PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
“DEMI KEADILAN”
AMLAPURA, Juli 2024
Perihal : Pledoi Penasihat Hukum Perkara
Pidana No: xx/[Link]/20xx/[Link]
Kepada Yth.,
Hakim Pemeriksa dan Pemutus Perkara
Nomor : 27/[Link]/2024/[Link]. Atas Nama
Terdakwa KHAIRIL ANWAR
di-
Pengadilan Negeri AMLAPURA
Dengan Hormat,
Yang bertanda tangan di bawah ini :
MAULANA YUSMAN SUKARDI
Kesemuanya adalah Advokat pada KANTOR my sukardi &
REKAN berkantor di Br. Dinas Kecicang Islam Desa Bungaya
Kangin Kec. Bebandem ,Karangasem Bali, EMail:
myslawfirm212@[Link] Phone: 081999772959, bertindak
untuk dan atas nama serta kepentingan klien kami
berdasarkan Surat Kuasa Khusus tertanggal 15 juni
2024atas nama:
Nama : KHAIRIL ANWAR
TTL :Karangasem, 19 November 1995
Umur : 28 th
Jenis kelamin : Laki-Laki
Agama : Islam
Pekerjaan : wiraswasta
1
PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
Pendidikan :SMA
Tempat Tinggal : Br. Dinas Kecicang Islam Desa Bungaya
Kangin, Kecamatan Bebandem, Kabupaten
Karangasem, Provinsi Bali.
Dengan ini perkenankan kami selaku Penasihat Hukum
dalam perkara ini menjalankan hak kami untuk menyampaikan
pembelaan (Pledoi) atas Surat Tuntutan (Requisitoir)
Sdr. Jaksa Penuntut Umum.
Bahwa Terdakwa telah didakwa oleh Sdr. Jaksa Penuntut
Umum dalam surat dakwaannya dengan dakwaan Kesatu
melanggar Pasal 114 ayat (1) jo 132 ayat (1) dan kedua
melanggar Pasal 112 ayat (1) jo 132 ayat (1) Undang-
Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 Tentang
Narkotika.
Majelis Hakim Yang Mulia,
Saudara Jaksa Penuntut Umum Yang Kami Hormati,
Bahwa surat tuntutan (Requisitoir) Sdr. Jaksa Penuntut
Umum telah dibacakan pada persidangan di Pengadilan
Negeri AMLAPURA yang terbuka untuk umum, dimana Terdakwa
telah dinyatakan terbukti melakukan perbuatan pidana
sebagaimana yang diatur dan diancam Pasal 112 ayat (1)
jo 132 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35
Tahun 2009 Tentang Narkotika, maka pada kesempatan ini
izinkanlah kami selaku Penasihat Hukum Terdakwa
menyampaikan Pledoi yang kami bagi menjadi beberapa
bagian sebagai berikut :
I. PENDAHULUAN
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang
Maha Esa, yang telah memberikan kekuatan fisik dan mental
kepada kita semua, hingga pada akhirnya kami selaku
Penasihat Hukum dari Terdakwa dapat menyusun dan
membacakan Pledoi ini.
Sebelum memasuki materi pokok pada Pledoi ini, ada
baiknya kami sampaikan Firman Allah S.W.T. dalam Kitab
Sucinya Al-Qur’an, sebagai kitab suci yang kami yakini
2
PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
sebagai seorang muslim pada khususnya, dan orang-orang
yang seiman pada umumnya, yang kita ambil sebagai pedoman
dalam sebuah peradilan. Allah SWT. berfirman
dalam Surat Annisa’ Ayat 135 :
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang
orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi
karena Allah SWT. biarpun terhadap dirimu sendiri, atau
Ibu Bapakmu dan Kaum Kerabatmu, jika Ia kaya atau miskin,
maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah
kamu mengikuti Hawa Nafsu karena ingin menyimpang dari
kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata)
atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah SWT.
adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan”
( Q.S. Annisa’ 135).
Allah SWT. Berfirman dalam Almaidah
Surat Ayat 8:
“Hai orang
-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang
orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah,
menjadi saksi dengan adil dan janganlah sekali-kali
kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk
berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu
lebih dekat kepada takwa dan bertakwalah kepada Allah,
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan” (Q.S al-Maidah: 8).
Selanjutnya, kami sampaikan ucapan terima kasih
kepada Majelis Hakim yang telah memberikan kesempatan
kepada kami selaku Penasihat Hukum Terdakwa untuk
3
PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
menyampaikan Nota Pembelaan (pledoi) atas tuntutan Jaksa
Penuntut Umum sebelumnya.
Majelis Hakim Yang Mulia,
Saudara Jaksa Penuntut Umum Yang Kami Hormati,
Sudah menjadi rahasia umum bahwa tak jarang terjadi
penyalahgunaan wewenang dalam upaya pemberantasan
narkotika. Salah satu bentuk penyalahgunaan wewenang
tersebut yaitu menjerat pengguna narkoba dengan ketentuan
yang jauh lebih berat, yaitu Pasal 114 dan/atau Pasal 112
UU 35 Tahun 2009. Penyalahgunaan wewenang juga umumnya
terjadi sebaliknya, yaitu pengedar dikenakan pasal
pengguna. Dalam kasus ini tampaknya pengadilan mencium
dugaan penyalahgunaan kewenangan dalam bentuk yang
pertama, yaitu seorang pengguna didakwa dengan Pasal 114
dan/atau Pasal 112 UU Narkotika.
Kasus ini berawal dari ditangkapnya Terdakwa oleh
beberapa orang anggota polisi dari Polres XXXXXXX
ZZZZZZZZ di rumah tempat kediaman Terdakwa pada tanggal
xx Januari 20xx sekitar pukul 21.30 WIB. Dalam
dakwaannya, Penuntut Umum menyebutkan bahwa saksi Iwan
Bin Kumbang masuk ke dalam rumah kontrakan Terdakwa
bermaksud untuk melakukan penggeledahan sedangkan saksi
Budi Bin Gajah dan Kasat Iptu PNG berjaga-jaga di pintu
depan rumah. Kemudian Penuntut Umum mendakwa Terdakwa
dengan dakwaan alternatif, yaitu Dakwaan Kesatu dengan
Pasal 114 ayat (1) jo 132 ayat (1) UU No. 35 Tahun 2009
tentang Narkotika, atau Dakwaan Kedua dengan Pasal 112
ayat (1) jo 132 ayat (1) UU No. 35 Tahun 2009 tentang
Narkotika.
Di tahap penuntutan, Penuntut Umum menuntut Terdakwa
terbukti atas Dakwaan Kedua dan menuntut terdakwa
dijatuhi hukuman 4 tahun dan 6 bulan penjara dan denda Rp
800 juta subsidair 3 (tiga) bulan penjara.
Setelah membaca Surat Tuntutan JPU dengan teliti dan
seksama serta berdasarkan pada fakta-fakta yang terungkap
di persidangan, kami menyatakan tidak sependapat dengan
4
PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
tuntutan JPU tersebut karena isi tuntutannya banyak yang
tidak didasarkan pada faktafakta yang terungkap dalam
persidangan.
Majelis Hakim Yang Mulia;
Saudara Jaksa Penuntut Umum Yang Kami Hormati;
Berdasarkan hasil pemeriksaan saksi-saksi, saksi ahli,
saksi verbalisan, pemeriksaan Terdakwa dan buktibukti
yang diajukan dalam perkara in casu, kami selaku
Penasihat Hukum dari Terdakwa berkewajiban mengemukakan
apa yang benar dan apa yang salah, apa yang masuk akal
dan apa yang tidak masuk akal. Karena dengan demikianlah
kebenaran baru dapat terungkap dalam persidangan yang
terhormat ini.
Dalam menegakkan hukum, tujuan kita bersama baik
Majelis Hakim Yang Mulia, Penuntut Umum serta kami selaku
Penasihat Hukum Terdakwa adalah sama, yaitu samasama
mencari kebenaran yang sejati dalam perkara in casu
(materiil waarheid), bukan hanya sekedar mencari alat
bukti yang dapat menghukum Terdakwa belaka. Hal inilah
sesungguhnya yang diminta oleh hukum dan didambakan oleh
Terdakwa, keluarga Terdakwa maupun oleh masyarakat luas.
Kebenaran sejati itu hanya dapat ditemui dan ditegakkan
dalam suatu proses peradilan yang jujur dan adil. Jika
tidak demikian, bukan kebenaran sejati yang akan kita
peroleh, melainkan potongan-potongan dari kebenaran dan
jika dari potongan-potongan kebenaran itu ditarik suatu
kesimpulan apalagi dijadikan dasar untuk memutus perkara
ini, maka hasilnya akan lebih kejam dari seluruh
kebohongan yang ada.
Majelis Hakim Yang Mulia;
Sudara Jaksa Penuntut Umum Yang Kami Hormati;
5
PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
Setelah mendengar dan mempelajari surat tuntutan
(Requisitoir) dari Jaksa Penuntut Umum, maka kami selaku
Penasihat Hukum Terdakwa menyampaikan pembelaan sebagai
berikut :
I. DAKWAAN JAKSA PENUNTUT UMUM
Bahwa saudara Jaksa Penuntut Umum dalam surat
dakwaannya telah mendakwa KHAIRIL ANWARdengan
dakwaan sebagaimana diatur dan diancam dengan pidana
pada Pasal 114 ayat (1) jo 132 ayat (1) dan Pasal
112 ayat (1) jo 132 ayat (1) UU No. 35 Tahun 2009
tentang Narkotika, dan saudara Jaksa Penuntut Umum
telah menjelaskan unsur-unsur tersebut dan menurut
Jaksa Penuntut Umum unsur-unsur tersebut telah
terbukti dengan jelas. Saudara Jaksa Penuntut Umum
telah mendakwa terdakwa KHAIRIL ANWARbersalah dan
dapat dikategorikan sebagai orang jahat yang
melanggar hukum dan patut dihukum karena telah
melakukan tindak pidana Pasal 112 ayat (1) jo 132
ayat (1) UU No 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Akan
tetapi, apakah benar saudara KHAIRIL ANWARtelah
melakukan kejahatan itu? Sebelum menyampaikan
pembelaan, terlebih dahulu kami untuk mencoba
menggali dan memahami kronologis perkara ini
yaitu melihat dengan seksama duduk perkara ini
dengan menempatkan kebenaran di atas segalanya demi
terciptanya penegakan hukum yang adil berdasarkan
Ketuhanan Yang Maha Esa.
