0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
28 tayangan281 halaman

Buku Matematika Kelas XII 2018

Diunggah oleh

Jafar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
28 tayangan281 halaman

Buku Matematika Kelas XII 2018

Diunggah oleh

Jafar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

[Link]

com
EDISI REVISI 2018

SMA/
MA/
SMK/MA
KELAS
XI
Hak Cipta © 2018 pada Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan Dilindungi Undang-Undang

Disklaimer: Buku ini merupakan buku siswa yang dipersiapkan Pemerintah dalam rangka
implementasi Kurikulum 2013. Buku siswa ini disusun dan ditelaah oleh berbagai pihak di
bawah koordinasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan dipergunakan dalam
tahap awal penerapan Kurikulum 2013. Buku ini merupakan “dokumen hidup” yang
senantiasa diperbaiki, diperbaharui, dan dimutakhirkan sesuai dengan dinamika kebutuhan
dan perubahan zaman. Masukan dari berbagai kalangan yang dialamatkan kepada penulis
dan laman [Link] atau melalui email buku@[Link]
diharapkan dapat meningkatkan kualitas buku ini.

Katalog Dalam Terbitan (KDT)


Indonesia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Matematika/ Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.-- . Edisi Revisi Jakarta: Kementerian Pendid
viii, 256 hlm. : ilus. ; 25 cm.

Untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas XII ISBN 978-602-427-114-5 (jilid lengkap) ISBN 978-602-427-117-6 (j

1. Matematika — Studi dan Pengajaran I. Judul


II. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
510

Penulis : Abdur Rahman As’ari, Tjang Daniel Chandra, Ipung Yuwono,


Lathiful Anwar, Syaiful Hamzah Nasution, Dahliatul Hasanah,
Makbul Muksar, Vita Kusuma Sari, Nur Atikah.
Penelaah : Agung Lukito, Turmudi, Yansen Marpaung, Suwarsono, Sugito
Adi Warsito, Ali Mahmudi.
Pe-review : Kartoyoso
Penyelia Penerbitan : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.

Cetakan Ke-1, 2014 (ISBN 978-602-282-775-7)


Cetakan Ke-2, 2018 (edisi revisi)
Disusun dengan huruf Times New Roman, 12 pt.
Kata Pengantar
Matematika adalah bahasa universal untuk menyajikan gagasan atau
pengetahuan secara formal dan presisi sehingga tidak memungkinkan terjadinya
multi tafsir. Penyampaiannya adalah dengan membawa gagasan dan pengetahuan
konkret ke bentuk abstrak melalui pendefinisian variabel dan parameter sesuai dengan
yang ingin disajikan. Penyajian dalam bentuk abstrak melalui matematika akan
mempermudah analisis dan evaluasi selanjutnya.
Permasalahan terkait gagasan dan pengetahuan yang disampaikan secara
matematis akan dapat diselesaikan dengan prosedur formal matematika yang
langkahnya sangat presisi dan tidak terbantahkan. Karenanya matematika berperan
sebagai alat komunikasi formal paling efisien. Perlu kemampuan berpikir kritis-
kreatif untuk menggunakan matematika seperti uraian di atas: menentukan variabel
dan parameter, mencari keterkaitan antarvariabel dan dengan parameter, membuat
dan membuktikan rumusan matematika suatu gagasan, membuktikan kesetaraan
antarbeberapa rumusan matematika, menyelesaikan model abstrak yang terbentuk,
dan mengkonkretkan nilai abstrak yang diperoleh.
Buku Matematika Kelas XII untuk Pendidikan Menengah ini disusun dengan
tujuan memberi pengalaman konkret-abstrak kepada siswa seperti uraian di atas.
Pembelajaran matematika melalui buku ini akan membentuk kemampuan siswa
dalam menyajikan gagasan dan pengetahuan konkret secara abstrak, menyelesaikan
permasalahan abstrak yang terkait, serta berlatih berpikir rasional, kritis dan kreatif.
Sebagai bagian dari Kurikulum 2013 yang menekankan pentingnya
keseimbangan kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan, kemampuan
matematika yang dituntut dibentuk melalui pembelajaran berkelanjutan yaitu
dimulai dengan meningkatkan pengetahuan tentang metode-metode matematika,
dilanjutkan dengan keterampilan menyajikan suatu permasalahan secara matematis
dan menyelesaikannya, dan bermuara pada pembentukan sikap jujur, kritis, kreatif,
teliti, dan taat aturan.

ii
Matemati
Buku ini menjabarkan usaha minimal yang harus dilakukan siswa untuk
mencapai kompetensi yang diharapkan. Sesuai dengan pendekatan yang
dipergunakan dalam Kurikulum 2013, siswa diberanikan untuk mencari dari sumber
belajar lain yang tersedia dan terbentang luas di sekitarnya. Peran guru sangat
penting untuk meningkatkan dan menyesuaikan daya serap siswa dengan
ketersedian kegiatan pada buku ini. Guru dapat memperkayanya dengan kreasi
dalam bentuk kegiatan-kegiatan lain yang sesuai dan relevan yang bersumber dari
lingkungan sosial dan alam.
Sebagai edisi pertama, buku ini sangat terbuka terhadap masukan dan akan
terus diperbaiki dan disempurnakan. Untuk itu, kami mengundang para pembaca
untuk memberikan kritik, saran, dan masukan guna perbaikan dan penyempurnaan
edisi berikutnya. Atas kontribusi tersebut, kami ucapkan terima kasih. Mudah-
mudahan kita dapat memberikan yang terbaik bagi kemajuan dunia pendidikan
dalam rangka mempersiapkan generasi seratus tahun Indonesia Merdeka (2045).

Tim Penulis

i
Kelas XII
Daftar Isi
Kata Pengantar..........................................................................................................iii
Daftar Isi...................................................................................................................vi
BAB 1 Dimensi Tiga...............................................................................................1
A. Kompetensi Dasar dan Pengalaman Belajar........................................1
B. Diagram Alur Konsep..........................................................................3
C. Materi Pembelajaran............................................................................4
Subbab 1.1 Jarak Antar titik.................................................................5
Subbab 1.2 Jarak Titik ke Garis.........................................................13
Subbab 1.3 Jarak Titik ke Bidang......................................................18
Uji Kompetensi..........................................................................................25

BAB 2 Statistika....................................................................................................27
A. Kompetensi Dasar dan Pengalaman Belajar......................................27
B. Diagram Alur Konsep........................................................................29
C. Materi Pembelajaran..........................................................................30
Subbab 2.1 Penyajian Data.................................................................32
Kegiatan 2.1.1 Distribusi Frekuensi.............................................32
Kegiatan 2.1.2 Histogram, Poligon Frekuensi, dan Ogive...........41
Subbab 2.2 Ukuran Pemusatan dan Penyebaran Data
Berkelompok.................................................................57
Kegiatan 2.2.1 Ukuran Pemusatan Data Berkelompok................58
Kegiatan 2.2.2 Ukuran Penyebaran Data Berkelompok...............68
Uji Kompetensi..........................................................................................79
BAB 3 Peluang......................................................................................................83
A. Kompetensi Dasar dan Pengalaman Belajar......................................83
B. Diagram Alur Konsep........................................................................85

v
Matemati
C. Materi Pembelajaran..........................................................................86
Subbab 3.1 Aturan Pencacahan, Permutasi, dan Kombinasi............86
Kegiatan 3.1.1 Aturan Penjumlahan dan Perkalian....................86
Kegiatan 3.1.2 Penyusunan dan Pengambilan............................93
Kegiatan 3.1.3 Menentukan Rumus Permutasi dan
Penerapanya........................................................98
Kegiatan 3.1.4 Menentukan Rumus Kombinasi dan
Penerapannya....................................................107
Kegiatan 3.1.5 Menentukan Rumus Permutasi dengan
Beberapa Unsur Sama dan Penerapannya........113
Kegiatan 3.1.6 Menentukan Rumus Permutasi Siklis dan
Penerapannya....................................................118
Subbab 3.2 Kejadian Majemuk, Peluang Saling Lepas, Peluang
Saling Bebas, dan Peluang Bersyarat..........................128
Kegiatan 3.2.1 Kejadian Majemuk...........................................128
Kegiatan 3.2.2 Peluang Saling Lepas.......................................133
Kegiatan 3.2.3 Peluang Saling Bebas.......................................139
Kegiatan 3.2.4 Peluang Bersyarat.............................................144
Uji Kompetensi.................................................................................150
BAB 4 Kekongruenan dan Kesebangunan (Pengayaan).....................................153
A. Kompetensi Dasar dan Pengalaman Belajar....................................153
B. Diagram Alur Konsep......................................................................155
C. Materi Pembelajaran........................................................................156
Subbab 4.1 Kekongruenan.............................................................156
Kegiatan 4.1.1: Menentukan Pasangan-Pasangan Sisi dan
Sudut yang Bersesuaian atau
Berkorespondensi
dari Dua Segibanyak.........................................157
Kegiatan 4.1.2: Kekongruenan Dua Segibanyak.......................161
Kegiatan 4.1.3: Menentukan Kekongruenan Dua Segitiga........164
Kegiatan 4.1.4: Alur Berpikir dalam Pembuktian Deduktif......175

v
Kelas XII
Kegiatan 4.1.5: Menentukan Kekongruenan Bangun Datar
dengan Bangun Datar Hasil Transformasi
(Rotasi, Pergeseran, Dilatasi/Perbesaran,
Pencerminan)....................................................182
Subbab 4.2 Kesebangunan.............................................................192
Kegiatan 4.2.1: Mengidentifikasi Kesebangunan Dua Bangun
Datar.................................................................196
Kegiatan 4.2.2: Mengidentifikasi Segitiga-Segitiga yang
Sebangun..........................................................199
Kegiatan 4.2.3: Menentukan Kesebangunan Bangun Fatar
dengan Bangun Datar Hasil Transformasi
(Rotasi, Pergeseran, Dilatasi/Perbesaran,
Pencerminan)....................................................216
Kegiatan 4.2.4: Menentukan Ukuran Unsur-Unsur Segitiga
yang Bersesuaian dari Dua Segitiga yang
Sebangun..........................................................223
Uji Kompetensi........................................................................................231
Glosarium...............................................................................................................233
Daftar Pustaka........................................................................................................238
Profil Penulis..........................................................................................................239
Profil Penelaah.......................................................................................................248
Profil Editor...........................................................................................................254

v
Matemati
BAB

1
Dimensi Tiga
A. Kompetensi Dasar dan Pengalaman Belajar

Kompetensi Dasar Pengalaman Belajar

3.1 Mendeskripsikan jarak dalam ruang (antartitik, titik Melalui pembelajaran dimensi tiga, siswa mem-
ke garis, dan titik ke bidang). peroleh pengalaman belajar:
4.1 Menentukan jarak dalam ruang (antartitik, titik ke 1. Mengamati dan mendeskripsikan masalah jarak
garis,dan titik ke bidang). antartitik, titik ke garis, dan titik ke bidang pada
ruang.
2. Mengamati dan menerapkan konsep jarak
antartitik, titik ke garis, dan titik ke bidang untuk
menyelesaikan masalah pada dimensi tiga.
3. Mengonstruksi rumus jarak dua titik dan jarak titik
ke garis.

• Titik
Istilah Penting

• Garis
• Jarak
• Ruang
• Diagonal
• Bidang
Biogra£ Euclid
Euclid merupakan seorang
matematikawan yang hidup sekitar tahun 300
SM di Alexandria dan sering disebut sebagai
”Bapak Geometri”. Dialah yang
mengungkapkan bahwa:
1. titik adalah 0 dimensi,
2. garis adalah 1 dimensi yaitu garis itu
sendiri,
3. persegi dan bangun datar lainnya adalah
2 dimensi yaitu panjang dan lebar,
Sumber: The Britannica Guide 4. bangun ruang adalah 3 dimensi yaitu
to Geometry panjang lebar tinggi,
5. tidak ada bangun geometri 4 dimensi.
Dalam bukunya ”The Elements”, ia menyatakan 5 postulat yang menjadi
landasan dari semua teorema yang ditemukannya.
Postulat dan teorema yang beliau ungkapkan merupakan landasan teori
tentang kedudukan titik, garis, dan bidang dalam ruang yang hingga kini
masih digunakan dengan hampir tanpa perubahan yang prinsip. Euclid
menulis 13 jilid buku tentang geometri. Dalam buku-bukunya ia menyatakan
aksioma (pernyataan pernyataan sederhana) dan membangun dalil tentang
geometri berdasarkan aksioma-aksioma tersebut. Contoh dari aksioma Euclid
adalah, ”Ada satu dan hanya satu garis lurus, di mana garis lurus tersebut
melewati dua titik”. Buku-buku karangannya menjadi hasil karya penting dan
menjadi acuan dalam pembelajaran Ilmu Geometri. Bagi Euclid, matematika
itu penting sebagai bahan studi dan bukan sekedar alat untuk mencari nafkah.
Ketika ia memberi kuliah geometri pada seorang raja, Raja tersebut bertanya,
”Tidak adakah cara yang lebih mudah bagi saya untuk mengerti dalam
mempelajari geometri?”. Euclid menjawab, ”Bagi Raja tak ada jalan yang
mudah untuk mengerti geometri. Setiap orang harus berpikir ke depan tentang
dirinya apabila ia sedang belajar”.
Sumber: Hosch, W.L. 2011. The Britannica Guide to Geometry. New York: Britannica Educational Publishing
Beberapa hikmah yang mungkin bisa kita petik, adalah:
1. Ilmu bukanlah sekedar alat untuk mencari nafkah dalam memenuhi
kebutuhan hidup, tetapi untuk mencari nafkah seseorang harus mempunyai
ilmu.

2
Kelas XII
2. Jalan pintas bukanlah suatu hal yang baik untuk seseorang yang memang
benar-benar ingin belajar.

3
Matemati
[Link] Alur Konsep

Jarak Titik ke Titik

Prasyarat
untuk

DIMENSI TIGA mempelajari Jarak Titik ke Garis Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari
digunakan

Prasyarat
untuk Rumus
Pembantu

Jarak Titik ke Bidang


Teorema Pythagoras

4
Kelas XII
[Link] Pembelajaran

Memanfaatkan Atap Rumah Sebagai Ruangan


Saat ini banyak orang yang me-
manfaatkan atap rumah sebagai ruang
berkumpul atau ruang tidur.
Pemanfaatan atap sebagai ruangan
dilakukan mengin- gat keterbatasan
lahan yang dimiliki oleh pemilik
rumah. Untuk menghemat biaya
pembuatan rumah, salah satu aspek
yang harus diperhatikan adalah biaya
pembuat- an kuda-kuda rumah.
Penentuan Rincian Anggaran (RAB)
pembuatan kuda-kuda
Gambar 1.1: Ruangan Atap dapat ditentukan dengan matematika.
Sumber: [Link]
com/tag/attic/ Untuk mendapatkan rincian biaya
terse- but, salah satu konsep yang dapat
diguna-
kan adalah dimensi tiga. Konsep yang dimaksud jarak titik dengan titik atau
titik dengan garis.
Perhatikan Gambar 1.2 tentang kuda-kuda rumah. Dari gambar tersebut
dapat ditentukan biaya pembuatan kuda-kuda. Biaya ini tergantung dari
panjang keseluruhan kayu, jenis kayu dan dimensi kayu (panjang, lebar, dan
Kuda-kuda Kayu

5
Matemati
tinggi).
Gambar 1.2: Kuda-kuda suatu rumah
Sumber: [Link]

6
Kelas XII
Perhatikan bentuk-bentuk bangun ruang yang sering Anda jumpai dalam
kehidupan sehari-hari. Misalnya kamar tidur yang berbentuk balok, kotak
makanan yang berbentuk kubus, kaleng susu yang berbentuk tabung dan lain
sebagainya. Pernahkah Anda berpikir bahwa dalam bangun-bangun tersebut
terdapat beberapa istilah yang akan dibahas pada bab ini yaitu jarak
antartitik, jarak titik ke garis, dan jarak titik ke bidang. Agar Anda
memahami istilah tersebut, lakukan beberapa kegiatan berikut ini.

Gambar 1.3: Beberapa wadah berbentuk balok.

Subbab 1.1 Jarak Antar titik

Perhatikan bangun ruang berikut ini.


H G
R
E F

D C P Q
I

A B
(a) (b)
Bangun 1.1

Bangun 1.1.a merupakan kubus [Link] dengan panjang rusuk = 3


cm. EC, EG, dan AC, masing-masing merupakan jarak antara titik E dengan C,
titik E dengan G, serta titik A dengan titik C. Pada Bangun 1.1.b jarak antara
titik P dan Q adalah panjang ruas garis PQ. Untuk memahami konsep jarak
dua titik perhatikan aktivitas berikut.

7
Matemati
Masalah 1.1

Bangun 1.2 berikut merepresentasikan kota-kota yang terhubung dengan jalan.


Titik merepresentasikan kota dan ruas garis merepresentasikan jalan yang
menghubungkan kota.
D 23 km C

17 km
18 km
20 km
27 km
B
16 km
A
Bangun 1.2 Gambar Kota dan jalan yang menghubungkannya
Nasyitha berencana menuju kota C berangkat dari kota A. Tentukan rute
perjalanan yang mungkin ditempuh oleh Nasyitha. Tulis kemungkinan rute
yang ditempuh Nasyitha pada Tabel 1.1. Kemudian tentukan panjang rute-rute
tersebut. Rute manakah yang terpendek? Menurut pendapat Anda berapa jarak
antara kota A dan C? Beri alasan untuk jawaban Anda.

Tabel 1.1: Kemungkinan Rute yang ditempuh Nasyitha


No Kemungkinan Rute dari kota A ke kota C Panjang Lintasan
1.
2.
3.
4.
5.

8
Kelas XII
Dari masalah di atas, jarak antara Kota A dan C adalah 27 km.

Masalah 1.2
Perhatikan masalah berikut ini.

A B

G1 G2
Gambar 1.4 Jarak Dua Titik
ri G1 dan G2 dapat dilakukan pemasangan satu-satu antara titik-titik pada G1 dan G2. Jika AB adalah yang terpendek

Dari kegiatan mengamati di atas, tulislah istilah penting dari hasil


pengamatan Anda.

Dari kegiatan mengamati di atas, apakah terdapat hal-hal yang ingin


Anda tanyakan? Salah satu contoh pertanyaan yang mungkin Anda tanyakan
adalah ”Apa pengertian jarak antara dua titik?”
Tuliskan pertanyaan-pertanyaan tersebut ke tempat berikut ini.

7
Matematika
Untuk lebih memahami jarak antar titik, isilah tabel berikut ini. Anda
dapat menggunakan informasi dari sumber lain untuk menyelesaikan
pertanyaan pada Tabel 1.2.
Tabel 1.2 Jarak antar titik dalam bangun ruang
No. Bangun Ruang Pertanyaan Jawaban
1. H G a. Manakah yang
merupakan jarak antara
E F
titik F dan G?
b. Manakah yang
D C merupakan jarak antara
A B titik B dan D?
2. R a. Manakah
Q yang
O P merupakan jarak antara
titik P dan N?
N b. Manakah yang
M
merupakan jarak antara
K L
titik Q dan L?
3. H G a. Manakah yang
merupakan jarak antara
D titik E dan F?
E F C b. Manakah yang
merupakan jarak antara
titik B dan D?
A B
4. T a. Manakah yang
merupakan jarak antara
titik T dan D?
b. Manakah yang
D
C merupakan jarak antara
titik B dan D?
A B

8
Kelas XII
Masalah 1.3
Dalam suatu kamar berukuran 4m × 4m × 4m dipasang lampu tepat di- tengah-tengah atap. Kama

Alternatif Penyelesaian
Misal kamar tersebut digambarkan sebagai kubus [Link] dan
lampu dinyatakan dengan titik T seperti berikut.
H G
T

E F

D C

A B
Bangun 1.3 Kubus [Link] sebagai representasi kamar
Jarak lampu ke salah satu sudut lantai kamar adalah jarak titik T ke titik
A atau titik B atau titik C atau titik D. Titik T merupakan titik tengah bidang
EFGH, sehingga TA = TB = TC = TD. Akan dicari jarak titik T ke titik A.
Jarak titik T ke titik A salah satunya dapat dicari dari segitiga AET. Karena
AE tegak lurus dengan ET , maka segitiga AET merupakan segitiga siku-
siku yang siku-siku di E. Dengan menggunakan Teorema Pythagoras
diperoleh AT 2  AE2  ET 2.
Menentukan panjang ET .
1
Oleh karena T merupakan titik tengah, maka ET = EG. Karena EG merupakan

diagonal bidang, panjang ET 1 2


= . 2 2 2.
4 E T
AT 2  AE2  ET 2 2

 
AT  42  2 2 2
 24
A
 26

9
Matemati
Jadi jarak lampu ke salah satu sudut lantai adalah 26 m.

1
Kelas XII
Mengonstruksi Rumus Jarak Antar Titik
Radar (dalam bahasa inggris merupakan singkatan dari Radio Detection
and Ranging) adalah suatu sistem gelombang elektromagnetik yang berguna
untuk mendeteksi, mengukur jarak dan membuat peta benda-benda seperti
pesawat terbang, kapal laut, berbagai kendaraan bermotor dan informasi
cuaca. Radar dapat mendeteksi posisi suatu benda melalaui layar seperti

berikut.
Gambar 1.5: Tampilan Layar Radar
Sumber: [Link]

Titik dalam radar tersebut merepresentasikan objek yang dideteksi radar.


Titik pusat radar adalah lokasi sinyal radar dipancarkan. Untuk menentukan
jarak suatu benda, ternyata dapat digunakan rumus matematika. Bagaimana
cara menentukan jarak tersebut?
Misalnya pusat radar dinotasikan sebagai titik A (x1, y1) dan objek yang
terdeteksi dinotasikan sebagai titik B (x2 , y2 ) .
B (x2 , y2
)

A (x1, y1)
Gambar 1.6: Dua titik A dan B

1
Matemati
Bagaimana menentukan rumus umum untuk menentukan jarak kedua titik
tersebut?
Perhatikan Gambar 1.7, Dua titik dihubungkan dengan ruas garis, kemudian
dibuat segitiga siku-siku seperti berikut.
B (x2 , y2 )

A (x1, y1) C
Gambar 1.7: Segitiga siku-siku ACB.

Tentukan panjang BC dan AC. Dengan menggunakan teorema Pythagoras,


hitunglah panjang AB.

Dari kegiatan yang telah Anda lakukan di atas, buatlah simpulan tentang
jarak antara dua titik dan bagaimana menentukannya. Tukarkan simpulan
tersebut dengan teman sebangku/kelompok lainnya. Secara santun, silahkan
saling berkomentar, menanggapi komentar, memberikan usul dan
menyepakati ide-ide yang paling tepat. Tulis simpulan pada tempat berikut.

1
Kelas XII
Soal Latihan 1.1
Jawablah soal berikut disertai dengan langkah pengerjaannya!
1. Diketahui limas beraturan [Link] dengan bidang alas berbentuk segitiga
sama sisi. TA tegak lurus dengan bidang alas. Jika panjang AB = 42 cm
dan TA = 4 cm, tentukan jarak antara titik T dan C!
2. Perhatikan limas segi enam beraturan berikut.
T

F E

A D

B C
Diketahui panjang AB = 10 cm dan TA = 13 cm. Titik O merupakan titik
tengah garis BE. Tentukan jarak antara titik T dan O!
3. Perhatikan bangun berikut ini.
H G

F
E
D

A B
Jika diketahui panjang AB = 5 cm, AE = BC = EF = 4 cm, maka tentukan:
a. Jarak antara titik A dan C
b. Jarak antara titik E dan C
c. Jarak antara titik A dan G

1
Kelas XII
Subbab 1.2 Jarak Titik ke Garis

Amati dengan cermat informasi pada tabel berikut. Tabel 1.3 menyajikan
informasi tentang jarak titik ke garis pada ruang dimensi tiga.
Tabel 1.3 Jarak titik ke garis pada bangun ruang.
No. Bangun Ruang Keterangan
1. H G Dari gambar di samping, panjang ruas
garis EA adalah jarak antara titik E
E F dengan ruas garis AB.
D C Panjang ruas garis BC merupakan jarak
A B antara titik C dengan ruas garis AB.
2. R Q Dari gambar di samping, panjang ruas
O P garis OR merupakan jarak antara titik R
dengan ruas garis OP.
N M
K L
3. H G Dari gambar di samping, panjang ruas
garis DC merupakan jarak antara titik D
D dengan ruas garis BC.
E F C
Panjang ruas garis AE merupakan jarak
antara titik A dengan ruas garis EF.
A B

Dari kegiatan mengamati di atas, tulislah istilah penting dari hasil


pengamatan Anda.

1
Matemati
Dari kegiatan mengamati di atas, apakah terdapat hal-hal yang ingin
Anda tanyakan? Tuliskan pertanyaan-pertanyaan tersebut ke tempat berikut
ini.

Masalah 1.4

Tiga paku ditancapkan pada papan sehingga menjadi titik sudut segitiga siku-
siku (lihat Gambar 1.8.a). Seutas tali diikatkan pada dua paku yang ditancapkan
(lihat Gambar 1.8.b). Misal paku-paku tersebut digambarkan sebagai titik A, B,
dan C seperti Gambar 1.8.c dengan AC = 6 cm, BC = 8 cm, dan AB = 10 cm.

Gambar 1.8: a Gambar 1.8: b Gambar 1.8: c


Gambar 1.8: Ilustrasi paku yang ditancapkan di papan
Melalui eksperimen kecil, tentukan panjang tali minimal yang meng-
hubungkan paku C (titik C) dengan tali yang terpasang pada paku A dan paku B
(ruas garis AB). Apa syarat yang harus dipenuhi agar mendapat- kan panjang
tali minimal? Beri alasan untuk jawaban Anda.

1
Kelas XII
Masalah 1.5

Diberikan kubus [Link] sebagai berikut. Jika panjang rusuk kubus adalah 2 cm, berapak

H G

E F

D C

A B

Alternatif Penyelesaian
Jika titik E dan B dihubungkan dengan ruas garis, maka diperoleh,
E

A B
1
Jarak titik A ke EB adalah panjang ruas garis AI dengan BI = BE, mengapa?
2

Dengan menggunakan teorema Pythagoras diperoleh AI  AB2  BI 2 .

EB  1 1
AE2  AB2  22  22  22 ,sehingga BI  BE  .22  2 .
2 2

AI  AB2  BI 2
 22  2  22

Jadi jarak titik A ke diagonal bidang EB adalah 2 cm.

1
Matemati
Masalah 1.6
Diberikan segitiga siku-siku ABC seperti berikut. Misal AB = c, BC = a, AC
= b dan CD = d. Garis CD merupakan garis tinggi. Bagaimana menentu- kan d, apabila a, b, dan c
A

C B

Alternatif Penyelesaian
Perhatikan segitiga siku-siku ABC.
1 1 1 1
Luas  ABC = BCAC = ab. Selain itu Luas  ABC = [Link] = cd.
2 2 2 2
Sehingga diperoleh Luas ABC = Luas ABC
1 1
ab = cd
2 2
ab = cd
ab
d= c

Dari kegiatan yang telah Anda lakukan di atas, buatlah simpulan tentang
jarak titik ke garis dan bagaimana menentukannya. Tukarkan simpulan
tersebut dengan teman sebangku/kelompok lainnya. Secara santun, silahkan
saling berkomentar, menanggapi komentar, memberikan usul dan
menyepakati ide- ide yang paling tepat. Tulis simpulan pada tempat berikut.

1
Kelas XII
Soal Latihan 1.2
Jawablah soal berikut disertai dengan langkah pengerjaannya!
1. Diketahui limas beraturan [Link], panjang rusuk AB = 3 cm dan TA =
6 cm. Tentukan jarak titik B dan rusuk TD.
2. Diketahui limas segi enam beraturan [Link] dengan panjang rusuk
AB = 10 cm dan AT =13 cm.
Tentukan jarak antara titik B dan rusuk TE.
3. Diketahui kubus [Link] dengan panjang AB = 10 cm. Tentukan:
a. jarak titik F ke garis AC
b. jarak titik H ke garis DF
4. Diketahui kubus [Link] dengan rusuk 8 cm. Titik M adalah titik
tengah BC. Tentukan jarak M ke EG.
5. Perhatikan limas segi empat beraturan berikut.
T

D
Q C

A P B
Titik P dan Q berturut-turut adalah titik tengah rusuk AB dan AD. Jika
panjang AB = TA = 12 cm, tentukan jarak antara titik T dan garis PQ!

1
Matemati
Subbab 1.3 Jarak Titik ke Bidang

Untuk lebih memahami tentang jarak titik ke bidang amatilah tabel berikut.
Tabel 1.4 Jarak titik ke bidang
No. Bangun Ruang Keterangan
1. Panjang ruas garis BC merupakan jarak
H G antara titik B dengan bidang DCGH.
E F
Panjang ruas garis CD merupakan jarak
antara titik C dengan bidang ADHE.
D C
A B

2. Panjang ruas garis KN merupakan jarak


R Q antara titik K dengan bidang MNRQ.
O P
Panjang ruas garis OP merupakan
N M
jarak antara titik O dengan bidang
K L LMQP.

3. Panjang ruas garis HE merupakan jarak


H G antara titik H dengan bidang ABFE.

D Panjang ruas garis CG merupakan jarak


E F C antara titik C dengan bidang EFGH.

A B

1
Kelas XII
Masalah 1.7
Tiang penyangga dibuat untuk menyangga atap suatu gedung. Tiang pe- nyangga ini menghubu

Gambar 1.9: Tiang Penyangga Atap Bangunan


Sumber: Tampilan-Fasad/Tiang-Penyangga-Atap

Pada Gambar 1.9 Apabila dibuat gambar tampak samping diperoleh


gambar seperti berikut.

Atap

Kay u P enyangga

Gambar 1.10: Tampak Samping Tiang Penyangga Atap Bangunan

1
Matemati
Dari Gambar 1.10, cermati gambar kayu penyangga dan atap. Dapatkah
Anda menentukan kondisi atau syarat agar panjang kayu penyangga
seminimal mungkin?
Dari kegiatan mengamati di atas, tulislah istilah penting dari hasil
pengamatan Anda.

Dari kegiatan mengamati di atas, apakah terdapat hal-hal yang ingin


Anda tanyakan? Tuliskan pertanyaan-pertanyaan tersebut ke tempat berikut
ini.

2
Kelas XII
Masalah 1.8

Diberikan kubus [Link] dengan


panjang rusuk 4 cm. Titik A, F, G, dan
D dihubungkan sehingga terbentuk
bidang AFGD seperti gambar di
samping. Berapakah jarak titik B ke
bidang AFGD?

Gambar 1.11: Bidang AFGD pada


Kubus [Link]

Alternatif Penyelesaian
Untuk menentukan jarak titik B ke bidang AFGD dapat ditentukan dengan
mencari panjang ruas garis yang tegak lurus dengan bidang AFGD dan melalui

titik B.
BT tegak lurus dengan bidang AFGD, sehingga jarak titik B ke bidang
AFGD adalah panjang ruas garis BT . Titik T adalah titik tengah diagonal
bidang AF 2 2
(mengapa?). Panjang AF adalah cm, sehingga panjang AT adalah cm.
4 2
Karena BT tegak lurus bidang AFGD, maka segitiga ATB adalah segitiga
siku-siku. Sehingga: TB  AB2  AT 2  42  2 2   22
2

2 2 cm.
2
Matemati
Jadi jarak titik B ke bidang AFGD adalah

2
Kelas XII
Masalah 1.9
Masalah 1.9 serupa dengan Masalah 1.8. Pada Masalah 1.9 siswa diberi limas [Link] dengan ala
Diberikan limas [Link] dengan alas persegi. Titik O adalah perpotongan diagonal AC dan BD. Ji
= 3 6 cm dan tinggi limas 6 cm, berapakah jarak antara titik O dengan

bidang TBC?
T

C
D
O
B
A

Gambar 1.12: Limas [Link]

Alternatif Penyelesaian
Perhatikan Gambar 1.13 berikut ini.
T

CQ
D P
O
B
A

Gambar 1.13: Jarak titik O ke bidang TBC.

2
Matemati
Untuk menentukan jarak titik O ke bidang TBC, dibuat ruas garis OP dengan
1
O sejajar AB, OP = AB = 3 cm dan TO = 6 cm. Misal titik Q terletak
pada
2
bidang TBC, titik Q terletak pada TP dengan TP terletak pada bidang TBC
dan OQ tegak lurus TP . Jarak titik O ke bidang TBC adalah panjang ruas
OP TO
garis TP dengan OQ = (darimana?)
T
Oleh karena TP = TO2  OP2    , maka:
3
62  32 45 5
OQ
= OPTO 36 6
TP  3 5  5 5
6
Jadi, jarak titik O ke bidang TBC adalah cm.

5
5

Dari kegiatan yang telah Anda lakukan di atas, buatlah simpulan tentang
jarak titik ke bidang dan bagaimana menentukannya. Tukarkan simpulan
tersebut dengan teman sebangku/kelompok lainnya. Secara santun, silahkan
saling berkomentar, menanggapi komentar, memberikan usul dan
menyepakati ide- ide yang paling tepat. Tulis simpulan pada tempat berikut.

2
Kelas XII
Soal Latihan 1.3
Jawablah soal berikut disertai dengan langkah pengerjaannya!
1. Diketahui kubus [Link] yang panjang rusuknya a cm. Titik Q
adalah titik tengah rusuk BF. Tentukan jarak titik H ke bidang ACQ.
2. Suatu kepanitiaan membuat papan nama dari kertas yang membentuk
bangun seperti berikut.
F

E
D C

A B
Ternyata ABE membentuk segitiga sama sisi, panjang BF = 13 cm dan
BC = 12 cm. Tentukan jarak antara titik A dan bidang BCFE!
3. Dari gambar di bawah, jika diketahui panjang AB = 8 cm, BC = 6 cm
dan EC = 5√5 cm, tentukan jarak antara titik B dan bidang ACE.
H G

E
F

D C

A B
4. Diketahui limas segitiga beraturan [Link] . Panjang AB = 6 cm dan TA =
8 cm. Tentukan jarak antara titik T dengan bidang ABC.
5. Diketahui luas permukaan kubus [Link] adalah 294 cm2. Tentukan:
a. Jarak antara titik F ke bidang ADHE.
b. Jarak antara titik B ke bidang ACH.

2
Matemati
Uji Kompetensi

Jawablah pertanyaan berikut disertai dengan langkah pengerjaannya!


1. Perhatikan gambar berikut.
A 32 m B P P
17 m 19 m
C
29 m 23 m
37 m
25 m

R
37 m D Q
K P1
28 m P1 P3 P2 g

P2
E (a) (b) (c)

a. Dari Gambar (a), tentukan jarak dari titik A ke D.


b. Dari Gambar (b), tentukan jarak titik P terhadap garis g.
c. Dari Gambar (c), tentukan jarak titik P pada bidang-K.
2. Diketahui kubus [Link] dengan panjang rusuk 9 cm. Buat
ilustrasi kubus tersebut. Tentukan langkah menentukan jarak titik F ke
bidang BEG. Kemudian hitunglah jarak titik F ke bidang BEG.
3. Diketahui kubus [Link] dengan panjang rusuk a. Jika titik P
terletak pada perpanjangan AB sehingga PB = 2a, dan titik Q pada
perpanjangan FG sehingga QG = a.
a. Buatlah ilustrasi dari masalah di atas.
b. Tentukan PQ.
4. Panjang setiap bidang empat beraturan [Link] sama dengan 16 cm. Jika
P pertengahan AT dan Q pertengahan BC, tentukan PQ.
5. Perhatikan gambar kubus [Link]. Tentukan jarak titik H ke DF.
H G

E F

D
C

A 6 cm B

2
Kelas XII
6. Dalam kubus [Link] titik S adalah titik tengah sisi CD dan P
adalah titik tengah diagonal ruang BH. Tentukan perbandingan volum
limas [Link] dan volum kubus [Link].
7. Diketahui kubus [Link] dengan panjang rusuk a cm. S
merupakan proyeksi titik C pada bidang [Link] jarak titik A ke
titik S.
8. Diketahui kubus [Link] dengan panjang rusuk cm. P dan Q
masing- masing merupakan titik tengah AB dan CD, sedangkan R
merupakan titik potong EG dan FH. Tentukan jarak titik R ke bidang
EPQH.
9. Diketahui kubus [Link] dengan rusuk 4 cm. P titik tengah EH.
Tentukan jarak titik P ke garis CF.
10. Panjang rusuk kubus [Link] adalah 6 cm. Tentukan jarak titik C
dengan bidang BDG.

2
Matemati
BAB

2
Statistika
A. Kompetensi Dasar dan Pengalaman Belajar

Kompetensi Dasar Pengalaman Belajar

3.2 Menentukan dan menganalisis ukuran pemusatan Melalui pembelajaran pengolahan dan penyajian data
dan penyebaran data yang disajikan dalam bentuk berkelompok, siswa memperoleh pengalaman belajar:
tabel distribusi frekuensi dan histogram. 1. Mengolah data mentah dan memaknai hasil
4.2 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan yang diperoleh.
penyajian data hasil pengukuran dan pencacahan 2. Memaknai grafik dari suatu data yang berupa
dalam tabel distribusi frekuensi dan histogram. histogram, poligon frekuensi, dan ogive.
3. Mengantisipasi kesalahan pengambilan ke-
simpulan dalam memaknai suatu grafik.

1. Distribusi Frekuensi 6. Median


Istilah Penting

2. Histogram 7. Modus
3. Ogive 8. Simpangan Rata-rata
4. Poligon frekuensi 9. Simpangan Baku
5. Rata-rata 10. Ragam

2
Kelas XII
Biogra£ Ronald A. Fisher
Ronald Aylmer Fisher lahir di London pada tanggal
17 Februari 1890. Fisher merupakan tokoh statistika
yang menemukan banyak konsep baru dalam statistika,
di antaranya adalah konsep “likelihood”, distribusi, dan
variansi.
Pada saat usia Fisher masih 14 tahun, ibunya
meninggal karena sakit. Namun hal ini tidak
mematahkan semangatnya dalam belajar. Dia
memenangkan medali dalam kompetisi essay
matematika yang diadakan sekolahnya dua tahun
kemudian. Kejuaraan ini yang
membawanya mendapatkan beasiswa ke Cambridge University untuk belajar
matematika dan astronomi.
Selain untuk belajar dua bidang tersebut, Fisher juga tertarik dalam
biologi, khususnya bidang genetika. Kemudian dia menggabungkan ilmu
statistika dan genetika dan menjadi peneliti dalam dalam bidang genetika
yang dianalisa menggunakan ilmu statistika.
Ketika terjadi peperangan di Inggris pada tahun 1914, Fisher ingin
mendaftarkan dirinya ke dalam militer. Tes kesehatan yang dilaluinya untuk
masuk militer memperlihatkan hasil yang bagus kecuali untuk
penglihatannya dan akhirnya Fisher ditolak untuk masuk militer. Hal ini
yang kemudian membawanya untuk menjadi guru matematika dan fisika di
beberapa sekolah dan akhirnya menjadi peneliti terkenal dalam bidang
statistika dan genetika.
Sumber: [Link]

Hikmah yang dapat diambil:


Kekurangan fisik tidak mematahkan semangat untuk terus tetap berkarya dalam bidang yang d
Kegagalan dalam suatu bidang bukan berarti kegagalan dalam bidang lainnya. Kegagalan mer

2
Kelas XII
[Link] Alur Konsep

Da

Penyajian Pemusatan Data Penyebaran Data

Rata-Rata (Mean) Simpangan


Rata-rata

Grafik Nilai Tengah


Tabel Simpangan Baku
(Median)
Distribusi

Modus Ragam

Histogram

Poligon Frekuensi

Ogive

2
Matemati
[Link] Pembelajaran

Laju Pertumbuhan Penduduk Indonesia

Sumber: [Link]
Gambar 2.1. Sebagian penduduk Indonesia

Sejak kemerdekaan Republik Indonesia, jumlah penduduk Indonesia


telah meningkat tiga kali lipat dari 73,3 juta jiwa pada 1945 menjadi 255,5
juta jiwa pada tahun 2015. Hal ini menempatkan Indonesia pada posisi
negara keempat di dunia dengan penduduk terbanyak setelah Tiongkok (1,4
miliar jiwa), India (1,3 miliar jiwa), dan Amerika Serikat (325 juta jiwa).

