0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan50 halaman

Pendidikan Kesehatan dan Diabetes Melitus

Diunggah oleh

linda putri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan50 halaman

Pendidikan Kesehatan dan Diabetes Melitus

Diunggah oleh

linda putri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Diabetes mellitus (DM) adalah suatu kondisi metabolik yang ditandai
dengan hiperglikemia yang tidak terkontrol yang disebabkan oleh penurunan
sintesis insulin, kerja insulin, dan metabolisme karbohidrat, lipid, dan protein,
yang meningkatkan risiko penyakit jantung, penyakit pembuluh darah, obesitas,
katarak, dan disfungsi ereksi. juga penyakit jantung (WHO, 2019). International
Diabetes Federation, diabetes mellitus (DM) adalah gangguan serius atau kronis
jangka panjang dimana kadar glukosa darah meningkat sebagai akibat dari
ketidakmampuan tubuh untuk menghasilkan atau menggunakan hormon insulin
(IDF, 2019).
International Diabetes Federation (IDF) Atlas edisi ke-10 mengungkapkan,
saat ini 1 dari 10 orang atau 537 juta orang di dunia hidup dengan diabetes.
Apabila tidak ada intervensi, angka ini diproyeksikan akan meningkat, mencapai
643 juta pada tahun 2030 dan 784 juta pada tahun 2045. Diabetes melitus tipe-2
(DMT2) telah menyerang lebih dari 90% pasien di seluruh dunia. Penyakit ini
juga telah menyebabkan 6,7 juta kematian pada tahun 2021. Diperkirakan terdapat
1 orang meninggal setiap 5 detik akibat diabetes (International Diabetes
Federation, 2021).IDF juga memprediksi terdapat sedikitnya 483 juta jiwa dari
usia 20-79 tahun di dunia yang menerita diabetes melitus dengan angka prevelensi
yang mendekati 9,3% dari keseluruhan penduduk yang hampir usianya sama.
World Health Organization (WHO) mengemukakan bahwa Indonesia akan
menempati peringkat nomor lima di dunia dengan jumlah pengidap diabetes
sebanyak 12,4 juta orang pada tahun 2025. Prevalensi penderita di Indonesia,
berdasarkan data Riskesdas tahun 2013 dan tahun 2018 menunjukkan bahwa tren
prevalensi penyakit Diabetes Melitus di Indonesia meningkat dari 6,9% menjadi
8,5%. Jumlah penderita diabetes di Indonesia terus meningkat dari 10,7 juta pada
tahun 2019 menjadi 19,5 juta pada tahun 2021. Pada tahun 2021, Indonesia

1
menduduki peringkat kelima dengan jumlah penderita diabetes terbanyak di
dunia, naik dari peringkat ketujuh tahun lalu (International Diabetes Federation,
2021).
Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan salah satu provinsi yang
terus mengalami peningkatan dalam jumlah kasus DM setiap tahunnya. Pada
tahun 2018 berdasarkan Riset Kesehatan Dasar NTB, provinsi ini menduduki
peringkat ke-23 dari 35 provinsi di Indonesia dengan jumlah penderita 21.308.
Kota Mataram menjadi salah satu kabupaten/kota dengan persentase DM
terdiagnosis oleh dokter tertinggi kedua dengan persentase 1,61% dibawah kota
Bima yang menduduki peringkat pertama 1,86% (Kemenkes RI, 2019).
Pertambahan penduduk disegala usia, maka tingginya penderita DM
berdasarkan gejalanya terus meningkat dan sebagian besar karena peningkatan
berat badan ( obesitas), pola makan yang tidak sehat ,kurangnya aktivitas fisik,
dan perubahan gaya hidup (pelullo el al., 2019).
Pencegahan diabetes mellitus yang dilakukan meliputi pola hidup yang sehat
termasuk pola makan harus dijaga dan teratur, aktivitas fisik, pengecekan kadar
gula darah secara rutin, dan peningkatan pengetahuan atau edukasi dengan
pendidikan kesehatan (Fidianingsih et al., 2017).
Pengetahuan (knowledge) adalah kemampuan individu untuk mengingat
kembali (recall) atau mengenali kembali nama, kata, inspirasi, rumus, dan
sebagainya (Widyawati, 2020). Pengetahuan merupakan hasil dari mengetahui
dan akan terjadi pada saat penginderaan terhadap suatu objek tertentu.
Pengetahuan diperoleh dari penginderaan melalui indera penglihatan,
pendengaran, penciuman, rasa, dan raba (Pakpahan dkk., 2021)
Pendidikan kesehatan merupakan salah satu langkah pencegahan DM
melalui pemberian informasi berupa pengetahuan tentang emosional, intelektual,
maupun spiritual dan pengetahuan yang berkaitan dengan lingkungan, fisik, dan
sosial. Pendidikan kesehatan yang diberikan untuk mengasah pengetahuan, sikap
individu maupun tindakan dan diarahkan pada pencegahan diabetes yang lebih
baik. Hasil penelitian terdahulu (Ratnasari, 2019) menyatakan bahwa kebutuhan
masyarakat sangat tinggi akan informasi kesehatan dan kesadaran masyarakat

2
tentang pentingnya perilaku sehat dapat menjadi lebih baik dengan cukupnya
informasi yang diberikan. Semakin banyak pengetahuan yang dimiliki oleh
seseorang maka dapat meningkatkan kepatuhan dalam melakukan tindakan.
Pengetahuan yang dimaksud yaitu pengetahuan secara aktif diperoleh melalui
kegiatan membaca buku dan mendapatkan informasi pendidikan kesehatan dari
layanan kesehatan. Dan salah satu cara efektif yang perlu dilakukan melalui
penyuluhan ataupun pendidikan kesehatan yang bersifat berkesinambungan dan
akan menyegarkan serta mengingatkan kembali prinsip-prinsip penatalaksanaan.
Hal tersebut erat kaitannya dengan tingginya faktor risiko diabetes dan kurangnya
pengetahuan tentang langkah-langkah pencegahan dan pengendalian diabetes.
Oleh karena itu diperlukan upaya secara terus menerus untuk memberikan
informasi kepada masyarakat tentang prevalensi diabetes, faktor risiko yang
menjadi pemicunya, serta upaya dalam mencegah dan mengendalikannya.
Kegiatan memberikan pendidikan kesehatan bertujuan meningkatkan pengetahuan
masyarakat tentang faktor risiko diabetes serta upaya untuk mencegah terjadinya
diabetes melitus. Metode yang dilakukan berupa pemberian pretest, pemaparan
materi, dan posttest dengan sasaran kegiatan adalah masyarakat. Hal ini menjadi
dasar untuk melakukan penelitian pengetahuan masyarakat di wilayah kerja
puskesmas monta.
Penelitian yang dilakukan Sri Amanda,Udin Rosidin (2020) dengan judul
Pengaruh Pendidikan Kesehatan Senam Diabetes Melitus terhadap Pengetahuan
Kader Kesehatan, dalam penelitiannya mengatakan bahwa terdapat pengaruh
pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan kader kesehatan. Hasil penelitian
yang diperolreh 78 responden menunjukan bahwa peningkatan pengetahuan
kader kesehatan sebelum dilakukan pendidikan kesehatan tentang senam diabetes
melitus sebesar 31,58 dengan nilai terendah 7 dan tertinggi 58. Sedangkan nilai
pengetahuan setelah dilakukan pendidikan kesehatan meningkat menjadi 72,26
dengan nilai terandah 40 dan nilai tertinggi 97. Uji normalitas pada variabel
pengetahuan menunjukan distribusi normal. Hasil penelitian menunjukan rata-rata
nilai pengetahuan kader kesehatan pretest sebesar 31,58 dan postest 72,26 dengan
nilai signifkasi 0,00 < 0,05.

3
Penelitian yang dilakukan yulianto M (2019) Pengaruh pendidikan kesehatan
terhadap pengetahuan dan sikap pencegahan diabetes melitus pada siswa x di smk
negri 10, pengetahuan dan sikap sebelum diberikan pendidikan kesehatan dalam
pengetahuan pada kelompok intervensi dari kurang (57,1%) Pengetahuan dan
sikap responden setelah dilakukan pendidikan kesehatan menjadi baik(89,3%),
sedangkan pada kelompok kontrol dari kurang (70,4%) menjadi cukup (85,2%).
Hasil presentase sikap pada kelompok intervensi dari kurang (82,1%) menjadi
cukup (67,9%), sedangkan pada kelompok kontrol tidak mengalami perubahan
yang signifikan dari kurang (88,9%) menjadi kurang (74,1%).peningkatan Ada
pengaruh yang bermakna pada pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan dan
sikap pencegahan diabetes melitus pada siswa di SMK Negeri 10 Makassar
dengan nilai pengetahuan p 0,000 (α 0,05) dan nilai sikap p 0,000 (α 0,05).

Survei pendahuluan yang dilakukan peneliti di wilayah kerja Puskesmas


Monta Kabupaten Bima menunjukkan bahwa jumlah kasus DM sebanyak 446
pasien yang tercatat dari bulan Januari-Desember tahun 2023. Dan data yang
sudah terlayani atau yang sudah mendapatkan pelayanan di puskesman monta dari
januari-maret 2024 sebanyak 134 orang. Survei yang dilakukan kepada 5 orang, 2
orang di antaranya mengatakan bahwa penyakit diabetes melitus sudah di derita
sejak tiga tahun yang lalu, 1 orang lainya menderita diabetes melitus sejak 20
tahun yang lalu dan 2 orang lainya sudah menderita diabetes melitus sejak 6 tahun
yang lalu. Responden mengatakan bahwa diabetes melitus merupakan penyakit
gula yang meningkatkan kadar gula darah pada tubuh namun tidak tahu penyebab
dari penyakit diabetes melitus dan tanda gejalanya sesuai dengan apa yang di
alami oleh responden. Pengetahuan mengenai penatalaksanaan diabetes melitus
yaitu olahraga seadanya, Monitir gula darah, penyuluhan, perencanaan makan,
dan intervensi farmakologi. Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas peneliti
merasa tertarik melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Pendidikan
Kesehatan Terhadap Pengetahuan masyarakat Tentang cara pencegahan Penyakit
Diabetes Melitus Di Wilayah Kerja Puskesmas Monta Kabupaten Bima”.