II. FAKTA-FAKTA DALAM PERSIDANGAN
A. KETERANGAN SAKSI-SAKSI
1. Budi Bin Gajah, Pekerjaan Anggota Polres XXXXXXX
ZZZZZZZZ, pada kesaksiannya dalam persidangan di
bawah sumpah Hakim Pemeriksa Perkara,
menerangkan :
- Bahwa sebelumnya saksi tidak kenal dengan
Terdakwa;
- Bahwa benar penangkapan dilakukan terhadap
Terdakwa pada tanggal xx Januari 20xx sekitar
pukul 21.30 WIB di rumah kediaman Terdakwa;
6
PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
- Bahwa benar dalam penangkapan tersebut tidak
ada pemberitahuan kepada Ketua RT setempat dan
tidak didampingi oleh saksi-saksi;
- Bahwa penangkapan terhadap Terdakwa adalah
didasarkan pada adanya informasi yang masuk
melalui HP Kasat Narkoba Polres XXXXXXX
ZZZZZZZZ sekitar pukul 21.00 WIB yang
menyampaikan bahwa Terdakwa ada menjual barang
jenis shabu-shabu;
- Bahwa benar pemberi informasi tersebut tidak
ada menyertakan bukti-bukti atas dugaannya; -
Bahwa saksi tidak melihat ada transaksi jual
beli barang antara Terdakwa dengan orang lain;
- Bahwa saksi tidak pernah melihat Terdakwa
melakukan transaksi jual beli shabu-shabu
dengan orang lain;
- Bahwa benar pada saat penangkapan posisi
Terdakwa tidak dalam sedang Menawarkan untuk
dijual, Menjual, Membeli, Menerima, Menjadi
Perantara dalam Jual Beli, Menukar, atau
Menyerahkan Narkotika Tersebut ke orang lain;
- Bahwa benar pada saat penangkapan ditemukan
uang namun pada saat ditanyakan uang tersebut
dari mana, Terdakwa menjawab uang tersebut
diperoleh dari ibu kandungnya untuk membayar
utang istrinya kepada Bank Mandiri dan bukan
merupakan hasil penjualan narkotika;
- Bahwa ketika Penasihat Hukum menanyakan
kembali keterangan yang saksi berikan dalam
BAP terkait dengan diduga mengedarkan Narkoba
apakah dasar saudara sehingga memberikan
keterangan diduga Terdakwa telah mengedarkan
Narkoba? apakah saksi melihat Terdakwa
mengedarkan Narkoba, jika ada melihat dengan
siapa Terdakwa mengedarkan narkoba tersebut
dimana dan kapan? dan saksi pun menjawab tidak
pernah melihat Terdakwa mengedarkan, menjual
atau membeli Narkoba, Saksi mengatakan
keterangan tersebut hanya berdasarkan asumsi
saja;
- Bahwa benar pada saat penangkapan, Saksi ada
menanyakan kepada Terdakwa namun setelah
7
PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
penangkapan saksi tidak pernah lagi bertanya
kepada Terdakwa karena setelah penangkapan
Terdakwa sudah saksi serahkan kepada
Penyidik;
- Bahwa benar pada waktu pemeriksaan Terdakwa
untuk dibuatkan BAP Terdakwa tidak didampingi
oleh Penasihat Hukum;
- Bahwa ketika Penasihat Hukum mempertegas
kembali kepada saksi, pada saat penangkapan
apakah posisi Terdakwa sedang melakukan
Menawarkan untuk dijual, Menjual, Membeli,
Menerima, Menjadi Perantara dalam Jual Beli,
Menukar, atau Menyerahkan Narkotika Tersebut
ke orang lain? dan saksi menjawab TIDAK,
karena pada saat penangkapan Terdakwa berada
di dalam rumah kediamannya beristirahat
bersama anak dan istrinya.
2. Budi Bin Gajah, Pekerjaan Anggota Polres XXXXXXX
ZZZZZZZZ, pada kesaksiannya dalam persidangan di
bawah sumpah Hakim Pemeriksa Perkara,
menerangkan :
- Bahwa sebelumnya saksi tidak kenal dengan
Terdakwa.
- Bahwa benar penangkapan yang dilakukan
terhadap Terdakwa pada tanggal xx Januari 20xx
di rumah tempat kediaman Terdakwa.
- Bahwa benar pada saat penangkapan, anggota
Polres XXXXXXX ZZZZZZZZ yang bertugas tersebut
tidak ada melaporkan kepada Ketua RT setempat.
- Bahwa benar pada saat penangkapan tersebut
tidak ada saksi-saksi yang melihat kecuali
anggota Polres XXXXXXX ZZZZZZZZ yang bertugas.
- Bahwa penangkapan dilakukan karena adanya
perintah dari Kasat Narkoba Polres XXXXXXX
ZZZZZZZZ atas adanya informasi adanya dugaan
peredaran Narkotika di XXXXXXX ZZZZZZZZ. -
Bahwa benar pada saat penangkapan, terdakwa
sedang berada di dalam rumah kediamannya
sedang beristirahat bersama anak dan istrinya.
- Bahwa benar dari tangan Terdakwa didapat
barang bukti berupa shabu-shabu, dompet,
8
PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
sejumlah uang dan handphone, tapi saksi tidak
mengetahui berapa berat shabu-shabu tersebut.
- Bahwa benar pada saat ditangkap saksi ada
menanyakan kepada Terdakwa mengenai barang
bukti berupa uang yang didapat tersebut uang
dari mana? Dan Terdakwa menjawab uang dari ibu
kandungnya untuk membayar utang istrinya di
bank mandiri, bukan uang hasil menjual
narkoba.
- Bahwa saksi tidak pernah melihat ada transaksi
jual beli barang antara Terdakwa
dengan orang lain;
- Bahwa saksi tidak pernah melihat Terdakwa
melakukan transaksi jual beli shabu-shabu
dengan orang lain;
- Bahwa benar pada saat penangkapan posisi
Terdakwa tidak dalam sedang Menawarkan untuk
dijual, Menjual, Membeli, Menerima, Menjadi
Perantara dalam Jual Beli, Menukar, atau
Menyerahkan Narkotika Tersebut ke orang lain;
- Bahwa benar pada waktu pemeriksaan Terdakwa
untuk dibuatkan BAP Terdakwa tidak didampingi
oleh Penasihat Hukum;
- Bahwa ketika Penasihat Hukum mempertegas
kembali kepada saksi, pada saat penangkapan
apakah posisi Terdakwa sedang melakukan
Menawarkan untuk dijual, Menjual, Membeli,
Menerima, Menjadi Perantara dalam Jual Beli,
Menukar, atau Menyerahkan Narkotika Tersebut
ke orang lain? dan saksi menjawab TIDAK,
karena pada saat penangkapan Terdakwa berada
di dalam rumah kediamannya beristirahat
bersama anak dan istrinya.
[Link] SAKSI A DE CHARGE:
1. Matahari, lahir di XXXXXXX ZZZZZZZZ, Tanggal xx
Juni 19xx, Agama Islam, Jenis Kelamin LakiLaki,
Beralamat di Jalan xxxxx Gg. Unggul RT. 0xx,
Kelurahan XXXXXXX ZZZZZZZZ, Kabupaten XXXXXXX
ZZZZZZZZ, Provinsi zzzzzzzzz qqqqqqqq, pada
9
PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
kesaksiannya dalam persidangan di bawah sumpah
Hakim Pemeriksa Perkara, menerangkan :
- Bahwa sebelumnya saksi kenal dengan Terdakwa;
- Bahwa saksi bekerja di rumah Terdakwa sebagai
pengasuh anak Terdakwa;
- Bahwa saksi bekerja sebagai pengasuh anak
terdakwa sudah 1 tahun;
- Bahwa saksi bekerja di rumah Terdakwa mulai
dari pagi hari hingga sore hari;
- Bahwa saksi pada pagi hari sekitar jam 10.00 –
11.00 WIB ada melihat teman-teman Terdakwa
datang ke rumah Terdakwa. Tamu tersebut saksi
kenal bernama Jupiter dan Pluto;
- Bahwa saksi mengetahui Jupiter dan Pluto yang
datang yaitu karena saksi yang membukakan
pintu ketika mereka datang ke rumah Terdakwa
tersebut;
- Bahwa saksi mendengar pembicaraan mereka
bertiga yaitu Terdakwa, Jupiter dan Pluto
bahwa mereka bersepakat akan menggunakan atau
menghisap shabu-shabu di rumah Terdakwa. -
Bahwa saksi menerangkan bahwa sebelum mereka
sempat menggunakan atau menghisap shabu-shabu
tersebut, istri Terdakwa pulang ke rumah. -
Bahwa saksi menerangkan karena istri Terdakwa
pulang ke rumah maka rencana untuk menggunakan
shabu-shabu tersebut menjadi batal.
- Bahwa saksi menerangkan karena mereka bertiga
batal menggunakan shabu-shabu tersebut,
kemudian shabu-shabu tersebut dibagi menjadi 2
bagian, yang 1 bagian diberikan kepada Jupiter
dan Pluto, dan yang 1 bagian lainnya disimpan
oleh Terdakwa.
