminta atau tidak, setelah itu periksa juga bentuk fisik
buku, judul, pengarang, dan ciri-ciri lain yang dianggap perlu. Dan yang paling
penting adalah kelengkapan isi dari buku yang dipesan.
*. Pengecapan/Pemberian Stempel
Tindakan selanjutnya adalah tindakan pengecapan/pemberian stempel pada buku
yang telah diperiksa. Pembubuhan cap/stempel bisa dilakukan pada bagian atau
halaman tertentu pada setiap buku milik perpustakaan. Minimal, tiga cap harus
dibubuhkan pada setiap buku.
*. Pendaftaran ke Buku Induk
Setiap buku yang masuk ke perpustakaan harus didaftarkan ke dalam buku induk
berdasarkan urutan masuknya buku tersebut ke perpustakaan, tanpa
mempertimbangkan apakah buku tersebut buku lama atau buku baru. Hal ini
gunanya untuk mengetahui seberapa banyak koleksi buku yang dimiliki
perpustakaan. Adapun hal yang harus dicatat dalam inventarisasi adalah : tanggal,
nomor buku, judul buku, pengarang, penerbit, tahun terbit, tempat terbit, harga,
dan keterangan.
b) Klasifikasi Koleksi/Bahan Pustaka
Salah satu tujuan utama semua perpustakaan adalah mengusahakan agar semua
pengunjung dapat secara mudah dan langsung memperoleh bahan yang
diperlukannya.
Klasifikasi adalah pengelompokan yang sistematis dari pada sejumlah obyek,
gagasan, buku atau benda-benda lain ke dalam kelas atau golongan tertentu
berdasarkan cirri-ciri yang sama.
c) Katalogisasi
Katalogisasi adalah proses pembuatan daftar pustaka (buku, majalah, CD, film
mikro dan sebagainya) milik suatu perpustakaan. Daftar ini berfungsi untuk
mencatat koleksi yang dimiliki, membantu proses temu kembali, dan
mengembangkan standar-standar bibliografi internasional (Lasa Hs, 2007:129).
d) Shelving
Shelving adalah kegiatan penjajaran koleksi ke dalam rak/tempat koleksi
berdasarkan sistem tertentu. Kegiatan ini merupakan langkah terakhir dari proses
pengolahan bahan pustaka. Tujuannya agar koleksi dapat ditemukan dengan
mudah dan dapat dikenali oleh pengguna atau pustakawan.

DAFTAR PUSTAKA
Ary H Gunawan, 1996 Administrasi Sekolah, Jakarta: PT Rineka Cipta,
Udin Syaefudin Sa’ud, dkk, 2005 Perencanaan Pendidikan, Bandung:
Rosda Karya,

Sudjana S, 2000, Manajemen Program Pendidikan, Bandung: PT. Falh


Production,
Suharsimi. Arikunto, 1996 Pengelolaan Kelas dan Siswa Sebuah
Pendekatan Evaluatif, Jakarta: PT Raja Grafindo
BAB 7
A. Konsep Dasar Manajemen Pembiayaan Pendidikan
Sesuai dengan UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas, manajemen pendanaan
pendidikan menjadi tanggungjawab bersama antara pemerintah, pemerintah
daerah, dan masyarakat. Maksud masyarakat disini bisa diartikan pihak lain atau
pihak madrasah/sekolah. Selanjutnya UUD Negara Republik Indonesia pasal 31
ayat (4), dewasa ini masih mengacu kepada Peraturan Pemerintah Nomor 48
Tahun 2008 mengatakan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah
bertanggungjawab menyediakan anggaran pendidikan.
Pembiayaan pendidikan adalah hal-hal yang harus dikorbankan/dikeluarkan
demi tercapainya tujuan pendidikan yang telah dirumuskan dalam undang-
undang, baik berupa dana/biaya/uang atas pertanggungjawaban pihak pengelolaan
biaya pendidikan yaitu pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat yang
menyangkut orang tua peserta didik dan pihak madrasah/sekolah dapat mengelola
dengan baik yang sesuai dengan prosedur yang ada dalam undang-undang.
Adapun konsep dasar pembiayaan pendidikan adalah sebagai berikut :
1. Konsep Penganggaran.
Dalam kegiatan umum keuangan, kegiatan pendidikan meliputi tiga hal, yaitu:
a) Budgeting (Penyusunan Anggaran).
Penganggaran merupakan kegiatan atau proses penyusunan anggaran
(budget). Budget merupakan rencana operasional yang dinyatakan secara
kuantitatif dalam bentuk satuan uang yang digunakan sebagai pedoman dalam
kurun waktu tertantu.
b) Accounting (Pembukuan)
Pengurusan ini meliputi dua hal yaitu, pertama mengurusi hal yang
menyangkut kewenangan menentukan kebijakan menerima atau
mengeluarkan uang. Pengurusan kedua menyangkut urusan tindak lanjut dari
urusan pertama yaitu, menerima, menyimpan dan mengeluarkan uang.
c) Auditing (Pemeriksaan)
Auditing adalah semua kegiatan yang menyangkut pertanggungjawaban
penerimaan, penyimpanan dan pembayaran atau penyerahan uang yang dilakukan
bendaharawan kepada pihak-pihak yang berwenang. Bagi unit-unit yang ada
didalam departemen, mempertanggungjawabkan urusan ini kepada BPK melalui
departemen masing-masing.
2. Hal-Hal Yang Berpengaruh terhadap Pembiayaan Pendidikan. Secara garis
besar dipengaruhi oleh dua hal yaitu Faktor Eksternal dan Faktor Internal.
a. Faktor Eksternal, yaitu faktor yang ada di luar sistem pendidikan yang
meliputi hal–hal sebagai berikut:
1) Berkembangnya demokrasi pendidikan.
2) Kebijaksanaan Pemerintah.
3) Tuntutan akan pendidikan.
4) Adanya Inflansi
b. Faktor Internal
1) Tujuan Pendidikan
2) Pendekatan yang digunakan
3) Materi yang disajikan
4) Tingkat dan jenis pendidikan

B. Sumber – Sumber Pembiayaan Pendidikan

Sistem Pendidikan Nasional ditetapkan melalui undang-undang berupa


Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 dan ditetapkan pada
tanggal 27 Maret 1989. Pada bab VIII pasal 33-36 dijelaskan mengenai sumber
daya pendidikan. Kategori pembiayaan pendidikan terdiri dari beberapa bagian :
1. APBN dan APBD merupakan biaya langsung yang terkait dengan penggajian
guru, administrator, staf sekolah, pembelian peralatan, materi pelajaran dan
gedung sekolah.
2. Dana Penunjang Pendidikan berupa beasiswa yang diterima oleh peserta didik
untuk menunjang biaya pendidikannya.
3. Dana dari Masyarakat yang berupa bantuan/sumbangan BP3 (sekarang menjadi
SPP) yaitu dana untuk peserta didik seperti untuk pembayaran seragam, buku,
ATK, transport. Selain sumbangan SPP juga ada dana pembangunan, ialah dana
yang dipakai membiayai pembangunan dalam berbagai bidang seperti sarana
prasarana, alat belajar, media, dsb.
4. Sumbangan dari Pemerintah Daerah setempat ialah sumbangan yang diterima
oleh sekolah dari pemerintah daerah setempat dimana sekolah tersebut
berada.
5. Bantuan lain-lain adalah bantuan yang diterima oleh sekolah dari berbagai
pihak selain APBN dan APBD, Dana Penunjang Pendidikan, Dana dari
Masyarakat, Sumbangan dari Pemerintah Daerah setempat. Bantuan tersebut
berasal dari kerjasama sekolah dengan instansi lain atau yang sejenis.
Diantaranya ialah bantuan yang berasal dari luar negeri.

Menurut Sisdiknas No. 20 Pasal 46 Ayat 1 ada tiga sumber Anggaran


Pendidikan, antara lain :
1. Pemerintah Pusat: BOS (sama seluruhdaerah)
a) Tergantung pada jumlah siswa
b) ∑dana BOS = ∑siswa x dana BOS/siswa
c) Dana BOS dari pemerintah pusat berasal dari APBN (pajak, SDA,
investasi, pinjaman LN)
2. Pemerintah Daerah : BOP
a) Tergantung pada jumlah siswa
b) Nama berbeda riap daerah misalnya SBB (di daerah bekasi) kepanjangan
dari Sekolah Bebas Biaya.
c) Dana BOP dari pemerintah daerah berasal dari APBD (PAD, DAU, dll)
3. Masyarakat: SPP, UP, dll
Untuk biaya peserta didik (seragam, buku, ATK, transport, dll)

D. Pelaksanaan Dalam Pembiayaan Kegiatan di Sekolah/Madrasah

Dalam melaksanakan anggaran pendidikan, hal yang perlu dilakukan adalah


kegiatan membukukan atau accounting. Pembukuan mencakup dua hal yaitu :
pengurusan yang menyangkut kewenangan menentukan kebijakan menerima atau
mengeluarkan uang, serta tindak lanjutnya, yakni menerima, menyimpan dan
mengeluarkan uang. Jenis pengurusan ke dua disebut juga dengan pengurusan
bendaharawan. Ada beberapa komponen yang perlu dibiayai dengan
menggunakan uang dari dana belajar. Komponen-komponen tersebut meliputi :
1. Honorium untuk pemimpin/penanggung jawab edukatif.
2. Honorium untuk sumber belajar.
3. Honorium untuk pemimpin umum lembaga diklusemas.
4. Honorium untuk pinata usaha dan pembantu-pembantunya.
5. Biaya perlengkapan dan peralatan.
6. Biaya pemeliharaan prasarana dan sarana.
7. Biaya sewa/kontrak
8. Dana untuk pengembangan usaha lembaga diklusemas.
9. Biaya-biaya lain untuk pengembanagn dan biaya tak teduga.