4
B. Rumusan Masalah

Banyaknya penderita diabetes mellitus yang semakin bertambah setiap


tahunnya, maka diperlukan adanya pencegahan diabetes mellitus agar persentase
penyakit diabetes mellitus menurun. Pencegahan yang dapat dilakukan salah
satunya dengan pendidikan kesehatan tentang penyakit diabetes mellitus dan
pencegahannya. Pendidikan kesehatan yang diberikan bisa menggunakan berbagai
cara dan media, salah satunya dapat menggunakan media ppt. Media ppt yang
digunakan dalam penelitian ini berisi informasi tentang pencegahan diabetes yang
meliputi aktivitas fisik, pola makan/ gaya hidup, pemantauan kadar gula darah.
Dan dengan penelitian diatas dapat menambah pengetahuan dan dapat merubah
sikap serta perilaku masyarakat untuk hidup sehat guna mencegah terkena
penyakit diabetes mellitus. Berdasarkan rumusan masalah diatas, peneliti akan
melakukan penelitian “Pengaruh pendidikan kesehatan dengan media ppt dalam
pencegahan diabetes mellitus”.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan dengan media ppt


terhadap pengetahuan masyarakat tentang cara penceghan diabetes melitus di
wilayah kerja puskesmas monta

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui karakteristik penyakit diabetes mellitus


b. Untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan dengan media ppt
terhadap pengetahuan, dan perilaku pencegahan diabetes mellitus
c. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan, dan perilaku masyarakat sebelum
dan sesudah pemberian Pendidikan Kesehatan.

D. Manfaat Penelitian

1) Manfaan bagi masyarakat

Menambah pengetahuan masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan


dengan selalu menjaga pola hidup terutama dalam mencegah terjadinya diabetes
mellitus.

5
2) Manfaat bagi instansi

Penelitian ini dapat digunakan dalam pembelajaran perkuliahan ataupun


penelitian lainnya dengan memanfaatkan media ppt yang dibuat tentang
pencegahan diabetes mellitus.

3) Manfaat bagi peneliti lain

Penelitian dengan menggunakan media ppt ini dapat digunakan sebagai


referensi penelitian yang lain mengenai diabetes mellitus ataupun penyakit lain .

4) Manfaat bagi peneliti

Dengan melakukan penelitian ini diharapkan penulis dapat menambah


pengetahuan tentang pendidikan kesehatan diabetes mellitus terutama dalam
pencegahan diabetes mellitus, serta menambah pengalaman dalam pendampingan
dalam penerapan kepada masyarakat.

E. Keaslian Peneliti

No Nama Judul Metode Perbedaan Hasil

1 Amirul Kombinasi edukasi Penelitian Perbedaan pada hasil penelitian dari 36


Dan Aktivitas
Kadafi ini bersifat penelitian ini responden, sebelum
Fisik efektik diberikan intervensi
(2023) menurunkan kuantitatif terletak pada
kombinasi,kolompo
kadar Kolestrol dengan populasi, sampel kombinasi 239,67±11,412,
pada
pendekatan waktu dan kelompok kontrol edukasi
penderita diabetes 241,58±8,350 dan
melitus tipe 2 pretest- tempat
kelompok kontrol aktivitas
posttes penelitian fisik 234,92±13,318.
setelah diberikan
intervensi kombinasi
edukasi dan aktivitas
fisik jogging pada
kelompok kombinasi, kadar
kolesterol pada kelompok
kombinasi diperoleh nilai
menjadiΔ-124,50,kelompok

6
aktivitas fisik Δ-72,80, dan
kelompok edukasi Δ-48,50
dan nilai signifikan
p=0,001 p=(p<0,05).
Sehingga dapat
disimpulkan bahwa
kombinasi edukasi dan
ktivitas fisik efektif
menurunkan kadar
kolesterol pada penderita
diabetes melitus tipe 2

2 Nina Determinan Risiko dan Penelitian Perbedaan pada Hasil penelitian didapatkan
(2023) Pencegahan terhadap ini penelitian ini dari 599 responden yang di
Kejadian Penyakit menggunak terletak pada mana dalam penelitian ini
Diabetes Melitus Tipe an populasi,sasaran adalah individu usia
2 pada Usia Produktif pendekatan ,waktu dan produktif (12-25 tahun) dari
di Wilayah DKI pretest- tempat penelitian menujukan
Jakarta posttes bahwa diabetes melitus tipe
2 pada usia produktif (12-
25 tahun) terdapat pada 441
orang (73,6%), dan
cakupan responden yang
beresiko terkena diabetes
melitus tipe 2 adalah 43
(7%), dengan presentase
resiko penyakit genetik
sebesar 3,5% dari 559
responden faktor lain yang
berkontribusi adalah jenis

7
kelamin, dimana
perempuan sebesar 1,8%
dan laki-laki sebesar 1,2%,
kelompok umur 55-64
tahun (6,3%), 65-73 tahun
(6,03%), dan 45-54 tahun
(3,9%). Jadi dapat
disimmpulkan bahwa
diabetes melitus tipe 2 pada
usia produktif disebabkan
oleh tiga faktor yaitu
genetik, perilaku, dan
pelayanan kesehatan Dari
ketiga hal tersebut
solusinya adalah dengan
memberikan edukasi
dengan metode penyuluhan
bagaimana pola hidup sehat
yang benar agar masyarakat
mau memperbaiki pola
hidupnya dan terhindar dari
risiko Diabetes Melitus tipe
2 dikalangan usia produktif,
karena dengan menjaga
pola hidup sehat yang
diterapkan sejak dini dapat
meminimalisir dan
mencegah risiko terjadinya
Diabetes Melitus Tipe 2
Pada Usia Produktif.

3 Shaofan Dampak intevensi Penelitian Perbedaan pada dari hasil penelitiannya


chen pendidikan di layanan ini bersifat penelitian dimana tingkat
primer terhadap kadar
(2020) kuantitatif terletah pada pengetahuan sebelum
glukosa darah puasa

8
dan pengetahuan dengan populasi,ssaran, dilakukan pendidikan
diabetes pada pasien pendekatan waktu dan kesehatan pada masyarakat
diabetes melitus tipe 2
pretest- Tempat diketahui bahwa dari 30
di pedesaan Tiongkok
posttes responden ada 20
responden (67%) yang
berpengetahuan kurang , 8
responden (26%) yang
berpengetahuan cukup 2
responden (7%) yang
berpengetahuan baik.
Tingkat pengetahuan
setelah diberikan
pendidikan kesehatan
terdapat dari 30 responden ,
tidak ada responden (0%)
yang berpengetahuan
kurang

4 Hendri Penelitian Perbedaan pada dari hasil penelitian


Pengaruh pendidikan didapatkan dari 54
setyawa ini penelitian ini
kesehatan terhadap responden,sebelum
n (2024) menggunak terletak pada
diberikan pendidikan
perilaku pencegahan an populasi,sasaran kesehatan dari 27
diabetes melitus pada pendekatan ,waktu dan responden kelompok
kontrol 23,56±5,048 yang
siswa SMK Negri 1 pretest- tempat
menerima pedidikan
posttes kesehatan 27 responden
Ngawi
yang masuk kedalam
kelompok intervensi,
37,44±8,391. Setelah
eksperimen dilakukan
kelompok kontrol
37,11±9,027 dan kelompok
intervensi 37,844±8,391.
Jadi dapat di
simpulkan,adanya pengaruh
pendidikan kesehatan
terhadap perilaku
pencegahan DM pada

9
remaja

5 Okafor Perbedaan pada Dari hasil peneliti


Pengaruh gender dan
(2021) penelitian ini didapatkan dari 138
faktor risiko terhadap
terletak pada responden. Responden yang
komplikasi diabetes populasi,sasaran terdiri dari 58 perempuan
melitus tipe 2 pada ,waktu dan dan 80 laki-laki dalam

pasien yang datang ke tempat kelompok usia 30-40-, 41-


50, 51-60 dan 61 thn ke
klinik diabetes di
atas direkrut dalam
rumah sakit Mnazi
penelitian ini,data dianalisis
Mmojo,Zanzibar dan diinterprestasikan
berdasarkan faktor dan
variabel prediktif tertentu,
termasuk, merokok,
alkohol, asupan garam
berlebihan,asupan lipit,
gaya hidup, riwayat
keluarga diabetes, dan
hipertensi. Kombinasi
asupan garam ,gaya hidup,
riwayat keluarga diabetes,
dan asupan lipid merupakan
faktor resiko paling umum
terjadinya komplikasi T2D,
Dan hasilnya menunjukan
pasien berusia 30 dan 40
tahun memiliki lebih
banyak risiko terkena
komplikasi. Jadi dapat
disimpulkan bahwa
komplikasi yang terjadi
pada pria dan wanita adalah
neuropati diabetik,yang

10
ditandai dengan mati
rasa,sensasi nyeri, dan kulit
kering pada ekstremitas.