- Bahwa saksi menerangkan setelah shabu-shabu
tersebut dibagi, Jupiter dan Pluto langsung
pulang.
- Bahwa saksi menerangkan setelah Jupiter dan
Pluto pulang, Terdakwa tidak ada keluar rumah
hingga sore harinya.
- Bahwa saksi membenarkan tujuan pembagian
shabu-shabu oleh Terdakwa, Eko Borjong, dan
Rahman tersebut adalah untuk dipergunakan atau
10
PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
dikonsumsi, bukan untuk diperjualbelikan
kepada orang lain.
- Bahwa saksi tidak pernah melihat Terdakwa
Menawarkan untuk dijual, Menjual, Membeli,
Menerima, Menjadi Perantara dalam Jual Beli,
Menukar, atau Menyerahkan Narkotika ke orang
lain;
[Link] AHLI:
1. Bulan Bintang, lahir di xxxxxxx, Tanggal xx
Februari 19xx, Agama Kristen, Jenis Kelamin
Laki-Laki, Beralamat di xxxxxxxx, Kelurahan
zzzzzzzzz, Kecamatan rrrrrrrrrrr, Kota
mmmmmmmmmmm, Provinsi gggggggggggg, pada
kesaksiannya dalam persidangan di bawah sumpah
Hakim Pemeriksa Perkara, menerangkan :
- Bahwa ahli adalah Ketua Yayasan bbbbbbbbbb di
Kota xxxxxxxxxx;
- Bahwa ahli menerangkan Yayasan bbbbbbbbbb
adalah Yayasan yang bergerak dalam
rehabilitasi sosial terhadap pecandu
narkotika;
- Bahwa ahli pada tanggal xx Maret 20xx telah
melakukan pemeriksaan terhadap Terdakwa dengan
menggunakan alat ukur ASI (Addiction Severity
Index) atau Index Keparahan Adiksi;
- Bahwa pemeriksaan dengan menggunakan alat ukur
ASI (Addiction Severity Index) atau Index
Keparahan Adiksi adalah merupakan metode yang
sama digunakan oleh Badan Narkotika Nasional
dalam melakukan
pemeriksaan terhadap pecandu narkotika;
- Bahwa ahli menerangkan Terdakwa mempunyai
ketergantungan zat jenis Metampethamin (shabu)
dengan status ketergantungan, dan juga
ditemukan anxiety yang cukup mengkhawatirkan
yaitu gangguan kesehatan mental yang ditandai
dengan perasaan khawatir, gelisah, takut dan
cemas yang cukup kuat mengganggu aktifitas
mengakibatkan Terdakwa mengalami insomnia;
- Bahwa ahli merekomendasikan agar Terdakwa
dapat menjalani program terapi rehabilitasi
11
PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
sosial rawat inap selama 10 (sepuluh) bulan di
Yayasan bbbbbbbbbb;
- Bahwa ahli menerangkan tujuan program terapi
rehabilitasi sosial adalah untuk memulihkan
dan menyembuhan Terdakwa dari ketergantungan
narkotika;
[Link] SAKSI VERBALISAN:
1. PNG, lahir di xxxxxxxxxx, Tanggal xx Juli 19xx,
Agama Islam, Jenis Kelamin Laki-Laki, Pekerjaan
Polri, Beralamat di Asrama Polisi xxxxxx
Kelurahan xxxxxxxxxx, Kecamatan zzzzzzzzzzzzzz,
Kota zzzzzzzzzzz, pada kesaksiannya dalam
persidangan di bawah sumpah Hakim Pemeriksa
Perkara, menerangkan :
- Bahwa benar saksi adalah Penyidik di Polres
XXXXXXX ZZZZZZZZ yang melakukan pemeriksaan
terhadap Terdakwa;
- Bahwa saksi menerangkan pemeriksaan terhadap
Terdakwa dilakukan pada tanggal 30 Januari
20xx dan pada tanggal 18 Maret 20xx. - Bahwa
benar pada saat dilakukan pemeriksaan,
Terdakwa tidak didampingi oleh Penasihat
Hukum;
- Bahwa benar saksi tidak mendapatkan buktibukti
bahwa Terdakwa telah melakukan Menawarkan
untuk dijual, Menjual, Membeli, Menerima,
Menjadi Perantara dalam Jual Beli, Menukar,
atau Menyerahkan Narkotika ke orang lain;
- Bahwa benar saksi hanya mendapatkan bukti
berupa dompet, sejumlah uang, shabu dalam
plastik klip kecil, handphone milik Terdakwa,
selain daripada bukti-bukti tersebut tidak ada
ditemukan bukti-bukti lainnya;
- Bahwa benar dalam perkara ini yang dilakukan
pemeriksaan hanyalah Terdakwa sendiri, karena
tidak ada Terdakwa lainnya yang masuk dalam
perkara ini;
- Bahwa benar Terdakwa ada diperiksa atau
dilakukan tes urine, dan hasilnya positif;
[Link] TERDAKWA:
12
PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
FULAN BIN FULAN, lahir di xxxxxxxxxxxx, Tanggal xx
Juli 1987xx, Agama Islam, Pekerjaan Swasta,
Beralamat di Jl. xxxxxxxxxx, RT. 00x, Kelurahan
zzzzzz, Kecamatan xxxxxxxxxxx, Kabupaten XXXXXXX
ZZZZZZZZ, Provinsi zzzzzzzzzzzz, pada kesaksiannya
dalam persidangan menerangkan :
- Bahwa Terdakwa menolak dan mencabut semua
keterangannya dalam Berita Acara Pemeriksaan
(BAP) yang dilakukan oleh Penyidik Polres
XXXXXXX ZZZZZZZZ tertanggal 30 Januari 20xx dan
tanggal 18 Maret 20xx;
- Bahwa alasan penolakan dan pencabutan terhadap
BAP tersebut adalah karena isi BAP tidak sesuai
dengan apa yang telah diterangkan oleh Terdakwa
pada saat diperiksa;
- Bahwa Terdakwa menerangkan ketika diperiksa oleh
Penyidik Polres XXXXXXX ZZZZZZZZ, Terdakwa tidak
pernah mengatakan atau memberikan keterangan ada
menawarkan untuk dijual, menjual, membeli,
menerima, menjadi perantara dalam jual beli,
menukar narkotika, akan tetapi dalam BAP
keterangan tersebut ada ditulis sehingga
Terdakwa menolak dan mencoret BAP tersebut;
- Bahwa Terdakwa menerangkan pada tanggal 5
Februari 20xx Terdakwa ditekan dan dipaksa untuk
menandatangani BAP tersebut, namun Terdakwa
tetap menolak karena isi BAP tersebut tetap sama
yaitu mencantumkan keterangan yang tidak pernah
diberikan oleh Terdakwa;
- Bahwa Terdakwa menerangkan pada tanggal 7
Februari 20xx Terdakwa dibawa ke ruang Sdr. PNG
yang merupakan Penyidik dan sekaligus Kasat
Narkoba di Polres XXXXXXX ZZZZZZZZ. Pada tanggal
7 Februari 20xx ini kemudian Terdakwa terpaksa
menandatangani dan memberikan paraf pada BAP
karena Terdakwa secara terus menerus
ditekan dan dipaksa oleh Penyidik;
- Bahwa Terdakwa menerangkan ketika menandatangani
dan memberikan paraf pada BAP tersebut, Terdakwa
tidak ada lagi membaca isinya;
- Bahwa Terdakwa menerangkan baru mengetahui isi
BAP tersebut tidak ada perubahan dari yang awal,
13
PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
yaitu ketika Terdakwa sudah dilakukan pelimpahan
ke Kejaksaan Negeri XXXXXXX
ZZZZZZZZ;
- Bahwa Terdakwa menerangkan yaitu pada tanggal 28
Januari 20xx Terdakwa di telepon oleh Sdr.
zzzzzzzzz yang ingin memberikan 1 paket shabu
kepada Terdakwa;
- Bahwa Terdakwa menerangkan bahwa shabu-shabu
tersebut hanya diberikan saja secara gratis oleh
Sdr. zzzzzzzz, dan bukan dibeli dari Sdr.
zzzzzzzzzz;
- Bahwa Terdakwa menerangkan Sdr. zzzzzzzz adalah
merupakan teman pada saat kuliah di Kota xxxxx;
- Bahwa Terdakwa menerangkan bahwa Terdakwa
menggunakan shabu-shabu sudah sejak lama, yaitu
sejak masih duduk di bangku SMA;
- Bahwa Terdakwa menerangkan shabu-shabu pemberian
Sdr. xxxxx tersebut ditaruh oleh Terdakwa di
dalam dompet;
- Bahwa Terdakwa menerangkan pada tanggal 28
Januari 20xx tersebut Terdakwa tidak sempat
menggunakan atau mengkonsumsinya karena istri
Terdakwa pada hari dan tanggal tersebut masih
berada di dalam rumah. Terdakwa berniat akan
menggunakan atau mengkonsumsinya yaitu ketika
istrinya sedang tidak berada di dalam rumah.
