Aspek Legal dan Etik Terapi Komplementer
Aspek Legal dan Etik Terapi Komplementer
Komplementer
Outline
• Dasar hukum
• Klasifikasi pengobatan tradisional dan
terapi komplementer
• Penyelenggara pengobatan
komplementer
• Aspek etik dalam terapi komplementer
• Tren isu terapi komplementer obatan
tradisional dan terapi komplementer
Kesehatan
Proses dimana kita membentuk kembali dasar asumsi
dan pandangan dunia tentang kesejahteraan dan
melihat kematian sebagai proses alami kehidupan
(Dossey & Keegan, 2008)
Keyakinan
kesehatan
kesehatan
Nilai-nilai
Terapi Komplementer
Thomas Friedman (2005) bahwa saat ini dunia
kesehatan, termasuk salah satunya praktisi
keperawatan masih bingung tentang apa itu terapi
komplementer
RAMUAN KETERAMPILAN
Rekomendasi
- Pengobat tradisional supranatural : Kejaksaan
Kabupaten/Kota
- Pengobat pendekatan agama: Kantor
Departemen Agama Kabupaten/Kota (pasal 4)
Penapisan:
- Faktor pemanfaatan pengobatan tradisional
- Faktor sistem/cara/ilmu pengobat tradisional
- Faktor Pengembangan
Pasal 9-11 Pengobat tradisional dilakukan uji kompetensi ( baru akupunturis) dan diikutsertakan dalam sarana pelayanan kesehatan
Pasal 12-15 Semua tindakan harus mendapat persetujuan lisan atau tertulis dari pasien/keluarga. Khusus untuk tindakan pengobatan
tradisional yang mengandung risiko tinggi bagi pasien harus dengan persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang
berhak memberikan persetujuan
Pasal 16 Dalam melaksanakan pengobatannya, pengobat tradsional boleh menggunakan peralatan yang aman tetapi dilarang
untuk menggunakan peralatan kedokteran atau penunjang diagnostic kedokteran
Pasal 19 Pengobat tradisional harus membuat catatan status pasien dan wajib melaporkannya ke Kepala Dinkes Kabupaten/Kota
setiap 4 bulan
Pasal 22 Pengobat tradisional juga wajib merujuk pasien gawat darurat atau yang tidak mampu ditangani ke sarana pelayanan
kesehatan
Pasal 31 Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pengobatan tadisional dilakukan oleh Kadinkes Kabupaten/ Kota, Kepala
Puskesmas atau UPT yang ditugasi
PENYELENGGARAAN PENGOBATAN KOMPLEMENTER-
ALTERNATIF DI SARANA KESEHATAN
(Pemenkes RI No 1109/ MENKES/PER/IX/2007)
Pasal 5 Pengobatan komplementer alternative dapat dilaksanakan di sarana pelayanan kesehatan jika aman,
bermanfaat, bermutu dan terjangkau
Pasal 10 Praktik perorangan pengobatan komplementer alternative hanya bisa dilaksanakan oleh dokter atau
dokter gigi, sedangkan praktik berkelompok harus dipimpin oleh dokter atau dokter gigi
Pasal 14 dokter dan dokter gigi adalah pelaksana utama pengobatan komplementer alternative, sedangkan
tenaga kesehatan yang lain berfungsi membantu dokter atau dokter gigi dalam melaksanakannya
PENYELENGGARAAN PENGOBATAN
KOMPLEMENTER-ALTERNATIF DI SARANA KESEHATAN
(Pemenkes RI No 1109/ MENKES/PER/IX/2007)
RS pendidikan
RS non
Puskesmas
pendidikan
Sarana
pelayanan
praktik kesehatan
RS Khusus
berkelompok
praktik
RS swasta
perorangan
POLIKLINIK KOMPLEMENTER ALTERNATIF
PASEIN AKUPUNTUR
PENATALASANAAN
POLI
KOMPLEMENTER PIJAT
ALTERNATIF
HERBAL
DOKTER: PEMERIKSAAN
PENUNJANG
ANAMNESIS
PEMERIKSAAN FISIK
DIAGNOSIS/DIAGNOSIS APOTIK
BANDING KONSUL POLI
LAIN
ASPEK ETIK DALAM TERAPI KOMPLEMENTER ALTERNATIF DAN
TRADISIONAL
(Kerry, 2003; Silva & Ludwick, 2001)
• Conflict of interest
• Justice
TREN ISU TERAPI KOMPLEMENTER ALTERNATIF DAN
TRADISIONAL
Meningkatnya akses dalam informasi kesehatan
Tingkat
Menganjurkan
sensitivitas
Berhati-hati pasien untuk
terhadap
terhadap hati-hati dalam
Menghargai pasien harus Dorong pasien
Menghargai pasien yang setiap
etnis, umur tinggi, terkait untuk lebih
otonomi tidak pernah keputusannya
dan status keinginan dan selektif dalam
pasien konsul ke dan tetap
social penolakan memilih terapi
medis terkait menjalani
terhadap
penyakitnya terapi medis
terapi
konvensional
komplementer
Daftar Pustaka
1. Breen, Kerry. Dec 2003Ethical issues in the use of complementary medicines ProQuest Research Library diakses pada 24 maret 2012
2. Curtis, P.2004. Safety Issues in Complementary & Alternative Health Care. Program on Integrative Medicine, School of
Medicine,University of North Carolina
3. Depkes RI. 2010. Pengobatan Komplementer Tradisional Alternatif. Diakses dari
[Link]
4. Hilsden and Verhoef. (1999). Complementary therapies: Evaluating their effectiveness in cancer. Patient Education and Counseling.
3892), 102
5. Jonas,W.B. (1998). In Complementary and Alternative Health Practice and Therapies-A Canadian Overview Prepared for Strategies and
Systems for Health Directorate, Health Promotion and Programs Branch,
6. Health Canada (1999). Toronto, ON:York University Centre for Health Studies
7. Keputusan Menteri kesehatan Republik Indonesia Nomor 1076/ Menkes/ SK/VII/ 2003 Tentang penyelenggaraan Pengobatan
Tradisional
8. Keputusan Menteri Kesehatan RI, No. 120/Menkes/SK/II/2008 Tentang Standar Pelayanan Hiperbarik
9. Keputusan Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik, No. HK.03.05/I/199/2010 Tentang Pedoman Kriteria Penetapan Metode
Pengobatan komplementer â alternatif yang dapat diintegrasikan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
10. LaValley and Verhoef. (1995) Integrating Complementary Medicine and Health Care Services into Practice Canadian Medical
Association Journal, 153(1), 45-46
11. Mary Cipriano Silva, PhD, RN, FAAN dan Ruth Ludwick, PhD, RN, C. november 2001. Ethics: Ethical Issues in Complementary/Alternative
Therapies.