6 Bela Quasi Perbedaan pada Hasil penelitian


Pengaruh edukasi pola
febriana eksperimen penelitian ini karakteristik sebagian besar
makan dan senam
selfi terletak pada wanita, rentang usia
(2018) terhadap kadar gula populasi,sasaran kelompok intervensi 40-70
darah pada penderita ,waktu dan tahun dan kelompok

DM tipe 2 tempat kontrol 32-79 tahun, rata-


rata BMI pada kelompok
intervensi adalah 24,21 m2
dan 24,33 m2 pada
kelompok kontrol, pada
kelompok intervensi
menunjukkan bahwa kadar
gula darah sebelum rata-
rata 271,90 mg/dl,
sedangkan hasil kadar gula
darah setelah rata-rata
225,93 mg/dl pada
kelompok kontrol kadar
gula darah sebelum rata-
rata 278,27 mg/dl
sedangkan pada kelompok
kontrol kadar gula darah
sebelum rata-rata 278,27
mg/dl sedangkan pada
kelompok kontrol kadar
gula darah sebelum rata-
rata 278,27 mg/dl. hasil
kadar gula setelahnya rata-
rata 285 67 mg/dl.
Berdasarkan uji statistik

11
tidak ada pengaruh
pendidikan pola makan dan
olah raga terhadap kadar
gula darah pada pasien dm
tipe 2 p-value 0,002.
Diharapkan pola makan
pasien diabetes tipe 2,
memperbanyak olah raga
dan memperbanyak
aktivitas di rumah.

7 Nonye Eksperimen Perbedaan pada Hasil dari penliti


Pengaruh intervensi
Euchari semu penelitian ini didapatkan dari 267
pendidikan terhadap
a pretest- terletak pada responden terdiri dari 212
Anyichi pengetahuan terkait postest populasi,sasaran perempuan dan 64 laki-laki,
e (2021) diabetes pada orang ,waktu dan skor rata-rata pengetahuan

dewasa yang tinggal di tempat terekait diabetes pada orang


dewasa pretes 8,36
komunitas di distrik
sedangkan skor rata-rata
senator pusat anambra,
postest 12,[Link] tara-rata
negara bagian anambra yang diperoleh masing-
masing adalah 4,46.
Intervensi pendidikan
mempuanyai berpengaruh
positif terhadap
peningkatan pengetahuan
diabetes subjek yang
dibuktikan dengan positif
nilai skor rata-rata yang
diperoleh dari pengetahuan
terkait diabetes

8 Magdale Menggunak Perbedaan pada Hasil penelitian


Kebutuhan dan
na an formulir penelitian ini menunjukkan bahwa
pendapat pasien
Waszyk kuesioner terletak pada sebagian besar pasien

12
- penilis populasi,sasaran menyatakan minatnya
polandia tentang
Nowacz ,waktu dan terhadap perawatan farmasi
penerapan pelayanan
yk tempat diabetes yang dilakukan
(2022) farmasi pada diabetes oleh apoteker. Selain itu,
79,4% responden ingin
mendapatkan manfaat dari
tinjauan penggunaan obat,
sementara 87,0%
menyatakan minatnya
terhadap layanan 'Obat
Baru', dan pasien diabetes
sangat tertarik dengan
layanan ini (p=0,2447).
Sebagian besar responden
juga tertarik dengan
edukasi tentang cara
menggunakan meteran
glukosa, mengelola insulin,
dan menggunakan alat
penusuk. Selain itu,
penelitian menunjukkan
kurangnya pengetahuan
pasien tentang faktor risiko
dan pencegahan diabetes
sehingga perlu adanya
edukasi pasien. Sebagai
sumber pendanaan, 91,7%
pasien diabetes memilih
Dana Kesehatan Nasional.
Mengingat layanan tersebut
belum diterapkan di
Polandia, penelitian ini
dapat mendukung tim yang
sudah ada di Kamar

13
Farmasi Tertinggi atau
Kementerian Kesehatan
dalam memperkenalkan
layanan baru tersebut

9 Rubén Peran faktor penentu Desain Perbedaan pada DIABEMPIC (DIABetes


Silva- sosial sebelum penelitian ini EMPowerment dan
Tinoco dan kesehatan dan terletak pada peningkatan intervensi
(2020) lainnya dalam sesudah populasi,sasaran Cares di 498) mengurangi
pengaruh strategi
dan pretest, ,waktu dan pengungkit hemoglobin
perawatan terpadu
multikomponen pada intervensi 5 tempat terglikasi (pengurangan
diabetes melitus tipe bulan, dan rata-rata 265%, standar
2
tindak deviasi [50] 2,02% dan
lanjut parameter kardiometabolik,
juga meningkatkan kualitas
hidup terkait kesehatan
Dari 1,81% pada awal 25,9
% peserta nilai ip 0001)
mencapai tujuan target
tiple. Kami menemukan
hubungan yang signifikan
antara tingkat pendidikan p-
value 0.010) pengetahuan
diabetes pada awal (p-
value=0.004), dan skor
perawatan diri pada awal p-
value = 0.0331 di delta
(perubahan antara penilaian
awal dan tindak lanjut
Peningkatan kadar HbA1c
(Peningkatan pengetahuan
diabetes (p-value 0.006)
dan skor perawatan diri (p
value = 0.002) juga

14
dikaitkan dengan
penurunan HbAlc yang
lebih [Link] dapat di
simpulkan Strategi MIC di
rangkaian layanan
kesehatan primer perkotaan
berkontribusi terhadap
pengendalian SDH T2DM,
seperti tingkat pendidikan,
dan OOH (skor
pengetahuan diabetes dan
perawatan diri pada awal)
memainkan peran penting
dalam meningkatkan
pengendalian glikemik di
rangkaian tersebut.

10 Tieying Hubungan antara Desain Judul ,metode Hasil . Sebanyak 1.512


Qiu pengetahuan studi dan waktu,sampel pasien T2DM yang
(2020) diabetes dan efikasi seleksi memenuhi syarat dilibatkan
pasien. dalam penelitian ini, dan
diri pada pasien
Survei rata-rata skor ADKnowl
diabetes melitus tipe
croos- mereka adalah 59,04 ±
2 di Tiongkok: studi
sectional. 16,24. Skor tertinggi dari
Cross sectional
delapan dimensi skala
ADKnowl adalah
pengurangan risiko
komplikasi sebesar 71,01%.
Rata-rata skor GSE adalah
2,42 ± 0,59. Analisis
korelasi Spearman
menunjukkan bahwa skor
GSE menunjukkan korelasi
positif yang signifikan

15
dengan pengetahuan DM
pada skala ADKnowl ( r =
0,172, ). Analisis regresi
linier multivariabel yang
paling sesuai
mengungkapkan delapan
variabel yang menjelaskan
37,6% varians skor
ADKnowl. Faktor-faktor
tersebut adalah pengalaman
belajar diabetes, latar
belakang pendidikan,
komplikasi, terapi, rasio
pinggang-pinggul, durasi
diabetes, status perkawinan,
dan GSE ( R 2 = 0.376, F
= 5.971, ). Kesimpulan .
Pada pasien DMT2 di
Tiongkok, efikasi diri
dalam mengelola DM
berpengaruh positif
terhadap pengetahuan DM

BAB II

16
TINJAU PUSTAKA

A. Diebetes Melitus
1. Definisi
Diabetes mellitus (DM) adalah suatu kondisi metabolik yang ditandai
dengan hiperglikemia yang tidak terkontrol yang disebabkan oleh penurunan
sintesis insulin, kerja insulin, dan metabolisme karbohidrat, lipid, dan protein,
yang meningkatkan risiko penyakit jantung, penyakit pembuluh darah,
obesitas, katarak, dan disfungsi ereksi. juga penyakit jantung (WHO, 2019).
Diabetes melitus istilah kolektif untuk gangguan metabolisme
heterogen yang tujuan utamanya adalah hiperglikemia kronis dikarenakan
gangguan sekresi insulin (Wolosowicz et al., 2020).

2. Klasifikasi

Diabetes mellitus diklasifikasikan menjadi beberapa jenis berdasarkan


pathogenesis penyakitnya:
a. DM tipe I ditandai dengan defisiensi produksi insulin dan, dengan
demikian memerlukan pemberian insulin eksogen secara konstan
(Wolosowicz et al, 2020).
b. Diabetes tipe 2 adalah diabetes yang tidak bergantung pada insulin, dan itu
terjadi ketika sensitivitas insulin seseorang berkurang, suatu kondisi yang
dikenal sebagai resistensi insulin, dan terjadi kegagalan sel beta, yang
mengakibatkan berkurangnya produksi insulin (Wolosowicz et al, 2020).
c. Diabetes melitus gestasional diabetes ini disebabkan karena resistensi
insulin selama kehamilan (trimester kedua atau ketiga dan biasanya kerja
insulin akan kembali normal setelah melahirkan (Wolosowicz et al., 2020).

3. Manifestasi Klinis

Pada penderita DM terdapat tanda dan gejala umum yang dikelompokan


menjadi gejala akut dan kronik yaitu:

17
a. Gejala Akut
Pada gejala akut ini para penderita tidaklah sama dan gejala bersifat umum
terkadang para penderita tidak menunjukan gejala apapun sampai saat
tertentu
1) Banyak Kencing (Poliuria)
Ketika seseorang mengalami rasa haus yang berlebihan akibat rendahnya
kadar glukosa dalam urin, tubuh bereaksi dengan meningkatkan asupan
cairan (Pitaloka & Juwariyah, 2021).
2) Rasa Haus Berlebihan (Polidipsia)
Dimana rasa haus yang berlebihan disebabkan oleh rendahnya kadar
glukosa dalam urin, dan tubuh merespons dengan meningkatkan konsumsi
cairan (Irma et al, 2020).
3) Rasa Lapar (Polifagia)
Peningkatan output urin menyebabkan ketidakseimbangan kalori karena
glukosa hilang bersama dengan aliran urin. Hal ini menyebabkan rasa
lapar dan keinginan untuk makan secara berlebihan (Khusaini, 2020).
4) Lesu/Lemas
Karena banyak glukosa dalam tubuh telah dikeluarkan melalui urin dan
keringat, tubuh mudah merasa lelah dan lesu ( Widyaningshi, 2020).
5) Penyusutan Berat Badan
Penderita DM mengalami penurunan berat badan karena tubuhnya
didorong untuk menyerap dan membakar lemak sebagai sumber energi
(Adnan et al, 2018).
b. Gejala Kronik
Pasien dengan gejala kronis tidak memiliki gejala akut (mendadak),
melainkan mengembangkan gejala dari waktu ke waktu atau menderita
penyakit DM dalam jangka panjang, seperti yang ditunjukkan pada gejala di
bawah ini:
1) Kesemutan
2) Kulit terasa panas
3) Kram
4) Mudah mengantuk
5) Mata kabur
6) Gatal di sekitar kemaluan
7) Gigi mudah goyah dan lepas
8) Penurunan gairah seksualitas
9) Keguguran bahkan kematian janin dalam kandungan sering terjadi pada
ibu hamil dengan berat badan lebih dari 4 kg.

