REKAYASA IDE
PERENCANAAN SISTEM OPRASI TENAGA LISTRIK
Mata Kuliah : Perencanaan Sistem Tenaga Listrik
Oleh :
1. FEBRIYANI GINTING (5151131018)
PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2021
KATA PENGANTAR
Penulis memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
berkat izin-Nya Rekayasa Ide ini dapat penulis selesaikan dengan baik. Rekayasa Ide
yang diambil dari perkuliahan perencanaan Sistem Tenaga Listrik ini ditujukan
sebagai pegangan ataupun referensi bagi penulis khususny dan bagi semua orang
umumnya.
Dalam penyusunannya, penulis menyadari bahwa tanpa bimbingan, bantuan
dan doa dari pihak lain mustahil makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
semua pihak yang telah membantu dalam proses penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa mungkin masih terdapat banyak kesalahan dalam
penulisan makalah ini. Oleh karena itu, krtik dan saran dari pembaca akan sangat
bermanfaat bagi penulis. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang
membacanya.
Medan, April 2021
PENULIS
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
METODOLOGI DAN DESAIN SISTEM DISTRIBUSI LISTRIK
Perancangan distribusi energi listrik adalah dengan menetapkan dan menggambarkan
diagram satu garis panel, Tujuan dari diagram satu garis panel adalah deskripsi rencana isi
sistem proteksi yang ada di dalam panel, deskripsi rencana kabel yang akan menghubungkan
panel dengan beban maupun deskripsi jenis penghantar yang akan digunakan antar panel atau
transformator. Perancangan diagram sistem distribusi kelistrikan gedung dimulai dengan
merancang sistem dari sisi beban (load).beban dapat berupa jenis elektrikal seperti beban
penerangan, beban stop kontak, beban AC, Beban Ventilasi udara, beban motor, dan lain
sebagainya. Beban juga ada dari jenis beban elektronik dan biasa diatur khusus dalam diagram
rencana satu garis tersendiri. Beban elektronik meliputi : sistem alarm kebakaran (Fire Alarm
System), sistem suara (Sound System), sistem telepon, sistem kamera keamanan (CCTV), sistem
televisi kabel (MATV) dan lain sebagainya.30C
2 Panel Beban dan Panel Utama Distribusi (MDB) Panel beban adalah panel yang langsung
berhubungan dengan equipment seperti lampu, AC, Pompa, Lift dsb. Sedangkan Panel utama
distribusi (MDB) adalah panel yang berisi panel-panel beban.
Langkah-langkah yang perlu diambil dalam merancang diagram rencana panel distribusi
adalah :
1. Membuat diagram satu garis yang menghubungkan panel distribusi dengan beban.
a. Beban dirancang dalam satuan watt, karena di Indonesia untuk acuanenergi yang
tertera pada armatur biasanya dalam satuan watt. Sehinggabisa memudahkan
dalam suplai material.
b. Beban diusahakan diatur seimbang pada masing-masing tarikan fasa R, fasa S,
dan fasa T agar tidak banyak arus mengalir ke kawat netral.
2. Menentukan kabel untuk masing-masing tarikan ke beban.
a. Tarikan ke beban yang berupa instalasi penerangan harus menggunakankabel
tembaga minimal 1,5 mm2 (PUIL 2000). Pada umumnya paraperancang
merekomendasikan kabel NYM 3 1,5 mm2 untuk instalasipenerangan pada
gedung bertingkat. Tiga kawat dalam tiap tarikantersebut adalah untuk
keperluan kabel fasa, kabel netral dan kabelpentanahan.
b. Kabel pentanahan di gedung bertingkat adalah untuk proteksi internalarus lebih
terutama peluang kemungkinan tersambar petir yang besarkarena
[Link] ke beban yang berupa instalasi stop kontak minimal
harusmenggunakan kabel tembaga minimal 2,5 [Link] untuk
menghitung besar penampang bisa dilihat pada rumushitungan besar
penampang kabel di [Link] yang tidak besar atau kurang dari 1500 watt
dapat diparareldalam satu tarikan kabel.
