Pendidikan Kesehatan dan Diabetes Melitus
Pendidikan Kesehatan dan Diabetes Melitus
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Diabetes mellitus (DM) adalah suatu kondisi metabolik yang ditandai
dengan hiperglikemia yang tidak terkontrol yang disebabkan oleh penurunan
sintesis insulin, kerja insulin, dan metabolisme karbohidrat, lipid, dan protein,
yang meningkatkan risiko penyakit jantung, penyakit pembuluh darah, obesitas,
katarak, dan disfungsi ereksi. juga penyakit jantung (WHO, 2019). International
Diabetes Federation, diabetes mellitus (DM) adalah gangguan serius atau kronis
jangka panjang dimana kadar glukosa darah meningkat sebagai akibat dari
ketidakmampuan tubuh untuk menghasilkan atau menggunakan hormon insulin
(IDF, 2019).
International Diabetes Federation (IDF) Atlas edisi ke-10 mengungkapkan,
saat ini 1 dari 10 orang atau 537 juta orang di dunia hidup dengan diabetes.
Apabila tidak ada intervensi, angka ini diproyeksikan akan meningkat, mencapai
643 juta pada tahun 2030 dan 784 juta pada tahun 2045. Diabetes melitus tipe-2
(DMT2) telah menyerang lebih dari 90% pasien di seluruh dunia. Penyakit ini
juga telah menyebabkan 6,7 juta kematian pada tahun 2021. Diperkirakan terdapat
1 orang meninggal setiap 5 detik akibat diabetes (International Diabetes
Federation, 2021).IDF juga memprediksi terdapat sedikitnya 483 juta jiwa dari
usia 20-79 tahun di dunia yang menerita diabetes melitus dengan angka prevelensi
yang mendekati 9,3% dari keseluruhan penduduk yang hampir usianya sama.
World Health Organization (WHO) mengemukakan bahwa Indonesia akan
menempati peringkat nomor lima di dunia dengan jumlah pengidap diabetes
sebanyak 12,4 juta orang pada tahun 2025. Prevalensi penderita di Indonesia,
berdasarkan data Riskesdas tahun 2013 dan tahun 2018 menunjukkan bahwa tren
prevalensi penyakit Diabetes Melitus di Indonesia meningkat dari 6,9% menjadi
8,5%. Jumlah penderita diabetes di Indonesia terus meningkat dari 10,7 juta pada
tahun 2019 menjadi 19,5 juta pada tahun 2021. Pada tahun 2021, Indonesia
1
menduduki peringkat kelima dengan jumlah penderita diabetes terbanyak di
dunia, naik dari peringkat ketujuh tahun lalu (International Diabetes Federation,
2021).
Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan salah satu provinsi yang
terus mengalami peningkatan dalam jumlah kasus DM setiap tahunnya. Pada
tahun 2018 berdasarkan Riset Kesehatan Dasar NTB, provinsi ini menduduki
peringkat ke-23 dari 35 provinsi di Indonesia dengan jumlah penderita 21.308.
Kota Mataram menjadi salah satu kabupaten/kota dengan persentase DM
terdiagnosis oleh dokter tertinggi kedua dengan persentase 1,61% dibawah kota
Bima yang menduduki peringkat pertama 1,86% (Kemenkes RI, 2019).
Pertambahan penduduk disegala usia, maka tingginya penderita DM
berdasarkan gejalanya terus meningkat dan sebagian besar karena peningkatan
berat badan ( obesitas), pola makan yang tidak sehat ,kurangnya aktivitas fisik,
dan perubahan gaya hidup (pelullo el al., 2019).
Pencegahan diabetes mellitus yang dilakukan meliputi pola hidup yang sehat
termasuk pola makan harus dijaga dan teratur, aktivitas fisik, pengecekan kadar
gula darah secara rutin, dan peningkatan pengetahuan atau edukasi dengan
pendidikan kesehatan (Fidianingsih et al., 2017).
Pengetahuan (knowledge) adalah kemampuan individu untuk mengingat
kembali (recall) atau mengenali kembali nama, kata, inspirasi, rumus, dan
sebagainya (Widyawati, 2020). Pengetahuan merupakan hasil dari mengetahui
dan akan terjadi pada saat penginderaan terhadap suatu objek tertentu.
Pengetahuan diperoleh dari penginderaan melalui indera penglihatan,
pendengaran, penciuman, rasa, dan raba (Pakpahan dkk., 2021)
Pendidikan kesehatan merupakan salah satu langkah pencegahan DM
melalui pemberian informasi berupa pengetahuan tentang emosional, intelektual,
maupun spiritual dan pengetahuan yang berkaitan dengan lingkungan, fisik, dan
sosial. Pendidikan kesehatan yang diberikan untuk mengasah pengetahuan, sikap
individu maupun tindakan dan diarahkan pada pencegahan diabetes yang lebih
baik. Hasil penelitian terdahulu (Ratnasari, 2019) menyatakan bahwa kebutuhan
masyarakat sangat tinggi akan informasi kesehatan dan kesadaran masyarakat
2
tentang pentingnya perilaku sehat dapat menjadi lebih baik dengan cukupnya
informasi yang diberikan. Semakin banyak pengetahuan yang dimiliki oleh
seseorang maka dapat meningkatkan kepatuhan dalam melakukan tindakan.
Pengetahuan yang dimaksud yaitu pengetahuan secara aktif diperoleh melalui
kegiatan membaca buku dan mendapatkan informasi pendidikan kesehatan dari
layanan kesehatan. Dan salah satu cara efektif yang perlu dilakukan melalui
penyuluhan ataupun pendidikan kesehatan yang bersifat berkesinambungan dan
akan menyegarkan serta mengingatkan kembali prinsip-prinsip penatalaksanaan.
Hal tersebut erat kaitannya dengan tingginya faktor risiko diabetes dan kurangnya
pengetahuan tentang langkah-langkah pencegahan dan pengendalian diabetes.