3
Kelas XII
Jumlah penduduk Indonesia mulai tahun 1945 sampai tahun 2015
ditampilkan pada tabel di bawah ini.
Juta Jiwa
300
255,5
250 268,5
205,8
200 179,4
147,5
150
119,2
97,1
100
73,377,2

50

0
194519501961197119801990200020102015 Tahun
Sumber: BPS

Gambar 2.2. Jumlah peduduk Indonesia 1945 -


2015
Ditinjau dari laju pertumbuhan penduduk, diagram di bawah ini
memperlihatkan bahwa laju pertumbuhan penduduk Indonesia bervariasi.
Mulai tahun 1945 sampai tahun 1980, laju pertumbuhan penduduk naik
secara signifikan. Kemudian laju pertumbuhan penduduk mengalami
penurunan sampai pada tahun 2000 dan diikuti kenaikan lagi pada 10 tahun
berikutnya.
Persen

3,0

2,5
2,30
2,10 2,10 2,00
2,0

1,44 1,49
1,5 1,38
1,00
1,0

0,5

0,0 Periode

Sumber: BPS
Gambar 2.3. Laju pertumbuhan penduduk 1945 - 2015

3
Matemati
Dengan menganalisa data tersebut dengan ilmu statistika, jumlah
penduduk Indonesia pada 47 tahun ke depan dapat diprediksi berlipat ganda.
Tentu hal ini membutuhkan upaya yang serius dari pemerintah untuk
mengendalikan tingkat kelahiran sehingga menekan laju pertumbuhan
penduduk pada kurun waktu 2010-2015. Namun demikian, pemerintah
masih perlu memperhatikan faktor-faktor lain yang memengaruhi
pertumbuhan penduduk dengan menganalisa data-data pendukung dengan
ilmu statistika. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ilmu statistika dapat
digunakan sebagai alat bantu pembuat kebijakan baik tingkat daerah maupun
tingkat pusat pemerintahan.

Subbab 2.1 Penyajian Data


Kegiatan 2.1.1 Distribusi Frekuensi
Ketika seseorang peneliti ingin mengetahui kondisi suatu hal tidak
jarang peneliti harus mengumpulkan data terlebih dahulu. Sebagai contoh,
seorang peneliti ingin mengetahui kondisi jumlah penduduk Indonesia
selama 20 tahun sebelumnya. Dengan demikian peneliti dapat
mengumpulkan data jumlah penduduk Indonesia setiap tahunnya kemudian
dapat mendiskripsikan, mendapatkan informasi yang berguna mengenai
jumlah penduduk, dan bahkan dapat memprediksi keadaan jumlah penduduk
Indonesia di tahun-tahun mendatang.
Jika seorang peneliti akan mengumpulkan data mengenai usia seluruh
siswa SMA kelas XII di kabupaten Malang. Jika data yang dikumpulkan
meliputi seluruh siswa sekabupaten Malang, maka data keseluruhan tersebut
disebut populasi. Di lain pihak, ketika peneliti hanya mengumpulkan data
dari beberapa SMA terpilih yang mewakili semua SMA di kabupaten
Malang, maka data yang diperoleh merupakan data dengan nilai perkiraan
sedangkan siswa SMA yang mewakili tersebut disebut dengan sampel.
Pada jenjang sebelumnya Anda sudah mempelajari tentang pengolahan
data dan penyajiannya yang melibatkan jumlah data yang kecil. Bagaimana
jika data yang diolah dalam jumlah besar? Jika terdapat sekelompok data
yang lebih dari 30 data disajikan dengan diagram batang, bagaimana kira-
kira diagram batang yang didapatkan? Pada bab ini kita berhadapan dengan
data yang berukuran besar (minimal 30 data). Kita akan mempelajari
bagaimana mengolah dan menyajikan data berukuran besar dengan lebih
efisien dan bermakna.

3
Kelas XII
Salah satu cara pengorganisasian data yang dapat digunakan untuk
mempermudah penarikan kesimpulan adalah menyajikan data mentah ke
dalam distribusi frekuensi dan memvisualisasikan ke dalam bentuk grafik.
Pada bagian ini akan dipaparkan mengenai pengolahan data ke dalam
distribusi frekuensi untuk mendapatkan informasi yang berguna tentang data
tersebut.

Contoh Soal 2.1

Seorang peneliti melakukan survey terhadap 80 pengusaha dalam


suatu pertemuan mengenai pada usia berapa mereka berani untuk memulai
usahanya. Hasil survei tersebut diberikan di bawah ini. Data disajikan dalam
satuan tahun.

18 24 19 28 30 19 35 40 23 21
26 34 27 40 38 30 21 24 22 18
32 17 18 21 26 33 35 20 28 27
26 34 31 37 40 17 18 18 20 33
16 20 18 36 35 24 39 19 31 31
26 28 19 35 31 31 28 21 23 26
20 24 24 29 30 30 26 29 28 20
19 28 30 32 38 40 25 25 31 21

Dengan mengolah data ke dalam distribusi frekuensi, peneliti dapat


menyimpulkan bahwa pengusaha yang memulai usahanya paling muda
adalah 16 tahun dan yang paling tua adalah 40 tahun. Hampir setengah dari
kumpulan pengusaha tersebut yang memulai usahanya di usia 20-an.
Kebanyakan pengusaha memulai usahanya pada usia 26 – 30 tahun
sedangkan paling sedikit pada usia 36 – 40 tahun.

3
Matemati
Contoh Soal
Nilai ujian akhir mata pelajaran Matematika siswa kelas XII SMA“BINTANG”
dapat dilihat di bawah ini.

85 67 58 75 90 44 100 78 95 64 86
51 69 76 60 90 85 86 94 60 70 70
78 80 80 100 65 76 92 74 68 59 85
90 58 64 78 65 85 75 78 82 84 95

Informasi yang dapat diambil dari data tersebut diantaranya adalah


50% siswa dalam kelas tersebut mendapatkan nilai pada rentangan 71 – 90.
Hanya ada 1 siswa yang mendapatkan nilai antara 41 – 50, sedangkan 6
siswa mendapatkan nilai istimewa, yaitu di atas 90.
Contoh Soal 2.3

Posyandu ”Mawar” mendata berat badan balita yang datang di pertemuan


rutin pada bulan Oktober. Data berat badan (dalam kg) balita yang datang
diberikan di bawah ini.

5,2 6,1 7,8 10,5 3,8 5,6 7,3 8 10,7 4,8


6,9 5,4 9,6 8,9 12,4 11,5 10,8 6,7 7,9 8,2
9,7 5,8 6,7 8,1 6,1 7 9,5 10,2 12 10

Data tersebut mengungkapkan bahwa kebanyakan balita yang datang


pada posyandu tersebut mempunyai berat badan 5,4 – 11 kg. Terdapat hanya
3 balita dengan berat di bawah 5,4 kg dan hanya 3 balita dengan berat badan
di atas 10,5 kg.
Berdasarkan hasil pengamatan ketiga contoh yang diberikan di atas,
tulislah informasi-informasi atau istilah penting yang dapat Anda peroleh
pada kotak yang disediakan berikut.

3
Kelas XII
Setelah mengamati ketiga contoh di atas, buatlah minimal 3 pertanyaan
mengenai data dan penarikan kesimpulan yang dilakukan pada ketiga contoh
tersebut. Tuliskan pertanyaan Anda pada kotak yang sudah disediakan di
bawah ini.

Berikut merupakan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin Anda ajukan


sebelumnya.
1. Bagaimana mendeskripsikan data yang diperoleh?
2. Bagaimana mengolah data agar mendapat deskripsi data yang tepat?
3. Bagaimana membuat distribusi frekuensi dari data mentah?
4. Bagaimana mendapatkan informasi tentang data melalui distribusi
frekuensi?

Dengan diskusi kelompok, Anda dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan


secara bersama-sama untuk memahami lebih lanjut bagaimana memaknai
suatu data melalui distribusi frekuensi. Anda juga dapat membaca atau
mencari informasi dari berbagai sumber lain berupa buku teks atau sumber
di internet untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah Anda
dapatkan.
Berikut diberikan contoh-contoh untuk menggambarkan pengolahan data
dari data tunggal menjadi data berkelompok dengan distribusi frekuensi.

3
Matemati
Contoh Soal
Perhatikan data yang diberikan pada Contoh 2.1 sebelumnya. Jika data 80
usia pengusaha memulai usahanya dibagi menjadi 5 kelompok/kelas maka
akan didapatkan distribusi frekuensi seperti di bawah ini.
Kelas Batas Kelas Frekuensi
16 – 20 15,5 – 20,5 19
21 – 25 20,5 – 25,5 15
26 – 30 25,5 – 30,5 21
31 – 35 30,5 – 35,5 16
36 – 40 35,5 – 40,5 9
Tabel 2.1. Distribusi frekuensi usia pengusaha

Informasi-informasi mengenai data usia pengusaha dapat diperoleh


dengan lebih mudah dengan distribusi frekuensi daripada hanya melihat data
mentah sebelumnya.
Contoh Soal 2.5

Data nilai ujian akhir matematika yang disajikan pada Contoh 2.2 dapat
dikelompokkan menjadi beberapa kelompok data. Jika dikelompokkan
menjadi 6 kelas, maka distribusi frekuensi yang didapatkan adalah sebagai
berikut.
Kelas Batas Kelas Frekuensi
41 – 50 40,5 – 50,5 1
51 – 60 50,5 – 60,5 6
61 – 70 60,5 – 70,5 9
71 – 80 70,5 – 80,5 11
81 – 90 80,5 – 90,5 11
91 – 100 90,5 – 100,5 6

Tabel 2.2. Distribusi frekuensi nilai ujian matematika

3
Kelas XII
Jika Anda perhatikan, deskripsi data nilai ujian akhir matematika yang
dipaparkan pada Contoh 2.2 merupakan interpretasi dari distribusi frekuensi
di atas.
Contoh Soal 2.6
Di lain pihak, jika data berat badan balita pada suatu posyandu pada Contoh
2.3 dikelompokkan menjadi 5 kelas maka akan didapatkan distribusi
frekuensi berikut ini.
Kelas Batas Kelas Frekuensi
3,5 – 5,3 3,45 – 5,35 3
5,4 – 7,2 5,35 – 7,25 9
7,3 – 9,1 7,25 – 9,15 7
9,2 – 11 9,15 – 11,05 8
11,1 – 12,9 11.05 – 12,95 3
Tabel 2.3. Distribusi frekuensi berat badan balita

Berdasarkan distribusi frekuensi yang diperoleh, didapatkan informasi


bahwa kebanyakan balita yang datang di posyandu tersebut mempunyai
berat badan 5,4 – 7,2 kg. Hal ini sesuai dengan informasi yang dipaparkan
pada Contoh 2.3.
Coba Anda beri perhatian khusus mengenai banyak kelas, rentangan tiap
kelas, batas kelas, dan frekuensi tiap kelasnya. Mungkin pertanyaan
selanjutnya yang muncul di benak Anda adalah bagaimana mendapatkan
frekuensi tiap kelas.
Untuk mengetahui bagaimana mendapatkan frekuensi pada distribusi
frekuensi, coba Anda tentukan banyaknya data pada tiap kelas berikut ini.
Perhatikan data usia pengusaha yang disajikan pada Contoh 2.1. Jika
data tersebut dikelompokkan menjadi 7 kelompok, maka distribusi frekuensi
yang diperoleh adalah sebagai berikut. Lengkapi kolom batas kelas dan
frekuensi berdasarkan data usia pengusaha pada Contoh 2.1.

3
Matemati
Kelas Batas Kelas Frekuensi
16 – 19
20 – 23
24 – 27
28 – 31
32 – 35
36 – 39
40 – 43
Tabel 2.4. Distribusi Frekuensi usia pengusaha dengan 7 kelas

Dengan distribusi frekuensi yang diperoleh di atas, coba berikan


beberapa pernyataan mengenai informasi apa saja yang dapat Anda
simpulkan dari pengelompokan tersebut.
Pada kolom kelas pada Tabel 2.4, kelas pertama dimulai dengan 16
sampai dengan 19. Kemudian kelas berikutnya dimulai dengan satu lebihnya
dari 19, yaitu 20. Tetapi bagaimana jika pembagian kelas atau kelompok
data usia pengusaha pada Contoh 2.1 seperti pada Tabel 2.5 berikut ini?
Coba lengkapi kolom batas kelas dan kolom frekuensi pada distribusi
frekuensi di berikut ini.

Kelas Batas Kelas Frekuensi


16 – 19
19 – 22
22 – 25
25 – 28
28 – 31
31 – 34
34 – 37
37 – 40
Tabel 2.5. Distribusi frekuensi usia pengusaha

3
Kelas XII
Setelah mengisikan kolom batas kelas dan frekuensi, jawablah
pertanyaan- pertanyaan berikut ini.
1. Apa yang terjadi pada kolom batas kelas?
2. Apa yang terjadi pada saat pengisian kolom frekuensi?
3. Apa yang dapat Anda simpulkan mengenai batas atas dan batas bawah
kelas dalam hubungannya dengan frekuensi?

Selanjutnya perhatikan Tabel 2.4 distribusi frekuensi untuk data usia


pengusaha dengan 7 kelas, panjang (rentangan) setiap kelas sama yaitu 4.
Perhatikan bahwa 4 merupakan selisih batas atas kelas dengan batas bawah
kelas yang sama. Sebagai contoh, 4 = 19,5 – 15,5 = 23,5 – 19,5. Pertanyaan
selanjutnya yang mungkin timbul, mengapa 4 yang digunakan sebagai
panjang kelas?
Panjang kelas yang dibutuhkan sangat berhubungan erat dengan nilai
maksimum, nilai minimum, dan banyak kelas yang diinginkan dalam
distribusi frekuensi. Coba Anda perhatikan kembali data usia 80 pengusaha
yang diberikan sebelumnya. Jika Anda amati, berapa selisih nilai maksimum
dan nilai minimum pada data tersebut? Jika peneliti ingin mengelompokkan
data menjadi 7 kelompok/kelas, maka berapa panjang (rentangan) kelas yang
dibutuhkan agar menjadi 7 kelas dengan panjang kelas yang sama? Dengan
pembulatan, Anda akan mendapatkan panjang kelas yang dibutuhkan.
Berdasarkan kegiatan-kegiatan sebelumnya, buatlah kesimpulan
sementara tentang langkah-langkah pembuatan tabel distribusi frekuensi dan
kegunaannya. Gunakan kesimpulan tersebut untuk membuat tabel distribusi
frekuensi dari data berikut dengan banyak kelas sesuai yang Anda inginkan
kemudian ceritakan atau maknai distribusi frekuensi yang diperoleh.

3
Matemati
Contoh Soal 2.7

Suhu Udara Kota Jakarta


Berdasarkan data BMKG, suhu udara tertinggi kota Jakarta dalam derajat
Celcius pada bulan September 2015 diberikan di bawah ini:

33,6 34,0 34,6 33,9 33,4 33,0 32,4 33,2 34,4 35,0
34,2 35,2 35,5 35,6 35,2 34,2 35,0 35,4 35,4 35,0
35,3 35,2 35,6 36,2 37,0 34,4 34,6 33,0 35,0 35,2
Sumber: [Link]

Tuliskan distribusi frekuensi yang diperoleh dan maknanya pada kotak


yang disediakan berikut ini.

Diskusikan dengan teman sebangku Anda mengenai kesimpulan


sementara tentang pembuatan distribusi frekuensi, hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam pembuatan distribusi frekuensi dan pemaknaannya.
Jangan lupa untuk mendiskusikan juga Contoh 2.7 untuk memperjelas
pemahaman Anda tentang distribusi frekuensi. Selanjutnya lakukan diskusi
kelas untuk mendapatkan kesimpulan kelas dengan bimbingan dari guru
Anda. Tuliskan secara individu kesimpulan yang diperoleh pada kotak yang
disediakan.

4
Kelas XII
Kegiatan 2.1.2 Histogram, Poligon Frekuensi, dan Ogive
Setelah mengelompokkan data ke dalam beberapa kelas menjadi
distribusi frekuensi, Anda dapat menyajikan data berkelompok tersebut
dalam bentuk grafik. Penyajian dalam bentuk grafik ini bertujuan untuk
menyampaikan data kepada pembaca dalam bentuk gambar. Bagi
kebanyakan orang, melihat informasi yang disajikan dari gambar lebih
mudah daripada melihat dari dari kumpulan bilangan-bilangan pada tabel
atau distribusi frekuensi. Hal ini juga berlaku bahkan untuk orang-orang
yang tidak punya pengetahuan sebelumnya tentang statistika.
Grafik-grafikyangmenyajikansuatudatadigunakanuntukmendeskripsikan
suatu data dengan lebih mudah dan untuk menganalisis lebih lanjut.
Penyajian data berupa grafik tentu akan lebih menarik perhatian pembaca
atau peserta suatu presentasi. Selain mempermudah memaknai suatu data,
grafik juga digunakan untuk melihat perilaku (behaviour) atau tren dari data
tersebut.
Terdapat tiga macam grafik yang biasanya digunakan untuk mem-
presentasikan data berkelompok, yaitu:
1. Histogram;
2. Poligon frekuensi;
3. Ogive/grafik frekuensi kumulatif.
Pada bagian ini akan dibahas mengenai penyajian data berkelompok ke
dalam bentuk ketiga grafik di atas.

Pada bagian ini diberikan beberapa contoh distribusi frekuensi yang


disajikan dalam grafik berupa histogram, poligon frekuensi, dan ogive. Coba
Anda amati dalam penyajian grafik tersebut apa saja yang dibutuhkan untuk
menggambar ketiga grafik tersebut.

Contoh Soal 2.8

Distribusi frekuensi pada Tabel 2.1 menyajikan data berkelompok usia


pengusaha dalam memulai usahanya. Distribusi frekuensi tersebut disajikan
dibawah ini.

4
Matemati
Kelas Batas Kelas Frekuensi

16 – 19 15,5 – 20,5 19

21 – 25 20,5 – 25,5 15

26 – 30 25,5 – 30,5 21

31 – 35 30,5 – 35,5 16

36 – 40 35,5 – 40,5 9

Di bawah ini merupakan grafik-grafik yang merepresentasikan distribusi


frekuensi tersebut.
a. Histogram

Usia Pengusaha Memulai Usaha


21
20 19

16
15
15
Frekue

10 9

0
15,5 18,0 20,5 23,0 25,5 28,0 30,5 33,0 35,5 38,0 40,5
Usia
Gra£k 2.1. Histogram usia pengusaha

4
Kelas XII
b. Poligon
Poligon Frekuensi
22
20
18
16
14
12
10
Frekue

18 23 28 33 38
Usia

Gra£k 2.2. Poligon frekuensi usia pengusaha

c. Ogive

Ogive

90
80
70
60
50
40
Frekuensi

30
20
10
0

15,5 20,5 25,5 30,5 35,5 40,5

Usia

Gra£k 2.3. Ogive usia pengusaha

4
Matemati
Contoh Soal
Distribusi frekuensi pada Tabel 2.2 menyajikan tentang data berkelompok
nilai ujian matematika suatu kelas. Distribusi yang diberikan adalah sebagai
berikut.

Kelas Batas Kelas Frekuensi


41 – 50 40,5 – 50,5 1
51 – 60 50,5 – 60,5 6
61 – 70 60,5 – 70,5 9
71 – 80 70,5 – 80,5 11
81 – 90 80,5 – 90,5 11
91 – 100 90,5 – 100,5 6

Selanjutnya distribusi frekuensi ini diubah ke dalam grafik histogram,


poligon frekuensi, dan ogive yang disajikan berikut ini.
a. Histogram
Histogram Nilai Ujian Matematika

12
11 11

10
9
8
Frekue

6 6 6

2
1

0
40,5 45,5 50,5 55,5 60,5 65,5 70,5 75,5 80,5 85,5 90,5 95,5 100,5
Nilai

Gra£k 2.4. Histogram nilai ujian mate matika

4
Kelas XII
b. Poligon
Poligon Frekuensi Nilai Ujian Matematika

12
11 11

10
9

6 6
Frekue

2
1

0
45,5 55,5 65,5 75,5 85,5 95,5
Nilai

Gra£k 2.5. Poligon frekuensi nilaiujian matematika

c. Ogive
Ogive Nilai Ujian Matematika

50
44

40 38

30 27
Frekuensi

20
16

10 7

0 1
0
40,5 50,5 60,5 70,5 80,5 90,5 100,5
Nilai

Gra£k 2.6. Ogive nilai ujian matematika

4
Matemati
Contoh Soal
Distribusi frekuensi pada Tabel 2.3 menyajikan data berkelompok berat
badan balita yang datang pada suatu posyandu. Berikut histogram, polygon
frekuensi, dan ogive untuk distribusi frekuensi tersebut.

Kelas Batas Kelas Frekuensi


3,5 – 5,3 3,45 – 5,35 3
5,4 – 7,2 5,35 – 7,25 9

7,3 – 9,1 7,25 – 9,15 7

9,2 – 11 9,15 – 11,05 8

11,1 – 12,9 11.05 – 12,95 3

a. Histogram
Berat Badan Balita

9
9
8 8
7
6 7
5
4
3
2
Frekue

1
0
3 3

3,454,40 5,35 6,30 7,25 8,20 9,15 10,10 11,05 12,00 12,95
Berat Badan

Gra£k 2.7. Histogram berat badan balita

4
Kelas XII
b. Poligon
Poligon Frekuensi

7
Frekue

4,4 6,3 8,2 10,1 12


Berat Badan

Gra£k 2.8. Poligon frekuensi berat badan balita

c. Ogive
Ogive

30
27 38
25

20 16

15
Frekuensi

10

5 1
00
3,455,35

7,25 9,15 11,05 12,95


Berat Badan

Gra£k 2.9. Ogive berat badan balita

4
Matemati
Berdasarkan pengamatan Contoh 2.8, Contoh 2.9, dan Contoh 2.10,
tulislah informasi-informasi atau istilah matematika penting yang dapat
Anda peroleh pada kotak yang disediakan berikut.

Dengan mengamati Contoh 2.8 – 3.10, coba Anda buat beberapa


pertanyaan mengenai distribusi frekuensi dan grafik histogram, poligon
frekuensi, dan ogive. Tuliskan pertanyaan apapun yang terlintas di benak
Anda mengenai data berkelompok dan grafiknya. Anda tidak perlu takut atau
malu terhadap guru maupun teman Anda. Pertanyaan yang Anda ajukan
akan sangat membantu Anda dalam memahami materi yang bersangkutan.
Tuliskan pertanyaan-pertanyaan Anda dalam kotak yang sudah disediakan di
bawah ini.

Mudah-mudahan Anda menanyakan beberapa hal berikut ini.


a. Bagaimana menggambarkan histogram, poligon frekuensi, dan ogive?
b. Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam membuat histogram,
poligon frekuensi, dan ogive?
c. Apa makna bilangan-bilangan pada sumbu-x dan sumbu-y pada poligon
frekuensi?

48
Kelas XII
Jika Anda menanyakan diantaranya adalah hal-hal tersebut di atas, maka
Anda selangkah lebih dekat dalam memahami penyajian data berupa grafik.
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang Anda susun, Anda dapat
melakukan kegiatan-kegiatan berikut. Anda juga dapat menggunakan
sumber- sumber referensi lainnya seperti buku teks atau Internet untuk
membantu Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Jika Anda perhatikan, data yang sama dapat disajikan dalam dua bentuk
penyajian yang berbeda yaitu penyajian dalam bentuk tabel (distribusi
frekuensi) dan grafik. Tentu penyajian data tersebut dilakukan dengan tujuan
mempermudah pembaca dalam memaknai data. Selain itu penyajian data
dalam bentuk grafik dapat lebih cepat menarik perhatian pembaca.
Sebagai contoh perhatikan histogram yang ditampilkan pada Contoh 2.8.
Distribusi frekuensi dan histogram tersebut menyajian data yang sama, tetapi
dengan melihat histogram sekilas kita dapat menarik kesimpulan tentang
kelas yang paling banyak dan yang paling sedikit. Yang lebih penting lagi,
kita juga dapat melihat perubahan (trend) dari kelas ke kelas dengan lebih
mudah. Kelas dengan frekuensi terbanyak pada histogram tersebut adalah
kelas dengan batas kelas 25,5 – 30,5. Perhatikan pada sumb-x tertera angka
28,0 di tengah selang kelas tersebut. Mereperesentasi apakah angka 28,0
pada kelas tersebut?
Selain pada histogram, angka 28 juga muncul pada poligon frekuensi
dari data dan kelas yang sama. Pada poligon frekuensi Contoh 2.8 muncul
angka- angka yang lain yaitu 18, 23, 33, dan 38. Merepresentasi apakah
angka-angka tersebut terhadap kelas-kelas yang diwakili?
Perhatikan bahwa selisih dua angka yang mewakili kelas yang berurutan
mempunyai selisih yang sama dengan pangjang kelas. Akibatnya jika angka
yang mewakili salah satu kelas diketahui maka dengan mudah kita dapat
menentukan angka-angka yang mewakili kelas-kelas yang lain.
Perhatikan kelas pertama pada distribusi frekuensi pada Contoh 2.8.
Kelas tersebut mempunyai batas bawah 15,5 dan batas atas 20,5 dengan
panjang kelas
5. Angka yang mempresentasi kelas tersebut pada poligon frekuensi adalah
18. Angka 18 dapat diperoleh dari jumlah batas atas dan bawah kelas tersebut
15, 5  20, 5
dibagi dengan 2, yaitu 18 = . Angka yang mewakili tersebut disebut
2

4
Matemati
dengan titik tengah (midpoint). Coba Anda periksa apakah angka-angka di
sumbu-x pada poligon frekuensi Contoh 2.8 merupakan titik tengah dari
masing-masing kelas. Selain itu, coba Anda periksa lebih lanjut bagaimana
mendapatkan titik tengah suatu kelas jika titik tengah kelas tertentu sudah
diketahui.
Dengan demikian tentu Anda dapat membuat kesimpulan sementara
bagaimana langkah-langkah mendapatkan histogram dan poligon frekuensi
untuk suatu data berkelompok.
Berbeda dengan histogram dan poligon frekuensi, ogive menyajikan
data berkelompok dengan cara yang lain. Untuk mengetahui bagaimana
menyajikan ogive, Anda perhatikan lebih lanjut distribusi frekuensi dan
ogive yang disajikan pada Contoh 2.10. Merepresentasi apakah angka-angka
yang dituliskan di sumbu-x pada ogive tersebut? Lalu mengapa frekuensi
pada angka 5,35 adalah 3 sedangkan pada angka 7,25 mempunyai frekuensi
12? Dilain pihak, kelas dengan batas 3,45 – 5,35 mempunyai frekuensi 3 dan
kelas dengan batas 5,35 – 7,25 mempunyai frekuensi 9. Dengan kenyataan
tersebut, dapatkah Anda menjawab pertanyaan mengapa pada ogive tersebut
frekuensi pada angka 11,05 adalah 27?
Jika Anda dapat mengkonfirmasi frekuensi setiap kelas pada ogive tersebut
maka dapat dikatakan Anda sudah memahami langkah-langkah pembuatan
ogive suatu data berkelompok.
Untuk lebih memahami bagaimana menyajikan data berkelompok dalam
bentuk grafik, coba Anda buat histogram, poligon frekuensi, dan ogive dari
data yang diberikan pada Contoh 2.7. Setelah mendapatkan ketiga grafik,
beri pemaknaan yang sesuai dari ketiga grafik yang diperoleh tersebut.
Coba Anda diskusikan dengan teman sebangku Anda mengenai langkah-
langkah pembuatan histogram, poligon frekuensi, dan ogive. Selain itu,
Anda diskusikan pula bagaimana memaknai grafik yang diperoleh. Dari
ketiga grafik tersebut Anda dapat diskusikan pula grafik mana yang lebih
mewakili data atau lebih menampilkan sifat-sifat data dengan lebih baik.
Tuliskan kesimpulan sementara hasil diskusi dalam kotak yang disediakan.

50
Kelas XII
Catatan:
Tanpa disadari, mungkin kita punya kesalahpahaman mengenai statistika (statistical misc

Banyak iklan produk yang menampilkan suatu data hasil survey dalam
bentuk grafik untuk menunjukkan keampuhan atau larisnya produk tersebut.
Jika pembaca atau penonton kurang cermat dalam memperhatikan grafik maka
bisa terjadi penarikan kesimpulan yang salah. Ditambah lagi jika grafik data
tersebut disajikan dengan tidak benar maka tentu akibatnya kita dapat salah
dalam mengartikan grafik tersebut.
Sebagai contoh sebuah iklan kosmetik menampilkan hasil survey
terhadap pembeli paket kosmetik A, B, atau C untuk pertama kali. Grafik yang
disajikan berikut menampilkan berapa persentase konsumen yang
memutuskan untuk kembali menggunakan paket yang sama dengan yang
waktu dibeli pertama kali.
Penjualan Kosmetik

85

84

83

82
A B C

Gra£k 2.10. Diagram batang penjualan kosmetik

5
Matemati
Melihat grafik di atas dengan sekilas mungkin kita bisa mengatakan bahwa
paket kosmetik B jauh lebih dipilih oleh konsumen dari kedua produk
lainnya. Terdapat perbedaan yang nyata antara ketiga produk jika hanya
melihat grafik tanpa melihat skala pada sumbu-y. Jika diperhatikan dengan
seksama, 83% konsumen kembali ke produk A, 85% kembali ke produk B,
dan 84% kembali ke produk C. Grafik tersebut digambarkan dengan nilai
awal pada sumbu-y adalah 82, tapi perhatikan jika nilai awal sumbu-y adalah
1 seperti pada grafik di bawah ini.

Penjualan Kosmetik
90
83 85 84
80
70
60
50
40
30
Persenta

20
10
0

A B C
Kosmetik

Gra£k 2.11. Diagram batang penjualan kosmetik

Terlihat bahwa perbedaan antara ketiga produk tidak jauh. Masing-


masing produk hanya terpaut 1%. Penampakan pada grafik pertama dapat
menipu mata secara sekilas jika pembaca tidak mengamati dengan seksama
skala pada sumbu-y. Memotong skala pada sumbu-y sebenarnya bukanlah
hal yang dilarang, tetapi pembaca harus teliti dalam membaca grafik yang
disajikan.
Grafik yang ditampilkan terkadang tidak menampakkan skala pada sumbu-y.
Jika grafik penjualan kosmetik di atas kita tampilkan tanpa skala pada sumbu-y
seperti di bawah ini, maka apa yang dapat Anda simpulkan?

52
Kelas XII
Penjualan Kosmetik

A B C

Gra£k 2.12. Diagram batang penjualan kosmetik tanpa skala

Kita tidak dapat mendapatkan informasi apa-apa mengenai grafik di atas


kecuali urutan (rangking) dari A, B, dan C berdasarkan tinggi batang. Selain
itu kita juga tidak mungkin mendapatkan informasi mengenai selisih
persentase paket kosmetik hanya dengan menggunakan grafik tersebut.

Diskusikan kesimpulan sementara dengan teman sekelas Anda. Guru


Anda akan memberikan kesempatan kepada minimal 5 siswa yang mau maju
secara sukarela untuk mempresentasikan kesimpulan sementara di depan
kelas. Diskusikan bersama hasil presentasi untuk mendapatkan kesimpulan
akhir. Tuliskan kesimpulan akhir pada kotak yang disediakan berikut ini.

5
Matemati
Masalah 2.1

1. Berikut ini diberikan empat distribusi frekuensi. Setiap distribusi


frekuensi yang diberikan terdapat kesalahan dalam penyusunannya.
Sebutkan kesalahan masing distribusi frekuensi dan alasannya.
a. c.
Kelas Frekuensi Kelas Frekuensi
27 – 32 1 123 – 127 3
33 – 38 0 128 – 132 7
39 – 44 6 138 – 142 2
45 – 49 4 143 – 147 19
50 – 55 2

b. Kelas Frekuensi d.
Kelas Frekuensi
5–9 1 9 – 13 1
9 – 13 2 14 – 19 6
13 – 17 5 20 – 25 2
17 – 20 6 26 – 28 5
20 – 24 3 29 – 32 9
2. Distribusi frekuensi yang diberikan berikut mempresentasikan
jumlah kendaraan roda empat terpilih dalam suatu kota yang
menghabiskan bahan bakar bensin dalam jumlah tertentu (liter)
setiap minggunya. Kolom kelas menyatakan jumlah bahan bakar
bensin yang dihabiskan dalam 1 minggu sedangkan kolom frekuensi
adalah banyaknya kendaraan roda empat.
Kelas Batas Kelas Frekuensi
5–8 4,5 – 8,5 5
9 – 12 8,5 – 12,5 8
13 – 16 12,5 – 16,5 7
17 – 20 16,5 – 20,5 15
21 – 24 20,5 – 24,5 21
25 – 28 24,5 – 28,5 16

54
Kelas XII
Jawablah pertanyaan berikut ini.
a. Berapa banyak kendaraan roda 4 yang menghabiskan bensin
kurang dari 4,5 liter?
b. Berapa banyak kendaraan roda 4 yang menghabiskan bensin
kurang dari 8,5 liter?
c. Lanjutkan untuk mencari banyak kendaraan yang kurang dari
batas bawah kelas kemudian tuliskan pada tabel di bawah ini.
Frekuensi Kumulatif
Kurang dari 4,5
Kurang dari 8,5
Kurang dari 12,5
Kurang dari 16,5
Kurang dari 20,5
Kurang dari 24,5
Kurang dari 28,5
Catatan: Tabel di atas disebut distribusi frekuensi kumulatif
3. Data berikut adalah data jumlah pengunjung perpustakaan SMA
”NASIONAL” dalam 40 hari kerja berturut-turut.

50 65 60 71 55 82 76 70 80 64
78 95 88 90 81 75 78 78 70 68
85 67 74 86 59 63 84 66 75 87
94 96 72 78 65 81 85 95 88 96
Berdasarkan data tersebut, buatlah
a. Distribusi frekuensi dengan 7 kelas
b. Histogram, poligon frekuensi, dan ogive untuk distribusi
frekuensi poin (a).

5
Matemati
4. Misalkan Anda adalah seorang pengusaha real estate di kota
Masamba. Anda memperoleh daftar harga rumah yang sudah Anda
jual dalam 6 bulan terakhir. Anda ingin mengorganisasi data yang
Anda terima agar Anda dapat memberikan informasi yang akurat
kepada calon pembeli. Gunakan data berikut ini untuk disajikan
dalam histogram, poligon frekuensi, dan ogive. Data berikut dalam
puluhan ribu rupiah.

142.000 127.000 99.600 89.000 93.000 99.500 162.000


73.800 135.000 119.000 67.900 156.300 104.500 108.650
123.000 91.000 205.000 110.000 156.300 104.000 133.900
179.000 112.000 147.000 321.550 87.900 88.400 180.000
159.400 205.300 144.400 163.000 96.000 81.000 131.000
114.000 119.600 93.000 123.000 187.000 96.000 80.000
231.000 189.500 177.600 83.400 77.000 132.300 166.000

a. Pertanyaan-pertanyaan apa yang yang dapat dijawab dengan


mudah dengan melihat histogram dibandingkan dengan daftar
harga yang diberikan di atas?
b. Pertanyaan berbeda apa yang dapat dijawab dengan lebih mudah
dengan melihat poligon frekuensi dibandingkan dengan daftar
harga tersebut?
c. Pertanyaan berbeda apa yang dapat dijawab dengan lebih mudah
dengan melihat ogive dibandingkan dengan daftar harga
tersebut?
d. Apakah ada data yang sangat besar atau sangat kecil
dibandingkan dengan nilai lainnya?
e. Grafik mana yang menampilkan nilai ekstrim tersebut dengan
lebih baik?
5. Penelitian mengenai kebutuhan air minum bagi tubuh manusia
dalam sehari sudah banyak dilakukan dan dipublikasikan. Carilah
hasil penelitian tersebut dan ungkapkan berapa gelas atau liter air
minum kebutuhan tubuh manusia. Kemudian kumpulkan data
melalui wawancara terhadap minimal 40 teman Anda mengenai
konsumsi air minum mereka sehari-hari (dalam satuan gelas atau
liter). Jika data sudah terkumpul, maka lakukanlah kegiatan berikut.

56
Kelas XII
a. Buatlah distribusi frekuensi data yang sudah dikumpulkan
(pilih salah satu satuan yang digunakan, yaitu gelas atau liter)
dengan banyak kelas yang Anda tentukan sendiri.
b. Buatlah histogram, poligon frekuensi, dan ogive dari distribusi
yang didapatkan.
c. Buatlah distribusi kumulatifnya.
Subbab 2.2. Ukuran Pemusatan dan Penyebaran Data
Berkelompok
Kegiatan sebelumnya Anda dapat memperoleh informasi-informasi
dari data mentah dengan mengolah data tersebut ke dalam distribusi
frekuensi dan menampilkan data ke dalam beberapa grafik. Pada bagian
ini Anda akan mempelajari metode-metode statistika yang dapat
digunakan untuk mendiskripsikan suatu data. Metode statistika yang
paling umum digunakan adalah rata-rata. Sebagai contoh, dalam suatu
artikel di koran online*, Erwin (2015) menyatakan bahwa Google
melakukan wawancara online terhadap pemilik ponsel pintar di
Indonesia antara usia 18 dan 64 tahun untuk mengetahui lebih baik
mengenai perilaku mereka. Hasil wawancara yang dilansir Google
menyatakan bahwa rata-rata aplikasi yang di-instal di Indonesia tahun
2015 adalah sebanyak 31 aplikasi per individu.
Pada contoh di atas, istilah rata-rata yang digunakan masih tidak jelas
karena ada berbagai macam rata-rata. Beberapa diantaranya adalah rata-
rata hitung, rata-rata geometri, rata-rata harmonik. Rata-rata merupakan
pusat distribusi atau yang paling sering terjadi. Ukuran rata-rata disebut
juga dengan ukuran pemusatan data. Ukuran pemusatan yang akan
dibahas pada bagian ini meliputi rata-rata (dalam hal ini rata-rata hitung),
median, dan modus untuk data berkelompok.

5
Matemati
Kegiatan 2.2.1 Ukuran Pemusatan Data Berkelompok

Masih ingatkah Anda bagaimana menentukan rata-rata, median, dan


modus untuk data tunggal? Sebagai contoh, diberikan data ukuran sepatu
yang dipakai 12 pemain basket SMA Nasional sebagai berikut.
42 41 41 40 40 41 42 42 43 41 40 42
Coba Anda tentukan rata-rata, median dan modus dari data tersebut.
Dari ketiga ukuran pemusatan data tersebut, manakah yang paling sesuai
merepresentasikan data tersebut menurut Anda?
Lalu bagamanakah cara menentukan rata-rata, median, dan modus suatu
data yang berupa data berkelompok atau bahkan data yang disajikan dalam
histogram? Berikut diberikan beberapa contoh data berkelompok sekaligus
diberikan ukuran pemusatan datanya.

Contoh Soal 2.11

Data yang disajikan dalam distribusi frekuensi berikut merupakan data usia
50 orang terkaya di Indonesia.

Kelas Batas Kelas Frekuensi

30 – 34 29,5 – 34,5 5
35 – 39 34,5 – 39,5 10
40 – 44 39,5 – 44,5 7
45 – 49 44,5 – 49,5 20
50 – 54 49,5 – 54,5 8

Tabel 2.6. Distribusi Frekuensi usia 50 orang terkaya

Rata-rata usia 50 orang terkaya di Indonesia berdasarkan distribusi


frekuensi di atas adalah 43,6 tahun. Selanjutnya kelas keempat (44,5 – 49,5)
merupakan kelas median sekaligus juga merupakan kelas modus dengan
mediannya adalah 45,25 dan modusnya adalah 47,1.