3. Menentukan proteksi arus lebih untuk masing-masing tarikan kabel.
a. Ampere frame MCB yang biasa diproduksi di pabrik adalah MCB 4A, MCB 6A,
MCB 10A, MCB 16A, MCB 20A, MCB 25A, MCB 35A,MCB 50A, MCB 63A, dll.
b. b. Besar rating dapat dihitung dengan rumus hitungan pembahasan.
4. enentukan busbar untuk panel.
a. Busbar dapat dihitung dengan cara yang mirip mencari penampangkabel yaitu
menghitung arus nominalnya dahulu.
b. Busbar yang diproduksi oleh pabrik adalah sesuai dengan tabel standarbusbar
yang ada di PUIL 2000 (dapat dilihat di lampiran).
5. Menentukan proteksi incoming panel. Dalam perancangan panel ruangan, sesuai
dengan pernyataan dalam PUIL 2000 tentang batasan aplikasi panel distribusi yaitu
bahwa pada setiap penghantar keluar ke beban setidaknya dipasang satu proteksi arus
dan dalam satu ruangan harus ada saklar putus hubung.
6. Menentukan besar penampang grounding panel. Proteksi arus lebih dapat berupa
saklar hubung putus seperti: MCB,MCCB atau ACB, dengan tujuan utama adalah:
a. Pengisolasian terhadap gangguan ruangan agar gangguan tidak jugaberdampak
ke Area lain.
b. Pengisolasian ketika pemeliharaan atau ketika ada pelayanan kerusakan atau
penambahan instalasi di dalam ruangan. Hal ini sesuai dengan PUIL 2000 yang
menyatakan bahwa saklar putus hubung ini sudah seharusnya dilengkapi
proteksi terhadap arus lebih dan untuk besar saklar putus hubung ini adalah
minimal memiliki ketahanan sama besar dengan arus hubung pendek yang
mungkin terjadi dalam rangkaian yang diamankan. Kabel instalasi ke beban
penerangan harus selalu dari jenis tembaga [Link] jika kabel itu untuk kabel
feeder atau berupa kabel berpenampang lebihbesar, bisa menggunakan jenis
tembaga atau menggunakan jenis aluminium. A. Busbar Untuk menghitung besar
luas penampang busbar panel dapat menggunakan Tabel seperti pada tabel
mencari besar luas penampang kabel tembaga yaitu:
Ukuran Rel Tembaga B. Kabel Grounding = 50%..(3.6) Dengan, A GND = Luas penampang
kabel grounding panel (mm2) A FEEDER = Luas penampang kabel pada sirkit akhir (mm2) Jadi
kabel Grounding yang digunakan untuk instalasi kabel PDTM ke Panel CPGS adalah BC 120 mm2
= 50% x 240mm2 ~ BC 120mm Panel Distribusi Tegangan Rendah (PDTR) Beban panel-panel
distribusi seperti lighting panel, Power Panel & VAC Panel kemudian dijumlahkan dan
dikumpulkan di Panel Distribusi Tegangan Rendah (PDTR) ini. Dari panel PDTR inilah dapat
diketahui seberapabesar kapasitas beban keseluruhan yang diperlukan oleh gedung. Langkah
yang perlu diambil dalam merancang diagram panel induk tegangan rendah (PDTR) ini adalah:
a. Membuat diagram satu garis yang berisi rincian beban-beban panel distribusidari lantai-
lantai yang ada dalam gedung, panel suplai darurat (panel emergency).
b. Menentukan kabel feeder untuk masing-masing konduktor penghubung panel.
c. Menentukan proteksi arus lebih untuk masing-masing kabel feeder tersebut.
d. Menentukan busbar untuk panel. 5. Menentukan saklar incoming panel.