Oleh karena itu diperlukan upaya secara terus menerus untuk memberikan
informasi kepada masyarakat tentang prevalensi diabetes, faktor risiko yang
menjadi pemicunya, serta upaya dalam mencegah dan mengendalikannya.
Kegiatan memberikan pendidikan kesehatan bertujuan meningkatkan pengetahuan
masyarakat tentang faktor risiko diabetes serta upaya untuk mencegah terjadinya
diabetes melitus. Metode yang dilakukan berupa pemberian pretest, pemaparan
materi, dan posttest dengan sasaran kegiatan adalah masyarakat. Hal ini menjadi
dasar untuk melakukan penelitian pengetahuan masyarakat di wilayah kerja
puskesmas monta.
Penelitian yang dilakukan Sri Amanda,Udin Rosidin (2020) dengan judul
Pengaruh Pendidikan Kesehatan Senam Diabetes Melitus terhadap Pengetahuan
Kader Kesehatan, dalam penelitiannya mengatakan bahwa terdapat pengaruh
pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan kader kesehatan. Hasil penelitian
yang diperolreh 78 responden menunjukan bahwa peningkatan pengetahuan
kader kesehatan sebelum dilakukan pendidikan kesehatan tentang senam diabetes
melitus sebesar 31,58 dengan nilai terendah 7 dan tertinggi 58. Sedangkan nilai
pengetahuan setelah dilakukan pendidikan kesehatan meningkat menjadi 72,26
dengan nilai terandah 40 dan nilai tertinggi 97. Uji normalitas pada variabel
pengetahuan menunjukan distribusi normal. Hasil penelitian menunjukan rata-rata
nilai pengetahuan kader kesehatan pretest sebesar 31,58 dan postest 72,26 dengan
nilai signifkasi 0,00 < 0,05.
3
Penelitian yang dilakukan yulianto M (2019) Pengaruh pendidikan kesehatan
terhadap pengetahuan dan sikap pencegahan diabetes melitus pada siswa x di smk
negri 10, pengetahuan dan sikap sebelum diberikan pendidikan kesehatan dalam
pengetahuan pada kelompok intervensi dari kurang (57,1%) Pengetahuan dan
sikap responden setelah dilakukan pendidikan kesehatan menjadi baik(89,3%),
sedangkan pada kelompok kontrol dari kurang (70,4%) menjadi cukup (85,2%).
Hasil presentase sikap pada kelompok intervensi dari kurang (82,1%) menjadi
cukup (67,9%), sedangkan pada kelompok kontrol tidak mengalami perubahan
yang signifikan dari kurang (88,9%) menjadi kurang (74,1%).peningkatan Ada
pengaruh yang bermakna pada pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan dan
sikap pencegahan diabetes melitus pada siswa di SMK Negeri 10 Makassar
dengan nilai pengetahuan p 0,000 (α 0,05) dan nilai sikap p 0,000 (α 0,05).
4
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
2. Tujuan Khusus
D. Manfaat Penelitian
5
2) Manfaat bagi instansi
E. Keaslian Peneliti
6
aktivitas fisik Δ-72,80, dan
kelompok edukasi Δ-48,50
dan nilai signifikan
p=0,001 p=(p<0,05).
Sehingga dapat
disimpulkan bahwa
kombinasi edukasi dan
ktivitas fisik efektif
menurunkan kadar
kolesterol pada penderita
diabetes melitus tipe 2
2 Nina Determinan Risiko dan Penelitian Perbedaan pada Hasil penelitian didapatkan
(2023) Pencegahan terhadap ini penelitian ini dari 599 responden yang di
Kejadian Penyakit menggunak terletak pada mana dalam penelitian ini
Diabetes Melitus Tipe an populasi,sasaran adalah individu usia
2 pada Usia Produktif pendekatan ,waktu dan produktif (12-25 tahun) dari
di Wilayah DKI pretest- tempat penelitian menujukan
Jakarta posttes bahwa diabetes melitus tipe
2 pada usia produktif (12-
25 tahun) terdapat pada 441
orang (73,6%), dan
cakupan responden yang
beresiko terkena diabetes
melitus tipe 2 adalah 43
(7%), dengan presentase
resiko penyakit genetik
sebesar 3,5% dari 559
responden faktor lain yang
berkontribusi adalah jenis
7
kelamin, dimana
perempuan sebesar 1,8%
dan laki-laki sebesar 1,2%,
kelompok umur 55-64
tahun (6,3%), 65-73 tahun
(6,03%), dan 45-54 tahun
(3,9%). Jadi dapat
disimmpulkan bahwa
diabetes melitus tipe 2 pada
usia produktif disebabkan
oleh tiga faktor yaitu
genetik, perilaku, dan
pelayanan kesehatan Dari
ketiga hal tersebut
solusinya adalah dengan
memberikan edukasi
dengan metode penyuluhan
bagaimana pola hidup sehat
yang benar agar masyarakat
mau memperbaiki pola
hidupnya dan terhindar dari
risiko Diabetes Melitus tipe
2 dikalangan usia produktif,
karena dengan menjaga
pola hidup sehat yang
diterapkan sejak dini dapat
meminimalisir dan
mencegah risiko terjadinya
Diabetes Melitus Tipe 2
Pada Usia Produktif.
8
dan pengetahuan dengan populasi,ssaran, dilakukan pendidikan
diabetes pada pasien pendekatan waktu dan kesehatan pada masyarakat
diabetes melitus tipe 2
pretest- Tempat diketahui bahwa dari 30
di pedesaan Tiongkok
posttes responden ada 20
responden (67%) yang
berpengetahuan kurang , 8
responden (26%) yang
berpengetahuan cukup 2
responden (7%) yang
berpengetahuan baik.