[Link] diakses
pada 24 maret 2012
12. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1109/Menkes/PER/IX/2007 Tentang Peneyelenggaraan Pengobatan
Komplementer alternative di Fasilitas Pelayanan Kesehatan
13. Thome,S.S.(2001). Complementary and Alternative Medicine: Critical Issue of Nursing Practice and Policy. Canadian Nurse, 97 (4),27.
14. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
Bentuk Therapy Komplomenter
Biological Based Therapy
Kelompok 1
1. Windi Rismayanti (CKR0210088)
2. Melinda Indriani (CKR0210190)
3. Nuzullul Ramdhiany (CKR0210196)
4. Shalma Dwi Fitria (CKR0210203)
5. Uvi Randri (CKR0210211)
6. Widiya Pinkan (CKR0210212)
Terapi Komplementer
Terapi komplementer adalah terapi tradisional yang diberikan sebagai
pendamping pengobatan modern. Komplementer adalah penggunaan
terapi tradisional ke dalam pengobatan modern (Andrews et al., 2020)
Terapi komplementer juga ada yang menyebutnya dengan pengobatan
holistik. Pendapat ini didasari oleh bentuk terapi yang mempengaruhi
individu secara menyeluruh yaitu sebuah keharmonisan individu untuk
mengintegrasikan pikiran, badan, dan jiwa dalam kesatuan fungsi (Smith
et al., 2019).
Peran Perawat Dalam Teraphy Komplementer
Perawat dapat berpartisipasi dalam perawatan komplementer sebagai salah satu
tenaga kesehatan. Arah perkembangan kebutuhan masyarakat dan keilmuan
mendukung penguatan peran perawat dalam terapi komplementer, karena banyak
profesi keperawatan lanjutan yang justru berangkat dari bentuk asuhan alternatif atau
tradisional.
Adapun peran perawat dalam terapi komplementer diantaranya sebagai:
1. Cargiver 5. Advokat
2. Edukator 6. Konsultan
3. Konselor 7. kolaborator
4. Koordinator
Definisi Biological Based Therapy
Biologically based practice atau terapi biologis merupakan salah satu kategori
utama dari terapi komplementer dan alternatif. Secara umum Biologically based
practice adalah penggunaan bahan-bahan yang berasal dari alam untuk mempengaruhi
proses fisiologis tubuh dan meningkatkan kesehatan (Andrews et al., 2020).
Penggunaan paling umum terapi biologis adalah untuk obesitas,, meningkatkan
pembentukan otot dan kinerja, meningkatkan Kesehatan menyeluruh dan
kesejahteraan, mengobati dan mencegah penyakit /contohnya flu dan demam, dan
mengurangi depresi.
Jenis Terapi Komplementer
Secara Biologis
MIND BODY
THERAPY
KELOMPOK 2
ANGGOTA
NAMA
Dosen Mata Kuliah : Ns. Ranto Karyanto,[Link].,[Link]
THERAPY
bentuk relaksasi dengan memberikan respon dari proses fisiologis.
Motivasi terapi ini untuk meningkatkan aliran darah pasien, sementara
fokusnya adalah mengajarkan klien untuk releks.
03 IMAJINASI
Imajinasi didefinisikan sebagai “ penggunaan manfaat kekuatan
imajinasi secara sadar dengan maksud mengaktifkan penyembuhan
biologis, psikologis, atau spiritual”
04 YOGA
Yoga adalah bentuk latihan fisik yang melibatkan serangkaian
gerakan tubuh, pernapasan, meditasi, dan relaksasi. Praktik
yoga menggabungkan aspek fisik, mental, dan spiritual untuk
meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan secara keseluruhan.
05 MEDITASI
Meditasi adalah sebuah tekhnik yang digunakan untuk
menenangkan fikiran dan memfokuskan fikiran pada masa
sekarang serta untuk melepaskan rasa takut, ansietas dan
memfokuskan keraguan yang berkaitan dengan masa lalu dan
masa datang.
BERDOA
THERAPY
yang rilaksasi dan perubahan mosi, perilaku, dan fisiologis yang
diinginkan
MANFAAT THERAPY
PIKIRAN TUBUH
● Sisanya-sedalam diukur dengan tingkat ● Penurunan kadar kolesterol. Kolesterol
metabolisme menurun, denyut jantung tinggi berhubungan dengan penyakit
lebih rendah, dan mengurangi beban kardiovaskular.
kerja jantung. ● Peningkatan aliran udara ke paru-paru
● Menurunkan kadar kortisol dan laktat-dua sehingga bernapas lebih mudah. Ini telah
bahan kimia yang terkait dengan stres. sangat membantu untuk pasien asma.
● Pengurangan radikal bebas-molekul ● Biologis lebih muda usia. Pada ukuran
oksigen tidak stabil yang dapat standar penuaan jangka panjang
menyebabkan kerusakan jaringan. Meditasi Transendental (TM) praktisi
Mereka sekarang dianggap sebagai (lebih dari lima tahun) diukur 12 tahun
faktor utama dalam penuaan dan dalam lebih muda dari usia kronologis mereka.
berbagai penyakit. ● Tinggi tingkat DHEAS pada orang tua.
● Penurunan tekanan darah tinggi. Tanda tambahan kemudaan melalui
● Tinggi resistensi kulit. Resistensi kulit Meditasi Transendental (TM); tingkat
yang rendah berkorelasi dengan stres lebih rendah dari DHEAS berhubungan
tinggi dan tingkat kecemasan. dengan penuaan.
MANFAAT THERAPY
PIKIRAN TUBUH
04 05 06
Klien yang mudah Pasien rehabilitasi ambulatory Pasien dengan ego psiko
bosan patologi berat
STAGE 1
STAGE 2
Intervensi keperawatan yang bertujuan untuk mengurangi
kecemasan (psikososial) dianggap data mempertahankan
imunitas dan dapat memperlambat proses penyakit klien.
Intervensi yang dilakukan akan dapat mencapai hal tersebut
dengan cara mengarahkan neuroendokrin ke arah yang lebih
kondusif sehingga dapat meningkatkan respon kekebalan tubuh
yang optimal.
STAGE 3
Terapi meditasi sebagai salah satu dari sekian banyak terapi
komplementer yang ada, merupakan salah satu alternatif yang dapat
dilakukan oleh perawat. Dengan memfokuskan perhatian, pikiran, emosi,
sensasi dan persepsi secara rutin maka klien dapat merasakan
ketenangan, kedamaian, Tentunya hal ini dapat menyebabkan kestabilan
pada hormon tubuh sehingga kecemasan dapat berkurang / dihindari.
— KESIMPULAN
Pada terapi pikitan tubuh, individu berfokus pada penyejajaran atau penciptaan keseimbangan proses mental
guna menimbulkan penyembuhan. Advokat terapi ini perlu menghindari mempromosikan gagasan Pikiran
menyembuhkan melalui “kendali” kesadaran. Fokus terapi pikiran tubuh adalah menciptakan keseimbangan
pikiran, emosi, atau pernafasan tersebut. Karena individu adalah satu kesatuan yang utuh hal ini dapat
membantu memulihkan kedamaian dan keseimbangan”.