- Bahwa Terdakwa menerangkan pada tanggal xx
Januari 20xx sekitar pukul 10.00 WIB atau lebih,
teman Terdakwa bernama Jupiter dan Pluto datang
ke rumah Terdakwa untuk mengajak Terdakwa
menggunakan shabu-shabu, namun tidak jadi
digunakan karena istri Terdakwa
datang/pulang ke rumah;
- Bahwa Terdakwa menerangkan shabu-shabu tersebut
kemudian dibagi menjadi 2, dimana 1 bagian
diberikan kepada Jupiter dan Pluto, dan 1
bagiannya disimpan oleh Terdakwa dengan niat
untuk dipergunakan atau dikonsumsi sendiri;
- Bahwa Terdakwa menerangkan bahwa penangkapan
terhadap Terdakwa dilakukan pada tanggal xx
Januari 20xx sekitar pukul 21.30 WIB di rumah
kediaman Terdakwa;
14
PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
- Bahwa Terdakwa menerangkan pada saat ditangkap
tersebut, barang bukti yang ditemukan dari
Terdakwa yaitu berupa dompet, sejumlah uang,
shabu dalam plastik kecil, dan handphone; - Bahwa
Terdakwa menerangkan bahwa uang tersebut bukan
uang dari hasil jual shabu, uang tersebut adalah
uang yang dipinjam dari ibu Terdakwa yang akan
dpergunakan untuk membayar utang istri Terdakwa
kepada Bank Mandiri Cabang XXXXXXX ZZZZZZZZ;
- Bahwa Terdakwa menerangkan shabu-shabu tersebut
bukan hasil dari membeli, tetapi dari pemberian
teman Terdakwa yang bernama xxxxx dan rencananya
akan dipergunakan atau dikonsumsi sendiri, bukan
untuk dijual kepada orang lain;
- Bahwa Terdakwa menerangkan tidak pernah
melakukan Menawarkan untuk dijual, Menjual,
Membeli, Menerima, Menjadi Perantara dalam Jual
Beli, Menukar, atau Menyerahkan Narkotika ke
orang lain;
III. TANGGAPAN ATAS FAKTA YANG TERUNGKAP DI PERSIDANGAN
[Link] atas keterangan saksi Budi Bin Gajah dan
saksi Iwan Bin Kumbang:
Bahwa keterangan saksi Budi Bin Gajah dan saksi
Iwan Bin Kumbang tidak bisa dijadikan sebagai alat
bukti sebagaimana dijelaskan dalam Putusan
Mahkamah Agung RI Nomor: 1531 K/[Link]/2010, yang
menimbang bahwa terhadap alasan-alasan tersebut
Mahkamah Agung berpendapat “Bahwa pihak kepolisian
dalam pemeriksaan perkara a quo mempunyai
kepentingan terhadap perkara agar perkara yang
ditanganinya berhasil di pengadilan, sehingga
keterangannya pasti memberatkan atau menyudutkan
bahwa bisa merekayasa keterangan. Padahal yang
dibutuhkan sebagai saksi adalah orang yang benar-
benar diberikan secara bebas, netral, objektif dan
jujur (vide Penjelasan Pasal 185 ayat (6) KUHAP)”.
Maka dengan demikian, kesaksian saksi Budi Bin
Gajah dan saksi Iwan Bin Kumbang pantas
15
PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
dikesampingkan karena mempunyai kepentingan, bahwa
dalam Putusan Mahkamah Agung RI Nomor : 1531
K/[Link]/2010 yang pokoknya menyatakan pihak
kepolisian dalam pemeriksaan perkara a quo
mempunyai kepentingan, tidak
terkecuali dalam perkara ini tentunya;
Dengan alasan di atas, maka keterangan Budi Bin
Gajah dan Iwan Bin Kumbang di atas sama sekali tak
memiliki kekuatan sebagai salah satu alat bukti.
Kalaupun ada, maka keterangan Budi Bin Gajah dan
Iwan Bin Kumbang tidak ada satu pun yang dapat
menjelaskan bagaimana peran dan perbuatan Terdakwa
sebagaimana didakwakan.
[Link] atas keterangan Matahari:
Bahwa fakta yang terungkap di persidangan dari
hasil keterangan saksi Matahari ini yaitu bahwa
terhadap shabu-shabu yang berada ditangan Terdakwa
tersebut adalah bertujuan untuk dikonsumsi atau
dipergunakan oleh Terdakwa bersama-sama dengan
teman-temannya, tidak bertujuan untuk
diperjualbelikan kepada orang lain.
[Link] atas keterangan ahli:
Bahwa fakta yang terungkap di persidangan dari
hasil keterangan ahli yaitu bahwa Terdakwa
memiliki ketergantungan terhadap zat jenis
Metampethamin (shabu) dengan status
ketergantungan, dan juga ditemukan anxiety yang
cukup mengkhawatirkan yaitu gangguan kesehatan
mental yang ditandai dengan perasaan khawatir,
gelisah, takut dan cemas yang cukup kuat
mengganggu aktifitas mengakibatkan Terdakwa
mengalami insomnia.
[Link] atas keterangan PNG, Saksi Verbalisan:
Bahwa fakta yang terungkap di persidangan dari
hasil keterangan saksi verbalisan ini yaitu bahwa
pemeriksaan terhadap Terdakwa tidak didampingi
16
PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
oleh Penasihat Hukum, dan berdasarkan hasil
pemeriksaan tidak diperoleh adanya bukti-bukti
yang mengarah kepada adanya perbuatan Terdakwa
yang melakukan menawarkan untuk dijual, menjual,
membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual
beli, menukar, atau menyerahkan narkotika ke orang
lain.
IV. ANALISA YURIDIS
Bahwa berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dalam
Persidangan, perkenankan kami menyampaikan yang juga
merupakan pembelaan kami terhadap diri Terdakwa. Maka
selanjutnya kami akan menguraikan serta menganalisa
satu persatu unsur Pasal 114 ayat
(1) dan Pasal 112 ayat (1) jo 132 ayat (1) Undang-
undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika yang
dikaitkan dari fakta-fakta persidangan dan analisa
fakta serta analisa yuridis dalam setiap unsur pasal
dengan mengacu kepada dakwaan yang dituntut oleh
Jaksa Penuntut Umum kepada Terdakwa, yaitu sebagai
berikut :
Pasal 114 ayat (1) jo 132 ayat (1) UU No. 35 Tahun
2009 tentang Narkoba berbunyi :
“Barang siapa tanpa hak atau melawan hukum menawarkan
untuk dijual, menjual, membeli, menerima, jadi
perantara dalam jual beli, menukar atau menyerahkan
Narkotika Golongan I”.
Unsur-unsur yang terdapat dalam pasal ini yaitu :
[Link] Orang/Barang Siapa;
[Link] hak atau Melawan Hukum;
[Link] Untuk Dijual, Menjual, Menerima, Menjadi
Perantara Dalam Jual Beli, Menukar, Atau
Menyerahkan Narkotika Golongan I.
Ad. 1 Unsur Barang Siapa / Setiap Orang
Bahwa “Setiap orang / Barang siapa ditujukan apabila
orang tersebut terbukti memenuhi unsur tindak pidana
17
PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
yang dituduhkan terhadap Terdakwa, unsur setiap
orang/barang siapa” menunjukkan kepada siapa orangnya
yang harus bertanggung jawab atas perbuatan/kejadian
yang didakwakan itu atau setidaktidaknya mengenai
siapa orangnya yang harus dijadikan Terdakwa dalam
perkara ini. Tegasnya kata “setiap orang” menurut
Buku Pedoman Pelaksanaan tugas dan Administrasi Buku
II edisi revisi cetakan 4 tahun 2003 halaman 209 dari
Mahkamah Agung RI dan Putusan Mahkamah Agung RI Nomor
: 1398 K/Pid/1994 tanggal 30 Juni 1995 identik dengan
terminologi kata “barang siapa” atau hij sebagai
siapa saja yang harus dijadikan Terdakwa / dader atau
setiap orang sebagai subyek Hukum (pendukung hak dan
kewajiban) yang dapat diminta pertanggung jawaban
dalam segala tindakannya, bahwa surat perintah
Penangkapan, surat Penahanan, surat dakwaan, dan
Surat Tuntutan Jaksa Penuntut Umum kemudian
pemeriksaan Identitas Terdakwa pada sidang pertama
yang telah dibenarkan oleh terdakwa adalah benar
bernama KHAIRIL ANWARsehingga tidak terjadi error in
persona, namun demikian unsur tersebut tidak berdiri
sendiri maka untuk menentukan kapasitas atau dapat
dipandang sebagai pelaku tindak pidana, harus
dibuktikan dahulu unsur yang lainnya, yang ada
dirumuskan dalam pasal tersebut;
Ad. 2 Unsur Tanpa Hak atau Melawan Hukum
Bahwa terhadap unsur Tanpa Hak mengandung arti bahwa
perbuatan tersebut adalah tidak sesuai hukum. Bahwa
yang dimaksud Tanpa Hak atau Melawan Hukum adalah
tidak memiliki hak atau tidak mendapat ijin dari
pihak yang berwenang dan larangan tersebut timbul
karena undang-undang melarangnya, dengan demikian
unsur ini menunjuk pada suatu keadaan pada diri
seseorang yang melakukan suatu tindakan tanpa adanya
alas hak atau dasar hukum yang sah untuk melakukan
tindakan tersebut.
Dalam ajaran ilmu hukum (doktrin), melawan hukum
(wederrechtelitjk) dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu
melawan hukum dalam arti formil dan melawan hukum
dalam arti materil. Lamintang sebagaimana dikutip
oleh Leden Marpaung, dalam “Asas-Teori-Praktik Hukum
Pidana" Penerbit Sinar Grafika, AMLAPURA, Cetakan
18
PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
ke5 Tahun 2008 pada halaman 44-45, menjelaskan :
“Menurut ajaran wederrechtelitjk dalam arti formil,
suatu perbuatan hanya dipandang sebagai bersifat
wederrechtelitjk apabila perbuatan tersebut memenuhi
semua unsur yang terdapat dalam rumusan suatu delik
menurut undang-undang. Adapun menurut ajaran
wederrechtelitjk dalam arti materil, apakah suatu
perbuatan itu dapat dipandang sebagai
wederrechtelitjk atau tidak, masalahnya bukan saja
harus ditinjau sesuai dengan ketentuan hukum yang
tertulis melainkan juga harus ditinjau menurut
asasasas hukum umum dari hukum tidak tertulis”.
Senada dengan pendapat Lamintang di atas, Prof.