e. Menentukan besar penampang grounding. Karena panel PDTR adalah panel induk
tegangan rendah dari beberapa atausemua panel subdistribusi yang ada maka
pengaman arus lebih di dalam panelpdtr biasanya memiliki rating yang tinggi. Dan
sebagai pengaman arus lebih yangdi dalam panel PDTR ini bisa digunakan MCCB atau
ACB Kapasitor Pemasangan kapasitor (capacitor bank) sebagai perbaikan faktor daya
(cos φ) dapat dihitung sebagai berikut :
Di mana : Q = P x K (3.7) Dengan, Q = Besarnya kapasitor Bank untuk kompensasi beban reaktif (
kvar ) P = Total Daya aktual ( KW ) K = Faktor pengali perbaikan faktor daya ( Cos ɸ awal
diharapkan Faktor pengali Lihat tabel ) Cos ɸ Tabel 3.2 Pengali Power Factor/ Cos ɸ Kinerja
Kapasitor Bank Untuk memastikan seberapa besar kinerja Capacitor Bank bisa dilakukan dengan
cara :CXDF7
Melihat muncul tidaknya biaya KVARH pada rekening PLN. Jika muncul biaya maka capacitor
Bank tidak efektif 2. Melihat langsung penunjukan Cos ϴ pada display power factor controler.
( > 0,85 ) 3. Pengukuran arus capacitor (Amper) pada masing masing phase capacitor Ic = Qc /
( 1,73 x VL ) (3.8 ) Contoh : Capacitor Bank 200 kvar, ( 50 KVAR x 4 step. ) Ic = / (1,73 x 400 ) =
72,2 A Seiring dengan waktu nilai Qc dan Ic ini akan menurun. Pada jangka waktu 7-10 tahun
umumnya capacitor bank sudah tidak efektif Trafo Penurun Tegangan (Step Down Transformer)
Transformator distribusi merupakan suatu penghubung antara jaringan tegangan menengah
yang terhubung dengan pemutus tenaga 20 kv dan keluaran dari transformator menjadi
tegangan rendah 380/220 V. Tahapan yang dilakukan untuk menentukan rancangan
transformator adalah : 1. Menentukan kapasitas transformator 2. Menentukan jenis pendingin
transformator. 3. Menentukan impedansi transformator 4. Menentukan tipe belitan
transformator Berdasarkan perhitungan beban listrik, kapasitas transformator yang
direncanakan untuk proyek Hotel Bonero Living Quarter Jawa Timur adalah : Kapasitas :
1 x 1000 kva Tegangan primer : 20 kv
Tegangan Sekunder : 380/220 V Phase : 3 Frequensi : 50 Hz Type : Oil Gambar 3.2 Trafo
Oil Type A. Menghitung perkiraan kapasitas transformator Untuk menentukan kapasitas
transformator dapat menggunakan hasilhitungan penjumlahan beban terpasang di gedung
dibagi dengan perkiraan powerfactor di Panel Distribusi Tegangan Rendah (PDTR). =... (3.9)
Dengan, Kapasitas transformer = Total kapasitas transformator (watt) Cos φ = Faktor daya yang
diperkirakan terjadi. P = Total daya beban terpasang (watt) B. Menentukan jenis pendingin
transformator Jenis pendingin transformator ada dua macam yaitu : cair dan udara. Untuk jenis
pendingin yang cairan (liquid) adalah askarel, sinthetic nonflammableliquid dan oli mineral.
Jika transformator berkapasitas lebih dari 500 kva maka sebaiknya jenis pendinginnya
adalah cairan (liquid). Dan pada umumnya pabrik cenderung membuat transformator pendingin
cairan dengan bahan oli. Sedangkan transformator dengan pendingin udara (dengan fan) biasa
dikenal dengan nama trafo kering. Pemilihan antara trafo cairan dengan trafo kering juga
berdasarkan tempat lokasi yang akan digunakan sebagai lokasi transformator. Tingkat
kemungkinan dari sambaran petir karena tidak memiliki sistem proteksi penangkal petir yang
sempurna, kondisi lingkungan yang buruk (berdebu), tingkat kelembaban yang tinggi,
persentase keasaman dan tingkat oksidasi yang membuat korosif yang tinggi maka sebaiknya
sistem memakai transformator oil dan tidak dianjurkan untuk memakai trafo kering pada
gedung bertingkat tersebut.