TERIMAKASIH
MANIPULATIVE BASED
THERAPY
Disusun oleh :
1. Dhiva Sandra S(CKR0210108)
2. Gita Mulyati (CKR0210184)
3. Intan Nurlia(CKR0210185)
Kelompok 3
4. Maryati(CKR0210189)
5. Siti Maesyaroh (CKR0210205)
6. Sutia Haryati(CKR0210209)
PENGERTIAN
Kontraindikasi
Tidak diperkenankan diberikan kepada pasien yang sedang atau memiliki riwayat sesak
nafas.
Ha-hal yang perlu di perhatikan
: pikiran yang beristirahat, dan lingkungan yang tenang.
posisi klien yang tepat,
Kesimpula
n
Manipulative and body-based practices (Praktek
manipulatif dan berbasis tubuh) berfokus terutama pada
struktur dan sistem tubuh, termasuk tulang dan sendi,
jaringan lunak, dan peredaran darah dan sistem limfatik.
Beberapa praktek yang berasal dari sistem tradisional
obat, seperti dari China, India, atau Mesir, sementara
yang lain dikembangkan dalam 150 tahun terakhir
(misalnya, manipulasi chiropractic dan lain-lain).
ADA
PERTANYAAN?
TERIMAKASIH
BENTUK TERAPI KOMPLEMENTER SEPERTI
ENERGY AND BIOFIELD THERAPY
KELOMPOK 4
o Biofield energy menjadi sebagai gelombang yang sangat halus yang diterima
oleh somatosensorik sebagai stimulus bukan nyeri yang mengaktifkan
serabut syaraf sensoris berukuran besar, sehingga mengaktifkan inhibisi
interneuron yang pada akhirnya akan menutup gerbang nyeri tersebut
Jenis-jenis Terapi Biofield
01 02
Qi Gong Reiki
03
Therapeutic Dan
04
Terapi Magnet
Healing Touch
01
Qi Gong
• Qi Gong terdiri dari dua suku kata yaitu suku kata pertama adalah Qi
(dibaca Chee) yang berarti kekuatan hidup/energi vital yang mengalir
dari jagat raya melibatkan pernafasan, udara.
• Suku kata kedua adalah Gong (dibaca Gung) yang berarti pencapaian,
atau kemampuan yang disiapkan melalui latihan/usaha yang kuat.
definisi_
_Manfaat Qi Gong
• Terapi reiki yaitu teknik untuk mengakses energi alam semesta yang bersifat
ilahi untuk dipergunakan begi kesehatan fisik, psikis, mental dan spiritual.
Mengakses reiki hanya membutuhkan niat, santai (rileks) dan tawakal
(pasrah) kepada ilahi (Bakri, Syamsul. 2021).
• Terapi reiki tidak langsung ke ditujukan pada bagian fisik tubuh melainkan
dialirkan dalam bentuk gelombang elektro magnetik melalui medan radiasi
tubuh atau aura.
• Healing touch atau terapi sentuhan adalah terapi yang diyakini dapat
mengidentifikasi dan memperbaiki ketidakseimbangan energy klien dengan
meletakkan/mengusapkan taangan diatas pasien atau tubuh yang merasa
sakit.
• Healing Touch membuka dan melancarkan aliran energi seluruh tubuh. Hal
ini membantu menyeimbangkan pikiran, tubuh, dan jiwa sehingga
membantu tubuh menyembuhkan dirinya sendiri (Departement of family
medicine, tanpa tahun).
• HT dilakukan langsung dengan mengalirkan energi melalui sentuhan
ringan tangan ke bagian tubuh tertentu. HT biasanya dilakukan oleh
perawat psikologi dan terapis biofield. HT akan mempengaruhi system
syaraf autonom, merubah frekuensi tinggi ke frekuensi rendah pada
denyut jantung, meningkatkan fungsi syaraf parasimpatik dan
menurunkan aktivasi saraf simpatis (Wardell, 2020).
• Salah satu teknik dari HT adalah Self Chakra Connection adalah teknik
menyeimbangkan seluruh bagian tubuh dengan memfasilitasi
pergerakan energi dari cakra pasien dan cakra dari terapis dengan cara
menghubungkan energi mayor dan minor pusat, dan membuka jalan
atau portal untuk mengalir bebas.
Manfaat HT
• Terapi ini juga merupakan metode yang aman, yang menggunakan medan magnet
untuk tujuan terapi.
• Terapi magnetik mempunyai efek baik terhadap sel, jaringan dan syaraf ketika
diaplikasikan ke bagian yang terpengaruh. Terapi magnetik membuat peningkatan
sirkulasi.
definisi_
Manfaat Terapi Magnet
Kesimpulan_
Thanks
Do you have any questions?
your email@[Link]
+91 620 421 838
[Link]
KAMPUS 2 RS CIREMAI
2024
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Esa karena atas
berkat rahmat dan hidayah-Nya kami bisa menyelesaikan makalah ini. Makalah
ini kami buat untuk memenuhi tugas dari dosen. Makalah ini membahas tentang
“TERAPI KOMPLEMENTER HIPNOTERAPI”, semoga dengan makalah yang
kami susun ini kita sebagai mahasiswa dapat menambah dan memperluas
pengetahuan kita.
Kami mengetahui makalah yang kami susun ini masih sangat jauh dari
sempurna, maka dari itu kami masih mengharapkan kritik dan saran dari
bapak/ibu selaku dosen pembimbing kami serta teman-teman sekalian, karena
kritik dan saran itu dapat membangun kami dari yang salah menjadi benar.
Semoga makalah yang kami susun ini dapat berguna dan bermanfaat bagi
kita, akhir kata kami mengucapkan terimakasih.
Kelompok 5
i
DAFTAR ISI
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di tengah-tengah psikolog yang memprioritaskan penelitiannya pada
kesadaran dan memandang kesadaran sebagai aspek utama dari kehidupan
mental, muncul seorang dokter muda dari kota Wina yang bernama Sigmund
Freud (1856 – 1939), dengan gagasan yang radikal dimana ia mengatakan
bahwa kesadaran itu hanyalah sebagian kecil saja dari kehidupan mental
sedangkan bagian yang terbesar justru alam tidak sadar atau alam
ketidaksadaran. Istilah ketidaksadaran yang lebih dikenal dengan sebutan
psikoanalisa ini walaupun diciptakan oleh Freud tetapi ide-idenya campur
tangan dari Josep Breuer. Psikoanalisa itu sendiri secara umum dapat
dikatakan sebagai suatu pandangan tentang manusia dimana ketidaksadaran
memainkan perananan sentral. Dalam teori psikoanalaisa ini terdapat tiga
aspek penting yang meliputi psikoanalisa sebagai aspek kepribadian, sebagai
aspek teknik evaluasi kepribadian dan sebagai teknik terapi.