Tingkat pengetahuan
setelah diberikan
pendidikan kesehatan
terdapat dari 30 responden ,
tidak ada responden (0%)
yang berpengetahuan
kurang
9
remaja
10
ditandai dengan mati
rasa,sensasi nyeri, dan kulit
kering pada ekstremitas.
11
tidak ada pengaruh
pendidikan pola makan dan
olah raga terhadap kadar
gula darah pada pasien dm
tipe 2 p-value 0,002.
Diharapkan pola makan
pasien diabetes tipe 2,
memperbanyak olah raga
dan memperbanyak
aktivitas di rumah.
12
- penilis populasi,sasaran menyatakan minatnya
polandia tentang
Nowacz ,waktu dan terhadap perawatan farmasi
penerapan pelayanan
yk tempat diabetes yang dilakukan
(2022) farmasi pada diabetes oleh apoteker. Selain itu,
79,4% responden ingin
mendapatkan manfaat dari
tinjauan penggunaan obat,
sementara 87,0%
menyatakan minatnya
terhadap layanan 'Obat
Baru', dan pasien diabetes
sangat tertarik dengan
layanan ini (p=0,2447).
Sebagian besar responden
juga tertarik dengan
edukasi tentang cara
menggunakan meteran
glukosa, mengelola insulin,
dan menggunakan alat
penusuk. Selain itu,
penelitian menunjukkan
kurangnya pengetahuan
pasien tentang faktor risiko
dan pencegahan diabetes
sehingga perlu adanya
edukasi pasien. Sebagai
sumber pendanaan, 91,7%
pasien diabetes memilih
Dana Kesehatan Nasional.
Mengingat layanan tersebut
belum diterapkan di
Polandia, penelitian ini
dapat mendukung tim yang
sudah ada di Kamar
13
Farmasi Tertinggi atau
Kementerian Kesehatan
dalam memperkenalkan
layanan baru tersebut
14
dikaitkan dengan
penurunan HbAlc yang
lebih [Link] dapat di
simpulkan Strategi MIC di
rangkaian layanan
kesehatan primer perkotaan
berkontribusi terhadap
pengendalian SDH T2DM,
seperti tingkat pendidikan,
dan OOH (skor
pengetahuan diabetes dan
perawatan diri pada awal)
memainkan peran penting
dalam meningkatkan
pengendalian glikemik di
rangkaian tersebut.
15
dengan pengetahuan DM
pada skala ADKnowl ( r =
0,172, ). Analisis regresi
linier multivariabel yang
paling sesuai
mengungkapkan delapan
variabel yang menjelaskan
37,6% varians skor
ADKnowl. Faktor-faktor
tersebut adalah pengalaman
belajar diabetes, latar
belakang pendidikan,
komplikasi, terapi, rasio
pinggang-pinggul, durasi
diabetes, status perkawinan,
dan GSE ( R 2 = 0.376, F
= 5.971, ). Kesimpulan .
Pada pasien DMT2 di
Tiongkok, efikasi diri
dalam mengelola DM
berpengaruh positif
terhadap pengetahuan DM
BAB II
16
TINJAU PUSTAKA
A. Diebetes Melitus
1. Definisi
Diabetes mellitus (DM) adalah suatu kondisi metabolik yang ditandai
dengan hiperglikemia yang tidak terkontrol yang disebabkan oleh penurunan
sintesis insulin, kerja insulin, dan metabolisme karbohidrat, lipid, dan protein,
yang meningkatkan risiko penyakit jantung, penyakit pembuluh darah,
obesitas, katarak, dan disfungsi ereksi. juga penyakit jantung (WHO, 2019).
Diabetes melitus istilah kolektif untuk gangguan metabolisme
heterogen yang tujuan utamanya adalah hiperglikemia kronis dikarenakan
gangguan sekresi insulin (Wolosowicz et al., 2020).
2. Klasifikasi
3. Manifestasi Klinis
17
a. Gejala Akut
Pada gejala akut ini para penderita tidaklah sama dan gejala bersifat umum
terkadang para penderita tidak menunjukan gejala apapun sampai saat
tertentu
1) Banyak Kencing (Poliuria)
Ketika seseorang mengalami rasa haus yang berlebihan akibat rendahnya
kadar glukosa dalam urin, tubuh bereaksi dengan meningkatkan asupan
cairan (Pitaloka & Juwariyah, 2021).
2) Rasa Haus Berlebihan (Polidipsia)
Dimana rasa haus yang berlebihan disebabkan oleh rendahnya kadar
glukosa dalam urin, dan tubuh merespons dengan meningkatkan konsumsi
cairan (Irma et al, 2020).
3) Rasa Lapar (Polifagia)
Peningkatan output urin menyebabkan ketidakseimbangan kalori karena
glukosa hilang bersama dengan aliran urin. Hal ini menyebabkan rasa
lapar dan keinginan untuk makan secara berlebihan (Khusaini, 2020).
4) Lesu/Lemas
Karena banyak glukosa dalam tubuh telah dikeluarkan melalui urin dan
keringat, tubuh mudah merasa lelah dan lesu ( Widyaningshi, 2020).
5) Penyusutan Berat Badan
Penderita DM mengalami penurunan berat badan karena tubuhnya
didorong untuk menyerap dan membakar lemak sebagai sumber energi
(Adnan et al, 2018).
b. Gejala Kronik
Pasien dengan gejala kronis tidak memiliki gejala akut (mendadak),
melainkan mengembangkan gejala dari waktu ke waktu atau menderita
penyakit DM dalam jangka panjang, seperti yang ditunjukkan pada gejala di
bawah ini:
1) Kesemutan
2) Kulit terasa panas
3) Kram
4) Mudah mengantuk
5) Mata kabur
6) Gatal di sekitar kemaluan
7) Gigi mudah goyah dan lepas
8) Penurunan gairah seksualitas
9) Keguguran bahkan kematian janin dalam kandungan sering terjadi pada
ibu hamil dengan berat badan lebih dari 4 kg.