58
Kelas XII
Contoh Soal 2.12

Data skor TOEFL siswa dalam suatu kelas diberikan dalam distribusi frekuensi
berikut ini.

Kelas Batas Kelas Frekuensi


350 – 374 349,5 – 374,5 4
375 – 399 374,5 – 399,5 3
400 – 424 399,5 – 424,5 5
425 – 449 424,5 – 449,5 6
450 – 474 449,5 – 474,5 7
475 – 499 474,5 – 499,5 3
500 – 524 499,5 – 524,5 2

Tabel 2.7. Distribusi frekuensi skor TOEFL

Berdasarkan distribusi frekuensi di atas, rata-rata skor TOEFL siswa


dalam kelas tersebut adalah 433,7. Kelas keempat yaitu 424,5 – 449,5
merupakan kelas median dengan mediannya adalah 437. Kelas kelima
merupakan kelas modus dengan modusnya adalah 454,5.

Contoh Soal 2.13

Berikut ini merupakan histogram yang menyajikan data tinggi badan 30


siswa terpilih kelas XII pada suatu sekolah.

5
Matemati
Tinggi Badan Siswa Kelas XII (dalam cm)

9
8 8
7
6
5 6
4
6
3
Frekuen

2
1 4 4

0142147152
157 162 167 172
Berat Badan

Gra£k 2.13. Histogram tinggi badan siswa kelas XII

Berdasarkan histogram tersebut, rata-rata tinggi badan siswa tersebut


adalah 158,2. Kelas 157 – 162 merupakan kelas median sekaligus kelas
modus, dengan median sebesar 158,9 dan modus sebesar 160,3.
Berdasarkan hasil pengamatan yang Anda lakukan, catat istilah-istilah
matematika atau informasi-informasi penting mengenai ukuran pemusatan
data berkelompok di kotak yang disediakan berikut.

60
Kelas XII
Setelah mengamati Contoh 2.11 – 3.12, coba Anda buat pertanyaan-
pertanyaan yang terlintas di benak Anda tentang rata-rata, median, dan
modus untuk data berkelompok. Anda juga dapat menghubungkan tentang
rata-rata, median, dan modus untuk data tunggal yang sudah Anda pelajari
sebelumnya. Dengan membandingkan hasil pengamatan ketiga contoh di
atas dengan pengetahuan yang Anda miliki sebelumnya untuk data tunggal
memungkinkan Anda untuk mengajukan pertanyaan yang membantu Anda
dalam memahami ukuran pemusatan data untuk data berkelompok. Tuliskan
minimal 3 pertanyaan Anda dalam kotak yang sudah disediakan di bawah
ini.

Hal yang perlu Anda ketahui untuk menentukan rata-rata pada data
tunggal adalah banyak data yang biasa dilambangkan dengan n dan jumlah
keseluruhan dari data tersebut. Jika banyak data yang dihadapi sedikit, tentu
Anda dapat dengan mudah untuk menentukan rata-rata. Di lain pihak, jika
data yang dihadapi berukuran besar, Anda perlu mengelompokkan data
tersebut dalam beberapa kelompok untuk memudahkan mengetahui
karakteristik data. Akibatnya, menentukan rata-rata untuk data yang sudah
dikelompokkan tersebut berbeda dengan untuk data tunggal. Untuk
menambah wawasan Anda mengenai ukuran pemusatan data untuk data
berkelompok, Anda perhatikan contoh berikut ini.

6
Matemati
Contoh Soal 2.14
Berikut merupakan data usia 80 pengusaha dalam memulai usahanya yang
sudah diberikan pada Contoh 2.1.
18 24 19 28 30 19 35 40 23 21
26 34 27 40 38 30 21 24 22 18
32 17 18 21 26 33 35 20 28 27
26 34 31 37 40 17 18 18 20 33
16 20 18 36 35 24 39 19 31 31
26 28 19 35 31 31 28 21 23 26
20 24 24 29 30 30 26 29 28 20
19 28 30 32 38 40 25 25 31 21
Ketika data ini dikelompokkan menjadi 5 kelas maka akan didapatkan
distribusi frekuensi seperti di bawah ini.

Kelas Batas Kelas Titik Tengah Frekuensi


16 – 20 15,5 – 20,5 18 19
21 – 25 20,5 – 25,5 23 15
26 – 30 25,5 – 30,5 28 21
31 – 35 30,5 – 35,5 33 16
36 – 40 35,5 – 40,5 38 9

Perhatikan bahwa kelas pertama mempunyai titik tengah 18. Ini artinya
bahwa data yang masuk dalam kelas pertama bisa kurang dari 18 atau
lebih dari 18. Akibatnya jumlah data pada kelas pertama dapat didekati
(aproksimasi) sebesar 342. Jumlah data keseluruhan dengan pendekatan
sebesar 2145, sehingga rata-rata untuk data berkelompok di atas adalah 26,8
tahun. Jika Anda hitung rata-rata untuk data tunggal di atas, apa yang Anda
peroleh? Bagaimana hasilnya jika Anda bandingkan dengan rata-rata untuk
data berkelompok? Tuliskan pada kotak di bawah ini.

62
Kelas XII
Menentukan median dan modus untuk data berkelompok hampir sama
dengan menentukan rata-rata, yaitu yang akan ditentukan berupa perkiraan
(pendekatan). Berdasarkan frekuensi setiap kelas, Anda dapat menentukan
lokasi atau pada selang mana median berada yang disebut dengan kelas
median dan juga dapat menentukan kelas modus dengan mempertimbangkan
frekuensi setiap kelas. Dengan memperhatikan fakta tersebut, tentukan kelas
median dan kelas modus pada distribusi frekuensi di atas. Tuliskan jawaban
Anda pada kotak yang disediakan dan tuliskan bagaimana caranya untuk
mendapatkan kedua kelas tersebut.

Di lain pihak, jika data dikelompokkan menjadi 7 kelas maka akan


didapatkan distribusi frekuensi berikut ini.

Kelas Batas Kelas Titik Tengah Frekuensi


16 – 19
20 – 23
24 – 27
28 – 31
32 – 35
36 – 39
40 – 43
Dengan melengkapi tabel distribusi frekuensi di atas, coba Anda
tentukan perkiraan jumlah data pada setiap kelas sekaligus perkiraan jumlah
data keseluruhan. Kemudian dengan mempertimbangkan banyak data,
dapatkah Anda memperkirakan rata-rata dari data berkelompok tersebut?
Tentukan pula kelas median dan kelas modus. Selanjutnya, dengan data yang
sama tetapi distribusi frekuensi yang berbeda apa yang dapat Anda
simpulkan mengenai rata-rata, kelas median, dan kelas modus dari kedua
distribusi frekuensi di atas?

6
Matemati
Tuliskan jawaban Anda pada kotak berikut ini.

Ukuran pemusatan data (rata-rata, median, modus) untuk data


berkelompok secara prinsip sama dengan ukuran pemusatan data untuk data
tunggal. Dari langkah-langkah pengamatan dan penggalian informasi
mungkin Anda sudah tahu perbedaan ukuran pemusatan data untuk data
tunggal dan data berkelompok. Ukuran pemusatan untuk data tunggal dapat
ditentukan dengan pasti, tetapi ukuran pemusatan untuk data berkelompok
ditentukan dengan perkiraan atau pendekatan.
Untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana cara menentukan ukuran
pemusatan untuk data berkelompok, lakukan beberapa kegiatan berikut ini.

[Link] Rata-rata
Berikut ini diberikan distribusi frekuensi pada Contoh 2.11. Lengkapi
tabel berikut ini untuk menentukan rata-rata usia 50 orang terkaya di
Indonesia.

Kelas Batas Kelas Titik Tengah (xi) Frekuensi (fi) xi . fi


30 – 34 29,5 – 34,5 5
35 – 39 34,5 – 39,5 10
40 – 44 39,5 – 44,5 7
45 – 49 44,5 – 49,5 20
50 – 54 49,5 – 54,5 8
Total

64
Kelas XII
Telah diketahui sebelumnya bahwa rata-rata usia 50 orang terkaya di
Indonesia adalah 43,6 tahun. Dengan mengamati tabel di atas, bagaimana
caranya bisa didapatkan hasil 43,6? Tuliskan rumus untuk menentukan rata-
rata data berkelompok menurut Anda dalam kotak yang tersedia di bawah

ini.
[Link] Median
Lengkapi tabel berikut ini untuk mengetahui lebih lanjut cara
menentukan median data berkelompok. Distribusi frekuensi yang digunakan
adalah distribusi frekuensi pada Contoh 2.11.
L+
Batas Panjang 1
n  Fi  1 ni  F 
Frekuensi
Kelas Batas Kelas Bawah Kelas Fi
p  2 
2 i
(fi) 
(Li) (p) fi fi
 
30 – 34 29,5 – 34,5 5 0
35 – 39 34,5 – 39,5 10 5
40 – 44 39,5 – 44,5 7
45 – 49 44,5 – 49,5 20
50 – 54 49,5 – 54,5 8

Keterangan:
Fi : jumlah frekuensi kelas-kelas sebelum kelas ke-i.
n : banyak data

Telah diketahui sebelumnya bahwa median dari distribusi frekuensi


tersebut adalah 45,25. Berdasarkan tabel yang sudah dilengkapi di atas,
bagaimana menurut Anda cara menentukan median? Kelas manakah yang

6
Matemati
digunakan sebagai median? Mengapa? Tuliskan jawaban Anda termasuk
rumus median di kotak yang sudah disediakan.

2.1.3 Modus
Lengkapi tabel berikut untuk mengetahui cara menentukan modus data ber-
kelompok.
Batas d1
Panjang Frekuensi Li + p( )
Kelas Batas Kelas Bawah d1 d2
Kelas (p) (fi) d1  d2
(Li)

30 – 34 29,5 – 34,5 5 0
35 – 39 34,5 – 39,5 10 5
40 – 44 39,5 – 44,5 7 12
45 – 49 44,5 – 49,5 20 0
50 – 54 49,5 – 54,5 8

Keterangan:
d1 : selisih frekuensi kelas ke-i dengan kelas sebelumnya
d2 : selisih frekuensi kelas ke-i dengan kelas berikutnya

Telah diketahui sebelumnya bahwa modus usia 50 orang terkaya di


Indonesia adalah 47,1 tahun. Berdasarkan tabel yang sudah dilengkapi di
atas, kelas manakah yang sesuai dengan hasil tersebut? Dapatkah Anda
simpulkan bagaimana menentukan modus data berkelompok sekaligus
dengan rumusnya? Tuliskan jawaban Anda dalam kotak berikut ini.

66
Kelas XII
Dari rumus rata-rata, median, dan modus yang telah Anda dapatkan,
coba Anda cek kebenaran rumus tersebut dengan menggunakannya pada
Contoh
2.12 dan Contoh 2.13.

Sedikit Informasi
Ukuran pemusatan atau ukuran penyebaran suatu data yang diperoleh
dari populasi disebut dengan parameter, sedangkan jika datanya berasal dari
sampel maka disebut dengan statistik. Sehingga rata-rata suatu data yang
diperoleh dari suatu populasi merupakan parameter dan dilambangkan
dengan . Rata- rata suatu data yang diperoleh dari sampel yang mewakili
populasi merupakan statistik yang dilambangkan dengan x.

Sebagian orang mungkin mempunyai kesalahpahaman mengenai rata-


rata. Jika ada yang mengatakan ”rata-rata gaji buruh di Indonesia adalah
Rp2.500.000,00” maka sebenarnya kita tidak bisa langsung mengetahui
bahwa rata-rata yang digunakan adalah rata-rata hitung seperti yang kita
tentukan rumusnya sebelumnya. Rata-rata mempunyai banyak jenis, di
antaranya adalah rata-rata hitung, rata-rata geometri, dan rata-rata harmonik
yang besarannya dimungkinkan tidak sama antar rata-rata tersebut.

Anda diskusikan hasil yang Anda dapatkan dengan teman sebangku


Anda. Guru Anda akan menunjuk beberapa siswa untuk menuliskan hasil
yang diperoleh di papan tulis. Diskusikan hasil tersebut dengan teman
sekelas Anda untuk mendapatkan kesimpulan kelas. Tuliskan kesimpulan
Anda dikotak yang sudah disediakan dibawah ini.

6
Matemati
Kegiatan 2.2.2 Ukuran Penyebaran Data Berkelompok
Mengetahui hanya rata-rata dari suatu data tidak cukup untuk
mendeskripsikan data sepenuhnya. Anda juga perlu mengetahui bagaimana
penyebaran data. Sebagai contoh, seorang penjual sepatu olah raga di suatu
daerah telah mengetahui bahwa rata-rata ukuran sepatu olah raga yang
laris adalah ukuran 40. Penjual sepatu tersebut tidak akan bertahan lama
dalam penjualan sepatu olah raga ini jika dia menjual sepatu hanya ukuran
40. Walaupun dia mengetahui rata-rata ukuran sepatu pembeli di daerah
tersebut, dia juga perlu mengetahui bagaiamana data menyebar, yaitu
apakah datanya mendekati rata-rata ataukah menyebar merata. Ukuran yang
menentukan penyebaran data disebut dengan ukuran penyebaran data. Untuk
data berkelompok, ukuran penyebaran data meliputi simpangan rata-rata,
simpangan baku, dan ragam.

Anda mungkin masih ingat bagaimana menentukan simpangan rata-


rata, simpangan baku, dan ragam untuk data tunggal. Secara prinsip cara
menentukan simpangan rata-rata, simpangan baku, dan ragam untuk data
tunggal hampir sama dengan untuk data berkelompok. Berikut akan
diberikan beberapa contoh distribusi frekuensi suatu populasi disertai dengan
simpangan rata-rata, simpangan baku, dan ragam.
Contoh Soal 2.15

Data yang disajikan berikut merupakan data pendapatan netto 45 perusahaan


besar di Indonesia dalam milyar rupiah.

Kelas Frekuensi
10 – 20 2
21 – 31 8
32 – 42 15
43 – 53 7
54 – 64 10
65 – 75 3

68
Kelas XII
Ukuran penyebaran pada data berkelompok di atas dapat dihitung,
yaitu simpangan rata-rata adalah 12,4 dan simpangan bakunya adalah 14,6.
Selanjutnya ragam dari data ini adalah 212,3.
Contoh Soal 2.16

Tiga puluh sepeda motor terpilih dites untuk mengetahui efisiensi bahan
bakar dalam kilometer per liter. Distribrusi frekuensi yang didapatkan
disajikan berikut ini.
Kelas Frekuensi
7,5 – 12,5 3
12,5 – 17,5 5
17,5 – 22.5 15
22,5 – 27,5 5
27,5 – 32,5 2
Dari distribusi di atas didapatkan simpangan rata-rata 3,5, simpangan baku
sebesar 5,1 dan ragam sebesar 25,7
Di bawah ini diberikan histogram pada Contoh 2.10 yang menyajikan berat
badan 30 balita (dalam kilogram) yang datang pada posyandu di suatu
daerah.
Contoh Soal 2.17
Berat Badan Balita

9
9
8 8
7
6 7
5
4
3
2
1
Freku

3 3

3,45 4,40 5,35 6,30 7,25 8,20 9,15 10,10 11,05 12,00 12,95
Berat Badan

6
Matemati
Berdasarkan histogram tersebut dapat ditentukan ukuran penyebaran
datanya, yaitu simpangan rata-rata sebesar 1,85, simpangan baku sebesar
2,26 dan ragam sebesar 5,09.
Informasi-informasi atau istilah matematika penting dari hasil
pengamatan mengenai ukuran penyebaran data berkelompok dapat dituliskan
dalam kotak yang disediakan berikut.

Berdasarkan pengamatan Anda terhadap ketiga contoh yang diberikan


sebelumnya, buatlah beberapa pertanyaan tentang ukuran penyebaran data
berkelompok. Tuliskan pertanyaan Anda dalam kotak yang tersedia di bawah
ini.

70
Kelas XII
Mengetahui ukuran pemusatan data seperti rata-rata, median atau modus
saja tidak cukup bagi seorang peneliti untuk mendeskripsikan data lebih
rinci. Seorang peneliti tentu memerlukan informasi bagaimana data
menyebar, yaitu bagaimana kondisi data dibandingkan dengan rata-rata yang
diperoleh. Informasi mengenai apakah semua data dekat dengan rata-rata
atau bahkan datanya jauh dari rata-rata (menyebar secara merata) sangat
dibutuhkan oleh penggunan data dalam penarikan kesimpulan.
Pada pengamatan sebelumnya diberikan beberapa contoh distribusi
frekuensi yang disertai dengan ukuran penyebarannya. Berikut ini diberikan
contoh lainnya yang dapat Anda gunakan untuk lebih memahami ukuran
penyebaran data dan bagaimana menentukannya.
Contoh Soal 2.18
Berikut ini merupakan distribusi frekuensi dari nilai ujian akhir 100 mahasiswa
jurusan matematika yang terpilih di suatu universitas.

Kelas Frekuensi
66 – 72 6
73 – 79 18
80 – 86 39
87 – 93 28
94 – 100 9
Dengan menggunakan pengetahuan sebelumnya bahwa penyebaran data
dibandingkan dengan rata-rata, coba Anda tentukan rata-rata dari distribusi
frekuensi di atas dan tuliskan hasilnya dalam kotak di bawah ini.

7
Matemati
Rata-rata suatu data berkelompok ditentukan dengan memperhatikan
titik tengah setiap kelas dan frekuensinya masing-masing. Simpangan rata-
rata memperhatikan bagaiamana data menyimpang dari rata-rata.
Berdasarkan hal tersebut, coba Anda buat kolom tambahan dari distribusi
frekuensi di atas yang berisikan selisih titik tengah tiap kelas dengan rata-
rata. Selanjutnya perhatikan hasil selisih tersebut. Sebagai ilustrasi, selisih
titik tengah kelas pertama dengan rata-rata adalah 2, ini berarti setiap datum
pada kelas tersebut diasumsikan mempunyai selisih 2 dengan rata-rata.
Akibatnya banyak datum dalam kelas tersebut (frekuensi) juga menentukan
simpangan datum dalam suatu data terhadap rata-ratanya.
Berdasarkan proses tersebut, dapatkah Anda menduga bagaimana cara
menentukan simpangan rata-rata? Tuliskan dugaan Anda dalam kotak di
bawah ini.

Ukuran penyebaran berupa ragam dan simpangan baku prinsipnya sama


dengan simpangan rata-rata yaitu memperhatikan selisih rata-rata dengan
titik tengah tiap kelas. Jika Anda perhatikan dari ketiga contoh pada
pengamatan, apa yang dapat Anda simpulkan mengenai hubungan antara
ragam dan simpangan baku? Coba diskusikan dengan teman sebangku Anda
tentang hubungan simpangan baku dan ragam. Dengan hubungan yang
ditemukan tersebut maka memudahkan Anda dalam menentukan keduanya.
Simpangan baku dapat ditentukan dengan mudah jika ragam ditemukan dan
sebaliknya juga berlaku. Karena ukuran penyebaran pada data berkelompok
prinsipnya mirip dengan untuk data tunggal, coba Anda tuliskan dalam kotak
di bawah ini bagaimana cara menentukan ragam dan simpangan baku untuk
data tunggal.

72
Kelas XII
[Link] Simpangan Rata-rata
Dengan menggunakan distribusi frekuensi pada Contoh 2.15, coba
lengkapi tabel di bawah ini untuk mengetahui cara menentukan simpangan
rata-rata.

Titik
Kelas Frekuensi |xi – x| fi . xi fi . | xi – x |
tengah
10 – 20 2
21 – 31 8
32 – 42 15
43 – 53 7
54 – 64 10
65 – 75 3
Total

Keterangan:
x : rata-rata

Untuk mendapatkan hasil simpangan rata-rata 12,4, kolom atau sel mana
saja yang digunakan? Setelah mendapatkan dugaan rumus simpangan rata-
rata, buatlah tabel yang sama dengan di atas untuk Contoh 2.16 dan Contoh
2.17. Tentukan simpangan rata-rata dari tabel yang Anda buat untuk Contoh
2.16 dan Contoh 2.17 dan cocokkan hasil yang Anda dapatkan dengan hasil
pada kedua contoh tersebut. Tuliskan hasil dugaan rumus simpangan rata-
rata untuk data berkelompok dalam kotak di bawah ini.

7
Matemati
[Link] Simpangan Baku dan Ragam
Anda sudah mempelajari sebelumnya mengenai hubungan simpangan
baku dan ragam sehingga penentuan salah satu statistik akan menghasilkan
pula statistik satunya. Lengkapi tabel berikut ini untuk mengetahui lebih
lanjut rumus simpangan baku dan ragam. Distribusi frekuensi yang
digunakan adalah distribusi frekuensi pada Contoh 2.15.
Titik tengah
Kelas Frekuensi (fi) fi . xi x i2 fi . x i 2
(xi)
10 – 20 2
21 – 31 8
32 – 42 15
43 – 53 7
54 – 64 10
65 – 75 3
Total
Berdasarkan tabel di atas, hitunglah berikut ini.
k k
 f i xi   f i xi 2
i1 i1
=
n2 2
k  k 
 fi xi    fi xi
i1
2

i1
 
2 =
n 2
k  k 

i1
fi xi2    fi xi 
 
i1
 
n(n 1) 2
=
k  k 
n fi xi2    fi xi 
i1  
i1
 
n(n 1) =
2
k  k 
n fi xi2    fi xi 
i1  
i1
 
2 =
n
74
Kelas XII
Berdasarkan beberapa rumus tersebut, manakah yang sesuai dengan hasil
pada Contoh 2.15? Jika Anda sudah mempunyai dugaan rumus untuk ragam,
maka buatlah dugaan rumus untuk simpangan baku. Tuliskan pengertian
ragam dan simpangan baku sekaligus rumusnya di bawah ini.

Untuk mengecek kebenaran dugaan Anda tentang ragam dan simpangan


baku, buatlah tabel yang sama dengan di atas untuk Contoh 2.16 dan Contoh
2.17. Kemudian cocokkan hasil yang Anda dapatkan dengan hasil pada
kedua contoh tersebut.

Diskusikan ukuran penyebaran data berkelompok yang Anda dapatkan


dengan teman sebangku Anda. Diskusikan pula hasilnya dengan teman
sekelas Anda untuk mendapatkan kesimpulan kelas. Diskusi dan
berpendapat yang santun untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Tuliskan
kesimpulan Anda pada kotak di bawah ini.

7
Matemati
Masalah 2.2

1. Berikut merupakan data jumlah protein yang terkandung dalam


beberapa macam makanan cepat saji yang terpilih.

23 30 20 27 44 26 35 20 29 29
25 15 18 27 19 22 12 26 34 15
27 35 26 43 35 14 24 12 23 31
40 35 38 57 22 42 24 21 27 33

a. Hitunglah rata-rata, median, dan modus dari data tersebut.


b. Buatlah distribusi frekuensi data tersebut dengan 5 kelas.
c. Hitung rata-rata, median, dan modus dari data yang sudah
dikelompokkan pada poin (b)
d. Bandingkan ukuran pemusatan pada poin (a) dan (c). Apa yang
dapat Anda simpulkan mengenai hasil tersebut?
2. Berikut merupakan distribusi frekuensi persentase penduduk usia
di bawah 25 tahun yang menyelesaikan studi sarjananya selama 4
tahun atau lebih di beberapa kota besar di Indonesia. Tentukan
ukuran pemusatan data berkelompok tersebut.

Persentase Frekuensi
15,2 – 19,6 3
19,7 – 24,1 15
24,2 – 28,6 19
28,7 – 33,1 6
33,2 – 37,6 7
37,7 – 42,1 0
42,2 – 46,6 1

76
Kelas XII
3. Jelaskan ukuran pemusatan apa yang digunakan (rata-rata, median,
modus) untuk situasi di bawah ini.
a. Setengah dari jumlah pekerja di suatu pabrik dapat memperoleh
lebih dari Rp20.000,00 per jam dan setengahnya yang lain
memperoleh kurang dari Rp20.000,00 per jam.
b. Rata-rata jumlah anak dalam suatu keluarga di suatu kompleks
perumahan adalah 1,8.
c. Sebagian besar orang lebih memilih mobil warna hitam
dibandingkan dengan warna-warna lainnya.
d. Ketakutan yang paling umum terjadi saat ini adalah ketakutan
berbicara di depan umum.
e. Rata-rata usia dosen perguruan tinggi adalah 42,3 tahun.

4. Delapan puluh baterai merk tertentu dipilih secara acak untuk


dievaluasi daya hidup baterai dalam jam. Distribusi frekuensi yang
diperoleh adalah sebagai berikut.

Persentase Frekuensi
62,5 – 73,5 5
73,5 – 84,5 14
84,5 – 95,5 18
95,5 – 106,5 25
106,5 – 117,5 12
117,5 – 128,5 6

a. Tentukan simpangan rata-rata, simpangan baku dan ragam


b. Dapatkah disimpulkan bahwa daya hidup baterai merk tertentu
tersebut konsisten? Jelaskan.

7
Matemati
5. Distribusi frekuensi di bawah ini merupakan persentase siswa sekolah dasar kelas 2 yang m

Frekuensi
Frekuensi Kemampuan
Persentase Kemampuan Baca Matematika
17,5 – 22,5 7 5
22,5 – 27,5 6 9
27,5 – 32,5 14 11
32,5 – 37,5 19 16
37,5 – 42,5 3 8
42,5 – 47,5 1 1

78
Kelas XII
Uji Kompetensi

1. Berikut merupakan daftar berat badan 50 pemain top NBA dalam pound.
Buat distribusi frekuensi dengan 8 kelas. Analisis hasil distribusi
frekuensi mengenai nilai-nilai ekstrim, kelas terbanyak, kelas dengan
frekuensi paling sedikit, dan sebagainya. (1 pound = 0,453 kg).
240 210 220 260 250 195 230 270 325 225
165 295 205 230 250 210 220 210 230 202
250 265 230 210 240 245 225 180 175 215
215 235 245 250 215 210 195 240 240 225
260 210 190 260 230 190 210 230 185 260

2. Buat distribusi frekuensi dengan 7 kelas untuk data nilai tes TOEFL
siswa kelas bahasa suatu sekolah yang diberikan berikut ini. Kemudian
jawab pertanyaan-pertanyaan berikutnya.
350 540 495 455 400 520 513 485
460 505 375 380 550 475 450 390
495 470 510 465 398 497 450 440
395 465 470 440 520 492 524 380
390 425 475 435 550 545 445 458
a. Untuk kelas dengan frekuensi terbanyak, tentukan persentase
frekuensinya terhadap jumlah keseluruhan siswa.
b. Untuk kelas dengan frekuensi paling sedikit, tentukan persentase
frekuensinya terhadap jumlah keseluruhan siswa.
c. Lanjutkan langkah ini untuk kelas lainnya. Buat kolom tambahan di
sebelah kanan berisikan persentase setiap kelasnya.
d. Ceritakan hasil distribusi frekuensi yang diperoleh
Distribusi frekuensi yang Anda dapatkan disebut dengan distribusi
frekuensi relatif.

3. Seratus pendaftar seleksi masuk perguruan tinggi di suatu universitas


dipilih secara acak sehingga didapatkan distribusi frekuensi nilai tes
berikut ini. Buatlah histogram, poligon frekuensi, dan ogive untuk
distribusi frekuensi ini.

7
Matemati
Kelas Frekuensi
90 – 98 6
99 – 107 20
108 – 116 40
117 – 125 26
126 – 134 8
Pendaftar yang nilainya di atas 107 tidak perlu ikut dalam program
matrikulasi. Dalam kelompok ini ada berapa pendaftar yang tidak perlu
ikut dalam program matrikulasi?

4. Beberapa kota besar di Indonesia yang terpilih diuji kualitas udaranya


dari polusi. Berikut merupakan data jumlah hari di mana kota-kota
tersebut dideteksi mempunyai kualitas udara yang buruk pada tahun
2010 dan 2015. Buatlah distribusi frekuensi dan histogram untuk
masing-masing tahun dan bandingkan hasilnya.

2010 2015
43 76 51 14 0 10 10 11 14 20 15 6
20 0 5 17 67 25
17 0 5 19 127 4
38 0 56 8 0 9
31 5 88 1 1 16
14 5 37 14 95 20
14 19 20 9 138 22
23 12 33 0 3 45
13 10 20 20 20 12
5. Jumlah protein dalam beberapa macam makanan cepat saji diberikan di
bawah ini. Buatlah distribusi frekuensi dengan 6 kelas kemudian sajikan
dalam histogram, poligon frekuensi, dan ogive. Deskripsikan histogram
yang diperoleh.

23 30 20 27 44 26 35 20 29 29
25 15 18 27 19 22 12 26 34 15
27 35 26 43 35 14 24 12 23 31
40 35 38 57 22 42 24 21 27 33

80
Kelas XII
6. Diberikan distribusi frekuensi untuk jumlah komisi (dalam puluhan
ribu) yang diterima 100 salesman yang dipekerjakan di beberapa cabang
perusahaan besar. Tentukan rata-rata, median, dan modus untuk
distribusi frekuensi ini.

Persentase Frekuensi
150 – 158 5
159 – 167 16
168 – 176 20
177 – 185 21
186 – 194 20
195 – 203 15
204 – 212 3

7. Pengelola restoran cepat saji di suatu kota besar menyatakan bahwa rata-
rata gaji karyawannya adalah Rp18.000,00 per jam. Seorang
karyawannya menyatakan bahwa kebanyakan karyawan di restoran
tersebut menerima gaji minimal. Jika kedua orang tersebut jujur atas
pernyataannya, jelaskan bagaimana ini bisa terjadi.

8. Distribusi frekuensi di bawah ini menyajikan persentase penduduk usia


di bawah 25 tahun yang menyelesaikan studi sarjana tepat 4 tahun atau
lebih di beberapa kota besar di Indonesia. Tentukan ukuran penyebaran
dari distribusi frekuensi tersebut.

Persentase Frekuensi
15,2 – 19,6 3
19,7 – 24,1 15
24,2 – 28,6 19
28,7 – 33,1 6
33,2 – 37,6 7
37,7 – 42,1 0
42,2 – 46,6 1

8
Matemati
9. Dua puluh pelari dipilih secara acak untuk dilihat jumlah kilometer
pelari tersebut lari dalam seminggu. Berikut merupakan distribusi
frekuensi yang dihasilkan.

Batas Kelas Frekuensi


5,5 – 10,5 1
10,5 – 15,5 2
15,5 – 20,5 3
20,5 – 25,5 5
25,5 – 30,5 4
30,5 – 35,5 3
35,5 – 40,5 2

a. Tentukan ukuran pemusatan distribusi frekuensi di atas


b. Tentukan ukuran penyebarannya
c. Deskripsikan perilaku data tersebut terhadap rata-rata berdasarkan
ukuran penyebarannya.

10. Berikut merupakan distribusi frekuensi kumulatif data suhu udara


tertinggi (dalam derajat Fahrenheit) yang tercatat di 50 kota besar di
Indonesia. Tentukan simpangan rata-rata, simpangan baku, dan ragam.

Frekuensi Kumulatif
Kurang dari 99,5 0
Kurang dari 104,5 2
Kurang dari 109,5 10
Kurang dari 114,5 28
Kurang dari 119,5 41
Kurang dari 124,5 48
Kurang dari 129,5 49
Kurang dari 134,5 50

82
Kelas XII
BAB

3
Peluang
A.
A. Kompetensi Dasar
Kompetensi Dasar dan
dan Pengalaman
Pengalaman Belajar

Kompetensi Dasar Pengalaman Belajar

3.3 Menganalisis aturan pencacahan (aturan Melalui pembelajaran kombinatorik, siswa mem-
penjumlahan, aturan perkalian, permutasi, dan peroleh pengalaman belajar
kombinasi) melalui masalah kontekstual. 1. Mengamati dan menemukan konsep aturan
3.4 Mendeskripsikan dan menentukan peluang penjumlahan dan perkalian melalui masalah
kejadian majemuk (peluang kejadian-kejadian kontekstual
saling bebas, saling lepas, dan kejadian bersyarat) 2. Mengamati dan menemukan konsep permutasi dan
dari suatu percobaan acak. kombinasi melalui masalah kontekstual
4.3 Menyelesaikan masalah kontekstual yang 3. Menerapkan konsep aturan penjumlahan,
berkaitan dengan kaidah pencacahan (aturan perkalian, permutasi, dan kombinasi dalam
penjumlahan, aturan perkalian, permutasi, dan menyelesaikan masalah sehari-hari
kombinasi).
4.4 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan
kejadian majemuk (peluang kejadian- kejadian
saling bebas, saling lepas, dan kejadian bersyarat).

• Aturan Perkalian
Istilah Penting

• Permutasi
• Kombinasi
• Peluang Kejadian
Biogra£ Gerolamo Cardano

Gerolamo Cardano lahir pada tanggal


24 September 1501 di Pavia, Lombardy, Italia.
Beliau merupakan seorang ahli matematika,
dokter, ahli biologi, fisika, kimia, astrolog,
astronom, filosofi, penulis, dan penjudi dari
Italia. Beliau sering dianggap sebagai ahli
matematika terbesar dari Renaissance.
Meskipun kegiatannya berjudi membawa
pengaruh buruk bagi keluarganya, namun
judi juga memacu Gerolamo Cardano untuk
mempelajari peluang dalam kegiatan tersebut.
Penelitian tentang putaran dadu, didasarkan
pada premis bahwa terkandung prinsip-prinsip
dasar sains, bukan sekedar keberuntungan.
Teori ini dituliskan dalam bukunya yang
berjudul
Liber de Ludo Aleae (Book on Games of Changes) pada tahun 1565. Beliau
juga berjasa dalam memperkenalkan koefisien binomial dan teorema binomial,
yang ia publikasikan dalam bukunya Opus novum de proportionibus.

Pelajaran berharga dari Gerolamo Cardano:


1. Segala perbuatan yang kita lakukan, meskipun perbuatan yang buruk
akan menghasilkan hal yang positif dan bermanfaat.
2. Memiliki pendirian yang kuat dalam ilmu yang diminati.
3. Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi sehingga dapat menggunakan
kegiatan yang dilakukan untuk memahami konsep-konsep ilmu.

8
Kelas XII
[Link] Alur Konsep

Aturan Penjumlahan

Aturan Perkalian
Aturan Pencacahan

Permutasi

Kombinasi

PELUANG

Kejadian Saling Lepas

Kejadian Majemuk
Kejadian Saling Bebas
Kejadian Bersyarat

85
Matemati
[Link] Pembelajaran

Subbab 3.1 Aturan Pencacahan, Permutasi, dan


Kombinasi Kegiatan 3.1.1 Aturan Penjumlahan dan
Perkalian

Pernahkah Anda bermain kartu remi seperti gambar di bawah?

Sumber: [Link]
Gambar 3.1.1

Jenis kartu pada pada baris pertama disebut Club (C) (♣), baris kedua
disebut Spade (S)(▲), baris ketiga disebut Heart (H) (♥), dan baris terakhir
disebut Diamond (D) (♦).
Dalam satu jenis terdapat 13 kartu (Ace (A), 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10,
Jack (J), Queen (Q), King (K)) sehingga totalnya menjadi 52 kartu.
Dalam kesempatan ini, kita bukannya akan bermain kartu remi,
melainkan akan menggunakan media kartu remi ini untuk belajar tentang
aturan penjumlahan dan perkalian.

Dengan menggunakan kartu-kartu remi di atas, amati kegiatan


pengambilan kartu beserta banyak cara pengambilannya seperti pada Tabel

8
Kelas XII
3.1.1 berikut.

87
Matemati
Tabel 3.1.1. Kegiatan Pengambilan Kartu Remi dan Banyak Caranya
No. Kegiatan Kemungkinan Banyak Cara
1. Mengambil satu kartu A-C, A-S, A-H, A-D 4
Ace (A)
2. Mengambil satu kartu Q-C, Q-S, Q-H, Q-D 4
Queen
3. Mengambil satu kartu A-H, 2-H, 3-H, 4-H, 13
Heart 5-H, 6-H, 7-H, 8-H,
9-H, 10-H, J-H, Q-H,
K-H,
4. Mengambil satu kartu A-C, A-S 2
Ace hitam

Selanjutnya, Anda diminta untuk melengkapi kegiatan-kegiatan berikut


beserta banyak cara pengambilannya seperti pada Tabel 3.1.2 dan Tabel
3.1.3 berikut.
Tabel 3.1.2. Kegiatan Pengambilan Kartu Remi dan Banyak Caranya
No. Kegiatan Kemungkinan Banyak Cara
5. Mengambil satu kartu A-C, A-S, A-H, A-D, 8
Ace atau Queen Q-C, Q-S, Q-H, Q-D
6. Mengambil satu kartu A-C, A-S, A-H, A-D, 16
Ace atau satu kartu 2-H, 3-H, 4-H, 5-H,
Heart 6-H, 7-H, 8-H, 9-H,
10-H, J-H, Q-H, K-H
7. Mengambil satu kartu
Ace atau satu kartu
Ace hitam
8. Mengambil satu kartu
Queen atau satu kartu
Heart

8
Kelas XII
No. Kegiatan Kemungkinan Banyak Cara
9. Mengambil satu kartu
Queen atau satu kartu
Ace hitam
10. Mengambil satu kartu
Ace Hitam atau King
Sekarang Anda diminta untuk melengkapi dua kegiatan pengambilan
kartu beserta banyak cara pengambilannya.
Tabel 3.1.3. Kegiatan Pegambilan Kartu Remi dan Banyak Caranya
No. Kegiatan Kemungkinan Banyak Cara
11. Banyak cara mengam- A-C Q-C 16
bil satu kartu Ace Q-S
(tanpa dikembalikan) Q-H
kemu- dian satu kartu Q-D
Queen A-S Q-C
Q-S
Q-H
Q-D
A-H Q-C
Q-S
Q-H
Q-D
A-D Q-C
Q-S
Q-H
Q-D
12. Banyak cara mengam-
bil kartu Ace (tanpa
dikembalikan) kemu-
dian satu kartu Heart

89
Matemati
No. Kegiatan Kemungkinan Banyak Cara
13. Banyak cara meng-
ambil kartu Club ber-
nomor ganjil (tanpa di-
kembalikan) kemudian
Club bernomor prima

Tuliskan istilah-istilah matematika dari hasil pengamatan pada kotak di


bawah ini.

Setelah Anda mengamati kegiatan pengambilan kartu beserta banyak


cara pengambilannya, tentu Anda akan bertanya tentang hal-hal yang
berkenaan dengan kegiatan itu. Misalnya apakah ada aturan untuk
menghitungnya. Nah, sekarang buatlah pertanyaan-pertanyaan yang
berkenaan dengan kegiatan tersebut? Berikut beberapa contoh pertanyaan:
1. Bagaimana hubungan masing-masing kejadian?
2. Apakah ada aturan yang berhubungan dengan kejadian-kejadian di atas?
3. Apakah ada cara lain untuk menyajikan cara menghitung kemungkinan
banyak cara pengambilan?
Tuliskan beberapa pertanyaan Anda pada kotak berikut.