Satochid Kartanegara sebagaimana dikutip oleh Leden
Marpaung, dalam “Asas-Teori-Praktik Hukum Pidana"
Penerbit Sinar Grafika, AMLAPURA, Cetakan ke-5 Tahun
2008 pada halaman 45 menegaskan: “Wederrechtelitjk
formil bersandar pada undangundang, sedangkan
wederrechtelitjk materil bukan pada undang-undang
namun pada asas-asas umum yang terdapat dalam
lapangan hukum atau apa yang dinamakan algemene
beginsel”.
Lebih lanjut masih pada buku yang sama di halaman 46,
Van Bemmel menguraikan tentang “melawan hukum” antara
lain: “1) bertentangan dengan ketelitian yang pantas
dalam pergaulan masyarakat mengenai orang lain atau
barang; 2) bertentangan dengan kewajiban yang
ditentukan oleh undang-undang; 3) tanpa hak atau
wewenang sendiri; 4) bertentangan dengan hak orang
lain; 5) bertentangan dengan hukum objektif”.
Sedangkan merujuk pada ilmu hukum pidana, kesalahan
(schuld) terdiri dari kesengajaan (dolus/opzet) atau
kealpaan (culpa). Yang dimaksud dengan “kesengajaan”
ialah perbuatan yang dikehendaki dan si pelaku
menginsafi akan akibat dari perbuatan itu. Sedangkan
yang dimaksud dengan kealpaan adalah sikap tidak
hati-hati dalam melakukan suatu perbuatan sehingga
menimbulkan akibat yang dilarang oleh Undang-Undang
disamping dapat menduga akibat dari perbuatan itu
adalah hal yang terlarang.
19
PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
Bahwa yang dimaksud “tanpa hak dan melawan hukum”
adalah tidak ada hak/kewenangan dalam melakukan
sesuatu perbuatan dan termasuk juga suatu perbuatan
dilakukan tanpa izin yang berwenang atau bertentangan
dengan aturan hukum atau perbuatan yang dilakukan
tidak memenuhi prosedur hukum;
Bahwa unsur ini berkaitan erat dengan unsur
berikutnya, sehingga untuk dapat menilai apakah
terdakwa melakukan perbuatannya dengan tanpa hak atau
melawan hukum tersebut haruslah terlebih dahulu
dipertimbangkan unsur berikutnya tersebut, karena
unsur ini masih bergantung kepada salah satu bentuk
perbuatan yang terdapat dalam unsur ke-3 yaitu
“Menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima,
menjadi perantara dalam jual beli, menukar, atau
menyerahkan Narkotika Golongan I”;
Bahwa dengan demikian unsur ke-2 akan dipertimbangkan
setelah dipertimbangkan unsur ke-3 tersebut;
Ad. 3 Unsur Menawarkan Untuk Dijual, Menjual,
Menerima, Menjadi Perantara Dalam Jual Beli,
Menukar, Atau Menyerahkan Narkotika Golongan I
Bahwa unsur dalam pasal ini berkaitan dengan suatu
perbuatan yang berkaitan dengan tujuan
pemindahtanganan atau penguasaan narkotika yang
bersifat alternatif, sehingga dalam pembuktiannya
cukup apabila terpenuhi salah satu bentuk
perbuatannya tersebut di atas sudah cukup bagi
Majelis untuk menyatakan pelakunya bersalah;
Bahwa berdasarkan fakta hukum yang terungkap
dipersidangan, terdakwa telah ditangkap oleh Anggota
Polres XXXXXXX ZZZZZZZZ pada hari Selasa tanggal xx
Januari 20xx sekira jam 21.30 WIB di rumah yang
ditempatinya di Jalan xxxxxxxxxx RT. 001 Kelurahan
XXXXXXX ZZZZZZZZ Kecamatan zzzzzzzzzzzzz, Kabupaten
XXXXXXX ZZZZZZZZ, karena diduga memiliki atau
menyimpan shabu;
20
PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
Bahwa dari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh
anggota Polres XXXXXXX ZZZZZZZZ telah ditemukan 1
(satu) paket shabu seberat 0,09 gram di dalam dompet
kulit warna hitam yang saat itu berada didalam kamar,
sejumlah uang ditemukan dalam dompet kulit warna
hitam, dan 1 (satu) unit handphone.
Bahwa berdasarkan keterangan saksi Budi Bin Gajah dan
saksi Iwan Bin Kumbang menerangkan bahwa saksi tidak
pernah melihat Terdakwa Menawarkan untuk dijual,
Menjual, Membeli, Menerima, Menjadi Perantara dalam
Jual Beli, Menukar, atau Menyerahkan
Narkotika ke orang lain;
Bahwa berdasarkan keterangan saksi Matahari
menyebutkan bahwa Terdakwa akan menggunakan atau
mengkonsumsikan shabu tersebut bersama dengan
temantemannya yang bernama Jupiter dan Pluto.
Bahwa berdasarkan keterangan ahli Bulan Bintang
menyebutkan bahwa Terdakwa memiliki ketergantungan
terhadap zat jenis Metampethamin (shabu) dengan
status ketergantungan, dan juga ditemukan anxiety
yang cukup mengkhawatirkan yaitu gangguan kesehatan
mental yang ditandai dengan perasaan khawatir,
gelisah, takut dan cemas yang cukup kuat mengganggu
aktifitas mengakibatkan Terdakwa mengalami insomnia.
Bahwa berdasarkan keterangan saksi verbalisan, PNG,
menyebutkan bahwa tidak ditemukan bukti-bukti adanya
perbuatan Terdakwa Menawarkan untuk dijual, Menjual,
Membeli, Menerima, Menjadi Perantara dalam Jual Beli,
Menukar, atau Menyerahkan Narkotika ke orang lain;
Bahwa berdasarkan keterangan Terdakwa sendiri yang
menerangkan bahwa shabu tersebut berikan oleh Sdr.
xxxxxxxx dengan cuma-cuma dan tidak dengan cara
membeli, yang rencananya akan dipergunakan sendiri
oleh Terdakwa bersama dengan teman-temannya. Selain
itu, Terdakwa juga menerangkan bahwa Terdakwa
mengkonsumsi shabu-shabu yaitu sejak masih SMA;
21
PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
Bahwa berdasarkan uraian fakta hukum tersebut di
atas, dapat disimpulkan bahwa Terdakwa secara nyata
telah memperoleh shabu dari Sdr. xxxxxxxx dengan cara
cuma-cuma atau tidak dengan cara jual beli. Shabu
tersebut secara nyata dan jelas hanya dipakai atau
dikonsumsi oleh Terdakwa dan teman-temannya secara
bersama-sama. Sehingga dengan demikian berdasarkan
fakta hukum tersebut, Penasihat Hukum Terdakwa
berkeyakinan MAKSUD DAN TUJUAN DARI MEMILIKI,
MENYIMPAN DAN MENGUASAI SHABU A QUO OLEH TERDAKWA
ADALAH UNTUK DIPAKAI BAGI DIRINYA SENDIRI
DAN BUKAN UNTUK DIPERJUALBELIKAN;
Bahwa putusan Mahkamah Agung RI No. 1386
K/[Link]/2011 tanggal 3 Agustus 2011 telah
memberikan batasan yang jelas tentang perbedaan
penguasaan terhadap Narkotika, apakah penguasaan
narkotika tersebut sebagai pengguna (Pasal 127 ayat
(1)) atau sebaliknya masuk dalam Pasal lain (seperti
Pasal 114 atau Pasal 112 Undang-undang Nomor 35 Tahun
1999) dalam pertimbangannya mempunyai kaedah hukum
sebagai berikut :
1)Terdakwa membeli narkotika bukan untuk
diperdagangkan atau diperjualbelikan melainkan
untuk digunakan;
2)Terdakwa yang bermaksud untuk menggunakan atau
memakai narkotika tersebut, tentu saja menguasai
atau memiliki narkotika tersebut, tetapi
kepemilikan dan penguasaan narkotika tersebut
semata-mata untuk digunakan. Sehubungan hal
tersebut seharusnya dipertimbangkan bahwa
kepemilikan dan penguasaan atas suatu narkotika dan
sejenisnya harus dilihat maksud dan tujuannya atau
kontekstualnya dan bukan tekstualnya dengan
menghubungkan kalimat dalam undang-undang tersebut;
Bahwa berdasarkan fakta hukum yang terungkap di
persidangan sebagaimana telah diuraikan di atas dan
dihubungkan dengan Putusan Mahkamah Agung RI No. 1386
K/[Link]/2011, maka Penasihat Hukum berpendapat
perbuatan terdakwa tersebut di atas secara
kontekstual tidak memenuhi maksud dan tujuan dari
unsur ketiga dari Pasal 114 ayat (1) jo 132 ayat (1)
22
PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
UU No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika, atau menurut
hemat Penasihat Hukum unsur ini tidak terpenuhi oleh
perbuatan Terdakwa;
Bahwa oleh karena salah satu unsur dalam Dakwaan
Kesatu tidak terpenuhi, maka unsur ke-2 tidak perlu
dipertimbangkan lagi kebenarannya dan kepada Terdakwa
haruslah dinyatakan tidak terbukti secara sah dan
meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana
sebagaimana yang didakwakan dalam Dakwaan Kesatu
tersebut;
Pasal 112 ayat (1) jo 132 ayat (1) UU Narkotika
Bahwa Dakwaan Kedua dari perkara ini yaitu Pasal 112
ayat (1) jo 132 ayat (1) UU No. 35 tahun 2009 tentang
Narkotika, unsur-unsurnya adalah:
1)Unsur Setiap Orang;
2)Unsur Tanpa Hak dan Melawan Hukum;
3)Unsur Memiliki, Menyimpan, Menguasai, atau
menyediakan Narkotika Golongan I bukan tanaman;
Ad. 1) Unsur “setiap orang”
Bahwa pada prinsipnya unsur “setiap orang” adalah