Selain itu terdapat usaha-usaha yang bersifat pengabdian terhadap masyarakat


yang menbutuhkan dana, kegiatan itu antara lain :
a) Pemberian keringanan uang kursus bagi warga belajar yang kurang
mampu.
b) Usaha-usaha untuk meningkatkan kemampuan mengajar tenaga sumber
belajar
c) Kegiatan-kegiatan yang bersifat pengabdian bagi kepentingan masyarakat
sekitar.
d) Kesediaan mengelola kejar usaha atau magang diklusemas.

Strategi suatu lembaga pendidikan secara administrasi dengan bagaimana


seseorang memimpin melakukan upaya pengelolaan sumber daya dan sumber
biaya yang terdapat di lingkungan suatu lembaga. Pengelola pendidikan harus
mampu sebaik mungkin mencari pemasukan keuangan guna memenuhi
kebutuhan dalam pendanaan pendidikan.
Strategi tersebut diatas dapat direalisasikan melalui penyelenggaraan berbagai
kegiatan seperti:
1) Melakukan analisis internal dan eksternal terhadap potensi sumber dana,
2) Mengidentifikasi, mengelompokan dan memperkirakan sumber-sumber
dana yang dapat digali dan dikembangkan,
3) Menetapkan sumber dana melalui, Musyawarah dengan orangtua didik
pada tahun ajaran
4) Menggalang partisipasi masyarakat melalui komite sekolah
5) Menyelenggarakan olah raga dan kesenian peserta didik untuk
mengumpulkan dana dengan memanfaatkan fasilitas sekolah

Karena itu, pengaturan biaya pendidikan berhubungan dengan keputusan-


keputusan organisasi, secara umum dapat dibedakan dalam:
 Keputusan tentang alokasi dana ke berbagai macam aktifitas.
 Keputusan optimalisasi sumber-sumber pemasukan yang berdasarkan
pemasukan yang berdasarkan aturan.
 Keputusan pemanfaatan yang efektif dan efisien untuk mencapai hasil
yang maksimal.

Melakukan analisis dan pengambilan keputusan-keputusan organisasi atau


lembaga merupakan tugas fungsional bagian keuangan. Tugas fungsional
bagian keuangan adalah mengambil keputusan yang dapat dibagi kedalam
keputusan yang efektif dan tidak merugikan organisasi ataupun lembaga.
Untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut, seorang pengelola keuangan harus
mengetahui empat aspek yaitu:
 Mengestimasi secara tepat nilai nominal sumber-sumber keuangan
 Mencermati tentang pengaruh waktu dan ketidakpastian.
 Memperhitungkan efisiensi pengaruh waktu dan ketidakpastian
 Menghitungkan efisiensi pengeluaran secara cermat.

E. Pengawasaan Pembiayaan Pendidikan

Kegiatan pengawasan pembiayaan dikenal dengan istilah auditing yaitu


kegiatan yang berkenaan dengan kegiatan pertanggungjawaban penerimaan,
penyimpanan, dan pembayaran atau penyerahan uang yang dilakukan
Bendaharawan kepada pihak-pihak yang berwenang.
1. Pengawasan
Untuk menjamin suatu kegiatan tidak menyimpang dari rencana, tujuan
dan sasaran yang telah ditetapkan, maka diperlukan pengawasan yang
berkesinambungan.
2. Pengendalian
Pengendalian merupakan salah satu langkah yang dilakukan sebagai
upaya memastikan kegiatan program yang telah direncanakan.
3. Proses pengawasan dalam penggunaan biaya pendidikan
Pengelolaan biaya menyangkut penggunaan sejumlah dana yang
diamanatkan untuk membiayai program dan kegiatan di sekolah ataupun
madrasah.
Secara sederhana proses pengawasan terdiri dari :
a) Memantau (monitoring)
b) Menilai
c) Melampirkan hasil temuan, baik pada kinerja aktual maupun hasilnya.

Langkah atau tahapan yang harus dilakukan dalam proses pengawasan adalah
sebagai berikut:
1) Penetapan standar atau patokan, baik berupa ukuran kuantitas, kualitas,
biaya maupun waktu.
2) Mengukur dan membandingkan antara kenyataan yang sebenarnya
dengan standar yang telah ditetapkan.
3) Menentukan tindak perbaikan atau koreksi yang kemudian menjadi materi
rekomendasi.

Pada pola pemerintahan, setiap unit yang ada dalam departemen


mempertanggungjawabkan pengurusan uang ini kepada BPK (Badan
Pengawasan Keuangan) melalui departemen masing-masing.
DAFTAR PUSTAKA
Amirin, M. Tatang, dkk. 2013. Manajemen Pendidikan. Yogyakarta : UNY Press.
Fathah, Nanang. 2000. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: Andira.
Hadari, Nawawi. 1981. Administrasi Pendidikan. Jakarta: PT. Gunung Agung.
Muljani A. Nurhadi. 1983. Administrasi Pendidikan Di Sekolah. Yogyakarta:
Andi Offset.
Mulyana, E. 2002. Managemen Berbasis Sekolah. Bandung : PT Remaja
Rosdakarya

14
PEMBAHASAN

A. Pengertian Humas / Public relation


Hubungan masyarakat sekolah adalah hubungan masyarakat dengan sekolah
yang diupayakan untuk menumbuh kembangkan pemahaman masyarakat akan
kebutuhan pendidikan sehingga terbangun minat dan kooperasi dalam
peningkatan mutu sekolah.

Hubungan antar sekolah dan masyarakat lebih dibutuhkan dan lebih terasa
fungsinya, karena adanya kecenderungan perubahan dalam pendidikan yang
menekankan perkembangan pribadi dan sosial anak melalui pengalaman-
pengalaman anak dibawah bimbingan guru, baik diluar maupun di dalam sekolah.

Ada tiga faktor yang menyebabkan sekolah harus berhubungan dengan


masyarakat :

1) Faktor perubahan sifat, tujuan dan metode mengajar di sekolah.


2) Faktor masyarakat, yang menuntut adanya perubahan-perubahan dalam
pendidikan di sekolah dan perlunya bantuan masyarakat terhadap sekolah.
3) Faktor perkembangan ide demokrasi bagi masyarakat terhadap pendidikan.

B. Tujuan Humas / Public Relation


Banyak tujuan hubungan masyarakat yang telah dikemukakan para
pakar. Adapun tujuan dikembangkannya hubungan masyarakat dengan
sekolah secara umum adalah untuk;

a) terciptanya komunikasi antara sekolah dengan masyarakat,


b) terciptanya pemahaman masyarakat akan pentingnya pendidikan,
c) terbangunnya minat dan kooperasi masyarakat dalam peningkatan mutu
sekolah.

Hubungan yang telah terbangun dengan baik antara sekolah dan masyarakat
akan dapat membentuk:
a) saling pengertian antara sekolah, orang tua, masyarakat, dan lembaga
lembaga lain yang ada di masyarakat, termasuk dunia kerja;
b) saling membantu antara sekolah dan masyarakat karena mengetahui
manfaat, arti dan pentingnya peranan masing-masing;
c) kerja sama yang erat antara sekolah dengan berbagai pihak yang ada di
masyarakat dan mereka merasa ikut bertanggung jawab atas suksesnya pendidikan
di sekolah.
C. Prinsip-Prinsip Humas / Public Relation
a) Prinsip otoritas
b) Prinsip kesederhanaan
c) Prinsip sensitivitas
d) Prinsip kejujuran
e) Prinsip ketetapan
D. Fungsi Humas / Public Relation
1) Mengatur hubungan sekolah dengan orang tua.
2) Memelihara hubungan baik dengan komitte sekolah.
3) Memelihara dan mengembangkan hubungan sekolah dengan lembaga-lembaga
pemerintah, swasta dan organisasi nasional.
4) Memberi pengertian kepada masyarakat tentang fungsi sekolah melalui
bermacam-macam tehnik komunikasi (majalah, surat kabar dan mendatangkan
sumber).

E. Langkah-Langkah Pelaksanaan Humas / Public Relation


Adapun perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi
program hubungan masyarakat dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Perencanaan
Perencanaan pada dasarnya adalah penetapan keseluruhan aspek dari suatu
kegiatan yang hendak dilakukan mulai dari tujuan, cara untuk mencapai tujuan itu,
dan sumber yang diperlukan.
Adapun dipandang dari tingkatannya maka perencanaan perencanaan dapat
dibedakan ke dalam jenis-jenis:
a. perencanaan strategik
b. perencanaan koordinatif
c. perencanaan operasional,
2) Pengorganisasian
Pengorganisasian dalam hal ini dipahami sebagai proses pembagian dan pengalokasian
pekerjaan di antara para anggota sehingga tujuan organisasi dapat tercapai secara
efektif. Ernest Dale (dalam Fattah, 2001: 71-72) mengemukakan bahwa proses
pengorganisasian meliputi:
a. Pemerincian pekerjaan,
b. Pembagian kerja,
c. Penyatuan pekerjaan,
d. Koordinasi pekerjaan, dan
e. Monitoring dan reorganisasi.