9
Kelas XII
Coba Anda perhatikan kegiatan nomor 1 sampai dengan nomor 6.
Kemungkinan pengambilan kartu pada kegiatan nomor 1 tidak ada yang
sama dengan kemungkinan pada kegiatan nomor 2. Hal ini tidak terjadi pada
kemungkinan pengambilan kartu pada kegiatan nomor 1 dan nomor 3.
Kedua kegiatan ini mempunyai kemungkinan yang sama, yaitu Ace-H. Dua
kegiatan pengambilan pada nomor 1 dan nomor 3 merupakan contoh dua
kegiatan yang saling lepas karena kegiatan ini tidak pernah terjadi bersama-
sama. Sedangkan kegiatan pengambilan pada nomor 1 dan nomor 3
merupakan contoh kegiatan yang tidak saling lepas. Dengan penjelasan ini,
Anda tentu dapat menentukan hubungan beberapa pasangan pada kegiatan-
kegiatan nomor 1 sampai dengan nomor 6 dalam tabel berikut.
Kegiatan Hubungan Kemungkinan yang Sama
Nomor 1 dan 2 Saling lepas -
Nomor 1 dan 3 Tidak saling lepas A-H
Nomor 1 dan 4
Nomor 2 dan 3
Nomor 2 dan 4
Nomor 3 dan 4

Dengan memperhatikan hubungan-hubungan di atas, maka kegiatan-


kegiatan pada nomor 5 sampai dengan 10 dapat disajikan seperti pada tabel
berikut.
No. Kegiatan Kemungkinan Banyak Cara
5. Mengambil satu kartu Ace Saling lepas 8 = 4 (banyak cara
(kegiatan nomor 1) atau kegiatan nomor 1) + 4
Queen (kegiatan nomor (banyak cara kegiatan
2) nomor 2)

91
Matemati
No. Kegiatan Kemungkinan Banyak Cara
6. Mengambil satu kartu Tidak saling 16 ≠ 4 (banyak cara
Ace (kegiatan nomor 1) lepas kegiatan nomor 1) +
atau satu kartu Heart 13 (kegiatan nomor 3)
(kegiatan nomor 3)
7. Mengambil satu kartu
Ace (kegiatan nomor 1)
atau satu kartu Ace hitam
(kegiatan nomor 4)
8. Mengambil satu kartu
Queen (kegiatan nomor
2) atau satu kartu Heart
(kegiatan nomor 3)
9. Mengambil satu kartu
Queen (kegiatan nomor
2) atau satu kartu Ace
hitam (kegiatan nomor 4)
10. Mengambil satu kartu
Heart (kegiatan nomor 3)
atau satu kartu Ace Hitam
(kegiatan nomor 4)

Demikian juga dengan memperhatikan hubungan kegiatan-kegiatan pada


nomor 1 sampai dengan nomor 6, maka kegiatan-kegiatan pada nomor 11
sampai dengan nomor 13 dapat disajikan seperti tabel berikut.
No. Kegiatan Kemungkinan Banyak Cara
11. Banyak cara mengambil Saling lepas 16 = 4 (banyak cara
satu kartu Ace (kegiatan kegiatan nomor 1) x 4
nomor 1) (tanpa di- banyak cara kegiatan
kembalikan) kemudian nomor 2)
satu kartu Queen (kegiat-
an nomor 2)

9
Kelas XII
No. Kegiatan Kemungkinan Banyak Cara
12. Banyak cara mengambil Tidak saling
kartu Ace (kegiatan lepas
nomor 1) (tanpa
dikembalikan) kemudian
satu kartu Heart (kegiatan
nomor 3)
13. Banyak cara mengambil
kartu Club bernomor
ganjil (tanpa dikembali-
kan) kemudian Club ber-
nomor prima

Nah sekarang Anda dapat menyimpulkan sebagai berikut.


1. Apabila kegiatan 1 dan kegiatan 2 adalah dua kegiatan yang saling
lepas, dan misalkan kegiatan 1 terjadi dengan n cara dan kegiatan 2
terjadi dengan m cara, maka 2 kegiatan tersebut akan terjadi sebanyak
m + n. Aturan ini disebut dengan aturan penjumlahan.
2. Apabila kegiatan nomor 1 dan kegiatan nomor 3 adalah dua kegiatan
yang tidak saling lepas, dan misalkan kegiatan nomor 1 terjadi dengan
n cara dan kegiatan nomor 3 terjadi dengan m cara, maka kegiatan yang
diperoleh dari melakukan kegiatan nomor 1 kemudian dilanjutkan
dengan kegiatan nomor 3 akan terjadi sebanyak mn. Aturan ini disebut
dengan aturan perkalian.
Aturan penjumlahan dan perkalian ini dapat diperluas sebanyak n
kegiatan yang saling lepas. Tuliskan aturan penjumlahan dan perkalian yang
diperluas dalam tempat yang disediakan berikut.

93
Matemati
Perluasan Aturan Penjumlahan

Perluasan Aturan Perkalian

Setelah Anda memperoleh aturan dalam perhitungan, yaitu aturan


penjumlahan dan peraturan perkalian, sekarang Anda berdiskusi dengan
teman sebangku untuk membuat minimal 4 pasang kejadian yang saling
lepas untuk menerapkan aturan tersebut. Mintalah bantuan guru apabila
Anda menemui kesulitan.
Setelah kelompok Anda selesai membuat soal tersebut, selanjutnya
saling bertukar soal dengan kelompok lain dan kemudian kerjakan soal
tersebut. Mintalah kelompok yang memberi soal untuk mengoreksi pekerjaan
kelompok Anda.

Kegiatan 3.1.2 Penyusunan dan Pengambilan


Dalam kehidupan sehari-hari, tentu istilah penyusunan dan pengambilan
adalah dua kegiatan yang berbeda. Sebagai contoh, apabila Anda
mempunyai empat kartu Ace (A-C, A-S, A-H, A-D), kemudian diminta
untuk menyusun kartu Ace tersebut dua-dua, maka tentu akan berbeda
apabila Anda diminta mengambil dua kartu dari empat kartu Ace tersebut.
Untuk lebih jelasnya perbedaan dua kegiatan tersebut, maka lakukan
kegiatan berikut. Silakan Anda melakukan kegiatan ini secara berkelompok
3–4 orang.

9
Kelas XII
Dengan menggunakan media kartu remi (jika diperlukan), Anda diminta
untuk melakukan kegiatan penyusunan atau pengambilan kartu (tanpa
pengembalian) dan kemudian menuliskan hasilnya seperti pada tabel berikut.
Tabel 3.1.4 Kegiatan Penyusunan dan Pengambilan Kartu
No. Kegiatan Kemungkinan Banyak Cara
1. Menyusun 2 kartu Ace dari A-C A-S, A-C A-H, 12
4 kartu Ace A-C A-D, A-S A-C,
A-S A-H, A-S A-D,
A-H A-C, A-H A-S,
A-H A-D, A-D A-C,
A-D A-S, A-D A-H
2. Mengambil 2 kartu Ace dari A-C A-S, A-C A-H, 6
4 kartu Ace A-C A-D, A-S A-C,
A-S A-H, A-S A-D,
A-H A-C, A-H A-S,
A-H A-D, A-D A-C,
A-D A-S, A-D A-H
3. Menyusun 3 kartu Ace dari
4 kartu Ace
4. Mengambil 3 kartu Ace dari
4 kartu Ace
5. Menyusun 4 kartu Ace dari
4 kartu Ace
6. Mengambil 4 kartu Ace dari
4 kartu Ace
7. Menyusun 2 kartu dari 5
kar- tu 2-C, 3-C, 4-C, 5-C,
6-C
8. Mengambil 2 kartu dari 5
kartu 2-C, 3-C, 4-C, 5-C, 6-
C

95
Matemati
Tuliskan istilah-istilah matematika dari hasil pengamatan pada kotak di
bawah ini.

Dari kegiatan-kegiatan tentang penyusunan dan pengambilan kartu di


atas, buatlah pertanyaan-pertanyaan. Anda dapat menggunakan kata bantu
seperti: perbedaan atau persamaan, cara menentukan banyak penyusunan
atau pengambilan, aturan penjumlahan dan perkalian. Sebagai contoh
pertanyaannya adalah:
1. Apa perbedaan dan persamaan dari penyusunan dan pengambilan?
2. Apakah ada cara atau formula umum untuk menentukan banyak cara
penyusunan dan banyak cara pengambilan?
3. Apakah aturan penjumlahan dan perkalian dapat digunakan dalam
menentukan banyak cara penyusunan atau pengambilan?
Tuliskan beberapa pertanyaan Anda pada kotak berikut dan Anda boleh
menggunakan contoh pertanyaan tersebut.

9
Kelas XII
Sekarang perhatikan kembali kegiatan-kegiatan di atas. Ketika Anda
menyusun 2 kartu Ace dari 4 kartu Ace (A-C, A-S, A-H, A-D) (kegiatan
nomor 1), maka diperoleh semua susunan seperti pada Tabel 1.4. Dalam hal
menyusun 2 kartu Ace, tentu susunan A-C A-S tidak sama dengan susunan
A-S A-C walaupun penyusunan sama. Tetapi ketika Anda mengambil 2
kartu Ace dari 4 kartu Ace (A-C, A-S, A-H, A-D) (kegiatan nomor 2), tentu
pengambilan kartu A-C A-S akan sama dengan pengambilan kartu A-S A-C.
Demikian juga untuk kegiatan nomor 3, penyusunan 3 kartu Ace dari 4 kartu
Ace (A-C, A-S, A-H, A-D), tentu susunan A-C A-S A-H, A-C A-H A-S, A-
S A-C A-H, A-S
A-H A-C, A-H A-C A-S, dan A-H A-S A-C berbeda walaupun
penyusunannya sama yaitu A-C, A-S, dan A-H. Tetapi kegiatan nomor 4,
pengambilan 3 kartu Ace dari 4 kartu Ace (A-C, A-S, A-H, A-D), keenam
kemungkinan A-C A-S A-H, A-C A-H A-S, A-S A-C A-H, A-S A-H A-C, A-
H A-C A-S, dan A-H A-S
A-C adalah sama. Demikian juga untuk kegiatan nomor 5, 6, 7, dan 8.
Dari penjelasan di atas, terdapat perbedaan penyusunan dan
pengambilan. Kalau dalam penyusunan urutan diperhatikan, tetapi dalam
pengambilan urutan tidak diperhatikan. Kesamaan dari penyusunan dan
pengambilan adalah tidak ada kartu yang berulang, misalnya penyusunan A-
C A-C atau pengambilan A-C A-C. Istilah pengulangan ini juga dikenal
dengan pengembalian.
Penyusunan 2 kartu Ace dari 4 kartu Ace (A-C, A-S, A-H, A-D)
merupakan contoh dari permutasi 2 unsur dari 4 unsur, dinotasikan dengan
4P2 atau P(4,2). Sedangkan pengambilan 2 kartu Ace dari 4 kartu Ace (A-C,
A-S, A-H, A-D) merupakan contoh dari kombinasi 2 unsur dari 4 unsur,
dinotasikan dengan 4C2 atau C(4,2). Dengan demikian secara umum:
• Permutasi r unsur dari n unsur merupakan penyusunan r unsur dari n
unsur tanpa pengulangan dan dinotasikan dengan nPr atau P(n,r) dengan
0 < r ≤ n.
• Kombinasi r unsur dari n unsur merupakan pengambilan r unsur dari n
unsur tanpa pengembalian dan dinotasikan dengan nCr atau C(n,r)
dengan 0 < r ≤ n.

97
Matemati
Berdasarkan informasi yang telah Anda peroleh, tulislah kesimpulan
Anda berdasarkan kata-kata sendiri mengenai permutasi dan kombinasi pada
kotak di bawah ini.

Setelah Anda mengerti tentang permutasi dan kombinasi, diskusikan


dalam kelompokmu untuk menuliskan beberapa contoh permutasi dan
kombinasi dan dicoba untuk dihitung berapa nilai dari permutasi dan
kombinasi tersebut. Selanjutnya silakan saling menukar soal yang telah
dibuat kelompok Anda untuk dikerjakan oleh kelompok lainnya. Kemudian
dikoreksi pekerjaan yang telah dikerjakan oleh kelompok teman Anda.
Mintalah bantuan pada guru apabila Anda mengalami permasalahan,
misalnya terjadi ketidaksamaan antar kelompok dalam menyelesaikan soal.
Tuliskan hasil diskusi Anda pada kotak di bawah ini.

9
Kelas XII
Kegiatan 3.1.3 Menentukan Rumus Permutasi dan Penerapannya
Setelah Anda memahami tentang pengertian permutasi, selanjutnya akan
dilakukan proses untuk menemukan rumus permutasi r unsur dari n unsur.
Sebelum menurunkan rumus, beberapa definisi, istilah dan notasi yang
berkenaan dengan masalah ini perlu diketahui dan dipahami.

NOTASI FAKTORIAL
Definisi.
Untuk suatu n bilangan asli, n! (dibaca n faktorial) didefinisikan sebagai
1. n! = n  (n – 1)  ...  2  1 = 1  2  3  ...  (n – 1)  n
2. 0! = 1

Contoh 3.1.1

1. 5! = 5  4  3  2  1 = 120
2. 3! + 4! = 3  2  1 + 4  3  2  1 = 6 + 24 = 30
3. 3! · 4! = (3  2  1)  (4  3  2  1) = 6  24 = 144
4. 5! 5  4  3  2 1
3!  3  2 1  5  4  20

Sekarang silakan Anda berdiskusi dengan teman sebangkumu (bersebelahan)


untuk mengamati contoh-contoh yang diberikan berikut.

Marilah amati contoh-contoh yang berhubungan dengan permutasi r unsur


dari n unsur.

Contoh 3.1.2
Berapa banyak cara menyusun 2 kartu Ace dari 4 kartu Ace (A-C, A-S, A-
H, A-D)?

99
Matemati
Penyelesaian
Untuk menyelesaikan hal ini, Anda dapat membuat bantuan dua kotak
sebagai tempat pengaturan dua kartu Ace tersebut, misalnya
(1) (2)
... ...
Kotak (1) dapat diisi oleh 4 kartu Ace, yaitu A-C, A-S, A-H, A-D, sehingga
pada kotak (1) ada 4 kemungkinan.
Pada kotak (2) hanya dapat diisi oleh 3 kemungkinan, karena 1 kartu sudah
diisikan pada kotak (1), yaitu:
• Jika kotak (1) diisi A-C, maka pada kotak (2) dapat diisi A-S, A-H, A-D
atau
• Jika kotak (1) diisi A-S, maka pada kotak (2) dapat diisi A-C, A-H, A-D
• Jika kotak (1) diisi A-H, maka pada kotak (2) dapat diisi A-C, A-S, A-D
• Jika kotak (1) diisi A-D, maka pada kotak (2) dapat diisi A-C, A-S, A-H
Kemungkinan ini dapat digambarkan dengan diagram batang sebagai
berikut. Kartu I Kartu II
A-C A-S
A-H
A-D
A-S A- C
A-H
A-D
A-H A-C
A-S
A-D
A-D A-C
A-S
A-H
Dengan demikian pada kotak (1) ada 4 kemungkinan dan kotak (2) ada
3 kemungkinan.
(1) (2)
4 3

1
Kelas XII
Dengan aturan perkalian diperoleh banyak cara penyusunan adalah 4  3 = 12.
4  3  2 1 4!
Perhatikan bahwa 4  3 = 
2 1 (4 2)!

Contoh 3.1.3

Berapa banyak cara menyusun 3 kartu Ace dari 4 kartu Ace (A-C, A-S, A-
H, A-D)?
Penyelesaian
Untuk menyelesaikan hal ini, Anda dapat membuat bantuan tiga kotak sebagai
tempat pengaturan tiga kartu Ace tersebut, misalnya
(1) (2) (3)
... ... ...
Kotak (1) dapat diisi oleh 4 kartu Ace, yaitu A-C, A-S, A-H, A-D, sehingga
pada kotak (1) ada 4 kemungkinan.
Pada kotak (2) hanya dapat diisi oleh 3 kemungkinan, karena 1 kartu sudah
diisikan pada kotak (1), yaitu
• Jika kotak (1) diisi A-C, maka pada kotak (2) dapat diisi A-S, A-H, A-D
• Jika kotak (1) diisi A-S, maka pada kotak (2) dapat diisi A-C, A-H, A-D
• Jika kotak (1) diisi A-H, maka pada kotak (2) dapat diisi A-C, A-S, A-D
• Jika kotak (1) diisi A-D, maka pada kotak (2) dapat diisi A-C, A-S, A-H
Pada kotak (3) hanya dapat diisi oleh 2 kemungkinan, karena 1 kartu sudah
diisikan pada kotak (1) dan 1 kartu pada kotak (2) , yaitu
• Jika kotak (1) diisi A-C, kotak (2) diisi A-S, maka kotak (3) dapat diisi
A-H atau A-D
• Jika kotak (1) diisi A-C, kotak (2) diisi A-H, maka kotak (3) dapat diisi
A-S atau A-D
• Jika kotak (1) diisi A-C, kotak (2) diisi A-D, maka kotak (3) dapat diisi
A-S atau A-H
• Jika kotak (1) diisi A-S, kotak (2) diisi A-C, maka kota (3) diisi A-H
atau A-D
• Jika kotak (1) diisi A-S, kotak (2) diisi A-H, maka kota (3) diisi A-C
atau A-D

10
Matemati
• Jika kotak (1) diisi A-S, kotak (2) diisi A-D, maka kota (3) diisi A-C
atau A-H
• Jika kotak (1) diisi A-H, kotak (2) diisi A-C, maka kotak (3) diisi A-S
atau A-D
• Jika kotak (1) diisi A-H, kotak (2) diisi A-S, maka kotak (3) diisi A-C
atau A-D
• Jika kotak (1) diisi A-H, kotak (2) diisi A-D, maka kotak (3) diisi A-C
atau A-S
• Jika kotak (1) diisi A-D, kotak (2) diisi A-C, maka kotak (3) diisi A-S
atau A-H
• Jika kotak (1) diisi A-D, kotak (2) diisi A-S, maka kotak (3) diisi A-C
atau A-H
• Jika kotak (1) diisi A-D, kotak (2) diisi A-H, maka kotak (3) diisi A-C
atau A-S
Kemungkinan ini dapat digambarkan dengan diagram batang sebagai
berikut. Kartu I Kartu II Kartu III
A-C A-S A-H
A-D
A-H A-S
A-D
A-D A-S
A-H
A-S A-C A-H
A-D
A-H A-C
A-D
A-D A-C
A-H
A-H A-C A-S
A-D
A-S A-C
A-D
A-D A-C
A-S

1
Kelas XII
A-D A-C A-S
A-H
A-S A-C
A-H
A-H A-C
A-S
Dengan demikian pada kotak (1) ada 4 kemungkinan, kotak (2) ada
3 kemungkinan, dan kotak (3) ada 3 kemungkinan, yaitu
(1) (2) (3)
4 3 2
Dengan aturan perkalian diperoleh banyak cara penyusunan adalah 4  3  2 =
4  3  2 1 4! .
24. Perhatikan bahwa 4  3  2 = 
1 (4  3)!

Contoh 3.1.4

Tentukan banyak cara menyusun 3 kartu dari 5 kartu 2-C, 3-C, 4-C, 5-C, 6-C.
Penyelesaian
Untuk menyelesaikan hal ini, Anda dapat membuat bantuan tiga kotak sebagai
tempat pengaturan tiga kartu dari 5 kartu 2-C, 3-C, 4-C, 5-C, 6-C, misalnya
(1) (2) (3)
... ... ...
Karena kartunya terdapat 5, maka kotak (1) dapat diisi oleh 5 kartu, sehingga
pada kotak (1) ada 5 kemungkinan. Karena 1 kartu sudah diisikan pada kotak
(1), maka sisa kartu tinggal 4 yang akan diisikan pada kotak (2). Dengan
demikian pada kotak (2) terdapat 4 kemungkinan.
Pada kotak (3) hanya dapat diisi oleh 3 kemungkinan, karena 1 kartu sudah
diisikan pada kotak (1) dan 1 kartu pada kotak (2). Silakan Anda membuat
diagram batang untuk menggambarkan kemungkinan tersebut. Apa yang
Anda dapatkan? Jadi pada kotak (1) ada 5 kemungkinan, kotak (2) ada 3
kemungkinan, dan kotak (3) ada 3 kemungkinan, yaitu

10
Matemati
(1) (2) (3)
5 4 3
Dengan aturan perkalian diperoleh banyak cara penyusunan adalah 5  4  3 = 60.
5  4  3  2 1 5! .
Perhatikan bahwa 5  4  3 = 
2 1 (5 3)!

Contoh 3.1.5
Tentukan banyak cara mendistribusikan (membagikan) 3 kartu berbeda
kepada 5 pemain dengan syarat setiap pemain paling banyak mendapatkan
satu kartu.

Penyelesaian
Anda dapat menyelesaikan masalah ini dengan langkah sebagai berikut.
– Kartu pertama dapat dibagikan kepada 5 pemain, sehingga banyak cara
membagikan kartu pertama sebanyak 5 kemungkinan.
– Karena satu pemain sudah mendapat 1 kartu, maka tinggal 4 pemain
yang dapat dibagikan kartu kedua, sehingga banyak cara membagikan
kartu kedua sebanyak 4 kemungkinan.
– Kartu ketiga (terakhir) dapat dibagikan kepada 3 pemain, karena 2
pemain sudah mendapat masing-masing 1 kartu. Sehingga banyak cara
membagikan kartu ketiga sebanyak 3 kemungkinan.
Dengan menggunakan prinsip perkalian, maka banyak cara mendistribusikan
3 kartu berbeda kepada 5 pemain dengan syarat setiap pemain paling banyak
5  4  3  2 1 5!
mendapatkan satu kartu sama dengan 5  4  3 =  = 60.
2 1 (5  3)!
Tuliskan istilah-istilah matematika dari hasil pengamatan pada kotak di
bawah ini.

1
Kelas XII
Setelah Anda mengamati dengan cermat Contoh 3.1.2 sampai Contoh
3.1.5, mungkin Anda mempunyai beberapa pertanyaan. Mungkin salah satu
pertanyaan Anda adalah sebagai berikut.
1. Bagaimana memperoleh rumus umum untuk masalah permutasi r unsur
dari n unsur?
2. Apakah mungkin terjadi permutasi r unsur dari n unsur dengan r > n?
3. Apakah masalah mendistribusikan r unsur berbeda kepada n tempat
berbeda dengan syarat setiap tempat hanya boleh ditempati paling
banyak 1 unsur ekuivalen dengan masalah permutasi r unsur dari n
unsur?
Nah, tuliskan pertanyaan-pertanyaan Anda pada kotak berikut:

Mari kita menurunkan rumus untuk banyak permutasi r unsur dari n unsur.
– Untuk r > n. Karena permutasi r unsur dari n unsur merupakan
penyusunan r unsur dari n unsur, maka tidak akan terjadi penyusunan,
sehingga banyak permutasi r unsur dari n unsur r > n adalah 0 atau nPr
= P(n, r) = 0.
– Untuk 0 < r ≤ n, akan digunakan r kotak dalam menentukan banyak
permutasi r unsur dari n, yaitu
(1) (2) (3) ... (r)
... ... ... ... ...

Karena terdapat n unsur, maka kotak (1) dapat diisi oleh n kartu, sehingga
pada kotak (1) ada n kemungkinan.

10
Matemati
Karena 1 unsur sudah diisikan pada kotak (1), maka sisa kartu tinggal n – 1
yang akan diisikan pada kotak (2). Dengan demikian pada kotak (2) terdapat
n – 1 kemungkinan.
Dengan demikian untuk kotak (3) terdapat n – 2 kemungkinan, dan
seterusnya hingga kotak ke (r) terdapat (n – r + 1) kemungkinan.
Jadi kemungkinan pada kotak (1), (2), . . . (r), dapat dinyatakan sebagai:
(1) (2) (3) ... (r)
n n–1 n–2 ... n–r+1
Dengan aturan perkalian diperoleh banyak permutasi r unsur dari n.
nPr = P(n,r) = n  (n – 1)  (n – 2)  ...  (n – r + 1)
n  (n  1)  (n  2)  ...  (n  r  1)  (n  r)  ...  2 1 ! .
= 
(n  r)  . . .  2 1 (n  r)!
n! ,
Jadi banyak permutasi r unsur dari n unsur, nPr = P(n,r) = untuk
(n  r)!
0 < r ≤ n.
Dalam kasus r = n, maka nPn = P(n,n) = n! dan disebut banyak permutasi n
unsur.
Sekarang perhatikan masalah mendistribusikan r unsur berbeda ke
dalam n tempat berbeda dengan syarat setiap tempat paling banyak terisi 1
unsur. Untuk menyelesaikan masalah ini, kita lakukan dengan langkah-
langkah berikut.
– Unsur pertama dapat didistribusikan ke n tempat berbeda, sehingga
banyak cara mendistribusikan unsur pertama adalah n cara.
– Karena 1 tempat sudah terisi unsur pertama sedangkan setiap tempat
paling banyak terisi 1 unsur, maka banyak cara mendistribusikan unsur
kedua adalah n – 1 cara.
– Karena 2 tempat sudah terisi unsur pertama dan kedua sedangkan setiap
tempat paling banyak terisi 1 unsur, maka banyak cara mendistribusikan
unsur ketiga adalah n – 1 cara.
– Demikian seterusnya, sehingga banyak cara mendistribusikan unsur
terakhir (ke-r) sebanyak (n – r + 1) cara.

1
Kelas XII
Jadi dengan menggunakan aturan perkalian diperoleh banyak cara men-
distribusikan r unsur berbeda ke dalam n tempat berbeda dengan syarat
setiap tempat paling banyak terisi 1 unsur adalah
n! .
n  (n – 1)  (n – 2)  ...  (n – r + 1) = P(n, r) =
(n  r)!

Berdasarkan informasi yang telah Anda peroleh, tulislah kesimpulan Anda


berdasarkan kata-kata sendiri mengenai rumus untuk permutasi.
Kesimpulan

Setelah Anda mengerti menemukan rumus untuk permutasi, secara


berkelompok 3–4 orang perkelompok untuk membuat 4 soal penerapan
permutasi beserta jawabannya, kemudian saling menukar soal kelompok
Anda dengan kelompok lain untuk dikerjakan. Setelah selesai, koreksilah
jawaban kelompok yang mendapatkan soal Anda dan bantulah apabila
kelompok yang diberi soal ada yang belum dijawab dengan benar. Tuliskan
hasil diskusi Anda pada kotak di bawah ini.

10
Matemati
Kegiatan 3.1.4 Menentukan Rumus Kombinasi dan Penerapannya
Pada pembahasan sebelumnya Anda telah mempelajari menentukan
rumus permutasi r unsur dari n unsur dan penerapannya. Selanjutnya akan
dibahas tentang kombinasi r unsur dari n unsur.

Marilah amati contoh-contoh yang berhubungan dengan kombinasi r unsur


dari n unsur dan hubungannya dengan permutasi r unsur dari n unsur.

Contoh 3.1.6

Berapa banyak cara pengambilan 2 kartu Ace dari 4 kartu Ace (A-C, A-S,
A-H, A-D)?

Penyelesaian
Banyak cara pengambilan 2 kartu Ace dari 4 kartu Ace (A-C, A-S, A-H, A-
D) sebanyak 6 yaitu, A-C A-S, A-C A-H, A-C A-D, A-S A-H, A-S A-D, A-H
A-D.
Hal ini sama halnya dengan menentukan banyaknya himpunan bagian dari
{A-C, A-S, A-H, A-D} yang mempunyai 2 anggota, yaitu {A-C, A-S}, {A-C,
A-H}, {A-C, A-D}, {A-S, A-H}, {A-S, A-D}, {A-H, A-D}.
Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa banyak cara mengambil 2 kartu Ace
dari 4 kartu Ace (A-C, A-S, A-H, A-D) merupakan contoh dari kombinasi 2
unsur dari 4 unsur, 2C4 atau C(4,2). Sedangkan banyak cara menyusun 2
kartu Ace dari 4 kartu Ace (A-C, A-S, A-H, A-D) merupakan contoh dari
permutasi 2 unsur dari 4 unsur, 2P4 atau P(4, 2).
Kalau Anda perhatikan bahwa banyak cara permutasi 2 unsur dari 4 unsur
P(4, 2) dapat diperoleh dari menyusun setiap unsur C(4, 2), yaitu {A-C, A-S},
{A-C, A-H}, {A-C, A-D}, {A-S, A-H}, {A-S, A-D}, {A-H, A-D}. Anda
ketahui bahwa banyak susunan dari {A-C, A-S} sama dengan banyak
permutasi 2 unsur yaitu P(2, 2), demikian juga banyak susunan untuk
{A-C, A-H},
{A-C, A-D}, {A-S, A-H}, {A-S, A-D}, {A-H, A-D} sama dengan P(2, 2). Jadi

1
Kelas XII
banyak banyak cara permutasi 2 unsur dari 4 unsur P(4, 2) sama dengan
banyak cara kombinasi 2 unsur dari 4 unsur C(4, 2) dikalikan banyak
permutasi 2 unsur
P(2, 2) atau P(4, 2) = C(4,2) P(2, 2). Sehingga diperoleh C(4, P(4,2)
2) = .
P(2,2)

Contoh 3.1.7

Berapa banyak cara pengambilan 3 kartu Ace dari 4 kartu Ace (A-C, A-S, A-
H, A-D)?

Penyelesaian
Banyak cara pengambilan 3 kartu Ace dari 4 kartu Ace (A-C, A-S, A-H, A-
D) sebanyak 3 yaitu, A-C A-S A-H, A-C A-H A-D, A-S A-H A-D. Hal ini
sama halnya dengan menentukan banyaknya himpunan bagian dari {A-C, A-
S, A-H, A-D} yang mempunyai 3 anggota, yaitu {A-C, A-S. A-H}, {A-C,
A-H, A-D},
{A-S, A-H, A-D}.
Banyak cara mengambil 3 kartu Ace dari 4 kartu Ace (A-C, A-S, A-H, A-D)
merupakan contoh dari kombinasi 3 unsur dari 4 unsur, 3C4 atau C(4, 3),
sedangkan banyak cara menyusun 3 kartu Ace dari 4 kartu Ace (A-C, A-S,
A-H, A-D) merupakan contoh dari permutasi 3 unsur dari 4 unsur, 3P4 atau
P(4, 3).
Kalau Anda perhatikan bahwa banyak cara permutasi 3 unsur dari 4 unsur
P(4, 3) dapat diperoleh dari menyusun setiap unsur C(4, 3), yaitu {A-C, A-S,
A-D}, {A-C, A-H, A-D}, {A-S, A-H, A-D}. Anda ketahui bahwa banyak
susunan dari {A-C, A-S, A-D} sama dengan banyak permutasi 3 unsur
P(3, 3). Demikian juga banyak susunan untuk {A-C, A-H, A-D}, {A-S, A-
H, A-D} sama dengan permutasi 3 unsur P(3, 3). Jadi banyak banyak cara
permutasi 3 unsur dari 4 unsur P(4, 3) sama dengan banyak cara kombinasi
3 unsur dari 4 unsur C(4, 2) dikalikan banyak permutasi 3 unsur P(3, 3) atau
P(4, 3) = C(4,3) P(3, 3). Sehingga diperoleh C(4,3) P(4,3)
= P(3,3)

10
Matemati
Contoh 3.1.8

Tentukan banyak cara pengambilan 3 kartu dari 5 kartu 2-C, 3-C, 4-C, 5-C,
6-C.

Penyelesaian
Banyak cara pengambilan 3 kartu Ace dari 5 kartu 2-C, 3-C, 4-C, 5-C, 6-C
sama halnya dengan menentukan banyaknya himpunan bagian dari {2-C, 3-
C, 4-C, 5-C, 6-C} yang mempunyai 3 anggota, yaitu 8 diantaranya: {2-C, 3-
C, 4-C}, {2-C, 3-C, 5-C}, {2-C, 3-C, 6-C}, {2-C, 4-C, 5-C}, { 2-C, 4-C, 6-
C},
{3-C, 4-C, 5-C}, {3-C, 4-C, 6-C}, {4-C, 5-C, 6-C}.
Banyak cara mengambil 3 kartu dari 5 kartu 2-C, 3-C, 4-C, 5-C, 6-C
merupakan contoh dari kombinasi 3 unsur dari 5 unsur, 3C5 atau C(5,3),
sedangkan banyak cara menyusun 3 kartu dari 5 kartu 2-C, 3-C, 4-C, 5-C, 6-
C merupakan contoh dari permutasi 3 unsur dari 5 unsur, 3P5 atau P(5, 3).
Kalau Anda perhatikan bahwa banyak cara permutasi 3 unsur dari 5 unsur
P(5,3) dapat diperoleh dari menyusun setiap unsur C(5, 3), yaitu {2-C, 3-C,
4-C}, {2-C, 3-C, 5-C}, {2-C, 3-C, 6-C}, {2-C, 4-C, 5-C}, { 2-C, 4-C, 6-C},
{3-C, 4-C, 5-C}, {3-C, 4-C, 6-C}, {4-C, 5-C, 6-C}. Anda ketahui bahwa
banyak susunan dari {2-C, 3-C, 4-C} sama dengan banyak permutasi 3 unsur
P(3,3). Demikian juga banyak susunan untuk {2-C, 3-C, 5-C}, {2-C, 3-C, 6-
C}, {2-C, 4-C, 5-C}, { 2-C, 4-C, 6-C}, {3-C, 4-C, 5-C}, {3-C, 4-C, 6-C},
{4-C, 5-C, 6-C} sama dengan permutasi 3 unsur P(3,3). Jadi banyak banyak
cara permutasi 3 unsur dari 5 unsur P(5, 3) sama dengan banyak cara
kombinasi 3 unsur dari 5 unsur C(5, 3) dikalikan banyak permutasi 3 unsur
P(3, 3) atau
P(5, 3) = C(5, 3) P(3, 3). Sehingga diperoleh C(5, 3) P(5,3)
= P(3,3)

Contoh 3.1.9

Tentukan banyak cara mendistribusikan (membagikan) 3 unsur yang sama


ke 5 tempat berbeda dengan syarat setiap tempat paling banyak diisi 1 unsur.

1
Kelas XII
Penyelesaian
Masalah ini dapat dipandang sebagai masalah mengambil 3 tempat dari
5 tempat berbeda yang ada untuk ditempati oleh 3 unsur yang sama. Dengan
demikian, masalah ini sama halnya seperti masalah pada contoh 3. Jadi
banyak cara mendistribusikan (membagikan) 3 unsur yang sama ke 5 tempat
berbeda dengan syarat setiap tempat paling banyak diisi 1 unsur adalah
C(5,3).
Tuliskan istilah-istilah matematika dari hasil pengamatan pada kotak di
bawah ini.

Setelah Anda mengamati dengan cermat Contoh 3.1.6 sampai Contoh


3.1.9, mungkin Anda mempunyai beberapa pertanyaan. Mungkin salah satu
pertanyaan Anda adalah sebagai berikut.
1. Bagaimana memperoleh rumus umum untuk masalah kombinasi r unsur
dari n unsur?
2. Apakah mungkin terjadi kombinasi r unsur dari n unsur dengan r > n?
3. Apakah masalah mendistribusikan r unsur yang sama kepada n tempat
berbeda dengan syarat setiap tempat hanya boleh ditempati paling
banyak 1 unsur ekuivalen dengan masalah kombinasi r unsur dari n
unsur?
Nah, tuliskan pertanyaan-pertanyaan Anda pada kotak berikut:

11
Kelas XII
Mari kita menurunkan rumus untuk banyak kombinasi r unsur dari n unsur.
– Untuk r > n. Karena kombinasi r unsur dari n unsur merupakan
pengambilan r unsur dari n unsur, maka tidak akan terjadi pengambilan
yang demikian, sehingga banyak kombinasi r unsur dari n unsur r >
n adalah 0 atau nCr = C(n, r) = 0.
– Untuk 0 < r ≤ n, misalkan banyak kombinasi r unsur dari n unsur adalah
C(n, r), maka banyak kombinasi ini sama dengan banyak himpunan
bagian n unsur yang mempunyai r unsur. Sedangkan permutasi r unsur
dari n unsur diperoleh dari penyusunan dari setiap himpunan bagian dari
n unsur yang memuat r unsur dari n unsur yaitu sebanyak P(r, r), dengan
kata lain permutasi dari masing-masing kombinasi r unsur dari n unsur
diperoleh dari pengaturan dari masing-masing unsur dari kombinari r
dari n unsur C(n, r) sebanyak P(r, r). Dengan demikian banyak
permutasi r unsur dari n unsur P(n, r) sama dengan banyak kombinasi r
unsur dari n unsur C(n, r) dikalikan dengan banyak permutasi untuk r
unsur P(r,r), yaitu
P(n, r) = C(n, r) P(r, r) atau C(n, r) P(n,r) n! .
= P(r,r)  (n  r)!r !

Jadi banyak kombinasi r unsur dari n unsur, nCr = C(n,r) = P(n,r) n! ,


P(r,r)  (n  r)!r !
untuk 0 < r ≤ n.
Dalam kasus r = n, maka nCn = C(n, n) = 1.
Sekarang perhatikan masalah mendistribusikan r unsur yang sama ke
dalam n tempat berbeda dengan syarat setiap tempat paling banyak terisi
1 unsur. Untuk menyelesaikan masalah ini, perhatikan bahwa masalah
mendistribusikan r unsur yang sama ke dalam n tempat berbeda dengan
syarat setiap tempat paling banyak 1 unsur dapat dipandang sebagai
mengambil r tempat dari n tempat berbeda untuk ditempati oleh r unsur
yang sama. Hal ini sama halnya dengan masalah pengambilan r unsur dari n
unsur berbeda, dan ini merupakan masalah kombinasi r unsur dari n unsur.
Jadi masalah mendistribusikan r unsur yang sama ke dalam n tempat
berbeda

11
Matemati
dengan syarat setiap tempat paling banyak terisi 1 unsur merupakan masalah
kombinasi r unsur dari n unsur yang rumusnya telah diturunkan di atas, yaitu
C(n, r) = P(n,r) n! .
P(r,r)  (n  r)!r !

Berdasarkan informasi yang telah Anda peroleh, tulislah kesimpulan Anda


berdasarkan kata-kata sendiri mengenai rumus untuk kombinasi.
Kesimpulan

Setelah Anda mengerti menemukan rumus untuk kombinasi, secara


berkelompok 3–4 orang perkelompok untuk membuat 4 soal penerapan
kombinasi beserta jawabannya, kemudian saling menukar soal kelompok
Anda dengan kelompok lain untuk dikerjakan. Setelah selesai, koreksilah
jawaban kelompok yang mendapatkan soal Anda dan bantulah apabila
kelompok yang diberi soal ada yang belum dijawab dengan benar. Tuliskan
hasil diskusi Anda pada kotak di bawah ini.

11
Kelas XII
Kegiatan 3.1.5 Menentukan Rumus Permutasi Dengan Beberapa
Unsur Sama dan Penerapannya
Pada pembahasan sebelumnya Anda telah mempelajari menentukan
rumus permutasi n unsur, yaitu P(n, n) = n! di mana n unsur yang diketahui
adalah semuanya berbeda. Sekarang bagaimana apabila dalam n unsur
terdapat beberapa unsur yang sama, bagaimana rumus untuk masalah ini.
Untuk mempelajari lebih mendalam tentang hal ini mari kita perhatikan
contoh- contoh berikut.

Marilah amati contoh-contoh yang berhubungan dengan permutasi dengan


beberapa unsur yang sama.

Contoh 3.1.10
Tentukan banyak susunan yang diperoleh dari 3 huruf A, 2 huruf B, dan
1 huruf C.

Penyelesaian
Masalah ini dapat dipandang sebagai masalah meletakkan 3 huruf A, 2 huruf
B, dan 1 huruf C ke dalam 6 tempat berbeda dengan syarat setiap tempat
tepat terisi 1 huruf. Misalkan 6 tempat ini dapat diilustrasikan sebagai 6
kotak berikut.
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
... ... ... ... ... ...
Maka masalah ini diselesaikan dengan langkah berikut.
– Pertama letakkan 3 huruf A ke dalam 6 kotak yang tersedia, ini berarti
sama dengan C(6, 3).
– Berikutnya, karena 3 kotak sudah terisi, letakkan 2 huruf B ke dalam 3
kotak yang tersisa, ini berarti sama dengan C(3, 2).
– Terakhir letakkan 1 huruf C ke dalam 1 kotak tersisi, yang banyaknya
sama dengan C(1, 1).

11
Matemati
Dengan aturan perkalian, diperoleh banyak susunan yang diperoleh dari
3 huruf A, 2 huruf B, dan 1 huruf C adalah C(6, 3)  C(3, 2)  C(1, 1) =
6! 3! 1! 6! 3!

3! 2!1! 
1!0!  3!2!1! = 60.

Contoh 3.1.11

Berapa banyak cara penyusunan kata yang disusun dari kata “SUSUNAN”?