18
4. Faktor Resiko
19
tidak diatur. Nasution (2020), mengungkapkan bahwa orang dengan
obesitas dapat mengakibatkan diabetes
5. Penatalaksanaan
Orang dengan diabetes mellitus tipe 1 dan 2 harus mengikuti lima langkah
penting ini untuk hasil terbaik. Ini adalah langkah manajemen non-
farmakologis, yang meliputi pendidikan, perencanaan makan, dan aktivitas
fisik. Suciana & Arifianto (2019), terdapat hubungan antara penatalaksanaan 5
pilar pengendalian diabetes dengan kualitas hidup diabetes; Jika
penatalaksanaan 5 pilar pengendalian diabetes baik, maka kualitas hidup pasien
diabetes juga baik.
Berikut manajemen pilar dalam penatalaksanaan diabetes:
a) Edukasi
Dengan edukasi diyakini bahwa melalui pendidikan, pasien akan
mendapatkan kesadaran yang lebih baik tentang diabetes, termasuk
bagaimana cara pengelolaan penyakit dan konsekuensi yang dapat timbul
jika pasien tidak diobati secara efektif. Penelitian Fatmawati et al. (2020),
didapatkan bahwa tindakan responden sebagian besar adalah dalam
kategori baik setelah mendapat pendidikan terkait perawatan kaki..
b) Perencanaan Makanan
Tujuan keseluruhan perencanaan makan adalah untuk membantu pasien
dalam meningkatkan kebiasaan nutrisi mereka. Perencanaan makan harus
mencakup nutrisi yang cukup, yang berarti makan cukup makanan
sepanjang hari. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sayan (2020), telah
menemukan bahwa kepatuhan terhadap diet penderita diabetes tipe 2 telah
terbukti menurunkan kadar gula dalam darah.
c) Kegiatan Jasmani
Latihan fisik secara teratur juga termasuk dalam pencegahan sekunder
faktor risiko komplikasi diabetes pada luka kaki diabetik dan amputasi,
sesuai dengan salah satu konsep dalam pengelolaan diabetes melitus.
Berdasarkan penelitian Megawati et al. (2020), mendapatkan bahwa senam
20
kaki diabetik mempengaruhi nilai ABI, hal ini menunjukkan bahwa senam
kaki dapat meningkatkan sirkulasi darah kaki.
d) Pengelolaan Farmakologis
Obat diabetes mellitus dipilih secara individual, artinya disesuaikan
dengan status metabolisme pasien. Sutawardana et al. (2020), meneliti
hubungan antara self-compassion dan kepatuhan terapi insulin pada pasien
diabetes tipe 2. Mereka 25 menemukan bahwa ada hubungan antara self-
compassion dan kepatuhan terapi insulin pada pasien diabetes tipe 2.
e) Pemeriksaan Gula Darah Mandiri
Pemeriksaan gula darah dapat dicatat dalam buku harian penderita
diabetes. Seperti yang diungkapkan dalam penelitian Ismansyah (2020),
mengungkapkan bahwa ada hubungan antara keduanya. Mengelola
kepatuhan sangat penting untuk berhasil menyediakan dan mengendalikan
kadar gula darah. Jika pasien diabetes mengikuti rencana kontrol, ia akan
dapat mengontrol kadar gula darahnya dengan lebih baik. Ini karena
mengikuti jadwal kontrol dapat membantu proses penyembuhan dan
memungkinkan pasien untuk mengelola diabetes dengan lebih baik.
6. Komplikasi
Komplikasi Konsekuensi akut dan kronis adalah dua jenis komplikasi yang
terkait dengan diabetes. Masalah akut hasil dari intoleransi glukosa jangka
pendek, sedangkan konsekuensi kronis muncul 10 - 15 tahun setelah
perkembangan diabetes. Secara umum komplikasi dibagi menjadi 2 yaitu
( Smeltzer, 2013).
a. Komplikasi Akut
1) Hipoglikemia
Kondisi gula darah rendah berada dibawah normal.
2) DKA (Ketoasidosis Diabetikum) Suatu komplikasi DM yang serius saat
tubuh memproduksi asam darah (keton) berlebihan.
3) HHS (Hiperosmolar Hiperglikemik State) Kondisi gula darah naik secara
ekstrem atau terlalu tinggi hingga mencapai 600 mg/ dL (33.3 mmol/L).
21
b. Komplikasi Kronik
1) Komplikasi Makrovaskuler (pembuluh darah besar) Trombosit otak
(penggumpalan darah di sebagian otak), penyakit jantung koroner, gagal
jantung kongestif, dan stroke adalah semua masalah makrovaskular yang
mengganggu sirkulasi koroner dan lebih sering terjadi pada pasien DM.
Komplikasi inilah penyebab terbesar kesakitan bahkan kematian pada
pasien DM.
2) Komplikasi Mikrovaskuler (pembuluh darah kecil) Komplikasi
mikrovaskuler merupakan dampak dari hiperglikemia yang berlangsung
lama, komplikasi ini meliputi diabetik neuropathy, peripheral neuropathy,
dan retinopathy.
7. Pencegahan
a. Pencegahan Primer
Mencegah terjadinya diabetes mellitus. Faktor-fakor yang dapat
menyebabkan diabetes mellitus perlu diperhatikan, baik secara genetik
maupun lingkungan. Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
pencegahan primer :
1) Pola makan sehari-hari harus seimbang dan tidak berlebihan
Jumlah kalori tubuh yang diperlukan setiap hari untuk memenuhi
kebutuhan energi, jadwal makan sehat 6x sehari yaitu 3x makan
besar dan 3x makan selingan, pengaturan porsi makan dalam satu
piring dengan ukuran piring 9 inchi atau standar. Dalam satu piring
dibagi menjadi 3 bagian yaitu 1/4 porsi karbohidrat (nasi, ubi,
kentang), 1/4 porsi protein (ayam, ikan, dan lainnya), dan ½ porsi
sayuran. Dan juga ditambah dengan buah-buahan.