3) Pengawasan
Pengawasan secara sederhana diartikan sebagai proses untuk menjamin bahwa kegiatan
sesuai dengan yang direncanakan (Husnan, 1988:195)
4) Evaluasi
DAFTAR PUSTAKA

- Gunawan, Ary. 1996. Administrasi Sekolah. Jakarta: PT Rineka Cipta.


- [Link]
[Link]
- fadillawekay, hubungan sekolah dan masyarakat, [Link]
[Link]/pendidikan/administrasi-pendidikan/hubungan-sekolah-dan-
masyarakat/, diakses 7 November 2018, jam 06.10 WIB
- Subliyanto, Hubungan Humas Pendidikan dengan Sekolah,
HTTP://[Link]/2010/05/HUBUNGAN-HUMAS-
[Link], diakses 7 November 2018, jam 06.10
WIB
- Subliyanto, Humas Sekolah, [Link]
[Link], diakses 7 November 2018, jam 06.10 WIB
- Atih, Ani. Hubungan sekolah dengan masyarakat,
[Link]
[Link], diakses 7 November 2018, jam 06.10 WIB
- Ashari, hubungan sekolah dengan masyarakat,
[Link]
masyarakat/, diakses 7 November 2018, jam 06.10
BAB 9

A. Pengertian Bimbingan Konseling


Menurut Abu Ahmad (1991:1), bimbingan adalah bantuan yang diberikan
kepada individu (peserta didik) agar dengan potensi yang dimiliki mampu
mengembangkan diri secara optimal dengan jalan memahami diri, memahami
lingkungan, mengatasi hambatan guna menentukan rencana masa depan yang
lebih baik.

Konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka


antara dua orang dalam mana konselor melalui hubungan itu dengan kemampuan-
kemampuan khusus yang dimilikinya, menyediakan situasi belajar. Dalam hal ini
konseli dibantu untuk memahami diri sendiri, keadaannya sekarang, dan
kemungkinan keadaan masa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan
potensi yang dimilikinya, demi untuk kesejahteraan pribadi maupun masyarakat.
Kemudian konseli dapat belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah dan
menemukan kebutuhan-kebutuhan yang akan datang. (Tolbert, dalam Prayitno
2004:101)

Dari pengertian bimbingan dan pengertian konseling, maka bimbingan


konseling yaitu suatu bantuan yang diberikan oleh konselor kepada konseli agar
konseli mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya dan juga mampu
mengembangkan potensi yang dimilikinya. Ada juga pengertian bimbingan
konseling menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
(Permendikbud) No. 111 Tahun 2014, yaitu bahwa Bimbingan dan Konseling
adalah upaya sistematis, objektif, logis, dan berkelanjutan serta terprogram yang
dilakukan oleh konselor atau guru Bimbingan dan Konseling untuk memfasilitasi
perkembangan peserta didik/Konseli untuk mencapai kemandirian dalam
kehidupannya.

B. Tujuan Bimbingan dan Konseling


1. Membantu mengembangkan kualitas kepribadian individu yang dibimbing
atau dikonseling.
2. Membantu mengembangkan kualitas kesehatan mental klien.
3. Membantu mengembangkan prilaku prilaku yang lebih efektif pada diri
individu dan lingkunganya.
4. Membantu klien mennaggulangi problema hidup dan kehidupanya secara
mandiri.
5. Membantu klien mengarahkan dirinya sesuai potensi yang dimilikinya ke
arah tingkat perkembangan yang optimal.
6. Membantu klien untuk memilki wawasan yang lebih realistis serta
penerimaan yang objektif tentang dirinya.
7. Membantu klien menyesuaikan diri secara lebih efektif baik terhadap dirinya
senidir maupun lingkungnya.
C. Fungsi Bimbingan dan Konseling

Bimbingan dan konseling memiliki fungsi sebagai berikut:

1. Fungsi Pemahaman

2. Fungsi Preventif

3. Fungsi Pengembangan

4. Fungsi Penyembuhan

5. Fungsi Penyaluran

6. Fungsi Adaptasi

7. Fungsi Penyesuaian

8. Fungsi Perbaikan

9. Fungsi Fasilitasi

10. Fungsi Pemeliharaan


D. Bentuk-Bentuk Layanan Kegiatan Bimbingan dan Konseling

1. Layanan Orientasi
Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta
didik dan pihak-pihak lain yang dapat memberikan pengaruh yang besar
terhadap peserta didik (terutama orang tua) memahami lingkungan( seperti
sekolah) yang baru dimasuki peserta didik untuk mempermudan dan
memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru ini.
Materi kegiatan layanan orientasi menyangkut :
a. Pengenalan lingkungan dan fasilitas sekolah.
b. Peraturan dan hak-hak serta kewajiban siswa.
c. Organisasi dan wadah-wadah yang dapat membantu dan meningkat kan
hubungan sosial siswa.
d. Kurikulum dengan seluruh aspek-aspeknya.
e. Peranan pelayanan bimbingan konseling dalam membantu segala jenis
masalah dan kesulitan siswa.
2. Layanan Informasi
Yaitu layanan bimbingan yang memungkinkan peserta didik dan
pihak-pihak lain yang dapat memberikan pengaruh yang besar kepada peserta
didik (terutama orang tua) menerima dan memahami informasi (seperti
informasi pendidikan dan informasi jabatan) yang dapat dipergunakan
sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan sehari-hari sebagai
pelajar, anggota keluarga, dan masyarakat.
Materi kegiatan layanan informasi menyangkut:
a. Usaha yang dapat dilakukan dalam mengenal bakat, minat, serta bentuk-
bentuk penyaluran dan pengembangannya.
b. Tata tertib sekolah, cara bertingkah laku, tata krama, dan sopan santun.
c. Nila-nilai sosial, adat istiadat, dan upaya yang berlaku dan berkembang
dimasyarakat.
d. Mata pelajaran dan pembidangannya seperti program inti, program
khusus, dan program tambahan.
e. Sistem penjurusan, kenaikan kelas, syarat-syarat mengikuti
EBTA/EBTANAS.
f. Cara mempersiapkan diri dan belajar di sekolah.
3. Layanan Penempatan dan Penyaluran
Yaitu layanan bimbingan yang memungkinkan peserta didik
memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat (misalnya
penempatan/penyaluran didalam kelas, kelompok belajar, jurusan, atau
program studi, magang, kegiatan kurikuler/ekstrakurikuler) sesuai dengan
potensi, bakat, dan minat serta kondisi pribadinya.
Materi kegiatan layanan penempatan dan penyaluran meliputi:
a. Penempatan kelas siswa, program studi/jurusan dan pilihan
ekstrakulikuler yang dapat menunjang pengembangan sikap, kebiasaan,
kemampuan, bakat dan minat.
b. Penempatan dan penyaluran dalam kelompok sebaya, kelompok belajar,
dan organisasi kesiswaan serta kegiatan sosial sekolah.
c. Membantu dalam kegiatan program khusus sesuai dengan kebutuhan
siswa, baik pengajaran, perbaikan maupun program pengayaan dan
seleksi masuk perguruan tinggi melalui jalur PMDK, UMPTN.
4. Layanan Bimbingan Belajar
Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta
didik mengembangkan diri berkenaan dengan sikap dan kebiasaan belajar
yang baik, materi belajar yang cocok dengan kecepatan dan kesulitan
belajarnya, serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya, sesuai
dengan perkembangan ilmu, teknologi, dan kesenian.
Materi kegiatan layanan bimbingan belajar meliputi:
a. Mengembangkan pemahaman tentang diri, terutama pemahaman sikap,
sifat, kebiasaan, bakat, minat, kekuatan-kekuatan dan penyalurannya,
kelemahan-kelemahan dan penanggulangannya, dan usaha-usaha
pencapaian cita-cita atau perencanaan masa depan.
b. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi, bertingkah laku dalam
hubungan sosial dengan teman sebaya, guru, dan masyarakat luas.
c. Mengembangkan sikap dan kebiasaan dalam disiplin belajar dan berlatih
secara efektif dan efisien
5. Layan Konseling Perseorangan
Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta
didik yang mendapatkan layanan langsung secara tatap muka dengan guru
pembimbing atau konselor dalam rangka pembahasan dan pengentasan
permasalahannya.
Materi kegiatan layanan konseling perorangan meliputi:
a. Pemahaman sikap, kebiasaan, kekuatan diri dan kelemahan, bakat, dan
minat serta penyalurannya.
b. Pengentasan kelemahan diri dan pengembangan kekuatan diri.
c. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi, menerima dan
menyampaikan pendapat, bertingkah laku sosial, baik dirumah, sekolah,
dan masyarakat.
6. Layanan Bimbingan Kelompok
Yaitu layanan bimbingan yang memungkinkan sejumlah peserta didik
secara bersama-sama memperoleh berbagai bahan dari nara sumber
tertentu( terutama dari pembimbing/konselor) yang berguna untuk menunjang
kehidupannya sehari-hari baik individu maupun sebagai pelajar, anggota
keluarga dan masyarakat serta untuk pertimbangan dalam pengambilan
keputusan.
Materi kegiatan layanan bimbingan kelompok meliputi ;
a. Orientasi dan informasi karier, dunia kerja, dan upaya memperoleh
penghasilan.
b. Pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang baik disekolah dan di
rumah sesuai dengan kemampuan pribadi siswa.
c. Pengambilan keputusan dan perencanaan masa depan.
7. Layanan konseling kelompok
Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta
didik memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan
permasalahan yang dialaminya melalui dinamika kelompok. Dinamika
kelompok adalah suasana yang hidup, yang berdeyut, yang bergerak, yang
berkembang, yang di tandai dengan adanya interaksi antar sesama anggota
kelompok.
Materi kegiatan layanan konseling kelompok, meliputi :
a. Pemahaman kelemahan diri penanggulangannya, pengenalan kekuatan
diri dan pengembangannya.
b. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi, menerima/menyampaikan
pendapat, bertingkah laku dan hubungan sosial, baik dirumah, sekolah
maupun masyarakat.
c. Mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar dan disiplin
DAFTAR PUSTAKA