Penyelesaian
Huruf-huruf dari kata ”SUSUNAN” sebanyak 7 huruf yang terdiri dari 2
huruf S, 2 huruf U, 2 huruf N dan 1 huruf A. Seperti halnya Contoh 3.1.10,
masalah ini dapat dipandang sebagai masalah meletakkan 2 huruf S, 2 huruf
U, 2 huruf N dan 1 huruf A ke dalam 7 tempat berbeda dengan syarat setiap
tempat tepat terisi 1 huruf. Misalkan 7 tempat ini dapat diilustrasikan sebagai
7 kotak berikut.
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
... ... ... ... ... ... ...
Maka masalah ini diselesaikan dengan langkah berikut.
– Pertama letakkan 2 huruf S ke dalam 7 kotak yang tersedia, ini berarti
sama dengan C(7,2).
– Berikutnya, karena 2 kotak sudah terisi, letakkan 2 huruf U ke dalam
5 kotak yang tersisa, ini berarti sama dengan C(5,2).
– Selanjutnya, karena sudah 4 kotak sudah terisi, maka letakkan 2 huruf N
kedalam 3 kotak yang tersisi, sehingga banyak cara adalah C(3,2).
– Terakhir letakkan 1 huruf C ke dalam 1 kotak tersisi, yang banyaknya
sama dengan C(1,1).
Dengan aturan perkalian, diperoleh cara penyusunan kata yang disusun dari
kata ’SUSUNAN” adalah
7! 5! 3! 1! 7!
C(7,2)  C(5,2)  C(3,2)  C(1,1) =    
= 630.
2!5! 2!3! 2!1! 1!0! 2!2!2!1!

11
Kelas XII
Tuliskan istilah-istilah matematika dari hasil pengamatan pada kotak di
bawah ini.

Setelah Anda mengamati dengan cermat Contoh 3.1.10 dan Contoh 3.1.11,
mungkin Anda mempunyai beberapa pertanyaan berkaitan dengan permutasi
untuk beberapa unsur yang sama. Mungkin salah satu pertanyaan Anda
adalah sebagai berikut.
Bagaimana memperoleh rumus umum untuk masalah permutasi n1, n2, n3, . . . nk
unsur dari n unsur?
Nah, tuliskan pertanyaan-pertanyaan Anda pada kotak berikut.

Mari kita menurunkan rumus permutasi n unsur yang terdiri dari n1 unsur
jenis pertama, n2 unsur jenis kedua, n3 unsur jenis ketiga, . . . , nk unsur jenis
ke-k (n = n1 + n2 + n3 + . . . + nk).

11
Matemati
Untuk menentukan masalah banyak permutasi ini, maka masalah ini dapat
dipandang sebagai masalah meletakkan n1 unsur jenis pertama, n2 unsur jenis
kedua, n3 unsur jenis ketiga, . . . , nk unsur jenis ke-k ke dalam n tempat
berbeda dengan syarat setiap tempat tepat terisi 1 huruf. Misalkan n tempat
ini dapat diilustrasikan sebagai n kotak berikut.
(1) (2) (3) ... (n)
... ... ... ... ...
Maka masalah ini diselesaikan dengan langkah berikut.
– Pertama letakkan n1 unsur jenis pertama ke dalam n kotak yang tersedia,
ini berarti sama dengan C(n, n1) cara dan tersisa n – n1 kotak.
– Berikutnya, letakkan n2 unsur jenis kedua ke dalam n – n1 kotak yang
tersisa, maka terdapat sebanyak C(n – n1, n2) cara, dan tersisa n – n1 – n2.
– Selanjutnya letakkan n3 unsur jenis ketiga ke dalam n – n1 – n2 kotak
tersisi, sehingga terdapat sebanyak C(n – n1 – n2, n3 ).
– Kemudian dilakukan peletakan n4 unsur jenis keempat, dan seterusnya
hingga terakhir meletakkan nk unsur ke-k ke dalam n – n1 – n2 – n3 – . . . –
nk–1 = nk kotak yang tersisa dengan C(n – n1 – n2, n3 – . . . – nk – 1 – nk, nk )
cara.
Dengan aturan perkalian, diperoleh banyak permutasi n unsur yang terdiri
dari n1 unsur jenis pertama, n2 unsur jenis kedua, n3 unsur jenis ketiga, . . . , nk
unsur jenis ke-k sama dengan
C(n, n1) · C(n – n1, n2)  C(n – n1 – n2, n3 ) . . . C(n – n1 – n2 – . . . – nk–1, nk)
n
= (n  n1)! (n  n1  n2 )! (n  n1  n2 . . . nk 1)!
n1 !(n 1 n1)!
n2 !(n  n1  n2 )! n3 !(n  n1  n2  n3  nk !0!
n1 )!
=
n1 !  n2 !  n3 ! ...  nk !

Jadi rumus permutasi n unsur yang terdiri dari n1 unsur jenis pertama,
n2unsur jenis kedua, n3 unsur jenis ketiga, . . . , nk unsur jenis ke-k (n = n1 +
n2 + r3 +
. . . + nk ) n1
.
n1 !  n2 !  n3 ! ...  nk !
adalah

11
Kelas XII
Berdasarkan informasi yang telah Anda peroleh, tulislah kesimpulan
Anda berdasarkan kata-kata sendiri mengenai rumus untuk permutasi dengan
beberapa unsur yang sama.
Kesimpulan

Setelah Anda menemukan rumus untuk permutasi n unsur yang terdiri


dari n1 unsur jenis pertama, n2unsur jenis kedua, n3 unsur jenis ketiga, . . . , nk
unsur jenis ke-k (n = n1 + n2 + n3 + . . . + nk ) yaitu
n!
,
n1!  n2!  n3! . . .  nk!
secara berkelompok 3–4 orang perkelompok untuk membuat 4 soal
penerapan masalah permutasi dengan unsur yang sama, kemudian saling
menukar soal kelompok Anda dengan kelompok lain untuk dikerjakan.
Setelah selesai, koreksilah jawaban kelompok yang mendapatkan soal Anda
dan bantulah apabila kelompok yang diberi soal ada yang belum dijawab
dengan benar. Tuliskan hasil diskusi Anda pada kotak di bawah ini.

11
Matemati
Kegiatan 3.1.6 Menentukan Rumus Permutasi Siklis dan
Penerapannya
Pada pembahasan sebelumnya Anda telah mempelajari menentukan rumus
permutasi n unsur, yaitu P(n,n) = n! di mana n unsur yang diketahui adalah
semuanya berbeda. Susunan dari unsur-unsur ini dibuat secara mendatar
(lurus). Sebagai contoh, apabila kita ingin menyusun 3 unsur A, B, C, maka
susunannya sebanyak 3! = 6 yaitu:
A B C
A C B
B A C
B C A
C A B
C B A
Akan tetapi, apabila kita susun secara melingkar maka ketiga susunan
berikut walaupun nampak berbeda, namun jika dilihat dari urutan (searah
jarum jam misalnya) maka ketiga susunan ini adalah sama.

Demikian juga untuk ketiga susunan berikut adalah sama.

Penyusunan unsur-unsur dalam bentuk melingkar ini disebut permutasi siklis


(circular permutation).
Sekarang akan mempelajari permutasi siklis lebih detail melalui pengamatan
berikut.

11
Kelas XII
Marilah amati contoh-contoh yang berhubungan dengan permutasi melingkar
berikut.

Contoh 3.1.12
Tentukan banyak permutasi siklis dari A, B, C.

Penyelesaian
Salah satu susunan permutasi siklis adalah A, B, C (A unsur paling atas/depan).

yang ekuivalen dengan B, C , A (B unsur paling atas/depan)

dan juga ekuivalen dengan C, A, B (C unsur paling atas/

depan) .
Akan tetapi ketiga permutasi siklis di atas, apabila dinyatakan dalam permutasi
mendatar maka susunannya berbeda, yaitu
A, B, C
B, C, A
C, A, B
Demikian juga untuk ketiga susunan berikut adalah sama, tetapi kalau
dinyatakan dalam permutasi mendatar menjadi berbeda, yaitu
A, C, B
B, A, C
C, B, A

11
Matemati
Ini berarti 1 susunan permutasi siklis berkorespondensi dengan 3 susunan
permutasi mendatar.
Jadi, karena banyaknya permutasi (mendatar) dari 3 unsur A, B, C adalah 3!
= 6 cara, sedangkan setiap 3 susunan permutasi mendatar berkorespondensi
dengan 1 susunan permutasi siklis, maka banyak permutasi siklis untuk
3!
3 unsur adalah = 2! = 2 cara.
3
Contoh 3.1.13
Tentukan banyak permutasi siklis dari 4 unsur.
Penyelesaian
Misalkan 4 unsur itu diberi nama x1, x2, x3, x4. Maka salah satu susunan permutasi
siklis adalah dengan urutan x1, x2, x3, x4 (x1 unsur paling atas/depan).

Dengan meletakkan unsur paling atas/depan x2 dan urutannya seperti di atas,


yaitu x2, x3, x4, x1, maka susunannya menjadi

yang ekuivalen dengan susunan sebelumnya.

12
Kelas XII
Demikian juga dengan urutan sama, tetapi unsur paling atas/depan x3(x3, x4,
x1, x2) dan x4(x4, x1, x2, x3), maka susunannya berturut-turut adalah

yang juga ekuivalen dengan susunan pertama x1, x2, x3, x4.
Dengan demikian keempat susunan di atas ekuivalen.
Akan tetapi keempat permutasi siklis di atas, apabila dinyatakan dalam
permutasi mendatar maka susunannya berbeda yaitu
x1, x2, x3, x4
x2, x3, x4,
x1 x3, x4, x1,
x2 x4, x1, x2,
x3
Ini berarti 1 sususan permutasi siklis berkorespondensi dengan 4 susunan
permutasi mendatar.
Demikian juga untuk permutasi siklis yang lain misalnya
x1, x2, x4, x3 akan berkorespondensi dengan 4 permutasi datar dengan
meletakkan unsur paling depan x1, x2, x4, dan x3 tetapi dalam urutan yang
sama, yaitu
x1, x2, x4, x3
x2, x4, x3,
x1 x3, x1, x2,
x4 x4, x3, x1,

, ,

12
Matemati
x2

12
Kelas XII
, .
Jadi, karena banyaknya permutasi (mendatar) dari 4 unsur adalah 4! = 24
cara, sedangkan setiap 4 susunan permutasi mendatar berkorespondensi
dengan 1 susunan permutasi siklis, maka banyak permutasi siklis untuk 4
unsur adalah
4!
= 3! = 6 cara.
4

Contoh 3.1.14
Tentukan banyak permutasi siklis dari 5 unsur.
Penyelesaian
Misalkan 5 unsur itu diberi nama x1, x2, x3, x4, x5. Maka salah satu susunan
permutasi siklis adalah dengan urutan x1, x2, x3, x4, x5 (x1 unsur paling atas/
depan).

Dengan meletakkan unsur paling atas/depan x2 dan urutannya seperti di atas,


yaitu x2, x3, x4, x5, x1 maka susunannya menjadi

yang ekuivalen dengan susunan sebelumnya.

12
Matemati
Demikian juga dengan urutan sama, tetapi unsur paling atas/depan x3(x3, x4,
x5, x1, x2), x4(x4, x5, x1, x2, x3) dan x5(x5, x1, x2, x3, x4), maka susunannya
berturut- turut adalah

, ,
yang juga ekuivalen dengan susunan pertama x1, x2, x3, x4 , x5. Dengan
demikian kelima susunan di atas ekuivalen.
Akan tetapi kelima permutasi siklis di atas, apabila dinyatakan dalam
permutasi mendatar maka susunannya berbeda yaitu
x1, x2, x3, x4, x5
x2, x3, x4, x5, x1
x3, x4, x5, x1, x2
x4, x5, x1, x2, x3
x5, x1, x2, x3,
x4.
Ini berarti 1 sususan permutasi siklis berkorespondensi dengan 5 susunan
permutasi mendatar.
Demikian juga untuk permutasi siklis yang lain
x1, x2, x3, x5, x4 akan berkorespondensi dengan 5 permutasi datar dengan
meletakkan unsur paling depan x1, x2, x3, x5, dan x4 tetapi dalam urutan yang
sama, yaitu
x1, x2, x3, x5, x4
x2, x3, x5, x4, x1
x3, x5, x4, x1, x2
x5, x4, x1, x2, x3
x4, x1, x2, x3,
x5.

12
Kelas XII
Jadi, karena banyaknya permutasi (mendatar) dari 5 unsur adalah 5! = 120
cara, sedangkan setiap 5 susunan permutasi mendatar berkorespondensi
dengan 1 susunan permutasi siklis, maka banyak permutasi siklis untuk 5
unsur adalah
5!
= 4! = 20 cara.
5
Tuliskan istilah-istilah matematika dari hasil pengamatan pada kotak di
bawah ini.

Setelah Anda mengamati dengan cermat Contoh 3.1.12, Contoh 3.1.13


dan Contoh 3.1.14, mungkin Anda mempunyai beberapa pertanyaan
berkaitan dengan permutasi siklis.
Bagaimana memperoleh rumus umum untuk masalah permutasi siklis dari n
unsur?
Nah, tuliskan pertanyaan-pertanyaan Anda pada kotak berikut:

12
Matemati
Mari kita menurunkan rumus permutasi siklis n unsur.
Misalkan n unsur itu diberi nama x1, x2, x3, . . . , xn. Maka salah satu susunan
permutasi siklis adalah dengan urutan x1, x2, x3, x4, . . . , xn (x1 unsur paling
atas/ depan).

Dengan meletakkan unsur paling atas/depan x2, x3, x4, . . . , xn dan urutannya
seperti di atas, maka susunannya menjadi

, ,...,
yang juga ekuivalen dengan susunan pertama x1, x2, x3, . . . , xn.
Dengan demikian n susunan di atas ekuivalen.
Akan tetapi n permutasi siklis di atas, apabila dinyatakan dalam permutasi
mendatar maka susunannya berbeda yaitu
x1, x2, x3, x4, . . . , xn
x2, x3, x4, . . . , xn, x1
x3, x4, . . . , xn, x1, x2
...
xn, x1, x2, x3, . . . , xn – 1.
Ini berarti 1 sususan permutasi siklis berkorespondensi dengan n susunan
permutasi mendatar.

12
Kelas XII
Jadi, karena banyaknya permutasi (mendatar) dari n unsur adalah n! cara,
sedangkan setiap n susunan permutasi mendatar berkorespondensi dengan 1
susunan permutasi siklis, maka banyak permutasi siklis untuk n unsur adalah
n!
= (n – 1)! cara.
n

Berdasarkan informasi yang telah Anda peroleh, tulislah kesimpulan Anda


berdasarkan kata-kata sendiri mengenai rumus untuk permutasi siklis.
Kesimpulan:

Setelah Anda menemukan rumus untuk permutasi siklis n unsur yaitu (n – 1)!,
secara berkelompok 3–4 orang perkelompok untuk membuat 4 soal
penerapan masalah permutasi dengan unsur yang sama, kemudian saling
menukar soal kelompok Anda dengan kelompok lain untuk dikerjakan.
Setelah selesai, koreksilah jawaban kelompok yang mendapatkan soal Anda
dan bantulah apabila kelompok yang diberi soal ada yang belum dijawab
dengan benar. Tuliskan hasil diskusi Anda pada kotak di bawah ini.

12
Matemati
Latihan Soal 3. 1

1. Pada satu kelas terdapat 24 siswa wanita dan 16 siswa pria. Apabila akan
dipilih satu siswa untuk mengikuti lomba mewakili kelas tersebut,
berapa banyak cara yang dapat di lakukan?
2. Amir harus mengerjakan hal-hal berikut selama istirahat makan siang
yaitu makan siang, pergi ke kantor pos, pergi ke bank, dan membeli surat
kabar. Tentukan banyaknya cara Amir mengerjakan hal-hal tersebut.
3. Tentukan nilai n pada persamaan P(n + 1,3) = P(n, 4).
4. Diberikan angka-angka 2, 3, 5, 6, 7, dan 8. Dari angka-angka tersebut
akan dibentuk bilangan yang terdiri atas tiga angka. Jika tidak boleh
terjadi pengulangan angka,
a. Tentukan banyaknya bilangan yang bisa diperoleh,
b. Tentukan banyaknya bilangan genap yang bisa diperoleh,
c. Tentukan banyaknya bilangan ganjil yang bisa diperoleh,
d. Tentukan banyaknya bilangan kelipatan 5 yang bisa diperoleh,
e. Tentukan banyaknya bilangan kurang dari 400 yang bisa diperoleh.
5. Berapa banyak permutasi dari huruf-huruf A, B, C, D, E, F, G, dan H
yang memuat
a. susunan BCD,
b. susunan CFGA,
c. susunan BA atau GA,
d. susunan ABC atau DE,
e. susunan ABC atau CDE,
f. susunan CBA atau BED.

12
Kelas XII
Subbab 3.2 Kejadian Majemuk, Peluang Saling Lepas, Peluang
Saling Bebas, dan Peluang Bersyarat
Kegiatan 3.2.1 Kejadian Majemuk

Anda mungkin pernah melihat kegiatan pelantunan koin pada setiap awal
pertandingan sepak bola dan pelantunan dadu pada acara arisan PKK.

Sumber: [Link]
Gambar 3.2.1

Amati gambar koin dan dadu di atas. Kemungkinan-kemungkinan yang


terjadi pada pelantunan sebuah koin dan sebuah dadu secara bersamaan
adalah
{(A, 1), (A, 2), (A, 3), (A, 4), (A, 5), (A, 6), (G, 1), (G, 2), (G, 3), (G, 4),
(G, 5), (G, 6)}.
Tuliskan istilah-istilah matematika dari hasil pengamatan pada kotak di
bawah ini.

12
Matemati
Setelah Anda mengamati gambar sebuah koin dan sebuah dadu di atas,
buat pertanyaan agar Anda dapat mendefinisikan kejadian majemuk. Mungkin
salah satu pertanyaan Anda adalah sebagai berikut.
1. Paling sedikit berapa kejadian yang dapat membentuk kejadian majemuk?
2. Hubungan apa saja yang mungkin terjadi pada kejadian majemuk?
Tuliskan pertanyaan Anda pada kotak di bawah ini.

Anda pasti membutuhkan informasi untuk dapat menjawab pertanyaan-


pertanyaan yang sudah Anda buat agar dapat lebih memahami tentang
kejadian majemuk. Di bawah ini Anda diminta untuk melengkapi beberapa
kegiatan.

Contoh 3.2.1

Ardi memiliki sebuah wadah yang berisi bola terdiri dari bola putih, bola
merah, dan bola hijau. Tentukan kejadian yang mungkin terjadi pada
pengambilan dua bola dalam wadah tersebut.
Penyelesaian
Misal: P = Kejadian terambil bola putih
Q = Kejadian terambil bola merah
R = Kejadian terambil bola hijau

13
Kelas XII
Kejadian I:
Kejadian terambilnya bola putih dan merah
Dinotasikan: (P Ω Q)

Kejadian II:
Pengunjung suatu toko elektronik diklasifikasikan berdasarkan jenis kelamin
yaitu laki-laki dan perempuan serta berdasarkan usia kurang dari 35 tahun
danDinotasikan:
lebih dari 35 tahun. Tentukan kejadian majemuk yang mungkin terjadi.
Penyelesaian
Kejadian III:
Misal:
A= Kejadian pengunjung laki-laki
Dinotasikan:
B = Kejadian pengunjung perempuan
C = Kejadian pengunjung berusia kurang dari 35 tahun
Contoh 3.2.2
D = Kejadian pengunjung berusia lebih dari 35 tahun

Kejadian I:
Kejadian pengunjung toko laki-laki atau perempuan
Dinotasikan: (A  B)

Kejadian II:
Kejadian pengunjung toko berusia kurang dari 35 tahun atau lebih dari
35 tahun
Dinotasikan:

13
Matemati
Kejadian III:
Kejadian pengunjung toko laki-laki dan berusia kurang dari 35 tahun
Dinotasikan: (A  C)

Kejadian IV:
Contoh 3.2.3
Kejadian pengunjung toko laki-laki berusia lebih
dari 35 tahun
Perpustakaan sekolah memiliki koleksi 2 jenis buku yaitu buku pelajaran dan
Dinotasikan:
buku bacaan. Setiap siswa diperbolehkan paling banyak meminjam 2 buku.
Kusuma akan meminjam buku di perpustakaan sekolah. Tentukan kejadian
Kejadian
majemuk V:mungkin terjadi.
yang
Penyelesaian
Dinotasikan: (B  C)
Kejadian
Misal: I:
Kejadian
Kejadian VI:meminjam
Kusuma
U = Kejadian meminjam buku
buku pelajaran atau buku bacaan
pelajaran
Dinotasikan:
V= (U  V)
Dinotasikan:

13
Kelas XII
Kejadian II:
Kejadian Kusuma meminjam buku pelajaran dan buku
bacaan Dinotasikan:

Tuliskan kesimpulan Anda tentang peluang kejadian majemuk berdasarkan


jawaban dari kegiatan di atas pada kotak di bawah ini.

Sajikan jawaban Anda di depan kelas. Diskusikan dengan teman-teman dan


guru untuk mendapatkan jawaban yang benar dan lengkap. Tuliskan hasil
diskusi pada kotak di bawah ini.

13
Matemati
Kegiatan 3.2.2 Peluang Saling Lepas

Sumber: [Link]
Gambar 3.2.2

Pada kegiatan arisan biasanya dilakukan pelantunan dua dadu sebanyak satu
kali untuk menentukan anggota yang akan mendapatkan uang arisan yang
telah terkumpul. Anggota yang mendapatkan jumlah mata terbesar yang
berhak untuk mendapatkan uang tersebut. Gambar 3.2.2 merupakan tabel
hasil pelantunan dua dadu sebanyak satu kali secara bersamaan.

Misalkan A merupakan kejadian munculnya mata dadu berjumlah 2 dan B


merupakan kejadian munculnya mata dadu berjumlah 3, maka peluang
munculnya mata dadu berjumlah 2 atau 3 dapat didapat dengan cara:
Banyaknya sampel keseluruhan adalah 36
n (S) = 36
Sampel dari mata dadu yang berjumlah 2 ada 1, yaitu
A = {(1,1)}
Sampel dari mata dadu yang berjumlah 3 ada 2, yaitu
B = {(1,2), (2,1)}

13
Kelas XII
Sehingga peluang munculnya mata dadu 2 atau 3 adalah
P ( A  B) = P (A) + P(B)
1 2
= 36 36

3
= 36
1
= 12
Tuliskan istilah-istilah matematika dari hasil pengamatan pada kotak di
bawah ini.

Setelah Anda mengamati tabel hasil pelantunan dua dadu sebanyak satu kali
secara bersamaan, buat pertanyaan agar Anda dapat mendefinisikan peluang
saling lepas. Mungkin salah satu pertanyaan Anda adalah sebagai berikut.
1. Kejadian-kejadian yang bagaimanakah dapat membentuk kejadian saling
lepas?
2. Bagaimana menentukan peluang dari kejadian saling lepas?
Tuliskan pertanyaan Anda pada kotak di bawah ini.

13
Matemati
Anda pasti membutuhkan informasi untuk dapat menjawab pertanyaan-
pertanyaan yang sudah Anda buat agar dapat lebih memahami tentang
peluang saling lepas dan menentukan rumus peluang saling lepas. Di bawah
ini Anda diminta untuk melengkapi beberapa kegiatan.

Contoh 3.2.4

Dua dadu dilemparkan satu kali secara bersamaan. Tentukan peluang muncul
mata dadu berjumlah 5 atau 7.
Penyelesaian
Misal:
A = Kejadian muncul mata dadu yang berjumlah 5
B = Kejadian muncul mata dadu yang berjumlah 7
Kejadian ini merupakan kejadian saling lepas karena munculnya mata
dadu berjumlah 5 tidak mungkin bersamaan dengan munculnya mata dadu
berjumlah 7.
Peluang dari kejadian munculnya mata dadu berjumlah 5 atau mata dadu
berjumlah 7 didapat dengan cara:
Banyaknya sampel keseluruhan
n (S) = 36
Sampel dari mata dadu yang berjumlah 5
A = {(1,4), (2,3), (3,2), (4,1)}
Banyaknya sampel mata dadu yang berjumlah 5
n (A) = 4

13
Kelas XII
Sampel dari mata dadu yang berjumlah 7
B = {}
Banyaknya sampel mata dadu yang berjumlah 7 n (B) =
P ( A  B) = P (A) + P(B)
= ...  ...

3636
= ...
36
= ...
...
Jadi peluang munculnya mata dadu berjumlah 5 atau mata dadu berjumlah 7 pada pelantun

Contoh 3.2.5
Seorang manajer suatu perusahaan mengambil sebuah berkas lamaran
pekerjaan secara acak untuk diperiksa dari lima belas berkas yang diajukan
oleh 10 lulusan PTN dan 5 lulusan PTS. Para pelamar yang mengajukan
terdapat 3 pelamar memiliki pengalaman kerja kurang dari 2 tahun, 7
pelamar memiliki pengalaman kerja lebih dari 2 tahun, dan 5 pelamar belum
memiliki pengalaman kerja. Tentukan kejadian saling lepas yang mungkin
terjadi dan hitunglah peluang dari kejadian saling lepas yang diperoleh!
Penyelesaian

Misal:
P = Kejadian pelamar lulusan PTN
Q= R
S
T=

13
Matemati
Kejadian I:
Pelamar lulusan PTN atau lulusan PTS
Dinotasikan:
Kejadian ini merupakan kejadian saling lepas karena terpilihnya berkas
pelamar lulusan PTN dengan pelamar lulusan PTS tidak mungkin terjadi
pada waktu yang sama. Peluang dari kejadian terpilihnya berkas pelamar
lulusan PTN atau lulusan PTS didapat dengan cara:
P ( P  Q ) = P (P) + P (Q)
10 5
= 15  15
...
= ...
=1

Kejadian II:
Pelamar atau
Dinotasikan: P ( R  S )
Kejadian ini merupakan kejadian saling lepas karena terpilihnya berkas
pelamar yang memiliki pengalaman kerja kurang dari 2 tahun dengan
pelamar yang memiliki pengalaman kerja lebih dari 2 tahun tidak
mungkin terjadi pada waktu yang sama. Peluang dari kejadian
terpilihnya berkas pelamar yang memiliki pengalaman kerja kurang dari
2 tahun atau pelamar yang memiliki pengalaman kerja lebih dari 2 tahun
didapat dengan cara: P ( R  S ) = P (R) + P (S)
3 7
= 15 15
...
= ...
2
= 3

13
Kelas XII
Kejadian III:
Pelamar Dinotasikan:
Kejadian ini merupakan kejadian saling lepas karena

Peluang dari kejadian terpilihnya berkas pelamar yang memiliki pengalaman kerja lebih dari
P ( …..  ….. ) = P ( ….. ) + P ( ….. )

= ...  ...
......
= ...
...
= ...
...

Tuliskan kesimpulan Anda tentang peluang saling lepas dan rumus peluang
saling lepas berdasarkan jawaban dari kegiatan di atas pada kotak di bawah
ini.

13
Matemati
Sajikan jawaban Anda di depan kelas. Diskusikan dengan teman-teman dan
guru untuk mendapatkan jawaban yang benar dan lengkap. Tuliskan hasil
diskusi pada kotak di bawah ini.

Kegiatan 3.2.3 Peluang Saling Bebas

Sumber: [Link]
Gambar 3.2.3

Apabila Anda melempar dua dadu berwarna merah dan putih secara
bersama- sama, tentukan peluang munculnya mata dadu 2 pada dadu warna
merah dan mata dadu 5 pada dadu warna putih.
Penyelesaian
Misal:
A = Kejadian munculnya mata dadu 2 pada dadu warna merah
B = Kejadian munculnya mata dadu 5 pada dadu warna putih

14
Kelas XII
Kejadian ini merupakan kejadian saling bebas karena munculnya mata dadu
2 pada dadu warna merah tidak mempengaruhi kejadian munculnya mata
dadu 5 pada dadu warna putih.
Peluang dari kejadian munculnya mata dadu 2 pada dadu warna merah dan
mata dadu 5 pada dadu warna putih didapat dengan cara:
Banyaknya sampel keseluruhan
n (S) = 36
Sampel dari munculnya mata dadu 2 pada dadu warna merah
A = {(2,1), (2,2), (2,3), (2,4), (2,5), (2,6)}
Banyak sampel munculnya mata dadu 2 pada dadu warna merah
n (A) = 6
Sampel dari munculnya mata dadu 5 pada dadu warna putih
B = {(1,5), (2,5), (3,5), (4,5), (5,5), (6,5)}
Banyaknya sampel munculnya mata dadu 5 pada dadu warna hijau
n (B) = 6
P ( A  B ) = P (A) P(B)
 6  6 
= 
 36 
 1  1 1
=
   = 36
6
  
Jadi peluang munculnya mata dadu 2 pada dadu warna merah dan
munculnya mata dadu 5 pada dadu warna putih pada pelantunan dua dadu
sebanyak satu kali secara bersamaan adalah 1 .
36
Tuliskan istilah-istilah matematika dari hasil pengamatan pada kotak di
bawah ini.

14
Matemati
Setelah Anda melakukan pengamatan di atas, buat pertanyaan agar Anda
dapat mendefinisikan peluang saling bebas. Mungkin salah satu pertanyaan
Anda adalah sebagai berikut.
1. Kejadian-kejadian yang bagaimanakah dapat membentuk kejadian saling
bebas?
2. Bagaimana menentukan peluang dari kejadian saling bebas?
Tuliskan pertanyaan Anda pada kotak di bawah ini.

Anda pasti membutuhkan informasi untuk dapat menjawab pertanyaan-per-


tanyaan yang sudah Anda buat agar dapat lebih memahami tentang peluang
saling bebas dan menentukan rumus peluang saling bebas. Di bawah ini
Anda diminta untuk melengkapi beberapa kegiatan.
Contoh 3.2.6
Sebuah dadu dan sebuah koin dilantunkan secara bersamaan sebanyak satu
kali, berapa peluang munculnya mata dadu genap pada dadu dan munculnya
gambar (G) pada koin?
Penyelesaian
Misalkan
P = Kejadian muncul mata dadu genap pada
dadu Q = Kejadian muncul gambar (G) pada
koin
Kejadian ini merupakan kejadian saling bebas karena munculnya mata dadu
genap pada dadu tidak mempengaruhi kejadian munculnya gambar (G) pada
koin.

14
Kelas XII
Peluang dari kejadian munculnya mata dadu genap pada dadu dan gambar (G)
pada koin didapat dengan cara:
Banyaknya sampel keseluruhan
n (S) = 12
Sampel dari munculnya mata dadu genap pada dadu
P = {(2,A), (2,G), (4,A), (4,G), (6,A), (6,G)}
Banyaknya sampel munculnya mata dadu genap pada dadu
n (P) = 6
Sampel dari munculnya Gambar (G) pada koin
Q = {(1,G), (2,G), (3,G), (4,G), (5,G), (6,G)}
Banyaknya sampel munculnya gambar (G) pada koin
n (Q) = 6
P ( P  Q ) = P (P) P(Q)
 6  6 
=  
 12 
 1  1 
=  
 2 
1
= 4
Jadi peluang munculnya mata dadu genap pada dadu dan munculnya gambar
(G) pada koin pada pelantunan sebuah dadu dan sebuah koin sebanyak satu
1
kali secara bersamaan adalah .
4

Contoh 3.2.7
Dua dadu dilantunkan dua kali. Berapa peluangnya mendapat jumlah 7 dan 11
dalam dua kali lantunan?
Penyelesaian
Misalkan
Y1 = Kejadian muncul jumlah 7 pada lantunan pertama
Y2 = Kejadian muncul jumlah 7 pada lantunan kedua

14
Matemati
Z1 = Kejadian muncul jumlah 11 pada lantunan
pertama Z2 = Kejadian muncul jumlah 11 pada
lantunan kedua

Kejadian ini merupakan kejadian saling bebas karena

Peluang dari kejadian munculnya jumlah 7 dan 11 pada dua kali lantunan didapat dengan
P ( Y1  Z2 )  (Z1  Y2) = P(Y1) P(Z2) + P(Y2) P(Z1)

=  1  1    1  1 
 6  ...   ...  ... 

= 1  1...
......
= ...
...
Jadi peluang munculnya jumlah 7 dan 11 pada dua kali lantunan adalah

Tuliskan kesimpulan Anda tentang peluang saling bebas dan rumus peluang
saling bebas berdasarkan jawaban dari kegiatan di atas pada kotak di bawah
ini.

14
Kelas XII
Sajikan jawaban Anda di depan kelas. Diskusikan dengan teman-teman dan
guru untuk mendapatkan jawaban yang benar dan lengkap. Tuliskan hasil
diskusi pada kotak di bawah ini.

Kegiatan 3.2.4 Peluang Bersyarat

Apabila diambil dua kartu secara acak satu persatu tanpa pengembalian,
peluang terambilnya keduanya kartu Heart didapat dengan cara:
Misal:
A = Kejadian terambilnya kartu Heart pada pengambilan pertama
B = Kejadian terambilnya kartu Heart pada pengambilan kedua

Kejadian terambilnya kartu Heart yang pertama mempengaruhi terambilnya


kartu Heart yang kedua, sehingga peluang terambilnya keduanya kartu Heart
adalah
P ( A  B) = P (A) P(B|A)
 13   12 
=   
 52  
156 3
= 2.652 = 51

14
Matemati
Tuliskan istilah-istilah matematika dari hasil pengamatan pada kotak di
bawah ini.

Setelah Anda melakukan pengamatan di atas, buat pertanyaan agar Anda


dapat mendefinisikan peluang bersyarat. Mungkin salah satu pertanyaan Anda
adalah sebagai berikut.
1. Kejadian-kejadian yang bagaimanakah dapat membentuk kejadian ber-
syarat?
2. Bagaimana menentukan peluang dari kejadian
bersyarat? Tuliskan pertanyaan Anda pada kotak di bawah

ini.

Anda pasti membutuhkan informasi untuk dapat menjawab pertanyaan-


pertanyaan yang sudah Anda buat agar dapat lebih memahami tentang
peluang bersyarat dan menentukan rumus peluang bersyarat. Di bawah ini
Anda diminta untuk melengkapi beberapa kegiatan.

14
Kelas XII
Contoh 3.2.8

Sebuah kartu diambil dari satu set kartu remi. Berapa peluang bahwa kartu
yang terambil lebih besar dari 2 dan lebih kecil dari 10 berwarna merah?
Misal:
C = Kejadian terambilnya kartu yang berwarna merah
D = Kejadian terambilnya kartu yang lebih besar dari 2 dan lebih kecil dari 10
Kejadian ini merupakan kejadian bersyarat karena terambilnya kartu yang
lebih besar dari 2 dan lebih kecil dari 10 merupakan kartu yang berwarna
merah. Peluang dari kejadian terambilnya kartu yang lebih besar dari 2 dan
lebih kecil dari 10 yang berwarna merah didapat dengan cara:

P ( C  D ) = P (C) P(D|C)
 26  ... 
=  52  ... 

= ...
...
= ...
...
Jadi peluang terambilnya kartu yang lebih besar dari 2 dan lebih kecil dari 10 yang berwarna

Contoh 3.2.9
Formasi manajemen dari 200 orang eksekutif suatu perusahaan ditunjukkan
sebagai berikut:
Pria (P) Wanita (W)
Eksekutif Puncak (EP) 18 2
Eksekutif Menengah (EM) 36 24
Eksekutif Bawah (EB) 24 96

14
Matemati
1. Jika dari 200 eksekutif tersebut diambil secara acak seorang eksekutif,
berapa peluang terpilih eksekutif pria atau eksekutif puncak?
Penyelesaian
Peluang terpilih eksekutif pria atau eksekutif puncak didapat dengan
cara:

P ( P  EP ) = P (P) + P (EP) – P ( P Ω EP )
= 78  20  ...
200200 ...
= ...
...
= 2
5
Jadi peluang terpilih eksekutif pria atau eksekutif puncak adalah

2. Dipilih 2 orang eksekutif secara acak, berapa peluangnya terpilih


seorang eksekutif pria dan seorang eksekutif wanita?
Penyelesaian
Peluang terpilih seorang eksekutif pria dan seorang eksekutif wanita dari
pemilihan secara acak dua orang eksekutif didapat dengan cara:

P (P Ω W) = P (P) P (W)
=  78   ... 
 200   ... 
 
= 9.516
40.000
= ...
...
Jadi peluang terpilih seorang eksekutif pria dan seorang eksekutif wanita dari pem

14
Kelas XII
3. Berapa peluang terpilih eksekutif pria pada pilihan pertama dan terpilih
eksekutif pria lagi pada pilihan kedua?
Penyelesaian
Peluang terpilih eksekutif pria dari dua kali pemilihan berturut-turut
didapat dengan cara:

P (P1  P2) = P (P1) P ( P2|P1)


=  78   ... 
 200   ... 
 
= ...
...
= 15
10
Jadi peluang terpilih eksekutif pria dari dua kali pemilihan berturut- turut adalah

Tuliskan kesimpulan Anda tentang peluang bersyarat dan rumus peluang


bersyarat berdasarkan jawaban dari kegiatan di atas pada kotak di bawah ini.

14
Matemati
Sajikan jawaban Anda di depan kelas. Diskusikan dengan teman-teman dan
guru untuk mendapatkan jawaban yang benar dan lengkap. Tuliskan hasil
diskusi pada kotak di bawah ini.

Latihan Soal 3.2


1. Sekelompok ahli biologi merencanakan akan mengadakan penelitian
untuk mempelajari serangga yang membahayakan di Sulawesi Tenggara.
A merupakan kejadian bahwa mereka akan menghadapi cuaca buruk, B
merupakan kejadian bahwa mereka akan menghadapi masalah dengan
lembaga pemerintahan setempat, dan C merupakan kejadian bahwa
mereka akan menghadapi kesulitan dengan alat-alat fotografi mereka.
Tentukan 3 kejadian majemuk yang mungkin terjadi!
2. Sebuah kota memiliki satu unit kendaraan pemadam kebakaran dan satu
unit kendaraan ambulance yang tersedia dalam keadaan darurat. Peluang
bahwa unit kendaraan pemadam kebakaran siap apabila diperlukan
adalah 0,98 dan peluang bahwa unit kendaraan ambulance siap apabila
diperlukan adalah 0,92. Apabila terjadi peristiwa terbakarnya suatu
gedung di kota tersebut, berapa peluang kedua kendaraan tersebut siap
beroperasi?
3. Jika diketahui peluang bahwa Amir masih hidup 20 tahun lagi adalah 0,7
dan peluang bahwa Badu masih hidup 20 tahun lagi adalah 0,9, berapa
peluang bahwa keduanya tidak hidup dalam 20 tahun lagi?

15
Kelas XII
4. Sebuah tas berisi 15 spidol yang terdiri dari 8 spidol merah, 4 spidol
biru, dan 3 spidol putih. Spidol pertama diambil secara acak dan tidak
dikembalikan, selanjutnya diambil spidol kedua secara acak dan tidak
dikembalikan.
a. Hitunglah peluang apabila spidol yang terambil warna merah dan
biru!
b. Apabila spidol ketiga diambil secara acak, hitunglah peluang bahwa
tidak satupun dari tiga spidol tersebut berwarna putih!
5. Terdapat 50 lembar undian dengan nomor 1, 2, 3, . . . , 50, terdapat 3
nomor yang berisi hadiah. Apabila seorang panitia mengambil lembar
undian dua kali berturut-turut, berapa peluang panitia tersebut akan
mendapatkan lembar undian yang keduanya berisi hadiah?