18
4. Faktor Resiko

Ada beberapa faktor resiko DM yaitu:


a) Faktor Usia
Karena fungsi organ manusia, terutama reseptor transpor glukosa di
jaringan, menurun seiring bertambahnya usia, usia dapat menjadi faktor
risiko. Adanya glukosa dalam darah akan menyebabkan reseptor tersebut
menjadi semakin tidak sensitif mengakibatkan naiknya kadar glukosa
darah (Betteng, 2018).
b) Jenis Kelamin
Di bawah usia 45 tahun, pada pria dan wanita sama-sama memiliki risiko
yang sama untuk penderita diabetes. Tetapi pada wanita, di sisi lain, akan
lebih berisiko dari pria karena kadar gula darah pada wanita yang
mengalami menopause tidak terkontrol dean mengalami penurunan
produksi estrogen dan progesteron, yang mungkin memengaruhi
bagaimana sel tubuh tidak merespons insulin (Julianti K, 2020).
c) Pola Makan
Berdasarkan penelitian Nasution (2020), mengatakan seseorang dengan
pola makan yang tidak terkontrol maka akan dapat meningkatkan pencetus
terjadinya diabetes, terutama pada makanan yang tinggi karbohidrat.
d) Keturunan
DM dapat diturunkan dari generasi ke generasi atau keturunan, oleh karena
itu jika orang tua memiliki diabetes, anak-anak mereka kemungkinan juga
akan menderita diabetes (Fanani & Sulaiman, 2021).
e) Aktivitas Fisik
Semakin besar kemungkinan terkena diabetes jika tidak melakukan
aktivitas fisik apa pun. Dengan tidak membiasakan otot yang tidak aktif,
mengakibatkan reseptor glukosa tidak aktif dan kadar glukosa darah
tinggi. Dalam penelitian yang dilakukan oleh F. Nasution (2021),
mengungkapkan bahwa seseorang yang kurang melakukan aktivitas fisik
akan 5 kali lebih berisiko mengalami diabetes.
f) Obesitas
Obesitas adalah ungkapan yang mengacu pada penumpukan lemak tubuh
yang melebihi kisaran biasanya. Jaringan adiposa dapat ditingkatkan
dengan memiliki lebih banyak penyimpanan lemak. Reseptor glukosa, di
sisi lain, terletak di jaringan nonadiposa. Jika jaringan adiposa tumbuh
lebih cepat daripada jaringan non adiposa, jumlah reseptor glukosa di
jaringan nonadiposa berkurang, mengakibatkan peningkatan glukosa yang

19
tidak diatur. Nasution (2020), mengungkapkan bahwa orang dengan
obesitas dapat mengakibatkan diabetes

5. Penatalaksanaan
Orang dengan diabetes mellitus tipe 1 dan 2 harus mengikuti lima langkah
penting ini untuk hasil terbaik. Ini adalah langkah manajemen non-
farmakologis, yang meliputi pendidikan, perencanaan makan, dan aktivitas
fisik. Suciana & Arifianto (2019), terdapat hubungan antara penatalaksanaan 5
pilar pengendalian diabetes dengan kualitas hidup diabetes; Jika
penatalaksanaan 5 pilar pengendalian diabetes baik, maka kualitas hidup pasien
diabetes juga baik.
Berikut manajemen pilar dalam penatalaksanaan diabetes:
a) Edukasi
Dengan edukasi diyakini bahwa melalui pendidikan, pasien akan
mendapatkan kesadaran yang lebih baik tentang diabetes, termasuk
bagaimana cara pengelolaan penyakit dan konsekuensi yang dapat timbul
jika pasien tidak diobati secara efektif. Penelitian Fatmawati et al. (2020),
didapatkan bahwa tindakan responden sebagian besar adalah dalam
kategori baik setelah mendapat pendidikan terkait perawatan kaki..
b) Perencanaan Makanan
Tujuan keseluruhan perencanaan makan adalah untuk membantu pasien
dalam meningkatkan kebiasaan nutrisi mereka. Perencanaan makan harus
mencakup nutrisi yang cukup, yang berarti makan cukup makanan
sepanjang hari. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sayan (2020), telah
menemukan bahwa kepatuhan terhadap diet penderita diabetes tipe 2 telah
terbukti menurunkan kadar gula dalam darah.
c) Kegiatan Jasmani
Latihan fisik secara teratur juga termasuk dalam pencegahan sekunder
faktor risiko komplikasi diabetes pada luka kaki diabetik dan amputasi,
sesuai dengan salah satu konsep dalam pengelolaan diabetes melitus.
Berdasarkan penelitian Megawati et al. (2020), mendapatkan bahwa senam

20
kaki diabetik mempengaruhi nilai ABI, hal ini menunjukkan bahwa senam
kaki dapat meningkatkan sirkulasi darah kaki.
d) Pengelolaan Farmakologis
Obat diabetes mellitus dipilih secara individual, artinya disesuaikan
dengan status metabolisme pasien. Sutawardana et al. (2020), meneliti
hubungan antara self-compassion dan kepatuhan terapi insulin pada pasien
diabetes tipe 2. Mereka 25 menemukan bahwa ada hubungan antara self-
compassion dan kepatuhan terapi insulin pada pasien diabetes tipe 2.
e) Pemeriksaan Gula Darah Mandiri
Pemeriksaan gula darah dapat dicatat dalam buku harian penderita
diabetes. Seperti yang diungkapkan dalam penelitian Ismansyah (2020),
mengungkapkan bahwa ada hubungan antara keduanya. Mengelola
kepatuhan sangat penting untuk berhasil menyediakan dan mengendalikan
kadar gula darah. Jika pasien diabetes mengikuti rencana kontrol, ia akan
dapat mengontrol kadar gula darahnya dengan lebih baik. Ini karena
mengikuti jadwal kontrol dapat membantu proses penyembuhan dan
memungkinkan pasien untuk mengelola diabetes dengan lebih baik.

6. Komplikasi
Komplikasi Konsekuensi akut dan kronis adalah dua jenis komplikasi yang
terkait dengan diabetes. Masalah akut hasil dari intoleransi glukosa jangka
pendek, sedangkan konsekuensi kronis muncul 10 - 15 tahun setelah
perkembangan diabetes. Secara umum komplikasi dibagi menjadi 2 yaitu
( Smeltzer, 2013).
a. Komplikasi Akut
1) Hipoglikemia
Kondisi gula darah rendah berada dibawah normal.
2) DKA (Ketoasidosis Diabetikum) Suatu komplikasi DM yang serius saat
tubuh memproduksi asam darah (keton) berlebihan.
3) HHS (Hiperosmolar Hiperglikemik State) Kondisi gula darah naik secara
ekstrem atau terlalu tinggi hingga mencapai 600 mg/ dL (33.3 mmol/L).

21
b. Komplikasi Kronik
1) Komplikasi Makrovaskuler (pembuluh darah besar) Trombosit otak
(penggumpalan darah di sebagian otak), penyakit jantung koroner, gagal
jantung kongestif, dan stroke adalah semua masalah makrovaskular yang
mengganggu sirkulasi koroner dan lebih sering terjadi pada pasien DM.
Komplikasi inilah penyebab terbesar kesakitan bahkan kematian pada
pasien DM.
2) Komplikasi Mikrovaskuler (pembuluh darah kecil) Komplikasi
mikrovaskuler merupakan dampak dari hiperglikemia yang berlangsung
lama, komplikasi ini meliputi diabetik neuropathy, peripheral neuropathy,
dan retinopathy.