Tetapi jika kondisi cukup baik dan tidak ada kemungkinan sambaran petir maka lebih
baik menggunakan transformator kering karena lebih [Link] penentuan antara trafo
kering dan trafo cair juga dapat dilihat pada lampiran di belakang.
C. Menentukan tipe belitan transformator Golongan hubungan menandakan bagaimana
sebuah transformator kumparankumparannya saling dihubungkan. Untuk penetapan golongan
hubungan ini dipergunakan tiga jenis tanda atau kode, yaitu:
a. Tanda hubungan untuk sisi tegangan tinggi terdiri atas kode huruf kapital : I,D,Y dan Z.
b. Tanda hubungan untuk sisi tegangan rendah terdiri atas kode huruf kecil : i, d,y dan z.
c. Angka jam yang menyatakan bagaimana kumparan-kumparan pada sisitegangan
rendah terletak terhadap sisi tegangan tinggi menyatakan pergeseranfasa tegangan
tinggi dan fasa tegangan rendah yang dinyatakan dalan urutanjam dan arah jam (dimana
tiap jam bergeser 300).
Kemudian untuk kemudahan dari banyaknya kombinasi golongan hubungan pada
transformator tersebut, pabrik-pabrik pada umumnya telah membatasi jumlah yang dianggap
[Link] yang biasa digunakan dan dianjurkan adalah Yy0, Yd5, Dy5 dan Yz5. Pengaturan
belitan trafo tiga fasa Di Indonesia, gedung yang menggunakan trafo umumnya memasang
trafotipe belitan Dyn5. Maksudnya transformator menggunakan sistem 3 phase dengan
tegangan sekunder yang akan mendahului tegangan primer sebesar 5 30º = 150º, dengan
konfigurasi lilitan delta pada sisi primer dan lilitan bintang yang memiliki netral pada sisi
sekunder Suplai Tenaga Listrik Darurat ( Generator Set) Untuk menentukan suplai darurat dari
generator set dalam gedung, sebaiknya melalui tahapan berikut:
1. Menentukan kapasitas generator set Untuk menentukan kapasitas dapat langsung
dilihat dari jumlah beban yang ada di Panel Distribusi Tegangan Rendah (PDTR) atau
jumlah kapasitas trafo step down yang dipasang.
2. Menentukan tegangan yang akan disuplai Tegangan yang dipakai sebaiknya tegangan
rendah juga dan akan masuk melalui incoming Panel Distribusi Tegangan Rendah
(PDTR).
3. Menentukan penghantar yang akan dipakai Penghantar bisa menggunakan busduct
ataupun dengan kabel feeder. Adapun cara untuk menghitungnya adalah sama dengan
cara menghitung kabel feeder di panel sistem distribusi.
Menentukan proteksi yang akan dipakai. Adapun data Generator Set yang terpasang
adalah 800 kva. Data spesifikasi umum Diesel Generator Set yang di gunakan : Daya : 800 kva
Tegangan : 380 V Phase : 3 Phase 4 pole Frequency : 50 Hz Putaran : rpm Type : Open Sistem
Operasi Generator Set Gambar 3.4 Diesel Generator Set Open Type Ketika tiba tiba PLN padam
maka kontrol AMF akan memanggil genset tersebut untuk hidup Genset akan masuk
menghidupkan CPGS dan memasok power ke PDTR Sekitar 11 detik kondisi genset normal,
kemudian kontrol ATS mengoper ACB, dari ACB PLN ke ACB Genset di PDTR. Dengan demikian
listrik dipasok oleh genset Ketika tiba tiba PLN masuk lagi maka kontrol AMF akan membaca
sekitar 7 detik, setelah power PLN benar benar normal maka control ATS akan mengoper ACB
dari ACB Genset ke ACB PLN pada panel PDTR Disini beban sudah di pasok sumber listrik dari
PLN kembali Proses perpindahan beban dari genset ke PLN sendiri sekitar 1 detik Setelah ACB
genset lepas maka genset akan rundown dan akhirnya mati Ketika tiba tiba PLN padam dan
ganset gagal start otomatis, maka sistem genset dapat dioperasikan secara manual, baik secara
individu maupun secara syncrone paralel.