Uji Kompetensi

1. Dalam suatu kelas yang terdiri atas 15 siswa putri dan 12 siswa putra
akan dipilih sepasang ganda campuran (putra dan putri) untuk mewakili
kelas. Berapa banyak cara sepasang ganda campuran itu?
2. Ada berapa banyak susunan berbeda yang terdiri atas 3 huruf dari kata
ABRACADABRA?
3. a. Tentukan banyaknya cara 3 orang duduk pada 4 kursi yang terletak
sebaris.
b. Tentukan banyaknya cara 5 orang duduk pada 5 kursi yang terletak
sebaris.
c. Ada 8 kursi yang disusun dalam 2 baris yaitu baris A dan baris B.
Masing-masing baris terdiri atas 4 kursi. Tentukan banyaknya cara
mengatur 8 orang untuk duduk jika 3 orang tertentu harus duduk di
baris A.
4. Suatu rak buku memuat 7 buku berbeda yang terdiri atas 4 buku
dikarang oleh Amir dan 3 buku dikarang oleh Hasan. Tentukan
banyaknya susunan buku jika

15
Matemati
a. tidak ada dua buku dengan pengarang sama yang saling berdekatan,
b. dua buku pertama di ujung kiri dikarang oleh pengarang yang sama,
c. buku pertama di ujung kiri dan buku terakhir di ujung kanan
dikarang oleh pengarang yang sama.
5. Dalam suatu pertemuan kecil yang dihadiri oleh 3 orang pria dan 3 orang
wanita, mereka duduk dalam meja bundar.
a. Berapa banyak cara mereka duduk.
b. Berapa banyak cara mereka duduk apabila semua wanita duduk
berdekatan.
c. Berapa banyak cara mereka duduk jika tidak ada dua wanita yang
berdekatan.
6. Suatu toko menjual 100 ban mobil yang terdiri dari 17 ban merk
Uniroyal, 22 ban merk Goodyear, 3 ban merk General, 29 ban merk
Continental, 21 ban merk Bridgestone, dan 8 ban merk Amstrong.
Hitunglah peluang ban yang terjual:
a. Ban mobil merk Goodyear atau Bridgestone.
b. Ban mobil merk Uniroyal, Continental, atau Bridgestone .
7. Sebuah dompet berisi 4 buah uang logam seribu rupiah dan 3 buah uang
logam lima ratus rupiah. Dompet yang kedua berisi 3 buah uang logam
seribu rupiah dan 5 buah uang logam lima ratus rupiah. Sebuah uang
logam diambil dari dompet pertama dan dimasukkan pada dompet
kedua. Jika kemudian diambil sekeping uang logam dari dompet kedua,
berapa peluangnya bahwa uang logam yang diambil dari dompet kedua
tersebut adalah uang logam lima ratus rupiah?
8. Diketahui bahwa kelas mata kuliah ”Metodologi Riset” diikuti oleh
10 mahasiswa semester V, 30 mahasiswa semester VII, dan 10
mahasiswa semester IX. Hasil nilai akhir menunjukkan bahwa 3
mahasiswa semester V, 10 mahasiswa semester VII, dan 5 mahasiswa
semester IX mendapatkan nilai A. Bila seorang mahasiswa dipilih secara
acak diketahui mendapat nilai A, berapa peluang mahasiswa tersebut
merupakan mahasiswa semester IX?

15
Kelas XII
9. Pada suatu penelitian untuk mengetahui pengaruh merokok terhadap
kesehatan paru-paru, telah diwawancarai sebanyak 120 orang.
Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa 20 orang tidak
menghisap rokok dan dari yang menghisap rokok diketahui 75%
mengidap penyakit paru-paru. Bagi yang tidak merokok diketahui bahwa
yang mengidap penyakit paru- paru adalah 25%. Apabila secara acak
dipilih seorang di antara mereka, berapa peluang:
a. Diperoleh orang yang tidak merokok tetapi mengidap penyakit paru-
paru
b. Diperoleh orang yang merokok atau orang yang mengidap penyakit
paru-paru
c. Diperoleh orang yang tidak mengidap penyakit paru-paru dari orang
yang tidak merokok
10. Pemain A dan B bermain catur 12 babak dengan 6 kali dimenangkan
oleh pemain A, 4 kali dimenangkan oleh pemain B, dan 2 kali seri.
Dalam pertandingan sebanyak 3 babak, hitunglah peluang apabila:
a. Pemain A dan B menang bergantian
b. Pemain B menang paling sedikit satu babak

15
Matemati
BAB

4
Kekongruenan dan
Kesebangunan (Pengayaan)
A. Kompetensi Dasar dan Pengalaman Belajar

Kompetensi Dasar Pengalaman Belajar

3.4 Menganalisis hubungan kesebangunan dan Melalui pembelajaran Kesebangunan dan


kekongruenan antarbangun datar dengan Kekongruenan, siswa memperoleh pengalaman
menggunakan aturan sinus dan kosinus serta sifat- belajar:
sifat transformasi geometri. 1. Mengamati, mempertanyakan fakta dan
4.4 Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan informasi, menyelidiki fakta kesebangunan dan
hubungan kesebangunan dan kekongruenan kekongruenan dan mengasosiasi informasi
antarbangun datar dengan menggunakan aturan menggunakan aturan sinus kosinus serta sifat-
sinus dan kosinus serta sifat-sifat transformasi sifat transformasi dan menyimpulkan temuannya
geometri. terkait konsep kesebangunan dan kekongruenan
bangun datar.
2. Menerapkan konsep kesebangunan dan
kekongruenan menyelesaikan masalah terkait
konsep tersebut.

• Kesebangunan
Istilah Penting

• Kekongruenan
• Segibanyak
• Segitiga
• Aturan Sinus dan Kosinus
• Transformasi

15
Kelas XII
Biogra£ Thales
Thales lahir di sekitar pertengahan
624 SM di kota Miletus yang terletak
di pantai barat Asia Kecil. Thales
dikenal sebagai seorang filusuf Yunani,
matematikawan, dan ilmuwan. Ia
menemukan konsep geometri garis,
sehingga diberikan apresiasi atas karya-
karyanya, salah satu karyanya adalah
geometri abstrak.
Thales pergi ke Mesir dan belajar dengan
para imam, di mana dia mendalami ilmu
matematika dan membawa pengetahuan
ini kembali ke Yunani. Thales juga
melakukan penelitian geometris dan
menerapkan pemahamannya tentang geometri untuk menghitung jarak
dari pantai ke kapal di laut. Hal ini sangat penting bagi orang-orang Yunani,
apakah kapal datang untuk berdagang atau untuk melakukan penyerangan.
Beberapa karya Thales berupa 5 teorema dalam geometri yang cukup populer, yakni:
• Sebuah lingkaran dibagi menjadi dua bagian yang sama oleh
diameternya.
• Besar kedua sudut pada kaki-kaki segitiga sama kaki adalah sama.
• Jika dua garis lurus berpotongan, ukuran sudut bertolak belakang yang
terbentuk sama besar.
• Jika satu segitiga memiliki dua sudut dan satu sisi yang berukuran sama
dengan segitiga lain, maka kedua segitiga tersebut kongruen.
• Sebarang sudut dalam pada setengah lingkaran adalah sudut siku-siku.
Hal ini dikenal sebagai Teorema Thales.
Sumber : [Link]

Beberapa hikmah yang mungkin bisa kita petik, adalah:


1. Orang dihargai karena karya-karyanya yang memberikan
kebermanfaatan buat yang lain.
2. Dengan ilmu seseorang bisa memberikan solusi terhadap permasalahan
yang ada.
3. Matematika, dalam hal ini geometri, banyak digunakan untuk
menyelesaikan masalah kehidupan sehari-hari.

15
Kelas XII
[Link] Alur Konsep

KESEBANGUNAN TEOREMA SUDUT-SUDUT, SUDUT-SUDUT-SUDUT, SISI-SIS


Shorcut pengecekan

Digunakan untuk mengidentifikasi

Pada
Pada

Aturan Sinus dan Kosinus


Kejadian POLIGON Dengan 3 sisi
SEGITIGA
Khusus

Digunakan untuk mengidentifikasi

Pada
Pada

Shorcut AKSIOMA SISI-SUDUT-SISI, SUDUT-SISI-SUDUT, TEOREMA


KEKONGRUENAN pengecekan

15
Matemati
[Link] Pembelajaran

Subbab 4.1 Kekongruenan


Apakah ada jalan pintas untuk mengecek kekongruenan?

Seorang kontraktor bangunan baru saja mengangkat dua paket segitiga


berukuran besar untuk menopang atap suatu aula pertunjukan. Sebelum
penderek menggereknya ke tempat yang diinginkan, kontraktor tersebut
butuh memastikan apakah dua segitiga tersebut sama persis/kongruen.
Haruskah kontraktor tersebut mengukur dan membandingkan semua bagian-
bagian dari dua segitiga tersebut?

Kegiatan Apersepsi
Untuk dapat melakukan aktivitas pembelajaran untuk membahas tentang
kekongruenan bangun datar, Anda perlu mengingat kembali beberapa
konsep geometri yang terkait dengan konsep tersebut. Untuk mengetahui
apakah Anda sudah memiliki pengetahuan prasyarat, jawablah pertanyaan-
pertanyaan berikut;
1. Apa yang bisa Anda simpulkan terkait dua ruas garis AB dan CD yang
kongruen, (AB CD )?

156 Kelas XII SMA/MA/SMK/MAK


2. Apa yang bisa Anda simpulkan terkait dua sudut  A dan  B yang kongruen,
 A  B?

Kegiatan 4.1.1: Menentukan Pasangan-Pasangan Sisi dan Sudut yang


Bersesuaian atau Berkorespondensi dari Dua Segibanyak.

Perhatikan segiempat ABCD dan segiempat PQRS dan informasi yang diberikan.

S
A
D
P R

B
C Q

Informasi:
Terdapat korespondensi satu-satu antara segiempatABCD dan segiempat PQRS atau ditulis
Sisi (AB ) dan sisi(PQ ) adalah pasangan sisi yang bersesuaian/ berkorespondensi.
Sudut A dan sudut P adalah pasangan sudut yang bersesuaian/ berkorespondensi.
Bangun datar yang dimaksud dalam buku ini adalah segibanyak.

15
Matemati
Berdasarkan informasi yang Anda peroleh dari mengamati, tulis hal-hal penting
atau istilah-istilah matematika yang ada dalam informasi tersebut.

Berdasarkan hasil pengamatan Anda, tulis pertanyaan-pertanyaan terkait


informasi tentang dua segibanyak yang berkorespondensi dan ajukan
jawaban sementara/konjektur untuk pertanyaan-pertanyaan yang diajukan
teman Anda.

Kesimpulan sementara yang Anda ajukan pada sesi sebelumnya perlu di


uji kebenarannya. Begitu juga pertanyaan-pertanyaan yang Anda ajukan
perlu dicari jawabannya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Anda perlu
mengumpulkan informasi untuk dianalisis atau dikait-kaitkan satu dengan
lainnya. Hasil analisa informasi tersebut menjadi jawaban atas pertanyaan
atau kesimpulan dari konjektur yang dibuat. Informasi-informasi tersebut
bisa Anda peroleh di bagian kegiatan Ayo Mengumpulkan Informasi dan

15
Kelas XII
Menalar ini.

15
Matemati
Anda juga bisa memperkaya informasi dengan mengakses internet atau
membaca buku-buku referensi [Link] juga akan diminta menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang diberikan pada bagian ini. Jawaban-jawaban
tersebut akan menjadi informasi- informasi baru yang bisa Anda
analisis/kaitkan.
Perhatikan lagi bangun datar segiempatABCD dan segiempat PQRS serta
informasi bahwa terdapat korespondensi satu-satu antar kedua segiempat
tersebut.
S
A
D
P R

B
C Q

Informasi:
Terdapat korespondensi satu-satu antara titik-titik sudut pada segiempat ABCD dan segiem
Sisi AB dan sisi PQ adalah sisi-sisi yang bersesuaian/berkorespondensi, ditulis AB ↔ PQ .
Sudut A dan sudut P adalah sudut-sudut yang bersesuaian/ berkorespondensi, ditulis A

Perhatikan juga informasi berikut terkait ilustrasi sepasang sudut/sisi dari dua
segibanyak yang bersesuaian.
Misal diketahui ABCD↔EFGH, di mana A↔E, B↔F, C↔G, D↔H.
Karena A↔E dan B↔F maka sisi AB akan bersesuaian dengan sisi EF dan
A bersesuaian dengan E, B bersesuaian dengan F.
Jika diilustrasikan, seperti pada gambar berikut.

ABCD ↔ EFGH
Dengan cara yang sama,
Karena A↔E dan D↔H maka sisi AD akan bersesuaian dengan sisi EH dan
A bersesuaian dengan E, D berseusuaian dengan H.
16
Kelas XII
Jika diilustrasikan, seperti pada gambar berikut.

ABCD ↔ EFGH

Selanjutnya, jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:


1. Apakah banyaknya titik sudut dari pasangan segibanyak tersebut sama?

2. Apakah bisa dibuatkan korespondensi satu-satu pada titik-titik


sudutnya? Tuliskan titik-titik sudut yang berkorespondensi satu-satu.

3. Tuliskan nama sisi dan sudut dari masing-masing bangun datar tersebut!

16
Matemati
4. Apakah bisa dibuatkan korespondensi satu-satu (memasangkan satu-
satu) masing-masing sisi dan sudut pada bangun ABCD ke bangun
PQRS?

Berdasarkan informasi yang Anda peroleh, buatlah kesimpulan terkait kapan


sepasang segibanyak bisa dibuatkan korespondensi (terdapat korespondensi)
antara titik-titik sudutnya; bagaimana menentukan sisi-sisi dan sudut-sudut
yang bersesuaian?

Kegiatan 4.1.2: Kekongruenan Dua Segibanyak

Perhatikan sajian informasi berikut:


F

X
D E

A D
X

B o xx C

Gambar 4.1 Segitiga DEF dan EFGH


tidak kongruen

16
Kelas XII
F o xx G

Gambar 4.2 Segiempat ABCD dan EFGH tidak kongruen

16
Matemati
A E
x D x H

xx xx
B C F G

Gambar 4.3 Segiempat ABCD dan EFGH kongruen, dapat ditulis ABCDEFGH

Berdasarkan informasi yang Anda peroleh dari mengamati, tulis hal-hal


penting atau istilah-istilah matematika yang ada dalam informasi tersebut.

Berdasarkan informasi yang Anda peroleh dari hasil pengamatan, buatlah


kesimpulan awal terkait kekongruenan antara dua segibanyak atau tulis
semua pertanyaan yang ingin Anda ketahui terkait informasi tersebut.

16
Kelas XII
Perhatikan kembali informasi pada sesi kegiatan mengamati. Untuk
memperkaya informasi, Anda bisa mencari informasi pendukung dengan
mengakses internet atau membaca buku-buku referensi. Informasi yang akan
dianalisis juga bisa diperoleh dari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang
diberikan pada bagian ini.
Untuk masing-masing pasangan segibanyak yang disajikan pada kegiatan
mengamati, lakukan penyelidikan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan
berikut:
1. Apakah terdapat korespondensi antara titik-titik sudut dari dua
segibanyak tersebut? Jika iya, sebutkan semua titik-titik sudut yang
bersesuaian, semua pasangan sisi yang bersesuaian dan semua sudut-
sudut yang bersesuaian. Jika tidak, berikan alasannya.

2. Apakah semua sisi-sisi yang bersesuaian kongruen?

3. Apakah semua sudut-sudut yang bersesuaian kongruen?

16
Matemati
Kaitkan/hubungkan jawaban dari pertanyaan di atas dengan informasi
kekongruenan pada masing-masing pasangan segibanyak tersebut.
Buatlah kesimpulan tentang kekongruenan dua bangun datar segibanyak
untuk mengklarifikasi konjektur atau untuk menjawab pertanyaan-
pertanyaan yang Anda ajukan pada sesi menanya.

Presentasikan/bandingkan kesimpulan yang Anda buat sendiri atau secara


berkelompok dari hasil aktivitas Kegiatan 4.1.2 di depan kelas untuk
memperoleh kesimpulan yang lengkap dan benar. Tuliskan hasil presentasi
dan diskusi kelasnya.

Catatan: kesimpulan ini selanjutnya dikenal sebagai definisi kekongruenan


segibanyak.
Kegiatan 4.1.3: Menentukan Kekongruenan Dua Segitiga
Berdasarkankesimpulandari Kegiatan 4.1.2,Andasudahdapatmengidentifikasi
kapan dua bangun datar kongruen. Anda tentu bisa menggunakan
kesimpulan tersebut untuk mengidentifikasi kapan dua segitiga dikatakan
kongruen karena segitiga merupakan salah satu contoh segibanyak.

16
Kelas XII
Perhatikan informasi berikut:

P A
600 B
2 A 300
D
B 300
2

3
3 3
600
Q E
200 200 3

F
C
ulkan segitiga ABC dan PQR kongruen, ditulis ∆ABC ∆PQR.
wa panjang sisi BC sama dengan panjang sisi EF dan. Ukuran sudut B sama dengan sudut E dan ukuran sudut C sama dengan uku

Berdasarkan informasi yang Anda peroleh dari mengamati, tulis hal-hal


penting atau istilah-istilah matematika yang ada dalam informasi tersebut.

16
Matemati
Berdasarkan informasi yang Anda peroleh dari hasil pengamatan, buatlah
kesimpulan awal terkait kekongruenan antara dua segitiga atau tulis semua
pertanyaan yang ingin Anda ketahui terkait informasi tersebut.

Untuk bisa mengecek kebenaran konjektur yang Anda buat atau menjawab
pertanyaan Anda, lakukan aktivitas penyelidikan berikut:
Penyelidikan [Link]: Menentukan Kekongruenan Dua Segitiga (Sisi-Sudut-
Sisi) melalui Pengukuran.
Gambar dua segitiga yang berbeda. Dua sisi segitiga pertama kongruen
dengan 2 sisi segitiga kedua. Satu sudut yang dibentuk oleh kedua sisi
tersebut pada segitiga pertama sama besar dengan sudut yang juga dibentuk
oleh dua sisi yang kogruen pada segitiga kedua. Ikuti langkah-langkah
berikut:
1. Gambar segitiga sebarang ABC.
2. Gambar segitiga kedua, DEF, yang panjang dua sisi segitiga pertama
sama dengan dua sisi segitiga kedua dan sudut yang dibentuk kedua sisi
tersebut pada kedua segitiga sama besar (kongruen).
3. Ukurlah panjang sisi yang bersesuaian dan sudut-sudut yang
bersesuaian. Diskusikan hasil yang Anda dapat dengan hasil teman
sebelah Anda.

16
Kelas XII
Penyelidikan [Link]: Menentukan Kekongruenan Dua Segitiga (Sisi-Sudut-
Sisi) dengan Menerapkan Aturan Sinus dan Kosinus.
Untuk melakukan Penyelidikan [Link], terlebih dahulu Anda perlu mengingat
kembali tentang aturan sinus dan kosinus yang berlaku pada segitiga. Untuk
itu, jawablah pertanyaan dari masalah berikut ini. C
Misalkan suatu segitiga ∆ABC dengan
panjang sisi AB = c, BC = a, dan b
CA = b, dan sudut-sudutnya dalah A, a
B, dan C, seperti pada gambar di
samping.
A c B
Tulis kesamaan rasio yang berlaku pada segitiga, yang dikenal sebagai
aturan sinus dan kosinus. Jika lupa, Anda bisa mencari informasi tersebut
dengan membaca buku atau mengakses internet.

Setelah Anda sudah bisa mengingat dan memahami aturan sinus dan kosinus
yang berlaku pada suatu segitiga lakukan penyelidikan berikut.

Misalkan diketahui segitiga ABC dengan ukuran panjang sisi AB = 2, AC=3,


dan A = 30° dan segitiga DEF dengan panjang sisi DE = 2, DF = 3, dan
 D= 30°.

2 A 2 D
B E
30o 30o

3
3

C F

16
Matemati
Lakukan pengecekan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Tentukan ukuran sisi yang belum diketahui pada masing-masing segitiga
ABC dan DEF dengan menggunakan aturan kosinus.

Setelah kalian sudah bisa mengingat dan memahami aturan sinus dan
kosinus yang berlaku pada suatu segitiga lakukan penyelidikan berikut.

2. Tentukan ukuran dua sudut yang belum diketahui pada masing-masing


segitiga ABC dan DEF dengan menggunakan aturan kosinus atau
aturan sinus.

3. Bandingkan ukuran semua sudut-sudut yang bersesuaian dan sepasang


sisi yang bersesuaian kedua segitiga tersebut. Bandingkan hasil yang
kamu dapatkan dengan hasil yang diperoleh teman sebelahmu.

16
Kelas XII
Tuliskan kesimpulan tentang hubungan kekongruenan dua segitiga yang dua
sisi segitiga pertama kongruen dengan 2 sisi segitiga kedua serta satu sudut
yang dibentuk oleh kedua sisi tersebut pada segitiga pertama sama besar
dengan sudut yang juga dibentuk oleh dua sisi yang kongruen pada segitiga
kedua.

Penyelidikan [Link]: Menentukan Kekongruenan Dua Segitiga (Sudut-Sisi-


Sudut) melalui Pengukuran.
Gambar dua segitiga yang berbeda. Dua sudut segitiga pertama kongruen
dengan 2 sudut segitiga kedua. Satu sisi diantara (kaki sudut persekutuan)
kedua sudut tersebut pada segitiga pertama sama besar dengan satu sisi
diantara (kaki sudut persekutuan) kedua sudut tersebut pada segitiga kedua.
Ikuti langkah-langkah berikut:
1. Gambar segitiga sebarang ABC.
2. Gambar segitiga kedua, DEF, dimana ukuran dua sudut segitiga pertama
sama dengan dua sudut segitiga kedua dan sisi yang merupakan
sinar/kaki dari kedua sudut tersebut pada kedua segitiga sama panjang.
3. Ukurlah panjang sisi yang bersesuaian dan sudut-sudut yang
bersesuaian. Diskusikan hasil yang Anda dapat dengan hasil teman
sebelah Anda.

16
Matemati
Penyelidikan [Link]: Menentukan Kekongruenan Dua Segitiga (Sudut-Sisi-
Sudut) dengan Menerapkan Aturan Sinus dan Kosinus.
Misalkan diketahui segitiga ABC dengan ukuran panjang sisi BC = 3, B = 60°
dan C = 45° dan segitiga DEF dengan panjang sisi EF = 3, E = 60° dan
F = 45°,
A
D

B 45o
45o
E

3 60o
3 60o

C F
Lakukan pengecekan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Tentukan ukuran sisi yang belum diketahui pada masing-masing segitiga
ABC dan DEF dengan menggunakan aturan sinus.

2. Tentukan ukuran sudut yang belum diketahui pada masing-masing


segitiga ABC dan DEF dengan menggunakan sifat ukuran sudut pada
segitiga atau aturan sinus.

17
Kelas XII
3. Bandingkan ukuran semua sudut-sudut yang bersesuaian dan sepasang
sisi yang bersesuaian kedua segitiga tersebut. Bandingkan hasil yang
kamu dapatkan dengan hasil yang diperoleh teman sebelahmu.

Tuliskan kesimpulan yang didapat terkait kekongruenan dua segitiga yang


ukuran sudut-sisi-sudutnya diketahui.

Penyelidikan [Link]: Menentukan Kekongruenan Dua Segitiga (Sisi-Sisi-


Sisi) dengan Pengukuran.
Gambar dua segitiga yang berbeda. Ketiga sisi yang bersesuaian pada
segitiga pertama dan segitiga kedua kongruen. Ikuti langkah-langkah berikut.
1. Gambar segitiga sebarang ABC.
2. Gambar segitiga kedua, DEF, sedemikian sehingga AB DE ; BC EF, dan
CA FD, dengan cara berikut.

17
Matemati
1) Gambar garis DE sehingga panjangnya sama dengan panjang garis AB.
2) Buat lingkaran dengan pusat titik D dan jari-jari sebesar ukuran
panjang sisi AC.
3) Buat lingkaran dengan pusat di titik E dan jari-jari sebesar ukuran garis BC.
4) Salah satu titik perpotongan dua lingkaran tersebut tandai sebagai titik F.
5) Buat garis DF dan EF, maka akan terbentuk segitiga DEF yang
ketiga sisinya kongruen dengan ketiga sisi pada segitiga ABC.

17
Kelas XII
3. Ukurlah sudut-sudut yang bersesuaian. Diskusikan hasil yang Anda
dapat dengan hasil teman sebelah Anda.

Penyelidikan [Link]: Menentukan Kekongruenan Dua Segitiga (Sisi-Sisi-


Sisi) dengan Menerapkan Aturan Kosinus.
Misalkan diketahui segitiga ABC dengan ukuran panjang sisi AB = 2, BC = 3,
dan CA = 4 dan segitiga DEF dengan panjang sisi DE = 2, EF = 3, dan FD = 4,
lakukan pengecekan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

B 2 E 2
A D

3
3
4 4

C F
1. Tentukan ukuran ketiga sudut pada masing-masing segitiga ABC dan
DEF dengan menggunakan aturan kosinus.

17
Kelas XII
2. Bandingkan ukuran semua sudut-sudut yang bersesuaian. Bandingkan
hasil yang kamu dapatkan dengan hasil yang diperoleh teman
sebelahmu.

Kaitkan/hubungkan informasi tentang definisi kekongruenan dua segibanyak


dengan hasil penyelidikan pada Kegiatan 4.1.3. Tuliskan kesimpulan tentang
kekongruenan dua segitiga yang didapat.

Masalah 4.1.1
Perhatikan bangun datar di samping: Jika kelilingE segitiga ∆ABC adalah
180 cm, apakah segitiga ∆ABC kongruen dengan segitiga 60 m
∆ADE? Mengapa?
x + 11
B
D 71 m A
x – 11
x

17
Matemati
Masalah 4.1.2
Tentukan segitiga yang kongruen dengan segitiga yang diberikan berikut ini. Tuliskan konj

a. ∆RED∆ ? b. ∆GIT ∆? ∆c.? ∆SAT


T O
R B
A AS

E D U L G
N
T

Presentasikan/bandingkan kesimpulan yang kalian buat sendiri atau secara


berkelompok dari hasil aktivitas Kegiatan 4.1.3 di depan kelas untuk
diperoleh kesimpulan yang lengkap dan benar. Tuliskan hasil presentasi dan
diskusi kelasnya.

Catatan: Kesimpulan ini tentang Konjektur Kekongruenan segitiga (Sisi-


Sudut-Sisi), (Sisi-Sisi-Sisi) dan (Sudut-Sisi-Sudut)

17
Kelas XII
Kegiatan 4.1.4: Alur Berpikir dalam Pembuktian Deduktif
Pada kegiatan sebelumnya Anda telah memperoleh kesimpulan terkait definisi
kesebangunan segibanyak dan beberapa konjektur terkait kesebangunan
segibanyak maupun segitiga melalui kegiatan penyelidikan baik melalui
pengukuran maupun penerapan aturan sinus dan kosinus. Selanjutnya
Anda akan melakukan kegiatan matematika yang lebih menekankan pada
pembuktian deduktif. Untuk medukung kemampuan Anda dalam menyusun
pembuktian deduktif, Anda akan diajak untuk berlatih membuat kerangka
atau alur pembuktiannya sehingga lebih mudah menyusunannya menjadi
struktur pembuktian yang sistematis.

Perhatikan contoh penyelesaian masalah berikut:


Pada gambar di samping, EC AC, ER AR,
apakah E A ? Jika kongruen, tuliskan alur R C

pembuktian untuk menjelaskan alasannya.


Penyelesaian: A

Diketahui: EC AC dan ER AR
Tunjukkan: E A
Alur pembuktian:

1ECAC
Diketahui

5 E A 4 ∆RCE ∆ RCA
2ERAR

Diketahui
Konjektur Definisi
Kekongruenan kekongruenan
(Sisi-Sisi-Sisi) segibanyak
3RCRC
Garis yang sama

17
Matemati
Bukti formal:

No. Pernyataan Alasan


1. EC AC Diketahui
2. ER AR Diketahui
3. RC RC Kesamaan garis (refleksi)
4. ∆RCE ∆RCA Konjektur kekongruenan Sisi-Sisi-Sisi
5. E A Definisi Kekongruenan segibanyak
Berdasarkan informasi yang Anda peroleh dari mengamati, tulis hal-hal
penting atau istilah-istilah matematika yang ada dalam informasi tersebut.

Berdasarkan informasi yang Anda peroleh dari hasil pengamatan, buatlah


kesimpulan awal terkait alur pembuktian atau tulis semua pertanyaan yang
ingin Anda ketahui terkait informasi tersebut.

17
Kelas XII
Untuk bisa mengecek kebenaran konjektur yang kalian buat atau menjawab
pertanyaan kalian, selesaikan masalah-masalah yang disajikan berikut ini
terkait pembuktian pernyataan dengan membuatkan alur pembuktian.
Untuk mendukung aktivitas selanjutnya, berikut diberikan informasi untuk
mengingatkan kembali ingatan kalian tentang beberapa istilah atau definisi.

• Titik tengah ruas garis (Midpoint): titik tengah ruas garis adalah
titik yang membagi ruas garis menjadi dua ruas garis yang kongruen
(panjangnya sama besar)
• Garis tinggi sisi segitiga (Altitude): ruas garis tinggi sisi segitiga
adalah garis yang melalui titik sudut segitiga dan memotong tegak
lurus garis yang melalui dua titik sudut lainnya.
• Garis bagi sudut segitiga (bisector angle): ruas garis bagi sudut
segitiga adalah garis yang membagi sudut segitiga menjadi dua sudut
yang kongruen (berukuran sama besar)
• Garis berat (Median): ruas garis bagi sisi adalah garis yang melalui
titik sudut segitiga dan memotong sisi di depannya di titik tengahnya
(midpoint)
• Dua sisi kongruen, jika kedua sisi tersebut berukuran sama panjang.
Misalkan sisi EC dan AC kongruen (EC AC ), berarti ukuran panjang
sisi EC dan AC sama (mEC = m AC ).
• Dua sudut kongruen, jika kedua sudut tersebut berukuran sama.
Misalkan sudut A dan B kongruen (mA mB), berarti ukuran
besar sudut A dan B sama (m A = mB).

17
Matemati
Sudut-sudut bertolak belakang: dua sudut yang kaki-kaki sudut pertama adalah sinar-sin

A D

E
1 2

B
C

Sudut 1 dan 2 adalah sudut-sudut bertolak belakang.

Masalah 4.1.3

Lengkapilah masing-masing alasan dan pernyataan yang belum terisi pada pembuktian berik

E
Diketahui: SESU dan E U U
S
Tunjukkan: MS OS 1 2

M O

Alur pembuktian:

1SESU
?

4 ∆? ∆? 5 MS
2EU ? Konjektur ?
Kekongruenan
(Sudut-Sisi-Sudut)

3 ?

17
Kelas XII
No. Pernyataan Alasan

1. SE SU .......................................................................................
2. E U .......................................................................................
3. 1 2 .......................................................................................
4. ............................. Konjektur Kekongruen Sudut-Sisi-Sudut
5. MS OS .......................................................................................

Masalah 4.1.4

Lengkapilah masing-masing alasan dan pernyataan yang belum terisi pada pembuktian ber
Diketahui: I adalah titik tengah dari CM dan I adalah titik tengah dari BL.
Tunjukkan: CLMB
B
C
2

1
I
M
L

Alur pembuktian:
1 I adalah titik
tengah dari
3 CI
Diketahui Definisi Titik Tengah
2 I adalah titik
tengah dari ? ? Definisi
4 IL IB 6 ∆? 7 CL
Kekongruenan
Segibanyak
? 5 1

17
Matemati
Bukti formal:

No. Pernyataan Alasan

1. I adalah titik tengah dari CM Diketahui

2. I adalah titik tengah dari BL ...............................................................

3. CI IM Definisi Titik Tengah

4. IL IB ...............................................................

5. 1 2 ...............................................................

6. .................................................... ...............................................................

7. CL MB Definisi Kekongruenan Segibanyak

Berdasarkan kegiatan mengumpulkan informasi, buatlah kesimpulan atau


jawaban atas pertanyaan yang diajukan pada kegiatan menanya tentang
menyusun alur pembuktian deduktif.

Untuk menambah pengalaman belajar Anda dalam membuktikan suatu


pernyataan matematika secara deduktif, kerjakan masalah berikut secara
individu atau berkelompok.

18
Kelas XII
Masalah 4.1.5

Misalkan segitiga sama kaki ABC, dengan AB = AC, dan titik D adalah titik tengah BC. S

Presentasikan/bandingkan jawaban atas penyelesaian dari Masalah 4.1.5.


Diskusikan tentang bagaimana tahapan/cara menyusun pembuktian deduktif.

18
Matemati
Kegiatan 4.1.5: Menentukan Kekongruenan Bangun Datar dengan Bangun Datar
Hasil Transformasi (Rotasi, Pergeseran, Dilatasi/Perbesaran, Pencerminan)

Perhatikan informasi berikut:


F

F R C'
B'
O U

F' D C
R' D'
A'

O'
E
A B

Gambar 4.5 Bangun datar F'O'U'R' didapat dengan cara diperbesar dengan skala 2 dari bangun datar FOUR, m
Gambar 4.6 Bangun datar A'B'C'D' didapat dengan cara merotasi bangun datar ABCD sebesar 120°, maka ABCD

D C C' D'
D C D' C'

A BA' B' A B B' A'

7 Bangun ABCD digeser ke arah kanan dan


Gambar 4.8 didapat
Bangunbangun datar A'B'C'D',
datar ABCD makadan
dicerminkan mereka
diperoleh bayangannya A'B'C'D', maka mereka
kongruen

18
Kelas XII
Berdasarkan informasi yang Anda peroleh dari mengamati, tulis hal-hal
penting atau istilah-istilah matematika yang ada dalam informasi tersebut.

Berdasarkan informasi yang Anda peroleh dari hasil pengamatan, buatlah


kesimpulan awal terkait kekongruenan antara segibanyak dengan segibanyak
hasil transformasinya atau tulis semua pertanyaan yang ingin Anda ketahui
terkait informasi tersebut.

Untuk bisa mengecek kebenaran konjektur yang Anda buat atau menjawab
pertanyaan Anda, lakukan aktivitas penyelidikan berikut.
Penyelidikan [Link]: Menentukan Kekongruenan Dua Bangun Datar Hasil
Rotasi.
Gambar sebarang segiempat ABCD. Gambar satu titik O di luar segiempat
ABCD sebagai pusat perputaran. Tentukan bayangan hasil rotasinya jika
diputar sebesar 60° berlawanan dengan arah jarum jam, lakukan
penyelidikan terkait hubungan kekongruenannya dengan mengikuti
langkah-langkah berikut.

18
Matemati
Langkah 1: gambarlah segiempat ABCD,
Langkah 2: rotasi segiempat tersebut dengan sudut putar 60° dan pusat rotasi
di luar segiempat ABCD, dengan mengikuti tahapan-tahapan
berikut.
1) Tentukan sebuat titik O di luar segiempat.
2) Buat garis putus-putus yang menghubungkan titik-titik sudut ke titik
pusat putar O, sehingga terbentuk garis AO, BO, CO, dan DO
3) Putar garis AO, BO, CO, dan DO sebesar 60° berlawanan dengan arah
jarum jam
4) Tandailah titik ujung garis hasil merotasi garis AO, BO, CO, dan DO
dengan huruf A', B', C' dan D' secara berurutan.
5) Hubungkan titik-titik A', B', C', dan D' sehingga membentuk segiempat
A'B'C'D'.
Langkah 3 : ukurlah semua sisi dan sudut pada segiempat A'B'C'D'.
Langkah 4 : bandingkan ukuran semua sisi-sisi dan sudut-sudut yang
bersesuaian dari segiempat ABCD dan A'B'C'D'.

Tuliskan kesimpulan tentang hubungan kekongruenan antara segibanyak


dan segibanyak hasil transformasi rotasinya yang didapat dari kegiatan
Penyelidikan [Link].

18
Kelas XII
Penyelidikan [Link]: Menentukan Kekongruenan Dua Bangun Datar Hasil
Pencerminan/Refleksi.
Gambar sebarang segiempat ABCD, selanjutnya tentukan bayangan hasil
pencerminan, lakukan penyelidikan terkait hubungan kesebangunannya
dengan mengikuti langkah-langkah berikut:
Langkah 1: gambarlah sebarang segiempat ABCD,
Langkah 2: gambarlah garis l di luar segiempat sebagai cermin,
Langkah 3: gambarlah bayangan segiempat hasil pencerminan, dengan
mengikuti tahapan-tahapan berikut.
1) Buat garis melalui titik-titik sudut A, B, C dan D yang memotong tegak
lurus garis l di O, P, Q dan R secara berurutan, sehingga terbentuk garis
AO, BP, CQ dan DR.
2) Perpanjang garis AO ke titik A' sehingga panjang AO sama dengan
panjang OA'.
3) Lakukan proses yang sama seperti langkah (b) untuk mendapatkan titik-
titik B'', C' dan D'.
4) Hubungkan titik-titik A', B', C', dan D' sehingga membentuk segiempat
A'B'C'D'.
Langkah 3: ukurlah semua sisi dan sudut pada segiempat A'B'C'D'.
Langkah 4: bandingkan ukuran sisi-sisi yang bersesuaian dan ukuran sudut-
sudut yang bersesuaian dari segiempat ABCD dan A'B'C'D'.

18
Matemati
Tuliskan kesimpulan tentang hubungan kekongruenan antara segibanyak dan
segibanyak hasil pencerminannya yang didapat dari kegiatan Penyelidikan
[Link].

Penyelidikan [Link]: menentukan kekongruenan dua bangun datar hasil


pergeseran.
Gambar sebarang segiempat ABCD, selanjutnya tentukan bayangan hasil
pergeseran dengan aturan pergeseran yang ditetapkan, lakukan penyelidikan
terkait hubungan kesebangunannya dengan mengikuti langkah-langkah
berikut.
Langkah 1: gambarlah sebarang segiempat ABCD pada bidang kartesius,
Langkah 2: gambarlah bayangan segiempat hasil pergeseran dengan aturan
pergeserannya: (x, y) → (x + 2, y – 1), dengan mengikuti
tahapan- tahapan berikut.
Tentukan koordinat bayangan A', B', C' dan D' dari titik-titik sudutnya
mengikuti aturan pergeserannya.
Hubungkan titik-titik A', B', C', dan D' sehingga membentuk segiempat
A'B'C'D'.
Langkah 3: ukurlah semua sisi dan sudut pada segiempat A'B'C'D'.
Langkah 4: bandingkan ukuran sisi-sisi yang bersesuaian dan ukuran sudut-
sudut yang bersesuaian dari segiempat ABCD dan A'B'C'D'.

18
Kelas XII
Tuliskan kesimpulan tentang hubungan kekongruenan antara segibanyak dan
segibanyak hasil pergeseran yang didapat dari kegiatan Penyelidikan [Link].

Penyelidikan [Link]: menentukan kekongruenan dua bangun datar hasil dilatasi.


Gambar sebarang segiempat ABCD, selanjutnya tentukan bayangan hasil
dilatasi dengan aturan pergeseran yang ditetapkan, lakukan penyelidikan terkait
hubungan kesebangunannya dengan mengikuti langkah-langkah berikut.
Langkah 1: gambarlah sebarang segiempat ABCD pada bidang kartesius,
Langkah 2: gambarlah
3 bayangan segiempat hasil dilatasi 3 dengan
3  skala
dengan aturan pergeserannya: (x, y) →  x, y  , dengan
2 2 2
 
mengikuti tahapan-tahapan berikut.
1) Tentukan koordinat bayangan A', B', C' dan D' dari titik-titik sudutnya
mengikuti aturan pergeserannya.
2) Hubungkan titik-titik A', B', C' dan D' sehingga membentuk segiempat
A'B'C'D'.
Langkah 3: ukurlah semua sisi dan sudut pada segiempat A'B'C'D'.
Langkah 4: bandingkan ukuran panjang sisi-sisi yang bersesuaian dan
ukuran sudut-sudut yang bersesuaian dari segiempat ABCD dan
A'B'C'D'.

18
Matemati
Tuliskan kesimpulan tentang hubungan kekongruenan antara segibanyak dan
segibanyak hasil dilatasi yang didapat dari kegiatan Penyelidikan [Link].