2) Olahraga secara teratur dan tidak banyak berdiam diri Olahraga
sebaiknya dilakukan sedikitnya 150 menit/minggu dengan latihan
aerobik sedang seperti berlari kecil/jogging, renang.
3) Usahakan berat badan dalam batas normal
4) Hindari obat-obatan yang dapat menimbulkan diabetes
22
b. Pencegahan Sekunder
c. Pencegahan Tersier
pencegahan ini tujuannya adalah untuk mencegah kecacatan lebih lanjut dari
komplikasi penyakit yang sudah terjadi Berikut pencegahan yang dimaksud :
B. Pendidikan Kesehatan
1. Pengertian
Pada tingkat individu, komunitas, atau ras, pendidikan kesehatan adalah
seperangkat pengalaman yang membentuk sikap, pengetahuan, dan
pembiasaan individu yang terkait dengan gaya hidup sehat. Pendidikan
kesehatan adalah metode penyampaian informasi dari satu orang ke orang
lain, bukan kumpulan instruksi (Musakkar, 2020). Pendidikan kesehatan
merupakan proses masuk dan keluarnya informasi, dan sering disebut sebagai
23
bentuk kegiatan dalam menyampaikan pesan kesehatan kepada individu,
komunitas, dan masyarakat sehingga dapat memperoleh harapan pengetahuan
kesehatan ke arah yang lebih baik (WHO, 2019)
2. Tujuan
Musakkar (2020), tujuan dari pendidikan kesehatan adalah mengubah
sikap dan perilaku terhadap pengetahuan di bidang kesehatan. Tujuan tersebut
dapat dirinci lebih lanjut:
a. Meningkatkan nilai kesehatan di mata masyarakat.
b. Dapat membantu seseorang dalam melakukan aktivitas untuk mencapai
tujuan hidup sehat sendiri atau dalam kelompok.
c. Dapat secara tepat mendorong pendirian dan penggunaan fasilitas
pelayanan kesehatan.
3. Sasaran
24
Pendekatan individual dapat mengambil dua bentuk:
a. Ceramah
metode ini berikan kepada sasaran yang berpendidikan baik
maupun kurang.
b. Seminar
Hanya ideal untuk menargetkan kelompok besar orang dengan
ijazah sekolah menengah. Seminar adalah ceramah (presentasi)
yang diberikan oleh satu atau lebih profesional tentang topik yang
penting bagi masyarakat dan biasanya diterima dengan hangat
25
2. Kelompok Kecil
Diskusi Kelompok
c. Billboard
26
Sebagai media penyampaian pesan atau informasi yang berhubungan
dengan kesehatan.
6. Media
Pendidikan kesehatan merupakan salah satu cara untuk memberikan
pengetahuan. Karena instrumen tersebut digunakan untuk menyebarkan
informasi kesehatan, maka disebut media pembelajaran. Alat tersebut
27
digunakan untuk memudahkan 13 masyarakat umum atau klien dalam
menerima pesan kesehatan (Widyawati, 2020).
Media ini dikategorikan menjadi media cetak, media elektronik,
baliho, dan baliho berdasarkan tujuannya sebagai penyebaran pesan (media)
kesehatan:
a. Media
1) Buku (Booklet)
Untuk mengkomunikasikan pesan melalui buku, baik tertulis
maupun visual.
2) Leaflet
Isi pesan bisa berupa gambar/teks atau keduanya melalui lembaran
terlipat.
3) Selembaran ( Flayer )
Seperti Leaflet tapi tidak bentuk lipatan
4) Lembar Balik (Flip Chart )
Flip chart dengan pesan dan informasi kesehatan, biasanya berupa
buku dengan gambar demonstrasi di bagian depan dan tulisan atau
pernyataan di bagian belakang sebagai informasi tentang gambar.
5) Rubik/Tulisan-
Tulisan Tentang masalah kesehatan atau masalah yang
berhubungan dengan kesehatan, di surat kabar atau publikasi.
6) Poster
Pesan/informasi kesehatan dicetak di atas kertas yang biasanya
ditempel di dinding, di tempat umum, atau di angkutan umum.
b. Media Elektronik
1) Televisi
28
Forum diskusi/tanya jawab, ceramah, televisi olahraga, kuis, atau
kuis.
2) Radio
Melalui obrolan, seperti tanya jawab, sandiwara radio, ceramah,
dan acara radio.
3) Video Compact Disc (VCD)
Dengan beragam tayangan video dokumenter, hiburan, dan
pendidikan, media berikut berguna untuk menyampaikan pesan
kepada orang lain.
4) Slide
Pesan atau informasi kesehatan juga dapat disampaikan melalui
slide.
5) Film
Pesan terkait kesehatan juga dapat disampaikan melalui strip film.
6) Video Online/Offline
Tua dan muda sama-sama akrab dengan media video. Materi video
tentang sejarah seram, motivasi, instruksional, atau pengalaman
lainnya dapat dilihat berulang kali.
C. Konsep Pengetahuan
1. Pengertian
Kemampuan seseorang untuk mengingat atau mengenali nama,
istilah, ide, rumus, dan sebagainya tanpa mengharapkan adanya tindakan
(Widyawati, 2020). Pengetahuan adalah konsekuensi dari mengetahui, dan
itu dibuat ketika manusia mempersepsikan item tertentu. Ada lima panca
indera manusia, termasuk penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan
sentuhan, digunakan untuk mendeteksi informasi (Nurmala et al, 2018).
29
mempengaruhi pengetahuan. Sementara itu, Notoatmodjo menjelaskan bahwa
jumlah pendidikan, informasi, budaya, dan pengalaman adalah semua unsur
yang menentukan pengetahuan (Rachmawati, 2019).