sama dengan “Barang Siapa” dalam hukum pidana adalah
setiap subjek hukum sebagai pendukung hak dan
kewajiban yang kepadanya dapat dimintakan
pertanggungjawaban pidana, dengan adanya Terdakwa
TADE KHARISMA JUALIADI BIN MURSIDI (Alm.) dengan
identitas selengkapnya di atas dan diakui oleh
Terdakwa sebagai dirinya sendiri yang diajukan dalam
perkara ini, sehat jasmani dan rohani serta mampu
mempertanggung jawabkan semua perbuatan yang telah
dilakukannya, telah didakwa oleh Penuntut Umum
melakukan tindak pidana seperti dalam dakwaan diatas,
maka dengan demikian unsur ke-1 pasal diatas telah
terpenuhi;
Ad. 2) Unsur “tanpa hak dan melawan hukum”
23
PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
Bahwa yang dimaksud “tanpa hak dan melawan hukum”
adalah tidak ada hak/kewenangan dalam melakukan
sesuatu perbuatan dan termasuk juga suatu perbuatan
dilakukan tanpa izin yang berwenang atau bertentangan
dengan aturan hukum atau perbuatan yang dilakukan
tidak memenuhi prosedur hukum;
Bahwa unsur ini berkaitan erat dengan unsur
berikutnya, sehingga untuk dapat menilai apakah
Terdakwa melakukan perbuatannya dengan tanpa hak atau
melawan hukum tersebut haruslah terlebih dahulu
dipertimbangkan unsur berikutnya tersebut, karena
unsur ini masih bergantung kepada salah satu bentuk
perbuatan yang terdapat dalam unsur Ad. 3 yaitu
“Menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima,
menjadi perantara dalam jual beli, menukar, atau
menyerahkan Narkotika Golongan I”;
Bahwa dengan demikian unsur Ad. 2 akan
dipertimbangkan setelah dipertimbangkan unsur Ad. 3
tersebut;
Ad. 3) Unsur “Memiliki, Menyimpan, Menguasai, atau
menyediakan Narkotika Golongan I Bukan Tanaman”
Bahwa unsur dalam pasal ini berkaitan dengan suatu
perbuatan yang berkaitan dengan tujuan
pemindahtanganan atau penguasaan narkotika yang
bersifat alternatif, sehingga dalam pembuktiannya
cukup apabila terpenuhi salah satu bentuk
perbuatannya tersebut di atas sudah cukup bagi
Majelis untuk menyatakan pelakunya bersalah;
Bahwa berdasarkan fakta hukum yang terungkap
dipersidangan, terdakwa telah ditangkap oleh Anggota
Polres XXXXXXX ZZZZZZZZ pada hari Selasa tanggal xx
Januari 20xx sekira jam 21.30 WIB di rumah yang
ditempatinya di Jalan xxxxxxxxxxxxxx RT. 001
Kelurahan XXXXXXX ZZZZZZZZ Kecamatan zzzzzzzzzzzzzz,
Kabupaten XXXXXXX ZZZZZZZZ, karena diduga memiliki
atau menyimpan shabu;
Bahwa dari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh
anggota Polres XXXXXXX ZZZZZZZZ telah ditemukan 1
(satu) paket shabu seberat 0,09 gram di dalam dompet
kulit warna hitam yang saat itu berada didalam kamar,
24
PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
sejumlah uang ditemukan dalam dompet kulit warna
hitam, dan 1 (satu) unit handphone.
Bahwa berdasarkan keterangan saksi Budi Bin Gajah dan
saksi Iwan Bin Kumbang menerangkan bahwa saksi tidak
pernah melihat Terdakwa Menawarkan untuk dijual,
Menjual, Membeli, Menerima, Menjadi Perantara dalam
Jual Beli, Menukar, atau Menyerahkan
Narkotika ke orang lain;
Bahwa berdasarkan keterangan saksi Matahari
menyebutkan bahwa Terdakwa akan menggunakan atau
mengkonsumsikan shabu tersebut bersama dengan
temantemannya yang bernama Jupiter dan Pluto.
Bahwa berdasarkan keterangan ahli Bulan Bintang
menyebutkan bahwa Terdakwa memiliki ketergantungan
terhadap zat jenis Metampethamin (shabu) dengan
status ketergantungan, dan juga ditemukan anxiety
yang cukup mengkhawatirkan yaitu gangguan kesehatan
mental yang ditandai dengan perasaan khawatir,
gelisah, takut dan cemas yang cukup kuat mengganggu
aktifitas mengakibatkan Terdakwa mengalami insomnia.
Bahwa berdasarkan keterangan saksi verbalisan, Sdr.
PNG, menyebutkan bahwa tidak ditemukan bukti-bukti
adanya perbuatan Terdakwa Menawarkan untuk dijual,
Menjual, Membeli, Menerima, Menjadi Perantara dalam
Jual Beli, Menukar, atau Menyerahkan Narkotika ke
orang lain;
Bahwa berdasarkan keterangan Terdakwa sendiri yang
menerangkan bahwa shabu tersebut berikan oleh Sdr.
xxxxxxxx dengan cuma-cuma dan tidak dengan cara
membeli, yang rencananya akan dipergunakan sendiri
oleh Terdakwa bersama dengan teman-temannya. Selain
itu, Terdakwa juga menerangkan bahwa Terdakwa
mengkonsumsi shabu-shabu yaitu sejak masih SMA;
Bahwa berdasarkan uraian fakta hukum tersebut di
atas, dapat disimpulkan bahwa Terdakwa secara nyata
telah memperoleh shabu dari Sdr. xxxxxxxx dengan cara
cuma-cuma atau tidak dengan cara jual beli. Shabu
tersebut secara nyata dan jelas hanya dipakai atau
dikonsumsi oleh Terdakwa dan teman-temannya secara
25
PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
bersama-sama. Sehingga dengan demikian berdasarkan
fakta hukum tersebut, Penasihat Hukum Terdakwa
berkeyakinan MAKSUD DAN TUJUAN DARI MEMILIKI,
MENYIMPAN DAN MENGUASAI SHABU A QUO OLEH TERDAKWA
ADALAH UNTUK DIPAKAI BAGI DIRINYA SENDIRI
DAN BUKAN UNTUK DIPERJUALBELIKAN;
Bahwa putusan Mahkamah Agung RI No. 1386
K/[Link]/2011 tanggal 3 Agustus 2011 telah
memberikan batasan yang jelas tentang perbedaan
penguasaan terhadap Narkotika, apakah penguasaan
narkotika tersebut sebagai pengguna (Pasal 127 Ayat
(1)) atau sebaliknya masuk dalam Pasal lain (seperti
Pasal 114 atau Pasal 112 Undang-undang Nomor 35 Tahun
1999) dalam pertimbangannya mempunyai kaedah hukum
sebagai berikut :
1)Terdakwa membeli narkotika bukan untuk
diperdagangkan atau diperjualbelikan melainkan
untuk digunakan;
2)Terdakwa yang bermaksud untuk menggunakan atau
memakai narkotika tersebut, tentu saja menguasai
atau memiliki narkotika tersebut, tetapi
kepemilikan dan penguasaan narkotika tersebut
semata-mata untuk digunakan. Sehubungan hal
tersebut seharusnya dipertimbangkan bahwa
kepemilikan dan penguasaan atas suatu narkotika dan
sejenisnya harus dilihat maksud dan tujuannya atau
kontekstualnya dan bukan tekstualnya dengan
menghubungkan kalimat dalam undang-undang tersebut;
Bahwa berdasarkan fakta hukum yang terungkap di
persidangan sebagaimana telah diuraikan di atas dan
dihubungkan dengan Putusan Mahkamah Agung RI No. 1386
K/[Link]/2011, maka Penasihat Hukum berpendapat
perbuatan terdakwa tersebut di atas secara
kontekstual tidak memenuhi maksud dan tujuan dari
unsur ketiga dari Pasal 112 ayat (1) jo 132 ayat (1)
UU No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika, atau menurut
hemat Penasihat Hukum unsur ini tidak terpenuhi oleh
perbuatan terdakwa;
Bahwa oleh karena salah satu unsur dalam Dakwaan
Kedua tidak terpenuhi, maka unsur ke-2 tidak perlu
dipertimbangkan lagi kebenarannya dan kepada terdakwa
26
PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
haruslah dinyatakan tidak terbukti secara sah dan
meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana
sebagaimana yang didakwakan dalam Dakwaan Kedua
tersebut;
Majelis Hakim Yang Terhormat,
Jaksa Penuntut Umum Yang Kami Hormati,
Serta Sidang Yang Kami Muliakan,
Bahwa maksud dan tujuan dikeluarkannya Undang-Undang
Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika adalah selain
untuk mencegah dan memberantas penyalahgunaan dan
peredaran gelap Narkotika yang sangat merugikan dan
membahayakan kehidupan masyarakat, bangsa, dan
negara, juga bertujuan untuk untuk melindungi
penyalahguna atau pecandu atau korban narkotika
tersebut dari penyalahgunaan kewenangan Aparat
Penegak Hukum.
Bahwa salah satu bentuk penyalahgunaan wewenang
tersebut adalah dengan menjerat pengguna narkoba
dengan ketentuan yang jauh lebih berat, yaitu Pasal
114 dan atau Pasal 112 UU No. 35 Tahun 2009 yang
diancam dengan ancaman hukuman penjara minimal 5
tahun, dan denda minimal Rp 1 milyar. Padahal untuk
pengguna (penyalahguna) narkotika, harusnya di ancam
dengan Pasal 127 UU No 35 tahun 2009 dimana golongan
I ancaman maksimumnya hanya 4 tahun. Oleh karenanya
untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan wewenang
tersebut, UU No. 35 Tahun 2009 telah melakukan
Penggolongan Pelaku Tindak Pidana Narkotika.