Tohirin.(2007).Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah(berbasis


integrasi).Raja Grafindo Persada:Jakarta.
Sukardi,dewa ketut dkk.(2008).Proses Bimbingan dan Konseling di
[Link] Cipta:Jakarta.
[Link]
[Link]
[Link]
BAB 10
A. Pengertian Surat
surat adalah sarana komunikasi untuk menyampaikan informasi tertulis
oleh suatu pihak kepada pihak lain. Fungsinya mencakup lima hal: sarana
pemberitahuan, permintaan, buah pikiran, dan gagasan; alat bukti tertulis; alat
pengingat; bukti historis; dan pedoman kerja.
B. Macam-macam Surat
1. Surat Resmi adalah surat yang dapat digunakan untuk kepentingan yang
bersifat resmi.
2. Surat Dinas adalah surat yang digunakan untuk kepentingan pekerjaan
formal seperti halnya dalam sebuah instansi dinas dan tugas kantor. Surat
dinas sangat penting dalam pengelolaan administrasi dalam suatu instansi.
3. Surat Pengantar adalah surat yang dipergunakan untuk mengantar sesuatu.
4. Surat Edaran merupakan pemberitahuan tertulis yang ditujukan kepada
pejabat-pejabat tertentu tanpa memuat sesuatu kebijaksanaan pokok,
melainkan hanya memberikan penjelasan atau petunjuk-petunjuk tentang
cara pelaksanaan sesuatu peraturan atau perintah yang telah ada.
5. Surat Undangan merupakan surat pemberitahuan yang meminta agar yang
bersangkutan datang pada waktu, tempat dan acara yang ditentukan.
C. Langkah-langkah Menyusun Surat
Berikut adalah langkah-langkah yang perlu ditempuh untuk menyusun
sebuah surat, yaitu:
1. Kepala Surat
Kepala surat yang lengkap terdiri atas (1) nama instansi, (2) alamat
lengkap, (3) nomor telepon, (4) nomor kontak pos, (5) alamat kawat, dan (6)
lambang dan logo. Nama instansi ditulis dengan huruf kapital. Alamat
instansi, termaksud di dalamnya telepon, kontak pos, dan alamat kawat (jika
ada) ditulis dengan huruf awal kata kapital.
Contoh:
2. Tanggal Surat
Tanggal surat ditulis lengkap, yaitu nama kota, tanggal ditulis dengan angka,
bulan ditulis dengan huruf, dan tahun ditulis dengan angka. Setelah angka tahun
tidak diikuti tanda baca apapun, seperti tanda titik, tanda koma, titik dan garis
hubung.
Contoh : Semarang, 5 Januari 2012
3. Penulisan Nomor Surat, Lampiran Surat, dan Perihal
Kata Nomor, Lampiran, dan Perihal diawali huruf kapital dan diikuti tanda titik
dua. Penulisan kata Nomor, Lampiran, dan Perihal dapat disingkat menjadi No.,
Lamp., dan Hal.,

a. Nomor surat dan kode dibatasi garis miring, tanpa spasi, dan tidak diakhiri tanda
baca apa pun.
b. Penulisan nomor dan kode surat tidak harus dibatasi garis miring, tetapi dapat pula
dibatasi tanda titik atau tanda hubung. Demikian pula, isi kode surat tidak harus
dengan huruf, tetapi dapat pula dengan angka.
c. Kata Lampiran ditulis jika ada yang dilampirkan. Jika tidak ada, kata Lampiran tidak
ditulis. Jumlah barang ditulis dengan huruf jika satu atau dua kata dan dengan angka
jika lebih dari dua kata. Awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diakhiri
dengan tanda baca lain.
d. Kata Perihal diikuti tanda titik dua dan pokok surat diawali dengan huruf
kapital tanpa diakhiri tanda baca lain. Pokok surat harus menggambarkan isi
surat.

4. Alamat Surat
Dalam penulisan alamat surat terdapat dua macam bentuk. Bentuk yang
pertama adalah alamat yang ditulis di sebelah kanan atas di bawah tanggal
surat dan bentuk yang kedua adalah alamat yang ditulis di sebelah kiri atas
dibawah bagian Hal atau sebelum kata pembuka. Penulisan alamat surat di
sebelah kiri atas itu lebih menguntungkan daripada di sebelah kanan atas
karena kemungkinan pemenggalan tidak ada hingga alamat yang panjang pun
dapat dituliskan. Alamat dalam surat tidak menggunakan kata "Kepada".
Berikut ini contoh penulisan alamat surat.
Yth. Kolonel Sangad Mujianto
Jalan Rajawali 56
Bandungan
Semarang
5. Salam
Dalam penulisan surat terdapat dua buah salam, yaitu (1) salam pembuka
dan (2) salam penutup. Penulisan kedua bentuk salam itu merupakan awal
dalam berkomunikasi antara penulis surat dan penerima surat.
a. Salam pembuka lazim ditulis di sebelah kiri di bawah alamat surat, di atas
kalimat pembuka isi surat. Salam penutup lazim ditulis di sebelah kanan
bawah.
b. Salam pembuka yang lazim digunakan adalah ungkapan dengan hormat.
Ungkapan lain yang digunakan sebagai salam pembuka adalah:
Dengan hormat,
Salam sejahtera,
Saudara.....,
Saudara.....yang terhormat,
Ibu ........ yang terhormat,
Bapak .....yang terhormat,

Salam Pembuka Khusus


Assalamu Alaikum [Link],
Salam Pramuka,
Salam perjuangan,
Merdeka,
c. Salam penutup yang lazim digunakan adalah ungkapan hormat kami, hormat saya,
salam takzim, dan wasalam.
6. Isi Surat
Secara garis besar isi surat terbagi atas tiga bagian, yaitu bagian pertama
merupakan paragraf pembuka, bagian kedua merupakan paragraf isi, dan bagian
ketiga merupakan paragraf penutup.
a. Paragraf pembuka berisi pemberitahuan, pertanyaan, atau permintaan.
b. Paragraf isi berisi maksud penulisan surat.
c. Paragraf penutup merupakan simpulan dan kunci isi surat. Di samping itu,
paragraf penutup dapat mengandung harapan penulis surat atau berisi ucapan
terima kasih kepada penerima surat.
7. Nama Pengirim
Nama pengirim surat ditulis di bawah salam penutup. Tanda tangan
diperlukan sebagai keabsahan surat dinas.
Contoh :
Kepala Sekolah
Drs. Doni Suwondo
NIP 197101251988041005
8. Tembusan Surat
Kata tembusan yang ditulis dengan huruf awal kapital (Tembusan)
diletakkan disebelah kiri pada bagian kaki surat, lurus dengan nomor dan hal,
serta sejajar dengan nama penanggung jawab surat. Tulisan tembusan disertai
dengan titik dua (:) tanpa digaris bawahi.
Tembusan:
1. Direktur Pemilihan Badan.
2. Kepala Bagian Pengiriman.
3. Drs.
D. Pedoman Pengelolaan Surat

Pedoman pengelolaan surat dibagi menjadi 2, yaitu sebagai berikut:


1. Pedoman Pengelolaan Surat Masuk
Pengelolaan surat masuk dapat digolongkan menurut penggolongan jenis
surat. Untuk mudahnya maka pengelolaan surat dapat dilakukan secara sederhana
berdasarkan tiga golongan sebagai berikut:
a. Surat Penting
1) Surat penting, adalah semua surat yang mengemukakan masalah-masalah
pokok yang mempengaruhi langsung ataupun tidak langsung terhadap
berhasil tidaknya pencapaian tujuan organisasi.
2) Pengurusan Surat Penting
Semua surat masuk jenis ini harus diserahkan kepada satuan kerja
pengarah untuk diproses. Ketika surat diterima oleh satuan kerja pengarah
ini seterusnya pengarah dilampiri 3 lembar kartu kendali dan 1 lembar
disposisi. Ketiga kartu kendali itu kolom-kolomnya kemudian diisi. Lembar
pertama ditinggalpada pengarah, lembar kedua dan ketiga disampaikan
kepada satuan kerja pengelola untuk diminta tanda tangan. Lembar ketiga di
tinggal disatuan kerja pengolah, lembar kedua kembali ke pengarah untuk
disimpan di penata arsip.
Satuan Kerja Tata Usaha

Penerima Pencatat Pengarah Penata Kepala Sek. WK


Surat Surat Surat Arsip KS. KET. JUR
Surat Surat Surat Terbuka
Terbuka Terbuka

Putih I Putih I Biru II


Biru II Biru II Merah III
Merah III Merah III
Biru II Biru II
Kartu Kartu Kartu
Kendali Kendali Kendali

b. Surat Rahasia dan Pribadi (Tertutup)