Hipnoterapi sampai saat ini masih terus berkembang yang dimulai
sejak abad ke-18, mulai dari konsep hypnosis konvensional yang
dikembangkan oleh Dr. James Braid sampai dengan hipnoterapi klinis modern
yang dikembangkan oleh Dr. Milton H. Erickson sampai terakhir-terakhir
yang dikembangkan oleh Dr. Dave Elman, Gill Boyne maupun DR. Calvin
Banyan.
Pada awalnya hipnoterapi, itu digunakan terutama untuk membantu
mengatasi emosi, masalah psikologis, dan sebagai alternatif anestesi, untuk
operasi lapangan. Pada titik tertentu, Pada tahun 1900-an hipnoterapi mulai
menjadi populer untuk menggunakan hipnosis untuk membantu orang berhenti
merokok, dan menurunkan berat badan.
Seseorang yang mempelajari Hipnoterapi disebut [Link]
Hipnosis, seorang Hipnoterapis membantu klien untuk menyelesaikan
masalahnya. Waktu yang dibutuhkan untuk mengatasi masalah klien, seorang
Hipnoterapis mungkin hanya dibutuhkan satu sesi atau beberapa sesi, tergantu
1
permasalahan yang di hadapai klien. Setelah melakukan sesi hipnoterapi,
masalah yang dihadapi klien akan teratasi, meberikan lebih banyak kontrol
terhadap pikiran dan perasaanya sehingan terjadi perubahan perilaku.
Seorang Hipnoterapis akan mengantarkan klien masuk ke dalanm
kondisi relaks atau trans dengan Hipnosis. Dalam kondisi relaks atau trans,
pikiran seseorang akan lebih mudah menerima sugesti sehingga mengubah
cara seseorang berpikir, berperilaku dan merasa. Trans bukanlah tidur tetapi
relaks dan menyenangkan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi hipnoterapi ?
2. Bagaimana sejarah hipnoterapi ?
3. Apa hipnoterapi modern ?
4. Apa saja dasar teori hipnoterapi ?
5. Apa proses hipnoterapi ?
6. Apa syarat-syarat melakukan terapi hipnoterapi ?
7. Apa saja tahapan hipnoterapi ?
8. Apa manfaat hipnoterapi ?
9. Apa saja efek samping hipnoterapi ?
10. Apa fakta hipnoterapi ?
11. Bagaimana contoh kasus yang ditangani dengan hipnoterapi ?
12. Bagaimana contoh melakukan hipnoterapi pada diri sendiri ?
C. Tujuan Penulisan
a. Untuk mengetahui tentang definisi hipnoterapi
b. Untuk mengetahui tentang sejarah hipnoterapi
c. Untuk mengetahui tentang hipnoterapi modern
d. Untuk mengetahui tentang dasar teori hipnoterapi
e. Untuk mengetahui tentang proses hipnoterapi
f. Untuk mengetahui tentang syarat-syarat melakukan terapi hipnoterapi
g. Untuk mengetahui tentang tahapan hipnoterapi
2
h. Untuk mengetahui tentang manfaat hipnoterapi
i. Untuk mengetahui tentang efek samping hipnoterapi
j. Untuk mengetahui tentang fakta hipnoterapi
k. Untuk mengetahui tentang contoh kasus yang ditangani dengan
hipnoterapi
l. Untuk mengetahui tentang contoh melakukan hipnoterapi pada diri sendiri
D. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan pada kasus tersebut diatas adalah
1. Manfaat Institusi
Sebagai sumber bacaan dan bahan pembelajaran bagi pembaca
diperpustakaan mengenai Terapi Komplementer Hipnoterapi.
2. Manfaat Ilmiah
Diharapkan hasil penulisan ini dapat menjadi sumber informasi dan
mampu menambah pengetahuan serta sebagai bahan acuan bagi penulis
selanjutnya.
3. Manfaat bagi penulis
Penulisan ini merupakan pengalaman ilmiah yang sangat berharga
bagi penulis karena meningkatkan pengetahuan dan menambah wawasan
baru tentang Terapi Komplementer Hipnoterapi.
3
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Definisi Hipnoterapi
Hipnoterapi adalah suatu rangakain proses yang digunakan seorang
hipnoterapis untuk menyelesaikan masalah klien dengan ilmu hipnosis.
Hypnotherapy adalah suatu metode dimana pasien dibimbing untuk
melakukan relaksasi, dimana setelah kondisi relaksasi dalam ini tercapai maka
secara alamiah gerbang pikiran bawah sadar sesesorang akan terbuka lebar,
sehingga yang bersangkutan cenderung lebih mudah untuk menerima sugesti
penyembuhan yang diberikan.
Hipnoterapi adalah salah satu cabang ilmu psikologi yang mempelajari
manfaat sugesti untuk mengatasi masalah pikiran, perasaan dan perilaku.
Hipnoterapi dapat juga dikatakan sebagai suatu teknik terapi pikiran
menggunakan hipnotis. Hipnotis bisa diartikan sebagai ilmu untuk memberi
sugesti atau perintah kepada pikiran bawah sadar. Orang yang ahli dalam
menggunakan hipnotis untuk terapi disebut “hypnotherapist”.
Hipnoterapi menggunakan sugesti atau pengaruh kata - kata yang
disampaikan dengan teknik - teknik tertentu. Satu - satunya kekuatan dalam
hipnoterapi adalah komunikasi. Setiap perawat sudah cukup akrab dengan
namanya komunikasi karena pekerjaannya adalah langsung berinteraksi
dengan orang banyak, termasuk klien dan keluarga. Oleh karena itu tak akan
banyak makan waktu jika dibutuhkan latihan, sebab hampir setiap hari kita
berkomunikasi dengan orang asing. Perawat mampu menghipnotis pasien jika
dia memahami bahasa yang perawat gunakan.
B. Sejarah Hipnoterapi
Pada jaman dahulu, hypnosis ini sering sekali dikaitkan dengan klenik-
klenik, supranatural, ritual keagamaan, kepercayaan, dll. Banyak "orang
pintar" di jaman mesir kuno dan yunani menggunakan metode hypnosis untuk
mengobati orang-orang pada waktu itu, walaupun waktu itu belum ada istilah
hypnosis.
4
Menurut yang ditulis pada catatan dokumen medis Ebers Papyrus, Catatan
sejarah tentang sejarah hipnosis, berawal dari jaman mesir kuno 1550 SM.
Menurut Ebers papyrus, dituliskan bahwa pada jaman mesir kuno ada kuil
pengobatan yang bernama kuil tidur. Cara pengobatan pada waktu itu, para
pendeta menyembuhkan pasiennya dengan menyentuhkan tangannya pada
dahi pasien sambil mengucapkan mantra atau sugesti untuk menyembuhkan
pasiennya. Kemudian para warga sekitar pada waktu itu mempercayai bahwa
pendeta itu memiliki kekuatan magis.
