0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan29 halaman

Hakikat dan Tujuan Matematika dalam Pendidikan

Diunggah oleh

rhmaica50
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan29 halaman

Hakikat dan Tujuan Matematika dalam Pendidikan

Diunggah oleh

rhmaica50
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Hakikat Matematika

1. Pengertian Matematika

Istilah matematika berasal dari kata Yunani “mathein” atau “mathenein”,

yang artinya “mempelajari”, istilah “matematika” lebih tepat digunakan daripada

“ilmu pasti”. Karena, dengan menguasai matematika orang akan dapat belajar

untuk mengatur jalan pemikirannya dan sekaligus belajar menambah

kepandaiannya. Dengan kata lain, belajar matematika sama halnya dengan belajar

logika, karena kedudukan matematika dalam ilmu pengetahuan adalah sebagai

ilmu dasar atau ilmu alat. Sehingga untuk berkecimpung di dunia lainnya, langkah

awal yang harus ditempuh adalah menguasai alat atau ilmu dasarnya, yakni

menguasai matematika secara benar.14 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

(KBBI), matematika didefinisikan ilmu tentang bilangan, hubungan antara

bilangan, dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah

mengenai bilangan.15

Menurut Ruseffendi dalam Heruman, matematika adalah bahasa simbol;

ilmu deduktif yang tidak menerima pembuktian secara induktif; ilmu tentang pola

keteraturan, dan struktur yang terorganisasi, mulai dari unsur yang tidak

didefinisikan, ke aksioma atau postulat dan akhirnya ke dalil. Sedangkan hakikat

14
Moch. Masykur dan Abdul Halim Fathani, Mathematical Intelligence... hal. 42
15
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

12
13

matematika menurut Soedjadi dalam Heruman yaitu memiliki objek tujuan

abstrak, bertumpu pada kesepakatan, dan pola pikir yang deduktif.16

Sujono mengemukakan beberapa pengertian matematika. Di antaranya,

matematika diartikan sebagai cabang ilmu pengetahuan yang eksak dan

terorganisir secara sistematik. Selain itu, matematika merupakan ilmu

pengetahuan tentang penalaran yang logik dan masalah yang berhubungan dengan

bilangan. Bahkan dia mengartikan matematika sebagai ilmu bantu dalam

menginterpretasikan berbagai ide dan kesimpulan.17

Secara umum definisi matematika dapat dideskripsikan sebagai berikut:18

a. Matematika sebagai struktur yang terorganisasi

Berbeda dengan ilmu pengetahuan yang lain, matematika merupakan

suatu bangunan yang terorganisasi. Sebagai sebuah struktur, ia terdiri

atas beberapa komponen, yang meliputi aksioma/postulat, pengertian

pangkal/primitif, dan dalil/teorema (termasuk didalamnya lemma

(teorema pengantar/kecil) dan corolly/sifat).

b. Matematika sebagai alat (tool)

Matematika juga sering dipandang sebagai alat dalam mencari solusi

berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari.

c. Matematika sebagai pola pikir deduktif

16
Heruman, Model Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar, (Bandung:PT Remaja
Rosdakarya,2008), hal.1
17
Sujono, Pengajaran Matematika untuk Sekolah Menengah, (Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, 1998), hal. 5
18
Abdul Halim Fathani, Matematika Hakikat dan Logika, (Jogjakarta: Ar-ruzz Media,
2012), hal. 23-24
14

Matematika merupakan pengetahuan yang memiliki pola pikir deduktif.

Artinya, suatu teori atau pernyataan dalam matematika dapat diterima

kebenarannya apabila telah dibuktikan secara deduktif (umum).

d. Matematika sebagai cara bernalar (the way of thinking)

Matematika dapat pula dipandang sebagai cara bernalar, paling tidak

karena beberapa hal, seperti matematika memuat cara pembuktian yang

valid, rumus-rumus atau aturan yang umum, atau sifat penalaran

matematika yang sistematis.

e. Matematika sebagai bahasa artifisial

Simbol merupakan ciri yang paling menonjol dalam matematika. Bahasa

matematika adalah simbol yang bersifat artifisial, yang baru memiliki

arti bila dikenakan pada suatu konteks.

f. Matematika sebagai seni yang kreatif

Penalaran yang logis dan efisien serta perbendaharaan ide-ide dan pola-

pola yang kreatif dan menakjubkan, maka matematika sering disebut

pula sebagai seni, khususnya seni berpikir yang kreatif.

Ada yang berpendapat lain tentang matematika, yakni pengetahuan

mengenai kuantitas dan ruang, salah satu cabang dari sekian banyak cabang ilmu

yang sistematis, teratur, dan eksak. Matematika adalah angka-angka dan

perhitungan yang merupakan bagian dari hidup manusia. Matematika menolong

manusia menafsirkan secara eksak berbagai ide dan kesimpulan. Matematika

adalah pengetahuan atau ilmu mengenai logika dan problem-problem numerik.


15

Matematika membahas fakta-fakta dan hubungan-hubungannya, serta membahas

problem ruang dan waktu.19

Dari uraian definisi diatas dapat disimpulkan bahwa matematika adalah

suatu ilmu dengan objek kajian abstrak sebagai struktur yang terorganisir, sebagai

ilmu dengan pola pikir deduktif, sebagai suatu cara bernalar, serta sebagai bahasa

yang berupa simbol dan suatu seni yang kreatif.

2. Karakteristik Umum Matematika

Dalam setiap pandangan matematika terdapat beberapa ciri matematika

yang secara umum disepakati bersama. Di antaranya adalah sebagai berikut.20

a. Memiliki objek kajian yang abstrak

Ada empat objek kajian matematika, yaitu:

1) Matematika Fakta adalah pemufakatan atau konveksi dalam matematika

yang biasanya diungkapkan melalui simbol-simbol tertentu.

2) Konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan

atau mengkategorikan sekumpulan objek, apakah objek tertentu

merupakan contoh konsep atau bukan.

3) Operasi atau relasi. Operasi adalah pengerjaan hitung, pengertian aljabar,

dan pengerjaan matematika lainnya. Sementara relasi adalah hubungan

antara dua atau lebih elemen.

4) Prinsip adalah objek matematika yang terdiri atas beberapa fakta,

beberapa konsep yang dikaitkan oleh suatu relasi ataupun operasi. Secara

19
Ibid., hal. 24
20
Ibid., hal. 59
16

sederhana, dapatlah dikatakan bahwa prinsip adalah hubungan di antara

berbagai objek dasar.

b. Bertumpu pada kesepakatan

Simbol-simbol dan istilah-istilah dalam matematika merupakan kesepakatan

atau konvensi yang penting. Dengan simbol dan istilah yang telah disepakati

dalam matematika, maka pembahasan selanjutnya akan menjadi mudah

dilakukan dan dikoomunikasikan.

c. Berpola pikir deduktif

Dalam matematika, hanya diterima pola pikir yang bersifat deduktif. Pola

pikir deduktif secara sederhana dapat dikatakan pemikiran yang berpangkal

dari hal yang bersifat umum diterpakan atau diarahkan kepada hal yang

bersifat khusus.

d. Konsisten dalam sistemnya

Dalam matematiak, terdapat brbagai macam sistem yang dibentuk dari

beberapa aksioma dan memuat teorema. Ada sistem-sistem yang berkaitan,

ada sistem-sistem aljabar dengan sistem-sistem geometri dapat dipandang

lepas satu dengan yang lainnya. Di dalam sistem aljabar, terdapat pula

beberapa sistem lain yang lebih kecil yang berkaitan satu dengan yang

lainnya. Demikian pula di dalam sistem geometri.

e. Memiliki simbol yang kosong arti

Di dalam matematika, banyak sekali simbol baik yang berupa huruf latin,

huruf Yunani, maupun simbol-simbol khusus lainnya. Simbol-simbol tersebut

membentuk kalimat dalam matematika yang biasa disebut model matematika.


17

Model matematika dapat berupa persamaan, pertidaksamaan, maupun fungsi.

Selain itu, ada pula model matematika yang berupa gambar seperti bangun-

bangun geometrik, grafik, maupun diagram.

f. Memerhatikan semesta pembicaraan

Sehubungan dengan kosongnya arti dalam simbol-simbol matematika, bila

kita menggunakannya kita seharusnya memerhatikan pula lingkup

pembicaraannya. Bila kita berbicara tentang bilangan-bilangan, maka simbol

tersebut menunjukkan bilangan-bilangan pula. Benar salahnya atau ada

tidaknya penyelesaiannya suatu soal atau masalah, juga ditentukan oleh

semesta pembicaraan yang digunakan.

3. Tujuan Matematika dalam Pendidikan

Dalam dunia pendidikan, pelajaran matematika perlu diberikan kepada

semua peserta didik sejak sekolah dasar (SD), untuk membekali peserta didik

dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, kreatif, dan

kemampuan bekerja sama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik

dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan

informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti,

dan kompetitif.21

Dalam Standar Isi dinyatakan bahwa mata pelajaran matematika SMP/MTs

bertujuan agar siswa dapat:22

21
Moch. Masykur dan Abdul Halim Fathani, Mathematical Intelligence..., hal. 52
22
Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan
Penjaminan Mutu Pendidikan, Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013 SMP/MTS
Matematika (Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Budaya, 2013) hal. 267
18

a. Memiliki kemampuan berpikir kritis, logis, analitik dan kreatif, kemampuan

pemecahan masalah, dan kemampuan mengkomunikasikan gagasan serta

budaya bermatematika;

b. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan

mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan

tepat, dalam pemecahan masalah;

c. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi

matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan

gagasan dan pernyataan matematika;

d. Mengembangkan sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan,

yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari

matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah di

kehidupan sehari-hari (dunia nyata);

e. Mengembangkan sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai dalam

matematika dan pembelajarannya.

Berdasarkan uraian tersebut, dijelaskan bahwa salah satu tujuan

pembelajaran matematika adalah siswa memiliki kemampuan komunikasi

matematika yang baik. oleh karena itu akan dijelaskan mengenai kemampuan

komunikasi matematika.

B. Kemampuan Komunikasi Matematika

Safaria mengemukakan bahwa komunikasi berasal dari bahasa latin yaitu

communis yang artinya sama, kemudian menjadi communicatio yang berarti

pertukaran pikiran, selanjutnya diambil alih didalam bahasa Inggris menjadi


19

Communication. Komunikasi dapat didefinisikan sebagai sebuah proses

penyampaian informasi, pengertian dan pemahaman antara pengirim dan

penerima.23 Secara garis besar, dalam proses komunikasi haruslah terdapat unsur-

unsur kesamaan makna agar terjadi suatu pertukaran pikiran dan pengertian antar

komunikator (penyebar pesan) dan komunikan (penerima pesan).