Bahwa Penggolongan pelaku tindak pidana narkotika
tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa tiap
kedudukan dan perbuatan pelaku tindak pidana
narkotika memiliki sanksi yang berbeda, karena
alangkah tidak adilnya seorang korban atau
penyalahguna narkotika untuk diri sendiri harus
dihukum sama beratnya dengan seorang pengedar
narkotika.
27
PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
Bahwa berdasarkan Penggolongan pelaku tindak pidana
Narkotika tersebut, penegak hukum dalam hal ini
Penyidik dan Penuntut umum, seharusnya dalam
penanganan kasus narkotika tidak semata-mata hanya
melihat bahwa setiap penyalahguna yang kedapatan
membawa atau memiliki narkotika tersebut harus
dikenakan Pasal 114 atau Pasal 112, namun sebagai
seorang penegak hukum harus bersikap secara jujur dan
adil, menggali fakta yang sebenarnya, apa tujuan
seorang penyalahguna yang kedapatan memiliki,
menguasai dan membawa narkotika tersebut, apakah
untuk diperdagangkan ataukah untuk digunakan bagi
dirinya sendiri.
Bahwa AR. Sujono, S.H., M.H. dan Bony Daniel, S.H.
dalam bukunya “Komentar dan Pembahasan UU No 35 Tahun
2009 tentang Narkotika” menyatakan ketentuan seperti
Pasal 111 sampai dengan Pasal 126 UU Narkotika hanya
dapat dikenakan kepada seorang dalam rangka
“Peredaran” baik dalam perdagangan, bukan perdagangan
maupun pemindahtanganan untuk kepentingan pelayanan
kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuaan dan
teknologi, sehingga tidak boleh begitu saja secara
serampangan seorang penyalahguna narkotika diajukan
kepersidangan dan dikenakan ketentuan-ketentuan
tersebut. Seorang penyalahguna narkotika dalam rangka
mendapatkan narkotika tentulah dilakukan dengan cara
membeli, menerima atau memperoleh dari orang lain dan
untuk itu narkotika yang ada dalam tangannya jelas
merupakan miliknya atau setidak-tidaknya dalam
kekuasaannya, sehingga tentulah tidak tepat apabila
dikenakan Pasal 111, Pasal 112, Pasal 114, Pasal 115,
Pasal 117, Pasal 119, Pasal 122, Pasal 124 dan Pasal
125 UU Narkotika dengan anggapan pasal-pasal tersebut
mencantumkan larangan memiliki, menyimpan, menguasai,
membeli, menerima dan membawa. Oleh karena itu
meskipun penyalahguna kedapatan memiliki, menyimpan,
menguasai, membeli, menerima dan membawa dalam rangka
untuk menggunakan narkotika untuk dirinya sendiri
maka tindak pidana yang dikenakan haruslah Pasal 127
UU Narkotika.
Bahwa sudah banyak putusan baik dalam tingkat pertama
maupun dalam tingkat Kasasi yang memutuskan untuk
28
PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
Pengguna Narkotika bagi dirinya sendiri, khususnya
yang mengalami ketergantungan digunakan Pasal 127 UU
Narkotika dan bukan Pasal 114 ataupun Pasal 112 UU
Narkotika, hal ini bisa dilihat dalam Putusan atas
nama Terdakwa Hendra Samuel Simorangkir yang diputus
oleh Pengadilan Negeri AMLAPURA Pusat, Putusan atas
nama Terdakwa Surendro Prasetyo yang diputus oleh
Pengadilan Negeri AMLAPURA Pusat, Putusan atas nama
Putri Aryanti Haryowibowo yang diputus oleh
Pengadilan Negeri AMLAPURA Selatan dan banyak lagi
putusan yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Bahwa berdasarkan keterangan semua saksi-saksi
seperti saksi Budi Bin Gajah, saksi Iwan Bin Kumbang,
Saksi Matahari, dan Saksi verbalisan PNG, semuanya
tidak ada menerangkan yang menunjukkan adanya
perbuatan Terdakwa melakukan perdagangan dan
peredaran narkotika. Hal ini selaras dengan
keterangan ahli Bulan Bintang, Ketua Yayasan
bbbbbbbbbb, yang menerangkan bahwa Terdakwa adalah
seorang pecandu narkotika dengan tingkat
ketergantungan.
Bahwa berdasarkan fakta-fakta tersebut dan mengacu
perbedaan antara Pasal 114 ayat (1) jo 132 ayat (1),
Pasal 112 ayat (1) jo 132 ayat (1) dengan Pasal 127
UU Narkotika, Penuntut umum terlalu memaksakan
kehendak dengan melihat secara sempit unsur-unsur
yang terkandung dalam Pasal 114 ayat (1) jo 132 ayat
(1) dan Pasal 112 ayat (1) jo 132 ayat (1) UU
Narkotika, tanpa memperhatikan bahwa memang Terdakwa
adalah Pecandu dan terpaksa harus menyimpan narkotika
untuk dipergunakan atau dikonsumsi sendiri, tidak
untuk dijual kembali;
V. KESIMPULAN DAN PENUTUP
Bahwa sebelum kesimpulan dan penutup ini kami
sampaikan, maka izinkanlah kami selaku Penasihat
Hukum dari Terdakwa menyampaikan Kesimpulan dan
Penutup ini dengan Judul “PEMAKAI TIDAK SERTA MERTA
DISEBUT SEBAGAI PENGEDAR”;
29
PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
Proses peradilan pidana adalah suatu persidangan yang
sangat berbeda dengan proses persidangan lainnya,
karena dalam suatu proses persidangan pidana haruslah
dapat diukur seberapa jauh kesalahan (schuld) yang
terdapat pada diri seorang Terdakwa pada dugaan
tindak pidana yang didakwakan tanpa ada sedikitpun
keraguan pada Hakim Pemeriksa suatu perkara tentang
hal tersebut, untuk kemudian berdasarkan hal ini
dapat pula diukur dan dimintakan seberapa besar
pertanggungjawaban pidana dilekatkan pada seorang
Terdakwa, hal ini pula yang disampaikan Curzon LB
Cuzon dalam bukunya “Criminal Law” yang menjelaskan
“bahwa untuk dapat mempertanggungjawabkan seseorang
dan karenanya mengenakan pidana terhadapnya, tidak
boleh ada keraguan sedikitpun pada diri Hakim tentang
kesalahan Terdakwa” hal ini pula yang disampaikan
oleh Prof Moeljatno dalam Bukunya “Asas-Asas Hukum
Pidana” dengan menerangkan “orang-orang tidak mungkin
dipertanggungjawabkan (dijatuhi pidana) kalau dia
tidak melakukan perbuatan pidana”;
Bahwa berdasarkan fakta yang telah terungkap dimuka
persidangan dan penelitian secara hukum yang kami
berikan, kami selaku Penasihat Hukum Terdakwa bukan
ingin mengaburkan, melainkan Mohon kepada Majelis
Hakim Yang Mulia agar dapat memberikan pertimbangan
secara objektif dengan melihat semua bukti-bukti dan
fakta-fakta dalam persidangan;
Bahwa Jaksa Penuntut Umum telah menuntut Terdakwa
KHAIRIL ANWARdengan pidana selama 4 (empat) Tahun
dan 6 (enam) bulan dan membayar denda sebesar Rp
800.000.000,- (delapan ratus juta rupiah) adalah
BATAL DEMI HUKUM, oleh karena berdasarkan fakta dalam
persidangan tidak ada satu alat buktipun, baik bukti
saksi dan bukti surat yang menyatakan Terdakwa
bernama KHAIRIL ANWARterbukti secara sah melakukan
tindak pidana sebagaimana tindak pidana yang
didakwakan oleh Jaksa Penuintut Umum dalam
tuntutannya yakni Pasal 112 ayat (1) jo 132 ayat (1)
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009
Tentang Narkotika, justru fakta yang terungkap dalam
persidangan bahwa Terdakwa hanyalah sebagai Pemakai
Narkotika jenis shabu-shabu golongan I sebagaimana
yang telah disampaikan oleh para saksi-saksi yang
30
PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum yakni saksi atas
nama saksi Budi Bin Gajah, saksi Iwan Bin Kumbang,
Saksi Matahari, dan Saksi verbalisan PNG.
Bahwa Tuntutan yang diajukan oleh Jaksa Penuntu Umum
yakni selama 4 (empat) Tahun dan 6 (enam) bulan dan
membayar denda sebesar Rp 800.000.000,- (delapan
ratus juta rupiah) adalah suatu tuntutan yang tidak
mencerminkan rasa keadilan dan tidak mempunyai rasa
kemanusiaan bagi Terdakwa, bagi keluarga Terdakwa,
yang mana Terdakwa berdasarkan fakta persidangan
terungkap hanyalah sebagai pemakai atau pecandu
narkotika.
Bahwa tujuan dan fungsi hukum pidana tidak sematamata
memberikan pembalasan kepada seseorang yang melakukan
tindak pidana, dalam perkembangannya kita mengenal
yang namanya Hukum Pidana Modern yang mana
menitikberatkan bahwa hukum pidana bertujuan
memberikan pembinaan kepada seseorang yang melakukan
tindak pidana agar kedepan dia tidak mengulangi
kembali perbuatan tindak pidana tersebut.
Bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 183 KUHAP, untuk
menentukan apakah seseorang telah melakukan suatu
tindak pidana, Hakim harus mendasarkan putusannya
sekurang-kurangnya pada dua alat bukti yang sah dan
diperoleh keyakinan kalau Terdakwalah yang bersalah
melakukannya, dan berdasarkan ketentuan Pasal 185
ayat (2) KUHAP, keterangan dari seorang saksi saja
tidak cukup untuk membuktikan adanya tindak pidana
(unus testis nullus testis), menurut ajaran / prinsip
hukum pidana adalah apabila salah satu unsur dari
pasal dakwaan tidak terbukti, maka seluruh unsur
pasal dakwaan tersebut harus dianggap tidak terbukti;
Bahwa berdasarkan fakta persidangan dengan melihat
alat bukti yang diajukan oleh Jaksa Penuntu Umum baik
alat bukti berupa saksi ataupun alat bukti berupa
surat kemudian dikaitkan dengan Tuntutan Jaksa
Penuntut Umum yang menuntut Terdakwa telah terbukti
secara sah melakukan tindak pidana sebagaimana yang
diatur dalam Pasal 112 ayat (1) jo 132 ayat (1)
Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika,
maka kami berkesimpulan bahwa Terdakwa tidak terbukti
secara sah melakukan tindak pidana sebagaimana yang
31
PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
dimaksud dalam Pasal 112 ayat (1) jo 132 ayat (1)
Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika
karena dalam fakta persidangan tidak ada satu alat
bukti pun yang dapat mendukung unsur tindak pidana
yang didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum kepada
Terdakwa, alat bukti saksi yang dihadirkan oleh Jaksa
Penuntu Umum yaitu saksi Budi Bin Gajah, saksi Iwan
Bin Kumbang, Saksi Matahari, dan Saksi verbalisan
PNG, tidak ada sama sekali keterangannya yang dapat
menguatkan unsur delik atau tidak pidana yang
didakwakan oleh Jaksa Penuntu Umum terhadap Terdakwa
yakni unsur Menawarkan Untuk Dijual, Menjual,
Menerima, Menjadi Perantara Dalam Jual Beli, Menukar,
atau Menyerahkan Narkotika ke orang lain dan unsur
memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan
Narkotika Golongan I bukan tanaman, justru keterangan
saksi yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum
menggugurkan unsur delik atau dakwaan dari Jaksa
Penuntut Umum, dengan demikian secara logika hukum
maka Terdakwa hanyalah sebagai Pemakai saja.
Bahwa perlu juga kami sampaikan, pada tingkat
Penyidikan dimana pada saat Terdakwa di minta
keterangan untuk dibuatkan Berita Acara Pemeriksaan
(BAP) Terdakwa tidak didampingi oleh Penasihat Hukum
padahal tindak pidana yang didakwakan kepada terdakwa
adalah suatu tidak pidana yang hukumanya lebih dari 5
(lima) tahun penjara, berdasarkan Kitab Undang-Undang
Hukum Acara Pidana Pasal 56 ayat (1) yang berbunyi
“dalam hal tersangka atau terdakwa disangka atau
didakwa melakukan tindap pidana yang diancam dengan
pidana mati atau ancaman pidana lima belas tahun atau
lebih atau bagi mereka yang tidak mampu yang diancam
dengan pidana lima tahun atau lebih yang tidak
mempunyai penasihat hukum sendiri, pejabat yang
bersangkutan pada semua tingkat pemeriksaan dalam
proses peradilan wajib menunjukkan penasihat hukum
bagi mereka” sehingga pemeriksanan tersebut telah
bertentangan dengan Kitab Undangundang Hukum Acara
Pidana.
Beberapa Putusan Mahkamah Agung dimana Jaksa salah
menerapkan pasal tentang Narkotika, yaitu :
[Link] MA No. 1071 K/[Link]/2012 berbunyi:
32
PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
Bahwa ketentuan Pasal 112 Undang-Undang No.35 Tahun
2009 merupakan ketentuan keranjang sampah atau
pasal karet. Perbuatan para pengguna atau
percandu yang menguasai atau memiliki narkotika
untuk tujuan dikonsumsi atau dipakai sendiri tidak
akan terlepas dari jeratan Pasal 112 tersebut,
padahal pemikiran semacam ini adalah keliru dalam
menerapkan hukum sebab tidak mempertimbangkan
keadaan atau hal-hal yang mendasar Terdakwa
menguasai atau memiliki barang tersebut sesuai
dengan niat atau maksud Terdakwa.
Bahwa memang benar para pengguna sebelum
menggunakan harus terlebih dahulu membeli kemudian
menyimpan atau menguasai, memiliki, membawa
narkotika tersebut sehingga tidak selamanya harus
diterapkan ketentuan Pasal 112 Undang-Undang No.
35 Tahun 2009, melainkan harus dipertimbangkan apa
yang menjadi niat atau tujuan Terdakwa memiliki
atau menguasai narkotika tersebut.
Bahwa niat atau maksud seseorang adalah merupakan
bagian dari ajaran tentang kesalahan yang
menyatakan bahwa ‘tiada pidana tanpa ada
kesalahan’. Seseorang tidak dapat dihukum tanpa
dibuktikan adanya kesalahan, sehingga menghukum
seseorang yang tidak mempunyai niat untuk suatu
kejahatan dimaksud, merupakan pelanggaran hukum
yang sangat serius.
[Link] No.2199K/[Link]/2010 berbunyi :
Bahwa aparat penegak hukum baik kejaksaan maupun
kepolisian pada umumnya tidak mendakwakan
ketentuan Pasal 127 Undang-Undang No. 35 tahun
2009, walaupun kenyataan atau faktanya pelaku
adalah pemakai/- pengguna. Upaya semacam ini tentu
saja memaksa Hakim untuk menerapkan Dakwaan
Tunggal Jaksa Penuntut Umum yang tidak sesuai
dengan fakta hukum sebenarnya yang terungkap di
persidangan. Proses pemeriksaan semacam itu, tentu
akan menimbulkan pelanggaran hukum dan Ham serta
ketidakadilan bagi Terdakwa.
33
PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
Bahwa penguasaan dan kepemilikan Narkotika bentuk
ganja untuk maksud dan tujuan dipakai sendiri
tidak dapat menggunakan ketentuan Pasal 111 ayat
(1) Undang-Undang No. 35 tahun 2009. Sebab pasal
tersebut digunakan untuk maksud dan tujuan dalam
rangka peredaran gelap narkotika, misalnya
kepemilikan atau penguasai Narkotika untuk
penyediaan distribusi, dijualbelikan dan
diperdagangkan dan sebagainya secara melawan hukum
atau melawan hak.
[Link] MA No. 919 K/[Link]/2012 berbunyi:
Seharusnya Jaksa Penuntut Umum yang memasang
dakwaan Pasal 127 ayat (1) huruf a Undang-Undang
No. 35 Tahun 2009 didukung dengan tes urine
Terdakwa, namun tidak dilakukan dengan tujuan
sesuai dalam memorinya agar Judex Facti tidak
menerapkan ketentuan pasal tersebut, meskipun
faktanya terbukti bahwa Terdakwa adalah
penyalahguna.
2. Putusan MA No. 1375 K/[Link]/2012 berbunyi:
Tetapi bagaimana perbuatan memiliki, menyimpan,
menguasai atau menyediakan tersebut dilakukan oleh
Para Terdakwa lebih merupakan asumsi dari Jaksa
Penuntut Umum bahwa sebelum Para Terdakwa
ditemukan sedang menghisap ganja pastilah
didahului oleh perbuatan sebagaimana dakwaan Jaksa
Penuntut Umum.
Atas uraian tersebut diatas, kami selaku Penasihat
Hukum Terdakwa mohon kepada Majelis Hakim Yang Mulia
agar dapat memberikan rasa keadilan kepada Terdakwa,
dan apabila Majelis Hakim Yang Mulia berpendapat lain
mohon putusan yang seadil-adilnya.
Majelis Hakim Yang Mulia;
Saudara Jaksa Penuntut Umum Yang Kami Hormati,
34
PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
Berdasarkan semua alasan diatas kami Penasihat Hukum
Terdakwa memohon dengan segala hormat kepada Majelis
Hakim Yang Mulia, yang memeriksa dan mengadili perkara a
quo, kiranya berkenan memutus yang amarnya sebagai
berikut :
Primair :
[Link] Nota Pembelaan/Pledoi Penasihat Hukum Terdakwa
KHAIRIL ANWARuntuk seluruhnya;
[Link] Surat Dakwaan yang masuk dalam Surat Tuntutan
Nomor [Link] : PDM-xx/zzzzzzz/04/20xx pada perkara
pidana Nomor : xx/[Link]/20xx/[Link].
[Link] Terdakwa KHAIRIL ANWARtidak terbukti secara
sah melakukan tindak pidana sebagaimana yang didakwakan
dan dituntut oleh Jaksa Penuntut Umum berdasarkan Pasal
112 ayat (1) jo 132 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35
Tahun 2009 Tentang Narkotika.
[Link] Terdakwa KHAIRIL ANWARdari dakwaan dan
tuntutan hukum yang diajukan Jaksa Penuntut Umum.
[Link] pada Jaksa Penuntut Umum agar
merehabilitasi nama baik Terdakwa FULAN BIN FULAN.
[Link] agar Terdakwa KHAIRIL ANWARdibebaskan
dari Tahanan.
[Link] membebankan biaya perkara ini kepada negara.
Subsidair :
Apabila Majelis Hakim Yang Mulia berpendapat lain, mohon
putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono).
Untuk menutup Pledoi ini, izinkanlah kami mengutip
katakata Nabi Muhammad SAW “Menghukum dalam keraguan
adalah dosa” dan di dunia hukum juga dikenal dalam
keadaan “IN DUBIO PRO REO” adalah “jika terjadi keragu-
raguan apakah Terdakwa salah atau tidak maka sebaiknya
diberikan hal yang menguntungkan bagi Terdakwa”.
Demikianlah Nota Pembelaan atau Pledoi ini kami bacakan
pada persidangan hari ini, atas perhatian dan
pertimbangan Majelis Hakim Yang Mulia kami ucapkan terima
kasih.
35
PLEDOI KHAIRIL ANWAR PERKARA NO 27/PIDSUS/2024/PN. AMP.
Hormat Kami
Kuasa Hukum TERDAKWA,
MAHDIANUR, S.H.,M.H.,CIL.,CLA.,CPL.,ACIArb.
EDI ROSANDI, [Link].,S.H.,[Link]
RUSNAWATI, S.H.
36