1) Surat rahasia biasanya beramplop dua, tidak boleh dibuka oleh penerima surat,
surat ini harus disapaikan kepada pimpinan dalam keadaan masih terbungkus oleh
sampulnya.
Surat pribadi ini pemrosesannya dilakukan dalam keadaan tertutup sampai kepada
si alamat. Biasanya di sampul surat pribadi tercantum nama-nama dari pribadi,
walaupun disertai jawaban formalnya.
2) Pengurusan Surat Tertutup
Proses pengurusan surat tertutup sebagai berikut:
Semua surat tertutup rahasia, disampaikan kepada pimpinan dengan
mempergunakan lembaran pengantar surat rahasia rangkap satu.
Yang dicatat dalam lembar pengantar antara lain nomor surat yang tertera
pada sampul, asal surat, tanggal penerimaan, jumlah surat, penerima surat dan
tanda tangan.
Apabila lembar pengantar ini telah diisi, maka surat rahasia disampaikan kepada
pimpinan atau kepada satuan kerja pengolah sesuai dengan alamat
kerahasiaannya. Lembar pengantar setelah ditandatangani kemudian diminta
kembali untuk disimpan di satuan pengarah/urusan penata arsip. Penyampaian
didasarkan kronologis tanggal penyampaian. Lembar pengantar berguna sebagai
bukti bahwa surat yang bersangkutan sudah disampaikan dan telah diterima oleh
si alamat.
Jika tidak terjadi sesuatu hal, maka lembar pengantar ini perlu dimusnahkan.
Oleh sebab itu tidak perlu disimpan terlalu lama.
Surat rahasia yang telah dibuka atau dibaca oleh yang bersangkutan, kemudian
dicatat seperlunya pada satu kartu kendali dan kemudian dismpan pada tempat
penyimpanan khusus. Bila kerahasiaannya telah menurun, surat tersebut kemudian
diserahkan kepada satuan kerja atau pejabat yang harus mengelola informasi tersebut.
penyampaiannya harus melalui satuan kerja pengarah, kemudian diproses seperti surat
penting lainnya.
Proses Surat Masuk, Bagi Surat Tertutup

Pengolah
Kep. Sek
Penerima Pencatat Pengarah Penata
Surat Surat Surat Surat
Surat tertutupSurat tertutup Surat tertutup Surat tertutup

Lembar pengantar
Lembar pengantar Lembar pengantar surat
surat rahasia surat rahasia rahasia
Disimpan khusus

Lembar pengantar
surat rahasia

c. Surat Biasa
1) Surat biasa, adalah surat yang tidak tergolong penting dan bukan rahasia, juga
bukan surat pribadi. Contoh: Surat biasa, surat undangan rapat, pembukaan
seminar, ceramah dan sebagainya.
2) Pengurusan surat biasa sama seperti pengurusan surat tertutup rahasia. Hanya
bedanya, lembar pengantar disebut “lembar surat rutin”.
Identitas surat biasa ini secara lengkap dapat diketahui sebelumnya. Karena itu
dapat dicatat secara lengkap pula dalam lembar pengantar.
Proses Surat Masuk, Bagi Surat Biasa

Satuan Kerja Tata Usaha Pengolah


Penerima Pencatat Pengarah Penata Kep. Sek
Surat Surat Surat Surat
Surat Surat Surat Surat terbuka
terbuka terbuka terbuka

Lembar Lembar Lembar pengantar


pengantar pengantar surat rutin
surat rutin surat rutin

Seterusnya
surat
dimusnahkan

2. Pedoman Pengurusan Surat Keluar


Surat keluar merupakan semua surat yang dibuat oleh suatu instansi
atau unit kerja yang ditujukan atau dikirim kepada seseorang atau instansi
lainnya. Ada beberapa tahap dalam proses pengurusan surat keluar,
diantaranya :
a. Pembuatan Konsep
Konsep dalam surat keluar umumnya dibuat oleh satuan kerja
pengolah. Hal ini sesuai dengan instruksi Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan No. 16/0/1976, tanggal 29 November 1976 bentuk konsep itu
telah dibakukan dalam bentuk lebar konsep surat. Contoh format dan isi
lembar konsep surat itu sebagai berikut :
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Sekolah Menengah Pertama X Amartha

Lembar konsep surat :


Dikerjakan oleh : ….. Tanggal penomoran surat : …..
Diperiksa oleh : ….. Diketik oleh : …..
Sebelum ditetapkan : ….. Ditaklik oleh : …..
Dikemukakan kepada : ….. Diterima di ekspedisi tanggal : …..
Ditetapkan tanggal : ….. Dikirim tanggal : …..
Kepala : ….. Diarsipkan tanggal : …..

(…………………….)
NIP.
Nomor : ….. ………. 19 …..
Lampiran : …..
Perihal : …..

Kepada
Yth, ……….
…………….

Tembusan :
1. ………….
2. ………….

Setelah konsep dibuat, pembuat konsep menandatangani konsep di tempat


yang tersedia dalam lembar konsep surat dan mengemukakan konsep tersebut
kepada pejabat lain yang tertera dalam lembar konsep untuk dimintai persetujuan.
Konsep yang telah disetujui, kemudian diteruskan kepada petugas yang
bersangkutan dalam mengurus surat keluar untuk memperoleh nomor. Selanjutnya
konsep diserahkan kepada pimpinan tata usaha untuk diketik menjadi surat dinas.
b. Pengetikan Surat
Surat yang sudah diterima oleh pimpinan tata usaha kemudian diketik oleh
petugas urusan tata usaha. Setelah menjadi surat dinas, dicatat identitasnya dan
diserahkan kepada pejabat yang berwenang untuk kemudiaan ditandatangani.
c. Penandatanganan Surat
Surat yang telah diketik kemudian ditandatangani oleh pejabat yang
bersangkutan kemudian dibubuhi cap jabatan di sebelah kiri tanda tangan dengan
menutupi sedikit tanda tangan tersebut. Setelah itu, surat dikembalikan kepada
pimpinan tata usaha untuk diproses.
Dalam proses ini, surat tembusan dan konsep surat sebagai arsip bersama
kartu kendali lembar ke-2 dan ke-3 diserahkan kepada satuan kerja pengolah
untuk ditandatangani. Untuk lebar ke-2 dikembalikan kepada petugas penata arsip,
sedangkan lembar pertama disimpan oleh pimpinan tata usaha sebagai pejabat
pengarah surat. Kartu kendali lembar ke-3 bersama tembusannya disimpan oleh
satuan kerja pengolah.
d. Pengiriman Surat
Setelah ditandatangani, langkah selanjutnya yaitu melakukan penyelesaian
sebelum akhirnya siap untuk dikirim keluar oleh petugas ekspedisi. Beberapa hal
yang perlu diperhatikan sebelum mengirim surat keluar adalah :
1) Alamat, alamat yang ada pada sampul harus sama dengan alamat surat.
2) Sampul dibubuhi dengan cap instansi. Atau dapat pula dibubuhi dengan cap lain
yang menunjukkan sifat surat, misalnya “segera” yang diletakkan pada sebelah
kiri atas cap jabatan.
Untuk surat yang bersifat rahasia, dimasukkan ke dalam sampul rangkap dua.
Pada sampul luar diberi alamat, cap dan nomor surat, sedangkan pada sampul dalam
hanya dibubuhi cap “rahasia”. Pembakuan tentang ukuran cap jabatan, kepala surat dan
lain-lain diatur melalui instruksi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 1/0/1975
tanggal 25 Februari 1975, dan Nomor 8/0/1975 tanggal 14 Mei 1975.
Ekspedisi artinya buku yang digunakan untuk mencatat surat yang memuat
tentang :
1) Nomor surat.
2) Tanggal pengiriman.
3) Alamat surat.
4) Tanda tangan penerima surat atau stempel pos dan tanggal diterima.
5) Keterangan (jika diperlukan).

Pengiriman surat dilakukan melalui tiga kemungkinan, diantaranya:


1) Pengaruh, untuk surat-surat dalam kota.
2) Kantor pos, untuk surat-surat luar kota.
3) Biro ekspedisi swasta, untuk surat-surat di luar kota.
e. Penyimpanan Arsip
Arsip surat yang sudah dikirim kemudian diberikan kepada petugas yang
bertanggung jawab untuk menyimpan agar mudah dicari. Degan demikian,
proses pengelolaan surat keluar selesai.
E. Format Pengurusan Surat
DAFTAR PUSTAKA

Daryanto. H. M (2014). Administrasi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.