Proses komunikasi dapat diartikan sebagai ‘transfer informasi’ atau pesan

(message) dari penerima pesan sebagai komunikator dan kepada penerima sebagai

komunikan. Dalam proses komunikasi tersebut bertujuan untuk mencapai saling

pengertian (mutual understanding) antara kedua belah pihak yang terlibat dalam

proses komunikasi. Carl I. Hovland menyatakan komunikasi adalah proses

dimana seorang individu atau komunikator stimulan biasanya dengan lambang-

lambang bahasa (verbal maupun non verbal) untuk mengubah tingkah laku orang

lain. Theodorson dan Thedorson menyatakan komunikasi adalah penyebaran

informasi, ide-ide sebagai sikap atau emosi dari seseorang kepada orang lain

terutama melaui simbol-simbol.24

Berdasarkan pengertian diatas, dapat dikatakan bahwa bahasa merupakan

salah alat terjadinya komunikasi. Matematika dapat dipandang sebagai sebuah

bahasa, karena dalam matematika terdapat sekumpulan lambang atau simbol dan

kata (baik kata dalam bentuk lambang, misalnya ‘≥’ yang melambangkan kata

“lebih besar atau sama dengan”, maupun kata yang diadopsi dari bahasa biasanya

23
T. Safaria, Metode Pengembangan Kecerdasan Interpersonal Anak. (Yogyakarta:
Amara Books, 2005), hal. 132
24
Tommy Suprapto, Pengantar Teori dan Menejemen Komunikasi. (Yogyakarta: Media
Pressindo, 2009), hal. 4-5
20

seperti kata”fungsi”, yang dalam matematika menyatakan suatu hubungan dengan

aturan tertentu, antara unsur-unsur dalam dua buah himpunan).25

Berdasarkan hal tesebut maka matematika merupakan salah satu hal yang

dapat dikomunikasikan. Komunikasi matematis dapat diartikan sebagai suatu

kemampuan siswa dalam hal menjelaskan suatu algoritma dan cara unik untuk

pemecahan masalah, kemampuan siswa mengkonstruksi dan menjelaskan sajian

fenomena dunia nyata secara grafis, kata-kata atau kalimat, persamaan, tabel dan

sajian secara fisik atau kemampuan siswa memberikan dugaan tentang gambar-

gambar geometri.26 Sedangkan pengertian lain dikemukakan oleh Yani dalam

penelitiannya, bahwa komunikasi matematis adalah kemampuan untuk

berkomunikasi yang meliputi kegiatan penggunaan keahlian menulis, menyimak,

menelaah, menginterprestasikan, dan mengevaluasi ide, simbol, istilah, serta

informasi matematika yang diamati melalui proses mendengar, mempresentasi,

dan diskusi.27

Komunikasi yang terjadi dalam matematika dapat terjadi antara lain dalam:

(a) Dunia nyata, ukuran dan bentuk lahan dalam dunia pertanian (geometri),

banyaknya barang dan nilai uang logam dalam dunia bisnis dan perdagangan

(bilangan), ketinggian pohon dan bukit (trigonometri), kecepatan gerak benda

angkasa (kalkulus), peluang dalam perjudian (probabilitas), sensus dan data

kependudukan (statistika) dan sebagainya. (b) Strktur abstrak dari suatu sistem,

25
Moch. Masykur dan Abdul Halim Fathani, Mathematical Intelligence..., hal 46
26
Ahmad Jazuli, Berfikir Kreatif dalam Kemampuan Komunikasi Matematika, (UNY:
Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika, 2009)
27
Yani Ramdani, Pengembangan Instrumen dan Bahan Ajar untuk meningkatkan
Kemampuan Komunikasi, Penalaran, dan Koneksi Matematis dalam Konsep Integral, (FMIPA
Unisba: Jurnal Penelitian Pendidikan, 2012)
21

antara lain struktur sistem bilangan (grup, ring), struktur penalaran (logika

matematika), struktur berbagai gejala dalam kehidupan manusia (pemodelan

matematika), dan sebaginya. (c) Matematika sendiri, yaitu bentuk komunikasi

yang digunakan untuk pengembangan diri matematika. Bidang ini disebut

“metamatematika”.28

(Cai, 1996; Baroody, 1993; Miriam, dkk, 2000; Karen, dkk, 2000; Sandra,

1999; David, 2000; Pugalee, 2001; Knuth, 2001) dalam Asikin dalam Eka Zuliani

menyatakan komunikasi dalam matematika dapat membantu mempertajam cara

berpikir peserta didik dan mempertajam kemampuan peserta didik dalam melihat

berbagai keterkaitan materi matematika dan dapat merefleksikan pemahaman

matematika para peserta didik, dapat mengorganisasikan dan mengkonsolidasikan

pemikiran matematika peserta didik, untuk mengkontruksikan pengetahuan

matematika, pengembangan pemecahan masalah, dan peningkatan penalaran,

menumbuhkan rasa percaya diri, peningkatan ketrampilan sosial, serta menjadi

alat yang sangat bermakna untuk membentuk komunitas matematika yang

inklusif.29

Menurut Asikin dalam M. Darkasyi, uraian tentang peran penting

komunikasi dalam pembelajaran matematika dideskripsikan sebagai berikut:

1. Komunikasi dimana ide matematika dieksploitasi dalam berbagai perspektif,

membantu mempertajam cara berpikir siswa dan mempertajam kemampuan

siswa dalam melihat berbagai keterkaitan materi matematika.

28
Moch. Masykur dan Abdul Halim Fathani, Mathematical Intelligence..., hal. 51
29
Eka Zuliana, Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematika Peserta Didik Kelas
VIII B MTsN Kududs Melalui Model Cooperative Learning Tipe Jigsaw Berbantuan Kartu
Masalah Materi Kubus dan Balok (UMK: Jurnal Penelitian)
22

2. Komunikasi merupakan alat untuk “mengukur” pertumbuhan pemahaman,

dan merefleksikan pemahaman matematika para siswa.

3. Melalui komunikasi, siswa dapat mengorganisasikan dan

mengkonsolidasikan pemikiran matematika mereka.30

Terdapat berbagai bentuk komunikasi matematis, misalnya (1) Merefleksi

dan mengklarifikasi pemikiran tentang ide- ide matematika, (2) menghubungkan

bahasa sehari-hari dengan bahasa matematika yang menggunakan simbol-simbol,

(3) menggunakan keterampilan membaca, mendengarkan, menginterpretasikan,

dan mengevaluasi ide-ide matematika, (4) menggunakan ide-ide matematika

untuk membuat dugaan (conjecture) dan membuat argument yang meyakinkan.