Masalah 4.1.6

Tentukan apakah ruas garis-ruas garis atau segitiga pada bidang kartesius kongruen dan jela
a. ∆SUN∆ ?b. ∆DRO∆ ?

– ––

Y A

18
Kelas XII
Masalah 4.1.7

Gunakan aturan pasangan urutan, (x, y)

→  1 x, 1 y , untuk merelokasi koordinat


2 
 2 
titik-titik sudut jajargenjang ABCD.
Sebut jajargenjang baru A'B'C'D'. Apakah A'B'C'D' kongruen dengan ABCD?
Jika tidak kongruen, berapa rasio keliling ABCD terhadap keliling A'B'C'D'? berapa rasi

Presentasikan/bandingkan kesimpulan yang Anda buat sendiri atau secara


berkelompok dari hasil aktivitas Kegiatan 4.1.5 di depan kelas untuk
diperoleh kesimpulan yang lengkap dan benar tentang hubungan
kekongruenan antara segibanyak dan segibanyak hasil transformasinya.
Tuliskan hasil presentasi dan diskusi kelasnya.

18
Matemati
Contoh Soal 4.1
1. Identifikasi segitiga-segitiga berikut yang kongruen menggunakan aturan
sinus dan kosinus.
A
5 cm
F D K
60

5 cm 8 cm
4 cm 8 cm 6,08 cm
4,61 cm

C 4 cm
B E J

L
G

60
R M 85
25 10 cm
6 cm 4,61 cm
10 cm

20
Q
45
P
I 6,08 cm
T
30

N
4,61 cm

45
U
S 6 cm

2. Diketahui segitiga ∆ABD kongruen dengan ∆CBD seperti yang terlihat


pada gambar berikut.
B

40 z y D
A x

19
Kelas XII
C
3 cm

Tentukan nilai x, y, dan z.

19
Matemati
3. Diketahui segitiga ABC dengan A(–2, 6), B(4, –2), dan C(10,6 ; 9,2).
a. Tentukan bayangan segitiga ABC jika dirotasi dengan pusat O(0,0)
sebesar 60 berlawanan arah jarum jam
b. Gambarkan segitiga ABC dan bayangannya dalam 1 bidang
koordinat Cartesius.
c. Jelaskan apakah segitiga ABC dan bayangannya merupakan dua
segitiga yang sebangun
d. Tentukan perbandingan luas segitiga ABC dengan luas segitiga
bayangannya.
4. Diketahui segitiga ABC dengan A(3, 0), B(6,2), dan C(6, –4).
a. Tentukan bayangan segitiga ABC oleh dilatasi dengan pusat O(0,0)
dan faktor skala 3.
b. Gambarkan segitiga ABC dan bayangannya dalam 1 bidang koordinat
Cartesius.
c. Jelaskan apakah segitiga ABC dan bayangannya merupakan dua
segitiga yang sebangun
d. Tentukan perbandingan luas segitiga ABC dengan luas segitiga
bayangannya.
5. ABDF adalah persegi dan BC = EF. Tentukan pasangan segitiga-segitiga
yang kongruen pada gambar berikut.
A B

F E D

19
Kelas XII
Subbab 4.2 Kesebangunan
Sebuah Kisah Matematikawan Yunani, Thales.
Saat berlibur di Mesir, matematikawan Yunani, Thales menghitung
ketinggian Piramida Besar. Menurut cerita legenda, Thales menempatkan
sebuah tiang di ujung bayangan piramida dan menggunakan segitiga yang
sebangun untuk menghitung ketinggian. Pengukuran ini melibatkan beberapa
nilai pendekatan karena ia tidak dapat mengukur jarak dari titik yang tepat di
bawah puncak piramida ke ujung bayangan.
Gambar berikut, menjelaskan metodenya.

6,2 m

10 m
240 m

Gambar 4. Sketsa yang dibuat Thales

Ketika membaca cerita tersebut, mungkin ada beberapa pertanyaan yang


muncul dalam pikiran Anda, diantaranya:
1. Bagaimana cara Thales menentukan tinggi piramid tersebut?
2. Mengapa cara tersebut bisa digunakan?

Apersepsi: Review pengetahuan sebelumnya


Gunakan kemampuan aljabar dan pengetahuan Anda sebelumnya terkait rasio,
proporsi dan korespondensi dua segibanyak.

19
Matemati
1. Coba tuliskan 3 contoh rasio!

2. Tuliskan minimal 2 rasio yang senilai dari tiga contoh rasio yang Anda
tulis pada latihan 1.

Selain konsep rasio, Anda juga sudah mendapatkan pengetahuan tentang


konsep proporsi/kesamaan dua rasio.
3. Coba tuliskan 3 contoh proporsi!

19
Kelas XII
4. Apa syarat dua segibanyak dapat dibuatkan korespondensi? Bagaimana
cara menentukan pasangan sisi-sisi dan sudut-sudut yang bersesuaian
dari dua segibanyak yang dapat dibuatkan korespondensi?

Kegiatan Inti

Untuk dapat memahami konsep kesebangunan bangun datar, coba amati


beberapa informasi yang disajikan di bawah ini.

A B A B

D C D C
Q
S R

R
P Q P

Segiempat ABCD dan segiempat PQRS Segiempat ABCD dan segitiga PQR
tidak sebangun tidak sebangun

19
Matemati
A 9 cm B

6 cm

C
D 7,5 cm

E 12 cm F

8 cm 8 cm
6 cm

H 10 cm G

Segiempat ABCD dan segiempat EFGH


sebangun
9 cm
S R

8,5 cm 9,5 cm

P 17 cm
Q

12,5 cm
D C

5,2 cm

A B
17 cm

Segiempat ABCD dan segiempat PQRS


tidak sebangun

Berdasarkan informasi yang Anda peroleh dari mengamati, tulis hal-hal


penting atau istilah-istilah matematika yang ada dalam informasi tersebut.

19
Kelas XII
Perhatikan kelompok pasangan-pasangan bangun datar yang diberikan dikaitkan
dengan informasi sebangun atau tidak pasangan bangun datar tersebut serta lakukan
penyelidikan terkait ukuran sisi, perbandingan/rasio dari dua sisi dan ukuran
sudutnya.

19
Matemati
Buatlah kesimpulan sementara (konjektur) dari hasil pengamatan Anda atau tuliskan
pertanyaan-pertanyaan terkait kesebangunan, rasio panjang sisi dari pasangan sisi
yang bersesuaian, ukuran sudut-sudut yang bersesuaian dari masing-masing
pasangan bangun datar.

Kesimpulan sementara yang Anda ajukan pada sesi sebelumnya perlu di uji
kebenarannya. Begitu juga pertanyaan-pertanyaan yang Anda ajukan perlu di
cari jawabannya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, perhatikan
informasi- informasi yang akan diberikan pada bagian ini. Anda juga akan
diminta melengkapi informasi tersebut berdasarkan pengetahuan yang Anda
miliki atau dari informasi yang diberikan pada bagian ini.

Kegiatan 4.2.1: Mengidentifikasi Kesebangunan Dua Bangun Datar


Perhatikan sepasang bangun datar yang dilengkapi informasi ukuran panjang
sisi-sisi dan sudut-sudutnya.

A B Q A BS R

D C Q
P
D C P R

Bangun ABCD Bangun ABCD dan bangun PQRS tidak sebangun


dan PQR tidak sebangun

19
Kelas XII
S 9 cmR

8,5 cm 9,5 cm

P 17 cm Q

12,5 cm
D C
5,2 cm

A B
17 cm

Bangun ABCD dan bangun PQRS tidak sebangun

A 9 cm B

6 cm 6 cm

D C
7,5 cm

E 12 cm F

8 cm 8 cm

H 10 cm G

Bangun ABCD dan bangun EFGH


sebangun

Lakukan penyelidikan pada masing-masing pasangan segibanyak di atas


dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.
Untuk masing-masing gambar pasangan segibanyak di atas, jawab
pertanyaan berikut.
1. Apakah ada korespondensi satu-satu antara titik-titik sudut pada dua
bangun datar tersebut?

19
Matemati
2. Jika ada korespondensi, tentukan sisi-sisi yang bersesuaian dan sudut-
sudut yang bersesuaian?

20
Kelas XII
3. Tentukan semua rasio dari pasangan sisi yang bersesuaian? Apakah
semua nilai rasionya sama?

4. Apakah semua ukuran sudut-sudut yang bersesuaian sama?

Hubungkan/kaitkan informasi tentang kesebangunan sepasang segibanyak


dengan jawaban yang diperoleh dari hasil penyelidikan tersebut.
Berdasarkan hasil analisis atau mengkait-kaitkan informasi yang diperoleh,
buatlah kesimpulan terkait syarat dua segibanyak sebangun:

20
Matemati
Presentasikan/bandingkan kesimpulan yang Anda buat sendiri atau secara
berkelompok dari hasil aktivitas kegiatan 1 dan 2 di depan kelas untuk
diperoleh kesimpulan yang lengkap dan benar tentang Kesebangunan
Bangun Datar. Tuliskan hasil presentasi dan diskusi kelasnya.

Catatan: Kesimpulan ini terkait Definisi kesebangunan segibanyak.

Kegiatan 4.2.2: Mengidentifikasi Segitiga-Segitiga yang Sebangun

Perhatikan gambar berikut.


C
F

48o 48o
D E
A B

Dua segitiga siku-siku ABC dan DEF siku-siku di titik B dan F, sudut A
dan sudut B kongruen, maka segitiga ABC dan segitiga DEF sebangun.

20
Kelas XII
Berdasarkan informasi yang Anda peroleh dari mengamati, tulis hal-hal
penting atau istilah-istilah matematika yang ada dalam informasi tersebut.

Dari gambar di atas, buatlah pertanyaan terkait hasil pengamatan Anda dan
berikan kesimpulan sementara/konjektur terkait pertanyaan yang diajukan
temanmu/kelompok lain!

Untukmengklarifikasidugaansementara/konjekturAnda, lakukanpenyelidikan
berikut.
Penyelidikan [Link]: Menentukan kesebangunan segitiga (Sudut-Sudut)
dengan pengukuran.
Gambarlah dua segitiga yang dua sudut dari segitiga pertama sama besar
dengan dua sudut dari segitiga yang kedua, ikuti langkah-langkah berikut.
1. Gambar sebarang segitiga ABC.
2. Gambar segitiga kedua, DEF, dengan ukuran sudut D sama dengan
ukuran sudut A(ditulis, D A) dan ukuran sudut E sama dengan
ukuran sudut B (ditulis, E B). Bagaimana dengan sepasang sudut
yang lain, C dan F? Mengapa?

20
Matemati
3. Secara teliti, ukurlah panjang sisi-sisi dari kedua segitiga tersebut.
Bandingkan nilai rasio dari panjang sisi-sisi yang bersesuaian.
4. Bandingkan hasilnya dengan pekerjaan teman di sebelahmu.

Buatlah kesimpulan dari hasil membandingkan tersebut, dengan


melengkapi pernyataan berikut.

Catatan: berdasarkan tahapan ke-2 dari Penyelidikan [Link], apakah


perlu mengetahui ukuran sudut ke-3 (Sudut-Sudut-Sudut) untuk
mengecek kesebangunannya? Mengapa?

Untuk menambah wawasan Anda, berikut akan disajikan contoh pembuktian


deduktif dari kesimpulan yang Anda dapatkan tentang kesebangunan dua
segitiga jika diketahui ukuran sudut-sudut yang bersesuaian (Konjektur
Kesebangunan Sudut-Sudut-Sudut).

20
Kelas XII
Contoh Soal 4.2.1
Bukti Konjektur Kesebangunan segitiga Sudut-Sudut-Sudut
Misalkan diberikan dua segitiga ABD dan DEF, di mana A D, B E
dan C F, maka ∆ABD ∆DEF
(sebangun). Bukti:
Pernyataan tersebut bila digambarkan seperti gambar berikut:
A

P Q D

F
B C E

Untuk menuliskan bukti dari pernyataan tersebut, berikut akan diberikan alur
pernyataan-pernyataan serta alasan yang mendukung munculnya pernyataan
tersebut sehingga diperoleh pernyataan kesimpulan. Untuk membantu kalian
memahami alur pembeuktian berikut, baca kembali Kegiatan 4.1.4 tentang
alur/flowchat berpikir untuk pembuktian deduktif.
 
2 Misalnya 3 JikaPO || BC   AC
2 garis dipotong 9
APO
Dari B
satu titik bisa transversal sehingga sudut- PAQ
Jika garis sejajar dengan
dibuat sudut sudut yang bersesuaian
sisi segitiga, maka rasio
kongruen maka 2 garis itu
ukuran ruas garis yang
bersesuaian dari sisi

4 B  5 APQ 
Diketahui Sifat Transitif
10   AC
DEDF
Substitusi

1 Misal P pada
AB, sehingga 7 ∆DEF 8 AQDF
Garis bisa diperpanjang sesuai Konjektur Definisi
yang diinginkan Kekongruenan Kekongruenan
Sudut-Sisi-Sudut segibanyak

Diketahui 11   AC  BC
6 A D DFEF
Diketahui
Sifat Transitif
12 C F
13 ∆ABC
Definisi
Kekongruena
n segibanyak

20
Matemati
Pernyataan yang akan dibuktikan terdiri dari informasi yang diketahui dan
yang akan dibuktikan, sehingga dapat ditulis:
Diketahui: A D, B E, dan C F
Akan dibuktikan: ∆ABC ADEF

No. Pernyataan Alasan


Garis bisa diperpanjang sesuai
1. Misal P pada AB, sehingga AP DE
yang diinginkan
2. Misal APQ B Dari satu titik bisa dibuat sudut
Jika 2 garis dipotong
transversal sehingga sudut-
3. PQ || BC sudut yang bersesuaian
kongruen, maka 2 garis itu
sejajar
4. B E Diketahui
5. APQ E Sifat Transitif
6. A D Diketahui
Kekongruenan segitiga (Sudut-
7. ∆DEF ∆APQ
Sisi-Sudut)
8. AQ || DF Definisi Kekongruenan
Jika garis sejajar dengan sisi
AB segitiga, maka rasio ukuran ruas
9. AC =
AP garis yang bersesuaian dari sisi
AQ
yang lain akan sama
AB AC
10. DE = DF Subsitusi

AB AC BC
11. DE = DF = EF Transitif

12. C F Diketahui
Definisi Kesebangunan
13. ∆ABC ∆DEF
Segibanyak

20
Kelas XII
Penyelidikan [Link] memberikan konfirmasi kepada Anda bahwa untuk
menyimpulkan apakah dua segitiga sebangun atau tidak bisa menggunakan
pengecekan kesebangunan dengan Konjektur Sudut-Sudut-Sudut.
Bagaimana bila informasi yang dimiliki terkait ukuran dua sisi dan satu
sudut (Sisi-Sudut-
Sisi), apakah cukup untuk mengecek kesebangunannya?

Untuk mengklarifikasi konjektur atau jawaban Anda terkait pertanyaan


tersebut, lakukan penyelidikan berikut.
Penyelidikan [Link]: Menentukan Kesebangunan segitiga (Sisi-Sudut-Sisi)
dengan pengukuran.
Gambarkan dua segitiga yang berbeda, di mana 2 sisi segitiga pertama
proporsional dengan 2 sisi segitiga kedua dan sudut yang dibentuk oleh
kedua sisi tersebut pada segitiga pertama sama besar dengan sudut yang jg
dibentuk oleh dua sisi yang proporsional pada segitiga kedua, ikuti langkah-
langkah berikut.
1. Gambar segitiga sebarang ABC
2. Gambar segitiga kedua, DEF, yang panjang dua sisi segitiga pertama
proporsional dengan dua sisi segitiga kedua dan sudut yang diapit oleh
kedua sisi tersebut sama besar.

2
Matemati
3. Bandingkan ukuran sisi yang bersesuaian dan sudut-sudut yang
bersesuaian. Diskusikan hasil yang Anda dapat dengan hasil teman

sebelah Anda.
Penyelidikan [Link]: Menentukan Kesebangunan segitiga (Sisi-Sudut-Sisi)
dengan menerapkan aturan sinus.
Misalkan diketahui segitiga ABC dengan ukuran panjang sisi AB = 2, AC =
4, dan A = 30° dan segitiga ∆DEF dengan panjang sisi DE = 4, DF = 8,
dan D = 30°, lakukan pengecekan dengan menjawab pertanyaan-
pertanyaan berikut.
E
4 B 2

30 D 30 A

8 C

1. Bagaimana perbandingan sisi-sisi yang bersesuaian dan ukuran sudut


yang bersesuaian?

20
Matemati
2. Tentukan ukuran dua sudut-sudut yang lain dan satu sisi yang belum
diketahui pada segitiga ∆ABC dan ∆DEF dengan menggunakan aturan
kosinus dan aturan sinus.

3. Bandingkan sudut-sudut yang bersesuaian dan perbandingan sepasang


sisi yang lainnya dari kedua segitiga tersebut. Bandingkan hasil yang
kamu dapatkan dengan hasil yang diperoleh teman sebelahmu.

Tuliskan kesimpulan yang didapat.

Untuk memperkaya wawasan dan pengetahuan Anda, berikut akan disajikan


sebuah contoh pembuktian secara deduktif untuk membuktikan kesimpulan/
konjektur tentang kesebangunan dua segitiga jika diketahui sepasang sudut
yang bersesuaian dan rasio dari ukuran dua sisi yang bersesuaian (Konjektur
Kesebangunan Sisi-Sudut-Sisi).

20
Kelas XII
Contoh Soal 4.2.2

Bukti Konjektur Kesebangunan segitiga Sisi-Sudut-SisiAB


Diberikan dua segitiga ABC dan DEF, A D dan AC
= , maka
∆ABC ∆DEF. DE DF'
Bukti:
Pernyataan tersebut bila digambarkan seperti gambar berikut:
A

1
P Q D

B C E F

Perhatikan alur pembuktian berikut.

20
Matemati
AB
Diketahui: A D dan AC
DE
= DF
Akan dibuktikan: ∆ABC ∆DEF
Bukti Formal: (lengkapi bagian alasan yang mendukung pernyataan-
pernyataanya).

No. Pernyataan Alasan

1. Misal P adalah titik pada AB,


sehingga
AP DE (sisi)
2. Misal Q adalah titik pada AC,
sehingga
AQ DF (sisi)
3. A D (sudut)

4. ∆APQ ∆DEF

5. E 1

AB AC
6. DE = DF
AB AC
7. AP = AQ

8. PQ || BC

9. B 1

10. B E

11. ∆ABC ∆DEF

2
Kelas XII
Sekarang perhatikan informasi berikut:
G

54 12
=
108 12
48 cm 54 cm
K 48
108 cm 96 =

W B J 96 cm F
GB GW
Rasio dari dua sisi yang bersesuaian = , tetapi segitiga GWB tidak
sebangun dengan segitiga JFK. JK JF'

Berdasarkan informasi yang Anda peroleh dari mengamati, tulis hal-hal


penting atau istilah-istilah matematika yang ada dalam informasi tersebut.

Ajukan dugaan awal/konjektur atau pertanyaan terkait informasi yang Anda


amati kaitannya dengan syarat kesebangunan dua segitiga.

20
Matemati
Untuk mengklarifikasi konjektur atau jawaban Anda, lakukan investigasi
berikut.
Penyelidikan [Link]: Menentukan Kesebangunan segitiga (Sisi-Sisi-Sisi)
melalui pengukuran.
Gambarlah dua segitiga yang ketiga sisi segitiga pertama proporsional
dengan tiga sisi segitiga kedua (rasio dari ketiga sisi yang bersesuaian sama
besar), ikuti langkah-langkah berikut.
1. Gambar sebarang setiga ABC
2. Gambar segitiga kedua, DEF, yang panjang sisi-sisinya kelipatan dari
panjang sisi segitiga pertama.
3. Bandingkan sudut-sudut yang bersesuaian dari kedua segitiga tersebut.
Bandingkan hasil yang kamu dapatkan dengan hasil yang diperoleh
teman sebelahmu.

Penyelidikan [Link]: Menentukan Kesebangunan segitiga (Sisi-Sisi-Sisi)


dengan menerapkan aturan kosinus.
Misalkan diketahui segitiga ABC dengan ukuran panjang sisi AB = 2, BC =
3, dan CA = 4 dan segitiga DEF dengan panjang sisi DE , EF = 6, dan FD =
8, lakukan pengecekan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Tentukan rasio/perbandingan sisi-sisi yang bersesuaian.

21
Kelas XII
2. Tentukan ukuran semua sudut-sudut pada segitiga ABC dan DEF dengan
menggunakan aturan kosinus.

3. Bandingkan sudut-sudut yang bersesuaian dari kedua segitiga tersebut.


Bandingkan hasil yang kamu dapatkan dengan hasil yang diperoleh
teman sebelahmu.

Tuliskan kesimpulan terkait konjektur kesebangunan dua segibanyak jika


diketahui ukuran semua sisi-sisinya dari temuan pada aktivitas Penyelidikan
[Link] dan [Link].

21
Matemati
Untuk memperkaya wawasan dan pengetahuan Anda, berikut akan disajikan
sebuah contoh pembuktian secara deduktif untuk membuktikan kesimpulan/
konjektur tentang kesebangunan dua segitiga jika diketahui rasio dari ukuran
semua sisi yang bersesuaian (Konjektur Kesebangunan Sisi-Sisi-Sisi).

Contoh Soal 4.2.2

Bukti Konjektur Kesebangunan segitiga Sisi-Sisi-Sisi


AB AC BC
Diberikan dua segitiga ABC dan DEF, di mana = = , maka
∆ABC ∆DEF. DE DF' EF'

Pembuktian:
Untuk mempermudah proses berpikir dalam penulisan pembuktian secara
deduktif, perhatikan alur berpikir berikut ini:
1Misal P adalah titik 4AB = AC 5 PQ || BC

pada AB, sehingga APAQ 6 B 1
AP DE Jika 2 garis dipotong C 2
Subtitusi transversal sehingga sudut-
Garis bisa diperpanjang sesuai yang diinginkan Sudut Sehadap
sudut yang bersesuaian
kongruen, maka 2 garis itu
sejajar

2Misal Q adalah titik



pada AC, sehingga
AQ DF
7 ∆ABC∆APQ
Garis bisa diperpanjang sesuai yang diinginkan 8 AB = BC
APPQ
Konjektur Kesebangunan
3 AB = AC Sudut-Sudut
DEDF Definisi Kesebangunan Segibanyak

Diketahui
11 ∆ APQ∆DEF
10 PO EF 12 B E
9 AB = AC = BC Subtitusi C F
Konjektur Definisi Kekongruenan dan
DEDFEF Kekongruenan Substitusi
Diketahui

Konjektur Kesebangunan
13 ∆ABC
Sudut-Sudut∆DEF

21
Kelas XII
Berdasarkan alur pembuktian di atas, lengkapi pembuktian formal berikut
ini:
AB AC BC
Diketahui: = =
DE DF' EF'
Akan dibuktikan: ∆ABC ∆DEF.

No. Pernyataan Alasan

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

21
Matemati
Gunakan semua pengalaman belajar atau pengetahuan yang Anda dapatkan
selama melakukan aktivitas pada Kegiatan 4.2.2 untuk menyelesaikan
masalah-masalah yang diberikan berikut ini.

Masalah 4.2.1
R

Misalkan segitiga ∆ABC dan ∆PQRC


sebangun, AB = 12 cm, BC = 8 cmdan AC = 15 cm. Jika PQ = 18 cm, seperti pada gambar be

A B P Q
Tentukan:
Panjang sisi-sisi yang lainnya pada segitiga ∆PQR.
Ukuran semua sudut pada segitiga ∆ABC dan ∆PQR.

Masalah 4.2.2
A
Pada segitiga ∆ABC di samping dibuat ruas DE sejajar
2x + 4
BC dengan D pada AB = 8 cm, DB =
8
4 cm dan EC = 3x – 5 cm. Andaikan
B = 90o berapakah panjang BC ? D E
5 3x –5
B
C

21
Kelas XII
Masalah 4.2.3
A
Misalkan dua segitiga ABC dan DEF seperti yang terlihat pada gambar, DE || AB dan

B C
E F

Presentasikan/bandingkan kesimpulan yang kalian buat sendiri atau secara


berkelompok dari hasil aktivitas Kegiatan 4.2.2 di depan kelas untuk
diperoleh kesimpulan yang lengkap dan benar. Tuliskan hasil presentasi dan
diskusi kelasnya.

21
Matemati
Kegiatan 4.2.3: Menentukan Kesebangunan Bangun Datar dengan Bangun
Datar Hasil Transformasi (Rotasi, Pergeseran, Dilatasi/Perbesaran, dan Pencerminan).

Perhatikan informasi berikut:

10
9
8
7
6
C' 5 C'
C4
3
2
B'
1
B'

B
D C
D'
–10 –9 –8 –7 –6 –5 –4 –3 –2 –1
–1 0
–2
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
A'
A'A –3
–4
–5
–6
–7 E
–8
–9
–10
A B

B'C' hasil transformasi dilatasi


Bangun dengan skala 3/2 dari
datar A’B’C’D’ bangun
didapat datarcara
dengan ABC, maka mereka
merotasi bangun sebangun
datar ABCD sebesar, 120 maka ABCD da

D C D' C'
D CC' D'

B A' A B A' B'


A B'

datar ABCD dicerminkan dan diperolehBangun


bayangannya
ABCD A'B'C'D',
digeser kemaka
arah mereka sebangun
kanan dan didapat bangun datar A'B'C'D', maka mereka seb

21
Kelas XII
Berdasarkan informasi yang Anda peroleh dari mengamati, tulis hal-hal
penting atau istilah-istilah matematika yang ada dalam informasi tersebut.

Berdasarkan informasi yang Anda peroleh dari hasil pengamatan, buatlah


pertanyaan terkait hasil pengamatan Anda dan jawaban atas pertanyaan yang
diajukan teman atau kelompok lain terkait kesebangunan antara dua segitiga.

21
Matemati
Untuk bisa mengecek kebenaran konjektur yang Anda buat atau menjawab
pertanyaan yang diajukan teman/kelompok lain, lakukan aktivitas
penyelidikan berikut.
Penyelidikan [Link]: Menentukan Kesebangunan Dua Segibanyak Hasil
Rotasi.
Gambar sebarang segiempat ABCD. Tentukan bayangan hasil rotasinya jika
diputar sebesar 60°, lakukan penyelidikan terkait hubungan
kesebangunannya dengan mengikuti langkah-langkah berikut.
Langkah 1 : gambarlah segiempat ABCD,
Langkah 2 : rotasi segiempat tersebut dengan sudut putar 60° dan pusat
rotasi di luar segiempat ABCD, dengan mengikuti tahapan-
tahapan berikut.
1) Tentukan sebuat titik O diluar segiempat.
2) Buat garis putus-putus yang menghubungkan titik-titik sudut ke titik
pusat putar O, sehingga terbentuk garis AO, BO, CO, dan DO.
3) Putar garis AO, BO, CO, dan DO sebesar 60° berlawanan dengan arah
jarum jam.
4) Tandailah titik ujung garis hasil merotasi garis AO, BO, CO, dan DO
dengan huruf A', B', C' dan D' secara berurutan.
5) Hubungkan titik-titik A', B', C', dan D’ sehingga membentuk segiempat
A'B'C'D'.
Langkah 3 : ukurlah semua sisi dan sudut pada segiempat A'B'C'D'.
Langkah 4 : bandingkan rasio sisi-sisi yang bersesuaian dan ukuran sudut-
sudut yang bersesuaian dari segiempat ABCD dan A'B'C'D'.

21
Kelas XII
Tuliskan kesimpulan terkait hubungan kesebangunan antara segibanyak dan
segibanyak hasil rotasi yang didapat dari kegiatan Penyelidikan [Link].

Penyelidikan [Link]: Menentukan Kesebangunan Dua Bangun Datar Hasil


Pencerminan/Refleksi.
Gambar sebarang segiempat ABCD, selanjutnya tentukan bayangan hasil
pencerminan, lakukan penyelidikan terkait hubungan kesebangunannya dengan
mengikuti langkah-langkah berikut.
Langkah 1: gambarlah sebarang segiempat ABCD,
Langkah 2: gambarlah garis l di luar segiempat sebagai cermin,
Langkah 3: gambarlah bayangan segiempat hasil pencerminan, dengan
mengikuti tahapan-tahapan berikut.
1) Buat garis melalui titik-titik sudut A, B, C dan D yang memotong
tegaklurus garis l di O, P, Q dan R secara berurutan, sehingga terbentuk
garis AO, BP, CQ dan DR.
2) Perpanjang garis AO ke titik A' sehingga panjang AO sama dengan
panjang OA’.
3) Lakukan proses yang sama seperti langkah (2) untuk mendapatkan titik-
titik B', C' dan D'.
4) Hubungkan titik-titik A', B', C', dan D' sehingga membentuk segiempat
A'B'C'D'.
Langkah 3: ukurlah semua sisi dan sudut pada segiempat A'B'C'D'.
Langkah 4: bandingkan rasio sisi-sisi yang bersesuaian dan ukuran sudut-sudut
yang bersesuaian dari segiempat ABCD dan A'B'C'D'.

21
Matemati
Tuliskan kesimpulan terkait hubungan kesebangunan antara segibanyak dan
segibanyak hasil pencerminan.

Penyelidikan [Link]: Menentukan kesebangunan dua bangun datar hasil


pergeseran.
Gambar sebarang segiempat ABCD, selanjutnya tentukan bayangan hasil
pergeseran dengan aturan pergeseran yang ditetapkan, lakukan penyelidikan
terkait hubungan kesebangunannya dengan mengikuti langkah-langkah
berikut.
Langkah 1: gambarlah sebarang segiempat ABCD pada bidang kartesius,
Langkah 2: gambarlah bayangan segiempat hasil pergeseran dengan aturan
pergeserannya: (x, y) → (x + 2, y – 1), dengan mengikuti
tahapan- tahapan berikut.
1) Tentukan koordinat bayangan A', B', C', dan D' dari titik-titik sudutnya
mengikuti aturan pergeserannya.
2) Hubungkan titik-titik A', B', C', dan D' sehingga membentuk segiempat
A'B'C'D'.
Langkah 3: ukurlah semua sisi dan sudut pada segiempat A'B'C'D'.
Langkah 4: bandingkan rasio sisi-sisi yang bersesuaian dan ukuran sudut-
sudut yang bersesuaian dari segiempat ABCD dan A'B'C'D'.

22
Kelas XII
Tuliskan kesimpulan terkait hubungan kesebangunan antara segibanyak dan
segibanyak hasil pergeseran.

Penyelidikan [Link]: Menentukan kesebangunan dua bangun datar hasil


dilatasi.
Gambar sebarang segiempat ABCD, selanjutnya tentukan bayangan hasil
dilatasi dengan aturan pergeseran yang ditetapkan, lakukan penyelidikan
terkait hubungan kesebangunannya dengan mengikuti langkah-langkah
berikut: Langkah1: gambarlah sebarang segiempat ABCD pada bidang
kartesius, Langkah2: gambarlah bayangan segiempat hasil dilatasi
dengan skala 3 3 3
dengan aturan pergeserannya: (x,y) → ( x, y), dengan
2 2 2
mengikuti tahapan-tahapan berikut:
1) Tentukan koordinat bayangan A', B', C' dan D' dari titik-titik sudutnya
mengikuti aturan pergeserannya.
2) Hubungkan titik-titik A', B', C', dan D' sehingga membentuk segiempat
A'B'C'D'.
Langkah 3: ukurlah semua sisi dan sudut pada segiempat A'B'C'D'.
Langkah 4: bandingkan rasio sisi-sisi yang bersesuaian dan ukuran sudut-
sudut yang bersesuaian dari segiempat ABCD dan A'B'C'D'.

22
Matemati
Tuliskan kesimpulan terkait hubungan kesebangunan antara segibanyak dan
segibanyak hasil dilatasi.

Masalah 4.2.4

Misalkan luas suatu persegi ABCD adalah 9 cm2. Berapa panjang sisi-sisi dan luas segibanyak
Dilatasi dengan skala 2.
Rotasi dengan pusat putar dititik A sebesar 30 derajat searah jarum jam.

Presentasikan/bandingkan kesimpulan yang Anda buat sendiri atau secara


berkelompok dari hasil aktivitas Kegiatan 4.2.3 di depan kelas untuk
diperoleh kesimpulan yang lengkap dan benar.

22
Kelas XII
Tuliskan hasil presentasi dan diskusi kelasnya.

Kegiatan 4.2.4: Menentukan Ukuran Unsur-Unsur Segitiga yang


Ber- sesuaian dari Dua Segitiga yang Sebangun

Perhatikan dua segitiga ABC dan DEF yang sebangun, ABC DEF.
F

C
R Q

A K B D P E

Garis CK dan garis FP adalah salah satu garis tinggi segitiga ABC dan DEF,
Garis AL dan DQ adalah salah satu garis berat segitiga ABC dan DEF, dan
Garis BM dan ER adalah salah satu garis bagi sudut segitiga ABC dan DEF.
Berdasarkan konsep kesebangunan dua segitiga, maka dapat ditulis beberapa
kesimpulan:

A D; B E; C F
AB BC CA
DE = EF = DF

22
Matemati
Karena, ABC DEF, maka dapat disimpulkan pula bahwa:
Sisi AB dan DE adalah pasangan sisi yang bersesuaian dan garis CK adalah
garis tinggi terhadapat sisi AB pada segitiga ABC dan garis FP adalah garis
tinggi terhadap sisi DE pada segitiga DEF, maka kita katakan garis CK dan
garis FP adalah garis-garis yang bersesuaian/berkorespondensi.
Garis BM dan garis ER adalah garis-garis yang bersesuaian/ber-
korespondensi.
Garis BM dan garis ER adalah garis-garis yang
bersesuaian/berkorespondensi. Mengapa?
Garis AL dan garis DQ adalah garis-garis yang
bersesuaian/berkorespondensi. Mengapa?
Berdasarkan informasi yang Anda peroleh dari mengamati, tulis hal-hal
penting atau istilah-istilah matematika yang ada dalam informasi tersebut.

Berdasarkan informasi di atas, tuliskan dugaan sementara/konjektur terkait


hubungan antara:
1) garis tinggi yang bersesuaian pada dua segitiga yang sebangun.
2) garis bagi yang bersesuaian pada dua segitiga yang sebangun.
3) garis bagi sudut yang bersesuaian pada dua segitiga yang sebangun.

22
Kelas XII
Untuk mengecek apakah kesimpulan yang Anda buat merupakan pernyataan
yang benar, lakukan penyelidikan berikut.
Penyelidikan [Link]: Bagian-bagian segitiga yang bersesuaian.
Siapkan kertas tak bergaris, penggaris, busur, dan jangka untuk melakukan
investigasi ini, kemudian ikuti langkah-langkah berikut.
Langkah 1 : Gambar sebarang segitiga. Gunakan ukuran faktor (perbesaran)
pilihan Anda, bentuklah sebuah segitiga yang sebangun
(berbeda ukuran)
Langkah 2 : Buat sepasang garis tinggi yang bersesuaian dan gunakan
jangka Anda untuk membandingkan ukuran-ukurannya.
Bagaimana hasil perbandingannya dikaitkan dengan ukuran
faktor (perbesaran) yang Anda gunakan untuk membuat
segitiga kedua?
Langkah 3 : Tentukan pasangan garis tinggi yang bersesuaian. Bandingkan
ukuran panjangnya.
Langkah 4 : Buat sepasang garis bagi sudut yang bersesuaian. Bandingkan
ukuran panjang garis bagi-garis bagi yang bersesuaian.
Langkah 5 : Bandingkan hasil yang Anda peroleh dengan teman sebelah
Anda.

22
Matemati
Dari hasil penyelidikan yang Anda lakukan, buatlah kesimpulan terkait
hubungan panjang garis tinggi, garis berat, dan garis bagi sudut yang
bersesuaian pada dua segitiga yang sebangun:

Untuk memperkaya wawasan dan pengetahuan Anda, berikut akan disajikan


sebuah contoh pembuktian secara deduktif untuk membuktikan kesimpulan
yang Anda buat pada kegiatan ayo menalar.

Contoh Soal 4.2.5

Buktikan bahwa panjang garis berat-garis berat yang bersesuaian dari dua
segitiga yang sebangun adalah proporsional (memiliki rasio yang
sama/senilai) dengan panjang sisi-sisi yang bersesuaian.
Pembuktian:
Diketahui:
Segitiga ∆LVE dan ∆MTH sebangun,
Titik O dan A secara berurutan adalah titik tengah sisi LV dan sisi MT
Garis EO dan garis HA secara berurutan adalah garis berat pada segitiga
∆LVE dan segitiga ∆MTH.
Akan dibuktikan: EO = EL
HA HM

22
Kelas XII
Bukti:
Untuk membuktikan pernyataan tersebut, akan lebih mudah lakukan analisis
berikut.
Diberikan bahwa segitiga LVE dan MTH sebangun dengan garis bagi sisi
yang bersesuaian adalah garis EO dan HA. Perhatikan gambar berikut.
H

L O V M A T

Anda harus membuktikan bahwa rasio dari garis bagi sisi-garis bagi sisi yang
bersesuaian dan rasio sisi-sisi yang berseusuain sama/senilai. Artinya kamu
tunjukkan bahwa EO = EL . Gunakan startegi berpikir mundur, kamu akan bisa
HA HM
melihat bahwa definisi dua segitiga sebangun akan membantu menunjukkan
bahwa panjang sisi-sisi yang bersesuaian proporsional. Dengan menggunakan
konjektur kesebangunan SAS, Anda bisa menunjukkan bahwa EO = EL ,
HA HM
dengan terlebih dahulu menunjukkan bahwa segitiga ELO dan segitiga HMA
sebangun.

No. Pernyataan Alasan

1. ∆LVE ∆MTH Diketahui

2. EL LV Definisi Kesebangunan
HM = MT

EL LO + OV Definisi Penjumlahan ruas


3. HM = MT + AT garis
4. EO dan HA adalah garis berat Diketahui

22
Matemati
No. Pernyataan Alasan

O adalah titik tengah LV


5. Definisi garis berat
A adalah titik tengah MT

6. LO = OV dan MA = AT Definisi garis berat

EL LO + LO 2LO LO
7. HM = MA + MA= 2MA= MA Subsitusi dan Aljabar

8. L M Definisi Kesebangunan

Shorcut Kesebangunan (Sisi-


9. ∆ELO ∆HMA
Sudut-Sisi)

EO EL
10. HA Definisi Kesebangunan
= HM

Masalah 4.2.5

Jika rasio dari ukuran panjang sisi-sisi yang bersesuaian pada dua segitiga adalah 2:3, berapa r

22
Kelas XII
Presentasikan/bandingkan kesimpulan yang Anda buat sendiri atau secara
berkelompok dari hasil aktivitas Kegiatan 4.2.4 di depan kelas untuk diperoleh
kesimpulan yang lengkap dan benar. Tuliskan hasil presentasi dan diskusi

kelasnya.

Soal Latihan
1. Perhatikan dua segitiga ASG dan ETJ berikut.
J
G
k
32
50
h T
S
30
24

E
A
a. Apakah segitiga ∆ASG dan ∆ETJ sebangun? Berikan alasannya.
b. Tentukan nilai h dan k.
2. Perhatikan gambar berikut.

n 45

s
63
30
36
Tentukan nilai n dan s.