Ketika seseorang mengetahui sesuatu, mereka dikatakan memiliki
pengetahuan tentang itu. Salah satu aspek pengetahuan adalah mencakup
bagian dari mengetahui dan diketahui, serta kesadaran akan apa yang ingin
dipelajari. Akibatnya, pengetahuan membutuhkan subjek yang sadar akan
kebutuhan untuk mengetahui dan objek yang harus dihadapi. Akibatnya,
pengetahuan dapat didefinisikan sebagai produk pengetahuan manusia
tentang apa pun, atau sebagai upaya manusia yang ditujukan untuk
memahami objek tertentu (Rachmawati, 2019).
Berikut ini yang dapat mempengaruhi pengetahuan adalah:
a. Faktor Internal
1) Umur Persepsi dan pemikiran seseorang sangat dipengaruhi oleh
usianya. Seiring bertambahnya usia, daya tangkap dan pemikiran
mereka meningkat, dan menghasilkan peningkatan pengetahuan.
2) Pengalaman Dapat menjadi sumber informasi yang berharga yang
dapat diterapkan dengan mengulangi apa yang telah dipelajari.
3) Intelegensia Merupakan kemampuan secara khusus, untuk
mempelajari, berpikir, dan mengelola berbagai pengetahuan secara
sistematis..
b. Faktor Eksternal
1) umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin
banyak informasi yang diterimanya.
2) Lingkungan Lingkungan mencakup semua situasi yang terjadi di
sekitar manusia, dan pengaruhnya dapat berdampak pada
pertumbuhan dan perilaku manusia.
3) Sosial Budaya dan Ekonomi Sosial budaya masyarakat dapat
mempengaruhi sikap untuk memperoleh informasi, sedangkan
posisi ekonomi mempengaruhi pengetahuan dan ketersediaan
fasilitas belajar.
30
4) Informasi Memberikan pengaruh pada pemahaman seseorang.
Pengetahuan seseorang berbanding lurus dengan banyaknya
informasi yang diterimanya.
5) Pekerjaan Secara tidak langsung pekerjaan memiliki dampak tidak
langsung pada pengetahuan karena sangat terkait dengan interaksi
sosial dan budaya yang mengarah pada pertukaran
informasiPendidikan Pada
3. Tingkat Pengetahuan
Ranah kognitif, atau pengetahuan, adalah domain penting dalam
mempengaruhi perilaku seseorang. Ada enam derajat pengetahuan
dalam ranah kognitif (Widyawati, 2020):
a) Mengetahui (know), tingkat terendah dari domain kognitif, ketika
seseorang mengingat pengetahuan yang diperoleh sebelumnya.
b) Memahami (comprehension), adalah tingkat pemahaman yang
lebih besar daripada sekadar mengetahui. Individu memahami dan
menafsirkan pengetahuan dengan benar pada tingkat ini.
c) Aplikasi (applicantio), adalah tingkat di mana seorang individu
dapat menerapkan pengetahuan yang telah dipahami dan
ditafsirkan dengan benar dalam situasi kehidupan nyata. 18
d) Analisis (analysis), adalah tingkat di mana seorang individu dapat
menjelaskan keterkaitan materi dalam komponen yang lebih rumit
dalam unit tertentu.
e) Sintesis (synthesis), adalah tingkat di mana kemampuan seseorang
untuk membuat hal baru dari formulasi yang diuji.
f) Evaluasi (evaluation), adalah tingkat di mana individu dapat
mengevaluasi informasi yang disajikan.
C. Kerangka Teori
Kerangka teori yang digunakan sebagai dasar acuan dalam penelitian
pencegahan diabetes melitus dengan upaya meningkatkan pengetahuan
31
Edukasi:
1. Pendidikan kesehatan
masyarakat , yang terbentuk melalui kegiatan pendidikan kesehatan
(Notoadmodjo,2017) Dengan media ppt
1. Media cetak
2. Media elektronik
- TV
- Slide
Pencegahan
- VCD
1. pola makan - Film/video
- Radio
2. Aktifitas fisik
3. Media papan
3. Edukasi (Pendidikan kesehatan)
Gambar 3.1 kerangka teori penelitian “ pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan masyarakat
tentang cara pencegahan DM (Diabetes Melitus
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. KERANGKA KONSEP
32
konsep haruslah dapat memperlihatkan hubungan antara variable-variabel
yang akan diteliti (Wiatini, 2021).
Pengetahuan
Pendidikan dan
kesehatan dengan pencegahan
media ppt DM
Keteragan:
:Variabel independen
: variabel penghubung
: variabel dependen
B. Hipotesis
Hipotesis adalah proposisi yang dapat diuji secara empiris. Dengan kata
lain, ketika seseorang menyatakan hipotesis, itu harus ditulis dengan cara
yang dapat didukung atau terbukti salah melalui uji empiris (Zikmund, Carr,
& Griffin, 2018)
33
Ha : Ada pengaruh pendidikan kesehatan dengan media Ppt terhadap
pengetahuan masyarakat tentang cara pencegahan diabetes melitus.