Pada abad 18 adalah titik awal untuk sejarah hypnosis modern, yang
dimulai dari pendeta yang bernama gassner. Gassner meyakini bahwa orang
sakit itu kerasukan setan, maka dengan membuat pasien masuk ke kondisi
hypnosa (hypnosa adalah kondisi dimana manusia menjadi rileks dan
terfokus) kemudian beliau melakukan ritual tertentu untuk mengusir setan
yang ada dalam tubuh pasiennya.
Setelah Gassner, barulah muncul beberapa tenaga kesehatan dari para
dokter dan psikolog yang meneliti tentang hypnosis ini, dimulai dari :
1. Franz Anton Mesmer (1735-1815),
2. Marquis de Puysegur (1751-1825),
3. John Elliotson (1791-1868),
4. James Braid, Penulis dan dokter terkenal di Inggris (1795-1860),
5. Para psikiater Jean Martin Charcot (1825-1893) dan Sigmund Freud
(1856-1939)
6. Milton Erickson (1901-1980)
7. Dave Elman (1900-1967)
8. Ommond Mcgill (1913-2005)
Dari para tokoh diatas, yang paling berperan adalah Milton Erickson,
karena jasanya hypnosis bisa di terima oleh Asosiasi Medis Amerika dan
Asosiasi Psikiatris Amerika yang bisa digunakan dalam pengobatan sejak
tahun 1958.
Dr. Milton H. Erickson pertama kali memperkenalkan bahwa jiwa manusia
sangat unik. Tidaklah mudah meminta orang untuk secara langsung
5
menghilangkan kebiasaan buruk yang ingin dia tinggalkan. Seperti kita
menyampaikan nasihat kepada seseorang yang mengeluh karena dia
mempunyai masalah, “Sekarang kamu dapat menyelesaikannya”, atau
seseorang yang mempunyai masalah perilaku lalu kita berikan nasihat,
“Sekarang perilaku anda sudah berubah menjadi baik”. Belum tentu dia akan
merubah perilakunya dengan segera. Mungkin hanya, untuk sementara, tetapi
biasanya kebiasaan itu akan kembali lagi. Apalagi jika kita tidak mengetahui
akar permasalahannya mengapa dia berperilaku demikian, tidak mengetahui
nilai dasar dan keinginan sebenarnya yang dimiliki orang tersebut. Ingat, jiwa
manusia sangat kompleks, setiap orang mempunyai jiwa dan nilai yang unik.
Perilaku atau respons seseorang tidak sama dalam menghadapi peristiwa yang
berbeda. Bahkan sangat mungkin sekali untuk peristiwa yang sama, perilaku
atau respons seseorang yang sama dapat berbeda.
Hal inilah yang dikembangkan Erickson menuju metode hipnoterapi yang
lebih efektif. Berkat jasanya dalam mengembangkan metode-metode dalam
melakukan terapi klinis dengan metode hipnoterapi, maka pada tahun 1950-an
hipnoterapi diakui oleh Asosiasi Medis Amerika sebagai metode terapi.
Paska Milton H. Erickson, metode ini berkembang terus sampai dengan
metode yang berorientasi kepada pasien. Saat ini, metode ini lebih efektif
digunakan apalagi digabungkan dengan pola komunikasi yang telah
dikembangkan Erickson. Metode ini telah banyak dipergunakan oleh para
terapist terkenal seperti Gill Boyne, Mary Lee LaBay, maupun Calvin Banyan
dan lain-lain.
C. Hipnoterapi Modern
Hipnoterpi di masa lalu indentik dengan kondisi tidur, terbaring, atau tidak
bergerak. Pada masa kini, hipnotis lebih ditekankan pada kondisi relaksasi
yang dalam, baik secara fisik maupun mental. Saat ini dikenal beberapa
keadaan hipnotis seperti moving meditation, hypnoidal state, serta automatic
writing, dimana pasien melakukan aktivitas bawah sadar dalam bentuk
gerakan atau tindakan yang dikendalikan oleh niat.
6
Psikolog pada Pusat hipnoterpi Kedokteran RSPAD Gatot Subroto (pusat
hipnotis kedokteran pertama di Indoneisa) Dra Psi Adjeng Lasmini
mengatakan, pada hipnoterpi, pasien diajak untuk relaks secara fisik dan
mental dengan memusatkan perhatian melalui sarana fiksasi berupa suara,
tatapan, dan sentuhan secara berulang dan monoton. Ini membuat pasien
merasa semakin santai. Dalam kondisi hipnoterapi, lanjutnya, sugesti positif
yang ditanamkan disusun dalam kalimat yang sederhana. Karena pada kondisi
ini kemampuan seseorang untuk merangkum kalimat demi kalimat mengalami
penurunan.
7
2. Teori Psikofisiologis
Beberapa peneliti menerapkan formasi retikulare, hipokampus, dan
struktur subkortikal yang memerantarai komunikasi. Teori-teori lain
termasuk inhibisi sel ganglion otak, eksitasi dan inhibisi dari neuron-
neuron, fokus eksitasi sentral yang mengelilingi area non eksitasi, anemia
serebral, pergeseran energi saraf dari sistem saraf pusat menuju system
vasomotor, perlambatan vasomotor mengakibatkan anemia lobus frontal
“synaptic ablation” dimana impuls-impuls saraf langsung masuk ke dalam
sejumlah bagian yang lebih kecil (perhatian selektif) juga
dipertimbangkan.
3. Teori Imobilisasi
Hipnosis suatu waktu mungkin diperlukan oleh manusia sebagai
mekanisme pertahanan untuk menghadapi ketakutan atau bahaya. Teori
ini berdasarkan pada pengamatan Pavlov bahwa satu-satunya kesempatan
seekor hewan bertahan hidup adalah untuk tetap imobile (tidak bergerak)
agar terlepas dari pengamatan. (Kroger, 2008). Walaupun diinduksi
berbeda-beda pada hewan, RI (Reaksi Imobilisasi) ditimbulkan terutama
oleh faktor fisik dan insting. Pada manusia diakibatkan dari interaksi
faktor-faktor ini dengan pengalaman arti dari simbul dan kata-kata.
Hipnosis manusia dan hewan tidak mirip. Induksi berulang pada hewan
dengan penurunan kerentanan hipnotik, sedangkan pada manusia
meningkatkannya. (Kroger, 2008).