22
Matemati
3. Mengapa ∆TMR~∆THM~∆MHR? Tentukan nilai x, y, dan h.

R
x
68 H

y 32
h

T 60 M

4. Tentukan nilai x dan y.

(x, 30)
(15, y)
(5 ,3)

5. Gunakan aturan pasangan urutan, (x, y)→(½ x, ½ y), untuk merelokasi


koordinat titik-titik sudut jajargenjang ABCD. Sebut jajargenjang baru
A'B'C'D'. Apakah A'B'C'D' sebangun dengan ABCD? Jika sebangun,
berapa rasio keliling ABCD terhadap keliling A'B'C'D'? berapa rasio
luasnya?
y
8

D C

x
A B 8

23
Kelas XII
Uji Kompetensi

1. Perhatikan ∆RQT dan ∆SQT pada T

gambar di samping. Selidiki apakah


∆RQT kongruen dengan ∆SQT?
6m
Apakah akibatnya? 6m

S
R 2m Q 2m

2. Perhatikan gambar di samping. Selidiki A3 cm


apakah ∆DAC kongruen dengan ∆BAC. 3 cm B
Apakah akibatnya?
D

C
3. Perhatikan segitiga ABC seperti yang
A
ditunjukkan gambar di samping.
D
Diketahui panjang BC = 12 cm, DB =
9 cm, CD = 6 cm dan BCD = BAC.
9
Tentukan rasio dari keliling segitiga.
6
Tentukan rasio dari keliling segitiga
ADC terhadap segitiga BDC?
B 12 C

4. Perhatikan dua segitiga AUL dan MST berikut.


Apakah segitiga AUL dan MST sebangun? Berikan alasannya.
L
T
35
28

65°
65°
A 37 U

23
Matemati
30
M S

23
Kelas XII
5. Jika ∆ABC~∆DBA, tentukan nilai x dan C
y, dalam cm.
9
6

5
A B
x
y
D

6. Latif yang memiliki tinggi badan 170


cm ingin mengetahui tinggi bagian
atas pohon. Dia berjalan sepanjang
bayangan pohon hingga kepalanya
berada pada posisi dimana
bayangannya bertumpukan tepat pada
bagian ujung bayangan pohonnya. Dan 170 cm

ternyata dia berada sejauh 670 cm dari


pohon dan sejauh 200 cm dari ujung 200 cm
670 cm

bayangannya. Berapa tinggi pohon


tersebut?
7. Rasio dari keliling dari dua jajargenjang yang sebangun adalah 3:7. Berapa
rasio luas mereka? A B
8. Diketahui suatu persegi ABCD dengan E
perbandingan panjang EA : EB : EC =
1 : 2 : 3, tentukan ukuran sudut AEB,
dalam derajat.
D C
A
9. Pada bangun datar di samping, diketahui PQ
ABD = CDB = PQD = 90°. Jika AB C
: CD = 3 : 1, rasio dari CD : PQ adalah
.... B D

10. Tiga persegi dengan panjang sisi 3, 5, 8


dan 8 diletakkan seperti bersinggungan. 5
Titik sudut dari persegi terkecil 3
dihubungkan dengan titik sudut pada
persegi terbesar, seperti yang terlihat

23
Matemati
ada gambar. Tentukan luas daerah yang
diarsir?

23
Kelas XII
Glosarium
Aturan penjumlahan : Aturan penghitungan peluang untuk kejadian
yang saling lepas.
Aturan perkalian : Aturan penghitungan peluang untuk kejadian
yang tidak saling lepas
Aturan Sturgess : Aturan yang menjelaskan cara membagi data
berukuran besar ke dalam kelas-kelas tertentu.
Bangun datar kongruen : Dua bangun datar kongruen jika keduanya
identik/sama dalam bentuk dan ukuran.
Data : Ukuran dari suatu nilai.
Datum : Satu ukuran dari suatu nilai.
Data berkelompok : Data yang sudah dikelompokkan dalam kelas-
kelas.
Data tunggal : Data mentah yang belum diolah atau
dikelompok- kan.
Desil : Nilai yang membagi data menjadi 10 kelompok
sama banyak.
Deviasi standar : Akar dari jumlah kuadrat deviasi dibagi banyak-
nya data.
Diagram batang : Diagram berbentuk batang-batang tegak atau
mendatar dan sama lebar dengan batang-batang
terpisah untuk menggambarkan nilai suatu objek
penelitian.
Diagram batang daun : Daun diagram yang terdiri dari batang dan daun.
Batang memuat angka puluhan dan daun
memuat angka satuan.
Diagram garis : Diagram berbentuk garis yang digunakan untuk
menyajikan data statistik yang diperoleh ber-
dasarkan pengamatan dari waktu ke waktu
secara berurutan.
Dilatasi/perskalaan/perbesaran : Suatu dilatasi dari bangun datar dari titik O dengan
faktor skala c(c≠0) adalah suatu transformasi
dari bangun datar dengan titik asal O dipetakan
ke dirinya sendiri dan suatu titik P dipetakan ke
titik P', dimana O,P dan P' segaris dan OP' =
cOP. Jika dinyatakan dalam bentuk koordinat
kartesius dinyatakan sebagai x' = cx,y' = cy.

23
Matemati
Distribusi frekuensi : Pengolahan data mentah dalam bentuk
tabel menggunakan kelas dan frekuensi.
Frekuensi : Jumlah data dalam suatu kelas tertentu.
Frekuensi harapan : Banyaknya kejadian dikalikan dengan
peluang kejadian itu.
Garis bagi sudut segitiga (bisector angle) : Ruas garis bagi sudut segitiga adalah
garis yang membagi sudut segitiga
men- jadi dua sudut yang kongruen
(berukur- an sama besar).
Garis berat (Median) : Ruas garis yang melalui titik sudut segi-
tiga dan memotong sisi di depannya di
titik tengahnya (midpoint).
Garis tinggi sisi segitiga (Altitude) : Ruas garis tinggi sisi segitiga adalah
garis yang melalui titik sudut segitiga dan
memotong tegak lurus sisi di depannya.
Histogram : Grafik yang menampilkan data
menggu- nakan batang tegak
berdampingan yang tingginya
merepresentasikan frekuensi dari kelas
yang bersangkutan.
Jangkauan : Selisih nilai terbesar dan nilai terkecil.
Jarak antar titik : Panjang ruas garis terpendek yang
menghubungkan titik-titik tersebut.
Jarak titik ke garis : Misal P adalah titik dan g adalah garis.
Jarak titik P ke garis g adalah panjang
ruas garis penghubung antara titik P
dengan proyeksi titik P pada garis g.
Jarak titik ke bidang : Misal P adalah titik dan K adalah
bidang. Jarak antara P dengan bidang-K
adalah panjang ruas garis penghubung
P dengan proyeksi P pada bidang-K.
Kejadian : Himpunan bagian dari ruang sampel
Kejadian majemuk : Dua atau lebih kejadian yang terjadi
secara bersamaan
Kelas : Kelompok data berdasarkan kategori
kuantitatif atau kualitatif.
Kombinasi : Susunan yang mungkin dari unsur-
unsur yang berbeda dengan tidak mem-
perhatikan urutannya.
Kongruen (geometri) sama dalam ukuran : Dua ruas garis kongruen berarti dua ruas
garis tersebut memiliki ukuran panjang
yang sama.

23
Kelas XII
Korespondensi satu-satu : Suatu pemetaan satu-satu diantara dua himpunan.
Masing-masing anggota dari himpunan pertama
dibuat pengaitan dengan tepat satu unsur pada
himpunan kedua dan sebaliknya.
Kuartil : Membagi data yang telah diurutkan menjadi empat
bagian yang sama banyak.
Mean : Rata-rata hitung.
Median : Nilai tengah setelah data diurutkan.
Modus : Nilai yang paling sering muncul.
Ogive : Grafik yang menampilkan frekuensi kumulatif kelas-
kelas dalam suatu distribusi frekuensi.
Panjang kelas : Selisih batas bawah (atas) suatu kelas dengan batas
bawah (atas) kelas sebelumnya.
Parameter : Ukuranataukarakteristikyangdidapatkanmengguna-
kan data keseluruhan dalam suatu populasi.
Peluang : Kemungkinan munculnya suatu kejadian.
Peluang saling bebas : Peluang dua atau lebih kejadian yang tidak saling
mempengaruhi.
Peluang saling bersyarat : Peluang dua kejadian yang saling bergantung
apabila terjadi atau tidak terjadinya kejadian A
akan mempengaruhi terjadi atau tidak terjadinya
kejadian B.
Peluang saling lepas : Peluang dua atau lebih kejadian yang tidak mungkin
terjadi bersama-sama.
Permutasi : Susunan yang mungkin dari unsur-unsur yang
berbeda dengan memperhatikan urutannya.
Persentil : Membagi data yang telah diurutkan menjadi 100
bagian yang sama.
Poligon : Frekuensi Grafik yang menampilkan data mengu-
nakan garis yang menghubungkan titik-titik yang
tingginya manandakan frekuensi dan digambarkan
tepat di titik tengah kelas yang berkaitan.
Populasi : Keseluruhan objek penelitian.
Ragam : Rata-rata dari kuadrat jarak setiap nilai data dengan
rata-ratanya.
Rata-rata (rata-rata hitung) : Jumlah nilai data dibagi dengan banyaknya data.
Rasio : Hasil bagi (quotient) dari dua bilangan atau
kuantitas.
Rasio dari x ke y ditulis x:y.

23
Matemati
Refleksi/pencerminan : Misal l adalah garis pada bidang. Maka
bayangan dari titik P adalah titik P’
sedemikian hingga PP’ adalah garis
yang tegak lurus terhadap garis l dan l
memotong garis PP’ di titik tengah garis
(midpoint).
Rotasi : Rotasi bangun datar dengan pusat titik
asal O sebesar sudut a adalah suatu
transformasi dari bangun datar dengan
titik O di petakan ke dirinya sendiri, dan
suatu titik P dengan koordinat sudut/
polar (r, θ) dipetakan ke titik P’ dengan
koordinat sudut/polar (r, θ + a).
Sampel : Sebagian dari objek penelitian yang di-
anggap mewakili keadaan populasi
objek penelitian.
Sebangun : Dua segibanyak adalah sebangun jika
ada korespondensi antara titik-titik
sudutnya sehingga sudut-sudut yang
bersesuaian kongruen dan rasio dari
sisi-sisi yang bersesuaian sama besar.
Segibanyak : Bangun datar yang dibatasi oleh garis
lurus (ruas garis). Ruas garis yang mem-
batasi bangun datar tersebut disebut sisi
segibanyak.
Segibanyak kongruen : Dua segibanyak kongruen jika terdapat
korespondensi satu-satu antara titik-
titik sudutnya sedemikian hingga semua
sisi-sisi yang bersesuaian kongruen dan
semua sudut-sudut yang bersesuaian
kongruen.
Segiempat : Segibanyak yang memiliki 4 sisi.
Segitiga : Segibanyak yang memiliki 3 sisi.
Simpangan rata-rata (deviasi rata-rata) : Nilai rata-rata dari selisih setiap data
dengan nilai rataan hitung.
Simpangan rata-rata : Penyimpangan nilai-nilai data terhadap
rata-ratanya.
Simpangan baku : Akar kuadrat dari ragam.

23
Kelas XII
Sisi ruas garis : Salah satu ruas garis yang
menghubung- kan titik-titik sudut yang
berdekatan pada segi banyak.
Statistika : (1) Cabangdarimatematikaterapanyang
mempunyai cara-cara mengumpulkan
dan menyusun data, mengolah dan
menganalisis data serta menyajikan
data dalam bentuk kurva atau diagram,
menarik kesimpulan, menafsirkan
parameter dan menguji hipotesa yang
didasarkan pada hasil pengolahan data.
(2) Ukuran atau karakteristik yang
didapatkan menggunakan data dari
sampel.
Sudut (di antara dua garis/sinar) : Gabungan dari dua sinar yang mem-
punyai persekutuan titik tetap.
Titik tengah ruas garis (midpoint) : Titik tengah ruas garis adalah titik yang
membagi ruas garis menjadi dua ruas
garis yang kongruen (panjangnya sama
besar).
Titik Tengah (midpoint/statistika) : Angka yang terletak di tengah suatu
kelas.
Transformasi (pada bidang) : Misal S adalah himpunan titik pada
bidang. Suatu transformasi dari bangun
datar adalah pemetaan satu-satu dari S
ke S.
Translasi/pergeseran (pada bidang) : Transformasi bangun datar dengan
suatu titik P dengan koordinat (x, y)
dipetakan ke titik P’ dengan koordinat
(x’, y’), dengan x’ = x + h, y’ = y + k.
Titik sampel : Setiap hasil yang mungkin terjadi pada
suatu percobaan.
Variansi : Kuadrat dari simpangan baku.

23
Matemati
Daftar Pustaka
Bluman, Allan. 2009. Elementary Statistics: a step by step approach.
Seventh edition. New York: McGraw-Hill.
BPS. 2015. Statistik 70 tahun Indonesia Merdeka. ISBN: 978-979-064-
858-6.
Djarwanto. 1992. Soal-Jawab Statistik (Bagian Statistik Induktif). Edisi
Kedua. Yogyakarta: Penerbit Liberty.
Lewis, Harry. 1968. Geometry, A Contemporary Course. London: D, Van
Nostrand Company, Inc.
Rosen, Kenneth H. 2012. Discrete Mathematics and Its Applications.
Seventh edition. New York: McGraw-Hill.
Serra, Michael. 2008. Discovering Geometry: An Investigative Approach.
Emeryville: Key Curriculum Press.
Sun, Thomas Wong Hok. 2008. Challenging Mathematics For ‘O’ Level.
Singapore: Redspot Publications PTE LTD.
Townsend, Michael. 1987. Discrete Mathematics: Applied Combinatorics
and graph Theory. California: The Benjamin/Cummings.
Walpole, R.E dan Myers, R.H. 1995. Ilmu Peluang dan Statistika untuk
Insinyur dan Ilmuwan. Edisi Keempat. Penerjemah: Dr. RK.
Sembiring. Bandung: Penerbit ITB.
[Link]
[Link]
orang-indonesia-instal-31-aplikasi

24
Kelas XII
Profil Penulis
Nama Lengkap : Dr. Abdur Rahman As’ari, [Link], M.A.
Telp. Kantor/HP : 0341-562180
E-mail : [Link]@[Link]
Akun Facebook : -
Alamat Kantor : Jurusan Matematika FMIPA Universitas
Negeri Malang, Gedung O7,
Jl. Semarang 5 Malang
65145.
Bidang Keahlian: Pendidikan Matematika
Riwayat pekerjaan/profesi dalam 10 tahun terakhir:
1. Dosen Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang
2. Wakil Presiden Indonesian Mathematics Societi (IndoMS)
3. Asisten Direktur I Lembaga Pendidikan Islam Sabilillah
4. Korprodi S2 Pendidikan Matematika Universitas Negeri Malang
Riwayat Pendidikan Tinggi dan Tahun Belajar:
1. S3: Pascasarjana S3 Teknologi Pembelajaran Universitas Negeri Malang (2007-
2012)
2. S2: Pasca Sarjana S2 College of Education, The Ohio State University, USA (1994-
1995)
3. S2: Pascasarjan S2 Pendidikan Matematika IKIP Malang (1984-1990)
4. S1: Pendidikan Matematika IKIP Malang (1979-1983)
Judul Buku dan Tahun Terbit (10 Tahun Terakhir):
1. Buku Matematika SMP Kelas 7 (tahun 2014)
2. Buku Matematika SMP Kelas 8 (tahun 2014)
3. Buku matematika SMA Kelas 12 (tahun 2014)
Judul Penelitian dan Tahun Terbit (10 Tahun Terakhir):
1. The Use of Graphic Organizer to Enhance Students’ Ability Better Prepare
Learner-Centered Mathematics Teaching and Learning: A Classroom
Action Research (2012)
2. Critical Thinking Disposition of Prospective Mathematics Teachers in Indonesia
(2014)

23
Matemati
Nama Lengkap : Dahliatul Hasanah, [Link], M. Math. Sc.
Telp. Kantor/HP : 0341-562180
E-mail : [Link]@[Link]
Akun Facebook : -
Alamat Kantor : Jurusan Matematika FMIPA Universitas
Negeri Malang, Gedung O7, Jl.
Semarang 5 Malang 65145.
Bidang Keahlian: Matematika
Riwayat pekerjaan/profesi dalam 10 tahun terakhir:
1. Dosen Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang.
Riwayat Pendidikan Tinggi dan Tahun Belajar:
1. S2: Master of Mathematical Sciences, ANU College of Physical and Mathematics
Sciences, The Australian National University (2011-2012)
2. S1: Matematika, FMIPA Universitas Brawijaya (2003-2007)
Judul Buku dan Tahun Terbit (10 Tahun Terakhir):
1. Buku matematika SMA Kelas 12 (tahun 2014)
Judul Penelitian dan Tahun Terbit (10 Tahun Terakhir):
1. Perancangan Multimedia Interaktif Matematika Bilingual Untuk Siswa
SMP Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (2009)
2. Penerapan Model PMKM Untuk Meningkatkan Kemampuan Metakognitif
Mahasiswa Fisika pada Mata Kuliah Matematika I Fisika (2010)
3. Pembelajaran Berdasar Masalah Untuk Meningkatkan Ketrampilan Berpikir
dan Ketrampilan Pemecahan Masalah Mahasiswa Biologi Pada Mata
Kuliah Matematika Biologi (2011)
4. Identifikasi Kesalahan Konsep Matematika Mahasiswa Baru Angkatan 2013
Prodi Pendidikan Matematika FMIPA UM (2012)

24
Kelas XII
Nama Lengkap : Prof. Dr. Ipung Yuwono, M.S., [Link].
Telp. Kantor/HP : 0341-562180
E-mail : ipungmat@.[Link] atau ipungum@
[Link]
Akun Facebook : -
Alamat Kantor : Jurusan Matematika FMIPA Universitas
Negeri Malang, Gedung O7,
Jl. Semarang 5 Malang 65145.
Bidang Keahlian: Pendidikan Matematika
Riwayat pekerjaan/profesi dalam 10 tahun terakhir:
1. Dosen Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang
2. Asesor BAN-PT
3. Anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP)
4. Ketua Tim Juri Kontes Literasi Matematika PISA (Program for International Students
Assessment)
5. Ketua Penyusun soal Matematika pada SNM PTN/SBM PTN
6. Anggota Tim Monitoring dan Evaluasi Implementasi Kurikulum 2013 SMA
7. Dosen Program Pascasarjana Prodi Pendidikan Matematika Universitas Negeri
Malang
Riwayat Pendidikan Tinggi dan Tahun Belajar:
1. S3:Program Pascasarjana Prodi Pendidikan Matematika, Universitas Negeri
Surabaya (1999-2006))
2. S2: Mathematics Education, University of Twente, Belanda (1998-1999)
3. S2: Pascasarjana Matematika ITB Bandung (1987-1990)
4. S1: Pendidikan Matematika IKIP Malang (1977-1981)
Judul Buku dan Tahun Terbit (10 Tahun Terakhir):
1. Pendidikan Matematika II (2007)
2. Model-model Pembelajaran Inovatif (2008)
3. Workshop Penelitian Pendidikan Matematika (2011)
4. Buku matematika SMA Kelas 12 (tahun 2014)
Judul Penelitian dan Tahun Terbit (10 Tahun Terakhir):
1. Pengembangan Model Pembelajaran Matematika yang Sejalan
dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (2008)
2. Pengembangan model pembelajaran matematika SMP berbasis Standar
Proses Pendidikan (2009)
3. Pengembangan bahan ajar (teaching material) matematika SMP berbasis
Standar Proses Pendidikan (2010)
4. Pengembangan model pembelajaran matematika SMP mengacu Kurikulum
2013 (2013)

24
Matemati
Nama Lengkap : Latifah Mustofa Lestyanto, [Link],
[Link].
Telp. Kantor/HP : 0341-562180
E-mail : [Link]@[Link]
Akun Facebook : -
Alamat Kantor : Jurusan Matematika FMIPA Universitas
Negeri Malang, Gedung O7, Jln.
Semarang 5 Malang 65145.
Bidang Keahlian: Pendidikan Matematika
Riwayat pekerjaan/profesi dalam 10 tahun terakhir:
1. Dosen Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang
Riwayat Pendidikan Tinggi dan Tahun Belajar:
2. S2: Pasca Sarjana Pendidikan Matematika - Universitas Sebelas Maret, Surakarta
(2009-2010)
3. S1: Jurusan Matematika Universitas Sebelas Maret (2003-2007)
Judul Buku dan Tahun Terbit (10 Tahun Terakhir):
1. Buku matematika SMA Kelas 12 (tahun 2014)
Judul Penelitian dan Tahun Terbit (10 Tahun Terakhir):
1. Pemetaan Payung Penelitian Pendidikan Matematika Jurusan Matematika
FMIPA Universitas Negeri Malang (2013)
2. Penerapan Lesson Study Untuk Meningkatkan Keterampilan Guru
Matematika SMP Dalam Penyusunan Perangkat Pembelajaran Berdasarkan
Kurikulum 2013 (2015)

24
Kelas XII
Nama Lengkap : Lathiful Anwar, [Link], [Link].
Telp. Kantor/HP : 0341-562180
E-mail : [Link]@[Link].
Akun Facebook : -
Alamat Kantor : Jurusan Matematika FMIPA Universitas
Negeri Malang, Gedung O7, Jln.
Semarang 5 Malang 65145.
Bidang Keahlian: Pendidikan Matematika
Riwayat pekerjaan/profesi dalam 10 tahun terakhir:
1. Dosen Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang
Riwayat Pendidikan Tinggi dan Tahun Belajar:
1. S2: International Master Program on Mathematics Education (IMPoME)
di Universitas Negeri Surabaya dan Utrecht University, Belanda (2009-
2011)
2. S1: Matematika, FMIPA Universitas Negeri Malang (1999-2003)
Judul Buku dan Tahun Terbit (10 Tahun Terakhir):
1. Buku Matematika SMA Kelas 12 (tahun 2014)
Judul Penelitian dan Tahun Terbit (10 Tahun Terakhir):
1. Proses Berpikir Siswa Kelas 2 Sekolah Dasar dalam Membangun Strategi Mental
Aritmatika untuk Menjumlahkan Bilangan sampai 500 Menggunakan Model Garis
Bilangan (2011)
2. Identifikasi Nilai-nilai Karakter Bangsa yang dapat diintegrasikan melalui
pembelajaran Matematik di SMP (2012)
3. Pengembangan Model Pembelajaran matematika Kontekstual (2013)
4. Identifikasi Kesalahan Konsep Mahasiswa Baru tahun 2013 Prodi
Pendidikan Matematika (2013)
5. Analisis Prestasi Belajar Mahasiswa Jurusan Matematika Universitas Negeri
Malang (2014)
6. Pengembangan Media Pembelajaran Untuk Mendukung Kemampuan Penalaran
Spasial Siswa (2015)

24
Matemati
Nama Lengkap : Dr. Makbul Muksar, [Link], [Link].
Telp. Kantor/HP : 0341-562180
E-mail : [Link]@[Link]
Akun Facebook : -
Alamat Kantor : Jurusan Matematika FMIPA Universitas
Negeri Malang, Gedung O7, Jl.
Semarang 5 Malang 65145.
Bidang Keahlian: Matematika
Riwayat pekerjaan/profesi dalam 10 tahun terakhir:
1. Dosen Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang
2. Supervisor Sekolah Model Terpadu Bojonegoro
3. Manajer Sekolah Model Terpadu Bojonegoro
4. Ketua Jurusan Matematika FMIPA UM
5. Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Profesi Guru LP3 UM
Riwayat Pendidikan Tinggi dan Tahun Belajar:
1. S3: Matematika, ITB Bandung (2000-2005)
2. S2: Matematika, ITB bandung (1994-1996)
3. S1: Pendidikan Matematika IKIP Malang (1986-1991)
Judul Buku dan Tahun Terbit (10 Tahun Terakhir):
1. Analisis Real (2011)
2. Buku matematika SMA Kelas 12 (tahun 2014)
Judul Penelitian dan Tahun Terbit (10 Tahun Terakhir):
1. Peningkatan Kemampuan Bahasa Inggris dan Hasil Belajar Matematika
Dasar I Mahasiswa Bilingual Melalui Penerapan Metode Analisis Kesalahan
Newman (2009)
2. Peningkatan Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita Matematika Siswa Kelas
IV SDN Kebonsari I Malang Melalui Penerapan Metode Analisis Kesalahan
Newman (2010)
3. Studi Penggunaan Metode Level Set Dalam Menyelesaikan Masalah Stefan (2013)
4. Identifikasi Kesalahan Konsep Matematika Mahasiswa Baru angkatan 2013
Prodi Pendidikan Matematika FMIPA UM (2013)
5. Pengembangan Model Perangkat Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal
Bermuatan Gender sebagai Upaya Strategis Pengarustamaan Gender
bidang Pendidikan (2014)
6. Pemetaan Prestasi Mahasiswa Berdasarkan Jalur Masuk Jurusan Matematika
FMIPA UM (2014)

24
Kelas XII
Nama Lengkap : Nur Atikah, [Link], [Link].
Telp. Kantor/HP : 0341-562180
E-mail : [Link]@[Link].
Akun Facebook : -
Alamat Kantor : Jurusan Matematika FMIPA Universitas
Negeri Malang, Gedung O7,
Jl. Semarang 5 Malang 65145.
Bidang Keahlian: Matematika
Riwayat pekerjaan/profesi dalam 10 tahun terakhir:
1. Dosen Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang
Riwayat Pendidikan Tinggi dan Tahun Belajar:
1. S2: Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam –
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (2007-2010)
2. S1: Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam –
Universitas Negeri Malang (2000-2005)
Judul Buku dan Tahun Terbit (10 Tahun Terakhir):
1. Buku Matematika SMA Kelas 12 (tahun 2014)
Judul Penelitian dan Tahun Terbit (10 Tahun Terakhir):
1. Pemetaan Payung Penelitian Matematika Jurusan Matematika FMIPA
Universitas Negeri Malang (2013)
2. Analisis Multidimensional Scaling untuk Melihat Pemetaan Mahasiswa
Jurusan Matematika Universitas Negeri Malang (2015)

24
Matemati
Nama Lengkap : Syaiful Hamzah Nasution, [Link], [Link],
[Link].
Telp. Kantor/HP : 0341-562180
E-mail : [Link]@[Link].
Akun Facebook : -
Alamat Kantor : Jurusan Matematika FMIPA Universitas
Negeri Malang, Gedung O7, Jl.
Semarang 5 Malang 65145.
Bidang Keahlian: Pendidikan Matematika
Riwayat pekerjaan/profesi dalam 10 tahun terakhir:
1. Dosen Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang
Riwayat Pendidikan Tinggi dan Tahun Belajar:
1. S2: Pendidikan Matematika di Program Pascasarjana Universitas Negeri
Malang (2010-2012)
2. S1: program gelar ganda S1 Matematika dan S1 Pendidikan Matematika
di Jurusan Matematika, FMIPA Universitas Negeri Malang (2003-2009)
Judul Buku dan Tahun Terbit (10 Tahun Terakhir):
1. Buku matematika SMA Kelas 12 (tahun 2014)
Judul Penelitian dan Tahun Terbit (10 Tahun Terakhir):
1. Pengembangan Model Pembelajaran Non Konvensional Berbasis TIK
Untuk Matakuliah Matematika Dasar II (2013)
2. Pengembangan WEB Jurusan Matematika (2013)
3. Pengembangan Media Pembelajaran untuk Mendukung Kemampuan Penalaran
Spasial Siswa (2015)

24
Kelas XII
Nama Lengkap : Drs. Tjang Daniel Chandra, [Link],
Ph.D.
Telp. Kantor/HP : 0341-562180
E-mail : [Link]@[Link].
Akun Facebook : -
Alamat Kantor : Jurusan Matematika FMIPA Universitas
Negeri Malang, Gedung O7, Jln.
Semarang 5 Malang 65145.
Bidang Keahlian: Matematika
Riwayat pekerjaan/profesi dalam 10 tahun terakhir:
1. Dosen Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang
Riwayat Pendidikan Tinggi dan Tahun Belajar:
1. S3: Matematika, Universitas Teknologi Eindhoven, Belanda (1998-2002)
2. S2: Matematika ITB (1992-1994)
3. S1: pendidikan matematika di IKIP Malang (1984-1990)
Judul Buku dan Tahun Terbit (10 Tahun Terakhir):
1. Geometri (2012)
2. Pemodelan Matematika (2014)
3. Buku matematika SMA Kelas 12 (2014)
Judul Penelitian dan Tahun Terbit (10 Tahun Terakhir):
1. Analisa kesalahan-kesalahan mahasiswa dalam mengerjakan soal-soal latihan dan
tes Kalkulus Lanjut (2012)
2. Pemetaan Payung Penelitian Matematika di Jurusan Matematika FMIPA UM (2013)
3. Pengembangan Buku Elektronik Olimpiade Matematika Berbasis Web
dengan Pendekatan Strategi Pemecahan Masalah (2014)

24
Matemati
Profil Penelaah
Nama Lengkap : Dr. Agung Lukito, M.S.
Telp. Kantor/HP : +62318293484
E-mail : gung_lukito@[Link].
Akun Facebook : -
Alamat Kantor : Kampus Unesa Ketintang
Jalan Ketintang Surabaya 60231.
Bidang Keahlian: Matematika dan Pendidikan Matematika.
Riwayat pekerjaan/profesi dalam 10 tahun terakhir:
1. 2010 – 2016: Dosen pada Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Surabaya
Riwayat Pendidikan Tinggi dan Tahun Belajar:
1. S3: Faculty of Mathematics and Informatics/Delft University of Technology (1996
– 2000)
2. S2: Fakultas Pascasarjana/Matematika/ITB Bandung (1988 – 1991)
3. S1: Fakultas PMIPA/Pendidikan Matematika/Pendidikan Matematika/ IKIP
Surabaya (1981 – 1987)
Judul Buku dan Tahun Terbit (10 Tahun Terakhir):
1. Buku Teks Matematika kelas 7 dan 10 (2013)
2. Buku Teks Matematika kelas 7,8 dan 10, 11 (2014)
3. Buku Teks Matematika kelas 7,8, 9 dan 10, 11, 12 (2015)
Judul Penelitian dan Tahun Terbit (10 Tahun Terakhir):
1. Pengembangan Perangkat Pendampingan Guru Matematika SD dalam
Implementasi Kurikulum 2013 (2014)
2. Peluang Kerjasama Unit Pendidikan Matematika Realistik Indonesia dengan
Pemangku Kepentingan, LPPM Unesa (2013)
3. Pemanfaatan Internet untuk Pengembangan Profesi Guru-guru Matematika
SMP RSBI/SBI Jawa Timur, 2010, (Stranas 2010)
4. Relevansi Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) dengan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), 2009, (Stranas 2009)

24
Kelas XII
Nama Lengkap : Drs. Turmudi, [Link]., Ph.D.
Telp. Kantor/HP : (0264)200395/081320140361
E-mail : turmudi@[Link].
Akun Facebook : -
Alamat Kantor : Jl. Veteran 8 Purwakarta/Jl. Dr. Setiabudi
229 Bandung,
Bidang Keahlian: Pendidikan Matematika.
Riwayat pekerjaan/profesi dalam 10 tahun terakhir:
1. Dosen Pendidikan Matematika di S1, S2, dan S3 Universitas Pendidikan Indonesia.
2. Ketua Jurusan Pendidikan Matematika 2007-2015
3. Ketua Prodi S2 dan S3 Pendidikan Matematika SPs UPI, 2012-2015 (dalam
konteks terintegrasi dengan S1 Pendidikan Matematika FPMIPA UPI)
4. Direktur Kampus Daerah UPI Purwakarta, 2015- Sekarang
Riwayat Pendidikan Tinggi dan Tahun Belajar:
1. S3: Mathematics Education, Graduate School of Education, Educational Studies,
La Trobe University Australia, Victoria Campus (1995-1997)
2. S2: Educational and Training System Designs, Twente University Enschede, Th
3. S2: Mathematics Education (Graduate School of Education), Educational Studies,
La Trobe University Australia, Victoria Campus (1995-1997)
4. S1: Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Jurusan
Pendidikan Matematika, IKIP Bandung (Universitas Pendidikan Indonesia), (1984-
1986).
Judul Buku dan Tahun Terbit (10 Tahun Terakhir):
1. Math Project untuk SMP/MTs Kelas VII, Yrama Widya, (2014).
Judul Penelitian dan Tahun Terbit (10 Tahun Terakhir):
1. Pengembangan Pembelajaran Matematika Berbasis Fenomena Dikdaktis
di Pendidikan Dasar.

24
Matemati
Nama Lengkap : Dr. Yansen Marpaung
Telp. Kantor/HP : 0274-883037 / 085878129726
E-mail : yanmar@[Link].
Akun Facebook : -
Alamat Kantor : Universitas Sanata Dharma, Prodi Pendidikan Matematika,
Paingan, Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta.
Bidang Keahlian: Pendidikan Matematika, Psikologi Kognitif, Salah satu
pemrakarsa PMRI, sampai sekarang aktif mengembangkan
PMRI dan mencobakannya di sekolah
Riwayat pekerjaan/profesi dalam 10 tahun terakhir:
1. 2006-2016: Dosen Pendidikan Matematika di S1 Pendidikan Matematika
Universitas Sanata Dharma
2. 2015-2016 :Dosen Pendidikan Matematika di S2 Pendidikan Matematika
Universitas Sanata Dharma
3. 2006-2012: Dosen Honorer di S2 Pendidikan Matematika, UNS, Solo
4. 2006-2012: Dosen Honorer di S3 Pendidikan Matematika UNESA, Surabaya
5. 2006-2016:Melatih guru-guru dalam rangka PMRI (Penddikan Matematika
Realistik Indonesia).
Riwayat Pendidikan Tinggi dan Tahun Belajar:
1. S3 :1982-1986;Pendidikan Matematika (Didkatik der Mathematik) di
Universitaet Osnabrueck, Deutchland (Jerman). Lulus Maret 1986.
2. S2. Tidak melalui S2.
3. S1: Jurusan Pasti Alam FKIP, Universitas Sanata Dharma: 1968-1970
Judul Buku dan Tahun Terbit (10 Tahun Terakhir):
1. Buku-buku Matematika SMP dan SMA dalam rangka KTSP terbitan Puskur.
2. Buku Matematika SMP, kurikulum 2013 awal yang disusun oleh kelompok
di Medan
Judul Penelitian dan Tahun Terbit (10 Tahun Terakhir):
Tidak ada

25
Kelas XII
Nama Lengkap : Prof. Dr. St. Suwarsono.
Telp. Kantor/HP : 0274-883037 / 085878129726
E-mail : stsuwarsono@[Link].
Akun Facebook : Stephanus Suwarsono
Alamat Kantor : Jalan Affandi, Mrican, Teromolpos 29, Yogyakarta
55002.
Bidang Keahlian: Matematika dan Pendidikan Matematika.
Riwayat pekerjaan/profesi dalam 10 tahun terakhir:
1. Dosen tetap dengan jabatan akademik guru besar di Program Studi
Pendidikan Matematika, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam (JPMIPA), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)
Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Riwayat Pendidikan Tinggi dan Tahun Belajar:
1. S2: Monash University (di Melbourne, Australia) Fakultas: Education
Jurusan (Bidang): Mathematics Education: 1982.
2. S1: Jurusan Pasti Alam FKIP, Universitas Sanata Dharma: 1974.
Judul Buku dan Tahun Terbit (10 Tahun Terakhir):
1. -
Judul Penelitian dan Tahun Terbit (10 Tahun Terakhir):
Tidak ada

MEMBANGUN
NEGERI
DENGAN
PAJAK

25
Matemati
Nama Lengkap : Dr. Sugito Adi Warsito, [Link].
Telp. Kantor/HP : 085217181081
E-mail : sugito72@[Link].
Akun Facebook : sugitoadi@[Link]
Alamat Kantor : Jl. Raya Parung-Bogor No. 420 Lebakwangi Parung Bogor,
Jawa Barat.
Bidang Keahlian: Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan.
Riwayat pekerjaan/profesi dalam 10 tahun terakhir:
1. Staf pada Bidang Program di PPPPTK Penjas dan BK Kemdikbud, Parung
Bogor, Tahun 2002 – 2004.
2. Instruktur Pelatihan Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan di
PPPPTK Penjas dan BK Kemdikbud, Parung Bogor, Tahun 2004 – 2009.
3. Widyaiswara pada PPPPTK Penjas dan BK Kemdikbud, Parung Bogor Tahun 2010
– sekarang.
Riwayat Pendidikan Tinggi dan Tahun Belajar:
4. S3: Program Studi Pendidikan Olahraga, Universitas Negeri Jakarta (2009 – 2013)
5. S2: Program Studi Pendidikan Olahraga, Universitas Negeri Jakarta (2006 – 2009)
6. S1: Jurusan Pendidikan Olahraga, Fakultas Pendidikan Olahraga, Universitas Negeri
Jakarta (1992 – 1998)
Judul Buku dan Tahun Terbit (10 Tahun Terakhir):
1. Buku Teks dan Buku Guru Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan
Kesehatan Sekolah Menengah Pertama Kelas IX, Tahun 2015.
2. Buku Teks dan Buku Guru Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan
Kesehatan Sekolah Menengah Atas Kelas XI, Tahun 2015.
Judul Penelitian dan Tahun Terbit (10 Tahun Terakhir):
1. Penguasaan Konsep Kepenjasan dan Profesionalisme Guru Pendidikan
Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan, Tahun 2013.

25
Kelas XII
Nama Lengkap : Dr. Ali Mahmudi.
Telp. Kantor/HP : 081328728725
E-mail : ali_uny73@[Link].
Akun Facebook : [Link]
Alamat Kantor : Kampus FMIPA UNY Kampus Karangmalang Yogyakarta.
Bidang Keahlian: Pedidikan Matematika.
Riwayat pekerjaan/profesi dalam 10 tahun terakhir:
1. 1999 - sekarang bekerja sebagai dosen Jurusan Pendidikan Matematika
FMIPA UNY Yogyakarta
Riwayat Pendidikan Tinggi dan Tahun Belajar:
1. S3: Program Studi Pendidikan Matematika/Sekolah Pascarjana Universitas
Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung (2007 – 2010)
2. S2: Program Studi Pendidikan Matematika/Program Pascasarjana Universitas
Negeri Surabaya (UNESA) (1997 – 2003)
3. S1: Prodi Pendidikan Matematika/Jurusan Pendidikan Matematika dan IPA/Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) (1992 – 2997)
Judul Buku dan Tahun Terbit (10 Tahun Terakhir):
1. Buku teks dan non-teks pelajaran matematika sekolah yang dikoordinasikan oleh
Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) Kementrian dan Kebudayaan RI
sejak 2005.
Judul Penelitian dan Tahun Terbit (10 Tahun Terakhir):
1. Pengembangan interakctive student’s book berbasis ICT untuk
mendukung aktivitas eksplorasi konsep-konsep geometri.
2. Pengembangan bahan ajar matematika dengan pendekatan kontekstual
untuk pembelajaran matematika di SMK.

25
Matemati
Profil Editor
Nama Lengkap : Ir. Suah Sembiring
Telp. Kantor/HP : 08121020807
E-mail : quantumkalideres@[Link].
Akun Facebook : -
Alamat Kantor : Jl. Peta Selatan 6Y, Kalideres, Jakarta Barat
Bidang Keahlian: Matematika
Riwayat pekerjaan/profesi dalam 10 tahun terakhir:
1. 2002-sekarang: Direktur Bimbingan Belajar Quantum.
2. 1995-2002: Direktur Ganesha Operation Wilayah Jabotabek.
3. 1985-1995: Pengajar Matematika di Bimbingan Belajar KSM Jakarta.
4. 1985-1986: Dosen Metode Numerik dan Teknik Simulasi di STMIK BINUS Jakarta.
5. 1982-1985: Guru Matematika di SMP/SMA St. Aloysius Bandung.
Riwayat Pendidikan Tinggi dan Tahun Belajar:
1. S1: Matematika Institut Teknologi Bandung (ITB) (1979-1984)
Judul Buku dan Tahun Terbit (10 Tahun Terakhir):
1. Matematika untuk SMA-MA/SMK-MAK Kelas X dan XII, Puskurbuk (2015).
Judul Penelitian dan Tahun Terbit (10 Tahun Terakhir):
Tidak ada.

25
Kelas XII
PAJAK UNTUK MEMBANGUN JALAN DAN
JEMBATAN.

25
Matemati
KATAKAN TIDAK PADA NARKO

25
Kelas XII

Anda mungkin juga menyukai