O1 Pendidikan kesehatan O2
dengan media PPT
Keterangan :
34
D. Lokasi dan waktu penelitian
1. Populasi
2. Sampel
Sampel ialah bagian dari populasi yang menjadi sumber data dalam
penelitian, dimana popilasi merupakan bagian dari jumlah karakteristik
yang dimiliki oleh populasi ( Suguyono 2017), penelitian ini menggunakan
teknik pengambilan sample purpossive sampling didapatkan jumlah
sample 76 0rang
a. Kriteria Inklusi
b. Kriteria Eksklusi
35
3) Keluarga dengan penderita diabetes melitus yang telah di diagnosa
oleh dokter
Jumlah sampel yang akan diambil pada penelitian ini dengan menggunakan
rumus slovin yang dapat dilihat dibawah ini:
Keterangan :
n = Sampel
N = Populasi
E = Batas toleransi kesalahan (eror tolerance)
Penyelesaian:
n= N = 95
1+N (e)2 1+ 95 (0,05)2
= 95
1+95 (0,0025)
= 95
1+ 0,2375
= 95
1,2375
= 76
36
F. Definisi operasional
37
dalam (76- 100%) b.
kehidupannya Cukup jika
dari menjaga penilaian skor
pola makan antara 15-20
dan aktivitas (56- 75%) c.
fisik untuk Kurang jika
mencegah penilaian skor
penyakit DM 9-14 (0-55%)
G. Instrumen Penelitian
38
2. Tehnik Pengumpulan Data
Persiapan menelitian
Bersedia
Informent consent
Analisa Data
a. Persiapan penelitian
Persiapan di mulai dengan mempersiapkan kuesioner penelitian
yang aplikatif, kuesioner penelitian berupa kuesioner penelitian
Demografi dan kuesioner penelitian tingkat [Link] di
39
lanjtkan dengan pembuatan surat undangan yang akan diberikan kepada
responden dan persiapan kader kesehatan yang akan membantu jalannya
penelitian.
b. pemilihan subjek/Sampel
c. Informed Consent
40
Pengisian kuesioner dilakukan langsung setelah intervensi
pendidikan kesehatan selesai, dan dilakukan secara bersama-sama
sebagaimana pengisian kuesioner pretest
H. Analisis Data
Analisa data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisa data
univariat dan bivariat. Analisis statistik univariat pada penelitian ini adalah analisa
deskriptif kategorik yang meliputi variabel Usia, jenis kelamin,pendidikan
terakhir,pekerjaan, riwayat DM keluarga, gambaran pengetahuan responden
sebelum intervensi sedangkan variabel lama didiagnosa DM dan riwayat edukasi
tarakhir mengenai DM disajiakan dalam bentuk data numerik.
1. Analisa yang dilakukan untuk menganalisa tiap variabel dari hasil penelitian, dan
disajikan dalam bentuk penyajian data deskriptif. Analisa univariat dalam
penelitian ini adalah data responden yang dilakukan perilaku pencegahan
diabetes mellitus. Variabel yang dianalisa dalam poin ini yaitu karakteristik
responden mengenai karakteristik usia, jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan.
2. Analisa Bivariat
Analisa yang digunakan untuk mengetahui keterkaitan antara dua variabel. Pada
penelitian ini menghubungkan antara pengaruh pendidikan kesehatan dengan
media video dengan perilaku pencegahan diabetes melitus. Karena penelitian ini
adalah dengan skala ordinal, maka uji statistik yang dipilih adalah uji Wilcoxon
dengan kemaknaan sebesar 0,05 (α=5%) dan Confidence Interval sebesar 95%
Interpretasinya, yaitu : a. Jika nilai probabilitas ≤ 0,05, maka hipotesis Ha diteri
a. Jika nilai probabilitas ≤ 0,05, maka hipotesis Ha diterima atau gagal ditolak dan
Ho ditolak yang artinya ada hubungan antara variabel dependen dengan variabel
independen.
b. Jika nilai probabilitas > 0,05, maka hipotesis Ha ditolak dan Ho diterima yang
artinya tidak ada hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen.
41
DAFTAR PUSTAKA
Amanda, S., Rosidin, U., & Permana, R. H. (2020). Pengaruh pendidikan kesehatan
senam diabetes melitus terhadap pengetahuan kader kesehatan. Media Karya
Kesehatan, 3(2).
Betteng, R. (2018). Analisis faktor resiko penyebab terjadinya diabetes melitus tipe 2
pada wanita usia produktif dipuskesmas wawonasa. Jurnal E-Biomedik, 2(2).
[Link]
Chen, Shaofan, dkk. “Dampak intervensi pendidikan di layanan primer terhadap kadar
glukosa darah puasa dan pengetahuan diabetes di antara pasien diabetes melitus
tipe 2 di pedesaan Tiongkok.” Pendidikan dan Konseling Pasien 103.9 (2020):
1767-1773.
Et, ira nurmala et al. (2018). Promosi kesehatan (1st ed.). AIRLANGGA
UNIVERSITY PRESS. [Link]
Fanani, A., & Sulaiman, L. (2021). Faktor obesitas dan faktor keturunan dengan
kejadian kasus diabetes mellitus. Riset Informasi Kesehatan, 10(1), 74.
[Link]
Gregg, E., Buckley, J., Ali, M., Davies, J., Flood, D., Griffiths, B., Lim, L.-L., Manne-
Goehler, J., Pearson-Stuttard, J., & Shaw, J. (2021). Improving health outcomes of
people with diabetes mellitus: target setting to reduce the global burden of
diabetes mellitus by 2030. Glennis Andall-Brereton, 8.
42
[Link]
with-diabetes-mellitus.
IDF, A. (2019). International diabetes federation. In The Lancet (Vol. 266, Issue
6881). [Link]
Irma, I., Alifariki, L. O., & Kusnan, A. (2020). Uji sensitifitas dan spesifisitas keluhan
Penderita diabetes melitus berdasarkan keluhan dan hasil pemeriksaan gula darah
sewaktu (GDS). Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan, 16(1), 25.
[Link]
Ismansyah. (2020). Hubungan kepatuhan kontrol dengan kadar gula darah sewaktu
pada pasien DM Tipe 2. MNJ (Mahakam Nursing Journal), 2(7), 363–372.
[Link]
Khusaini, naufal ways al. (2020). Keterkaitan pola makan pada penderita diabetes
melitus. [Link]
Kadafi, A., & Nelyanti, D. A. (2023). Kombinasi Edukasi dan Aktivitas Fisik Efektif
Menurunkan Kadar Kolesterol pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Jurnal
Kesehatan Borneo Cendekia, 6(2), 105-114.