Pada umumnya, stimulus sekuat apapun seperti ketakutan,
menyebabkan hewan dan manusia tertentu ”membeku”. Konsep ini
berlanjut pada teori hipnosis “pingsan-mati”. Akan tetapi, teori ini tidak
menjelaskan bagaimana hipnosis terjadi pada manusia. Bersamaan dengan
itu, hipnosis dijelaskan sebagai suatu keadaan kesiapan tindakan emosi
yang makin bertambah menghubungkan ke bawah pada pengaruh korteks
sebagai satu filogeni ke atas, namun demikian secara konsisten muncul
pada organisme hewan dalam berbagai bentuk. (Kroger, 2008).
8
4. Hipnosis sebagai suatu Status Histeria
Pada suatu waktu, hipnosis dianggap sebagai suatu gejala histeria.
Hanya individu histeris yang diyakini dapat dihipnosis. Kesimpulan ini
diambil oleh Charcot dengan dasar hanya beberapa kasus dalam keadaan
patologis. Hipotesis seperti ini tidak dapat dipertahankan, seberapa besar
kerentanan terhadap hipnosis adalah tidak patognomonik pada neurosis.
Individu normal nyatanya dengan mudah dihipnosis. (Kroger, 2008).
5. Teori Tidur yang Dikondisikan
Teori Keadaan Alpha dan Theta
Melalui data yang dikumpulkan dari Electroencephalography
(EEG), diidentifikasikan dari impuls elektrik yang dipancarkan oleh otak
ada empat macam frekuensi pola gelombang otak yang pokok. Keadaan
Beta (waspada/bekerja) didefinisikan sebagai 14- 32 putaran per detik /
cycles per second (CPS), keadaan Alpha (santai/relax) sebagai 7-14 CPS,
keadaan Theta (mengantuk) sebagai 4-7 CPS, dan keadaan Delta
(tidur/bermimpi/tidur pulas) kira-kira 3-5 CPS. (Kroger, 2008).
Satu definisi fisiologis dari keadaan hipnosis adalah bahwa tingkat
gelombang otak yang diperlukan untuk mengatasi masalah, seperti
berhenti merokok, penanganan masalah berat badan, pengurangan fobia,
peningkatan kemampuan olahraga, dan lain-lain adalah keadaan alpha.
Keadaan alpha pada umumnya diasosiasikan dengan menutup mata,
relaksasi, dan melamun. (Kroger, 2008).
Definisi fisiologis lain menyebutkan bahwa keadaan theta
diperlukan untuk perubahan therapeutic (berhubungan dengan
pengobatan). Keadaan theta dikaitkan dengan hipnosis untuk
pembedahan, hipnoanestesia (penggunaan hipnosis untuk mematirasakan
rasa sakit) dan hipnoanalgesia (penggunaan hipnosis untuk mengurangi
kepekaan terhadap rasa sakit), dimana pembedahan lebih siap dilakukan
dalam keadaan theta dan delta. Obat bius (anestetik), zat penenang
(sedatif), dan hipnosis mengacaukan keselarasan saraf yang dianggap
9
mendasari terjadinya gelombang theta, baik pada manusia maupun
binatang. (Kroger, 2008).
6. Teori Inhibisi dan Aktivitas Ideomotor
Hal itu dianggap oleh beberapa penulis bahwa efek sugestibilitas
adalah hasil dari inhibisi dan tindakan ideomotor, dan sugestibilitas hanya
sebuah pengalaman dari imaginasi yang diaktualisasikan hingga aktivitas
ideomotor. (Kroger, 2008).
7. Teori Neodisosiasi dan Disosiasi
Selama beberapa tahun diduga bahwa seseorang yang dihipnosis
berada dalam kondisi disosiasi, area-area tertentu dari perilaku terbelah
dari aliran utama kesadaran. Oleh karena itu, hipnosis menghapus kontrol
kehendak dan sebagai hasilnya seseorang merespon hanya dengan
perilaku otonomik pada tingkat refleks. Jika teori disosiasi adalah valid,
maka amnesia dapat dihilangkan oleh sugesti dari pelaksana. Selain itu,
amnesia akan selalu terjadi secara spontan. Hipnosis telah dijelaskan
sebagai disosiasi kesadaran dari sebagian besar sensori meski dengan
tegas peristiwa yang berhubungan dengan saraf disimpan. Golongan
disosiasi tidak hanya hipnosis tetapi juga banyak kondisi siaga/waspada
lain dari kesadaran seperti mimpi-mimpi, kondisi hipnagogik, “highway
hypnosis”, kondisi melamun, pemisahan atau depersonalisasi dilihat pada
beberapa tipe pemujaan agama/ ritual agama dan banyak fenomena
mental lainnya. (Kroger, 2008).
8. Teori Disosiasi
Teori lama ini tidak mempunyai nama baik lagi ketika diperagakan
lebih sering sebagai ganti dari amnesia atau disosiasi. Di sana ada
hyperacuity dan pengaturan yang lebih baik dari seluruh makna selama
hipnosis. Oleh karena itu, meskipun beberapa tingkat dari disosiasi terjadi
ketika amnesia muncul, itu bukan berarti indikasi bahwa disosiasi
menghasilkan hipnosis atau serupa untuknya. Meskipun teori ini tidak
diselesaikan, Hilgard menunjukkan bahwa kontrol ego normal adalah
memperhatikan kebutuhan, memperbolehkan perilaku yang dapat diterima
10
masyarakat dan pilihan yang masuk akal. Namun demikian, dia mencatat
bahwa proses lain dibawa di sisi luar kontrol normal dimana pada saatnya
dapat berfungsi simultan dengan mereka. (Kroger, 2008).
9. Teori Memainkan Peran (Role Playing)
Teori ini beranggapan bahwa individu yang dihipnosis memainkan
peran dan membiarkan penghipnosis menciptakan realitas untuk mereka.
Umumnya, selama proses hipnosis orang menjadi lebih reseptif (mudah
menerima) sugesti, menyebabkan mereka berubah dalam cara merasakan,
berpikir, dan berperilaku. Beberapa psikolog, seperti Robert Baker
mengklaim bahwa apa yang kita sebut dengan hipnosis sebenarnya adalah
bentuk dari perilaku sosial yang dipelajari. Sementara psikolog seperti
Sarbin dan Spanos beranggapan bahwa subjek bermain peran dengan
pengharapan sosial yang kuat, subjek percaya bahwa mereka dalam
keadaan terhipnosis, kemudian mereka berperilaku dengan cara yang
mereka bayangkan bagaimana seorang yang dihipnosis akan berperilaku.
(Kroger, 2008).
10. Teori Regresi
Konsep Psikoanalisis
Sebuah tiruan di antara psikoanalisis dan teori fisiologi Pavlov
dicoba oleh Kubic dan Margolin. Peneliti-peneliti ini merasa bahwa
subyek menuju sebuah regresi infantile dengan hipnosis penuh berisi
sebuah peran permainan dahulu oleh orangtua. Gill dan Brenman
beranggapan bahwa hipnosis adalah sebuah regresi pelayanan dari ego,
transferensi (sebuah transfer/pemindahan oleh pasien kepada pelaksana
dari perasaan emosi terhadap orang lain) adalah sebuah elemen penting
dari hipnosis. Kubic percaya motivasi lebih bermakna daripada konsep
regresi dalam memahami respon hipnosis. Hodge menekankan konsep
kontraktual dari hipnosis. Sebagai sebuah ilustrasi dari konsep
ketidakpatuhan yang lebih besar. (Kroger, 2008).