Sedangkang menurut Vermont Departement of Education, komunikasi matemtais

melibatkan 3 aspek, yaitu: (1) menggunakan bahasa matematika secara akurat dan

menggunakannya untuk mengkomunikasikan aspek-aspek penyelesaian masalah,

(2) menggunakan representasi matematika secar akurat untuk

mengkomunikasikan pemecahan masalah, (3) mempresentasikan penyelesaian

masalah yang terorganisasi dan tersusun secara baik.

Komunikasi matematis mencakup komunikasi tertulis maupun lisan atau

verbal. Komunikasi tertulis dapat berupa penggunaan kata- kata, gambar, tabel,

dan sebagainya yang menggambarkan proses berpikir siswa. Komunikasi tertulis

juga dapat berupa uraian pemecahan masalah atau pembuktian matematika yang

menggambarkan kemampuan siswa dalam mengorganisasi berbagai konsep untuk

30
Muhammad Darkasyi, dkk, Peningkatan Kemampuan Komunikasi .... (Jurnal Didaktika
Matematika: ISSN 2355-4182, Vol. 1, No. 1, April 2014)
23

menyelesaikan masalah. Sedangkan komunikasi lisan dapat berupa pengungkapan

dan penjelasan verbal atau gagasan matematika. Komunikasi lisan dapat terjadi

melalui interaksi antar siswa misalnya dalam pembelajaran dengan setting diskusi

kelompok.31

C. Indikator Kemampuan Komunikasi Matematika

Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan komunikasi matematika siswa,

dapat diukur melalui indikator-indikator kemampuan komunikasi matematika.

Terdapat berbagai macam pendapat mengenai indikator kemampuan komunikasi

matematika. NCTM (National Council Of Teacher Of Mathematics) menyebutkan

standar komunikasi matematis yang menekankan kemampuan siswa dalam hal:

a. Mengatur dan mengkonsolidasikan pemikiran pemikiran matematis

(mathematical thinking) mereka melaui komunikasi.

b. Mengkomunikasikan mathematical thinking mereka secara koheren (tersusun

secara logis) dan jelas kepada teman-temannya, guru dan orang lain.

c. Menganalisis dan mengevaluasi pemikiran matematis (mathematical

thinking) dan stategi yang dipakai orang lain.

d. Menggunakan bahasa matematika untuk mengekspresikan ide-ide matematika

secara benar.32

Indikator kemampuan komunikasi matematika menurut Sumarmo (2003)

adalah sebagai berikut.33

31
Ibid.
32
NCTM, Principles And Standar For School Mathematics, (The National Council Of
Teacher Of Mathematics, 2000), hal. 268
24

a. Menghubungkan benda nyata, gambar, dan diagram ke dalam ide

matematika.

b. Menjelaskan ide, situasi, dan relasi matematika secara lisan atau tulisan,

dengan benda nyata, gambar, grafik, dan aljabar.

c. Menyatakan peristiwa sehari–hari dalam bahasa/simbol matematika.

d. Mendengarkan, berdiskusi, dan menulis tentang matematika.

e. Membaca presentasi matematika evaluasi dan menyusun pertanyaan yang

relevan.

f. Menyusun argumen, merumuskan definisi, dan generalisasi.

Kartono dan Sunarmi menyebutkan indikator-indikator kemampuan

komunikasi matematika tertulis meliputi:34

1. Kemampuan mengekspresikan ide-ide matematis melalui tulisan

2. Kemampuan mendemonstrasikan ide-ide matematis secara tulisan

3. Kemampuan menggambarkan ide-ide matematis secara visual

4. Kemampuan mengevaluasi ide-ide secara tulisan

5. Kemampuan dalam menggunakan istilah-istilah, notasi-notasi matematika,

dan struktur-strukturnya untuk menyajikan ide-ide.

Berdasarkan uraian di atas, dalam menganalisis kemampuan komunikasi

matematika tertulis siswa dalam menyelesaikan soal, indikator atau kriteria yang

dibahas dalam penelitian ini meliputi:

33
Fitria Rahmawati, Pengaruh Pendekatan Pendidikan Realistik Matematika dalam
Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematika Siswa Sekolah Dasar, (Lampung: Makalah
Seminar, 2013)
34
Kartono dan Sunarmi, Analisis Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa Kelas VIII
SMP pada Model Pembelajaran TSTS dengan Pendekatan Scientific (Semaran: Jurnal Pendidikan
Matematika Unnes, 2015)
25

1. Kemampuan mengekspresikan ide-ide matematika

2. Kemampuan memahami, menginterpretasikan dan mengevaluasi ide-ide

matematika

3. Kemampuan dalam menggunakan istilah, simbol, notasi dan stukturnya

untuk menyajikan ide matematika.

D. Tinjauan Materi Lingkaran

1. Unsur-unsur lingkaran

Lingkaran adalah himpunan semua titik-titik pada

bidang datar yang berjarak sama terhadap suatu titik

tertentu, yang disebut titik pusat. Jarak yang sama

tersebut disebut jari-jari. Nama lingkaran biasanya


Lingkaran P
sesuai dengan nama titik pusatnya. Pada gambar di
Gambar 2.1
samping contoh bentuk lingkaran P. pusat lingkaran tersebut adalah titik P. Jarak

yang tetap antara titik pada lingkaran dengan pusat lingkaran dinamakan jari-jari,

biasanya disimbolkan r.

a. Unsur-unsur lingkaran yang berupa garis dan ciri-cirinya

1) Busur adalah himpunan titik-titik yang berupa kurva lengkung (baik

terbuka atau tertutup) dan berhimpit dengan

lingkaran.