Irmani. Z (2014). Materi Pembelajaran Pendidikan Administrasi Perkantoran.
[Link] Diakses pada hari
Senin, tanggal 26 November 2018.
[Link]
BAB 11
PEMBAHASAN
A. Pengertian

akreditasi adalah pengakuan dan penilaian terhadap suatu lembaga pendidikan


tentang kelayakan dan kinerja suatu lembaga pendidikan yang dilakukan oleh Badan
Akreditasi Sekolah Nasional (BASNAS)/ Badan Akreditasi Nasional
Sekolah/Madrasah (BAN-S/M) yang kemudian hasilnya berbentuk pengakuan
peringkat kelayakan. Akreditasi ini dilakukan dengan membandingkan keadaan
sekolah yang sebenarnya dengan kriteria standar yang telah ditetapkan. Sekolah akan
mendapatkan status “terakreditasi” jika keadaan sekolah yang sebenarnya telah
memenuhi kriteria standar yang telah ditetapkan. Sebaliknya, sekolah tidak dapat
“terakreditasi” jika keadaan sekolah yang sebenarnya tidak memenuhi kriteria
standar yang telah ditetapkan. Dengan demikian, hasil dari akreditasi adalah
pengakuan “terakreditasi” atau “tidak terakreditasi”. Bagi sekolah yang terakreditasi
diklasifikasi menjadi tiga tahapan, yaitu:

1. A (Amat Baik) dengan nilai antara 86-100;


2. B (Baik) dengan nilai antara 71-85;
3. C (Cukup) dengan nilai antara 56-70.

Jika nilai tersebut kurang dari 56 maka sekolah tersebut tidak layak untuk
mendapatkan pengakuan “terakreditasi”. Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh
pihak sekolah mengenai masa berlaku akreditasi yang telah diperolehnya, antara lain:

1. Peringkat akreditasi berlaku selama 4 tahun terhitung sejak ditetapkannya peringkat


akreditasi,
2. Sekolah wajib mengajukan permohonan reakreditasi yaitu 6 bulan sebelum masa
akreditasi berakhir,
3. Sekolah yang meghendaki reakreditasi bisa mengajukan permohonan sekurang-
kurangnya 1 atau 2 tahun setelah penetapan akreditasi,
4. Sekolah yang masa akreditasinya telah berakhir dan sudah mengajukan permohonan
reakreditasi namun belum ditindak lanjuti maka sekolah tersebut masih
menggunakan peringkat akreditasi terdahulu,
5. Sekolah yang masa akreditasnya berakhir dan menolak untuk reakreditasi maka
peringkat akreditasi yang terdahulu sudah tidak berlaku.

B. Tujuan Akreditasi

Berdasarkan Keputusan Menteri pendidikan Nasional Nomor 087/U/2002, akreditasi


sekolah mempunyai tujuan, yaitu:

(1) Memperolah gambaran kinerja sekolah sebagai alat pembinaan,


pengembangan, dan peningkatan mutu;

(2) Menentukan tingkat kelayakan suatu sekolah dalam penyelenggaraan


pelayanan pendidikan. Tujuan akreditasi tersebut berarti bahwa hasil akreditasi
itu:

a. Memberikan gambaran tingkat kinerja sekolah yang dijadikan sebagai alat


pembinaan, pengembangan dan peningkatan sekolah baik dari segi mutu,
efektivitas, efisiensi, produktivitas dan inovasinya.
b. Memberikan jaminan kepada publik bahwa sekolah tersebut telah diakreditasi
dan menyediakan layanan pendidikan yang memenuhi standar akreditasi
nasional.
c. Memberikan layanan kepada publik bahwa siswa mendapatkan pelayanan yang
baik dan sesuai dengan persyaratan standar nasional.

C. Manfaat Akreditasi

Hasil akreditasi suatu lembaga pendidikan mempunyai beberapa manfaat bagi


beberapa kelompok kepentingan, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Sekolah
a. Acuan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan dan rencana pengembangan
sekolah.
b. Bahan masukan untuk pemberdayaan dan pengembangan kinerja warga
sekolah.
c. Pendorong motivasi peningkatan kualitas sekolah secara [Link]
sebagai sekolah yang berkualitas, sekolah yang terakreditasi ini juga
mendapatkan dukungan dari pemerintah, masyarakat maupun sektor swasta
dalam hal moral, dana, tenaga dan profesionalisme.

2. Kepala sekolah

a. Bahan informasi untuk pemetaan indikator keberhasilan kinerja warga sekolah


termasuk kinerja kepala sekolah selama 1 periode (4 tahun).
b. Bahan masukan untuk penyusunan anggaran pendapatan dan belanja sekolah.

3. Guru
a. Dorongan bagi guru untuk selalu meningkatkan diri dari bekerja keras untuk
memberi layanan yang terbaik bagi siswanya.
4. Masyarakat (wali murid)

a. Informasi yang akurat untuk menyatakan kualitas pendidikan yang ditawarkan


oleh setiap sekolah.
b. Bukti bahwa mereka menerima pendidikan yang berkualitas tinggi, sehingga
siswa mempunyai kepercayaan terhadap dirinya bahwa ia mampu masuk dan
bersekolah di lembaga pendidikan yang terakreditasi nasional.

5. Dinas pendidikan

a. Acuan dalam rangka pembinaan dan pengembangan/peningkatan kualitas


pendidikan di daerah masing-masing.
b. Bahan informasi penting untuk penyusunan anggaran pendidikan secara umum,
dan khususnya anggaran pendidikan yang terkait dengan rencana biaya
operasional Badan Akreditasi Sekolah di tingkat Dinas.
6. Pemerintah
a. Bahan masukan untuk pengembangan sistem akreditasi sekolah di masa
mendatang dan alat pengendalian kualitas pelayanan pendidikan bagi
masyarakat yang bersifat nasional.
b. Sumber informasi tentang tingkat kualitas layanan pendidikan yang dapat
dipergunakan sebagai acuan untuk pembinaan, pengembangan, dan
peningkatan kinerja pendidikan secara makro.
c. Bahan informasi penting untuk penyusunan anggaran pendidikan secara
umum di tingkat nasional, dan khususnya program dan penganggaran
pendidikan yang terkait dengan peningkatan mutu pendidikan nasional.
D. Fungsi Akreditasi

Dengan menggunakan instrumen akreditasi yang komprehensif, hasil akreditasi


diharapkan dapat memetakan secara utuh profil sekolah/madrasah. Proses akreditasi
sekolah/madrasah berfungsi untuk :

1. Pengetahuan, yaitu sebagai informasi bagi semua pihak tentang kelayakan


sekolah/madrasah dilihat dari berbagai unsur terkait yang mengacu pada standar
minimal beserta indikator-indikator.
2. Akuntabilitas, yaitu sebagai bentuk pertanggung jawaban sekolah/madrasah kepada
publik, apakah layanan yang dilakukan dan diberikan oleh sekolah/madrasah telah
memenuhi harapan atau keinginan masyarakat.
3. Pembinaan dan pengembangan, yaitu sebagai dasar bagi sekolah/madrasah,
pemerintah, dan masyarakat dalam upaya peningkatan atau pengembangan mutu
sekolah/madrasah.

E. Prinsip-prinsip Akreditasi
Prinsip-prinsip yang dijadikan pijakan dalam melaksanakan akreditasi sekolah/
madrasah adalah objektif, komprehensif, adil, transparan, akuntabel dan
profesional.

F. Akreditasi Sebagai Penjaminan Mutu


a. Acuan dalam upaya peningkatan mutu sekolah/madrasah dan rencana
pengembangan sekolah.
b. Sebagai umpan balik dalam usaha memberdayakan dan pengembangan
kinerja warga sekolah dalam rangka menerapkan visi, misi, tujuan,
sasaran, strategi dan program sekolah.
c. Motivasi sekolah agar terus meningkatkan mutu pendidikan secara
bertahap, terencana, dan kompetitif.
d. Bahan informasi sekolah untuk meningkatakan dukungan dari
pemerintah, masyarakat, maupun sektor swasta secara profesionalisme,
moril, tenaga, dan dana.
e. Sebagai bahan pertimbangan dalam memberikan kewenangan terhadap
penyelenggaraan Ujian Nasional.
G. Ruang Lingkup Akreditasi
Ruang lingkup akreditasi sekolah/madrasah maliputi TK/RA, TKLB,
SD/MI, SMP/MTs, SMPLB, SMA/MA, SMK/MAK dan SMLB, baik
berstatus negeri maupun [Link] TK/RA, SD/MI, SMP/MTs,
SMA/MA, akreditasi dilakukan terhadap kelembagaan secara menyeluruh,
sedangkan untuk SMK/MAK, akreditasi dilakukan terhadap program
keahlian. Untuk TKLB, SDLB, SMPLB dan SMLB, akreditasi dilakukan
terhadap kelembagaan sesuai dengan jenis kelainannya (kekhususannya).
DAFTAR PUSTAKA

Purwanto.(2009).AkreditasiSekolah.[Online].Tersediadi:
[Link]

(1 Desember 2018)

Rif’at, Mohammad . (2010). Instrumen Baru Akreditasi Sekolah. [Online].


Tersediadi:[Link]
[Link] (1 Desember 2018)

Setiardi, Agus. (2011). Prinsip-prinsip Akreditasi. [Online]. (1 Desember 2018)

Sudrajat, Akhmad. (2008). Konsep Akreditasi Sekolah. [Online]. Tersedia


di: [Link] (1 Desember 2018)

Darma, Yudi. (2015). Peran Akreditasi dalam Penjaminan Mutu. [Online].