11
E. Proses Hipnoterapi
Untuk memahami Hypnosis atau Hypnotherapy secara mudah dan benar,
sebelumnya kita harus memahami bahwa aktivitas pikiran manusia secara
sederhana dikelompokkan dalam 4 wilayah yang dikenal dengan istilah
Brainwave, yaitu : Beta, Alpha, Theta, dan Delta
1. Beta adalah kondisi pikiran pada saat sesorang sangat aktif dan waspada.
Kondisi ini adalah kondisi umum ketika seseorang tengah beraktivitas
normal. Frekwensi pikiran pada kondisi ini sekitar 14 – 24 Cps (diukur
dengan perangkat EEG)
2. Alpha adalah kondisi ketika seseorang tengah fokus pada suatu hal
(belajar, mengerjakan suatu kegiatan teknis, menonton televisi), atau pada
saat seseorang dalam kondisi relaksasi. Frekwensi pikiran pada kondisi ini
sekitar 7 – 14 Cps.
3. Theta adalah kondisi relaksasi yang sangat ekstrim, sehingga seakan-akan
yang bersangkutan merasa “tertidur”, kondisi ini seperti halnya pada saat
seseorang melakukan meditasi yang sangat dalam. Theta juga gelombang
pikiran ketika seseorang tertidur dengan bermimpi, atau kondisi REM
(Rapid Eye Movement). Frekwensi pikiran pada kondisi ini sekitar 3.5 – 7
Cps.
4. Delta adalah kondisi tidur normal (tanpa mimpi). Frekwensi pikiran pada
kondisi ini sekitar 0.5 – 3.5 Cps.
Kondisi Hypnosis sangat mirip dengan kondisi gelombang pikiran Alpha
dan Theta. Yang sangat menarik, bahwa kondisi Beta, Alpha, dan Theta,
merupakan kondisi umum yang berlangsung secara bergantian dalam diri kita.
Suatu saat kita di kondisi Beta, kemudian sekian detik kita berpindah ke
Alpha, sekian detik berpindah ke Theta, dan kembali lagi ke Beta, dan
seterusnya.
Pada saat setiap orang menuju proses tidur alami, maka yang terjadi adalah
gelombang pikiran ini secara perlahan-lahan akan menurun mulai dari Beta,
Alpha, Theta, kemudian Delta dimana kita benar-benar mulai tertidur.
Perpindahan wilayah ini tidak berlangsung dengan cepat, sehingga sebetulnya
12
walaupun seakan-akan seseorang sudah tampak tertidur, mungkin saja ia
masih berada di wilayah Theta. Pada wilayah Theta seseorang akan merasa
tertidur, suara-suara luar tidak dapat didengarkan dengan baik, tetapi justru
suara-suara ini didengar dengan sngat baik oleh pikiran bawah sadarnya, dan
cenderung menjadi nilai yang permanen, karena tidak disadari oleh “pikiran
sadar” yang bersangkutan.
G. Tahapan Hipnoterapi
Pada saat proses hipnoterapi berlangsung, klien hanya diam. Duduk atau
berbaring, yang sibuk justru terapisnya, yang bertindak sebagai fasilitator.
Akan tetapi, pada proses selanjutnya, klien lah yang menghipnosis dirinya
sendiri (Otohipnotis), berikut proses sebuah tahapan hipnoterapi :
1. Pre - Induction (Interview)
Pada tahap awal ini hipnoterapis dan klien untuk pertama kalinya
bertemu. Setelah klien mengisi formulir mengenai data dirinya,
hipnoterapis membuka percakapan untuk membangun kepercayaan klien,
menghilangkan rasa takut terhadap hipnotis / hipnoterapi dan menjelaskan
mengenai hipnoterapi dan menjawab semua pertanyaan klien. Sebelumnya
hipnoterapis harus dapat mengenali aspek - aspek psikologis dari klien,
antara lain hal yang diminati dan tidak diminati, apa yang diketahui klien
terhadap hipnotis, dan seterusnya. Pre - Induction merupakan tahapan yang
sangat penting. Seringkali kegagalan proses hipnoterapi diawali dari
proses Pre - Induction yang tidak tepat.
13
2. Suggestibility Test
Maksud dari uji sugestibilitas adalah untuk menentukan apakah
klien masuk ke dalam orang yang mudah menerima sugesti atau tidak.
Selain itu, uji sugestibilitas juga berfungsi sebagai pemanasan dan juga
untuk menghilangkan rasa takut terhadap proses hipnoterapi. Uji
sugestibilitas juga membantu hipnoterapis untuk menentukan teknik
induksi yang terbaik bagi sang klien.
3. Induction
Induksi adalah cara yang digunakan oleh seorang hipnoterapis
untuk membawa pikiran klien berpindah dari pikiran sadar (conscious) ke
pikiran bawah sadar (sub conscious), dengan menembus apa yang dikenal
dengan Critical Area.
Saat tubuh rileks, pikiran juga menjadi rileks. maka frekuensi
gelombang otak dari klien akan turun dari Beta, Alfa, kemudian Theta.
Semakin turun gelombang otak, klien akan semakin rileks, sehingga
berada dalam kondisi trance. Inilah yang dinamakan dengan kondisi
terhipnotis. Hipnoterapis akan mengetahui kedalaman trance klien dengan
melakukan Depth Level Test (tingkat kedalaman trance klien).
4. Deepening (Pendalaman Trance)
Jika dianggap perlu, hipnoterapis akan membawa klien ke trance
yang lebih dalam Proses ini dinamakan deepening.
5. Suggestions / Sugesti
Pada saat klien masih berada dalam trance, hipnoterapis juga akan
memberi Post Hypnotic Suggestion, sugesti yang diberikan kepada klien
pada saat proses hipnotis masih berlangsung dan diharapkan terekam terus
oleh pikiran bawah sadar klien meskipun klien telah keluar dari proses
hipnotis. Post Hypnotic Suggestion adalah salah satu unsur terpenting
dalam proses hipnoterapi.
14
6. Termination
Akhirnya dengan teknik yang tepat, hipnoterapis secara perlahan –
lahan akan membangunkan klien dari “tidur” hipnotisnya dan
membawanya ke keadaan yang sepenuhnya sadar.
H. Manfaat Hipnoterapi
Saat ini hipnoterapi dapat digunakan untuk mengatasi masalah – masalah
sebagai berikut:
1. Masalah fisik
Ketegangan otot dan rasa nyeri yang berlebihan dapat dibantu
dengan Hipnoterapi. Dengan Hipnoterapi, dapat membuat tubuh menjadi
relaks dan mengurangi intensitas nyeri yang berlebihan secara drastic.