Lis Widyaningshi. (2020). Asuhan keperawatan pada klien dewasa diabetes di rumah
sakit panti Waluya Malang lis Widyaningsih , Felisitas A Sri S , Wisoedhanie W .
A Prodi D-III Keperawatan STIKes Panti Waluya Malang. Jurnal Keperawatan.
[Link]
Megawati, S. W., Utami, R., & Jundiah, R. S. (2020). Senam kaki diabetes pada
penderita diabetes melitus tipe 2 untuk meningkatkan nilai ankle brachial indexs.
Jnc, 3(2), 1–6. [Link]
43
Musakkar, T. D. (2020). Pendidikan dan promosi kesehatan. In Angewandte Chemie
International Edition, 6(11), 951–952. (Vol. 13, Issue April).
[Link]
Nasution, S. A. (2020). Gambaran faktor resiko diabetes mellitus tipe 2 pada anak
obesitas usia sekolah di Medan.
[Link]
Okafor, CJ, Yusuf, SA, Mahmoud, SA, Salum, SS, Vargas, SC, Mathew, AE, ... &
Abdulrahman, WS (2021). Pengaruh Jenis Kelamin dan Faktor Risiko pada
Komplikasi Diabetes Mellitus Tipe 2 pada Pasien yang Mengunjungi Klinik
Diabetes di Rumah Sakit Mnazi Mmoja, Zanzibar. Jurnal Penelitian Farmasi
Internasional , 33 (29B), 67-78.
Pelullo, C. P., Rossiello, R., Nappi, R., Napolitano, F., & Di Giuseppe, G. (2019).
Diabetes prevention: knowledge and perception of risk among Italian population.
BioMed Research International, 2019. [Link]
Pitaloka, Y. D., & Juwariyah, S. (2021). Efek pemberian buah naga merah
(Hylocereus Polyrhizus) terhadap penurunan kadar glukosa darah pada penderita
diabetes tipe 2. Jurnal Manajemen Asuhan Keperawatan, 5(2), 97– 103.
[Link]
Purnama, H., Adzidzah, HZN, Solihat, M., & Septriani, M. (2023). Penentu Risiko
dan Pencegahan terhadap Kejadian Penyakit Diabetes Melitus Tipe 2 pada Usia
Produktif di Wilayah DKI Jakarta: Penentu Risiko dan Pencegahan Diabetes
Melitus Tipe 2 pada Usia Produktif di Wilayah DKI Jakarta. Jurnal Pendidikan
Kesehatan Masyarakat , 2 (4), 158-166.
Putra, I. W. M. M., Budyono, C., Ekawanti, A., & Anggoro, J. (2023). Factors
Affecting Controlled Blood Sugar Levels in Patients with Type 2 Diabetes
44
Mellitus at the Internal Medicine Polyclinic at the Regional General Hospital of
West Nusa Tenggara Province. Jurnal Biologi Tropis, 23(1), 65-72.
Rachmawati, W. K. (2019). Promosi kesehatan dan ilmu perilaku (1st ed.). Wineka
Media.
Sutawardana, J. H., Putri, W. N., & Widayati, N. (2020). Hubungan self compassion
dengan kepatuhan terapi insulin pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Rsd Dr .
Soebandi Jember ( correlation between self compassion and adherence to insulin
therapy in patients with type 2 diabetes mellitus at RSD dr . Soebandi. Journal of
Nursing Care & Biomolecular, 5(1),
56–[Link]://[Link]/[Link]
ik2dM0AAAAJ&hl=en
Setyawan, H., & Nisak, R. (2024). Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Perilaku
Pencegahan Diabetes Mellitus Pada Siswa SMK Negeri 1 Ngawi. e-Journal
Cakra Medika, 11(1), 67-73.
Selfi, B. F., Simbolon, D., & Kusdalinah, K. (2018). Pengaruh Edukasi Pola Makan
dan Senam terhadap Kadar Gula Darah Pada Penderita DM Tipe 2. Jurnal
Kesehatan, 9(2), 325-330.
45
penentu kesehatan sosial dan lainnya dalam pengaruh strategi perawatan
terintegrasi multikomponen pada diabetes mellitus tipe 2. Jurnal Internasional
untuk Kesetaraan dalam Kesehatan , 19 (1), 75.
Widyawati. (2020). Buku ajar promosi kesehatan untuk mahasiswa keperawatan (1st
ed.). Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Binalita Sudama Medan Jl. Gedung PBSI
Pasar V Medan
[Link]://[Link]/assets/files/buku_ajar_pendidikan_dan_prom
os i_kesehatan_buk_widya.pdf
Wolosowicz, M., Lukaszuk, B., & Chabowski, A. (2020). The causes of insulin
resistance in type 1 diabetes mellitus : Is there a place for quaternary prevention ?
1–13. [Link]
Zikmund, Carr, B., & Griffin. (2018). Business Research Methods (Eighth Edition
ed.).
46
KUESIONER
Petunjuk : Pilihlah salah satu jawaban dengan memberi tanda (√) dari setiap
pertanyaan dibawah ini yang dianggap paling sesuai.
KUESIONER
Petunjuk : Pilihlah salah satu jawaban dengan memberi tanda (√) dari setiap
pertanyaan dibawah ini yang dianggap paling sesuai.
Kuesioner ini digunakan untuk mengukur perilaku dalam mencegah diabetes melitus
yang Anda lakukan selama 1 bulan terakhir.
47
Kadang-kadang : Jika hanya sesekali saja melakukannya
Kontrol
kesehatan
Diet
48
6 Apakah Anda mengkonsumsi
gula lebih dari 4 sendok makan
perhari?
Olahraga
49
menyapu, mengepel, dan lainnya
untuk menjaga kesehatan?
50