Tersedia di: [Link] (8
Desember 2018)
BAB 12
PEMBAHASAN
A. Konsep ISO dalam Pendidikan
ISO adalah lembaga internasional untuk standarisasi yang didirikan pada tahun
1947 dan berkedudukan di Jenewa, Swiss. ISO dimaksudkan untuk memperagakan
kemampuan organisasi agar taat asas dalam memberikan layanan yang dapat
memenuhi permintaan pelanggan dan peraturan yang berlaku dengan tujuan untuk
meningkatkan “kepuasan pelanggan” melalui penerapan sistem manajemen mutu
secara efektif, termasuk proses perbaikan (pengendalian) yang berkelanjutan.
Misi dari ISO adalah untuk mendukung pengembangan standardisasi dan
kegiatan-kegiatan terkait lainnya dengan harapan untuk membantu perdagangan
internasional, dan juga untuk membantu pengembangan kerjasama secara global di
bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan kegiatan ekonomi.
Kegiatan pokok ISO adalah menghasilkan kesepakatan-kesepakatan
internasional yang kemudian dipublikasikan sebagai standar internasional. Nama ISO
Banyak pihak melihat adanya suatu ketidakcocokan antara nama lengkap
“International Organization for Standardization” dengan kependekannya ‘ISO’,
dimana ‘IOS’ dianggap lebih tepat. Anggapan itu benar bila penetapan nama
didasarkan pada kependekannya. Yang sebenarnya, istilah ISO bukan merupakan
kependekan, tapi merupakan nama dari organisasi internasional tersebut. “ISO”
berasal dari Bahasa Latin (Greek) “isos” yang mempaunyai arti “sama” (equal).
Awalan kata “iso-“ juga banyak dijumpai misalnya pada kata “isometric”, “isomer”,
“isonomy”, dan sebagainya.
Dari kata “sama” (equal) menjadi “standar” inilah “ISO” dipilih sebagai nama
organisasi yang mudah untuk dipahami. ISO sebagai nama organisasi juga dalam
rangka menghindari penyingkatan kependekannya bila diterjemahkan ke dalam bahasa
lain dari negara anggota, misalnya IOS dalam bahasa Inggris, atau OIN (Organisation
Internationale de Normalisation) dalam bahasa Perancis, atau OSI (Organsiasi
Standardisasi Internasional) dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian apapun bahasa
yang digunakan, organisasi ini namanya tetap ISO.
ISO 9001 adalah sistem standar manajemen mutu yang dirancang untuk
membantu organisasi dalam memastikan bahwa organisasi dapat memenuhi kebutuhan
pelanggan dan stakeholdernya serta dapat memenuhi persyaratan perundangan,
hukum, dan peraturan yang terkait produk dan jasanya. ISO 9001:2015 adalah
standard dokumen (standar persyaratan) yang mencantumkan persyaratan yang harus
dijalankan oleh organisasi dan harus dijaga implementasinya.
Penerapan sistem manajemen mutu ISO 9001:2015 tidak terbatas hanya pada
perusahaan jasa atau manufaktur, tetapi implementasi ISO 9001 juga dapat dilakukan
dalam dunia [Link] tidak hanya mempersiapkan dokumen-
dokumen sistem manajemen mutu saja, tetapi bagaimana menyiapkan sumber daya
manusianya untuk melakukan perubahan mindset. Yang dimaksud mindset sebenarnya
kepercayaan (belief) atau sekumpulan kepercayaan (set of beliefs) atau cara berfikir
yang mempengaruhi perilaku (behavior) dan sikap (attitude) seseorang yang akhirnya
akan menentukan level keberhasilan dalam hidupnya .
Dengan demikian, jika kita ingin mengubah perilaku dan sikap seseorang, maka
yang harus kita ubah sebenarnya cara berfikir kita. Oleh karena itu dengan mengubah
mindset seluruh warga sekolah untuk memiliki visi tentang mutu sekolah, maka
sekolah dapat meningkatkan mutu pendidikan sekolahnya secara berkelanjutan. Visi
adalah wawasan mental (mental image), sebuah cita-cita dan keinginan masa depan
yang dapat dicapai oleh sekolah. Visi ini sangat diperlukan karena kegiatan sekolah
merupakan bentuk layanan / jasa pendidikan yang harus dilakukan dan harus dicapai
tingkat mutunya secara berkelanjutan (continous educational process improvement).

B. Prinsip-prinsip Manajemen Mutu Sesuai SMM ISO 9001:2015


ISO 9001: 2015 menetapkan 7 (tujuh) prinsip dalam menjalankan sistem
manajemen mutu, antara lain sebagai berikut :
a) Fokus Pelanggan (Customer Focus)
Fokus utama dari manajemen mutu yaitu untuk memenuhi kebutuhan pelanggan
dan berusaha untuk melebihi apa yang diharapkan oleh pelanggan. Yang
dimaksud pelanggan disini adalah siswa, dengan memenuhi kebutuhan dan
harapan pelanggan
b) Kepemimpinan (Leadership)
Prinsip yang kedua adalah kepemimpinan. Kaitannya dengan manajemen
mutu, prinsip kepemimpinan menjelaskan bahwa pemimpin yaitu kepala sekola
harus mempunyai kesatuan tujuan dan arah, serta menciptakan kondisi dimana
setiap pendidik terlibat dalam mencapai sasaran mutu pendidikan.
c) Keterlibatan Orang (Engagement of People)
Prinsip ketiga ini menjelaskan bahwa dalam suatu lembaga pendidikan setiap
pegawai merupakan pegawai kompeten, dapat diberdayakan, dan dapat dilibatkan
dalam menjalankan proses pendidikan.
d) Pendekatan Proses (Process Approach)
Prinsip keempat dalam penerapan manajemen mutu adalah pendekatan proses.
Prinsip pendekatan proses mempercayai bahwa suatu hasil dapat menjadi lebih
efektif dan efisien, ketika kegiatan-kegiatan yang dikelola menjadi suatu proses
yang saling berhubungan.
e) Perbaikan (Improvement)
Prinsip perbaikan menjelaskan bahwa untuk mencapai kesuksesan, lembaga
pendidikan harus memiliki fokus perbaikan yang berkelanjutan.
f) Pengambilan Keputusan Berdasarkan Bukti (Evidence-Based Decision Making)
Prinsip ini menjelaskan bahwa setiap lembaga pendidikan dalam mengambil
keputusan harus berdasarkan hasil dari analisis dan evaluasi data dan informasi
g) Manajemen Relasional (Relationship Management)
Prinsip manajemen relasional menjelaskan bahwa untuk mencapai kesuksesan
yang berkelanjutan, lembaga pendidikan harus mengelola hubungan dengan
berbagai pihak yang berkepentingan.
C. Sistem Manajemen Mutu Sesuai dengan Standar ISO 9001:2015
Pada ISO 9001:2015 ini terdiri dari 10 Klausul. Berikut 10 klausul ISO 9001:2015 :
a) Skope atau Lingkup Sertifikasi harus tertulis jelas apa jenis usaha , produk
atau jasanya termasuk juga dimana saja ISO 9001:2015 ini akan di terapkan.
b) Acuan Normatif adalah dokumen yang dijadikan acuan dalam menerapkan
SMM ISO 9001:2015, dalam hal ini adalah ISO 9000:2015. Kosa Kata ISO
9001:2015.
c) Istilah dan Definisi menjelaskan definisi beberapa istilah yang sering digunakan
dalam ISO 9001:2015.
d) Konteks Pendidikan,Memahami masalah internal dan eksternal yang menjadi
perhatian lembaga pendidikan dan pihak berkepentingan; serta memahami
kebutuhan dan harapan pihak berkepentingan.
e) Kepemimpinan
Top Manjemen harus memberikan bukti kepemimpinan dan komitmen untuk
pengembangan dan pelaksanaan Sistem Manajemen
f) Perencanaan, Tindakan untuk mengatasi risiko dan harus mengambil peluang
yang ada dan serta membuat identifikasi terhadap resiko yang akan di hadapi
oleh lembaga pendidikan di masa yang akan datang.

Sasaran mutu yang dibuat harus :

1. Konsisten dengan manajemen mutu


2. Terukur
3. Memperhitungkan persyaratan yang berlaku
4. Dipantau
5. Dikomunikasikan

Perubahan perencanaanketika lembaga pendisikan menentukan kebutuhan


perubahan sistem manajemen atau proses, perubahan ini direncanakan,
dilaksanakan, dan kemudian diverifikasi untuk efektivitas perubahan akan
membahas pada Rapat Tinjauan Manajemen. Dalam perubahan ini organisasi
harus mempertimbangkan :

1. Tujuan Perubahan dan konsekuensinya


2. Ketentuan dari SMM
3. Ketersediaan Sumber Daya
4. Alokasi atau realokasi tanggung jawab dan wewenang
g) Dukungan,Klausul mengenai informasi terdokumentasi, infrastuktur, SDM, semua
terangkum dalam klausul ini. Pengelolaan SDM baik recruitment maupun
pelatihan masuk dalam klausul 7 ini. Selain itu pengelolaan infrastruktur dan
lingkungan kerja juga masuk di klausal ini.
h) Operation, Klausal ini membahas mengenai Operational. Dimulai dari
perencanaan realisasi produk edukasi yang berarti pengetahuan, kemampuan dan
nilai-nilai yang tertanam dalam diri peserta pendidikan sampai dengan
pengembangan dari edukasi tersebut.
i) Performance Evaluation, Kepuasan peserta didik sebagai salah satu pengukuran
kinerja sistem manajemen, lembaga pendidikan memonitor informasi yang
berkaitan dengan persepsi peserta didik apakah organisasi telah memenuhi
persyaratan peserta didik Metode untuk ini adalah Prosedur survei kepuasan
peserta didik.
j) Peningkatan, Ketidaksesuaian dan tindakan korektif. Lembaga pendidikan harus
mengambil tindakan korektif untuk menghilangkan penyebab dan mencegah
terulangnya ketidaksesuaian. Perbaikan harus dilakukan terus menerus.
Lembaga pendidikan menggunakan sistem manajemen untuk meningkatkan
proses, produk dan jasa. Peningkatan tersebut bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan dan harapan peserta didik serta pihak lain yang berkepentingan.