7. Pencegahan

Ada 3 jenis pencegahan diabetes mellitus :

a. Pencegahan Primer
Mencegah terjadinya diabetes mellitus. Faktor-fakor yang dapat
menyebabkan diabetes mellitus perlu diperhatikan, baik secara genetik
maupun lingkungan. Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
pencegahan primer :
1) Pola makan sehari-hari harus seimbang dan tidak berlebihan
Jumlah kalori tubuh yang diperlukan setiap hari untuk memenuhi
kebutuhan energi, jadwal makan sehat 6x sehari yaitu 3x makan
besar dan 3x makan selingan, pengaturan porsi makan dalam satu
piring dengan ukuran piring 9 inchi atau standar. Dalam satu piring
dibagi menjadi 3 bagian yaitu 1/4 porsi karbohidrat (nasi, ubi,
kentang), 1/4 porsi protein (ayam, ikan, dan lainnya), dan ½ porsi
sayuran. Dan juga ditambah dengan buah-buahan.
2) Olahraga secara teratur dan tidak banyak berdiam diri Olahraga
sebaiknya dilakukan sedikitnya 150 menit/minggu dengan latihan
aerobik sedang seperti berlari kecil/jogging, renang.
3) Usahakan berat badan dalam batas normal
4) Hindari obat-obatan yang dapat menimbulkan diabetes

22
b. Pencegahan Sekunder

Mencegah diabetes yang sudah timbul tidak menimbulkan komplikasi


penyakit lain, menghilangkan gejala, dan keluhan dini penderita diabetes
mellitus. Pencegahan sekunder meliputi deteksi dini penderita diabetes
mellitus, terutama bagi kelompok yang tinngi resiko terkena diabetes
mellitus. Bagi yang dicurigai terkena diabetes mellitus, perlu diteliti lebih
lanjut untuk memperkuat dugaan terdajinya penyakit diabetes mellitus.
Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pencegahan sekunder :

1) Diet sehari-hari harus seimbang dan sehat Dengam mengatur


jadwal sehat 6x sehari yaitu 3x makan besar dan 3x makan
selingan
2) Menjaga pengendalian dalam batas normal
3) Usaha pengendalian gula darah agar tidak terjadi komplikasi
diabetes mellitus dengan rutin cek gula darah secara berkala
4) Olahraga teratur sesuai kemampuan fisik dan umur.

c. Pencegahan Tersier

pencegahan ini tujuannya adalah untuk mencegah kecacatan lebih lanjut dari
komplikasi penyakit yang sudah terjadi Berikut pencegahan yang dimaksud :

1) Mencegah terjadinya kebutaan jika menyerang pembuluh darah


mata
2) Mencegah gagal ginjal kronik jika menyerang pembuluh darah
ginjal
3) Mencegah stroke jika menyerang pembuluh darah di otak Maka
dari itu, perlu pemeriksaan secara rutin dan berkala terhadap
bagian organ tubuh yang rentan terhadap komplikasi dan
kecacatan.

B. Pendidikan Kesehatan
1. Pengertian
Pada tingkat individu, komunitas, atau ras, pendidikan kesehatan adalah
seperangkat pengalaman yang membentuk sikap, pengetahuan, dan
pembiasaan individu yang terkait dengan gaya hidup sehat. Pendidikan
kesehatan adalah metode penyampaian informasi dari satu orang ke orang
lain, bukan kumpulan instruksi (Musakkar, 2020). Pendidikan kesehatan
merupakan proses masuk dan keluarnya informasi, dan sering disebut sebagai

23
bentuk kegiatan dalam menyampaikan pesan kesehatan kepada individu,
komunitas, dan masyarakat sehingga dapat memperoleh harapan pengetahuan
kesehatan ke arah yang lebih baik (WHO, 2019)

2. Tujuan
Musakkar (2020), tujuan dari pendidikan kesehatan adalah mengubah
sikap dan perilaku terhadap pengetahuan di bidang kesehatan. Tujuan tersebut
dapat dirinci lebih lanjut:
a. Meningkatkan nilai kesehatan di mata masyarakat.
b. Dapat membantu seseorang dalam melakukan aktivitas untuk mencapai
tujuan hidup sehat sendiri atau dalam kelompok.
c. Dapat secara tepat mendorong pendirian dan penggunaan fasilitas
pelayanan kesehatan.

3. Sasaran

Sasaran pendidikan kesehatan:

a. Sasaran Primer Pasien, individu yang sehat, keluarga, dan masyarakat


semuanya dapat memperoleh manfaat dari pendidikan kesehatan.
b. Sasaran Sekunder Tokoh masyarakat informal (seperti tokoh adat dan
agama), serta tokoh masyarakat formal (petugas kesehatan, pejabat, dll),
serta organisasi masyarakat, dan media, adalah target sekunder.
c. Sasaran Tersier Tertuju pada pembuat kebijakan di bidang kesehatan, serta
mereka yang memfasilitasi atau menyediakan sumber daya

4. Metode-metode Pendidikan Kesehatan


Pendidikan kesehatan adalah suatu tindakan atau upaya yang ditujukan
untuk menyampaikan informasi kesehatan kepada suatu komunitas,
kelompok, atau individu dengan harapan dapat meningkatkan pemahaman
dan perilaku kearah yang lebih baik (Widyawati, 2020).
a. Metode Perorangan (Individu)

24
Pendekatan individual dapat mengambil dua bentuk:

1) Bimbingan dan Konseling


Interaksi klien dengan staf lebih intensif. Dalam membantu klien
untuk menyelesaikan masalahnya dan pada akhirnya, klien akan
dengan sengaja dan sadar menerima perilaku tersebut dan
mengubah perilaku.
2) Wawancara
Merupakan komponen dari proses bimbingan dan konseling.
menyelidiki mengapa klien tidak atau belum menerima perubahan,
untuk melihat apakah perilaku yang telah atau akan diadopsi
memiliki dasar pemahaman dan kesadaran yang kuat, dan jika tidak,
diperlukan konseling tambahan yang mendalam.
b. Metode Kelompok
Untuk memilih ukuran kelompok sasaran dan tingkat pendidikan formal
pada kelompok sasaran harus dipertimbangkan ketika memilih
pendekatan kelompok. Metode untuk kelompok besar dan kecil akan
berubah, dan efektivitas metode akan ditentukan oleh ukuran tujuan
instruksional.
1. Kelompok Besar

Kelompok besar jika jumlah peserta lebih dari 15 orang, metode


yang digunakan dalam kelompok besar adalah:

a. Ceramah
metode ini berikan kepada sasaran yang berpendidikan baik
maupun kurang.
b. Seminar
Hanya ideal untuk menargetkan kelompok besar orang dengan
ijazah sekolah menengah. Seminar adalah ceramah (presentasi)
yang diberikan oleh satu atau lebih profesional tentang topik yang
penting bagi masyarakat dan biasanya diterima dengan hangat

25
2. Kelompok Kecil

Pada kelompok kecil memiliki peserta kurang dari 15 orang, dengan


metode yang sesuai adalah:

Diskusi Kelompok

a. Adalah jenis bimbingan kelompok yang memungkinkan sekelompok


peserta untuk mendapatkan informasi dari berbagai macam sumber.
b. Memainkan Peran (Role Play)
c. Adalah permainan dimana pemain mengambil peran karakter dalam
cerita berdasarkan imajinasi atau 11 pengalaman seseorang dan
melibatkan kemampuannya untuk berbicara.
d. Permainan Simulasi Metodenya adalah dengan melakukan tes
menggunakan model asli sambil mencontohkan gambar yang
sebenarnya dalam situasi kehidupan nyata.
3. Metode Massa
Widyawati (2020) dalam menyampaikan pesan kesehatan, digunakan
pendekatan pendidikan massal. Pendekatan massal adalah cara yang paling
tepat, dengan sasaran promosi yang luas yang tidak membedakan status
ekonomi, status sosial, umur, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat pendidikan,
atau faktor lain, dan pesan kesehatan. Di buat agar masyarakat umum dapat
memahaminya. Metode pendidikan kesehatan massal meliputi:
a. Ceramah Umum

Ceramah umum, adalah pidato yang memberikan arahan, atau pendidikan


kepada khalayak pendengar.

b. Pidato/Diskusi Menggunakan Media Elektronik

Adalah penyampaian isi pemikiran yang ditujukan kepada pendengar


yang besar atau wacana yang disiapkan untuk disampaikan di depan
pendengar.

c. Billboard

26
Sebagai media penyampaian pesan atau informasi yang berhubungan
dengan kesehatan.

5. Faktor yang Mempengaruhi Pendidikan Kesehatan


Menurut Musakkar (2020), menjelaskan bahwa faktor yang
mempengaruhi keberhasilan pendidikan kesehatan yaitu:
a. Faktor kurangnya persiapan, kurangnya penguasaan topik yang ingin
disampaikan oleh pembicara, penampilan yang tidak persuasif bagi
target, bahasa yang digunakan pembicara tidak dipahami oleh target,
suara pembicara terlalu rendah, dan penampilan pembicara. Semua
komponen materi atau hal-hal yang diperiksa termasuk materi yang
monoton sehingga menimbulkan kebosanan.
b. Faktor lingkungan
1) Lingkungan fisik wilayah studi, yang meliputi suhu, kelembaban,
dan kondisi.
2) Manusia dengan segala interaksi dan representasi seperti keramaian
atau kebisingan, lalu lintas, pasar, dan sebagainya, membentuk
lingkungan sosial.
c. Faktor Komponen instrumen terdiri dari perangkat keras seperti alat
peraga dan perangkat lunak seperti kurikulum dalam pendidikan formal.
guru atau fasilitator pembelajaran, dan proses belajar mengajar.
d. Faktor kondisi peserta, yang terdiri dari karakteristik fisiologis seperti
status panca indera terutama pendengaran dan penglihatan serta elemen
psikologis seperti kecerdasan, pengamatan, penangkapan, memori,
motivasi, dan sebagainya.