Ciri-ciri busur:

a) Berupa kurva lengkung


Busur Lingkaran
b) Berhimpit dengan lingkaran
Gambar 2.2
26

c) Jika kurang dari setengah lingkaran (busur minor), dan jika lebih dari

setengah lingkaran (busur mayor).

Pada lingkaran O di samping, garis lengkung AC yang disimbolkan

dengan adalah busur lingkaran O.

2) Jari-jari adalah ruas garis lurus yang menghubungkan titik pada lingkaran

dengan titik pusat. Jari-jari pada lingkaran disimbolkan r.

Ciri-ciri jari-jari:

a) Berupa ruas garis O r A


b) Menghubungan titik pada lingkaran dengan

titik pusat.
Jari jari lingkaran
Pada gambar 2.3, garis AO adalah jari-jari Gambar 2.3

lingkaran O. Sehingga r =

3) Diameter adalah ruas garis lurus yang menghubungkan dua titik pada

lingkaran dan melalui titik pusat. Atau tali busur yang melalui titik pusat.

Atau ruas garis lurus terpanjang yang menghubungkan dua titik pada

lingkaran. Diameter pada lingkaran

disimbolkan dengan d.
A O
Ciri-ciri diameter:
B
a) Berupa ruas garis

b) Menghubungkan dua titik pada lingkaran Diameter lingkaran


Gambar 2.4
dan melalui titik pusat lingkaran.

Pada lingkaran di samping garis AB adalah diameter lingkaran, sehingga d

=
27

4) Tali busur adalah ruas garis lurus yang kedua titik ujungnya pada

lingkaran. Atau ruas garis lurus yang menghubungkan dua titik pada

lingkaran.

Ciri-ciri tali busur:


O
a) Berupa ruas garis P

b) Menghubungkan dua titik pada lingkaran Q

pada lingkaran di samping garis PQ adalah Tali busur lingkaran O


Gambar 2.5
tali busur dari lingkaran O.

5) Apotema adalah ruas garis terpendek yang menghubungkan titik pusat

dengan titik pada tali busur.

Ciri-ciri apotema:

a) Berupa ruas garis R


P
b) Menghubungkan titik pusat dengan satu S
Q
titik di tali busur
Apotema lingkaran R
c) Tegak lurus dengan tali busur. Gambar 2.6

Pada lingkaran R tersebut garis RS adalah apotema lingkaran R.

b. Unsur-unsur lingkaran yang berupa luasan dan ciri-cirinya

1) Juring adalah daerah di dalam lingkaran yang

dibatasi oleh busur dan dua jari-jari.

Ciri-ciri juring:

a) Berupa daerah di dalam lingkaran

b) Dibatasi oleh dua jari-jari dan satu busur


Juring lingkaran
lingkaran
Gambar 2.7
28

c) Jari-jari yang membatasi memuat titik ujung busur lingkaran

Pada gambar 2.6, juring lingkaran di tunjukkan oleh wilayah arsir

yang dibatasi oleh garis OB, garis OA dan busur AB.

2) Tembereng adalah daerah di dalam lingkaran

yang dibatasi oleh tali busur dan busur.

Ciri-ciri tembereng:

a) Berupa daerah di dalam lingkaran


Tembereng lingkaran
b) Dibatasi oleh tali busur dan busur lingkaran. Gambar 2.7

Pada gambar 2.8 daerah yang dibatasi oleh garis AB dan garis

lengkung (busur) AB adalah tembereng lingkaran O.

Selain istilah-istilah di atas, terdapat satu istilah lagi yang erat kaitannya

dengan lingkaran, yaitu sudut pusat. Sudut pusat yaitu sudut yang titik pusatnya

adalah titik pusat lingkaran. Ciri-ciri sudut pusat antara lain:

a. Terbentuk dari dua sinar garis (kaki sudut)

b. Kaki sudut berhimpit dengan jari-jari lingkaran

c. Titik sudut berhimpit dengan titik pusat lingkaran

Dalam hal ini siswa diharapkan mampu memahami dan menjelaskan istilah-

istilah, simbol dan notasi dalam unsur-unsur lingkaran. Siswa juga diharapkan

mampu menyebutkan dan menggunakan simbol-simbol, notasi maupun gambar

dalam menyajikan ide matematikanya mengenai unsur-unsur lingkaran. Contoh

menggunakan simbol r sebagai jari-jari, α sebagai sudut pusat, (pada gambar

2.7) sebagai tali busur dan lain sebagainya.


29

2. Sudut pusat dan sudut keliling lingkaran

Sudut keliling adalah sudut yang kaki sudutnya

berhimpit dengan tali busur, dan titik pusatnya berhimpit

dengan suatu titik pada lingkaran. Perhatikan sudut

keliling ABC pada lingkaran O di samping. Kaki-kaki


Sudut pusat lingkaran
sudut ABC (sinar BA dan sinar BC) Gambar 2.9
memotong lingkaran di titik A dan C. Dengan kata lain

sudut keliling ABC menghadap busur AC.

Besar sudut keliling yang menghadap busur tertentu

adalah setengah dari sudut pusat yang menghadap busur


keliling lingkaran
Gambar 2.10 yang sama. Perhatikan lingkaran O di samping. Besar sudut

ACB adalah setengah dari sudut AOB.

Segiempat tali busur adalah segiempat yang ke empat titik sudutnya

berimpit dengan suatu lingkaran. Gabungan busur-busur yang dihadapi oleh

masing-masing sudut keliling yang saling berhadapan adalah lingkaran. Sehingga,

pada segiempat tali busur, jumlah sudut yang berhadapan adalah 180o.