2. Masalah Emosi
Serangan panik, ketegangan dalam menghadapi ujian, kemarahan,
rasa bersalah, cemas, kurang percaya diri dan lain-lain adalah masalah-
masalah emosi yang berhubungan dengan rasa takut dan kegelisahan.
Semua masalah di atas bisa diatasi dengan Hipnoterapi.
3. Masalah Perilaku
Masalah perilaku seperti merokok, makan berlebihan dan minum
minuman keras yang berlebihan dan berbagai macam perilaku ketagihan,
dapat diatasi dengan Hipnoterapi. Hipnoterapi juga bisa membantu
insomnia dan gangguan tidur.
15
serentak, seperti kekesalan dan kesedihan, sehingga ungkapan dan tindakan
pasien tidak terkendali).
J. Fakta Hipnoterapi
1. Hipnoterapi adalah suatu hal yang aman dilakukan. Hal ini hanyalah
keadaan santai di mana pikiran bawah sadar seseorang dapat diakses dan
terbuka untuk membuat perubahan positif.
2. Hipnoterapi bukan pengendalian pikiran. Karena dengan bantuan
pembimbing, orang tersebut yang memilih cara yang tepat untuk
mengkhilaskan dan mengatasi masalah seseorang.
3. Seseorang tetap sadar selama hipnoterapi. Kondisi ini hanyalah sebuah
bagian dari relaksasi, yaitu pikiran tenang dan rileks.
4. Siapapun dapat di hipnoterapi (selama yang bersangkutan tidak mengalami
paksaan, dan gangguan dalam berkomunikasi).
16
sakit (kasus kanker, persalinan, dan cabut gigi). Hipnotis juga digunakan
untuk mengatasi kecemasan bawah sadar sehingga pasien mampu untuk
menghadapi realitas, seperti pada kasus phobia, cemas, gangguan psikomatik,
ataupun kebiasaan buruk (bad habits).
Di bidang psikologi belajar, hipnotis dapat diarahkan untuk
mengingkatkan konsentrasi, daya ingat, kreatifitas, ataupun kesiapan
menghadapi ujian. Sementara di bidang industri, hipnotis bermanfaat untuk
meningkatkan mutu SDM sehingga diharapkan mampu menghadapi situasi
kompetitif dan efektif dalam menjalani tugas.
17
kalimat penegasan yang tepat sasaran seperti, "aku tidak ingin merokok,
rokok tidak menarik bagiku".
3. Menyingkirkan Berbagai Perasaan Buruk
Saat akan memulai hipnoterapi ini, kemungkinan anda akan sulit
untuk menjauhkan berbagai pikiran yang terus mengganggu. Apabila ini
terjadi, jangan memaksakan diri dan amati pikiran tersebut dengan netral
lalu biarkan menghilang dengan sendirinya.
4. Kenali Ketegangan Tubuh
Langkah selanjutnya adalah mengenali ketegangan pada bagian
tubuh yang dimulai dari jari kaki. Bayangkan ketegangan tersebut lepas
dari tubuh dan kemudian hilang. Bayangkan ketegangan tersebut terlepas
dari tubuh satu per satu sehingga bisa semakin ringan.
Buat jari kaki anda rileks kemudian lanjutkan ke kaki dan teruskan
ke bagian tubuh lain hingga mencapai kepala. Pakailah teknik
membayangkan sesuatu yang menurut anda nyaman seperti contohnya
membayangkan air mengalir di kaki untuk menghilangkan ketegangan
tersebut.
5. Masuki Keadaan Hipnotis
Mulailah menceritakan yang sedang anda lakukan dan juga
beberapa sugesti positif untuk diri sendiri dengan memakai kata saya dan
bukan orang kedua. Pakailah sugesti yang lebih spesifik dan gunakan
rumus sugesti yang singkat. Dalam tahap ini, masing masing individu akan
memiliki metode yang berbeda beda dalam menanamkan sugesti tersebut.
Apabila tidak berhasil, maka anda bisa mencari metode lain yang lebih
efektif dan disesuaikan dengan anda.
6. Penyelesaian Hipnoterapi
Tahap penyelesain hipnoterapi mengartikan jika anda sudah
menyelesaikan program hipnoterapi dan berikan batasan yang sangat jelas
antara sadar dan hipnotik yang dilakukan supaya anda tidak tertidur. Akhir
proses ini dengan cara memikirkan bagaimana anda terbangun seperti
hitungan dan sebagainya.
18
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Hipnoterapi adalah salah satu cabang ilmu psikologi yang mempelajari
manfaat sugesti untuk mengatasi masalah pikiran, perasaan dan perilaku.
Hipnoterapi dapat juga dikatakan sebagai suatu teknik terapi pikiran
menggunakan hipnotis. Hipnotis bisa diartikan sebagai ilmu untuk memberi
sugesti atau perintah kepada pikiran bawah sadar. Orang yang ahli dalam
menggunakan hipnotis untuk terapi disebut “hypnotherapist”.
Manfaat dari hynoterapi itu sendiri adalah untuk mengatasi maslah
emosi, fisik dan perilaku. Sedankan syarat hipnoterapi itu sendiri adalah
bersedia dengan sukarela, memiliki kemampuan untuk focus, dan memahami
komunikasi verbal.
Hipnoterapi juga dapat menimbulkan efek samping. Seperti dikatakan
dr Erwin Kusuma SpKJ, program yang ditanamkan dalam hipnoterapi harus
positif. Ini mengingat pasien tidak memiliki kemampuan merangkum
(sintesis) karena kecerdasan jasmaninya menurun. Bila hal ini tidak
diperhatikan, bukan tidak mungkin akan muncul hasil yang tidak diinginkan,
seperti timbul abreaksi (keluarnya rekaman bawah sadar secara serentak,
seperti kekesalan dan kesedihan, sehingga ungkapan dan tindakan pasien tidak
terkendali).
B. Saran
Penulis berharap dengan penulisan makalah ini dapat menambah ilmu
pengetahuan kepada pembaca. Namun, dalam uraiannya penulis sadar bahwa
masih banyak hal yang dirasa kurang, oleh karena itu harapan penulis kepada
pembaca semua dapat memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun.
19
DAFTAR PUSTAKA
Anggi Aprillia Putri Anitya Wulandari, Dexkri Alwaref Elvi Zora, Hirsa Nursuari
Salfera, Dkk (2018). Makalah Terapi Komplementer Hipnoterapi. Diakses
pada 03 Mei 2024.
[Link]
Komplementer-Hipnoterapi
Diah Niken Pratiwi, (2021). Tugas Makalah Holistik Care Hipnoterapi. Diakses
pada 03 Mei 2024.
[Link]
HIPNOTERAPI
20