6. Media
Pendidikan kesehatan merupakan salah satu cara untuk memberikan
pengetahuan. Karena instrumen tersebut digunakan untuk menyebarkan
informasi kesehatan, maka disebut media pembelajaran. Alat tersebut

27
digunakan untuk memudahkan 13 masyarakat umum atau klien dalam
menerima pesan kesehatan (Widyawati, 2020).
Media ini dikategorikan menjadi media cetak, media elektronik,
baliho, dan baliho berdasarkan tujuannya sebagai penyebaran pesan (media)
kesehatan:

a. Media

Cetak Misalnya, dapat digunakan dalam menyampaikan informasi atau


pesan kesehatan dengan berbagai cara:

1) Buku (Booklet)
Untuk mengkomunikasikan pesan melalui buku, baik tertulis
maupun visual.
2) Leaflet
Isi pesan bisa berupa gambar/teks atau keduanya melalui lembaran
terlipat.
3) Selembaran ( Flayer )
Seperti Leaflet tapi tidak bentuk lipatan
4) Lembar Balik (Flip Chart )
Flip chart dengan pesan dan informasi kesehatan, biasanya berupa
buku dengan gambar demonstrasi di bagian depan dan tulisan atau
pernyataan di bagian belakang sebagai informasi tentang gambar.
5) Rubik/Tulisan-
Tulisan Tentang masalah kesehatan atau masalah yang
berhubungan dengan kesehatan, di surat kabar atau publikasi.
6) Poster
Pesan/informasi kesehatan dicetak di atas kertas yang biasanya
ditempel di dinding, di tempat umum, atau di angkutan umum.

b. Media Elektronik

1) Televisi

28
Forum diskusi/tanya jawab, ceramah, televisi olahraga, kuis, atau
kuis.
2) Radio
Melalui obrolan, seperti tanya jawab, sandiwara radio, ceramah,
dan acara radio.
3) Video Compact Disc (VCD)
Dengan beragam tayangan video dokumenter, hiburan, dan
pendidikan, media berikut berguna untuk menyampaikan pesan
kepada orang lain.
4) Slide
Pesan atau informasi kesehatan juga dapat disampaikan melalui
slide.
5) Film
Pesan terkait kesehatan juga dapat disampaikan melalui strip film.
6) Video Online/Offline
Tua dan muda sama-sama akrab dengan media video. Materi video
tentang sejarah seram, motivasi, instruksional, atau pengalaman
lainnya dapat dilihat berulang kali.

C. Konsep Pengetahuan

1. Pengertian
Kemampuan seseorang untuk mengingat atau mengenali nama,
istilah, ide, rumus, dan sebagainya tanpa mengharapkan adanya tindakan
(Widyawati, 2020). Pengetahuan adalah konsekuensi dari mengetahui, dan
itu dibuat ketika manusia mempersepsikan item tertentu. Ada lima panca
indera manusia, termasuk penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan
sentuhan, digunakan untuk mendeteksi informasi (Nurmala et al, 2018).

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan


Memori, saksi, minat, rasa ingin tahu, pemikiran dan penalaran, logika,
bahasa, dan kebutuhan manusia adalah semua faktor yang mungkin

29
mempengaruhi pengetahuan. Sementara itu, Notoatmodjo menjelaskan bahwa
jumlah pendidikan, informasi, budaya, dan pengalaman adalah semua unsur
yang menentukan pengetahuan (Rachmawati, 2019).
Ketika seseorang mengetahui sesuatu, mereka dikatakan memiliki
pengetahuan tentang itu. Salah satu aspek pengetahuan adalah mencakup
bagian dari mengetahui dan diketahui, serta kesadaran akan apa yang ingin
dipelajari. Akibatnya, pengetahuan membutuhkan subjek yang sadar akan
kebutuhan untuk mengetahui dan objek yang harus dihadapi. Akibatnya,
pengetahuan dapat didefinisikan sebagai produk pengetahuan manusia
tentang apa pun, atau sebagai upaya manusia yang ditujukan untuk
memahami objek tertentu (Rachmawati, 2019).
Berikut ini yang dapat mempengaruhi pengetahuan adalah:
a. Faktor Internal
1) Umur Persepsi dan pemikiran seseorang sangat dipengaruhi oleh
usianya. Seiring bertambahnya usia, daya tangkap dan pemikiran
mereka meningkat, dan menghasilkan peningkatan pengetahuan.
2) Pengalaman Dapat menjadi sumber informasi yang berharga yang
dapat diterapkan dengan mengulangi apa yang telah dipelajari.
3) Intelegensia Merupakan kemampuan secara khusus, untuk
mempelajari, berpikir, dan mengelola berbagai pengetahuan secara
sistematis..
b. Faktor Eksternal
1) umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin
banyak informasi yang diterimanya.
2) Lingkungan Lingkungan mencakup semua situasi yang terjadi di
sekitar manusia, dan pengaruhnya dapat berdampak pada
pertumbuhan dan perilaku manusia.
3) Sosial Budaya dan Ekonomi Sosial budaya masyarakat dapat
mempengaruhi sikap untuk memperoleh informasi, sedangkan
posisi ekonomi mempengaruhi pengetahuan dan ketersediaan
fasilitas belajar.

30
4) Informasi Memberikan pengaruh pada pemahaman seseorang.
Pengetahuan seseorang berbanding lurus dengan banyaknya
informasi yang diterimanya.
5) Pekerjaan Secara tidak langsung pekerjaan memiliki dampak tidak
langsung pada pengetahuan karena sangat terkait dengan interaksi
sosial dan budaya yang mengarah pada pertukaran
informasiPendidikan Pada

3. Tingkat Pengetahuan
Ranah kognitif, atau pengetahuan, adalah domain penting dalam
mempengaruhi perilaku seseorang. Ada enam derajat pengetahuan
dalam ranah kognitif (Widyawati, 2020):
a) Mengetahui (know), tingkat terendah dari domain kognitif, ketika
seseorang mengingat pengetahuan yang diperoleh sebelumnya.
b) Memahami (comprehension), adalah tingkat pemahaman yang
lebih besar daripada sekadar mengetahui. Individu memahami dan
menafsirkan pengetahuan dengan benar pada tingkat ini.
c) Aplikasi (applicantio), adalah tingkat di mana seorang individu
dapat menerapkan pengetahuan yang telah dipahami dan
ditafsirkan dengan benar dalam situasi kehidupan nyata. 18
d) Analisis (analysis), adalah tingkat di mana seorang individu dapat
menjelaskan keterkaitan materi dalam komponen yang lebih rumit
dalam unit tertentu.
e) Sintesis (synthesis), adalah tingkat di mana kemampuan seseorang
untuk membuat hal baru dari formulasi yang diuji.
f) Evaluasi (evaluation), adalah tingkat di mana individu dapat
mengevaluasi informasi yang disajikan.
C. Kerangka Teori
Kerangka teori yang digunakan sebagai dasar acuan dalam penelitian
pencegahan diabetes melitus dengan upaya meningkatkan pengetahuan

31
Edukasi:

1. Pendidikan kesehatan
masyarakat , yang terbentuk melalui kegiatan pendidikan kesehatan
(Notoadmodjo,2017) Dengan media ppt

1. Media cetak
2. Media elektronik
- TV
- Slide
Pencegahan
- VCD
1. pola makan - Film/video
- Radio
2. Aktifitas fisik
3. Media papan
3. Edukasi (Pendidikan kesehatan)

Faktor resiko Diabetes Melitus

1. Usia 1. Pengeluaran Urin (Poliuria)


2. Timbul rasa haus
1. Obesitas (polidipsia)
3. Timbul rasa lapar (polifagia)
2. jenis kelamin
4. Berkeringat banyak
3. genetik 5. Lesu
6. Penurunan berat badan
4. Diet tidak seimbang

5. Riwayat penyakit Pengetahuan


jantung
Pencegahan DM

Gambar 3.1 kerangka teori penelitian “ pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan masyarakat
tentang cara pencegahan DM (Diabetes Melitus

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. KERANGKA KONSEP

Kerangka konsep adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep


yang akan diukur maupun diamati dalam suatu penelitian. Sebuah kerangka

32
konsep haruslah dapat memperlihatkan hubungan antara variable-variabel
yang akan diteliti (Wiatini, 2021).

Variabel independen variabel Dependen

Pengetahuan
Pendidikan dan
kesehatan dengan pencegahan
media ppt DM

Skema. Kerangka konsep

Gambar 3.1 kerangka konsep penelitian

“ pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan masyarakat tentang cara pencegahan


DM (Diabetes Melitus

Keteragan:

:Variabel independen

: variabel penghubung

: variabel dependen

B. Hipotesis

Hipotesis adalah proposisi yang dapat diuji secara empiris. Dengan kata
lain, ketika seseorang menyatakan hipotesis, itu harus ditulis dengan cara
yang dapat didukung atau terbukti salah melalui uji empiris (Zikmund, Carr,
& Griffin, 2018)

33
Ha : Ada pengaruh pendidikan kesehatan dengan media Ppt terhadap
pengetahuan masyarakat tentang cara pencegahan diabetes melitus.

C. Jenis dan Rancangan penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desai penelitian pra


[Link] penelititian ini yang digunakan yaitu pretest-postest
Door to door ke rumah masyarakat. Karena tidak menggunakan kelompok
kontrol dimana pengetahuan, dan perilaku pencegahan diukur sebelum dan
setelah diberikan perlakuan brupa pendidikan kesehatan

O1 Pendidikan kesehatan O2
dengan media PPT

Gambar 3.1 Desain Penelitian

Keterangan :

O1 : Sebelum dilakukan pendidikan kesehatan dengan media ppt

O2 : Setelah dilakukan pemberian pendidikan kesehatan dengan ppt

34
D. Lokasi dan waktu penelitian

1) penelitian ini dilakukan di wilayah kerja puskesmas monta


2) waktu penelitian ini terkait pengumpulan data dilaksanakan pada Mei-
Juni

E. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi

Sugiyono (2021:130) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri


atas objek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Objek penelitian seluruh pegawai Badan Kepegawai, Pendidikan dan
Pelatihan Kabupaten Tulang Bawang. populasi dari DM di wilayah kerja
PUSKESMAS MONTA yang berjumlah 95 orang

2. Sampel

Sampel ialah bagian dari populasi yang menjadi sumber data dalam
penelitian, dimana popilasi merupakan bagian dari jumlah karakteristik
yang dimiliki oleh populasi ( Suguyono 2017), penelitian ini menggunakan
teknik pengambilan sample purpossive sampling didapatkan jumlah
sample 76 0rang

a. Kriteria Inklusi

1) Responden yang beresiko menderita penyakit diabetes mellitus


2) Responden dengan usia kurang dari 45 tahun
3) Responden yang mau mengikuti penelitian ini

b. Kriteria Eksklusi

1) Orang yang mempunyai gangguan jiwa, penglihatan dan


pendengaran
2) Orang yang cacat / tidak bisa beraktivitas secara mandiri

35
3) Keluarga dengan penderita diabetes melitus yang telah di diagnosa
oleh dokter