Dalam hal ini, siswa diharapkan minimal mampu menyajikan sudut pusat

dan sudut keliling lingkaran dalam bentuk gambar. siswa juga diharapkan mampu

menunjukkan sudut pusat maupun sudut keliling lingkaran pada kehidupan sehari-

hari.

3. Panjang busur dan luas juring lingkaran

Rumus keliling lingkaran:


30

Keterangan : K = keliling lingkaran

d = diameter

Rumus luas lingkaran:

Keterangan: L = luas lingkaran

r = jari jari lingkaran

Menentukan panjang busur dan luas juring lingkaran

Perhatikan lingkaran O di samping. Garis lengkung AB

dinamakan busur AB dan daerah yang diarsir disebut

sebagai juring AOB. Adapun sudut yang dibentuk oleh

jari-jari OA dan OB, serta menghadap ke busur AB dinamakan sudut pusat

lingkaran. Nilai perbandingan antara sudut pusat dengan sudut satu putaran,

panjang busur dengan keliling lingkaran, serta luas juring dengan luas

lingkaran adalah sama. Jadi, dapat dituliskan:

Berdasarkan perbandingan tersebut diperoleh:

Rumus panjang busur Luas juring lingkaran

dan Keterangan: α = sudut pusat


Keterangan: α = sudut pusat
L = luas lingkaran
K = keliling lingkaran
31

Dalam hal ini siswa diharapkan mampu mengekspresikan dan

menginterpretasikan ide matematika mereka, misalnya siswa mampu

mendefinisikan rumus-rumus luas, keliling, luas juring lingkaran dan lain

sebaginya. Siswa juga hiharapkan mampu menggunakan istilah, simbol,

notasi dan stukturnya untuk menyajikan ide matematika.

E. Penelitian Terdahulu

Penelitian yang dilakukan merupakan pengembangan dari hasil penelitian

sebelumnya. Sebagai bahan informasi dan untuk menghindari terjadinya

pengulangan hasil temuan yang membahas permasalahan yang sama, maka

peneliti mencantumkan beberapa kajian terdahulu yang relavan. Adapun beberapa

bentuk tulisan penelitian terdahulu yang relavan adalah sebagai berkut:

1. Penelitian yang dilakukan oleh Erni Wulandari dengan judul “Profil

Komunikasi Matematis Ditinjau dari Gaya Kognitif Peserta Didik Kelas VIII

Materi Pokok Fungsi di MTs Darul Falah Sumbergempol Tahun Ajaran

2015/2016”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui a) komunikasi

metematis secara verbal (lisan) ditinjau gaya kognitif field dependent peserta

didik kelas VIII, b) komunikasi matematis secara non verbal (tertulis) ditinjau

gaya kognitif field dependent peserta didik kelas VIII, c) komunikasi

metematis secara verbal (lisan) ditinjau gaya kognitif field independent

peserta didik kelas VIII, dand) komunikasi matematis secara non verbal

(tertulis) ditinjau gaya kognitif field independent peserta didik kelas VIII.

Hasil penelitian Erni Wulandari menunjukkan bahwa:


32

a. Hasil penelitian pada peserta didik field dependent menunjukkan bahwa 1)

komunikasi matematis secara verbalnya sebagai berikut: a) kurang aktif

menyampaikan pemikiran matematisnya ketika mengikuti pembelajaran di

kelas, b) mengkonstruksi dan mengkonsolidasi pemikiran matematisnya

masih kurang cermat dan teliti, c) masih terlihat ragu-ragu, berbicara pelan

dan kurang cermat dalam mengkomunikasikan pemikiran matematisnya

secara koheren dan jelas, d) cara menganalisis dan mengevaluasi pemikiran

matematis dan strategi yang digunakan oleh orang lain secara singkat dan

kurang benar, e) cukup mampu menggunakan bahasa matematika dalam

mengekspresikan ide matematisnya dengan baik dan benar walaupun ada

yang salah pengucapan. 2) Komunikasi matematis secara non verbalnya

sebagai berikut: a) cukup mampu mengerjakan tugas yang diberikan guru

secara mandiri, tetapi masih cukup sering melihat jawaban temannya, b) cara

mengkonstruksi dan mengkonsolidasi pemikiran matematisnya masih kurang

sesuai dengan prosedur yang benar, c) masih terdapat banyak kesalahan

dalam mengkomunikasikan pemikiran matematisnya secara koheren dan

jelas, d) kurang mampu menganalisis dan mengevaluasi hasil pemikiran

matematis dan strategi yang digunakan orang lain secara lengkap dan benar,

e) kurang cermat dalam menggunakan bahasa matematika dalam

mengekspresikan ide matematikanya secara baik dan benar. Terlihat ada

kesalahan dalam penulisan lambang dan simbolnya.

b. Hasil penelitian pada peserta didik field independent menunjukkan bahwa: 1)

Komunikasi matematis secara verbalnya sebagai berikut: a) aktif


33

menyampaikan pemikiran matematisnya ketika mengikuti pembelajaran di

kelas, b) mampu mengkonstruksi dan mengkonsolidasi pemikiran

matematisnya dengan teliti dan cermat. c) percaya diri, tegas, dan cermat

dalam mengkomunikasikan pemikiran matematisnya secara koheren dan

jelas, d) cara menganalisis dan mengevaluasi pemikiran matematis dan

strategi yang digunakan orang lain dengan memberikan tanggapan yang

cukup lengkap dan mudah dipahami, e) peserta didik field independent

mampu menggunakan bahasa matematika dalam mengekspresikan ide

matematikanya secara baik dan benar, terlihat fasih dalam pengucapan simbol

dan lambang matematikanya. 2) Komunikasi matematis secara non verbalnya

sebagai berikut: a) mampu mengerjakan tugas yang diberikan guru secara

mandiri dan cepat, b) mampu mengkonstruksi dan mengkonsolidasi

pemikiran matematikanya dengan cermat dan benar, c) mampu

mengkomunikasikan pemikiran matematisnya secara koheren dan jelas

walaupun penulisan langkah-langkahnya singkat, d) mampu menganalisis dan

mengevaluasi hasil pemikiran dan strategi orang lain dengan memberikan

tanggapan dengan baik dan benar, e) mampu menggunakan bahasa

matematika dalam mengekspresikan ide matematikanya dengan cermat, benar

dan sesuai kaidah yang berlaku.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Dwi Terry Fahmiyati yang berjudul “Profil