D. Perencanaan Penerapan Sistem Manajemen Mutu di Lembaga Pendidikan


a. Pendefinisan produk
Produk dalam lembaga pendidikan adalah edukasi, yang berarti pengetahuan,
kemampuan dan nilai-nilai yang tertanam dalam diri peserta pendidikan. Itulah
produk paling akhir dari seluruh mata rantai pendidikan dan merupakan produk
utana. Produk tambahan tentu juga ada. Dokumen-dokumen yang diserahkan
kepada siswa dan pihak lain yang berkepentingan adalah produk tambahan yang
juga harus terjaga mutunya. Beberapa sekolah memberikan layanan tambahan
lain seperti asrama, kantin dan lain-lain yang menjadi bagian dari keseluruhan
produk yang dimanfaatkan siswa.
b. Mengetahui pihak-pihak berkepentingan dan harapannya
Pihak berkepentingan dalam lembaga pendidikan adalah siswa, orang tua siswa,
pemerintah, badan akreditasi, masyarakat, dunia kerja dan sekolah tingkat lanjut
yang akan menyerap lulusan dari lembaga pendidikan terkait. Lalu lembaga
pendidikan harus dapat mengidentifikasi dengan jelas apa harapan dari semua
pihak yang berkepentingan tersebut. Apa yang diinginkan siswa? Proses
registrasi yang cepat? Informasi perkuliahan yang mudah diakses? Apa harapan
dunia kerja? Seberapa tingkat ‘siap pakai’ lulusan yang diharapkan? dan
seterusnya.
c. Memahami konteks organisiasi
Konteks organisasi adalah issue-issue dan permasalahan yang melingkupi
organisasi, baik internal maupun eksternal yang dapat mempengaruhi efektifitas
sistem manajemen mutu dalam memenuhi harapan pihak-pihak berkepentingan.
Organisasi dalam sektor yang sama mempunyai konteks yang berbeda-beda.
Misalnya, suatu lembaga pendidikan mempunyai permasalahan dalam memenuhi
standar kompetensi pengajar, lembaga pendidikan yang lain tidak. Satu lembaga
pendidikan mempunyai permasalahan dalam memenuhi persyaratan baru dari
badan akreditasi, lembaga lain tidak. Semua issue-issue dan permasalah tersebut
harus diinvetarisir sebelum melangkah pada tahapan penerapan selanjutnya.
Persyaratan tentang konteks organisasi ini adalah persyaratan yang baru, atau
paling tidak ditegaskan dengan lebih jelas dalam ISO-9001:2015. Memahami
konteks akan membuat sistem manajemen mutu 2 organisasi menjadi berbeda
walaupun, misalnya, produk dan ukuran organisasinya sama.
d. Menetapkan proses-proses
Untuk dapat memberikan pelayanan pendidikan, memberikan edukasi tentu butuh
berbagai macam proses. Dari mulai perancangan kurikulum, pendaftaran,
pengajaran, evaluasi, ditambah dengan proses pendukung seperti pemeliharaan
sarana dan prasarana, pengendalian dokumen, pengarsipan dan sebagainya. Semua
proses tersebut harus teridintikasi, jelas input dan outputnya, jelas interaksi
dengan proses lain, penanggung jawabnya.
Penetapan proses-proses juga mencakup penetapan indikator kinerja,
indikator yang dapat menggambarkan tingkat keberhasilan proses-
proses. Indikator kinerja proses-proses tentu harus berkaitan erat
dengan harapan dari berbagai pihak yang berkepentingan.
e. Mempelajari resiko dan tindak lanjut
Persyaratan untuk mempelajari resiko dari proses-proses adalah hal yang baru
dalam ISO-9001. Persyaratan ini mengganti persyaratan tindakan pencegahan.
Dengan persyaratan ini, organisasi harus mempelajari resiko-resiko yang ada
dalam setiap proses dalam mencapai sasaran kinerjanya. Mempelajari resiko harus
berkaitan dengan konteks organisasi dan sasaran kinerja proses-proses yang ingin
dicapai.
Resiko tentu tidak hanya dipelajari, tapi juga ditindaklanjuti. Resiko yang besar
perlu mendapat prioritas untuk tindak lanjut. Tindak lanjut bisa bermacam ragam.
Bisa perbaikan sumber daya, bisa perbaikan proses itu sendiri, bisa perbaikan
kebijakan dan sebagainya.
Ujung dari tahapan-tahapan diatas adalah pengaturan berbagai proses dan elemen
lain dalam sistem manejemen mutu yang dapat sejauh mungkin menjamin
terpenuhinya mutu pendidikan.
f. Penerapan, Pemantauan dan Perbaikan
Setelah berbagai pengaturan proses ditetapkan, organisasi harus menerapkan
sistem manajemen mutu, memantau efektifitas dan melakukan perbaikan secara
berkelanjutan.
Pemantauan dapat dilakukan dengan pelaporan kinerja secara berkala, audit
internal maupun tinjauan manajemen. Hasil dari pemantauan adalah perbaikan-
perbaikan untuk peningkatan kinerja proses-proses dan sistem manajemen mutu
secara keseluruhan.

E. Manfaat ISO 9001:2015


a) Dokumentasi Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 akan membuat proses Kegiatan
Belajar Mengajar (KBM) berlangsung nyaman, terarah, dan dapat diterima.
b) Dokumentasi juga meningkatkan pengertian antar pengajar dan staf dan dapat
digunakan untuk melatih staf baru.
c) Operasional institusi pendidikan lebih efisien, masalah mutu dapat diidentifikasi,
diperbaiki, dan dicegah, dan kegiatan “improvement” dapat dilakukan secara
sistematis.
d) Audit mutu internal memungkinkan setiap pengajar dan staf untuk
mengemukakan dan memecahkan persoalan-persoalan yang ada. Di sisi lain,
siswa dan pihak terkait lainnya dapat memanfaatkan proses formal yang ada untuk
memberikan tanggapan terhadap proses pelayanan yang berjalan.
e) Sistem manajemen mutu memberikan penjabaran yang jelas terhadap hak dan
kewajiban siswa, pengajar, maupun staf.
f) Audit yang dilakukan oleh badan sertifikasi independen menghadirkan perspektif
eksternal yang lebih objektif. Hal ini membuka peluang adanya peningkatan mutu.
Beberapa hal yang mungkin diidentifikasi dalam proses audit eksternal yaitu
kekuatan, kelemahan, dan beberapa potensi “improvement” yang belum
dijalankan.
g) Terbangunnya kesadaran pengelola Lembaga Pendidikan dalam melaksanakan
pelayanan prima terhadap peserta didik..
h) Terdidiknya pengelola lembaga pendidikan dalam menaati sesuatu yang telah di
sepakati.
i) Kemudahan dalam proses pemasaran dan akreditasi.

Manfaat untuk Sekolah

a) Memudahkan menghadapi akreditasi dari BAN-S/M ( Badan Akreditasi Nasional –


Sekolah/Madrasah )
b) Sistem manajemen sekolah menjadi lebih baik dan berkembang, sebab mempunyai:
1. Manual Mutu sebagai alat marketing yang berisi school profile dan penjelasan
tentang penerapan SMM ISO 9001:2015 di sekolah.
2. Kebijakan Mutu atau semacam visi-misi sebagai pedoman arah kebijakan sekolah
jangka panjang dalam hal perbaikan mutu secara terus menerus.
3. Sasaran Mutu di setiap aktifitas pekerjaan sebagai pedoman target jangka pendek
dalam merealisir Kebijakan Mutu.
4. Prosedur Mutu sebagai pedoman dalam melakukan pekerjaan yang menyangkut
pembelajaran sehingga ada prosedur baku yang dipergunakan oleh seluruh jajaran.
5. Rencana Mutu( Quality Planning ) sebagai persyaratan input yang akan menentukan
output sehingga keberhasilan pembelajaran terhadap anak-anak didik dapat
ditingkatkan.

DAFTAR PUSTAKA

Zaman, Milus. 2015. Penerapan ISO di Sekolah. Diambil dari online


[Link]
pada tanggal 4 Desember 2018 pukul 07.53 WIB.
Musnandar, Aries. 2017. Konsep ISO dalam Standarisasi Pendidikan. Diambil
dari online[Link]
ISO-Dalam-Standarisasi-Pendidikanpada tanggal 5 Desember 2018 pukul
19.09 WIB.
Bermacam ilmu. 2016. Penerapan SMM ISO 9001 : 2015 pada dunia Pendidikan
atau Sekolah tidak jauh berbeda dengan penerapan atau implementasi ISO
9001:2015 dalam perusahaan. Diambil dari
online[Link]
[Link] tanggal 7 Desember 2018 pukul 10.50 WIB.
Syafaruddin. 2002. Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan. Jakarta:
Grasindo.
Widodo, Suparno Eko. 2011. Manajemen Mutu Pendidikan. Jakarta: Ardadizya
Jaya.
Nugroho, Antonius Widi. 2017. Strategi Sekolah dalam Menerapkan Sistem
Manajemen Mutu (SMM) Berbasis ISO. Jurnal Manajemen Pendidikan. 3
(7): 227-235.
Qyusi Consulting. 2017. Implementasi ISO 9001:2015 di Organisasi Pendidikan.
Diambil dari online [Link]
2015-di-organisasi-pendidikan/ pada tanggal 4 Desember 2018 pukul 06.44
WIB.
Konsultan Iso. 2017. 7 Prinsip ISO 9001:2015. Diambil dari online
[Link] pada
tanggal 3 Desember 2018 puku 18.40 WIB.

Anda mungkin juga menyukai