Jumlah sampel yang akan diambil pada penelitian ini dengan menggunakan
rumus slovin yang dapat dilihat dibawah ini:

Keterangan :
n = Sampel
N = Populasi
E = Batas toleransi kesalahan (eror tolerance)

Penyelesaian:
n= N = 95
1+N (e)2 1+ 95 (0,05)2
= 95
1+95 (0,0025)
= 95
1+ 0,2375
= 95
1,2375
= 76

36
F. Definisi operasional

Variabel Definisi Alat Ukur Skala Hasil

Variabel Bebas Pendidikan Standar - -


Pendidikan kesehatan Operasional
Kesehatan dengan dengan media Prosedur
Media PPT PPT yang
digunakan
untuk
memberikan
informasi
pencegahan
DM yang
dilakukan
selama 1 kali
dengan durasi
15-40 menit

Variabel Terikat Pemahaman Kuesioner Ordinala a. Baik jika


Pengetahuan seseorang yang penilaian skor
diperoleh dari antara 7-9 (76-
informasi yang 100%)
diberikan b. Cukup jika
tentang penilaian skor
diabetes antara 5-6 (56-
mellitus. 75%)
c. Kurang jika
penilaian skor
≤4 (0-55%)

Perilaku Perilaku Kuesioner Ordinal a. Baik jika


Pencegahan seserang yang penilaian skor
Diabetes Mellitus dilakukan antara 21-27

37
dalam (76- 100%) b.
kehidupannya Cukup jika
dari menjaga penilaian skor
pola makan antara 15-20
dan aktivitas (56- 75%) c.
fisik untuk Kurang jika
mencegah penilaian skor
penyakit DM 9-14 (0-55%)

G. Instrumen Penelitian

1. Instrumen penelitian yang akan digunakan oleh peneliti adalah berupa


kuesioner yang terdiri dari dua jenis ,yaitu kuesioner demografi dan
kuesioner DKQ-24

- kuesioner demografi merupakan kuesioner tentang data demografi responden


yang meliputi usia,jenis kelamin,lama didiagnosa DM,pendidikan
terakhir,pekerjaan,riwayat DM keluarga, dan riwayat edukasi terakhir
mengenai DM

38
2. Tehnik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama


dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan
data

Persiapan menelitian

Identifikasi subjek yang berpotensi


Tidak Tersedia masuk ke dalam111 penelitian

Bersedia

Informent consent

Mengisi kuesioner pre-test

Intervesi: pendidikan kesehatan

Mengisi kuesioner Post-tes

Analisa Data

3. Cara kerja penelitian

a. Persiapan penelitian
Persiapan di mulai dengan mempersiapkan kuesioner penelitian
yang aplikatif, kuesioner penelitian berupa kuesioner penelitian
Demografi dan kuesioner penelitian tingkat [Link] di

39
lanjtkan dengan pembuatan surat undangan yang akan diberikan kepada
responden dan persiapan kader kesehatan yang akan membantu jalannya
penelitian.
b. pemilihan subjek/Sampel

Peneliti mendatamgi populasi penelitian satu hari sebelum


penelitian dengan teknik purpossive sampling. Subjek diberikan
penjelasan tentang penelitoian yang sedang dilaksanakan, kemudian
ditanya untu menjadi responden dalam penelitian.

c. Informed Consent

Setelah menyatakan kesediaan untuk menjadi responden penelitian


maka responden akan mengisi informed consent sebagai bukti kesediaan
tertulis.

d. Mengisi kuesioner pretest

Pengisian kuesioner dilakukan secara bersama-sama di tempat


penyuluhan sebelum intervesi pendidikan kesehatan dengan dipandu oleh
peneliti,peneliti memandu pengisian kuesioner dengan cara membacakan
pertanyaan satu persatuan dengan perlahan dan menggunakan bahasa
indonesia, respoden memiliki hak untuk menanyakan maksud dari
pertanyaan dalam kuesioner yang belum dipahami.

e. Intervensi: pendidikan kesehatan

Materi pendiikan kesehatan disampaikan oleh penliti dan


dilakuikan setelah pretest selesai, peneliti menggunakan bahasa indonesia
saat memnyampaikan materi,peneliti menggunakan sliet power point
sebagai media pendidikan kesehatan berlangsung selama total 60 menit,
20 menit pretest, 25 menit menyampaikan materi dan 15 menit post test

f. Mengisi kuesioner posttest

40
Pengisian kuesioner dilakukan langsung setelah intervensi
pendidikan kesehatan selesai, dan dilakukan secara bersama-sama
sebagaimana pengisian kuesioner pretest

H. Analisis Data

Analisa data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisa data
univariat dan bivariat. Analisis statistik univariat pada penelitian ini adalah analisa
deskriptif kategorik yang meliputi variabel Usia, jenis kelamin,pendidikan
terakhir,pekerjaan, riwayat DM keluarga, gambaran pengetahuan responden
sebelum intervensi sedangkan variabel lama didiagnosa DM dan riwayat edukasi
tarakhir mengenai DM disajiakan dalam bentuk data numerik.

1. Analisa yang dilakukan untuk menganalisa tiap variabel dari hasil penelitian, dan
disajikan dalam bentuk penyajian data deskriptif. Analisa univariat dalam
penelitian ini adalah data responden yang dilakukan perilaku pencegahan
diabetes mellitus. Variabel yang dianalisa dalam poin ini yaitu karakteristik
responden mengenai karakteristik usia, jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan.
2. Analisa Bivariat

Analisa yang digunakan untuk mengetahui keterkaitan antara dua variabel. Pada
penelitian ini menghubungkan antara pengaruh pendidikan kesehatan dengan
media video dengan perilaku pencegahan diabetes melitus. Karena penelitian ini
adalah dengan skala ordinal, maka uji statistik yang dipilih adalah uji Wilcoxon
dengan kemaknaan sebesar 0,05 (α=5%) dan Confidence Interval sebesar 95%
Interpretasinya, yaitu : a. Jika nilai probabilitas ≤ 0,05, maka hipotesis Ha diteri

a. Jika nilai probabilitas ≤ 0,05, maka hipotesis Ha diterima atau gagal ditolak dan
Ho ditolak yang artinya ada hubungan antara variabel dependen dengan variabel
independen.

b. Jika nilai probabilitas > 0,05, maka hipotesis Ha ditolak dan Ho diterima yang
artinya tidak ada hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen.

41
DAFTAR PUSTAKA

Amanda, S., Rosidin, U., & Permana, R. H. (2020). Pengaruh pendidikan kesehatan
senam diabetes melitus terhadap pengetahuan kader kesehatan. Media Karya
Kesehatan, 3(2).

Betteng, R. (2018). Analisis faktor resiko penyebab terjadinya diabetes melitus tipe 2
pada wanita usia produktif dipuskesmas wawonasa. Jurnal E-Biomedik, 2(2).
[Link]

Chen, Shaofan, dkk. “Dampak intervensi pendidikan di layanan primer terhadap kadar
glukosa darah puasa dan pengetahuan diabetes di antara pasien diabetes melitus
tipe 2 di pedesaan Tiongkok.” Pendidikan dan Konseling Pasien 103.9 (2020):
1767-1773.

Et, ira nurmala et al. (2018). Promosi kesehatan (1st ed.). AIRLANGGA
UNIVERSITY PRESS. [Link]

Fanani, A., & Sulaiman, L. (2021). Faktor obesitas dan faktor keturunan dengan
kejadian kasus diabetes mellitus. Riset Informasi Kesehatan, 10(1), 74.
[Link]

Fatmawati, B. R., Suprayitna, M., & Prihatin, K. (2020). Pengaruh pendidikan


kesehatan terhadap sikap dan tindakan pencegahan ulkus diabetik pada pasien
diabetes mellitus tipe 2. 8, 34–41. [Link]

Fidianingsih, I., Sulistyoningrum, E., & Kharisma, M. (2017). Peningkatan


Pengetahuan Warga Bromonilan untuk Mencegah Kejadian dan Komplikasi
Diabetes Melitus Tipe 2. Jurnal Kesehatan MAsyarakat, 11(1), 52–55.

Gregg, E., Buckley, J., Ali, M., Davies, J., Flood, D., Griffiths, B., Lim, L.-L., Manne-
Goehler, J., Pearson-Stuttard, J., & Shaw, J. (2021). Improving health outcomes of
people with diabetes mellitus: target setting to reduce the global burden of
diabetes mellitus by 2030. Glennis Andall-Brereton, 8.

42
[Link]
with-diabetes-mellitus.

IDF, A. (2019). International diabetes federation. In The Lancet (Vol. 266, Issue
6881). [Link]

Irma, I., Alifariki, L. O., & Kusnan, A. (2020). Uji sensitifitas dan spesifisitas keluhan
Penderita diabetes melitus berdasarkan keluhan dan hasil pemeriksaan gula darah
sewaktu (GDS). Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan, 16(1), 25.
[Link]

Ismansyah. (2020). Hubungan kepatuhan kontrol dengan kadar gula darah sewaktu
pada pasien DM Tipe 2. MNJ (Mahakam Nursing Journal), 2(7), 363–372.
[Link]

Julianti K, D. N. (2020). Faktor - faktor risiko penderita diabetes melitus tipe 2 di


puskesmas Sudiang Raya. April. [Link]

Khusaini, naufal ways al. (2020). Keterkaitan pola makan pada penderita diabetes
melitus. [Link]

Kadafi, A., & Nelyanti, D. A. (2023). Kombinasi Edukasi dan Aktivitas Fisik Efektif
Menurunkan Kadar Kolesterol pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Jurnal
Kesehatan Borneo Cendekia, 6(2), 105-114.