Kemampuan Komunikasi Matematis Berdasarkan Kemampuan Akademis

MTs Negeri Karangrejo”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

kemampuan komunikasi matematis pada siswa berkemampuan tinggi kelas


34

VII- A (Unggulan) MTs Negeri Krangrejo, untuk mengetahui kemampuan

komunikasi matematis pada siswa berkemampuan sedang kelas VII- A

(Unggulan) MTs Negeri Karangrejo, dan untuk mengetahui kemampuan

komunikasi matematis pada siswa berkemampuan rendah kelas VII- A

(Unggulan) MTs Negeri Karangrejo.

Dari penelitian yang dilakukan oleh Dwi Terry Fahmiyati diperoleh

suatu gambaran tentang bagaimana kemampuan komunikasi baik verbal

maupun non verbal anak kelas VII- A (Unggulan) MTs Negeri Karangrejo

berdasarkan jenjang kemampuan tinggi, rendah, sedang. Diperoleh hasil jika

anak dengan kemampuan tinggi mampu menuntaskan hampir semua kriteria

komunikasi yang dijadikan acuan. Sedangkan anak dengan kemampuan

sedang kurang memenuhi kriteria-kriteria komunikasi matematis walau anak

telah mampu menyusun suatu argumen. Sedangkan anak dengan kemampuan

rendah masih jauh dari harapan untuk memenuhi kriteria komunikasi

matematis.

3. Penelitian yang dilakukan oleh Ika Kartini Ningtyas yang berjudul “Profil

Kemampuan Komunikasi Matematika Siswa Kelas VIII MTs Sultan Agung

Jabalsari dalam Memahami Pokok Bahasan Garis Singgung Lingkaran

Berdasarkan Kemampuan Matematika”. Tujuan penelitian dalam penulisan

skripsi ini adalah (1) mendiskripsikan profil kemampuan komunikasi

matematika siswa berkemampuan tinggi kelas VIII MTs Sultan Agung

Jabalsari dalam memahami pokok bahasan garis singgung lingkaran, (2)

mendiskripsikan profil kemampuan komunikasi matematika siswa


35

berkemampuan sedang kelas VIII MTs Sultan Agung Jabalsari dalam

memahami pokok bahasan garis singgung lingkaran, (3) mendiskripsikan

profil kemampuan komunikasi matematika siswa berkemampuan rendah

kelas VIII MTs Sultan Agung Jabalsari dalam memahami pokok bahasan

garis singgung lingkaran.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Ika Kartini Ningtyas

diketahui bahwa profil siswa berkemampuan tinggi memenuhi semua

indikator komunikasi matematis, yaitu; (1) menggambarkan situasi masalah

dan menyatakan solusi masalah menggunakan gambar, bagan tabel, dan

secara aljabar; (2) menyatakan hasil dalam bentuk tertulis; (3) menggunakan

representasi menyeluruh untuk menyatakan konsep matematika dan solusi;

(4) membuat situasi matematika dengan menyediakan ide dan keterangan

dalam bentuk tertulis; (5) menggunakan bahasa matematika dan simbol secara

tepat, sedangkan profil siswa berkemampuan sedang memenuhi empat

indikator dari lima indikator komunikasi matematis, yaitu; (1)

menggambarkan situasi masalah dan menyatakan solusi masalah

menggunakan gambar, bagan tabel, dan secara aljabar; (2) menyatakan hasil

dalam bentuk tertulis; (3) menggunakan representasi menyeluruh untuk

menyatakan konsep matematika dan solusi; (4) menggunakan bahasa

matematika dansimbol secara tepat, dan profil siswa berkemampuan rendah

memenuhi satu indikator dari lima indikator komunikasi matematis, yaitu; (1)

menyatakan hasil dalam bentuk tertulis.


36

4. Penelitian yang dilakukan oleh Ahdin Nurussalam yang berjudul “Analisis

Kemampuan Siswa Dalam Mengomunikasikan Soal Cerita Menjadi Kalimat

Matematika Pada Materi Volume Kubus dan Balok Kelas VIII SMPN 4

Tulungagung”. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan bahwa

kemampuan siswa SMPN 4 Tulungagung dalam mengomunikasikan soal

cerita menjadi kalimat matematika sangat penting sekali guna mengetahui

pemaham siswa terhadap konsep matematika yang telah dijelaskan oleh guru

dan peneliti menganalisis kemampuan komunikasi matematika pada

pembelajaran dan pekerjaan siswa guna meningkatkan kemampuan

komunikasi matematika siswa.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ahdin Nurussalam menunjukan