Genset gagal start biasanya disebabkan antara lain : - Aki ngedrop - Solar habis - AMF
rusak - Fuel filter mampet Kabel Instalasi Generator Set Penghantar ini berfungsi menyalurkan
daya listrik tegangan rendah dari Panel PDTR ke Panel CPGS dan dari CPGS ke unit genset
Adapun gambar single line system pengkabelan dari PDTR ke CPGS dan CPGS ke unit Genset,
terdapat pada gambar 4.10 Dari PDTR ke CPGS, NYY 11 x (1 x 240 mm2) Dari CPGS ke unit
Genset, NYY 11 x (1 x 240 mm2)
Single Line system Pengkabelan Genset Panel Kontrol Genset Panel Kontrol Genset
berfungsi untuk : Menghidupkan dan mematikan genset baik secara otomatis, manual atau
emergency Indicator kwalitas sumber listrik (tegangan arus, frequency, dll) Panel Kontrol
Genset juga dilengkapi dengan : Automatic Main Failuer ( AMF ) yaitu kontrol star dan stop
otomatis ketika PLN Padam Control synchrone genset yaitu kontrol paralel paralel genset ketika
PLN padam.
Forward syncrone genset yaitu syncron Genset dengan PLN ketika PLN akan dipadamkan
Back syncrone genset yaitu syncrone antara Genset dengan pln ketika PLN masuk kembali
Kontrol Load Sharing yaitu kontrol pembagian beban genset agar genset kecil tidak terbebani
berlebih Kontrol Load shading, yaitu mematikan beban non prioritas ketika genset over load
Sistem proteksi power revers, Over Current, Over load, under voltage, dan lain lain.
Hotel Bonero Living Quarter Jawa Timur ini akan digunakan sebagai tempat penginapan
& Parkir,kolam renang dan sport center. Lantai 1 difungsikan untuk tempat kitchen dan office
serta terdapat ruang control dan ruang panel, di dalam power house terdapat peralatan utama
seperti generatorset, trafo, panel utama. Panel utama tersebut akan mendistribusikan daya ke
panel masing-masing lantai. Tabel 3.3 Luasan dan Fungsi masing-masing lantai No. Lantai Luas
(m2) Fungsi 1 Lantai Ruang Kontrol, Ruang Pompa, Musholla, Toilet,[Link],[Link],Barber
Shop, Pre Function,Toilet Publik,Office & admin, [Link], Restaurant, Library, Lounge,
Resepsionis,Gym & Fitness,Tangga, General Storage, Loker Male & Female, [Link] Staff, Staff
Canteen, Meeting Room, [Link] 2 Lantai Kamar hotel, R. Panel, Toilet, Linen, Tangga
darurat, Coriddor, Room Boy, Prepation Room, Lobby Lift 3 Pos jaga 7.00 Pos Jaga 4 Gardu PLN
Gardu PLN 5 Site Plan Parkir Area Parkir,Taman, dan Kolam Renang, warehouse, R Power House
DIAGRAM UTAMA DISTRIBUSI ENERGI LISTRIK Tahapan ini adalah tahapan dimana semua unsur
pendistribusian utama energi listrik di deskripsikan. Tujuan pertama dari perancangan diagram
utama distribusi energi listrik adalah sebagai pemisahan dan sarana pengecekan penempatan
posisi lantai panel-panel, genset, transformator dan gardu induk berada. Tahapan perancangan
diagram utama distribusi energi listrik yaitu:
1. Menggambar Site Plan dan denah secara keseluruhan.
2. Menaruh semua letak panel-panel yang akan digunakan, letak trafo ataupun letak
gardu induk.
3. Melakukan pengecekan pada diagram Hotel. Pada umumnya gambar Hotel bertingkat,
minimal sudah mencakup item berikut : a. Gardu induk /gardu PLN b. Panel utama
tegangan menengah / PDTM c. Transformator penurun tegangan (step down
transformer)