Lis Widyaningshi. (2020). Asuhan keperawatan pada klien dewasa diabetes di rumah
sakit panti Waluya Malang lis Widyaningsih , Felisitas A Sri S , Wisoedhanie W .
A Prodi D-III Keperawatan STIKes Panti Waluya Malang. Jurnal Keperawatan.
[Link]

Megawati, S. W., Utami, R., & Jundiah, R. S. (2020). Senam kaki diabetes pada
penderita diabetes melitus tipe 2 untuk meningkatkan nilai ankle brachial indexs.
Jnc, 3(2), 1–6. [Link]

43
Musakkar, T. D. (2020). Pendidikan dan promosi kesehatan. In Angewandte Chemie
International Edition, 6(11), 951–952. (Vol. 13, Issue April).
[Link]

Nasution, F. (2021). Faktor resiko kejadian diabetes melitus. 9(2), 94–102.


[Link]

Nasution, S. A. (2020). Gambaran faktor resiko diabetes mellitus tipe 2 pada anak
obesitas usia sekolah di Medan.
[Link]

Okafor, CJ, Yusuf, SA, Mahmoud, SA, Salum, SS, Vargas, SC, Mathew, AE, ... &
Abdulrahman, WS (2021). Pengaruh Jenis Kelamin dan Faktor Risiko pada
Komplikasi Diabetes Mellitus Tipe 2 pada Pasien yang Mengunjungi Klinik
Diabetes di Rumah Sakit Mnazi Mmoja, Zanzibar. Jurnal Penelitian Farmasi
Internasional , 33 (29B), 67-78.

Pelullo, C. P., Rossiello, R., Nappi, R., Napolitano, F., & Di Giuseppe, G. (2019).
Diabetes prevention: knowledge and perception of risk among Italian population.
BioMed Research International, 2019. [Link]

Pitaloka, Y. D., & Juwariyah, S. (2021). Efek pemberian buah naga merah
(Hylocereus Polyrhizus) terhadap penurunan kadar glukosa darah pada penderita
diabetes tipe 2. Jurnal Manajemen Asuhan Keperawatan, 5(2), 97– 103.
[Link]

Purnama, H., Adzidzah, HZN, Solihat, M., & Septriani, M. (2023). Penentu Risiko
dan Pencegahan terhadap Kejadian Penyakit Diabetes Melitus Tipe 2 pada Usia
Produktif di Wilayah DKI Jakarta: Penentu Risiko dan Pencegahan Diabetes
Melitus Tipe 2 pada Usia Produktif di Wilayah DKI Jakarta. Jurnal Pendidikan
Kesehatan Masyarakat , 2 (4), 158-166.

Putra, I. W. M. M., Budyono, C., Ekawanti, A., & Anggoro, J. (2023). Factors
Affecting Controlled Blood Sugar Levels in Patients with Type 2 Diabetes

44
Mellitus at the Internal Medicine Polyclinic at the Regional General Hospital of
West Nusa Tenggara Province. Jurnal Biologi Tropis, 23(1), 65-72.

Rachmawati, W. K. (2019). Promosi kesehatan dan ilmu perilaku (1st ed.). Wineka
Media.

Sayan, S. M. (2020). Mediterranean diet effects on type 2 diabetes prevention, disease


progression, and related mechanisms. A Review.
[Link]

Suciana, F., & Arifianto, D. (2019). Penatalaksanaan 5 pilar pengendalian Dm


terhadap kualitas hidup pasien DM tipe 2. Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah
STIKES Kendal, 9(4), 311–318. [Link]

Susan C. Smeltzer. (2013). Keperawan Medikal Bedah-(Hanbook for Brunner &


Suddarth’s texbook medical-surgical nursing) (12th ed.). buku kedokteran ECG.

Sutawardana, J. H., Putri, W. N., & Widayati, N. (2020). Hubungan self compassion
dengan kepatuhan terapi insulin pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Rsd Dr .
Soebandi Jember ( correlation between self compassion and adherence to insulin
therapy in patients with type 2 diabetes mellitus at RSD dr . Soebandi. Journal of
Nursing Care & Biomolecular, 5(1),
56–[Link]://[Link]/[Link]
ik2dM0AAAAJ&hl=en

Setyawan, H., & Nisak, R. (2024). Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Perilaku
Pencegahan Diabetes Mellitus Pada Siswa SMK Negeri 1 Ngawi. e-Journal
Cakra Medika, 11(1), 67-73.

Selfi, B. F., Simbolon, D., & Kusdalinah, K. (2018). Pengaruh Edukasi Pola Makan
dan Senam terhadap Kadar Gula Darah Pada Penderita DM Tipe 2. Jurnal
Kesehatan, 9(2), 325-330.

Silva-Tinoco, R., Cuatecontzi-Xochitiotzi, T., De la Torre-Saldaña, V., León-García,


E., Serna-Alvarado, J., Guzmán-Olvera, E., ... & Prada, D.(2020). Peran faktor

45
penentu kesehatan sosial dan lainnya dalam pengaruh strategi perawatan
terintegrasi multikomponen pada diabetes mellitus tipe 2. Jurnal Internasional
untuk Kesetaraan dalam Kesehatan , 19 (1), 75.

WHO. (2019). Classification of diabetes mellitus. In Clinics in Laboratory Medicine


(Vol. 21, Issue 1). [Link]

Widyawati. (2020). Buku ajar promosi kesehatan untuk mahasiswa keperawatan (1st
ed.). Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Binalita Sudama Medan Jl. Gedung PBSI
Pasar V Medan
[Link]://[Link]/assets/files/buku_ajar_pendidikan_dan_prom
os i_kesehatan_buk_widya.pdf

Wolosowicz, M., Lukaszuk, B., & Chabowski, A. (2020). The causes of insulin
resistance in type 1 diabetes mellitus : Is there a place for quaternary prevention ?
1–13. [Link]

Waszyk-Nowaczyk, M., Guzenda, W., Kamasa, K., Zielińska-Tomczak, Ł., Cerbin-


Koczorowska, M., Michalak, M., ... & Plewka, B. (2023). Kebutuhan dan
Pendapat Pasien Polandia tentang Penerapan Pelayanan Farmasi pada
Diabetes. Jurnal Internasional Penelitian Lingkungan dan Kesehatan
Masyarakat , 20 (2), 945.

Zikmund, Carr, B., & Griffin. (2018). Business Research Methods (Eighth Edition
ed.).

46
KUESIONER

TENTANG PENGETAHUAN DIABETES MELITUS

Petunjuk : Pilihlah salah satu jawaban dengan memberi tanda (√) dari setiap
pertanyaan dibawah ini yang dianggap paling sesuai.

No Pertanyaan Benar Salah Tidak


tahu

1 Makan terlalu banyak gula dan makanan manis


lainnya merupakan penyebab diabetes melitus?

2 Penyebab umum diabetes adalah kurangnya insulin


yang efektif dalam tubuh ?

3 Diabetes disebabkan karena kegagalan ginjal


mencegah gula masuk ke dalam kencing ?

4 Jika saya menderita diabetes, anak-anak saya


berpeluang lebih besar menderita diabetes juga?

5 Kadar darah puasa 210 adalah terlalu tinggi?

KUESIONER

PERILAKU PENCEGAHAN DIABETES MELITUS

Petunjuk : Pilihlah salah satu jawaban dengan memberi tanda (√) dari setiap
pertanyaan dibawah ini yang dianggap paling sesuai.

Kuesioner ini digunakan untuk mengukur perilaku dalam mencegah diabetes melitus
yang Anda lakukan selama 1 bulan terakhir.

Rutin : Jika dilakukan teratur dan tidak berubah-ubah

Sering : Jika selalu/kerap melakukannya

47
Kadang-kadang : Jika hanya sesekali saja melakukannya

Tidak pernah : Jika sama sekali tidak pernah melakukannya

No Pertanyaan Rutin Sering Kadang- Tidak


kadang pernah

Kontrol
kesehatan

1 Apakah Anda mengikuti kegiatan


penyuluhan kesehatan tentang
DM, seperti posyandu atau yang
lainnya?

2 Apakah Anda mencari informasi


tentang penyakit DM agar lebih
mengetahui gejala, penyebab,
akibat, dan cara pencegahan
penyakit DM?

3 Ketika berat badan Anda tiba-tiba


turun/naik dengan drastis, apakah
Anda melakukan pemeriksa
kadar gula darah?

4 Disaat Anda sering berada dalam


kondisi lemas, apakah Anda
segera melakukan pemeriksaan
kadar gula darah?

Diet

5 Apakah anda suka makan


makanan yang manis?

48
6 Apakah Anda mengkonsumsi
gula lebih dari 4 sendok makan
perhari?

7 Apakah Anda makan teratur


dijam yang sama setiap hari?

8 Apakah Anda menunda makan


setiap harinya, saat Anda sedang
ada kegiatan?

9 Apakah Anda menghindari


makanan yang berlemak tinggi
seperti, daging berlemak,
makanan gorengan, dan lain-lain?

Olahraga

10 Apakah Anda melakukan


olahraga secara rutin minimal 3-4
kali dalam seminggu?

11 Apakah Anda melakukan


pemanasan terlebih dahulu
selama ± 15 menit sebelum
melakukan olahraga?

12 Apakah Anda berolahraga selama


30 menit dalam setiap olahraga?

13 Apakah Anda sering berdiam diri


dirumah seperti menonton
televisi dibandingkan beraktivitas
atau berolahraga?

14 Apakah Anda lebih banyak


beraktivitas dirumah seperti,

49
menyapu, mengepel, dan lainnya
untuk menjaga kesehatan?

50

Anda mungkin juga menyukai