bahwa kemampuan siswa kelas VIII-K di SMPN 4 Tulungagung dalam

mengomunikasikan soal cerita menjadi kalimat matematika sudah sangat baik

sekali, meskipun ada beberapa siswa yang masih kurang mampu dalam

mengomunikasikan soal cerita menjadi kalimat matematika. Kebanyakan

siswa dalam mengerjakan soal cerita kurang mampu memahami maksud dari

soal cerita, kurangnya teliti dalam pengerjaannya, dan kurang memahami

konsep dalam materi kubus dan balok. Untuk meningkatkan kemampuan

komunikasi siswa ada beberapa cara yaitu a.) keaktifan siswa saat

pembelajaran berlangsung lebih ditekankan lagi, disini guru dapat

menerapkan suatu metode yang dapat mendorong siswa yang tidak aktif

menjadi aktif dalam pembelajaran. b.) konsep-konsep dasar dalam

pembelajaran matematika lebih ditekankan lagi, sehingga siswa lebih paham


37

akan konsep matematika dan siswa akan mudah dalam mengekspresikan ide-

ide matematika. c.) banyak berlatih mengerjakan latihan dengan model soal

cerita, dan belajar memahami maksud dari saoal cerita tersebut, d)

menciptakan situasi dan kondisi kelas yang kondusif saat pembelajaran

berlangsung dan e) dalam proses pembelajaran diterkaitkan dengan

kehidupan nyata agar siswa lebih paham.

Tabel 2.1 Persamaan dan Perbedaan Skripsi Peneliti dengan Skripsi


Terdahulu
No. Judul Tahun Persamaan Perbedaan
1. Profil Komunikasi 2015  Pendekatan dan  Lokasi dan tahun
Matematis jenis penelitian, pelaksanaan
Ditinjau dari Gaya serta jumlah penelitian.
Kognitif Peserta subjek sama.  Materi yang
Didik Kelas VIII  Subjek penelitian digunakan fungsi
Materi Pokok kelas VIII MTs. sedangkan dalam
Fungsi di MTs penelitian ini
Darul Falah menggunakan
Sumbergempol materi lingkaran
Tahun Ajaran Kemampuan
2015/2016 komuniksi siswa
ditinjau dari gaya
kognitif,
sedangkan dalam
penelitian ini
kemampuan
komuniksi ditinjau
dari segi
kemampuan
matematika
2. Berdasarkan 2015  Pendekatan dan  Lokasi dan tahun
Kemampuan jenis penelitian pelaksanaan
Akademis MTs yang digunakan penelitian.
Negeri Karangrejo  Subjek penelitian
siswa kelas VII
MTs, sedangkan
dalam penilitian ini
subjek penelitain
siswa kelas VIII
MTs
3. Profil Kemampuan 2011  Pendekatan dan  Lokasi dan tahun
Komunikasi jenis penelitian pelaksanaan
Matematika Siswa yang digunakan penelitian.
38

Lanjutan tabel 2.1...


No. Judul Tahun Persamaan Perbedaan
Kelas VIII MTs  Membahas  Materi yang
Sultan Agung kemampuan digunakan garis
Jabalsari dalam komuniksi singgung lingkaran
Memahami Pokok matematika sedangkan dalam
Bahasan Garis siswa penelitian ini
Singgung  Subjek lingkaran.
Lingkaran penelitian siswa
Berdasarkan kelas VIII
Kemampuan
Matematika
4. Analisis 2014/2015  Pendekatan dan  Lokasi dan tahun
Kemampuan Siswa jenis penelitian pelaksanaan
Dalam yang digunakan penelitian.
Mengomunikasikan  Membahas  Materi yang
Soal Cerita kemampuan digunakan Volume
Menjadi Kalimat komuniksi kubus dan balok
Matematika Pada matematika sedangkan dalam
Materi Volume siswa penelitian ini
Kubus dan Balok  Subjek lingkaran.
Kelas VIII SMPN penelitian siswa
4 Tulungagung kelas VIII

F. Kerangka Berfikir Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti bermaksud mengetahui kemampuan

komunikasi siswa dalam menyelesaikan soal materi lingkaran pada kelas VIII

MTsN Jambewangi Selopuro Blitar tahun ajaran 2016/2017. Penelitian ini

dilakukan dengan memberikan tes dalam bentuk uraian atau essay yang

dilanjutkan dengan kegiatan wawancara. Kegiatan wawancara dilakukan bersama

6 siswa yang dipilih sebagai sampel berdasarkan tingkat kemampuan matematika

siswa. Dari penelitian ini nanti akan diketahui bagaimana kemampuan komunikasi

matematika siswa dalam menyelesaikan soal terkait materi lingkaran.

Semantara itu, dalam penelitian ini ada tiga indikator yang digunakan

dalam mengukur kemampuan komunikasi siswa yaitu: kemampuan


39

mengekspresikan ide-ide matematika, kemampuan memahami,

menginterpretasikan dan mengevaluasi ide-ide matematika, kemampuan dalam

menggunakan istilah, simbol, notasi dan stukturnya untuk menyajikan ide

matematika. Berdasarkan uraian di atas, maka kerangka berpikir penelitian ini

adalah sebagai berikut.

Indikator 1
Kemampuan a. Siswa mampu mengekspresikan
komunikasi ide matematika
b. Siswa belum mampu
matematika siswa a
mengekspresikan ide
matematika

Indikator 2
a. Siswa mampu memahami,
menginterpretasikan dan
mengevaluasi ide matemaika
b. Siswa belum mampu
Analisis Kemampuan memahami,
menginterpretasikan dan
komunikasi
mengevaluasi ide matemaika
b
matematika
Indikator 3
a. Siswa mampu menggunakan
c istilah, simbol, notasi, dan
strukturnya untuk menyajikan
ide matematika
Perbaikan pembelajaran
b. Siswa belum mampu
untuk meningkatkan menggunakan istilah, simbol,
kemampuan komunikasi notasi, dan strukturnya untuk
menyajikan ide matematika
matematika siswa

Gambar 2.11 Kerangka Berpikir Penelitian


40

Keterangan:

(a) : menunjukkan

(b) : diperlukan

(b) : tujuan

Anda mungkin juga menyukai